8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini
berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat
bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di
sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Berikut
pengertian belajar menurut beberapa ahli:
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2010:
2). Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Dalam kaitan ini, proses
belajar dan perubahan merupakan bukti hasil yang diproses.
“Belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai
tujuan. Jadi, merupakan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh”
(Hamalik, 2009: 29).
Cronbach (dalam Hamdani, 2011: 20) menyatakan “Learning is shown by a
change in behavior as a result of experience.” (Belajar adalah memperlihatkan
perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman). Belajar terbaik adalah
melalui pengalaman. Dengan pengalaman tersebut menggunakan seluruh panca
inderanya.
9
Reber (dalam Suprijono, 2011: 3) Belajar adalah the process of acquiring
knowledge. Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan.
Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada dan tersedia, sementara orang lain
tinggal menerimanya, tetapi pengetahuan adalah sebagai salah satu pembentukan
kebiasaan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami karena
adanya pemahaman baru (Budiningsih, 2005: 56).
Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan
sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-
benda, hewan, tumbuhan manusia atau hal lain yang dijadikan bahan belajar
(Dimyati dan Mudjiono, 2006: 7).
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan
diatas dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan
melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi dapat
digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
Faktor Intern
1. Faktor Jasmaniah
a. Faktor Kesehatan
10
Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar
seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia
akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya
lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan/ kelainan-kelainan
fungsi alat inderanya serta tubuhnya.
b. Cacat Tubuh
Cacat tubuh adalah sesutau yang menyebabkan kurang baik atau kurang
sempurna mengenai tubuh/badan. Cacat itu dapat berupa buta, tuli, patah kaki
dan lain-lain.
2. Faktor Psikologis
a. Intelegensi
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan
untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat
dan efektif, mengetahui / menggunakan konsep- konsep yang abstrak secara
efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
b. Perhatian
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus
mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran
tidak menjadi perhatian siswa, maka timbulah kebosanan, sehingga ia tidak
suka lagi belajar.
c. Minat
11
Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan
terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang
dipelajari tidak sesuain dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan
sebaik-sebaiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.
d. Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi
menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Jika bahan
pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya
lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi
dalam belajar.
e. Motif
Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa
agar dapat belajar dengan baik atau mempunyai motif untuk berfikir dan
memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang
berhubungan/ menunjang belajar.
f. Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/ fase dalam pembentukan seseorang,
dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.
Belajarnya akan berhasil jika anak sudah siap (matang).
g. Kesiapan
12
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. Kesediaan itu
timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan,
karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan.
3. Faktor Kelelahan
a. Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
Kelelahan jasmani terlihat dengan lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan
untuk membaringkan tubuh.
b. Kelelahan Rohani.
Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan,
sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
Faktor Ekstern
1. Faktor keluarga
a. Cara orang tua mendidik
b. Relasi antaranggota keluarga
c. Suasana rumah
d. Keadaan ekonomi keluarga
e. Pengertian orang tua
f. Latar belakang kebudayaan
2. Faktor Sekolah
a. Metode mengajar
b. Kurikulum
c. Relasi guru dengan siswa
d. Relasi siswa dengan siswa
13
e. Disiplin sekolah
f. Alat pelajaran
g. Waktu sekolah
h. Standar pelajaran di atas ukuran
i. Keadaan gedung
j. Metode belajar
k. Tugas rumah
3. Faktor Masyarakat
a. Kegiatan siswa dalam masyarakat
b. Mass media
c. Teman bergaul
d. Bentuk kehidupan masyarakat (Slameto, 2010: 60-72)
C. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia
menerima pengalaman belajarnya. Klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom
yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif,
ranah afektif, dan ranah psikomotoris (Sudjana, 1989: 22).
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,
sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan (Suprijono, 2011: 5).
Hal ini juga dikemukakan oleh Bloom (dalam Suprijono, 2011: 6-7). Hasil
belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain
kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman),
menjelaskan, (meringkas), application (menerapkan), analysis
14
(mengorganisasikan, merencanakan, membentuk), evaluation (menilai). Domain
afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respons),
valuing (memberikan nilai), organization (organisasi), characterization
(karakterisasi). Domain psikomotor mencakup keterampilan produktif, teknik,
fisik, sosial, manajerial, dan intelektual. Yang harus diingat bahwa hasil belajar
adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek
potensi kemanusiaan saja melainkan komprehensif.
D. Model Explicit Instruction
Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Rosenshine dan Steven pada tahun
1986. Arends (2001) menyebutkan teori yang melandasi model ini yaitu teori
behavioral, penelitian tentang efektifitas guru, dan teori belajar sosial
(Muhammad Faiq, 2009). ([Link]
Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-
prosedural, langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah: sajian informasi
kompetensi, mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan prosedural,
membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan,
penyimpulan dan evaluasi, serta refleksi (Suyatno, 2009: 72).
Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa
tentang pengetahuan prosedur dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan
dengan pola selangkah demi selangkah.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
b. Mendemostrasikan pengetahuan dan keterampilan.
c. Membimbing pelatihan.
d. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
e. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan (Suyatno, 2009: 127-128).
Sixteen elements of explicit instruction
1. Focus Instruction on critical content.
15
2. Sequence skills logically
3. Break down complex skills and strategies into smaller instructional units.
4. Design organized and focused lessons.
5. Begin lesson with a clear statement of the lessons goals and your expectations.
6. Review prior skills and knowledge before beginning instruction
7. Provide step-by-step demonstrations.
8. Use clear and concise language.
9. Provide adequate range of examples and non-examples.
10. Provide guided and supported practice.
11. Require frequent responses.
12. Monitor student performance closely.
13. Provide immediate affirmative and corrective feedback.
14. Deliver the lesson at a brisk pace.
15. Help students organize knowledge
16. Provide distributed and cumulative practice (Archer, 2011: 1-3).
Dari keenambelas bagian Explicit Instruction diatas dapat di implementasikan
pada penelitian ini yaitu pada poin pertama dan poin kelima focus instruction on
critical content (memusatkan isi pengajaran kritis), begin lesson with a clear
statement of the lessons goals and your expectation (memulai pelajaran dengan
pertanyaan yang jelas tentang tujuan pembelajaran dan harapan dari tujuan
pembelajaran) bisa dijabarkan pada tahap pertama yaitu pada saat guru
menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa, pada saat mempersiapkan siswa
bisa dipancing dengan pertanyaan apersepsi. Kemudian poin yang ketujuh provide
step-by-step demonstrations (memberikan langkah demi langkah demonstrasi),
pada tahapan demonstrasi ini guru bisa menerapkan media pembelajaran dalam
mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan misal menampilkan gambar
struktur mata di layar in focus. Poin kesepuluh provide guided and supported
practice (memberikan panduan latihan pada siswa), bisa dijabarkan dalam guru
membimbing murid dalam pelatihan, pelatihan yang dimaksud disini adalah siswa
diberikan pertanyaan atau diberikan soal yang kemudian dijawab/dikerjakan
16
dengan cepat, dan dipresentasikan oleh siswa didepan kelas supaya materi yang
baru saja diterangkan menjadi paham. Selanjutnya poin ke sebelas require
frequent responses (memerlukan tanggapan sering), bisa dijabarkan pada guru
mengecek pemahaman murid dan memberikan umpan balik, disini guru dituntut
untuk sering tanya jawab dengan siswa untuk memantapkan materi yang baru saja
diterima. Poin keenambelas provide distributed and cumulative practice
(memberikan latihan terdistribusi dan akumulatif). Pada poin ini bisa dijabarkan
dalam langkah terakhir yaitu guru memberikan kesempatan kepada murid untuk
latihan lanjutan. Disini murid bisa betul-betul dipahamkan lagi dengan
memberikan kesempatan pada siswa untuk menerangkan kembali materi yang
sudah diberikan oleh guru.
E. Langkah-langkah pembelajaran model Explicit Instruction
Secara garis besar, terdapat lima langkah dalam pengajaran Explicit Instruction
(Herdian, 2009), antara lain sebagai berikut:
1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa
Mempersiapkan siswa dan menyampaikan tujuan merupakan langkah pertama
pada model Explicit Instruction. Hal ini dilakukan di awal pelajaran oleh guru,
dimaksudkan untuk menyamakan konsep guru dan siswa mengenai materi yang
akan disampaikan. Kegiatan yang dilakukan dalam mempersiapkan siswa
diantaranya adalah memberikan apersepsi kepada siswa mengenai pembelajaran
yang telah lalu. Sedangkan penyampaian tujuan dimaksudkan agar siswa
mengetahui kompetensi apa saja yang harus dikuasai dari materi yang akan
disampaikan.
17
2. Guru mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
Metode demonstrasi menurut Muhibbin Syah (1995) adalah .metode mengajar
dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan
kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran
yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
Sedangkan menurut Dalam kamus Inggris-Indonesia, demonstrasi yaitu:
mempertunjukkan atau mempertontonkan. Dari definisi di atas dapat dipahami
bahwa kegiatan demonstrasi di kelas yaitu guru memperagakan atau mengerjakan
materi yang sedang diberikan kepada siswa pada saat pembelajaran yang
kemudian diikuti siswa. Sehingga materi yang diberikan akan lebih bermakna di
ingatan mereka. Misalnya guru mendemostrasikan cara membuat dokumen baru,
maka siswa tidak hanya akan mengingat langkah-langkahnya saja tetapi juga akan
mengetahui dan hafal menu dan icon apa saja yang dipakai.
3. Guru membimbing murid dalam pelatihan
Setelah pemberian materi dan memberikan demonstrasi kepada siswa, kini
saatnya guru memberikan latihan kepada murid. Hal ini dilakukan untuk melihat
apakah siswa sudah benar-benar mengerti mengenai materi yang diberikan.
Tetapi pada saat siswa mengerjakan latihan ini, guru harus memiliki asumsi siswa
lupa dengan materi yang tadi diberikan atau kurang paham dengan materi setelah
diaplikasikan dipertanyaan. Karena itu guru harus membimbing siswanya dalam
pelatihan tersebut agar tidak terjadi kesalahan sehingga dapat mengerjakan soal
dengan baik.
4. Guru mengecek pemahaman murid dan memberikan umpan balik
18
Untuk mengecek ketercapaian kompetensi guru akan mengecek pemahaman
murid dan memberikan umpan balik. Hal yang dilakukan biasanya memberikan
pertanyaan seputar materi yang telah diberikan. Selain memberikan pertanyaan
guru juga bisa menminta siswa untuk menyimpulkan apa saja yang telah dipelajari
pada pembelajaran hari itu.
5. Guru memberikan kesempatan kepada murid untuk latihan lanjutan
Pada langkah yang terakhir dari metode ini yaitu guru harus memberikan
latihan lanjutan atau latihan mandiri. Latihan lanjutan ini bisa berupa pekerjaan
rumah. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak melupakan pelajaran yang telah lalu
dan tetap berlatih untuk meningkatkan kompetensinya.
Kelebihan:
1. Siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya.
2. Semua siswa aktif / terlibat dalam pembelajaran.
Kekurangan:
1. Memerlukan waktu lama sehingga siswa yang tampil tidak begitu lama.
2. Untuk mata pelajaran tertentu.
([Link]
F. Perbandingan Model Explicit Instruction dan Direct Instruction
Model Explicit Instruction dan Direct Instruction memang memiliki banyak
kesamaan, tetapi disamping itu juga masing- masing memiliki perbedaan yang
sangat penting. Beberapa peneliti pendidikan menunjukkan bahwa model Direct
Instruction telah berkembang menjadi model Explicit Instruction, sementara yang
lain tetap menunjukkan bahwa ada perbedaan yang tajam antara kedua model ini.
19
Menurut Dole, Duffy, Roehler, dan Pearson (1991, hal 252), menjelaskan model
Explicit Instruction di sini, sementara menganjurkan mirip dengan model Direct
Instruction pada tahun 1970-an, memiliki perbedaan penting. Keduanya
menekankan strategi demonstrasi oleh guru, strategi latihan terpadu, dan praktek
mandiri atau penerapan strategi belajar.
Namun, ada tiga perbedaan utama, yaitu dalam Model Explicit Instruction:
1. Tidak ada asumsi bahwa strategi tersebut akan rusak jika dipakai ke dalam sub
komponen-keterampilan. Strategi ini dapat dipakai untuk menunjukkan,
berlatih, dan diterapkan pada seluruh pemahaman tugas.
2. Tidak ada cara terbaik untuk menerapkan strategi tertentu. Model ini dapat
digunakan dalam berbagai cara dengan tugas yang berbeda.
3. Penekanannya adalah pada kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas strategi,
bukan pada kebenaran menerapkan strategi tertentu. (Calhoun E., 1998).
([Link]
instruction/)
G. Metode Diskusi.
Menurut Takari (2010: 30). Diskusi merupakan metode pembelajaran melalui
interaksi dalam kelompok. Setiap anggota kelompok bertukar ide tentang sesuatu
yang dibicarakan dalam pembelajaran, atau sesuatu yang dijadikan masalah
sehingga dapat saling menambah pengetahuan atau memahami dari isi
pembelajaran.
Diskusi adalah memberikan alternatif jawaban untuk membantu memecahkan
berbagai problem kehidupan. Dengan catatan persoalan yang akan didiskusikan
harus dikuasai secara mendalam. Diskusi terasa kaku bila persoalan yang akan
didiskusikan tidsk dikuasai. Dalam diskusi, guru menyuruh anak didik memilih
jawaban yang tepat dari banyak kemungkinan alternatif jawaban.
a. Kelebihan metode diskusi
20
1. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan
berbagai jalan dan bukan satu jalan (satu jawaban saja).
2. Menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling
mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh
keputusan yang lebih baik.
3. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain
sekalipun berbeda dengan pendapatnya sendiri dan membinasakan
bersikap toleran.
b. Kekurangan metode diskusi
1. Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
2. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
4. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Djamarah,
2005: 236-237)
H. Deskripsi Materi Pokok Bahasan Sub Konsep Alat Indra.
1. Pengertian Alat Indra
Di dalam tubuh manusia terdapat bermacam-macam reseptor untuk
mengetahui rangsang-rangsangan dari luar atau di sebut juga eksteroseptor.
eksteroseptor sering juga disebut alat indra.
Ada lima macam alat indra dalam tubuh manusia, yaitu indra penglihatan,
indra pendengar, indra peraba dan perasa, indra pencium dan pengecap. berikut ini
akan dibahas secara rinci alat indra tersebut satu persatu.
2. Indra Penglihat (Mata)
Mata adalah organ indra yang memiliki reseptor peka cahaya yang
fotoreseptor. Setiap mata mempunyai lapisan reseptor, sistem lensa untuk
memusatkan cahaya pada reseptor, dan sistem saraf untuk menghantarkan impuls
dari reseptor ke otak.
Pada bagian retina, terdapat kurang lebih 125 juta sel batang (sel basilus) yang
mampu merangsang sinar tak berwarna, dan kurang lebih 6,5 juta sel kerucut (sel
konus) yang mampu menerima rangsang sinar kuat dan berwarna.
21
Sel batang mengandung pigmen yang peka terhadap cahaya yang disebut
rodospin, yaitu suatu bentuk senyawa antara vitamin A dengan protein tertentu.
Bila terkena sinar terang, rodospin terurai akan terbentuk kembali dalam keadaan
gelap. Proses pembentukan rodopsin memerlukan waktu yang disebut waktu
adaptasi rodopsin. dalam waktu adaptasi, mata kurang dapat melihat.
Sel kerucut mengandung pigmen idopsin, yaitu senyawa retinin dan opsin.
Ada tiga macam sel kerucut yang peka terhadap ransangan warna tertentu yaitu
merah, biru, atau kuning. Penderita buta warna ada yang disebut dikromat atau
monokromat. Dikromat adalah orang yang hanya mempunyai dua sel kerucut,
mereka menderita buta warna sebagian. Dikromat hanya menyerasikan spektum
warna dengan mencapur dua warna saja. Monokromat merupakan orang yang
hanya dapat membedakan hitam dan putih serta bayangan kelabu (Pratiwi dkk,
2006: 201-203).
3. Bagian-bagian bola mata dan fungsinya
Gambar 2.1 Bagian-Bagian Mata
(Sumber: Aryanimalawat, 2010)
a. Konjungtiva: Melindungi kornea dari gesekan.
22
b. Sklera: Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat
melekatnya otot mata.
c. Otot-otot yang melekat pada mata:
d. Muskulus rektus superior, inferior, medial, lateral, oblikus superior, oblikus
inferior.
e. Kornea: Memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksi cahaya.
f. Koroid: Mengandung pembuluh darah penyuplai retina dan melindungi refleksi
cahaya dalam mata.
g. Badan siliaris: Menyokong lensa mengandung otot yang memungkinkan lensa
berubah bentuk, dan mensekresikan aqueous humor.
h. Iris (pupil): Mengendalikan ukuran pupil, sedangkan pigmennya mengurangi
lewatnya cahaya.
i. Lensa: Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa.
j. Retina: Mengandung sel batang dan kerucut.
k. Fovea( Bintik kuning): Bagian retina yang mengandung sel kerucut.
l. Bintik buta: Daerah tempat saraf optik meninggalkan bagian dalam bola mata
dan tidak mengandung sel konus dan batang.
[Link] humor: Menyokong lensa dan menolong dalam menjaga bentuk bola
mata.
n. Aqueous humor: Menjaga bentuk kantong depan bola mata.
o. Ligamen suspensor : berfungsi menjaga lensa agar selalu pada tempatnya.
4. Proses Penglihatan
23
Apabila ada rangsang cahaya masuk ke mata maka rangsang tersebut akan
diteruskan mulai dari kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreous humor dan
terakhir retina. Kemudian akan diteruskan ke bagian saraf penglihat atau saraf
optik yang berlanjut dengan lobus osipital sebagai pusat penglihatan pada otak
besar. Bagian lobus osipital kanan akan menerima rangsang dari mata kiri dan
sebaliknya lobus osipital kiri akan menerima rangsang mata kanan. Di dalam
lobus osipital ini rangsang akan diolah kemudian diinterpretasikan. Sehingga
apabila seseorang mengalami kecelakaan dan mengalami kerusakan lobus osipital
ini maka dia akan mengalami buta permanen, walaupun bola matanya sehat.
([Link]
Kecembungan lensa dapat berubah-ubah. Perubahan kecembungan tersebut
karena kontraksi dan relaksasi otot-otot ligament (badan siliaris) yang melekat
pada bola mata. Kecembungan lensa mata yang dapat berubah-ubah dapat
membuat pandangan menjadi fokus atau sebaliknya. Inilah yang dinamakan daya
akomondasi lensa mata.
Bila mata melihat benda yang dekat, maka otot siliaris berkontraksi. Lensa
menjadi menebal untuk menangkap cahaya sehingga objek yang dekat dapat
difokuskan pada retina. Akan tetapi, saat melihat jauh, otot siliaris berleaksasi,
lensa menjadi memipih dan objek difokuskan pada retina.
Mata yang normal adalah yang dapat memfokuskan sinar-sinar sejajar yang
masuk ke mata sehingga jatuh tepat ke bintik kuning di retina. Dengan demikian,
benda dapat dilihat dengan jelas. Keadaan ini disebut emetrop (Pratiwi dkk, 2006:
203).
24
Gambar 2.2 Daya Akomodasi Mata
(Sumber: Aktifisika, 2008)
5. Kelainan-kelainan pada mata
a. Miopi (mata dekat) penyebab bayangan benda jatuh di depan retina karena bola
mata terlalu panjang (cembung) dibantu dengan lensa cekung.
b. Hipermetropi (mata jauh) penyebab bayangan benda jatuh di belakang retina
karena bola mata terlalu pendek atau bola mata terlalu pipih dibantu dengan lensa
cembung.
c. Astigmatisma penyebabnya yaitu kecembungan kornea tidak merata sehingga
bayangan menjadi tidak terfokus (kabur) dibantu dengan lensa silinder.
d. Presbiopi: penyebab: daya akomodasi mata berkurang, akibatnya tidak dapat
melihat jauh maupun dekat dengan jelas. Kelainan ini dapat diatasi dengan
kacamata bifokal.
25
e. Rabun senja: penyebabnya kekurangan vitamin A, akibatnya tidak dapat
melihat dengan baik pada saat senja dan malam hari dan untuk pencegahan
dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A
f. Keratomalasi: penyebabnya kekurangan vitamin A yang parah, akibatnya
kornea mata keruh, permukaan mata kering dan kasar dan penglihatan berkurang
hingga kebutaan.
g. Katarak: penyebabnya lensa mata keruh dan kabur, akibatnya cahaya tidak
sampai ke retina. Dapat diatasi dengan operasi
h. Juling: penyebabnya ketidakserasian kerja otot penggerak bola mata kanan dan
kiri. Dapat diatasi dengan operasi
i. Buta Warna: penyebabnya keturunan, akibat: tidak dapat melihat warna tertentu.
Kelainan ini tidak dapat disembuhkan dan lebih banyak menyerang laki-laki.
6. Indra Pendengar (Telinga)
Mendengar adalah kemampuan untuk mendeteksi vibrasi mekanis (getaran)
yang kita sebut suara. Dalam keadaan biasa, getaran mencapai indra pendengar,
yaitu telinga bagian luar, tengah, dan dalam. Telinga bagian luar yang terdiri dari
daun telinga dan liang telinga berfungsi membantu mengkonsentrasikan
gelombang suara. Rongga telinga tengah terisi oleh udara, sedangkan rongga
telinga dalam terisi oleh cairan limfa.
7. Bagian-bagian telinga dan fungsinya
26
Gambar 2.3 Bagian-Bagian Telinga Manusia
(Sumber: Sugiarto, 2008)
Gambar 2.4 Struktur Telinga
(Sumber: Aryanimalawat, 2010)
27
Telinga luar:
a. Pinna (daun telinga) berfungsi membantu mengkonsentrasikan gelombang
suara (vibrasi).
Telinga tengah
a. Membran timpani (selaput gendang) berfungsi meneruskan vibrasi ke osikula.
b. Tulang martil (maleus), tulang landasan (inkus), tulang sanggurdi (stapes)
berfungsi meneruskan vibrasi/getaran ke jendela oval.
c. Saluran Eustachius berfungsi menyeimbangkan tekanan udara antara telinga
tengah dan lingkungan.
Telinga Dalam
a. Jendela oval berfungsi sebagai penghubung telinga tengah dan telinga dalam.
b. Jendela melingkar berfungsi sebagai reseptor suara.
c. Koklea (rumah siput) berfungsi sebagai reseptor untuk gerakan kepala.
d. saluran semisirkuler dan utrikulus berfungsi sebagai reseptor gravitasi.
e. Organ korti berfungsi sebagai tempat sel reseptor suara yang berbentuk rambut.
f. Membran tektorial berfungsi meneruskan vibrasi ke organ korti.
8. Proses Pendengaran/ Mekanisme Terjadinya Suara
Gelombang suara yang masuk ke dalam liang telinga akan memukul gendang
telinga (membran timpani) sehingga bergetar. Getaran membran timpani
ditransmisikan melintasi telinga tengah melalui tiga tulang kecil, yang terdiri dari
tulang martil (maleus), landasan (inkus), sanggurdi (stapes). Telinga tengah
dihubungkan ke naso faring oleh tabung Eustachius. Getaran dari osikula yang
paling dalam (dari tulang sanggurdi) ditransmisikan ke telinga dalam melalui
28
membran jendela oval ke koklea. Koklea merupakan suatu tabung yang kurang
lebih panjangnya 3 cm dan bergulung seperti rumah siput. Koklea berisi cairan
limfa. Getaran dari jendela oval ditransmisikan kedalam cairan limfa dalam
ruangan koklea. Selanjutnya getaran diteruskan dengan gerak berlawanan arah ke
jendela bundar. Dibagian dalam ruangan koklea terdapat organ korti. Organ korti
berisi sel-sel rambut yang sangat peka. Inilah reseptor getaran sebenarnya. Sel-sel
rambut tersebut terletak diantara membran basiler dan membran tektorial. Getaran
dalam cairan koklea menimbulkan getaran dalam membran basiler. Hal ini
menggerakkan sel-sel rambut terhadap membran tektorial, yang berarti
menstimulasinya. Impuls listrik yang timbul dalam sel ini kemudian diteruskan
oleh saraf auditori ke otak. Dengan demikian kita dapat mendengarkan suara.
Secara garis besar proses pendengaran yaitu sebagai berikut, transmisi gelombang
suara melewati: saluran pendengaran, membran timpani, osikula (maleus, inkus,
stapes), koklea, organ korti, saraf auditor kemudian ke otak. (Pratiwi dkk, 2006:
207).
Selain berfungsi sebagai organ pendengaran, telinga juga berfungsi sebagai organ
keseimbangan.
9. Alat keseimbangan (Ekuilibrum)
Selain untuk mendeteksi gelombang suara, telinga juga sebagai alat deteksi
posisi tubuh yang berhubungan dengan gravitasi dan gerak tubuh. Kedua fungsi
ini cukup berbeda dengan fungsideteksi [Link] koklea ada dua kantong
yang berisi cairan limfa, yaitu tiga saluran setengah lingkaran (saluran
semisirkuler) dan vestibulum. Saluran semisirkuler mempunyai dasar yang
29
menggelembung disebut ampula. Ampula mengandung sel bersilia dan berfungsi
sebagai reseptor yang disebut Krista. Krista terbenam dalam massa seperti gelatin
yang disebut kupula. Jika kepala menggeleng materi gelatin ikut bergoyang dan
silia melengkung. Pelengkungan ini menimbulkan impuls saraf yang kemudian
disampaikan ke otak.
Gambar 2.5 Bagian-Bagian Koklea
(Sumber: Aryani, 2010)
Vestibulum terdiri dari dua bagian yaitu sakulus dan utrikulus yang berupa
kantong dan dilapisi oleh sel-sel rambut dan silia. Utrikulus dan sakulus berisi
endolimfa, masing-masing memiliki sel reseptor di dalam dindingnya yang
disebut makula. Makula ini terbenam dalam masa yang seperti jeli yang
mengandung Kristal kapur, disebut otolit. Otolit ini dipengaruhi oleh gravitasi
Jika kepala menggeleng otolit ikut bergoyang dan silia melengkung.
Pelengkungan ini menyebabkan terjadinya impuls saraf di serabut saraf. Impuls
dari reseptor akan diinterpretasikan di otak dan hasilnya adalah informasi tentang
posisi kepala (Pratiwi dkk, 2006: 207-208)
10. Kelainan-kelainan pada telinga
30
a. Radang telinga penyebab: baketri dan virus menyerang bagian luar melalui
kotoran yang masuk ketika berenang, menyerang bagian dalam, bakteri atau virus
masuk dari rongga mulut melalui saluran eustachius.
b. Otosklerosis penyebab: tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat bergerak leluasa,
akibatnya tuli konduksi yang menahun.
c. Tuli atau tuna rungu ialah kehilangan kemampuan untuk dapat mendengar. Tuli
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tuli konduktif dan tuli saraf. Tuli
konduktif terjadi disebabkan oleh menumpuknya kotoran telinga di saluran
pendengaran, sehingga mengganggu transmisi suara ke koklea. Tuli saraf terjadi
bila terdapat kerusakan syaraf pendengaran atau kerusakan pada koklea
khususnya pada organ korti.
a. Radang telinga penyebab: baketri dan virus menyerang bagian luar melalui
kotoran yang masuk ketika berenang, menyerang bagian dalam, bakteri atau virus
masuk dari rongga mulut melalui saluran eustachius.
b. Otosklerosis penyebab: tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat bergerak leluasa,
akibatnya tuli konduksi yang menahun.
c. Tuli atau tuna rungu ialah kehilangan kemampuan untuk dapat mendengar. Tuli
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tuli konduktif dan tuli saraf. Tuli
konduktif terjadi disebabkan oleh menumpuknya kotoran telinga di saluran
pendengaran, sehingga mengganggu transmisi suara ke koklea. Tuli saraf terjadi
bila terdapat kerusakan syaraf pendengaran atau kerusakan pada koklea
khususnya pada organ korti.
31
32
33
34