0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

Pengertian dan Faktor Belajar Siswa

Dokumen ini membahas tentang pengertian belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, serta hasil belajar yang diharapkan. Belajar didefinisikan sebagai proses perubahan tingkah laku melalui pengalaman, yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Selain itu, model Explicit Instruction dijelaskan sebagai metode pengajaran yang terstruktur dan langkah demi langkah untuk meningkatkan pemahaman siswa.

Diunggah oleh

teninurjanah07
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

Pengertian dan Faktor Belajar Siswa

Dokumen ini membahas tentang pengertian belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, serta hasil belajar yang diharapkan. Belajar didefinisikan sebagai proses perubahan tingkah laku melalui pengalaman, yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Selain itu, model Explicit Instruction dijelaskan sebagai metode pengajaran yang terstruktur dan langkah demi langkah untuk meningkatkan pemahaman siswa.

Diunggah oleh

teninurjanah07
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Belajar

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat

fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini

berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat

bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di

sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Berikut

pengertian belajar menurut beberapa ahli:

“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2010:

2). Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Dalam kaitan ini, proses

belajar dan perubahan merupakan bukti hasil yang diproses.

“Belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai

tujuan. Jadi, merupakan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh”

(Hamalik, 2009: 29).

Cronbach (dalam Hamdani, 2011: 20) menyatakan “Learning is shown by a

change in behavior as a result of experience.” (Belajar adalah memperlihatkan

perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman). Belajar terbaik adalah

melalui pengalaman. Dengan pengalaman tersebut menggunakan seluruh panca

inderanya.
9

Reber (dalam Suprijono, 2011: 3) Belajar adalah the process of acquiring

knowledge. Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan.

Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada dan tersedia, sementara orang lain

tinggal menerimanya, tetapi pengetahuan adalah sebagai salah satu pembentukan

kebiasaan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami karena

adanya pemahaman baru (Budiningsih, 2005: 56).

Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan

sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-

benda, hewan, tumbuhan manusia atau hal lain yang dijadikan bahan belajar

(Dimyati dan Mudjiono, 2006: 7).

Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan

diatas dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan

melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Dapat disimpulkan bahwa belajar

adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan

lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi dapat

digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor Intern

1. Faktor Jasmaniah

a. Faktor Kesehatan
10

Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar

seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia

akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya

lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan/ kelainan-kelainan

fungsi alat inderanya serta tubuhnya.

b. Cacat Tubuh

Cacat tubuh adalah sesutau yang menyebabkan kurang baik atau kurang

sempurna mengenai tubuh/badan. Cacat itu dapat berupa buta, tuli, patah kaki

dan lain-lain.

2. Faktor Psikologis

a. Intelegensi

Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan

untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat

dan efektif, mengetahui / menggunakan konsep- konsep yang abstrak secara

efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.

b. Perhatian

Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus

mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran

tidak menjadi perhatian siswa, maka timbulah kebosanan, sehingga ia tidak

suka lagi belajar.

c. Minat
11

Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan

mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan

terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.

Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang

dipelajari tidak sesuain dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan

sebaik-sebaiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.

d. Bakat

Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi

menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Jika bahan

pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya

lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi

dalam belajar.

e. Motif

Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa

agar dapat belajar dengan baik atau mempunyai motif untuk berfikir dan

memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang

berhubungan/ menunjang belajar.

f. Kematangan

Kematangan adalah suatu tingkat/ fase dalam pembentukan seseorang,

dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.

Belajarnya akan berhasil jika anak sudah siap (matang).

g. Kesiapan
12

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. Kesediaan itu

timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan,

karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan.

3. Faktor Kelelahan

a. Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

Kelelahan jasmani terlihat dengan lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan

untuk membaringkan tubuh.

b. Kelelahan Rohani.

Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan,

sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.

Faktor Ekstern

1. Faktor keluarga

a. Cara orang tua mendidik

b. Relasi antaranggota keluarga

c. Suasana rumah

d. Keadaan ekonomi keluarga

e. Pengertian orang tua

f. Latar belakang kebudayaan

2. Faktor Sekolah

a. Metode mengajar

b. Kurikulum

c. Relasi guru dengan siswa

d. Relasi siswa dengan siswa


13

e. Disiplin sekolah

f. Alat pelajaran

g. Waktu sekolah

h. Standar pelajaran di atas ukuran

i. Keadaan gedung

j. Metode belajar

k. Tugas rumah

3. Faktor Masyarakat

a. Kegiatan siswa dalam masyarakat

b. Mass media

c. Teman bergaul

d. Bentuk kehidupan masyarakat (Slameto, 2010: 60-72)

C. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia

menerima pengalaman belajarnya. Klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom

yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif,

ranah afektif, dan ranah psikomotoris (Sudjana, 1989: 22).

Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,

sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan (Suprijono, 2011: 5).

Hal ini juga dikemukakan oleh Bloom (dalam Suprijono, 2011: 6-7). Hasil

belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain

kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman),

menjelaskan, (meringkas), application (menerapkan), analysis


14

(mengorganisasikan, merencanakan, membentuk), evaluation (menilai). Domain

afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respons),

valuing (memberikan nilai), organization (organisasi), characterization

(karakterisasi). Domain psikomotor mencakup keterampilan produktif, teknik,

fisik, sosial, manajerial, dan intelektual. Yang harus diingat bahwa hasil belajar

adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek

potensi kemanusiaan saja melainkan komprehensif.

D. Model Explicit Instruction

Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Rosenshine dan Steven pada tahun

1986. Arends (2001) menyebutkan teori yang melandasi model ini yaitu teori

behavioral, penelitian tentang efektifitas guru, dan teori belajar sosial

(Muhammad Faiq, 2009). ([Link]

Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-


prosedural, langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah: sajian informasi
kompetensi, mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan prosedural,
membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan,
penyimpulan dan evaluasi, serta refleksi (Suyatno, 2009: 72).

Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa


tentang pengetahuan prosedur dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan
dengan pola selangkah demi selangkah.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
b. Mendemostrasikan pengetahuan dan keterampilan.
c. Membimbing pelatihan.
d. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
e. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan (Suyatno, 2009: 127-128).

Sixteen elements of explicit instruction

1. Focus Instruction on critical content.


15

2. Sequence skills logically


3. Break down complex skills and strategies into smaller instructional units.
4. Design organized and focused lessons.
5. Begin lesson with a clear statement of the lessons goals and your expectations.
6. Review prior skills and knowledge before beginning instruction
7. Provide step-by-step demonstrations.
8. Use clear and concise language.
9. Provide adequate range of examples and non-examples.
10. Provide guided and supported practice.
11. Require frequent responses.
12. Monitor student performance closely.
13. Provide immediate affirmative and corrective feedback.
14. Deliver the lesson at a brisk pace.
15. Help students organize knowledge
16. Provide distributed and cumulative practice (Archer, 2011: 1-3).

Dari keenambelas bagian Explicit Instruction diatas dapat di implementasikan

pada penelitian ini yaitu pada poin pertama dan poin kelima focus instruction on

critical content (memusatkan isi pengajaran kritis), begin lesson with a clear

statement of the lessons goals and your expectation (memulai pelajaran dengan

pertanyaan yang jelas tentang tujuan pembelajaran dan harapan dari tujuan

pembelajaran) bisa dijabarkan pada tahap pertama yaitu pada saat guru

menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa, pada saat mempersiapkan siswa

bisa dipancing dengan pertanyaan apersepsi. Kemudian poin yang ketujuh provide

step-by-step demonstrations (memberikan langkah demi langkah demonstrasi),

pada tahapan demonstrasi ini guru bisa menerapkan media pembelajaran dalam

mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan misal menampilkan gambar

struktur mata di layar in focus. Poin kesepuluh provide guided and supported

practice (memberikan panduan latihan pada siswa), bisa dijabarkan dalam guru

membimbing murid dalam pelatihan, pelatihan yang dimaksud disini adalah siswa

diberikan pertanyaan atau diberikan soal yang kemudian dijawab/dikerjakan


16

dengan cepat, dan dipresentasikan oleh siswa didepan kelas supaya materi yang

baru saja diterangkan menjadi paham. Selanjutnya poin ke sebelas require

frequent responses (memerlukan tanggapan sering), bisa dijabarkan pada guru

mengecek pemahaman murid dan memberikan umpan balik, disini guru dituntut

untuk sering tanya jawab dengan siswa untuk memantapkan materi yang baru saja

diterima. Poin keenambelas provide distributed and cumulative practice

(memberikan latihan terdistribusi dan akumulatif). Pada poin ini bisa dijabarkan

dalam langkah terakhir yaitu guru memberikan kesempatan kepada murid untuk

latihan lanjutan. Disini murid bisa betul-betul dipahamkan lagi dengan

memberikan kesempatan pada siswa untuk menerangkan kembali materi yang

sudah diberikan oleh guru.

E. Langkah-langkah pembelajaran model Explicit Instruction

Secara garis besar, terdapat lima langkah dalam pengajaran Explicit Instruction

(Herdian, 2009), antara lain sebagai berikut:

1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa

Mempersiapkan siswa dan menyampaikan tujuan merupakan langkah pertama

pada model Explicit Instruction. Hal ini dilakukan di awal pelajaran oleh guru,

dimaksudkan untuk menyamakan konsep guru dan siswa mengenai materi yang

akan disampaikan. Kegiatan yang dilakukan dalam mempersiapkan siswa

diantaranya adalah memberikan apersepsi kepada siswa mengenai pembelajaran

yang telah lalu. Sedangkan penyampaian tujuan dimaksudkan agar siswa

mengetahui kompetensi apa saja yang harus dikuasai dari materi yang akan

disampaikan.
17

2. Guru mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan

Metode demonstrasi menurut Muhibbin Syah (1995) adalah .metode mengajar

dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan

kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran

yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.

Sedangkan menurut Dalam kamus Inggris-Indonesia, demonstrasi yaitu:

mempertunjukkan atau mempertontonkan. Dari definisi di atas dapat dipahami

bahwa kegiatan demonstrasi di kelas yaitu guru memperagakan atau mengerjakan

materi yang sedang diberikan kepada siswa pada saat pembelajaran yang

kemudian diikuti siswa. Sehingga materi yang diberikan akan lebih bermakna di

ingatan mereka. Misalnya guru mendemostrasikan cara membuat dokumen baru,

maka siswa tidak hanya akan mengingat langkah-langkahnya saja tetapi juga akan

mengetahui dan hafal menu dan icon apa saja yang dipakai.

3. Guru membimbing murid dalam pelatihan

Setelah pemberian materi dan memberikan demonstrasi kepada siswa, kini

saatnya guru memberikan latihan kepada murid. Hal ini dilakukan untuk melihat

apakah siswa sudah benar-benar mengerti mengenai materi yang diberikan.

Tetapi pada saat siswa mengerjakan latihan ini, guru harus memiliki asumsi siswa

lupa dengan materi yang tadi diberikan atau kurang paham dengan materi setelah

diaplikasikan dipertanyaan. Karena itu guru harus membimbing siswanya dalam

pelatihan tersebut agar tidak terjadi kesalahan sehingga dapat mengerjakan soal

dengan baik.

4. Guru mengecek pemahaman murid dan memberikan umpan balik


18

Untuk mengecek ketercapaian kompetensi guru akan mengecek pemahaman

murid dan memberikan umpan balik. Hal yang dilakukan biasanya memberikan

pertanyaan seputar materi yang telah diberikan. Selain memberikan pertanyaan

guru juga bisa menminta siswa untuk menyimpulkan apa saja yang telah dipelajari

pada pembelajaran hari itu.

5. Guru memberikan kesempatan kepada murid untuk latihan lanjutan

Pada langkah yang terakhir dari metode ini yaitu guru harus memberikan

latihan lanjutan atau latihan mandiri. Latihan lanjutan ini bisa berupa pekerjaan

rumah. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak melupakan pelajaran yang telah lalu

dan tetap berlatih untuk meningkatkan kompetensinya.

Kelebihan:

1. Siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya.

2. Semua siswa aktif / terlibat dalam pembelajaran.

Kekurangan:

1. Memerlukan waktu lama sehingga siswa yang tampil tidak begitu lama.

2. Untuk mata pelajaran tertentu.

([Link]

F. Perbandingan Model Explicit Instruction dan Direct Instruction

Model Explicit Instruction dan Direct Instruction memang memiliki banyak

kesamaan, tetapi disamping itu juga masing- masing memiliki perbedaan yang

sangat penting. Beberapa peneliti pendidikan menunjukkan bahwa model Direct

Instruction telah berkembang menjadi model Explicit Instruction, sementara yang

lain tetap menunjukkan bahwa ada perbedaan yang tajam antara kedua model ini.
19

Menurut Dole, Duffy, Roehler, dan Pearson (1991, hal 252), menjelaskan model

Explicit Instruction di sini, sementara menganjurkan mirip dengan model Direct

Instruction pada tahun 1970-an, memiliki perbedaan penting. Keduanya

menekankan strategi demonstrasi oleh guru, strategi latihan terpadu, dan praktek

mandiri atau penerapan strategi belajar.

Namun, ada tiga perbedaan utama, yaitu dalam Model Explicit Instruction:

1. Tidak ada asumsi bahwa strategi tersebut akan rusak jika dipakai ke dalam sub

komponen-keterampilan. Strategi ini dapat dipakai untuk menunjukkan,

berlatih, dan diterapkan pada seluruh pemahaman tugas.

2. Tidak ada cara terbaik untuk menerapkan strategi tertentu. Model ini dapat

digunakan dalam berbagai cara dengan tugas yang berbeda.

3. Penekanannya adalah pada kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas strategi,

bukan pada kebenaran menerapkan strategi tertentu. (Calhoun E., 1998).

([Link]
instruction/)

G. Metode Diskusi.

Menurut Takari (2010: 30). Diskusi merupakan metode pembelajaran melalui


interaksi dalam kelompok. Setiap anggota kelompok bertukar ide tentang sesuatu
yang dibicarakan dalam pembelajaran, atau sesuatu yang dijadikan masalah
sehingga dapat saling menambah pengetahuan atau memahami dari isi
pembelajaran.

Diskusi adalah memberikan alternatif jawaban untuk membantu memecahkan


berbagai problem kehidupan. Dengan catatan persoalan yang akan didiskusikan
harus dikuasai secara mendalam. Diskusi terasa kaku bila persoalan yang akan
didiskusikan tidsk dikuasai. Dalam diskusi, guru menyuruh anak didik memilih
jawaban yang tepat dari banyak kemungkinan alternatif jawaban.
a. Kelebihan metode diskusi
20

1. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan


berbagai jalan dan bukan satu jalan (satu jawaban saja).
2. Menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling
mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh
keputusan yang lebih baik.
3. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain
sekalipun berbeda dengan pendapatnya sendiri dan membinasakan
bersikap toleran.
b. Kekurangan metode diskusi
1. Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
2. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
4. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Djamarah,
2005: 236-237)

H. Deskripsi Materi Pokok Bahasan Sub Konsep Alat Indra.

1. Pengertian Alat Indra

Di dalam tubuh manusia terdapat bermacam-macam reseptor untuk

mengetahui rangsang-rangsangan dari luar atau di sebut juga eksteroseptor.

eksteroseptor sering juga disebut alat indra.

Ada lima macam alat indra dalam tubuh manusia, yaitu indra penglihatan,

indra pendengar, indra peraba dan perasa, indra pencium dan pengecap. berikut ini

akan dibahas secara rinci alat indra tersebut satu persatu.

2. Indra Penglihat (Mata)

Mata adalah organ indra yang memiliki reseptor peka cahaya yang

fotoreseptor. Setiap mata mempunyai lapisan reseptor, sistem lensa untuk

memusatkan cahaya pada reseptor, dan sistem saraf untuk menghantarkan impuls

dari reseptor ke otak.

Pada bagian retina, terdapat kurang lebih 125 juta sel batang (sel basilus) yang

mampu merangsang sinar tak berwarna, dan kurang lebih 6,5 juta sel kerucut (sel

konus) yang mampu menerima rangsang sinar kuat dan berwarna.


21

Sel batang mengandung pigmen yang peka terhadap cahaya yang disebut

rodospin, yaitu suatu bentuk senyawa antara vitamin A dengan protein tertentu.

Bila terkena sinar terang, rodospin terurai akan terbentuk kembali dalam keadaan

gelap. Proses pembentukan rodopsin memerlukan waktu yang disebut waktu

adaptasi rodopsin. dalam waktu adaptasi, mata kurang dapat melihat.

Sel kerucut mengandung pigmen idopsin, yaitu senyawa retinin dan opsin.

Ada tiga macam sel kerucut yang peka terhadap ransangan warna tertentu yaitu

merah, biru, atau kuning. Penderita buta warna ada yang disebut dikromat atau

monokromat. Dikromat adalah orang yang hanya mempunyai dua sel kerucut,

mereka menderita buta warna sebagian. Dikromat hanya menyerasikan spektum

warna dengan mencapur dua warna saja. Monokromat merupakan orang yang

hanya dapat membedakan hitam dan putih serta bayangan kelabu (Pratiwi dkk,

2006: 201-203).

3. Bagian-bagian bola mata dan fungsinya

Gambar 2.1 Bagian-Bagian Mata


(Sumber: Aryanimalawat, 2010)

a. Konjungtiva: Melindungi kornea dari gesekan.


22

b. Sklera: Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat

melekatnya otot mata.

c. Otot-otot yang melekat pada mata:

d. Muskulus rektus superior, inferior, medial, lateral, oblikus superior, oblikus

inferior.

e. Kornea: Memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksi cahaya.

f. Koroid: Mengandung pembuluh darah penyuplai retina dan melindungi refleksi

cahaya dalam mata.

g. Badan siliaris: Menyokong lensa mengandung otot yang memungkinkan lensa

berubah bentuk, dan mensekresikan aqueous humor.

h. Iris (pupil): Mengendalikan ukuran pupil, sedangkan pigmennya mengurangi

lewatnya cahaya.

i. Lensa: Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa.

j. Retina: Mengandung sel batang dan kerucut.

k. Fovea( Bintik kuning): Bagian retina yang mengandung sel kerucut.

l. Bintik buta: Daerah tempat saraf optik meninggalkan bagian dalam bola mata

dan tidak mengandung sel konus dan batang.

[Link] humor: Menyokong lensa dan menolong dalam menjaga bentuk bola

mata.

n. Aqueous humor: Menjaga bentuk kantong depan bola mata.

o. Ligamen suspensor : berfungsi menjaga lensa agar selalu pada tempatnya.

4. Proses Penglihatan
23

Apabila ada rangsang cahaya masuk ke mata maka rangsang tersebut akan

diteruskan mulai dari kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreous humor dan

terakhir retina. Kemudian akan diteruskan ke bagian saraf penglihat atau saraf

optik yang berlanjut dengan lobus osipital sebagai pusat penglihatan pada otak

besar. Bagian lobus osipital kanan akan menerima rangsang dari mata kiri dan

sebaliknya lobus osipital kiri akan menerima rangsang mata kanan. Di dalam

lobus osipital ini rangsang akan diolah kemudian diinterpretasikan. Sehingga

apabila seseorang mengalami kecelakaan dan mengalami kerusakan lobus osipital

ini maka dia akan mengalami buta permanen, walaupun bola matanya sehat.

([Link]

Kecembungan lensa dapat berubah-ubah. Perubahan kecembungan tersebut

karena kontraksi dan relaksasi otot-otot ligament (badan siliaris) yang melekat

pada bola mata. Kecembungan lensa mata yang dapat berubah-ubah dapat

membuat pandangan menjadi fokus atau sebaliknya. Inilah yang dinamakan daya

akomondasi lensa mata.

Bila mata melihat benda yang dekat, maka otot siliaris berkontraksi. Lensa

menjadi menebal untuk menangkap cahaya sehingga objek yang dekat dapat

difokuskan pada retina. Akan tetapi, saat melihat jauh, otot siliaris berleaksasi,

lensa menjadi memipih dan objek difokuskan pada retina.

Mata yang normal adalah yang dapat memfokuskan sinar-sinar sejajar yang

masuk ke mata sehingga jatuh tepat ke bintik kuning di retina. Dengan demikian,

benda dapat dilihat dengan jelas. Keadaan ini disebut emetrop (Pratiwi dkk, 2006:

203).
24

Gambar 2.2 Daya Akomodasi Mata


(Sumber: Aktifisika, 2008)
5. Kelainan-kelainan pada mata

a. Miopi (mata dekat) penyebab bayangan benda jatuh di depan retina karena bola

mata terlalu panjang (cembung) dibantu dengan lensa cekung.

b. Hipermetropi (mata jauh) penyebab bayangan benda jatuh di belakang retina

karena bola mata terlalu pendek atau bola mata terlalu pipih dibantu dengan lensa

cembung.

c. Astigmatisma penyebabnya yaitu kecembungan kornea tidak merata sehingga

bayangan menjadi tidak terfokus (kabur) dibantu dengan lensa silinder.

d. Presbiopi: penyebab: daya akomodasi mata berkurang, akibatnya tidak dapat

melihat jauh maupun dekat dengan jelas. Kelainan ini dapat diatasi dengan

kacamata bifokal.
25

e. Rabun senja: penyebabnya kekurangan vitamin A, akibatnya tidak dapat

melihat dengan baik pada saat senja dan malam hari dan untuk pencegahan

dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A

f. Keratomalasi: penyebabnya kekurangan vitamin A yang parah, akibatnya

kornea mata keruh, permukaan mata kering dan kasar dan penglihatan berkurang

hingga kebutaan.

g. Katarak: penyebabnya lensa mata keruh dan kabur, akibatnya cahaya tidak

sampai ke retina. Dapat diatasi dengan operasi

h. Juling: penyebabnya ketidakserasian kerja otot penggerak bola mata kanan dan

kiri. Dapat diatasi dengan operasi

i. Buta Warna: penyebabnya keturunan, akibat: tidak dapat melihat warna tertentu.

Kelainan ini tidak dapat disembuhkan dan lebih banyak menyerang laki-laki.

6. Indra Pendengar (Telinga)

Mendengar adalah kemampuan untuk mendeteksi vibrasi mekanis (getaran)

yang kita sebut suara. Dalam keadaan biasa, getaran mencapai indra pendengar,

yaitu telinga bagian luar, tengah, dan dalam. Telinga bagian luar yang terdiri dari

daun telinga dan liang telinga berfungsi membantu mengkonsentrasikan

gelombang suara. Rongga telinga tengah terisi oleh udara, sedangkan rongga

telinga dalam terisi oleh cairan limfa.

7. Bagian-bagian telinga dan fungsinya


26

Gambar 2.3 Bagian-Bagian Telinga Manusia


(Sumber: Sugiarto, 2008)

Gambar 2.4 Struktur Telinga


(Sumber: Aryanimalawat, 2010)
27

Telinga luar:

a. Pinna (daun telinga) berfungsi membantu mengkonsentrasikan gelombang

suara (vibrasi).

Telinga tengah

a. Membran timpani (selaput gendang) berfungsi meneruskan vibrasi ke osikula.

b. Tulang martil (maleus), tulang landasan (inkus), tulang sanggurdi (stapes)

berfungsi meneruskan vibrasi/getaran ke jendela oval.

c. Saluran Eustachius berfungsi menyeimbangkan tekanan udara antara telinga

tengah dan lingkungan.

Telinga Dalam

a. Jendela oval berfungsi sebagai penghubung telinga tengah dan telinga dalam.

b. Jendela melingkar berfungsi sebagai reseptor suara.

c. Koklea (rumah siput) berfungsi sebagai reseptor untuk gerakan kepala.

d. saluran semisirkuler dan utrikulus berfungsi sebagai reseptor gravitasi.

e. Organ korti berfungsi sebagai tempat sel reseptor suara yang berbentuk rambut.

f. Membran tektorial berfungsi meneruskan vibrasi ke organ korti.

8. Proses Pendengaran/ Mekanisme Terjadinya Suara

Gelombang suara yang masuk ke dalam liang telinga akan memukul gendang

telinga (membran timpani) sehingga bergetar. Getaran membran timpani

ditransmisikan melintasi telinga tengah melalui tiga tulang kecil, yang terdiri dari

tulang martil (maleus), landasan (inkus), sanggurdi (stapes). Telinga tengah

dihubungkan ke naso faring oleh tabung Eustachius. Getaran dari osikula yang

paling dalam (dari tulang sanggurdi) ditransmisikan ke telinga dalam melalui


28

membran jendela oval ke koklea. Koklea merupakan suatu tabung yang kurang

lebih panjangnya 3 cm dan bergulung seperti rumah siput. Koklea berisi cairan

limfa. Getaran dari jendela oval ditransmisikan kedalam cairan limfa dalam

ruangan koklea. Selanjutnya getaran diteruskan dengan gerak berlawanan arah ke

jendela bundar. Dibagian dalam ruangan koklea terdapat organ korti. Organ korti

berisi sel-sel rambut yang sangat peka. Inilah reseptor getaran sebenarnya. Sel-sel

rambut tersebut terletak diantara membran basiler dan membran tektorial. Getaran

dalam cairan koklea menimbulkan getaran dalam membran basiler. Hal ini

menggerakkan sel-sel rambut terhadap membran tektorial, yang berarti

menstimulasinya. Impuls listrik yang timbul dalam sel ini kemudian diteruskan

oleh saraf auditori ke otak. Dengan demikian kita dapat mendengarkan suara.

Secara garis besar proses pendengaran yaitu sebagai berikut, transmisi gelombang

suara melewati: saluran pendengaran, membran timpani, osikula (maleus, inkus,

stapes), koklea, organ korti, saraf auditor kemudian ke otak. (Pratiwi dkk, 2006:

207).

Selain berfungsi sebagai organ pendengaran, telinga juga berfungsi sebagai organ

keseimbangan.

9. Alat keseimbangan (Ekuilibrum)

Selain untuk mendeteksi gelombang suara, telinga juga sebagai alat deteksi

posisi tubuh yang berhubungan dengan gravitasi dan gerak tubuh. Kedua fungsi

ini cukup berbeda dengan fungsideteksi [Link] koklea ada dua kantong

yang berisi cairan limfa, yaitu tiga saluran setengah lingkaran (saluran

semisirkuler) dan vestibulum. Saluran semisirkuler mempunyai dasar yang


29

menggelembung disebut ampula. Ampula mengandung sel bersilia dan berfungsi

sebagai reseptor yang disebut Krista. Krista terbenam dalam massa seperti gelatin

yang disebut kupula. Jika kepala menggeleng materi gelatin ikut bergoyang dan

silia melengkung. Pelengkungan ini menimbulkan impuls saraf yang kemudian

disampaikan ke otak.

Gambar 2.5 Bagian-Bagian Koklea


(Sumber: Aryani, 2010)

Vestibulum terdiri dari dua bagian yaitu sakulus dan utrikulus yang berupa

kantong dan dilapisi oleh sel-sel rambut dan silia. Utrikulus dan sakulus berisi

endolimfa, masing-masing memiliki sel reseptor di dalam dindingnya yang

disebut makula. Makula ini terbenam dalam masa yang seperti jeli yang

mengandung Kristal kapur, disebut otolit. Otolit ini dipengaruhi oleh gravitasi

Jika kepala menggeleng otolit ikut bergoyang dan silia melengkung.

Pelengkungan ini menyebabkan terjadinya impuls saraf di serabut saraf. Impuls

dari reseptor akan diinterpretasikan di otak dan hasilnya adalah informasi tentang

posisi kepala (Pratiwi dkk, 2006: 207-208)

10. Kelainan-kelainan pada telinga


30

a. Radang telinga penyebab: baketri dan virus menyerang bagian luar melalui

kotoran yang masuk ketika berenang, menyerang bagian dalam, bakteri atau virus

masuk dari rongga mulut melalui saluran eustachius.

b. Otosklerosis penyebab: tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat bergerak leluasa,

akibatnya tuli konduksi yang menahun.

c. Tuli atau tuna rungu ialah kehilangan kemampuan untuk dapat mendengar. Tuli

dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tuli konduktif dan tuli saraf. Tuli

konduktif terjadi disebabkan oleh menumpuknya kotoran telinga di saluran

pendengaran, sehingga mengganggu transmisi suara ke koklea. Tuli saraf terjadi

bila terdapat kerusakan syaraf pendengaran atau kerusakan pada koklea

khususnya pada organ korti.

a. Radang telinga penyebab: baketri dan virus menyerang bagian luar melalui

kotoran yang masuk ketika berenang, menyerang bagian dalam, bakteri atau virus

masuk dari rongga mulut melalui saluran eustachius.

b. Otosklerosis penyebab: tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat bergerak leluasa,

akibatnya tuli konduksi yang menahun.

c. Tuli atau tuna rungu ialah kehilangan kemampuan untuk dapat mendengar. Tuli

dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tuli konduktif dan tuli saraf. Tuli

konduktif terjadi disebabkan oleh menumpuknya kotoran telinga di saluran

pendengaran, sehingga mengganggu transmisi suara ke koklea. Tuli saraf terjadi

bila terdapat kerusakan syaraf pendengaran atau kerusakan pada koklea

khususnya pada organ korti.


31
32
33
34

Anda mungkin juga menyukai