LAPORAN PRAKTIKUM
POSISI KERJA RAHANG ATAS
MATA KULIAH DENTAL ASISTEN
Dosen Pembimbing : Luci Fitriyani, [Link]., [Link]
Disusun Oleh :
Nazila Gusti Citra (P1337425223006)
Nadya Bela Pratiwi (P1337425223009)
Evelyn Febyshania (P1337425223012)
Anggun Wulandari (P1337425223014)
Jian Nur Farida (P1337425223017)
Metta Kusalena (P1337425223023)
JURUSAN KESEHATAN GIGI
PRODI TERAPI GIGI PROGRAM SARJANA TERAPAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2025
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Posisi kerja yang tepat sangat memengaruhi kualitas perawatan yang diberikan
kepada pasien. Operator rahang atas bertanggung jawab untuk memposisikan alat dan
pasien dengan benar guna memastikan akses yang optimal ke area kerja, seperti saat
melakukan pembersihan gigi, pencabutan, atau penempatan alat ortodontik.
Praktikum ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam
tentang teknik dan prosedur yang tepat dalam posisi kerja operator rahang atas. Hal
ini meliputi pemahaman tentang anatomi mulut, teknik pengendalian alat, serta
protokol keselamatan dan kebersihan yang harus diterapkan untuk mencegah infeksi
dan komplikasi.
Melalui laporan ini, diharapkan dapat disajikan hasil analisis dan evaluasi
mengenai praktik yang telah dilakukan, serta rekomendasi untuk meningkatkan
keterampilan dan pengetahuan para profesional keperawatan gigi. Dengan demikian,
diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada
pasien.
B. TUJUAN
1. Memahami prinsip ergonomi dalam posisi kerja rahang bawah.
2. Mempelajari teknik posisi kerja yang benar dalam perawatan rahang bawah.
3. Meningkatkan keterampilan dan efisiensi dalam membantu prosedur operator.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Posisi kerja yang ergonomis sangat penting bagi operator dalam praktik
kedokteran gigi, terutama saat melakukan prosedur pada rahang atas. Posisi yang
tepat tidak hanya meningkatkan efektivitas prosedur, tetapi juga mencegah cedera
muskuloskeletal jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 64-93%
dokter gigi mengalami gangguan muskuloskeletal akibat posisi kerja yang tidak
ergonomis (Hayes et al., 2009). Gangguan ini dapat berupa nyeri pada leher,
punggung, dan bahu akibat tekanan berlebih pada otot dan persendian selama
prosedur berlangsung (Santos et al., 2020). Oleh karena itu, pemilihan posisi kerja
yang sesuai sangat penting untuk meningkatkan kenyamanan operator dan pasien,
serta memastikan kualitas perawatan yang optimal.
Posisi kerja yang baik memberikan beberapa manfaat utama. Pertama, posisi
yang stabil memungkinkan operator untuk memiliki kontrol yang lebih baik terhadap
instrumen, sehingga meningkatkan presisi dan efisiensi dalam prosedur seperti
ekstraksi gigi atau pencetakan rahang atas (Al-Shehri, 2018). Kedua, posisi ergonomis
membantu mengurangi tekanan pada sistem muskuloskeletal, sehingga dapat
mencegah gangguan kesehatan akibat postur yang tidak tepat. Selain itu, posisi kerja
yang sesuai juga dapat meningkatkan kenyamanan pasien, karena pasien tidak perlu
melakukan gerakan yang tidak wajar atau menahan posisi yang tidak nyaman dalam
waktu lama (Khan et al., 2021).
Dalam praktiknya, posisi kerja operator dalam perawatan rahang atas dapat
disesuaikan dengan lokasi gigi yang dirawat. Untuk gigi pada sisi kanan rahang atas,
operator biasanya berada pada posisi jam 10 hingga 11, dengan kepala pasien
menoleh ke kiri. Sementara itu, untuk gigi pada sisi kiri rahang atas, operator berada
pada posisi jam 9 hingga 10, dengan kepala pasien menoleh ke arah operator. Ketika
melakukan pencetakan rahang atas, operator umumnya berdiri di belakang pasien
dengan siku setinggi mulut pasien untuk memastikan hasil cetakan yang optimal
(Alomedika, 2023).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. ALAT DAN BAHAN
1. Dental chair
2. Kursi untuk operator
3. OD set ( Bekken, Kaca mulut, Sonde, Excavator, Pinset)
4. Tang Mahkota Dewasa Anterior Rahang Atas
5. Tang Mahkota Dewasa Posterior Rahang Bawah
6. Handscoon
7. Dental tray
8. Napkin
9. Tampon/Cotton Roll/Cotton Pellet
10. Povidone Iodine
B. PROSEDUR
1. Persiapan
a. Operator
- Mencuci tangan, menggunakan handscoon dan mengenakan alat pelindung
diri
- Menyiapkan alat dan bahan
- Memposisikan rendah dental chair, agar pasien dapat dengan mudah duduk
b. Pasien
- Dipakaian celemek
- Duduk di dental chair
2. Posisi Kerja
a. Sit Down Position :
- Operator duduk di kursi operator dengan posisi badan tegap dan kaki
sejajar dengan lantai
- Memposisikan dental chair pasien menjadi supine dan diatur backrest
sesuai ketinggian mulut pasien agar sejajar dengan siku operator
- Mengatur posisi lampu dental unit
b. Standing Position :
- Operator berdiri tegap, tidak membungkuk
- Memposisikan dental chair pasien kira-kira 120 derajat dengan ketinggian
mulut pasien sejajar dengan siku operator
- Memposisikan lampu dental unit
3. Pelaksanaan Sit Down Position
a. Inspeksi gigi posterior, amati bagian buccal. Catat gigi yang bisa dilihat
secara langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9,
serta jam 10/11
b. Inspeksi gigi posterior, amati bagian palatal. Catat gigi yang bisa dilihat
secara langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9,
serta jam 10/11
c. Inspeksi gigi posterior, amati bagian occlusal. Catat gigi yang bisa dilihat
secara langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9,
serta jam 10/11
d. Inspeksi gigi anterior, amati bagian labial. Catat gigi yang bisa dilihat secara
langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9, serta jam
10/11
e. Inspeksi gigi anterior, amati bagian palatal. Catat gigi yang bisa dilihat secara
langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9, serta jam
10/11
4. Pelaksanaan Standing Position
a. Inspeksi gigi posterior, amati bagian buccal. Catat gigi yang bisa dilihat
secara langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9,
serta jam 10/11
b. Inspeksi gigi posterior, amati bagian palatal. Catat gigi yang bisa dilihat
secara langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9,
serta jam 10/11
c. Inspeksi gigi posterior, amati bagian occlusal. Catat gigi yang bisa dilihat
secara langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9,
serta jam 10/11
d. Inspeksi gigi anterior, amati bagian labial. Catat gigi yang bisa dilihat secara
langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9, serta jam
10/11
e. Inspeksi gigi anterior, amati bagian palatal. Catat gigi yang bisa dilihat secara
langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9, serta jam
10/11
f. Inspeksi gigi anterior, amati bagian incisal. Catat gigi yang bisa dilihat secara
langsung dan tidak langsung. Lakukan pada posisi di jam 8, jam 9, serta jam
10/11
5. Pencabutan
1. Operator berdiri di depan kanan (pencabutan posterior) atau samping
kanan pasien (pencabutan anterior) di posisi jam 8-9
2. Posisi jari tangan :
o Gigi posterior : ibu jari di palatal dan telunjuk di labial
o Gigi anterior : ibu jari di palatal, telunjuk buccal
Gambar. Posisi Gambar. Posisi
Pencabutan Rahang Pencabutan Rahang
Atas Posterior Atas Anterior
Standing Position Standing Positionn
6. Scalling dan Penumpatan
Operator berada di kanan pasien sekitar jam 8-11 menyesuaikan
sekstan yang akan dilakukan tindakan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. POSISI KERJA RAHANG ATAS (SIT DOWN POSITIO
JAM 8 JAM 9
GIGI TIDAK
LANGSUN LANGSUN TIDAK
POSTERI LANGSUN LANG
G G LANGSUNG
OR G
18,17,16,1 24,25,26,27 18,17,16,1 24,25,26,27,2
BUCCAL 5,14 ,28 5,14 8 15,14
18,17,16,15,1
18,17,16,15, 4,
14
,24,25,26,27 24,25,26,27,2
PALATAL - ,28 - 8 -
18,17,16,15 18,17,16,15,1
,14, 4,
OCCLUS 24,25,26,27, 24,25,26,27,2
AL - 28 - 8 -
GIGI TIDAK
LANGSUN LANGSUN TIDAK
ANTERI LANGSUN LANG
G G LANGSUNG
OR G
13,12,11,2
1 13,12,11,2 13,12
LABIAL ,22,23 - 1,22 23 2,23
13,12,11,21
, 13,12,11,21,2
PALATAL - 22,23 - 2,23
13,12,11,21 13,12,11,21,2
INCISAL - ,22,23 - 2,23
2. POSISI KERJA RAHANG ATAS (STANDING POSITIO
JAM 8 JAM 9
GIGI
TIDAK LANGSUN TIDAK LA
POSTERIO LANGSUNG
LANGSUNG G LANGSUNG U
R
18,24,25, 18,17,24,25,
BUCCAL 17,16,15,14 26,27,28 16,15,14 26,27,28 1
18,17,16,15,1 18,17,16,15,1
4 4,
,24,25,26,27, 24,25,26,27,2
PALATAL 28 8
18,17,16,15,1 18,17,16,15,1
4, 4,
24,25,26,27,2 24,25,26,27,2
OCCLUSAL 8 8
GIGI TIDAK LANGSUN TIDAK LA
LANGSUNG
ANTERIOR LANGSUNG G LANGSUNG U
13,12,11,21, 13,12,11,2
LABIAL 22,23 1,22 23
PALATAL 13,12,11,21, 13,12,11,21,
22,23 22,23
13,12,11,21,
INCISAL 13,12,21,22 13,23 22,23
3. POSISI KERJA DI DENTAL UNIT SESUAI KEGIATAN KERJA di RAH
KEGIAT REGIO GIGI
SEXTAN
AN SEXTAN 1 SEXTAN 2
3
PENCABUT Diisi
AN 08.00 08.00 08.00 dengan:
PENUMPA
TAN 1. Posisi jam berapa
BUKAL/LAB
IAL 09.00/L 09.00/L 08.00/TL 2. Dilihat secara L/TL
PALATAL 08.00/TL 09.00/TL 08.00/L Contoh :
MESIAL/DI
STAL 09.00/L 09.00/L 08.00/TL * 8.00
* 8.00 / GIG
OKLUSAL 08.00/TL 08.00/TL 08.00/TL L TE
GIG
SCALING 08.00 08.00 08.00 SU
B. PEMBAHASAN
Dari hasil praktikum, ditemukan bahwa posisi kerja yang ergonomis sangat membantu
dalam meningkatkan visibilitas dan kenyamanan saat bekerja pada rahang atas. Pengaturan
kursi pasien yang tepat serta koordinasi yang baik sangat berpengaruh terhadap kelancaran
prosedur. Operator yang mempertahankan postur tegak dengan sudut pandang optimal
mampu bekerja dengan lebih presisi dan tanpa kelelahan berlebihan.
Pada sit down position, operator memiliki kontrol lebih baik terhadap instrumen dan
visibilitas, namun tetap perlu memperhatikan postur tubuh agar tidak menimbulkan nyeri
punggung atau leher. Sedangkan dalam standing position, fleksibilitas lebih tinggi, tetapi
keseimbangan tubuh harus diperhatikan agar tidak cepat lelah.
Selain itu, pencahayaan yang baik juga menjadi faktor utama dalam menunjang efektivitas
kerja. Operator yang menyesuaikan posisi lampu dengan baik mendapatkan visibilitas yang
lebih jelas, sehingga prosedur berjalan lebih lancar dan akurat.
BAB V
Jadi dalam klinik kedokteran gigi ada dua macam posisi bekerja : standing dentistry
dan sit down dentistry, kemudian kinerja dokter gigi dapat terkait dengan gangguan
muskuloskeletal apabila saat bekerja dokter gigi sering melakukan pergerakan di luar zona
netral mereka sehingga posisi tubuh tidak seimbang.
Pekerjaan dokter gigi yang menuntut ketelitian dan konsentrasi tinggi sering kali
membuat dokter gigi berlama-lama dalam suatu posisi. Ketika posisi kerja dan postur dari
dokter gigi tersebut tidak fleksibel atau tidak benar maka dapat meningkatkan resiko
terjadinya Musculoskeletal Disorders.
Resiko terjadinya musculoskeletal disorder dapat diminimalkan dengan
memaksimalkan efektivitas posisi operator, peralatan, pasien dan asisten. Konsep ergonomi
diperkenalkan di kedokteran gigi dalam rangka untuk memperbaiki kondisi kerja operator
dan konsep kerja yang meliputi Four Handed Dentistry dan
posisi duduk dari operator, pasien, serta asisten. Posisi kerja sesuai arah jarum jam
DAFTAR PUSTAKA
Alomedika. (2023). "Teknik Ekstraksi Gigi." Retrieved from Alomedika
Al-Shehri, Z. S. (2018). "Ergonomics in Dental Practice." Journal of Dental Health
and
Oral Disorders, 9(4), 229-234. NCBI
Hayes, M. J., et al. (2009). "Prevalence of Musculoskeletal Disorders in Australian
Dentists." International Dental Journal, 59(6), 406-412. PubMed
Khan, S. A., et al. (2021). "Impact of Ergonomic Interventions on Dental
Practitioners:
A Review." Journal of Oral Biology and Craniofacial Research, 11(3),
326-
332. ScienceDirect
Santos, P. A., et al. (2020). "Work-Related Musculoskeletal Disorders in Dentistry: A
Systematic Review." Journal of Back and Musculoskeletal Rehabilitation,
33(6), 897-904. PubMed