0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan24 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Laporan pendahuluan ini membahas asuhan keperawatan pada klien dengan Diabetes Melitus, mencakup latar belakang, definisi, etiologi, patofisiologi, dan komplikasi penyakit. Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia dan dapat menurun dalam keluarga, dengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia. Dukungan keluarga sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup penderita Diabetes Melitus dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Diunggah oleh

helzamutiarahma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan24 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Laporan pendahuluan ini membahas asuhan keperawatan pada klien dengan Diabetes Melitus, mencakup latar belakang, definisi, etiologi, patofisiologi, dan komplikasi penyakit. Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia dan dapat menurun dalam keluarga, dengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia. Dukungan keluarga sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup penderita Diabetes Melitus dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Diunggah oleh

helzamutiarahma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

“LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN


DENGAN DIABETES MELITUS”

PRAKTIK KLINIK KELUARGA


SEMESTER V T.A. 2024/ 2025

NAMA : Helzi Rahmawati


NIM : P032214401057

CLINICAL TEACHER CLINICAL INSTRUCTUR

TTD TTD

PRODI D-III KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES KEMENKES RIAU
T. A. 2024/ 2025
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji dan Syukur kita sampaikan kehadirat Allah SWT karena berkah
rahmat dan ridho-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kami untuk membuat laporan
pendahuluan ini dengan baik serta tepat pada waktunya.
Laporan pendahuluan yang berjudul “ Diabetes Melitus “ ini bisa diselesaikan berkat
bantuan dari berbagai pihak sehingga memudahkan kami dalam menyelesaikan tantangan dan
hambatan dalam membuat laporan pendahuluan ini. Oleh karena itu, kami sampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar – besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan laporan pendahuluan ini. Sebelumnya, kami sampaikan juga ucapan terima
kasih kepada Dosen kami yang telah memberi arahan kepada kami tentang hal – hal yang belum
kami ketahui.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan – kekurangan mendasar dalam
makalah ini. Oleh karena itu, kami berharap pembaca untuk memberikan saran maupun kritik
yang bersifat membangun demi penyempurnaan laporan pendahuluan selanjutnya.
Demikianlah dari kami, akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kepentingan kita bersama.

Pekanbaru, 05 November 2024

Helzi Rahmawati
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2

DAFTAR ISI .............................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 4

A. Latar Belakang ................................................................................................................ 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 6

A. KONSEP MEDIK ........................................................................................................... 6

1. Definisi Diabetes Melitus ........................................................................................ 6

2. Etiologi Diabetes Melitus ........................................................................................ 6

3. Patofisiologi Diabetes Melitus................................................................................. 7

4. Pathway Diabetes Melitus ....................................................................................... 9

5. Menifestasi Diabetes Melitus ................................................................................ 10

6. Komplikasi Diabetes Melitus ................................................................................ 11

7. Klasifikasi Diabetes Melitus .................................................................................. 11

8. Pemeriksaan Diagnostik Diabetes Melitus ............................................................ 12

9. Penatalaksanaan Diabetes Melitus......................................................................... 13

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS ................................................................ 15

A. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ...................................................................... 15

a. Pengkajian ............................................................................................................. 15

b. Diagnosa Keperawatan .......................................................................................... 20

c. Intervensi Keperawatan ........................................................................................ 21

d. Implementasi Keperawatan ................................................................................... 23

e. Evaluasi Keperawatan ........................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 24


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Diabetes Mellitus adalah penyakit yang dapat menurun, jika dalam
sebuah keluarga terdapat anggota keluarga yang menderita Diabetes Mellitus maka
kemungkinan besar akan menurun, kurangnya pengetahuan keluarga tentang kesehatan
dapat menjadi masalah serius karena keluarga tidak dapat menjalankan 5 tugas keluarga,
misalnya keluarga tidak mengerti bagaimana cara melakukan perawatan pada anggota
keluarga yang sakit, tidak mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan, tidak membuat
keputusan dan mengambil keputusan yang tepat, tidak mampu memberikan lingkungan
yang tepat, sehingga pada keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang memiliki
penyakit Diabetes Mellitus harus mendapatkan perhatian yang cukup agar Keluarga
memahami konsep dasar Diabetes Mellitus serta mencegah komplikasi dari Diabetes
Mellitus. Masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga, dalam mengambil keputusan dan
memecahkan masalah tersebut adalah kepala keluarga dan anggota yang dituakan. Dalam
mengatasi masalah ini peran perawat kesehatan adalah memberikan. keperawatan keluarga
untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Angka kejadian DM di dunia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.
Data terakhir dari World Health Organization (WHO) menunjukkan pada tahun 2000
sebanyak 150 juta penduduk dunia menderita DM dan angka ini akan menjadi dua kali
lipat sampai pada tahun 2025. International Diabetes Federation (2014) telah melaporkan
terdapat kematian sebesar 4,6 juta setiap tahunnya dan lebih dari 10 juta pasien mengalami
kelumpuhan dan komplikasi seperti serangan jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan dan
amputasi. Pada tahun 2015 Indonesia berdiri pada posisi ketujuh dengan jumlah penderita
sebanyak 10 juta jiwa. Jumlah penderita DM ini diperkirakan akan meningkat pada tahun
2040, yaitu sebanyak 16,2 juta jiwa penderita, dapat diartikan bahwa akan terjadi
peningkatan penderita sebanyak 56,2% dari tahun 2015 sampai 2040. Indonesia juga
merupakan negara ketiga yang jumlah orang dengan gangguan toleransi glukosa (20-79
tahun) pada tahun 2015 yaitu sebesar 29 juta jiwa orang. Menurut Riset Kementerian
Kesehatan pada tahun 2018, Prevalensi diabetesIndonesia sebesar 2,0%, sedangkan di
Jawa Timur sebesar 2,6% pada penduduk umur diatas 15 tahun.
Tingginyan prevalensi Diabetes Melitus disebabkan oleh faktor risiko yang tidak
dapat berubah misalnya jenis kelamin, umur, dan faktor genetik, selain itu dapat juga
disebabkan oleh faktor genetik yang dapat diubah misalnya kebiasaan merokok, tingkat
pendidikan, konsumsi alkohol, obesitas. Dampak yang paling serius dari penyakit diabetik
ini yaitu komplikasi kaki ulkus diabetik.
Dukungan keluarga diyakini memiliki pengaruh terhadap kualitas hidup penderita
DM. Keluarga merupakan bagian penting dari seseorang begitu pula dengan penderita
DM. Penderita DM tipe 2 diasumsikan memiliki masa-masa sulit seperti berbenah diri,
sering mengontrol gula darah, pola makan, dan aktivitas. Noviarini dkk (2013),
mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas hidup adalah
adanya dukungan keluarga, pola diet sehat, dan aktivitas fisik. Keluarga memiliki tugas
dalam pemeliharaan kesehatan anggotanya, termasuk mengenal masalah tentang Diabetes
Mellitus, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat, memberikan
keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, mempertahankan suasana rumah
yang kondusif bagi Kesehatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP MEDIK

1. Definisi Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa
di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan
insulin secara adekuat. Kadar glukosa darah setiap hari bervariasi, kadar gula darah
akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar
glukosa darah normal pada pagi hari sebelum makan atau berpuasa adalah 70-110
mg/dL. darah. Kadar gula darah normal biasanya kurang dari 120- 140 mg/dL. pada
2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun
mengandung karbohidrat.
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin
atau kedua-duanya.
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2015, diabetes melitus
merupakan suatu penyakit yang kompleks yang membutuhkan perawatan medis
yang lama atau terus menerus dengan cara mengendalikan kadar guka darah untuk
mengurangi risiko multifaktoral.

2. Etiologi Diabetes Melitus

Faktor risiko vang berhubungan dengan Diabetes Melitus antara lain:


a. Hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak
tepatnya penyimpanan garam dan air atau meningkatnya tekanan dari dalam
tubuh pada sirkulasi pembulh darah perifer.
b. Faktor genetik
DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental penyakit ini
sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Risiko emperis
dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika
orang tua atau saudara kandung mengalami DM.
c. Riwayat keluarga
Seorang yang menderita diabetes melitus juga diduga mempunyai gen diabetes
diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif.
d. Usia
Berdasarkan penelitian, usia terbanyak terkena diabetes melitus adalah lebih dari
45 tahun
e. Obesitas (kegemukan)
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa dalam darah,
pada derajat kegemukan dengan IMT 23 dapat menyebabkan peningkatakn kadar
glukosa darah menjadi 200 mg%.
f. Alkohol dan rokok
Alkohol akan mengganggu metabolisme gula darah terutama pada penderita DM,
sehingga akan mempersulit regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah.

3. Patofisiologi Diabetes Melitus

Pada diabetes tipe 1 terdapat kemampuan untuk menghasilkan insulin karena


sel-sel beta pancreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia-puasa
terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu glukosa
yang berasal dari makanan tidak dapt disimpan dalam hati meskipun tetap berada
dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia prospandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap
kembali semua glukosa yang tersaring. Akibatnya, glukosa tersebut muncul dalam
urine (glukosauria). Ketika glukosa yang berlebihan dieskresikan kedalam urine,
ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan
ini dinamakan dieresis osmotic. Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang
berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa
haus (polidipsia), keadaan itu menyebabkan kehilangan elektrolit dalam sel dan
pasien mengalami dehidrasi sehingga dapat menyebabkan syok.
Defisiensi insulin juga dapat menyebabkan kehilangan kalori, menganggu
metabolism protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien
dapat mengalami peningkatan selera makan (poifagia) akibatnya terjadi
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, gejala lainnya mencakup
kelelahan dan kelemahan. Selain itu dengan kurangnya sel untuk mettabolisme dapat
menyebabkan katabolisme lemak yang membuat meningkatnya asam lemak, serta
pemecahan protein yang membuat keton dan ureum meningkat. Keadaan dimana
asam lemak dan keton meningkat dapat mengakibatkan ketoasidosis.
Diabetes melitus tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, namun
karena sel-sel sasaran insulin tidak mampu merespon insulin secara normal. Keadaan
ini disebut resistensi insulin. Resistensi insulin terjadi akibat dari obesitas dan
kurangnya aktivitas fisik serta penuaan. Penderita DM tipe 2 dapat terjadi produksi
glukosa hepatic yang berlebihan namun tidak terjadi pengrusakan sel sel B
Langerhans se cara autoimun DM tipe 2. Defisiensi fungsi insulin DM tipe 2 bersifat
relatif dan tidak absolut.
Pada awal perkembangan DM tipe 2, sel B menunjukkan gangguan pada sekresi
insulin fase pertama, artinya sekresi insulin gagal mengkompensasi resistensi
insulin. Apabila tidak ditangani dengan baik pada perkembangan selanjutkan akan
terjadi kerusakan sel-sel B pankreas. Kerusakan sel-sel B pankreas akan terjadi
secara progresif seringkali akan menyebabkan defisiensi insulin.
4. Pathway Diabetes Melitus
5. Menifestasi Diabetes Melitus

Gejala diabetes melitus dibagi menjadi 2 yaitu :


a. Gejala Akut
1) Poliuria
Kekurangan insulin untuk mengangkut glukosa melalui membrane dalam sel
menyebabkan hiperglikemia sehingga serum plasma meningkat atau
hiperosmolariti menyebabkan cairan intrasel berdifusi kedalam sirkulasi atau
cairan intravaskuler, aliran darah ke ginjalmeningkat sebagai akibat dari
hiperosmolariti dan akibatnya akan terjadi diuresis osmotic.
2) Polidipsia
Akibat meningkatnya difusi cairan dari intrasel kedalam vaskuler
menyebabkan penurunan volume intrasel sehingga efeknya adalah dehidrasi
sel. Akibat dari dehidrasi sel mulut menjadi kering dan sensorhaus teraktivasi
menyebabkan seseorang haus terus dan ingin selalu minum.
3) Poliphagia
Karena glukosa tidak dapat masuk ke sel akibat dari menurunnya kadar
insulin maka produksi energi menurun, penurunan energi akan menstimulasi
rasa lapar. Maka reaksi yang terjadi adalah seseorang akan lebih banyak
makan.
4) Penurunan berat badan
Karena glukosa tidak dapat di transport kedalam sel maka selkekurangan
cairan dan tidak mampu mengadakan metabolisme, akibat dari itu maka sel
akan menciut, sehingga seluruh jaringan terutama otot mengalami atrofi dan
penurunan secara otomatis.
5) Malaise atau kelemahan.
b. Gejala Kronis
Gejala kronis diabetes melitus yaitu: Kesemutan, kulit terasa panas atau seperti
tertusuk-tusuk jarum, rasa kebas di kulit, kram, kelelahan, mudah mengantuk,
pandangan mulai kabur, pada ibu hamil sering terjadi keguguran atau kematian
janin dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.
6. Komplikasi Diabetes Melitus

Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi akut
dan kronis. Menurut PERKENI komplikasi DM dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Komplikasi Akut
1) Hipoglikemia
Kadar glukosa darah seseorang dibawah nilai normal (<50 mg/dL).
Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita DM tipe 1 yang dapat dialami
1-2 kali perminggu. Kadar gula darah yang rendah akan menyebabkan sel-sel
otak tidak mendapat pasokan energi sehingga tidak berfungsi bahkan dapat
mengalami kerusakan.
2) Hiperglikemia
Apabila kadar gula darah meningkat secara tiba-tiba, dapat berkembang
menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya, antara lain ketoasidosis
diabetik, koma hiperosmoler non ketotik dan kemolakto asisdosis.
b. Komplikasi Kronis
1) Komplikasi makrovaskuler
Terjadi trombosit otak (pembekuan darah pada bagian otak, mengalami
penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung kongetif, dan stroke
2) Komplikasi mikrovaskuler
Terjadi pada penderita DM tipe 1 seperti nefropati, diabetic, retinopati
(kebutaan), neuropati, dan amputasi

7. Klasifikasi Diabetes Melitus

Ada 3 jenis diabetes yang umum terjadi dan diderita banyak orang, yaitu:
a. Diabetes tipe 1
Diabetes tipe I ini sering disebut Insulin Dependent Diabetes Melitus
(IDDM) atau diabetes mellitus yang bergantung pada insulin. Penderita
penyakit diabetes tipe 1 sebagian besar terjadi pada orang dibawah usia 30
tahun. Oleh karena itu, penyakit ini sering dijuluki diabetes anak-anak karena
penderitanya lebih banyak terjadi pada anak- anak dan remaja
b. Diabetes Tipe 2
Penyakit diabetes tipe 2 sering juga disebut Non Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (NIDDM) atau diabetes mellitus tanpa bergantung pada insulin.
Penyakit diabetes tipe 2 ini sering disebut sebagai penyakit kencing manis
atau penyakit gula. Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang sebagian
besaar diderita. Sekitar 90% hingga 95% penderita diabetes menderita
diabetes tipe 2. Jenis diabetes ini paling sering diderita oleh orang dewasa
berusia lebih dari 30 tahun dan cenderung semakin parah secara bertahap
c. Diabetes jenis lain
Diabetes terkait Malnutrisi (DMTM) dan diabetes pada kehamilan
(gestasional diabetes), yang timbul hanya pada saat hamil

8. Pemeriksaan Diagnostik Diabetes Melitus

a. Kadar glukosa darah


Tabel kadar glukosa adarah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai
patokan penyaring
b. Criteria diagnostic WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan:
• Glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dl (11.1 mmol/L)
• Glukosa plasma puasa > 140 mg/dl (7.8 mmol/L)
• Glukosa plasma dari sample yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post pradial (pp) > 200 mg/dL).
c. Tes labolatorium DM
Jenis tes pada pasion DM dapat berupa tes saring, tes diagnostic, tes pemantauan
terapi dan tes untuk mendeteksi komplikasi.
d. Tes Saring
Tes-tes sering pada DM adalah:
• GDP, GDS
• Tes Glukosa Urin:
➢ Tes konvensional (metode reduksi/Benedict)
➢ Tes carik celup (metode glucose oxidase/hexokinase)
e. Tes diagnostic
Tes-tes diagnostic pada DM adalah GDP, GDS, GD2PP (Glukosa Darah 2 jam
Post Prandial), Gilukosa Jam ke 2 TTGO
i. Tes monitoring terapi
f. Tes-tes monitoring terapi DM adalah
1. GDP: Plasma vena, darah kapiler
2. GD2PP plasma vena
3. Alc: darah vena, darah kapiler
ii. Tes Untuk mendeteksi komplikasi
g. Tes-tes untuk mendeteksi komplikasi adalah:
1. Mikroalbuminuria: urin
2. Ureum, kreatinin, asam urat
3. Kolesterol total: plasma vena (puasa)
4. Kolesterol LDL: plasma vena (puasa)
5. Kolesterol HDL: plasma vena (puasa)
6. Trigliserida: plasma vena (puasa)

9. Penatalaksanaan Diabetes Melitus

a. Edukasi
• Apakah diabetes itu?
• Factor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya diabetes dan upaya- upaya
menekannya.
• Pengelolaan diabetes secara umum.
• Perencanaan makan dan latihan jasmani
• Obat-obat hipoglikemik
• Komplikasi diabetes
• Pencegahan dan pengenalan komplikasi akut kronik
• Pemeliharaan kaki.
b. Perencanaan Makan DM
1) Kardohidrat
Karbohidrat sederhana tetap harus dikonsumsi dalam jumlah yang tidak
berlebihan dan lebih baik jika dicampur ke dalam sayuran atau makanan lain
daripada dikonsumsi secara terpisah.
2) Lemak
Pembatasan asupan total kolesterol dari makanan hingga < 300 mg/hr untuk
membantu mengurangi faktor resiko, seperti kenaikan kadar kolesterol serum
yang berhubungan dengan proses terjadinya penyakit koroner yang
menyebabkan kematian pada penderita diabetes,
3) Protein
Makanan sumber protein nabati (misal: kacang-kacangan dan biji-bijian yang
utuh) dapat membantu mengurangi asupan kolesterol serta lemak jenuh.
4) Gula
Selama ini zat yang ada dipasaran adalah sukrosa, fruktosa, sorbitol, manitol,
xylitol,s akarın, siklamat dan aspartam. Yang mengandung kalori hanyalah
sukrosa dan fruktosa. Oleh karena itu penggunaannya harus dibatasi atau malah
dihindari. Yang lain tidak ada atau sangat sedikit kalorinya. Karena ada petunjuk
karsinogenik pada binatang, penggunaan sakarin dan siklamat sekarang sangat
terbatas. Sebenarnya gula masih dapat digunakan dalam jumlah terbatas, tidak
melebihi 5% dari kalori, misalnya gula dapat digunakan dalam bumbu masakan.
c. Latihan Jasmani Secara Kontinyu
d. Obat Hipiglikemik
1) Golonganan sulfonilurea
2) Golongan biguanid (metformin)
3) Inhibitor glukosidase alfa (acarbose)
4) Insulin
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian

a. Data umum
a) Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi:
b) nama kepala keluarga (kk)
c) alamat dan telepon
d) pekerjaan kepala keluarga
e) pendidikan kepala keluarga
f) komposisi keluarga dan genogram
g) Suku bangsa mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta
mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan
h) Agama: mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang
dapat mempengaruhi kesehatan
i) Status sosial ekonomi keluarga: status sosial ekonomi keluarga ditentukan
oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya.
Selain itu status sosial ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan-
kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barangbarang yang dimiliki
oleh keluarga
j) Aktivitas rekreasi keluarga: Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat dari kapan
saja keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi
tertentu, namun dengan menonton televisi dan mendengarkan radio juga
merupakan aktivitas rekreasi (Padila, 2012)
1. Komposisi keluarga
Menjelaskan anggota keluarga yang diindentifikasi sebagai bagian dari
keluarga mereka. Komposisi tidak hanya mencantumkan penghuni rumah
tangga, tetapi juga anggota keluarga lain yang menjadi bagian dari keluarga
tersebut. Bentuk komposisi keluarga dengan mencatat terlebih dahulu
anggota keluarga yang sudah dewasa, kemudian diikuti dengan anggota
keluarga yang lain sesuai dengan susunan kelahiran mulai dari yang lebih
tua, kemudian mencantumkan jenis kelamin, hubungan setiap anggota
keluarga tersebut, tempat tinggal. Lahir/umur, pekerjaan dan pendidikan
(Padila, 2012)
2. Genogram
Genogram keluarga merupakan sebuah diagram yang menggambarkan
konstelasi keluarga (pohon keluarga). Genogram merupakan alat
pengkajian informatif yang digunakan untuk mengetahui keluarga,
riwayatdan sumber- sumber keluarga, diagram ini menggambarkan
hubungan vertikal (lintas generasi) dan horizontal (dalam generasi yang
sama) untuk memahami kehidupan keluarga dihubungkan dengan pola
penyakit. Untuk hal tersebut, maka genogram keluarga harus memuat
informasi tiga generasi (Padila, 2012)
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.
Contoh keluarga bapak A mempunyai dua orang anak, anak pertama berusia
tujuh tahun dan anak kedua berusia empat tahun, maka keluarga bapak A
berada pada tahap perkembangan keluarga dengan usia anak sekolah (Padila,
2012)
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi Menjelaskan
perkembangan keluarga yang belum terpenuhi menjelaskan mengenal tugas
perkembangan keluarga yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendala-
kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi (Padila, 2012)
3) Riwayat keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, meliputi riwayat
penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga,
perhatian keluarga terhadap pencegahan penyakit termasuk status imunisasi,
sumber pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga dan pengalaman
terhadap pelayanan kesehatan (Padila, 2012)
4) Riwayat keluarga sebelumnya
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan
istri (Padila, 2012). Menanyakan apakah ada keluarga dari pihak suami dan
istri yang menderita diabetes mellitus.
c. Pengkajian lingkungan.
1) Karakteristik rumah Karakteristik rumah diidentifikasi dengan
melihat luas rumah, tipe rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela,
jarak septic tank dengan sumber air, sumber air minum digunakan
serta dilengkapi dengan denah rumah (Padila, 2012)
2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Menjelaskan mengenal karakteristik dari tetangga dan komunitas
setempat meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan dan
kesepakatan penduduk. setempat serta budaya setempat yang
mempengaruhi kesehatan (Padila, 2012)
3) Mobilitas geografi keluarga mobilitas geografis keluarga
ditentukan dengan melihat kebiasaan keluarga berpindah tempat
(Pad ila, 2012).
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk
berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana
interaksi keluarga dengan masyarakat (Padila, 2012)
d. Struktur keluarga
1) Sistem pendukung keluarga
yang termasuk sistem pendukung keluarga adalah jumlah anggota keluarga
yang sehat, fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang
kesehatan mencakup fasilitas fisik, fasilitas psikologis atau dukungan dari
masyarakat setempat (Padila, 2012)
Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga (Padila,
2012).
Apakah anggota keluarga mengutarakan kebutuhan-kebutuhan dan perasaan
mereka dengan jelas
Apakah anggota keluarga memperoleh dan memberikan respons dengan baik
terhadap pesan
Apakah anggota keluarga mendengar dan mengikuti pesanBahasa apa yang
digunakan dalam keluarga
Pola yang digunakan dalam komunikasi untuk menyampaikan pesan
(langsung atau tidak langsung)
2) Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain
untuk mengubah prilaku (Padila, 2012)
3) Struktur peran
Menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga baik secara formal
maupun informal (Padila, 2012)
4) Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga yang
berhubungan dengan kesehatan (Padila, 2012)
e. Fungsi keluarga
1) Fungsi afektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan
memiliki dan memiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota
keluarga lainnya, bagaimana kehangat tercipta pada anggota keluarga dan
bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling mengahargai (Padila,
2012).
2) Fungsi sosialisasi.
Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana
anggota keluarga, sejauhmana anggota keluarga belajar disiplin, norma,
budaya serta perilaku (Padila, 2012).
3) Fungsi perawatan kesehatan
Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaian,
pelindung serta merawat anggota keluarga yang [Link] keluarga
di dalam dilihat dari kemapuan keluarga dalam melaksanakan lima tugas
keluarga, yaitu keluarga mampu mengenal masalah kesehatan, mengambil
keputusan untuk melakukan tindakan, melakukan perawatan terhadap
anggota
yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan dan
mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat dilingkungan
setempat (Padila, 2012).
Hal yang perlu dikaji sejauhmana keluarga melakukan pemenuhan tugas
perawatan kesehatan keluarga, (Padila, 2012) adalah :
• Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan,
• Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan
• Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat anggota
keluarga yang sakit, termasuk kemampuan memelihara lingkungan dan
menggunakan sumber/fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat
• Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga memelihara
lingkungan rumah yang sehat
• Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga memanfaatkan
fasilitas pelayanan kesehatan di masyarakat
4) Fungsi reproduksi
5) Fungsi ekonomi
f. Stres dan Koping Keluarga
a) Stresor jangka pendek dan panjang
• Stressor jangka pendek yaitu Stressor yang dialami keluarga
yang memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang dari enam
bulan.
• Stresor jangka panjang yaitu Stressor yang dialami keluarga
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari enam bulan
bulan.
b) Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah. Dikaji sejauhmana
keluarga berespon terhadap stressor.
c) Strategi koping yang digunakan. Dikaji strategi koping yang digunakan
bila menghadapi permasalahan/stress.
d) Strategi adaptasi disfungsional. Dijelaskan mengenai strategi adaptasi
disfungsional yang digunakan keluarga bila mengahadapi
permasalahan/stress.
g. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang
digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan klinik (head
to toe) untuk pemeriksaan diabetes melitus adalah sebagai berikut:
1. Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan
dan tanda-tanda vital.
2. Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran leher, telinga
kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah terasa tebal,
air liur menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan
berdarah, penglihatan kabur, diplopia, lensa mata keruh.
3. Sistem integument
Tugor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka,
kelembaban dan suhu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan
pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.
4. Sistem pernafasan
Adakah nafas sesak, batuk, sputumn, nyeri dada, pada penderita DM, mudah
terjadi infeksi pada sistem pernafasan.
5. Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,
takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.
6. Sistem Gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrasi,
perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.
7. Sistem Urinary
Poliuri, retensi urine, inkotenesia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih
8. Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahan tinggi badan, cepat lelah,
dan nyeri, adnya gangren di ekstrimitas
9. Sistem Neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parathesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek:
lambat, mental kacau, disorientasi.
b. Diagnosa Keperawatan
Diangnosis keperawatan keluarga yang dikembangkan adalah diangnosis tunggal
yang hampir serupa dengan diagnosis keperawatan klinik. (Sudiharto, 2012)
Dalam menyusun diagnosis keperawatan keluarga, perawat keluarga harus
mengacu pada tipologi diagnosa keperawatan keluarga (Sudiharto, 2012) yaitu:
a. Diagnosis keperawatan keluarga actual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)
b. Diagnosis keperawatan keluarga berisiko (ancaman) dirumuskan apabila
sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi gangguan.
c. Diagnosis keperawatan keluarga sejahtera (potensial) merupakan suatu
keadaan dimana keluarga dalam kondisi sejahtera sehingga kesehatan
keluarga dapat ditingkatkan.
Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul pada keluarga dengan
diabetes mellitus yaitu ([Link], 2016) (SDKI,2017):
a. Ketidak stabilan kadar glukosa darah (D.0027)
b. Resiko defisit nutrisi (D.0032)
c. Gangguan Integritas kulit/jarigan (D.0129)
d. Gangguan rasa nyaman (D.0074)
e. Defisit pengetahuan (D.0111)
f. Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga (D.0090)
g. Resiko hipovolemia (D.0034)
h. Manajement kesehatan keluarga tidak efektif (D.0115)

c. Intervensi Keperawatan
d. Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh. perawat terhadap


pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana
keperawatan diantaranya: Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah
dilakukan validasi ketrampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan
cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi
serta dokumentasi intervensi dan respon pasien. Pada tahap implementasi ini merupakan
aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi
masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien
e. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana evaluasi
adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat
dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah
tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan
pengkajian ulang.
DAFTAR PUSTAKA
Aweko, J., De Man, J., Absetz, P., Östenson, C.G., Swartling Peterson, S., M., & Alvesson, H.,
& Daivadanam, M. (2018). Patient And Provider Dilemmas Of Type 2 Diabetes Self
Management: A Qualitative Study In Socioeconomically Disadvantaged Communi-
Ties In Stockholm. International Journal Of Environmental Research And Public
Health.
Azis, W. Dkk. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2.
Betteng, R. (2014). Analisis Faktor Resiko Penyebab Terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2 Pada
Wanita Usia Produktif Dipuskesmas Wawonasa. Jurnal E-Biomedik, 2(2).
Https://[Link]/10.35790/Ebm.2.2.2014.4554
Brunner And Suddart. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC.
Budiyani. (2011). Pelatihan Manajemen Diri Untuk Meningkatkan Kepatuhan Diet Pada
Penderita Diabetes Melitus. EGC.
Corbin. (2015). Concept Of Fitness And Wellness: A Comprehensive Lifestyle Approach.
EGC.
Friedman. (2010). Buku Ajarkeperawatan Keluarga. EGC.
Friedman, M. (2014). Buku Ajar Keperawatan Keluarga. EGC.
Galveia, A., Cruz, S., & Deep, C. (2012). Impact Of Social Demographic Variables On
Adherence To Diabetes Treatment And In The Prevalence Of Stress, Anxiety And
Depression. Advanced Research In Scientific Areas. 3.
Hariani, Abd. Hady, Nuraeni Jalil, & Surya Arya Putra. (2020). Hubungan Lama Menderita
Dan Komplikasi Dm Terhadap Kualitas Hidup Pasien Dm Tipe 2 Di Wilayah
Puskesmas Batua Kota Makassar. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis, 15(1), 56–63.
Https://[Link]/10.35892/Jikd.V15i1.330
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan Nasional RISKESDAS 2018.
Kementrian Kesehatan RI, 1–582. Https://[Link]/Wp-
Content/Uploads/2019/03/[Link]
Kusniawati. (2019). Analisis Faktor Yang Berkontribusi Terhadap Self Care Diabetes Pada
Klien Diabetes Melitus Tipe 2.
[Link]. (2018). Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Diabetes Melitus. EGC.
Manurung, N. (2018). Keperawatan Medikal Bedah. CV Trans Info Media.
Maria, I. (2021). Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus Dan Asuhan Keperawatan Stroke.
Depublis Publiser.

Anda mungkin juga menyukai