0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada klien dengan Diabetes Melitus, termasuk latar belakang, tujuan, dan tinjauan pustaka mengenai definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi, dan komplikasi penyakit ini. Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. Dukungan keluarga dan pemahaman tentang penyakit ini sangat penting dalam mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

Diunggah oleh

helzamutiarahma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada klien dengan Diabetes Melitus, termasuk latar belakang, tujuan, dan tinjauan pustaka mengenai definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi, dan komplikasi penyakit ini. Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. Dukungan keluarga dan pemahaman tentang penyakit ini sangat penting dalam mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

Diunggah oleh

helzamutiarahma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN


DENGAN DIABETES MELITUS”

PRAKTIK KLINIK HOME CARE


SEMESTER V T.A. 2024/ 2025

NAMA : Helzi Rahmawati


NIM : P032214401057

CLINICAL TEACHER CLINICAL INSTRUCTUR

Ns, Melly, SST., [Link]., [Link] Ns. Dewi Fitri Ningsih, [Link]

PRODI D-III KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES KEMENKES RIAU
T. A. 2024/ 2025

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji dan Syukur kita sampaikan kehadirat Allah SWT karena berkah
rahmat dan ridho-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kami untuk membuat
laporan pendahuluan ini dengan baik serta tepat pada waktunya.
Laporan pendahuluan yang berjudul “ Diabetes Melitus “ ini bisa diselesaikan berkat
bantuan dari berbagai pihak sehingga memudahkan kami dalam menyelesaikan tantangan dan
hambatan dalam membuat laporan pendahuluan ini. Oleh karena itu, kami sampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar – besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan laporan pendahuluan ini. Sebelumnya, kami sampaikan juga ucapan terima
kasih kepada Dosen kami yang telah memberi arahan kepada kami tentang hal – hal yang
belum kami ketahui.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan – kekurangan mendasar dalam
makalah ini. Oleh karena itu, kami berharap pembaca untuk memberikan saran maupun kritik
yang bersifat membangun demi penyempurnaan laporan pendahuluan selanjutnya.
Demikianlah dari kami, akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kepentingan kita bersama.

Pekanbaru, 12 November 2024

Helzi Rahmawati

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................................1
B. Tujuan.............................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................................3
A. KONSEP MEDIK.........................................................................................................3
1. Definisi Diabetes Melitus........................................................................................3
2. Etiologi Diabetes Melitus........................................................................................3
3. Patofisiologi Diabetes Melitus.................................................................................4
4. Pathway Diabetes Melitus.......................................................................................6
5. Menifestasi Diabetes Melitus...................................................................................6
6. Komplikasi Diabetes Melitus...................................................................................7
7. Klasifikasi Diabetes Melitus....................................................................................8
8. Pemeriksaan Diagnostik Diabetes Melitus..............................................................9
9. Penatalaksanaan Diabetes Melitus.........................................................................10
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN...................................................................12
a. Pengkajian..............................................................................................................12
b. Diagnosa Keperawatan..........................................................................................14
c. Intervensi Keperawatan.........................................................................................14
d. Implementasi Keperawatan....................................................................................16
e. Evaluasi Keperawatan...........................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Diabetes Mellitus adalah penyakit yang dapat menurun, jika dalam
sebuah keluarga terdapat anggota keluarga yang menderita Diabetes Mellitus maka
kemungkinan besar akan menurun, kurangnya pengetahuan keluarga tentang kesehatan
dapat menjadi masalah serius karena keluarga tidak dapat menjalankan 5 tugas keluarga,
misalnya keluarga tidak mengerti bagaimana cara melakukan perawatan pada anggota
keluarga yang sakit, tidak mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan, tidak membuat
keputusan dan mengambil keputusan yang tepat, tidak mampu memberikan lingkungan
yang tepat, sehingga pada keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang memiliki
penyakit Diabetes Mellitus harus mendapatkan perhatian yang cukup agar Keluarga
memahami konsep dasar Diabetes Mellitus serta mencegah komplikasi dari Diabetes
Mellitus. Masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga, dalam mengambil keputusan
dan memecahkan masalah tersebut adalah kepala keluarga dan anggota yang dituakan.
Dalam mengatasi masalah ini peran perawat kesehatan adalah memberikan. keperawatan
keluarga untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Angka kejadian DM di dunia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.
Data terakhir dari World Health Organization (WHO) menunjukkan pada tahun 2000
sebanyak 150 juta penduduk dunia menderita DM dan angka ini akan menjadi dua kali
lipat sampai pada tahun 2025. International Diabetes Federation (2014) telah melaporkan
terdapat kematian sebesar 4,6 juta setiap tahunnya dan lebih dari 10 juta pasien
mengalami kelumpuhan dan komplikasi seperti serangan jantung, stroke, gagal ginjal,
kebutaan dan amputasi. Pada tahun 2015 Indonesia berdiri pada posisi ketujuh dengan
jumlah penderita sebanyak 10 juta jiwa. Jumlah penderita DM ini diperkirakan akan
meningkat pada tahun 2040, yaitu sebanyak 16,2 juta jiwa penderita, dapat diartikan
bahwa akan terjadi peningkatan penderita sebanyak 56,2% dari tahun 2015 sampai 2040.
Indonesia juga merupakan negara ketiga yang jumlah orang dengan gangguan toleransi
glukosa (20-79 tahun) pada tahun 2015 yaitu sebesar 29 juta jiwa orang. Menurut Riset
Kementerian Kesehatan pada tahun 2018, Prevalensi diabetesIndonesia sebesar 2,0%,
sedangkan di Jawa Timur sebesar 2,6% pada penduduk umur diatas 15 tahun.

1
Tingginyan prevalensi Diabetes Melitus disebabkan oleh faktor risiko yang
tidak dapat berubah misalnya jenis kelamin, umur, dan faktor genetik, selain itu dapat
juga disebabkan oleh faktor genetik yang dapat diubah misalnya kebiasaan merokok,
tingkat pendidikan, konsumsi alkohol, obesitas. Dampak yang paling serius dari penyakit
diabetik ini yaitu komplikasi kaki ulkus diabetik.
Dukungan keluarga diyakini memiliki pengaruh terhadap kualitas hidup
penderita DM. Keluarga merupakan bagian penting dari seseorang begitu pula dengan
penderita DM. Penderita DM tipe 2 diasumsikan memiliki masa-masa sulit seperti
berbenah diri, sering mengontrol gula darah, pola makan, dan aktivitas. Noviarini dkk
(2013), mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas
hidup adalah adanya dukungan keluarga, pola diet sehat, dan aktivitas fisik. Keluarga
memiliki tugas dalam pemeliharaan kesehatan anggotanya, termasuk mengenal masalah
tentang Diabetes Mellitus, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat,
memberikan keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, mempertahankan
suasana rumah yang kondusif bagi Kesehatan.

B. Tujuan

Dalam setiap kegiatan pasti memiliki tujuan yang ingin di capai, begitu juga
dengan makalah ini. Adapun tujuan dari makalah ini:
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui penyakit Diabetes
Melitus.
2. Tujuan Khusus
 Untuk mengetahui pengertian diabetes mellitus
 Untuk mengetahui etiologi diabetes mellitus.
 Untuk mengetahui patofiiologi diabetes mellitus
 Untuk mengetahui WOC diabetes melitus
 Untuk mengetahui Menifestasi klinis diabetes mellitus
 Untuk mengetahui komplikasi diabetes melitus
 Untuk mengetahui klasifikasi diabetes melitus
 Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik diabetes melitus
 Untuk mengetahui penatalaksanan diet pada penderita diabetes mellitus.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP MEDIK

1. Definisi Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar


glukosa di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau
menggunakan insulin secara adekuat. Kadar glukosa darah setiap hari bervariasi,
kadar gula darah akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu
2 jam. Kadar glukosa darah normal pada pagi hari sebelum makan atau berpuasa
adalah 70-110 mg/dL. darah. Kadar gula darah normal biasanya kurang dari 120-
140 mg/dL. pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula
maupun mengandung karbohidrat.
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya.
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2015, diabetes melitus
merupakan suatu penyakit yang kompleks yang membutuhkan perawatan medis
yang lama atau terus menerus dengan cara mengendalikan kadar guka darah untuk
mengurangi risiko multifaktoral.

2. Etiologi Diabetes Melitus

Faktor risiko vang berhubungan dengan Diabetes Melitus antara lain:


a. Hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak
tepatnya penyimpanan garam dan air atau meningkatnya tekanan dari dalam
tubuh pada sirkulasi pembulh darah perifer.
b. Faktor genetik
DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental penyakit ini
sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Risiko emperis
dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika
orang tua atau saudara kandung mengalami DM.

3
c. Riwayat keluarga
Seorang yang menderita diabetes melitus juga diduga mempunyai gen diabetes
diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif.
d. Usia
Berdasarkan penelitian, usia terbanyak terkena diabetes melitus adalah lebih
dari 45 tahun
e. Obesitas (kegemukan)
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa dalam darah,
pada derajat kegemukan dengan IMT 23 dapat menyebabkan peningkatakn
kadar glukosa darah menjadi 200 mg%.
f. Alkohol dan rokok
Alkohol akan mengganggu metabolisme gula darah terutama pada penderita
DM, sehingga akan mempersulit regulasi gula darah dan
meningkatkan tekanan darah.

3. Patofisiologi Diabetes Melitus

Pada diabetes tipe 1 terdapat kemampuan untuk menghasilkan insulin karena


sel-sel beta pancreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia-puasa
terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu glukosa
yang berasal dari makanan tidak dapt disimpan dalam hati meskipun tetap berada
dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia prospandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat
menyerap kembali semua glukosa yang tersaring. Akibatnya, glukosa tersebut
muncul dalam urine (glukosauria). Ketika glukosa yang berlebihan dieskresikan
kedalam urine, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebihan. Keadaan ini dinamakan dieresis osmotic. Sebagai akibat dari
kehilangan cairan yang berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam
berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia), keadaan itu menyebabkan
kehilangan elektrolit dalam sel dan pasien mengalami dehidrasi sehingga dapat
menyebabkan syok.
Defisiensi insulin juga dapat menyebabkan kehilangan kalori, menganggu
metabolism protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien
dapat mengalami peningkatan selera makan (poifagia) akibatnya terjadi

4
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, gejala lainnya mencakup
kelelahan dan kelemahan. Selain itu dengan kurangnya sel untuk mettabolisme
dapat menyebabkan katabolisme lemak yang membuat meningkatnya asam lemak,
serta pemecahan protein yang membuat keton dan ureum meningkat. Keadaan
dimana asam lemak dan keton meningkat dapat mengakibatkan ketoasidosis.
Diabetes melitus tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin,
namun karena sel-sel sasaran insulin tidak mampu merespon insulin secara normal.
Keadaan ini disebut resistensi insulin. Resistensi insulin terjadi akibat dari obesitas
dan kurangnya aktivitas fisik serta penuaan. Penderita DM tipe 2 dapat terjadi
produksi glukosa hepatic yang berlebihan namun tidak terjadi pengrusakan sel sel
B Langerhans se cara autoimun DM tipe 2. Defisiensi fungsi insulin DM tipe 2
bersifat relatif dan tidak absolut.
Pada awal perkembangan DM tipe 2, sel B menunjukkan gangguan pada
sekresi insulin fase pertama, artinya sekresi insulin gagal mengkompensasi
resistensi insulin. Apabila tidak ditangani dengan baik pada perkembangan
selanjutkan akan terjadi kerusakan sel-sel B pankreas. Kerusakan sel-sel B
pankreas akan terjadi secara progresif seringkali akan menyebabkan
defisiensi insulin.

5
4. Pathway Diabetes Melitus

5. Menifestasi Diabetes Melitus

Gejala diabetes melitus dibagi menjadi 2 yaitu :


a. Gejala Akut
1) Poliuria

6
Kekurangan insulin untuk mengangkut glukosa melalui membrane dalam
sel menyebabkan hiperglikemia sehingga serum plasma meningkat atau
hiperosmolariti menyebabkan cairan intrasel berdifusi kedalam sirkulasi
atau cairan intravaskuler, aliran darah ke ginjalmeningkat sebagai akibat
dari hiperosmolariti dan akibatnya akan terjadi diuresis osmotic.
2) Polidipsia
Akibat meningkatnya difusi cairan dari intrasel kedalam vaskuler
menyebabkan penurunan volume intrasel sehingga efeknya adalah dehidrasi
sel. Akibat dari dehidrasi sel mulut menjadi kering dan sensorhaus
teraktivasi menyebabkan seseorang haus terus dan ingin selalu minum.
3) Poliphagia
Karena glukosa tidak dapat masuk ke sel akibat dari menurunnya kadar
insulin maka produksi energi menurun, penurunan energi akan
menstimulasi rasa lapar. Maka reaksi yang terjadi adalah seseorang akan
lebih banyak makan.
4) Penurunan berat badan
Karena glukosa tidak dapat di transport kedalam sel maka selkekurangan
cairan dan tidak mampu mengadakan metabolisme, akibat dari itu maka sel
akan menciut, sehingga seluruh jaringan terutama otot mengalami atrofi dan
penurunan secara otomatis.
5) Malaise atau kelemahan.
b. Gejala Kronis
Gejala kronis diabetes melitus yaitu: Kesemutan, kulit terasa panas atau seperti
tertusuk-tusuk jarum, rasa kebas di kulit, kram, kelelahan, mudah mengantuk,
pandangan mulai kabur, pada ibu hamil sering terjadi keguguran atau kematian
janin dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.

6. Komplikasi Diabetes Melitus

Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi


akut dan kronis. Menurut PERKENI komplikasi DM dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Komplikasi Akut
1) Hipoglikemia

7
Kadar glukosa darah seseorang dibawah nilai normal (<50 mg/dL).
Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita DM tipe 1 yang dapat
dialami 1-2 kali perminggu. Kadar gula darah yang rendah akan
menyebabkan sel-sel otak tidak mendapat pasokan energi sehingga tidak
berfungsi bahkan dapat mengalami kerusakan.
2) Hiperglikemia
Apabila kadar gula darah meningkat secara tiba-tiba, dapat berkembang
menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya, antara lain ketoasidosis
diabetik, koma hiperosmoler non ketotik dan kemolakto asisdosis.
b. Komplikasi Kronis
1) Komplikasi makrovaskuler
Terjadi trombosit otak (pembekuan darah pada bagian otak, mengalami
penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung kongetif, dan stroke
2) Komplikasi mikrovaskuler
Terjadi pada penderita DM tipe 1 seperti nefropati, diabetic, retinopati
(kebutaan), neuropati, dan amputasi

7. Klasifikasi Diabetes Melitus

Ada 3 jenis diabetes yang umum terjadi dan diderita banyak orang, yaitu:
a. Diabetes tipe 1
Diabetes tipe I ini sering disebut Insulin Dependent Diabetes Melitus
(IDDM) atau diabetes mellitus yang bergantung pada insulin. Penderita
penyakit diabetes tipe 1 sebagian besar terjadi pada orang dibawah usia 30
tahun. Oleh karena itu, penyakit ini sering dijuluki diabetes anak-anak
karena penderitanya lebih banyak terjadi pada anak- anak dan remaja
b. Diabetes Tipe 2
Penyakit diabetes tipe 2 sering juga disebut Non Insulin Dependent
Diabetes Mellitus (NIDDM) atau diabetes mellitus tanpa bergantung pada
insulin. Penyakit diabetes tipe 2 ini sering disebut sebagai penyakit kencing
manis atau penyakit gula. Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang
sebagian besaar diderita. Sekitar 90% hingga 95% penderita diabetes
menderita diabetes tipe 2. Jenis diabetes ini paling sering diderita oleh

8
orang dewasa berusia lebih dari 30 tahun dan cenderung semakin parah
secara bertahap
c. Diabetes jenis lain
Diabetes terkait Malnutrisi (DMTM) dan diabetes pada kehamilan
(gestasional diabetes), yang timbul hanya pada saat hamil
8. Pemeriksaan Diagnostik Diabetes Melitus

a. Kadar glukosa darah


Tabel kadar glukosa adarah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik
sebagai patokan penyaring
b. Criteria diagnostic WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan:
 Glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dl (11.1 mmol/L)
 Glukosa plasma puasa > 140 mg/dl (7.8 mmol/L)
 Glukosa plasma dari sample yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post pradial (pp) > 200 mg/dL).
c. Tes labolatorium DM
Jenis tes pada pasion DM dapat berupa tes saring, tes diagnostic, tes
pemantauan terapi dan tes untuk mendeteksi komplikasi.
d. Tes Saring
Tes-tes sering pada DM adalah:
 GDP, GDS
 Tes Glukosa Urin:
 Tes konvensional (metode reduksi/Benedict)
 Tes carik celup (metode glucose oxidase/hexokinase)
e. Tes diagnostic
Tes-tes diagnostic pada DM adalah GDP, GDS, GD2PP (Glukosa Darah 2 jam
Post Prandial), Gilukosa Jam ke 2 TTGO
i. Tes monitoring terapi
f. Tes-tes monitoring terapi DM adalah
1. GDP: Plasma vena, darah kapiler
2. GD2PP plasma vena
3. Alc: darah vena, darah kapiler
ii. Tes Untuk mendeteksi komplikasi

9
g. Tes-tes untuk mendeteksi komplikasi adalah:
1. Mikroalbuminuria: urin
2. Ureum, kreatinin, asam urat
3. Kolesterol total: plasma vena (puasa)
4. Kolesterol LDL: plasma vena (puasa)
5. Kolesterol HDL: plasma vena (puasa)
6. Trigliserida: plasma vena (puasa)

9. Penatalaksanaan Diabetes Melitus

a. Edukasi
 Apakah diabetes itu?
 Factor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya diabetes dan upaya-
upaya menekannya.
 Pengelolaan diabetes secara umum.
 Perencanaan makan dan latihan jasmani
 Obat-obat hipoglikemik
 Komplikasi diabetes
 Pencegahan dan pengenalan komplikasi akut kronik
 Pemeliharaan kaki.
b. Perencanaan Makan DM
1) Kardohidrat
Karbohidrat sederhana tetap harus dikonsumsi dalam jumlah yang tidak
berlebihan dan lebih baik jika dicampur ke dalam sayuran atau makanan lain
daripada dikonsumsi secara terpisah.
2) Lemak
Pembatasan asupan total kolesterol dari makanan hingga < 300 mg/hr untuk
membantu mengurangi faktor resiko, seperti kenaikan kadar kolesterol serum
yang berhubungan dengan proses terjadinya penyakit koroner yang
menyebabkan kematian pada penderita diabetes,
3) Protein
Makanan sumber protein nabati (misal: kacang-kacangan dan biji-bijian yang
utuh) dapat membantu mengurangi asupan kolesterol serta lemak jenuh.
4) Gula

10
Selama ini zat yang ada dipasaran adalah sukrosa, fruktosa, sorbitol, manitol,
xylitol,s akarın, siklamat dan aspartam. Yang mengandung kalori hanyalah
sukrosa dan fruktosa. Oleh karena itu penggunaannya harus dibatasi atau malah
dihindari. Yang lain tidak ada atau sangat sedikit kalorinya. Karena ada
petunjuk karsinogenik pada binatang, penggunaan sakarin dan siklamat
sekarang sangat terbatas. Sebenarnya gula masih dapat digunakan dalam jumlah
terbatas, tidak melebihi 5% dari kalori, misalnya gula dapat digunakan dalam
bumbu masakan.
c. Latihan Jasmani Secara Kontinyu
d. Obat Hipiglikemik
1) Golonganan sulfonilurea
2) Golongan biguanid (metformin)
3) Inhibitor glukosidase alfa (acarbose)
4) Insulin

11
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian

1. Identitas (Pasien dan Penanggungjawab), Biasanya nama,umur jenis kelamin, suku


bangsa, agama, pekerjaan, alamat, no registrasi, diagnosa medis, tanggal MRS,
hubungan dengan klien
2. Alasan Masuk RS
3. Keluahan Utama
4. Riwayat Penyakit
• Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan dahulu tanyakan pada pasien apakah pernah mengalami
penyakit yang sama dengan yang dialami saat ini atau penyakit lain seperti:
a. Riwayat asma
b. Diabetes
c. Stroke
d. Gastritis
e. Alergi
• Riwayat kesehatn keluarga
Riwayat Kesehatan Keluarga tanyakan pada angota keluarganya. adakah
anggota keluarganya yang mengalami penyakit yang sama dengan pasien
saat ini. Serta riwayat penyakit lainnya seperti:
a. Darah tinggi
b. Diabetes
c. Penyakit jantung
5. Kebutuhan pola fungsi gordon
6. Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya
dan pentingnya kesehatan bagi klien? Biasanya klien yang datang ke rumah sakit

12
sudah mengalami gejala pada stadium lanjut, klien biasanya kurang mengetahui
penyebab terjadinya serta penanganannya dengan cepat.
7. Pola nutrisi metabolic
Kaji kebiasaan diet buruk (rendah serat, aditif, bahan pengawet), anoreksia.
mual/muntah, mulut rasa kering. intoleransi makanan perubahan berat badan,
perubahan kelembaban/turgor kulit. Biasanya klien akan mengalami penurunan berat
badan akibat inflamasi penyakit dan proses pengobatan kanker.
8. Pola eliminasi
Kaji bagaimana pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin,
perubahan bising usus, distensi abdomen. Biasanya klien tidak mengalami
gangguan eliminasi.
9. Pola aktivitas latihan
Kaji bagaimana klien menjalani aktivitas sehari-hari. Biasanya klien mengalami
kelemahan atau keletihan akibat inflamasi penyakit.
10. Pola Istirahan tidur
Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama klien tidur
dalam sehari? Biasanya klien mengalami perubahan pada pola istirahat; adanya
faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
11. Pola kognitif persepsi
Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan
[Link], perabaan, [Link] dan kaji bagaimana klien
dalam berkomunikasi? Biasanya klien mengalami gangguan pada indra penciuman.
12. Pola persepsi diri indra penciuman
Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya?
Apakah klien merasa rendah diri? Biasanya klien akan merasa sedih dan rendah
diri karena penyakit yang dideritanya.
13. Pola peran hubungan
Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di
Rumah Sakit? Dan bagaimana hubungan social klien dengan masyarakat
sekitarnya? Biasanya klien lebih sering tidak mau berinteraksi dengan orang lain.
14. Pola reproduksi dan seksualitas
Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan? Apakah ada perubahan
kepuasan pada klien?. Biasanya klien akan mengalami gangguan pada hubungan
dengan pasangan karena sakit yang diderita.
13
15. Pola koping dan toleransi stress
Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah? Apakah klien menggunakan
obat-obatan untuk menghilangkan stres? Biasanya klien akan sering bertanya
tentang pengobatan.
16. Pola Nilai kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya? Apakah
ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien? Biasanya klien lebih
mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
a. Pemeriksaan Fisik
b. Keadaan Umum
c. Keadaan umum meliputi: kesan umum, kesadaran, postur tubuh, warna kulit,
turgor kulit, dan kebersihan diri.
d. Gejala cardinal , Gejala cardinal meliputi: suhu, nadi, tekanan darah dan
respirasi
e. Keadaan fisik
f. Keadaan fisik meliputi pemeriksaan dari kepala sampai ekstremitas bawah.

b. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan utama untuk klien dengan masalah meningitis adalah:
a) Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis d.d mengeluh nyeri, tampak meringis, dan
gelisah. (D.0077)
b) Ketidak stabilan kadar glukosa darah (D.0027)
c) Resiko defisit nutrisi (D.0032)
d) Gangguan Integritas kulit/jarigan (D.0129)
e) Gangguan rasa nyaman (D.0074)
f) Defisit pengetahuan (D.0111)

c. Intervensi Keperawatan
N Diagnosa Luaran Intervensi
O
1 Nyeri Akut Setelah dilakukan Observasi
intervensi keperawatan
berhubungan
selama 3 x 24 jam, maka  Identifikasi lokasi, karakteristik,
dengan agen tingkat nyeri menurun, durasi, frekuensi, kualitas,
dengan kriteria hasil: intensitas nyeri
pencedera
 Identifikasi skala nyeri

14
fisiologis 1. Keluhan nyeri menurun  Identifikasi respon nyeri non
2. Meringis menurun verbal
misal.
3. Sikap protektif menurun  Identifikasi faktor yang
Inflamasi, 4. Gelisah menurun memperberat dan memperingan
5. Kesulitan tidur menurun nyeri
iskemia dan
1. Frekuensi nadi membai  Identifikasi pengetahuan dan
neoplasma k keyakinan tentang nyeri
 Identifikasi pengaruh budaya
(D.0077)
terhadap respon nyeri
 Identifikasi pengaruh nyeri pada
kualitas hidup
 Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah
diberikan
 Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik

 Berikan teknik nonfarmakologis


untuk mengurangi rasa nyeri (mis.
TENS, hipnosis, akupresure,
terapi musik, biofeedback, terapi
pijat, aromaterapi, teknik
imajinasi terbimbing, kompres
hangat atau dingin, terapi
bermain)
 Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis. suhu
ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
 Fasilitasi istirahat dan tidur
 Pertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi

 Jelaskan penyebab periode dan


pemicu nyeri
 Jelaskan strategi meredakan nyeri
 Anjurkan memonitor nyeri secara
mandiri
 Anjurkan menggunakan analgetik
secara tepat
 Ajarkan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
2 Ketidakstabila Setelah dilakukan
n glukosa tindakan keperawatan Observasi

15
berhubungan diharapkan ketidakstabilan  Identifikasi kemungkinan
hiperglikemia gula darah membaik. penyebab hiperglikemia
Dengan kriteria hasil :  Monitor kadar glukosa darah
1. Kadar glukosa dalam  Monitor tanda dan gejala
darah meningkat hiperglikemia
2. Jumlah urin membaik  Monitor intake dan output
3. Pusing menurun Teraupetik
4. Lelah/lesu menurun  Berikan asupan cairan oral
5. Keluhan lapar menurun
Edukasi
 Anjurkan kepatuhan diet dan
olahraga

Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian cairan IV
 KolaborasiPemberian Terapi insul
in

d. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh. perawat
terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana
keperawatan diantaranya: Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah
dilakukan validasi ketrampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan
cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien
dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon pasien. Pada tahap implementasi ini
merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk
mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien
(Budianna Keliat, 2005).
e. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana evaluasi
adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien,
perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk
menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan
untuk melakukan pengkajian ulang.

16
DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, Sulistyo. (2022). Keperawatan Keluarga: Graha Ilmu Friedman, M. (2010).

Buku Ajar Keperawatan:Riset Teori, Dan Praktek. Edisi Ke-5. Jakarta: EGC

Azis, W. Dkk. (2020). Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2.

Betteng, R. (2021). Analisis Faktor Resiko Penyebab Terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2

Pada Wanita Usia Produktif Dipuskesmas Wawonasa. Jurnal E-Biomedik, 2(2).

Https://[Link]/10.35790/Ebm.2.2.2014.4554

Brunner And Suddart. (2020). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC.

Budiyani. (2019). Pelatihan Manajemen Diri Untuk Meningkatkan Kepatuhan Diet Pada

Penderita Diabetes Melitus. EGC.

Kusniawati. (2019). Analisis Faktor Yang Berkontribusi Terhadap Self Care Diabetes Pada

Klien Diabetes Melitus Tipe 2.

[Link]. (2018). Asuhan Keperawatan Dengan Diabetes Melitus. EGC.

Padila (2021). Buku Ajar Keperawatan, Dilengkapi Aplikasi Kasus Askep Keluarga Terapi

Herbal Dan Terapi Modalitas. Jakarta: Nuha Medika

Suprajitno. (2022). Asuhan Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta: EGC

Tim Pokja SDKI DPP PPNL (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (1st ed.).

Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia(1). Jakarta.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan

Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan

Perawat Nasional Indonesia.

17

Anda mungkin juga menyukai