Aturan Rantai
Aturan rantai (chain rule) menyatakan bahwa turunan dari f(g(x)) adalah f′(g(x))⋅g′(x).
Dengan kata lain, aturan rantai digunakan untuk mencari turunan komposisi dua fungsi atau
lebih.
Aturan rantai memungkinkan kita untuk mencari turunan komposisi dua fungsi atau
lebih. Komposisi fungsi yang biasanya diturunkan dengan aturan rantai adalah bentuk
pangkat dari fungsi aljabar yang terdiri dari beberapa suku.
Sebagai contoh, bayangkan usaha untuk mencari turunan dari fungsi berikut:
TEOREMA A: Aturan Rantai
Andaikan y=f(u) dan u=g(x). Jika g terdiferensialkan di x dan f terdiferensialkan
di u=g(x), maka fungsi komposit f o g, didefinisikan oleh (f o g)(x)=f(g(x))
terdiferensialkan di x dan
Yakni,
atau dapat dituliskan juga sebagai
CONTOH 1:
Perhatikan kembali fungsi (2x2−4x+1)60 yang diperkenalkan pada bagian awal di
atas. Carilah f’(x).
Penyelesaian:
Fungsi yang luar adalah f(u)=u60 dan fungsi dalamnya adalah u=g(x)=2x2−4x+1.
Dengan demikian,
CONTOH 2:
Jika y=(2𝑥51− 7)3, carilah dy/dx.
Penyelesaian:
Sehingga,
CONTOH 3:
Penyelesaian:
Kita bisa memikirkan ini sebagai y=u13 , di mana u=(t3−2t+1)/(t4+3).
Dengan menerapkan Aturan Rantai dan Aturan Hasil bagi memberikan
Sumber:
Purcell, Edwin J., dan Dale Verberg. (1987). Calculus with Analytic Geometry, ed 5.
Terjemahan Susila, I Nyoman, dkk. Kalkulus dan Geometri Analitis. Indonesia:
Penerbit Erlangga.
Purcell, Edwin J., Dale Verberg., dan Steve Rigdon. (2007). Calculus, ed 9. Penerbit
Pearson.
Turunan Ordo yang Lebih Tinggi
Operasi pendiferensialan mengambil sebuah fungsi f dan menghasilkan sebuah fungsi
baru f′. Jika f′ sekarang kita diferensialkan, kita masih menghasilkan fungsi lain,
dinyatakan oleh f′′ (dibaca “f dua aksen”) dan disebut turunan kedua dari f. Pada
gilirannya ia boleh diturunkan lagi, dengan demikian menghasilkan f′′′, yang disebut
turunan ketiga, dan seterusnya.
Sebagai contoh, andaikan terdapat fungsi sebagai berikut:
Dengan demikian, diperoleh hasil berikut ini.
Karena turunan dari fungsi nol adalah nol, maka semua turunan tingkat yang lebih
tinggi akan nol.
Kita telah memperkenalkan tiga notasi untuk turunan (sekarang disebut juga turunan
pertama) dari y=f(x). Ketiga notasi tersebut adalah
yang mana masing-masing disebut, notasi aksen, notasi d, dan notasi Leibniz. Terdapat
sebuah variasi dari cara notasi aksen – yakni, y′ - yang kadang kala akan kita pakai juga.
Semua notasi ini mempunyai perluasan untuk turunan tingkat tinggi, seperti
diperlihatkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Cara penulisan (notasi) untuk turunan dari y=f(x)
CONTOH 1:
Jika y=sin2x
carilah d3y/dx3,d4y/dx4, dan d12y/dx12.
Penyelesaian:
Turunan Fungsi Implisit - Materi, Contoh Soal dan
Pembahasan
Secara umum, berdasarkan hubungan antara variabel bebas (x) dan tak bebasnya (y), bentuk fungsi
dapat dibedakan menjadi dua yakni fungsi eksplisit dan fungsi implisit. Fungsi dengan
notasi y=f(x) disebut fungsi eksplisit yaitu antara peubah bebas dan tak bebasnya dituliskan dalam
ruas yang berbeda.
Sebagai contoh, perhatikan beberapa fungsi yang dinyatakan secara eksplisit berikut ini.
Sementara itu, fungsi implisit yaitu fungsi yang variabel bebas dan variabel tak bebasnya
bercampur dalam satu ruas baik di ruas kanan maupun di ruas kiri persamaannya. Perhatikan dua
contoh fungsi implisit berikut.
Sejauh ini, pembahasan kita mengenai turunan hanya terbatas pada suatu fungsi eksplisit. Akan
tetapi, dalam kenyataannya sering kali kita menjumpai sebuah fungsi implisit dan kita diminta
untuk mencari turunan dari fungsi tersebut.
Ada dua cara untuk mencari turunan fungsi implisit. Pertama, lakukan modifikasi pada fungsi
implisit sehingga menjadi fungsi eksplisit dan kemudian mencari turunannya seperti pada fungsi
eksplisit. Kedua, turunkan kedua ruas persamaan fungsi implisit dan kemudian sederhanakan
untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Untuk lebih jelasnya perhatikan beberapa contoh
berikut:
Contoh Soal dan Pembahasan
Contoh 1:
𝑑𝑦
Carilah 𝑑𝑥 untuk fungsi implisit 4x2y−3y=x3−1.
Pembahasan:
Cara 1: Modifikasi fungsi implisit sehingga menjadi fungsi eksplisit sebagai berikut.
Kemudian dengan menggunakan rumus turunan pembagian, kita peroleh turunan dari fungsi
eksplisit di atas sebagai berikut:
Cara 2: Turunkan kedua ruas persamaannya terhadap x secara bersamaan, yakni
Untuk mencari turunan pada ruas kiri persamaannya, kita bisa memakai aturan perkalian,
sedangkan untuk ruas kanannya bisa menggunakan rumus dasar turunan. Kita peroleh berikut ini:
Walaupun jawaban ini kelihatan berlainan dari jawaban yang diperoleh dengan cara pertama, tetapi
keduanya adalah sama. Untuk membuktikannya, gantikan y=x3−14x2−3 dalam persamaan
untuk dy/dx yang baru saja diperoleh,
Jadi, kesimpulannya adalah baik cara 1 maupun cara 2 menghasilkan jawaban sama.
Pertanyaannya adalah menggunakan cara yang mana? Dalam penerapannya, terkadang dengan
menggunakan cara 1 saja sudah cukup, tetapi terkadang juga akan dijumpai soal di mana akan jauh
lebih mudah menggunakan cara yang kedua.
Contoh 2:
𝑑𝑦
Carilah 𝑑𝑥 untuk fungsi implisit x2+5y3=x+9.
Pembahasan:
Kita dapat mencari turunan fungsi implisit ini dengan cara 1 maupun cara 2. Namun, cara 2
tampaknya akan lebih sederhana. Turunkan kedua ruas persamaannya sehingga kita peroleh
sebagai berikut.
Contoh 3:
Carilah turunan dari fungsi implisit berikut: 3 ln xy+sin y=x2.
Pembahasan:
Fungsi implisit dalam soal ini bisa disederhanakan terlebih dahulu menjadi:
Selanjutnya, dengan menurunkan kedua ruas persamaan fungsi implisit di atas, kita peroleh:
Contoh 4:
Carilah turunan dari fungsi y=(sinx)x.
Pembahasan:
Perhatikan bahwa fungsi dalam soal mengandung eksponen yang merupakan variabel sehingga
𝑑
kita tidak bisa menggunakan rumus (xn) = nxn−1. Untuk mencari turunan dari fungsi tersebut,
𝑑𝑥
kita bisa memberikan logaritma natural pada kedua ruasnya sehingga diperoleh sebuah fungsi
implisit.
y=(sinx)x
ln y = x ln sinx
Untuk mencari turunan dari fungsi implisit di atas, kita bisa turunkan kedua ruas persamaannya,
yakni:
Contoh 5:
𝑑𝑦
Tentukan 𝑑𝑥 atau turunan implisit berikut: (y+1)2=x2−x
Pembahasan:
Diferensialkan kedua ruas pada persamaan implisit terhadap x, yaitu:
Contoh 6:
𝑑𝑦
Tentukan 𝑑𝑥 atau turunan implisit berikut: x2+2xy−5y2=1
Pembahasan:
Diferensialkan kedua ruas pada persamaan implisit terhadap x, yaitu:
Teorema Turunan Fungsi Implisit
Berbicara mengenai turunan fungsi implisit, ada sebuah teorema penting yang perlu Anda ketahui.
Teorema ini akan mempermudah dalam mencari turunan dari sebuah fungsi implisit selain
menggunakan dua cara yang telah dijelaskan di atas. Kita nyatakan teorema tersebut berikut ini.
TEOREMA 1:
Jika persamaan F(x,y) = 0 di mana F(x,y) adalah fungsi dari x dan y yang dapat diturunkan
(differentiable), serta y merupakan fungsi implisit dari x, maka
𝑑𝑦 𝐹𝑥 (𝑥,𝑦)
= −𝐹
𝑑𝑥 𝑦 (𝑥,𝑦)
Jika persamaan F(x,y,z)=0 di mana F(x,y,z) adalah fungsi dari x,y dan z yang dapat diturunkan
(differentiable), serta z merupakan fungsi implisit dari x dan y, maka
𝑑𝑧 𝐹
= - − 𝐹𝑥 (𝑥,𝑦,𝑧)
𝑑𝑥 𝑧 (𝑥,𝑦,𝑧)
𝑑𝑧 𝐹
= - − 𝐹𝑦 (𝑥,𝑦,𝑧)
𝑑𝑦 𝑧 (𝑥,𝑦,𝑧)
Sebagai contoh, kita akan menjawab Contoh 1 dan Contoh 2 yang telah kita bahas sebelumnya
menggunakan teorema yang dijelaskan di atas.
Contoh 7:
𝑑𝑦
Carilah 𝑑𝑥 menggunakan Teorema 1 di atas untuk fungsi implisit 4x2y−3y=x3−1.
Pembahasan:
Pertama, kita nyatakan fungsi implisitnya ke dalam bentuk F(x,y) = 0, yakni:
𝑑𝑦 𝑑𝑦 𝐹𝑥 (𝑥,𝑦)
Sesuai Teorema 1 di atas, 𝑑𝑥 = 𝑑𝑥 = − 𝐹 .
𝑦 (𝑥,𝑦)
Oleh karena itu, kita cari Fx(x,y) (turunan F(x,y) terhadap x)
dan Fy(x,y) (turunan F(x,y)) terhadap y) terlebih dahulu, yakni:
𝑑𝑦
Dengan demikian, kita peroleh 𝑑𝑥 yaitu:
𝑥 3 −1
Ingat bahwa fungsi implisit 4x2y−3y=x3−1 bisa kita tuliskan menjadi y = dan jika
4𝑥 2 −3
𝑑𝑦
disubstitusikan ke 𝑑𝑥 yang kita peroleh di atas, maka
Perhatikan bahwa jawaban yang kita peroleh sama dengan jawaban pada Contoh 1 yang kita bahas
sebelumnya.
Contoh 8:
𝑑𝑦
Untuk fungsi implisit x2+5y3=x+9, carilah 𝑑𝑥 menggunakan Teorema 1 di atas.
Pembahasan:
Pertama, kita nyatakan fungsi implisitnya ke dalam bentuk F(x,y)=0, yakni:
𝑑𝑦 𝐹𝑥 (𝑥,𝑦)
Sesuai Teorema 1 di atas, 𝑑𝑥 = − 𝐹
𝑦 (𝑥,𝑦)
Oleh karena itu, kita cari Fx(x,y) dan Fy(x,y) terlebih dahulu, yakni:
𝑑𝑦
Dengan demikian, kita peroleh 𝑑𝑥 yaitu:
Perhatikan bahwa jawaban yang kita peroleh sama dengan jawaban pada Contoh 2 yang kita bahas
sebelumnya.
Dari pembahasan dalam Contoh 7 dan 8 di atas, Anda bisa berkesimpulan bahwa jauh lebih mudah
mencari turunan fungsi implisit menggunakan Teorema 1 yang diberikan di atas. Memang benar
bahwa lebih mudah dan ringkas mencari turunan implisit menggunakan teorema, tetapi sebaiknya
Anda juga paham mencari turunan implisit menggunakan kedua cara yang dijelaskan di awal
artikel ini.
Contoh 7 dan 8 di atas merupakan contoh untuk fungsi dua variabel atau peubah. Untuk mencari
turunan fungsi implisit dengan tiga variabel, kita bisa lakukan hal yang sama seperti pada fungsi
dua variabel. Kita akan membahasnya secara lebih detail pada kesempatan yang lain.