LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN NY. S POST PARTUM ( POST NATAL)
RSUD H. ABDUL MANAP
Disusun Oleh :
FEBRI YANI
PO71200230064
PROGRAM PENDIDIKAN Dlll KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES JAMBI
TAHUN AJARAN 2025/2026
A. Defenisi
Post partum adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan kembali sampai alat-
alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lama masa nifas ini yaitu 68 minggu
(Mochtar, 1998). Akan tetapi seluruh alat genital akan kembali dalam waktu 3 bulan. Selain
itu masa nifas/purperium adalah masa partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu
(Dian S, 2012).
Post patum spontan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan
cukup bulan (37 s.d. 42 minggu), lahi spontan dengan presentasi belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Dian S,
2012).
Post portum/masa nifas dibagi dalam 3 periode:
1. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2. Purperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya
mencapainya 68 minggu.
3. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama
bila selama hamil/waktu persalinan mempunyai komplikasi (Dian S, 2012).
B. Klasifikasi
Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut (Hafifah, 2011).
1. Priode immediate post partum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai 24 jam. Pada masa ini sering terdapat
masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu bidan harus teratur
melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lochea, teknan darah, dan suhu.
2. Priode early post partum antara 24 jam sampai 1 minggu
Pada fase ini dapat memastikan involasi uteri dalam keadaan normal. tidak ada
perdarahan, lochea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makan
dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
3. Periode late post partum antara 1 minggu sampai 5 minggu
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta
konseling keluarga berencana.
C. Etiologi
Penyebab persalinan belum pasti diketahui, namun beberapa teori menghubungkan
dengan faktor hormonal, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada saraf dan
nutrisi (Hafifah, 2011).
1. Teori penurunan hormone
1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormone progesterone dan
estrogen. Fungsi progesterone sebagai penenang otot -otot polos rahim dan akan
menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila progesterone
turun.
2. Teori placenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan kekejangan
pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim.
Teori distensi rahim.
3. Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik otot-otot rahim
sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta.
4. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terlihat ganglion servikale(fleksus franterrhauss). Bila ganglion ini
digeser dan ditekan misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus
5. Induksi partus
Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang laminaria yang dimasukan dalam kanalis
servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser, amniotomi pemecahan
ketuban), oksitosin drip yaitu pemberian oksitosin menurut tetesan perinfus.
D. Manifestasi Klinis
1. Perubahan fisik
a. Involusi uterus
Adalah proses kembalinya alat kandungan uterus dan jalan lahir setelah bayi
dilahirkan sehingga mencapai keadaan seperti sebelum hamil. Setelah plasenta lahir,
uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi ini menyebabkan rasa
nyen/mules-mules yang disebut after pain post partum terjadi pada hari ke 2-3 hari.
b. Kontraksi uterus
Intensistas kontraksi uterus meningkat setelah melahirkan berguna untuk mengurangi
volume cairan intra uteri. Setelah 1-2 jam post partum, kontraksi menurun stabil
berurutan, kontraksi uterus menjepit pembuluh darah pada uteri sehingga perdarahan
setelah plasenta lahir dapat berhenti.
c. After pain
Terjadi karena pengaruh kontraksi uterus, normal sampai hari ke -3. After pain
meningkat karena adanya sisa plasenta pada cavum uteri, dan gumpalan darah (stoll
cell) dalam cavum uteri.
d. Endometrium
Pelepasan plasenta dan selaput janin dari dinding rahim terjadi pada stratum
spunglosum, bagian atas setelah 2-3 hari tampak bahwa lapisan atas dari stratum
sponglosum yang tinggal menjadi nekrosis keluar dari lochea. Epitelisasi
endometrium siap dalam 10 hari, dan setelah 8 minggu endometrium tumbuh kembali.
e. Ovarium
Selama hamil tidak terjadi pematangan sel telur. Masa nifa terjadi pematangan sel
telur, ovulasi tidak dibuahi terjadi mentruasi, ibu menyusui mentruasinya terlambat
karena pengaruh hormon prolaktin.
f. Lochea
Adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam masa nifas, sifat
lochea alkalis sehingga memudahkan kuman penyakit berkembang biak. Jumlah lebih
banyak dari pengeluaran darah dan lendir waktu menstruasi, berbau anyir, tetapi tidak
busuk.
Lochea dibagi dalam beberapa jenis:
1) Lochea rubra
Pada hari 1-2 berwarna merah, berisi lapisan decidua, sisa-sisa chorion, liguor amni,
rambut lanugo, verniks caseosa sel darah merah.
2) Lochea sanguinolenta.
Dikeluarkan hari ke 3-7 warna merah kecoklatan bercampur lendir, banyak serum
selaput lendir, leukosit, dan kuman penyakit yang mati.
3) Lochea serosa
Dikeluarkan hari ke 7-10. setelah satu minggu berwarna agak kuning cair dan tidak
berdarah lagi.
4) Lochea alba
Setelah 2 minggu, berwarna putih jernih, berisi selaput lendir. mengandung leukosit,
sel epitel, mukosa serviks dan kuman penyakit yang telah mati.
g. Serviks dan vagina
Beberapa hari setelah persalinan, osteum externum dapat dilalui oleh 2 jari dan
pinggirnya tidak rata (retak-retak). Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui
oleh 1 jari saja.
h. Perubahan pada dinding abdomen
Hari pertama post partum dinding perut melipat dan longgar karena diregang begitu
lama. Setelah 23 minggu dinding perut akan kembali kuat, terdapat striae melipat,
dastosis recti abdominalis (pelebaran otot rectus/perut) akibat janin yang terlalu besar
atau bayi kembar.
i. Perubahan sistem urinaria
Fungsi ginjal normal, dinding kandung kemih memperlihatkan oedema dan hiperemi
karena desakan pada waktu janin dilahirkan. Kadang-kadang oedema trigonum,
menimbulkan obstruksi dari uretra sehingga terjadi retensio urin. Pengaruh
laserasi/episiotomi yang menyebabkan refleks miksi menurun.
j. Perubahan sistem gastro intestina
Terjadi gangguan rangsangan BAB atau konstipasi 2-3 hari post partum. Penyebabnya
karena penurunan tonus pencernaan, enema, kekakuan perineum karena episiotomi,
laserasi, haemorroid dan takut jahitan lepas.
k. Perubahan pada mammae
Hari pertama bila mammae ditekan sudah mengeluarkan colustrum. Hari ketiga
produksi ASI sudah mulai dan jaringan mammae menjadi tegang, membengkak, lebut,
hangat dipermukaan kulit (vasokongesti vaskuler).
l. Laktasi
Pada waktu dua hari pertama nifas keadaan buah dada sama dengan kehamilan. Buah
dada belum mengandung susu melainkan colustrum yang dapat dikeluarkan dengan
memijat areola mammae. Colustrum yaitu cairan kuning dengan berat jenis 1.030-
1.035 reaksi alkalis dan mengandung protein dan garam, juga euglobin yang
mengandung antibodi bayi yang terbaik dan harus dianjurkan jika tidak ada kontra
indikasi.
m. Temperatur
Temperatur pada post partum dapat mencapai 38 0C dan normal kembali dalam 24
jam. Kenaikan suhu ini disebabkan karena hilangnya cairan melalui vagina ataupun
keringat, dan infeksi yang disebabkan terkontaminasinya vagina.
n. Nadi
Umumnya denyut nadi pada masa nifas turun di bawah normal. Penurunan ini akibat
dari bertambahnya jumlah darah kembali pada sirkulasi seiring lepasnya placenta.
Bertambahnya volume darah menaikkan tekanan darah sebagai mekanisme
kompensasi dari jantung dan akan normal pada akhir minggu pertama.
o. Tekanan Darah
Keadaan tensi dengan sistole 140 dan diastole 90 mmHg baik saat kehamilan ataupun
post partum merupakan tanda-tanda suatu keadaan yang harus diperhatikan secara serius.
p. Hormon
Hormon kehamilan mulai berkurang dalam urine hampir tidak ada dalam 24 hari,
setelah 1 minggu hormon kehamilan juga menurun sedangkan prolaktin meningkat
untuk proses laktasi.
2. Adaptasi psikologis ibu dalam menerima perannya sebagai orang tua.
Setelah melahirkan secara bertahap.
a. Fase Taking in
Terjadi pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan, ibu membutuhkan
perlindungan dan pelayanan, memfokuskan energy pada bayi yang menyebabkan
persepsi penyempitan dan kemampuan menerima informasi kurang.
b. Fase Taking hold
Mulai dari hari ketiga setelah melahirkan. Pada minggu keempat sampai kelima ibu
siap menerima peran barunya dalam belajar tentang hal-hal baru.
c. Fase Letting go
Dimulai sekitar minggu kelima setelah melahirkan. Anggota keluarga telah
menyesuaikan diri dengan lahirnya bayi (Linda, 2010).
E. Patofisiologi
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun
eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Perubahan-perubahan alat genetal ini dalam keseluruhannya disebut "involusi".
Disamping involusi terjadi perubahan-perubahan penting lain yakni memokonsentrasi
dan timbulnya laktasi yang terakhir ini karena pengaruh hormon laktogen dari
kelenjar hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mamae.
Otot-otot uterus berkontraksi segera post psrtum, pembuluh-pembuluh darah
yang ada antara nyaman otot-otot uretus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan
pendarahan setelah plasenta lahir. Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks
ialah segera post partum bentuk serviks agak menganga seperti corong, bentuk ini
disebabkan oleh korpus uteri terbentuk semacam cincin.
F. PATHWAY
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan post partum meliputi:
1. Pemerikasaan umum: tensi, nadi, keluhan dan sebagainya
2. Keadaan umum: TTV, selera makan, dll
3. Payudara: air susu, puring
4. Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum
5. Sekret yang keluar atau lochea
6. Keadaan alat kandungan
7. Hemoglobin, hematokrit, leukosit, ureum
8. Ultra sosografi untuk melihat sisa plasenta (Hafifah. 2011).
H. Komplikasi
1. Perdarahan
Perdarahan yaitu darah yang keluar lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak
lahir. Perdarahan dibagi menjadi dua yaitu:
a. Perdarahan post partum primer yaitu pada 24 jam pertama akibat antonia uteri,
retensio plaseta, sisa plasenta, laserasi jalan lahir dan involusio uteri.
b. Perdarahan post partum sekunder yaitu terjadi setelah 24 jam. Penyebab perdarahan
sekunder adalah sub involusio uteri, retensio sisa plasenta, infeksi postpartum.
2. Infeksi
Infeksi masa postpartum (puerpuralis) adalah infeksi pada genitalia setelah persalinan,
ditandai dengan kenaikan suhu hingga mencapai 38°C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari
pertama pasca persalinandengan mengecualikan 24 jam pertama. Infeksi postpartum
mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh masuk kuman-kuman atau bakteri ke
dalam alat genetalia pada waktu persalinan dan postpartum. Infeksi postpartum dapat
disebabkan oleh adanya alat yang tidak steril, luka robekan jalan lahir, perdarahan, pre-
eklamsia, dan kebersihan daerah perineum yang kurang terjaga. Infeksi masa postpartum
dapat terjadi karena beberapa faktor pemungkin, antara lain pengetahuan yang kurang, gizi,
pendidikan, dan usia.
I. Penatalaksanaan
1. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca
persalian. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya
trombosis dan tromboembloli. Pada hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan dan
hari ke 4 sampai sudah diperbolehkan pulang.
2. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori, sebaiknya makan-makanan yang
mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan
3. Miksi
Hendaknya kencing akan dilakukan sendiri akan secepatnya. Bila. kandung kemih panuh dan
sulit tenang, sebaiknya dilakukan katerisasi. Dengan melakukan mobilisasi secepatnya tak
jarang kesulitan miksi dapat diatasi.
4. Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3 sampai 4 hari pasca persalinan. Bila terjadi opstipasi dan
timbul koprostase hingga skibala tertimbun di rectum, mungkin terjadi febris. Lakukan
klisma atau berikan laksan per oral atatupun per rektal. Dengan melakukan mobilisasi sedini
mungkin tidak jarang kesulitan defekasi dapat diatasi.
5. Perawatan payudara
a. Dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai
persiapan untuk menyusui bayi.
b. Jika puting rata sejak hamil ibu dapat menarik-narik puting susu. Ibu harus tetap menyusui
agar puting selalu sering tertarik.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Identitas
a. Identitas pasien
Berisi nama pasien, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, suku, alamat, no.
RM, tanggal masuk, tanggal pengkajian dan diagnosa medis.
b. Identitas penanggungjawab
Berisi nama penanggung jawab pasien dan hubungan dengan pasien.
2 Status kesehatan
a. Status kesehatan saat ini
1) Keluhan utama (saat masuk RS dan saat ini) Keluhan yang paling dasar atau utama yang
pasien katakan
2) Alasan masuk RS dan perjalanan penyakit saat ini Perjalanan penyakit dan alasan saat
pasien masuk Rumah Sakit yang dimulai dari pasien masuk IGD, kemudian masuk bangsal
sampai saat dilakukan pengkajian.
b. Riwayat Haid
Umur Menarche pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi, siklus haid,
perkiraan tanggal partus.
c. Riwayat Perkawinan
Kehamilan
d. Riwayat Obstetri
1) Riwayat kehamilan
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboratorium USG. darah, urine, keluhan
selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi keluhan,
tindakan, dan pengobatan yang diperoleh.
2) Riwayat persalinan
a) Riwayat persalinan lalu jumlah gravid, jumlah patal, dan jumlah abortus, umur kehamilan
saat bersalin, jenis persalinan, penolong persalinan, BB bayi, kelainan fisik, kondisi anak saat
ini.
b) Riwayat nifas pada persalinan lalu pernah mengalami demam, keadaan lochea, kondisi
perdarahan selama nifas, tingkat aktivitas setelah melahirkan, keadaan perineal, abdominal,
nyeri pada payudara, kesulitan eliminasi, keberhasilan pemberian ASI, respon, dan support
keluarga.
c) Riwayat persalinan saat ini kapan timbul his. pembukaan, bloody show, kondisi ketuban,
lama pesalinan, dengan episiotomy atau tidak, kondisi perineum dan jaringan sekitar vagina,
dilakukan anastesi atau tidak, panjang tali pusat, lama. pengeluaran plasenta, kelengkapan
plasenta, jumlah perdarahan.
d) Riwayat new born apakah bayi lahir spontan atau dengan induksi/tindakan khusus, kondisi
bayi saat lahir (langsung menangis atau tidak), apakah membutuhkan resusitasi, nilai
APGAR, jenis kelamin bayi. BB. panjang badan, kelainan konginetal, apakah dilakukan
bonding attachment secara dini dengan ibunya, apakah langsung diberikan ASI atau susu
formula.
e. Riwayat KB dan perencanaan keluarga
Kaji pengetahuan klien dan pasangannya tentang kontrasepsi. jenis kontrasepsi yang pernah
digunakan, kebutuhan kontrasepsi
Persepsi-sensori (nyeri atau ketidaknyamanan)
Ketidaknyamanan berkenaan dengan pembesaran payudara, episiotomi, trauma perineal,
hemoriod, kontraksi kuat (afterpain) kuat dan teratur dalam periode 24 jam pertama dan akan
berkurang setiap hari.
4 Pemeriksaan fisik
Status generalis dan head to toe.
a. Tanda-tanda vital
Kaji tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu pada Ibu. Periksa tanda-tanda vital tersebut
setiap 15 menit selama satu jam pertama setelah melahirkan atau sampai stabil, kemudian
periksa setiap 30 menit untuk jam-jam berikutnya. Nadi dan suhu diatas normal dapat
menunjukan kemungkinan adanya infeksi. Tekanan darah mungkin sedikit meningkat karena
upaya untuk persalinan dan keletihan. Tekanan darah yang menurun perlu diwaspadai
kemungkinan adanya perdarahan post partum.
1) Tekanan darah, normal yaitu 140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa meningkat dari
pra persalinan pada 1-3 hari post partum.
2) Suhu, suhu tubuh normal yaitu kurang dari 38 C. Pada hari ke 4 setelah persalinan suhu
Ibu bisa naik sedikit kemungkinan disebabkan dari aktivitas payudara. Bila kenaikan
mencapai lebih dari 38 C pada hari kedua sampai hari-hari berikutnya, harus diwaspadai
adanya infeksi atau sepsis nifas.
3) Nadi, nadi normal pada Ibu nifas adalah 60-100. Denyut Nadi Ibu akan melambat sampai
sekitar 60 x/menit yakni pada waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat
penuh. Ini terjadi utamanya pada minggu pertama post partum.
4) Pernafasan, pernafasan normal yaitu 20-30 x/menit. Pada umumnya respirasi lambat atau
bahkan normal. Mengapa demikian, tidak lain karena Ibu dalam keadaan pemulihan atau
dalam kondisi istirahat. Bila ada respirasi cepat post partum (30 x/mnt) mungkin karena
adanya ikutan dari tanda-tanda syok.
b. Kepala dan wajah
1) Rambut, melihat kebersihan rambut, warna rambut, dan kerontokan rambut.
2) Wajah, adanya edema pada wajah atau tidak. Kaji adanya flek hitam..
3) Mata, konjungtiva yang anemis menunjukan adanya anemia kerena perdarahan saat
persalinan.
4) Hidung, kaji dan tanyakan pada ibu, apakah ibu menderita pilek atau sinusitis.
5) Mulut dan gigi, tanyakan pada ibu apakah ibu mengalami stomatitis, atau gigi yang
berlubang. Gigi yang berlubang dapat menjadi pintu masuk bagi mikroorganisme dan bisa
beredar secara sistemik.
6) Leher, kaji adanya pembesaran kelenjar limfe dan pembesaran kelenjar tiroid. Kelenjar
limfe yang membesar dapat menunjukan adanya infeksi, ditunjang dengan adanya data yang
lain seperti hipertermi, nyeri, dan bengkak.
7) Telinga, kaji apakah ibu menderita infeksi atau ada peradangan pada telinga.
c. Pemeriksaan thorak
1) Inspeksi payudara
Kaji ukuran dan bentuk tidak berpengaruh terhadap produksi asi, perlu diperhatikan bila ada
kelainan, seperti pembesaranmasif, gerakan yang tidak simetris pada perubahan posisi kontur
atau permukaan.
2) Palpasi Payudara
Pengkajian payudara selama masa post partum meliputi inspeksi ukuran, bentuk, warna dan
kesimetrisan serta palpasi apakah ada nyeri tekan guna menentukan status laktasi.
Pemeriksaan abdomen
1) Inspeksi Abdomen
Kaji adakah striae dan linea alba. Kaji keadaan abdomen. apakah lembek atau keras.
Abdomen yang keras menunjukan kontraksi uterus bagus sehingga perdarahan dapat
diminimalkan. Abdomen yang lembek menunjukan sebaliknya dan dapat dimasase untuk
merangsang kontraksi.
2) Palpasi Abdomen
Fundus uteri Tinggi: Segera setelah persalinan TFU 2
em dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 em diatas pusat dan menurun kira-kira 1 cm
setiap hari.
Hari kedua post partum TFU I em dibawah pusat
Hari ke 3-4 post partum TFU 2 em dibawah pusat
Hari ke 5-7 post partum TFU pertengahan pusat-symfisis
Hari ke 10 post partum TFU tidak teraba lagi.
e. Ekstremitas atas dan bawah
1) Varises, melihat apakah ibu mengalami varises atau tidak.
Pemeriksaan varises sangat penting karena ibu setelah melahirkan mempunyai
kecenderungan untuk mengalami varises pada beberapa pembuluh darahnya. Hal ini
disebabkan oleh perubahan hormonal.
2) Edema, Tanda homan positif menunjukan adanya tromboflebitis sehingga dapat
menghambat sirkulasi ke organ distal.
3) Perineum, kebersihan Perhatikan kebersihan perineum ibu.
Kebersihan perineum menunjang penyembuhan luka.
REEDA (red, edema, echymosis, discharge, loss of approximation)
Lochea
Kaji jumlah, warna, konsistensi dan bau lokhia pada ibu post partum. Perubahan warna harus
sesuai. Misalnya Ibu postpartum hari ke tujuh harus memiliki lokhia yang sudah berwarna
merah muda atau keputihan. Jika warna lokhia masih merah maka ibu mengalami komplikasi
postpartum. Lokhia yang berbau busuk yang dinamankan Lokhia purulenta menunjukan
adanya infeksi disaluran reproduksi dan harus segera ditangani.
DAFTAR PUSTAKA
Elly S. & Wita R., 2019. Efektivitas Kompres Hangat dan Kompres Dingin terhadap
Intensitas Nyeri Luka Perineum pada Ibu Post Partum di BPM
Siti Julaeha Pekanbaru. Journal Of Midwifery Science. 3(1):7-14.
Hafifah. 2011. Laporan Pendahuluan pada Pasien dengan Persalinan Normal. Diakses pada
tanggal 10 Juni 2020 pukul 10.00 WIB..
Nitasari. 2015. Pathway Post Partum. Diakses pada tanggal 10 Juni 2020 pukul 10.10 WIB.
Siska, S. 2019. "Laporan Pendahuluan Post Partum". Asuhan Keperawatan. Jurusan
Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Yolanda B, dkk.. 2015. Hubungan Vulva Hygiene dengan Pencegahan Infeksi
Luka Perineum pada Ibu Post Partum di RS Pancaran Kasih GMIM
Manado. Jurnal Keperawatan. 3(2).
North American Nursing Diagnosis Association. 2015. Aplikasi Asuhan keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nie-Noc.
Jogjakarta: Media Action.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1,
Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Edisi
1. Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.