Pengaturan Kebebasan Berpendapat di Media Sosial
Pengaturan Kebebasan Berpendapat di Media Sosial
Abstrak
Kebebasan berbicara dipahami sebagai hal mendasar dalam demokrasi. Adanya pembatasan tentang
kebebasan berekspresi di media sosial bukan berarti Masyarakat publik tidak dapat menyampaikan
pendapatnya di muka umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaturan kebebasan
berpendapat di media sosial berbasis keadilan. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum
normatif dengan menggunakan model pendekatan peraturan perundang-undangan (statuta approach) dan
dengan pendekatan konseptual (conceptual approach) yang mengkaji dan menganalisis secara kritis dan
komprehensif mengenai kebebasan berpendapat di media sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pengaturan mengenai kebebasan berpendapat di media sosial berbasis keadilan bertujuan untuk memberikan
batasan agar dalam menyampaikan ekspresi dalam berpendapat di media sosial tidak melanggar hak asasi
manusia yang telah dijamin oleh konstitusi. Kebebasan berpendapat di media sosial sangat penting untuk
diberikan pengaturan agar dapat menciptakan kepastian hukum dan keadilan bagi seluruh masyarakat.
Kata kunci: konstitusi; kepastian hukum; masyarakat
Pendahuluan
Kebebasan berbicara dan berekspresi yang biasanya disebut kebebasan berpendapat, secara
umum memiliki pengertian bahwa setiap orang memiliki hak alami untuk mengekspresikan diri
secara bebas melalui media tanpa campur tangan pihak luar, seperti sensor, dan tanpa rasa takut
akan pembalasan, seperti ancaman dan penganiayaan. Kebebasan berekspresi adalah hak yang
kompleks. Ini karena kebebasan berekspresi tidak mutlak dan disertai dengan tugas dan tanggung
jawab khusus, oleh karena itu kebebasan berekspresi dapat tunduk pada ba- tasan tertentu yang
ditentukan oleh hukum.
Kebebasan berbicara adalah prinsip yang mendukung kebebas- an individu atau komunitas
untuk mengartikulasikan pendapat dan gagasannya tanpa takut akan pembalasan, sensor, atau
sanksi hukum. Istilah “kebebasan berekspresi” terkadang digunakan secara sinonim tetapi
mencakup tindakan mencari, menerima, dan menyebarkan in- formasi atau ide, terlepas dari media
yang digunakan. Istilah kebebasan berekspresi sendiri telah ada sejak era Athena Yunani lebih dari
2.400 tahun yang lalu.1
Berikut ini adalah beberapa definisi yang paling umum tentang kebebasan berekspresi yang
dianggap sebagai standar internasional yang valid: Pertama, Setiap orang berhak atas kebebasan
berpendapat dan berekspresi; hak ini termasuk kebebasan untuk berpendapat tanpa campur tangan
dan untuk mencari, menerima, dan menyebarkan informasi dan
1 Neshapriyan M., “Social Media and Freedom of Speech and Expression”, Legal Service India (e-
350
termasuk kebebasan untuk mencari, menerima, dan menyebarkan informasi dan gagasan dalam
bentuk apa pun, tanpa memandang batas negara, baik secara lisan, tertulis atau cetak, dalam bentuk
seni, atau melalui media lain yang dipilihnya.
Internet dan media sosial telah menjadi alat komunikasi penting di mana individu dapat
menggunakan hak kebebasan berekspresi dan bertukar informasi serta ide. Dalam
perkembangannya, masyarakat dunia telah menyaksikan adanya perubahan, keadilan, kesetaraan,
akuntabilitas yang kuat dan penghormatan terhadap hak asasi manusia melalui gerakan-gerakan
yang dikoordinasi melalui internet dan media sosial. Dalam gerakan semacam itu, internet dan
media sosial sering memainkan peran kunci dengan memudahkan banyak orang untuk terhubung
dan bertukar informasi secara instan serta dapat menciptakan rasa solidaritas. 2
Komite Hak Asasi Manusia PBB juga telah mencoba untuk memberikan penerapan praktis
atas kebebasan berpendapat dan berekspresi dalam portal media yang telah berkembang pesat,
tahap utamanya ditempati oleh internet dan komunikasi seluler. Hal ini mengartikan bahwa
internet dan media sosial sebagai jaringan global untuk bertukar ide dan opini yang tidak lagi
bergantung pada media massa tradisional. Masyarakat dunia kini telah mengenal internet dan
media sosial, maka saat ini internet dan media sosial diartikan sebagai media pelaksanaan hak.
Dengan demikian akses terhadap internet dan media sosial ini juga telah diakui sebagai hak asasi
manusia yang fundamental.
Pada Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara, diadopsi selama Revolusi Perancis
1789, khususnya menegaskan kebebasan berbicara sebagai hak asasi. Diadopsi pada 1791,
kebebasan berbicara adalah fitur dari Amendemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat. Deklarasi
Perancis memberikan kebebasan berekspresi dalam Pasal 11, yang menyatakan bahwa:
“Komunikasi gagasan dan pendapat yang bebas adalah salah satu hak paling berharga manusia.
Setiap warga negara dapat berbicara, menulis, dan mencetak dengan keleluasaan, namun tetap
harus bertanggung jawab atas penyalahgunaan kebebasan tersebut sebagaimana yang ditentukan
oleh hukum.”
Pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yang diadopsi pada tahun 1948,
menyatakan: “Setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi; hak ini ter masuk
kebebasan untuk berpendapat tanpa campur tangan dan untuk mencari, menerima dan
menyebarkan informasi dan gagasan melalui media apa pun dan tanpa memandang batas
negara.”303 Saat ini, kebebasan berbicara, atau kebebasan berekspresi, diakui dalam hukum hak
asasi manusia internasional dan regional. Hak tersebut tertuang dalam Pasal 19 Kovenan
Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Pasal 10 Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia,
Pasal 13 Konvensi Amerika tentang Hak Asasi Manusia, dan Pasal 9 Piagam Afrika tentang Hak
Asasi Manusia dan Rakyat.
Berdasarkan argumen John Milton, kebebasan berbicara dipahami sebagai hak beraneka
segi yang mencakup tidak hanya hak untuk mengungkapkan, atau menyebarkan, informasi dan
gagasan, tetapi tiga aspek yang berbeda lebih jauh yakni: Hak untuk mencari
informasi dan ide, Hak untuk menerima informasi dan ide, Hak untuk menyampaikan informasi
dan ide. Standar internasional, regional dan nasional juga mengakui bahwa kebebasan berbicara,
sebagai kebebasan berekspresi, mencakup segala media, baik lisan, tertulis, cetak, melalui internet
atau melalui bentuk seni. Artinya, perlindungan kebebasan berpendapat sebagai hak tidak hanya
mencakup konten, tetapi juga sarana berekspresi.
Hak atas kebebasan berbicara dan berekspresi terkait erat dengan hak-hak lain, dan
mungkin dibatasi bila bertentangan dengan hak lain. Hak atas kebebasan berekspresi juga terkait
351
dengan hak atas peradilan yang adil dan proses pengadilan yang dapat membatasi akses untuk
mencari informasi, atau menentukan peluang dan sarana di mana kebebasan berekspresi
dimanifestasikan dalam proses pengadilan. Sebagai prinsip umum, kebebasan berekspresi tidak
boleh membatasi hak atas privasi, serta kehormatan dan reputasi orang lain. Namun keleluasaan
yang lebih besar diberikan ketika kritik terhadap tokoh masyarakat di libatkan.3
Hak atas kebebasan berekspresi khususnya penting bagi platform media, yang memainkan
peran khusus sebagai pemegang hak umum atas kebebasan berekspresi bagi banyak aspek. Namun,
kebebasan pers tidak selalu memungkinkan kebebasan berbicara. Judith Lichtenberg telah
menguraikan kondisi di mana kebebasan pers dapat memba- tasi kebebasan berbicara, misalnya di
mana media menekan informasi atau melumpuhkan keragaman suara yang melekat dalam
kebebasan berbicara. Lichtenberg berpendapat bahwa kebebasan pers hanyalah bentuk hak milik
yang diringkas dengan prinsip “tanpa uang, tanpa suara.” 4
Kebebasan berbicara dipahami sebagai hal mendasar dalam demokrasi. Norma tentang
pembatasan kebebasan berekspresi berarti bahwa debat publik tidak sepenuhnya ada tekanan,
sekalipun dalam keadaan darurat. Alexander Meiklejohn adalah salah satu tokoh yang
memprakarsai kebebasan berbicara dan demokrasi. Meiklejohn berpendapat bahwa konsep
demokrasi adalah pemerintahan sendiri oleh rakyat. Supaya sistem tersebut berhasil, setiap pemilih
yang terinformasi di perlukan yakni memiliki pengetahuan yang sesuai, tidak diperbolehkan
adanya batasan pada arus informasi dan ide yang bebas. Menurut Meik lejohn, demokrasi tidak
akan mencapai cita-citanya yang esensial apabila mereka yang berkuasa mampu memanipulasi
para pemilih dengan menyembunyikan informasi dan membungkam kritik.
Metode
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif dengan menggunakan model
pendekatan peraturan perundang-undangan (statuta approach) dan dengan pendekatan konseptual
(conceptual approach) yang mengkaji dan menganalisis secara kritis dan komprehensif mengenai
kebebasan berpendapat di media sosial. Adapun tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengkaji
dan mengetahui bagaimana pengaturan mengenai kebebasan berpendapat di media sosial.
3 Human Constitutional Rights Documents, “Declaration of the Rights of Man and of the Citizen”,
[Link]
Seminar Nasional
Mewujudkan Sistem Hukum Nasional Berbasis Pancasila
Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
[Link]
Hasil dan Pembahasan
Pengaturan Kebebasan Berpendapat
Kebebasan berekspresi yang biasa disebut disebut sebagai hak asasi manusia berdasarkan
Pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) dan diakui dalam hukum hak asasi
manusia internasional dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR). Pasal
19 UDHR menyatakan bahwa “setiap orang berhak untuk berpendapat tanpa campur tangan” dan
“setiap orang berhak atas kebebasan berekspresi; hak ini harus mencakup kebebasan untuk
mencari, menerima dan menyebarkan informasi dan gagasan dalam bentuk apa pun, terlepas dari
perbatasan, baik secara lisan, tertulis atau cetak, dalam bentuk seni, atau melalui media lain
pilihannya.”
352
Majelis Umum PBB mengadopsi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik
(ICCPR) pada 16 Desember 1966. Pelaksanaan hak- hak yang diatur dalam Paragraf 2 pasal ini
disertai dengan tugas dan tanggung jawab khusus. Oleh karena itu, dapat dikenakan pembatasan
tertentu, tetapi ini hanya akan seperti yang ditentukan oleh hukum dan diperlukan untuk: (1)
menghormati hak atau reputasi orang lain; dan (2) perlindungan keamanan nasional atau
ketertiban umum, atau kesehatan atau moral masyarakat. 5
Menurut Pasal 19 ICCPR mengubahnya dengan menyatakan bahwa pelaksanaan hak hak
ini membawa “tugas dan tanggung jawab khusus dan oleh karena itu dapat tunduk pada
pembatasan tertentu bila perlu atau penghormatan terhadap hak atau reputasi dari orang lain atau
perlindungan keamanan nasional atau ketertiban umum. Sistem hukum terkadang mengenali
batasan tertentu pada kebebasan berbicara, terutama ketika kebebasan berbicara bertentangan
dengan hak dan kebebasan lain, seperti dalam kasus pencemaran nama baik, fitnah, pornografi,
kecabulan, perkelahian, dan kekayaan intelektual. Di beberapa negara Eropa, penistaan agama
adalah pembatasan kebebasan berbicara. Contohnya ada salah satu negara, apabila memfitnah Nabi
Muhammad saw. (nabi umat Islam) tidak termasuk dalam kebebasan berbicara. Adapun di
Perancis, penistaan dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. dilindungi di bawah
kebebasan berbicara.
Pembenaran untuk pembatasan kebebasan berbicara sering kali merujuk pada “prinsip
merugikan” atau “prinsip pelanggaran”. Pembatasan kebebasan berbicara dapat terjadi melalui
sanksi hukum atau penolakan sosial, atau keduanya. Institusi publik tertentu juga dapat
memberlakukan kebijakan yang membatasi kebebasan berbicara, contohnya bagi siswa/i saat di
sekolah tidak diperbolehkan berkata kotor atau jorok di lingkungan sekolah. Dalam buku On
Liberty (1859), John Stuart Mill menyatakan bahwa “... harus ada kebebasan sepenuhnya untuk
menyatakan dan berdiskusi, sebagai masalah keyakinan etis, doktrin apa pun, betapa pun tidak
bermoral itu.6 ”Mill berpendapat bahwa kebebasan berekspresi sepenuhnya diperlukan untuk
mendorong argumen ke batas logisnya, bukan batas rasa malu sosial. Pada tahun 1985, Joel
Feinberg memperkenalkan apa yang dikenal sebagai “prinsip
5Internet Archive, “International Convenant on Civil and Political Rights”, Office of the United
Nations High Commisioner for Human Rights, diakses pada 21 Desember 2023, [Link]
[Link]/web/20080705115024/[Link] 6 David van
Mill, “Freedom of Speech”, Stanford Encyclopedia of Philosophy, 1 Mei 2017, diakses pada 19 Desember
2023, [Link]
Seminar Nasional
Mewujudkan Sistem Hukum Nasional Berbasis Pancasila
Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
[Link]
pelanggaran”. Feinberg berpendapat bahwa prinsip kerugian menetap- kan standar yang terlalu
tinggi dan bahwa beberapa bentuk ekspresi dapat secara sah dilarang oleh hukum karena sangat
ofensif.
Namun, perbuatan menyinggung seseorang tidak separah menyakiti seseorang, hukuman
yang dijatuhkan harus lebih tinggi karena menyebabkan kerugian. Sebaliknya, Mill tidak
mendukung hukuman atas dasar pada prinsip kerugian. Dikarenakan, bentuk seseorang dapat
tersinggung itu bervariasi, atau mungkin hasil dari prasangka yang tidak dapat dibenarkan.
Feinberg menyarankan bahwa sejumlah faktor perlu dipertimbangkan saat menerapkan prinsip
pelanggaran, termasuk: tingkat, durasi dan sosial nilai pidato, kemudahan yang dapat dihindari,
353
motif pembicara, jumlah orang yang tersinggung, intensitas pelanggaran, dan kepentingan umum
masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu, kebebasan berbicara dan berekspresi tidak boleh dianggap absolut, dan
batasan umum atau batasan kebebasan berbicara terkait dengan fitnah, kecabulan, pornografi,
hasutan, perkelahian, informasi rahasia, pelanggaran hak cipta, rahasia dagang, pelabelan
makanan, perjanjian non disclosure, hak privasi, martabat, hak untuk dilupakan, keamanan publik,
dan sumpah palsu. Sistem hukum terkadang mengenali batasan tertentu pada kebebasan berbicara,
terutama ketika kebebasan berbicara bertentangan dengan hak dan kebebasan lain, seperti dalam
kasus pencemaran nama baik, fitnah, pornografi, kecabulan, perkelahian, dan kekayaan intelektual.
Interpretasi dari batasan bahaya dan pelanggaran terhadap kebebasan berbicara bersifat relatif
terutama terkait budaya dan politik. Misalnya, di Rusia, prinsip bahaya dan pelanggaran telah
digunakan untuk membenarkan undang-undang propaganda LGBT Rusia yang membatasi ucapan
(dan tindakan) terkait dengan masalah LGBT.
Namun, sejumlah negara Eropa yang bangga dengan kebebasan berbicara melarang
pidato yang dapat diartikan sebagai penolakan Holocaust. Larangan tersebut termasuk pula
Austria, Belgia, Kanada, Republik Ceko, Perancis, Jerman, Hongaria, Israel, Liechtenstein,
Lituania, Luksemburg, Belanda, Polandia, Portugal, Rusia, Slovakia, Swiss, dan Rumania. 7
Keputusan yang membentuk prinsip bahwa jaminan konstitusional atas kebebasan berbicara dan
kebebasan pers tidak mengizinkan suatu negara untuk melarang atau melarang advokasi
penggunaan kekerasan atau pelanggaran hukum kecuali jika advokasi tersebut diarahkan untuk
menghasut atau menghasilkan tindakan tanpa hukum yang akan terjadi dan cenderung
menghasut atau menyebabkan tindakan tersebut.
Pendapat di Brandenburg mengesampingkan peristiwa sebelumnya terkait “bahaya yang
jelas dan sekarang” serta membuat hak atas kebebasan kebebasan berbicara (politik) perlindungan
di Amerika Serikat yang hampir mutlak. Ujaran kebencian juga dilindungi oleh Amendemen
Pertama di Amerika Serikat, sebagaimana diputuskan dalam RAV v. City of St. Paul (1992) di mana
Mahkamah Agung memutuskan bahwa perkataan yang mendorong kebencian diperbolehkan,
kecuali di kasus kekerasan yang akan terjadi. Lihat Amendemen Pertama Konstitusi Amerika
Serikat untuk informasi lebih perinci tentang keputusan ini dan latar belakang sejarahnya.
7 World News, “Italian Parliament Introduces Holocaust Denial Legislation”, 16 Oktober 2013, diakses
354
Misalnya, bagi suatu negara untuk membatasi pemungutan suara politik segera sebelum
pemilihan untuk menjaga integritas proses pemilihan dapat dianggap sah. Seperti disebutkan
mengenai isi wacana politik, Komite telah mengamati bahwa dalam keadaan debat publik
mengenai tokoh publik dalam domain politik dan institusi publik, nilai yang ditempatkan oleh
Kovenan pada ekspresi tanpa hambatan sangat tinggi. Dengan demikian, fakta bahwa bentuk
ekspresi yang dianggap menghina tokoh masyarakat tidak cukup untuk membenarkan pengenaan
hukuman, meskipun tokoh masyarakat mendapat manfaat dari ketentuan Kovenan. Selain itu,
semua figur publik, termasuk mereka yang menjalankan otoritas politik tertinggi seperti kepala
negara dan pemerintahan, secara sah menjadi sasaran kritik dan oposisi politik. Oleh karena itu,
Komite mengungkapkan keprihatinan atas perbuatan, lese majeste, desacato, tidak menghormati
otoritas, tidak menghormati bendera dan lambang, pencemaran nama baik kepala negara dan
perlindungan kehormatan pejabat publik, dan undang-undang tidak boleh mengatur hukuman
yang lebih berat hanya berdasarkan identitas orang yang mungkin telah dituduh.9
Negara tidak boleh melarang kritik terhadap institusi, seperti tentara atau pemerintah.
Negara-negara bagian harus memastikan bahwa kerangka legislatif dan administratif untuk
regulasi media massa konsisten dengan ketentuan Tersebut. Sistem regulasi harus
mempertimbangkan perbedaan antara sektor cetak, penyiaran dan internet, serta memperhatikan
pula cara berbagai media untuk bertemu. Komite menegaskan kembali pengamatannya dalam
Komentar Umum No. 10 bahwa “karena perkembangan media massa modern, langkah-langkah
efektif diperlukan untuk mencegah kontrol media yang akan meng- ganggu hak setiap orang atas
kebebasan berekspresi.”
Negara seharusnya tidak memiliki kontrol monopoli atas media dan harus mempromosikan
pluralitas media. Akibatnya, negara harus mengambil tindakan yang sesuai dengan Kovenan,
untuk mencegah dominasi atau konsentrasi media yang tidak semestinya oleh kelompok media
yang dikendalikan secara pribadi dalam situasi monopoli yang dapat membahayakan keragaman
sumber dan pandangan. Kehatihatian harus diberikan untuk memastikan bahwa sistem subsidi
pemerintah ke outlet media dan penempatan iklan pemerintah tidak digunakan untuk efek
menghambat kebebasan berekspresi. Selain itu,
8Jo Glanville, “The Big Business of Net Censorship”, The Guardian, 17 November 2008, diakses tanggal
355
penting dalam menginformasikan kepada publik tentang tindakan terorisme dan kapasitasnya
untuk beroperasi tidak boleh terlalu dibatasi. Sehubungan dengan hal tersebut, jurnalis tidak perlu
dihukum karena melakukan aktivitasnya yang sah. Undang-undang pencemaran nama baik harus
dibuat dengan hati-hati untuk memastikan bahwa undang undang tersebut mematuhi Paragraf 3,
dan bahwa dalam praktiknya, undang-undang tersebut tidak menghambat kebebasan berekspresi.
Semua undang-undang semacam itu, khususnya undang-undang pidana yang
mencemarkan nama baik, harus mencakup pembelaan seperti pembelaan kebenaran dan tidak
boleh diterapkan terkait dengan bentuk ekspresi yang bukan sifatnya, tunduk pada verifikasi.
Setidaknya terkait dengan komentar tentang tokoh masyarakat, pertimbangan harus diberikan
untuk menghindari menghukum atau memberikan pernyataan tidak benar yang melanggar hukum
yang telah diterbitkan karena kesalahan tetapi tanpa niat jahat. Dalam hal apa pun, kepentingan
publik dalam pokok kritik harus diakui sebagai pembelaan. Negara- negara bagian harus berhati-
hati untuk menghindari tindakan dan hu- kuman yang bersifat menghukum secara berlebihan. 10
Karakteristik Kebebasan Berpendapat
Karakteristik kebebasan berpendapat sebagaimana yang termuat dalam aturan Majelis
Umum PBB mengadopsi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) pada 16
Desember 1966.11 Pasal 19 ICCPR menyatakan bahwa: Pertama, Setiap orang berhak untuk
berpendapat tanpa campur tangan. Kedua, Setiap orang berhak atas kebebasan berekspresi; hak ini
termasuk kebebasan untuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi dan gagasan dalam
bentuk apa pun, tanpa memandang batas negara, baik secara lisan, tertulis atau cetak, dalam bentuk
seni, atau melalui media lain yang dipilihnya.
Pelaksanaan hak-hak yang diatur dalam ayat 2 pasal ini disertai dengan tugas dan tanggung
jawab khusus. Oleh karena itu, dapat dikenakan pembatasan tertentu, tetapi ini hanya akan seperti
yang ditentukan oleh hukum dan diperlukan untuk: (1) menghormati hak atau reputasi orang lain;
dan (2) perlindungan keamanan nasional atau ketertiban umum, atau kesehatan atau moral
masyarakat. UN Human Rights Committee sesi 102 di Jenewa pada 21 Juli 2011 telah mengadopsi
Komentar Umum No. 34 tentang Kebebasan Berekspresi. Komentar Umum No. 34 merupakan
interpretasi resmi terkait dengan Kebebasan
10 Randal Marlin, Propaganda and the Ethics of Persuasion, Broadview Press, 2002, hlm. 103, ISBN
978-15511137560.
11 United Nations, “Universal Declaration of Human Rights”, diakses pada 30 Dsemeber 2023,
[Link]
Seminar Nasional
Mewujudkan Sistem Hukum Nasional Berbasis Pancasila
Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
[Link]
Berpendapat dan Berekspresi yang dijamin dalam Pasal 19 Kovenan Internasional Hak Sipil dan
Politik.
Komentar umum ini akan memperkuat perlindungan hukum internasional terhadap ke-
bebasan berekspresi dan menyediakan petunjuk resmi kepada negara, termasuk pengadilan
tentang perkembangan kebijakan dan ajudikasi yang berdampak pada hak ini. Komentar Umum
No. 34 merefleksikan perkembangan di bidang hukum, praktik, dan pemahaman mengenai
kebebasan berekspresi. Selain itu Komentar Umum No. 34 juga telah menyatakan interpretasinya
terhadap perkembangan di bidang penggunaan internet sebagai media komunikasi. Komentar
Umum No. 34 menggantikan Komentar Umum No. 10 yang selama ini digunakan sebagai
356
interpretasi resmi terhadap Pasal 19 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik. Komentar Umum
No. 34 ini terdiri dari beberapa bagian yaitu: (1) General remarks; (2) Freedom of opinion; (3) Freedom
of expression; (4) Freedom of expression and the media; (5) Right of Access to information; (6) Freedom of
expression and political rights; (7) The application of article 19 (3); (8) Limitative scope of restrictions on
freedom of expression in certain specific areas; dan (9) The relationship of articles 19 and 20.12
Komentar Umum No. 34 menekankan bahwa kebebasan berekspre- si dan berpendapat
adalah batu fondasi untuk masyarakat yang bebas dan demokratis dan syarat yang diperlukan
untuk pemajuan dan per- lindungan hak asasi manusia. Komentar Umum No. 34 ini membahas
secara perinci mencakup: Kebebasan berpendapat, Kebebasan berekspresi, Kebebasan berekspresi
dan media, Hak untuk mengakses informasi. Komentar Umum No. 25 mengatur tentang kebebasan
berekspresi dalam konteks partisipasi dalam urusan publik dan hak untuk memilih.
Komite Hak Asasi Manusia telah menyatakan bahwa: “Warga negara juga mengambil
bagian dalam pelaksanaan urusan publik dengan menggunakan pengaruh melalui debat publik
dan dialog dengan perwakilan mereka atau melalui kapasitas mereka untuk mengatur diri mereka
sendiri.” Partisipasi ini didukung dengan memastikan kebebasan berekspresi, berkumpul dan
berserikat. Untuk memastikan penikmatan penuh atas hak-hak yang dilindungi oleh Pasal 25,
komunikasi informa- si dan gagasan yang bebas tentang masalah publik dan politik antara warga
negara, kandidat dan perwakilan terpilih adalah penting. Ini menyiratkan pers bebas dan media
lain yang dapat mengomentari masalah publik tanpa sensor atau pengekangan dan
menginformasikan opini publik. 13
Hal ini membutuhkan penikmatan penuh dan penghormatan terhadap hak-hak yang
dijamin dalam Pasal 19, 21, dan 22 Kovenan, termasuk kebebasan untuk terlibat dalam aktivitas
politik secara individu atau melalui partai politik dan organisasi lain, kebebasan untuk
memperdebatkan urusan publik, untuk mengadakan demonstrasi dan pertemuan secara damai,
mengkritik dan menentang, memublikasikan materi politik, mengampanyekan pemilu dan
mengiklankan gagasan politik. Perlindungan dalam hukum hak asasi manusia negara bagian dan
teritori sebagaimana yang termuat dalam Pasal 16 Undang-Undang Hak
12 Refworld, “General Comment No. 34: Article 19: Freedoms of Opinion and Expression”, di- akses pada
357
apakah suatu batasan wajar, semua faktor yang relevan harus dipertimbangkan, termasuk yang
berikut ini: Sifat hak yang terpengaruh, Pentingnya tujuan pembatasan, Sifat dan luasnya Batasan,
Hubungan antara batasan dan tujuannya, Cara yang tidak terlalu membatasi yang tersedia secara
wajar untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh pembatasan.
Tugas dan tanggung jawab khusus melekat pada hak kebebasan berekspresi dan hak
tersebut tunduk pada batasan yang sah secara wa- jar, maka akan diperlukan untuk menghormati
hak dan reputasi orang lain; atau perlindungan keamanan nasional, ketertiban umum, kesehatan
umum atau moralitas publik. Komite menegaskan kembali pengamatannya dalam Komentar
Umum No. 10, bahwa “karena perkembangan media massa modern, langkah-langkah efektif
diperlukan untuk mencegah kontrol media yang akan mengganggu hak setiap orang atas
kebebasan berekspresi.” Negara seharusnya tidak memiliki kontrol monopoli atas media dan harus
mempromosikan pluralitas media.
Akibatnya, negara harus mengambil tindakan yang sesuai dengan Kovenan, untuk
mencegah dominasi atau konsentrasi media yang tidak semestinya oleh kelompok media yang
dikendalikan secara pribadi dalam situasi monopoli yang dapat membahayakan keragaman
sumber dan pandangan. Kehati-hatian harus diberikan untuk memastikan bahwa sistem subsidi
pemerintah ke outlet media dan penempatan iklan pemerintah tidak digunakan untuk efek
menghambat kebebasan berekspresi. Selain itu, media swasta tidak boleh dirugikan dibandingkan
dengan media publik dalam hal-hal seperti akses sarana penyebaran/distribusi dan akses berita.
Hukuman terhadap media, penerbit atau jurnalis yang bersikap kritis terhadap pemerintah atau
sistem sosial politik atas pandangan pemerintah, tidak pernah dapat dianggap sebagai pembatasan
yang diperlukan atas kebebasan berekspresi.
Batasan apa pun dalam pengoperasian situs web, blog, atau sistem penyebaran informasi
lain yang berbasis internet, elektronik, atau lain- nya, termasuk sistem untuk mendukung
komunikasi tersebut, seperti penyedia layanan internet atau mesin pencari, hanya diperbolehkan
selama mereka sesuai dengan Paragraf 3 Kovenan. Pembatasan yang diizinkan umumnya harus
spesifik konten; larangan umum atas pengoperasian situs dan sistem tertentu tidak sesuai dengan
Paragraf 3 Kovenan. Juga tidak sesuai dengan Paragraf 3 Kovenan untuk melarang situs atau sistem
penyebaran informasi untuk menerbitkan materi
14 Australian Human Rights Commission, “Freedom of information ...”, Op. cit.
Seminar Nasional
Mewujudkan Sistem Hukum Nasional Berbasis Pancasila
Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
[Link]
semata-mata atas dasar bahwa hal itu mungkin bersifat kritis terhadap pemerintah atau sistem
sosial politik yang dianut oleh pemerintah.15
Jurnalisme adalah fungsi yang dimiliki oleh berbagai macam aktor, termasuk reporter dan
analis profesional penuh waktu, serta bloger dan orang lain yang terlibat dalam bentuk publikasi
sendiri di media cetak, di internet atau di tempat lain, dan sistem negara umum pendaftaran atau
perizinan jurnalis tidak sesuai dengan Paragraf 3. Skema akreditasi terbatas hanya diperbolehkan
jika diperlukan untuk memberi jurnalis akses istimewa ke tempat dan/atau acara tertentu. Skema
tersebut harus diterapkan dengan cara yang tidak diskriminatif dan sesuai dengan Pasal 19 dan
ketentuan Kovenan lainnya, berdasarkan kriteria objektif dan dengan pertimbangan bahwa
jurnalisme adalah fungsi yang dimiliki oleh berbagai pelaku.
Biasanya tidak sesuai dengan Paragraf 3 untuk membatasi kebebasan jurnalis dan orang
358
lain yang ingin menggunakan kebebasan berekspresinya (seperti orang yang ingin melakukan
perjalanan ke pertemuan terkait hak asasi manusia) untuk bepergian ke luar negara, untuk
membatasi masuknya jurnalis asing ke sebuah negara dari negara-negara tertentu, atau untuk
membatasi kebebasan bergerak jurnalis dan penyelidik hak asasi manusia di dalam negara tertentu
(termasuk ke lokasi yang terkena konflik, lokasi bencana alam, dan lokasi di mana ada dugaan
pelanggaran hak asasi manusia).
Larangan menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap agama atau sistem kepercayaan
lainnya, termasuk undang-undang penistaan agama, tidak sesuai dengan Kovenan, kecuali dalam
keadaan khusus yang disebutkan dalam Pasal 20, Paragraf 2, Kovenan. Larangan tersebut juga
harus mematuhi persyaratan ketat Pasal 19, ayat 3, serta Pasal seperti 2, 5, 17, 18 dan 26. Dengan
demikian, tidak diperbolehkan bagi undang-undang seperti itu untuk mendiskriminasi demi
kepentingan atau terhadap satu atau agama atau sistem kepercayaan tertentu, atau penganutnya
atas yang lain, atau pemeluk agama atas orang yang tidak beriman.
Larangan tersebut tidak boleh digunakan untuk mencegah atau menghukum kritik
terhadap para pemimpin agama atau komentar tentang doktrin agama dan prinsip-prinsip iman.
Undang-undang yang menghukum pengungkapan pendapat tentang fakta sejarah tidak sesuai
dengan kewajiban yang diberlakukan Kovenan pada negara dalam kaitannya dengan
penghormatan atas kebebasan berpendapat dan berekspresi. Kovenan tidak mengizinkan larangan
umum untuk mengungkapkan pendapat yang salah atau interpretasi yang salah tentang peristiwa
masa lalu. Pembatasan atas hak kebebasan berpendapat tidak boleh diterapkan dan sehubungan
dengan kebebasan berekspresi, pembatasan tersebut tidak boleh melampaui apa yang diizinkan
dalam Paragraf 3 atau diwajibkan berdasarkan Pasal 20 Kovenan.
Hubungan Pasal 19 dan 20 pada Kovenan Pasal 19 dan 20 saling cocok dan melengkapi. 16
Perbuatan yang diatur dalam Pasal 20 semuanya tunduk pada pembatasan menurut Pasal 19 ayat
3. Dengan demikian, pembatasan yang dibenarkan berdasarkan Pasal 20 juga harus mematuhi Pasal
19 ayat 3. Apa yang membedakan tindakan-tindakan yang disebutkan dalam Pasal 20 dari tindakan
lain yang dapat dikenakan pembatasan berdasarkan
15 Refworld, “General Comment No. 34 ...”, Op. cit.
16 Ibid.
Seminar Nasional
Mewujudkan Sistem Hukum Nasional Berbasis Pancasila
Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
[Link]
Pasal 19, Paragraf 3, adalah bahwa untuk tindakan-tindakan yang disebutkan dalam Pasal 20,
Kovenan menunjukkan tanggapan khusus yang diperlukan dari negara: larangan mereka oleh
hukum. Hanya sejauh ini Pasal 20 dapat dianggap sebagai lex specialis apabila dihubungkan
dengan Pasal 19. Hanya berkaitan dengan bentuk-bentuk ekspresi tertentu yang disebutkan dalam
Pasal 20, negara wajib memiliki larangan hukum. Dengan beberapa contoh kasus lain, negara akan
membatasi kebebasan berekspresi, untuk menjustifikasi larangan dan ketentuannya secara tegas
sesuai dengan Pasal 19.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengaturan mengenai
kebebasan berpendapat di media sosial berbasis keadilan ini bertujuan untuk memberikan
perlindungan dan jaminan hukum kepada setiap orang yang ingin menyampaikan pendapatanya
di media sosial. Setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya di muka umum sepanjang tidak
359
melampaui batasan-batasan sebagaimana diatur dalam ketentuan hukum misalnya sebagaimana
termuat dalam Pasal 19, ayat 3, serta Pasal seperti 2, 5, 17, 18 dan 26. Pengaturan mengenai
kebebasan berpendapat ini tidak lain agar dapat menjamin Hak Asasi Manusia yang satu dengan
lainnya khususnya dalam melakukan interaksi melalui media sosial sehingga tercipta negara
demokratis yang aman dan berkeadilan.
Daftar Pustaka
Australian Human Rights Commission, “Freedom of information, opinion and expression”,
diakses tanggal 2 Januari 2024, [Link]
freedoms/ freedom-information-opinion-and-expression.
David Smith & Luc Torres, “Timeline: A history of free speech”, The Guardian,, diakses pada 19
April 2023, [Link] [Link].
David van Mill. (2017), “Freedom of Speech”, Stanford Encyclopedia of Philosophy, diakses pada
19 Desember 2023, [Link]
[Link] editors (2009), “Freedom of Speech”, History, diakses pada 19 April 2023,
[Link]
Human Constitutional Rights Documents, “Declaration of the Rights of Man and of the Citizen”,
diakses pada 19 April 2023, [Link]
Internet Archive, “International Convenant on Civil and Political Rights”, Office of the United
Nations High Commisioner for Human Rights, diakses pada 21 Desember 2023, [Link]
[Link]/web/20080705115024/[Link]
Jo Glanville, “The Big Business of Net Censorship”, The Guardian, diakses tanggal 19 Desember
2023, [Link] censorship-internet.
Seminar Nasional
Mewujudkan Sistem Hukum Nasional Berbasis Pancasila
Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
[Link]
Neshapriyan M., “Social Media and Freedom of Speech and Expression”, Legal Service India (e-
Journal), diakses pada 19 April 2023, [Link] ticle-426-
[Link]#:~:text=Freedom%
20of%20speech%20and%20expression%20is%20broadly%20understood%20as%20the,s
uch%20as%20threats%20and%20persecutions.
Randal Marlin, Propaganda and the Ethics of Persuasion, Broadview Press, 2002, hlm. 103, ISBN
978-15511137560.
Refworld, “General Comment No. 34: Article 19: Freedoms of Opinion and Expression”, 21 Juli
2011, diakses pada 19 Desember 2023, [Link] [Link].
Refworld, “General Comment No. 34: Article 19: Freedoms of Opinion and Expression”, di akses
pada 30 Desember 2023, [Link] [Link].
United Nations, “Universal Declaration of Human Rights”, diakses pada 30 Dsemeber 2023,
[Link]
World News, “Italian Parliament Introduces Holocaust Denial Legislation”, 16 Oktober 2013,
diakses tanggal 19 Desember 2023, [Link]
News/2013/10/16/ Italian-Parliament-introduces-holocaust-denial
legislation/32801381924558/.
360