MAKALAH SEMIOTIKA VISUAL KELOMPOK II
“DEFINISI MITOS, MITOS TRADISIONAL, MITOS MODERN, DAN
MITOLOGI”
DISUSUN
OLEH :
DOSEN PEMBIMBING:
Institut Seni Indonesia Padang Panjang
Fakultas Seni Rupa dan Desain
Program Studi Seni Murni
TH 2024/2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami sampaikan kehadiran Allah SWT karena dengan berkat rahmat dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Adapun
judul dari makalah ini adalah “Definisi Mitos, Mitos Tradisional, Mitos Modern, dan
Mitologi”.
Dalam penulisan makalah, kami memberikan sejumlah materi yang terkait dengan
materi yang disusun secara langkah demi langkah, agar mudah dan cepat dipahami oleh
pembaca.
Dan kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak Jeki Aprisela [Link].,
[Link]. dan bapak Rajudin [Link]., [Link]. selaku dosen pembimbing mata kuliah Semiotika
Visual yang telah membimbing dan mengarahkan kami dalam penyelesaian makalah ini.
Kami juga mengharapkan agar makalah ini dapat dijadikan pedoman apabila pembaca
melakukan hal yang berkaitan dengan makalah ini, karena apalah gunanya kami membuat
makalah ini apabila tidak dimanfaatkan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari upaya lanjut untuk
memperbaiki dan meningkatkan mutu. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang
membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan di masa mendatang.
Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi kita semua.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mitos dikenal sebagai salah satu jenis cerita prosa rakyat, disamping legenda dan
dongeng. Mitos biasanya berisi kisah mengenai asal usul alam semesta, dewa-dewa, dan
hal- hal berbau supranatural lainnya yang bertujuan untuk meneruskan dan menstabilkan
kebudayaan, memberikan petunjuk hidup, melegalisir aktivitas kebudayaan yang sulit
dijelaskan dengan akal pikiran.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mitos didefinisikan sebagai tradisi dari zaman
prasejarah, biasanya berhubungan dengan salah satu dewa atau suatu kekuatan alam yang
dipersonifikasikan juga sebagai ceritera yang tidak mengandung kebenaran.
Istilah mitos ditemukan sebagai bagian dari suatu kepercayaan yang hidup di antara
sejumlah bangsa, dan bangsa ini tidak mesti bangsa yang primitif, melainkan juga
mewabah pada masyarakat modern.
Mitos berpangkal pada sebuah rahasia atau teka-teki eksistensial besar pengalaman
manusia yang hakikatnya menampilkan masalah yang tidak dapat diselesaikan.
Setiap daerah memiliki mitos yang berbeda, perbedaan itu dipengaruhi oleh latar budaya
dan kepercayaan yang dimiliki oleh masing-masing daerah.
Kontemporer berasal dari kata “Co” bersama dan “tempo” waktu dan dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia berarti pada waktu yang sama, semasa, pada masa kini, dewasa
ini/kekinian. Seni rupa kontemporer merupakan cabang seni rupa yang terpengaruh oleh
dampak modernisasi, tidak terikat oleh zaman dan selalu mengikuti tren yang berlaku
pada saat itu atau seiring berjalannya waktu. Seni ini mulai diminati oleh masyarakat
karena sifatnya yang bebas , unik, modern, dan sangat disukai oleh kaum media massa.
Mitologi merupakan istilah yang berarti ilmu yang menjelaskan tentang mitos. Mitos pada
umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang
(monster), bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan, dan sebagainya
yang diceritakan pada masa lampau. Setiap kebudayaan atau negara sekalipun pasti
memiliki suatu mitologi tersendiri, bahkan tidak hanya satu.
Beberapa mitologi yang terkenal antara lain: mitologi Yunani (Greek mythology),
mitologi Romawi (Roman mythology), Mitologi pada pada dasarnya serupa dengan
legenda. Keduanya dianggap benar-benar ada oleh penceritanya ataupun sumbernya.
Perbedaannya terletak pada mitologi yang lebih menceritakan tentang para dewa atau
tentang asal mula kehidupan. Cerita dalam mitologi tersebut pun dianggap sebagai suatu
kepercayaan. Salah satu mitologi yang terkenal di dunia adalah mitologi Nordik (Norse
myhology).
BAB II
PEMBAHASAN
Mythos dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja musteion, “menutup mulut atau
mata”. Hal ini terkait dengan diam, ketidakjelasan, dan kegelapan. Sebuah mitos
merupakan upaya untuk mengungkapkan beberapa aspek kehidupan yang tidak dapat
dengan mudah diungkapkan dalam kata-kata logis diskursif.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti mitos adalah cerita suatu bangsa tentang
dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal-usul
semesta alam, manusia, dan bangsa itu sendiri yang mengandung arti mendalam yang
diungkapkan dengan cara gaib. Mitos mengacu pada cerita-cerita atau narasi yang
menjadi bagian integral dari budaya dan memiliki makna simbolis yang mendalam. Mitos
seringkali digunakan untuk menggambarkan asal-usul, keyakinan, atau konsep-konsep
fundamental dalam suatu masyarakat.
Mitos juga merupakan pengkodean makna dan nilai-nilai sosial sebagai sesuatu yang
dianggap alamiah. Dalam mitos terdapat tiga pola dimensi, yaitu penanda,petanda dan
tanda, namun sebagai suatu sistem yang unik mitos dibangun oleh suatu rantai
pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau,dengan kata lain mitos adalah suatu sistem
pemaknaan tataran kedua.
Salah satu konsep penting dalam semiotika adalah tanda, yang terdiri dari tanda kata
(linguistik) dan tanda gambar (non-linguistik). Mitos seringkali menggunakan tanda-
tanda ini untuk mengomunikasikan pesan-pesan yang lebih dalam. Mitos juga melibatkan
simbol-simbol yang memiliki makna yang lebih luas daripada makna harfiahnya
Mitos menurut Teori Semiotika Roland Barthes merupakan sebuah sistem
komunikasi yang menjadi sebuah pesan. Teori Semiotika Roland Barthes mengungkapkan
bahwa mitos dalam pengertian khususnya merupakan pengembangan dari konotasi.
Namun sebagai suatu sistem yang unik mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang
telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah suatu sistem pemaknaan tataran
kedua. Di dalam mitos pula, sebuah pertanda dapat memiliki beberapa penanda. Mitos
dalam Teori semiotika Roland Barthes dengan sendirinya berbeda dengan mitos yang kita
anggap tahayul, tidak masuk akal, ahistoris dan lain-lainnya, tetapi mitos menurut Teori
Semiotika Roland Barthes adalah sebagai type of speech (gaya Bicara) seseorang.
Mitos sering menjadi sumber inspirasi bagi seniman dalam menciptakan karya seni.
Mitos memiliki elemen-elemen naratif yang kaya, simbol-simbol yang kuat, dan tema-
tema yang universal, yang dapat memberikan materi kreatif bagi seniman untuk
dieksplorasi dan ditafsirkan.
Pandangan semiotika terhadap mitos membantu kita memahami cara mitos
membentuk pemahaman kita tentang dunia, identitas, dan nilai-nilai budaya. Mitos dapat
memengaruhi cara kita berpikir, berperilaku, dan memaknai pengalaman hidup.
Mitos dan karya seni memiliki hubungan erat. Karya seni yang terinspirasi oleh mitos
mengandung simbolisme, narasi, dan makna yang dalam. Mereka membantu memperkaya
pengalaman artistik, mempertahankan warisan budaya, dan memungkinkan kita untuk
menggali makna yang lebih dalam dalam pengalaman manusia.
A. Mitos tradisional
Mitos adalah sebuah tanda atau makna yang berkembang di dalam masyarakat karena
adanya pengaruh dari adat istiadat dan sosial budaya masyarakat itu sendiri akan sesuatu,
dengan cara memperhatikan korelasi dari yang terlihat secara nyata (Denotasi) dengan
tanda yang tersirat (Konotasi). Contoh mitos tradisional dalam seni rupa yaitu Mitos
dalam lukisan karya Moh. Thamrin mappalahere.
1. Lukisan Mitos satu yg menampilkan mitos tentang kembaran manusia reptil
Biasanya jika untuk menghadirkan ke bumi saudara kembarnya kedua orang
tuanya memanggilkan “sanro” atau dukun dan dilakukan dengan upacara pelepasan
sesajen ke sungai atau kelaut yang terbuat dari batang pisang dan daun [Link] atas
perahu tersebut terdapat berbagai macam sesajen seperti lilin, sirih, telur dan nasi
ketan tiga warna. Hal ini jika tidak dilakukan setiap saat maka saudara kembarnya
akan selalu sakit atau akan mendapat musibah. Ritual yang dilakukan oleh saudara
kembar ini dilakukan oleh kedua orangtuanya dengan kerabat keluarga terdekat agar
saudara kembarnya datang tanpa kurang sesuatupun.
2. Lukisan Mitos dua yg menampilkan mitos tentang manusia kembaran buaya.
Cerita tentang manusia kembaran buaya banyak berkembang di daerah Sulawesi
Selatan yang akrab dengan kepercayaan nenek moyang. Ada yang bangga karena
menurut mereka diberi anugrah lahir dengan kembaran buaya yang tentunya bukan
buaya biasa tetapi sejenis “dewa penolong”, karena dianggap sebagai dewa maka
diagung agungkan serta dianggap mahluk yang keramat seperti Pinrang, Jeneponto
dan daerah lainnya bahkan daerah lain yang ada di Indonesia.
3. Lukisan Mitos tiga yang menampilkan tentang mitos manusia beranak buaya.
Moh. Thamrin Mappalahere menjelaskan tentang mitos mengenai manusia
beranak buaya yang ditampilkan dalm lukisan Mitos III sebagai berikut:
Penerapan mitos manusia beranak buaya merupakan cerita kuno yang dianggap
mitos yang secara logika tidak masuk akal. Di Pinrang misalnya menjadikan buaya
merupakan bagian dari keluarganya di Bone dikenal Dengan “To ri salo”terjemahan
secara umum adalah penghuni [Link] di Luwu dikenal dengan “Ampu
Salu”atau yang menguasai sungai yang merujuk pada kata nenek yang berarti buaya.
Saya kira ini cara pandang manusia dahulu bagaimana hubungannya dengan alam
atau sebagai salah satu cara memproteksi sungai agar supaya tidak mengganggu
buaya, ikan dan sebagainya.
A. Mitos modern
Dalam seni kontemporer, mitos mempengaruhi setiap media mulai dari
lukisan, patung, hingga kreasi seni video. Di dunia sekarang ini, kisah-kisah mitologis
tentang monster dan makhluk setengah hewan, setengah manusia tampak tidak masuk
akal. Namun mitos tersebut tidak hanya terus hidup tetapi juga mempengaruhi seni
kontemporer.
Mitos kontemporer Barthes mengklaim bahwa mitos kontemporer di bangun
dari penanda yg sudah ada. Namun, Barthes berpendapat bahwa hasil mitos
membentuk sistem semiologis tingkat kedua. Misalnya, kita dapat memiliki kata-
gambar wine sebagi penanda yang mengartikan konsep wine sebagai sekadar
minuman pada pemaknaan tingkat pertama. Namun, dalam bahasa mitologi tingkat
kedua, konsep wine menjadi penanda untuk minuman berkelas dan gaya hidup kaum
elit borjuis. Sebagai contohnya yaitu Chupacabra yang menakutkan adalah mitos
modern yang banyak hidup di Amerika. Berkat televisi dan Internet, cerita tentang
chupacabra dan makhluk mitos modern lainnya menyebar dengan cepat antar
komunitas, negara, dan bahkan benua. Chupacabra memang ganas, tapi tidak terlalu
besar. Kebanyakan saksi mengatakan mereka tidak lebih besar dari anjing berukuran
rata-rata.
• Beberapa saksi mengatakan bahwa chupacabra berjalan dengan dua kaki, tetapi yang
lain mengatakan ia berjalan dengan empat kaki.
• Beberapa penggambaran chupacabra memperlihatkan hewan tersebut berkulit mirip
kadal, sementara penggambaran lainnya menampilkan bulu.
• Chupacabra memiliki tulang punggung yang menonjol, yang terkadang ditutupi duri
yang tajam.
• Chupacabra berkaki dua konon bisa melompat seperti kanguru.
B. Mitologi
1. Pengertian mitologi
Mitologi adalah mitos-mitos kuno secara umum yang terdapat di suatu
masyarakat, budaya, tertentu sebagai mitos. Selain itu, dalam mitologi juga diartikan
sebagai ilmu mengenai mitos. Mitologi yang berasal dari bahasa Yunani (mythos,
yang berarti sebuah cerita naratif dan logos). Sedangkan yang dimaksud dengan
istilah mitologi adalah perpaduan antara kata mythos dan logos. Logos dalam hal ini
adalah usaha manusia untuk melakukan pendekatan terhadap gejaja alam yang
poinnya ada pada hal-hal yang bersifat rasional. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa
Indonesia, arti mitologi adalah ilmu mengenai bentuk sastra yang mengandung
konsepsi dan dongeng suci tentang kehidupan dewa dan makhluk halus dalam suatu
kebudayaan.
2. Asal-usul Kata Mitologi
Seperti pada kata serapan lainnya, istilah mitologi berasal dari bahasa Latin,
mythologia, sementara kata mitologi merupakan gabungan dari dua kata, mythos dan
logia. Berdasarkan catatan sejarah, kali pertama kata mitologi digunakan adalah di
Prancis pada awal abad ke-15. Barulah setelah itu, istilah ini menggunakan akhiran
yang kemudian dipakai secara umum. Kata mythos atau myth diartikan sebagai kisah
yang tersebar melalui mulut ke mulut, meskipun sumbernya tidak diketahui dan juga
asalnya. Kemudian logia atau logy dapat diartikan sebagai teori, ilmu, pemahaman
hingga doktrin. Kata ini digunakan dalam menggambarkan kondisi masa lampau
dalam suatu daerah mengenai kisah-kisah yang sulit diterima dengan nalar.
3. Perbedaan mitologi dan mitos
Kata mitos umumnya merujuk kepada sekumpulan cerita atau dongeng di masa
lampau. Sementara mitologi adalah ilmu yang mempelajari cerita-cerita tersebut.
Mitos biasanya bersifat fiksi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, sehingga
cenderung dianggap sebagai bentuk dari hiburan. Mitologi sebagai ilmu, mempelajari
sejarah dari cerita-cerita tersebut, dan umumnya diminta juga untuk memberi bukti
valid terkait kebenaran dari cerita-cerita ini.
4. Jenis-jenis Mitologi
Mitologi terbagi dalam beberapa jenis dan tersebar di berbagai belahan dunia,
termasuk yang dibahas di atas namun tidak semua mitologi ada kebenarannya atau
nyata. Ada pula mitologi yang hanya cerita fiksi, meskipun sejumlah mitologi lain
bisa dibuktikan oleh para peneliti. Secara umum, mitologi dibagi menjadi tiga jenis,
berikut ini penjelasannya.
Pure Myth
Merupakan ilmu agama di era primitif, menceritakan pengertian dan pemahaman
masyarakat dalam peradaban kuno di sejumlah daerah dan biasanya tentang alam
semesta, bencana alam hingga Tuhan.
Heroik Saga
Mengisahkan perjalanan hidup seorang yang kerap melakukan aksi
kepahlawanan, mereka dikenal oleh masyarakat lokal sebagai pahlawan dan
merupakan sosok penyelamat dari musibah yang dialami di masa lampau.
Folk Tale
Pengertiannya sama dengan mitos, yakni cerita rakyat atau etnis setempat yang
disampaikan dari mulut ke mulut. Cerita ini pada umumnya tidak berasal dari
sumber yang jelas, dan memang kebenarannya tidak dapat dibuktikan.
5. Mitologi dari Berbagai Belahan Dunia
Di berbagai negara di dunia memiliki mitologi yang berbeda-beda, sesuai
cerita yang beredar dan diyakini oleh masyarakat setempat. Jika dibahas satu per satu
maka akan memakan banyak waktu karena memiliki sejarah mendalam. Berikut ini
beberapa mitologi berbagai negara di belahan dunia yang cukup terkenal dan
diketahui masyarakat dunia lainnya.
a. Mitologi Yunani
Di sini mitologi menjadi bagian dari agama yang berkembang di Yunani di
masa lampau, mengisahkan makhluk mitologi berupa dewa dan dewi, raksasa
dan hewan mitologi misterius. Dalam kisah yang berkembang melibatkan banyak
sekali tokoh, hingga membuat mitologi dalam Yunani membuat ceritanya
memiliki cabang dari masing-masing tokoh dengan premis berbeda.
b. Mitologi Nordik
Mitologi ini berasal dari daerah Skandinavia, kisahnya berbau keagamaan
sama seperti Yunani, cerita yang berkembang berasal dari orang-orang Nordik
atau disebut juga dengan sebutan Viking. Mitologi Nordik menceritakan kisah
dewa dan makhluk lainnya yang mendiami 9 dunia berbeda dan di penghujung
cerita mengalami kehancuran atau disebut dengan Ragnarok.
c. Mitologi Romawi
Sejumlah ahli berpendapat bahwa mitologi Romawi diambil dari kisah-kisah
dalam mitologi Yunani, karena cukup banyak kesamaan yang bisa ditemukan.
Khususnya latar belakang cerita dan karakterisasi, salah satunya adalah orientasi
bangsa Romawi yang mengarah ke keluarga dan mayoritas dari mereka menilai
dewa-dewa tersebut pembantu kehidupan bangsa Romawi.
d. Mitologi Indonesia
Mitologi Indonesia biasanya penuh dengan nilai-nilai dan petuah kehidupan,
sama seperti mitologi negara lain. Penyeb4aran cerita dimulai dari mulut ke
mulut, umumnya memuat kisah keadaan awal dunia, dewa dan dewi, makhluk
mitologi Indonesia, hewan mitologi Indonesia dan kisah awal mula terjadinya
[Link] karya mitologi:
Lukisan berjudul Pallas and the Centaur yang diciptakan oleh Sandro
Botticelli pada tahun 1480-185. Menurut penjelasan Le Gallerie Degli Uffizi
(museum yang menyimpan lukisan ini), sosok perempuan di lukisan itu adalah
Pallas Athena atau Athena. Ia merupakan dewi kebijaksanaan. Versi lain
menyebutkan bahwa ia adalah Camilla, seorang pejuang perempuan yang mati
saat membela negaranya. Sementara sosok di sebelahnya adalah Centaurus. Ia
merupakan makhluk mitologi yang berasal dari gabungan antara manusia dan
kuda. Dari sumber yang sama, karya ini bermaksud untuk menunjukkan bahwa
kebajikan bisa menghentikan sesuatu yang buruk.
BAB lll
PENUTUP
KESIMPULAN
Mitos dikenal sebagai salah satu jenis cerita prosa rakyat, disamping legenda dan
dongeng. Mitos biasanya berisi kisah mengenai asal usul alam semesta, dewa-dewa, dan
hal- hal berbau supranatural lainnya yang bertujuan untuk meneruskan dan menstabilkan
kebudayaan, memberikan petunjuk hidup, melegalisir aktivitas kebudayaan yang sulit
dijelaskan dengan akal pikiran. Contoh mitos tradisional dalam seni rupa yaitu Mitos
dalam lukisan karya Moh. Thamrin mappalahere. Moh. Thamrin Mappalahere
menjelaskan tentang mitos manusia kemmbaran buaya yang ditampilkan dalm lukisan
Mitos II sebagai berikut:Cerita tentang manusia kembaran buaya banyak berkembang di
daerah Sulawesi Selatan yang akrab dengan kepercayaan nenek moyang.
Dalam seni kontemporer, mitos mempengaruhi setiap media mulai dari lukisan, patung,
hingga kreasi seni video. Di dunia sekarang ini, kisah-kisah mitologis tentang monster
dan makhluk setengah hewan, setengah manusia tampak tidak masuk akal. Namun mitos
tersebut tidak hanya terus hidup tetapi juga mempengaruhi seni kontemporer.
Sebagai contohnya yaitu Chupacabra yang menakutkan adalah mitos modern yang
banyak hidup di Amerika.
Mitologi adalah mitos-mitos kuno secara umum yang terdapat di suatu masyarakat,
budaya, tertentu sebagai mitos. Selain itu, dalam mitologi juga diartikan sebagai ilmu
mengenai mitos. Mitologi yang berasal dari bahasa Yunani (mythos, yang berarti sebuah
cerita naratif dan logos). Sedangkan yang dimaksud dengan istilah mitologi adalah
perpaduan antara kata mythos dan logos. Contohnya adalah karya mitologi Lukisan
berjudul Pallas and the Centaur yang diciptakan oleh Sandro Botticelli pada tahun 1480-
185.
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
dalam-Visualisasi-Karya-Seni-Grafis
[Link]
%201481042009%20%28Jurnal%[Link]
[Link]
[Link]
lukisan-populer-tentang-mitologi-yunani