BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia. Pada tahap yang paling
sederhana, orientasi pemenuhan kebutuhan akan perumahan bertujuan untuk
memiliki tempat berlindung dari panas dan hujan. Pada tahap yang lebih tinggi,
perumahan menjadi kebutuhan untuk mencerminkan aktualisasi diri. Dilihat dari
statistik data pada orientasi kebutuhan akan perumahan bergantung pada kondisi
sosial ekonomi masing-masing individu. Dewasa ini kebutuhan akan perumahan
semakin meningkat karena pertumbuhan penduduk yang sangat pesat.
Namun kebutuhan tersebut tidak dapat diimbangi dengan penyediaan jumlah
rumah yang memadai. Akibat yang muncul adalah harga rumah selalu tinggi
sehingga menimbulkan keterbatasan pada masyarakat dalam rangka memiliki
sebuah rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang
mengalami keterbatasan dengan segi pembiayaan, kebutuhan masyarakat yang
semakin meningkat sering sekali tidak bisa menutupi kebutuhan hidupnya,
sedangkan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai sesuatu yang diinginkan
terbatas. Hal tersebut menyebabkan manusia memerlukan bantuan untuk
memenuhi cita-citanya.
Meninjau dari program pembangunan dalam bidang ekonomi di Indonesia,
memulai sejak tahun 1970-an dan menunjukan perkembangan yang sangat pesat
sejak tahun 1980-an. Sejak saat itu pemerintah berusaha menghidupkan aktivitas
1
perekonomian masyarakat kearah yang lebih produktif guna mencapai
peningkatan taraf hidup yang sejahtera.
Salah satu usaha yang dilakukan adalah melalui pemberian pinjaman oleh
bank. Bank memberikan fasilitas kredit kepemilikan rumah untuk masyarakat
yang ingin membeli sebidang tanah beserta bangunannya. Hal tersebut digunakan
PT. Bank BNI Syariah dengan produk Griya iB Hasanah kepada masyarakat guna
memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai tempat tinggal masyarakat yang belum
memiliki rumah atau kekurangan dana dapat memperoleh rumah idaman melalui
kredit kepemilikan rumah.
Kebutuhan akan perumahan terus meningkat setiap tahunnya dari berbagai
strata sosial masyarakat, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk.
Perumahan merupakan kebutuhan primer setelah sandang dan pangan, sehingga
tipe apapun yang akan ditawarkan selalu ada peminatnya. Berdasarkan animo
masyarakat tersebut diatas menjadikan perbankan syariah lebih agresif dalam
menawarkan kredit kepemilikan rumah, apartemen, rumah kantor (rukan) dan
rumah toko (ruko). Untuk menentukan pilihan bank mana yang akan dijadikan
untuk partner pembiayaan rumah, maka bank harus menyediakan informasi yang
lengkap dan akurat. Dengan adanya informasi yang lengkap dari bank itu,
menjadikan masyarakat banyak pilihan.
Dengan adanya salah satu produk perbankan syariah yaitu kredit Pemilikan
rumah (KPR) masyarakat akan mendapatkan keringanan pembiayaan perumahan,
baik untuk membeli maupun untuk membangun sendiri atau memperbaiki
rumahnya. PT. Bank BNI Syariah menawarkan fasilitas kredit perumahan yang
baik sebagai solusi dari kendala-kendala yang ada.
2
Adapun permasalahan dan kendala yang terjadi di KCP Surapati Core, yang
ditemukan seperti :
Tabel 1.1
Permasalahan dan Kendala KPR iB KCP Surapati Core
Permasalahan dan Kendala KPR iB KCP Surapati Core
[Link] tidak memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
a. Nasabah belum memiliki NPWP
b. KTP sudah tidak berlaku lagi atau belum di
perpanjang
c. Kartu Keluarga belum diperbaharui
d. Belum memiliki rekening tabungan Bank
BNI syariah
Masalah dari pihak
[Link] nasabah menginginkan plafond yang lebih
nasabah tinggi dari jumlah plafond yang ditentukan oleh
pihak bank. Hal tersebut terkadang dapat
membuat calon nasabah mengurungkan niatnya
untuk melakukan KPR.
[Link] saat pengajuan KPR, terkadang calon
nasabah masih memiliki hutang/tunggakan pada
bank lain.
[Link] pengajuan KPR memiliki alur yang cukup
panjang dan menekan waktu yang cukup lama
biasanya (20-31 hari kerja). Hal tersebut
terkadang membuat calon nasabah memutuskan
untuk menghentikan proses pengajuan KPR pada
Bank BNI Syariah.
Masalah dari pihak bank
[Link] efektifnya waktu pada saat Customer
Service menjelaskan segala macam tentang KPR
kepada calon nasabah tersebut. Kadang terlalu
cepat sehingga calon nasabah tidak memahami
betul apa yang dijelaskan. Biasanya terjadi pada
calon nasabah yang masih awam.
Sumber : Bank BNI Syariah KCP Surapati Core, Pedoman Pembiayaan
Komersial, ( Februari 2017)
3
Yang menjadi pembahasan dalam penulisan hasil praktek kerja lapangan ini
adalah apa aja prosedur dalam pengajuan kredit kepemilikan rumah dan upaya-
upaya dalam mengatasi hambatan yang terjadi, sehingga tidak ada pihak yang
dirugikan. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang diberikan oleh pihak bank
sangatlah penting bagi nasabah yang ingin membeli suatu bidang tanah dan
bangunan, tetapi pihak bank juga harus dapat memberikan solusi terbaik kepada
nasabah apabila nasabahnya tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya
sebagaimana yang telah disepakati kedua belah pihak.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian
tentang Sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR), khususnya di PT. Bank BNI
Syariah KCP Surapati Core, dengan mengambil judul “Tinjauan Prosedur Akad
Murabahah Kredit Pemilikan Rumah Pada PT. Bank BNI Syariah KCP
Surapati Core Bandung”.
1.2 Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud
Pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan dimaksudkan untuk
mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh mahasiswa baik secara
pendidikan formal seperti pada pembelajaran tingkat Perguruan Tinggi ataupun
ilmu yang diperoleh dari kegiatan formal lainnya. Selain itu dengan adanya
pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan dimaksudkan untuk memberikan
4
gambaran serta melatih mahasiswa untuk dapat mengetahui kegiatan dalam dunia
kerja yang sebenarnya.
Laporan ini juga dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat penilaian
praktek kerja lapangan. Pembuatan laporan kegiatan praktek kerja lapangan ini
juga diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi para pembaca.
1.2.2 Tujuan
1 Untuk mengetahui prosedur akad Murabahah KPR di Bank BNI
Syariah KCP Surapati Core Bandung.
2 Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam melaksanakan
prosedur KPR di Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung.
3 Untuk mengetahui solusi yang dihadapi dalam melaksanakan prosedur
KPR di Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung.
1.3 Kegunaan Praktek Kerja Lapangan
Adapun kegunaan dari hasil kerja praktek ini diantaranya adalah sebagai
berikut :
1. Manfaat bagi Perusahaan
Membantu melakukan pekerjaan-pekerjaan teknis di perusahaan sesuai
dengan penugasan, kompetensi dan keahlian mahasiswa sebagai bagian
dari implementasi Link-And Match. Terutama di bagian Marketing dan
5
administrasi di Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung. Selain
itu menjadikan program Corporate Social Responsibility (CSR)
perusahaan terhadap dunia pendidikan.
2. Manfaat bagi Mahasiswa
Memperoleh pengalaman kerja yang berharga dalam membantu proses
adaptasi perlu dilakukan kelak terhadap lingkungan dunia kerja.
Bisa membandingkan teori dengan kenyataan di lingkungan kerja.
Menumbuhkan kepercayaan diri mahasiswa dalam mencari pekerjaan
karena pernah bekerja beberapa bulan di suatu organisasi perusahaan.
3. Manfaat bagi pihak lain
Sebagai bahan panduan dan sumber informasi yang bermanfaat bagi
mahasiswa yang akan melakukan praktek kerja lapangan serta dapat
dijadikan judul dalam penyusunan laporan kerja praktek.
1.4 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Lokasi pelaksanaan praktek penulis yaitu di PT. Bank BNI Syariah Kantor
Cabang Pembantu Surapati Core yang berlokasi di Jl. P.H.H Mustofa No.39 Blok
B - 8 Bandung. Waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan
selama 25 hari kerja terhitung dari hari Senin 6 Februari 2017 sampai dengan hari
Jum’at 10 Maret 2017, dengan waktu kerja dari pukul 07.30 sampai dengan 16.30
WIB.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Tentang Bank
2.1.1 Pengertian Bank
Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan menyebutkan
bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya dalam bentuk kredit dan atau bentuk
lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Menurut Silvanita (2009:14) Bank adalah anggota lembaga keuangan yang
paling dominan, mampu memobilisasi dana dalam jumlah besar dibandingkan
lembaga keuangan lainnya. Bank komersial muncul karena mampu menekan
ongkos transaksi yang sangat mahal dibandingkan transaksi langsung.
Menurut Hasibuan (2009:2) Bank adalah lembaga keuangan, pencipta uang,
pengumpul dana dan penyalur kredit, melaksanakan jasa lalu lintas pembayaran
dan stabilisator moneter.
Menurut Kasmir (2012:3) definisi dari bank secara sederhana diartikan sebagai
lembaga keuangan yang kegiatan usahanya adalah menghimpun dana dari
masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta
memberikan jasa – jasa bank lainnya. Pengertian bank itu sendiri berasal dari
bahasa latin Banco yang artinya bangku atau meja. Pada abad ke-12 kata banco
merujuk pada meja, Counter atau tempat penukaran uang (Money Changer).
7
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tugas bank adalah
mengelola uang dengan menghimpun dana dan menyalurkannya kembali kepada
masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup rakyat banyak, serta dalam
pelaksanaannya menyediakan jasa-jasa lalu lintas pembayaran.
Bank sentral merupakan institusi primer yang bertanggung jawab
mengimplementasikan kebijakan moneter negara. Kebijakan moneter menurut
ekonomi Islam bertujuan untuk menciptakan keadilan sosio-ekonomi dan
pemerataan pendapatan/kesejahteraan bagi seluruh rakyat dengan dasar
persaudaraan universal.
Sedangkan, menurut Undang-Undang Perbankan Syariah No. 21 tahun 2008
pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun
dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada
masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat.
2.1.2 Asas, Fungsi dan Tujuan Bank
Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan atas Undang-
Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan pasal 2, 3, dan 4 yang dimaksud
asas, fungsi, dan tujuan bank adalah sebagai berikut :
1. Asas
Perbankan Indonesia dalam melaksanakan kegiatan usahanya berasaskan
demokrasi ekonomi dengan prinsip kehati-hatian.
2. Fungsi
8
Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan
penyalur dana masyarakat.
3. Tujuan
Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan
nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi,
dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
2.1.3 Jenis Bank
Menurut (Kasmir 2008:34) adapun jenis perbankan dapat di tinjau dari
berbagai segi antara lain :
1) Segi Fungsi
Jenis-jenis bank yang dikenal di Indonesia dapat dilihat berdasarkan Undang-
Undang Perbankan No. 10 Tahun 1998, yaitu membagi bank dalam tiga jenis,
yaitu Bank Central, Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat, dapat dijelaskan
sebagai berikut :
1. Bank Sentral, yaitu sebuah badan keuangan miliki negara yang
diberikan tanggung jawab untuk mengatur dan mengawasi kegiatan-
kegiatan lembaga-lembaga keuangan dan menjamin agar kegiatan
badan-badan keuangan tersebut akan menciptakan tingkat kegiatan
ekonomi yang stabil.
2. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya
secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa lalu lintas pembayaran.
9
3. Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan
usahanya baik secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip
syariah tidak memberikan jasa lalu lintas pembayaran.
2) Segi Kepemilikan
1. Bank Milik Pemerintah
Akte maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, maka
keuntungannya pun dimiliki oleh pemerintah. Contoh : Bank Negara
Indonesia 46 (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank
Tabungan Negara (BTN)
2. Bank Milik Swasta Nasional
Bank jenis ini seluruh atau sebagiannya dimiliki oleh swasta nasional,
serta akte dan pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula
pembagian keuntungannya untuk keuntungan swasta. Contoh: Bank
Muamalat, Bank Central Asia (BCA), Bank Danamon.
3. Bank Milik Asing
Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri,
baik milik swasta asing atau pemerintah asing. Jelas kepemilikannya
dimiliki oleh pihak luar negeri. Contoh : Hongkong bank, Deutsche
bank, American express bank, Bank Of America.
4. Bank Milik Campuran
Kepemilikan saham Bank campuran dimiliki oleh pihak asing dan
pihak swasta nasional. Kepemilikan sahamnya mayoritas dipegang
oleh Warga Negara Indonesia. Contoh : Bank sakura Swadarma bank
Finconesia, Mitsubishi Buana Bank, Interfasifik Bank.
10
5. Bank Milik Koperasi
Kepemilikan saham-saham bank Indonesia ini dimiliki oleh
perusahaan yang berbadan hokum koperasi. Contoh : Bank Umum
Koperasi Indonesia.
3) Segi Status
1. Bank Devisa
Merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi keluar negeri
atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan.
Contoh : pembayaran Letter of Credit, Inkaso ke luar negeri, transfer
keluar negeri. Persyaratan untuk menjadi bank devisa ini ditentukan
oleh Bank Indonesia.
2. Bank Non Devisa
Bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi
sebagai bank devisa sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi
seperi halnya bank devisa. Transasksi yang dilakukan masih dalam
batas-batas negara.
4) Segi Menentukan Harga
1. Bank yang berdasar prinsip Konvensional
Mayoritas bank yang berkembang di Indonesia dewasa ini adalah
bank yang berorientasi pada prinsip konvensional, Dalam mencari
keuntungan dan menentukan harga kepada para nasabahnya, bank
yang berdasarkan prinsip konvensional menggunakan dua metode,
yaitu :
11
a. Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan
seperti Giro, tabungan maupun deposito. Demikian pula dengan
harga untuk prosuk pinjaman (kredit) juga ditentukan berdasar
tingkat suku bunga tertentu. Penentuan harga ini dikenal dengan
istilah Based.
b. Untuk jasa-jasa bank lainnya pihak perbankan barat
menggunakan atau menerapkan berbagai biaya-biaya dalam
nominal atau presentase tertentu. Sistem pengenaan biaya ini
dikenal dengan istilah Fee Based.
2. Bank Umum Prinsip Syariah
Bank ini menerapkan aturan perjanjian sesuai hukum Islam antara
bank dengan pihak lain dalam menyimpan dana, pembiayaan usaha
atau kegiatan lainnya. Dalam menentukan harga, bank syariah
menerapkan prinsip syariah sebagai berikut:
Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah)
Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (Musharakah)
Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan
(Murabahah)
Pembiyaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan
(Ijarah)
Atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang
yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (Ijarah Wa Iqtana)
12
2.1.4 Bank Umum Kovensional
Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Bank Konvensional adalah
bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
[Link] Kegiatan Operasional Bank Konvensional
Dalam menjalankan usahannya sebagai lembaga keuangan, kegiatan bank tidak
lakan lepas dari bidang keuangan. Kegiatan perbankan secara sederhana adalah
sebagai tempat melayani segala kebutuhan para nasabahnya, hal ini sesuai dengan
kegiatan utama suatu bank, yaitu menghimpun dana melalui simpanan dan
kemudian menyalurkan dana kepada masyarakat umum melalui kredit atau
pinjaman. Menurut kasmir (2003:30) kegiatan bank umum konvensional meliputi
kegiatan sebagai berikut :
1. Menghimpun dana (Funding), Kegiatan ini menghimpun dana merupakan
kegiatan membeli dana dari masyarakat. Kegiatan membeli dana dapat
dilakukan dengan cara menawarkan berbagai jenis simpanan yaitu
simpanan giro, tabungan, dan simpanan deposito.
2. Menyalurkan dana (Lending), Menyalurkan dana merupakan kegiatan
menjual dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat. Penyaluran dana
yang dilakukan oleh bank melalui pemberi pinjaman yang dalam
masyarakat lebih dikenal dengan nama kredit.
3. Memberikan jasa-jasa bank lainnya (Service) Jasa-jasa bank lainnya
merupakan kegiatan penunjang untuk mendukug kelancaran kegiatan
13
menghimpun dana da menyalurkan dana. Jasa-jasa bank yang ditawarkan
meliputi kiriman uang, kliring, inkaso, kartu kredit, dan jasa-jasa lainnya.
Secara singkat kegiatan bank sebagai lembaga keuangan melalui gambar
berikut ini menurut (kasmir 2003:31)
BANK
Menghimpun Dana Menyalurkan Dana Jasa-jasa lainnya
Gambar 2.1 Kegiatan Bank
Sumber : (Kasmir 2003:31), Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya
2.1.5 Bank Umum Syariah
Bank syariah dikenal juga dengan nama bank islam dalam berbagai media
massa, buku, maupun publikasi umum. Hal ini karena bank syariah mengacu pada
ajaran islam.
14
[Link] Pengertian Bank Syariah
Menurut Perwataatmadja dan Antonio syafi’I (1999:1-2) mengemukakan
bahwa :
“Bank islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah
islam yang tata cara operasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an
dan Hadist. Bank yang beroprasi sesuai prinsip-prinsip syariah islam adalah bank
dalam operasinya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariah islam khusunya
menyangkut tata cara bermuamalat islam.
Dalam tata cara bermuamalat itu dijauhi dari praktek-praktek yang di
khawatirkan mengandung unsur riba untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan
investasi atas dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan.
Dalam tata cara beroprasinya mengikuti suruhan dan larangan itu, maka yang
dijauhi adalah praktek-praktek yang mengandung unsur riba sedang yang di ikuti
adalah praktek-praktek usaha yang dilakukan di zaman Rasullulllah atau bentuk
bentuk usaha yang telah ada sebelumnya tetapi tidak dilarang oleh beliau.”
[Link] Tujuan Bank Syariah
Menurut Sudarsono (2012:45) Bank syariah mempunyai beberapa tujuan
diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalat secara islam,
khususnya muamalat yang berhubungan dengan perbankan, agar terhindar
dari praktek-praktek riba atau jenis-jenis usaha/perdagangan lain yang
mengandung unsur gharar (tipuan), dimana jenis-jenis usaha tersebut
15
selain dilarang dalam Islam, juga telah menimbulkan dampak negatif
terhadap kehidupan ekonomi rakyat.
2. Untuk menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi dengan jalan
meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi, agar tidak terjadi
kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal dengan pihak yang
membutuhkan dana.
3. Untuk meningkatkan kualitas hidup umat dengan jalan membuka peluang
usaha yang lebih besar terutama kelompok miskin, yang diarahkan kepada
kegiatan usaha yang produktif, menuju terciptanya kemandirian usaha.
4. Untuk menanggulangi masalah kemiskinan, yang pada umumnya
merupakan program utama dari negara-negara yang sedang berkembang.
Upaya bank syariah didalam mengentaskan kemiskinan ini berupa
pembinaan nasabah yang lebih menonjolkan sifat kebersamaan dari siklus
usaha yang lengkap seperti program pembinaan pengusaha produsen,
pembinaan pedagang perantara, program pembinaan konsumen, program
pengembangan modal kerja dan program pengembangan usaha bersama.
5. Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan moneter. Dengan aktivitas bank
syariah akan mampu menghindari pemanasan ekonomi karena inflasi,
menghindari persaingan yang tidak sehat antar lembaga keuangan.
6. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat islam terhadap bank non-
syariah.
16
[Link] Ciri-Ciri Bank Syariah
Menurut Sudarsono (2012:46) bank syariah mempunyai beberapa ciri-ciri yaitu
diantaranya :
1. Beban biaya yang disepakati bersama pada waktu akad perjanjian
diwujudkan dalam bentuk jumlah nominal yang besarannya tidak kaku dan
dapat dilakukan dengan kebebasan untuk tawar menawar dalam batas
wajar. Beban biaya tersebut hanya dikenakan sampai batas waktu sesuai
dengan kesepakatan dalam kontrak.
2. Penggunaan persentase dalam hal kewajiban untuk melakukan
pembayaran selalu dihindari karena persentase bersifat melekat pada sisa
uang meskipun batas waktu perjanjian telah berakhir.
3. Didalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah tidak
menetapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti ditetapkan
dimuka, karena pada hakikatnya yang mengetahui tentang ruginya suatu
proyek yang dibiayai bank hanyalah Allah SWT semata.
4. Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito oleh
penyimpan dianggap sebagai titipan (Al-Wadiah), sedangkan bagi bank
dianggap sebagai titipan yang dimanfaatkan sebagai penyertaan dana pada
proyek yang dibiayai bank sesuai dengan prinsip syariah sehingga pada
penyimpan tidak dijanjikan imbalan yang pasti
5. Dewan Pengawas Syariah (DPS) bertugas untuk mengawasi kegiatan
operasional bank dari sudut syariatnya.
6. Fungsi kelembagaan bank syariah selalu menjembatani antara pihak
pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana juga yang
17
mempunyai fungsi khusus yaitu fungsi amanah artinya berkewajiban dan
bertanggung jawab atas keamanan dana yang disimpan dan siap sewaktu-
waktu apabila dana diambil pemiliknya.
[Link] Karakteristik Bank Syariah
Menurut Ismail (2013:33) Bank syariah tidak hanya bebas bunga, tetapi
memiliki orientasi pencapaian sejahtera. Secara fundamental terdapat beberapa
karakteristik bank syariah, yaitu:
1. Penghapusan riba.
2. Pelayanan kepada kepentingan public dan merealisasikan sasaran sosio-
ekonomi islam.
3. Bank syariah bersifat universal yang merupakan gabungan dari bank
komersial dan bank investasi.
4. Bank syariah akan melakukan evaluasi yang lebih berhati-hati terhadap
permohonan pembiayaan yang berorientasi pada penyertaan modal karena
bank komersial syariah menerapkan profit-loss sharing dalam konsinyasi,
ventura, bisnis atau industri.
5. Bagi hasil cenderung mempererat hubungan antara bank syariah dan
pengusaha.
6. Kerangka yang dibangun dalam membantu bank mengatasi likuiditasnya
dengan memanfaatkan instrumen pasar uang antar bank syariah dan
instrumen bank sentral berbasis syariah.
18
2.1.6 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional
Menurut Djazuli. dan Yadi Janwari (2002:54)
Bank Syariah
1. Islam memandang harta yang dimiliki oleh manusia adalah titipan/amanah
Allah SWT sehingga cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya
harus sesuai ajaran Islam
2. Bank syariah mendorong nasabah untuk mengupayakan pengelolaan harta
nasabah (simpanan) sesuai ajaran Islam
3. Bank syariah menempatkan karakter/sikap baik nasabah maupun pengelola
bank pada posisi yang sangat penting dan menempatkan sikap akhlakul
karimah sebagai sikap dasar hubungan antara nasabah dan bank
4. Adanya kesamaan ikatan emosional yang kuat didasarkan prinsip keadilan,
prinsip kesederajatan dan prinsip ketentraman antara Pemegang Saham,
Pengelola Bank dan Nasabah atas jalannya usaha bank syariah
5. Prinsip bagi hasil:
Penentuan besarnya resiko bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan
berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi
Besarnya nisbah bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang
diperoleh
Jumlah pembagian bagi hasil meningkat sesuai dengan peningkatan
jumlah pendapatan
Tidak ada yang meragukan keuntungan bagi hasil
19
Bagi hasil tergantung kepada keuntungan proyek yang dijalankan. Jika
proyek itu tidak mendapatkan keuntungan maka kerugian akan
ditanggung bersama oleh kedua belah pihak
Bank Konvensional
1. Pada bank konvensional, kepentingan pemilik dana (deposan) adalah
memperoleh imbalan berupa bunga simpanan yang tinggi, sedang
kepentingan pemegang saham adalah diantaranya memperoleh spread yang
optimal antara suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman
(mengoptimalkan interest difference). Dilain pihak kepentingan pemakai
dana (debitor) adalah memperoleh tingkat bunga yang rendah (biaya
murah). Dengan demikian terhadap ketiga kepentingan dari tiga pihak
tersebut terjadi antagonisme yang sulit diharmoniskan. Dalam hal ini bank
konvensional berfungsi sebagai lembaga perantara saja
2. Tidak adanya ikatan emosional yang kuat antara Pemegang Saham,
Pengelola Bank dan Nasabah karena masing-masing pihak mempunyai
keinginan yang bertolak belakang
3. Sistem bunga:
Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus
selalu untung untuk pihak Bank
Besarnya prosentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang
dipinjamkan Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan
pedoman harus selalu untung untuk pihak Bank
Jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan
berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik
20
Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk
agama Islam
Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk
agama Islam
Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan
proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi
2.2 Tinjauan Umum tentang Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
Menurut (kasmir 2010:45). Kebutuhan masyarakat atas hunian dari tahun
ketahun semakin meningkat, hal ini seiring dengan pertambahan jumlah penduduk
yang semakin meningkat. Demi menjawab hal tersebut, maka munculah KPR
yang merupakan salah satu produk kepemilikan rumah yang dikembangkan oleh
dunia perbankan di Indonesia.
KPR dan KPR Syariah yang ada pada bank konvensional maupun bank syariah
memiliki perbedaan mendasar dari segi akad-nya. KPR Konvensional
menggunakan perjanjian kredit dengan cara kita meminjam uang untuk membeli
atau membangun rumah untuk kemudian dibayar kembali ditambah dengan
bunga. Sedangkan KPR Syariah bisa menggunakan prinsip jual beli. Bank syariah
akan membelikan rumah dan menjualnya kepada nasabah.
Pada perbankan syariah tidak dikenal adanya sistem bunga maka jika terjadi
keterlambatan pembayaran, nasabah tidak akan dijatuhi denda yang berdasarkan
suku bunga. Walaupun tingkat keterlambatan ini sangat kecil namun Dewan
Syariah Nasional (DSN) telah mengantisipasi dengan menetapkan Fatwa DSN
21
No. 17/DSNMUI/IX/2000 tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-
nunda pembayaran kalaupun ada nasabah yang nakal menunda-nunda pembayaran
padahal ia mampu.
Dapat disimpulkan bahwa letak ketidaksesuaian apa yang dipraktekkan
perbankan konvensional dengan konsep ekonomi syariah yang prinsip utamanya
melarang keras praktek bunga bank. Bunga yang dipraktekkan oleh perbankan
konvensional merupakan riba yang ada dalam ajaran Islam, yaitu riba nasi’ah.
Keuntungan bank syariah pada produk KPR Syariah ini dalam bentuk margin
penjualan yang dikenakan kepada pihak nasabah atas kesepakatan bersama.
Tingkat margin yang ditetapkan oleh bank syariah menjadi obyek pembeda yang
memungkinkan antar bank syariah melakukan kompetisi dalam menentukan
tingkat marginnya. Bisa jadi, satu bank syariah mengambil margin keuntungannya
lebih rendah dibanding dengan tingkat margin yang ada pada bank syariah
lainnya, atau jika memungkinkan bisa kompetitif dengan tingkat bunga yang
ditetapkan oleh perbankan konvensional.
Bank syariah dalam menjual produk KPR Syariahnya, biasanya mengguankan
fasilitas pembiayaan Murabahah yang memungkinkan nasabah untuk membayar
KPR Syariahnya secara angsuran.
2.2.1 Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
Pengertian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Menurut Hardjono (2008:25)
“KPR atau Kredit Pemilikan Rumah merupakan salah satu jenis pelayanan kredit
yang diberikan oleh bank kepada para nasabah yang menginginkan pinjaman
22
khusus untuk memenuhi kebutuhan dalam pembangunan rumah atau renovasi
rumah”.
KPR juga muncul karena adanya berbagai kondisi penunjang yang strategis
diantaranya adalah pemenuhan kebutuhan perumahan yang semakin lama semakin
tinggi namun belum dapat mengimbangi kemampuan daya beli kontan dari
masyarakat.
Secara umum, ada 2 jenis KPR yaitu:
1. KPR Subsidi Yaitu, suatu kredit yang diperuntukan kepada masyarakat
yang mempunyai penghasilan menengah kebawah, hal ini guna untuk
memenuhi kebutuhan memiliki rumah atau perbaikan rumah yang telah
dimiliki sebelumnya. Adapun bentuk dari subsidi tersebut telah diatur
tersendiri oleh pemerintah, sehingga tidak semua masyarakat yang
mengajukan kredit dapat diberikan fasilitas ini.
2. KPR Non Subsidi Yaitu, suatu KPR yang diperuntukan bagi seluruh
masyarakat tanpa adanya campur tangan pemerintah. Ketentuan KPR
ditetapkan oleh bank itu sendiri, sehingga penentuan besarnya kredit
maupun suku bunga dilakukan sesuai dengan kebijakan bank yang
bersangkutan.
2.2.2 Kredit Pemilikan Rumah ( KPR) iB
Menurut Antonio, Syafi’i 2001 (182-185). Dalam bukunya Bank Syariah dari
Teori ke Praktek. Salah satu produk pembiayaan yang telah dikembangkan oleh
bank syariah adalah pembiayaan rumah, atau yang sering dikenal dengan istilah
23
KPR syariah. Pembiayaan Kepemilikan Rumah kepada perorangan untuk
memenuhi sebagian atau keseluruhan kebutuhan akan rumah (tempat tinggal)
dengan mengunakan prinsip jual beli (Murabahah) dimana pembayarannya secara
angsuran dengan jumlah angsuran yang telah ditetapkan di muka dan dibayar
setiap bulan. Harga jualnya biasanya sudah ditambah dengan margin keuntungan
yang disepakati antara bank syariah dan pembeli.
Harga jual rumah ditetapkan di awal ketika nasabah menandatangani perjanjian
pembiayaan jual beli rumah, dengan angsuran tetap hingga jatuh tempo
pembiayaan. Dengan adanya kepastian jumlah angsuran bulanan yang harus
dibayar sampai masa angsuran selesai, nasabah tidak akan dipusingkan dengan
masalah naik/turunnya angsuran ketika suku bunga bergejolak. Nasabah juga
diuntungkan ketika ingin melunasi angsuran sebelum masa kontrak berakhir,
karena bank syariah tidak akan mengenakan pinalti. Bank syariah tidak
memberlakukan sistem pinalti karena harga KPR sudah ditetapkan sejak awal.
Pembiyaan rumah ini dapat digunakan untuk membeli rumah (rumah, ruko,
rukan, apartemen) baru maupun bekas, membangun atau merenovasi rumah, dan
untuk pengalihan pembiayaan KPR dari bank lain.
Perbedaan pokok antara KPR konvensional dengan syariah terletak pada
akadnya. Pada bank konvensional, kontrak KPR didasarkan pada suku bunga
tertentu yang sifatnya bisa fluktuatif, sedangkan KPR Syariah bisa dilakukan
dengan beberapa pilihan akad alternatif sesuai dengan kebutuhan nasabah, di
antaranya KPR iB Jual Beli (skema Murabahah), KPR iB sewa (skema Ijarah),
KPR iB Sewa Beli (skema Ijarah Muntahia Bittamlik - IMBT), dan KPR iB
24
Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah). Namun yang banyak
ditawarkan oleh bank syariah adalah skema jual beli (skema Murabahah).
Manfaat KPR Syariah
Keuntungan nasabah yang diperoleh dari KPR syariah, sebagai berikut:
Nasabah tidak harus menyediakan dana secara tunai untuk membeli rumah.
Nasabah cukup menyediakan uang muka.
Karena KPR memiliki jangka waktu yang panjang, angsuran yang dibayar
dapat diiringi dengan ekspektasi peningkatan penghasilan.
mekanisme pembiayaan adalah jual beli (Murabahah), adalah akad jual beli
barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (Margin) yang
disepakati oleh Bank dan Nasabah (Fixed Margin)
Cicilan tetap dan meringankan selama jangka waktu, serta tidak ada unsur
spekulatif
Bebas pinalti untuk pelunasan sebelum jatuh tempo
[Link] Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah
Sumber ([Link]) diunduh tanggal 26 Februari 2017. Kredit
pemilikan rumah atau biasa disebut KPR merupakan salah satu produk
pembiayaan pada PT. Bank BNI Syariah yang membiayai kebutuhan nasabah
dalam hal pengadaan rumah tinggal (konsumtif) baik baru maupun bekas.
Hal ini merupakan implikasi dari perbedaan prinsipal yang diterapkan
perbankan syariah dan perbankan konvensional, yaitu konsep bagi hasil dan
kerugian (Profit and Loss Sharing) sebagai pengganti sistem bunga perbankan
25
konvensional. Dalam produk pembiayaan kepemilikan rumah ini, terdapat
beberapa perbedaan antara perbankan syariah dan perbankan konvensional. Di
antaranya adalah; pemberlakuan sistem kredit dan sistem markup, kebolehan dan
ketidakbolehan tawar menawar (Bargaining Position) antara nasabah dengan
bank, prosedur pembiayaan dan lain sebagainya.
Selain itu perbedaan yang terjadi pada bank konvensional, kontrak KPR
didasarkan pada suku bunga tertentu yang sifatnya bisa fluktuatif, sedangkan KPR
syariah bisa dilakukan dengan beberapa pilihan akad alternatif sesuai dengan
kebutuhan nasabah, diantaranya yaitu:
1. KPR iB Jual Beli (skema Murabahah).
2. KPR iB sewa (skema Ijarah).
3. KPR iB Sewa Beli (skema Ijarah Muntahia Bittamlik).
4. KPR iB Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah).
Namun yang banyak ditawarkan oleh bank syariah adalah skema jual beli
(skema Murabahah).
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) biasanya menggunakan akad Murabahah.
Akad Murabahah yang digunakan berjenis Al-Bay’bisaman Ajil atau Muajjal
(jenis pembayaran secara tangguh atau cicilan). Murabahah merupakan transaksi
jual beli dimana bank bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.
Akad jenis ini adalah salah satu bentuk akad bisnis yang mencari keuntungan
bersifat pasti (Certainly Return) dan telah diketahui dimuka (Pre-Determiner
Return). Sedangkan Murabahah, merupakan penjualan sesuatu barang dengan
harga asal dengan tambahan keuntungan sejumlah yang disepakati bersama.
Dengan sistem Murabahah yang diterapkan dalam pembiayaan KPR ini berarti
26
pihak bank syariah harus memberitahukan harga perolehan atau harga asal rumah
yang dibeli dari developer kepada nasabah KPR Syariah dan menentukan suatu
tingkat keuntungan (Profit Margin) sebagai tambahan.
[Link] Ketentuan Umum Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB
Hasanah
Sumber ([Link]) diunduh tanggal 26 Februari 2017. Ketentuan
umum KPR Griya iB Hasanah Bank BNI Syariah telah tercantum dalam SOP
Bank BNI Syariah, sehingga ketentuan yang ada harus diikuti. Ketentuan tersebut
adalah:
a. Tujuan KPR
b. Jenis KPR Griya iB Hasanah
c. Persyaratan Umum
d. Tujuan Penggunaan beserta Agunan
e. Maksimum Plafon
f. Jangka Waktu
g. Biaya-biaya yang dibebankan kepada calon debitur
h. Persyaratan tanah dan atau bangunan/rumah yang akan dibiayai dengan
KPR iB Griya Hasanah BNI Syariah
i. Persyaratan Dokumen
j. Prosedur Pengajuan KPR dan Proses Evaluasi KPR.
27
[Link] Tujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah
Sumber ([Link]) diunduh tanggal 26 Februari 2017. Tujuan dari
KPR adalah untuk pembiayaan konsumen mengenai fasilitas pemilikan rumah.
Pembiayaan yang diberikan biasanya untuk membeli, membangun dan atau
merenovasi (termasuk ruko, rukan. apartemen dan sejenisnya). Dengan jenis
agunan tertentu, antara lain tanah dan/atau bangunan, sesuai dengan kriteria yang
telahditetapkan oleh bank.
[Link] Jenis KPR Griya iB Hasanah
Sumber ([Link]) diunduh tanggal 26 Februari 2017.
Pembiayaan properti baru maupun secondary yang meliputi:
Rumah, Pembiayaan rumah baik baru maupun bekas dengan tujuan
untuk dihuni.
Ruko/ Rukan, Pembiayaan yang dilakukan bertujuan melakukan bisnis
atau kegiatan operasional perkantoran yang dibutuhkan.
Apartemen, Pembiayaan yang dilakukan yang bertujuan untuk dihuni.
Tanah Kavling Siap [Link] yang dilakukan untuk tujuan
bisnis dimana ada kerjasama antara developer dan pihak bank dalam
membangun kavling tersebut.
Pembiayaan Renovasi Rumah, Pembiayaan yang dilakukan bertujuan
untuk melakukan renovasi/perbaikan rumah lama.
28
Pembiayaan Pembangunan Rumah, Pembiayaan yang dilakukan yang
bertujuan unuk mendirikan bangunan di area tanah yang telah dimiliki
sebelumnya oleh nasabah.
2.3 Tinjauan Umum Pembiayaan
Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas
dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit.
Landasan hukumnya adalah Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 6/24/PBI/2004
Bab V Pasal 36 yaitu bank wajib menerapkan prinsip syariah dan prinsip-prinsip
kehati-hatian dalam melakukan kegiatan usaha yang meliputi penghimpunan dana
dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan investasi.
Pembiayaan terhadap hunian atau KPR syariah ini termasuk dalam pembiayaan
konsumtif yang bersifat sekunder yaitu kebutuhan tambahan, yang secara
kuantitatif maupun kualitatif lebih tinggi atau lebih mewah dari kebutuhan primer
seperti makanan dan minuman, pakaian dan/atau perhiasan, bangunan rumah,
kendaraan, dan sebagainya, maupun berupa jasa, seperti pendidikan, pelayanan
kesehatan, pariwisata, hiburan, dan sebagainya. (Muhammad syafi’I Antonio,
2001:168)
2.3.1 Pengertian Pembiayaan
Menurut Ismail (2010:107) Pembiayaan adalah penyediaan dana dan atau
tagihan yang dipersamakan dengan itu, yang berupa :
29
1 Transaksi bagi hasil berbentuk Mudharabah dan Musyarakah.
2 Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk Ijarah atau sewa beli dalam
bentuk Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik.
3 Transaksi jual beli dalam bentuk piutang Murabahah, salam dan
istishna.
4 Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk Ijarah untuk transaksi
multijasa, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank-bank
syariah atau unit usaha syariah dan pihak lain yang mewajibkan pihak-
pihak yang dibiayai dan diberi fasilitas dana untuk mengembalikan
dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah,
tanpa imbalan atau bagi hasil.
2.3.2 Fungsi Pembiayaan
Menurut Ismail (2010:108) pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah
berfungsi membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dalam
meningkatkan usahanya. Masyarakat merupakan individu, pengusaha, lembaga,
badan usaha, dan lain-lain yang membutuhkan dana. Fungsi pembiayaan antara
lain sebagai berikut :
1. Pembiayaan dapat meningkatkan arus tukar-menukar barang dan jasa.
2. Pembiayaan merupakan alat yang dipakai untuk memanfaatkan Idle
Fund.
3. Pembiayaan sebagai alat pengendali harga.
30
4. Pembiayaan dapat mengaktifkan dan meningkatkan manfaat ekonomi
yang ada.
2.3.3 Murabahah
Menurut (Warkum Sumitro, 1996:93) Murabahah adalah suatu perjanjian
pembiayaan di mana bank membiayai/memberikan talangan dana untuk
pengadaan barang yang diperlukan nasabah ditambah keuntungan yang disepakati
dengan sistem pembayaran tangguh atau dengan kata lain dibayar lunas pada
waktu yang tertentu yang disepakati. Margin keuntungan adalah selisih harga jual
dikurangi harga asal yang merupakan keuntungan bank. Pembiayaan Murabahah
ini mirip dengan “kredit modal kerja” yang dikenal dalam produk bank
konvensional, karena itu jangka waktu pembiayaan tidak lebih dari satu tahun.
[Link] Pengertian Murabahah
Dalam Hukum Islam, perjanjian dikenal denan istilah akad (al ‘aqd) jamaknya
al-‘uqud secara bahasa berarti ikatan, mengikat. Maka akad juga diartikan dengan
perikatan. Menurut terminologi hukum Islam, akad dapat didefinisikan “pertalian
antara ijab dan kabul yang dibenarkan oleh syara’ yang menimbulkan akibat
hukum terhadap obyeknya” (Ghufron A.M, 2002:75-76). Ijab adalah pernyataan
dari seseorang (pihak pertama) untuk menawarkan sesuatu. Kabul adalah
pernyataan seseorang (pihak kedua) untuk menerima atau mengabulkan tawaran
dari pihak pertama. Apabila ijab dan kabul yang dilakukan oleh kedua belah pihak
31
tersebut saling bersesuaian dan berhubungan, maka terjadilah akad diantara
mereka (Wirdyaningsih, 2005 : 115).
Murabahah adalah transaksi jual beli suatu barang sebesar harga perolehan
barang ditambah dengan margin yang disepakati oleh para pihak, dimana penjual
menginformasikan terlebih dahulu harga perolehan kepada pembeli. Dalam
praktek perbankan, Murabahah adalah akad jual beli antara bank selaku penyedia
barang, dengan nasabah yang memesan untuk membeli barang dan bank
memperoleh keuntungan yang disepakati bersama. Berdasarkan akad jual beli
dimaksud bank membeli barang yang dipesan dan menjualnya kepada nasabah.
Pembelian barang dapat dilakukan langsung oleh bank atau diwakilkan kepada
nasabah. Harga jual bank adalah harga beli dari supplier ditambah keuntungan
yang disepakati. Oleh karenanya nasabah mengetahui besarnya keuntungan yang
diambil oleh bank. Cara pembayaran dan jangka waktunya disepakati bersama,
dapat secara lumpsum (sekaligus) ataupun dengan cara angsuran.
Sementara itu, menurut PSAK No 102, Murabahah adalah akad jual beli
barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan yang
disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan harga barang
tersebut kepada pembeli.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian
Murabahah adalah suatu akad jual beli barang dengan harus menyatakan harga
perolehan dan keuntungan (Margin), dan pelunasan kewajiban disertai
pembayaran margin yang disepakati sesuai akad dimana bank sebagai penjual
barang dan nasabah sebagai pembeli barang.
32
[Link] Landasan Hukum Murabahah
Menurut ([Link] tentang Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 4/DSN-
MUI/IVI/2000 diunduh tanggal 13 Maret 2017) Berikut ini adalah surat yang
menerangkan tentang Pembiayaan Murabahah adalah sebagai berikut :
1. QS. An-Nisa (4: 29)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara [Link]
janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.
2. Qs. Al-Baqarah (2: 275)
“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran
(tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu,adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali
(mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya”.
3. Qs. Al-Maidah (5 : 1)
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu..”
4. Qs. Al-Baqarah (2 : 280)
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah
tangguh sampai Dia [Link] menyedekahkan (sebagian atau
semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.
[Link] Al-Hadist
Menurut (Warkum Sumitro, 1996:95). Berikut ini adalah Hadist yang
menerangkan tentang Pembiayaan Murabahah adalah sebagai berikut :
33
1. Dari Suhaib ar-Rumi r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara
tangguh, muqaradhah (Mudharabah), dan mencampur gandum untuk
keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah).
2. Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka."(HR. al-
Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).
3. Hadits Nabi riwayat Tirmidzi:
“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali
perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkanyang
haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali
syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”
(HR. Tirmizi dari ‘Amr bin ‘Auf).
4. Hadits Nabi riwayat jama’ah:
“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu
adalah suatu kezaliman…”
5. Hadits Nabi riwayat Nasa’i, Abu Dawud, Ibu Majah, dan Ahmad
“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu
menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”
6. Hadits Nabi riwayat `Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam:
“Rasulullah SAW. ditanya tentang ‘urban (uang muka) dalam jual beli,
maka beliau menghalalkannya.”
[Link] Landasan syariah Murabahah
Sumber ([Link]) diunduh pada tanggal 13 Maret 2017 menerangkan
ketentuan fatwa DSN mengenai landasan syariah Murabahah sebagai berikut :
34
No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah,
No. 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah,
No. 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang Uang Muka dalam Murabahah,
No. 16/DSN-MUI/IX/2000 tentang diskon dalam Murabahah,
No.23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah,
No. 46/DSN-MUI/II/2005 tentang Penyelesaian Piutang Murabahah bagi
Nasabah Tidak Mampu Membayar,
No.48/DSN-MUI/II/2005 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan
Murabahah,
No. 49/DSN-MUI/II/2005 tentang Konversi Akad Murabahah.
[Link] Syarat dan Rukun Murabahah
Menurut (Dimyauddin Djuwaini,2008:108-109), Terdapat beberapa syarat dan
rukun Murabahah yaitu sebagai berikut :
Syarat Murabahah:
Dibawah ini terdapat lima syarat sah nya Murabahah yaitu antara lain :
a. Penjual memberi tahu biaya modal kepada nasabah.
b. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan.
c. Kontrak harus bebas dari riba.
d. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang
sesudah pembelian.
e. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan
pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
35
Rukun Murabahah:
terdapat lima rukun Murabahah yaitu sebagai berikut :
a. Ada penjual (Bai’)
b. Ada pembeli (Musytari)
c. Obyek/barang (Mabi)
d. Kejelasan harga (Tsaman)
e. Adanya ijab qabul (Sighat)
[Link] Mekanisme Pembiayaan Murabahah
Menurut Soemitra (2009:20) Berikut adalah Mekanisme pembiayaan yang di
terapkan di Perbankan Syariah ;
Negoisasi dan persyaratan
1. Akad jual beli
Bank Nasabah
5. Bayar
2. Beli barang Supplier 3. Kirim
[Link] barang dan
(penjual) dokumen
Gambar 2.2 Mekanisme Pembiayaan Akad Murabahah
Sumber: Soemitra (2009:20), Bank dan Lembaga Keuangan Syariah
36
Keterangan:
1. Bank dan nasabah melakukan negosiasi untuk melakukan transaksi
pembiayaan berdasarkan prinsip jual beli, meliputi jenis barang yang akan
diperjual belikan, harganya (termasuk jumlah keuntungan yang diminta
bank) dan jangka waktu pembayaran dan hal-hal lain yang diperlukan.
2. Bank melakukan pesanan (membeli secara tunai/naqdan) barang kepada
supplier sesuai dengan spesifikasi barang yang dikehendaki oleh nasabah,
dengan melakukan akad jual beli (surat pernyataan/call memo). Nasabah
tidak diperkenankan membeli barang secara langsung tanpa seizin bank.
a. Dalam pemberian barang ini bank dapat mewakilkan secara tertulis
kepada nasabah untuk membeli barang untuk dan atas nama bank,
dalam bentuk akad wakalah/surat kuasa yang terpisah dari akad
Murabahah atau bank dapat langsung membeli kepada supplier.
b. Supplier menjual secara tunai.
37
BAB III
GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN
3.1 Sejarah Berdirinya PT. Bank BNI Syariah
Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26
Februari 2017), tempaan krisis moneter tahun 1997 membuktikan ketangguhan
sistem perbankan syariah. Prinsip Syariah dengan 3 (tiga) pilarnya yaitu adil,
transparan dan maslahat mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap sistem
perbankan yang lebih adil. Dengan berlandaskan pada Undang-Undang No.10
Tahun 1998, pada tanggal tanggal 29 April 2000 didirikan Unit Usaha Syariah
(UUS) BNI dengan 5 kantor cabang di Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara
dan Banjarmasin.
Selanjutnya UUS BNI terus berkembang menjadi 28 Kantor Cabang dan 31
Kantor Cabang Pembantu. Disamping itu nasabah juga dapat menikmati layanan
syariah di Kantor Cabang BNI Konvensional (office channelling) dengan lebih
kurang 1500 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di dalam
pelaksanaan operasional perbankan, BNI Syariah tetap memperhatikan kepatuhan
terhadap aspek syariah. Dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang saat ini
diketuai oleh [Link]’ruf Amin, semua produk BNI Syariah telah melalui
pengujian dari DPS sehingga telah memenuhi aturan syariah.
Berdasarkan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor
12/41/[Link]/2010 tanggal 21 Mei 2010 mengenai pemberian izin usaha
kepada PT Bank BNI Syariah. Dan di dalam Corporate Plan UUS BNI tahun
38
2000 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off
tahun 2009. Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dengan
beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS).
Realisasi waktu spin off bulan Juni 2010 tidak terlepas dari faktor eksternal
berupa aspek regulasi yang kondusif yaitu dengan diterbitkannya UU No.19 tahun
2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU No.21 tahun 2008
tentang Perbankan Syariah. Disamping itu, komitmen Pemerintah terhadap
pengembangan perbankan syariah semakin kuat dan kesadaran terhadap
keunggulan produk perbankan syariah juga semakin meningkat. Juni 2014 jumlah
cabang BNI Syariah mencapai 65 Kantor Cabang, 161 Kantor Cabang Pembantu,
17 Kantor Kas, 22 Mobil Layanan Gerak dan 20 Payment Point.
3.2 Visi dan Misi Bank BNI Syariah
Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26
Februari 2017), Visi BNI Syariah adalah “Menjadi bank syariah pilihan
masyarakat yang unggul dalam layanan dan kinerja”. Sedangkan misi Bank BNI
Syariah, yaitu:
1. Memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan peduli pada
kelestarian lingkungan.
2. Memberikan solusi bagi masyarakat untuk kebutuhan jasa perbankan
syariah
3. Memberikan nilai investasi yang optimal bagi investor.
39
4. Menciptakan wahana terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya
dan berprestasi bagi pegawai sebagai perwujudan ibadah.
3.3 Aktivitas di Bank BNI Syariah terkait dengan Produk dan Jasa
Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26
Februari 2017) aktivitas Bank BNI Syariah terdiri dari:
3.3.1 Produk Pendanaan
Produk pendanaan di Bank BNI Syariah, meliputi:
1. Tabungan iB Baitullah Hasanah adalah tabungan dengan akad
Mudharabah atau Wadiah yang dipergunakan sebagai sarana untuk
mendapatkan kepastian porsi berangkat menunaikan ibadah Haji
(Reguler/Khusus) dan merencanakan ibadah Umrah sesuai keinginan
penabung dengan sistem setoran bebas atau bulanan dalam mata uang
Rupiah dan USD.
2. Tabungan iB Hasanah Prima adalah tabungan dengan akad Mudharabah
yang memberikan berbagai fasilitas serta kemudahan bagi Nasabah
segmen high networth individuals secara perorangan dalam mata uang
rupiah dan bagi hasil yang lebih kompetitif.
3. Tabungan iB Tunas Hasanah adalah tabungan dengan akad Wadiah yang
diperuntukkan bagi anak-anak dan pelajar yang berusia di bawah 17 tahun.
40
4. Tabungan iB Bisnis Hasanah adalah tabungan dengan akad Mudharabah
yang dilengkapi dengan detil mutasi debet dan kredit pada buku tabungan
dan bagi hasil yang lebih kompetitif dalam mata uang rupiah.
5. Tabungan iB Tapenas Hasanah adalah tabungan berjangka dengan akad
Mudharabah untuk perencanaan masa depan yang dikelola berdasarkan
prinsip syariah dengan sistem setoran bulanan yang bermanfaat untuk
membantu menyiapkan rencana masa depan seperti rencana liburan,
ibadah umrah, pendidikan ataupun rencana masa depan lainnya.
3.3.2 Produk Pembiayaan
Produk pembiayaan di Bank BNI Syariah, meliputi:
1 Pembiayaan produktif adalah pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik
usaha produksi, perdagangan, maupun investasi.
a. Pembiayaan CCF iB Hasanah adalah pembiayaan yang dijamin
dengan cash, yaitu dijamin dengan Simpanan dalam bentuk Deposito,
Giro, dan Tabungan yang diterbitkan BNI Syariah.
b. Pembiayaan Emas iB Hasanah adalah fasilitas pembiayaan yang
diberikan untuk membeli emas logam mulia dalam bentuk batangan
yang diangsur secara pokok setiap bulannya melalui akad Murabahah
(jual beli).
2 Pembiayaan Konsumtif
a. Dana Talangan Haji iB Hasanah
41
Fasilitas yang diberikan kepada nasabah yang digunakan sebagai dana
talangan bagi nasabah untuk memperoleh Nomor Porsi keberangkatan
Ibadah Haji (Booking Seat) dari Kementerian Agama Republik
Indonesia yang merupakan bagian dari Biaya Penyelenggaraan Ibadah
Haji (BPIH).
Jumlah dana talangan haji yang disediakan, yaitu:
1. Rp. 10.000.000,00
2. Rp. 15.000.000,00
3. Rp. 20.000.000,00
4. Rp. 23.750.000,00
Jangka Waktu Pembiayaan yaitu:
1. 1 tahun
2. 2 tahun
3. 3 tahun
b. Pembiayaan Pemilikan Kendaraan Bermotor iB Hasanah
Merupakan Fasilitas Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah
individu (perorangan) untuk membeli kendaraan bermotor
(mobil/motor). Adapun persyaratannya, yaitu:
1. Warga Negara Indonesia (WNI), berdomisili di Indonesia
2. Usia Minimum pada saat pengajuan pembiayaan 21 tahun
3. Usia Maksimum pada saat jatuh tempo pembiayaan:
Karyawan: Maks. 60 tahun
Profesional dan pengusaha: Maks. 65 tahun
42
Pegawai Negeri Sipil: sesuai dengan peraturan yang berlaku
mengenai usia pensiun Pegawai Negeri Sipil
4. Memiliki pengalaman kerja minimum:
Karyawan: 2 tahun (termasuk pekerjaan sebelumnya)
Profesional/Pengusaha: 3 tahun dalam bidang yang sama
Persyaratan Dokumen
3 Pembiayaan Pemilikan Rumah iB Hasanah
Fasilitas Pembiayaan yang diberikan kepada perorangan untuk membeli,
membangun dan atau renovasi (termasuk ruko, rukan, apartemen dan
sejenisnya). Adapun persyaratannya, yaitu:
1. Warga Negara Indonesia (WNI), berdomisili di Indonesia
2. Usia Minimum pada saat pengajuan pembiayaan 21 tahun
3. Usia Maksimum pada saat jatuh tempo pembiayaan:
Karyawan: Maks. 60 tahun
Professional dan pengusaha: Maks. 65 tahun.
Pegawai Negeri Sipil: sesuai dengan peraturan yang berlaku
mengenai usia pensiun Pegawai Negeri Sipil
4 . Memiliki pengalaman kerja minimum:
Karyawan: 2 tahun (termasuk pekerjaan sebelumnya)
Profesional / Pengusaha: 3 tahun dalam bidang yang sama
4 Pembiayaan Kesejahteraan Pegawai (PKP) iB Hasanah
PKP adalah pembiayaan yang diberikan kepada pegawai yang memiliki
penghasilan tetap, dimana fasilitas pembiayaan dapat diberikan apabila
telah ada kerjasama antara perusahaan/lembaga/departemen dengan BNI
43
syariah. Seluruh kewajiban perusahaan dinyatakan secara jelas dalam
perjanjian antara perusahaan dan BNI syariah.
3.3.3 Jasa dan Layanan
1. Kartu ATM BNI syariah adalah kartu ATM yang diberikan kepada nasabah
tabungan dan giro perorangan, yang dapat digunakan untuk bertransaksi
baik di mesin ATM milik BNI syariah, maupun mesin ATM bank lain
anggota ATM bersama. Transaksi yang dapat dilakukan dimesin ATM bank
BNI Syariah saat ini adalah:
1. Penarikan tunai
2. Informasi saldo
3. Transfer ke rekening Bank BNI Syariah
4. Transfer ke rekening bank lain anggota ATM bersama
5. Pembayaran tagihan PLN dan zakat
Layanan ini dapat dilakukan secara 24 jam untuk memberikan kemudahan
bertransaksi bagi nasabah,meliputi:
a. BNI Syariah PPOB adalah suatu betuk kerjasama kemitraan antara
bank, biller, dan pihak ketiga lainnya dalam rangka layanan penerimaan
tagihan dan pembayaran lainnya dengan menggunakan prinsip akad
wakalah bil ujrah dengan ketentuan yang diatur dalam perjanjian
kerjasama (PKS) tersendiri antara pihak yang bekerja sama.
b. BNI Syariah Bank Garansi adalah jaminan yang diberikan oleh bank
kepada pihak ketiga penerima jaminan atas pemenuhan kewajiban
44
tertentu nasabah bank selaku pihak yang dijamin kepada pihak ketiga
dimaksud.
c. Surat Keterangan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh
bank, yang menyatakan bahwa nasabah tersebut memiliki rekening
pada bank yang dapat dipergunakan untuk mengikuti tender atau
keperluan lainnya.
d. Transfer atau Kirim Uang adalah jasa perpindahan dana dari satu
kantor cabang pembantu ke satu kantor cabang pembantu lain atau bank
lain.
e. BNI Syariah RTGS adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank
baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time.
f. Syariah Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank
tertariknya berada dalam satu wilayah kliring.
g. BNI Syariah Inkaso adalah penagihan warkat bank lain dimana bank
tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negara, hasilnya
penagihan akan dikredit ke rekening nasabah.
3.4 Struktur Organisasi dan Deskripsi Jabatan PT. Bank BNI Syariah
Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26
Februari 2017) aktivitas Bank BNI Syariah terdiri dari:
45
3.4.1 Struktur Organisasi
Sub Branch Manager
(Pemimpin KCP)
Sub Branch Service &
Operation Head
(Kepala Pelayanan &
Marketing Operasi KCP)
(Funding/Financing)
(Pemasaran
(Funding/Pembiayaan)
Teller
(Teller)
Financing Support & BO
Administration
Custumer Service
(Penunjang Pembiayaan &
Administrasi Perkantoran) (Pelayanan
Nasabah)
Collateral Appraisal
Pawn Brooking
(Penilai Jaminan)
Appraiser
(Penaksir Gadai)
Cash Office Heard
D (Kepala Kantor Kas)
Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT. Bank BNI Syariah KCP
Surapaticore
Sumber: [Link], (Maret 2017)
46
3.4.2 Deskripsi Jabatan PT. Bank BNI Syariah KCP Surapati Core
Bandung
Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26
Februari 2017) aktivitas Bank BNI Syariah terdiri dari:
1. Sub Branch Manager, Tugas utama Sub Branch Manager adalah
merencanakan, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan operasional kantor
cabang dan jaringan kantor dibawahnya. Ruang lingkup kerjanya meliputi
operasional, funding and service, financing.
2. Marketing Funding, Tugas utama Marketing Funding yaitu melaksanakan
dan mengkomunikasikan pelaksanaan funding di Kantor Cabang
Pembantu. Ruang lingkup yang dilakukan yaitu funding dan produk Rahn.
3. Marketing Financing, Tugas utamanya yaitu melaksanakan dan
mengkomunikasikan pelaksanaan financing di kantor cabang.
4. Collateral Appraisal, Tugas utamanya yaitu menjalankan aktivitas
operasional terkait dengan penilaian jaminan/agunan pembiayaan. Ruang
lingkup kerjanya yaitu, penilaian jaminan/agunan pembiayaan.
5. Branch Financing Administration and Support Head, Tugas utamanya
yaitu merencanakan, monitoring, dan evaluasi pengelolaan administrasi
pembiayaan dan unit supporting di Kantor Cabang Pembantu. Ruang
lingkup kerjanya, yaitu administrasi pembiayaan, aspek kepatuhan dan
legal operasional dalam pembiayaan, penilaian jaminan pembiayaan, MIS
dan akunting.
6. Branch Service and Operational Head, Tugas utamanya yaitu
merencanakan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan operasional di Kantor
47
Cabang Pembantu. Ruang lingkupnya yaitu melakukan pelayanan
transaksi tunai dan non tunai dan administrasi operasional dan dana jasa.
7. Teller, Aktivitas teller yaitu menjalankan aktivitas operasional melayani
nasabah dalam transaksi tunai dan non tunai serta aktivitas administrasi
operasional dan dana jasa. Ruang lingkup melakukan pelayanan transaksi
tunai dan non tunai, administrasi operasional dan dana jasa.
8. Customer Service, Tugas utama customer service yaitu melayani dan
mengelola nasabah. Ruang lingkup melakukan transaksi administrasi.
Customer service harus memberikan informasi sejelas mungkin mengenai
berbagai produk dan jasa yang ingin diketahui dan diminati nasabah atau
calon nasabah.
9. Cash Office Service And Operational Head, Tugas utamanya yaitu
merencanakan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan opeasional di Kantor
Kas. Ruang lingkup kerjanya yaitu, pelayanan transaksi tunai dan non
tunai, administrasi operasional dan dana jasa.
48
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
4.1 Hasil Praktek Kerja Lapangan
Selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan yang telah dilaksanakan di
Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core, penulis melakukan
kegiatan yang diberikan oleh pembimbing dari Bank BNI Syariah Kantor Cabang
Pembantu Surapati core. Penulis ditempatkan pada bagian Kredit Pemilikan
Rumah. Penulis belajar untuk melakukan Tinjauan Prosedur Akad Murabahah
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu
Surapati core agar dapat mengetahui apakah layak atau tidak layaknya pihak
debitur pada saat akan melakukan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
4.1.1 Tinjauan Prosedur Akad Murabahah Kredit Pemilikan Rumah Pada
PT. Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung
[Link] Persyaratan Umum
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon nasabah yang akan
melakukan pembiayaan terutama pembiayaan mengenai pemilikan rumah harus
memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan di Bank BNI Syariah. Kriteria-
kriteria tersebut, yaitu:
49
Tabel 4.1 Syarat Umum Risk Acceptance Criteria (RAC)
Syarat Umum Risk Acceptance Criteria (RAC)
1 Kewarganegaraan Warga Negara Indonesia (WNI), berdomisili di
Indonesia
2 Tipe Perorangan
3 Usia Minimum 21 Tahun
4 Usia Maksimum a. Usia pensiun karyawan maksimum 60 tahun.
sampai jatuh tempo b. Usia pensiun profesional dan pengusaha
pembiayaan Maksimal 65 tahun.
c. Usia pensiun Pegawai Negeri Sipil sesuai
dengan peraturan eksternal.
5 Pekerjaan a. Karyawan (termasuk PNS) tetap dan bukan
karyawan dalam masa percobaan.
b. Profesional
c. Pengusaha
6 Minimum masa a. Karyawan: 2 tahun (termasuk pekerjaan
kerja sebelumnya)
b. Profesional/Pengusaha: 3 tahun dalam bidang
yang sama.
7 Checking1) Positif
2)
8 Rasio Angsuran Maksimum 35% dari Take Home Pay
9 Pembiayaan yang a. Tidak sesuai dengan prinsip syariah.
dilarang b. Untuk tujian spekulasi, usaha perjudian,
pornografi, bertentangan dengan norma
kesusilaan, narkotika, pencucian uang dan sektor
usaha lainnya yang bertentangan dengan PBI dan
UU yang berlaku.
10 Pembiayan yang a. Termasuk dalam Negative List
perlu dihindari b. Termasuk dalam Daftar Hitam Bank
Indonesia (DHBI)
c. Pernah/sedang proses write off
d. Calon nasabah merupakan pemilik atau
senior manajemen dari developer.
Sumber : Buku Panduan KPR Bank BNI Syariah, Pedoman Pembiayaan
Komersial, (Maret 2017)
Note:
1. a. Diatur lebih lanjut dalam bagian checking.
b. Diatur lebih lanjut dalam rasio angsuran.
50
c. Negative List adalah daftar profesi/usaha yang harus dihindari oleh unit
bisnis dalam memberikan pembiayaan, antara lain karena telah memasuki
tahap jenuh, kurang profitable, memerlukan penanganan khusus baik
dalam proses pre booking dan post booking dan banyak menimbulkan
pembiayaan bermasalah di bank. Negative list harus di-review secara
berkala.
2. Kredit Pemilikan Rumah harus sesuai dengan dasar hukum akad
Murabahah yang dimana syaratnya Bank BNI Syariah bertindak sebagai
penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Murabahah lazimnya
dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (Bitsaman Ajil).
3. Implementasi Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah telah sesuai dengan
syarat-syarat akad Murabahah. Dapat dilihat dari landasan syariah
Murabahah adalah Fatwa DSN MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang ,
No. 10 /DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah, No. 13/DSN-MUI/XI/2000
tentang uang muka dalam Murabahah, No. 16/DSN-MUI/IX/2000 tentang
diskon dalam Murabahah.
[Link] Persyaratan Tanah Atau Bangunan/Rumah Yang Akan Dibiayai
Dengan KPR Griya iB Hasanah
a. Status Tanah
1. Telah bersertifikat (Hak Milik, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai
atas Tanah Negara).
51
2. Tidak sedang dalam sengketa/masalah, dapat dialihkan ke atas nama
calon pembeli/debitur dan ada ijin mendirikan bangunan (IMB).
b. Luas tanah dan bangunan
1. Luas tanah minimum layak untuk didirikan bangunan.
2. Luas bangunan memenuhi aspek teknis bangunan.
c. Kondisi dan lokasi rumah
1. Pada saat akad kredit, rumah dalam kondisi layak huni, dilengkapi
fasilitas listrik dan air minum yang telah berfungsi dengan baik.
2. Terletak diwilayah pemukiman sesuai RUTR yang sudah dilengkapi
dengan sarana dan prasarana lingkungan,
3. Bangunan/rumah yang akan dijadikan agunan terletak di areal yang
menurut penilaian bank maketable.
4. Untuk rumah tinggal yang berada diluar kawasan perumahan, jalan
lingkungan depan rumah yang dijadikan agunan minimum dapat
dilalui kendaraan roda 4 (empat).
[Link] Persyaratan Dokumen
Beberapa persyaratan mengenai dokumen yang perlu diperhatikan oleh
nasabah diantaranya adalah :
1. Perjanjian pembiayaan dan/atau pengikatan jaminan harus dilakukan secara
legal/hukum untuk pemilik dari agunan apakah sebagai nasabah, atau co-
signer maupun guarantor.
52
2. Setiap usulan pengajuan pemberian fasilitas pembiayaan harus berdasarkan
permohonan tertulis dari nasabah. Permohonan dari nasabah mencakup
informasi mengenai tujuan, jumlah, jangka waktu dan jenis fasilitas
pembiayaan.
3. Usulan pengajuan pemberian fasilitas pembiayaan dan penambahannya
harus menggunakan proposal pembiayaan yang berisikan struktur
pembiayaan (baik baru maupun yang existing), kewajiban saat ini, jaminan,
evaluasi resiko pembiayaan, dasar pertimbangan dan rekomendasi.
4. Setiap pengajuan proposal pembiayaan harus di tanda tangani oleh
karyawan yang ditunjuk untuk kemudian disetujui oleh karyawan yang
berwenang.
5. Pemberian pembiayaan wajib didukung dengan pemenuhan persyaratan
dan dokumentasi pembiayaan yang diperlukan.
Beberapa persyaratan mengenai dokumen yang perlu dipersiapkan oleh
nasabah diantaranya adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Persyaratan Dokumen
53
Dokumen Karyawan Wiraswasta Professional
Aplikasi yang diisi lengkap dan
ditandatangani oleh nasabah
Fotokopi KTP Pemohon Suami
Istri yang masih berlaku atau resi
perpanjangan KTP yang
dilengkapi dengan KTP lamadan
suratpernyataan bahwa alamat
dan
tandatangan sesuai dengan KTP
baru
Fotokopi Kartu Keluarga
Fotokopi Kutipan Akta Nikah /
KutipanAkta Cerai / Surat
Keterangankematian pasangan /
Perjanjian Pisahharta jika ada.
Fotokopi surat kewarganegaraan
WNI/SKBRI (Surat Keterangan
Berkewarganegaraan Republik
Indonesia) dan surat Perubahan
nama dari suami-istri (untuk
WNI keturunan) apabila
diperlukan.
Surat Persetujuan Pasangan
Suami/Istri
Fotokopi NPWP/SPT PPH 21
Slip Gaji terakhir / Surat
KeteranganGaji
Laporan Keuangan
Fotokopi Surat Ijin Praktek / Ijin
Operasi
Surat Keterangan Bekerja
54
dariperusahaan
Dokumen asli atau fotokopi
Sumber: Buku Panduan KPR BNI Syariah, Pedoman Kredit Pemilikan
Rumah Griya ib Hasanah, (Maret 2017)
[Link] Mekanisme Pengajuan KPR dan Proses Evaluasi KPR
Mekanisme pengajuan KPR untuk pembangunan rumah dan renovasi
dilakukan dengan kewenangan pemberian pembiayaan, yaitu sebagai berikut:
Pengajuan Pembiayaan
Pengisian Form & Dokumen
Tidak Lolos
Ditolak
BI Checking
Lolos
On The Spot (OTS)
Tidak Layak
Tolak
Analisa Pembiayaan
Pemutusan Pembiayaan /SP3
Tidak Bisa
Dipenuhi
Pemenuhan Syarat SP3 batal
1. Penandatanganan Akad
2. Pengikatan Jaminan
3. Pencairan Pembiayaan
55
Gambar 4.1 Mekanisme pengajuan KPR (Maret 2017)
Sumber: Buku Panduan KPR BNI Syariah, Pedoman Pembiayaan
Komersil (Maret 2017)
Keterangan:
1. Tahap Pengajuan Pembiayaan
Pengisian Formulir Aplikasi. Calon debitur mengajukan permohonan
KPR dengan mengisi formulir aplikasi permohonan KPR Griya iB
Hasanah Bank BNI Syariah dan menyampaikan berkas persyaratan
lainnya.
Diberikan sosialisasi/Penjelasan Calon debitur diberikan sosialisasi
mengenai KPR Griya iB Hasanah Bank BNI Syariah yang meliputi :
Tujuan Penggunaan KPR, Jangka waktu, margin yang akan disepakati,
Dana yang harus tersedia di tabungan Bank BNI Syariah sebelum realisasi
KPR.
Untuk calon nasabah yang telah memenuhi syarat dapat menyerahkan
formulir beserta data-data yang diperlukan ke bagian customer service.
Petugas customer service akan menyerahkan ke bagian pembiayaan untuk
dimasukkan ke dalam register pembiayaan sebelum diserahkan kembali
kepada Pimpinan Cabang Pembantu. Pimpinan KCP akan menerima
berkas permohonan dan menganalisa dari berbagai aspek yang mendung,
selanjutnya akan mendisposisikan kepada divisi marketing kemana berkas
tersebut akan ditangani.
2. Checking
56
Bank Checking dilakukan kepada calon nasabah maupun pasangan yang
dinikahinya seperti istri/suami [Link] hal pembiayaan dijamin
oleh pihak ketiga (berupa Personal Guarantee atau Corporate Guarantee),
pihak ketiga yang memberikan jaminan harus dilakukan Bank checking
maupun evaluasi dan verifikasi pendapatan dengan mengikuti
[Link] Checking tersebut, yaitu;
a. Berlaku untuk calon nasabah dan pasangannya (jika merupakan joint
income/penggabungan pendapatan). Apabila pasangan kawin bukan
merupakan join income, maka hasil checking merupakan informasi
pelengkap bagi Komite Pembiayaan.
b. Dianggap positif apabila status calon nasabah dan pasangannya (jika
merupakan join income / penggabungan pendapatan) adalah
Kolektibilitas
c. Untuk calon nasabah dan pasangannya (jika merupakan join income /
penggabungan pendapatan) dengan pemilikan kartu kredit dimana hasil
checking dengan hari tunggak melebihi 30 hari (kolektibilitas 2,3,4,5)
yang disebabkan oleh annual fee, hasil checking dianggap positif.
d. Apabila data pada Laporan menunjukkan informasi yang
membingungkan (klasifikasi status kolektibilitas suatu pembiayaan
tidak sesuai dengan jumlah hari tunggak yang sesuai dengan ketentuan
BI), maka data yang digunakan adalah yang terburuk antara status
kolektibilitas dan hari tunggak.
3. On The Spot
57
Dalam tahap ini pihak bank akan melakukan analisa mengenai penggalian
informasi lebih dalam melalui kunjungan langsung kepada nasabah
mengenai kebenaran dari data yang telah diserahkan kepada bank.
4. Analisa Pembiayaan
Pada tahap ini para analisis pembiayaan mengevaluasi dan menentukan
keotentikan dokumen-dokumen yang diperoleh dari nasabah. Berbagai
data dan informasi dari pernyataan yang telah lengkap dikumpulkan,
diolah dan diarsipkan oleh para analisis yang kemudian akan dilegalisir
oleh pimpinan untuk dapat dilakukan realisasi perincian pembiayaan.
5. Pemutusan Pembiayaan
Pemutusan pembiayaan adalah tahap diputuskannya persetujuan suatu
permohonan oleh pimpinan. Selanjutnya dilakukan pembuatan surat
penegasan persetujuan kepada pemohon pembiayaan (SP3).
6. Pemenuhan Syarat SP3
Pemenuhan syarat SP3 yaitu tahap pemenuhan dokumen-dokumen terkait
pembiayaan secara menyeluruh untuk disimpan oleh bank seperti:
dokumen legalitas dan permohonan, dokumen analisis pembiayaan,
dokumen persetujuan pembiayaan, dokumen akad pembiayaan dan berkas-
berkas yang terlampir, dokumen jaminan dan pengikatan, dan dokumen
asuransi.
7. Realisasi Pembiayaan
58
Realisasi pembiayaan adalah tahap pencairan pembiayaan setelah seluruh
persyaratan dipenuhi dan dokumen jaminan diserahkan kepada bank.
8. Pelaksanaan Kewajiban
Tahapan ini yaitu mengenai pembiayaan telah menjadi nasabah bank dan
mempunyai kewajiban untuk membayar angsuran atas pembiayaan yang
diterimanya.
[Link] Perhitungan Pendapatan
Joint Income (pendapatan gabungan) diperbolehkan dengan pasangan
(Suami/Istri). Apabila calon nasabah memiliki lebih dari satu sumber pendapatan
(FI / NFI) atau gabungan pendapatan FI dan NFI. Evaluasi pendapatan dilakukan
terhadap seluruh sumber, baik gabungan pribadi maupun gabungan pendapatan
dengan pasangan kawin.
a. Karyawan: Pendapatan bersih harus memperhitungkan gaji pokok dan
tunjangan tetap (seperti tunjangan makan dan transportasi, dll) setelah
dikurangi pajak (Net Take Home Pay). Pendapatan bersih tidak termasuk
lembur, bonus, komisi, insentif ataupun tunjangan lain yang bersifat tidak
tetap dan bila bersifat rutin maka diambil nilai yang terendah.
b. Pengusaha dan Profesional: Metode perhitungan pendapatan diatur lebih
lanjut dalam petunjuk pelaksanaan yang akan dikeluarkan oleh Bagian
Pengembangan Produk.
59
[Link] Verifikasi & Investigasi
Tujuan dari bagian ini adalah untuk memberikan pedoman untuk aktivitas
verifikasi dan investigasipada proses aplikasi PPR, dimana informasi calon
nasabah diverifikasi kekantor dan rumah. Verifikasi, Investigasi dan Penyelidikan
juga dilakukan terhadap pasangan kawin yang merupakan joint income.
a. Verifikasi melalui Telepon, Verifikasi melalui telepon ke rumah dan
kantor wajib dilakukan untukverifikasi atas eksistensi calon nasabah
dan informasi [Link] aplikasi joint income, maka
verifikasi melalui telepon ke kantor juga wajib dilakukan untuk
pasangan nasabah.
Verifikasi melalui telepon ke kantor wajib dilakukan kepada pihak
yang berwenang di kantor tersebut (Personalia / Supervisor / Finance).
Untuk Verifikasi melalui telepon ke rumah, pihak yang dianggap
berwenang adalah setiap orang dewasa yang dapat memberikan
informasi mengenai calon nasabah.
Semua informasi yang diperoleh harus divalidasi dengan informasi
dari sumber yang lain (seperti formulir aplikasi, dokumen pendapatan,
KTP dan dokumen persyaratan lainnya).
Verifikasi melalui telepon akan dianggap positif apabila infomasi
penting minimum yang disyaratkan (seperti eksistensi calon nasabah,
gaji danlama bekerja) telah terpenuhi dan informasi yang positif
diperoleh dari pihak yang berwenang.
b. Investigasi Lapangan dan Penyelidikan, Investigasi Lapangan yang
dilakukan baik melalui rumah, kantor dan lain-lain. Investigasi ke
60
rumah calon nasabah penting untuk verifikasi eksistensi calon nasabah
dan wajib dilakukan apabila verifikasi melalui telepon ke rumah tidak
memuaskan. Investigasi ke kantor tidak wajib dilakukan untuk
karyawan yang bekerja pada perusahaan dengan kriteria berikut;
Perusahaan Multinational, BUMN dengan lingkup Nasional, dan
Perusahaan Go Public.
Apabila Verifikasi melalui telepon ke kantor tidak memuaskan,
maka Investigasi ke kantor wajib dilakukan untuk setiap jenis
pekerjaan. Investigasi Jual-beli untuk Pembiayaan Pembelian Properti
Bekas dilakukan meliputi:
- Apakah properti benar akan dijual
- Berapa nilai transaksi yang ditawarkan
- Latar Belakang rumah tersebut dijual
- Kapan penjual siap mengosongkan rumah
Semua informasi yang diperoleh harus divalidasi dengan informasi
dari sumber yang lain (seperti formulir aplikasi, dokumen pendapatan,
KTP dan dokumen persyaratan lainnya).
Investigasi dan penyelidikan dianggap positif dan dapat dilanjutkan
ketahap berikutnya, apabila informasi penting minimum yang
disyaratkan (seperti eksistensi calon nasabah, gaji dan lama bekerja)
telah terpenuhi dan informasi yang positif diperoleh dari pihak yang
berwenang.
61
[Link] Agunan Pembiayaan
Agunan yang dapat diterima oleh bank adalah agunan dengan pemilikan atas
nama nasabah atau pasangan kawin atau anak. Agunan atas nama pasangan kawin
atau anak tersebut didukung oleh dokumentasi legal yang dapat mengcover
kepentingan bank.
Agunan dapat berlaku cross collateral atau satu agunan dapat mengcover dua
fasilitas pembiayaan sepanjang memenuhi ketentuan collateral coverage dan hal
tersebut harus didukung oleh dokumentasi legal yang dapat mengcover
kepentingan Bank. Sebelum agunan pembiayaan diterima oleh Bank, harus
diyakinkan keaslian bukti Pemilikannya dengan pengecekan ke instansi terkait.
Nilai appraisal bank adalah nilai pasar wajar (fair market value). Hak atas
tanah dan/atau bangunan dapat berupa Hak Milik (HM) atau Hak Guna Bangunan
(HGB) atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun (HMSRS) khusus untuk
apartemen. Sertifikat HGB harus memiliki jangka waktu minimal satu tahun lebih
panjang dari jatuh tempo fasilitas pembiayaan. Khusus untuk developer kerjasama
yang sertifikatnya belum pecah harus melampirkan covernote dari Notaris/
developer kerjasama.
Pengikatan agunan berupa tanah dan/atau bangunan, berlaku ketentuan :
Pengikatan agunan harus dilakukan secara Hak Tanggungan (HT)
Pengikatan agunan untuk tanah dengan status Pemilikan HM dan HGB
dapat dilakukan secara SKMHT, khusus untuk kondisi sesuai ketentuan
perundangan yang berlaku. Agunan dengan pengikatan SKMHT harus
dilakukan pencadangan biaya untuk pengikatan HT, besarnya biaya
ditentukan oleh group terkait.
62
Kredit Pemilikan Rumah harus sesuai dengan dasar hukum akad
Murabahah yang dimana syaratnya Bank BNI Syariah bertindak
sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Murabahah
lazimnya dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (Bitsaman Ajil).
Implementasi Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah telah sesuai dengan
syarat-syarat akad Murabahah. Dapat dilihat dari landasan syariah
Murabahah adalah Fatwa DSN MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000
tentang , No. 10 /DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah, No. 13/DSN-
MUI/XI/2000 tentang uang muka dalam Murabahah, No. 16/DSN-
MUI/IX/2000 tentang diskon dalam Murabahah.
4.1.2 Hambatan Dan Solusi Pada Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan
Praktek kerja lapangan yang dilaksanakan oleh penulis sesuai dengan
konsentrasi yang penulis ambil yaitu Manajemen Perbankan Syariah. Praktek
kerja lapangan ini dilaksanakan selama 25 hari kerja, terhitung mulai tanggal 06
Februari sampai dengan 10 Maret 2017, Ada hambatan yang dihadapi penulis
selama Kegiatan Praktek Kerja Lapangan di Bank BNI Syariah kantor Cabang
Pembantu Surapati Core Bandung, akan tetapi penulis dapat memberikan solusi
terhadap hambatan-hambatan tersebut dikarenakan penulis banyak sekali
melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Kredit Pemilikan Rumah
(KPR) atau melakukan kegiatan-kegiatan yang membantu prosedur aktivitas
Bank.
63
4.2 Pembahasan Praktek Kerja Lapangan
4.2.1 Pembahasan Penerapan Teori dengan Prosedur Prosedur Akad
Murabahah Griya iB Hasanah
BNI Syariah KPR Syariah ( Griya iB Hasanah ) adalah fasilitas pembiayaan
konsumtif yang diberikan kepada anggota konsumtif yang diberikan kepada
anggota masyarakat untuk membeli, membangun, merenovasi rumah (termasuk
ruko, rusun, rukan, apartemen dan sejenisnya), dan membeli tanah kavling serta
rumah indent, yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan dan
kemampuan membayar kembali masing-masing calon.
Keunggulan :
1. Proses lebih cepat dengan persyaratan yang mudah sesuai dengan
prinsip syariah.
2. Minimal pembiayaan Rp. 25.000.000,- dan maksimum
Rp.[Link],-
3. Jangka waktu pembiayaan sampai dengan 15 tahun kecuali untuk
pembelian kavling maksimal 10 tahun atau disesuaikan dengan
kemampuan pembayaran.
4. Uang muka ringan yang dikaitkan dengan penggunaan pembiayaan.
5. Angsuran tetap tidak berubah sampai lunas
6. Pembayaran angsuran melalui debet rekening secara otomatis atau
dapat dilakukan diseluruh Kantor Canbang BNI Syariah maupun BNI
Konvensional.
Akad : Murabahah
Ketentuan Biaya :
64
1 Asuransi : Jiwa dan Kerugian
2 Notaris, Materai, dll : sesuai ketentuan yang berlaku
3 Prosedur Penerapan pembiayaan Griya iB Hasanah pada Bank BNI
Syariah Cabang Surapati Core adalah pada saat nasabah ingin membeli
rumah pada developer atau individual tetapi nasabah kekurangan dana
maka nasabah datang ke BNI Syariah untuk pengajuan pembiayaan
untuk pembelian rumah.
Prosedur nasabah mengajukan pembiayaan pada Bank BNI Syariah adalah :
1. Persyaratan dokumen-dokumen
2. Setelah melengkapi dokumen-dokumen marketing akan mengumpulkan
dokumen-dokumen tersebut, maka dari pihak marketing akan
mendatangi rumah nasabah dan menanyakan syarat-syarat yang sudah
diberikan kepada marketing.
3. Sesudah marketing melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya,
selanjunya akan diberikan kepada bidang procesing. Yang dilakukan
pihak procesing adalah memverifikasi data-data dan jaminan yang di
ajukan nasabah apakah sudah memenuhi syarat yang ada di BNI
Syariah Cabang Pembantu Surapati Core dan melakukan transaksi pada
jaminan yang akan di ajukan.
4. Proses selanjutnya setelah sampai procesing maka dokumen-dokumen
itu belum selesai dan masih harus disampaikan ke pimpinan cabang
pembantu, setelah pimpinan cabang pembantu memutuskan
persyaratannya sudah memenuhi syarat maka pimpinan cabang
menyetujui pengajuan untuk pembelian rumah tersebut.
65
5. Setelah pimpinan cabang memutuskan penyetujuan itu operasional
service head akan menindak lanjuti dokumen-dokumen tersebut dan
akan melakukan pencairan.
6. Proses Penaksiran jaminan pada pembiayaan Griya iB Hasanah adalah
nilai transaksi yang di ajukan pada pihak nasabah ke pihak bank yang
selanjutnya akan direalisasikan oleh bank tetapi pihak bank akan
memberikan pembiayaan 80% dampai 90% dari biaya yang di ajukan
oleh nasabah dari pihak bank tidak memberikan pembiayaan 100%
karena sifatnya membantu.
Contoh penaksiran jaminan :
Pak Ambang mengajukan pembiayaan 100.000.000 dimana
keperluan bapak Ambang adalah untuk pembelian rumah,
perhitungan transaksinya adalah :
100.000.000 x 20% = 80.000.000
Maka pembiayaan yang diberikan kepada bapak Ambang adalah
80.000.000,-
7. Cara perhitungan Pembiayaan pada Bank BNI Syariah pada
pembiayaan Griya iB Hasanah. Dapat dicontohkan sebagai berikut, Ibu
Putri akan mengajukan pembiayaan untuk pembelian rumah yang
berada di daerah Cicaheum dengan harga rumah 300.000.000,
maksimum pembiayaan (90%) = 270.000.000, margin berlaku : asumsi
10% (flat), dimana pembiayaan itu akan di angsur selama 15 tahun,
maka perhitungannya adalah :
66
Margin pembiayaan
Pokok pembiayaan x 10% x 15 tahun = Margin
270.000.000 x 10% x 15 tahun = 405.000.000
Perhitungan angsuran
Pokok pembiyaan + Margin = 270.000.000 + 405.000.000 =
675.000.000
Angsuran perbulan = 675.000.000 : (12 bulan x 15 tahun ) =
3.750.000
Maka Ibu Putri akan mengangsur setiap bulan di BNI Syariah
Cabang Pembantu Surapati Core yaitu 3.750.000
4.2.2 Pembahasan Hambatan dan Solusi dalam Proses Kredit Pemilikan
Rumah ( KPR) dikaitkan antara Teori dengan Pelaksanaan
[Link] Pembahasan Hambatan Dalam Proses KPR Dikaitkan Dengan Teori
dan Pelaksanaan
Hambatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:385) merupakan
halangan atau rintangan. Hambatan memiliki arti yang sangat penting dalam
setiap melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan. Suatu tugas atau pekerjaan tidak
akan terlaksana apabila terdapat suatu hambatan yang mengganggu pekerjaan
tersebut. Hambatan merupakan keadaan yang dapat menyebabkan pelaksanaan
terganggu dan tidak terlaksana dengan baik. Adapun hambatan yang dihadapi
dikaitkan dengan teori dan pelaksanaannya, diantaranya:
67
1) Untuk pembiayaan konsumtif seperti KPR Griya iB Hasanah ini
diperlukan data yang menggambarkan kemampuan nasabah untuk
membayar pembiayaan dari penghasilan tetapnya. Tetapi pada
pelaksanaannya Calon nasabah menginginkan plafond yang lebih tinggi
dari jumlah plafond yang ditentukan oleh pihak bank. Hal ini menjadi
salah satu hambatan dalam KPR karena pendapataan calon nasabah
yang tidak memungknkan jika menginginkan plafond yang lebih tinggi.
2) Nasabah yang menginginkan KPR tetapi belum melunasi pembiayaan
di bank lain. Sedangkan calon nasabah tersebut tidak memiliki
penghasilan lain.
3) Tidak efesiennya waktu pada saat Customer Service menjelaskan segala
macam tentang kredit pemilikan rumah dengan sangat cepat sehingga
calon nasabah tidak memahami apa yang dijelaskan oleh Customer
Service.
Hambatan yang dialami oleh nasabah dalam proses pengajuan Kredit
Pemilikan Rumah pada Bank BNI Syariah KCP Surapati Core telah sesuai
dengan solusi yang ada.
[Link] Solusi Yang Dilakukan Untuk Mengatasi Hambatan Dalam Proses
KPR yang Dikaitkan Denngan Teori dan Pelaksanaan
Solusi adalah jalan keluar atau jawaban dari suatu masalah (Munif
Chatib :2011). Dalam mengatasi hambatan-hambatan dalam Kredit Pemilikan
68
Rumah pada Bank BNI Syariah Penulis Memiliki solusi untuk mengatasi
hambatan tersebut yang dikaitkan dengan teori pelaksanaanya, diantaranya :
1) Calon nasabah harus memiliki tambahan penghasilan yang lain agar
dapat mengajukan plafond yang lebih tinggi dan mengajukan kembali
kepada pimpinan seksi administrasi pembiayaan untuk tindak lanjut.
2) Calon nasabah harus melunasi pembiayaan yang sebelumnya, untuk
dapat mengajukan KPR..
3) Pihak bank sebaiknya memberikan pelatihan secara berkala kepada
Customer Service di tiap bulannya agar Customer Service mampu
memberikan informasi yang jelas kepada calon nasabah.
Solusi yang dilakukan untuk mengatasi hambatan yang ada pada proses
pengajuan Kredir Pemilikan Rumah (KPR) pada Bank BNI Syariah KCP
Surapati Core telah sesuai dengan teori pada pelaksanaannya.
4.3 Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan
Prosedur menurut Mulyadi (2008:8), diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Prosedur menunjang tercapainya tujuan organisasi.
b. Prosedur mampu menciptakan adanya pengawasan yang baik dan
menggunakan biaya yang seminimal mungkin.
c. Prosedur menunjukan urutan – urutan yang logis dan sederhana.
d. Prosedur menunjukan adanya penetapan keputusan dan tanggung
jawab.
69
Berdasarkan teori menurut Mulyadi tentang karakteristik prosedur menunjukan
bahwa prosedur yang dilakukan PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu
Surapati Core. terkait dengan prosedur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sudah
sesuai dengan teori dimana salah satu yang dikemukakan adalah pada point C
yaitu, prosedur menunjukan urutan-urutan yang logis dan sederhana.
Selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan yang telah dilaksanakan di
Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core, penulis melakukan
kegiatan yang diberikan oleh pembimbing dari Bank BNI Syariah Kantor Cabang
Pembantu Surapati Core. Penulis ditempatkan pada bagian Kredit Pemilikan
Rumah sehingga penulis melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan
Kredit Pemilikan Rumah. Adapun kegiatan atau aktivitas yang penulis lakukan
selama penulis melakukan Praktik Kerja Lapangan adalah sebagai berikut :
1) Memeriksa kelengkapan persyaratan kredit.
2) Menyiapkan berkas kredit.
3) Melakukan input data debitur
4) Memberi stempel pada lembar-lembar persyaratan kredit yang
diantaranya fotocopy KTP, Kartu Keluarga, Akta Nikah, Perjanjian
(PK) dan lain-lain.
5) Membantu petugas bagian Kredit Pemilikan Rumah.
Dalam pelaksanaan kerja praktek di Bank BNI Syariah Kantor Cabang
Pembantu Surapati Core Bandung pertama kalinya diberikan gambaran umum
perusahaan serta ruang lingkup yang ada di dalamnya, terutama kegiatan
operasional yang dijalankan perusahaan. Selain itu juga melakukan tanya jawab
dalam bentuk wawancara dengan pembimbing maupun para karyawan yang lain
70
untuk menambah pengetahuan seputar apa saja yang berhubungan dengan
kegiatan operasional Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core
Bandung.
71
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan mengenai Tinjauan Prosedur Akad Murabahah
Kredit Pemilikan Rumah Pada PT. Bank BNI Syariah KCP Surapati Core
Bandung, maka penulis dapat menarik kesimpulan :
1) Prosedur pemberian Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah pada Bank
BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core Bandung antara
lain pemeriksaan, persyaratan umum, perlengkapan dokumen,
kelengkapan data, pengelolaan, analisa data yang telah diperoleh oleh
analis kredit, pengecekan kembali kelengkapan administratif oleh
admin, apabila telah disetujui dilakukan pencairan kredit dan evaluasi
oleh Account Officer.
2) Hambatan yang sering terjadi pada saat prosedur pengajuan kredit
antara lain ialah : Keterlambatan pemberian aplikasi pengajuan kredit
dan Kurang pahamnya nasabah dengan ketentuan yang berlaku.
Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang
terjad ialah : Memberikan batasan waktu tambahan bagi para nasabah
yang akan memberikan aplikasi pemberian kredit. Sehingga nasabah
dapa tmempersiapkan dokumennya dengan sesuai dan benar serta
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan Meningkatkan
communication skill para petugas yang berhubungan langsung dengan
72
pemberian informasi kepada calon nasabah, sehingga calon nasabah
dapat menerima informasi secara jelas mengenai ketentuan kredit yang
berlaku sehingga akan mudah dipahami oleh nasabah.
5.2 Saran
Dalam kesempatan ini, penulis tanpa menguarangi rasa hormat akan
memberikan saran dengan tujuan dapat menjadi masukan bagi karyawan untuk
meningkatan kualitas pelayanan dan produktivitas kerja mereka. Saran yang
penulis berikan kepada Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati
Core Bandung adalah :
1) Produk Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah pada Bank BNI Syariah
Kantor Cabang Pembantu Surapati Core sudah memiliki kualitas yang
baik, namun dapat ditingkatkan lagi kualitas dan sosialisasi tentang
produk Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah.
2) Prosedur pemberian Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah Bank BNI
Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core sudah baik, namun
product knowledge yang dimiliki oleh Customer Service harus
ditingkatkan, sehingga penjelasan tentang Kredit Pemilikan Rumah iB
Hasanah dapat lebih jelas.
DAFTAR ISI
73
BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang................................................................................................1
1.2 Maksud dan Tujuan........................................................................................4
1.2.1 Maksud.......................................................................................................4
1.2.2 Tujuan.........................................................................................................5
1.3 Kegunaan Praktek Kerja Lapangan.................................................................5
1.4 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan.......................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................7
2.1 Tinjauan Umum Tentang Bank.......................................................................7
2.1.1 Pengertian Bank.........................................................................................7
2.1.2 Asas, Fungsi dan Tujuan Bank.....................................................................8
2.1.3 Jenis Bank...................................................................................................9
2.1.4 Bank Umum Kovensional..........................................................................13
[Link] Kegiatan Operasional Bank Konvensional.............................................13
2.1.5 Bank Umum Syariah.................................................................................14
[Link] Pengertian Bank Syariah.......................................................................15
[Link] Tujuan Bank Syariah.............................................................................15
[Link] Ciri-Ciri Bank Syariah.............................................................................17
[Link] Karakteristik Bank Syariah....................................................................18
2.1.6 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional.....................................19
2.2 Tinjauan Umum tentang Kredit Pemilikan Rumah (KPR)..............................21
2.2.1 Kredit Pemilikan Rumah (KPR)..................................................................22
2.2.2 Kredit Pemilikan Rumah ( KPR) iB.............................................................23
[Link] Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah..................................25
[Link] Ketentuan Umum Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah....27
[Link] Tujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah......................28
[Link] Jenis KPR Griya iB Hasanah...................................................................28
2.3 Tinjauan Umum Pembiayaan........................................................................29
2.3.1 Pengertian Pembiayaan............................................................................29
2.3.2 Fungsi Pembiayaan...................................................................................30
2.3.3 Murabahah...............................................................................................31
[Link] Pengertian Murabahah........................................................................31
74
[Link] Landasan Hukum Murabahah..............................................................33
[Link] Al-Hadist...............................................................................................33
[Link] Landasan syariah Murabahah...............................................................34
[Link] Syarat dan Rukun Murabahah..............................................................35
[Link] Mekanisme Pembiayaan Murabahah...................................................36
BAB III GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN................................... 38
.........................................................................................................................................38
GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN..............................................38
3.1 Sejarah Berdirinya PT. Bank BNI Syariah.......................................................38
3.2 Visi dan Misi Bank BNI Syariah......................................................................39
3.3 Aktivitas di Bank BNI Syariah terkait dengan Produk dan Jasa.....................40
3.3.1 Produk Pendanaan...................................................................................40
3.3.2 Produk Pembiayaan..................................................................................41
3.3.3 Jasa dan Layanan......................................................................................44
3.4 Struktur Organisasi dan Deskripsi Jabatan PT. Bank BNI Syariah.................45
3.4.1 Struktur Organisasi...................................................................................46
3.4.2 Deskripsi Jabatan PT. Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung........47
BAB IV..............................................................................................................................49
HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN...................................................49
4.1 Hasil Praktek Kerja Lapangan.......................................................................49
4.1.1 Tinjauan Prosedur Akad Murabahah Kredit Pemilikan Rumah Pada PT.
Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung..........................................................49
[Link] Persyaratan Umum...............................................................................49
[Link] Persyaratan Tanah Atau Bangunan/Rumah Yang Akan Dibiayai Dengan
KPR Griya iB Hasanah...........................................................................................51
[Link] Persyaratan Dokumen..............................................................................52
[Link] Mekanisme Pengajuan KPR dan Proses Evaluasi KPR...............................56
[Link] Perhitungan Pendapatan..........................................................................60
[Link] Verifikasi & Investigasi..............................................................................60
[Link] Agunan Pembiayaan.................................................................................62
4.1.2 Hambatan Dan Solusi Pada Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan............64
4.2 Pembahasan Praktek Kerja Lapangan...........................................................65
75
4.2.1 Pembahasan Penerapan Teori dengan Prosedur Prosedur Akad
Murabahah Griya iB Hasanah..................................................................................65
4.2.2 Pembahasan Hambatan dan Solusi dalam Proses Kredit Pemilikan Rumah
( KPR) dikaitkan antara Teori dengan Pelaksanaan...................................................68
[Link] Pembahasan Hambatan Dalam Proses KPR Dikaitkan Dengan Teori dan
Pelaksanaan.........................................................................................................68
[Link] Solusi Yang Dilakukan Untuk Mengatasi Hambatan Dalam Proses KPR
yang Dikaitkan Denngan Teori dan Pelaksanaan..................................................69
4.3 Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan............................................................70
BAB V...............................................................................................................................73
KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................................73
5.1 Kesimpulan...................................................................................................73
5.2 Saran............................................................................................................74
76