0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan76 halaman

Prosedur KPR di Bank BNI Syariah Bandung

Dokumen ini membahas pentingnya perumahan sebagai kebutuhan dasar manusia dan tantangan dalam penyediaannya, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. PT. Bank BNI Syariah menawarkan produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan perumahan, meskipun terdapat kendala dalam proses pengajuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prosedur KPR dan solusi atas kendala yang dihadapi di Bank BNI Syariah KCP Surapati Core.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan76 halaman

Prosedur KPR di Bank BNI Syariah Bandung

Dokumen ini membahas pentingnya perumahan sebagai kebutuhan dasar manusia dan tantangan dalam penyediaannya, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. PT. Bank BNI Syariah menawarkan produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan perumahan, meskipun terdapat kendala dalam proses pengajuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prosedur KPR dan solusi atas kendala yang dihadapi di Bank BNI Syariah KCP Surapati Core.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia. Pada tahap yang paling

sederhana, orientasi pemenuhan kebutuhan akan perumahan bertujuan untuk

memiliki tempat berlindung dari panas dan hujan. Pada tahap yang lebih tinggi,

perumahan menjadi kebutuhan untuk mencerminkan aktualisasi diri. Dilihat dari

statistik data pada orientasi kebutuhan akan perumahan bergantung pada kondisi

sosial ekonomi masing-masing individu. Dewasa ini kebutuhan akan perumahan

semakin meningkat karena pertumbuhan penduduk yang sangat pesat.

Namun kebutuhan tersebut tidak dapat diimbangi dengan penyediaan jumlah

rumah yang memadai. Akibat yang muncul adalah harga rumah selalu tinggi

sehingga menimbulkan keterbatasan pada masyarakat dalam rangka memiliki

sebuah rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang

mengalami keterbatasan dengan segi pembiayaan, kebutuhan masyarakat yang

semakin meningkat sering sekali tidak bisa menutupi kebutuhan hidupnya,

sedangkan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai sesuatu yang diinginkan

terbatas. Hal tersebut menyebabkan manusia memerlukan bantuan untuk

memenuhi cita-citanya.

Meninjau dari program pembangunan dalam bidang ekonomi di Indonesia,

memulai sejak tahun 1970-an dan menunjukan perkembangan yang sangat pesat

sejak tahun 1980-an. Sejak saat itu pemerintah berusaha menghidupkan aktivitas

1
perekonomian masyarakat kearah yang lebih produktif guna mencapai

peningkatan taraf hidup yang sejahtera.

Salah satu usaha yang dilakukan adalah melalui pemberian pinjaman oleh

bank. Bank memberikan fasilitas kredit kepemilikan rumah untuk masyarakat

yang ingin membeli sebidang tanah beserta bangunannya. Hal tersebut digunakan

PT. Bank BNI Syariah dengan produk Griya iB Hasanah kepada masyarakat guna

memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai tempat tinggal masyarakat yang belum

memiliki rumah atau kekurangan dana dapat memperoleh rumah idaman melalui

kredit kepemilikan rumah.

Kebutuhan akan perumahan terus meningkat setiap tahunnya dari berbagai

strata sosial masyarakat, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk.

Perumahan merupakan kebutuhan primer setelah sandang dan pangan, sehingga

tipe apapun yang akan ditawarkan selalu ada peminatnya. Berdasarkan animo

masyarakat tersebut diatas menjadikan perbankan syariah lebih agresif dalam

menawarkan kredit kepemilikan rumah, apartemen, rumah kantor (rukan) dan

rumah toko (ruko). Untuk menentukan pilihan bank mana yang akan dijadikan

untuk partner pembiayaan rumah, maka bank harus menyediakan informasi yang

lengkap dan akurat. Dengan adanya informasi yang lengkap dari bank itu,

menjadikan masyarakat banyak pilihan.

Dengan adanya salah satu produk perbankan syariah yaitu kredit Pemilikan

rumah (KPR) masyarakat akan mendapatkan keringanan pembiayaan perumahan,

baik untuk membeli maupun untuk membangun sendiri atau memperbaiki

rumahnya. PT. Bank BNI Syariah menawarkan fasilitas kredit perumahan yang

baik sebagai solusi dari kendala-kendala yang ada.

2
Adapun permasalahan dan kendala yang terjadi di KCP Surapati Core, yang

ditemukan seperti :

Tabel 1.1

Permasalahan dan Kendala KPR iB KCP Surapati Core

Permasalahan dan Kendala KPR iB KCP Surapati Core

[Link] tidak memenuhi persyaratan sebagai


berikut :
a. Nasabah belum memiliki NPWP
b. KTP sudah tidak berlaku lagi atau belum di
perpanjang
c. Kartu Keluarga belum diperbaharui
d. Belum memiliki rekening tabungan Bank
BNI syariah
Masalah dari pihak
[Link] nasabah menginginkan plafond yang lebih
nasabah tinggi dari jumlah plafond yang ditentukan oleh
pihak bank. Hal tersebut terkadang dapat
membuat calon nasabah mengurungkan niatnya
untuk melakukan KPR.

[Link] saat pengajuan KPR, terkadang calon


nasabah masih memiliki hutang/tunggakan pada
bank lain.

[Link] pengajuan KPR memiliki alur yang cukup


panjang dan menekan waktu yang cukup lama
biasanya (20-31 hari kerja). Hal tersebut
terkadang membuat calon nasabah memutuskan
untuk menghentikan proses pengajuan KPR pada
Bank BNI Syariah.
Masalah dari pihak bank
[Link] efektifnya waktu pada saat Customer
Service menjelaskan segala macam tentang KPR
kepada calon nasabah tersebut. Kadang terlalu
cepat sehingga calon nasabah tidak memahami
betul apa yang dijelaskan. Biasanya terjadi pada
calon nasabah yang masih awam.

Sumber : Bank BNI Syariah KCP Surapati Core, Pedoman Pembiayaan

Komersial, ( Februari 2017)

3
Yang menjadi pembahasan dalam penulisan hasil praktek kerja lapangan ini

adalah apa aja prosedur dalam pengajuan kredit kepemilikan rumah dan upaya-

upaya dalam mengatasi hambatan yang terjadi, sehingga tidak ada pihak yang

dirugikan. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang diberikan oleh pihak bank

sangatlah penting bagi nasabah yang ingin membeli suatu bidang tanah dan

bangunan, tetapi pihak bank juga harus dapat memberikan solusi terbaik kepada

nasabah apabila nasabahnya tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya

sebagaimana yang telah disepakati kedua belah pihak.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian

tentang Sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR), khususnya di PT. Bank BNI

Syariah KCP Surapati Core, dengan mengambil judul “Tinjauan Prosedur Akad

Murabahah Kredit Pemilikan Rumah Pada PT. Bank BNI Syariah KCP

Surapati Core Bandung”.

1.2 Maksud dan Tujuan

1.2.1 Maksud

Pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan dimaksudkan untuk

mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh mahasiswa baik secara

pendidikan formal seperti pada pembelajaran tingkat Perguruan Tinggi ataupun

ilmu yang diperoleh dari kegiatan formal lainnya. Selain itu dengan adanya

pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan dimaksudkan untuk memberikan

4
gambaran serta melatih mahasiswa untuk dapat mengetahui kegiatan dalam dunia

kerja yang sebenarnya.

Laporan ini juga dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat penilaian

praktek kerja lapangan. Pembuatan laporan kegiatan praktek kerja lapangan ini

juga diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan

umumnya bagi para pembaca.

1.2.2 Tujuan

1 Untuk mengetahui prosedur akad Murabahah KPR di Bank BNI

Syariah KCP Surapati Core Bandung.

2 Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam melaksanakan

prosedur KPR di Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung.

3 Untuk mengetahui solusi yang dihadapi dalam melaksanakan prosedur

KPR di Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung.

1.3 Kegunaan Praktek Kerja Lapangan

Adapun kegunaan dari hasil kerja praktek ini diantaranya adalah sebagai

berikut :

1. Manfaat bagi Perusahaan

 Membantu melakukan pekerjaan-pekerjaan teknis di perusahaan sesuai

dengan penugasan, kompetensi dan keahlian mahasiswa sebagai bagian

dari implementasi Link-And Match. Terutama di bagian Marketing dan

5
administrasi di Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung. Selain

itu menjadikan program Corporate Social Responsibility (CSR)

perusahaan terhadap dunia pendidikan.

2. Manfaat bagi Mahasiswa

 Memperoleh pengalaman kerja yang berharga dalam membantu proses

adaptasi perlu dilakukan kelak terhadap lingkungan dunia kerja.

 Bisa membandingkan teori dengan kenyataan di lingkungan kerja.

 Menumbuhkan kepercayaan diri mahasiswa dalam mencari pekerjaan

karena pernah bekerja beberapa bulan di suatu organisasi perusahaan.

3. Manfaat bagi pihak lain

 Sebagai bahan panduan dan sumber informasi yang bermanfaat bagi

mahasiswa yang akan melakukan praktek kerja lapangan serta dapat

dijadikan judul dalam penyusunan laporan kerja praktek.

1.4 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan

Lokasi pelaksanaan praktek penulis yaitu di PT. Bank BNI Syariah Kantor

Cabang Pembantu Surapati Core yang berlokasi di Jl. P.H.H Mustofa No.39 Blok

B - 8 Bandung. Waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan

selama 25 hari kerja terhitung dari hari Senin 6 Februari 2017 sampai dengan hari

Jum’at 10 Maret 2017, dengan waktu kerja dari pukul 07.30 sampai dengan 16.30

WIB.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Tentang Bank

2.1.1 Pengertian Bank

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan menyebutkan

bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam

bentuk simpanan dan menyalurkannya dalam bentuk kredit dan atau bentuk

lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Menurut Silvanita (2009:14) Bank adalah anggota lembaga keuangan yang

paling dominan, mampu memobilisasi dana dalam jumlah besar dibandingkan

lembaga keuangan lainnya. Bank komersial muncul karena mampu menekan

ongkos transaksi yang sangat mahal dibandingkan transaksi langsung.

Menurut Hasibuan (2009:2) Bank adalah lembaga keuangan, pencipta uang,

pengumpul dana dan penyalur kredit, melaksanakan jasa lalu lintas pembayaran

dan stabilisator moneter.

Menurut Kasmir (2012:3) definisi dari bank secara sederhana diartikan sebagai

lembaga keuangan yang kegiatan usahanya adalah menghimpun dana dari

masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta

memberikan jasa – jasa bank lainnya. Pengertian bank itu sendiri berasal dari

bahasa latin Banco yang artinya bangku atau meja. Pada abad ke-12 kata banco

merujuk pada meja, Counter atau tempat penukaran uang (Money Changer).

7
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tugas bank adalah

mengelola uang dengan menghimpun dana dan menyalurkannya kembali kepada

masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup rakyat banyak, serta dalam

pelaksanaannya menyediakan jasa-jasa lalu lintas pembayaran.

Bank sentral merupakan institusi primer yang bertanggung jawab

mengimplementasikan kebijakan moneter negara. Kebijakan moneter menurut

ekonomi Islam bertujuan untuk menciptakan keadilan sosio-ekonomi dan

pemerataan pendapatan/kesejahteraan bagi seluruh rakyat dengan dasar

persaudaraan universal.

Sedangkan, menurut Undang-Undang Perbankan Syariah No. 21 tahun 2008

pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun

dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada

masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka

meningkatkan taraf hidup rakyat.

2.1.2 Asas, Fungsi dan Tujuan Bank

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan atas Undang-

Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan pasal 2, 3, dan 4 yang dimaksud

asas, fungsi, dan tujuan bank adalah sebagai berikut :

1. Asas

Perbankan Indonesia dalam melaksanakan kegiatan usahanya berasaskan

demokrasi ekonomi dengan prinsip kehati-hatian.

2. Fungsi

8
Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan

penyalur dana masyarakat.

3. Tujuan

Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan

nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi,

dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.

2.1.3 Jenis Bank

Menurut (Kasmir 2008:34) adapun jenis perbankan dapat di tinjau dari

berbagai segi antara lain :

1) Segi Fungsi

Jenis-jenis bank yang dikenal di Indonesia dapat dilihat berdasarkan Undang-

Undang Perbankan No. 10 Tahun 1998, yaitu membagi bank dalam tiga jenis,

yaitu Bank Central, Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat, dapat dijelaskan

sebagai berikut :

1. Bank Sentral, yaitu sebuah badan keuangan miliki negara yang

diberikan tanggung jawab untuk mengatur dan mengawasi kegiatan-

kegiatan lembaga-lembaga keuangan dan menjamin agar kegiatan

badan-badan keuangan tersebut akan menciptakan tingkat kegiatan

ekonomi yang stabil.

2. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya

secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam

kegiatannya memberikan jasa lalu lintas pembayaran.

9
3. Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan

usahanya baik secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip

syariah tidak memberikan jasa lalu lintas pembayaran.

2) Segi Kepemilikan

1. Bank Milik Pemerintah

Akte maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, maka

keuntungannya pun dimiliki oleh pemerintah. Contoh : Bank Negara

Indonesia 46 (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank

Tabungan Negara (BTN)

2. Bank Milik Swasta Nasional

Bank jenis ini seluruh atau sebagiannya dimiliki oleh swasta nasional,

serta akte dan pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula

pembagian keuntungannya untuk keuntungan swasta. Contoh: Bank

Muamalat, Bank Central Asia (BCA), Bank Danamon.

3. Bank Milik Asing

Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri,

baik milik swasta asing atau pemerintah asing. Jelas kepemilikannya

dimiliki oleh pihak luar negeri. Contoh : Hongkong bank, Deutsche

bank, American express bank, Bank Of America.

4. Bank Milik Campuran

Kepemilikan saham Bank campuran dimiliki oleh pihak asing dan

pihak swasta nasional. Kepemilikan sahamnya mayoritas dipegang

oleh Warga Negara Indonesia. Contoh : Bank sakura Swadarma bank

Finconesia, Mitsubishi Buana Bank, Interfasifik Bank.

10
5. Bank Milik Koperasi

Kepemilikan saham-saham bank Indonesia ini dimiliki oleh

perusahaan yang berbadan hokum koperasi. Contoh : Bank Umum

Koperasi Indonesia.

3) Segi Status

1. Bank Devisa

Merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi keluar negeri

atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan.

Contoh : pembayaran Letter of Credit, Inkaso ke luar negeri, transfer

keluar negeri. Persyaratan untuk menjadi bank devisa ini ditentukan

oleh Bank Indonesia.

2. Bank Non Devisa

Bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi

sebagai bank devisa sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi

seperi halnya bank devisa. Transasksi yang dilakukan masih dalam

batas-batas negara.

4) Segi Menentukan Harga

1. Bank yang berdasar prinsip Konvensional

Mayoritas bank yang berkembang di Indonesia dewasa ini adalah

bank yang berorientasi pada prinsip konvensional, Dalam mencari

keuntungan dan menentukan harga kepada para nasabahnya, bank

yang berdasarkan prinsip konvensional menggunakan dua metode,

yaitu :

11
a. Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan

seperti Giro, tabungan maupun deposito. Demikian pula dengan

harga untuk prosuk pinjaman (kredit) juga ditentukan berdasar

tingkat suku bunga tertentu. Penentuan harga ini dikenal dengan

istilah Based.

b. Untuk jasa-jasa bank lainnya pihak perbankan barat

menggunakan atau menerapkan berbagai biaya-biaya dalam

nominal atau presentase tertentu. Sistem pengenaan biaya ini

dikenal dengan istilah Fee Based.

2. Bank Umum Prinsip Syariah

Bank ini menerapkan aturan perjanjian sesuai hukum Islam antara

bank dengan pihak lain dalam menyimpan dana, pembiayaan usaha

atau kegiatan lainnya. Dalam menentukan harga, bank syariah

menerapkan prinsip syariah sebagai berikut:

 Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah)

 Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (Musharakah)

 Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan

(Murabahah)

 Pembiyaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan

(Ijarah)

 Atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang

yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (Ijarah Wa Iqtana)

12
2.1.4 Bank Umum Kovensional

Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Bank Konvensional adalah

bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam

kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

[Link] Kegiatan Operasional Bank Konvensional

Dalam menjalankan usahannya sebagai lembaga keuangan, kegiatan bank tidak

lakan lepas dari bidang keuangan. Kegiatan perbankan secara sederhana adalah

sebagai tempat melayani segala kebutuhan para nasabahnya, hal ini sesuai dengan

kegiatan utama suatu bank, yaitu menghimpun dana melalui simpanan dan

kemudian menyalurkan dana kepada masyarakat umum melalui kredit atau

pinjaman. Menurut kasmir (2003:30) kegiatan bank umum konvensional meliputi

kegiatan sebagai berikut :

1. Menghimpun dana (Funding), Kegiatan ini menghimpun dana merupakan

kegiatan membeli dana dari masyarakat. Kegiatan membeli dana dapat

dilakukan dengan cara menawarkan berbagai jenis simpanan yaitu

simpanan giro, tabungan, dan simpanan deposito.

2. Menyalurkan dana (Lending), Menyalurkan dana merupakan kegiatan

menjual dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat. Penyaluran dana

yang dilakukan oleh bank melalui pemberi pinjaman yang dalam

masyarakat lebih dikenal dengan nama kredit.

3. Memberikan jasa-jasa bank lainnya (Service) Jasa-jasa bank lainnya

merupakan kegiatan penunjang untuk mendukug kelancaran kegiatan

13
menghimpun dana da menyalurkan dana. Jasa-jasa bank yang ditawarkan

meliputi kiriman uang, kliring, inkaso, kartu kredit, dan jasa-jasa lainnya.

Secara singkat kegiatan bank sebagai lembaga keuangan melalui gambar

berikut ini menurut (kasmir 2003:31)

BANK

Menghimpun Dana Menyalurkan Dana Jasa-jasa lainnya

Gambar 2.1 Kegiatan Bank

Sumber : (Kasmir 2003:31), Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya

2.1.5 Bank Umum Syariah

Bank syariah dikenal juga dengan nama bank islam dalam berbagai media

massa, buku, maupun publikasi umum. Hal ini karena bank syariah mengacu pada

ajaran islam.

14
[Link] Pengertian Bank Syariah

Menurut Perwataatmadja dan Antonio syafi’I (1999:1-2) mengemukakan

bahwa :

“Bank islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah

islam yang tata cara operasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an

dan Hadist. Bank yang beroprasi sesuai prinsip-prinsip syariah islam adalah bank

dalam operasinya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariah islam khusunya

menyangkut tata cara bermuamalat islam.

Dalam tata cara bermuamalat itu dijauhi dari praktek-praktek yang di

khawatirkan mengandung unsur riba untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan

investasi atas dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan.

Dalam tata cara beroprasinya mengikuti suruhan dan larangan itu, maka yang

dijauhi adalah praktek-praktek yang mengandung unsur riba sedang yang di ikuti

adalah praktek-praktek usaha yang dilakukan di zaman Rasullulllah atau bentuk

bentuk usaha yang telah ada sebelumnya tetapi tidak dilarang oleh beliau.”

[Link] Tujuan Bank Syariah

Menurut Sudarsono (2012:45) Bank syariah mempunyai beberapa tujuan

diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalat secara islam,

khususnya muamalat yang berhubungan dengan perbankan, agar terhindar

dari praktek-praktek riba atau jenis-jenis usaha/perdagangan lain yang

mengandung unsur gharar (tipuan), dimana jenis-jenis usaha tersebut

15
selain dilarang dalam Islam, juga telah menimbulkan dampak negatif

terhadap kehidupan ekonomi rakyat.

2. Untuk menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi dengan jalan

meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi, agar tidak terjadi

kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal dengan pihak yang

membutuhkan dana.

3. Untuk meningkatkan kualitas hidup umat dengan jalan membuka peluang

usaha yang lebih besar terutama kelompok miskin, yang diarahkan kepada

kegiatan usaha yang produktif, menuju terciptanya kemandirian usaha.

4. Untuk menanggulangi masalah kemiskinan, yang pada umumnya

merupakan program utama dari negara-negara yang sedang berkembang.

Upaya bank syariah didalam mengentaskan kemiskinan ini berupa

pembinaan nasabah yang lebih menonjolkan sifat kebersamaan dari siklus

usaha yang lengkap seperti program pembinaan pengusaha produsen,

pembinaan pedagang perantara, program pembinaan konsumen, program

pengembangan modal kerja dan program pengembangan usaha bersama.

5. Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan moneter. Dengan aktivitas bank

syariah akan mampu menghindari pemanasan ekonomi karena inflasi,

menghindari persaingan yang tidak sehat antar lembaga keuangan.

6. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat islam terhadap bank non-

syariah.

16
[Link] Ciri-Ciri Bank Syariah

Menurut Sudarsono (2012:46) bank syariah mempunyai beberapa ciri-ciri yaitu

diantaranya :

1. Beban biaya yang disepakati bersama pada waktu akad perjanjian

diwujudkan dalam bentuk jumlah nominal yang besarannya tidak kaku dan

dapat dilakukan dengan kebebasan untuk tawar menawar dalam batas

wajar. Beban biaya tersebut hanya dikenakan sampai batas waktu sesuai

dengan kesepakatan dalam kontrak.

2. Penggunaan persentase dalam hal kewajiban untuk melakukan

pembayaran selalu dihindari karena persentase bersifat melekat pada sisa

uang meskipun batas waktu perjanjian telah berakhir.

3. Didalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah tidak

menetapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti ditetapkan

dimuka, karena pada hakikatnya yang mengetahui tentang ruginya suatu

proyek yang dibiayai bank hanyalah Allah SWT semata.

4. Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito oleh

penyimpan dianggap sebagai titipan (Al-Wadiah), sedangkan bagi bank

dianggap sebagai titipan yang dimanfaatkan sebagai penyertaan dana pada

proyek yang dibiayai bank sesuai dengan prinsip syariah sehingga pada

penyimpan tidak dijanjikan imbalan yang pasti

5. Dewan Pengawas Syariah (DPS) bertugas untuk mengawasi kegiatan

operasional bank dari sudut syariatnya.

6. Fungsi kelembagaan bank syariah selalu menjembatani antara pihak

pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana juga yang

17
mempunyai fungsi khusus yaitu fungsi amanah artinya berkewajiban dan

bertanggung jawab atas keamanan dana yang disimpan dan siap sewaktu-

waktu apabila dana diambil pemiliknya.

[Link] Karakteristik Bank Syariah

Menurut Ismail (2013:33) Bank syariah tidak hanya bebas bunga, tetapi

memiliki orientasi pencapaian sejahtera. Secara fundamental terdapat beberapa

karakteristik bank syariah, yaitu:

1. Penghapusan riba.

2. Pelayanan kepada kepentingan public dan merealisasikan sasaran sosio-

ekonomi islam.

3. Bank syariah bersifat universal yang merupakan gabungan dari bank

komersial dan bank investasi.

4. Bank syariah akan melakukan evaluasi yang lebih berhati-hati terhadap

permohonan pembiayaan yang berorientasi pada penyertaan modal karena

bank komersial syariah menerapkan profit-loss sharing dalam konsinyasi,

ventura, bisnis atau industri.

5. Bagi hasil cenderung mempererat hubungan antara bank syariah dan

pengusaha.

6. Kerangka yang dibangun dalam membantu bank mengatasi likuiditasnya

dengan memanfaatkan instrumen pasar uang antar bank syariah dan

instrumen bank sentral berbasis syariah.

18
2.1.6 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Menurut Djazuli. dan Yadi Janwari (2002:54)

Bank Syariah

1. Islam memandang harta yang dimiliki oleh manusia adalah titipan/amanah

Allah SWT sehingga cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya

harus sesuai ajaran Islam

2. Bank syariah mendorong nasabah untuk mengupayakan pengelolaan harta

nasabah (simpanan) sesuai ajaran Islam

3. Bank syariah menempatkan karakter/sikap baik nasabah maupun pengelola

bank pada posisi yang sangat penting dan menempatkan sikap akhlakul

karimah sebagai sikap dasar hubungan antara nasabah dan bank

4. Adanya kesamaan ikatan emosional yang kuat didasarkan prinsip keadilan,

prinsip kesederajatan dan prinsip ketentraman antara Pemegang Saham,

Pengelola Bank dan Nasabah atas jalannya usaha bank syariah

5. Prinsip bagi hasil:

 Penentuan besarnya resiko bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan

berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi

 Besarnya nisbah bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang

diperoleh

 Jumlah pembagian bagi hasil meningkat sesuai dengan peningkatan

jumlah pendapatan

 Tidak ada yang meragukan keuntungan bagi hasil

19
 Bagi hasil tergantung kepada keuntungan proyek yang dijalankan. Jika

proyek itu tidak mendapatkan keuntungan maka kerugian akan

ditanggung bersama oleh kedua belah pihak

Bank Konvensional

1. Pada bank konvensional, kepentingan pemilik dana (deposan) adalah

memperoleh imbalan berupa bunga simpanan yang tinggi, sedang

kepentingan pemegang saham adalah diantaranya memperoleh spread yang

optimal antara suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman

(mengoptimalkan interest difference). Dilain pihak kepentingan pemakai

dana (debitor) adalah memperoleh tingkat bunga yang rendah (biaya

murah). Dengan demikian terhadap ketiga kepentingan dari tiga pihak

tersebut terjadi antagonisme yang sulit diharmoniskan. Dalam hal ini bank

konvensional berfungsi sebagai lembaga perantara saja

2. Tidak adanya ikatan emosional yang kuat antara Pemegang Saham,

Pengelola Bank dan Nasabah karena masing-masing pihak mempunyai

keinginan yang bertolak belakang

3. Sistem bunga:

 Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus

selalu untung untuk pihak Bank

 Besarnya prosentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang

dipinjamkan Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan

pedoman harus selalu untung untuk pihak Bank

 Jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan

berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik

20
 Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk

agama Islam

 Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk

agama Islam

 Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan

proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi

2.2 Tinjauan Umum tentang Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Menurut (kasmir 2010:45). Kebutuhan masyarakat atas hunian dari tahun

ketahun semakin meningkat, hal ini seiring dengan pertambahan jumlah penduduk

yang semakin meningkat. Demi menjawab hal tersebut, maka munculah KPR

yang merupakan salah satu produk kepemilikan rumah yang dikembangkan oleh

dunia perbankan di Indonesia.

KPR dan KPR Syariah yang ada pada bank konvensional maupun bank syariah

memiliki perbedaan mendasar dari segi akad-nya. KPR Konvensional

menggunakan perjanjian kredit dengan cara kita meminjam uang untuk membeli

atau membangun rumah untuk kemudian dibayar kembali ditambah dengan

bunga. Sedangkan KPR Syariah bisa menggunakan prinsip jual beli. Bank syariah

akan membelikan rumah dan menjualnya kepada nasabah.

Pada perbankan syariah tidak dikenal adanya sistem bunga maka jika terjadi

keterlambatan pembayaran, nasabah tidak akan dijatuhi denda yang berdasarkan

suku bunga. Walaupun tingkat keterlambatan ini sangat kecil namun Dewan

Syariah Nasional (DSN) telah mengantisipasi dengan menetapkan Fatwa DSN

21
No. 17/DSNMUI/IX/2000 tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-

nunda pembayaran kalaupun ada nasabah yang nakal menunda-nunda pembayaran

padahal ia mampu.

Dapat disimpulkan bahwa letak ketidaksesuaian apa yang dipraktekkan

perbankan konvensional dengan konsep ekonomi syariah yang prinsip utamanya

melarang keras praktek bunga bank. Bunga yang dipraktekkan oleh perbankan

konvensional merupakan riba yang ada dalam ajaran Islam, yaitu riba nasi’ah.

Keuntungan bank syariah pada produk KPR Syariah ini dalam bentuk margin

penjualan yang dikenakan kepada pihak nasabah atas kesepakatan bersama.

Tingkat margin yang ditetapkan oleh bank syariah menjadi obyek pembeda yang

memungkinkan antar bank syariah melakukan kompetisi dalam menentukan

tingkat marginnya. Bisa jadi, satu bank syariah mengambil margin keuntungannya

lebih rendah dibanding dengan tingkat margin yang ada pada bank syariah

lainnya, atau jika memungkinkan bisa kompetitif dengan tingkat bunga yang

ditetapkan oleh perbankan konvensional.

Bank syariah dalam menjual produk KPR Syariahnya, biasanya mengguankan

fasilitas pembiayaan Murabahah yang memungkinkan nasabah untuk membayar

KPR Syariahnya secara angsuran.

2.2.1 Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Pengertian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Menurut Hardjono (2008:25)

“KPR atau Kredit Pemilikan Rumah merupakan salah satu jenis pelayanan kredit

yang diberikan oleh bank kepada para nasabah yang menginginkan pinjaman

22
khusus untuk memenuhi kebutuhan dalam pembangunan rumah atau renovasi

rumah”.

KPR juga muncul karena adanya berbagai kondisi penunjang yang strategis

diantaranya adalah pemenuhan kebutuhan perumahan yang semakin lama semakin

tinggi namun belum dapat mengimbangi kemampuan daya beli kontan dari

masyarakat.

Secara umum, ada 2 jenis KPR yaitu:

1. KPR Subsidi Yaitu, suatu kredit yang diperuntukan kepada masyarakat

yang mempunyai penghasilan menengah kebawah, hal ini guna untuk

memenuhi kebutuhan memiliki rumah atau perbaikan rumah yang telah

dimiliki sebelumnya. Adapun bentuk dari subsidi tersebut telah diatur

tersendiri oleh pemerintah, sehingga tidak semua masyarakat yang

mengajukan kredit dapat diberikan fasilitas ini.

2. KPR Non Subsidi Yaitu, suatu KPR yang diperuntukan bagi seluruh

masyarakat tanpa adanya campur tangan pemerintah. Ketentuan KPR

ditetapkan oleh bank itu sendiri, sehingga penentuan besarnya kredit

maupun suku bunga dilakukan sesuai dengan kebijakan bank yang

bersangkutan.

2.2.2 Kredit Pemilikan Rumah ( KPR) iB

Menurut Antonio, Syafi’i 2001 (182-185). Dalam bukunya Bank Syariah dari

Teori ke Praktek. Salah satu produk pembiayaan yang telah dikembangkan oleh

bank syariah adalah pembiayaan rumah, atau yang sering dikenal dengan istilah

23
KPR syariah. Pembiayaan Kepemilikan Rumah kepada perorangan untuk

memenuhi sebagian atau keseluruhan kebutuhan akan rumah (tempat tinggal)

dengan mengunakan prinsip jual beli (Murabahah) dimana pembayarannya secara

angsuran dengan jumlah angsuran yang telah ditetapkan di muka dan dibayar

setiap bulan. Harga jualnya biasanya sudah ditambah dengan margin keuntungan

yang disepakati antara bank syariah dan pembeli.

Harga jual rumah ditetapkan di awal ketika nasabah menandatangani perjanjian

pembiayaan jual beli rumah, dengan angsuran tetap hingga jatuh tempo

pembiayaan. Dengan adanya kepastian jumlah angsuran bulanan yang harus

dibayar sampai masa angsuran selesai, nasabah tidak akan dipusingkan dengan

masalah naik/turunnya angsuran ketika suku bunga bergejolak. Nasabah juga

diuntungkan ketika ingin melunasi angsuran sebelum masa kontrak berakhir,

karena bank syariah tidak akan mengenakan pinalti. Bank syariah tidak

memberlakukan sistem pinalti karena harga KPR sudah ditetapkan sejak awal.

Pembiyaan rumah ini dapat digunakan untuk membeli rumah (rumah, ruko,

rukan, apartemen) baru maupun bekas, membangun atau merenovasi rumah, dan

untuk pengalihan pembiayaan KPR dari bank lain.

Perbedaan pokok antara KPR konvensional dengan syariah terletak pada

akadnya. Pada bank konvensional, kontrak KPR didasarkan pada suku bunga

tertentu yang sifatnya bisa fluktuatif, sedangkan KPR Syariah bisa dilakukan

dengan beberapa pilihan akad alternatif sesuai dengan kebutuhan nasabah, di

antaranya KPR iB Jual Beli (skema Murabahah), KPR iB sewa (skema Ijarah),

KPR iB Sewa Beli (skema Ijarah Muntahia Bittamlik - IMBT), dan KPR iB

24
Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah). Namun yang banyak

ditawarkan oleh bank syariah adalah skema jual beli (skema Murabahah).

Manfaat KPR Syariah

Keuntungan nasabah yang diperoleh dari KPR syariah, sebagai berikut:

 Nasabah tidak harus menyediakan dana secara tunai untuk membeli rumah.

Nasabah cukup menyediakan uang muka.

 Karena KPR memiliki jangka waktu yang panjang, angsuran yang dibayar

dapat diiringi dengan ekspektasi peningkatan penghasilan.

 mekanisme pembiayaan adalah jual beli (Murabahah), adalah akad jual beli

barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (Margin) yang

disepakati oleh Bank dan Nasabah (Fixed Margin)

 Cicilan tetap dan meringankan selama jangka waktu, serta tidak ada unsur

spekulatif

 Bebas pinalti untuk pelunasan sebelum jatuh tempo

[Link] Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah

Sumber ([Link]) diunduh tanggal 26 Februari 2017. Kredit

pemilikan rumah atau biasa disebut KPR merupakan salah satu produk

pembiayaan pada PT. Bank BNI Syariah yang membiayai kebutuhan nasabah

dalam hal pengadaan rumah tinggal (konsumtif) baik baru maupun bekas.

Hal ini merupakan implikasi dari perbedaan prinsipal yang diterapkan

perbankan syariah dan perbankan konvensional, yaitu konsep bagi hasil dan

kerugian (Profit and Loss Sharing) sebagai pengganti sistem bunga perbankan

25
konvensional. Dalam produk pembiayaan kepemilikan rumah ini, terdapat

beberapa perbedaan antara perbankan syariah dan perbankan konvensional. Di

antaranya adalah; pemberlakuan sistem kredit dan sistem markup, kebolehan dan

ketidakbolehan tawar menawar (Bargaining Position) antara nasabah dengan

bank, prosedur pembiayaan dan lain sebagainya.

Selain itu perbedaan yang terjadi pada bank konvensional, kontrak KPR

didasarkan pada suku bunga tertentu yang sifatnya bisa fluktuatif, sedangkan KPR

syariah bisa dilakukan dengan beberapa pilihan akad alternatif sesuai dengan

kebutuhan nasabah, diantaranya yaitu:

1. KPR iB Jual Beli (skema Murabahah).

2. KPR iB sewa (skema Ijarah).

3. KPR iB Sewa Beli (skema Ijarah Muntahia Bittamlik).

4. KPR iB Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah).

Namun yang banyak ditawarkan oleh bank syariah adalah skema jual beli

(skema Murabahah).

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) biasanya menggunakan akad Murabahah.

Akad Murabahah yang digunakan berjenis Al-Bay’bisaman Ajil atau Muajjal

(jenis pembayaran secara tangguh atau cicilan). Murabahah merupakan transaksi

jual beli dimana bank bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.

Akad jenis ini adalah salah satu bentuk akad bisnis yang mencari keuntungan

bersifat pasti (Certainly Return) dan telah diketahui dimuka (Pre-Determiner

Return). Sedangkan Murabahah, merupakan penjualan sesuatu barang dengan

harga asal dengan tambahan keuntungan sejumlah yang disepakati bersama.

Dengan sistem Murabahah yang diterapkan dalam pembiayaan KPR ini berarti

26
pihak bank syariah harus memberitahukan harga perolehan atau harga asal rumah

yang dibeli dari developer kepada nasabah KPR Syariah dan menentukan suatu

tingkat keuntungan (Profit Margin) sebagai tambahan.

[Link] Ketentuan Umum Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB

Hasanah

Sumber ([Link]) diunduh tanggal 26 Februari 2017. Ketentuan

umum KPR Griya iB Hasanah Bank BNI Syariah telah tercantum dalam SOP

Bank BNI Syariah, sehingga ketentuan yang ada harus diikuti. Ketentuan tersebut

adalah:

a. Tujuan KPR

b. Jenis KPR Griya iB Hasanah

c. Persyaratan Umum

d. Tujuan Penggunaan beserta Agunan

e. Maksimum Plafon

f. Jangka Waktu

g. Biaya-biaya yang dibebankan kepada calon debitur

h. Persyaratan tanah dan atau bangunan/rumah yang akan dibiayai dengan

KPR iB Griya Hasanah BNI Syariah

i. Persyaratan Dokumen

j. Prosedur Pengajuan KPR dan Proses Evaluasi KPR.

27
[Link] Tujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah

Sumber ([Link]) diunduh tanggal 26 Februari 2017. Tujuan dari

KPR adalah untuk pembiayaan konsumen mengenai fasilitas pemilikan rumah.

Pembiayaan yang diberikan biasanya untuk membeli, membangun dan atau

merenovasi (termasuk ruko, rukan. apartemen dan sejenisnya). Dengan jenis

agunan tertentu, antara lain tanah dan/atau bangunan, sesuai dengan kriteria yang

telahditetapkan oleh bank.

[Link] Jenis KPR Griya iB Hasanah

Sumber ([Link]) diunduh tanggal 26 Februari 2017.

Pembiayaan properti baru maupun secondary yang meliputi:

 Rumah, Pembiayaan rumah baik baru maupun bekas dengan tujuan

untuk dihuni.

 Ruko/ Rukan, Pembiayaan yang dilakukan bertujuan melakukan bisnis

atau kegiatan operasional perkantoran yang dibutuhkan.

 Apartemen, Pembiayaan yang dilakukan yang bertujuan untuk dihuni.

 Tanah Kavling Siap [Link] yang dilakukan untuk tujuan

bisnis dimana ada kerjasama antara developer dan pihak bank dalam

membangun kavling tersebut.

 Pembiayaan Renovasi Rumah, Pembiayaan yang dilakukan bertujuan

untuk melakukan renovasi/perbaikan rumah lama.

28
 Pembiayaan Pembangunan Rumah, Pembiayaan yang dilakukan yang

bertujuan unuk mendirikan bangunan di area tanah yang telah dimiliki

sebelumnya oleh nasabah.

2.3 Tinjauan Umum Pembiayaan

Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas

dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit.

Landasan hukumnya adalah Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 6/24/PBI/2004

Bab V Pasal 36 yaitu bank wajib menerapkan prinsip syariah dan prinsip-prinsip

kehati-hatian dalam melakukan kegiatan usaha yang meliputi penghimpunan dana

dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan investasi.

Pembiayaan terhadap hunian atau KPR syariah ini termasuk dalam pembiayaan

konsumtif yang bersifat sekunder yaitu kebutuhan tambahan, yang secara

kuantitatif maupun kualitatif lebih tinggi atau lebih mewah dari kebutuhan primer

seperti makanan dan minuman, pakaian dan/atau perhiasan, bangunan rumah,

kendaraan, dan sebagainya, maupun berupa jasa, seperti pendidikan, pelayanan

kesehatan, pariwisata, hiburan, dan sebagainya. (Muhammad syafi’I Antonio,

2001:168)

2.3.1 Pengertian Pembiayaan

Menurut Ismail (2010:107) Pembiayaan adalah penyediaan dana dan atau

tagihan yang dipersamakan dengan itu, yang berupa :

29
1 Transaksi bagi hasil berbentuk Mudharabah dan Musyarakah.

2 Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk Ijarah atau sewa beli dalam

bentuk Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik.

3 Transaksi jual beli dalam bentuk piutang Murabahah, salam dan

istishna.

4 Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk Ijarah untuk transaksi

multijasa, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank-bank

syariah atau unit usaha syariah dan pihak lain yang mewajibkan pihak-

pihak yang dibiayai dan diberi fasilitas dana untuk mengembalikan

dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah,

tanpa imbalan atau bagi hasil.

2.3.2 Fungsi Pembiayaan

Menurut Ismail (2010:108) pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah

berfungsi membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dalam

meningkatkan usahanya. Masyarakat merupakan individu, pengusaha, lembaga,

badan usaha, dan lain-lain yang membutuhkan dana. Fungsi pembiayaan antara

lain sebagai berikut :

1. Pembiayaan dapat meningkatkan arus tukar-menukar barang dan jasa.

2. Pembiayaan merupakan alat yang dipakai untuk memanfaatkan Idle

Fund.

3. Pembiayaan sebagai alat pengendali harga.

30
4. Pembiayaan dapat mengaktifkan dan meningkatkan manfaat ekonomi

yang ada.

2.3.3 Murabahah

Menurut (Warkum Sumitro, 1996:93) Murabahah adalah suatu perjanjian

pembiayaan di mana bank membiayai/memberikan talangan dana untuk

pengadaan barang yang diperlukan nasabah ditambah keuntungan yang disepakati

dengan sistem pembayaran tangguh atau dengan kata lain dibayar lunas pada

waktu yang tertentu yang disepakati. Margin keuntungan adalah selisih harga jual

dikurangi harga asal yang merupakan keuntungan bank. Pembiayaan Murabahah

ini mirip dengan “kredit modal kerja” yang dikenal dalam produk bank

konvensional, karena itu jangka waktu pembiayaan tidak lebih dari satu tahun.

[Link] Pengertian Murabahah

Dalam Hukum Islam, perjanjian dikenal denan istilah akad (al ‘aqd) jamaknya

al-‘uqud secara bahasa berarti ikatan, mengikat. Maka akad juga diartikan dengan

perikatan. Menurut terminologi hukum Islam, akad dapat didefinisikan “pertalian

antara ijab dan kabul yang dibenarkan oleh syara’ yang menimbulkan akibat

hukum terhadap obyeknya” (Ghufron A.M, 2002:75-76). Ijab adalah pernyataan

dari seseorang (pihak pertama) untuk menawarkan sesuatu. Kabul adalah

pernyataan seseorang (pihak kedua) untuk menerima atau mengabulkan tawaran

dari pihak pertama. Apabila ijab dan kabul yang dilakukan oleh kedua belah pihak

31
tersebut saling bersesuaian dan berhubungan, maka terjadilah akad diantara

mereka (Wirdyaningsih, 2005 : 115).

Murabahah adalah transaksi jual beli suatu barang sebesar harga perolehan

barang ditambah dengan margin yang disepakati oleh para pihak, dimana penjual

menginformasikan terlebih dahulu harga perolehan kepada pembeli. Dalam

praktek perbankan, Murabahah adalah akad jual beli antara bank selaku penyedia

barang, dengan nasabah yang memesan untuk membeli barang dan bank

memperoleh keuntungan yang disepakati bersama. Berdasarkan akad jual beli

dimaksud bank membeli barang yang dipesan dan menjualnya kepada nasabah.

Pembelian barang dapat dilakukan langsung oleh bank atau diwakilkan kepada

nasabah. Harga jual bank adalah harga beli dari supplier ditambah keuntungan

yang disepakati. Oleh karenanya nasabah mengetahui besarnya keuntungan yang

diambil oleh bank. Cara pembayaran dan jangka waktunya disepakati bersama,

dapat secara lumpsum (sekaligus) ataupun dengan cara angsuran.

Sementara itu, menurut PSAK No 102, Murabahah adalah akad jual beli

barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan yang

disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan harga barang

tersebut kepada pembeli.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian

Murabahah adalah suatu akad jual beli barang dengan harus menyatakan harga

perolehan dan keuntungan (Margin), dan pelunasan kewajiban disertai

pembayaran margin yang disepakati sesuai akad dimana bank sebagai penjual

barang dan nasabah sebagai pembeli barang.

32
[Link] Landasan Hukum Murabahah

Menurut ([Link] tentang Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 4/DSN-

MUI/IVI/2000 diunduh tanggal 13 Maret 2017) Berikut ini adalah surat yang

menerangkan tentang Pembiayaan Murabahah adalah sebagai berikut :

1. QS. An-Nisa (4: 29)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan


harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara [Link]
janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.

2. Qs. Al-Baqarah (2: 275)

“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri


melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran
(tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu,adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali
(mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya”.

3. Qs. Al-Maidah (5 : 1)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu..”

4. Qs. Al-Baqarah (2 : 280)

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah
tangguh sampai Dia [Link] menyedekahkan (sebagian atau
semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

[Link] Al-Hadist

Menurut (Warkum Sumitro, 1996:95). Berikut ini adalah Hadist yang

menerangkan tentang Pembiayaan Murabahah adalah sebagai berikut :

33
1. Dari Suhaib ar-Rumi r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara


tangguh, muqaradhah (Mudharabah), dan mencampur gandum untuk
keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah).

2. Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka."(HR. al-
Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).

3. Hadits Nabi riwayat Tirmidzi:

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali


perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkanyang
haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali
syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”
(HR. Tirmizi dari ‘Amr bin ‘Auf).

4. Hadits Nabi riwayat jama’ah:

“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu


adalah suatu kezaliman…”

5. Hadits Nabi riwayat Nasa’i, Abu Dawud, Ibu Majah, dan Ahmad

“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu


menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”

6. Hadits Nabi riwayat `Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam:

“Rasulullah SAW. ditanya tentang ‘urban (uang muka) dalam jual beli,
maka beliau menghalalkannya.”

[Link] Landasan syariah Murabahah

Sumber ([Link]) diunduh pada tanggal 13 Maret 2017 menerangkan

ketentuan fatwa DSN mengenai landasan syariah Murabahah sebagai berikut :

34
 No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah,

 No. 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah,

 No. 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang Uang Muka dalam Murabahah,

 No. 16/DSN-MUI/IX/2000 tentang diskon dalam Murabahah,

 No.23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah,

 No. 46/DSN-MUI/II/2005 tentang Penyelesaian Piutang Murabahah bagi

Nasabah Tidak Mampu Membayar,

 No.48/DSN-MUI/II/2005 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan

Murabahah,

 No. 49/DSN-MUI/II/2005 tentang Konversi Akad Murabahah.

[Link] Syarat dan Rukun Murabahah

Menurut (Dimyauddin Djuwaini,2008:108-109), Terdapat beberapa syarat dan

rukun Murabahah yaitu sebagai berikut :

Syarat Murabahah:

Dibawah ini terdapat lima syarat sah nya Murabahah yaitu antara lain :

a. Penjual memberi tahu biaya modal kepada nasabah.

b. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan.

c. Kontrak harus bebas dari riba.

d. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang

sesudah pembelian.

e. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan

pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.

35
Rukun Murabahah:

terdapat lima rukun Murabahah yaitu sebagai berikut :

a. Ada penjual (Bai’)

b. Ada pembeli (Musytari)

c. Obyek/barang (Mabi)

d. Kejelasan harga (Tsaman)

e. Adanya ijab qabul (Sighat)

[Link] Mekanisme Pembiayaan Murabahah

Menurut Soemitra (2009:20) Berikut adalah Mekanisme pembiayaan yang di

terapkan di Perbankan Syariah ;

Negoisasi dan persyaratan

1. Akad jual beli


Bank Nasabah

5. Bayar

2. Beli barang Supplier 3. Kirim


[Link] barang dan
(penjual) dokumen

Gambar 2.2 Mekanisme Pembiayaan Akad Murabahah

Sumber: Soemitra (2009:20), Bank dan Lembaga Keuangan Syariah

36
Keterangan:

1. Bank dan nasabah melakukan negosiasi untuk melakukan transaksi

pembiayaan berdasarkan prinsip jual beli, meliputi jenis barang yang akan

diperjual belikan, harganya (termasuk jumlah keuntungan yang diminta

bank) dan jangka waktu pembayaran dan hal-hal lain yang diperlukan.

2. Bank melakukan pesanan (membeli secara tunai/naqdan) barang kepada

supplier sesuai dengan spesifikasi barang yang dikehendaki oleh nasabah,

dengan melakukan akad jual beli (surat pernyataan/call memo). Nasabah

tidak diperkenankan membeli barang secara langsung tanpa seizin bank.

a. Dalam pemberian barang ini bank dapat mewakilkan secara tertulis

kepada nasabah untuk membeli barang untuk dan atas nama bank,

dalam bentuk akad wakalah/surat kuasa yang terpisah dari akad

Murabahah atau bank dapat langsung membeli kepada supplier.

b. Supplier menjual secara tunai.

37
BAB III

GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN

3.1 Sejarah Berdirinya PT. Bank BNI Syariah

Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26

Februari 2017), tempaan krisis moneter tahun 1997 membuktikan ketangguhan

sistem perbankan syariah. Prinsip Syariah dengan 3 (tiga) pilarnya yaitu adil,

transparan dan maslahat mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap sistem

perbankan yang lebih adil. Dengan berlandaskan pada Undang-Undang No.10

Tahun 1998, pada tanggal tanggal 29 April 2000 didirikan Unit Usaha Syariah

(UUS) BNI dengan 5 kantor cabang di Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara

dan Banjarmasin.

Selanjutnya UUS BNI terus berkembang menjadi 28 Kantor Cabang dan 31

Kantor Cabang Pembantu. Disamping itu nasabah juga dapat menikmati layanan

syariah di Kantor Cabang BNI Konvensional (office channelling) dengan lebih

kurang 1500 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di dalam

pelaksanaan operasional perbankan, BNI Syariah tetap memperhatikan kepatuhan

terhadap aspek syariah. Dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang saat ini

diketuai oleh [Link]’ruf Amin, semua produk BNI Syariah telah melalui

pengujian dari DPS sehingga telah memenuhi aturan syariah.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor

12/41/[Link]/2010 tanggal 21 Mei 2010 mengenai pemberian izin usaha

kepada PT Bank BNI Syariah. Dan di dalam Corporate Plan UUS BNI tahun

38
2000 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off

tahun 2009. Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dengan

beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS).

Realisasi waktu spin off bulan Juni 2010 tidak terlepas dari faktor eksternal

berupa aspek regulasi yang kondusif yaitu dengan diterbitkannya UU No.19 tahun

2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU No.21 tahun 2008

tentang Perbankan Syariah. Disamping itu, komitmen Pemerintah terhadap

pengembangan perbankan syariah semakin kuat dan kesadaran terhadap

keunggulan produk perbankan syariah juga semakin meningkat. Juni 2014 jumlah

cabang BNI Syariah mencapai 65 Kantor Cabang, 161 Kantor Cabang Pembantu,

17 Kantor Kas, 22 Mobil Layanan Gerak dan 20 Payment Point.

3.2 Visi dan Misi Bank BNI Syariah

Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26

Februari 2017), Visi BNI Syariah adalah “Menjadi bank syariah pilihan

masyarakat yang unggul dalam layanan dan kinerja”. Sedangkan misi Bank BNI

Syariah, yaitu:

1. Memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan peduli pada

kelestarian lingkungan.

2. Memberikan solusi bagi masyarakat untuk kebutuhan jasa perbankan

syariah

3. Memberikan nilai investasi yang optimal bagi investor.

39
4. Menciptakan wahana terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya

dan berprestasi bagi pegawai sebagai perwujudan ibadah.

3.3 Aktivitas di Bank BNI Syariah terkait dengan Produk dan Jasa

Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26

Februari 2017) aktivitas Bank BNI Syariah terdiri dari:

3.3.1 Produk Pendanaan

Produk pendanaan di Bank BNI Syariah, meliputi:

1. Tabungan iB Baitullah Hasanah adalah tabungan dengan akad

Mudharabah atau Wadiah yang dipergunakan sebagai sarana untuk

mendapatkan kepastian porsi berangkat menunaikan ibadah Haji

(Reguler/Khusus) dan merencanakan ibadah Umrah sesuai keinginan

penabung dengan sistem setoran bebas atau bulanan dalam mata uang

Rupiah dan USD.

2. Tabungan iB Hasanah Prima adalah tabungan dengan akad Mudharabah

yang memberikan berbagai fasilitas serta kemudahan bagi Nasabah

segmen high networth individuals secara perorangan dalam mata uang

rupiah dan bagi hasil yang lebih kompetitif.

3. Tabungan iB Tunas Hasanah adalah tabungan dengan akad Wadiah yang

diperuntukkan bagi anak-anak dan pelajar yang berusia di bawah 17 tahun.

40
4. Tabungan iB Bisnis Hasanah adalah tabungan dengan akad Mudharabah

yang dilengkapi dengan detil mutasi debet dan kredit pada buku tabungan

dan bagi hasil yang lebih kompetitif dalam mata uang rupiah.

5. Tabungan iB Tapenas Hasanah adalah tabungan berjangka dengan akad

Mudharabah untuk perencanaan masa depan yang dikelola berdasarkan

prinsip syariah dengan sistem setoran bulanan yang bermanfaat untuk

membantu menyiapkan rencana masa depan seperti rencana liburan,

ibadah umrah, pendidikan ataupun rencana masa depan lainnya.

3.3.2 Produk Pembiayaan

Produk pembiayaan di Bank BNI Syariah, meliputi:

1 Pembiayaan produktif adalah pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi

kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik

usaha produksi, perdagangan, maupun investasi.

a. Pembiayaan CCF iB Hasanah adalah pembiayaan yang dijamin

dengan cash, yaitu dijamin dengan Simpanan dalam bentuk Deposito,

Giro, dan Tabungan yang diterbitkan BNI Syariah.

b. Pembiayaan Emas iB Hasanah adalah fasilitas pembiayaan yang

diberikan untuk membeli emas logam mulia dalam bentuk batangan

yang diangsur secara pokok setiap bulannya melalui akad Murabahah

(jual beli).

2 Pembiayaan Konsumtif

a. Dana Talangan Haji iB Hasanah

41
Fasilitas yang diberikan kepada nasabah yang digunakan sebagai dana

talangan bagi nasabah untuk memperoleh Nomor Porsi keberangkatan

Ibadah Haji (Booking Seat) dari Kementerian Agama Republik

Indonesia yang merupakan bagian dari Biaya Penyelenggaraan Ibadah

Haji (BPIH).

Jumlah dana talangan haji yang disediakan, yaitu:

1. Rp. 10.000.000,00

2. Rp. 15.000.000,00

3. Rp. 20.000.000,00

4. Rp. 23.750.000,00

Jangka Waktu Pembiayaan yaitu:

1. 1 tahun

2. 2 tahun

3. 3 tahun

b. Pembiayaan Pemilikan Kendaraan Bermotor iB Hasanah

Merupakan Fasilitas Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah

individu (perorangan) untuk membeli kendaraan bermotor

(mobil/motor). Adapun persyaratannya, yaitu:

1. Warga Negara Indonesia (WNI), berdomisili di Indonesia

2. Usia Minimum pada saat pengajuan pembiayaan 21 tahun

3. Usia Maksimum pada saat jatuh tempo pembiayaan:

 Karyawan: Maks. 60 tahun

 Profesional dan pengusaha: Maks. 65 tahun

42
 Pegawai Negeri Sipil: sesuai dengan peraturan yang berlaku

mengenai usia pensiun Pegawai Negeri Sipil

4. Memiliki pengalaman kerja minimum:

 Karyawan: 2 tahun (termasuk pekerjaan sebelumnya)

 Profesional/Pengusaha: 3 tahun dalam bidang yang sama

Persyaratan Dokumen

3 Pembiayaan Pemilikan Rumah iB Hasanah

Fasilitas Pembiayaan yang diberikan kepada perorangan untuk membeli,

membangun dan atau renovasi (termasuk ruko, rukan, apartemen dan

sejenisnya). Adapun persyaratannya, yaitu:

1. Warga Negara Indonesia (WNI), berdomisili di Indonesia

2. Usia Minimum pada saat pengajuan pembiayaan 21 tahun

3. Usia Maksimum pada saat jatuh tempo pembiayaan:

 Karyawan: Maks. 60 tahun

 Professional dan pengusaha: Maks. 65 tahun.

 Pegawai Negeri Sipil: sesuai dengan peraturan yang berlaku

mengenai usia pensiun Pegawai Negeri Sipil

4 . Memiliki pengalaman kerja minimum:

 Karyawan: 2 tahun (termasuk pekerjaan sebelumnya)

 Profesional / Pengusaha: 3 tahun dalam bidang yang sama

4 Pembiayaan Kesejahteraan Pegawai (PKP) iB Hasanah

PKP adalah pembiayaan yang diberikan kepada pegawai yang memiliki

penghasilan tetap, dimana fasilitas pembiayaan dapat diberikan apabila

telah ada kerjasama antara perusahaan/lembaga/departemen dengan BNI

43
syariah. Seluruh kewajiban perusahaan dinyatakan secara jelas dalam

perjanjian antara perusahaan dan BNI syariah.

3.3.3 Jasa dan Layanan

1. Kartu ATM BNI syariah adalah kartu ATM yang diberikan kepada nasabah

tabungan dan giro perorangan, yang dapat digunakan untuk bertransaksi

baik di mesin ATM milik BNI syariah, maupun mesin ATM bank lain

anggota ATM bersama. Transaksi yang dapat dilakukan dimesin ATM bank

BNI Syariah saat ini adalah:

1. Penarikan tunai

2. Informasi saldo

3. Transfer ke rekening Bank BNI Syariah

4. Transfer ke rekening bank lain anggota ATM bersama

5. Pembayaran tagihan PLN dan zakat

Layanan ini dapat dilakukan secara 24 jam untuk memberikan kemudahan

bertransaksi bagi nasabah,meliputi:

a. BNI Syariah PPOB adalah suatu betuk kerjasama kemitraan antara

bank, biller, dan pihak ketiga lainnya dalam rangka layanan penerimaan

tagihan dan pembayaran lainnya dengan menggunakan prinsip akad

wakalah bil ujrah dengan ketentuan yang diatur dalam perjanjian

kerjasama (PKS) tersendiri antara pihak yang bekerja sama.

b. BNI Syariah Bank Garansi adalah jaminan yang diberikan oleh bank

kepada pihak ketiga penerima jaminan atas pemenuhan kewajiban

44
tertentu nasabah bank selaku pihak yang dijamin kepada pihak ketiga

dimaksud.

c. Surat Keterangan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh

bank, yang menyatakan bahwa nasabah tersebut memiliki rekening

pada bank yang dapat dipergunakan untuk mengikuti tender atau

keperluan lainnya.

d. Transfer atau Kirim Uang adalah jasa perpindahan dana dari satu

kantor cabang pembantu ke satu kantor cabang pembantu lain atau bank

lain.

e. BNI Syariah RTGS adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank

baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time.

f. Syariah Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank

tertariknya berada dalam satu wilayah kliring.

g. BNI Syariah Inkaso adalah penagihan warkat bank lain dimana bank

tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negara, hasilnya

penagihan akan dikredit ke rekening nasabah.

3.4 Struktur Organisasi dan Deskripsi Jabatan PT. Bank BNI Syariah

Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26

Februari 2017) aktivitas Bank BNI Syariah terdiri dari:

45
3.4.1 Struktur Organisasi

Sub Branch Manager

(Pemimpin KCP)

Sub Branch Service &


Operation Head

(Kepala Pelayanan &


Marketing Operasi KCP)
(Funding/Financing)
(Pemasaran
(Funding/Pembiayaan)
Teller

(Teller)
Financing Support & BO
Administration
Custumer Service
(Penunjang Pembiayaan &
Administrasi Perkantoran) (Pelayanan
Nasabah)

Collateral Appraisal
Pawn Brooking
(Penilai Jaminan)
Appraiser

(Penaksir Gadai)
Cash Office Heard

D (Kepala Kantor Kas)

Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT. Bank BNI Syariah KCP

Surapaticore

Sumber: [Link], (Maret 2017)

46
3.4.2 Deskripsi Jabatan PT. Bank BNI Syariah KCP Surapati Core

Bandung

Berdasarkan situs resmi ([Link] di unduh pada tanggal 26

Februari 2017) aktivitas Bank BNI Syariah terdiri dari:

1. Sub Branch Manager, Tugas utama Sub Branch Manager adalah

merencanakan, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan operasional kantor

cabang dan jaringan kantor dibawahnya. Ruang lingkup kerjanya meliputi

operasional, funding and service, financing.

2. Marketing Funding, Tugas utama Marketing Funding yaitu melaksanakan

dan mengkomunikasikan pelaksanaan funding di Kantor Cabang

Pembantu. Ruang lingkup yang dilakukan yaitu funding dan produk Rahn.

3. Marketing Financing, Tugas utamanya yaitu melaksanakan dan

mengkomunikasikan pelaksanaan financing di kantor cabang.

4. Collateral Appraisal, Tugas utamanya yaitu menjalankan aktivitas

operasional terkait dengan penilaian jaminan/agunan pembiayaan. Ruang

lingkup kerjanya yaitu, penilaian jaminan/agunan pembiayaan.

5. Branch Financing Administration and Support Head, Tugas utamanya

yaitu merencanakan, monitoring, dan evaluasi pengelolaan administrasi

pembiayaan dan unit supporting di Kantor Cabang Pembantu. Ruang

lingkup kerjanya, yaitu administrasi pembiayaan, aspek kepatuhan dan

legal operasional dalam pembiayaan, penilaian jaminan pembiayaan, MIS

dan akunting.

6. Branch Service and Operational Head, Tugas utamanya yaitu

merencanakan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan operasional di Kantor

47
Cabang Pembantu. Ruang lingkupnya yaitu melakukan pelayanan

transaksi tunai dan non tunai dan administrasi operasional dan dana jasa.

7. Teller, Aktivitas teller yaitu menjalankan aktivitas operasional melayani

nasabah dalam transaksi tunai dan non tunai serta aktivitas administrasi

operasional dan dana jasa. Ruang lingkup melakukan pelayanan transaksi

tunai dan non tunai, administrasi operasional dan dana jasa.

8. Customer Service, Tugas utama customer service yaitu melayani dan

mengelola nasabah. Ruang lingkup melakukan transaksi administrasi.

Customer service harus memberikan informasi sejelas mungkin mengenai

berbagai produk dan jasa yang ingin diketahui dan diminati nasabah atau

calon nasabah.

9. Cash Office Service And Operational Head, Tugas utamanya yaitu

merencanakan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan opeasional di Kantor

Kas. Ruang lingkup kerjanya yaitu, pelayanan transaksi tunai dan non

tunai, administrasi operasional dan dana jasa.

48
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

4.1 Hasil Praktek Kerja Lapangan

Selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan yang telah dilaksanakan di

Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core, penulis melakukan

kegiatan yang diberikan oleh pembimbing dari Bank BNI Syariah Kantor Cabang

Pembantu Surapati core. Penulis ditempatkan pada bagian Kredit Pemilikan

Rumah. Penulis belajar untuk melakukan Tinjauan Prosedur Akad Murabahah

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu

Surapati core agar dapat mengetahui apakah layak atau tidak layaknya pihak

debitur pada saat akan melakukan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

4.1.1 Tinjauan Prosedur Akad Murabahah Kredit Pemilikan Rumah Pada

PT. Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung

[Link] Persyaratan Umum

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon nasabah yang akan

melakukan pembiayaan terutama pembiayaan mengenai pemilikan rumah harus

memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan di Bank BNI Syariah. Kriteria-

kriteria tersebut, yaitu:

49
Tabel 4.1 Syarat Umum Risk Acceptance Criteria (RAC)

Syarat Umum Risk Acceptance Criteria (RAC)


1 Kewarganegaraan Warga Negara Indonesia (WNI), berdomisili di
Indonesia
2 Tipe Perorangan
3 Usia Minimum 21 Tahun
4 Usia Maksimum a. Usia pensiun karyawan maksimum 60 tahun.
sampai jatuh tempo b. Usia pensiun profesional dan pengusaha
pembiayaan Maksimal 65 tahun.
c. Usia pensiun Pegawai Negeri Sipil sesuai
dengan peraturan eksternal.
5 Pekerjaan a. Karyawan (termasuk PNS) tetap dan bukan
karyawan dalam masa percobaan.
b. Profesional
c. Pengusaha
6 Minimum masa a. Karyawan: 2 tahun (termasuk pekerjaan
kerja sebelumnya)
b. Profesional/Pengusaha: 3 tahun dalam bidang
yang sama.
7 Checking1) Positif
2)
8 Rasio Angsuran Maksimum 35% dari Take Home Pay
9 Pembiayaan yang a. Tidak sesuai dengan prinsip syariah.
dilarang b. Untuk tujian spekulasi, usaha perjudian,
pornografi, bertentangan dengan norma
kesusilaan, narkotika, pencucian uang dan sektor
usaha lainnya yang bertentangan dengan PBI dan
UU yang berlaku.
10 Pembiayan yang a. Termasuk dalam Negative List
perlu dihindari b. Termasuk dalam Daftar Hitam Bank
Indonesia (DHBI)
c. Pernah/sedang proses write off
d. Calon nasabah merupakan pemilik atau
senior manajemen dari developer.

Sumber : Buku Panduan KPR Bank BNI Syariah, Pedoman Pembiayaan

Komersial, (Maret 2017)

Note:

1. a. Diatur lebih lanjut dalam bagian checking.

b. Diatur lebih lanjut dalam rasio angsuran.

50
c. Negative List adalah daftar profesi/usaha yang harus dihindari oleh unit

bisnis dalam memberikan pembiayaan, antara lain karena telah memasuki

tahap jenuh, kurang profitable, memerlukan penanganan khusus baik

dalam proses pre booking dan post booking dan banyak menimbulkan

pembiayaan bermasalah di bank. Negative list harus di-review secara

berkala.

2. Kredit Pemilikan Rumah harus sesuai dengan dasar hukum akad

Murabahah yang dimana syaratnya Bank BNI Syariah bertindak sebagai

penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Murabahah lazimnya

dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (Bitsaman Ajil).

3. Implementasi Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah telah sesuai dengan

syarat-syarat akad Murabahah. Dapat dilihat dari landasan syariah

Murabahah adalah Fatwa DSN MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang ,

No. 10 /DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah, No. 13/DSN-MUI/XI/2000

tentang uang muka dalam Murabahah, No. 16/DSN-MUI/IX/2000 tentang

diskon dalam Murabahah.

[Link] Persyaratan Tanah Atau Bangunan/Rumah Yang Akan Dibiayai

Dengan KPR Griya iB Hasanah

a. Status Tanah

1. Telah bersertifikat (Hak Milik, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai

atas Tanah Negara).

51
2. Tidak sedang dalam sengketa/masalah, dapat dialihkan ke atas nama

calon pembeli/debitur dan ada ijin mendirikan bangunan (IMB).

b. Luas tanah dan bangunan

1. Luas tanah minimum layak untuk didirikan bangunan.

2. Luas bangunan memenuhi aspek teknis bangunan.

c. Kondisi dan lokasi rumah

1. Pada saat akad kredit, rumah dalam kondisi layak huni, dilengkapi

fasilitas listrik dan air minum yang telah berfungsi dengan baik.

2. Terletak diwilayah pemukiman sesuai RUTR yang sudah dilengkapi

dengan sarana dan prasarana lingkungan,

3. Bangunan/rumah yang akan dijadikan agunan terletak di areal yang

menurut penilaian bank maketable.

4. Untuk rumah tinggal yang berada diluar kawasan perumahan, jalan

lingkungan depan rumah yang dijadikan agunan minimum dapat

dilalui kendaraan roda 4 (empat).

[Link] Persyaratan Dokumen

Beberapa persyaratan mengenai dokumen yang perlu diperhatikan oleh

nasabah diantaranya adalah :

1. Perjanjian pembiayaan dan/atau pengikatan jaminan harus dilakukan secara

legal/hukum untuk pemilik dari agunan apakah sebagai nasabah, atau co-

signer maupun guarantor.

52
2. Setiap usulan pengajuan pemberian fasilitas pembiayaan harus berdasarkan

permohonan tertulis dari nasabah. Permohonan dari nasabah mencakup

informasi mengenai tujuan, jumlah, jangka waktu dan jenis fasilitas

pembiayaan.

3. Usulan pengajuan pemberian fasilitas pembiayaan dan penambahannya

harus menggunakan proposal pembiayaan yang berisikan struktur

pembiayaan (baik baru maupun yang existing), kewajiban saat ini, jaminan,

evaluasi resiko pembiayaan, dasar pertimbangan dan rekomendasi.

4. Setiap pengajuan proposal pembiayaan harus di tanda tangani oleh

karyawan yang ditunjuk untuk kemudian disetujui oleh karyawan yang

berwenang.

5. Pemberian pembiayaan wajib didukung dengan pemenuhan persyaratan

dan dokumentasi pembiayaan yang diperlukan.

Beberapa persyaratan mengenai dokumen yang perlu dipersiapkan oleh

nasabah diantaranya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Persyaratan Dokumen

53
Dokumen Karyawan Wiraswasta Professional

Aplikasi yang diisi lengkap dan


  
ditandatangani oleh nasabah

Fotokopi KTP Pemohon Suami

Istri yang masih berlaku atau resi

perpanjangan KTP yang

dilengkapi dengan KTP lamadan


  
suratpernyataan bahwa alamat

dan

tandatangan sesuai dengan KTP

baru

Fotokopi Kartu Keluarga   

Fotokopi Kutipan Akta Nikah /

KutipanAkta Cerai / Surat


  
Keterangankematian pasangan /

Perjanjian Pisahharta jika ada.

Fotokopi surat kewarganegaraan

WNI/SKBRI (Surat Keterangan

Berkewarganegaraan Republik

Indonesia) dan surat Perubahan   

nama dari suami-istri (untuk

WNI keturunan) apabila

diperlukan.

Surat Persetujuan Pasangan


  
Suami/Istri

Fotokopi NPWP/SPT PPH 21   

Slip Gaji terakhir / Surat



KeteranganGaji

Laporan Keuangan 

Fotokopi Surat Ijin Praktek / Ijin



Operasi

Surat Keterangan Bekerja


   54
dariperusahaan

Dokumen asli atau fotokopi


Sumber: Buku Panduan KPR BNI Syariah, Pedoman Kredit Pemilikan

Rumah Griya ib Hasanah, (Maret 2017)

[Link] Mekanisme Pengajuan KPR dan Proses Evaluasi KPR

Mekanisme pengajuan KPR untuk pembangunan rumah dan renovasi

dilakukan dengan kewenangan pemberian pembiayaan, yaitu sebagai berikut:

Pengajuan Pembiayaan

Pengisian Form & Dokumen

Tidak Lolos
Ditolak
BI Checking
Lolos

On The Spot (OTS)

Tidak Layak
Tolak
Analisa Pembiayaan

Pemutusan Pembiayaan /SP3

Tidak Bisa
Dipenuhi
Pemenuhan Syarat SP3 batal

1. Penandatanganan Akad
2. Pengikatan Jaminan
3. Pencairan Pembiayaan

55
Gambar 4.1 Mekanisme pengajuan KPR (Maret 2017)

Sumber: Buku Panduan KPR BNI Syariah, Pedoman Pembiayaan

Komersil (Maret 2017)

Keterangan:

1. Tahap Pengajuan Pembiayaan

Pengisian Formulir Aplikasi. Calon debitur mengajukan permohonan

KPR dengan mengisi formulir aplikasi permohonan KPR Griya iB

Hasanah Bank BNI Syariah dan menyampaikan berkas persyaratan

lainnya.

Diberikan sosialisasi/Penjelasan Calon debitur diberikan sosialisasi

mengenai KPR Griya iB Hasanah Bank BNI Syariah yang meliputi :

Tujuan Penggunaan KPR, Jangka waktu, margin yang akan disepakati,

Dana yang harus tersedia di tabungan Bank BNI Syariah sebelum realisasi

KPR.

Untuk calon nasabah yang telah memenuhi syarat dapat menyerahkan

formulir beserta data-data yang diperlukan ke bagian customer service.

Petugas customer service akan menyerahkan ke bagian pembiayaan untuk

dimasukkan ke dalam register pembiayaan sebelum diserahkan kembali

kepada Pimpinan Cabang Pembantu. Pimpinan KCP akan menerima

berkas permohonan dan menganalisa dari berbagai aspek yang mendung,

selanjutnya akan mendisposisikan kepada divisi marketing kemana berkas

tersebut akan ditangani.

2. Checking

56
Bank Checking dilakukan kepada calon nasabah maupun pasangan yang

dinikahinya seperti istri/suami [Link] hal pembiayaan dijamin

oleh pihak ketiga (berupa Personal Guarantee atau Corporate Guarantee),

pihak ketiga yang memberikan jaminan harus dilakukan Bank checking

maupun evaluasi dan verifikasi pendapatan dengan mengikuti

[Link] Checking tersebut, yaitu;

a. Berlaku untuk calon nasabah dan pasangannya (jika merupakan joint

income/penggabungan pendapatan). Apabila pasangan kawin bukan

merupakan join income, maka hasil checking merupakan informasi

pelengkap bagi Komite Pembiayaan.

b. Dianggap positif apabila status calon nasabah dan pasangannya (jika

merupakan join income / penggabungan pendapatan) adalah

Kolektibilitas

c. Untuk calon nasabah dan pasangannya (jika merupakan join income /

penggabungan pendapatan) dengan pemilikan kartu kredit dimana hasil

checking dengan hari tunggak melebihi 30 hari (kolektibilitas 2,3,4,5)

yang disebabkan oleh annual fee, hasil checking dianggap positif.

d. Apabila data pada Laporan menunjukkan informasi yang

membingungkan (klasifikasi status kolektibilitas suatu pembiayaan

tidak sesuai dengan jumlah hari tunggak yang sesuai dengan ketentuan

BI), maka data yang digunakan adalah yang terburuk antara status

kolektibilitas dan hari tunggak.

3. On The Spot

57
Dalam tahap ini pihak bank akan melakukan analisa mengenai penggalian

informasi lebih dalam melalui kunjungan langsung kepada nasabah

mengenai kebenaran dari data yang telah diserahkan kepada bank.

4. Analisa Pembiayaan

Pada tahap ini para analisis pembiayaan mengevaluasi dan menentukan

keotentikan dokumen-dokumen yang diperoleh dari nasabah. Berbagai

data dan informasi dari pernyataan yang telah lengkap dikumpulkan,

diolah dan diarsipkan oleh para analisis yang kemudian akan dilegalisir

oleh pimpinan untuk dapat dilakukan realisasi perincian pembiayaan.

5. Pemutusan Pembiayaan

Pemutusan pembiayaan adalah tahap diputuskannya persetujuan suatu

permohonan oleh pimpinan. Selanjutnya dilakukan pembuatan surat

penegasan persetujuan kepada pemohon pembiayaan (SP3).

6. Pemenuhan Syarat SP3

Pemenuhan syarat SP3 yaitu tahap pemenuhan dokumen-dokumen terkait

pembiayaan secara menyeluruh untuk disimpan oleh bank seperti:

dokumen legalitas dan permohonan, dokumen analisis pembiayaan,

dokumen persetujuan pembiayaan, dokumen akad pembiayaan dan berkas-

berkas yang terlampir, dokumen jaminan dan pengikatan, dan dokumen

asuransi.

7. Realisasi Pembiayaan

58
Realisasi pembiayaan adalah tahap pencairan pembiayaan setelah seluruh

persyaratan dipenuhi dan dokumen jaminan diserahkan kepada bank.

8. Pelaksanaan Kewajiban

Tahapan ini yaitu mengenai pembiayaan telah menjadi nasabah bank dan

mempunyai kewajiban untuk membayar angsuran atas pembiayaan yang

diterimanya.

[Link] Perhitungan Pendapatan

Joint Income (pendapatan gabungan) diperbolehkan dengan pasangan

(Suami/Istri). Apabila calon nasabah memiliki lebih dari satu sumber pendapatan

(FI / NFI) atau gabungan pendapatan FI dan NFI. Evaluasi pendapatan dilakukan

terhadap seluruh sumber, baik gabungan pribadi maupun gabungan pendapatan

dengan pasangan kawin.

a. Karyawan: Pendapatan bersih harus memperhitungkan gaji pokok dan

tunjangan tetap (seperti tunjangan makan dan transportasi, dll) setelah

dikurangi pajak (Net Take Home Pay). Pendapatan bersih tidak termasuk

lembur, bonus, komisi, insentif ataupun tunjangan lain yang bersifat tidak

tetap dan bila bersifat rutin maka diambil nilai yang terendah.

b. Pengusaha dan Profesional: Metode perhitungan pendapatan diatur lebih

lanjut dalam petunjuk pelaksanaan yang akan dikeluarkan oleh Bagian

Pengembangan Produk.

59
[Link] Verifikasi & Investigasi

Tujuan dari bagian ini adalah untuk memberikan pedoman untuk aktivitas

verifikasi dan investigasipada proses aplikasi PPR, dimana informasi calon

nasabah diverifikasi kekantor dan rumah. Verifikasi, Investigasi dan Penyelidikan

juga dilakukan terhadap pasangan kawin yang merupakan joint income.

a. Verifikasi melalui Telepon, Verifikasi melalui telepon ke rumah dan

kantor wajib dilakukan untukverifikasi atas eksistensi calon nasabah

dan informasi [Link] aplikasi joint income, maka

verifikasi melalui telepon ke kantor juga wajib dilakukan untuk

pasangan nasabah.

Verifikasi melalui telepon ke kantor wajib dilakukan kepada pihak

yang berwenang di kantor tersebut (Personalia / Supervisor / Finance).

Untuk Verifikasi melalui telepon ke rumah, pihak yang dianggap

berwenang adalah setiap orang dewasa yang dapat memberikan

informasi mengenai calon nasabah.

Semua informasi yang diperoleh harus divalidasi dengan informasi

dari sumber yang lain (seperti formulir aplikasi, dokumen pendapatan,

KTP dan dokumen persyaratan lainnya).

Verifikasi melalui telepon akan dianggap positif apabila infomasi

penting minimum yang disyaratkan (seperti eksistensi calon nasabah,

gaji danlama bekerja) telah terpenuhi dan informasi yang positif

diperoleh dari pihak yang berwenang.

b. Investigasi Lapangan dan Penyelidikan, Investigasi Lapangan yang

dilakukan baik melalui rumah, kantor dan lain-lain. Investigasi ke

60
rumah calon nasabah penting untuk verifikasi eksistensi calon nasabah

dan wajib dilakukan apabila verifikasi melalui telepon ke rumah tidak

memuaskan. Investigasi ke kantor tidak wajib dilakukan untuk

karyawan yang bekerja pada perusahaan dengan kriteria berikut;

Perusahaan Multinational, BUMN dengan lingkup Nasional, dan

Perusahaan Go Public.

Apabila Verifikasi melalui telepon ke kantor tidak memuaskan,

maka Investigasi ke kantor wajib dilakukan untuk setiap jenis

pekerjaan. Investigasi Jual-beli untuk Pembiayaan Pembelian Properti

Bekas dilakukan meliputi:

- Apakah properti benar akan dijual

- Berapa nilai transaksi yang ditawarkan

- Latar Belakang rumah tersebut dijual

- Kapan penjual siap mengosongkan rumah

Semua informasi yang diperoleh harus divalidasi dengan informasi

dari sumber yang lain (seperti formulir aplikasi, dokumen pendapatan,

KTP dan dokumen persyaratan lainnya).

Investigasi dan penyelidikan dianggap positif dan dapat dilanjutkan

ketahap berikutnya, apabila informasi penting minimum yang

disyaratkan (seperti eksistensi calon nasabah, gaji dan lama bekerja)

telah terpenuhi dan informasi yang positif diperoleh dari pihak yang

berwenang.

61
[Link] Agunan Pembiayaan

Agunan yang dapat diterima oleh bank adalah agunan dengan pemilikan atas

nama nasabah atau pasangan kawin atau anak. Agunan atas nama pasangan kawin

atau anak tersebut didukung oleh dokumentasi legal yang dapat mengcover

kepentingan bank.

Agunan dapat berlaku cross collateral atau satu agunan dapat mengcover dua

fasilitas pembiayaan sepanjang memenuhi ketentuan collateral coverage dan hal

tersebut harus didukung oleh dokumentasi legal yang dapat mengcover

kepentingan Bank. Sebelum agunan pembiayaan diterima oleh Bank, harus

diyakinkan keaslian bukti Pemilikannya dengan pengecekan ke instansi terkait.

Nilai appraisal bank adalah nilai pasar wajar (fair market value). Hak atas

tanah dan/atau bangunan dapat berupa Hak Milik (HM) atau Hak Guna Bangunan

(HGB) atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun (HMSRS) khusus untuk

apartemen. Sertifikat HGB harus memiliki jangka waktu minimal satu tahun lebih

panjang dari jatuh tempo fasilitas pembiayaan. Khusus untuk developer kerjasama

yang sertifikatnya belum pecah harus melampirkan covernote dari Notaris/

developer kerjasama.

Pengikatan agunan berupa tanah dan/atau bangunan, berlaku ketentuan :

 Pengikatan agunan harus dilakukan secara Hak Tanggungan (HT)

 Pengikatan agunan untuk tanah dengan status Pemilikan HM dan HGB

dapat dilakukan secara SKMHT, khusus untuk kondisi sesuai ketentuan

perundangan yang berlaku. Agunan dengan pengikatan SKMHT harus

dilakukan pencadangan biaya untuk pengikatan HT, besarnya biaya

ditentukan oleh group terkait.

62
 Kredit Pemilikan Rumah harus sesuai dengan dasar hukum akad

Murabahah yang dimana syaratnya Bank BNI Syariah bertindak

sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Murabahah

lazimnya dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (Bitsaman Ajil).

 Implementasi Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah telah sesuai dengan

syarat-syarat akad Murabahah. Dapat dilihat dari landasan syariah

Murabahah adalah Fatwa DSN MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000

tentang , No. 10 /DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah, No. 13/DSN-

MUI/XI/2000 tentang uang muka dalam Murabahah, No. 16/DSN-

MUI/IX/2000 tentang diskon dalam Murabahah.

4.1.2 Hambatan Dan Solusi Pada Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan

Praktek kerja lapangan yang dilaksanakan oleh penulis sesuai dengan

konsentrasi yang penulis ambil yaitu Manajemen Perbankan Syariah. Praktek

kerja lapangan ini dilaksanakan selama 25 hari kerja, terhitung mulai tanggal 06

Februari sampai dengan 10 Maret 2017, Ada hambatan yang dihadapi penulis

selama Kegiatan Praktek Kerja Lapangan di Bank BNI Syariah kantor Cabang

Pembantu Surapati Core Bandung, akan tetapi penulis dapat memberikan solusi

terhadap hambatan-hambatan tersebut dikarenakan penulis banyak sekali

melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Kredit Pemilikan Rumah

(KPR) atau melakukan kegiatan-kegiatan yang membantu prosedur aktivitas

Bank.

63
4.2 Pembahasan Praktek Kerja Lapangan

4.2.1 Pembahasan Penerapan Teori dengan Prosedur Prosedur Akad

Murabahah Griya iB Hasanah

BNI Syariah KPR Syariah ( Griya iB Hasanah ) adalah fasilitas pembiayaan

konsumtif yang diberikan kepada anggota konsumtif yang diberikan kepada

anggota masyarakat untuk membeli, membangun, merenovasi rumah (termasuk

ruko, rusun, rukan, apartemen dan sejenisnya), dan membeli tanah kavling serta

rumah indent, yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan dan

kemampuan membayar kembali masing-masing calon.

Keunggulan :

1. Proses lebih cepat dengan persyaratan yang mudah sesuai dengan

prinsip syariah.

2. Minimal pembiayaan Rp. 25.000.000,- dan maksimum

Rp.[Link],-

3. Jangka waktu pembiayaan sampai dengan 15 tahun kecuali untuk

pembelian kavling maksimal 10 tahun atau disesuaikan dengan

kemampuan pembayaran.

4. Uang muka ringan yang dikaitkan dengan penggunaan pembiayaan.

5. Angsuran tetap tidak berubah sampai lunas

6. Pembayaran angsuran melalui debet rekening secara otomatis atau

dapat dilakukan diseluruh Kantor Canbang BNI Syariah maupun BNI

Konvensional.

Akad : Murabahah

Ketentuan Biaya :

64
1 Asuransi : Jiwa dan Kerugian

2 Notaris, Materai, dll : sesuai ketentuan yang berlaku

3 Prosedur Penerapan pembiayaan Griya iB Hasanah pada Bank BNI

Syariah Cabang Surapati Core adalah pada saat nasabah ingin membeli

rumah pada developer atau individual tetapi nasabah kekurangan dana

maka nasabah datang ke BNI Syariah untuk pengajuan pembiayaan

untuk pembelian rumah.

Prosedur nasabah mengajukan pembiayaan pada Bank BNI Syariah adalah :

1. Persyaratan dokumen-dokumen

2. Setelah melengkapi dokumen-dokumen marketing akan mengumpulkan

dokumen-dokumen tersebut, maka dari pihak marketing akan

mendatangi rumah nasabah dan menanyakan syarat-syarat yang sudah

diberikan kepada marketing.

3. Sesudah marketing melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya,

selanjunya akan diberikan kepada bidang procesing. Yang dilakukan

pihak procesing adalah memverifikasi data-data dan jaminan yang di

ajukan nasabah apakah sudah memenuhi syarat yang ada di BNI

Syariah Cabang Pembantu Surapati Core dan melakukan transaksi pada

jaminan yang akan di ajukan.

4. Proses selanjutnya setelah sampai procesing maka dokumen-dokumen

itu belum selesai dan masih harus disampaikan ke pimpinan cabang

pembantu, setelah pimpinan cabang pembantu memutuskan

persyaratannya sudah memenuhi syarat maka pimpinan cabang

menyetujui pengajuan untuk pembelian rumah tersebut.

65
5. Setelah pimpinan cabang memutuskan penyetujuan itu operasional

service head akan menindak lanjuti dokumen-dokumen tersebut dan

akan melakukan pencairan.

6. Proses Penaksiran jaminan pada pembiayaan Griya iB Hasanah adalah

nilai transaksi yang di ajukan pada pihak nasabah ke pihak bank yang

selanjutnya akan direalisasikan oleh bank tetapi pihak bank akan

memberikan pembiayaan 80% dampai 90% dari biaya yang di ajukan

oleh nasabah dari pihak bank tidak memberikan pembiayaan 100%

karena sifatnya membantu.

Contoh penaksiran jaminan :

Pak Ambang mengajukan pembiayaan 100.000.000 dimana

keperluan bapak Ambang adalah untuk pembelian rumah,

perhitungan transaksinya adalah :

100.000.000 x 20% = 80.000.000

Maka pembiayaan yang diberikan kepada bapak Ambang adalah

80.000.000,-

7. Cara perhitungan Pembiayaan pada Bank BNI Syariah pada

pembiayaan Griya iB Hasanah. Dapat dicontohkan sebagai berikut, Ibu

Putri akan mengajukan pembiayaan untuk pembelian rumah yang

berada di daerah Cicaheum dengan harga rumah 300.000.000,

maksimum pembiayaan (90%) = 270.000.000, margin berlaku : asumsi

10% (flat), dimana pembiayaan itu akan di angsur selama 15 tahun,

maka perhitungannya adalah :

66
Margin pembiayaan

Pokok pembiayaan x 10% x 15 tahun = Margin

270.000.000 x 10% x 15 tahun = 405.000.000

Perhitungan angsuran

Pokok pembiyaan + Margin = 270.000.000 + 405.000.000 =

675.000.000

Angsuran perbulan = 675.000.000 : (12 bulan x 15 tahun ) =

3.750.000

Maka Ibu Putri akan mengangsur setiap bulan di BNI Syariah

Cabang Pembantu Surapati Core yaitu 3.750.000

4.2.2 Pembahasan Hambatan dan Solusi dalam Proses Kredit Pemilikan

Rumah ( KPR) dikaitkan antara Teori dengan Pelaksanaan

[Link] Pembahasan Hambatan Dalam Proses KPR Dikaitkan Dengan Teori

dan Pelaksanaan

Hambatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:385) merupakan

halangan atau rintangan. Hambatan memiliki arti yang sangat penting dalam

setiap melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan. Suatu tugas atau pekerjaan tidak

akan terlaksana apabila terdapat suatu hambatan yang mengganggu pekerjaan

tersebut. Hambatan merupakan keadaan yang dapat menyebabkan pelaksanaan

terganggu dan tidak terlaksana dengan baik. Adapun hambatan yang dihadapi

dikaitkan dengan teori dan pelaksanaannya, diantaranya:

67
1) Untuk pembiayaan konsumtif seperti KPR Griya iB Hasanah ini

diperlukan data yang menggambarkan kemampuan nasabah untuk

membayar pembiayaan dari penghasilan tetapnya. Tetapi pada

pelaksanaannya Calon nasabah menginginkan plafond yang lebih tinggi

dari jumlah plafond yang ditentukan oleh pihak bank. Hal ini menjadi

salah satu hambatan dalam KPR karena pendapataan calon nasabah

yang tidak memungknkan jika menginginkan plafond yang lebih tinggi.

2) Nasabah yang menginginkan KPR tetapi belum melunasi pembiayaan

di bank lain. Sedangkan calon nasabah tersebut tidak memiliki

penghasilan lain.

3) Tidak efesiennya waktu pada saat Customer Service menjelaskan segala

macam tentang kredit pemilikan rumah dengan sangat cepat sehingga

calon nasabah tidak memahami apa yang dijelaskan oleh Customer

Service.

Hambatan yang dialami oleh nasabah dalam proses pengajuan Kredit

Pemilikan Rumah pada Bank BNI Syariah KCP Surapati Core telah sesuai

dengan solusi yang ada.

[Link] Solusi Yang Dilakukan Untuk Mengatasi Hambatan Dalam Proses

KPR yang Dikaitkan Denngan Teori dan Pelaksanaan

Solusi adalah jalan keluar atau jawaban dari suatu masalah (Munif

Chatib :2011). Dalam mengatasi hambatan-hambatan dalam Kredit Pemilikan

68
Rumah pada Bank BNI Syariah Penulis Memiliki solusi untuk mengatasi

hambatan tersebut yang dikaitkan dengan teori pelaksanaanya, diantaranya :

1) Calon nasabah harus memiliki tambahan penghasilan yang lain agar

dapat mengajukan plafond yang lebih tinggi dan mengajukan kembali

kepada pimpinan seksi administrasi pembiayaan untuk tindak lanjut.

2) Calon nasabah harus melunasi pembiayaan yang sebelumnya, untuk

dapat mengajukan KPR..

3) Pihak bank sebaiknya memberikan pelatihan secara berkala kepada

Customer Service di tiap bulannya agar Customer Service mampu

memberikan informasi yang jelas kepada calon nasabah.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi hambatan yang ada pada proses

pengajuan Kredir Pemilikan Rumah (KPR) pada Bank BNI Syariah KCP

Surapati Core telah sesuai dengan teori pada pelaksanaannya.

4.3 Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan

Prosedur menurut Mulyadi (2008:8), diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Prosedur menunjang tercapainya tujuan organisasi.

b. Prosedur mampu menciptakan adanya pengawasan yang baik dan

menggunakan biaya yang seminimal mungkin.

c. Prosedur menunjukan urutan – urutan yang logis dan sederhana.

d. Prosedur menunjukan adanya penetapan keputusan dan tanggung

jawab.

69
Berdasarkan teori menurut Mulyadi tentang karakteristik prosedur menunjukan

bahwa prosedur yang dilakukan PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu

Surapati Core. terkait dengan prosedur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sudah

sesuai dengan teori dimana salah satu yang dikemukakan adalah pada point C

yaitu, prosedur menunjukan urutan-urutan yang logis dan sederhana.

Selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan yang telah dilaksanakan di

Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core, penulis melakukan

kegiatan yang diberikan oleh pembimbing dari Bank BNI Syariah Kantor Cabang

Pembantu Surapati Core. Penulis ditempatkan pada bagian Kredit Pemilikan

Rumah sehingga penulis melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan

Kredit Pemilikan Rumah. Adapun kegiatan atau aktivitas yang penulis lakukan

selama penulis melakukan Praktik Kerja Lapangan adalah sebagai berikut :

1) Memeriksa kelengkapan persyaratan kredit.

2) Menyiapkan berkas kredit.

3) Melakukan input data debitur

4) Memberi stempel pada lembar-lembar persyaratan kredit yang

diantaranya fotocopy KTP, Kartu Keluarga, Akta Nikah, Perjanjian

(PK) dan lain-lain.

5) Membantu petugas bagian Kredit Pemilikan Rumah.

Dalam pelaksanaan kerja praktek di Bank BNI Syariah Kantor Cabang

Pembantu Surapati Core Bandung pertama kalinya diberikan gambaran umum

perusahaan serta ruang lingkup yang ada di dalamnya, terutama kegiatan

operasional yang dijalankan perusahaan. Selain itu juga melakukan tanya jawab

dalam bentuk wawancara dengan pembimbing maupun para karyawan yang lain

70
untuk menambah pengetahuan seputar apa saja yang berhubungan dengan

kegiatan operasional Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core

Bandung.

71
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai Tinjauan Prosedur Akad Murabahah

Kredit Pemilikan Rumah Pada PT. Bank BNI Syariah KCP Surapati Core

Bandung, maka penulis dapat menarik kesimpulan :

1) Prosedur pemberian Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah pada Bank

BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core Bandung antara

lain pemeriksaan, persyaratan umum, perlengkapan dokumen,

kelengkapan data, pengelolaan, analisa data yang telah diperoleh oleh

analis kredit, pengecekan kembali kelengkapan administratif oleh

admin, apabila telah disetujui dilakukan pencairan kredit dan evaluasi

oleh Account Officer.

2) Hambatan yang sering terjadi pada saat prosedur pengajuan kredit

antara lain ialah : Keterlambatan pemberian aplikasi pengajuan kredit

dan Kurang pahamnya nasabah dengan ketentuan yang berlaku.

Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang

terjad ialah : Memberikan batasan waktu tambahan bagi para nasabah

yang akan memberikan aplikasi pemberian kredit. Sehingga nasabah

dapa tmempersiapkan dokumennya dengan sesuai dan benar serta

sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan Meningkatkan

communication skill para petugas yang berhubungan langsung dengan

72
pemberian informasi kepada calon nasabah, sehingga calon nasabah

dapat menerima informasi secara jelas mengenai ketentuan kredit yang

berlaku sehingga akan mudah dipahami oleh nasabah.

5.2 Saran

Dalam kesempatan ini, penulis tanpa menguarangi rasa hormat akan

memberikan saran dengan tujuan dapat menjadi masukan bagi karyawan untuk

meningkatan kualitas pelayanan dan produktivitas kerja mereka. Saran yang

penulis berikan kepada Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati

Core Bandung adalah :

1) Produk Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah pada Bank BNI Syariah

Kantor Cabang Pembantu Surapati Core sudah memiliki kualitas yang

baik, namun dapat ditingkatkan lagi kualitas dan sosialisasi tentang

produk Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah.

2) Prosedur pemberian Kredit Pemilikan Rumah iB Hasanah Bank BNI

Syariah Kantor Cabang Pembantu Surapati Core sudah baik, namun

product knowledge yang dimiliki oleh Customer Service harus

ditingkatkan, sehingga penjelasan tentang Kredit Pemilikan Rumah iB

Hasanah dapat lebih jelas.

DAFTAR ISI

73
BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang................................................................................................1
1.2 Maksud dan Tujuan........................................................................................4
1.2.1 Maksud.......................................................................................................4
1.2.2 Tujuan.........................................................................................................5
1.3 Kegunaan Praktek Kerja Lapangan.................................................................5
1.4 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan.......................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................7
2.1 Tinjauan Umum Tentang Bank.......................................................................7
2.1.1 Pengertian Bank.........................................................................................7
2.1.2 Asas, Fungsi dan Tujuan Bank.....................................................................8
2.1.3 Jenis Bank...................................................................................................9
2.1.4 Bank Umum Kovensional..........................................................................13
[Link] Kegiatan Operasional Bank Konvensional.............................................13
2.1.5 Bank Umum Syariah.................................................................................14
[Link] Pengertian Bank Syariah.......................................................................15
[Link] Tujuan Bank Syariah.............................................................................15
[Link] Ciri-Ciri Bank Syariah.............................................................................17
[Link] Karakteristik Bank Syariah....................................................................18
2.1.6 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional.....................................19
2.2 Tinjauan Umum tentang Kredit Pemilikan Rumah (KPR)..............................21
2.2.1 Kredit Pemilikan Rumah (KPR)..................................................................22
2.2.2 Kredit Pemilikan Rumah ( KPR) iB.............................................................23
[Link] Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah..................................25
[Link] Ketentuan Umum Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah....27
[Link] Tujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya iB Hasanah......................28
[Link] Jenis KPR Griya iB Hasanah...................................................................28
2.3 Tinjauan Umum Pembiayaan........................................................................29
2.3.1 Pengertian Pembiayaan............................................................................29
2.3.2 Fungsi Pembiayaan...................................................................................30
2.3.3 Murabahah...............................................................................................31
[Link] Pengertian Murabahah........................................................................31

74
[Link] Landasan Hukum Murabahah..............................................................33
[Link] Al-Hadist...............................................................................................33
[Link] Landasan syariah Murabahah...............................................................34
[Link] Syarat dan Rukun Murabahah..............................................................35
[Link] Mekanisme Pembiayaan Murabahah...................................................36
BAB III GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN................................... 38
.........................................................................................................................................38
GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN..............................................38
3.1 Sejarah Berdirinya PT. Bank BNI Syariah.......................................................38
3.2 Visi dan Misi Bank BNI Syariah......................................................................39
3.3 Aktivitas di Bank BNI Syariah terkait dengan Produk dan Jasa.....................40
3.3.1 Produk Pendanaan...................................................................................40
3.3.2 Produk Pembiayaan..................................................................................41
3.3.3 Jasa dan Layanan......................................................................................44
3.4 Struktur Organisasi dan Deskripsi Jabatan PT. Bank BNI Syariah.................45
3.4.1 Struktur Organisasi...................................................................................46
3.4.2 Deskripsi Jabatan PT. Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung........47
BAB IV..............................................................................................................................49
HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN...................................................49
4.1 Hasil Praktek Kerja Lapangan.......................................................................49
4.1.1 Tinjauan Prosedur Akad Murabahah Kredit Pemilikan Rumah Pada PT.
Bank BNI Syariah KCP Surapati Core Bandung..........................................................49
[Link] Persyaratan Umum...............................................................................49
[Link] Persyaratan Tanah Atau Bangunan/Rumah Yang Akan Dibiayai Dengan
KPR Griya iB Hasanah...........................................................................................51
[Link] Persyaratan Dokumen..............................................................................52
[Link] Mekanisme Pengajuan KPR dan Proses Evaluasi KPR...............................56
[Link] Perhitungan Pendapatan..........................................................................60
[Link] Verifikasi & Investigasi..............................................................................60
[Link] Agunan Pembiayaan.................................................................................62
4.1.2 Hambatan Dan Solusi Pada Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan............64
4.2 Pembahasan Praktek Kerja Lapangan...........................................................65

75
4.2.1 Pembahasan Penerapan Teori dengan Prosedur Prosedur Akad
Murabahah Griya iB Hasanah..................................................................................65
4.2.2 Pembahasan Hambatan dan Solusi dalam Proses Kredit Pemilikan Rumah
( KPR) dikaitkan antara Teori dengan Pelaksanaan...................................................68
[Link] Pembahasan Hambatan Dalam Proses KPR Dikaitkan Dengan Teori dan
Pelaksanaan.........................................................................................................68
[Link] Solusi Yang Dilakukan Untuk Mengatasi Hambatan Dalam Proses KPR
yang Dikaitkan Denngan Teori dan Pelaksanaan..................................................69
4.3 Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan............................................................70
BAB V...............................................................................................................................73
KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................................73
5.1 Kesimpulan...................................................................................................73
5.2 Saran............................................................................................................74

76

Anda mungkin juga menyukai