REVIEW JURNAL
Nama : Alfian Resha Hutama
NPM : 22700018
Mata Kuliah : Metodologi Kualitatof
Judul Jurnal Dinamika Emosi pada Remaja dari Keluarga yang Bercerai
Edisi Jurnal Psikosains. vol. 9, no. 2, Agustus 2014
Penulis Nur Maya Fadhilah A.T.
Latar Belakang Masalah Perceraian orang tua merupakan peristiwa yang dapat
memberikan dampak emosional yang signifikan bagi anak-
anak, terutama remaja. dalam konteks ini, remaja seringkali
mengalami perubahan emosi yang mendalam, seperti
kemarahan, kesedihan, dan kebingungan. Penelitian ini
berfokus pada dinamika emosi remaja dari keluarga yang
bercerai.
Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah untuk:
1. mengetahui dan memahami dinamika emosi pada
remaja dari keluarga yang bercerai.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
reaksi emosional remaja terhadap perceraian orang tua
mereka.
3. Menganalisis hubungan antara remaja dan orang tua
mereka pasca perceraian, terutama dalam konteks
adanya orang ketiga.
4. Menilai dampak perceraian terhadap perkembangan
kemandirian emosional remaja
Landasan Teori Dalam penelitian ini, landasan teori yang digunakan
berfokus pada dinamika emosi remaja dari keluarga yang
bercerai. dinamika emosi dapat dipahami sebagai proses yang
berputar atau feedback, dimana perilaku yang muncul memiliki
efek sebagai akibat dari peristiwa sebelumnya dan dapat
menjadi stimulus untuk kejadian selanjutnya. Remaja, yang
dalam konteks ini adalah individu berusia antara 15 hingga 21
tahun, sering kali mengalami perubahan emosional yang
signifikan akibat perceraian orang tua. Perceraian itu sendiri
didefinisikan sebagai perpisahan pasangan suami istri secara
hukum, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional
anak-anak mereka.
Penelitian ini juga mengacu pada teori bahwa emosi dapat
dipengaruhi oleh keyakinan, persepsi terhadap situasi,
harapan, dan atribusi individu. misanya, reaksi emosional
remaja terhadap perceraian orang tua dapat dipengaruhi oleh
interpretasi mereka terhadap penyebab perceraian, seperti
adanya orang ketiga. dengan demikian, landasan teori ini
memberikan kerangka untuk memahami bagaimana
perceraian orang tua dapat mempengaruhi dinamika emosi
remaja dan pentingnya dukungan dari lingkugan sosial mereka
dalam proses adaptasi emosional.
Rumusan Masalah 1. Bagaimana dinamika emosi remaja dari keluarga yang
bercerai?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi reaksi emosional
remaja terhadap perceraian orang tua mereka?
3. Bagaimana hubungan antara remaja dan orang tua
mereka pasca perceraian, terutama dalam konteks
adanya orang ketiga?
4. Apa dampak yang ditimbulkan terhadap perkembangan
emosional dan kemandirian emosional remaja?
Metode Penelitian Metode penelitian menggunakan pendekatan kulitatif dan
metode studi kasus intrinsik. metode ini dipilih untuk
memperoleh pemahaman yang utuh dan terintegrasi mengenai
dinamika emosi pada remaja dari keluarga yang bercerai.
Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik, antara
lain:
1. Wawancara: peneliti menggunakan wawancara dengan
pedoman umum dan wawancara bebas untuk menggali
informasi yang lebih mendalam dari subjek. Pedoman
wawancara berfungsi sebagai pengingat untuk
memastikan semua aspek yang relevan dibahas.
2. Observasi dilakukan secara non-partisipan dan terbuka,
memungkinkan peneliti untuk berkomunikasi dengan
baik dengan subjek tanpa adanya paksaan.
3. Tes psikologis: peneliti menggunakan tes psikologis
berupa grafis untuk mendapatkan data tambahan
mengenai kondisi emosional subjek. Analisis data
dilakukan dengan teknik analisis domain dan analisis
taksonomis untuk memperoleh gambaran yang lebih
rinci dan mendalam mengenai fenomena yang diteliti.
Sampel Penelitian Dua subjek yang diteliti adalah remaja usia 15 dan 17 tahun.
Perceraian yang dialami olek kedua orang tua subjek
disebabkan oleh adanya orang ketiga, dimana salah satu
orang tua melakukan perselingkuhan. kedua subjek
mengalami perceraian saat mereka berusia 11 tahun.
Kesimpulan Kesimpulannya adalah perceraian orang tua memiliki dampak
signifikan terhadap emosi dan perilaku remaja. Penelitian
menunjukkan bahwa remaja yang orang tuanya bercerai,
terutama dalam konteks adanya orang ketiga, mengalami
reaksi emosional yang kuat, seperti kemarahan dan
kesedihan, yang dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap
situasi perceraian.
Kedua remaja yang dijadikan sampel penelitian menunjukkan
bahwa, hubungan yang buruk dengan orang tua pasca
perceraian dapat menghambat perkembangan kemandirian
emosional mereka dan mempengaruhi hubungan mereka
dengan orang lain. Penelitian ini menyarankan perlunya
dukungan dari orang tua, keluarga besar dan konsultan untuk
membantu anak-anak menghadapi dampak dari percerain
orang tua.
Diskusi Penelitian ini mengungkapkan bahwa perceraian orang tua
memiliki dampak yang signifikan terhadap dinamika emosi
remaja. hasil wawancara dengan dua subjek menunjukkan
bahwa remaja yang orang tuanya bercerai, terutama dalam
konteks adanya orang ketiga, mengalami reaksi emosional
yang kuat, seperti kemarahan, kesedihan dan kebingungan.
hal ini sejalan dengan teori bahwa emosi remaja dapat
dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap situasi perceraian,
termasuk interpretasi mereka terhadap penyebab perceraian
tersebut.
Dari analisis data, terlihat bahwa hubungan yang buruk
dengan orang tua pasca perceraian dapat menghambat
perkembangan kemandirian emosionla remaja. remaja yang
merasa tidak didukung oleh orang tua cenderung mengalami
kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dengan
orang lain di luar rumah. hal ini menunjukkan pentingnya
dukungan emosional dari orang tua dan lingkungan sosial
untuk membantu remaja menghadapi dampak psikologis dari
perceraian.
Selain itu, penelitian ini juga menyoroti perlunya intervensi dari
konsultan atau profesional untuk memberikan bimbingan
kepada remaja dalam mengatasi perasaan mereka. Dukungan
dari keluarga besar juga sangat penting untuk memastikan
bahwa remaja tidak merasa kehilangan figur keluarga yang
dapat memberikan stabilitas emosional. Secara keseluruhan,
penelitian ini menekankan bahwa perceraian bukan hanya
masalah antar pasangan suami-istri, tetapi juga memiliki
implikasi yang luas bagi kesejahteraan emosional anak-anak
mereka. oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk
mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan
perceraian mereka terhadap anak-anak.