LAPORAN PRAKTIKUM
ANALISIS AYAK
HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2024
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertambangan adalah kegiatan pengambilan mineral, minyak, gas, dan
batubara dari dalam bumi. Secara sederhana pertambangan adalah suatu kegiatan yang
dilakukan dengan penggalian ke dalam tanah untuk mendapatkan sesuatu yang berupa
hasil tambang (mineral, minyak dan batubara). Dalam kegiatan pertambangan dapat
memanfaakan tanah yang terdapat dalam kawasan hutan, pada prinsipnya harus sesuai
dengan fungsi dan peruntukkannya, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan
penggunaannya yang menyimpang dengan fungsi. Pertambangan yaitu sebagian atau
seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengolahan, dan penguasaan
mineral atau batu bara yang meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan konstruksi, penggalian, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan
pengangkutan penjualan, serta kegiatan pasca penambangan (Yulian, 2020).
Analisis ayak, atau sieving analysis, adalah metode yang digunakan untuk
menentukan distribusi ukuran partikel dalam suatu sampel material melalui proses
penyaringan berjenjang. Dalam proses ini, material dilewatkan melalui serangkaian
ayakan (sieves) dengan ukuran mesh berbeda, yang disusun dari yang terbesar hingga
terkecil. Partikel-partikel material akan terpisah berdasarkan ukurannya saat melewati
setiap ayakan, sehingga didapatkan berat partikel yang tertahan di masing-masing
ukuran mesh. Proses pemilahan bahan banyak dilakukan untuk memisahkan material
sesuai ukuran. Perkembangan teknologi dan upaya peningkatan produktivitas
mendorong pemanfaatan peralatan mekanis (Mujianto dan Rahmi., 2019).
Pengayakan sangat penting dilakukan untuk pengoptimalan proses selanjutnya.
Langkah-langkah dalam analisis ayak dimulai dari persiapan dan pengeringan sampel,
dilanjutkan dengan menimbang berat total material yang akan dianalisis. Kemudian,
sampel ditempatkan di atas susunan ayakan dan digoyangkan menggunakan mesin
shaker untuk memastikan partikel yang lebih kecil melewati ayakan di atasnya hingga
mencapai ayakan dengan ukuran mesh yang tepat. Setiap kategori yang keluar dari
ayakan mempunyai ukuran yang seragam. pemisah kontaminan yang ukurannya
berbeda dengan bahan baku. Pengayakan memudahkan kita untuk mendapatkan pasir
dengan ukuran yang seragam (Sulaksono dan Mastiko., 2020).
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum
1.2.1 Maksud dari praktikum ini agar praktikan dapat mengenal, mengetahui dan
menguasai ilmu tentang pengolahan bahan galian dengan cara sieving, mekanisme dan
cara kerja pengayakan.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
a. Memahami mekanisme pengayakan dan cara kerja alat;
b. Mengetahui berat tertahan material di tiap mesh.
1.3 Alat dan Bahan
1.3.1 Alat
a. Sieve Shaker;
b. Talang;
c. Kuas (3 inch);
d. Mistar;
e. Timbangan;
f. Perlengkapan Safety (Masker, Kacamata Safety, Helm Safety, dan Kaos
Tangan);
g. Jas Laboratorium;
h. Lap Kain.
1.3.2 Bahan
a. Kantong Sample A4 (5 Lembar);
b. Sample Batubara 1 Kg;
c. ATM.
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kominusi
Pengolahan mineral adalah suatu rangkaian proses teknik dan fisik yang
digunakan untuk mengubah bijih mineral mentah menjadi produk bernilai tinggi yang
siap digunakan dalam industri. Proses ini melibatkan sejumlah tahap penting yang
bertujuan untuk memisahkan mineral berharga dari material yang tidak diinginkan
atau buangan, meningkatkan konsentrasi mineral berharga, dan menghasilkan produk
akhir yang memenuhi persyaratan kualitas dan spesifikasi tertentu. Dalam pengolahan
mineral, bijih mentah dapat berupa berbagai jenis material, termasuk logam (seperti
emas, tembaga, dan besi), mineral industri (seperti pasir silika dan batu kapur), serta
mineral energi (seperti batu bara dan minyak bumi). Proses ini menjadi sangat penting
dalam mendukung berbagai sektor industri, termasuk pertambangan, metalurgi,
konstruksi, dan manufaktur. Kominusi adalah tahap awal dalam pengolahan mineral
yang melibatkan penghancuran bijih mineral mentah menjadi ukuran yang lebih kecil.
Tujuan utama dari kominusi adalah untuk memfasilitasi pemisahan mineral berharga
dari batuan pengotor (gangue) yang mengelilingi mereka dan meningkatkan luas
permukaan butir mineral. Kominusi dapat dicapai melalui berbagai teknik seperti
penghancuran (crushing) dan penggilingan (grinding) menggunakan peralatan seperti
jaw crusher, cone crusher, ball mill, atau SAG mill. Kominusi bertujuan untuk
menghancurkan bijih mineral menjadi ukuran yang lebih kecil, sementara benefisiasi
bertujuan untuk memisahkan mineral berharga dari material pengotor dan
meningkatkan kualitas mineral (Prameswara, dkk., 2020).
Tujuan utama dari pengolahan mineral adalah untuk menghasilkan produk
akhir yang memenuhi persyaratan kualitas, keberlanjutan, dan ekonomi. Proses ini
dapat mencakup sejumlah operasi seperti kominusi (penghancuran dan pengecilan
ukuran), benefisiasi (pemisahan dan pemurnian mineral berharga), pengendalian
ukuran butir, dan manajemen limbah untuk memaksimalkan nilai dari bijih mineral
yang diolah dan mengurangi dampak lingkungan yang mungkin timbul. Selama
beberapa dekade terakhir, teknologi dan praktik pengolahan mineral telah berkembang
pesat, memungkinkan industri ini untuk lebih efisien dalam ekstraksi dan penggunaan
sumber daya mineral alam. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
pengolahan mineral menjadi kunci dalam memahami bagaimana mineral berperan
dalam mendukung perkembangan ekonomi global dan bagaimana industri ini
berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Adapun tahapan dari kominusi sebagai
berikut:
1. Prymary Crushing
Pada proses ini adalah proses pertama di mana material yang dimasukkan
masih berupa bongkah yang besar yang langsung diambil dari lapangan yang
bisa mencapai ukuran 84x60 inch yang nantinya hasil dari proses ini akan
mendapatkan material sampai berukuran 4 inch.
2. Secondary Crushing
Tahapan ini adalah tahapan kedua, proses ini merupakan lanjutan dari proses
primary crusher yang dimana hasilnya di masukkan ke alat hingga dapat
memperoleh bahan galian yang berukuran lebih kecil sampai 0,4 inch.
3. Fine Crushing
Pada proses ini di mana hasil dari secondary crushing diperkecil lagi
ukurannya hingga benar-benar halus, bertujuan untuk memudahkan proses
selanjutnya seperti pemisahan mineral berharga dengan pengotornya.
Kominusi merupakan proses yang sangat penting dalam industri pengolahan
mineral, di mana material bijih atau batuan dipecah menjadi partikel-partikel kecil
untuk memudahkan proses pemisahan mineral berharga dari material pengotornya
(gangue). Proses ini memiliki sejumlah kelebihan yang memberikan kontribusi
signifikan terhadap efisiensi pengolahan mineral. Salah satu keunggulan utamanya
adalah kemampuan untuk meningkatkan luas permukaan material secara drastis.
Ketika ukuran partikel bijih semakin kecil, luas permukaan yang tersedia untuk reaksi
kimia atau proses fisik meningkat secara signifikan, memungkinkan proses-proses
lanjutan, seperti flotasi, leaching, atau pemisahan gravitasi, berlangsung lebih cepat
dan lebih efisien. Misalnya, dalam proses leaching, material yang lebih halus akan
lebih mudah bereaksi dengan pelarut kimia, seperti sianida pada pengolahan emas,
sehingga meningkatkan laju ekstraksi logam dari bijih. Kegiatan pengolahan mineral
dapat memiliki dampak negatif pada lingkungan jika tidak dilakukan dengan benar
(Prameswara, dkk., 2024).
Selain itu, kominusi juga berperan penting dalam mempermudah pemisahan
mineral berharga dari material pengotornya. Pada umumnya, mineral berharga
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
terperangkap di dalam matriks material pengotor yang sulit dipisahkan secara fisik
dalam keadaan utuh. Dengan kominusi, mineral berharga dapat dilepaskan dari
material pengotor tersebut, sehingga memudahkan proses pemisahan fisik atau kimia.
Ukuran partikel yang lebih kecil memudahkan partikel mineral berharga untuk
dipisahkan dengan metode seperti flotasi, di mana partikel-partikel kecil dapat lebih
mudah menempel pada gelembung udara dan terapung, sementara material pengotor
tetap berada di bagian bawah. Fleksibilitas alat kominusi juga menjadi keunggulan
lain, di mana berbagai jenis alat peremukan dan penggilingan dapat digunakan sesuai
dengan sifat material yang diproses. Alat seperti jaw crusher, gyratory crusher, ball
mill, dan SAG mill dapat dipilih berdasarkan kekerasan, kelembaban, dan ukuran
partikel material, memungkinkan pengolahan bijih yang lebih efisien dengan hasil
yang optimal.
Gambar 2.1 Proses Kominusi
Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, proses kominusi juga memiliki
sejumlah kekurangan yang perlu diperhatikan, terutama dari sisi konsumsi energi.
Kominusi merupakan proses yang sangat memakan energi, di mana sekitar 50-70%
dari total energi yang digunakan di pabrik pengolahan mineral dihabiskan untuk
menghancurkan bijih menjadi partikel yang lebih kecil. Hal ini menjadikannya salah
satu tahap paling boros energi dalam keseluruhan proses pengolahan mineral. Semakin
kecil ukuran partikel yang diinginkan, semakin besar energi yang diperlukan untuk
mencapainya, yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional secara signifikan.
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Selain energi, biaya operasional juga dipengaruhi oleh frekuensi perawatan alat
kominusi. Peralatan seperti ball mill, SAG mill, dan cone crusher sering mengalami
keausan karena material yang diproses umumnya bersifat keras dan abrasif.
Komponen-komponen seperti grinding media (bola baja atau batang logam) dan liner
(pelapis alat) harus diganti secara berkala, yang menambah biaya perawatan dan
mengurangi efisiensi keseluruhan proses. Tingginya angka produksi di Indonesia akan
berdampak pada peningkatan jumlah tailing dari pengolahan suatu material.
Sementara tailing sendiri adalah limbah yang tidak dapat dihindari kehadirannya
dalam proses pengolahan hasil pertambangan (Tanjung, dkk., 2022).
Gambar 2.2 Kominusi
Kekurangan lainnya adalah risiko over grinding, yaitu ketika partikel menjadi
terlalu halus akibat proses penggilingan yang berlebihan. Partikel halus ini dapat
mengurangi efisiensi pada tahap pemisahan berikutnya. Dalam proses flotasi,
misalnya, partikel yang terlalu kecil memiliki massa yang terlalu rendah untuk
menempel dengan baik pada gelembung udara, sehingga tidak dapat diangkat ke
permukaan dan akhirnya terbuang bersama dengan tailing. Hal ini tidak hanya
mengurangi hasil mineral berharga, tetapi juga menyebabkan pemborosan energi dan
bahan baku. Selain itu, over grinding dapat menyebabkan partikel halus mengisi pori-
pori material dalam proses leaching, yang memperlambat laju penetrasi pelarut kimia
dan menurunkan efisiensi ekstraksi. Proses kominusi juga menimbulkan masalah
lingkungan dan kesehatan. Salah satu efek samping dari peremukan dan penggilingan
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
adalah produksi debu dalam jumlah besar, terutama dalam kondisi kering. Debu ini
bisa mencemari lingkungan dan menimbulkan risiko kesehatan bagi para pekerja,
seperti gangguan pernapasan atau penyakit paru-paru. Oleh karena itu, pengendalian
debu, seperti penggunaan sistem penyedot debu atau penyemprotan air, sangat
diperlukan, meskipun ini juga meningkatkan biaya operasional. Selain itu, ukuran
partikel yang tidak merata dapat menjadi masalah dalam pengolahan mineral. Jika
ukuran partikel terlalu bervariasi, dengan campuran partikel halus dan kasar, hal ini
bisa mengganggu proses pemisahan, karena sebagian proses pemisahan fisik dan
kimia, seperti flotasi atau konsentrasi gravitasi, memerlukan partikel dengan ukuran
seragam untuk hasil yang optimal.
Material tertentu, terutama yang sangat keras atau memiliki kadar air yang
tinggi, juga dapat menimbulkan tantangan tersendiri dalam proses kominusi. Material
yang sangat keras, seperti bijih besi atau silika, memerlukan energi dan peralatan yang
lebih besar dan kuat untuk dihancurkan. Alat-alat penghancur seperti SAG mill dan
jaw crusher mungkin mengalami keausan lebih cepat saat menghancurkan material
keras ini, sehingga meningkatkan biaya perawatan dan penggantian suku cadang. Di
sisi lain, material yang basah atau lembap sering kali menyebabkan alat penghancur
menjadi tersumbat atau material menjadi lengket, yang mengganggu aliran material
dalam proses kominusi dan memperlambat proses produksi secara keseluruhan.
Dengan demikian, meskipun kominusi merupakan proses yang sangat penting dan
esensial dalam pengolahan mineral, efisiensi energi dan pengendalian proses menjadi
faktor kunci untuk memaksimalkan keuntungan. Dalam jangka panjang, upaya untuk
mengurangi konsumsi energi dan menghindari over grinding menjadi fokus utama
inovasi dalam teknologi peremukan dan penggilingan. Beberapa pendekatan inovatif,
seperti penggunaan teknologi penggilingan berenergi rendah atau peralatan yang lebih
tahan aus, terus dikembangkan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ada. Selain
itu, penerapan kontrol otomatis dan sistem pengukuran real-time juga dapat membantu
dalam mengoptimalkan proses kominusi, sehingga dapat mengurangi biaya dan
meningkatkan efisiensi secara keseluruhan (Prameswara, dkk.).
2.2 Pengayakan
Pengayakan adalah metode pemisahan partikel yang sangat umum dalam
berbagai industri untuk memisahkan material berdasarkan ukurannya. Prinsip dasar
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
pengayakan adalah melewatkan material melalui serangkaian ayakan atau saringan
dengan ukuran lubang (mesh) yang berbeda-beda. Ayakan dengan ukuran mesh yang
besar akan memungkinkan partikel yang lebih besar untuk lolos, sementara ayakan
yang lebih kecil hanya akan meloloskan partikel berukuran kecil. Pengayakan
merupakan salah satu metode utama untuk mengklasifikasikan material menjadi
beberapa ukuran yang berbeda, baik sebagai langkah persiapan untuk proses lanjutan,
maupun untuk memastikan bahwa bahan baku atau produk akhir memiliki ukuran
partikel yang seragam sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Dalam proses pengayakan,
material yang akan dianalisis ditempatkan pada susunan ayakan bertingkat, dengan
mesh terbesar di bagian atas dan mesh terkecil di bagian bawah. Material tersebut
kemudian digoyangkan baik secara manual atau dengan menggunakan mesin shaker,
yang dirancang khusus untuk menggetarkan ayakan sehingga partikel-partikel terpisah
secara efisien berdasarkan ukuran. Partikel-partikel yang lebih kecil akan melewati
mesh yang lebih besar, kemudian turun melalui mesh yang semakin kecil hingga
mencapai ayakan yang ukurannya sesuai dengan diameter partikel. Partikel yang
ukurannya lebih besar dari mesh di atas ayakan tersebut akan tertahan, sementara
partikel yang lebih kecil akan terus turun ke ayakan yang berada di bawahnya. Dengan
cara ini, setiap tingkat ayakan menahan partikel dengan ukuran yang berbeda,
memungkinkan pengguna untuk mengukur distribusi partikel dalam sampel secara
akurat. Pengayakan adalah sebuah cara pengelompokan butiran yang akan dipisahkan
menjadi satu atau beberapa kelompok. Pengayakan merupakan pemisahan berbagai
campuran partikel kasar dan halus dengan menggunakan ayakan. Proses pengayakan
juga digunakan sebagai pembersih dan pemisah yang ukurannya berbeda dengan
bahan baku. Selain itu, pengayakan juga memudahkan kita untuk mendapatkan serbuk
dengan ukuran yang seragam (Sateria, dkk., 2019).
Hasil dari proses pengayakan adalah distribusi ukuran partikel yang dapat
disajikan dalam bentuk tabel atau grafik. Misalnya, berat partikel yang tertahan pada
setiap ayakan dapat ditimbang, lalu dibandingkan dengan berat total material awal
untuk mendapatkan persentase dari setiap fraksi ukuran. Grafik distribusi partikel ini
biasanya menggambarkan ukuran partikel pada sumbu x dan persentase kumulatif
partikel pada sumbu y, yang memberi gambaran visual mengenai sebaran ukuran
partikel dalam sampel. Distribusi ini membantu dalam menentukan seberapa banyak
partikel yang berada dalam rentang ukuran tertentu.
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 2.3 Sieve shaker
Pengayakan adalah langkah yang penting dalam berbagai aplikasi industri. Di
industri pertambangan dan pengolahan mineral, pengayakan digunakan untuk
memisahkan bijih atau batuan berdasarkan ukuran, sehingga material dapat diproses
lebih lanjut dengan efisien. Dalam industri konstruksi, material seperti pasir, batu
pecah, atau semen perlu disaring agar sesuai dengan standar yang diperlukan untuk
memastikan kekuatan dan stabilitas struktur bangunan. Di sektor pangan, ukuran
partikel dari bahan baku seperti tepung juga memengaruhi kualitas akhir produk
makanan. Dalam farmasi, bahan-bahan aktif dalam bentuk bubuk perlu dipastikan
memiliki ukuran partikel yang seragam untuk menjamin stabilitas dan efektivitas obat.
Beberapa faktor memengaruhi hasil pengayakan, seperti ukuran dan bentuk partikel,
tingkat kelembaban material, kecepatan dan waktu pengayakan, serta kualitas dan
kondisi ayakan itu sendiri. Bentuk partikel yang tidak seragam dapat menyebabkan
material tertentu menyangkut pada lubang ayakan atau menyulitkan pemisahan.
Kelembaban dapat membuat partikel menggumpal, sehingga sulit untuk melewati
mesh ayakan, dan akhirnya mempengaruhi akurasi hasil pengayakan. Oleh karena itu,
pengayakan sering kali dilakukan dalam kondisi kering dan menggunakan shaker yang
diatur pada frekuensi dan durasi tertentu agar partikel terdistribusi dan terpisah dengan
optimal. Selain dalam keadaan kering, metode ayak juga bisa dilakukan dalam keadaan
basah di mana pada proses ini material yang akan di ayak berada dalam air atau dalam
keadaan terendam (Algifary, dkk., 2023).
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Secara keseluruhan, pengayakan adalah teknik sederhana namun sangat
berguna dan efektif untuk menentukan ukuran partikel dalam suatu sampel material.
Selain memastikan kontrol kualitas pada bahan baku dan produk akhir, hasil analisis
pengayakan juga membantu industri dalam merancang dan mengoptimalkan proses
lanjutan yang lebih efisien. Di berbagai bidang industri, hasil pengayakan menjadi
acuan penting dalam penentuan ukuran partikel yang dibutuhkan untuk mencapai
kualitas dan fungsi yang diinginkan pada produk, sehingga peran pengayakan menjadi
esensial dalam proses produksi dan pengembangan material industri.
Gambar 2.4 Bagian sieve shaker
2.3 Analisis ayakan
Analisis ayak adalah metode standar yang digunakan untuk mengetahui
distribusi ukuran partikel dalam suatu sampel material. Melalui proses penyaringan
atau pengayakan yang bertingkat, metode ini memungkinkan pemisahan partikel
berdasarkan ukurannya secara bertahap, dari yang terbesar hingga terkecil. Dalam
proses ini, serangkaian ayakan atau saringan (sieves) dengan ukuran mesh yang
berbeda disusun, dimulai dari mesh dengan ukuran lubang yang paling besar di bagian
atas hingga yang paling kecil di bagian bawah. Saat material disaring, partikel yang
berukuran lebih kecil dari lubang mesh pada ayakan tertentu akan melewati ayakan
tersebut dan turun ke tingkat ayakan berikutnya, sementara partikel yang lebih besar
akan tertahan di atasnya. Proses ini menghasilkan fraksi-fraksi partikel yang tertahan
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
pada masing-masing tingkat ayakan, yang kemudian dianalisis lebih lanjut untuk
menentukan distribusi ukuran partikel dalam sampel. Tujuan utama dari analisis ayak
adalah untuk memperoleh data distribusi ukuran partikel yang akurat dan terperinci.
Ukuran partikel memiliki dampak yang signifikan terhadap sifat fisik dan kimia dari
suatu material, seperti kekuatan, kecepatan reaksi, porositas, dan kestabilan. Karena
itu, analisis ayak sangat diperlukan di berbagai sektor industri, termasuk
pertambangan, konstruksi, farmasi, dan pangan. Dalam industri pertambangan,
misalnya, distribusi ukuran partikel penting untuk memastikan bahwa bijih yang
diekstraksi dapat diolah dengan efisien pada tahap-tahap pemisahan logam berikutnya.
Dalam konstruksi, distribusi ukuran partikel pada material seperti pasir atau batu split
menentukan karakteristik beton atau aspal yang dihasilkan, sehingga memastikan
kualitas dan daya tahan produk konstruksi. Di industri farmasi, ukuran partikel bahan
aktif obat yang seragam penting untuk menjamin homogenitas, stabilitas, dan
efektivitas obat dalam tubuh.
Proses analisis ayak terdiri dari beberapa tahap. Pertama, material yang akan
diuji biasanya dikeringkan untuk menghindari penggumpalan partikel yang dapat
mengganggu aliran melalui ayakan dan menghasilkan distribusi ukuran yang tidak
akurat. Setelah dikeringkan, sampel tersebut ditimbang untuk mengetahui berat total
material yang akan dianalisis. Material kemudian ditempatkan pada susunan ayakan
yang diatur secara bertingkat berdasarkan ukuran mesh, dengan mesh terbesar di
bagian atas hingga yang terkecil di bagian bawah. Susunan ayakan ini lalu
digoyangkan, baik secara manual maupun menggunakan mesin shaker khusus, yang
akan menggetarkan susunan ayakan secara konstan dalam waktu tertentu. Getaran ini
bertujuan untuk memastikan bahwa partikel yang lebih kecil dapat melewati lubang
mesh dengan lebih efektif, sedangkan partikel yang lebih besar akan tetap tertahan di
ayakan atas. Dengan demikian dapat dipisahkan antara partikel lolos ayakan (butiran
halus) dan yang tertinggal di ayakan (butiran kasar). Ukuran butiran tertentu yang
masih dapat melintasi ayakan dinyatakan sebagai butiran batas (Cahyono, dkk., 2019).
Setelah proses pengayakan selesai, setiap fraksi partikel yang tertahan di setiap
ayakan kemudian ditimbang kembali untuk mengetahui beratnya. Distribusi ukuran
partikel dari sampel kemudian dihitung berdasarkan berat fraksi yang tertahan di
masing-masing ayakan, biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap total
berat awal. Hasil analisis ayak ini umumnya disajikan dalam bentuk tabel atau grafik
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
distribusi ukuran partikel. Grafik tersebut biasanya menampilkan ukuran partikel pada
sumbu x dan persentase kumulatif pada sumbu y, sehingga pengguna dapat dengan
mudah memahami sebaran ukuran partikel dalam sampel tersebut. Sebagai contoh,
grafik ini dapat menunjukkan persentase kumulatif partikel yang lebih kecil dari
ukuran tertentu, yang sangat berguna untuk menentukan rentang ukuran yang sesuai
dengan kebutuhan industri atau proses selanjutnya.
Gambar 2.5 Ukuran mesh ayakan
Analisis ayak memiliki banyak aplikasi praktis yang penting. Dalam industri
pertambangan, distribusi ukuran partikel sangat berpengaruh terhadap efektivitas
proses pengolahan bijih, seperti flotasi atau pemisahan magnetik, yang memerlukan
ukuran partikel tertentu agar hasilnya optimal. Di bidang konstruksi, kualitas pasir dan
batu split sangat bergantung pada distribusi ukuran partikel yang terkontrol, yang akan
memengaruhi daya tahan beton atau campuran aspal yang dihasilkan. Dalam industri
pangan, distribusi ukuran partikel juga dapat mempengaruhi tekstur dan kualitas
produk akhir, seperti dalam pembuatan tepung atau bubuk kopi. Sementara itu, di
sektor farmasi, distribusi ukuran partikel yang seragam dalam bahan aktif obat
memastikan bahwa obat tersebut dapat dilarutkan dengan baik dalam tubuh, yang
sangat penting untuk efektivitas dan keamanannya.
Keakuratan hasil analisis ayak dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk
bentuk dan sifat partikel, waktu dan intensitas pengayakan, serta kondisi dan kualitas
ayakan yang digunakan. Partikel yang memiliki bentuk tidak seragam atau kasar dapat
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
sulit untuk melewati lubang mesh, sehingga mungkin saja tertahan di atas mesh yang
sebenarnya lebih besar dari ukuran partikel tersebut. Tingkat kelembaban juga
memainkan peran penting, karena material yang terlalu lembab dapat menggumpal,
sehingga sulit untuk mengalir melalui ayakan secara efisien. Oleh karena itu,
pengayakan biasanya dilakukan dalam kondisi kering untuk mencegah hal ini. Selain
itu, pengaturan waktu pengayakan dan frekuensi getaran dari mesin shaker juga
penting untuk memastikan bahwa partikel dapat tersebar dan terpisah dengan optimal
tanpa menyebabkan over-grinding atau penghancuran partikel.
Gambar 2.6 Mekanisme pengayakan material
Secara keseluruhan, analisis ayak adalah teknik yang sederhana namun sangat
berguna untuk memperoleh informasi penting mengenai distribusi ukuran partikel
dalam sampel material. Dengan informasi ini, berbagai industri dapat memastikan
bahwa material yang digunakan atau diproduksi memiliki kualitas dan karakteristik
yang sesuai dengan standar dan kebutuhan proses. Selain itu, analisis ayak juga dapat
membantu dalam penelitian dan pengembangan produk, karena distribusi ukuran
partikel adalah parameter yang sangat berpengaruh pada karakteristik material. Bagi
berbagai bidang industri, dari pertambangan hingga farmasi, analisis ayak telah
menjadi salah satu teknik yang penting untuk mendukung kontrol kualitas,
meningkatkan efisiensi, dan mencapai standar produk yang diinginkan.
Analisis ayak, meskipun banyak digunakan untuk menentukan distribusi
ukuran partikel dalam material, memiliki beberapa kekurangan yang dapat
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
memengaruhi hasilnya, terutama dalam kondisi tertentu. Salah satu kelemahan utama
adalah ketidakakuratan metode ini untuk partikel yang sangat halus atau sangat kasar;
partikel halus cenderung menempel dan sulit lolos dari ayakan, sedangkan partikel
kasar dapat merusak atau menghalangi mesh ayakan. Selain itu, partikel dengan bentuk
yang tidak bulat, seperti pipih atau lonjong, sering kali tidak dapat melewati mesh
ayakan sesuai dengan ukuran sebenarnya, yang dapat menyebabkan hasil distribusi
ukuran yang tidak akurat. Analisis ayak juga memerlukan waktu pengayakan yang
relatif lama, terutama jika dilakukan secara manual atau jika membutuhkan
pengayakan berulang untuk hasil stabil. Ini bisa menjadi kendala dalam operasi yang
memerlukan hasil cepat, di mana metode lain, seperti analisis laser diffraction, lebih
efisien untuk mengukur partikel yang lebih kecil. Material dengan tingkat kelembaban
tinggi juga dapat menggumpal dan menyumbat ayakan, sehingga menurunkan akurasi
hasil dan mengharuskan pengeringan awal yang menambah waktu serta biaya proses.
Selain itu, ayakan rentan terhadap kerusakan akibat material abrasif atau tajam yang
mengakibatkan ketidakakuratan, dan sisa material yang tertinggal dari analisis
sebelumnya dapat menyebabkan kontaminasi bila ayakan tidak dibersihkan dengan
baik. Keterbatasan dalam pengendalian kondisi pengayakan juga menjadi masalah,
terutama jika pengayakan dilakukan secara manual atau dengan shaker sederhana
tanpa pengaturan intensitas presisi, yang bisa menyebabkan variasi hasil. Pada sampel
dengan komposisi beragam, seperti berbagai densitas atau sifat permukaan, analisis
ayak mungkin tidak menunjukkan distribusi partikel yang representatif, karena
partikel yang lebih ringan atau kasar mungkin lebih lama tertahan di ayakan. Mesin
pengayakan model rotary merupakan mesin yang dirancang dapat membantu
melaksanakan tugas sebagai pengayakan material yang sudah dihaluskan dengan
sangat cepat dan mudah. Mesin ini akan dirancang dapat memisahkan antara yang
halus dan kasar yang masih menjadi satu, mesin ini ditenagai menggunakan motor
listrik dengan dilengkapi pengaturan kecepatan yang diinginkan dan dapat hasil
pengayakan maksimal sesuai yang diinginkan (Alfian, dkk., 2021).
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Prosedur Kerja
1. Pertama yang dilakukan adalah menyipkan alat dan bahan.
Gambar 3.1 Menyiapkan alat dan bahan
2. Menyiapkan 2 Kg sampel batubara menggunakan timbangan.
Gambar 3.2 Menimbang sampel batubara
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
3. Sampel diperkecil ukurannya menggunakan palu hingga muat ke dalam alat
jaw crusher.
Gambar 3.3 Memperkecil ukuran batubara
4. Sampel Batu Bara 2 Kg dimasukkan ke dalam hooper dan atur gape pada jaw
crusher (2 cm dan 1 cm), lalu jalankan alat jaw crusher kemudian
konsentratnya akan keluar melalui bagian bawah alat jaw crusher.
Gambar 3.4 Memasukkan sampel ke alat jaw crusher
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
5. Setelah itu, konsentrat di masukkan ke dalam ayakan dengan ukuran ayakan
yang digunakan antara lain 4, 8, 10, 14 dan -20 Mesh.
Gambar 3.5 Konsentrat di masukkan ke ayakan
6. Setelah tahap pemisahan konsentrat berdasarkan ukuran mesh, pisahkan
material sesuai dengan ukuran ayakan dan timbang masing-masing berat
tertahan dari setiap ukuran ayakan.
Gambar 3.6 Mengukur berat konsentrat
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 4.1 Tabel Pengamatan
BERAT TERTAHAN (gr)
UKURAN MESH
JC 2 cm JC 1 cm DRC 2 cm DRC 1 cm
+4 600 91,56 700 500
-4/+8 158,44 300 76,61 200,50
-8/+10 41,84 118,21 46,79 61,26
-10/+14 44,23 101,26 46,50 49,24
-14/+20 43,37 94,06 45,71 44,62
-20 76,65 153,76 54,84 59,49
TOTAL 1200,53 1094,85 1209,45 1151,09
4.1.1 Jaw crusher 2 cm
1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
600
4 = × 100 % = 49,97%
1200,53
158,44
8 = × 100 % = 13,19%
1200,53
41,48
10 = × 100 % = 3,48%
1200,53
44,23
14 = × 100 % = 3,68%
1200,53
43,37
20 = × 100 % = 3,61%
1200,53
76,65
-20 = × 100 % = 6,38%
1200,53
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
2. %Berat Tertahan Kumulatif
% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 49,97 = 49,97%
8 = 49,97 + 13,19 = 63,16%
10 = 63,16 + 3,48 = 66,64%
14 = 66,64 + 3,68 = 70,32%
20 = 70,32 + 3,61 = 73,93%
-20= 73,93 + 6,38 = 80,31%
3. % Berat Lolos Kumulatif
% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 80,31 - 49,97 = 30,34%
8 = 80,31 - 63,16 = 17,15%
10 = 80,31 - 66,64 = 13,67%
14 = 80,31 - 70,32 = 9,99%
20 = 80,31 - 73,93 = 6,38%
-20 = 80,31 - 80,31 = 0%
Tabel 4.2 Hasil pengolahan data jaw crusher 2 cm
% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 600 49,97 49,97 30,34
8 2,38 158,44 13,19 63,16 17,15
10 2 41,84 3,48 66,64 13,67
14 1,41 44,23 3,48 70,32 9,99
20 0,84 43,37 3,61 73,93 6,38
-20 0 76,65 6,38 80,31 0
Total - 1200,53 80,31 404,33 77,53
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 4.1 Grafik Jaw Crusher Gape 2 cm
4.1.2 Jaw crusher 1 cm
1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
91,56
4 = × 100 % = 8,36%
1094,85
300
8 = × 100 % = 27,40%
1094,85
118,21
10 = × 100 % = 10,79%
1094,85
101,26
14 = × 100 % = 9,24%
1094,85
94,06
20 = × 100 % = 8,59%
1094,85
153,76
-20 = × 100 % = 14,04%
1094,85
2. %Berat Tertahan Kumulatif
% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 8,36 = 8,36%
8 = 8,36 + 27,40 = 35,76%
10 = 35,76 + 10,79 = 46,55%
14 = 46,55 + 9,24 = 55,79%
20 = 55,79 + 8,59 = 64,38%
-20= 64,38 + 14,04 = 78,42%
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
3. % Berat Lolos Kumulatif
% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 64,38 - 8,36 = 70,06%
8 = 64,38 - 35,76 = 42,66%
10 = 64,38 - 46,55 = 31,87%
14 = 64,38 - 55,79 = 22,63%
20 = 64,38 - 64,38 = 14,04%
-20 = 64,38 - 78,42 = 0%
Tabel 4.3 Hasil pengolahan data jaw crusher 1 cm
% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 91,56 8,36 8,36 70,06
8 2,38 300 27,40 35,76 42,66
10 2 118,21 10,79 46,55 31,87
14 1,41 101,26 9,24 55,79 22,63
20 0,84 94,06 8,59 64,38 14,04
-20 0 153,76 14,04 78,42 0
Total - 1094,85 78,42 289,29 181,26
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 4.2 Grafik Jaw Crusher Gape 1 cm
4.1.3 Double Roll Crusher 2 cm
1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
700
4 = × 100 % = 57,87%
1209,45
79,61
8 = × 100 % = 6,58%
1209,45
46,79
10 = × 100 % = 3,88%
1209,45
46,50
14 = × 100 % = 3,84%
1209,45
45,71
20 = × 100 % = 3,77%
1209,45
54,84
-20 = × 100 % = 4,53%
1209,45
2. %Berat Tertahan Kumulatif
% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 57,87 = 57,87%
8 = 8,36 + 6,58 = 64,45%
10 = 35,76 + 3,88 = 68,33%
14 = 46,55 + 3,84 = 72,17%
20 = 55,79 + 3,77 = 75,94%
-20= 64,38 + 4,53 = 80,47%
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
3. % Berat Lolos Kumulatif
% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 80,47 - 57,87 = 22,6%
8 = 80,47 - 64,45 = 16,45%
10 = 80,47 - 68,33 = 12,14%
14 = 80,47 - 72,17 = 8,3%
20 = 80,47 - 75,94 = 4,53%
-20 = 80,47 - 80,47 = 0%
Tabel 4.4 Hasil pengolahan data double roll crusher 2 cm
% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 700 57,87 57,87 22,6
8 2,38 79,61 6,58 64,45 16,45
10 2 46,79 3,88 68,33 12,14
14 1,41 46,50 3,84 72,17 8,3
20 0,84 45,71 3,77 75,94 4,53
-20 0 54,84 4,53 80,47 0
Total - 1209,45 80,47 419,23 64,02
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 4.3 Grafik Double Roll Crusher Gape 2 cm
4.1.4 Double Roll Crusher 1 cm
1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
500
4 = × 100 % = 43,43%
1151,09
200,50
8 = × 100 % = 17,41%
1151,09
61,26
10 = × 100 % = 5,32%
1151,09
49,24
14 = × 100 % = 4,27%
1151,09
44,62
20 = × 100 % = 3,87%
1151,09
59,49
-20 = × 100 % = 5,16%
1151,09
2. %Berat Tertahan Kumulatif
% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 43,43 = 43,43%
8 = 43,43 + 17,41 = 60,84%
10 = 60,84 + 5,32 = 66,16%
14 = 66,16 + 4,27 = 70,43%
20 = 70,43 + 3,87 = 74,3%
-20= 74,3 + 5,16 = 79,46%
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
3. % Berat Lolos Kumulatif
% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 79,46 - 43,43 = 36,03%
8 = 79,46 - 60,84 = 18,62%
10 = 79,46 - 66,16 = 13,3%
14 = 79,46 - 70,43 = 9,03%
20 = 79,46 - 74,3 = 5,16%
-20 = 79,46 - 79,46 = 0%
Tabel 4.5 Hasil pengolahan data double roll crusher 1 cm
% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 500 43,43 43,43 36,03
8 2,38 200,50 17,41 60,84 18,62
10 2 61,26 5,32 66,16 13,3
14 1,41 49,24 4,27 70,43 9,03
20 0,84 44,62 3,87 74,3 5,16
-20 0 59,49 5,16 79,46 0
Total - 1151,09 79,46 394,62 82,14
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 4.4 Grafik Double Roll Crusher Gape 1 cm
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
4.2 Pembahasan
1. Pengolahan Data P80 Jaw Crusher 2 cm
Y = 5,3626x – 5,8473
P80 = 5,3626x – 5,8473
5,3626x = 80 + 5,8473
X = 85,8473 / 5,3626 = 16 mm
2. Pengolahan Data P80 Jaw Crusher 1 cm
Y = 12,726x – 14,33
P80 = 12,726x – 14,33
12,726x = 80 + 14,33
X = 94,33/ 14,33 = 7,41 mm
3. Pengolahan Data P80 Roll Crusher 2 cm
Y = 4,36x – 4,59
P80 = 4,36x – 4,59
4,36x = 80 + 4,59
X = 84,59/ 4,59 = 19,4 mm
4. Pengolahan Data P80 Roll Crusher 1 cm
Y = 6,4229x – 8,79
P80 = 6,4229x – 8,79
6,4229x = 80 + 8,79
X = 88,79 / 8,79= 13,82 mm
5. Pengolahan Data RR80 Roll Crusher 2 cm
RR80 = P80 JC / P80 RC
RR80 = 16/ 19,4= 0,82 mm
6. Pengolahan Data RR80 Roll Crusher 1 cm
RR80 = P80 JC / P80 RC
RR80 = 7,41 / 13,82 = 0,53 mm
7. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 2 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236gr – 1200,53gr) / 1236gr x (100%) = 2,86 %
8. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236 gr – 1094,85 gr) / 1236 gr x (100%) = 11,41 %
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
9. Pengolahan Data Berat Hilang Roll Crusher 2 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236 gr – 1209,45 gr) / 1236 gr x (100%) = 2,14%
10. Pengolahan Data Berat Hilang Roll Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236 gr – 1151,09 gr) / 1236 gr x (100%) = 6,86 %
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pengolahan Bahan Galian (mineral dressing) adalah istilah umum yang
digunakan untuk mengolah semua jenis bahan galian hasil tambang yang berupa
mineral, batuan, bijih atau bahan galian lainnya yang ditambang atau diambil dari
endapan-endapan alam pada kulit bumi. Pada praktikum ini kita melakukan proses
crushing atau peremukan. Peremukan merupakan proses reduksi ukuran dari bahan
galian atau bijih yang langsung dari tambang. Adapun alat-alat yang digunakan pada
proses peremukan ini adalah alat jaw crusher yaitu alat yang Prinsip kerjanya secara
awam mirip seperti rahang, material akan masuk dan mengalami proses penghancuran
seperti dikunyah untuk diubah menjadi lebih kecil. Dan alat roll crusher yaitu alat
preparasi pertambangan yang berfungsi untuk menghancurkan batuan atau sampel
material seperti mineral, nikel dan batuan tambang lainnya agar bisa menjadi serpihan
yang halus dan dapat diatur sedemikian rupa ketebalan serpihan tersebut.
Setelah dilakukannya proses kominusi, maka selanjutnya akan dilakukan
proses screening atau pengayakan. Screening adalah proses pemisahan secara mekanik
berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Adapun ukuran ayakan yang digunakan pada
praktikum ini yaitu ukuran 4, 8, 10, 14, 20, dan -20 mesh. Adapun alat yang digunakan
pada proses ini adalah alat Sieve Shaker yaitu alat untuk memisahkan padatan dengan
menggunakan peralatan penyaringan berlapis serta adanya nilai mesh saringan yang
berbeda-beda.
5.2 Saran
5.2.1 Saran Untuk Laboratorium
Agar kiranya peralatan-peralatan yang digunakan saat praktikum segera
diperbaiki agar praktikan dapat melihat secara langsung proses kerja alat serta dapat
menyediakan loker untuk tempat penyimpanan barang praktikan.
5.2.2 Saran Untuk Asisten
Agar kiranya fast respon jika di chat dan lebih menjelaskan lagi ke praktikan
penrbedaan penggunaan alat di perusahaan dan di lab serta edukasi tentang olah data
baik secara online ataupun offline.
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
DAFTAR PUSTAKA
Eliansyah, M. H & Sriyanti.(2021). Evaluasi Kinerja Crushing Plant Di PT X Desa
Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Jurnal
Riset Teknik Pertambangan. Vol 1 (2): 132-139.
Fitrianti, R.(2016). Pertambangan Batubara : Dampak Lingkungan, Sosial Dan
Ekonomi. Jurnal REDOKS. Vol 1 (1).
Yulian, F. C & Elsi Kartika Sari. (2020). Izin Usaha Pertambangan (Timah) Dalam
Kawasan Hutan Yang Di Wilayah Kubu Kecamatan Toboali Kabupaten
Bangka Selatan.
Kaswadi, A., Aris, F,. & Hidayat, D., A.(2022). Implementasi Dmaic Untuk
Menyelesaikan Masalah Penumpukan Kereta Produk Reject Pada Proses
Crushing Di Pt Xyz. Jurnal Astra [Link] 13 (2).
Novalise., Aprilia, R., & Pitria.(2024). Analisis Capaian Produksi Jaw Crusher Pada
CV KM Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Of Social
Science Research. Vol 4 (4):6198-6206.
Prameswara, G., Tyassena, F. Y. P., & Arninda, A. Pengolahan Mineral 1 Kominusi
Dan Benefisiasi Mineral. Penerbit Fakultas Teknik Universitas Fajar.
Saputra, W. A., Safaruddin., Franca, M. L., Prabumulih, S.(2021). Analisa Roller
Crusher Untuk Mereduksi Ukuran Bahan Galian Tanah Liat Di [Link]
Baturaja (Persero) Tbk. Jurnal Kotamo. Vol 1 (18).
Sumarjono, E., Misdianta, E & Fahrudinoor.(2024). Distribusi Ukuran Produk
Peremukan Jaw Crusher Material Berbentuk Rounded Size Distribution Of Jaw
Crusher Crushing Products For Rounded [Link] [Link] 9 (1):
95-100.
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236