LAPORAN PRAKTIKUM
GRINDING
HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2024
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertambangan adalah kegiatan pengambilan mineral, minyak, gas, dan
batubara dari dalam bumi. Secara sederhana pertambangan adalah suatu kegiatan yang
dilakukan dengan penggalian ke dalam tanah untuk mendapatkan sesuatu yang berupa
hasil tambang (mineral, minyak dan batubara). Dalam kegiatan pertambangan dapat
memanfaakan tanah yang terdapat dalam kawasan hutan, pada prinsipnya harus sesuai
dengan fungsi dan peruntukkannya, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan
penggunaannya yang menyimpang dengan fungsi. Pertambangan yaitu sebagian atau
seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengolahan, dan penguasaan
mineral atau batu bara yang meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan konstruksi, penggalian, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan
pengangkutan penjualan, serta kegiatan pasca penambangan (Yulian, 2020).
Grinding adalah proses penggerusan atau penghancuran material mentah
menjadi ukuran yang lebih halus. Tujuan utama dari proses ini adalah untuk
memisahkan mineral berharga dari batuan atau material pengotor lainnya dengan cara
memperkecil ukuran partikel. Pada proses pekerjaan grinding dan welding terdapat
pada aspek interpretasi kognitif (penafsiran secara kognitif), dengan masing-masing
nilai CFP (Cognitive Failure Probability) pada proses grinding yaitu sebesar 0,024
dan pada proses welding 0,006. Usulan perbaikan untuk mengurangi probabilitas pada
proses grinding dan welding adalah pada kondisi pekerjaan dengan membutuhkan
penerangan yang cukup saat bekerja (Shaputra, dkk., 2021)
Dalam proses pengolahan mineral, setelah peremukan bahan galian kemudian
dilakukan penggerusan dengan tujuan mendapatkan konsentrat yang lebih halus,
dengan dilakukannya penggerusan dapat meningkatkan optimalisasi proses
selanjutnya dalam pemisahan mineral berharga dengan mineral pengotornya yang
dapat dilakukan baik secara flotasi atau leagching. Dengan ukuran konsentrat yang
lebih kecil proses tersebut menjadi lebih maksimal. Alat yang digunakan pada proses
grinding berupa ball mill. Kelancaran proses produksi di pengaruhi oleh beberapa hal
seperti sumber daya manusia serta kondisi dari fasilitas produksi yang dimiliki, seperti
mesin dan peralatan lain sebagai pendukung (Prabowo, dkk., 2020).
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum
1.2.1 Maksud dari praktikum ini agar praktikan dapat mengenal, mengetahui dan
menguasai ilmu tentang pengolahan bahan galian dengan cara grinding, mekanisme
dan cara kerja penggerusan.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
a. Memahami mekanisme penggerusan dan cara kerja alat;
b. Mempelajari pengaruh waktu grinding terhadap halusan hasil gerus.
1.3 Alat dan Bahan
1.3.1 Alat
a. Ball Mill;
b. Sieve Shaker;
c. Bola Baja;
d. Talang;
e. Kuas (3 inch);
f. Mistar;
g. Timbangan;
h. Perlengkapan Safety (Masker, Kacamata Safety, Helm Safety, dan Kaos
Tangan);
i. Jas Laboratorium;
j. Lap Kain;
1.3.2 Bahan
a. Kantong Sample A4 (5 Lembar);
b. Sample Batubara 1 Kg;
c. ATM.
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kominusi
Pengolahan mineral adalah suatu rangkaian proses teknik dan fisik yang
digunakan untuk mengubah bijih mineral mentah menjadi produk bernilai tinggi yang
siap digunakan dalam industri. Proses ini melibatkan sejumlah tahap penting yang
bertujuan untuk memisahkan mineral berharga dari material yang tidak diinginkan
atau buangan, meningkatkan konsentrasi mineral berharga, dan menghasilkan produk
akhir yang memenuhi persyaratan kualitas dan spesifikasi tertentu. Dalam pengolahan
mineral, bijih mentah dapat berupa berbagai jenis material, termasuk logam (seperti
emas, tembaga, dan besi), mineral industri (seperti pasir silika dan batu kapur), serta
mineral energi (seperti batu bara dan minyak bumi). Proses ini menjadi sangat penting
dalam mendukung berbagai sektor industri, termasuk pertambangan, metalurgi,
konstruksi, dan manufaktur. Kominusi adalah tahap awal dalam pengolahan mineral
yang melibatkan penghancuran bijih mineral mentah menjadi ukuran yang lebih kecil.
Tujuan utama dari kominusi adalah untuk memfasilitasi pemisahan mineral berharga
dari batuan pengotor (gangue) yang mengelilingi mereka dan meningkatkan luas
permukaan butir mineral. Kominusi dapat dicapai melalui berbagai teknik seperti
penghancuran (crushing) dan penggilingan (grinding) menggunakan peralatan seperti
jaw crusher, cone crusher, ball mill, atau SAG mill. Kominusi bertujuan untuk
menghancurkan bijih mineral menjadi ukuran yang lebih kecil, sementara benefisiasi
bertujuan untuk memisahkan mineral berharga dari material pengotor dan
meningkatkan kualitas mineral (Prameswara, dkk., 2020).
Tujuan utama dari pengolahan mineral adalah untuk menghasilkan produk
akhir yang memenuhi persyaratan kualitas, keberlanjutan, dan ekonomi. Proses ini
dapat mencakup sejumlah operasi seperti kominusi (penghancuran dan pengecilan
ukuran), benefisiasi (pemisahan dan pemurnian mineral berharga), pengendalian
ukuran butir, dan manajemen limbah untuk memaksimalkan nilai dari bijih mineral
yang diolah dan mengurangi dampak lingkungan yang mungkin timbul. Selama
beberapa dekade terakhir, teknologi dan praktik pengolahan mineral telah berkembang
pesat, memungkinkan industri ini untuk lebih efisien dalam ekstraksi dan penggunaan
sumber daya mineral alam. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
pengolahan mineral menjadi kunci dalam memahami bagaimana mineral berperan
dalam mendukung perkembangan ekonomi global dan bagaimana industri ini
berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Adapun tahapan dari kominusi sebagai
berikut:
1. Prymary Crushing
Pada proses ini adalah proses pertama di mana material yang dimasukkan
masih berupa bongkah yang besar yang langsung diambil dari lapangan yang
bisa mencapai ukuran 84x60 inch yang nantinya hasil dari proses ini akan
mendapatkan material sampai berukuran 4 inch.
2. Secondary Crushing
Tahapan ini adalah tahapan kedua, proses ini merupakan lanjutan dari proses
primary crusher yang di mana hasilnya di masukkan ke alat hingga dapat
memperoleh bahan galian yang berukuran lebih kecil sampai 0,4 inch.
3. Fine Crushing
Pada proses ini di mana hasil dari secondary crushing diperkecil lagi
ukurannya hingga benar-benar halus, bertujuan untuk memudahkan proses
selanjutnya seperti pemisahan mineral berharga dengan pengotornya.
Kominusi merupakan proses yang sangat penting dalam industri pengolahan
mineral, di mana material bijih atau batuan dipecah menjadi partikel-partikel kecil
untuk memudahkan proses pemisahan mineral berharga dari material pengotornya
(gangue). Proses ini memiliki sejumlah kelebihan yang memberikan kontribusi
signifikan terhadap efisiensi pengolahan mineral. Salah satu keunggulan utamanya
adalah kemampuan untuk meningkatkan luas permukaan material secara drastis.
Ketika ukuran partikel bijih semakin kecil, luas permukaan yang tersedia untuk reaksi
kimia atau proses fisik meningkat secara signifikan, memungkinkan proses-proses
lanjutan, seperti flotasi, leaching, atau pemisahan gravitasi, berlangsung lebih cepat
dan lebih efisien. Misalnya, dalam proses leaching, material yang lebih halus akan
lebih mudah bereaksi dengan pelarut kimia, seperti sianida pada pengolahan emas,
sehingga meningkatkan laju ekstraksi logam dari bijih. Kegiatan pengolahan mineral
dapat memiliki dampak negatif pada lingkungan jika tidak dilakukan dengan benar
(Prameswara, dkk., 2024).
Selain itu, kominusi juga berperan penting dalam mempermudah pemisahan
mineral berharga dari material pengotornya. Pada umumnya, mineral berharga
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
terperangkap di dalam matriks material pengotor yang sulit dipisahkan secara fisik
dalam keadaan utuh. Dengan kominusi, mineral berharga dapat dilepaskan dari
material pengotor tersebut, sehingga memudahkan proses pemisahan fisik atau kimia.
Ukuran partikel yang lebih kecil memudahkan partikel mineral berharga untuk
dipisahkan dengan metode seperti flotasi, di mana partikel-partikel kecil dapat lebih
mudah menempel pada gelembung udara dan terapung, sementara material pengotor
tetap berada di bagian bawah. Fleksibilitas alat kominusi juga menjadi keunggulan
lain, di mana berbagai jenis alat peremukan dan penggilingan dapat digunakan sesuai
dengan sifat material yang diproses. Alat seperti jaw crusher, gyratory crusher, ball
mill, dan SAG mill dapat dipilih berdasarkan kekerasan, kelembaban, dan ukuran
partikel material, memungkinkan pengolahan bijih yang lebih efisien dengan hasil
yang optimal.
Gambar 2.1 Proses Kominusi
Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, proses kominusi juga memiliki
sejumlah kekurangan yang perlu diperhatikan, terutama dari sisi konsumsi energi.
Kominusi merupakan proses yang sangat memakan energi, di mana sekitar 50-70%
dari total energi yang digunakan di pabrik pengolahan mineral dihabiskan untuk
menghancurkan bijih menjadi partikel yang lebih kecil. Hal ini menjadikannya salah
satu tahap paling boros energi dalam keseluruhan proses pengolahan mineral. Semakin
kecil ukuran partikel yang diinginkan, semakin besar energi yang diperlukan untuk
mencapainya, yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional secara signifikan.
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Selain energi, biaya operasional juga dipengaruhi oleh frekuensi perawatan alat
kominusi. Peralatan seperti ball mill, SAG mill, dan cone crusher sering mengalami
keausan karena material yang diproses umumnya bersifat keras dan abrasif.
Komponen-komponen seperti grinding media (bola baja atau batang logam) dan liner
(pelapis alat) harus diganti secara berkala, yang menambah biaya perawatan dan
mengurangi efisiensi keseluruhan proses. Tingginya angka produksi di Indonesia akan
berdampak pada peningkatan jumlah tailing dari pengolahan suatu material.
Sementara tailing sendiri adalah limbah yang tidak dapat dihindari kehadirannya
dalam proses pengolahan hasil pertambangan (Tanjung, dkk., 2022).
Gambar 2.2 Kominusi
Kekurangan lainnya adalah risiko over grinding, yaitu ketika partikel menjadi
terlalu halus akibat proses penggilingan yang berlebihan. Partikel halus ini dapat
mengurangi efisiensi pada tahap pemisahan berikutnya. Dalam proses flotasi,
misalnya, partikel yang terlalu kecil memiliki massa yang terlalu rendah untuk
menempel dengan baik pada gelembung udara, sehingga tidak dapat diangkat ke
permukaan dan akhirnya terbuang bersama dengan tailing. Hal ini tidak hanya
mengurangi hasil mineral berharga, tetapi juga menyebabkan pemborosan energi dan
bahan baku. Selain itu, over grinding dapat menyebabkan partikel halus mengisi pori-
pori material dalam proses leaching, yang memperlambat laju penetrasi pelarut kimia
dan menurunkan efisiensi ekstraksi. Proses kominusi juga menimbulkan masalah
lingkungan dan kesehatan. Salah satu efek samping dari peremukan dan penggilingan
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
adalah produksi debu dalam jumlah besar, terutama dalam kondisi kering. Debu ini
bisa mencemari lingkungan dan menimbulkan risiko kesehatan bagi para pekerja,
seperti gangguan pernapasan atau penyakit paru-paru. Oleh karena itu, pengendalian
debu, seperti penggunaan sistem penyedot debu atau penyemprotan air, sangat
diperlukan, meskipun ini juga meningkatkan biaya operasional. Selain itu, ukuran
partikel yang tidak merata dapat menjadi masalah dalam pengolahan mineral. Jika
ukuran partikel terlalu bervariasi, dengan campuran partikel halus dan kasar, hal ini
bisa mengganggu proses pemisahan, karena sebagian proses pemisahan fisik dan
kimia, seperti flotasi atau konsentrasi gravitasi, memerlukan partikel dengan ukuran
seragam untuk hasil yang optimal.
Material tertentu, terutama yang sangat keras atau memiliki kadar air yang
tinggi, juga dapat menimbulkan tantangan tersendiri dalam proses kominusi. Material
yang sangat keras, seperti bijih besi atau silika, memerlukan energi dan peralatan yang
lebih besar dan kuat untuk dihancurkan. Alat-alat penghancur seperti SAG mill dan
jaw crusher mungkin mengalami keausan lebih cepat saat menghancurkan material
keras ini, sehingga meningkatkan biaya perawatan dan penggantian suku cadang. Di
sisi lain, material yang basah atau lembap sering kali menyebabkan alat penghancur
menjadi tersumbat atau material menjadi lengket, yang mengganggu aliran material
dalam proses kominusi dan memperlambat proses produksi secara keseluruhan.
Dengan demikian, meskipun kominusi merupakan proses yang sangat penting dan
esensial dalam pengolahan mineral, efisiensi energi dan pengendalian proses menjadi
faktor kunci untuk memaksimalkan keuntungan. Dalam jangka panjang, upaya untuk
mengurangi konsumsi energi dan menghindari over grinding menjadi fokus utama
inovasi dalam teknologi peremukan dan penggilingan. Beberapa pendekatan inovatif,
seperti penggunaan teknologi penggilingan berenergi rendah atau peralatan yang lebih
tahan aus, terus dikembangkan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ada. Selain
itu, penerapan kontrol otomatis dan sistem pengukuran real-time juga dapat membantu
dalam mengoptimalkan proses kominusi, sehingga dapat mengurangi biaya dan
meningkatkan efisiensi secara keseluruhan (Prameswara, dkk).
2.2 Grinding
Pada pengolahan material, grinding adalah proses lanjutan dari penghancuran
material yang bertujuan untuk mengurangi ukuran partikel hingga mencapai tingkat
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
kehalusan tertentu. Proses ini penting terutama dalam industri pertambangan,
pengolahan mineral, semen, keramik, dan metalurgi. Grinding dilakukan setelah tahap
crushing, atau penghancuran awal, dan berfungsi untuk memperkecil ukuran material
agar sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan dalam tahap berikutnya, seperti
pemisahan mineral berharga atau produksi material berkualitas tinggi. Pada proses
grinding juga sering terjadi kecelakaan kerja lainnya yang membahayakan kesehatan
dan keselamatan pekerja (Alfitra, dkk., 2023).
Gambar 2.3 Penggerusan alat ball mill
Proses grinding memiliki manfaat besar di berbagai industri, terutama dalam
mengolah material mentah agar siap untuk tahapan pemrosesan selanjutnya atau
menghasilkan produk akhir dengan kualitas yang diinginkan. Dalam industri
pertambangan, misalnya, grinding digunakan untuk memperkecil ukuran partikel
batuan yang mengandung mineral berharga agar lebih mudah dipisahkan dari material
pengotor. Proses ini sangat penting dalam pemisahan mineral berharga seperti emas,
tembaga, dan bijih besi, di mana ukuran partikel yang lebih halus memungkinkan
pemisahan lebih efektif melalui metode flotation atau gravity separation. Selain itu,
karena partikel halus memiliki luas permukaan yang lebih besar, efisiensi proses
ekstraksi meningkat, seperti pada pengolahan emas melalui sianidasi, di mana partikel
halus mempercepat reaksi dengan larutan sianida. Dalam industri kimia dan metalurgi,
grinding berfungsi meningkatkan luas permukaan partikel yang akan diproses lebih
lanjut secara kimia, misalnya dalam proses leaching untuk mengekstraksi logam
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
seperti nikel dan tembaga. Partikel halus memungkinkan bahan kimia mencapai
permukaan material dengan lebih merata, mempercepat proses reaksi dan
meningkatkan hasil ekstraksi. Proses ini juga penting dalam produksi paduan logam,
di mana bahan baku yang halus memudahkan pencampuran yang seragam untuk
menghasilkan paduan berkualitas. Di industri semen, grinding digunakan untuk
menghancurkan bahan baku seperti batu kapur hingga menjadi partikel halus sebelum
proses pembakaran di dalam kiln. Partikel halus ini bereaksi lebih cepat dalam proses
pembakaran, meningkatkan efisiensi energi, mempercepat waktu produksi, dan
menghasilkan semen dengan kekuatan yang lebih baik. Ball mill merupakan salah satu
jenis unit grinding. Ball mill bekerja dengan prinsip impact. Ball mill menggunakan
bola besi sebagai grinding medium. Gaya yang bekerja pada sebuah ball mill yaitu
gaya gesek, tumbukan dan gravitasi. Pengecilan ukuran pada penggerusan, grinding
tergantung pada seberapa besar peluang dari partikel bijih untuk dapat digerus.
Penggerusan terjadi oleh adanya beberapa gaya yang bekerja pada partikel bijih
tersebu. Gaya-gaya ini akan mengubah bentuk partikel bijih sampai melampaui batas
kekuatan yang dimilikinya. Proses pemecahan atau penggilingan ada 4 cara yaitu:
1. Potongan (cutting), bahan olahan di grinding dengan menggunakan benda
tajam.
2. Pukulan (impact), bahan olahan di grinding dengan menggunakan benda
tumpul.
3. Tekanan (compression), bahan olahan di grinding dengan di tekan arah tegak
lurus dari landasan.
4. Gesekan (attrition), bahan olahan di grinding dengan di gesek arah sejajar dari
landasan.
Ada berbagai macam penggiling, yaitu:
1. Penggiling Pusingan;
2. Penggiling Peluru;
3. Penggiling Buhrstone;
4. Penggiling Ultra;
5. Penggiling Putar
Pengolahan bijih, mineral atau bahan galian umumnya dilakukan secara basah.
Muatan mill terdiri dari grinding media atau media gerus, bijih dan air. Muatan ini
akan tercampur dengan baik ketika mill berputar. Media gerus akan dapat mengecilkan
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
partikel bijih dengan satu atau beberapa gaya. Sebagian besar energi kinetik dari
muatan mill akan terbuang sebagai panas, suara dan kehilangan lainnya. Hanya
sebagian kecil saja yang termanfaatkan sebagai energi untuk pengecilan ukuran.
Operasi penggerusan berjalan secara kontinu, artinya umpan masuk ke dalam mill
melalui salah satu ujungnya secara terus-menerus dengan laju tertentu. Bijih tinggal
dalam mill untuk beberapa saat agar terjadi pengecilan ukuran dan kemudian keluar
pada ujung yang lainnya. Ukuran bijih hasil penggerusan akan tergantung pada jenis
media gerus, putaran mill, tipe sirkuit dan sifat bijih yang digerus. Saat beroperasi, mill
akan berputar dan grinding media beserta bijih akan ikut terbawa naik oleh dinding
mill ke arah yang lebih tinggi sampai mencapai titik atau posisi kesetimbangan
dinamiknya. Kesetimbangan dinamiknya tercapai ketika gaya berat sama dengan gaya
centrifugal. Setelah titik kesetimbangan terlampaui, maka muatan akan bergerak ke
bawah sesuai dengan kecepatan putar millnya.
2.3 Ball Mill
Ball mill adalah alat penggilingan berbentuk tabung silinder horizontal yang
berfungsi untuk menghancurkan dan menghaluskan material menjadi partikel kecil
dan seragam melalui gaya tumbukan dan gesekan. Di dalam tabung yang berputar,
terdapat bola-bola penggiling dari baja atau keramik yang ikut berputar dan terangkat
karena gaya sentrifugal. Ketika bola mencapai titik tertinggi, gaya gravitasi
menariknya jatuh, menciptakan tumbukan yang menghancurkan partikel material.
Sebagaimana telah diketahui pada namanya, “ball” yaitu Bola, Mesin ini bekerja
dengan bola yang menggelinding dalam tabung yang terus berputar dengan waktu
yang diatur dan ditentukan sebelumnya oleh operator. Mesin ball mill adalah mesin
yang digunakan untuk menghaluskan, melumat atau menghancurkan sutau material
menjadi partikel-partikel yang lebih kecil bahkan bubuk. Mesin ball mill yang
berbentuk tabung dengan 2 bagian tempat menyimpan material dengan bentuk dan
posisi horizontal ini terdiri dari silinder berongga yang berputar pada porosnya. Sumbu
poros biasa disebut shell yang berdiri secara horizontal. Sementara itu, media
penggiling terbuat dari baja, stanless steel, atau karet. Permukaan bagian dalam dari
shell silinder biasanya dilapisi dengan material yang tidak mudah terkikis seperti bijih
mangan dan karet. Mill akan berputar dan grinding media beserta bijih akan ikut
terbawa naik oleh dinding mill ke arah yang lebih tinggi sampai mencapai titik atau
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
posisi kesetimbangan dinamiknya. Kesetimbangan dinamiknya tercapai ketika gaya
berat sama dengan gaya centrifugal. Setelah titik keset, maka muatan akan bergerak
ke bawah sesuai dengan kecepatan putar millnya.
Gambar 2.4 Alat ball mill
Ketika mesin ball mill ini berjalan, bagian badan barel akan berputar. Dengan
berputarnya badan barel ini maka steel ball ikut bergerak disebabkan gaya sentifugal
yang terus terjatuh dan mengakibatkan bahan keras yang ada didalam mesin tergiling.
Gerakan dari bola tersebut akan membuat bahan semakin mengecil sampai halus.
Setelah material mengalami proses penghancuran, maka bahan hasil gilingan
diteruskan masuk lagi pada wadah penampungan yang ke-2. Pada wadah
penampungan tersebut bahan kembali mengalami proses pengahancuran dan
penghalusan dengan scaleboard serta steel ball. Bahan-bahan yang sudah diproses
hingga selesai selanjutnya adalah mengambil dan simpan di wadah penyimpanan
lainnya supaya material yang belum tergiling bisa menjalani proses yang sama seperti
awal kerja diatas hingga selesai. Pada sistem penggunaan dan proses, mesin ball mill
memiliki 2 jenis yang biasa digunakan yaitu dengan sistem basah dan kering. Adapun
jenis dari segi peruntukan ada yang untuk skala industri besar dan ada pula untuk usaha
atau penelitian material yang pada umumnya membutuhkan material berskala kecil.
Jadi, mesin ball mill besar biasa digunakan di pabrik-pabrik semen untuk
menghancrukan bahan baku pembuat semen dan sebagainya. Sementara mesin ball
mill lebih kecil biasa digunakan di labotarium untuk pengujian dan memperoleh data
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
dari hasil grinding. Ball mill merupakan salah satu jenis unit grinding. Ball mill bekerja
dengan prinsip impact. Ball mill menggunakan bola besi sebagai grinding medium.
Gaya yang bekerja pada sebuah ball mill yaitu gaya gesek, tumbukan dan gravitasi.
Pengecilan ukuran pada penggerusan, grinding tergantung pada seberapa besar
peluang dari partikel bijih untuk dapat digerus. Penggerusan terjadi oleh adanya
beberapa gaya yang bekerja pada partikel bijih tersebut. Gaya-gaya yang bekerja pada
operasi penggerusan adalah impact, kompresi, shear atau chipping dan abrasion.
Gaya-gaya ini akan mengubah bentuk partikel bijih sampai melampaui batas kekuatan
yang dimilikinya.
Gambar 2.4 Penggerusan ball mill
Proses ini terus berulang sehingga partikel mencapai ukuran yang diinginkan.
Kecepatan putaran drum harus diatur optimal, yang biasanya disebut kecepatan kritis,
agar bola-bola tidak hanya menempel pada dinding tabung akibat gaya sentrifugal,
namun juga jatuh dengan cukup energi untuk menghancurkan material. Metode ball
mill memiliki prinsip yaitu menghancurkan bahan dengan ditumbuk oleh sejumlah
bola penumbuk dalam tabung horizontal yang berputar, sehingga bola nanti diangkat
pada sisi tabung dan bahan yang ditumbuk akan jatuh, memecah struktur bahan
menjadi ukuran nano (Zinnan dan Julianto., 2024).
Ball mill memiliki komponen utama seperti drum, bola penggiling, liner, motor
penggerak, dan sistem pengeluaran atau discharge. Drum berfungsi sebagai wadah
untuk bola dan material, sedangkan liner melapisi bagian dalam drum untuk
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
melindunginya dari keausan. Motor dan gearbox mengatur kecepatan drum,
sedangkan discharge system memungkinkan material yang telah halus keluar dari
tabung. Ball mill memiliki beberapa jenis, seperti wet ball mill dan dry ball mill, yang
disesuaikan dengan media penggiling (air atau kering), serta tipe discharge overflow
dan grate yang berbeda berdasarkan metode pengeluaran material. Alat ini digunakan
dalam berbagai industri, seperti pertambangan untuk menggiling bijih mineral agar
mudah dipisahkan logamnya, industri semen untuk menghasilkan bubuk halus dari
batu kapur, dan industri keramik untuk menggiling bahan mentah seperti tanah liat.
Keunggulan ball mill adalah kemampuannya menggiling berbagai material,
menghasilkan partikel halus yang seragam, serta fleksibilitas dalam menyesuaikan
ukuran partikel yang diinginkan.
Gambar 2.5 Bagian-bagian ball mill
Namun, alat ini juga memiliki tantangan, seperti konsumsi energi yang tinggi,
kebutuhan ruang besar, serta biaya pemeliharaan yang mahal karena keausan
komponen. Meskipun demikian, ball mill tetap menjadi alat vital yang andal dalam
pengolahan material berukuran mikro hingga nano di berbagai industri. Pada bidang
perindustrian, terkadang dibutuhkan alat yang mampu mengubah ukuran benda dari
ukuran besar menjadi ukuran yang lebih kecil. Ada berbagai cara untuk membantu
kerja manusia dalam melumatkan suatu bahan yang keras, salah satunya menggunakan
sistem kerja mesin bola-bola penggiling (ball mill). Ball mill merupakan sebuah mesin
yang dapat digunakan untuk menggiling suatu material dengan mengubah struktur
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
bentuk objek yang besar menjadi sebuah objek yang lebih kecil. Mesin ball mill dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu ball mill vertikal dan ball mill horizontal. Peralatan
milling meliputi planetary machines, high energy milling dan vibrasi onal mills.
Produk berupa amorphous, nanocrystaline, high surface area catalysts dan reactive
chemical. Ball milling mampu mengubah sampel yang berukuran besar menjadi
sampel serbuk yang halus. Metode ini semakin luas digunakan untuk mendapatkan
bahan serbuk berukuran nanometer karena tidak menghasilkan limbah sama sekali,
karena pada pemakaiannya dilakukan secara padatan tanpa pelarut (Pancarana, dkk.,
2024).
.
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Prosedur Kerja
1. Pertama yang dilakukan adalah menyipkan alat dan bahan.
Gambar 3.1 Menyiapkan alat dan bahan
2. Menyiapkan 2 Kg sampel batubara menggunakan timbangan.
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 3.2 Menimbang sampel batubara
3. Sampel diperkecil ukurannya menggunakan palu hingga muat ke dalam alat
jaw crusher.
Gambar 3.3 Memperkecil ukuran batubara
4. Sampel Batu Bara 2 Kg dimasukkan ke dalam hooper dan atur gape pada jaw
crusher (2 cm dan 1 cm), lalu jalankan alat jaw crusher kemudian
konsentratnya akan keluar melalui bagian bawah alat jaw crusher.
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 3.4 Memasukkan sampel ke alat jaw crusher
5. Setelah itu, konsentrat di masukkan ke dalam ayakan dengan ukuran ayakan
yang digunakan antara lain 4, 8, 10, 14 dan -20 Mesh.
Gambar 3.5 Konsentrat di masukkan ke ayakan
6. Setelah tahap pemisahan konsentrat berdasarkan ukuran mesh, pisahkan
material sesuai dengan ukuran ayakan dan timbang masing-masing berat
tertahan dari setiap ukuran ayakan.
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 3.6 Mengukur berat konsentrat
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
BERAT TERTAHAN (gr)
UKURAN MESH
JC 2 cm JC 1 cm DRC 2 cm DRC 1 cm
+4 600 91,56 700 500
-4/+8 158,44 300 76,61 200,50
-8/+10 41,84 118,21 46,79 61,26
-10/+14 44,23 101,26 46,50 49,24
-14/+20 43,37 94,06 45,71 44,62
-20 76,65 153,76 54,84 59,49
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
TOTAL 1200,53 1094,85 1209,45 1151,09
Tabel 4.1 Tabel Pengamatan
4.1.1 Jaw crusher 2 cm
1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
600
4 = × 100 % = 49,97%
1200,53
158,44
8 = × 100 % = 13,19%
1200,53
41,48
10 = × 100 % = 3,48%
1200,53
44,23
14 = × 100 % = 3,68%
1200,53
43,37
20 = × 100 % = 3,61%
1200,53
76,65
-20 = × 100 % = 6,38%
1200,53
2. %Berat Tertahan Kumulatif
% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 49,97 = 49,97%
8 = 49,97 + 13,19 = 63,16%
10 = 63,16 + 3,48 = 66,64%
14 = 66,64 + 3,68 = 70,32%
20 = 70,32 + 3,61 = 73,93%
-20= 73,93 + 6,38 = 80,31%
3. % Berat Lolos Kumulatif
% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 80,31 - 49,97 = 30,34%
8 = 80,31 - 63,16 = 17,15%
10 = 80,31 - 66,64 = 13,67%
14 = 80,31 - 70,32 = 9,99%
20 = 80,31 - 73,93 = 6,38%
-20 = 80,31 - 80,31 = 0%
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Tabel 4.2 Hasil pengolahan data jaw crusher 2 cm
% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 600 49,97 49,97 30,34
8 2,38 158,44 13,19 63,16 17,15
10 2 41,84 3,48 66,64 13,67
14 1,41 44,23 3,48 70,32 9,99
20 0,84 43,37 3,61 73,93 6,38
-20 0 76,65 6,38 80,31 0
Total - 1200,53 80,31 404,33 77,53
Gambar 4.1 Grafik Jaw Crusher Gape 2 cm
4.1.2 Jaw crusher 1 cm
1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
91,56
4 = 1094,85
× 100 % = 8,36%
300
8 = × 100 % = 27,40%
1094,85
118,21
10 = × 100 % = 10,79%
1094,85
101,26
14 = × 100 % = 9,24%
1094,85
94,06
20 = × 100 % = 8,59%
1094,85
153,76
-20 = × 100 % = 14,04%
1094,85
2. %Berat Tertahan Kumulatif
% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
4 = 0 + 8,36 = 8,36%
8 = 8,36 + 27,40 = 35,76%
10 = 35,76 + 10,79 = 46,55%
14 = 46,55 + 9,24 = 55,79%
20 = 55,79 + 8,59 = 64,38%
-20= 64,38 + 14,04 = 78,42%
3. % Berat Lolos Kumulatif
% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 64,38 - 8,36 = 70,06%
8 = 64,38 - 35,76 = 42,66%
10 = 64,38 - 46,55 = 31,87%
14 = 64,38 - 55,79 = 22,63%
20 = 64,38 - 64,38 = 14,04%
-20 = 64,38 - 78,42 = 0%
Tabel 4.3 Hasil pengolahan data jaw crusher 1 cm
% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 91,56 8,36 8,36 70,06
8 2,38 300 27,40 35,76 42,66
10 2 118,21 10,79 46,55 31,87
14 1,41 101,26 9,24 55,79 22,63
20 0,84 94,06 8,59 64,38 14,04
-20 0 153,76 14,04 78,42 0
Total - 1094,85 78,42 289,29 181,26
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 4.2 Grafik Jaw Crusher Gape 1 cm
4.1.3 Double Roll Crusher 2 cm
1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
700
4 = × 100 % = 57,87%
1209,45
79,61
8 = × 100 % = 6,58%
1209,45
46,79
10 = × 100 % = 3,88%
1209,45
46,50
14 = × 100 % = 3,84%
1209,45
45,71
20 = × 100 % = 3,77%
1209,45
54,84
-20 = × 100 % = 4,53%
1209,45
2. %Berat Tertahan Kumulatif
% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 57,87 = 57,87%
8 = 8,36 + 6,58 = 64,45%
10 = 35,76 + 3,88 = 68,33%
14 = 46,55 + 3,84 = 72,17%
20 = 55,79 + 3,77 = 75,94%
-20= 64,38 + 4,53 = 80,47%
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
3. % Berat Lolos Kumulatif
% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 80,47 - 57,87 = 22,6%
8 = 80,47 - 64,45 = 16,45%
10 = 80,47 - 68,33 = 12,14%
14 = 80,47 - 72,17 = 8,3%
20 = 80,47 - 75,94 = 4,53%
-20 = 80,47 - 80,47 = 0%
Tabel 4.4 Hasil pengolahan data double roll crusher 2 cm
% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 700 57,87 57,87 22,6
8 2,38 79,61 6,58 64,45 16,45
10 2 46,79 3,88 68,33 12,14
14 1,41 46,50 3,84 72,17 8,3
20 0,84 45,71 3,77 75,94 4,53
-20 0 54,84 4,53 80,47 0
Total - 1209,45 80,47 419,23 64,02
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 4.3 Grafik Double Roll Crusher Gape 2 cm
4.1.4 Double Roll Crusher 1 cm
1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
500
4 = × 100 % = 43,43%
1151,09
200,50
8 = × 100 % = 17,41%
1151,09
61,26
10 = × 100 % = 5,32%
1151,09
49,24
14 = × 100 % = 4,27%
1151,09
44,62
20 = × 100 % = 3,87%
1151,09
59,49
-20 = × 100 % = 5,16%
1151,09
2. %Berat Tertahan Kumulatif
% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 43,43 = 43,43%
8 = 43,43 + 17,41 = 60,84%
10 = 60,84 + 5,32 = 66,16%
14 = 66,16 + 4,27 = 70,43%
20 = 70,43 + 3,87 = 74,3%
-20= 74,3 + 5,16 = 79,46%
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
3. % Berat Lolos Kumulatif
% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 79,46 - 43,43 = 36,03%
8 = 79,46 - 60,84 = 18,62%
10 = 79,46 - 66,16 = 13,3%
14 = 79,46 - 70,43 = 9,03%
20 = 79,46 - 74,3 = 5,16%
-20 = 79,46 - 79,46 = 0%
Tabel 4.5 Hasil pengolahan data double roll crusher 1 cm
% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 500 43,43 43,43 36,03
8 2,38 200,50 17,41 60,84 18,62
10 2 61,26 5,32 66,16 13,3
14 1,41 49,24 4,27 70,43 9,03
20 0,84 44,62 3,87 74,3 5,16
-20 0 59,49 5,16 79,46 0
Total - 1151,09 79,46 394,62 82,14
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
Gambar 4.4 Grafik Double Roll Crusher Gape 1 cm
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
4.2 Pembahasan
1. Pengolahan Data P80 Jaw Crusher 2 cm
Y = 5,3626x – 5,8473
P80 = 5,3626x – 5,8473
5,3626x = 80 + 5,8473
X = 85,8473 / 5,3626 = 16 mm
2. Pengolahan Data P80 Jaw Crusher 1 cm
Y = 12,726x – 14,33
P80 = 12,726x – 14,33
12,726x = 80 + 14,33
X = 94,33/ 14,33 = 7,41 mm
3. Pengolahan Data P80 Roll Crusher 2 cm
Y = 4,36x – 4,59
P80 = 4,36x – 4,59
4,36x = 80 + 4,59
X = 84,59/ 4,59 = 19,4 mm
4. Pengolahan Data P80 Roll Crusher 1 cm
Y = 6,4229x – 8,79
P80 = 6,4229x – 8,79
6,4229x = 80 + 8,79
X = 88,79 / 8,79= 13,82 mm
5. Pengolahan Data RR80 Roll Crusher 2 cm
RR80 = P80 JC / P80 RC
RR80 = 16/ 19,4= 0,82 mm
6. Pengolahan Data RR80 Roll Crusher 1 cm
RR80 = P80 JC / P80 RC
RR80 = 7,41 / 13,82 = 0,53 mm
7. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 2 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236gr – 1200,53gr) / 1236gr x (100%) = 2,86 %
8. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236 gr – 1094,85 gr) / 1236 gr x (100%) = 11,41 %
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
9. Pengolahan Data Berat Hilang Roll Crusher 2 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236 gr – 1209,45 gr) / 1236 gr x (100%) = 2,14%
10. Pengolahan Data Berat Hilang Roll Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236 gr – 1151,09 gr) / 1236 gr x (100%) = 6,86 %
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pengolahan Bahan Galian (mineral dressing) adalah istilah umum yang
digunakan untuk mengolah semua jenis bahan galian hasil tambang yang berupa
mineral, batuan, bijih atau bahan galian lainnya yang ditambang atau diambil dari
endapan-endapan alam pada kulit bumi. Pada praktikum ini kita melakukan proses
crushing atau peremukan. Peremukan merupakan proses reduksi ukuran dari bahan
galian atau bijih yang langsung dari tambang. Adapun alat-alat yang digunakan pada
proses peremukan ini adalah alat jaw crusher yaitu alat yang Prinsip kerjanya secara
awam mirip seperti rahang, material akan masuk dan mengalami proses penghancuran
seperti dikunyah untuk diubah menjadi lebih kecil. Dan alat roll crusher yaitu alat
preparasi pertambangan yang berfungsi untuk menghancurkan batuan atau sampel
material seperti mineral, nikel dan batuan tambang lainnya agar bisa menjadi serpihan
yang halus dan dapat diatur sedemikian rupa ketebalan serpihan tersebut.
Setelah dilakukannya proses kominusi, maka selanjutnya akan dilakukan
proses screening atau pengayakan. Screening adalah proses pemisahan secara mekanik
berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Adapun ukuran ayakan yang digunakan pada
praktikum ini yaitu ukuran 4, 8, 10, 14, 20, dan -20 mesh. Adapun alat yang digunakan
pada proses ini adalah alat Sieve Shaker yaitu alat untuk memisahkan padatan dengan
menggunakan peralatan penyaringan berlapis serta adanya nilai mesh saringan yang
berbeda-beda.
5.2 Saran
5.2.1 Saran Untuk Laboratorium
Agar kiranya peralatan-peralatan yang digunakan saat praktikum segera
diperbaiki agar praktikan dapat melihat secara langsung proses kerja alat serta dapat
menyediakan loker untuk tempat penyimpanan barang praktikan.
5.2.2 Saran Untuk Asisten
Agar kiranya fast respon jika di chat dan lebih menjelaskan lagi ke praktikan
penrbedaan penggunaan alat di perusahaan dan di lab serta edukasi tentang olah data
baik secara online ataupun offline.
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GRINDING
DAFTAR PUSTAKA
Eliansyah, M. H & Sriyanti.(2021). Evaluasi Kinerja Crushing Plant Di PT X Desa
Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Jurnal
Riset Teknik Pertambangan. Vol 1 (2): 132-139.
Fitrianti, R.(2016). Pertambangan Batubara : Dampak Lingkungan, Sosial Dan
Ekonomi. Jurnal REDOKS. Vol 1 (1).
Yulian, F. C & Elsi Kartika Sari. (2020). Izin Usaha Pertambangan (Timah) Dalam
Kawasan Hutan Yang Di Wilayah Kubu Kecamatan Toboali Kabupaten
Bangka Selatan.
Kaswadi, A., Aris, F,. & Hidayat, D., A.(2022). Implementasi Dmaic Untuk
Menyelesaikan Masalah Penumpukan Kereta Produk Reject Pada Proses
Crushing Di Pt Xyz. Jurnal Astra [Link] 13 (2).
Novalise., Aprilia, R., & Pitria.(2024). Analisis Capaian Produksi Jaw Crusher Pada
CV KM Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Of Social
Science Research. Vol 4 (4):6198-6206.
Prameswara, G., Tyassena, F. Y. P., & Arninda, A. Pengolahan Mineral 1 Kominusi
Dan Benefisiasi Mineral. Penerbit Fakultas Teknik Universitas Fajar.
Saputra, W. A., Safaruddin., Franca, M. L., Prabumulih, S.(2021). Analisa Roller
Crusher Untuk Mereduksi Ukuran Bahan Galian Tanah Liat Di [Link]
Baturaja (Persero) Tbk. Jurnal Kotamo. Vol 1 (18).
Sumarjono, E., Misdianta, E & Fahrudinoor.(2024). Distribusi Ukuran Produk
Peremukan Jaw Crusher Material Berbentuk Rounded Size Distribution Of Jaw
Crusher Crushing Products For Rounded [Link] [Link] 9 (1):
95-100.
VANDA FEBRIANTY S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236