0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
204 tayangan18 halaman

Panduan Pemilihan Current Transformer

current transformer

Diunggah oleh

nawraqurani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
204 tayangan18 halaman

Panduan Pemilihan Current Transformer

current transformer

Diunggah oleh

nawraqurani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Current Transformer (CT):

1. Pengertian Current Transformer (CT)

Current Transformer (CT) adalah perangkat yang digunakan untuk mengubah


arus listrik AC dengan nilai tinggi menjadi arus yang lebih rendah yang dapat
diukur dengan aman oleh peralatan pengukuran dan proteksi. CT bekerja
berdasarkan prinsip transformator dengan rasio tertentu.

2. Prinsip Kerja CT

CT beroperasi berdasarkan hukum induksi elektromagnetik Faraday.


Ketika arus listrik AC mengalir pada konduktor primer, medan magnet
dihasilkan di sekitar konduktor tersebut. Medan magnet ini menginduksi arus
sekunder pada lilitan sekunder CT yang terhubung ke alat ukur atau relai
proteksi.

Rumus dasar CT:

Ip
Is = Np
Ns

Dimana:

 Ip = Arus primer

 Is = Arus sekunder

 Np = Jumlah lilitan primer (biasanya 1 atau beberapa lilitan)

 Ns = Jumlah lilitan sekunder

3. Konstruksi CT

CT terdiri dari beberapa komponen utama:

 Inti (Core): Terbuat dari baja silikon atau bahan feromagnetik untuk
meningkatkan efisiensi induksi.

 Lilitan Primer: Biasanya berupa konduktor tunggal (kabel atau


busbar) yang melewati inti.

 Lilitan Sekunder: Terdiri dari banyak lilitan kawat halus yang


terhubung ke perangkat pengukuran/proteksi.

 Isolasi: Untuk mencegah kegagalan akibat tegangan tinggi (biasanya


menggunakan resin epoxy, porselen, atau oli transformator).

4. Jenis-Jenis CT
a. Berdasarkan Konstruksi

1. CT Toroidal (Window Type):

o Tidak memiliki lilitan primer, arus diukur melalui lubang di


tengah CT.

o Digunakan pada kabel atau busbar yang sudah terpasang.

2. CT Bar Type:

o Memiliki konduktor primer berupa batang logam yang


terintegrasi.

o Digunakan dalam switchgear dan panel listrik.

3. CT Wound Type:

o Memiliki lilitan primer dan sekunder yang jelas.

o Digunakan untuk aplikasi presisi tinggi.

b. Berdasarkan Aplikasi

1. Measuring CT:

o Untuk pengukuran arus (metering).

o Memiliki akurasi tinggi pada rentang beban normal.

2. Protective CT:

o Untuk sistem proteksi (relai).

o Didesain agar tetap akurat saat arus tinggi (misal saat hubung
singkat).

3. Summation CT:

o Menggabungkan beberapa sinyal arus menjadi satu keluaran.

5. Rasio CT

Rasio CT menunjukkan perbandingan antara arus primer dan sekunder.


Contoh:

 CT 100/5A: Artinya jika arus primer 100A, arus sekunder 5A.

 CT 500/1A: Jika arus primer 500A, arus sekunder 1A.


6. Beban (Burden) CT

 Burden adalah impedansi total yang terhubung ke sekunder CT


(termasuk kabel, relay, dan alat ukur).

 Satuan burden: VA (Volt-Ampere) atau Ohm.

 Jika burden terlalu tinggi, CT bisa jenuh dan memberikan pembacaan


tidak akurat.

 Arti Burden, Class CT, dan Cara Membacanya

 1. Arti Burden pada CT

 Burden adalah beban impedansi (resistansi + reaktansi) yang


terhubung ke sisi sekunder CT, termasuk:

 Kabel penghubung

 Alat ukur (ammeter, kWh meter)

 Relay proteksi

 Komponen lain dalam rangkaian sekunder CT

 Satuan Burden:

 VA (Volt-Ampere) → Menunjukkan daya yang dikonsumsi oleh beban.

 Ohm (Ω) → Menunjukkan impedansi total.

 Contoh Burden CT:

 5 VA → Artinya CT dapat bekerja dengan baik jika beban tidak melebihi


5 VA.

 15 VA, 0.2 Ohm → Beban maksimal 15 VA atau impedansi ≤ 0,2 Ohm.

 Dampak Jika Burden Salah:

 Burden terlalu tinggi → CT bisa jenuh, mengakibatkan pengukuran


tidak akurat.

 Burden terlalu rendah → Tidak masalah, tetapi harus memastikan


alat masih bisa membaca sinyal dengan baik.


 2. Arti Class CT (Kelas Akurasi)

 Class CT menunjukkan tingkat ketelitian CT dalam mengukur atau


memproteksi arus.

 a. Class Measuring CT (Untuk Pengukuran)

 Kela
 Arti  Penggunaan
s

 Akurasi
 0.1  Laboratorium, kalibrasi
±0,1%

 Akurasi  Meteran energi presisi


 0.2
±0,2% tinggi

 Akurasi
 0.5  Meteran kWh komersial
±0,5%

 Akurasi  Pengukuran umum


 1.0
±1% industri

 Akurasi
 3.0  Aplikasi tidak kritis
±3%

 b. Class Protective CT (Untuk Proteksi)

 Kelas  Arti  Penggunaan

 Relay arus lebih


 5P  Error ±5%
(overcurrent)

 10P  Error ±10%  Aplikasi proteksi dasar

 PX / Class  Untuk relay  Proteksi trafo &


X diferensial generator

 Contoh Penulisan Class CT:

 CT 100/5A, 15 VA, Class 0.5 → Untuk pengukuran dengan akurasi


tinggi.

 CT 300/1A, 10 VA, Class 10P → Untuk proteksi arus lebih.

 3. Cara Membaca Spesifikasi CT


 Contoh nameplate CT:
CT 200/5A, 15 VA, Class 0.5, ISF 10

 Paramet
 Arti
er

 200/5A  Rasio CT: 200A primer → 5A sekunder

 15 VA  Burden maksimal 15 VA

 Class
 Akurasi ±0,5% (untuk pengukuran)
0.5

 Instrument Security Factor (faktor keamanan jika


 ISF 10
arus tinggi)

7. Akurasi Kelas CT

 Kelas Measuring CT: 0.1, 0.2, 0.5, 1 (semakin kecil angka, semakin
akurat).

 Kelas Protective CT: 5P, 10P (P = Protection, angka menunjukkan


error maksimal dalam %).

8. Bahaya Jika Sekunder CT Terbuka

 Jika sekunder CT dibuka saat primer dialiri arus, tegangan tinggi dapat
terinduksi yang berbahaya bagi peralatan dan personel.

 Selalu hubungkan terminal sekunder CT ke beban atau short-


circuit sebelum melepasnya!

9. Aplikasi CT

 Pengukuran Energi Listrik (kWh meter).

 Proteksi Sistem Tenaga (relai arus lebih, diferensial, dll).

 Monitoring Beban di industri dan pembangkit listrik.

10. Perbedaan CT dan PT (Potential Transformer)

Paramet CT (Current PT (Potential


er Transformer) Transformer)

Fungsi Mengukur arus Mengukur tegangan


Paramet CT (Current PT (Potential
er Transformer) Transformer)

Terhubung seri dengan Terhubung paralel dengan


Primer
beban sumber

Tegangan rendah (110V atau


Sekunder Arus rendah (1A atau 5A)
120V)

Sekunder tidak boleh Sekunder tidak boleh short-


Bahaya
terbuka circuit

11. Kesimpulan

CT adalah komponen penting dalam sistem tenaga listrik untuk pengukuran


dan proteksi. Pemilihan CT harus memperhatikan rasio, burden, kelas
akurasi, dan aplikasinya. Kesalahan instalasi (seperti sekunder terbuka)
dapat menyebabkan kerusakan serius.

Cara Menentukan Kebutuhan CT dalam Sistem

Pemilihan Current Transformer (CT) yang tepat sangat penting untuk akurasi
pengukuran dan keandalan proteksi. Berikut panduan lengkapnya:

1. Tentukan Tujuan Penggunaan CT

Pertama, tentukan apakah CT digunakan untuk:

 Pengukuran (Metering) → Butuh akurasi tinggi (Class 0.2, 0.5, 1).

 Proteksi (Protection) → Butuh kinerja baik saat arus tinggi (Class 5P,
10P).

 Kombinasi (Measurement + Protection) → Gunakan dual-purpose


CT.

2. Hitung Arus Primer Maksimum

 Rumus dasar arus beban (3-phase):


S
 I primer =
√3 X V
o S = Daya semu (VA/kVA)

o V = Tegangan sistem (V/KV)

Contoh:

 Beban 1000 kVA, tegangan 20 KV, Maka :


S
 I primer =
√3 X V
1000
 I primer = = 28,9 A
√3 X 20
 Pilih CT dengan arus primer sedikit lebih tinggi (misal: 100/5A).

3. Pilih Rasio CT

 Rasio standar: 100/5A, 200/5A, 300/5A, 500/5A, 1000/5 dll.

 Pastikan arus maksimum sistem tidak melebihi 120-150% arus


primer CT (agar tidak jenuh).

Contoh:

 Jika arus beban normal = 120A, pilih 150/5A atau 200/5A.

4. Tentukan Kelas Akurasi (Class CT)

Kelas CT yang
Aplikasi
Direkomendasikan

Pengukuran kWh (komersial) 0.5, 0.2

Monitoring beban industri 1.0

Proteksi overcurrent 5P, 10P

Proteksi diferensial
Class X / PX
(trafo/generator)

5. Hitung Burden (Beban) CT


Burden harus lebih besar dari total beban sekunder (kabel + alat
ukur/proteksi).

Rumus burden (dalam Ohm):

Burden total = R kabel + R alat


2× ρ× L
 R kabel =
A
o ρ = Resistivitas tembaga (0,0175 Ω/mm²/m)

o L = Panjang kabel (meter)

o A = Luas penampang kabel (mm²)

Contoh:

 CT 100/5A, burden 20 VA, kelas 5P10.

 Panjang kabel sekunder = 50 meter, penampang = 2,5 mm²


(tembaga, ρ≈0,0175 Ω⋅mm2/mρ≈0,0175Ω⋅mm2/m).

 Burden relay = 0,1 Ω.

Langkah 1: Hitung resistansi kabel (2 kabel: fase dan netral).

R kabel =2×(0,0175×502,5)= 0,7 Ω

Langkah 2: Total resistansi beban.

Rtotal=0,7+0,1=0,8 ΩRtotal=0,7+0,1=0,8Ω

Langkah 3: Hitung burden aktual dalam VA.

Burden =52× 0,8 = 20 VA

6. Pilih Jenis CT Berdasarkan Konstruksi

Jenis CT Aplikasi

Window Type
Dipasang di kabel existing
(Toroidal)

Untuk panel listrik &


Bar Type
switchgear
Jenis CT Aplikasi

Instalasi tanpa memutus


Split Core
kabel

Wound Type Presisi tinggi (arus rendah)

7. Perhatikan Faktor Keamanan (Instrument Security Factor - ISF)

 ISF menunjukkan batas arus dimana CT masih akurat.

 Untuk pengukuran, pilih ISF ≤ 5 (misal: ISF 5 berarti CT tetap akurat


hingga 5x arus primer).

 Untuk proteksi, ISF 10 atau lebih tinggi.

8. Contoh Pemilihan CT

Spesifikasi Sistem:

 Beban: 150 kVA, 400V

 Arus maks: 216 A

 Aplikasi: Pengukuran kWh + Proteksi

Langkah Pemilihan:

1. Arus primer: 216 A → Pilih CT 250/5A (rasio 50:1).

2. Kelas akurasi:

o Metering: 0.5

o Proteksi: 5P10

3. Burden: Hitung beban kabel + alat → Pilih 10 VA.

4. Jenis CT: Bar type (untuk panel listrik).

Hasil: CT 250/5A, 10 VA, Class 0.5 & 5P10, Bar Type.

9. Kesimpulan

Langkah menentukan CT:


1. Tujuan (metering/proteksi).

2. Hitung arus primer.

3. Pilih rasio CT.

4. Tentukan kelas akurasi.

5. Hitung burden.

6. Pilih jenis CT.

7. Verifikasi ISF.

Voltage Transformer (VT) atau Transformator Tegangan adalah sebuah


perangkat elektromagnetik yang digunakan dalam sistem tenaga listrik
untuk mengubah tegangan tinggi (HV) menjadi tegangan rendah (LV) yang
lebih aman dan terukur, dengan proporsi yang akurat dan isolasi yang baik
antara primer dan sekunder. VT juga dikenal sebagai Potential
Transformer (PT).

Fungsi Voltage Transformer:

1. Pengukuran Tegangan – Mengubah tegangan tinggi menjadi level


yang dapat diukur oleh alat ukur (seperti voltmeter, wattmeter, atau
proteksi relay).

2. Isolasi – Memisahkan rangkaian tegangan tinggi dari perangkat


pengukuran dan kontrol untuk keamanan operator.

3. Input ke Sistem Proteksi – Memberikan sinyal tegangan yang akurat


ke relay proteksi untuk mendeteksi gangguan (seperti overvoltage,
undervoltage, atau fault).

4. Monitoring Daya – Digunakan dalam metering untuk menghitung


daya (P, Q, S), power factor, dan energi.

Prinsip Kerja Voltage Transformer:

VT bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik seperti


transformator biasa, tetapi dirancang untuk akurasi tinggi pada rentang
tegangan tertentu.
 Ketika tegangan AC (V₁) diterapkan pada sisi primer, medan magnet
bolak-balik terinduksi di inti besi (core).

 Medan magnet ini menginduksikan tegangan (V₂) pada kumparan


sekunder sesuai dengan rasio belitan (N₁/N₂).

 Rasio tegangan VT dinyatakan sebagai:


V1 N1
= =K
V2 N2

Dimana K adalah rasio transformasi.

Karakteristik Penting VT:

1. Akurasi – VT harus memiliki kesalahan rasio (ratio error) dan


kesalahan fasa (phase error) yang kecil (biasanya kelas 0.1, 0.2, 0.5, 1,
atau 3).

2. Isolasi Tinggi – Dirancang untuk menahan tegangan tinggi tanpa


breakdown.

3. Beban (Burden) – Kemampuan VT untuk mensuplai beban sekunder


(dalam VA) tanpa kehilangan akurasi.

4. Proteksi Internal – Beberapa VT memiliki fuse atau grounding untuk


mencegah kerusakan saat gangguan.

Jenis-Jenis Voltage Transformer:

1. Electromagnetic VT (Konvensional)

o Menggunakan inti besi dan kumparan tembaga.

o Cocok untuk tegangan menengah (hingga 33 kV).

o Contoh: VT untuk pengukuran di gardu distribusi.

2. Capacitive Voltage Transformer (CVT)

o Menggunakan kapasitor sebagai pembagi tegangan sebelum


masuk ke transformator.

o Digunakan untuk tegangan sangat tinggi (HV & EHV, 66 kV ke


atas).

o Umum di sistem transmisi.


3. Optical Voltage Transformer (OVT)

o Menggunakan efek Pockels atau Faraday untuk mengukur


tegangan secara optik.

o Tidak terpengaruh gangguan elektromagnetik.

Perbedaan VT dan Current Transformer (CT):

Paramet Voltage Transformer Current Transformer


er (VT) (CT)

Fungsi Mengukur tegangan Mengukur arus

Rangkai Dipasang paralel dengan Dipasang seri dengan


an sistem sistem

Beban Impedansi tinggi Impedansi rendah

Sekunde Tegangan rendah (110V,


Arus rendah (1A, 5A)
r 100V)

Aplikasi VT:

 Substation (Gardu Induk) – Untuk metering dan proteksi.

 Pembangkit Listrik – Memonitor tegangan generator.

 Industri – Pengawasan tegangan pada peralatan berat.

 Smart Grid – Integrasi dengan sistem SCADA.

Keselamatan Penggunaan VT:

 Sekunder VT tidak boleh dibuka (open-circuit) saat primer


bertegangan, karena dapat menyebabkan tegangan induksi tinggi
yang berbahaya.

 Harus digrounding untuk menghindari tegangan mengambang


(floating voltage).

Cara Menentukan Kebutuhan Voltage Transformer (VT)

Pemilihan Voltage Transformer (VT) yang tepat sangat penting untuk


memastikan akurasi pengukuran, keamanan, dan kompatibilitas dengan
sistem proteksi. Berikut adalah langkah-langkah untuk menentukan
kebutuhan VT:

1. Menentukan Tegangan Primer (Sistem Tegangan)

VT harus sesuai dengan tegangan sistem yang akan diukur.

 Contoh:

o Sistem 20 kV → Pilih VT dengan rating primer 20.000 V atau


yang mendekati (misal 20 kV / √3 untuk sistem 3-fasa).

o Sistem 150 kV → Gunakan Capacitive VT (CVT) karena


tegangan tinggi.

Catatan:

 Untuk sistem 3-fasa, pastikan VT mendukung konfigurasi Y (bintang)


atau Δ (delta).

 Jika digunakan untuk grounding detection, pilih VT dengan broken


delta atau grounding khusus.

2. Memilih Rasio VT (Tegangan Sekunder)

Tegangan sekunder standar biasanya 110 V, 100 V, atau 120 V


(tergantung standar negara).

Rumus Rasio VT:

Rasio=Tegangan Primer (V₁)Tegangan Sekunder (V₂)Rasio=Tegangan Sekund


er (V₂)Tegangan Primer (V₁)

Contoh:

 Sistem 20 kV, sekunder 100 V → Rasio = 20.000 / 100 = 200:1

 Sistem 6,6 kV, sekunder 110 V → Rasio = 6.600 / 110 = 60:1

Penting:

 Pastikan tegangan sekunder sesuai dengan perangkat (voltmeter,


relay, dll).

 Jika digunakan untuk proteksi, pilih VT dengan kelas akurasi tinggi


(0,2 atau 0,5).
3. Menentukan Beban (Burden) VT

Burden adalah beban maksimum (dalam VA) yang dapat disuplai VT tanpa
kehilangan akurasi.

Langkah menentukan burden:

1. Hitung total beban perangkat (voltmeter, relay, energy meter, dll).

o Contoh:

 Voltmeter: 2 VA

 Relay proteksi: 5 VA

 Total = 7 VA

2. Pilih VT dengan burden lebih besar dari kebutuhan.

o Misal: Pilih VT dengan 10 VA (lebih tinggi dari 7 VA).

Standar Burden VT:

 Metering: 10 VA, 15 VA

 Proteksi: 30 VA, 50 VA (karena relay butuh daya lebih besar)

4. Memilih Kelas Akurasi

Kelas akurasi menunjukkan seberapa presisi VT dalam mengukur tegangan.

Kelas
Penggunaan
Akurasi

Laboratorium,
0.1 / 0.2
kalibrasi

Metering energi
0.5
(kWh)

1.0 / 3.0 Proteksi, monitoring

Contoh:

 Untuk billing (kWh meter) → Pilih 0.5

 Untuk relay proteksi → Pilih 1.0 atau 3P


5. Memilih Jenis VT Berdasarkan Aplikasi

Jenis VT Aplikasi Tegangan

Electromagneti
Gardu distribusi, industri ≤ 36 kV
c VT

Capacitive VT Transmisi (66 kV ke 66 kV – 800


(CVT) atas) kV

Smart grid, digital


Optical VT Semua level
substation

Pertimbangan:

 Biaya: CVT lebih mahal daripada VT biasa.

 Keandalan: VT optik lebih tahan gangguan EMI.

6. Faktor Lingkungan & Pemasangan

 Indoor/Outdoor?

o VT outdoor harus tahan cuaca (IP65+).

 Frekuensi Sistem (50 Hz / 60 Hz)?

 Kondisi khusus (gempa, korosi, dll)?

Contoh Perhitungan Pemilihan VT

Kasus: Sistem 11 kV, butuh pengukuran dan proteksi.

1. Tegangan Primer = 11.000 V

2. Tegangan Sekunder = 110 V → Rasio = 100:1

3. Beban:

o Voltmeter = 3 VA

o Relay = 10 VA

o Total = 13 VA → Pilih VT 15 VA

4. Kelas Akurasi:
o Metering → 0.5

o Proteksi → 1.0

5. Jenis VT: Electromagnetic (karena ≤ 36 kV)

Spesifikasi VT yang dipilih:

 11.000 V / 110 V

 Rasio 100:1

 Burden 15 VA

 Kelas 0.5 untuk metering, 1.0 untuk proteksi

 Tipe: Electromagnetic, Indoor/Outdoor

Kesimpulan

Untuk menentukan kebutuhan VT, lakukan langkah berikut:

1. Tentukan tegangan primer & sekunder.

2. Hitung rasio VT.

3. Hitung beban (burden) perangkat.

4. Pilih kelas akurasi sesuai aplikasi.

5. Tentukan jenis VT (electromagnetic, CVT, atau optik).

6. Pertimbangkan lingkungan pemasangan.

Zero Sequence Current Transformer (ZCT) adalah jenis Current


Transformer (CT) khusus yang digunakan untuk mendeteksi arus zero
sequence (I₀), yaitu komponen arus tidak seimbang yang mengalir ke
ground saat terjadi gangguan tanah (ground fault).

Prinsip Kerja ZCT:

 ZCT mengukur penjumlahan vektor arus fasa (I₁ + I₂ + I₃).

 Pada sistem normal (tanpa gangguan), I₁ + I₂ + I₃ = 0 (tidak ada arus


residual).
 Saat terjadi ground fault, arus bocor mengalir ke ground, sehingga I₁
+ I₂ + I₃ ≠ 0 (muncul arus zero sequence).

 ZCT mendeteksi arus ini dan mengirim sinyal ke relay proteksi


(ground fault relay) untuk memutus sirkuit.

Perbedaan ZCT dengan CT Biasa:

Parameter ZCT CT Biasa

Mengukur arus
Fungsi Mendeteksi arus ground fault
fasa/netral

Terbuka (coring type) atau


Desain Tertutup (solid core)
toroidal

Pemasang Dipasang di satu


Melingkari semua kabel fasa
an konduktor

Output Arus residual (I₀) Arus fasa (I₁, I₂, I₃)

Aplikasi ZCT

1. Proteksi Kebocoran Ground (Earth Leakage Protection)

o Panel listrik, genset, solar PV.

2. Sistem IT (Impedance Grounded)

o Pabrik, rumah sakit (harus deteksi arus kecil).

3. Pencegahan Kebakaran Listrik

o Mendeteksi arus bocor sebelum memicu panas.

Kesimpulan

 ZCT digunakan khusus untuk deteksi arus ground fault.

 Pemilihannya bergantung pada arus sistem, sensitivitas, rasio,


dan burden.

 Pemasangan harus mengelilingi semua konduktor fasa (tidak


termasuk netral, kecuali sistem tidak seimbang).

Anda mungkin juga menyukai