0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan46 halaman

Discovery Learning Tingkatkan Keaktifan Siswa

Dokumen ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas IV dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui model pembelajaran Discovery Learning di UPTD Negeri 38 Parepare. Penelitian ini mengidentifikasi masalah rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa akibat metode ceramah yang digunakan guru, dan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Discovery Learning terhadap keaktifan siswa. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Diunggah oleh

sdnegeri551tampa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan46 halaman

Discovery Learning Tingkatkan Keaktifan Siswa

Dokumen ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas IV dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui model pembelajaran Discovery Learning di UPTD Negeri 38 Parepare. Penelitian ini mengidentifikasi masalah rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa akibat metode ceramah yang digunakan guru, dan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Discovery Learning terhadap keaktifan siswa. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Diunggah oleh

sdnegeri551tampa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENELITIAN TINDAKAN KELAS(PTK)

IMPLEMENTASI MODEL PEM BELAJARAN DISCOVERY


LEARNING UNTUK PENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA KELAS
IV PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI UPTD NEGERI 38 PAREPARE

Diajukan untuk Memenuhi Tugas pada Modul PenelitianTindakan Kelas


Lokakarya PPG dalam Jabatan

OLEH :

ALWIA

PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) DALAM JABATAN


UNIVERSTITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2024

i
DAFTARISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1

B. Identifikasi Masalah .................................................................... 4

C. Batasan Masalah.......................................................................... 4

D. Rumusan Masalah ....................................................................... 4

E. Tujuan Penelitian ........................................................................ 4

F. Manfaat Penelitian ...................................................................... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran .................................................................... 6

B. Keaktifan Siswa .......................................................................... 10

C. Penelitian yang Relevan .............................................................. 13

D. Hipotesis ...................................................................................... 14

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ............................................................................ 15

B. Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................... 17

C. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian ...................................... 17

D. Instrumen Penelitian.................................................................... 17

E. Instrumen Penilaian ..................................................................... 18

F. Sumber Data Penelitian ............................................................... 19

G. Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 19

H. Teknik Analisis Data ................................................................... 20

I. Indikator Kinerja ......................................................................... 21

ii
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. PraSiklus ..................................................................................... 22
B. Deskripsi Penelitian Perbaikan Pembelajaran ............................. 24
C. SiklusI ......................................................................................... 25
D. SiklusII ........................................................................................ 37
E. Pembahasan ................................................................................. 42

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................. 44

B. Saran ............................................................................................ 44

DAFTARPUSTAKA .............................................................................. 45

iii
DAFTAR TABEL

Tabel3.1Presentase Keaktifan Siswa....................................................................................... 21

Tabel4.1Hasil Pengamatan Prasiklus ............................................................................................ 22

Tabel4.2Hasil Pelaksanaan Model Pembelajaran Discovery Learning Siklus I............................ 28

Tabel4.3Hasil observasi Keaktifan Siswa pada Siklus I ............................................................... 29

Tabel4.6Hasil Pelaksanaan Model Pembelajaran Discovery Learning Siklus II .......................... 39

Tabel4.7Hasil observasi Keaktifan Siswa pada Siklus II .............................................................. 40

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya pendidikan menjadi salah satu bagian yang tidak bisa
dipisahkan dengan kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan pendidikan memiliki
segmentasi yang cukup krusial dalam kehidupan manusia. Kehadiran pendidikan
saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan yang penting dan tidak bisa dilepaskan
dari masing-masing individu. Oleh karennya, masing-masing individu tersebut
akan berupata semaksimal mungkin untuk dapat memperoleh pendidikan yang
memadai dan sesuai dengan cita-cita serta harapan yang dimilikinya. Menurut
KBBI (2018) pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memperoleh imbuhan
awal “pe” dan akhiran “an” yang berarti langkah, sistem atau tindakan yang
mendidik.

Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan di Indonesia juga


mengalami perubahan dan pembaharuan. Dalam perkembangan kurikulum saatini,
siswa semakin dituntut untuk belajar secara aktif dan mandiri. Guru berperan
dalam membuat suasana lebih menyenangkan dan mendorong siswa untuk
berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Pada dasarnya keberadaan dari pendidikan merupakan salah satu bentuk


dari proses belajar dan mengajar. Hal ini pun dipandang luas oleh Daryanto dan
Rahardjo(2012:1)mengemukakanmengajaradalahmengarahkankegiatanbelajar
yang membuat peserta didik mau bergabung unutuk mempelajari suatu hal.
Dengan proses belajar tersebut seseorang akan menjalankan kehidupannya yang
mampu berada pada lingkup proses dan kegiatan belajar mengajar guna
memberikan pemahaman dan juga lingkup pemikiran yang luas dalam peserta
didid tersebut.

Menurut Muslim (2001:16) didalam Salma (2015) siswa harus aktif


bertanya,mengungkapkanpendapat,[Link]

1
harus aktif menulis atau meringkas, merancang atau membuat sesuatu dan
menemukan hal-hal yang baru. Efektivitas siswa dapat diukur dengan tugas dan
keterampilan yang dibutuhkan siswa. kegembiraan belajar dapat membuat siswa
berani bertanya dan berani mencoba, berani mengemukakan pendapat dan berani
mempertanyakan gagasan orang lain.

Rusman(2016:388-389)mengemukakan bahwa penerapan pembelajaran


yang mengaktifkan siswa adalah(1) komunikasi lisan dan tertulis yang efektif, (2)
berpikir kritis dan logis, (3) rasa ingin tahu, (4) penguasaan keterampilan dan
informasi, (5) pengembangan pribadi dan sosial, (6) pembelajaran mandiri. Enam
keterampilan belajar tersebut memiliki keterkaitan antar dimensi yang melibatkan
pengetahuan, sikap dan keterampilan yang sangat penting untuk terjadinya
peristiwa belajar yang berharga dan pengembangan potensi siswa melaluiberbagai
kegiatan pembelajaran disekolah. Oleh karena itu, untuk meningkatkan proses
belajar mengajar, guru menerapkan suatu metode atau model pembelajaran
sebagai acuan atau strategi yang lebih efisien.

Model pembelajaran adalah cara-cara, teknik penyajian bahan ajar, atau


kerangka yang disusun secara baik kemudian diterapkan dalam pembelajaran
sehingga terciptanya tujuan pembelajaran yang terstruktur. Model pembelajaran
ini sangat diperlukan sebagai pedoman bagi guru dalam aktivitas belajarmengajar.
Model pembelajaran dapat digunakan sebagai seleksi, artinya guru dapat memilih
model pembelajaran yang tepat dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan.
(Rusman, 2016:133).

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti pada


tanggal 17 September 2024 sampai tanggal 18 September 2023 di UPTD SD
Negeri 38 Parepare pada tatap muka terbatas bahwa siswa kelas IV masih banyak
yang tidak aktif dikelas selama proses belajar mengajar sebab metode
pembelajaran yang digunakan oleh guru ialah metode ceramah. Penggunaan
metode ceramah kurang efektif, karena siswa hanya mendengarkan guru yang
sedang menjelaskan pelajaran, sehingga menyebabkan siswa kurang aktif dalam
proses pembelajaran.

2
Meskipun guru memberikan sesi pertanyaan bagi siswa, tetapi hanya
siswa aktif saja yang memanfaat kesempatan bertanya, sedangkan siswa yang
kurang aktif lebih memilih diam saja atau bicara dengan siswa lain.

Hasil data yang didapatkan dari guru PAI kelas IV SD Negeri 38


Parepare bahwa hasil belajar siswa masih tergolong rendah. Hal ini didasarkan
dari jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan minimal (KKM) yang telah
ditetapkan sekolah yaitu 75 mencapai rata-rata 61,22 dari 29 siswa, dan sekitar
39% siswa yang telah mencapai KKM pada Ujian Akhir Semester Satu Tahun
Ajaran 2022/2023

Mempertimbangkan permasalahan diatas, sesuai dengan kurikulum


Merdeka UPTD SD Negeri 38 Parepare, diperlukan metode pembelajaran yang
tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu metode yang diyakini
dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran yaitu
model discovery learning, yang dimana metode ini diharapkan dapat
meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

Metode discovery learning merupakan salah satu dari banyak metode


yang ada. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2013) tentang
metode pembelajaran penemuan yang dijelaskan dalam bagian kurikulum
merdeka yaitu discovery learning adalah salah satu bagian dari teori belajar yang
pada dasarnya bertujuan untuk mengkoordinir peserta didik untuk dapat berperan
aktif dalam kegiatan belajara mengajar. Keaktifan yang dilakukan oleh peserta
didik dapat dilakukan dengan upaya dari peserta didik untuk dapat
memperolehberbagai informasi sebanyak mungkin dari berbagai media kemudian
siswa memahami hal yangditemuinya, dan guru akan bertugassebagai
pembimbingdan membimbing siswa untuk bisa berpikir secara kritis, kreatif.
Penggunaan modelini sangat efektif dikarenakan siswa dituntun untuk mencari
tahu bukan diberitahu oleh guru.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan


penelitian yang berjudul“Implementasi Model Pembelajaran Discovery Learning

3
Untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Kelas IV Pada Mata Pelajaran Pendidikan
Agama Islam di SD Negeri 38 Parepare”

B. Identifikasi Masalah

Berdasar dari latar belakang masalah yang dikemukakan oleh peneliti


diatas maka dapat diidentifikasi masalah terkait dengan Penerapan Model
Pembelajaran Discovery Learning untuk meningkatkan Keaktifan dan hasil
belajar siswa kelas IV dalam mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu:

1. Kurangnya variasi model pembelajaran yang digunakan guru di kelas


2. Model pembelajaran yang digunakan guru kurang dapat membuat siswa
aktif dalam kegiatan belajar mengajar
3. Rendahnya hasil belajar yang dimiliki oleh peserta didik.

C. Batasan Masalah

Batasan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan


menggunakan model discovery learning untuk dapat mengetahui akan tingkat
keaktifan dan jga hasil belajara yang dimiliki oleh peserta didik secara khusus
adalah siswa kelas IV dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD
Negeri 38 Parepare.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah yang telah diuraikan diatas, maka peneliti dapat


merumuskan masalah penelitian ini yaitu:Apakah Penerapan Model Pembelajaran
Discovery Learning dapat meningkatkan Keaktifan belajar siswa kelas IV dalam
mata pelajaran Pendidikan Agama Islam?

E. Tujuan Penelitian

Dengan melihat dari pandangan rumusan masalah yang telah dirancang


oleh penulismaka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk dapat
mengetahui dan memahami akan pengaruh yang di berikan dari penerapan

4
Discovery learning terhadap keaktifan yang dimiliki oleh siswa dan juga hasil belajar
yang dimilikinya.

F. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini mengungkapkan manfaat dalam mengetahui


penerapan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan keaktifan
dan hasil belajar siswa yaitu:

a) Bagi Siswa

Dengan menerapkan pembelajaran discovery learning ini


siswa dapat lebih aktif dalam pembelajaran dan berani dalam mencari
tahu hal-hal yang ingin diketahuinya

b) Bagi Guru
1. Guru dapat menciptakan perbaikan pembelajaran sehingga anak
didik termotivasi untuk belajar;
2. Guru lebih percaya diri, karena mampu menganalisis terhadap
kinerjanya di kelas sehingga menemukan kelemahan dan
kekuatannya kemudian mengembangkan alternatif untuk mengatasi
kelemahannya; dan
3. Melalui penelitian ini guru berperan aktif mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan sendiri karena bertindak sebagai
perancang dan pelaku perbaikan tersebut.
c) Bagi Sekolah

Sekolah memiliki guru yang kompeten yaitu guru yang mau


melaksanakan tugas dengan penuh pengabdian dan berinovasi demi
kemajuan pendidikan.

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. ModelPem belajaran
1. Pengertian Model Pembelajaran

Menurut Hamzah [Link] (2007:2016) pada buku Istarani (2012:1) model


pembelajaran didefinisikan sebagai salah satu bagian dari proses pembelajaran
yang pada dasarnya bertujuan untuk mengontrol kondisi dan juga situasi yang
dibangun dalam lingkungan pembelajaran tersebut. Pada dasarnya terdapat
beberapa bentuk strategi yang dapat dilakukan oleh tenaga pendidik dalam
menentukan model pembelajaran yang kan ddigunakan yaitu sebagai berikut:

a) Strategi pengorganisasian

Strategi pengorganisasian menjadi salah satu langkah yang harus


diperhatikan oleh tenaga pendidik. Seperti yang diketahui bahwa strategi ini
dilakukan dengan tujuan untuk menggabungakan akan berbagai kebutuhan
yang dibutuhkan dalam sebuah proses pembelajaran seperti konsep yang akan
dipelajari hingga pada media yang akan digunakan, ada 2 strategi dalam
perorganisasian yaitu strategi mikro dan makro. Strategi mikro menjelaskan
bagaimana struktur isi pembelajaran yang berpendar pada satu
konsep,prosedur dan [Link] makro adalahmetode pengorganisasian
isi pembelajaran yang mencakup satu atau lebih konsep,prosedur dan prinsip.

b) Strategi penyampaian

Strategi penyampaian isi pembelajaran, materi yang akan digunakan


dalam proses pembelajaran.

c) Strategi pengelolaan belajar mengajar

Strategi pengelolaan belajar mengajar merupakan bagian dari variabel


metode yang berkaitan dengan mengelola proses belajar mengajar.

6
Rusman(2016:132)mengemukakan bahwa model pembelajaran itu
sendiri biasanya disusun berdasarkan prinsip atau teori pengetahuan [Link]
ahli mengembangkan model pembelajaran berdasarkan prinsip belajar,
psikologis, sosiologis, analisis sistem, atau teori pendukung lainnya.

2. Metode Discovery Learning


a. Pengertian

Rostiyah N.K (2008:20) didalam buku (Istarani, 2012:51)mengemukakan


bahwa dalam perjalaannya metode yang berupaya menuntun siswa untuk
memperoleh dan memecahkan suatu permasalahan merupakan salah satu bentuk
dari discovery.

Sani (2014:97-98) mengemukakan discovery learning adalah salah stau


proses dari inkuiri yang mana pada dasarnya menuntut tenaga pendidik unutk
dapat berlaku kreatif dan juga inovatif dalam menerapakan suatu proses
pembelajaran.

b. Langkah-langkah

Menurut Dedikbud (2014:45) tahapan dalam pembelajaran yang


menerapkan discovery learning adalah sebagai berikut:

1) Stimulation(Stimulasi)

Peserta didik akan akan diberikan soal atau sesuatu yang


membingungkan,guru tidak perkenankan untuk memberikan kesimpulan atau
maksud dari permasalahan tersebut sehingga akan memberikan rangsangan
kepada siswa untuk mencari tahu. Sebelum memulai pembelajaran guru akan
menganjurkan siswa untuk membaca buku sebagai bentuk kesiapan.

2) Problem statement(Pemberian rangsangan)

Pada tahap ini guru akan memberikan waktu kepada siswa untuk
mengidentifikasikan sebanyak mungkin masalah yang berkaitan dengan buku

7
Atau bahan ajar lainnya kemudian hasil dari identifikasi tersebut akan dijadikan
hipotesis atau jawaban sementara.

3) Data Collection(pengumpulan data)

Ketika pengumpulan data berlangsung guru juga memberikan


kesempatan kepada siswa mencari tahu jawaban sebanyak-banyak untuk
menguat hipotesis yang mereka kumpulkan(Syah, 2004:244). Nah, disini
untuk mendukung hipotesis siswa mecari informasi dengan cara membaca
literatur, mengamati objek, mewawancarai subjek data secara langsung, dan
melakukan eksperimen sendiri.

4) Dataprocessing (Pengolahan data)

Setelah semua data terkumpul kemudian data tersebut diolah,diacak,


diklasifikasikan, ditabulasi sesuai kebutuhan, dihitung dengan cara tertentu
dan serta ditafsirkan sampai batas tertentu.

5) Verification(pembuktian)

Disini siswa dengan cermat memeriksa hasil pengolahan data, dan


guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsep, teori,
atau aturan pemahaman menggunakan contoh yang mereka temui dalam
kehidupan sehari-hari.

6) Generalization(menarik kesimpulan/generalisasi)

Generalization atau menarik kesimpulan berarti siswa menarik


kesimpulan dari masalah yang telah diperhatikan diverifikasi nya.

c. Prosedur Discovery Learning


Menurut Istarani (2012:51) Adapun prosedur discovery
(penemuan) adalah sebagai berikut:
1. Guru akan menjelaskan permasalahan kepada siswa
2. Guru menyiapkan bahan atau media yang akan digunakan siswa
dalam proses penemuan yang akan dilakukan oleh siswa

8
3. Guru akan memberikan aturan kerja dalam melakukan proses
penemuan yang akan dicari siswa
4. Guru menyediakan lembar kerja siswa (LKS) sebagai petunjuk
kerja atau bahan ajar yang berkaitan dengan masalah yang akan
dicari
5. Siswa melaporkan hasil temuan
6. Evaluasi
7. Kesimpulan dari hasil pengamatan
d. Kelebihan

Istarani ( 2012:52) mengemukakan Penggunaan metode discoveryini


untuk menyarankan guru agar berupaya meningkatkan aktivitas siswa dalam
proses belajar mengajar. Untuk itu, metode ini memiliki kelebihan:

1. Metode ini dapat membantu siswa mengembangkan proses


kognitif/kemampuan kognitif siswa serta meningkatkan kesiapan
dan penguasaan.
2. Siswa mampu mendapatkan ilmu pengetahuan.
3. Dapat membangkitkan semangat belajar siswa.
4. Metode ini dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berkembang dan berkembang sesuai dengan kemampuannya.
5. memberi siswa kendali atas bagaimana mereka belajar, memberi
mereka motivasi yang kuat untuk belajar dengan giat.
6. Membantusiswa untuk memperkuat danmeningkatkan rasa
percaya diri mereka melalui proses penemuan ini.
7. Metode ini berpusat pada siswa,bukan berpusat pada guru.
8. Seorang guru hanyalah sebagai teman belajar yang membantu
ketika diperlukan.
e. Kekurangan

Istarani (2012:52-53) mengemukakan bahwa metode ini masih


memliki beberapa kekurangan antara lain:

9
1) Siswa harus siap mental akan sesuatu yang mungkin saja terjadi dalam
proses pembelajaran.
2) Kelas yang besar akan membuat metode ini kurang berhasil.
3) Guru dan siswa yang terbiasa dengan metode tradisional bisa sangat
kecewa ketika mereka digantikan oleh metode penemuan ini.
4) Terlalu menekankan pada proses pemahaman sedangkan nilai
perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan siswa minim.
5) Metode ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berpikirkreatif.

B. Keaktifan Siswa
a. Pengertian Keaktifan

Sudjana (2005:72) mengemukakan Keaktifan siswa adalah keikut sertaan


dalam kinerja tugas belajar, terlibat dalam pemecahan masalah, mengajukan
pertanyaan kepada siswa atau guru lain, mencoba menemukan berbagai informasi
yang diperlukan untuk memecahkan masalah, melatih disiplin diri, dan menilai
efikasi diri berdasarkan hasil yang dicapai.

Menurut Muslim (2001:16) didalam Salma (2015) siswa harus aktif


bertanya, mengungkapkan pendapat, mempertanyakan pendapat orang lain. Siswa
harus aktif menulis atau meringkas, merancang atau membuat sesuatu dan
menemukan hal-hal yang baru. Efektivitas siswa dapat diukur dengan tugas dan
keterampilan yang dibutuhkan siswa. Kehadiran dari suasana yang nyaman akan
mampu membuat siswa berani bertanya dan aktif dalam kegiatan belajar.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan

Keaktifan belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung dapat


mengembangkan bakat dan keterampilan yang mereka miliki, siswa akan dituntut
untuk berpikir secara nalar maupun kritis serta dapat memecahkan masalah dan
mendapatkan penemuan terbaru.

Syah (2012:146) mengemukakan faktor yang dapat mempengaruhi


keaktifan siswa dapat dilihat dari tiga faktor yaitu:

10
1) Faktor internal sebagai faktor diri sendiri siswa yang meliputi:
a) Psikologis merupakan pada hakikat belajar ialah suatu proses
psikologis dimana keadaan mental belajar siswa dapat mempengaruhi
minat aktif belajar.
b) Fisiologis merupakan kebutuhan fisik dan ketegangan otot yang
ditandai dengan kemampuan beradaptasi organ tubuh dan persendian,
dan hal ini dapat mempengaruhi semangat siswa untuk mengikuti
kelas.
2) Faktor eksternal, merupakan faktor dari luar diri manusia/diri sendiri,
meliputi:
a) faktor sosial seperti guru, staff sekolah dan teman sebaya atau teman
kelas
b) faktor non sosial seperti lokasi dan tata letak gedung sekolah, letak
rumah peserta didik, kondisi cuaca dan waktu yang digunakan oleh
peserta didik, serta alat belajar yang digunakan.
3) Faktor pendekatan belajar merupakan strategi yang diperlukan oleh peserta
didik untuk mencapai keaktifan belajar dalam materi tertentu.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat


mempengaruhi keaktifan siswa yaitu berupa faktor internal dan faktor
eksternal dan faktor pendekatan.

Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya


keaktifan belajar siswa menurut Gagne dan Briggs (dalam martinis, 2007:84)
antara lain:

a) Memberi semangat dan dorongan kepada siswa untuk berpartisipasi


aktif dalam kegiatan belajar mengajar
b) Meningkatkan kompetensi belajar kepada siswa
c) Menjelaskan tujuan pembelajaran dan kemampuan dasar kepada siswa
d) Memberikan stimulus(masalah,topik,dankonsep yangakan dipelajari
e) Memberikan petunjuk cara mempelajarinya kepada siswa

11
f) Memasukkan aktivitas partisipasi siswa dalam kegiatan
pembelajaran yang berlangsung
g) Menberikan umpan balik
h) Memberikan beberapa teskepada siswa,sehingga kemampuan siswa
dapat selalu terpantau dan terukur
i) Memberikan kesimpulan yang ringkas dikelas setiap akhir pembelajaran.
c. Macam-macam Keaktifan

Adapun keaktifan jasmani dan rohani menurut sagala (2006:124-


134) dalam Abdina (2017) sebagai berikut:

1) Keaktifan indera:persepsi penglihatan,sentuhan dansebagainya. Siswa


didorong untuk memanfaatkan indra mereka secara maksimal.
2) Keaktifan intelektual: pikiran siswa harus diaktifkan untukmemecahkan
masalah, membentuk pendapat dan mengambil keputusan
3) Keaktifan kemampuan mengingat: saat pembelajaran berlangsung anak
harus aktif menerima materi yang disampaikan kedalam otak, dan pada
akhirnya mereka akan siap merekonstruksi apa yang mereka ingat.
4) Keaktifan emosional: dalam hal ini siswa diharapkan dapat mencintai
pelajarannya.
d. Indikator Keaktifan Siswa

Menurut Pramono (2018) ada 8 indikator yang dapat digunakan untuk


penilaian keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung antara lain:

1) Visual Activities: a) Siswa memperhatikan penjelasan guru dikelas, b)


Siswa memperhatikan temannya saat mempresentasikan didepan kelas, c)
Siswa memperhatikan temannya saat berbicara, d) Siswa membaca
buku/referensi tentang pelajaran.
2) Oral Activities: a) Siswa bertanya kepada guru tentang materi yang
dipelajari,b)Siswabertanyakepadatemannyasaatberdiskusi,c)Siswa

12
mengungkapkan pendapatnya selama diskusi, d) Guru mengajukan
pertanyaan dan siswa menjawabnya.
3) Listening Activities: a) Siswa mendengarkan penjelasan guru dikelas, b)
Siswa mendengarkan kelompok lain mempresentasikan didepan kelas, c)
Siswa mendengarkan temannya selama diskusi.
4) Writing Activities: a) Siswa mencatat pelajaran, b) Siswa merangkumhasil
diskusi.
5) Drawing Activities:Siswa membuat grafik/gambarmateri pembelajaran.
6) Motor Activities: a) Siswa mengatur kursi, b) Siswa memilih materi dari
buku berdasarkan apa yang sedang dibahas.
7) Mental Activities: a) Siswa menganalisis materi selama diskusi. b) Siswa
terlibat dalam pemecahan masalah selama diskusi.
8) EmotionalActivities:a)Siswa menanggapi materi yang dipelajari,b) Siswa
menerima kritikan dari pendapat siswa lain.

C. Penelitian yang Relevan


a. Kharisma Sabekti (2017) “Penerapan Metode Discovery Learning untuk
Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Teknologi
Informasi dan Komunikasi”. Penelitian ini menyajikan penggunaan model
pembelajaran Discovery Learning untuk dapat meningkatkan keaktifan
belajar siswa pada pembelajaran TIK.
b. Doni Setiawan Pramono (2018)“Penggunaan Metode DiscoveryLearning
untuk Meningkatkan Keaktifan dan Kompetensi Siswa pada Mata
Pelajaran Perawatan Kelistrikan Kendaraan Ringan” Penelitian ini
menyajikan penggunaan metode discovery learning untuk meningkatkan
keaktifan dan kompetensi siswa pada mata pelajaran PerawatanKelistrikan
Kendaraan Ringan pada kelas XI TKR 3.
c. Iin Puji Rahayu, Agustina Tyas Asri Hardini (2019) “Penerapan Model
Discovery Learning untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar
Tematik”.Penelitian ini menyajikan penggunaan media pembelajaran

13
Discovery Learning untuk meningkat keaktifan dan hasil belajar pada
siswa pada pembelajaran tematik

Berdasarkan penelitian terdahulu dan yang sekarang yaitu sama- sama


menggunakan model pembelajaran discovery learning, dan metode tersebut
digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan juga keaktifan siswa
selama proses belajar mengajar. Namun yang membedakan adalah penelitian
terdahulu ialah penggunaan model pembelajaran discovery learning di penelitian
pertama digunakan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa pada mata
pelajaran TIK, Sedangkan penelitian yang akan dilakukan sekarang penggunaan
model pembelajaran discovery learning untuk meningkatkan keaktifan dan hasil
belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

D. Hipotesis

Pada dasarnya hipotesis merupakan salah satu bentuk dari prakiraan yang
telah ditentukan oleh peneliti (Arikunto, 2010:68). Dalam penelitian ini hipotesis
yang diangkat adalah bahwasaya model pembelajaran discovery learning
memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan keaktifan dan hasil
belajar siswa kelas IV pelajaran Pendidikan Agama Islam UPTD SD Negeri 38
Parepare.

14
BAB III

METODOLOGIPENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut


Sanjaya (2013:149) penelitian tindakan kelas merupakan proses mempelajari
masalah belajar yang muncul dengan mengambil tindakan terstruktur dan
terencana didalam kelas menggunakan tindakan refleksi diri dan cara untuk
menganalisis dari suatu tindakan. Sedangkan menurut Arikunto (2008:3) kegiatan
belajar yangdicermati dengan tindakan yangberencana dimunculkan, sertaterjadi
didalam kelas diwaktu yang sama. Dalam hal ini tindakan yang dimaksud adalah
penerapan model pembelajaran discovery learning yang diharapkan akan dapat
meningkatkan keaktifan belajar dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
ekonomi.

Penelitian ini memerlukan 2 siklus yang terdiri dari 4 kegiatan berulang


yaitu: 1) Perencanaan (planning), 2) Tindakan (acting), 3) Pengamatan
(observing), 4) Refleksi (reflecting).

Masing-masing setiap siklus dalam penelitian ini berisikan 2 siklus antara


lain sebagai berikut:

1) Siklus1
a) Perencanaan (planning)

Pada tahap ini peneliti mendiskusikan dengan guru kelas tentang


pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery
learning serta menentukan materi ajar, menyusun silabus, merancang RPP, serta
lembar pengamatan

b) Tindakan(acting)

Dalam tahap pelaksanaan ini, peneliti melaksanakan apa yang telah


dirancang pada modul,yaitu model pembelajaran discovery learning bertujuan

15
Untuk meningkatkan keaktifan siswa pada mata pelajaran PendidikanAgama
Islamkelas IV UPTD SD Negeri 38 Parepare.

c) Pengamatan(observing)

Dalam tahap ini,yang akan bertindak sebagai pengamat adalah guru


Kelas dan1orang observer yang memahami mata pelajaran lain. Pengamatan ini
akan dilakukan terhadap kegiatan, berinteraksi serta kemajuan belajar siswa
selama pembelajaran berlangsung. Pengamatan ini akan dilaksanakan bersamaan
dengan pelaksanaan tindakan.

d) Refleksi(Reflekting)

Refleksi ini akan dilakukan setelah tindakan siklus berakhir. Hasil


refleksi ini akan digunakan sebagai langkah untuk merancanakan tindakan baru
pada pembelajaran berikutnya. Karena penelitian ini terdiri dari dua siklus, maka
tahap ini dijadikan tujuan untuk mengkaji, serta untuk mempertimbangkan
kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada siklus 1 dan akan diperbaiki untuk
pelaksanaan siklus 2.

2) Siklus2

Berdasarkan hasil siklus 1maka akan dilakukan perencanaan ulang untuk dilaksanakan
siklus2 seperti yang telah dilakukan pada siklus1 ,antaralain:

a) Menyusun rencana pembelajaran,lembar pengamatan dan sebagainya.

16
b) Melaksanakan kembali pembelajaran dengan menggunakan model
discovery learning.
c) Melakukan pengerjaan pembelajaran yang lebih efektif sesuai dengan
model pembelajaran discovery learning.

B. Waktu danTempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di UPTD SD Negeri 38 . Waktu


pelaksaan penelitian akan dilakukan pada semester ganjil 24 September 2024.

C. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian

Subjek penelitiannya adalah siswa kelas IV UPTD SD Negeri 38dengan siswa


yang berjumlah 29 siswa. Dan objek penelitian nya adalah untuk meningkatkan
keaktifan siswa kelas IV UPTD SD Negeri 38.

D. Instrumen Penelitian
1) Perangkat Pembelajaran

Pada dasarnya terdapat beberapa elemen atau aspek penting yang harus
dipersiapkan dalam menjalankan sebuah model atau perangkat pembelajaran.
Berikut disajika beberapa perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan
adalah:

a) Silabus

Silabuspada dasarnya dimaknaisebagaisalahsatuelemenperangkat


pembelajaran yangmemiliki tujuan penyusunan sebagai standarisasi berbagai
kebutuhan dalam proses pembelajaran.

b) Modul pembelajaran

Modul pembelajaran merupakan pedoman bagi guru yang berisikan


berbagai pokok pelaksanaan proses pembelajaran yang akan dilakukan di
kelas.

17
c) BukuPaket

Buku paket siswa merupakan pegangan siswa yang digunakan sebagai


pedoman atau sumber informasi siswa dalam pembelajaran.

d) AlatEvaluasi

Alat evaluasi biasanya berupa tes yang telah dipersiapkan oleh guru
untuk mengukur tingkat pemahaman siswa.

E. Instrumen Penilaian

Dalam sebuah penelitian tindakan kelas salah satu bagian penting adalah
terkait dengan instrument penilaian yang akan digunakan dalam penelitian
tersebut. Seperti yang diketahui bahwasanya kehadiran dari instrument penilainini
dijadikan sebagai bagian yang akan digunakan sebagai pedoman dalam
pelaksnaan tindakan kelas. Dalam penelitian ini, alat instrument penelitian yang
digunakan adalah dengan menggunakan instrument penilain tes dan juga
instrument penilaian non tes. Penggunaan dari kedua penilain tes ini bertujuan
untuk mengukur kemampuan siswa yang bersifat kognitif. Bentuk dari instrumen
tes ini ialah tes tertulis yang terdapat pilihan ganda sesuai dengan kompetensi dan
indikator yang berlaku.

Instrumen penelitian non tes merupakan penggunaan instrumenobservasi.


Observasi yang digunakan dalam penelitian ini gunanya untuk mengamati tingkah
laku siswa selama [Link] keaktifan siswa dan observasi
penggunaan metode discovery learning. Pada observasi keaktifan siswa lembar
observasi dibuat dalam bentuk “I”. Jika obyek yang diamati sesuai dengan
indikator pada lembar observasi maka observer tinggal memberi tanda “I” pada
kolom indikator.

18
F. SumberDataPenelitian
a) Data Primer

Data primer ini merupakan data utama didalam penelitian ini yaitu
keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam UPTD SD Negeri 38 Parepare.

b) Data Sekunder

Data sekunder ini merupakan data pendukung didalam penelitian ini


yaitu berupa data dokumentasi penelitian penggunaan discovery learning.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penilitian antara


lain:

a) Metode Tes

Metode tes merupakan tes belajar dengan soal materi. metode ini
digunakan untuk mengukur kemampuan siswa yang bersifat kognitif. Tes adalah
terdiri dari beberapa pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur
tinggi rendahnya pengetahuan, keterampilan, serta kemapuan menerapkan hal-hal
yang telah dipelajari oleh siswa. Maka sebelum kita melakukan penelitian
sebaiknya mempersiapkan beberapa butir-butir soal untuk mengukur kemampuan
kognitif siswa. Soal yang dipersiapkan berupa soal B(benar)S(Salah)

b) Observasi

Teknik observasi dilakukanuntukmengamati tingkah laku siswa. Teknik


observasi merupakan sebuah metode dengan cara menganalisis dan mengadakan
pencatatan prilaku secara sistematis dengan cara observasi atau melihat siswa
melalui individual atau kelompok secara langsung (Purwanto,2013:149).

19
Sebelum melakukan sebuah observasi peneliti akan mempersiapkan
indikator-indikator dari perilaku yang diamati dan kemudian peneliti membuat
lembar observasi supaya bisa mempermudah penelitian saat melakukan observasi.

c) Dokumentasi

Dokumentasi ini dibuat saat penelitian berlangsung. Dokumentasi ini


dapat digunakan untuk bisa mendapatkan data berupa modul , Silabus dan nilai
ulangan sebelumnya yang bisa digunakan untuk data mendukung selama
observasi. Tak hanya itu dokumentasi ini juga bisa didapatkan dari foto-foto
selama melakukan kegiatan, dengan adanya foto tersebut bisa dijadikan arsip
sebagai bukti telah melakukan penelitian sehingga penelitian dapat dipercayakan
keasliannya.

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisisdari penelitian yangdilakukan ini yaitu analisisdeskriptif


yang diperoleh dengan tujuan untuk mendeskripsikan data mengenai keaktifan
siswa dan juga keberhasilan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran yang
telahdilakukan. Analisisdatainijuga bertujuan untukmemperoleh datamengenai
keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi.

a) Keaktifan belajar siswa

Untuk mengetahui keaktifan siswa dapat dilihat dari penilaian dari hasil lembar
penilaian observasi. Skor dari pernyataan dijumlah dan dibagi dengan skor
maksimal dari seluruh pernyataan. Untuk memperoleh persentase skor keaktifan
dapat menggunakan rumus berikut:

Untuk mengetahui hasil skor presentase keaktifan siswa setiap siklusnya dengan
cara membandingkan hasil dari rata-rata persentase skor keaktifan-keaktifan
belajar antar siklus. Hal ini digunakan untuk mengetahui apakah aktivititas siswa

20
[Link]-ratapresentasekeaktifansiswa
(P) diketahui dalam bentuk presentase maka perlu dikonversi untuk kriteriatingkat
keaktifan siswa apakah tinggi, cukup atau rendah. Berikut kriteria keberhasilan
dari keaktifan siswa dapat ditentukan sebagai berikut:

Tabel3.1PresentaseKeaktifanSiswa

Tingkatpersentase Kriteria
Angka80%-100% SangatBaik
Angka70%-79% Baik
Angka60%-69% CukupBaik
Angka50%-59% Kurang
Angka0%-49% SangatKurang

Jadi indikator keaktifan siswa ini bisa dikatakan baik apabila mencapai paling
tidak 70%.

I. Indikator Kinerja

Keaktifan dan hasil belajar siswa harus dilihat dari proses pembelajaran
serta ketuntasan secara klasikal mencapai 70% dari keseluruhan jumlah yang
memperoleh nilai yang ditetapkan dengan KKM 75.

21
BAB IV

HASILPENELITIANDANPEMBAHASAN

A. Pra Siklus
Berdasarkan hasil pengamatan prasiklus yang dilaksanakan pada tanggal
17 September 2024 , didapatkan hasil belajar peserta didik sebagai berikut:
Tabel 4.1
HasilPengamatanPra siklus
No. NamaSiswa Jumlah Jumlah
Indikator Indikator
Muncul Tidak
muncul

1 Responden 1 8 12

2 Responden 2 15 5

3 Responden 3 4 16

4 Responden 4 5 15

5 Responden 5 12 8

6 Responden 6 3 17

7 Responden 7 10 10

8 Responden 8 10 10

9 Responden 9 16 4

10 Responden 10 4 16

11 Responden 11 11 9

12 Responden 12 4 16

22
13 Responden 13 4 16

14 Responden 14 12 8

15 Responden 15 4 16

16 Responden 16 4 16

17 Responden 17 10 10

18 Responden 18 9 11

19 Responden 19 5 15

20 Responden 20 3 17

21 Responden 21 4 16

22 Responden 22 7 13

23 Responden 23 5 15

24 Responden 24 11 9

25 Responden 25 4 16

26 Responden 26 10 10

27 Responden 27 5 15

28 Responden 28 4 16

29 Responden 29 8 12

Jumlah 211 369

23
Berdasarkan tabel 4.1 di atas, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil
pengamatan pada prasiklus mencapai 64,18%. nilai tertinggi 16 dan nilai
terendah 3. Persentase peserta didik yang masuk kategori aktif sebanyak 12%
atau terdiri dari 2 orang, sedangkan yang belum aktif sebanyak 88% atau
terdiri dari 27 orang.

B. Deskripsi Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Berdasarkan data dan fakta yang terjadi selama melaksanakan penelitian


perbaikan pembelajaran, serta meliat tabel 4.1 dan grafik 1 hasil pembelajaran
siswa dimulai dari tahapan prasiklus pada Materi Indahnya saling berbagi
menunjukkan adanya persentase jumlah peserta didik yang belum mencapai target
keaktifan belajar. Didapat hasil persentase siswa yang mencapai keaktifan belajar
hanya mencapai 12 % yaitu sebanyak 2 orang dari 29 orang. Dibanding siswa
yang belum mencapai ketuntasan belajar sebanyak 88 % yaitu sebanyak 27 orang.
Hal ini membuat pendidik merasa perlu menerapkan model pembelajaran yang
berbeda untuk meningkatan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil observasi pra siklus yang dilakukan oleh teman
sejawat, didapatkan beberapa faktor penyebab belum tercapainya ketuntasan
belajar peserta didik secara signifikan. Diantaranya yaitu pada saat proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam, guru mendominasi dalam proses
pembelajaran, dalam hal ini guru hanya menerapkan metode ceramah, sehingga
siswa kurang berminat dalam mengikuti prosespembelajaran. Selain itu guru juga
minim pengetahuan terkait penerapan metode atau model pembelajaran yang bisa
meningkatkankeaktifansiswadalambelajar,sehinggaberdampakpadarendahnya
ketuntasan hasil belajar peserta didik.
Berdasarkan hasil observasi tersebut, guru dengan rekan sejawat serta
rekan guru lainnya berdiskusi terkait pemilihan metode atau model pembelajaran
yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pertemuan
selanjutnya.

24
C. SiklusI
1. TahapPerencanaan

Sebelum melakukan penelitian tindakan kelas, peneliti sudahmenyiapkan


hal-hal berikut yang mendukung tindakan kelas menggunakan model
pembelajaran discoverylearning. Adapun hal-hal yang telah dipersiapkan sebagai
berikut:

a) Pembuatan modul Pembelajaran.

Pada dasarnya penggunaan modul ini menjadi salah satu bagian


penting yang harus dilakukan oleh seorang guru hal ini dikarenakan guru
menjadikan modul ini sebagai landasan dalam menjalankan kegiatan proses
pembelajaran dengan tenaga pendidik. Materi yang dipelajari pada siklus ini
sesuai dengan kompetensi dasar perkoperasian.

b) Mempersiapkan media pembelajaran.

Discovery learning merupakan model pembelajaran yang disajikan


guru dalam bentuk rangsangan kepada siswa menemukan penemuannya
sendiri. Rangsangan ini yang akan membuat gambaran dan pola pikir siswa
terhadap materi yang akan dipelajari lebih optimal. Oleh sebab itu diperlukan
media pembelajaran yangmendukungproses [Link] hal ini media
yang digunakan adalah Laptop, Proyektor, spidol, papan tulis, dan lainnya.

c) Persiapan materi pembelajaran

Materi pembelajaran berdasarkan sesuai silabus dari mata pelajaran


Pendidikan Agama Islam Materi pembelajaran yang dipilih meliputi
Mengenal Indahnya saling berbagi, tentang keragaman sebagai sunnatullah, .

25
2. Tahap Pelaksanaan
 Pendahuluan
a) Guru memberi salam dan menyapa peserta didik(menanyakan
kabar,mengecek kehadiran dan lain lain)
b) Guru menyemangati peserta didik dengan tepukan dan menyanyikan lagu
nasional
c) Salah satu peserta didik memimpin pembacaan doa di lanjutkan dengan
penegasan guru tentang pentingnya berdoa sebelum memulai kegiatan.
d) Guru bertanya melakukan tes kemampuan awal melalui pertanyaan awal.
e) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan menjelaskan kegiatan apa yang di
lakukan.
f) Guru menjelaskan hal-hal apa saja yang di nilai dari peserta didik selama
proses pembelajaran .
 Kegiatan Inti
a) Diawali dengan pertanyaan pemantik “Siapa yang bisa menjelaskan
maksud gambar ini?”
b) Peserta didik diminta untuk mengamati materi yang ditampilkan guru
melalui video pembelajaran.
c) Peserta didik mencari informasi yang di temukan dalam video pembelajan
tentang keragaman .
d) Peserta didik menuliskan pada kertas tentang hasil informasi yang di
temukan yang memiliki nilai-nilai yang harus berkembang ke semua
kehidupan dengan menarik.
e) Guru mengajak peserta didik mempertasekan di depan kelas.
f) Umpan balik di berian oleh kelompok lain dan dan guru.
g) Berdasarkan ummapn balik yang di berikan,kelompok menanggapi
pertanyaan kelompok lain.
h) Guru dan peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran.

26
 Belajar Kelompok.
a) Peserta didik di minta mengerjakan rubrik padaLKPD
b) Pesertadidik mengamati gambar disajikan guru dalamLKPD kemudian
mengikuti instruksinya.
c) Guru memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan
d) Peserta didik berdiskusi dengan anggota kelompoknya, guru mengarahkan
jalannya diskusi.
e) Salah satu peserta didik dalam kelompk melakukan presentasihasil diskusi
kelompoknya, dan kelompok lain diminta untuk menanggapi.
f) Peserta didik diingatkan untuk melakukan tanya jawab dengan bahasa
sopan dan santun
g) Setiap kelompok diberikan tugas untuk membuat 1 pertanyaan terkait
materi yang ditampilkan dan kelompok lain diminta menjawab pertanyaan
secara bergiliran.

h) Dengan tanya jawab,guru mengarahkan peserta didik pada kesimpulan.


i) Pesertadidikyangtampildiberi reward
 Tes
a) Peserta didik mengerjakan tugas yang diberikan guru
b) Peserta didik mengumpulkan tugas yang teah dikerjakan
 Penutup
a) Guru bersama-sama siswa membuat kesimpulan atau merangkum materi.
b) Peserta didik melakukan refleksi pembelajaran pada hari ini bersama guru
dengan moral dan memberitahu materi yangakan dipelajari minggu depan

27
3. Hasil Penelitian Siklus I
a. Observasi pelaksanaan Metode pembelajaran Discovery Learning

Dalam tahapan ini tentunya peneliti tidak melakukan tahapanobservasi


secara individual. Namun dalam tahapan ini, peneliti dibantu oleh dua orang
observer dengan tujuan untuk menghindari kesalahapahaman berpikir dalam
memperhatikan berbagai hal yang terjadi dalam penerpaan model
pembelajaran discovery learning. Observer melakukan pengamatan selama
pembelajaran dikelas dengan mengisi lembar observasi yang disediakan oleh
peneliti. Sebelum dilakukannya pengisian lembar observasi observer telah
dijelaskan bagaimana carapengisiannya. Berikut ini tabel hasil dari observasi
pelaksanaan model pembelajaran discovery learning pada siklus I.

Tabel 4.2
HasilPelaksanaanModelPembelajaranDiscoveryLearningSiklusI
No. NamaObserver Persentase
1 [Link],[Link] 100%
2 JianYuspiasari,[Link] 100%
Rata-rata 100%

Melihat dari hasil perhitungan yang telah dilakukan diatas maka pada
dasarnya dapat dilihat bahwasanya pengamatan yang dilakukan oleh dua
orang observer mneyatakan bahwasanya hasil dari pelaksanaan proses
pembelajaran dengan menggunakan teknik discovery learning sudah dapat
dilaksanakan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan perolehan presentasi
dari kedua observer mencapai 100%.

b. Observasi Keaktifan Siswa


Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan
melakukan observasi terhadap siswa. Observasi pada tahapan ini dilakukan
untukdapat mengukur tingkat keaktifan yang dimiliki oleh [Link]

28
Peneliti sajikan terkait dengan hasil perolehan observasi yang dilakukan terhadap
tingkat keakfifan yang dimiliki oleh siswa.

Tabel 4.3
Hasil observasi Keaktifan Siswa pada SiklusI
Jumlah Jumlah
No. NamaSiswa Indikator IndikatorTidak
Muncul muncul
1 Responden 1 12 8
2 Responden 2 13 7
3 Responden 3 4 16
4 Responden 4 5 15
5 Responden 5 12 8
6 Responden 6 3 17
7 Responden 7 10 10
8 Responden 8 10 10
9 Responden 9 8 12
10 Responden 10 4 16
11 Responden 11 11 9
12 Responden 12 4 16
13 Responden 13 4 16
14 Responden 14 12 8
15 Responden 15 4 16
16 Responden 16 4 16
17 Responden 17 12 8
18 Responden 18 9 11
19 Responden 19 5 15
20 Responden 20 3 17
21 Responden 21 4 16

29
22 Responden 22 7 13
23 Responden 23 5 15
24 Responden 24 11 9
25 Responden 25 4 16
26 Responden 26 19 1
27 Responden 27 5 15
28 Responden 28 4 16
29 Responden 29 12 8

Jumlah 220 360

Melihat perolehan data yang dihasilkan diatas maka pada dasarnya dapat
dilihat terdapat 220 jumlah keseluruhan indikator yang dinyatakan dari jumlah
siswa sebaanyak 29 siswa. Langkah selanjutnya setelah memperoleh hal tersebut
adalah dengan melakukan tahapan perhitungan dalam bentuk presentase yang
dapat dilakukan dengan menggunakan metode perhitungan sebagai berikut:
Keterangan:

Hasil perolehan yang dilakukan diatas menunjukan bahwasanya tingkat


presentase keaktifan siswa berada diangka 37,93%. Tentunya apabila dikaji dari
sudut pandang indikator yang telah ditentukan oleh peneliti maka hasil ini
termasuk ke dalam jenis indikator yang “sangat kurang”.

30
4. Refleksi Siklus I

Berdasarkan hasil pengamatan pertemuan pada siklus pertama,pelaksanaan


tindakan sudah dilaksanakan sesuai lembar observasi model pembelajaran
discovery learning. Namun apabila dikaji lebih dalam lagi maka pada dasarnya
tingkat keaktifan yang dimiliki oleh peserta didik masih berada pada tahapan
presntase yang rendah. Hal ini dibuktikan dengan hasil perolehan yang belum
mencapai indikator yang telah ditetukan oleh peniliti..

Dari hasil observasi pada siklus I terdapat beberapa uraian permasalahan


sebagai berikut:

1. Siswa masih memiliki tingkat keaktifan yang rendah terutama saat


bertanya kepada guru.
2. Siswa sudah aktif dalam diskusi kelompok saat proses penemuan. Namun
hanya beberapa siswa, siswa lainnya hanya banyak bercerita dan asyik
bermain sendiri.
3. Hasil belajar kognitif siswa masih kurang dari indikator yang telah
ditetapkan.

Dari permasalahan diatas yang menyebabkan pelaksanaan pembelajaran


belum optimal maka dilakukannya refleksi dan evaluasi untuk mengatasi
permasalahan dan meperbaiki kekurangan pada siklus I. Berikut catatan-catatan
yang digunakan untuk perbaikan pada siklus selanjutnya.

1. Guru harus mampu memotivasi siswa untuk mau terlibat secara langsung
sehingga siswa antusias dan semangat dalam mengikuti pembelajaran
2. Guru harus mampu mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan
menciptakan kesadaran mengenai pentingnya pembelajaran.

Berdasarkan refleksi pada siklus I dapat disimpulkan bahwa hasil dari


siklusImasih belum mencapai indikatorkeberhasilan tindakan kelas. Oleh karena
itu diperlukan perbaikan pada siklus II untuk meningkatkan hasil sesuai dengan
yang diharapkan.

31
D. Siklus II

1. TahapPerencanaan
Sama seperti pada tahapan siklus sebelumnya yang melakukan sebuah
perencanaan, dalam siklus ini pun perlu dilakukan sebuah perencanaan. Hal ini
tentunya digunakan sebagai salah satu bagian dari pedoman pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar. Berikut disasjikan beberapa langkah yang harus dipersiaplan
dalam tahapan perencanaan yaitu:
a. Pembuatan modul pembelajaran
Pembuatan modul bertujuan untuk merencanakan dan
mempersiapkan pembelajaran dikelas dengan menerapkan model
pembelajaran discovery learning. Materi yang dipelajari pada siklus ini
sesuai dengan kompetensi dasar .
b. Persiapan mediapembelajaran
Discovery learning merupakan model pembelajaran yang disajikan
guru dalam bentuk rangsangan kepada siswa menemukan penemuannya
[Link] ini yang akan membuat gambaran dan pola pikir siswa

32
terhadap materi yang akan dipelajari lebih optimal. Oleh sebab itu
diperlukan media pembelajaran yang mendukung proses penemuan. Dalam
hal ini media yang digunakan adalah handphone, spidol, papan tulis, dan
lainnya.
c. TahapPelaksanaan.
1) Guru Membuka pembelajaran dengan membaca Basmallah
dilanjutkan salam dan berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang
peserta didik dengan penuh khidmat do’a mecari ilmu

2) MenyanyikanlaguwajibNasional
3) Memeriksa kehadiran, kerapihan berpakaian, posisi dan tempat
duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran.
4) Menyapa dengan menanyakan apakabar dan perasaan pesertadidik.
5) Melakukan apersespsi yang dikaitkan dengan penyampaian tujuan
pembelajaran.
9) Stimulasi Guru menginformasikan tentang prinsip pembelajaran
Discovery Learning serta materi yang berhubungan dengan tata cara
keragaman sebagai sunnatullah.
10) Diawali dengan pertanyaan pemantik “Siapa yang bisa memberi
contoh keragaman yang ada di indonesia?”
11) Peserta didik diminta untuk mengamati materi yang ditampilkan
guru melalui media video pembelajaran.
12) Peserta didik mencri info keragaman apa yang di amati di video
pembelajaran
13) Peserta didik memaparkan hasil diskusinya bersama kelompoknya
14) Umpan balik dari kelompok lain dan kelompok menanggapi pertanyaan
dari kelompok lain
15) Peserta didik menyimpulkan prmbelajaran.
16) Guru memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami
kesulitan

33
17) Peserta didik berdiskusi dengan anggota kelompoknya, guru
mengarahkan jalannya diskusi.
18) Salah satu peserta didik dalam kelompk penyaji melakukan
presentasi hasil diskusi kelompoknya, dan kelompok lain diminta
untuk menanggapi.
19) Peserta didik diingatkan untuk melakukan tanya jawab dengan
bahasa sopan dan santun
20) Setiap kelompok diberikan tugas untuk membuat 1 pertanyaanterkait
materi yang ditampilkan dan kelompok lain diminta menjawab
pertanyaan secara bergiliran.
21) Peserta didik mempraktikan cara berwudhu dihadapan peserta didik
secara bergiliran menurut kelompoknya.

22) Peserta didik yang tampil diberi reward


23) Peserta didik mengerjakan tugas yang diberikanguru
24) Pesertadidikmengumpulkantugas yangteahdikerjakan
25) Guru memeriksa tugas
2. Hasil Observasi Siklus II
a. ObservasiPelaksanaanModelPembelajaranDiscoveryLearning
Sama halnya dengan tahapan yang dilakukan pada siklus pertama dan
kedua, bahwasanya dalam menerapkan tahapan obervasi ini, peneliti dibantu oleh
dua orang sumber atau observer yang diyakini dapat meningkatkan dan juga
memiliki andil yang cukup lama dalam dunia pendidikan. Dari hasil obervasi
tersebut menunjukkan bahwasanya:
Tabel. 4.6
HasilPelaksanaanModelPembelajaranDiscoveryLearningSiklus II

No. NamaObserver Persentase


1 [Link],[Link] 100%
2 JianYuspitasari,[Link] 100%
Rata-rata 100%

34
Menilik dari data diatas maka dapat disimpulkan bahwasanya kedua
pihak tersebut menilai penerapan model discovery learning menjadi salah satu
metode pembelajaran yang baik unutk diterapkan oleh guru terhadap siswa.

b. Observasi Keaktifan Siswa


Data keaktifan siswa juga diperoleh dari observasi yangdilakukan oleh2
orang observer. Dalam melakukan observasi, observer menggunakan lembar
observasi keaktifan siswa yang merupakan instrumen untuk mengukur keaktifan
belajar siswa. Berikut ini merupakan tabel keaktifan siswa pada siklus II.

Tabel 4.7
HasilobservasiKeaktifanSiswa pada Siklu 11
No. NamaSiswa Jumlah Jumlah
Indikator Indikator

Muncul Tidak
muncul

1 Responden 1 19 1

2 Responden 2 20 0

3 Responden 3 19 1

4 Responden 4 20 0

5 Responden 5 19 1

6 Responden 6 18 2

7 Responden 7 19 1

8 Responden 8 19 1

9 Responden 9 20 0

35
10 Responden 10 19 1

11 Responden 11 20 0

12 Responden 12 19 1

13 Responden 13 20 0

14 Responden 14 19 1

15 Responden 15 18 2

16 Responden 16 19 1

17 Responden 17 20 0

18 Responden 18 19 1

19 Responden 19 19 1

20 Responden 20 19 1

21 Responden 21 18 2

22 Responden 22 18 2

23 Responden 23 20 0

24 Responden 24 20 0

25 Responden 25 19 1

26 Responden 26 19 1

27 Responden 27 19 1

28 Responden 28 19 1

29 Responden 129 19 1

36
Jumlah 555 25

Langkah selanjutnya setelah memperoleh data diatas adalah dengan


[Link]
memudahkan peneliti dalam menganlisis dan menginterpretasikan data yang
diperoleh yang dapat dilakukan dengan menggunakan rumus atau perhitungan
sebagai berikut:

Hasil perolehan yang dilakukan diatas menunjukan bahwasanya tingkat


presentase keaktifan siswa berada diangka 95,68%. Tentunya apabila dikaji dari
sudut pandang indikator yang telah ditentukan oleh peneliti maka hasil ini
termasuk ke dalam indikator kriteria yang “Sangat Baik”.

3. Refleksi Siklus II
Pelaksanaan siklus II ini lebih baik dari siklus I . Siklus ini terlihat sudah
terbiasa dalam pelaksanaan model pembelajaran discoverylearning. Siswa sudah
sangat aktif dalam membantu temannya menemukan jawaban serta memberikan
pendapat dan bertanya saat diskusi berlangsung.

E. Pembahasan
Menurut Sudjana (2005:49) metode discovery learning adalah metode
mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh
pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui
pemberitahuan tetapi sebagian atau ditemukan sendiri. Dengan kata lain, metode
discovery merupakan metode pembelajaran yang penyampaian materi tidak

37
Disajikan langsun goleh guru, tetapi siswa dituntut aktif dalam menemukan materi
pembelajaran.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa model pembelajaran discovery
learning di kelas IV SD Negeri 38 Parepare mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam pada keaktifan belajar siswa dilaksanakan 2 siklus. Hasil observasi
pelaksanaan model pembelajaran discovery learning pada siklus I, dan II telah
mencapai 100%. Kemudian hasil dari observasi keaktifan siswa pada siklus I
sebanyak 37,93%, dan siklus II 95,68%. Aktivitas ini mengalami peningkatan.
Kelemahan dari peneliti yang menyebabkan rendahnya keaktifan dalam
pencapaian indikator keberhasilan adalah peneliti kurang mampu membangkitkan
siswa untuk tertarik dan aktif mengikuti pembelajaran berlangsung. Siswa lebih
cenderung diam,mendengarkan hasil sertamengikuti hasilyang disampaikan oleh
teman didepan kelas.
Penelitian ini sesuai dengan yang dilakukan oleh Kharisma Sabekti
(2017) yang mengungkapkan Metode Discovery Learning dapat Meningkatkan
Keaktifan Belajar Siswa. Selain itu penelitian ini juga senada dengan Doni
Setiawan Pramono (2018) menyatakan Metode Discovery Learning dapat
Meningkatkan Keaktifan dan Kompetensi Siswa serta Iin Puji Rahayu, Agustina
Tyas Asri Hardini (2019) yang menyatakan Model Discovery Learning untuk
Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar.

38
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang telah dilakukan pada mata


pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas IV UPTD SD Negeri 38 Parepare dapat
disimpulkan sebagai berikut:

Penggunaan model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan


keaktifan siswa kelas IV UPTD SD Negeri 38 Parepare pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam. Peningkatan keaktifan siswa ditunjukkan dengan
meningkatnya presentase keaktifan belajar siswa yaitu pada siklus I sebesar
37,93%, dan siklus II sebesar 95,68%.

B. Implikasi

Berdasarkan hasil penelitian danpembahasan yangtelah diuraikan, dapat


diberimasukan dan saran sebagai berikut:

1. Untuk pendidik diharapkan dapat memberikan rangsangan yang lebih


baik lagi sehingga dapat membuat siswa lebih aktif saat pembelajaran
berlangsung.
2. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan waktu lebih
baik dan melaksanakan penelitian secara optimal sehingga dapat
mencapai indikator keberhasilan pada siklus yang dilaksanakan.

39
DAFTARPUSTAKA

Abdina, Mia. 2017.”Penerapan metode tutor sebaya untukmeningkatkan


keaktifan fan hasil belajar ekonomi pada kelas x di SMA 2Singingi”.
Skripsi. Pekanbaru. Universitas Islam Riau
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. 2008. Psikologi belajar. Jakarta: PT
Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta: Renika Cipta
Asmarani,[Link]
siswa kelas VII SMP Negeri 23 Merangin. Mat-Edukasia: Jurnal
PendidikanMatematika, Vol.2 No.1
Cintia,Kristin dkk. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Discovery
Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan
Hasil belajar siswa. . PERSPEKTIF Ilmu Pendidikan - Vol. 32. 69-
77
Depdiknas. 2008. kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jakarta:Dikmenum.
Depdiknas
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka
Cipta Daryanto, Mulyo Rahardjo. 2012. Model Pembelajaran
Inovatif. Yogyakarta: Gava Media
[Link]
Istarani. 2012. Kumpulan 39 metode pembelajaran. Medan: CV ISCOM
MEDANJayadiningrat M G, Putra KAP, dkk. 2019. Penerapan
model pembelajarandiscovery learning untuk meningkat aktivitas
dan hasil belajar siswa.
JurnalPendidikanKimia Undiksha.Vol3No.2.
Junaidi. 2015. “Penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah
dengan metode diskusi untuk meningkatkan hasil belajar ekonomi
kelasXI.1 SMAN 1 Pujud”. Skripsi. Pekanbaru. Universitas Islam
Riau
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 103 tahun
2014 tentang kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah
Aliyah.
Sabekti Kharisma, Angela A. 2017. “Penerapan Metode Discovery
Learninguntuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa pada Mata
Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi”. Staff Pengajar
Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana
Salatiga
Setiawan Pramono, Doni. 2018. “Penggunaan Metode Discovery Learning
untuk Meningkatkan Keaktifan dan Kompetensi Siswa pada Mata
Pelajaran Perawatan Kelistrikan Kendaraan Ringan”. Skripsi.
Universitas Negeri Yogyakarta.
Kustian, Nina Gantina. 2021. Penggunaan metode mind mapping dalam
meningkatkan hasil belajar siswa. Jurnal Inovasi Riset Akademik,
Vol.1 No.1

40
Martinis Yamin. 2007. Kiat membelajarkan siswa. Jakarta: Gaung Persada
Pers. Purwanto, M.N. 2013. Prinsip-prinsip dan teknik Evaluasi
Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rahayu, Hardini. 2019. Penerapan model discovery learning untuk
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar tematik. Journal of
education action research. Vol.3 No.3
Rusman. 2016. Model-model pembelajaran mengembangkan
profesionalisme guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Salma, Puji Eka. 2015. ”Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif “tipe
numbered head togehter (NHT)” untuk meningkatkan hasil belajar
siswa kelas X jurusan akuntansi SMK Teknologi Riau”. Skripsi.
[Link] Islam Riau.
Sani, [Link] 2013.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Sanjaya, [Link]:Prenada Media Group.
Septiyani, T., Tampubolon, B, & Rosnita . 2018. Peningkatan hasil belajar
siswa menggunakan media konkrit pada pembelajaran tematik kelas
[Link],7(1),1-10.
SudhamantariIniPT.,[Link],[Link].2013. Pengaruh
strategi pengorganisasian pembelajaran model elaborasi berbantuan
mediagrafisterhadaphasil belajarIPSkelasIVsekolah dasar.
[Link]
9/1240
Slameto, 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.
Bandung:RemajaRosdakarya.
Sudjana,[Link].
Jakarta:SinarBaruAlgensindo.
Sudjana, Nana. 2010. Proses dan hasil belajar [Link]: PT.
Remaja Rosdakarya.
Suharsimi, dkk. 2015. Dasar-dasar Evaluasi Pendidkan. Jakarta: Bumi
Aksara Supriyanto, B. 2014. Penerapan untuk meningkatkan hasil
belajarsiswakelasVIBmatapelajaranmatematikapokok bahasan
keliling dan luas lingkaran di SDN Tanggul Wetan 02 Kecamatan
Tanggul Kabupaten Jember. Pancaran. Vol 3, No.2 Hal 165-174
Syah, Muhabbin.2012. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Widyastuti. ( 2015). Penerapan model pembelajaran discovery
learningpada materi ilmu ekonomi. 33-40.

41
42

Anda mungkin juga menyukai