BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar
Belajar pada hakikatnya merupakan proses perubahan didalamnya
kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan
ini bersifat menetap dan tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan
atau pengalaman. Beberapa para ahli mengemukakan tentang pengertian
pembelajaran diantaranya:
1) Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja
untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu. Pembelajaran
merupakan subjek khusus dari pendidikan.(corey,1986).
2) Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar (UU SPN No. 20. 2003).
3) Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh
suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari
pemahaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
( Mohammad surya).
Belajar merupakan proses internal yang komlek. yang terlibat dalam
proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif,
afektif dan ranah pesikomotorik. proses belajar yang mengaktualisasikan ketiga
ranah tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu ( sugandi, 2007, hal. 75 ).
Hamalik ( 2003 ) menejelaskan bahwa belajar adalah memodifikasi atau
memperteguh prilaku melalui pengalaman. menurut pengertian ini belajar merupakan
suatu proses, suatu kegiatan, dan bukan merupakan suatu hasil atau tujuan. Dengan
demikian, belajar itu bukan hannya mengingat dan menghafal saja namun lebih luas
dari itu merupakan mengalami.
Adapun menurut w.s. winkel ( 2002 ) belajar adalah suatu aktivitas mental
yang berlangsung dalam interaksi aktif antara seseorang dengan lingkungan, dan
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pengalaman, keterampilan
dan nilai sikap yang relative konstan dan berbekas ( ahmad s, 2016, hal. 3-4 ) Teori
belajar humanistic menganggap bahwa keberhasilan belajar terjadi jika peserta didik
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. teori belajar ini berusaha memahami
prilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya. peran pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan
dirinya, membantu masing-masing individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai
manusia yang unik dan membantu mereka dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada
dalam diri mereka. prinsip belajar humanistic adalah sebagai berikut :
1) manusia mempunnyai cara belajar sendiri belajar terjadi secara signifikan jika
materi pelajaran dirasakan mempunnyai relevansi dengan maksud tertentu.
2) belajar menyangkut perubahan dalam persepsi mengenai diri peserta didik.
3) belajar bermakna diperoleh jika peserta didik melakukannnya.
4) belajar akan berjalan lancar jika peserta didik dilibatkan dalam proses belajar.
5) belajar yang melibatkan peserta didik dapat memberi hasil yang mendalam.
6) kepercayaan pada diri peserta didik ditumbuhkan dengan mebiasakan untuk diri.
7) belajar social adalah belajar mengenai proses belajar ( Ridwan Abdullah sani,
2016 hal.24-25 ).
Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses interaksi antara anak
dengan anak, anak dengan sumber belajar, dan anak dengan pendidik. Kegiatan
pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan
yang nyaman dan memebrikan rasa aman pada anak.
Proses belajar bersifat individual dan kontekstual. Artinya proses belajar terjadi
dalam diri individual sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. Proses
belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi
merupakan kegiatan menghubungkan konsep- konsep untuk menghasilkan
pemahaman yang utuh sehingga konsep dipelajari akan paham secara baik dan tidak
mudah dilupakan (Abdul majid, 2014, hal.15-16 ).
Makna hasil belajar, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa,
baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan pesikmotor sebagai hasil dari
kegiatan hasil belajar. pengertian hasil belajar seperti mana diuraikan di atas
dipertegas lagi oleh Nawawi dalam [Link] ( 2007 : 39 ) yang menyatakan bahwa
hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari
materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam sekor yang diperoleh dari hasil tes
mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu.
Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. karena belajar itu
sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh
suatu bentuk perubahan prilaku yang relative menetap. dalam kegiatan pembelajaran
atau intruksional. Biasanya guru menetapkan tujuan belajar. anak yang berhasil
dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan
intruksional untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan
dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi ( Ahmad s, 2016,
hal.5).
B. Indikator Hasil Belajar
Pada prinsipnya pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah
pesikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. kunci
pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui
garis besar indicator dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak dicapai, dinilai,
atau diukur. Indicator hasil belajar menurut Benjamin S Bloom dengan taxsonomy of
education objectives membagi tujuan pendidikan menjadi tiga ranah yaitu ranah
kognitif yakni semua yang berhubungan dengan otak serta intelektual, ranah afektif
yakni semua yang berhubungan dengan sikap, dan ranah pesikomotor adalah suatu
yang berkaitan dengan gerak ataunucapan baik verbal maupun non verbal.
Tabel.2.1 Jenis, indicator, dan Evaluasi Prestasi
Ranah/ Jenis Prestasi Indikator Cara Evaluasi
A. Ranah cipta ( koknitif )
1. Pengamatan 1. Dapat menunjukkan 1. Tes lisan
2. Dapat membandingkan 2. Tes tertulis
3. Dapat menghubungkan. 3. Observasi
1. Dapat menyebutkan.
B. Ingatan 2. Dapat menunjukkan kembali. 1. Tes lisan
2. Tes tertulis
3. Observasi
1. Dapat menjelaskan
C. Pemahaman 2. Dapat
mengidentifikasi dengan lisan sendiri. 1. Tes lisan
2. Tes tertulis
1. Dapat memberikan contoh.
2. Dapat menggunakan secara
D. Aplikasi/ penerapan tepat. 1. Tes tertulis
2. Pemberian tugas
3. Observasi
1. Dapat menguraikan.
2. Dapat
mengklasifikasikan/ memilah-milah
1. Tes tertulis
E. Analisis 2. Pemberian tugas
(pemeriksaan dan
pemeliharaan secara teliti ) 1. Dapat
mengubungkan materi-materi,
sehingga menjadi kesatuan
baru. 1. Tes tertulis
2. Dapat menyimpulkan 4. Pemberian tugas
4. Dapat m enggeneralisasikan
(membuat prinsip umum)
F. Sintesis 1. Observasi
A. Kecakapan mengkoordinasikan 2. Tes tindakan
1. (membuat panduan
gerak mata, tangan, kaki, dan
baru dan utuh).
anggota tubuh lainya
C. Ranah karsa
(pesikomotor) 1. Tes lisan
1. Keterampilan 2. Observasi
1. Kefasihan melafalkan/menguca
bergerak dan bertindak. Tes tindakan
pkan
2. Kecakapan membuat
2. Kecakapan eskpresi verbal
mimic Dan gerajakan jasmani
dan
non-verbal
(Muhibbin syah, 2019 hal. 217-218).
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Menurut teori gestalt, belajar merupakan suatu proses perkembangan. Artinya
bahwa secara kodrati jiwa raga anak mengalami perkembangan, perkembangan
sendiri memerlukan suatu baik yang berasal dari diri siswa sendiri ata pengaruh dari
lingkungannya. Bedasarkan teori ini hasil belajar siswa di pengaruhi dua hal, siwa itu
sendiri dan [Link], siswa dalam arti kemampuan berfikir atau
tingksh laku intelektual, motivasi, minat, dan kesiapan siswa, baik jasmani maupun
rohani. kedua, lingkungan yaitu sarana dan prasarana, kompetensi guru, kreativitas
guru, sumber-sumber belajar, metode serta dukungan lingkungan, keluarga ( Ahmad
s, 2016 hal. 12 ).
Hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi
anatara berbagai factor yang mempengaruhi, baik factor internal maupun eksterna,
adalah sebagai berikut :
1) Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta
didik, yang memengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi :
kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi, belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan
belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan.
2) Faktor eksternal
Faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil
belajar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa. keluarga yang morat marit, keadaan ekonominya,
pertengkaran suami istri, perhatian yang kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan
sehari-hari yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh
dalam hasil belajar peserta didik.
Sekolah merupakan salah satu factor yang ikut menetukan hasil belajar
siswa. semakin tinggi kemampuan belajar siswa dan kualitas pengajaran di sekolah,
maka semakin tinggi pula hasil belajar siswa (wasliman, 2007, hal.158 ).
D. Model pembelajaran circuit learning
1. Pengertian circuit learning
Model pembelajaran circuit learning adalah memaksimalkan dan
mengupayakan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan
mengulang. Model ini berfokus pada penekanan belajar dalam kelompok yang
terbentuk secara hiterogen. Setiap anggota bekerja sama dan saling membantu
menyelesaikan masalah sehingga diperoleh keberhasilan individu dan kelompok
(Aris shoimin, 2014 hal.33 ). Menurut huda ( 2013 : 331 ) model pembelajaran
circuit learning ( belajar memutar) merupakan model pembelajaran yang
memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola menambah dan
mengulang. Circuit learning dapat menambah kreatif siswa dan mengaktifkan
siswa karena membuat pengetahuan siswa yang didapat dalam pembelajaran
dapat diulangi sendiri oleh siswa sehingga menjadi bermakna dan sulit
dilupakan.
De porter ( 2012 : 230 ) mengemukakan tujuan model pembelajaran circuit
learning yaitu mengajarkan keadaan prima dalam belajar sehingga mencegah rasa
takut, jenuh, pikiran negative, bosan dan tidak percaya diri dalam belajar. Circuit
learning juga disebut dengan belajar memutar karena siswa benar-benar
menempuh informasi dalam pola yang sama setiap hari. Belajar memutar dimulai
dengan keadaan pikiran yang sukses dan percaya diri. Kebanyakan siswa
mempunyai asosiasi negative dengan ujian. Mereka takut dan rasa takut menjadi
mereka tertutup bahkan murid yang paling tekun sekalipun takut menghadapi tes.
Circuit learning dikembangakan oleh Teller dalam De porter ( 1999 : 180 )
seorang konsultan pendidikan, model pembelajaran ini memuat tiga langkah
berurutan :
1) Keadaan tenang pada saat belajar
Guru mengkondisikan pada saat belajar.
2) Peta pikiran
Siswa mencatat apa yang di tulis guru di papan tulis dengan kretifitasnya masing-
masing tetapi tetap memperhatikan symbol- simbol.
3) Menambah dan mengulangm Setelah siswa memperoleh materi yang telah
diberikan guru melalui metode dan Tanya jawab mengingat kembali hal-hal yang
penting dari materi pada setaip kali pertemuan.
Adapun menurut suyanto penerapan penerapan model pembelajaran circuit
learning di terapkan empat langkah :
1) Pendidik melakukan sesi Tanya jawab seputar materi yang akan disampaikan.
2) Pendidik memasang peta konsep yang berkaitan dengan materi.
3) Pendidikan menjelaskan peta konsep yang telah dipasang sebelumnya.
4) Pendidik membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Adapun langkah-
langkah kegiatanya adalah sebagai berikut :
Table 2.2 langkah- langkah kegiatan pembelajaran circuit learnin
Kegiatan Aktifitas guru dalam pembelajaran
a) Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam,
Awal berdoa dan absensi.
b) Guru melakukan apersepsi
c) Memberikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai
siswa dalam pembalajaran hari ini
d) Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
pembelajaran
a) Guru melakukan Tanya jawab bersama siswa tentang
Inti materi pembelajaran Tema cuaca sub tema 3
b) Guru bersama dengan siswa menempelkan gambar
cuaca dan menjelaskan tentang peta konsep yang telah
ditempel
c) Membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan
memberikan lembar kerja kepada setiap kelompok
d) Guru membimbing siswa berdiskusi untuk mengisi
lembar siswadan mengisi bagian dari peta konsep sesuai
dengan bahasa mereka sendiri
e) Guru membimbing siswa mempersentasikan bagian peta
konsep yang telah dikerjakan
f) Memberi penguatan berupa pujian atau hadiah atas hasil
persentasi yang bagus serta memberikan semangat
kepada yang belum mendapatkan pujian untuk berusaha
lebih giat
g) Menjelaskan kembali hasil diskusi siswa tersebut agar
wawasan siswa menjadi lebih luas
membimbing siswa menyimpulkan materi
a) Guru melakukan evaluasi dan tindak lanjut
Penutup b) Guru bersama-sama siswa mengulas kembali
kegiatan yang dilakukan hari ini.
c) Guru memberikan nasehat-nasehat kepada
siswa,Memberitahu rencana pembelajaran berikutnya
dan mengakhiri pelajaran dengan berdoa bersama.
2. Kekurangan dan kelebihan model pembelajaran circuit learning
Adapun kekurangan dan kelebihan model pembelajaran circuit learning
sebagi yaitu berikut :
a) Kekurangan
1. Memerlukan waktu yang sangat lama
2. Tidak semua pokok bahasan disajikan dalam peta konsep
b) Kelebihan
1. Kreativitas siswa dalam merangkai kata dengan bahsa sendiri lebih
terasa.
2. Konsentrasi yang terbangun membuat siswa fokus dalam belajar.
E. Pembelajaran Tematik
1. Pengertian pembelajaran tematik
Istilah pembelajaran tematik sering juga disebut dengan pembelajaran
terpadu dan dipersamakan dengan integrated teaching and learning. Menurut
Rakarjoni ( 1996 ) dalam trianto ( 2007 ), pembelajaran terpadu merupakan
suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa-siswi secara individual
mau klompok aktif mencari, menggali, dan menemukan, konsep serta prinsip
keilmuan secara holistic, bermakna, dan otentik.
Sedangkan menurut subroto ( 2000 ) dalam trianto ( 2007 ), pembelajaran
terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu bahasan atau tema
tertentu yang dkaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan
dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik
dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar
siswa-siswi, maka pembelajaran menjadi bermakna.
Pembelajaran tematik menawarkan model-model pembelajaran yang
menjadikan aktivitas pembelajaran itu relevan dan penuh makna bagi siswa-
siswi, baik aktivitas formal maupun informal melalui pembelajaran secara aktif (
sugiar dkk, 2009,hal.1-6 ). Bermakna bahwa pada pembelajaran tematik peserta
didik akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui
pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antara konsep dalam intra
maupun antar mata pelajaran.
3. Konsep dasar pembelajaran tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan
tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan
pengalaman bermakna kepada murid. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan
pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Job ( 1989 ) menjelaskan bahwa
tumbuh kembangnya minat dan kebutuhan atas kurikulum terpadu ( integrated
curriculum ) dipicu oleh jumlah hal berikut ini :
a) Pengembangan pengetahuan
b) Fermegtasi jadwal pelajaran.
c) Relavansi kurikulum.
d) Respons masyarakat terhadap fegmentasi pembelajaran.
Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai
pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk
memberikan beberapa pengalaman bermakna kepada anak ( Abdul majid, 2014,
hal. 80-84 ).
4. Landasan pembelajaran tematik
Landasan pembelajaran tematik mencakup :
a) Landasan filosofi.
Dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filfat
yaitu : progresivisme, konstruktivisme, humanisme.
b) Landasan pesikologi.
Pesikologi belajar memberikan konstribusi dalam hal bagaimana isi/
materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan
bagaimana pula siswa harus mempelajari
c) Landasan yuridis.
UU NO. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional menyatakan
bahwa setiap satuan pendidikan berhak mendapat pelayanan pendidikan
sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya (Abdul majid,2014 hal.87-88)
F. Pengertian model pembelajaran
Kata pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan
mengajar. Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata mengajar berasal dari kata
dasar ajar , yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui.
Joyce & weil ( Rusman, 2012 hal. 113 ) berpendapat bahwa model
pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk
membentuk kurikulum ( rencana pembelajaran jangka panjang ), merancang bahan-
bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang [Link]
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merancang pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial
(Trianto, 2010 hal. 51 ).
G. Kerangka Berpikir Dan Hipotesis Tindakan
1. Kerangka Berpikir
Pembelajaran merupakan inti dari proses peningkatan kualitas pendidikan
diantaranya adalah pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik dapat
dilaksanakan dengan baik apabila siswa lebih termotivasi dalam belajar untuk
memahami suatu materi pelajaran. Rendahnya sikap positif terhadap pembelajaran
tematik, rasa percaya diri dan keingin tahuan siswa berdampak pada hasil belajar
siswa yang masih rendah. Hal tersebut antara lain karena pembelajaran cenderung
berpusat pada guru sehingga membuat siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan
kurang memberikan peluang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuanya.
Salah satu faktor yang berperan dalam keberhasilan proses pembelajaran
adalah model pembelajaran yang digunakan oleh seorang guru dalam kegiatan
pembelajaran di kelas. Dalam pembelajaran tematik tidak hanya sebatas
mengembangkan ranah kognitif akan tetapi ranah afektif dan pesikomotor juga
perlu diperhatikan. Adapun dalam meningkatkan hasil belajar siswa dengan
menciptakan pembelajaran tematik yang inovatif. Agar dapat meningkatkan hasil
belajar siswa guru dapat merancang proses pembelajaran yang melibatkan siswa
secara langsung dalam pembelajaran. Alternative solusi yang dapat digunakan
untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran tematiksiswa yaitu
dengan diterapkanya model pembelajaran circuit learning.
Dalam proses pembelajaran tema cuaca subtema 3 guru terkesan belum
memusatkan siswa sebagai subjek belajar, dimana guru terlihat lebih aktif dan
siswa pasif saat proses pembelajaran. Penggunaan Model pembelajaran circuit
learning pada siswa menekankan siswa untuk berkelompok, berdiskusi, dan setiap
siswa tampil persentasi didepan kelas untuk menyampaikan hasil diskusinya
dengan materi yang berbeda. Dalam model pembelajaran circuit learning adanya
diskusi dan persentasi bertujuan agar pengetahuan siswa yang didapat dalam
pembelajaran dialami sendiri oleh siswa sehingga menjadi bermakna dan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran tema cuaca pada siswa kelas
III SDN Hatungun 1 Kecamatan Hatungun Kabupaten tapin..
Hasil belajar yang diamati meliputi tiga ranah yaitu, afektif (sikap), kognitif
(pengetahuan), dan pesikomotor (keterampilan). Tiga ranah tersebut yang akan
dirata-ratakan dan diperoleh hasil belajar siswa. Hasil belajar akhir merupakan
proses penilaian keseluruhan suatu kegiatan pembelajaran. Seluruh penjelasan
mengenai kerangka pemikiran penulis terapkan secara ringkas dalam gambar 1.2
berikut ini
Pembelajaran tematik
Penerapan model Circuit Learning
Hasil belajar siswa
Aspek yang akan diukur :
1. Afektif (sikap)
2. Kognitif (pengetahuan)
3. Pesikomotor (keterampilan)
Gambar 2.1 Alur kerangka pemikiran
2. Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam suatu penelitian adalah sebagian dari suatu jawaban
yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian, sampai terbukti
melalui data yang terkumpul. Hipotesis diartikan sebagai anggapan sementara
yang menjadi landasan kegiatan yang telah dilakukan. Berdasarkan kerangka
berpikir pada penelitian ini, maka hipotesis tindakan penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut :
“jika diterapkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran
Circuit Learning maka hasil belajar dan aktifitas siswa kelas III SDN Hatungun
1 Kecamatan Hatungun Kabupaten Tapin pada tema cuaca subtema 3 akan
meningkat”