6- [Berdarah]
Assalamu'alaikum Teman-Teman semua...
Alhamdulillah hari ini aku udah bisa upload
Part 6 MyhaLova....
Aku mau ucapin Terima Kasih buat semua orang yang udah
Support ceritaku ini...
Terima Kasih juga buat yang udah sempatin waktunya untuk baca cerita
MyhaLova.... Terima Kasih Banyak...
Aku akan selesaiin cerita MyhaLova ini walaupun uploadnya
Agak lama....
Semoga kalian semua suka dengan cerita pertama ku ini...
Aku akan tetap semangat untuk terus lanjutin ceritaku...
Terima Kasih....
*******
Tiba-Tiba terdengar suara teriakan dari arah toilet wanita, ini benar-benar
mengganggu Myha, dia sendiri merasa heran siapa cewek yang sedang teriak dari
dalam toilet tersebut, Myha penasaran dengan suara itu, dia berjalan ke arah toilet
dan melihat pintu toilet sedikit terbuka, rasa penasarannya semakin tinggi, hampir
saja Myha menggapai knop pintu toilet tersebut, tiba-tiba saja bel masuk
berbunyi, Myha memilih untuk meninggalkan toilet tersebut dan segera mungkin
sampai di kelas sebelum gurunya masuk, dia tidak ingin di introgasi seperti
penjahat.
“Darimana aja lo Dik? Untung Bu Fitri belum masuk, kalau gak
habis lo di introgasi sama Bu Fitri.” Kata Andre yang langsung
menyambut Myha dengan pertanyaannya itu.
“Dari kantin, tadi gue ada urusan sebentar.”
“Urusan apa tuh? Kok kita-kita gak diajak ma bro, lo mau untung
sendiri-sendiri sekarang, jadi persahabatan kita cuma sebatas keuntungan
sebelah pihak, kejam lo. Lo harusnya juga memikirkan kita-kita dong.”
Sahut Bagas asal saja yang penting ikut nimbrung.
“Woi token listrik, lo tuh kalau emang mau nyahut boleh-boleh aja
tapi yang benar dong, ya kali Dika cari keuntungan sendiri, gak mungkin
dia mau membiarkan kita-kita ini sengsara.” Sambung Andre sambil
merangkul Myha.
“Kalau untuk lo lo pada, gue mah ikhlas lahir dan batin lo semua
sengsara.” Jawab Myha begitu kejam, lalu melepaskan rangkulan Andre.
“AAAAZZZAABBB.” Balas Andre dan Bagas serempak, lalu
mereka tertawa.
“Apanya yang azab?,”
Mereka semua serempak melihat ke sumber suara, benar saja sudah ada
Bu Fitri yang berdiri di depan pintu kelas dengan senyum merekahnya itu.
Langsung saja semua siswa serempak kembali ke tempat duduknya masing-
masing.
“Jadi, tadi apa yang sedang kalian biacarakan Andre, Bagas?.”
Tanya Bu Fitri langsung tertuju pada dua orang yang memang sudah
sering berulah di kelas.
“Astagfirullah hal ‘adzim ibu berdosa banget.” Jawab Bagas
meniru sound yang sedang viral di tik tok, membuat satu kelas tertawa
mendengarnya.
“Masuk Bambang.” Sahut Andre yang membuat suasana kelas
semakin ricuh karena ulah mereka.
Bu Fitri langsung berjalan ke arah Bagas dan Andre, membuat suasana
kelas menjadi hening, Bagas dan Andre pun sudah menyiapkan keteguhan hati,
karena pasti mereka akan di semprot oleh Bu Fitri.
“Bagas dan kamu Andre silahkan keluar dari kelas saya, kalian
berdua kerjakan soal fisika yang ada di halaman 112-151, dikumpulkan
sebelum pulang sekolah, paham siswa-siswa ibu yang tampan?” Kata Bu
Fitri memberikan hukuman kepada Bagas dan Andre, sedangkan kedua
orang ini hanya cengar cengir saja, seperti mendapatkan hadiah special
yang tak terlupakan.
“Bu Fitri yang manis melebihi manisnya gula jawa, saya mohon ya
Bu hukumannya diganti aja deh Bu, jujur Bu otak saya baru kemaren di
refresh Bu, masa sekarang harus mikir yang berart-berat lagi Bu.” Jawab
Andre yang meminta keringanan hukuman pada Bu Fitri.
“Tidak ada alasan, ayo cepat kerjakan sekarang di luar kelas, tidak
ada keringanan lagi.”
“Yah Ibu tapikan saya…”
“Ayo cepat keluar, saya gak mau dengar alasan apapun lagi.”
Dengan langkah yang berat Bagas dan Andre berdiri dan bersiap untuk
keluar kelas, sebelum itu Bagas memberikan kode kepada Myha untuk membantu
mereka dalam mengerjakan soal fisika yang membuat keduanya ingin muntahber.
“Dik bantu kita ya, gue gak mau sakit setelah ngerjain sosl fisika,
entar gue masuk UGD lagi, lo kan jadi kesepian nanti.” Kata Bgaas
meminta pertolongan Myha dengan wajah yang diimut-imutkan.
“Keluar lo berdua, gak dengar kata Bu Fitri?.” Balas Myha tidak
peduli dengan kedua sahabatnya ini, biarkan saja mereka berusaha sendiri,
biar otaknya makin refresh.
“Hey kalian berdua tunggu apa lagi, ayo cepat kaluar.”
Bagas dan Andre pun memberikan tatapan tajam ke arah Myha, mereka
kesal karena sahabatnya yang satu ini selalu saja tidak berperikemanusiaan
terhadap mereka, untung sahabat. Mereka hampir keluar dari pintu kelas, namun
langkah mereka berhenti saat seorang gadis tiba-tiba saja berdiri di depan pintu
kelas. Bagas dan Andre sampai terpanah melihat gadis di hadapan mereka ini,
seperti jelmaan bidadari, cantik banget sumpah, mereka belum pernah melihat
gadis secantik ini.
Hal ini akhirnya mengundang rasa penasaran teman-teman kelas mereka
yang lain, mereka heran kenapa dua sejoli ini tidak langsung keluar.
“Maaf permisi, gue mau nanya ini kelas XII IPA 1 kan?.” Gadis itu
melontarkan pertanyaan ke Bagas dan Andre yang masih saja
memandangi gadis ini dengan takjub. Gadis ini pun jadi ikut bingung,
kenapa kedua lelaki di hadapannya ini hanya diam saja.
“Andre, Bagas ada apa itu? Kenapa kalian diam saja disana?.”
Suara Bu Fitri lansung mengintrupsi mereka berdua, mereka terkesiap dan
membuka jalan untuk gadis di hadapan mereka ini, lalu mereka langsung
jalan keluar dan tetap meratapi nasib mereka yang sangat menyedihkan.
Semua siswa dikelas XII IPA 1 takjub melihat gadis yang kini sedang
berdiri canggung di depan pintu kelas. Ada beberapa siswa yang berbisik-bisik
karena tau ini gadis yang tadi di kantin bersama dengan Myha. Sedangkan kini
Myha langsung menatap ke arah pintu kelas, Myha langsung tersenyum miring,
benar-benar ada gadis cantik di depan pintu kelasnya, pantas saja anak kelasnya
langsung terdiam.
“Wow gila.. siapa tuh cewek bening amat, cantik parah, bengong
gitu aja udah kayak bidadari surge, apa lagi senyum, tewas di tempat gue,”
Kata teman sekelas Myha memuji gadis yang sedang berdiri gugup di
depan pintu kelas mereka.
Myha langsung menoleh ke arah teman sekelasnya, menurutnya
banyak juga yang menyukai gadis itu, Myha tidak boleh membiarkan ini
sampai terjadi.
“Berdarah.” Tiba-tiba saja Myha mengatakan itu, semua yang ada
di dalam kelas langsung menoleh dan bingung maksud dari Myha
Berdarah apa.
“Apanya yang berdarahnya Dik?”
“Mata lo berdarah.”
Saat Rian akan membalas ucapan Myha, tiba-tiba gadis itu
bersuara
“Permisi Bu, saya izin Bu mau memanggil salah satu siswa dari
kelas XII IPA 1 Bu, atas nama Myhareldika Benz Akara di minta untuk
menemui Pak Toni di ruang osis sekarang juga Bu.”
“Dika, kamu boleh keluar menemui Pak Toni.”
“Baik Bu, Permisi Bu.”
“Saya juga permisi Bu, terima kasih Bu.” Myha dan gadis ini
sama-sama pamit dari kelas XII IPA 1. Myha sudah terseyum senang
karena dia juga tidak menyangka gadis ini yang diperintah Pak Toni untuk
memanggilnya.
*******
Myha berjalan di depan gadis ini, Myha sangat menunggu gadis ini
bersuara, tapi kenyatannya gadis ini hanya diam saja, memang menyebalkan
sekali, Myha harus mencari cara agar gadis ini mau mengeluarkan suaranya.
Myha sengaja berhenti mendadak membuat gadis di belakangnya ini ikut berhenti.
“Kenapa lo berhenti? Ruang osis di sebelah sana, cepetan kesana
mungkin aja Pak Toni udah nunggu lo lama.” Akhirnya gadis ini
mengeluarkan suaranya, Myha tersenyum miring dia merasa menang dan
puas.
“Lo kenapa diam aja? Kayak gak kenal gue aja.”
“Emang gue harus ngomong apaan? Gue kan juga gak tau mau
bahas apa sama lo.”
“Lo mau tau kita harus bahas apa sekarang?” Myha mempertipis
jarak diantara mereka berdua, membuat Lova membulatkan kedua
matanya, kini jantung Lova rasanya ingin melompat keluar dari
tempatnya, Lova merasa udara di sekitarnya menipis, Lova tidak pernah di
tatap sedekat ini oleh cowok, sumpah demi apa pun jantung Lova berdetak
sangat kencang. Tuhan apa-apaan ini ternyata cowok dihadapannya ini
sangat tampan, Lova baru menyadarinya.
“Mundur, ngapain lo dekat-dekat gue.” Myha tertawa mendengar
suara Lova yang gemeteran dan gugup, ekspresi seperti ini sangat
menggemaskan sekali, Myha sangat suka pipi merah merona Lova. Tanpa
sadar Myha mengacak rambut Lova karena gemesh melihat tingkah gadis
ini.
Lova sampai dibuat tertegun karena sikap Myha barusan, jantungnya
tambah berdetak cepat. Selain itu, kakinya lemas ingin rasanya merosot dan
berteriak kesenangan. Namun dengan cepat Lova tersadar, dia merutuki dirinya
sendiri karena telah memperbolehkan orang lain membuat jantungnya berdegup
kencang, Lova tidak boleh sampai jatuh hati pada pesona laki-laki ini.
“Minggir-minggir, gue tuh disuruh manggil lo buat nemuin Pak
Toni bukan buat ngobrol sama lo. Udah sana lo pergi.” Ucap Lova sewot.
“Yaudah kali biasa aja, gak usah gerogi gitu dekat sama gue, nanti
lo suka lagi sama gue.”
“Lo bukan tipe gue, jadi jangan ngarep lebih deh.”
“Sekarang sih enggak, tapi lihat aja nanti lo pasti jadi cewek gue.”
“Gue gak mau, gue aja gak suka sama lo, gak ada perasaan apa-
apa, jadi, jangan pernah berpikir gue bakal jadi cewek lo.”
“Terserah sih, yah gue juga gak suka sama lo, lo juga bukan tipe
gue.”
Lova rasanya ingin mencakar-cakar Myha sekarang juga, tapi dia malas
meladeni Myha yang tingkat kegilaan dan kehaluannya diatas rata-rata. Lova
melangkah terlebih dahulu dan membiarkan Myha memanggil-manggil namanya,
Lova juga harus cepat-cepat kembali ke kelas, karena tadi dia hanya izin ke toilet,
tapi karena bertemu Pak Toni jadilah dia seperti ini.
*******
“Non Lova udah pulang, mau makan apa non? Biar bibi siapkan.”
Sambut Bi Inem, pekerja di rumah Lova dari orangtuanya menikah. Bi
Inem selalu menyayangi Lova seperti anaknya sendiri, karena dari kecil Bi
Inem yang selalu mengurus segala kebutuhan Lova.
“Lova belum mau makan Bi, mau istirahat aja capek banget hari ini
rasanya kayak lagi lomba lari sampai ke Berlin.” Bi Inem yang mendengar
itu langsung tertawa.
“Baik non, bibi mau keluar dulu sebentar, mau beli beberapa
keperluan dapur, non mau titip sesuatu?”
“Lova mau titip cokelat aja deh Bi, buat ngemil nanti malam
sambil ngedrakor Bi.”
“Boleh tuh Non, bibi ikut ya non, kan udah lama gak nonton mas
Lee Min Ho.”
“Aduh Bi, gak semua drakor pemainnya Lee Mih Ho, Bibi mah
semuanya kelihatan kayak Lee Min Ho, gimana sih.”
“Ya gimana dong non, bibi tau nya cuma mas Lee Min Ho. Yaudah
deh non bibi keluar sekarang ya, takut kesorean.”
“Oke Bi, hati-hati ya Bi, jangan sampai nyangkut dulu kalau ada
yang ganteng.”
“Ah non bisa aja, kan saya jadi malu non.”
Lova hanya tertawa saja sambil berjalan menaiki anak tangga menuju
kamarnya. Lova rasanya ingin merebahkan diri dengan segera di atas singgahsana
nya itu. Lova sampai dikamarnya, dan langsung merebahkan dirinya diatas Kasur,
sambil menatap langit-langit kamarnya, Lova terbayang wajah Myha, entah
kenapa Lova tiba-tiba memikirkan tentang cowok itu, dia memang aneh tapi
kelihatannya dia punya banyak rahasia, sama seperti dirinya ini penuh dengan
rahasia.
Drrrttt…. Drrrrttt…. Drrrttt….
Lova langsung melirik laci mejanya, sudah jelas orang itu menelfonnya,
karena hanya dia yang tau no Lova yang satu itu. Ya benar sekali, Lova memiliki
ponsel dua, yang satu selalu dibawanya kemana-mana, dan satunya lagi selalu di
simpannya di laci meja. Lova menjangkau laci mejanya dan mengambil ponsel
tersebut, Lova melihat nama yang terpampang di panggilan telfon tersebut,
langsung saja Lova mengangkatnya.
“Jadi ada kabar apa lagi?” Tanya Lova pada seseorang diseberang
sana.
“Belum ada info lebih, tapi bakal gue usahain besok ada info
baru.”
“Gue mau secepatnya lo segera kumpulin semua info tersebut. Ini
udah tahun ke-3, tapi hasilnya masih banyak yang nihil.”
“Gue bakal usahain, tapi lo juga harus tepatin janji lo, jangan
sampai lo lupa sama janji lo.”
“Lo tenang aja gue gak akan ingkar janji, pokoknya gue mau info
ini tuntas secepatnya.” Langsung saja Lova memutuskan sambungan
telfonnya sepihak, pikirannya jadi kacau setelah mendapatkan telfon dari
orang tersebut, Lova memilih untuk mandi saja, agar pikirannya kembali
segar.
*******
Dilain sisi Myha kini sedang berada di studio musiknya, Myha sedang
memikirkan sesuatu, dia merasa gadis itu penuh dengan misteri, Myha benar-
benar dibuat penasaran setengah mati oleh Lova. Besok Myha harus bisa
mendapatkan no telfon Lova, tadi dia lupa untuk memintanya.
Tapi ada satu hal juga yang membuat Myha penasaran, yaitu suara
teriakan dari toilet cewek di sekolah, sebenarnya apa yang terjadi di dalam toilet
tersebut. Myha merasa perlu mencari tahu juga tentang hal itu, mungkin saja ada
kekerasan disekolahnya selama ini yang tersembunyi.
Myha mengambil handphonenya dan mengetikkan pesan disana, dia
mengirimkan pesan pada seseorang.
082113xxxxxx
Gue mau minta bantuan lo, besok temuin gue di tempat biasa, bakal gue jelasin
disana.
Jam 8 malam gue tunggu.
Myha kembali menyimpan handphonenya setelah pesan itu sudah
dipastikan terkirim, ke tujuannya.
*******
Bagaimana dengan Part 6 nya?
Boleh tinggalkan komentar kalian disini ya... dan jangan lupa untuk vote
cerita ini agar aku tambah semangat lagi buat nulis ceritanya.....
Semoga kalian suka sama cerita aku ya..... Penasaran nggak dengan part
selanjutnya? Maka dari itu terus pantengin MyhaLova supaya kalian gak
ketinggalan cerita serunya...
Terima kasih untuk supportnya dan udah baca cerita ini, jangan bosan-
bosan ya....
Jangan lupa juga buat share dan ajakin teman-teman,saudara-saudara,
seluruh anggota keluarga dan semua kenalan kalian untuk baca cerita
MYHALOVA.