Asuhan Keperawatan RHD pada Anak
Asuhan Keperawatan RHD pada Anak
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
KELOMPOK 2:
[Link] Saskia Al Husna (220204001)
[Link] (220204025)
Kami sampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama secata
[Link] lupa saran dan kritik yang sangat konstruktif sangat kami harapkan dari pembaca demi
kesempurnaan makalah [Link] berharap makalah ini bermanfaat bag penulis dan khususnya
bagi pembaca pada umumnya.
Kelompok 2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................ⅰ
DAFTAR ISI.............................................................................................................ⅱ
BAB Ⅰ PENDAHULUAN.........................................................................................ⅲ
BAB Ⅱ PEMBAHASAN..........................................................................................3
BAB Ⅲ KASUS.......................................................................................................12
ASUHAN KEPERAWATAN..................................................................................13
3.1 Pengkajian................................................................................................13
3.2 Diagnosa keperawatan..............................................................................15
3.3 Intervensi keperawatan.............................................................................16
3.4 Implementasi............................................................................................21
3.5 Evaluasi...................................................................................................21
BAB Ⅳ PENUTUP..................................................................................................21
4.1 Kesimpulan.....................................................................................................21
4.2 Saran...............................................................................................................21
BAB 1
PENDAHULUAN
Rheumatic Heart Desease (RHD) atau disebut dengan Penyakit jantung rematik (PJR)
masih menjadi penyebab penyakit kardiovaskuler yang signifikan di dunia. Penyakit jantung
rematik masih tetap menjadi masalah di negara industri dan negara berkembang hingga
permulaan abad ke-21 dengan efek yang buruk mengenai anak-anak dan dewasa muda pada usia
produktif. (Hasnul, Najirman & Yanwirasti, 2015).Penyakit jantung reumatik merupakan
kelainan katup jantung yang menetap akibat demam reumatik akut sebelumnya. Penyakit ini
terutama mengenai katup mitral (75%), aorta (25%), jarang mengenai katup tricuspid dan tidak
pernah menyerang katup [Link] tahunnya rata-rata ditemukan 55 kasus dengan
demamreumatik akut (DRA) dan PJR. (Julius, 2016)
World Health Organization (WHO) Expert Consultation Geneva pada tahun 2001,
melaporkan bahwa pada tahun 1994, diperkirakan 12 juta orang menderita RFdan RHD di
seluruh dunia dan setidaknya 3 juta memiliki kegagalan jantung kongestif (CHF) yang
membutuhkan rawat inap berulang. Besar angka kematian untuk RHD bervariasidari 0,5 per
100.000 penduduk di Denmark, menjadi 8,2 per 100.000 penduduk di Cina dan perkiraan jumlah
kematian tahunan akibat RHD untuk tahun 2000 adalah 332000 di seluruh dunia. Tingkat
kematian per100.000 populasi bervariasi dari 1,8 di Wilayah Amerika, hingga 7,6 di Wilayah
Asia Tenggara.
Penyakit jantung rematik merupakan penyebab kecacatan pada jantung yang terbanyak.
Kecacatan pada katup jantung tidak dapat terlihat secara kasat mata seperti cacat fisik lainnya,
tetapi menyebabkan gangguan kardiovaskuler mulai dari bentuk ringan sampai berat sehingga
mengurangi produktivitas dan kualitas hidup. DRA merupakan penyebab utama penyakit jantung
rematik, didapat pada anak usia 5 tahun sampai dewasa muda di Negara berkembang dengan
keadaan sosio ekonomi rendah dan lingkungan buruk. Keterlibatan jantung menjadi komplikasi
terberat dari DRA dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Dengan 60%
dari 470.000 kasus DRA pertahun akan menambah jumlah kejadian PJR yang 15 juta jiwa.
Penderita PJR akan berisiko untuk kerusakan jantung akibat infeksi berulang dari DRA dan
memerlukan pencegahan. (Julius, 2016).
Dampak yang terjadi jika pada anak dengan Penyakit Jantung Reumatik tidak dilakukan
penanganan dengan benar maka akan mengakibatkan terjadinya komplikasi seperti gagal jantung
dan bisa berakhir dengan kematian. Berdasarkan masalah keperawatan yang terdapat pada orang
dengan penyakit jantung reumatik adalah masalah penurunan curah jantung berhubungan dengan
perubahan kontraksi otot jantung, nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis dan
intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. (Kana, 2019)
1. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit reumatik jantung pada anak?
2. Bagaimana gejala dan tanda-tanda penyakit rematik jantung pada anak?
3. Bagaimana strategi pencegahan dan pengobatan penyakit rematik jantung pada anak?
4. Apa peran orang tua dan masyarakat dalam mencegah dan mengelola penyakit rematik
5. jantung pada anak
1.3 Tujuan
BAB 11
PEMBAHASAN
Penyakit jantung rematik (PJR) adalah penyakit katup jantung kronis yang disebabkan
oleh kerusakan katup jantung yang parah atau berulang akibat demam rematik akut. Demam
rematik akut adalah hasil dari respon autoimun yang disebabkan oleh Streptoccus hemolitikus B
group A pada individu yang rentan secara genetik. (Leal dkk, 2019).
2.2 Etiologi
Penyebab secara pasti penyakit ini belum diketahui, namun penyakit ini sangat
berhubungan erat dengan infeksi saluran napas bagian atas yang disebabkan oleh organisme
streptococcus hemolitik b group A yang pengobatannya tidak tuntas atau bahkan tidak terobati.
Pada penilitian menunjukan bahwa penyakit jantung reumatik terjadi akibat adanya reaksi
imunologis antigen-antibody dari tubuh. Antibody akan melawan streptococcus bersifat sebagai
antigen sehingga terjadi reaksi [Link] predisposisi timbulnya penyakit jantung
reumatik adalah :
[Link] individu
a) Faktor genetik
Pada umumnya terdapat pengaruh faktor keturunan pada proses terjadinnya penyakit
jantung reumatik meskipun cara pewarisannya belum dipastikan.
b) Jenis Kelamin
Dahulu sering dinyatakan bahwa penyakit jantung reumatik lebih sering pada anak
perempuan dari pada laki-laki.
c) Golongan Etnis dan Ras
Data di Amerika Serikat menunjukan bahwa serangan awal maupun berulang sering
terjadi pada orang hitam di banding orang putih.
d) Umur
Penyakit jantung reumatik paling sering terjadi pada anak yang berusia 6-15
tahun (usia sekolah) dengan puncak sekitar sekitar umur 8 tahun. Tidak biasa
ditemukan pada anak sebelum usia 3 tahun atau setelah usia 20 tahun.
2. Faktor lingkungan
a) Keadaan sosial ekonomi yang buruk Sanitasi lingkungan yang buruk dengan penghuni
yang padat,rendahnyapendidikan sehingga pemahaman untuk segera mencari pengobatan
anak yang menderita infeksi tenggorokan sangat kurang ditambah pendapatan yang
rendah sehingga biaya perawatan kesehatan kurang.
b) Iklim geografis
Penyakit ini terbanyak didapatkan pada daerah iklim sedang, tetapi data akhir-akhir ini
menunjukan bahwa daerah tropis memiliki insiden yang tertinggi.
c) Cuaca
Perubahan cuaca yang mendadak sering mengakibatkan insiden infeksi saluran
pernapasan atas meningkat sehingga mengakibatkan kejadian penyakit jantung reumatik
juga dapat meningkat. . (Suhadi, 2018)
Hubungan antara infeksi Streptococcus beta hemolitycus grup A dengan terjadinya RHD
telah lama diketahui. Demam rematik merupakan respon autoimun terhadap infeksi
Streptococcus beta hemolitycus grup A pada tenggorokan. Respons manifestasi klinis dan derajat
penyakit yang timbul ditentukan oleh kepekaan genetic host, keganasan organisme dan
lingkungan yang kondusif. Mekanisme patogenesis yang pasti sampai saat ini tidak diketahui,
tetapi peran antigen histokompatibilitas mayor, antigen jaringan spesifik potensial dan antibodi
yang berkembang segera setelah infeksi streptokokkus telah diteliti sebagai faktor risiko
potensial dalam patogenesis ini.
RHD terjadi akibat sesitisasi dari antigen Streptococcus beta hemolitycus grup A di
faring. Streptococcus adalah bakteri gram positif berbentuk bulat, berdiameter 0,5-1 mikron dan
mempunyai karakteristik dapat membentuk pasangan atau rantai selama pertumbuhannya.
Streptococcus beta hemolitycus grup A ini terdiri dari dua jenis, yaitu hemolitik dan non
hemolitik. Yang menginfeksi manusia pada umumnya jenis [Link] kurang 95% pasien
menunjukkan peninggian titer antistreptolisin O (ASTO), antideoksiribonukleat B (anti DNA-ase
B) yang merupakan dua jenis tes biasa dilakukan untuk infeksi kuman. RHD merupakan
manifestasi yang timbul akibat kepekaan tubuh yang berlebihan (hipersentivitas) terhadap
beberapa produk yang dihasilkan oleh Streptococcus beta hemolitycus grup [Link]
mengemukakan hipotesis tentang adanya reaksi silang antibody terhadap Streptococcus beta
hemolitycus grup A dengan otot jantung yang mempunyai susunan antigen mirip antigen
Streptococcus beta hemolitycus grup A. Hal inilah yang menyebabkan reaksi autoimun. Sistem
imun dalam keadaan normal dapat membedakan antigen tubuh sendiri dari antigen asing, karena
tubuh mempunyai toleransi terhadap self antigen, tetapi pengalaman klinis menunjukkan bahwa
adakalanya timbul reaksi autoimun. Reaksi autoimun adalah reaksi sistem imun terhadap antigen
sel jaringan [Link] tersebut disebut autoantigen, sedang antibody yang dibentuk disebut
[Link] autoantigen dan autoantibodi yang menimbulkan kerusakan jaringan dan
gejala-gejala klinis disebut penyakit autoimun, sedangkan bila tidak disertai gejala klinis disebut
fenomena autoimun. (Nasriyani, 2016)
Menurut Fitriany & Annisa, (2019) perjalanan klinis penyakit demam reumatik/penyakit
jantung reumatik dapat dibagi dalam 4 stadium:
Stadium I
Stadium ini berupa infeksi saluran napas bagian atas oleh kuman betaStreptococcus hemolyticus
grup A. Keluhan biasanya berupa demam, batuk, rasa sakit waktu menelan, tidak jarang disertai
muntah dan bahkan pada anak kecil dapat terjadi diare. Pada pemeriksaan fisik sering didapatkan
eksudat di tonsil yang menyertai tanda-tanda peradangan [Link] getah bening
submandibular seringkali [Link] ini biasanya berlangsung 2-4 hari dan dapat sembuh
sendiri tanpa pengobatan. Para peneliti mencatat 50-90% riwayat infeksi saluran napas bagian
atas pada penderita demam reumatik/penyakit jantung reumatik, yang biasanya terjadi 10-14 hari
sebelum manifestasi pertama demam reumatik/penyakit jantung reumatik
Stadium II
Stadium ini disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi Streptococcus dengan
permulaan gejala demam reumatik, biasanya periode ini berlangsung 1-3 minggu, kecuali korea
yang dapat timbul 6 minggu atau bahkan berbulan-bulan kemudian
Stadium III
Merupakan fase akut demam reumatik, saat timbulnya berbagai manifestasi klinik demam
reumatik/penyakit jantung reumatik. Manifestasi klinik tersebut dapat digolongkan dalam gejala
peradangan umum (gejala minor) dan manifestasi spesifik (gejala mayor) demam
reumatik/penyakit jantung reumatik
Stadium IV
Disebut juga stadium [Link] stadium ini penderita demam reumatik tanpa kelainan jantung
atau penderita penyakit jantung reumatik tanpa gejala sisa katup tidak menunjukkan gejala
[Link] penderita penyakit jantung reumatik dengan gejala [Link] katup jantung,
gejala yang timbul sesuai dengan jenis serta beratnya kelainan. Pada fase ini baik penderita
demam reumatik maupun penyakit jantung reumatik sewaktu-waktu dapat mengalami reaktivasi
penyakitnya
1. Karditis
Frekuensi karditis 30-60% pada serangan pertama, dan sering pada anak [Link]
adalah satu satunya [Link] reumatik yang bisa menimbulkan efek jangka
[Link] berupa pankarditis, yaitu mengenai perikardium, epikardium, miokardium
dan [Link] Demam reumatik sering terjadi pankarditis yang ditandai dengan
perikarditis, myokarditis dan endokarditis. Perikarditis ditandai dengan pericardial friction rub.
Pada efusi perikard bisa didengar adanya muffled sound, dan pulsus paradoks ( penurunan
tekanan sistolik yang besar di saat inspirasi). Karakterisitik miokarditis adalah infiltrasi sel
mononuklear, vaskulitis dan perubahan degeneratif pada interstisial conective [Link]
endokarditis tersering adalah insufisiensi katub [Link] yang sering terkena adalah katub
mitral (65-70%) dan katub aorta (25%).Katub trikuspid hanya terganggu pada 10% dan hampir
selalu berhubungan lesi pada katub mitral dan [Link] katub pulmonal sangat jarang
[Link] katub yang berat pada fase akut dapat menyebabkan gagal jantung dan
kematian (pada 1% penderita). Perlengketan pada jaringan penunjang katub akan menghasilkan
stenosis atau kombinasi antara stenosis dan insufisiensi yang muncul dalam 2-10 tahun setelah
episode demam reumatik akut. Perlengketan bisa terjadi pada tingkatan ujung bilah katub, bilah
katub dan chorda atau kombinasi dari ketiga tingkatan tersebut
a) Bising mitral regurgitasi berupa bising pansistolik, high pitch,yang radiasi ke axilla.
Tidak dipengaruhi oleh posisi dan respirasi. Intensitas 2/6.
b) Carey coombs bising : bising diastolik di apeks pada karditis yang aktif dan menyertai
mitral insufisiensi berat. Mekanismenya berupa relatif mitral stenosis yang diakibatkan
dari volume yang besar yang melalui katub mitral saat pengisian ventrikel.
c) Bising aorta regurgitasi : bising awal diastolik yang terdapat dibasal, dan terbaikdidengar
pada sisi atas kanan dan kiri sternum saat penderita duduk miring kedepan.
2. Artritis
Artritis ARF paling sering menyerang sendi-sendi besar, terutama lutut, pergelangan kaki,
siku, dan pergelangan tangan. Banyak sendi yang sering terlibat, dengan timbulnya artritis pada
sendi yang berbeda baik dipisahkan dalam waktu atau tumpang tindih, sehingga memunculkan
deskripsi "polyratritis" migrasi "atau" aditif " . Setiap sendi terpengaruh selama beberapa hari
hingga satu minggu, dengan seluruh episode sembuh tanpa pengobatan dalam waktu satu bulan.
Nyeri sendi bisa sangat parah, terutama pada anak-anak yang lebih tua dan remaja, dan sering
tidak sesuai dengan tanda-tanda klinis peradangan Atralgia yang merupakan suatu kriteria minor,
juga sering menyebabkan seorang dokter mendiagnosa sebagai Demam reumatik terutama jika
terdapat kriteria minor yang lain, seperti febris dan bukti adanya infeksi streptokukkus seperti
ASTO.
3. Chorea Sydenham
Insidensi redniso chorea muncul dalam 1-6 bulan setelah infeksi streptokokus, progresif
secara perlahan dan memberat dalam 1-2 [Link] neurologis berupa gerakan involunter
yang tidak terkoordinasi (choreiform), pada muka, leher, tangan dan kaki. Disertai dengan
gangguan kontraksi tetanik dimana penderita tidak red menggenggam tangan pemeriksa secara
kuat terus menerus (milk sign). Chorea dapat muncul dengan sendirinya, tanpa ciri-ciri ARF
lainnya dan tanpa bukti infeksi streptokokus, karena chorea dapat terjadi berbulan-bulan setelah
infeksi streptokokus. Jika chorea memiliki presentasi yang terisolasi, penting untuk
mengecualikan penyebab lain dari chorea, seperti systemic lupus erythematosus, penyakit
Wilson, dan reaksi. Dalam semua kasus yang dicurigai chorea reumatik, pemeriksaan jantung
dan ekokardiogram harus dilakukan, karena chorea sangat terkait dengan carditis
4. Eritema Marginatum
Muncul dalam 10% serangan pertama Demam reumatik biasanya pada anak anak, jarang pada
[Link] berwarna merah, tidak nyeri dan tidak gatal dan biasanya pada batang tubuh, lesi
berupa cincin yang meluas secara sentrifugal sementara bagian tengah cincin akan kembali
normal.
5. Nodulus Subkutan
Nodul subkutan muncul beberapa minggu setelah onset demam rematik, dan biasanya tidak
disadari penderita karena tidak [Link] berkaitan dengan karditis berat, lokasinya di
permukaan tulang dan tendon, serta menghilang setelah 1-2 minggu.
Manifestasi Minor
Demam redni selalu ada pada poliartritis reumatik, ia sering ada pada karditis yang
tersendiri (murni) tetapi pada korea murni. Jenis demamnya adalah remiten, tanpa variasi diurnal
yang lebar, gejala khas biasanya kembali normal atau redni normal dalam waktu2/3 minggu,
walau tanpa [Link] adalah nyeri sendi tanpa tanda objektif pada [Link]
biasanya melibatkan sendi [Link] nyerinya terasa sangat berat sehingga pasien tidak
mampu lagi menggerakkan [Link] kriteria minor adalah beberpa uji laboratorium.
Reaktan fase akut seperti LED atau C-reactive protein mungkin naik. Uji ini dapat tetap naik
untuk masa waktu yang lama (berbulan-bulan).Pemanjangan interval PR pada elektrokardiogram
juga termasuk kriteria [Link] abdomen dapat terjadi pada demam reumatik akut dengan
gagal jantung oleh karena distensi hati. Nyeri abdomen jarang ada pada demam reumatik tanpa
gagal jantung rednis sebelum manifestasi spesifik yang lain muncul. Pada kasus ini nyeri
mungkin terasa berat sekali pada daerah sekitar rednison, dan kadang dapat disalahtafsirkan
sebagai apendistis sehingga dilakukan operasiAnoreksia, nausea, dan muntah seringkali ada,
tetapi kebanyakan akibat gagal jantung kongestif atau akibat keracunan [Link] berat
mungkin dapat [Link] merupakan gejala yang tidak jelas dan jarang, kecuali pada
gagal [Link] abdomen dan epitaksis, meskipun sering ditemukan pada demam reumatik,
tidak dianggap sebagai kriteria diagnosis.(Fitriany & Annisa, 2019).
2.6. Komplikasi
2.7. Penalaksanaan
1) Tirah baring
2) Furosemid merupakan diuretic yang bermanfaat untuk mengurangi edema namun tidak
mengurangi penampilan kinerja miokardium. Furosemid diberikan dengan dosis 1-2
mg/kg BB setiap 6-12 jam. Pemberian diuretic di gunakan bertujuan untuk mengurangi
retensi air dan garam sehingga mengurangi volume cairan ekstrasel, aliran balik vena dan
tekanan pengisian ventrikel (preload). Pemberian rednisone akan membantu jantung
untuk tidak menerima overload cairan berlebih sehingga tidak terjadi peningkatan
tekanan diastolic akhir ventrikel.
3) Katopril adalah salah satu obat anti hipertensi yang dapat menghambat produksi hormone
angiotensin 2 yang akan membuat dinding pembuluh darah lebih rileks sehingga dapat
menurunkan tekanan darah, sekaligus meningkatkan suplai darah dan oksigen ke jantung.
Dosis pemberian katopril sebesar 0,3-2 mg/kk BB/ hari.
4) Penisilin benzatin 600.000 IU di berikan untuk anak dengan berat badan kurang dari 30
kg dan 1, 2 juta IU untuk berat badan lebih dari 30 kg, di berikan sekali, intramuscular.
Antibiotika ini dapat menyebabkan perpecahan sel (sitolisis) ketika bakteri mencoba
untuk membelah diri. Penisilin benzatin G merupak drug of choice pertama dalam
pengobatan faringitis (pencegahan primer) untuk infeksi streptococcus. Pilihan kedua
adalah penicillin V oral 250 mg 3-4 kali sehari di berikan selama 10 hari dan pilihan
ketiga eritromisin 40 mg/kg BB/ hari di bagi dalam 2-4 dosis perhari.
5) Untuk poliartritis, terapi aspirin di lanjutkan selama 2 minggu dan di kurangi secara
bertahap selama lebih dari 2-3 minggu. Untuk karditis ringan penggunaan aspirin saja
sebagai anti inflamasi di rekomendasikan dengan dosis 90-100 mg/kg BB perhari di bagi
dalam 4-6 dosis selama 2-4 minggu. Pada karditis sedang di butuhkan pengobatan dengan
aspirin dosis serupa dengan karditis ringan yang di lanjutkan selama 4-8 minggu
tergantung pada respon klinis. Setelah perbaikan, terapi di kurangi secara bertahap
selama 4-6 minggu selagi monitor reaktan fase akut. Pada karditis berat, terapi mencakup
pemberian steroid dan aspirin. Pemberian steroid berupa rednisone (2 mg/kk BB/hari
dalam 4 dosis untuk 2-6 minggu) diindikasikan hanya pada kasus karditis berat. Aspirin
di berikan dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, di bagi 4-6 dosis. Setelah minggu ke-2, dosis
aspirin di turunkan menjadi 60 mg/kk BB/ hari. Pemberian aspirin berlanjut antara 2-4
bulan, tergantung profil
klinis. (Shiba & Rukmi, 2017)
BAB 111
KASUS
Seorang anak perempuan bernama angel berusia 12 Tahun datang ke unit gawat darurat
bersama orangtuanya dengan keluhan demam dan nyeri [Link] yang dirasakan terus
menerus tumpuk dibagian tengah dada,tidak menjalar,dan bertambah nyeri terutama saat
[Link] pernah mengalami penyakit yang sama,hanya demam [Link] lain yaitu
pembengkakan pada sendi,sesak napas,dan dada [Link] pemeriksaan vital sign
didapati hasil Tekanan darah 80/50mmHg,Nadi 125x/menit,Laju respirasi 28x/menit,dan suhu
tubuh 38 derajat [Link] mengatakan ada riwayat infeksi saluran napas.
Status antopemetri menunjukkan bahwa pasien masuk status gizi kurang,dan tidak ada
nafsu makan sedangkan pada pemeriksaan Head to Toe terdapat sclera Anemis,terdapat napas
cuping hidung,Membran mukosa mulut pucat,Turgor kulit kembali setelah 3 detik,nodulus
subkutan,[Link] edema petekie,vocal fremitus tidak sama,disaat diperkusi redup,saat
diaulkultasi terdapat pericardialfriction rub,ronchi,crackles,bising mitral regurgitasi,carey
coombs,bising aorta, Nyeri abdomen,mual,[Link] dingin dan kelemahan otot.
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1) Identitas klien
Nama : An.B
Umur : 12 Tahun
Alamat : Medan
c) Cuaca:
7) Imunisasi:
8) Riwayat nutrisi: Adanya penurunan nafsu makan selama sakit sehingga dapat mempengaruhi
status nutrisi berubah
1) Kepala: Ada gerakan yang tidak disadari pada wajah, sclera anemis, terdapat napas
cuping
hidung, membran mukosa mulut pucat.
2) Kulit:Turgor kulit kembali setelah 3 detik, peningkatan suhu tubuh sampai 39ᴼC,
arthritis, nodulus subkutan, chorea.
3) Dada
a) Inspeksi: terdapat edema, petekie
b) Palpasi: vocal fremitus tidak sama
c) Perkusi: redup
d) Auskultasi: Terdapat pericardial friction rub, ronchi, crackles, bising mitral
regurgitasi, carey coombs, bising aorta regurgitasi.
4) Jantung
a) Inspeksi: iktus kordis tampak
b) Palpasi:dapat terjadi kardiomegali
c) Perkusi redup. Batas jantung : batas kanan ruang ICS ke 3-5 pada linea parasternal
kanan. Batas kiri ruang ICS ke 3 linea parasternal kiri sampai dengan ruang ICS ke-5
linea axillaris anterior [Link] atas ruang ICS ke-3 linea paraternal kanan sampai
dengan ICS ke-3 linea parasternal [Link] bawah ruang ICS ke-5 linea axillaris
anterior kiri.
d) Auskultasi terdapat murmur, gallop Murmur di sebabkan oleh pembukaan katup yang
tidak sempurna atau stenosis yang memaksa darah melewati bukaan sempit atau oleh
regurgitasi yang disebabkan oleh penutupan katup yang tidak sempurna dan
mengakibatkan aliran balik darah.
5) Abdomen
a) Inspeksi: perut simetris
b) Palpasi: kadang-kadang dapat terjadi hepatomigali
c) Perkusi: tympani
d) Auskultasi: bising usus normal
1) Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraksi otot jantung. Ditandai
dengan wajah pasien pucat, dada terasa berdebar debar, suara jantung abnormal yaitu
murmur, takikardi, hipotensi.
2) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis. Ditandai dengan pasien mengeluh
nyeri dada.
3) Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit. Ditandai dengan peningkatan suhu
tubuh yaitu 38 derajat celcius.
4) Defisit nutrisi berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan pasien mengeluh tidak ada
nafsu makan.
5) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan pasien cepat
lelah saat melakukan aktivitas berlebihan
3.4. Intervensi
Kolaborasi
1 Kolaborasi pemberian cairan dan
elektrolit intravena jika perlu.
Defisit nutrisi Tujuan:Setelah dilakukan Manajemen nutrisi
berhubungan dengan tindakan Observasi :
anoreksia ditandai dengan keperawatan di harapkan [Link] status nutrisi
pasien mengeluh tidak ada status nutrisi pasien [Link] alergi dan
nafsu makan. membaik. intoleransi makanan
Kriteria Hasil : [Link] kebutuhan
1. Porsi makanan yang di kalori dan jenis nutrient
habiskan meningkat [Link] asupan makanan
2. Pengetahuan tentang [Link] berat badan
standar asupan nutrisi Terapeutik :
yang tepat meningkat [Link] makanan yang
3. Berat badan membaik tinggi serat untuk
4. Indeks massa tubuh mencegah konstipasi
(IMT) membaik [Link] makakan
5. Frekuensi makan tinggi kalori dan tinggi protein
membaik [Link] suplemen makanan, jika
6. Nafsu makan membaik perlu
7. Bising usus membaik Edukasi :
8. Membrane mukosa [Link] duduk, jika mampu
Membaik Kolaborasi :
[Link] dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrien yang butuhkan, jika perlu
Intoleransi aktivitas Tujuan : Manajemen Energi
berhubungan dengan Setelah dilakukan Observasi :
kelemahan fisik ditandai tindakan 1. Identifikasi gangguan
dengan pasien cepat lelah keperawatan di harapkan fungsi tubuh yang
saat melakukan aktivitas pasien dapat beraktivitas mengakibatkan kelelahan
berlebihan dengan baik. 2. Monitor kelelahan fisik
Kriteria Hasil : dan emosional
1. Frekuensi nadi 3. Monitor pola dan jam tidur
meningkat 4. Monitor lokasi dan
2. Saturasi oksigen ketidaknyamanan
meningkat selama melakukan aktivitas
3. Kemudahan dalam Terapeutik :
melakukan aktifitas 1. Sediakan lingkungan nyaman
sehari-hari meningkat dan rendah stimulus
4. Kecepatan berjalan 2. Lakukan latihan rentang gerak
meningkat pasif dan/atau aktif
[Link] berjalan meningkat 3. Berikan aktivitas distraksi yang
6. Kekuatan tubuh bagian menenangkan
atas meningkat 4. Fasilitasi duduk di sisi
7. Kekuatan tubuh bagian tempat tidur, jika tidak
bawah meningkat dapat berpindah atau berjalan
8. Keluhan lelah menurun Edukasi :
9. Dispnea saat 1. Anjurkan tirah baring
beraktivitas menurun 2. Anjurkan melakukan
[Link] lemah aktivitas secara bertahap
menurun 3. Anjurkan menghubungi
[Link] setelah perawat jika tanda dan
aktivitas menurun gejala kelelahan tidak berkurang
[Link] menurun 4. Ajarkan strategi koping
[Link] darah untuk mengurangi kelelahan
membaik Kolaborasi :
[Link] napas 1. Kolaborasi dengan ahli
membaik gizi tentang cara
[Link] iskemia meningkatkan asupan makanan
membaik
(SDKI,2016 & SLKI-SIKI,2018)
3.5. Implementasi
(Suhadi, 2018)
3.6. Evaluasi
(Suhadi, 2018)
BAB Ⅳ
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penyakit Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya. Rheumatic Heart Disease
(RHD) adalah suatu proses peradangan yang mengenai jaringan-jaringan penyokong tubuh,
terutama persendian, jantung dan pembuluh darah oleh organisme streptococcus hemolitic-b
grup A.
Etiologi dari RHD ini disebabkan oleh karditis rheumatic akut dan fibrosis dan beberapa
faktor predisposisi lainnya, menurut LAB/UPF ilmu kesehatan Anak, seperti: faktor genetik,
jenis kelamin, umur dan etnik/ras. Perjalanan klinis penyakit demam reumatik/penyakit jantung
reumatik dapat dibagi dalam 4 stadium yaitu stadium I, stadium II, stadium III dan stadium IV
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Christia, D. S. (2022). Skrining Penyakit Jantung Rematik Pada Anak: Evaluasi Berdasarkan
Pemeriksaan Ekokardiografi : Review Sistematik. NN-Journal of Advance Research in
Medical & Health Science (ISSN: 2208-2425), 8(9), 1–6.
[Link]
Hasanusi, R. A. C. U., & Hehanussa, Z. (2023). Manajemen Syok Kardiogenik Pada Anak
Dengan Penyakit Jantung Rematik. Molucca Medica, 15(2), 158–169.
[Link]
Yunita Amna, E., & Studi Pendidikan Dokter, P. (2021). PREVALENSI PENYAKIT
JANTUNG ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN. Jurnal
Sains Riset |, 11(November), 591. [Link]
(Rahimi, 2021)Rahimi, A. (2021). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Penyakit Jantung Rematik
dengan Metode Literature Review. Karya Tulis ILmiah.
Hasanah, Z. U., & Suryati, E. (2020). Penyakit Jantung Rematik pada Anak. Jurnal Medula,
10(3), 484–490. [Link] Report-163-1-10-20201003
(3).pdf