Art Deco dalam Desain Interior Maison Teraskita
Art Deco dalam Desain Interior Maison Teraskita
e-ISSN: 2714-6251
[Link]
Style or style is the result of human work related to cultural characteristics, figures, historical events, and so on. Style is needed
in architecture and interior design to support the desired atmosphere and image. One of the new hotels built on Jalan Asia
Afrika, Bandung is Maison Teraskita which carries the concept of Heritage, Luxury, and Tropical. The hotel architecture is a
combination of two buildings with different genres, old and new. The hotel applies Art Deco style to its interior design. The
purpose of this study is to examine the role of the Art Deco style in the interior design of the Maison Teraskita hotel in Bandung.
The research method uses a qualitative descriptive method. Art Deco style is implemented in hotel interior design not only to
fulfill aesthetic aspects. However, the Art Deco style also has another role. The first is to support the image of buildings that
have historical value. Second, as a liaison for the continuity of old buildings and new buildings. This research is expected to be
a reference as well as a solution related to global problems, namely the sustainability of cultural heritage buildings.
pemerintahan, hotel, kantor, dan fasilitas publik bentuk langgam arsitektur maupun interiornya. Dan
lainnya. Art Deco merupakan langgam dalam pada tahap terakhir menarik kesimpulan.
arsitektur dan desain yang berkembang pada tahun Obyek penelitian adalah Maison Teraskita, hotel
1920 hingga 1930-an. Istilah Art Deco sendiri berasal yang berada di jalan Asia Afrika No. 55, Bandung. Hotel
dari pameran Exposition des Arts Decoratifs et boutique baru tersebut dibangun dengan
Industriels yang diadakan di Paris pada tahun 1925. memanfaatkan bangunan lama yang sudah terdaftar
Setelah pameran di Perancis, langgam tersebut sebagai bangunan cagar budaya golongan B. Desain
semakin berkembang di luar Eropa khususnya Hindia interiornya berkonsep Heritage, Luxury, dan Tropical
Belanda. Beberapa arsitek yang banyak menampilkan dengan pengolahan langgam Art Deco. Pada
langgam Art Deco pada karya-karyanya antara lain: pelaksanaan pembangunan hotelnya dengan
C.P.W. Schoemaker, R.L.A. Schoemaker, A.F. Aalbers, menerapkan strategi adaptive reuse. Strategi
F.J.L. Ghijsels, Thomas Karsten, dan lain sebagainya. pelestarian bangunan cagar budaya dengan
Umumnya langgam Art Deco yang berkembang di mengaktifasi fungsi baru yang lebih sesuai dengan
Hindia Belanda mengalami variasi dengan kondisi iklim kebutuhan masa kini dan masa depan.
dan budaya setempat. Ornamen dekoratif di
Nusantara menjadi inspirasi untuk diolah dan HASIL DAN PEMBAHASAN
disederhanakan bentuknya. Unsur-unsur dekoratif
dalam langgam tersebut berupa pola zigzag, Art Deco Sebagai Citra Interior Hotel
geometris, atau berlapis-lapis. Langgam tersebut Citra merupakan kesan secara keseluruhan suasana
diterapkan juga pada desain produk dan furniture-nya. yang diciptakan baik oleh organisasi atau individu
Langgam Art Deco dihadirkan kembali pada melalui elemen-elemen desain interior. Citra tersebut
desain interior Maison Teraskita, salah satu hotel terkait keberadaan suasana ruang yang menjadi
boutique bintang tiga di kota Bandung. Arsitektur hotel identitas organisasi, korporasi, bahkan diri pemiliknya.
merupakan penggabungan dua masa bangunan, Kemudian akan dipersepsi oleh orang yang
bangunan lama dengan bangunan baru (modern). mengamatinya sehingga mempengaruhi
Secara visual dua masa bangunan yang berbeda genre pembentukan image karakter ruangan tersebut
tersebut digabungkan sangat kontras. Sementara (Permatasari & Nugraha, 2020; Rachmaniyah et al.,
desain interiornya berperan menjadi ‘penghubung’ 2016). Citra sangat dibutuhkan dalam desain interior
antara dua bangunan yang berbeda genre. sebuah hotel, sebagai daya tarik pengunjung/tamu
Tujuan penelitian ini untuk mengkaji lebih dalam yang menginap. Tentunya citra yang diangkat
peran langgam Art Deco pada desain interior Maison disesuaikan dengan konsep desain interiornya. Konsep
Teraskita. Langgam tersebut berfungsi tidak sekedar hotel Maison Teraskita yakni Heritage, Luxury, dan
untuk memenuhi tuntutan kebutuhan estetik saja Tropical. Dan pada kenyataannya bangunan ini
namun memiliki peran lain terkait dengan keberadaan merupakan bangunan Cagar Budaya.
bangunan bersejarah. Penelitian ini diharapkan dapat Sebelum menjadi hotel Maison Teraskita,
menambah referensi tulisan tentang bangunan bangunan ini sebagai kantor Waskita Karya
Maison Teraskita dan juga untuk pengembangan (perusahaan konstruksi nasional). Berdasarkan data
penelitian selanjutnya. Selain itu penerapan langgam dokumentasi proses pembangunan, gedung tersebut
pada interior hotel dapat menjadi referensi bagi memiliki sejarah yang panjang. Gedung yang dibangun
desainer interior maupun arsitek tentang strategi pada tahun 1913, pernah dipakai oleh Unie Bank
adaptif dalam kegiatan pelestarian bangunan. cabang Bandung dari tahun 1917-1924. Setelah Unie
Bank pindah, kemudian dipakai oleh perusahaan asal
Jerman yakni Siemens & Halske pada tahun 1926.
METODE PENELITIAN Perusahaan yang bergerak dalam bidang telegrafi,
telepon, radio, rontgen, alat ukur, dan lain-lain. Pada
Metode penelitian menggunakan metode deskriptif tahun 1946 di kota Bandung terjadi peristiwa
kualitatif. Pengumpulan data primer dilakukan di ‘Bandung Lautan Api’, gedung tersebut menjadi salah
lokasi hotel melalui pengamatan langsung dan satu korban yang ikut terbakar. Kemudian pada tahun
wawancara dengan pengelola hotel. Kunjungan 1955 arsitektur gedung mengalami perubahan saat
pertama untuk pengumpulan data awal. Sedangkan renovasi.
kunjungan berikutnya untuk melengkapi data
lapangan yang diperoleh sebelumnya. Data sekunder
melalui studi kepustakaan berupa buku, jurnal ilmiah,
prosiding ilmiah, dan video (vlog) tentang review tamu
yang pernah menginap atau berkunjung di hotel
tersebut. Data-data yang telah diperoleh kemudian
dianalisis. Analisis terkait sejarah bangunannya dan
SINEKTIKA Jurnal Arsitektur, Vol. 19 No. 2 Juli 2022 | 185
Langgam Art Deco pada Desain interior Maison Teraskita Bandung
berlawanan dengan harmoni, dimana hal ini dinilai Walaupun tampak bangunan dari luar sangat
sebagai desain yang ‘kreatif’. Prinsip kontras dinilai kontras namun pada saat memasuki ke dalam hotel,
berhasil jika dapat menghadirkan ‘penghubung’ atau para pengunjung/tamu tidak merasakan perbedaan
‘link’ diantara bangunan lama dan baru (Kwanda, tersebut. Desain interior hotel berperan sebagai
2004). Pentingnya keberadaan ‘penghubung’ penghubung antara bangunan lama dengan baru.
walaupun bangunannya berbeda namun masih terasa Pengolahan langgam Art Deco menjadi pilihan dalam
selaras berkesinambungan. Dalam hal ini peran desain interior Maison Teraskita. Fasilitas interior
langgam Art Deco menjadi penghubung antara bangunan baru yang lebih mengedepankan teknologi
bangunan lama dan baru. kekinian dapat ditampilkan selaras dengan elemen-
Arsitektur Maison Teraskita terdiri dari dua masa elemen interior bangunan lama.
bangunan yang berbeda genre. Bangunan depan yang
difungsikan sebagai lobi hotel, kafe, dan bar adalah
bangunan Cagar Budaya. Sedangkan bangunan baru
yang lebih modern dengan 7 (tujuh) lantai dan
memiliki 84 unit kamar terletak di belakang menempel
dengan bangunan lama. Dua masa bangunan
dihadirkan secara kontras old and new. Arsitektur
bangunan lama dikembalikan seperti arsitektur
semula, saat masih dipakai kantor Siemens & Halske.
Bangunan lama didominasi dengan warna putih pada
dindingnya dan beratap genting lengkap dengan
hiasan pada puncaknya (momolo). Pada bagian
fasadnya terdapat langgam Art Deco berupa ornamen Gambar 9. Tangga asli bangunan lama dipertahankan
dekoratif geometris. Sedangkan bangunan baru yang dan berpadu dengan struktur kolom baja ekspos.
lebih modern dengan material kaca untuk menutup Karakter kontras antara old & new.
fasadnya seakan-akan fungsinya sebagai latar (Sumber: Devina, 2022)
belakang bangunan lama. Dua bangunan tersebut
sangat kontras. Pada lobi hotel tangga dicat hitam merupakan
Tim desain yang ditunjuk oleh owner tetap elemen interior asli dari bangunan eksisting dipadukan
mengedepankan dan mengikuti kaidah-kaidah dengan kolom baja yang diekspos sebagai struktur
konservasi bangunan dalam perancangannya. Strategi penguat bangunan. Sementara treatment dinding
yang dilaksanakan yakni adaptive reuse dengan memakai lis profil dicat warna putih selaras dengan
memanfaatkan bangunan lama serta memberikan warna kolom baja. Keberadaan tangga menjadi sudut
fungsi yang baru sesuai dengan kebutuhan saat ini. yang menarik di ruangan lobi hotel. Desain tangga
Dalam strategi adaptive reuse tidak hanya sekedar masih asli ditambah dengan anak tangga yang ditutup
merubah fungsi saja, namun juga dapat memperkuat dengan karpet yang memiliki ornamen. Dinding dicat
kualitas bangunan ini (signifikansi). warna putih pada ruangan lobi mampu menciptakan
suasana (atmosphere) interior bangunan tempo dulu.
Desain interior kamar juga didominasi langit-
langit dan dinding warna putih serta dilengkapi dengan
lis profil pada seluruh bidang dindingnya. Sedangkan
warna hijau tosca maupun biru tosca hanya pada wall
panel, tirai dan sofa. Warna hijau tosca maupun biru
tosca sebagai focal point. Beberapa mebel berbahan
kayu dan dipadu dengan anyaman rotan menjadi ciri
khas daerah tropis. Warna gold dipakai sebagai warna
aksen sehingga masih memberi nuansa Art Deco.
Desain interior kamar berlanggam Art Deco bernuansa
Bandung tempo dulu dimana kehadiran mebel kayu
dengan anyaman rotan sebagai pembeda Art Deco ala
Eropa.
DAFTAR PUSTAKA