0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan6 halaman

Art Deco dalam Desain Interior Maison Teraskita

Dokumen ini membahas penerapan langgam Art Deco dalam desain interior hotel Maison Teraskita di Bandung, yang menggabungkan elemen warisan budaya, kemewahan, dan tropis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi peran estetika dan historis dari desain interior hotel yang merupakan adaptasi dari bangunan lama. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan referensi dalam pelestarian bangunan cagar budaya dan strategi desain interior yang berkelanjutan.

Diunggah oleh

rzhillan.work
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan6 halaman

Art Deco dalam Desain Interior Maison Teraskita

Dokumen ini membahas penerapan langgam Art Deco dalam desain interior hotel Maison Teraskita di Bandung, yang menggabungkan elemen warisan budaya, kemewahan, dan tropis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi peran estetika dan historis dari desain interior hotel yang merupakan adaptasi dari bangunan lama. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan referensi dalam pelestarian bangunan cagar budaya dan strategi desain interior yang berkelanjutan.

Diunggah oleh

rzhillan.work
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

p-ISSN: 1411-8912

e-ISSN: 2714-6251
[Link]

LANGGAM ART DECO PADA DESAIN INTERIOR MAISON TERASKITA BANDUNG


Agus Dody Purnomo ABSTRAK
Program Studi Desain Interior Langgam atau gaya merupakan hasil karya manusia yang terkait dengan ciri
Universitas Telkom budaya, tokoh, peristiwa sejarah, dan sebagainya. Langgam dibutuhkan
agusdody@[Link] dalam arsitektur dan desain interior untuk mendukung suasana dan citra
yang diinginkan. Salah satu hotel baru yang dibangun di jalan Asia Afrika,
Devina Sastrawinata Bandung adalah Maison Teraskita yang mengusung konsep Heritage, Luxury,
Program Studi Desain Interior dan Tropical. Arsitektur hotel berupa penggabungan dua bangunan yang
Universitas Telkom berbeda genre antara lama dengan baru. Hotel tersebut menerapkan
devinasastrawinata@[Link] langgam Art Deco pada desain interiornya. Tujuan penelitian ini untuk
mengkaji peran langgam Art Deco pada desain interior hotel Maison Teraskita
Amelia Putri Dianty di Bandung. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Program Studi Desain Interior Langgam Art Deco diimplementasikan pada desain interior hotel tidak hanya
Universitas Telkom untuk memenuhi aspek estetika saja. Namun langgam Art Deco juga memiliki
ameldianty@[Link] peran lainnya. Pertama sebagai pendukung citra bangunan yang memiliki
nilai historis. Kedua sebagai penghubung untuk kesinambungan bangunan
lama dan bangunan baru. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi
maupun solusi terkait permasalahan global yakni keberlanjutan bangunan
Riwayat naskah: cagar budaya.
Naskah diterima 10 Mei 2022
Naskah revisi akhir diterima 6 Juni 2022 KATA KUNCI: art deco, desain interior, hotel, langgam

Style or style is the result of human work related to cultural characteristics, figures, historical events, and so on. Style is needed
in architecture and interior design to support the desired atmosphere and image. One of the new hotels built on Jalan Asia
Afrika, Bandung is Maison Teraskita which carries the concept of Heritage, Luxury, and Tropical. The hotel architecture is a
combination of two buildings with different genres, old and new. The hotel applies Art Deco style to its interior design. The
purpose of this study is to examine the role of the Art Deco style in the interior design of the Maison Teraskita hotel in Bandung.
The research method uses a qualitative descriptive method. Art Deco style is implemented in hotel interior design not only to
fulfill aesthetic aspects. However, the Art Deco style also has another role. The first is to support the image of buildings that
have historical value. Second, as a liaison for the continuity of old buildings and new buildings. This research is expected to be
a reference as well as a solution related to global problems, namely the sustainability of cultural heritage buildings.

KEYWORD: art deco, interior design, hotel, style

PENDAHULUAN yang ikut mendukung dalam konsep desain adalah


kehadiran langgam desain interior.
Desain interior merupakan praktik interdisiplin yang ‘Langgam’ disebut juga ‘gaya’ atau ‘style’ (bahasa
berkaitan dengan penciptaan berbagai lingkungan Inggris) sebagai hasil karya manusia yang terkait
binaan (interior) yang mengartikulasikan identitas dan dengan suatu ciri dari budaya, tokoh, peristiwa
suasana melalui manipulasi volume spasial, sejarah, dan lain-lain. Sebuah langgam diperlukan
penempatan objek dan furnitur tertentu, serta dalam mendukung suasana dan citra desain interior.
treatment langit-langit, dinding, lantai, tangga, pintu, Khususnya desain interior bangunan komersial,
dan bukaan kaca. Desain interior yang baik yakni dapat seperti: toko, restoran, kafe, mall, hotel, resort, dan
menambah dimensi baru pada sebuah interior sebagainya.
sehingga meningkatkan efisiensi pengguna ruang Langgam Art Deco merupakan langgam yang
dalam melakukan aktifitasnya, pemahaman makna sangat erat dengan sejarah kota Bandung. Kota yang
yang lebih dalam terhadap interior. Untuk itu dalam masih menyimpan bangunan-bangunan bersejarah,
penciptaan artikulasi identitas dan suasana bahkan mendapat sebutan sebagai ‘kota Art Deco’.
(atmosphere) ruangan serta menambah dimensi baru Beragam jenis Art Deco yang terdapat di kota Bandung
yang diinginkan tentu tidak lepas dari konsep desain seperti: Geometric Deco, Straightline Deco, dan
yang mendasari pada desain interior. Salah satu unsur Nautical Deco. Penerapan langgam tersebut pada
berbagai bangunan baik hunian, gedung

184 | SINEKTIKA Jurnal Arsitektur, Vol. 19 No. 2 Juli 2022


Agus Dody Purnomo, Devina Sastrawinata, Amelia Putri Dianty

pemerintahan, hotel, kantor, dan fasilitas publik bentuk langgam arsitektur maupun interiornya. Dan
lainnya. Art Deco merupakan langgam dalam pada tahap terakhir menarik kesimpulan.
arsitektur dan desain yang berkembang pada tahun Obyek penelitian adalah Maison Teraskita, hotel
1920 hingga 1930-an. Istilah Art Deco sendiri berasal yang berada di jalan Asia Afrika No. 55, Bandung. Hotel
dari pameran Exposition des Arts Decoratifs et boutique baru tersebut dibangun dengan
Industriels yang diadakan di Paris pada tahun 1925. memanfaatkan bangunan lama yang sudah terdaftar
Setelah pameran di Perancis, langgam tersebut sebagai bangunan cagar budaya golongan B. Desain
semakin berkembang di luar Eropa khususnya Hindia interiornya berkonsep Heritage, Luxury, dan Tropical
Belanda. Beberapa arsitek yang banyak menampilkan dengan pengolahan langgam Art Deco. Pada
langgam Art Deco pada karya-karyanya antara lain: pelaksanaan pembangunan hotelnya dengan
C.P.W. Schoemaker, R.L.A. Schoemaker, A.F. Aalbers, menerapkan strategi adaptive reuse. Strategi
F.J.L. Ghijsels, Thomas Karsten, dan lain sebagainya. pelestarian bangunan cagar budaya dengan
Umumnya langgam Art Deco yang berkembang di mengaktifasi fungsi baru yang lebih sesuai dengan
Hindia Belanda mengalami variasi dengan kondisi iklim kebutuhan masa kini dan masa depan.
dan budaya setempat. Ornamen dekoratif di
Nusantara menjadi inspirasi untuk diolah dan HASIL DAN PEMBAHASAN
disederhanakan bentuknya. Unsur-unsur dekoratif
dalam langgam tersebut berupa pola zigzag, Art Deco Sebagai Citra Interior Hotel
geometris, atau berlapis-lapis. Langgam tersebut Citra merupakan kesan secara keseluruhan suasana
diterapkan juga pada desain produk dan furniture-nya. yang diciptakan baik oleh organisasi atau individu
Langgam Art Deco dihadirkan kembali pada melalui elemen-elemen desain interior. Citra tersebut
desain interior Maison Teraskita, salah satu hotel terkait keberadaan suasana ruang yang menjadi
boutique bintang tiga di kota Bandung. Arsitektur hotel identitas organisasi, korporasi, bahkan diri pemiliknya.
merupakan penggabungan dua masa bangunan, Kemudian akan dipersepsi oleh orang yang
bangunan lama dengan bangunan baru (modern). mengamatinya sehingga mempengaruhi
Secara visual dua masa bangunan yang berbeda genre pembentukan image karakter ruangan tersebut
tersebut digabungkan sangat kontras. Sementara (Permatasari & Nugraha, 2020; Rachmaniyah et al.,
desain interiornya berperan menjadi ‘penghubung’ 2016). Citra sangat dibutuhkan dalam desain interior
antara dua bangunan yang berbeda genre. sebuah hotel, sebagai daya tarik pengunjung/tamu
Tujuan penelitian ini untuk mengkaji lebih dalam yang menginap. Tentunya citra yang diangkat
peran langgam Art Deco pada desain interior Maison disesuaikan dengan konsep desain interiornya. Konsep
Teraskita. Langgam tersebut berfungsi tidak sekedar hotel Maison Teraskita yakni Heritage, Luxury, dan
untuk memenuhi tuntutan kebutuhan estetik saja Tropical. Dan pada kenyataannya bangunan ini
namun memiliki peran lain terkait dengan keberadaan merupakan bangunan Cagar Budaya.
bangunan bersejarah. Penelitian ini diharapkan dapat Sebelum menjadi hotel Maison Teraskita,
menambah referensi tulisan tentang bangunan bangunan ini sebagai kantor Waskita Karya
Maison Teraskita dan juga untuk pengembangan (perusahaan konstruksi nasional). Berdasarkan data
penelitian selanjutnya. Selain itu penerapan langgam dokumentasi proses pembangunan, gedung tersebut
pada interior hotel dapat menjadi referensi bagi memiliki sejarah yang panjang. Gedung yang dibangun
desainer interior maupun arsitek tentang strategi pada tahun 1913, pernah dipakai oleh Unie Bank
adaptif dalam kegiatan pelestarian bangunan. cabang Bandung dari tahun 1917-1924. Setelah Unie
Bank pindah, kemudian dipakai oleh perusahaan asal
Jerman yakni Siemens & Halske pada tahun 1926.
METODE PENELITIAN Perusahaan yang bergerak dalam bidang telegrafi,
telepon, radio, rontgen, alat ukur, dan lain-lain. Pada
Metode penelitian menggunakan metode deskriptif tahun 1946 di kota Bandung terjadi peristiwa
kualitatif. Pengumpulan data primer dilakukan di ‘Bandung Lautan Api’, gedung tersebut menjadi salah
lokasi hotel melalui pengamatan langsung dan satu korban yang ikut terbakar. Kemudian pada tahun
wawancara dengan pengelola hotel. Kunjungan 1955 arsitektur gedung mengalami perubahan saat
pertama untuk pengumpulan data awal. Sedangkan renovasi.
kunjungan berikutnya untuk melengkapi data
lapangan yang diperoleh sebelumnya. Data sekunder
melalui studi kepustakaan berupa buku, jurnal ilmiah,
prosiding ilmiah, dan video (vlog) tentang review tamu
yang pernah menginap atau berkunjung di hotel
tersebut. Data-data yang telah diperoleh kemudian
dianalisis. Analisis terkait sejarah bangunannya dan
SINEKTIKA Jurnal Arsitektur, Vol. 19 No. 2 Juli 2022 | 185
Langgam Art Deco pada Desain interior Maison Teraskita Bandung

Gambar 3. Citra langgam Art Deco dihadirkan kembali


pada tampak depan bangunan lama melalui lis ornamen
dekoratif geometris.
(Sumber: Devina, 2022)
Gambar 1. Gedung berdiri tahun 1913.
(Sumber: KITLV, 2006) Citra Art Deco pada desain interior hotel
ditampilkan melalui elemen-elemen interiornya.
Berdasarkan Perda Kota Bandung no 7 Tahun Ruangan interior yang didominasi warna putih pada
2018 tentang Pengelolaan Cagar Budaya, bangunan
dinding dan langit-langit dipadu dengan warna hijau
tersebut masuk dalam daftar bangunan golongan B
(madya). Sementara dalam Perda Kota Bandung No 18 tosca dan biru tosca. Warna hijau tosca dan biru tosca
Tahun 2011 yang mengatur tentang Rencana Tata diimplementasikan pada beberapa bidang dinding
Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung 2011-2031, sebagai focal point, pintu dan jendela, dan furniture.
hotel tersebut berlokasi di jantung kota yakni Jalan Warna hijau tosca dan biru tosca dipilih sebagai
Asia Afrika dimana wilayah tersebut ditetapkan nuansa heritage dan khas Paris van Java. Paris van
sebagai Kawasan Inti Cagar Budaya (Kawasan I). Untuk Java merupakan julukan untuk kota Bandung (Dana,
itu tim desain saat memperlakukan bangunan ini
1990). Warna-warna tersebut dikombinasi dengan
mengikuti kaidah-kaidah pelestarian dan peraturan
cagar budaya. Termasuk di dalamnya pengolahan material besi dicat warna emas (gold). Treatment
desain interior hotel Maison Teraskita. dinding dilengkapi dengan lis profil yang juga dicat
warna putih selaras dengan dinding. Sementara pada
lantai menggunakan lantai kayu (parquet) warna
gelap. Pada lantai ruangan lobi memiliki kombinasi
pola melingkar dengan ornamen geometris warna
terang. Sedangkan lantai pada lantai 2 ruangan kafe
dan bar memakai lantai parquet dikombinasi dengan
border lantai dengan ornamen.
Gambar 2. Gedung kantor Siemens & Halske pada tahun
1926 (kiri). Gedung kantor Waskita Karya pada tahun
2018 (kanan).
(Sumber: KITLV, 2006; Achmad Sholeh, 2020)

Penentuan langgam Art Deco sebagai langgam


yang diimplementasikan pada desain interior Maison
Teraskita mengacu pada kondisi bangunan saat tahun
1920-1940. Pada rentang tahun tersebut langgam
bangunannya Art Deco. Langgam tersebut diperkuat
dengan adanya ornamen lis pada tampak depan
bangunan, berupa pola geometris yang dipasang
secara berderet di bawah tritisan atap (di bawah
langit-langit bagian luar). Dasar pertimbangan lainnya
yakni terkait keberadaan bangunan di sekitar jalan
Asia Afrika (dulu namanya Groote Postweg).
Bangunan-bangunan yang sama masanya dengan
gedung ini didominasi dengan langgam Art Deco. Hal
ini menjadi alasan kuat langgam Art Deco diangkat
untuk pengolahan desain interior Maison Teraskita. Gambar 4. Lobi hotel dengan dominasi warna putih
dipadu dengan bidang berwarna tosca
(Sumber: Devina, 2022)

186 | SINEKTIKA Jurnal Arsitektur, Vol. 19 No. 2 Juli 2022


Agus Dody Purnomo, Devina Sastrawinata, Amelia Putri Dianty

Pada area lobi hotel juga dilengkapi hiasan


berupa foto-foto bangunan bersejarah yang
mengingatkan tentang Bandung Tempo Dulu. Selain
itu juga ada foto-foto dan narasi terkait sejarah cikal
bakal bangunan Maison Teraskita serta proses
pembangunannya. Foto-foto tersebut bertujuan
sebagai sarana edukasi kepada pengunjung maupun
para tamu hotel dalam memahami proses pelestarian
bangunan. Tahapan dalam pembangunan hotel tetap
memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku dalam
pelestarian bangunan bersejarah. Selain itu juga
mengenalkan tentang strategi adaptive reuse. Dan
bangunan lama masih dipertahankan sebagai bagian
penting dalam hotel ini.

Gambar 7. Desain lampu dirancang berlanggam Art Deco.


(Sumber: Devina, 2022)

Art Deco Sebagai Unsur Kesinambungan


Gambar 5. Dokumentasi sejarah bangunan dan dipajang
Saat ini kegiatan pelestarian bangunan sudah
pada dinding lobi hotel.
(Sumber: Devina, 2022)
mengalami pergeseran orientasi dari object-based
(monumen sentris) menjadi subject-based
(berorientasi pada manusia). Prioritas lebih
Langgam Art Deco semakin diperkuat dengan
diutamakan kepada kesinambungan tradisi, nilai dan
desain lampu, antaralain: lampu gantung, lampu
penafsiran makna yang melekat pada bangunan dan
berdiri, lampu dinding. Desain kap lampu berbentuk
tapak dibandingkan sekedar membekukan tatanan
sederhana (bulat) dengan warna putih dipadukan
visual dalam waktu tertentu (Martokusumo, 2021).
dengan besi warna gold. Desain petunjuk/papan
Untuk itu intervensi dalam pelestarian bangunan
informasi dengan teks berwarna gold dirancang
bersejarah lebih menitikberatkan pada pendekatan
berlanggam Art Deco. Pada ruangan lobi
berbasis nilai (value-based approach). Hal ini menjadi
menggunakan mebel lama bermaterial kayu dan
dasar dalam pelestarian dan pemanfaatan bangunan
anyaman rotan berlanggam Art Deco. Mebel lama
yang berkelanjutan.
dipadukan dengan kursi rotan produk Cirebon.
Pemanfaatan bangunan bersejarah sebagai
Beberapa kap lampu gantung didesain juga
produk atau fasilitas pendukung pariwisata dapat
menggunakan anyaman batang rotan sebagai unsur
lokal. Langgam Art Deco mendukung citra hotel menjadi solusi masalah urban agar bangunan tersebut
sebagai bangunan Cagar Budaya, sementara desain tetap bisa bertahan. Hal ini menjadi tantangan
produk yang menggunakan material rotan tersendiri dimana bangunan bersejarah bisa
memperkuat unsur daerah tropis. berdampak secara ekonomi dengan tetap
memperhatikan langkah-langkah pelestarian
bangunan (Hayati, 2014). Bangunan bersejarah
sebagai fasilitas pendukung pariwisata dapat
disandingkan dengan kehadiran bangunan baru.
Prinsip-prinsip menghadirkan desain baru (infill
design) dalam kawasan pelestarian dapat secara
harmoni atau kontras. Prinsip harmoni dimana
bangunan baru didesain selaras dalam tampilan skala,
tinggi, warna, bahan, masa bangunan, artikulasi fasad,
Gambar 6. Tanda petunjuk dan papan informasi dengan dan tanda penunjuk dengan bangunan lama. Fungsi
teks berwarna emas dirancang berlanggam Art Deco.
bangunan baru sebagai pendukung kekayaan pada
(Sumber: Devina, 2022)
kawasan pelestarian. Sementara prinsip kontras yang

SINEKTIKA Jurnal Arsitektur, Vol. 19 No. 2 Juli 2022 | 187


Langgam Art Deco pada Desain interior Maison Teraskita Bandung

berlawanan dengan harmoni, dimana hal ini dinilai Walaupun tampak bangunan dari luar sangat
sebagai desain yang ‘kreatif’. Prinsip kontras dinilai kontras namun pada saat memasuki ke dalam hotel,
berhasil jika dapat menghadirkan ‘penghubung’ atau para pengunjung/tamu tidak merasakan perbedaan
‘link’ diantara bangunan lama dan baru (Kwanda, tersebut. Desain interior hotel berperan sebagai
2004). Pentingnya keberadaan ‘penghubung’ penghubung antara bangunan lama dengan baru.
walaupun bangunannya berbeda namun masih terasa Pengolahan langgam Art Deco menjadi pilihan dalam
selaras berkesinambungan. Dalam hal ini peran desain interior Maison Teraskita. Fasilitas interior
langgam Art Deco menjadi penghubung antara bangunan baru yang lebih mengedepankan teknologi
bangunan lama dan baru. kekinian dapat ditampilkan selaras dengan elemen-
Arsitektur Maison Teraskita terdiri dari dua masa elemen interior bangunan lama.
bangunan yang berbeda genre. Bangunan depan yang
difungsikan sebagai lobi hotel, kafe, dan bar adalah
bangunan Cagar Budaya. Sedangkan bangunan baru
yang lebih modern dengan 7 (tujuh) lantai dan
memiliki 84 unit kamar terletak di belakang menempel
dengan bangunan lama. Dua masa bangunan
dihadirkan secara kontras old and new. Arsitektur
bangunan lama dikembalikan seperti arsitektur
semula, saat masih dipakai kantor Siemens & Halske.
Bangunan lama didominasi dengan warna putih pada
dindingnya dan beratap genting lengkap dengan
hiasan pada puncaknya (momolo). Pada bagian
fasadnya terdapat langgam Art Deco berupa ornamen Gambar 9. Tangga asli bangunan lama dipertahankan
dekoratif geometris. Sedangkan bangunan baru yang dan berpadu dengan struktur kolom baja ekspos.
lebih modern dengan material kaca untuk menutup Karakter kontras antara old & new.
fasadnya seakan-akan fungsinya sebagai latar (Sumber: Devina, 2022)
belakang bangunan lama. Dua bangunan tersebut
sangat kontras. Pada lobi hotel tangga dicat hitam merupakan
Tim desain yang ditunjuk oleh owner tetap elemen interior asli dari bangunan eksisting dipadukan
mengedepankan dan mengikuti kaidah-kaidah dengan kolom baja yang diekspos sebagai struktur
konservasi bangunan dalam perancangannya. Strategi penguat bangunan. Sementara treatment dinding
yang dilaksanakan yakni adaptive reuse dengan memakai lis profil dicat warna putih selaras dengan
memanfaatkan bangunan lama serta memberikan warna kolom baja. Keberadaan tangga menjadi sudut
fungsi yang baru sesuai dengan kebutuhan saat ini. yang menarik di ruangan lobi hotel. Desain tangga
Dalam strategi adaptive reuse tidak hanya sekedar masih asli ditambah dengan anak tangga yang ditutup
merubah fungsi saja, namun juga dapat memperkuat dengan karpet yang memiliki ornamen. Dinding dicat
kualitas bangunan ini (signifikansi). warna putih pada ruangan lobi mampu menciptakan
suasana (atmosphere) interior bangunan tempo dulu.
Desain interior kamar juga didominasi langit-
langit dan dinding warna putih serta dilengkapi dengan
lis profil pada seluruh bidang dindingnya. Sedangkan
warna hijau tosca maupun biru tosca hanya pada wall
panel, tirai dan sofa. Warna hijau tosca maupun biru
tosca sebagai focal point. Beberapa mebel berbahan
kayu dan dipadu dengan anyaman rotan menjadi ciri
khas daerah tropis. Warna gold dipakai sebagai warna
aksen sehingga masih memberi nuansa Art Deco.
Desain interior kamar berlanggam Art Deco bernuansa
Bandung tempo dulu dimana kehadiran mebel kayu
dengan anyaman rotan sebagai pembeda Art Deco ala
Eropa.

Gambar 8. Bangunan lama dengan dominasi warna putih


sebagai tampak depan hotel dan bangunan baru berbentuk
kotak kaca geometris menjadi latar belakangnya.
(Sumber: Beton Elemenindo Perkasa, 2021)

188 | SINEKTIKA Jurnal Arsitektur, Vol. 19 No. 2 Juli 2022


Agus Dody Purnomo, Devina Sastrawinata, Amelia Putri Dianty

keberlanjutan sebuah kota akan terus terjaga tanpa


harus menghilangkan bangunan cagar budayanya.

DAFTAR PUSTAKA

Ballast, D. K. (2007). Interior Design Reference Manual


(1st ed.). Professional Publications, Inc.
Brooker, G. (2017). ADAPTATION Strategies for Interior
Architecture and Design. Bloomsbury
Publishing.
Dana, J. W. (1990). Ciri Perancangan Kota Bandung.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Dodsworth, S. (2009). The Fundamentals of Interior
Design. AVA Publishing.
[Link]
635
Hartono, D. (2006). Arsitektur Bersejarah dan Citra
Kota Bandung. Kompas.
Gambar 10. Desain interior kamar dengan suasana [Link]
tempo dulu namun tetap elegan.
=library&act=detail&Dkm_ID=20060001
(Sumber: aboyinahotelroom, 2020)
Hayati, R. (2014). Pemanfaatan Bangunan Bersejarah
Sebagai Wisata Warisan Budaya Di Kota
KESIMPULAN
Makassar. Jurnal Master Pariwisata (JUMPA),
01, 1–42. [Link]
Langgam Art Deco di Indonesia identik dengan kota jumpa.2014.v01.i01.p01
Bandung dimana langgam tersebut sangat erat dengan Kwanda, T. (2004). Desain Bangunan Baru Pada
sejarah pembangunan gedung-gedung di kota ini. Kawasan Pelestarian di Surabaya. DIMENSI
Langgam atau style diperlukan dalam mendukung Journal of Architecture and Built Environment,
suasana dan citra desain interior hotel. Peran langgam 32(2), 102–109. doi:
Art Deco pada desain interior Maison Teraskita sangat [Link]
mendukung citra interior bangunan yang memiliki nilai Martokusumo, W. dan A. S. W. (2021). Pelestarian
sejarah. Selain itu juga selaras dengan lingkungan Arsitektur dan Lingkungan Bersejarah (2nd
Kawasan Inti Cagar Budaya dimana lokasi hotel ed.). Bandung: ITB Press.
tersebut berada. Norbruis, O. (2022). Arsitektur di Nusantara: Para
Bangunan hotel sebagai bangunan komersial Arsitek dan Karya Mereka di Hindia-Belanda
hadir dengan arsitektur kekinian. Perwajahan hotel dan Indonesia pada Paruh Pertama Abad ke-20
lebih modern dengan tampilan kaca sehingga kontras (terjemahan). LM Publishers.
dengan bangunan lama yang terletak di depan. Permatasari, R. C., & Nugraha, N. E. (2020). Peranan
Bangunan baru sebagai pengkayaan pada kawasan Elemen Desain Interior Dalam Membentuk
cagar budaya. Prinsip kontras akan berhasil dan selaras Atmosfer Ruang Tunggu CIP Lounge Bandara.
jika dapat menghadirkan ‘penghubung’. Pengolahan Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan
desain interior hotel dengan langgam Art Deco Seni, 15(2), 59–70.
berperan sebagai ‘penghubung’ antara bangunan [Link]
lama dengan baru. Penerapan konsep Art Deco pada Pile, J. & J. G. (2014). A History of Interior Design
desain interior hotel melalui pemakaian warna putih, (Fourth). Laurence King Publishing Ltd.
hijau tosca, biru tosca, dan emas. Pengolahan bentuk- Rachmaniyah, N., Anggraeni, L. K., & Adiwijaya, C. P.
bentuk geometris dan repetisi garis serta pemanfaatan (2016). Studi Langgam Desain sebagai Dasar
material kayu dan rotan sebagai identitas daerah Mendesain Hotel. Jurnal Desain Interior, 1(1), 1.
tropis. [Link]
Saat ini kegiatan pelestarian bangunan sudah Rahadian, R. G. N. (2019). Kajian Konservasi Bangunan
mengalami pergeseran orientasi dari object-based Melalui Unsur Pembentuk Arsitektur Dalam
menjadi subject-based. Perubahan orientasi ini lebih Upaya Pelestarian Bangunan Tua Di Kota
menitikberatkan pada pendekatan berbasis nilai. Hal Bandung Studi Kasus : Gedung Panti Karya,
ini membuka peluang dalam pemanfaatan bangunan Jalan Merdeka no. 39 Bandung, Jawa Barat.
cagar budaya sebagai produk maupun fasilitas Idealog: Ide Dan Dialog Desain Indonesia, 4(1),
pendukung pariwisata yang memiliki dampak ekonomi 40.
namun tetap menjaga nilai historisnya. Dengan begitu [Link]
SINEKTIKA Jurnal Arsitektur, Vol. 19 No. 2 Juli 2022 | 189

Anda mungkin juga menyukai