0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan13 halaman

Pengertian dan Faktor Belajar Efektif

Dokumen ini membahas konsep belajar, pembelajaran, mengajar, kreativitas, hasil belajar, dan pendekatan konstruktivisme dalam pendidikan. Ditekankan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku melalui pengalaman, sementara pembelajaran adalah interaksi antara siswa dan guru. Selain itu, kreativitas berperan penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa, dan pendekatan konstruktivisme mendorong siswa untuk aktif dalam proses belajar.

Diunggah oleh

naylaelsifa27
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan13 halaman

Pengertian dan Faktor Belajar Efektif

Dokumen ini membahas konsep belajar, pembelajaran, mengajar, kreativitas, hasil belajar, dan pendekatan konstruktivisme dalam pendidikan. Ditekankan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku melalui pengalaman, sementara pembelajaran adalah interaksi antara siswa dan guru. Selain itu, kreativitas berperan penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa, dan pendekatan konstruktivisme mendorong siswa untuk aktif dalam proses belajar.

Diunggah oleh

naylaelsifa27
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan tindakan dan perilaku yang kompleks. Belajar juga dapat
diartikan sebagai peristiwa yang bersifat individu yakni peristiwa terjadinya
perubahan tingkah laku sebagai dampak dari pengalaman individu. Belajar
merupakan proses perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Perubahan terjadi karena
latihan dan pengalaman, bukan karena pertumbuhan, perubahan tersebut harus
bersifat permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama. Slameto dalam
Khuluqo (2017:6) menyatakan “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan
lingkungannya”.
Hal ini sejalan dengan pendapat T. Morgan dalam Khuluqo (2017:4)
“Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai
akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu”. Selanjutnya Sardiman dalam Istriani
dan Intan (2017:1) menyatakan “Belajar adalah usaha penguasaan materi ilmu
pengetahuan yang merupakan sebahagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian
seutuhnya”.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan
proses perubahan tingkah laku yang terjadi karena adanya interaksi dengan
lingkungannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lewat pengetahuan,
pemahaman dan keterampilan untuk mencapai hasil yang optimal.

7
8

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar


Belajar merupakan serangkaian kegiatan atau perbuatan yang berhubungan
dengan beberapa faktor. M. Sobry Sutikno dalam Khuluqo (2017:33), menyatakan:
Faktor internal yang mempengaruhi proses belajar yaitu: (1) Faktor jasmaniah,
(2) Faktor kesehatan, (3) Faktor cacat tubuh, (4) Minat, (5) Emosi, (6) Bakat,
(7) Kematangan, (8) Kesiapan, (9) Faktor kelelahan. Dan Faktor ekstern yaitu:
(1) Cara orangtua mendidik (2) Hubungan antara anggota keluarga, (3) Suasana
rumah, (4) Keadaan ekonomi keluarga, (5) Kurikulum sekolah, (6) Keadaan sarana
dan prasana, (7) Metode pembelajaran, (8) Hubungan antara pendidik dengan peserta
didik, (9) Faktor masyarakat.

3. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran suatu peristiwa yang adanya interaksi dari siswa dengan siswa
dan dari guru dengan siswa. Winkel dalam Khuluqo (2016:51), menyatakan
“Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung
proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal
yang berperan terhadap rangkaian kejadian internal yang berlangsung di dalam diri
peserta didik”.
Imas Kurniasih dan Berlin Sani (2017:51), menyatakan “Pembelajaran
merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar”. Menurut Dwiyogo (2016: 14) bahwa “Pembelajaran
adalah suatu disiplin yang menaruh perhatian pada upaya untuk meningkatkan dan
memperbaiki proses belajar”.
Selanjutnya Erwin Widiasworo (2017:15), menyatakan “Pembelajaran adalah
suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik atau pembelajar yang
direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar
subjek didik atau pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara
efektif dan efisien”.
Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah segala
upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik.
9

4. Pengertian Mengajar
Mengajar satu komponen dari kompetensi guru, setiap guru harus menguasai
materi serta terampil dalam mengajar agar dapat menghadapi karakter dan
kemampuan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Sadirman
(2016:47) menyatakan “Mengajar adalah suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau
sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya
proses belajar”. Menurut Ngainun Naim (2016:66) menyatakan “Mengajar adalah
mengajak berpikir siswa, sehingga melalui kemampuan berpikir akan terbentuk siswa
yang cerdas dan mampu memecahkan setiap masalah yang dihadapinya”.
Menurut Hamalik (2014: 50) bahwa “Mengajar adalah kegiatan
mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan
masyarakat”. Selanjutnya Rusman (2015:23) menyatakan “Mengajar dapat diartikan
sebagai suatu kegiatan atau suatu aktivitas dalam rangka menciptakan suatu situasi
dan kondisi belajar siswa yang kondusif”.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan mengajar merupakan
kegiatan kompetensi guru dalam mempersiapkan anak didik untuk memperoleh
pengetahuan, sikap dan ide.

5. Pengertian Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu kompetensi yang menjadi tanggung jawab
kita sebagai pendidik untuk mengembangkannya. Potensi kreativitas anak telah ada
sejak anak itu itu dilahirkan, namun potensi tersebut akan berkembang dengan baik
apabila dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan. Torrance dalam Utami
Munandar (2014:27) menyatakan “Kreativitas adalah proses merasakan dan
mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan atau masalah,
menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi
dan akhirnya menyampaikan hasil-hasilnya”.
Suyanto dan Asep Djihad dalam Istriani dan Intan Pulungan (2017:131)
menyatakan “Kreativitas merupakan sifat yang komplikatif antara seluruh anak-anak,
dimana seorang anak itu mampu berkreasi dengan spontan, karena ketika dilahirkan,
10

ia telah dibekali kesadaran. Sehingga, kreativitas sebenarnya terpendam dalam diri


manusia”. Selanjutnya Istirani dan Intan (2017:136) menyatakan “Kreativitas adalah
kemampuan untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang asli, tidak biasa, dan
sangat fleksibel dalam merespon dan mengembangkan pemikiran dan aktivitas”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan kreativitas adalah
kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan
maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dari hal-hal
yang sudah ada, berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

6. Pengertian Hasil Belajar


Hasil belajar adalah suatu peerubahan yang didapatkan siswa melalui
pembelajaran. Istirani dan Intan Pulungan (2017:19) menyatakan “Hasil belajar
adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam prilaku dan penampilan
yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang
diharapkan”. Purwanto (2017:54) menyatakan “Hasil belajar adalah perubahan
perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan
pendidikan. Untuk mengetahui apakah hasil belajar sudah sesuai dengan tujuan yang
diharapkan dapat diketahui melalui proses evaluasi”. Selanjutnya Rusman (2016:67)
menyatakan “Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang
mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotik”.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan hasil belajar merupakan
perubahan tingkah laku yang terjadi setelah mengikuti proses pembelajaran.

7. Pengertian Pendekatan Konstruktivisme


Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan yang menekankan
pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif
proses belajar mengajar. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung
dengan berbasis pada aktivitas siswa. Rusman (2017:193) menyatakan bahwa
“Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) dalam CTL bahwa
11

pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas”.
Syaiful Sagala (2014:88) menyatakan ”Pendekatan Konstruktivisme adalah
ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi
kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka
sendiri”. Selanjutnya Trianto (2018:113) menyatakan “Pendekatan Konstruktivisme
merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual yaitu pengetahuan
dibangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas
(sempit) dan tidak dengan tiba-tiba”.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpukan pendekatan konstruktivisme
merupakan pendekatan yang dapat mendorong siswa belajar melalui interaksi dengan
orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu untuk menemukan suatu
informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi
milik mereka sendiri.

8. Langkah-langkah Pendekatan Konstruktivisme


Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu
yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Trianto (2018:113)
menyatakan Langkah-langkah pendekatan kontruktivisme adalah sebagai berikut:
1. Peserta didik dibisakan untuk memecahkan masalah sendiri.
2. Peserta didik diberi kesempatan untuk menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya.
3. Peserta didik terlibat aktif dalam proses belajar mengajar, siswa menjadi pusat
kegiatan bukan guru.
4. Guru berusaha menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
5. Guru memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
6. Guru menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam
belajar.
9. Kelebihan Pendekatan Konstruktivisme
Menurut Trianto (2018:113) , kelebihan pendekatan konstruktivisme yaitu:
a. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan
12

bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong


siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
b. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang
berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan
kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas
pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk
merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan
memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
c. Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir
tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif,
imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan
gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
d. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada
siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh
kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah
dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk
menggunakan berbagai strategi belajar.

10. Kekurangan Pendekatan Konstruktivisme


Menurut Trianto (2018:113) , kelebihan pendekatan konstruktivisme yaitu:
a. Karena siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa
hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuwan, hal
ini mengakibatkan terjadinya miskonsepsi.
b. Membutuhkan waktu yang lama, dan setiap siswa memerlukan penanganan
yang berbeda-beda.

11. Hubungan Kreativitas dengan Hasil Belajar


Semakin tinggi kreativitas peserta didik, maka semakin besar pula peluangnya
untuk mencapai tujuan dari pendidikan. Utami Munanadar (2016:31) menyatakan
fungsi kreativitas terhadap hasil belajar adalah sebagai berikut:
13

1. Dengan kreativitas, siswa belajar akan bertambah giat.


2. Pengembangan kreativitas bagi siswa akan dapat memupuk dan merangsang
proses belajar siswa sehingga hasil belajarnya akan baik.
3. Dengan kreatif dalam belajar, maka siswa akan dapat mewujudkan aktualisasi
diri.
4. Kreativitas atau berpikir kreatif
5. Kreativitas memungkinkan siswa untuk meningkatkan prestasi belajar.
6. Dengan berkreativitas akan membantu siswa menempatkan diri dalam situasi
belajar yang tepat.
Dengan demikian, kreativitas mempunyai hubungan yang erat terhadap hasil
belajar siswa, sebab anak yang kreatif selalu memiliki minat belajar yang tinggi, rasa
percaya diri serta tidak mudah putus asa sehingga ia selalu kreatif dalam belajar.

12. Ciri-ciri Kreativitas


Kreativitas adalah potensi seseorang untuk memunculkan suatu penemuan-
penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi serta semua bidang dalam usaha
lainnya. Guld Ford dalam Istriani dan Intan Pulungan (2017:133) menyatakan, ada 5
ciri ciri kreativitas yaitu sebagai berikut:
1. Kelancaran merupakan kemampuan memproduksi banyak ide
2. Keluwesan merupakan kemampuan untuk mengajukan bermacam-macam
pendekatan jalan pemecahan masalah
3. Keaslian merupakan kemampuan untuk melahirkan gagasan yang orisinal
sebagai pemikiran sendiri
4. Penguraian merupakan kemampuan menguraikan sesuatu secara terperinci
5. Perumusan merupakan kemampuan untuk mengkaji kembali suatu
persoalan melalui cara yang berbeda dengan yang sudah lazim.

13. Pembelajaran IPA


Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang mencari tahu tentang alam
secara sistematis sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang
berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip tetapi juga merupakan suatu
proses penemuan. Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta
didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta prospek pengembangan
lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.
14

Ahmad Susanto (2016:167) menyatakan “IPA merupakan usaha manusia


dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran, serta
menggunakan prosedur, dan dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan
suatu kesimpulan”. Selanjutnya Trianto (2015:151) menyatakan “IPA merupakan
pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen,
pengamatan, dan dedukasi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah
gejala yang dapat dipercaya”.
Ahmad Susanto (2016:167) menyatakan ”Pembelajaran IPA adalah ilmu
tentang alam yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan ilmu pengetahuan alam,
dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu ilmu pengetahuan alam sebagai
produk, proses, dan sikap”.
Dalam kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006) tujuan pembelajaran IPA adalah
sebagai berikut:
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaanNya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang
adanya hubungan yang saling mempengaruhi anatara IPA, lingkungan,
teknologi dan masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,
memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara,
menjaga dan melestarikan lingkungan alam dan segala keteraturanNya
sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
6. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai
dasar untuk melanjutkan pendidikan.

14. Materi Pembelajaran


Materi pembelajaran yang dibahas pada penelitian ini adalah tentang sifat-
sifat cahaya di kelas V SD Negeri 101851 Kwala Lau Bicik pada kurikulum 2006.
Berikut kompetensi dasar, kompetensi inti, tujuan dan materi pemebelajaran.
a. Standar Kompetensi
Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model.
15

b. Kompetensi dasar
Mendeskripsi-kan sifat-sifat cahaya.
a. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mendemonstrasikan sifat cahaya yang mengenai berbagai benda
(bening, berwarna, dan gelap).
2. Siswa dapat mendeskripsikan sifat-sifat cahaya yang mengenai cermin datar
dan cermin lengkung (cembung atau cekung).
3. Siswa dapat menunjukkan contoh peristiwa pembiasan cahaya dalam
kehidupan sehari-hari melalui percobaan.
4. Siswa dapat menunjukkan bukti bahwa cahaya putih terdiri dari berbagai
warna.
5. Siswa dapat memberikan contoh peristiwa penguraian cahaya dalam
kehidupan sehari-hari.
b. Uraian Materi
Pokok bahasan: Sifat-sifat cahaya
Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang kasat
mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm. Pada bidang fisika,
cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat
mata maupun yang tidak. Selain itu, cahaya adalah paket partikel yang disebut
foton. Kedua definisi tersebut merupakan sifat yang ditunjukkan cahaya
secara bersamaan sehingga disebut "dualisme gelombang-partikel". Paket
cahaya yang disebut spektrum kemudian dipersepsikan secara visual oleh
indera penglihatan sebagai warna. Bidang studi cahaya dikenal dengan
sebutan optika, merupakan area riset yang penting pada fisika modern.
Cahaya yang mengenai benda akan dipantulkan sehingga kita bisa
melihat benda tersebut. Oleh sebab itu kita memerlukan cahaya untuk dapat
melihat. Benda-benda yang ada di sekitar kita dapat kita lihat apabila ada
cahaya yang mengenai benda tersebut, dan cahaya yang mengenai benda
tersebut dipantulkan oleh benda ke mata. Meskipun benda terkena cahaya, jika
16

pantulannya terhalang maka kita tidak dapat melihat benda tersebut, misalnya
suatu benda yang berada di balik tirai atau tembok. Sebuah benda dapat dilihat
oleh mata kita karena adanya cahaya yang dipantulkan dari benda tersebut
sehingga sampai ke mata.
Sebuah benda dapat dilihat karena adanya cahaya, yang memancar
atau dipantulkan dari benda tersebut,yang sampai ke mata. Sumber cahaya
adalah benda-benda yang dapat mengeluarkan cahaya sendiri. Contohnya
matahari, lampu dan lilin.

Cahaya memiliki sifat–sifat diantaranya :


1. Cahaya dapat merambat lurus
Cahaya mempunyai sifat yang merambat lurus dan dapat dibuktikan dengan
meninjau yang berdasarkan dapat atau tidaknya benda untuk meneruskan cahaya.
Benda yang memiliki sifat tidak tembus cahaya tidak bisa meneruskan cahaya yang
mengenai benda tersebut. Apabila dikenai cahaya dan benda tersebut membentuk
bayangan. Benda yang seperti itu digolongkan sebagai benda gelap, yang memiliki
arti bahwa benda-benda tersebut tidak bisa menghasilkan cahaya sendiri. Contohnya
antara lain: kayu, tembok, batu, dan sebagainya. Sedangkan itu, benda yang dapat
tembus cahaya dapat meneruskan cahaya yang mengenai benda tersebut. Benda yang
seperti itu dikenal sebagai jenis golongan benda sumber cahaya. Sifat Cahaya dapat
kamu perhatikan pada saat cahaya matahari masuk kedalam suatu ruang melalui celah
yang sempit pada pintu maupun jendela, cahaya yang masuk itu akan kelihatan
merambat lurus. Contoh lain cahaya memiliki cahaya lurus yaitu :
 Cahaya senter membentuk garis lurus
 Cahaya mercusuar dipinggir pantai membentuk garis lurus.
Lintasan cahaya dapat disebut sinar atau berkas cahaya. Contohnya sebagai
berikut:
a. Cahaya yang masuk melalui celah-celah jendela merambat lurus.
b. Pergantian siang dan malam. Matahari memancarkan cahaya ke segala arah,
sebagian matahari terpancar lurus menuju bumi. Belahan bumi yang terkena
17

cahaya matahari akan terjadi siang. Adapun belahan bumi yang tidak terkena
cahaya matahari akan terjadi malam.

2. Cahaya menembus benda bening


Benda-benda yang dapat ditembus cahaya disebut benda bening. Contohnya
air bening, kaca, gelas bening, plastik bening, dan botol bening. Benda-benda yang
tidak dapat ditembus cahaya desebut benda gelap. Contohnya kertas, air susu dan air
kopi. Benda yang tidak tembus cahaya apabila dikenai cahaya akan membentuk suatu
bayangan karena tidak dapat meneruskan cahaya yang mengenainya. Contohnya
seperti gambar samping ini.

3. Cahaya dapat dibiaskan


Pembiasan cahaya adalah pembelokan atau perubahan arah rambat cahaya
ketika melalui dua medium yang berbeda keraptannya. Medium cahaya adalah zat
perantara yang dilalui cahaya. Medium zat padat lebih rapat daripada medium air.
Medium air lebih rapat daripada medim udara.
a. Bila cahaya datang dari medium renggang ke medium yang lebih rapat, maka
cahaya akan dibiaskan mendekati garis normal. Misalnya pembiasan dari
udara ke air.
b. Bila cahaya datang dari medium rapat ke medium renggang maka cahaya akan
dibiaskan menjauhi garis normal. Misalnya pembiasan cahayab dari air ke
udara.
Contoh peristiwa pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari – hari yaitu:
a. Pensil yang diamsukkan kedalam gelas yang terisi air akan tampak patah.
b. Dasar kolam renang terlihat lebih dangkal dari kedalaman sesungguhnya jika
airnya tenang.
4. Cahaya dapat diuraikan
Penguraian cahaya mempunyai istilah lain, yaitu dispersi. Prinsip penguraian
cahaya (dispersi) adalah penguraian cahaya putih menjadi cahaya yang memiliki
warna yang bervariasi. Berikut contoh yang menggambarkan bahwa suatu cahaya
dapat diuraikan.
18

1) Terjadinya pelangi, hal ini karena munculnya pelangi disebabkan adanya


cahaya matahari yang tampaknya memiliki warna putih dan sebenarnya
cahaya matahari tersusun atas berbagai variasi warna yang diuraikan oleh
titik-titik air di awan.
2) Cakram yang berwarna yang ketika diputar dapat menjadi warna putih.
3) Terjadinya fenomena halo yang seakan-akan mengelilingi matahari atau
bulan
Contoh lain :
 Gelembung sabun yang terkena cahaya akan nampak memiliki banyak
warna.
 Cakram warna yang diputar akan membentuk warna putih.
B. Kerangka Berpikir
Sebagai upaya lebih mewujudkan fungsi pendidikan sebagai wahana sumber
daya manusia, perlu dikembangkan suasana belajar mengajar yang konstruktif bagi
berkembangnya potensi kreatif peserta didik seiring dengan berkembangnya suasana,
kebiasaan, dan strategi meningkatkan hasil belajar.
Kreativitas merupakan suatu kemampuan yang diperlukan seseorang untuk
menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari. Dengan kreativitas, seseorang dapat
melakukan pendekatan yang bervariasi dan memiliki berbagai macam kemungkinan
penyelesaian terhadap suatu permasalahan. Dengan kreativitas, seseorang dapat
menunjukkan hasil perbuatan, kinerja atau karya, baik dalam bentuk barang maupun
gagasan secara bermakna dan berkualitas.
Salah satu alternatif pendekatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan
potensi kreativitas dan hasil belajar siswa yaitu pendekatan kontruktivisme. Dengan
penerapan pendekatan kontruktivisme tersebut diharapkan tidak hanya hasil belajar
siswa yang meningkat tetapi juga meningkatkan kreativitas siswa karena melalui
penerapan pendekatan kontruktivisme guru dapat mengkondisikan siswa sedemikian
sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dalam pembelajaran, mampu bekerjasama
diantara siswa serta melatih keterampilan siswa sehingga hasil belajar dan kreativitas
siswa meningkat.
19

C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis suatu jawaban sementara atau dugaan sementara penelitian.
Syahrum dan Salim (2014:98) menyatakan “Hipotesis adalah dugaan atau jawaban
sementara terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi”. Hal ini sejalan dengan
pendapat Sugiyono (2016:224) “Hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara
terhadap rumusan masalah penbelitian”.
Berdasarkan beberapa pengertian hipotesis dapat disimpulkan bahwa hipotesis
adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang dihadapi.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan kreativitas belajar
terhadap hasil belajar IPA pokok bahasan sifat-sifat cahaya melalui pendekatan
konstruktivisme siswa kelas V SD Negeri 101851 Kwala Lau Bicik Tahun Ajaran
2018/2019.

D. Definisi Operasional
Berdasarkan kerangka teoritis, maka definisi operasionalnya adalah:
1. Belajar adalah suatu proses belajar IPA pokok bahasan sifat-sifat cahaya yang
dilakukan melalui pendekatan konstruktivisme untuk memperoleh hasil belajar.
2. Hasil belajar adalah nilai yang diperoleh siswa melalui tes setelah mengikuti
pembelajaran menggunakan pendekatan kontruktivisme pada pelajaran IPA
pada pokok bahasan sifa-sifat cahaya.
3. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru,
baik berupa gagasan maupun karya nyata. Siswa yang mampu memecahkan
masalah, menyampaikan ide sendiri, mengkaji kembali suatu persoalan dengan
cara berbeda merupakan ciri-ciri kreativitas.
4. Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan yang dapat mendorong
kreativitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar.

Anda mungkin juga menyukai