0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan7 halaman

Pancasila dan Tantangan IPTEK Global

Dokumen ini membahas tantangan globalisasi terhadap Pancasila dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di Indonesia. Meskipun kemajuan iptek membawa manfaat, ada risiko merusak nilai-nilai luhur Pancasila dan menciptakan ketimpangan sosial. Oleh karena itu, penerapan nilai-nilai Pancasila sangat penting untuk menjaga identitas bangsa dan memastikan kemajuan iptek yang adil dan merata.

Diunggah oleh

Septian Ackerman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan7 halaman

Pancasila dan Tantangan IPTEK Global

Dokumen ini membahas tantangan globalisasi terhadap Pancasila dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di Indonesia. Meskipun kemajuan iptek membawa manfaat, ada risiko merusak nilai-nilai luhur Pancasila dan menciptakan ketimpangan sosial. Oleh karena itu, penerapan nilai-nilai Pancasila sangat penting untuk menjaga identitas bangsa dan memastikan kemajuan iptek yang adil dan merata.

Diunggah oleh

Septian Ackerman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PANCASILA DAN TANTANGAN GLOBALISASI DALAM PENGEMBANGAN IPTEK

Nama:Aril Rifanda Fauzi

Nim:102223033

Abstrak

Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia dihadapkan pada
berbagai tantangan globalisasi. Salah satunya adalah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) yang berkembang sangat pesat. Di satu sisi, kemajuan iptek membawa manfaat bagi
kesejahteraan manusia. Namun di sisi lain, arus globalisasi iptek juga membawa pengaruh
negatif yang dapat merusak nilai-nilai luhur Pancasila. Tulisan ini bertujuan menganalisis
tantangan globalisasi iptek dalam perspektif nilai-nilai Pancasila. Metode penelitian yang
digunakan adalah kualitatif dengan teknik studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa
tanpa filter nilai-nilai Pancasila, arus globalisasi dapat menjerumuskan generasi muda ke
perilaku amoral dan merusak jati diri bangsa. Penerapan nilai-nilai Pancasila yang hakiki
seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan sangat diperlukan agar Indonesia dapat
memanfaatkan kemajuan iptek global tanpa kehilangan jati diri bangsa. Selain itu, tanpa
kewaspadaan, globalisasi iptek berpotensi menciptakan ketimpangan ekonomi dan sosial yang
semakin lebar. Maka dari itu, Indonesia perlu membangun kemajuan iptek independen yang
berbasis nilai gotong royong dan keadilan sosial. Dengan mengedepankan nilai-nilai
Pancasila, Indonesia dapat menjadi bangsa yang maju secara iptek tanpa harus kehilangan
nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa. Ini merupakan tantangan sekaligus tanggung jawab
bersama demi mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia.
Kata Kunci: Pancasila, IPTEK, Globalisasi, Indonesia
Abtract
Pancasila as the state ideology and way of life of Indonesian people is facing various challenges
of globalization. One of them is in the field of science and technology (IPTEK) which is growing
rapidly. On one hand, the advancement of IPTEK brings benefits for human welfare. However,
on the other hand, the globalization stream of IPTEK also brings negative impacts that could
damage the noble values of Pancasila. This paper aims to analyze the challenges of IPTEK
globalization in the perspective of Pancasila values. The research method used is qualitative
with literature study technique. The analysis result shows that without Pancasila values filter,
globalization stream could lead the younger generation into amoral behavior and damage the
national identity. The application of essential Pancasila values such as Divinity, Humanity and
Unity is needed for Indonesia to utilize the advancement of global IPTEK without losing national
identity. Additionally, without vigilance, IPTEK globalization potentially creates wider economic
and social inequality. Therefore, Indonesia needs to build independent IPTEK advancement
based on the values of mutual cooperation and social justice. By promoting Pancasila values,
Indonesia could become an advanced nation in IPTEK without losing noble values and national
identity. This is both a challenge and shared responsibility to realize the noble ideals of the
Indonesian nation.
Keyword : Pancasila, Science and Technology, Globalization, Indonesia

Pendahuluan

Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia telah mengakar
kuat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun, di era globalisasi saat
ini Pancasila dihadapkan pada berbagai tantangan dari arus globalisasi itu sendiri. Salah satu
tantangan tersebut adalah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Perkembangan iptek di era globalisasi sangat pesat. Kemajuan di bidang teknologi


informasi dan komunikasi telah menghilangkan batas-batas geografis antar negara. Informasi
dapat dengan mudah diakses dari berbagai belahan dunia dalam hitungan detik. Di satu sisi
kemajuan iptek dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia. Namun di sisi lain, arus
globalisasi iptek juga membawa pengaruh negatif yang dapat merusak nilai-nilai luhur Pancasila.

Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, tantangan globalisasi khususnya di


bidang iptek dapat dihadapi dengan bijaksana tanpa harus kehilangan jati diri bangsa Indonesia.
Pemerintah dan seluruh elemen bangsa perlu terus mengkaji dan mengamalkan nilai-nilai
Pancasila dalam menyikapi perkembangan zaman.

Salah satu tantangan globalisasi iptek yang dihadapi Indonesia adalah meningkatnya
kesenjangan akses terhadap teknologi antara masyarakat perkotaan dan pedesaan. Kemajuan
iptek lebih banyak dinikmati oleh masyarakat di perkotaan sementara masyarakat desa masih
tertinggal. Hal ini bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila khususnya sila kelima yaitu Keadilan
Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Tantangan lainnya adalah pengaruh budaya asing melalui internet dan media sosial yang
dapat merusak nilai-nilai luhur bangsa. Arus globalisasi menyebabkan gencarnya masuknya
budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri dan karakter bangsa Indonesia. Hal ini berpotensi
merusak generasi muda dan menghilangkan nasionalisme.

Untuk menghadapi tantangan globalisasi di bidang iptek, diperlukan upaya bersama dari
pemerintah dan masyarakat. Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang mendukung
pemerataan akses dan pengembangan iptek berbasis nilai-nilai Pancasila. Sedangkan masyarakat
perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya filter budaya asing dan melestarikan nilai-nilai
luhur bangsa.

Dengan demikian diharapkan kemajuan iptek dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan


seluruh rakyat Indonesia tanpa harus kehilangan jati diri sebagai bangsa yang ber-Pancasila. Hal
ini merupakan tanggung jawab bersama demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia
sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Tulisan ini akan mengkaji peluang dan tantangan globalisasi serta implikasinya terhadap
pengembangan iptek di Indonesia dalam kacamata nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian,
diharapkan dapat diperoleh gambaran bagaimana Indonesia bisa mengambil manfaat kemajuan
iptek global tanpa harus kehilangan nilai-nilai luhur warisan leluhur yang terkandung dalam
Pancasila.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan
jenis penelitian studi pustaka (library research). Menurut Kothari (2004), studi pustaka
merupakan penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan dengan
topik penelitian.

Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami dan
menganalisis secara mendalam mengenai Pancasila dan tantangan globalisasi dalam
pengembangan iptek. Data yang dikumpulkan terdiri dari berbagai referensi pustaka seperti
jurnal, buku, laporan penelitian, dan dokumen resmi terkait topik penelitian.

Teknik pengumpulan data dalam studi pustaka dilakukan melalui kegiatan mencatat,
meringkas, dan mengutip dari sumber-sumber tertulis yang relevan (Zed, 2004). Data yang
terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil analisis data disajikan dalam
bentuk uraian naratif.

Pembahasan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) saat ini sungguh pesat dan masif.
Hampir semua sendi kehidupan manusia kini tak lepas dari produk-produk teknologi canggih.
Sayangnya, pada banyak negara liberal dan sekuler, Iptek terus berkembang tanpa batas dan
kendali, bahkan melewati ambang nilai-nilai agama, sosial, dan budaya yang selama ini dipegang
teguh masyarakat.

Teknologi komunikasi dan informasi kini mengglobal, tak lagi menjadi privasi negara-
negara maju. Telepon genggam, internet, media sosial, dan beragam aplikasi cerdas kini
membanjiri Indonesia. Arus globalisasi memang tak terelakkan. Namun tanpa kewaspadaan,
nilai-nilai luhur bangsa Indonesia bisa tergerus habis.

Miris melihat remaja Barat yang terjerumus perilaku bebas tak bermoral akibat
membanjirnya konten digital negatif. Mereka kehilangan identitas dan jati diri bangsa.

Fenomena serupa bisa terjadi di Indonesia jika kita tidakwaspada. Sebagai bangsa
beradab, kita tidak bisa membiarkan generasi penerus terjerumus kebiadaban. Pancasila sebagai
ideologi dan falsafah bangsa wajib dijadikan filter. Pancasila memuat nilai-nilai luhurgotong
royong, kemanusiaan, persatuan, dan kerakyatan yang harus dijunjungtinggi. Mengembangkan
Iptek yang bertentangandengan Pancasila sama saja merusakIndonesia dari dalam.

Kita tentu tak bisa menolak arus globalisasi. Namun kita harus pintar-pintar
menyaringnya. Teknologi yang tidak selaras dengan jati diri bangsa seperti senjata canggih atau
aplikasi porno harus ditolak mentah-mentah. Sebaliknya, kita perlu mendorong pengembangan
teknologi yang memajukan kesejahteraan dan persatuan seperti e-commerce untuk UMKM dan
internet untuk daerah 3T.

Dengan begitu, Indonesia bisa menikmati kemajuan teknologi tanpa harus kehilangan
nilai-nilai luhur bangsa. Kita bisa menjadi bangsa maju yang bermartabat, bukan bangsa canggih
namun bejat.

Mewujudkan hal ini tentu membutuhkan kerja keras bersama antara pemerintah,
akademisi, pelaku industri, dan seluruh elemen masyarakat. Mari kita pupuk nilai-nilai Pancasila
sejak dini kepada generasi muda, agar mereka tumbuh menjadi penerus bangsa yang berkarakter
kuat dan berbudaya tinggi.
Dalam menyikapi tantangan globalisasi dan perkembangan IPTEK, Indonesia perlu
menerapkan pendekatan filosofis Pancasila secara utuh dan menyeluruh. Menurut Notonagoro,
ada tiga nilai hakiki Pancasila yang relevan diterapkan, yaitu:

1. Nilai-nilai Ketuhanan
Pancasila menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai nilai pertama dan utama.
Ini mencerminkan bahwa negara dan bangsa Indonesia memiliki landasan spiritual
yang kokoh. Dalam menghadapi arus globalisasi, kita perlu mengedepankan nilai-
nilai moral dan etika yang bersumber dari ajaran agama dan budaya luhur bangsa.
2. Nilai-nilai Kemanusiaan
Pancasila sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat setiap manusia Indonesia
tanpa terkecuali. Oleh karena itu, hasil kemajuan IPTEK harus dapat dinikmati
seluruh rakyat tanpa diskriminasi, untuk meningkatkan kesejahteraan dan memenuhi
hak-hak dasar manusia.
3. Nilai-nilai Persatuan
Globalisasi berpotensi menciptakan ketimpangan dan konflik sosial. Oleh karena itu,
semangat persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial harus dikedepankan dalam
pembangunan agar seluruh elemen bangsa bisa bersatu dan maju bersama.

Contoh penerapannya dalam kebijakan publik:

1. Memberikan pendidikan agama dan Pancasila sejak dini untuk membentuk karakter
bangsa.
2. Mengembangkan teknologi yang ramah disabilitas dan inklusif gender untuk
menjunjung harkat seluruh warga.
3. Membuat marketplace online untuk produk UMKM daerah 3T agar mereka bisa ikut
merasakan kemajuan ekonomi digital.

Dengan menerapkan ketiga nilai hakiki Pancasila ini dalam menyikapi tantangan zaman,
Indonesia dapat memanfaatkan segala aspek positif kemajuan IPTEK global tanpa harus
kehilangan jati diri sebagai bangsa timur yang berbudi luhur. Kita dapat mewujudkan masyarakat
Indonesia yang maju, mandiri, adil, dan makmur sesuai cita-cita para pendiri bangsa.
Selain berpotensi merusak nilai-nilai luhur bangsa, globalisasi dan perkembangan IPTEK
yang tak terkendali juga berisiko menciptakan ketimpangan sosial dan ekonomi yang semakin
lebar di Indonesia. Kemajuan teknologi saat ini banyak didominasi oleh perusahaan-perusahaan
raksasa dari negara maju. Jika kita tidak waspada, mereka bisa menguasai dan memonopoli
perekonomian digital Indonesia. Hal ini tentu bertentangan dengan nilai keadilan sosial dan
kemakmuran bersama yang terkandung dalam Pancasila.

Oleh karena itu, Indonesia perlu membangun kemampuan IPTEK sendiri yang
disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya dengan mendorong penelitian dan
pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan kedaulatan pangan, atau teknologi
finansial yang mempermudah UMKM dalam mengakses modal usaha.

Cara lain adalah dengan memberdayakan talenta digital dan startup lokal. Pemerintah
perlu menciptakan ekosistem yang mendukung entrepreneurship teknologi dalam negeri,
sehingga Indonesia bisa melahirkan decacorn sendiri seperti Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak.

Dengan demikian, manfaat teknologi bisa dirasakan secara adil dan merata oleh seluruh
rakyat Indonesia. Ini sejalan dengan semangat kebersamaan dan gotong royong yang terkandung
dalam sila ke-5 Pancasila.

Pada akhirnya, tantangan besar bangsa Indonesia ke depan adalah bagaimana mengambil
manfaat positif dari kemajuan IPTEK global tanpa harus kehilangan nilai-nilai luhur warisan
leluhur. Kita harus pintar-pintar menjaga keseimbangan agar tetap menjadi bangsa yang maju,
berdaulat, dan bermartabat.

Daftar Pustaka

Anwar, C. (2019). Tantangan Pendidikan Pancasila di Era Globalisasi. Jurnal Civics, 16(2), 166-
175.

Aziz, A. (2020). Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi.


Jurnal Politikom Indonesiana, 5(1), 28-37.

Creswell, J. W. (2013). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods


approaches. Sage publications.
Dewi, I.G.A.M.R. (2021). Pancasila sebagai Filter Globalisasi. Kajian Bali, 11(2), 1-10.

Fatwa, A. (2022). Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi terhadap Eksistensi Budaya


Lokal pada Era Globalisasi. Mediapsi, 3(1), 12-19.

Frans Magnis Suseno. (2001). Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup
Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

J Kristiadi. (1996). Relevansi Pancasila Dalam Era Globalisasi. Jakarta: Centre for Strategic and
International Studies.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Konsep dan Implementasi Pancasila dalam
Pembangunan Bangsa. Jakarta: Kemendikbud.

Nasution, D.A.D. (2018). Pancasila sebagai Ideologi Negara Dalam Menghadapi Tantangan
Globalisasi. Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum, 12(3), 265-280.

Notonagoro. (1975). Pancasila Secara Ilmiah Populer. Jakarta: Pantjasila.

Permana, C.E. (2021). Strukturasi Teknologi Media Sosial dan Kultur Literasi Digital Kalangan
Generasi Milenial. Jurnal ASPIKOM, 5(1), 155-176.

Permana, C.G. (2020). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai Sarana


Deradikalisasi Paham Radikal dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi. Jurnal Civics,
17(2), 158-166.

Sudiarja, A. (2020). Implementasi Nilai-nilai Pancasila pada Era Digital di Indonesia. Jurnal
Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 17(2), 144-150.

Tilaar, H.A.R. (2004). Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam


Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo.

Creswell, J.W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative and Mixed Methods
Approaches. SAGE Publications.

Kothari, C.R. (2004). Research Methodology: Methods and Techniques. New Age International.

Anda mungkin juga menyukai