BAB 1.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Elastisitas merupakan salah satu sifat penting suatu bahan. Plastisitas suatu
bahan bergantung pada elastisitas bahan tersebut. Elastik sendiri artinya “mudah
kembali ke bentuk semula” (Kamus Online Indonesia) [1]. Pengukuran elastisitas
suatu bahan dapat digambarkan dengan konstanta, khususnya modulus elastisitas
atau modulus Young. Nilai konstanta modulus Young penting dalam pemilihan
bahan untuk digunakan dalam proyek. Misalnya pemilihan material yang
digunakan untuk jembatan harus memperhatikan nilai modulus Young dari
material yang digunakan. Karena jembatan selalu terkena angin dan beresonansi ,
maka bahan yang digunakan harus memiliki elastisitas agar jembatan tidak putus.
Thomas Young (lahir 13 Juni 1773 di Milverton, Somerset, Inggris – meninggal
10 Mei 1829 di London), adalah seorang dokter dan fisikawan. Dialah orang
pertama yang mengusulkan konstanta Young [2]. Pada tahun 1807, Thomas Young
mengusulkan modul Young dan memberinya simbol “E”. (eddy ibrahim,2009)
Modulus Young adalah perbandingan antara tegangan (tekanan) dan
regangan (perbandingan antara perubahan panjang dan panjang asli bahan).
Sebelumnya, Robert Hooke (1635-1708) menemukan hubungan antara perubahan
panjang dan gaya yang bekerja pada suatu benda. Hubungan ini sering disebut
dengan hukum Hooke. Modulus Young dan hukum Hooke mempunyai hubungan
yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dalam rentang tertentu.
Fenomena ini akan dijelaskan pada bab berikutnya. Saat ini, teknologi semakin
maju dan eksperimen fisika menjadi lebih mudah dan cepat. Pemrosesan data
lebih cepat dan dilakukan secara otomatis. Salah satu teknologi yang dapat
mencapai hal tersebut adalah mikrokontroler. Dengan teknologi tersebut penulis
ingin membuat sebuah perangkat aplikasi yang dapat menghitung konstanta
modulus Young material Perangkat ini akan secara otomatis dan cepat menghitung
nilai konstanta dengan mengambil nilai tegangan dan regangan material.(netty
kurniawati,2009)
82
83
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa tujuan dari praktikum Modulus Young?
2. Bagaimana Cara kerja dial indikator pada praktek modulus young ?
1.3 Tujuan Praktikum
1. Untuk menentukan nilai modulus young pada berbagai jenis logam
2. Untuk mengetahui Langkah kerja praktikum modulus young
1.4 Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa dapat menentukan nilai modulus pada berbagai jenis logam
2. Mahasiswa dapat mengetahui Langkah kerja praktikum modulus young
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Elastis
Elastisitas merupakan suatu sifat yang dimiliki suatu benda untuk kembali
ke bentuk awalnya setelah gaya luar dihilangkan. Perubahan tersebut dapat berupa
perubahan pertambahan panjang atau pengurangan panjang benda. benda dapat
dikatakan elastik sempurna artinya jika setelah gaya penyebab perubahan bentuk
dihilangkan maka benda akan kembali ke bentuk asalnya. Sifat dari elastik adalah
lentur, fleksibel, dapat mengikuti bentuk dan tidak getas. Banyak benda yang
hampi relastik sempurna, yaitu sampai deformasi yang terbatas disebut limit
elastiknya, dan apabila gaya-gaya dihilangkan, maka benda tersebut tidak kembali
ke bentuk [Link] bahan mendekati sifat tidak elastik sempurna dan
menujukkan tidak ada kecenderungan untuk kembali ke bentuk semula setelah
gaya dihilangkan. Bahan ini disebut bersifat pelastik yakni getar, keras namun
relatif mudah hancur dibanding benda pejal atau solid.
Sebenarnya perbedaan antara sifat elastik dan pelastik hanyalah terletak
pada tingkatan dalam besar atau kecilnya deformasi yang terjadi. Anggap saja
benda-benda ini bersifat homogen dan isotropik. Homogen berarti padasetiap
bagian benda mempunyai kerapatan sama. Sedangkan isotropik artinya padasetiap
titik pada benda mempunyai sifat-sifat fisis sama kesegala arah [Ganijanti,Aby
Sarojo. 2002:318].
2.2 Tegangan
Tegangan merupakan gaya yang dikenai pada suatu benda per satuan luas
penampang. Tegangan dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Salah satunya
adalah tegangan permukaan yaitu gaya yang dikerahkan ke bidang permukaan per
satuanluas panjang. Tegangan permukaan dinyatakan sebagai gaya per satuan
panjang yang diperlukan untuk memperluas permukaan. Simbol yang digunakan
untuk tegangan permukaan adalah γ dan satuannya adalah dyne/cm. Tegangan
permukaan atau tegangan antar muka adalah suatu gaya nyata yang efeknya
84
tampak pada tingkat makroskopik seperti halnya pada tingkat molekuler. Hal ini
dapat
85
86
dilukiskan dengan meletakkan sebuah kerangka kawat dengan batang yang dapat
bergerak dalam larutanenergi per satuan luas jika kerja yangdiperlukan untuk
memindahkan batang yang bergerak dengan suatu jarak kecil. Kebanyakan antar
yang tercakup dalam system farmasetik berbentuk lengkung. Tegangan dapat
diformulasikan sebagai berikut
F
σ¿ ………...…………………………(1)
A
keterangan:
σ = Tegangan (N/m2)
F = Gaya Tarikan (N)
A = Luas Penampang(m2)
2.3 Regangan
Regangan merupakan perubahan bentuk akibat tegangan, diukur sebagai
rasio perubahan dari sejumlah dimensi benda terhadap dimensi awal dimana
perubahan terjadi. Jika suatu benda ditarik atau ditekan, gaya P yang diterima
benda mengakibatkan adanya ketegangan antarpartikel dalam material yang
besarnya berbanding lurus. Perubahan tegangan partikel ini menyebabkan adanya
pergeseran struktur material regangan atau himpitan yang besarnya juga
berbanding lurus. Karena adanya pergeseran, maka terjadilah deformasi bentuk
material misalnya perubahan panjang menjadi L + ∆L (atau L - ∆L). Dimana L
adalah panjang awal benda dan ∆L adalah perubahan panjang yang terjadi. Rasio
perbandingan antara ∆L terhadap L inilah yang disebut strain (regangan) dan
dilambangkan dengan “ε” (epsilon). Dengan demikian didapatkan rumus
(Gandavi,2010).
∆L
€= …………………………………...
L
(2)
87
BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksankan pada hari selasa, 12 September 2023, pukul 07.00 -
[Link] ini dilakukan di Labolatorium perancangan mekanik, Fakultas
Teknik, Universitas Jember.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
a. Dial Gauge
Diel gauge alat ukur ini digunakan untuk mengukur serta memeriksa
kerataan pada sebuah bidang atau benda. Skala pengukurannya sendiri
sangat kecil. Bentuk fisik dial indicator adalah seperti jam analog yang
memiliki dua sampai tiga jarum penunjuk.
Gambar 3.1 Dial Gauge
b. Jangka Sorong
Jangka sorongn Adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai
seperseratus milimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam dan bagian
bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan
ketelitian pengguna maupun alat
88
Gambar 3.2 Jangka Sorong
c. Penggaris
Penggaris digunakan sebagai alat ukur panjang pada praktikum
ini,penggaris digunakan untuk untuk mengukur variasi jarak pada statif.
Gambar 3.3 Penggaris
d. Beban
Beban digunakan sebagai pemberat. Pada praktikum ini,beban digunakan
untuk pemberat pada ujung atau tengah penampang logam.
Gambar 3.4 Beban
e. Statif
Statif digunakan untuk menggeser penampang logam sesuai dengan panjang
yang sudah ditentukan.
Gambar 3.5 Statif
3.2.2 Bahan
a. Plat
Plat ini digunakan sebai bahan praktikum yang di tekan oleh dial gauge
Untuk diketahui kelenturannya
Gambar 3.6
3.3 Langkah Kerja
1. Sebelum melakukan pengukuran menggunakan dial indicator yaitu
memposisikan spindle agar hasil pengukuran akurat
2. Set nol atau memastikan ukuran awal sebelum pengukuran itu bernilai nol
sehingga hasilnya benar-benar sesuai dengan kenyataan atau realitasnya.
3. Lakukan proses Pengukuran Dial Indicator atau Dial gauge
Pengukuran kerataan permukaan,pengukuran kemiringan, Pengukuran
kelonjongan poros, Pengukuran run out, Pengukuran kedalaman alur
4. Melakukan Proses Pembacaan Dial Indicator atau Dial Gauge
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Praktikum