SURAT KEPUTUSAN
Nomor : Skep/012/UNJAYA/II/2021
tentang
PENCEGAHAN DAN PENANGANAN PELECEHAN KEKERASAN SEKSUAL
DAN PERUNDUNGAN
REKTOR UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA,
Menimbang : a. bahwa perguruan tinggi sebagai satuan pendidikan penyelenggara
pendidikan tinggi wajib memberikan perlindungan diri pribadi,
kehormatan, martabat, dan hak atas rasa aman bagi sivitas
akademika dan tenaga kependidikan dari ancaman dan praktik
kekerasan seksual dan/atau perundungan;
b. bahwa kasus kekerasan seksual dan/atau perundungan di
Perguruan Tinggi sudah pada tahap yang sangat memprihatinkan
sehingga harus ada mekanisme dan prosedur formal untuk
mencegah dan menanganinya;
c. bahwa untuk mencegah dan menangani terjadinya praktik
kekerasan seksual di Universitas Jenderal Achmad Yani
Yogyakarta, perlu pedoman pencegahan dan penanganan
kekerasan seksual dan/atau perundungan;
d. bahwa ketentuan mengenai pencegahan dan penanganan
kekerasan seksual dan/atau perundungan merupakan bagian dari
Kode Etik Mahasiswa;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu menetapkan Peraturan
Rektor tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual
dan Perundungan;
Mengingat : 1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3209);
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4301);
4. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan
Saksi dan Korban (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2006 Nomor 64, Supplement to State Gazette of Republic of
Indonesia No. 4 4635) sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 293);
5. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4843) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2016 Nomor 251);
6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5336);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan
Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5500);
8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional
Pendidikan Tinggi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020
Nomor 47);
Memperhatikan : 1. Keputusan Ketua Umum Yayasan Kartika Eka Paksi Nomor
Kep/15/YKEP/IV/2012 tanggal 2 April 2012, tentang Peraturan
Pembinaan Pegawai Perguruan Tinggi di Lingkungan Yayasan Kartika Eka
Paksi sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Ketua Pengurus YKEP
Nomor Kep/15a/YKEP/IV/2012 tanggal 25 Mei 2015;
2. Keputusan Ketua Pengurus Yayasan Kartika Eka Paksi Nomor
Kep/22/YKEP/III/2018 tanggal 7 Maret 2018, tentang Struktur dan
Organisasi Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta;
3. Pertimbangan Pimpinan Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : 1. Pemberlakuan Peraturan Rektor tentang Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan Seksual dan Perundungan berlaku untuk seluruh Sivitas
Akademika Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta sebagimana
terlampir.
2. Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Dengan Catatan:
Apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam Surat
Keputusan ini, akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.
Salinan Surat Keputusan ini disampaikan kepada:
1. Ketua BPH Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
2. Para Wakil Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
3. Para Dekan Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
4. Ka/Ke Unit Kerja Rektorat Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
5. Para Ka. Biro Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
Demikian Surat Keputusan ini untuk disosialisasikan, dipedomani, dan
dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di Y o g y a k a r t a
pada tanggal 1 Februari 2021
Rektor,
Dr. Drs. Djoko Susilo, S.T., M.T., IPU.
Lampiran Skep Rektor Unjaya
Nomor : Skep/012/UNJAYA/II/2021
Tanggal 1 Februari 2021
PERATURAN REKTOR TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN
KEKERASAN SEKSUAL DAN PERUNDUNGAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Rektor ini yang dimaksud dengan:
(1) Universitas adalah Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta .
(2) Sivitas Akademika adalah masyarakat akademik yang terdiri atas dosen dan
mahasiswa.
(3) Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama
mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu
pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian
kepada masyarakat.
(4) Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di Universitas Jenderal
Achmad Yani Yogyakarta.
(5) Tenaga Kependidikan adalah pegawai yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan
pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan
yang mempunyai jenjang karier tertentu.
(6) Kekerasan Seksual adalah setiap perbuatan yang merendahkan dan/atau
menyerang terhadap tubuh, keinginan seksual, dan/atau fungsi reproduksi
seseorang, dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, baik secara fisik maupun
psikis, atau bertentangan dengan kehendak seseorang serta dalam kondisi
seseorang itu serta tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas
yang memanfaatkan kerentanan, ketidaksetaraan, atau ketergantungan
seseorang berdasarkan jenis kelamin yang dapat disertai dengan status sosial
lainnya, berakibat atau dapat mengakibatkan penderitaan atau kesengsaraan
fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, dan/atau budaya terhadap
Sivitas Akademika dan Tenaga Kependidikan Universitas Jenderal Achmad Yani
Yogyakarta.
(7) Perundungan adalah proses, cara, perbuatan seseorang yang menggunakan
kekuatan untuk menyakiti atau mengintimidasi orang yang lebih lemah darinya
secara berulang-ulang dengan memaksanya untuk melakukan apa yang
diinginkan oleh pelaku yang memiliki kekuasaan.
(8) Pengelolaan Tindak Kekerasan Seksual dan Perundungan dikelola oleh bidang
Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan adalah berfungsi sebagai
penyelenggara pelayanan terpadu korban Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan yang dikelola oleh Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.
(9) Ancaman adalah setiap perbuatan secara melawan hukum berupa ucapan,
tulisan, gambar, simbol, atau gerakan tubuh, baik dengan atau tanpa
menggunakan sarana yang menimbulkan rasa takut atau mengekang kebebasan
hakiki seseorang.
(10) Korban adalah Sivitas Akademika dan/atau Tenaga Kependidikan Universitas
Jenderal Achmad Yani Yogyakarta yang mengalami penderitaan fisik, mental,
dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan.
(11) Pelaku adalah setiap orang yang melakukan Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan.
(12) Saksi adalah setiap orang yang memberikan keterangan guna kepentingan
pemeriksaan di Komisi Etik.
(13) Pelapor adalah orang yang memberikan laporan, informasi, atau keterangan
kepada Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan dan/atau Komisi Etik
mengenai tindak Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan.
(14) Pencegahan adalah segala tindakan dan upaya yang dilakukan untuk
menghilangkan berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya Kekerasan
Seksual dan/atau Perundungan.
(15) Penanganan adalah tindakan yang dilakukan untuk memberikan layanan
laporan/pengaduan, layanan kesehatan, rehabilitasi psikososial, penegakan
kode etik dan hukum, bantuan hukum, dan reintegrasi sosial.
(16) Pendampingan adalah proses pemberian konsultasi, bimbingan, dan penguatan
yang diberikan pendamping kepada Korban dalam mengidentifikasi kebutuhan
dan memecahkan masalah serta mendorong tumbuhnya inisiatif dalam proses
pengambilan keputusan, sehingga kemandirian Korban dapat diwujudkan.
(17) Perlindungan adalah segala bentuk perlindungan fisik dan mental dari ancaman,
gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak manapun.
(18) Pemulihan adalah segala upaya untuk menguatkan kemampuan sosial, politik,
budaya, dan ekonomi Korban sehingga Korban dapat melanjutkan kehidupan
yang lebih bermartabat dan sejahtera.
BAB II
ASAS, RUANG LINGKUP, DAN TUJUAN
Pasal 2
Asas
Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan didasarkan pada asas:
a. penghargaan atas harkat dan martabat manusia;
b. nondiskriminasi;
c. kepentingan terbaik bagi Korban;
d. jaminan ketidakberulangan;
e. keadilan; dan
f. kepastian hukum.
Pasal 3
Ruang Lingkup
Ruang lingkup pencegahan dan penanganan Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan meliputi:
a. pelayanan;
b. pemeriksaan;
c. perlindungan;
d. pemulihan;
e. pendampingan;
f. penindakan Pelaku; dan
g. pengawasan.
Pasal 4
Tujuan
Tujuan pencegahan dan penanganan Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan
adalah:
a. menjaga standar nilai dan harkat kemanusiaan di Universitas Jenderal Achmad
Yani Yogyakarta, serta melindungi Sivitas Akademika dan Tenaga Kependidikan
Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta dari segala bentuk Kekerasan
Seksual dan/atau Perundungan;
b. mencegah terjadinya Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan yang dilakukan
terhadap Sivitas Akademika dan/atau Tenaga Kependidikan Universitas Jenderal
Achmad Yani Yogyakarta;
c. memberikan pelayanan, perlindungan, pemulihan, dan pemberdayaan Korban
dengan memastikan adanya langkah-langkah yang tepat dalam rangka
pencegahan dan penanganan Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan yang
dilakukan oleh dan/atau terhadap Sivitas Akademika dan Tenaga Kependidikan
Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta;
d. melaksanakan program anti Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan di
Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta berbasis pada pengarusutamaan
gender (PUG) yang berlandaskan Pancasila, nilai Juang Jenderal Achmad Yani ;
e. membangun dukungan dan penerimaan keluarga dan masyarakat Universitas
Jenderal Achmad Yani Yogyakarta yang kondusif terhadap Korban; dan
f. mendorong pengembangan keilmuan multi disipliner terkait pencegahan dan
penanganan Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan.
BAB III
JENIS KEKERASAN SEKSUAL DAN PERUNDUNGAN
Pasal 5
Kekerasan Seksual
Kekerasan Seksual yang dimaksud dalam Peraturan Rektor ini, meliputi:
a. tindakan fisik atau nonfisik terhadap orang lain yang berhubungan dengan bagian
tubuh seseorang atau terkait dengan hasrat seksual, sehingga mengakibatkan
orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, tidak aman, dan/atau
dipermalukan;
b. kekerasan, ancaman kekerasan, tipu daya, rangkaian kebohongan, pemaksaan,
penyalahgunaan kepercayaan, dan/atau menggunakan kondisi seseorang yang
tidak mampu memberikan persetujuan, agar seseorang melakukan hubungan
seksual atau interaksi seksual dengannya atau dengan orang lain, dan/atau
perbuatan yang memanfaatkan tubuh orang tersebut yang terkait dengan hasrat
seksual, dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain;
c. kekerasan, ancaman kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, atau tipu muslihat,
atau menggunakan kondisi seseorang yang tidak mampu memberikan
persetujuan untuk melakukan hubungan seksual; dan/atau
d. memaksa orang lain untuk melakukan aborsi dengan kekerasan, ancaman
kekerasan, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, penyalahgunaan kepercayaan,
penyalahgunaan kekuasaan, dan/atau menggunakan kondisi seseorang yang tidak
mampu memberikan persetujuan.
Pasal 6
Perundungan
Perundungan yang dimaksud dalam Peraturan Rektor ini, terdiri atas:
a. perundungan fisik;
b. perundungan verbal;
c. perundungan sosial;
d. perundungan siber; dan
e. perundungan seksual.
BAB IV
PENCEGAHAN
Pasal 7
(1) Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta melakukan pencegahan terhadap
Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan meliputi:
a. desiminasi program dan kebijakan anti Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan baik secara konvensional atau dengan menggunakan teknologi
informasi;
b. menyediakan program dan anggaran untuk pencegahan Kekerasan Seksual
dan/atau Perundungan;
c. meningkatkan pemahaman anti Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan
melalui materi orientasi pengenalan akademik kampus, perkuliahan, seminar,
diskusi, kampanye publik, pelatihan maupun melalui media lain baik cetak
maupun elektronik serta dengan memanfaatkan teknologi informasi di
Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta;
d. melakukan penataan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman;
e. mendorong pengembangan kajian keilmuan dan dokumentasi berkelanjutan
tentang Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan berbasis pada
pengarusutamaan gender yang berlandaskan Pancasila, nilai-nilai, dan jati
diri Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta; dan
f. mengembangkan dan meningkatkan program konsultasi dan bantuan hukum
tentang Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan untuk Sivitas Akademika
dan Tenaga Kependidikan Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.
(2) Pencegahan Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Wakil Rektor I untuk Mahasiswa dan Wakil
Rektor II untuk Dosen dan Tenaga pendidik.
BAB V
PENANGANAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DAN/ATAU PERUNDUNGAN
Pasal 8
Pelayanan
(1) Pelayanan kepada Korban Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan meliputi:
a. pelayanan awal; dan
b. pelayanan lanjutan.
(2) Pelayanan awal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diberikan
terhadap Korban yang membutuhkan penanganan secara cepat, paling lambat 3
x 24 jam sejak Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan menerima laporan
dugaan Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan.
(3) Pelayanan awal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. pelayanan medis dan/atau psikologis;
b. penerimaan dan dokumentasi data jenis Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan;
c. konseling;
d. pendampingan;
e. perlindungan keamanan;
f. penyediaan tempat tinggal sementara;
g. perlindungan terhadap kerahasiaan identitas; dan/atau
h. layanan lain yang diperlukan.
(4) Pelayanan lanjutan Korban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,
dilakukan setelah menerima rekomendasi tindak lanjut penanganan Kekerasan
Seksual dan/atau Perundungan dari Kepegawaian dan atau bidang
Kemahasiswaan dan/atau Komisi Etik;
(5) Pelayanan lanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan sesuai
dengan kebutuhan Korban.
Pasal 9
Laporan dan Dokumentasi Pemeriksaan
Laporan dan dokumentasi pemeriksaan, meliputi:
a. Pelapor/Korban mendaftarkan laporan ke Kepegawaian dan atau bidang
Kemahasiswaan;
b. Pelapor/Korban mendaftarkan laporan dengan mengisi formulir yang telah
disediakan;
c. formulir pendaftaran berisi keterangan mengenai:
1. identitas Pelapor/Korban dan terlapor;
2. penjelasan ringkas tentang peristiwa Kekerasan Seksual
dan/atau Perundungan yang paling sedikit memuat:
3. waktu dan tempat kejadian perkara;
4. kronologis perkara;
5. bentuk Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan;
6. informasi tentang Saksi atau pihak lain yang dapat dimintai keterangan terkait
dengan peristiwa Kekerasaan Seksual dan/atau Perundungan;
7. informasi lain yang relevan terkait Kekerasaan Seksual dan/atau Perundungan;
dan
8. permintaan Pelapor/Korban.
d. Pelapor harus melampirkan alat bukti yang mendukung laporan pada saat
mendaftarkan laporannya;
e. pendaftaran laporan dapat dilakukan secara online;
f. penerima laporan wajib merahasiakan segala bentuk data dan informasi yang
diberikan oleh Pelapor/Korban;
g. Korban tidak dapat dituntut secara pidana, administrasi dan/atau perdata
terhadap peristiwa Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan yang dilaporkan
dan/atau diadukan;
h. dalam hal Pelapor tidak berstatus sebagai Korban kekerasaan seksual dan/atau
Perundungan secara langsung, namun mengetahui adanya peristiwa kekerasaan
seksual dan/atau Perundungan, maka laporan wajib menyertakan surat kuasa
dari Korban sebagai pemberi kuasa kepada Pelapor sebagai penerima kuasa; dan
i. Kepegawaian dan/atau Kemahasiswaan melaporkan kepada Wakil Dekan yang
menangani masalah ini untuk dilanjutkan kepada Komisi Disiplin.
Pasal 10
Verifikasi dan Validasi Laporan
Komisi Disiplin melakukan:
1 verifikasi dan validasi laporan peristiwa Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan;
2 pencarian fakta dan penilaian kepada orang perseorangan, kelompok, pejabat,
lembaga terkait yang diduga melakukan tindakan yang menghalangi penghapusan
Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan; dan
3 pembuatan berita acara pemeriksaan dan hari sidang Komisi Disipin.
Pasal 11
Perlindungan
(1) Perlindungan terhadap Korban, Saksi, dan pihak lain dilakukan sejak Korban
melaporkan ke Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan.
(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pencatatan dan perekaman terhadap ancaman atau bentuk kekerasan lain
yang dilakukan oleh Pelaku terhadap Korban selama menjalani pemeriksaan
di Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan sebagai bahan rekomendasi
kepada Komisi Etik di dalam penjatuhan sanksi;
b. perlindungan terhadap akses melaksanakan kegiatan akademik, penelitian,
dan/atau pengabdian kepada masyarakat;
c. perlindungan terhadap identitas Korban, Saksi, pihak lain dan/atau Pelapor;
dan
d. perlindungan hak atas informasi perkembangan penanganan kasus.
Pasal 12
Pemulihan
(1) Pemulihan dilakukan terhadap Korban sejak adanya pelaporan, saat
pemeriksaan sampai dengan selesainya proses penindakan terhadap Pelaku.
(2) Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan memberikan informasi tentang
layanan pemulihan kepada Korban.
(3) Pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. layanan kesehatan lanjutan;
b. penguatan psikologis kepada Korban;
c. rujukan penyediaan bimbingan rohani dan spiritual;
d. penguatan dukungan keluarga, Sivitas Akademika dan
komunitas untuk pemulihan Korban; dan
e. adanya jaminan terhadap keberlanjutan akademik, penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat di Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.
Pasal 13
Pendampingan
(1) Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan melakukan pendampingan
Korban Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan;
(2) Pendampingan Korban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibantu oleh:
a. konselor;
b. psikolog;
c. psikiater;
d. pendamping hukum; dan/atau
e. pendamping lain sesuai kebutuhan.
Pasal 14
Penindakan Pelaku
(1) Penindakan terhadap Pelaku dilaksanakan melalui:
a. pemeriksaan oleh Komisi Etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf i;
dan
b. rekomendasi oleh Komisi Etik.
(2) Tata cara pemeriksaan dan rekomendasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Dekan.
(3) Penindakan terhadap Pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
menghalangi mekanisme administrasi disiplin pegawai dan mekanisme hukum dalam hal
Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan dilakukan oleh pegawai Universitas Jenderal
Achmad Yani Yogyakarta .
Pasal 15
Pengawasan
(1) Pengawasan dilakukan terhadap pelaksanaan setiap tahapan penanganan kasus
Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Wakil
Rektor dengan Wakil Dekan sesuai dengan bidangnya.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pemantauan dan penilaian atas pelaksanaan Peraturan Rektor ini;
b. pemantauan dan penilaian atas kebijakan tingkat Universitas, Fakultas,
Program Studi, Laboratorium, Unit dan Lembaga terkait yang dinilai
berpotensi menimbulkan kerentanan, mengurangi, membatasi atau
menghilangkan hak-hak Korban yang diatur dalam Peraturan Rektor ini; dan
c. pemberian hasil dan rekomendasi pengawasan disampaikan kepada
Universitas, Fakultas, Program Studi, Laboratorium, Unit dan Lembaga
terkait.
BAB VI
UNIT PELAYANAN TERPADU
Pasal 16
(1) Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan berkedudukan di Fakultas.
(4) Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan dikoordinasi oleh Wakil Rektor,
Wakil Dekan sesuai dengan bidangnya.
(2) Susunan organisasi, keanggotaan, tugas, dan wewenang Kepegawaian dan atau
bidang Kemahasiswaan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Rektor.
BAB VII
PENDANAAN
Pasal 17
Universitas dan Fakultas mengalokasikan dana untuk penyelenggaraan pencegahan
dan penanganan Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan.
BAB VIII
LARANGAN DAN SANKSI
Pasal 18
(1) Setiap Sivitas Akademika dan Tenaga Kependidikan Universitas Jenderal
Achmad Yani Yogyakarta dilarang melakukan Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan.
(2) Setiap anggota Kepegawaian dan atau bidang Kemahasiswaan dan Komisi Etik
dilarang:
a. membuka dan menyebarluaskan identitas Korban, Saksi, dan/atau Pelaku;
dan
b. menyebarluaskan perkembangan proses penanganan kasus kepada selain
Korban.
(3) Setiap pegawai Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta yang melakukan
Kekerasan Seksual dan Perundungan dikenai sanksi berdasarkan ketentuan
yang ada
(4) Setiap mahasiswa yang melakukan Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan
dikenai sanksi sesuai ketentuan kode etik mahasiswa.
(5) Setiap orang selain Sivitas Akademika dan Tenaga Kependidikan Universitas
Jenderal Achmad Yani Yogyakarta yang melakukan Kekerasan Seksual dan/atau
Perundungan dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 19
Dengan berlakunya ketentuan ini, ketentuan lain yang terkait dengan pencegahan
dan penanganan Kekerasan Seksual dan/atau Perundungan dinyatakan tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan ini.
Ditetapkan di Yogyakarta
pada tanggal 1 Februari 2021
Rektor,
Dr. Drs. Djoko Susilo, S.T., M.T., IPU.