0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan13 halaman

Panduan Lengkap Physical Sunscreen

Makalah ini membahas pentingnya penggunaan physical sunscreen di Indonesia, yang memiliki paparan sinar UV tinggi. Physical sunscreen berfungsi melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari, dengan komposisi utama seperti zinc oxide dan titanium dioxide. Selain itu, makalah ini juga menjelaskan pemilihan, formulasi, dan kontrol kualitas produk sunscreen yang sesuai dengan jenis kulit dan aktivitas individu.

Diunggah oleh

Sulistiati Tasik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan13 halaman

Panduan Lengkap Physical Sunscreen

Makalah ini membahas pentingnya penggunaan physical sunscreen di Indonesia, yang memiliki paparan sinar UV tinggi. Physical sunscreen berfungsi melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari, dengan komposisi utama seperti zinc oxide dan titanium dioxide. Selain itu, makalah ini juga menjelaskan pemilihan, formulasi, dan kontrol kualitas produk sunscreen yang sesuai dengan jenis kulit dan aktivitas individu.

Diunggah oleh

Sulistiati Tasik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH SEDIAAN PERAWATAN KULIT

PHYSICAL SUNSCREEN

Oleh:

Kelompok 1
Sulistiana Tasik (218114039)
Noviana Toban (218114041)
Resti Ambarwati (218114042)
Felix Marvel Sibarani (218114046)
Glory Ivanna Ardine (218114047)
Albert Raharja (218114068)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2023
Kata Pengantar

Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan Rahmat-Nya, penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Sediaan Perawatan Kulit: Physical Sunscreen” dengan
tepat waktu. Makalah disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sediaan Perawatan Kulit. Tidak lupa kami
ucapkan terima kasih kepada Ibu apt. Dina Christin Ayuning Putri, [Link]. selaku dosen pengampu yang sudah
membimbing kami dalam pembuatan makalah ini. Selain itu, makalah ini bertujuan untuk menambah
wawasan akan pentingnya penggunaan physical sunscreen bagi para pembaca dan juga bagi penulis. Ucapan
terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu diselesaikannya makalah ini.

Yogyakarta, 24 Maret 2023

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki paparan terhadap sinar matahari yang tinggi. Sinar
matahari yang sampai ke bumi adalah sinar ultraviolet (UV) yang memiliki panjang gelombang 10-400 nm.
Sinar UV dapat dibagi menjadi UVA, UVB, dan UVC dimana UVA dan UVB dapat mencapai permukaan bumi.
(Rosyidi, dkk, 2018). Sinar UV memang memiliki beberapa manfaat untuk manusia dimana berperan dalam
sintesis adanya vitamin D bagi tubuh serta dapat membunuh kuman dan bakteri. Namun, di samping manfaat
yang ada, sinar UV juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan kulit, seperti kulit terbakar (sunburn),
menyebabkan kusam, penuaan dini, hingga masalah yang lebih serius lagi seperti kanker kulit. Berdasarkan
data yang ada, Kerusakan akibat sinar UV diperkirakan sekitar 50% yang diakibatkan oleh radikal bebas
(Waode, dkk, 2015).
Sebagai masyarakat yang tinggal di daerah tropis, penggunaan sunscreen menjadi hal yang sangat
penting untuk dilakukan. Penggunaan sediaan topikal sunscreen atau sun lotion sebagai rutinitas dalam
tahapan perawatan kulit sangat bermanfaat untuk mencegah dan menghindari paparan buruk dari sinar
ultraviolet berlebih. Salah satu cara untuk dapat mencegah efek buruk paparan sinar matahari terhadap kulit
dapat dilakukan dengan menggunakan tabir surya (sunscreen) yang bersifat physical blocker. Nyatanya,
pentingnya kesadaran penggunaan sunscreen sebagai pelindung kulit di Indonesia masih kurang. Oleh karena
itu, makalah ini dibuat agar masyarakat lebih mengerti dan mengetahui peran penting sunscreen atau sun
lotion serta dapat mengedukasi bagaimana sunscreen dapat bekerja dengan baik.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan sunscreen?
2. Apa saja jenis sunscreen berdasarkan mekanisme kerja dan komposisinya?
3. Apa saja kandungan bermanfaat yang dapat digunakan sebagai physical blocker pada sunscreen?
4. Bagaimana pemilihan physical sunscreen berdasarkan jenis kulit dan aktivitas individu?
5. Bagaimana formulasi physical sunscreen sebagai produk perawatan kulit?
6. Apa saja kontrol kualitas physical sunscreen?
7. Apa yang dimaksud dengan SPF dan PA pada physical sunscreen?
8. Apa saja contoh produk physical sunscreen yang ada pasaran?
9. Bagaimana cara pengaplikasian physical sunscreen yang baik dan benar?

1.3 TUJUAN
1. Mengetahui pengertian dari sunscreen atau tabir surya.
2. Mengetahui jenis-jenis sunscreen berdasarkan mekanisme kerjanya.
3. Mengetahui kandungan bermanfaat yang digunakan dalam physical sunscreen.
4. Mengetahui pemilihan physical sunscreen berdasarkan jenis kulit, aktivitas individu, dan aspek
legalitas.
5. Mengetahui formulasi physical sunscreen sebagai produk perawatan kulit.
6. Mengetahui kontrol kualitas physical sunscreen
7. Mengetahui pengertian tentang SPF dan PA pada physical sunscreen.
8. Mengetahui berbagai macam produk physical sunscreen yang ada di pasaran.
9. Mengetahui cara pengaplikasian physical sunscreen yang baik dan benar.
BAB II
ISI

2.1 Pengertian Sunscreen


Sunscreen merupakan salah satu kosmetik skincare yang dapat melindungi kulit dari paparan sinar
matahari. Selain itu, tabir surya juga dapat digunakan pada bagian kulit yang telah rusak karena matahari.
Berdasarkan Peraturan BPOM (2022), sediaan tabir surya bermanfaat untuk melindungi kulit terhadap efek
buruk dari sinar matahari. Efek buruk tersebut salah satunya adalah penuaan dini. Sebagai kosmetik, tabir
surya sering digunakan dalam penggunaan harian pada daerah permukaan tubuh yang luas. Sunscreen juga
digunakan pada semua kelompok umur dan kondisi kesehatan yang bervariasi (Pratama dan Zulkarnain,
2015). Bahan dalam sunscreen biasanya disebut dengan filter UV, di antaranya yaitu filter UV organik
(kimiawi) dan filter UV anorganik (fisika) (Rosyidi dkk., 2018).
Terdapat berbagai macam bentuk sediaan sunscreen yang dapat disesuaikan dengan jenis kulit dan
aktivitas. Berikut macam-macam bentuk sunscreen.
a. Lotion
Bentuk tabir surya lotion cocok digunakan pada kulit normal cenderung berminyak dan kulit berminyak
karena kekentalannya yang rendah, tidak lengket dan mudah merata pada kulit
b. Cream
Tabir surya cream cocok digunakan pada kulit kering. Bentuk sediaan yang sering digunakan pada tabir
surya adalah sediaan krim. Adapun beberapa keuntungan krim, yakni memiliki nilai estetika yang cukup
tinggi dan tingkat kenyamanan dalam penggunaan yang cukup baik dibandingkan bentuk sediaan lainnya.
c. Gel
Water based gel cocok digunakan pada kulit berminyak dan pada pria.
d. Spray
Jenis tabir surya spray sudah dikenal dalam beberapa tahun ini terutama untuk anak-anak. Spray sangat
cocok digunakan pada area yang luas ditubuh.
e. Stick
Bentuk tabir surya stick efektif melindungi area yang sempit/terbatas dan menonjol seperti sekitar bibir,
hidung, lingkaran mata. Cocok digunakan selama aktivitas karena tahan lama dan tidak mudah mencair
yang dapat mengiritasi mata.
(Minerva, 2019)
2.2 Klasifikasi Sunscreen
Berdasarkan mekanisme kerjanya, physical sunscreen dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu sebagai
berikut.
a. Chemical sunscreen
Chemical sunscreen atau tabir surya organik bekerja melindungi kulit dengan cara menyerap sinar
matahari dan mengubahnya menjadi energi panas. Sunscreen ini disebut juga tabir surya organik. Tabir
surya ini diserap oleh kulit dan mempunyai potensi menimbulkan iritasi pada kulit dan tidak dapat
digunakan oleh bayi usia kecil 6 bulan. Beberapa contoh zatnya antara lain dioxybenzone, PABA oktil
salisilat, dan avobenzone (Minerva, 2019).
b. Physical sunscreen
Physical sunscreen bekerja melindungi kulit dengan cara memantulkan sinar matahari. Tabir surya ini
dikenal dengan nama sunblock/tabir surya anorganik. Tabir surya ini merupakan broad spectrum
(Spektrum luas) yang mampu melindungi dari sinar UV A dan UV B, bersifat stabil, potensi alergi yang
ditimbulkan rendah dan tidak diserap oleh kulit sehingga dapat dipakai pada anak-anak. Tabir surya fisik
merupakan tabir surya ideal menurut Food Drug Administration (FDA). Kedua zat yang termasuk physical
sunscreen antara lain titanium dioksida dan seng oksida (Minerva, 2019).
2.3 Komposisi Bahan Khusus pada Physical Sunscreen
Bahan Tabir Surya adalah bahan yang digunakan dalam Kosmetika tabir surya untuk melindungi kulit dari
efek yang merugikan disebabkan oleh radiasi sinar ultra violet. Berdasarkan mekanismenya sebagai sun
blocker, sediaan physical sunscreen memiliki beberapa komposisi bahan bermanfaat yang dapat berperan
sebagai pemblok sinar matahari, antara lain:
1) Zinc oxide (ZnO)
ZnO merupakan physical blocker yang dapat menyerap sedikit radiasi penyebab eritema (UVB) dan
sebagian besar radiasi penyebab pigmentasi (UVA). ZnO mempunyai kemampuan penyerapan yang luas
terhadap UVA dan UVB. ZnO dalam bentuk nanopartikel yang terpenetrasi ke dalam epidermis terbukti
aman dan tidak menunjukkan adanya toksisitas lokal. ZnO menjadi salah satu logam oksida yang paling
terkenal terkandung dalam sunscreen karena memiliki biokompatibilitasnya yang sangat baik, ekonomis,
dan aman (Mohiuddin, 2019).
2) Titanium dioxide (TiO2)
TiO2 memiliki aktifitas tabir surya yang mampu memantulkan sinar matahari terutama sinar UV
dengan energi tinggi. TiO2 memberikan perlindungan UVB yang lebih baik sehingga kombinasinya dengan
ZnO akan sangat baik (Mohiuddin, 2019). TiO2 berperan sebagai physical blocker dimana interaksi yang
terjadi antara TiO2 dengan material dalam formula physical sunscreen akan menghasilkan lapisan
permukaan atau surface coating. Aktivitas ini yang dapat melindungi kulit dari efek terbakar dan
menghitam akiat sinar matahari. Senyawa TiO2 juga berperan sebagai pemutih melalui mekanisme di
atas. TiO2 tidak bersifat toksik karena sudah teruji aman secara pre-klinik pada hewan uji (Tufikurohmah
dkk., 2018).

2.4 Pemilihan physical sunscreen berdasarkan Jenis Kulit, Aktivitas Individu, dan Aspek Legalitas
Dalam pemilihan physical sunscreen yang tepat, maka perlu ditinjau dari beberapa aspek, antara lain jenis
kulit, aktivitas individu, dan legalitas. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih
physical sunscreen dari tiap aspek.
A. Jenis Kulit
Jenis kulit seseorang dapat mempengaruhi pilihan physical sunscreen yang tepat. Kulit berminyak
lebih cocok dengan physical sunscreen berbasis air atau gel, sedangkan kulit kering lebih cocok dengan
physical sunscreen berbasis krim atau lotion. Untuk kulit sensitif atau alergi, sebaiknya memilih physical
sunscreen yang tidak mengandung bahan kimia tambahan seperti pewangi atau pewarna.
B. Aktivitas Individu
Aktivitas individu juga perlu dipertimbangkan dalam memilih physical sunscreen. Jika seseorang
sering beraktivitas di luar ruangan atau olahraga, sebaiknya memilih physical sunscreen yang tahan air
atau sweat-resistant. Selain itu, perlu juga mempertimbangkan tingkat paparan sinar matahari dan suhu
lingkungan. Adapun aturan penggunaan terkait aktivitas konsumen yaitu jika beraktivitas di bawah sinar
matahari misalnya pada saat olahraga di luar ruangan (outdoor), berenang ataupun berjemur di pantai,
penggunaan tabir surya dianjurkan dilakukan secara berulang tiap 2 jam atau setelah mandi atau pada
saat berkeringat (BPOM, 2022).
C. Aspek Legalitas
Pemilihan physical sunscreen juga harus mempertimbangkan aspek legalitas untuk sediaan sunscreen
secara umum, terutama mengenai penggunaan bahan-bahan yang diizinkan dan diatur oleh badan
pengawas tertentu. Beberapa negara atau wilayah memiliki regulasi yang berbeda terkait penggunaan
bahan kimia tertentu dalam produk perawatan kulit.
Di Indonesia, pemilihan produk kosmetika termasuk physical sunscreen haruslah memenuhi syarat
penggunaan bahan yang tercantum pada produk hukum Peraturan Menteri Kesehatan dan Peraturan
BPOM. Produk-produk hukum tersebut antara lain:
a) Permenkes No. 445 tahun 1998 tentang Bahan, Zat Perwarna, Substratum, Zat Pengawet dan Tabir
Surya.
b) Peraturan Badan POM tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika dalam Lampiran Daftar Bahan
Tabir Surya yang Diizinkan dalam Kosmetika.
Pengecekan legalitas suatu produk physical sunscreen dapat dilakukan melalui laman resmi BPOM:
[Link] dengan cara memasukkan nomor registrasi produk tersebut ataupun
langsung memasukkan nama produk. Jika produk sudah terdaftar, maka produk dapat terjamin kualitas,
keamanan, dan manfaatnya.

2.5 Formulasi Sediaan Physical Sunscreen Sebagai Produk Perawatan Kulit


Formulasi sediaan physical sunscreen dapat bervariasi tergantung pada kebutuhan dan preferensi
pengguna. Namun, umumnya sediaan physical sunscreen terdiri dari bahan bermanfaat berupa partikel
mineral seperti titanium dioksida atau seng oksida, serta bahan-bahan tambahan seperti emolien,
pengemulsi, dan pengawet.
Berikut ini adalah contoh formulasi sederhana untuk sediaan physical sunscreen:
1. Bahan bermanfaat: Titanium dioksida (10%)
2. Bahan tambahan:
a. Emolien: Minyak jojoba (5%), squalane (3%)
b. Pengemulsi: Asam stearat (2%), glyceryl stearate (1%)
c. Pengawet: Phenoxyethanol (0,5%), ethylhexylglycerin (0,5%)
d. Air suling (sisa hingga 100%)
Cara pembuatan:
1) Titanium dioksida, minyak jojoba, dan squalane ditimbang dan dicampurkan dalam wadah yang bersih.
2) Dalam wadah lain, asam stearat dan glyceryl stearate dicampurkan, dan dipanaskan hingga mencair.
3) Kedua campuran tersebut dicampurkan sambil terus diaduk hingga terbentuk emulsi yang homogen.
4) Phenoxyethanol dan ethylhexylglycerin ditambahkan sebagai pengawet, dan diaduk rata.
5) Air suling ditambahkan hingga mencapai volume total, sambil terus diaduk hingga homogen.
6) Pengujian pH beserta kontrol kualitas lainnya dapat dilakukan. Sediaan dipastikan berada di kisaran 5-7,
disesuaikan jika perlu.
7) Sediaan disimpan dalam wadah yang bersih dan kering.

2.6 Kontrol Kualitas Physical Sunscreen


Kontrol kualitas dari physical sunscreen harus dilakukan untuk menjamin mutu, stabilitas, dan manfaat.
Terdapat beberapa uji dalam kontrol kualitas sediaan krim physical sunscreen, yaitu sebagai berikut.
a. Uji organolpetis
Uji ini meliputi pengamatan terhadap warna, tekstur, dan bau dari sediaan krim. Sediaan krim
physical sunscreen mempunyai karakter organoleptis yang bergantung pada bahan tambahan yang
digunakan. Misalnya dengan penambahan suatu ekstrak nabati dapat menghasilkan krim dengan warna
dan bau khas yang menyerupai bahan nabati tersebut.
b. Uji pH
Uji pH bertujuan untuk mengetahui tingkat keasaman dari sediaan agar sesuai dengan pH sediaan
topikal, di mana berkaitan dengan keamanan sediaan krim. Jika pH krim dibawah 4,5, maka krim bersifat
asam sehingga dapat mengiritasi kulit dan jika pH krim di atas 6,5, maka krim bersifat basa sehingga dapat
menimbulkan kulit kering dan bersisik. pH sediaan yang dihasilkan seharusnya mendekati pH kulit yaitu
4,5-6,5 (Lumentut, Edy, dan Rumondor, 2020).
Cara pengujian pH yaitu sebanyak 1 gram krim ditimbang, lalu ditambahkan akuades yang dibuat. pH
sediaan diukur menggunakan pH meter (Erwiyani dkk, 2021).
c. Uji homogenitas
Uji homogenitas krim bertujuan untuk melihat apakah seluruh komponen krim tercampur dengan
baik atau tidak. Sediaan krim harus menunjukan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran
kasar (Lumentut, Edy, dan Rumondor, 2020).
Uji ini dilakukan dengan dengan menggunakan gelas objek. Sejumlah tertentu krim dioleskan pada
kaca objek dan diamati adanya butiran kasar secara visual (Erwiyani dkk, 2021).
d. Uji daya lekat
Uji daya sebar bertujuan untuk mengetahui berapa lama krim dapat melekat. Daya lekat
menunjukkan kemampuan sediaan dalam melapisi kulit secara kedap, tidak menyumbat pori – pori serta
tidak mempengaruhi fungsi fisiologis kulit (Erwiyani dkk, 2021). Semakin lama waktu daya lekat krim
maka semakin baik karena memungkinkan zat aktif akan terabsorbsi seluruhnya. Standar daya lekat krim
tidak kurang dari 4 detik (Lumentut, Edy, dan Rumondor, 2020).
Cara pengujiannya yaitu sebanyak 0,5 gram krim ditimbang lalu diletakkan di atas objek gelas. Pada
kedua bagian ujung objek gelas dijepit dengan penjepit, lalu diberi beban 50 gram. Dihitung lama waktu
hingga objek gelas terlepas. Rentang nilai daya lekat sediaan yang baik adalah lebih dari satu detik
(Erwiyani dkk, 2021).
e. Uji daya sebar
Uji daya sebar bertujuan untuk mengetahui kemampuan krim menyebar serta menentukan mudah
tidaknya untuk diaplikasikan pada kulit. Daya sebar yang baik membuat kontak antara krim dan kulit
menjadi lebih luas sehingga zat aktif lebih cepat diabsorbsi. Standar daya sebar krim yang baik yaitu 5
cm-7 cm (Lumentut, Edy, dan Rumondor, 2020; Erwiyani dkk, 2021).
Cara pengujiannya yaitu sebanyak 0,5 g krim ditimbang diletakkan di tengah alat kaca penutup mula-
mula sudah ditimbang bobotnya, kemudian diletakkan diatas basis, dibiarkan 1 menit. Diameter
penyebaran krim diukur setelah satu menit dengan mengambil panjang rata-rata diameter dari beberapa
sisi, beban ditambahkan seberat 20 g kemudiaan dilakukan pengukuran kembali setelah 1 menit,
dilakukan penambahan bobot tiap 20 g. Sampai bobot yang ditambahkan kurang dari 150 dicatat
diameter penyebarannya setiap penambahan bobot. Daya sebar diukur diameternya menggunakan
jangka sorong (Erwiyani dkk, 2021).
f. Uji viskositas
Viskositas menunjukkan tahanan sediaan untuk mengalir dimana semakin tinggi viskositas maka
tahanan mengalir semakin tinggi. Nilai viskositas sediaan krim tabir surya yang dipersyaratkan yaitu
sebesar 2000-50.000 cP (Lumentut, Edy, dan Rumondor, 2020; Erwiyani dkk, 2021).
Viskositas diukur menggunakan Viskometer. Pengujian viskositas dilakukan dengan menyiapkan
spindel pada gantungan spindel, lalu spindel diturunkan ke dalam sampel hingga tercelup, dinyalakan
viskometer sambil menekan tombol, dibiarkan spindel berputar dan l ihatlah jarum merah pada skala.
Angka yang tertera pada jarum menunjukkan nilai viskositas sediaan (Erwiyani dkk, 2021).
g. Uji stabilitas
Uji stabilitas sediaan penting dilakukan untuk memprediksikan kondisi krim ketika dilakukan
penyimpanan. Uji stabilitas dengan metode sentrifugasi sediaan krim bersifat stabil apabila ditandai
dengan tidak adanya pemisahan fase dan terlihat tetap homogen setelah dilakukan uji. Uji sentrifugasi
dapat melihat efek guncangan pada jalur transportasi sediaan terhadap tampilan fisik produk (Erwiyani
dkk, 2021).
Cara uji stabilitas dengan sentrifugasi yaitu sediaan krim dimasukkan dalam tabung reaksi berskala
dengan ketinggian sediaan mencapai tanda batas 10 cm. Krim dilakukan sentrifugasi pada kecepatan
5000 rpm selama 30 menit. Hasil diamati apakah terjadi pemisahan fase sediaan krim yang diuji (Erwiyani
dkk, 2021).
h. Uji SPF
Uji SPF adalah pengukuran kuantitatif dari keefektifan formulasi tabir surya. Untuk bisa efektif dalam
mencegah sunburn dan kerusakan kulit lainya, produk tabir surya seharusnya mempunyai kisaran
absorbansi yang lebar antara 290 sampai 400 nm (Pratama dan Zulkarnain, 2015).
Pengujian aktivitas tabir surya dapat dilakukan menggunakan metode Spektrofotometri UV.
Pengukuran absorbansi dilakukan pada panjang gelombang 290-320 nm untuk mendapatkan nilai SPF.
Sediaan krim ditimbang sebanyak 0,1 gram dan dilarutkan dalam etanol ad 10 mL etanol 96% pro analisis,
lalu diukur menggunakan spektrofotometer. Hasil absorbansi dilakukan perhitungan nilai SPF sebagai
berikut.

Keterangan :
CF = faktor korelasi (10)
EE = erythemal effect spectrum
I = spektrum simulasi sinar surya
λ = absorbansi produk tabir surya
(Erwiyani dkk, 2021).

2.7 UV, SPF dan PA


Sinar ultraviolet (UV) adalah sinar yang dipancarkan oleh matahari yang dapat mencapai permukaan
bumi selain cahaya tampak dan sinar inframerah. Sinar UV berada pada kisaran panjang gelombang 200-400
nm. Spektrum UV terbagi menjadi tiga kelompok berdasarkan panjang gelombang UV C (200-290), UV B (290-
320) dan UV A (320-400). UV A terbagi lagi menjadi dua sub bagian yaitu UV A2 (320-340) dan UV A1 (340-
400). Tidak semua radiasi sinar UV dari matahari dapat mencapai permukaan bumi. Sinar UV C yang memiliki
energi terbesar tidak dapat mencapai permukaan bumi karena mengalami penyerapan di lapisan ozon. Energi
dari radiasi sinar ultraviolet yang mencapai permukaan bumi dapat memberikan tanda dan gejala
terbakarnya kulit. Diantaranya adalah kemerahan pada kulit (eritema), rasa sakit, kulit melepuh dan
terjadinya pengelupasan kulit. UV B yang memiliki panjang gelombang 290-320 nm lebih efektif dalam
menyebabkan kerusakan kulit dibandingkan dengan UV A yang memiliki panjang gelombang yang lebih
panjang 320-400 nm (Pratama dan Zulkarnain, 2015).
SPF (Sun Protection Factor) merupakan kemampuan dari sunscreen dalam melindungi kulit terhadap
pajanan radiasi sinar UV. Kekuatan sunscreen bergantung pada nilai SPF. Nilai SPF menunjukkan seberapa
lama Kosmetika sediaan tabir surya tersebut mampu melindungi kulit bila dibandingkan dengan tidak
memakai tabir surya (BPOM, 2022). Kadar SPF dalam tabir surya bervariasi, berkisar 1-50. Idealnya gunakan
sunscreen spektrum luas yang mampu melindungi dari UV-A dan UV-B dengan nilai SPF diatas 15, namun
sunscreen tidak sepenuhnya dapat memproteksi kulit dari paparan sinar UV (Minerva, 2019). PA atau
Protection Guide of UV-A merupakan kadar perlindungan dari sinar UV-A. Dalam kemasan sediaan sunscreen
biasanya terdapat PA yang disertai dengan tanda +. Tanda + tersebut menunjukkan peringkat perlindungan
UV-A pada sunscreen. Berikut tingkatan PA dalam perlindungan sinar UV-A:
a. PA+ = Sedikit
b. PA++ = Cukup
c. PA+++ = Tinggi
d. PA++++ = Sangat tinggi
(Barron, 2023)
SPF dan PA memberikan informasi tentang bagaimana sunscreen dapat melindungi kulit dari sinar
matahari, sehingga dapat memudahkan konsumen untuk membuat keputusan dalam memilih sunscreen.
Berikut tabel nilai-nilai SPF yang tercantum pada produk sunscreen.

Dengan catatan bahwa jika nilai SPF lebih dari 50, maka pada Penandaan dicantumkan SPF 50+. Perlindungan
sunscreen terhadap sinar UV B umumnya dinyatakan dengan kekuatan SPF pada Penandaan.
Durasi perlindungan kulit terhadap sinar UV dapat ditentukan berdasarkan nilai SPF dan onset efek
buruk yang ditimbulkan. Misalnya seseorang pertama kali mengalami kemerahan pada saat di bawah
matahari selama 10 menit tanpa menggunakan tabir surya, maka ketika memakai tabir surya dengan SPF 15
kulit akan terlindungi selama 10 x 15 = 150 menit. Dengan demikian, bila yang bersangkutan berada di bawah
sinar matahari lebih dari 150 menit, maka pemakaian Kosmetika tabir surya harus diulang kembali. Maka,
dapat ditentukan rumus:
S = O x SPF
Keterangan:
S: Durasi perlindungan sunscreen
O: Onset efek buruk yang ditimbulkan saat tanpa menggunakan sunscreen
SPF: Nilai SPF produk sunscreen
(BPOM, 2022)

2.8 Contoh produk physical sunscreen yang beredar


Produk sediaan physical sunscreen tentunya harus memenuhi syarat BPOM untuk menjamin kualitas,
keamanan, dan manfaatnya. Berikut beberapa produk physical suncreen terkenal yang beredar di Indonesia.

1) Somethinc Holyshield Sunscreen 3) Innisfree Perfect UV Protection Cream


Triple Care

2) Skin Aqua UV Moisture Milk


4) 3W Clinic Intensive UV Sunblock Cream
5) Avoskin The Great Shield SPF 50 PA++++

Produk sediaan sunscreen haruslah memenuhi syarat penandaan seperti yang diatur oleh BPOM
(2022), yaitu sebagai berikut.
1. Klaim yang dilarang
Produk tidak boleh mencantumkan klaim tersirat seperti:
a. Produk melindungi 100% dari sinar UV A dan/atau UV B;
b. Produk tidak perlu diaplikasikan ulang sepanjang hari;
c. Produk berfungsi sebagai sunblock, dikecualikan untuk Kosmetika tabir surya mengandung bahan
yang dapat melindungi dari sinar UV A dan UV B.
2. Peringatan
Produk sunscreen harus mencantumkan peringatan di kemasannya.
a. Peringatan wajib
❖ “Jangan terlalu lama terpapar sinar matahari, meskipun menggunakan kosmetika tabir surya.”
atau kalimat lain bermakna sama;
❖ Peringatan lain untuk masing-masing bahan tabir surya yang digunakan, sebagaimana tercantum
dalam Peraturan Badan POM tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika.
b. Peringatan yang disarankan
❖ Aplikasikan berulang untuk mempertahankan perlindungan pada kulit, terutama jika
berkeringat, setelah berenang atau menggunakan handuk;
❖ Paparan sinar matahari yang berlebihan dapat berbahaya bagi kesehatan;
❖ Jangan digunakan pada kulit yang luka;
❖ Jauhkan penggunaan dari daerah mata saat memakai produk ini. Jika terkena mata, bilas dengan
air;
❖ Hentikan penggunaan dan konsultasikan ke dokter jika terjadi kemerahan atau reaksi alergi pada
kulit; dan/atau
❖ Penggunaan untuk bayi usia di bawah 6 (enam) bulan, dikonsultasikan dengan dokter.
3. Cara Penggunaan, seperti yang dibahas di paragraf kedua pada poin 2.9 Cara Pengaplikasian Physical
Sunscreen
4. Nilai SPF, seperti yang dibahas di paragraf kedua pada poin 2.7 UV, SPF dan PA

2.9 Cara pengaplikasian physical sunscreen yang baik dan benar


Cara pengaplikasian sunscreen yang baik dan benar harus diperhatikan untuk menentukan efektivitas
sunscreen. Pengaplikasian sunscreen dapat dilakukan dengan cara:
1) Sunscreen digunakan sebanyak kurang lebih 2 jari atau sebanyak 2 mL.
2) Sunscreen diratakan ke wajah hingga leher.
3) Sunscreen digunakan 15-20 menit sebelum keluar rumah/terpapar sinar UV dan sunscreen harus
dibiarkan meresap dan kering terlebih dahulu sebelum memakai make up.
4) Pengulangan kembali (reapply) sunscreen disarankan setelah 2-4 jam tergantung aktivitas, efektivitas
sunscreen berkurang jika terkena keringat/air. Jika melakukan aktivitas berenang sunscreen digunakan
ulang dalam 1 jam dengan memakai sunscreen yang water resistant.
(Minerva, 2019)
Adapun beberapa aturan cara penggunaan sediaan sunscreen yang diatur pada Peraturan BPOM (2022)
sebagai berikut.
a. Sunscreen diaplikasikan 15-30 menit dalam jumlah yang cukup sebelum kulit terpapar sinar matahari;
b. Jangan dioleskan tipis-tipis untuk memperoleh manfaat optimal. Digunakan dengan ketebalan sekitar 2
mg/cm2 untuk memperoleh nilai SPF/PA sesuai dengan yang tercantum pada penandaan;
c. Pengolesan Kosmetika tabir surya harus merata pada daerah-daerah yang tidak terlindungi oleh pakaian
atau kemungkinan terpapar sinar matahari;
d. Bagi konsumen yang beraktivitas di bawah sinar matahari misalnya pada saat olahraga di luar ruangan
(outdoor), berenang ataupun berjemur di pantai, penggunaan tabir surya dianjurkan dilakukan secara
berulang tiap 2 jam atau setelah mandi atau pada saat berkeringat atau sesuai yang tercantum pada
Penandaan.
Penggunaan Kosmetika sediaan tabir surya harus secara tepat dan sesuai dengan aturan sehingga tidak
menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Jika tidak tepat dan tidak sesuai dengan aturan dapat mengurangi
manfaat dimana perlindungan untuk kulit dari pengaruh paparan sinar matahari tidak tercapai (BPOM, 2022).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis, dimana memiliki indeks sinar matahari yang cukup
tinggi. Dengan kondisi iklim dan cuaca ini, masyarakat dianjurkan untuk dapat mengerti pentingnya
penggunaan sunscreen (tabir surya) dalam aktivitas sehari-hari terutama jika berkativitas di luar ruangan dan
terkena paparan sinar matahari secara lansung. Sunscreen dapat melindungi kulit kita dari dampak buruk UV-
A dan UV-B. Oleh karena itu, penting untuk memngtahui berbagai jenis sunscreen yang sesuai dengan kondisi
kulit kita. Sunscreen berdasarkan mekanisme kerjanya dibagi menjadi dua jenis, yaitu physical sunscreen yang
bekerja dengan memblok sinar UV dan chemical sunscreen yang bekerja dengan menyerap sinar UV. Di
pasaran, prduk perawatan kulit physical sunscreen ini dapat kita pilih berdasarkan kebutuhan dan jenis kulit
setiap orang.

3.2 Saran
Harapan penulis, setelah terbentuknya makalah ini, pembaca semakin disadarkan lagi akan
pentingnya penggunaan sunscreen terutama physical sunscreen dalam aktivitas sehari-hari. Penulis berharap,
akan lebih banyak lagi makalah-makalah atau jurnal-jurnal yang dapat membahas secara lebih rinci mengenai
phusical sunscreen agar masyrakat memiliki wawasan yang luas tentang physical sunscreen.
Daftar Pustaka

A. Dhawan, S. Kapoor, & S. Gupta (2018). Formulation and evaluation of physical sunscreen lotion
containing natural ingredients. Journal of Pharmacy & Pharmacognosy Research, 6(6), 438
447.
Barron, B., 2023. What Does the PA+ Sunscreen Symbol Mean? [Link]
advice/skincare-advice/sunscreen/what-does pa [Link], diakses
tanggal 21 Maret 2023.
BPOM, 2022. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 3 Tahun 2022 tentang
Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika. Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Jakarta.
BPOM, 2022. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 30 Tahun 2020 tentang
Persyaratan Teknis Penandaan Kosmetika. Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Jakarta.
Erwiyani, A.R., Cahyani, A.S., Mursyidah, L., Sunnah, I., Pujistuti, A., 2021. Formulasi dan Evaluasi
Krim Tabir Surya Ekstrak Daging Labu Kuning (Cucurbita maxima). Majalah Farmasetika, 6(5),
386-397.
Fahmi, T.R., Yunita, E.M., Patria, D.G., 2020. Formulasi Sediaan Sunblock dengan Konsentrasi Ekstrak
Teh Hijau (Camellia sinensis Linn.) sebagai Bahan Aktif. Farmaka, 18(2), 41-48.
Giacomoni, G.A., Mammone, J., 2017. Physical sunscreens: On the comeback trail. Journal of Cosmetic
Dermatology, 16(4), 476-482.
Lumentut, N., Edy, H.S., Rumondor, E.M., 2020. Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Krim Ekstrak
Etanol Kulit Buah Pisang Goroho (Musa acuminafe L.) Konsentrasi 12.5% Sebagai Tabir
Surya. Jurnal MIPA, 9(2), 42-46.
Matts, P.F., Winkelmann, T.W., Kaczvinsky, B.L., 2010. Sunscreens: The importance of labelling and
efficacy claims. Clinics in Dermatology, 28(4), 409-414.
Minerva, P., 2019. Penggunaan Tabir Surya bagi Kesehatan Kulit. Jurnal Pendidikan dan Keluarga, 11(1),
95-101.
Mohiuddin, A.K., 2019. A Pharmacological Review of Sunscreen and Suntan Preparations. Peertechz,
Bangladesh, pp. 30.
Pratama, W.A., Zulkarnain, A.K., 2015. Uji SPF In Vitro dan Sifat Fisik Beberapa Produk Tabir Surya
yang Beredar di Pasaran. Majalah Farmaseutik, 11(1), 275-283.
Rosyidi, V.A., Ummah, L., Kristiningrum, N., 2018. Optimasi Zink Oksida dan Asam Malat dalam Krim
Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Octyl Methoxycinnamate dengan Desain Faktorial.
E-jurnal Pustaka Kesehatan, 6(3), 427.
Rosyidi, V.A.., Deni, W., Ameliana, L., 2018. Optimasi Titanium Oksida dan Asam Glikolat dalam Krim
Tabir Surya Kombinasi Benzofenon-3 dan Oktil Metoksisinamat. PHARMACY: Jurnal Farmasi
Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indoneisa), 15(1), 61-62.
Taufikurohmah, T., Rusmini, Tjahjani, S., Sanjaya, G.M., Baktir, A., Syahrani, A., 2018. Uji Aktifitas
Tabir surya Nano-Titanium Oksida untuk Mendukung Formula Kosmetik Antiaging Khusus
Menghambat Penuaan Akibat Sinar Matahari. Indonesian Chemistry and Application Journal
(ICAJ), 2(2), 20-21.

Anda mungkin juga menyukai