0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan36 halaman

Hubungan ASI Eksklusif dan Diare Balita

Skripsi ini membahas hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dan kejadian diare pada balita di Puskesmas Tanjung Selayar tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan menganalisis hubungan tersebut, mengingat tingginya angka kejadian diare yang dapat berakibat fatal pada anak. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi penting bagi program kesehatan ibu dan anak serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya ASI eksklusif.

Diunggah oleh

dinahdinah785
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan36 halaman

Hubungan ASI Eksklusif dan Diare Balita

Skripsi ini membahas hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dan kejadian diare pada balita di Puskesmas Tanjung Selayar tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan menganalisis hubungan tersebut, mengingat tingginya angka kejadian diare yang dapat berakibat fatal pada anak. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi penting bagi program kesehatan ibu dan anak serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya ASI eksklusif.

Diunggah oleh

dinahdinah785
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

HUBUNGAN RIWAYAT PEMBERIAN ASI EKSLUSIF TERHADAP


KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS TANJUNG
SELAYAR TAHUN 2024

Oleh
MARDIANA
P07124224174R

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANJARMASIN
JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI KEBIDANAN
PROGRAM SARJANA TERAPAN
BANJARBARU
2024
SKRIPSI

HUBUNGAN RIWAYAT PEMBERIAN ASI EKSLUSIF TERHADAP


KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS TANJUNG
SELAYAR.

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar


Sarjana Terapan Kebidanan

Oleh
MARDIANA
P07124224174R

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANJARMASIN
JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI KEBIDANAN
PROGRAM SARJANA TERAPAN
BANJARBARU
2024
BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Di Indonesia diare masih menjadi masalah kesehatan utama pada fasilitas

pelayanan kesehatan primer, selain karena angka kesakitan yang tinggi, diare juga

masih sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan mortalitas dan

morbiditas yang besar (Kemenkes R1, 2021). Survei morbiditas yang dilakukan

oleh Subdit Diare Departemen Kesehatan dari tahun 2010 s/d 2020 terlihat

kecenderungan insiden naik. Pada tahun 2010 insiden penyakit Diare 301/ 1000

penduduk, tahun 2013 naik menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2016 naik

menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2020 menjadi 411/1000 penduduk

(Kemenkes RI, 2021).

Penderita diare sulit untuk diketahui jumlah sesungguhnya karena banyaknya

penderita yang tidak terdata karena tidak mengunjungi tempat-tempat pelayanan

kesehatan (Dinkes Kalsel, 2020) Penderita diare di Wilayah Kalimantan Selatan

pada semua umur tergolong tinggi, kasus diare yang terdata mengalami

peningkatan dari 64.857 kasus pada tahun 2021 menjadi 74.689 kasus pada tahun

2022. Dari laporan Surveilans Terpadu Penyakit (STP) Puskesmas tahun 2023

kasus diare dilaporkan sebanyak 39.710 kasus dan tahun 2023 sebanyak 40.432

kasus. Pada anak di bawah 5 tahun menderita diare sebanyak 15.042 kasus yang

dilaporkan pada tahun 2019 (Dinkes Kalimantan Selatan, 2019).

Penyakit diare merupakan penyebab kedua morbiditas dan mortalitas anak di

bawah 5 tahun di dunia. Kematian bayi dan balita setiap tahun yang disebabkan

3
karena diare sekitar 760.000 anak (WHO, 2019). Menurut WHO dan UNICEF,

ada hampir 2 miliar kasus diare di seluruh dunia tiap setiaptahun dan 1,7 juta

anak–anak usia kurang dari 5 tahun meninggal karena diaresetiap tahunnya

(World Gastroenterology Organization, 2020). WHO (World Health Organization)

melaporkan bahwa penyebab utama kematian pada balita adalah Diare (post

neonatal) 14% dan Pneumonia (post neo-natal) 14% kemudian Malaria 8%,

penyakit tidak menular (post neonatal) 4% injuri (post neonatal) 3%, HIV

(Human Imunodef iciency Virus) /AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

2%, Campak 1%, dan lainnya 13%, dan kematian pada bayi umur < 1 bulan akibat

Diare yaitu 2%.

Diare merupakan penyakit yang dapat dicegah dan diobati namun diare yang

berlangsung dalam durasi panjang dan terjadi dehidrasi dapat menimbulkan

kematian. Diare merupakan life-threatening khususnya pada anak-anak dengan

malnutrisi dan atau imunitas rendah (WHO, 2019).

Diare pada bayi disebabkan oleh faktor perilaku yang memberikan makanan

pendamping terlalu dini yang akan mempercepat bayi kontak terhadap kuman,

penggunaan botol susu yang terbukti meningkatkan risiko terkena diare karena

sulit untuk membersihkan botol serta kebiasaan ibu yang tidak menerapkan

kebiasaan cuci tangan dengan sabun sebelum memberikan ASI yang dapat

menyebabkan timbulnya diare pada bayi (Ngastiyah, 2022). Dampak

penyakit diare pada anak sangat berpengaruh terharap pertumbuhan dan

perkembangan anak akibat kehilangan cairan yang sering serta terganggunya

4
proses absorsi makanan dan zat nutrient yang dibutuhkan anak untuk

pertumbuhan bahkan bisa mengakibatkan kematian pada anak.

Kejadian diare pada bayi ini dapat disebabkan karena kesalahan dalam pemberian

makanan, dimana bayi sudah diberi makan selain air susu ibu (ASI) sebelum

berusia 4 bulan. Perilaku tersebut sangat berisiko bagi bayi untuk terkena diare

karena, pertama pencernaan bayi belum mampu mencerna makanan selain ASI,

kedua bayi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan zat kekebalan yang hanya

dapat diperoleh dari ASI dan ketiga adanya kemungkinan makanan yang diberikan

bayi sudah terkontaminasi oleh bakteri karena alat yang digunakan untuk

memberikan makanan atau minuman kepada bayi tidak steril (Hidayat, 2019).

Balita terutama bayi memiliki tingkat kepekaan (stage of susceptibility) yang lebih

tinggi daripada dewasa terhadapat infeksi pada saluran pencernaan (WHO, 2021).

Sistem kekebalan tubuh (imunitas) dan organ-organ pada bayi belum berkembang

sempurna, hingga usia 3 bulan, lambung bayi hanya dapat mencerna gula dalam

susu yang disebut laktosa (Arisman, 2020). Promosi tentang manfaat menyusui

mulai dilakukan oleh WHO pada tahun 1984, karena Air Susu Ibu (ASI) menjadi

hal yang paling penting untuk dapat mencegah terjadinya diare pada anak,

kemudian pada tahun 2020 promosi tentang pentingnya menyusui untuk

mencegah diare kembali disosialisasikan karena dengan menyusui selain dapat

mencegah diare padaanak juga sangat efektif dan efisien bagi ibu, bahkan dapat

mencegahkematian anak dibawah lima tahun yang diakibatkan oleh berbagai

penyakit (WHO, 2023).

5
ASI eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun2012 adalah

ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa

menambahkan dan mengganti dengan makanan atau minuman lain(kecuali obat,

vitamin dan mineral).

Target program Pemberian ASI Eksklusif menurut WHO pada tahun 2023 tercatat

hanya 67,96%, turun dari 69,7% dari 2022, menandakan perlunya dukungan lebih

intensif agar cakupan ini bisa meningkat. Sedangkan di Indonesia Berdasarkan

Badan Pusat Statistik, persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan

ASI eksklusif di Indonesia selama 3 tahun terakhir mengalami peningkatan dari

tahun sebelumnya, yaitu tahun 2021 capaian 66,99%, tahun 2022 capaian 69,2%,

tahun 2023 capaian 71,58% (Badan Pusat Statistik, 2023). Cakupan di Provinsi

Kalimantan Selata selama 3 tahun ini persentase capaian ASI eksklusif terdapat

peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu tahun 2021 (71,11%), tahun 2022

(76,11%), dan tahun 2023 (76,46%) (Badan Pusat Statistik, 2023).

Adapun data untuk ibu menyusui didaerah Puskesmas Tanjung Selayar selama 3

bulan terakhir yaitu sebanyak 120 ibu yang menyusui anaknya secara eksklusif,

dengan jumlah per desa yaitu pada Desa Kampung baru sebanyak 22 ibu, Teluk

Tamiang sebanyak 14 ibu, Tg. Pelayar sebanyak 11 ibu, Tg. Tengah sebanyak 14

ibu, Bandaraya sebanyak 7 ibu, GS. Panjang sebanyak 8 Ibu, Tg. Kunyit sebanyak

8 ibu, Tg. Sungkai sebanyak 17 ibu, Tata Mekar sebanyak 13 ibu dan Desa

Bangun Rejo sebanyak 6 ibu.

Penelitian Ade Rahmawati (2019), Menyatakan bahwa ada hubungan yang

bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita di

6
Wilayah Kerja Puskesmas Juntinyuat. Hasil penelitian Maretha Antya Tamimi,

dkk (2016), menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi di Wilayah Kerja

Puskesmas Nanggalo Padang. Pemberian ASI secara tidak eksklusif ataupun

kurang dari 6 bulan pada bayi bisa mengganggu kesehatan bayi (Waryana, 2020).

Peningkatan resiko penyakit infeksi semacam diare sebab ASI tidak eksklusif

tidak sebersih serta tidak gampang di cerna semacam ASI. Diare dihubungkan

dengan gagal berkembang sebab terbentuknya malabsorpsi zat gizi sepanjang

diare (Dewey dan Mayers, 2011). Hasil penelitian Arlina Analinta (2019),

menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif sebagai faktor penting dalam

pencegahan dan perlindungan terhadap diare pada anak. Selain itu juga dengan

menyusui penting untuk mengurangi kematian karena penyakit diare

dibandingkan dengan pemberian ASI non eksklusif pada anak. ASI mengandung

glikan yang didalamnya juga terdapat oligosakarida yang berperan dalam

mengatur imun yang melindungi tubuh dari diare. Hasil penelitian Ni Wayan

Suryantini (2017), menyatakan Pemberian ASI eksklusif sampai bayi usia 6 bulan

akan memberikan banyak manfaat pada bayi salah satunya memberikan kekebalan

tubuh yang dapat melindungi bayi, karena ASI mengandung zat kekebalan tubuh

yaitu imunoglobulin yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit salah

satunya diare.

Keadaan tersebut diatas mendasari peneliti ingin mengetahui Hubungan riwayat

pemberian ASI Ekslusif terhadap kejadian diare pada balita di puskesmas Tanjung

Selayar.

7
1. 2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini

adalah “Apakah ada Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare

pada Bayi di Puskesmas Tanjung Selayar Tahun 2024?”

1. 3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian diare

pada bayi di Puskesmas Tanjung Selayar tahun 2024.

1.3.2 Tujuan Khusus

1) Mengidentifikasi karakteristik umur di Puskesmas Tanjung Selayar

tahun 2024

2) Mengidentifikasi karakteristik Riwayat Pendidikan di Puskesmas

Tanjung Selayar tahun 2024

3) Mengidentifikasi karakteristik Pekerjaan di Puskesmas Tanjung Selayar

tahun 2024

4) Menganilisi Hubungan hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan

kejadian diare pada bayi di Puskesmas Tanjung Selayar tahun 2024

1. 4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

8
Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya bukti empiris mengenai

hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi dan

dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk penelitian selanjutnya

1.4.2 Manfaat Praktis

1) Bagi Puskesmas Tanjung Selayar

Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan bahan masukan untuk

pengambilan keputusan di Puskesmas Tanjung Selayar terutama dalam

program kesehatan ibu dan anak dalamrangka upayapencegahan diare pada

bayi.

2) Bagi Bidan

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan edukasi untuk bidan

dalam memberikan informasi pada ibu tentang pentingnya pemberianASI

eksklusif sebagai salah satu upaya penatalaksanaan preventif untuk

menjaga kesehatan bayinya

3) Bagi Ibu

Informasi yang diperoleh diharapkan dapat meningkatkan kesadaraan ibu

untuk memberikan ASI ekslusif pada bayinya sebagai upaya preventif

untuk mencegah terjadinya berbagai masalah kesehatan terutama diare

pada bayinya.

4) Bagi Peneliti Lain

9
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi untuk penelitian

selanjutnya terhadap faktor resiko lain yang dapat menyebabkan kejadian

diare pada bayi.

1. 5 Keaslian Penelitian

Sejauh pengetahuan peneliti terhadap beberapa penelitian yang berhubungan

dengan peneliti, yaitu:

Tabel 1.1. Penelitian Terkait


No Judul, Nama dan Tujuan Metode Hasil Penelitian
Tahun Penelitian
1 Risiko Kejadian Diare Tujuan Pendekatan Hasil uji chisquare
pada Bayi terhadap penelitian untuk penelitian menunjukkan (p-
Pemberian ASI menganalisis menggunakan case value=0,000 < 0,05),
Eksklusif dan ASI faktor risiko control study bermakna bahwa ada
Non Eksklusif. penyakit diare dengan metode pengaruh pemberian
Irwan, Deliyana I. pada bayi observational ASI eksklusif dan
Katili, Mar’atul dengan ASI analytic. Populasi ASI non eksklusif
jannah Una , Mutiara eksklusif dan ialah seluruh ibu dengan kejadian diare
Patricia Ladimo, tanpa ASI yang melahirkan pada bayi dengan
Desiana Pratiwi eksklusif bayi umur 6-12 nilai OR = 12,065
Hantulu. bulan dengan yang berarti bahwa
(2023) penentuan sampel ibu yang tidak
melalui rumus menyusui bayinya
lemeshow secara lebih beresiko
ditetapkan sampel 12,065 kali menderita
sejumlah 152 bayi diare lebih tinggi
dengan rincian 76 berbanding terbalik
kasus dan 76 dengan ibu yang
kontrol. menyusui bayi secara
eksklusif.
Kesimpulan bayi
yang tidak
mendapatkan ASI
eksklusif berisiko
menderita diare
daripada bayi yang
mendapatkan ASI
eksklusif.
2 Meta-Analysis the Tujuan dari artikelnya disusun Sebanyak 24 studi
Effects of Rotavirus penelitian ini menggunakan cross-sectional dari
Vaccine, Exclusive adalah untuk tinjauan sistematis Afrika dan Asia
Breastfeeding, and menganalisis dan meta-analitik dipilih untuk tinjauan
Maternal Education dan belajar. Penelitian sistematis dan meta-
on Diarrhea in memperkirakan ini dilakukan analisis. Hasil meta-
Children Under Five pengaruh vaksin dengan analisis

10
Genn Andrean rotavirus, menggunakan menunjukkan bahwa
Pratama, Setyo Sri pemberian ASI model PICO. Studi tidak diberikan
Rahardjo, Bhisma eksklusif, dan meta-analitik vaksin rotavirus
Murti. tingkat dilakukan oleh risiko mengalami
(2023) pendidikan ibu mencari artikel diare 3,60 kali lipat
terhadap dari database dibandingkan dengan
kejadian diare dalam bentuk kelompok yang
pada balita, elektronik diberi vaksin
dengan meta menggunakan rotavirus (aOR=
analisis PubMed, Google 3,60; CI 95%= 2,31
berdasarkan Scholar, Science hingga 5,64;
penelitian direct, dan p<0,001), tidak
primer yang Springer Link. diberikan ASI
telah dilakukan Pencarian artikel eksklusif mempunyai
sebelumnya dilakukan pada risiko mengalami
tanggal 1-28 diare 3.28 kali
Februari 2023. dibandingkan dengan
Kata kuncinya yang diberi ASI
yang digunakan Eksklusif (aOR=
adalah “Vaksinasi” 3.28; CI 95%= 2.24
ATAU “ASI menjadi 4,80;
Eksklusif” ATAU p<0,001), dan anak
“Ibu Pendidikan” yang memiliki ibu
ATAU “Infeksi” dengan tingkat
ATAU pendidikan rendah
“Diare Masa memiliki angka
Kecil”. Kriteria kejadian 2,08 kali
inklusi penelitian lebih tinggi
ini adalah artikel beresiko mengalami
lengkap diare dibandingkan
menggunakan anak yang
penelitian cross- mempunyai ibu
sectional yang dengan tingkat
diterbitkan pada pendidikan rendah
tahun 2013-2022. lebih tinggi (aOR=
2.08; CI 95%= 1.71
hingga 2.54;
p<0.001).

3 The Impact of Tujuannya Sampel penelitian Temuan penelitian ini


Exclusive Tujuan dari terdiri dari bayi usia menunjukkan adanya
Breastfeeding on the penelitian ini 6–12 bulan yang korelasi penting
Occurrence of adalah untuk berada di Kabupaten antara pemberian ASI
Diarrhea in Babies menilai Purwakarta, eksklusif dan
between the Ages of 6 efektivitas Indonesia. Kami kejadian diare (p =
and 12 Months in pemberian ASI mengumpulkan data 0,001). Bayi yang
Purwakarta Regency, eksklusif dalam dengan mendapat ASI
Indonesia mengurangi menggunakan eksklusif mempunyai
Rositta Febriana kejadian diare kuesioner. Kami penurunan risiko
2024 pada bayi usia menggunakan uji terkena diare secara
6–12 bulan di chi-square untuk signifikan, 13,661
Purwakarta menganalisis data. kali lebih rendah
dibandingkan bayi
Kabupaten, yang tidak mendapat
Indonesia. ASI eksklusif.

11
Kesimpulannya,
pemberian ASI
eksklusif berkhasiat
mencegah diare pada
bayi usia 6–12 bulan.

4 Efect of exclusive Untuk Kami Bayi yang diberi


breastfeeding mengetahui menganalisis data ASI eksklusif
and other infant efek dari asi dari Survei mengalami
and young child eksklusif Demografi dan penurunan
feeding practices Kesehatan di kemungkinan diare
on childhood Afghanistan di Afghanistan
morbidity (2015; n=3462), (AOR: 0.49, 95%
outcomes: Bangla desh CI
associations (2017–2018; 0,35, 0,70), India
for infants 0– n=1084), India (AOR: 0,80, 95%
6 months in 5 South (2019–2021; CI 0,70, 0,91), dan
Asian countries n=26.101), Nepal Nepal (AOR: 0,42,
using Demographic (2022; n=581 ), 95% CI 0,20, 0,89).
and Health Survey dan Pakistan Dibandingkan
data. (2017–2018; dengan bayi yang
Saldana Hossain n=1,306), tidak mendapat ASI
and Seema termasuk bayi eksklusif, bayi yang
Mihrshahi. berusia 0–6 bulan. mendapat ASI
(2024) Model regresi eksklusif memiliki
logistik kemungkinan lebih
multivariat kecil mengalami
digunakan untuk demam di
menentukan Afghanistan (AOR:
hubungan tersebut 0,36, 95% CI 0,26,
antara pemberian 0,50) dan India
ASI eksklusif (AOR: 0,75, 95%
dalam 24 jam CI 0,67, 0,84).
terakhir dan diare, Pemberian ASI
infeksi saluran eksklusif dikaitkan
pernapasan akut, dengan peluang
dan demam pada yang lebih rendah
keduanya minggu infeksi saluran
sebelum survei. pernafasan akut di
Kami juga Afghanistan (AOR:
memeriksa 0.57, 95% CI 0.39,
hubungan antara 0.83). Inisiasi
indikator menyusui dini
pemberian makan merupakan
bayi dan anak perlindungan
lainnya dan hasil terhadap diare di
ini. India. Pemberian
susu botol
merupakan faktor
risiko diare di India

12
dan demam di
Afghanistan
dan India.
Pemberian susu
botol juga
merupakan faktor
risiko infeksi
saluran pernapasan
akut di Afghanistan
dan India

5 Impact of exclusive Untuk Untuk menyelidiki Studi saat ini


breastfeeding on menyelidiki hubungan antara menemukan bahwa
physical growth hubungan antara pemberian ASI sebagian besar
Sitelbanat Osman pemberian ASI eksklusif dan (96,2%) secara
Mohamed Ahmed a, eksklusif dan pertumbuhan bayi, eksklusif bayi yang
Hawa Ibrahim Abdalla pertumbuhan yang diukur diberi ASI memiliki
Hamid, Aruna Jothi bayi, yang berdasarkan berat berat badan dalam
Shanmugam, Murtada diukur badan, tinggi badan, kisaran pertumbuhan
Mustafa Gabir Tia, berdasarkan dan kepala keliling normal grafik antara
Soad Mohamed berat badan, dibandingkan persentil ke-10 dan
Abdalla Alnassry a tinggi badan, dengan grafik ke-90 dan menyusui
2023 dan kepala pertumbuhan. mempengaruhi tinggi
keliling rata-rata karena
dibandingkan semua bayi yang
dengan grafik mendapat ASI
pertumbuhan. eksklusif juga
demikian dalam
rentang ketinggian
normal. Namun
pemberian ASI
eksklusif berhasil
tidak mempengaruhi
lingkar kepala

Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan terdapat pada variabel,

lokasi, sampel, dan tahun penelitian dengan judul “Hubungan Pemberian Riwayat

Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Kejadian Diare pada Balita Di Puskesmas

Tanjung Selajar Tahun 2024”.

13
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori

2.1.1 Diare pada Bayi

[Link] Pengertian Diare

Diare adalah kejadian frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada

bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat

berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir

saja(Ngastiyah, 2019). Menurut Suharyono (2018) diare adalah buang air

besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan konsistensi

tinja yang lebih lembek atau cair. Diare pada bayi adalah buang air besar

dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja

denganfrekuensi lebih sering dari biasanya (empat kali atau lebih)

dalamsatuhari (Kemenkes RI 2020). Bayi merupakan individu yang

berusia 0-12 bulan yang ditandai dengan pertumbuhan dan

perkembangan yang cepat disertai dengan perubahan dalam kebutuhan

zat gizi.

[Link] Patogenesis

14
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare, dalam Sudarti

(2020) adalah:

a. Gangguan osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan

menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi,

sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi

rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk

mengeluarkannya sehingga timbul diare. Mukosa usus halus adalah

epitel berpori, yang dapat dilewati air dan elektrolit dengan cepat

untuk mempertahankan tekanan osmotik antara isi usus dengan cairan

ekstraseluler. Diare terjadi jika bahan yang secara osmotic dan sulit

diserap. Bahan tersebut berupa larutan isotonik dan hipertonik.

Larutan isotonik, air dan bahan yang larut didalamnya akan lewat

tanpa diabsorbsi sehingga terjadi diare. Bila substansi yang diabsorbsi

berupa larutan hipertonik, air dan elektronik akan pindah dari cairan

ekstraseluler kedalam lumen usus sampai osmolaritas dari usus sama

dengan cairan ekstraseluler dan darah sehingga terjadi pula diare.

b. Gangguan sekresi

Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus

akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga

usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi

rongga usus. Akibat rangsangan mediator abnormal misalnya

enterotoksin yang menyebabkan villi gagal mengabsorbsi natrium,

15
sedangkan sekresi klorida disel epitel berlangsung terus atau

meningkat. Hal ini menyebabkan peningkatan sekresi air dan

elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan

merangsang usus mengeluarkannya sehingga timbul diare.

c. Gangguan motilitas usus

Hiper peristaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus

untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila

peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh

berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

[Link] Gambaran Klinis dan Tanda Gejala

Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya

meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul

diare. Tinja cair dan mungkin disertai lendir dan atau darah. Warna tinja

makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan

empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan

tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam

laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama

diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat

disebabkan oleh lambung yang turut meradangatau akibat gangguan

keseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila penderita telah banyak

kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi makin tampak.

Berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun

membesar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit

16
tampak kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi

menjadi dehidrasi ringan, sedang, dan berat, sedangkan berdasarkan

tonisitas plasma dapat dibagi menjadi dehidrasi hipotonik, isotonik,

danhipertonik (Sudarti, 2020).

[Link] Faktor Predisposisi Kejadian Diare

Faktor Infeksi Angka kejadian infeksi pada bayi lebih sedikit bila

dibandingkandengan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif

(Ibrahim 2018). Sudarti (2020) faktor infeksi penyebab diare dapat dibagi

dalam infeksi interal dan infeksi parental. Di negara berkembang,

campak yang disertai dengan diare merupakan faktor yang sangat penting

pada morbiditas dan mortalitas anak, walaupun mekanisme sinergetik

antara campak dan diare pada anak belum diketahui, diperkirakan

kemungkinan virus campak sebagai penyebab diare secara entero

patogen. Delapan sampai beberapa tahun yang lalu kuman- kuman

patogen hanya dapat diidentifikasikan 25% dari tinja penderita diare

akut. Pada saat ini dengan menggunakan teknik yang baru, tenaga

laboratorium yang berpengalaman dapat mengidentifikasi pada sekitar

75% kasus yang datang ke sarana kesehatan dan pada sekitar 50% kasus-

kasus ringan di masyarakat. Infeksi internal Infeksi internal yaitu infeksi

terjadi dalam saluran pencernaandanmerupakan penyebab utama

terjadinya diare. Infeksi interal meliputi :

17
a. Infeksi bakteri : Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigellacampylobacter,

Yersinia, Aeromonas. Bakteri penyebabdiaretersering antara lain

ETEC, Shigella, Campylobacter.

b. Infeksi virus enterovirus, seperti virus ECHO, coxsackie,

poliomyelitis, adenovirus, astrovirus, dan rotavirus.

Rotavirusmerupakan penyebab utama diare akut pada anak.

c. Infeksi parasit : cacing (Ascaris, trichiuris, oxyuris,

danstrongylodies), protozoa (entamoeba histolytica, giardialamblia,

dan trichomonas hominis), serta jamur (candidaalbicans).

[Link] Faktor Risiko Diare

a. ASI Ekslusif

Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan

dan insidensi tertinggi terjadi pada bayi yang tidak mendapatkan ASI

secara sempurna. ASI mengandung antibodi yang dapat melindungi

bayi terhadap kuman penyebab diare seperti Shigella dan Vibrio

cholera (George et al.,2019).

b. Perilaku Ibu

Diare dapat tertular pada bayi melalui perantara pengasuh

dikarenakan bayi masih bergantung dengan orang lain, dalam hal ini

yang dimaksud dengan pengasuh dapat berupa orangtua (ibu), nenek

atau pembantu (Ragil, 2019). Pengasuh menjadi salah satu penyebab

diare pada bayi karena PHBS yang masih kurang yaitu kebiasaan

18
mencuci tangan sebelum merawat atau mempersiapkan segala

keperluan bayi (Wahyuni, 2020). Penelitian yang dilakukan oleh

Lanida mendapatkan bahwa mayoritas ibu selalu melakukan cuci

tangan sebelum beraktivitas yaitu sebanyak 53,33% dan tidak

menggunakan sabun sebanyak 50%, dalam hal ini cuci tangan saja

dengan menggunakan sabun tidak dapat membunuh kuman yang

terdapat di tangan ibu (Lanida, 2020). Hasil penelitian oleh Rifai

tahun 2019 menyatakan bahwa faktor risiko yang secara signifikan

berhubungan dengan kejadian diare pada anak berusia 7-24 bulan

adalah perilaku cuci tangan ibu, dimana ibu yang tidak mencuci

tangan menggunakan sabun berisiko 6,60 kali lebih besar untuk anak

mereka mengalami diare. Diperlukan pula praktik cuci tangan dengan

sabun yang dilakukan pada sebelum dan sesudah menyuapi anak,

sesudah buang air besar dan membuang tinja anak, dan sesudah ibu

makan. Oleh karena itu harus dibiasakan perilaku cuci tangan

memakai sabun sebelum dan sesudah aktivitas agar menjadi sarana

penghindar kejadian diare (Rifai, 2016).

c. Pendidikan Rendah

Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan

seseorang makin mudah orang tersebut menerima informasi, baik dari

orang lain maupun dari media masa. Makin banyak informasi yang

masuk maka semakin banyak pula pengetahuan yang dapat diketahui

tentang penyakit diare dan pencegahannya (Notoadmodjo, 2010)

19
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Arsurya tahun 2019

mendapatkan bahwa dari 105 orang ibu yang memiliki tingkat

pengetahuan kurang, sebanyak 72 orang (68,6%) balitanya pernah

mengalami diare, dan 33 balita (31,4%) tidak terkena diare. Dari 45

orang ibu yang memiliki tingkat pengetahuan baik, sebanyak 23

orang (51,1%) balitanya pernah mengalami diare dan 22 balita

(48,9%) tidak terkena diare. Ini membutktikan bahwa terdapat

hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan diare

dengan kejadian diare pada balita (Arsurya dkk, 2019)

d. Sosio Ekonomi Rendah

Hidup dalam kemiskinan mendorong penderita untuk tinggal dalam

kondisi yang tidak bersih dan tidak sehat (Gebru, 2014). Penderita

juga tidak mendapat sumber air yang bersih. Selain itu, mereka tidak

mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang diperlukan

(Tangka, 2014). Faktor sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap

faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan penderita diare berasal dari

keluarga yang besar dengan daya beli yang rendah, kondisi rumah

yang buruk, tidak punya penyediaan air bersih yang memenuhi

persyaratan kesehatan, pendidikan orang tuanya yang rendah dan

sikap serta kebiasaan yang tidak menguntungkan. Karena itu, edukasi

dan perbaikan ekonomi sangat berperanan dalam pencegahan dan

penanggulangan diare (Marissa, 2015)

[Link] Dampak Diare

20
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi menurut

Nugraheni (2019) :

a. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) Kehilangan air dan elektrolit

(dehidrasi), yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan

asam-basa (asidosis metabolic, hipokalemia dan sebagainya). Serta

gangguan keseimbangan asambasa disebabkan oleh:

1) Previous water losses, kehilangan cairan sebelumpengelolaan,

sebagai defisiensi cairan

2) Normal water losses, berupa kehilangan cairan karena fungsi

fisiologis

3) Concomittant water losses, berupa kehilangan cairan

waktupengelolaan

4) Masukan makanan yang kurang selama sakit, berupa

kekuranganmasukan cairan karena anoreksia atau muntah.

Mekanisme kekurangan cairan pada diare dapat terjadi karena:

1) Pengeluaran usus yang berlebihan, karena sekresi mukosa

ususyang berlebihan atau difusi cairan tubuh akibat tekanan

osmotikintra lumen yang tinggi

2) Masukan cairan yang kurang, karena muntah, anoreksia,

pembatasan makan dan minum, keluaran cairan tubuh

yangberlebihan (dmam atau sesak napas).

2.1.2 ASI Eksklusif

[Link] Pengertian ASI Eksklusif

21
ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI tanpa tambahan cairan lain

seperti susu formula dan air putih dan tanpa tambahan makanan padat

kecuali obat-obatan dan ORS (Oral Rehydration Salt) jika sakit. Bayi

harus disusui dengan ASI eksklusif hingga mereka berumur 6 bulan.

Setelah 6 bulan, pemberian ASI harus diteruskan sambil ditambahkan

dengan makanan lain sehingga bayi berumur 2 tahun (WHO, 2019).

[Link] Kandungan ASI

ASI memiliki sifat yang khas khususnya untuk bayi dikarenakan oleh

susunan kimianya, didalamnya terkandung nilai biologis tertentu dan

memiliki substansi yang bersifat spesifik. Dari ketiga sifat yang dimiliki

oleh ASI inilah yang membedakannya dengan produk susu formula. Di

dalam ASI banyak terkandung unsure-unsur pokok yang jumlahnya lebih

dari 200, antara lain zat putih telur, sel darah putih, mineral, enzim,

lemak, hormone, karbohidrat, faktor pertumbuhan dan zat kekebalan.

(Ruhana, 2020).

ASI sebagai makanan alamiah merupakan makanan terbaik yang dapat

diberikan oleh ibu kepada anak yang baru dilahirkannya. Berdasarkan

kebutuhan bayi, komposisi yang terkandung dalam ASI setiap saat dapat

berubah. Yang pertama disebut sebagai kolostrum yaitu ASI yang keluar

pada hari pertama sampai hari ke 4-7. Yang kedua disebut sebagai ASI

peralihan yaitu ASI yang keluar sampai minggu ke 3-4, selanjutnya

adalah ASI matur. Pada permulaan melakukan penyusuan (foremilik:susu

awal) ASI yang keluar berbeda dengan ASI yang keluar pada akhir

22
penyusuan (bindmilk:susu akhir). Adapun komposisi dari ASI yang

diproduksi oleh ibu yang melahirkan bayi premature akan berbeda

dengan produksi ASI oleh ibu yang bayinya lahir cukup bulan.

(Prawiroharjo, 2019)

ASI mengandung air sekitar 88,1% air, hal ini berperan dalam

mengantikan kebutuhan cairan ketika bayi mengalami diare. ASI juga

mengandung Lactobacillus bifidus, yaitu bakteri yang tumbuh didalam

usus halus bayi yang dapat mencegah tumbuhnya bakteri berbahaya dan

kejadian diare. Selain itu, bahan larut yang rendah juga terkandung

didalam ASI terdiri dari protein 0,9%, lemak 3,8%, laktosa 7%, dan

bahan lainnya 0,2%. (Yuliarti, 2020) IgA sekretorik merupakan

immunoglobulin utama yang terkandung didalam ASI. Makromolekul ini

memiliki fungsi sebagai antimikroba dan disekresikan dengan melewati

membrane mukosa. Antibody IgA sekretorik yang terkandung didalam

ASI berperan dalam melawan Escherichia coli. Dibandingkan dengan

bayi yang memperoleh susu formula, maka bayi yang mendapatkan ASI

cenderung terhindari dari infeksi pada usus. Selain itu, didalam ASI juga

terdapat limfosit yang berperan dalam mempertahankan imunologi pada

bayi yang baru lahir. Didalam ASI terkandung limfosit B dan limfosit T,

akan tetapi limfosit T pada ASI berbeda dengan limfosit T yang

ditemukan di darah. Secara spesifik, limfosit T yang terdapat di ASI

terdiri dari sel yang memiliki antigen membrane yang spesifik, termasuk

fenotip sel T memori tinggi LFA-1. Disisi lain, sel T memori berperan

23
untuk memberikan neonates kesempatan untuk mendapatkan pengalaman

dari pengalaman imunologi ibunya (Cunningham, 2022). Taurin

merupakan sejenis asam amino yang terkandung di dalam ASI.

Dibandingkan dengan susu sapi, jumlah taurin yang terkandung didalam

ASI lebih tinggi jumlahnya. Taurin memiliki peran sebagai

neurotransmitter dan ikut berperan dalam proses maturasi atau

pematangan otak. Konsentrasi taurin plasma pada masa bayi

berhubungan dengan kemampuan perkembangan mental dan motorik

anak. Suatu penelitian yang lakukan pada hewan coba menunjukkan

bahwa defisiensi taurin mengakibatkan terjadinya gangguan pada retina

mata. Hal ini disebabkan oleh taurin pada tahap perkembangan juga

berperan penting dalam promosi diferensiasi fotoreseptor dan mungkin

terlibat dalam pematangan retina sebagai organ. Pemberian ASI dapat

menurunkan risiko defisiensi taurin. (Ruhana, 2020)

[Link] Manfaat ASI

Manfaat ASI Ekslusif bagi bayi, diantaranya: (Sulistyoningsih, 2019).

a. ASI sebagai Nutrisi

ASI yang keluar pada saat kelahiran sampai hari ke 4 atau hari ke 7

(kolostrum) berbeda dengan ASI yang keluar dari hari ke 4 atau hari

ke 7 sampai hari ke 10 atau ke 14 setelah kelahiran. ASI merupakan

sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan

disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI sebagai

24
makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh bayi

normal sampai usia 6 bulan.

b. ASI sebagai Sistem Imun

Selain sebagai pertahanan terhadap mikroorganisme, ASI juga dapat

mencegah terjadinya penyakit alergi, terutama alergi terhadap

makanan seperti susu sapi. Dengan menunda pemberian susu sapi dan

makanan padat pada bayi yang lahir dari orang tua dengan riwayat

alergi sampai bayi berumur 6 bulan, yaitu umur saat barier mukosa

gastrointestinal bayi dianggap sudah matur, maka timbulnya alergi

makanan pada bayi dapat dicegah

c. ASI Eksklusif Meningkatkan Kecerdasan

Dengan memberikan ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 6

bulan akan menjamin tercapainya pengembangan potensi kecerdasan

anak secara optimal. Hal ini karena selain sebagai nutrient yang ideal,

dengan komposisi yang tepat, serta disesuaikan dengan kebutuhan

bayi. Nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan otak bayi yang

tidak ada atau sedikit sekali terdapat pada susu sapi, antara lain:

taurin, laktosa dan asam lemak ikatan panjang (DHA, AA, Omega-3,

Omega 6).

d. Menyusui Meningkatkan Jalinan Kasih Sayang

Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusu akan

merasakan kasih sayang ibunya. Ia juga akan merasa aman dan

tentram, terutama karena masih dapat mendengarkan detak jantung

25
ibunya yang telah ia kenal sejak dalam kandungan. Perasaan

terlindungi dan disayangi inilah yang akan menjadi dasar

perkembangan emosi bayi dan membentuk kepribadian yang percaya

diri dan dasar spiritual yang baik.

e. Melindungi terhadap Alergi

Pemberian ASI secara eksklusif dapat mengurangi kejadian alergi,

karena dalam ASI tidak mengandung zat yang dapat menimbulkan

alergi. Selain itu, ASI selalu siap tersedia dan dalam suhu yang

sesuai.

Manfaat menyusui bagi seorang Ibu diantaranya : (Sulistyoningsih,

2019).

a. Mengurangi Pendarahan Setelah Melahirkan

Apabila bayi disusui segera setelah dilahirkan maka kemungkinan

terjadinya perdarahan setelah melahirkan akan berkurang, karena

pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna

juga untuk konstriksi atau penutupan pembuluh darah sehingga

perdarahan akan lebih cepat berhenti.

b. Menjarangkan Kehamilan Menyusui merupakan cara kontrasepsi

yang aman, murah dan cukup berhasil. Selama ibu memberi ASI

eksklusif dan belum haid, 98% tidak akan hamil pada 6 bulan

pertama setelah melahirkan, dan 96% tidak akan hamil sampai bayi

berusia 12 bulan.

c. Mengecilkan Rahim

26
Kadar oksitosin ibu menyusui yang meningkat akan sangat

membantu rahim kembali ke ukuran sebelum hamil. Proses

pengecilan ini akan lebih cepat dibanding pada ibu yang tidak

menyusui.

d. Mengurangi Risiko Terkena Penyakit Kanker

Mengurangi risiko terkena penyakit kanker, seperti kanker payudara

dan kanker indung telur, mengurangi risiko keropos tulang dan risiko

rheumatoid arthritis. Selain itu, pemberian ASI lebih praktis,

ekonomis, dan higienis

2.2 Kerangka Teori


Tinjauan Teori diatas merupakan penjelasan kerangka teori sebagai berikut:

Faktor Infeksi

Peningkatan
Pemberian ASI Pemberian ASI SIgA, Limfosit
Eksklusif T, Limfosit B,
Laktoferin

Faktor Gizi
(Status Gizi)
Peningkatan
Imunitas Bayi
Faktor Susunan Makan

Diare pada Bayi


Faktor Lingkungan

Faktor Sosial Ekonomi

27
Gambar 2.1 Kerangka Teori Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare
pada Bayi
Sumber : Matondang dkk (2019) dan Roesli (2020)

Kerangka teori adalah kerangka konseptual yang digunakan dalam

penelitian untuk mengorganisir dan menjelaskan hubungan antara konsep-konsep

yang relevan dalam suatu bidang penelitian. Kerangka teori berfungsi sebagai

landasan teoritis yang mendukung penelitian dan membantu peneliti dalam

merumuskan pertanyaan penelitian, merancang metode penelitian,

menginterpretasi hasil, dan menyusun kesimpulan. Kerangka teori terdiri dari

konsep-konsep yang saling terkait dan digunakan untuk menjelaskan fenomena

yang ingin diteliti. Konsep-konsep ini dapat berasal dari teori-teori yang telah ada

sebelumnya dalam bidang penelitian yang relevan (Hendrajana et al., 2023).

2.3 Kerangka Konsep

Kerangka konsep ialah suatu uraian tentang hubungan atau kaitan antara

variabel yang akan diamati atau diukur melalui riset yang akan dilakukan.

Kerangka konsep pada dasarnya merupakan kerangka berfikir mengenai alur

sebuah riset dimana alur tersebut dapat dibuat suatu hubungan antara variabel

maupun konsep yang diamati (Iriani, Dewi & Sudjud, 2022).

Kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen


Pemberian ASI
Eksklusif Kejadian Diare

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

28
2.4 Hipotesis

Menurut Notoatmodjo (2012), hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari

pertanyaan penelitian. Setelah melalui pembuktian dari hasil penelitian,

maka hipotesis ini dapat benar atau salah, dapat diterima atau tidak. Biasanya

hipotesis terdiri dari pernyataan terhadap adanya atau tidak adanya hubungan

antara dua variabel, pada penelitian ini peneliti mengambil variabel untuk

diteliti yaitu variabel Bebas (Riwayat Pemberian ASI Eksklusif) dan variabel

terikat (Kejadian Diare).

Ha : Ada hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare

H0 : Tidak ada hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian

Diare

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis/ Desain/ Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, dimana penelitian ini

berlandaskan pada pengujian teori-teori yang telah ada dengan melakukan

pengukuran variable-variabel dengan angka, kemudian melakukan analisis data

dengan prosedur analitik.

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian survey

bersifat analitik dengan desain cross sectional, dimana penelitian ini akan

menganalisis hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan angka kejadian

diare pada anak umur 0-6 bulan.

29
3.2 Subjek Penelitian

3.2.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjekyangmempunyai

karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untukdipelajari dan kemudian

ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017) Populasi dalam penelitian ini adalah

semua ibu yang memiliki bayi yang datang berkunjung ke Puskesmas ataupun

Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Selayar.

3.2.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentuhingga di

anggap dapat mewakili dari populasinya (Sastroasmoro, 2019).

Sampel dalam penelitian ini terbagi dalam 2 kelompok yang terdiri dari ibu yang

menyusui bayinya secara eksklusif dan kelompok ibu yang menyusui bayinya

tetapi tidak secara eksklusif yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria inklusi adalah ciri atau sifat yang harus dipenuhi oleh setiap anggota

populasi yang dapat diambil sebagai sampel, sedangkan kriteria eksklusi adalah

ciri atau sifat anggota populasi yang tidak dapat dijadikan sebagai anggota

sampel.

Adapun kriteria inklusi dan ekslusi sampel penelitian ini, adalah sebagai berikut :

1. Kriteria Inklusi

a. Ibu yang memiliki bayi berusia <6 bulan

b. Ibu bersedia menjadi responden

2. Kriteria Eksklusi :

30
a. Ibu yang memiliki bayi dengan riwayat penyakit campak, intoleransi

laktosa serta gangguan absorbsi (penyerapan).

b. Ibu yang mempunyai penyakit yang menular melalui (HIV)

3.2.3 Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling,

yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu(Sugiyono, 2019).

3.3 Definisi Operasional Penelitian

Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian


No Variabel Definisi Operasional Skala Instrumen Hasil Ukur
1 Pemberian Kajian riwayat Nominal Kuesioner 1. ASI Eksklusif
ASI Eksklusif pemberian ASI secara (pemberianASI
langsung maupun selama 6 bulan
diperah terlebih dahulu tanpa
mulai dari lahir hingga pemberian
usia 6 bulan tanpa makanan atau
pemberian makanan minuman lain
atau minuman lain selain ASI
selain ASI kecuali obat kecuali obat,
obatan,vitamin dan vitamin dan
mineral tetes. mineral tetes.
2. ASI Tidak
Eksklusif
(pemberian
makanan/
minuman lain
selain ASI
kecuali obat,
vitamin dan
mineral
2 Kejadian Kajian riwayat Nominal Kuesioner 1. Diare (bayi
Diare meningkatnya mengalami
frekuensi buang air diare
besar lebih dari 4 kali BAB>4x
pada bayi yang terjadi dengan
kurang dari 24 jam. konsistensi
dengan konsistensi lemebek
lembek atau cair, bahkan
bahkan dapat berupa berupa air
air saja disertai dengan saja
keadaan bayi lemas disertai
dan rewel pada bayi dengan
saat berusia ≥ 6 bulan keadaan
sampai 12 bulan. bayi lemas

31
dan rewel)
2. Tidak
Diare(bayi
mengalami
BAB

3.4 Metode Pengumpulan Data Penelitian

Jenis data yang dikumpulkan selama penelitian adalah data primer. Data ini

merupakan pengumpulan informasi menggunakan kuesioner yang diisi oleh

responden yang berkunjung ke Puskesmas Tanjung Selayar. Dengan Metode

pengumpulan Data yaitu:

3.4.1 Setiap ibu dan anak yang memenuhi kriteria inklusi bersedia untuk menjadi

responden akan dipilih untuk menjadi sampel penelitian.

3.4.2 Responden yang menjadi sampel akan mengisi identitas diri dan anak.

3.4.3 Responden akan menjawab pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner.

3.5 Tempat dan Waktu Penelitian

Waktu : Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2024

Tempat : Tempat penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung

Selayar

3.6 Analisis dan Penyajian Data Penelitian

3.6.1 Analisa Data

a. Analisa Univariat

Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan

analisis data univariat yang bertujuan untuk mendemini risetkan

karakteristik variabel yang diteliti. Bentuk analisis univariat tergantung

32
pada jenis data. Data kategorik dengan melakukan penggolongan dan

pengkrarifikasian data sesuai dengan yang ada didefinisi operasional.

Kelompok data dalam penelitian ini termasuk jenis data kategorik

sehingga analisa univariat yang digunakan distribusi frekuensi dan

persentase (Nursalam, 2019).

b. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan pada dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkorelasi. Analisis bivariat dilakukan terhadap dua

variabel yang diduga berhubungan dan untuk mengetahui kemaknaan

hubungan nilai p yaitu menggunakan analisis chi-square dan besarnya

risiko menggunakan RP (Ratio Prevalens (Sugiyono, 2016).

Berdasarkan nilai signifikan: jika nilai signifikan 0,05 tidak

terdapat korelasi maka H0 diterima dan Ha ditolak yang menyimpulkan

bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel

terikat. Adapun ketentuan yang berlaku pada uji chi square, sebagai

berikut (Riyanto, 2017):

1) Bila tabel 2x2 dan tidak ada nilai Expected (harapan)/ E<5, maka

uji yang digunakan sebaiknya “Continuity Correction (a)”

2) Bila tabel 2x2 dan ada nilai Expected (harapan)/E<5, maka uji yang

digunakan adalah “Fisher’s Exact Test”

3) Bila tabelnya lebih dari 2x2, misalnya 2x3, 3x3 dan lain-lain, maka

digunakan uji “Pearson Chi Square”

33
4) Sedangkan ”Uji Likelihood Ratio” dan ”Linear-by-Linear

Association”, biasanya digunakan lebih spesifik, misalnya analisis

stratifikasi pada bidang epidemiologi dan juga untuk mengetahui

hubungan linier dua variabel kategori, sehingga kedua jenis ini

jarang digunakan.

3.7 Etika Penelitian

Menurut Nursalam (2019) ada beberapa etika penelitian yang harus

dilaksanakan oleh peneliti yaitu:

3.7.1 Anonimity (Tanpa Nama)

Etika keperawatan dalam penelitian adalah jaminan yang diberikan dalam

penggunaan responden penelitian tidak menimbulkan pro kontra atau tersebarnya

identitas asli dari responden. Menjamin hal tersebut maka penelit akan

menyamarkan nama responden dan hanya inisial saja pada lembar data.

3.7.2 Informed Consent

Informed consent merupakan lembar persetujuan yang harus disetuji oleh

responden. Tujuan diberikan informed consent yaitu agar subjek atau responden

dapat memahami arti, maksud dan tujuan yang akan dilakukan dalam pelaksanaan

penelitian ini dan mengetahui dampaknya. Lembar informed consent ini harus

ditandatangani apabila responden dan peneliti bersedia dalam melakukan

penelitian ini.

3.7.3 Confidentiallity

Kerahasiaan dalam etika penelitian yaitu menjami segala sesuatu hasil data

yang sudah dikumpulkan dalam penelitian ini, dari halnya informasi yang

34
diberikan dan masalah-masalah dari penelitian tersebut. Data tersebut harus

dijamin kerahasiaannya dan hanya diketahui oleh kelompok atau individual

tertentu yang dilaporkan pada hasil riset.

3.7.4 Justice

Prinsip etik keadilan adalan menekankan setiap orang layak mendapatkan

sesuai dengan haknya menyangkut keadilan destributif dan pembagian yang

seimbang. Dalam hal ini peneliti harus menerapkan keadilan bagi setiap

responden.

35
36

Anda mungkin juga menyukai