Hubungan ASI Eksklusif dan Diare Balita
Hubungan ASI Eksklusif dan Diare Balita
Oleh
MARDIANA
P07124224174R
Oleh
MARDIANA
P07124224174R
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
pelayanan kesehatan primer, selain karena angka kesakitan yang tinggi, diare juga
masih sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan mortalitas dan
morbiditas yang besar (Kemenkes R1, 2021). Survei morbiditas yang dilakukan
oleh Subdit Diare Departemen Kesehatan dari tahun 2010 s/d 2020 terlihat
kecenderungan insiden naik. Pada tahun 2010 insiden penyakit Diare 301/ 1000
penduduk, tahun 2013 naik menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2016 naik
menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2020 menjadi 411/1000 penduduk
pada semua umur tergolong tinggi, kasus diare yang terdata mengalami
peningkatan dari 64.857 kasus pada tahun 2021 menjadi 74.689 kasus pada tahun
2022. Dari laporan Surveilans Terpadu Penyakit (STP) Puskesmas tahun 2023
kasus diare dilaporkan sebanyak 39.710 kasus dan tahun 2023 sebanyak 40.432
kasus. Pada anak di bawah 5 tahun menderita diare sebanyak 15.042 kasus yang
bawah 5 tahun di dunia. Kematian bayi dan balita setiap tahun yang disebabkan
3
karena diare sekitar 760.000 anak (WHO, 2019). Menurut WHO dan UNICEF,
ada hampir 2 miliar kasus diare di seluruh dunia tiap setiaptahun dan 1,7 juta
melaporkan bahwa penyebab utama kematian pada balita adalah Diare (post
neonatal) 14% dan Pneumonia (post neo-natal) 14% kemudian Malaria 8%,
penyakit tidak menular (post neonatal) 4% injuri (post neonatal) 3%, HIV
2%, Campak 1%, dan lainnya 13%, dan kematian pada bayi umur < 1 bulan akibat
Diare merupakan penyakit yang dapat dicegah dan diobati namun diare yang
Diare pada bayi disebabkan oleh faktor perilaku yang memberikan makanan
pendamping terlalu dini yang akan mempercepat bayi kontak terhadap kuman,
penggunaan botol susu yang terbukti meningkatkan risiko terkena diare karena
sulit untuk membersihkan botol serta kebiasaan ibu yang tidak menerapkan
kebiasaan cuci tangan dengan sabun sebelum memberikan ASI yang dapat
4
proses absorsi makanan dan zat nutrient yang dibutuhkan anak untuk
Kejadian diare pada bayi ini dapat disebabkan karena kesalahan dalam pemberian
makanan, dimana bayi sudah diberi makan selain air susu ibu (ASI) sebelum
berusia 4 bulan. Perilaku tersebut sangat berisiko bagi bayi untuk terkena diare
karena, pertama pencernaan bayi belum mampu mencerna makanan selain ASI,
kedua bayi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan zat kekebalan yang hanya
dapat diperoleh dari ASI dan ketiga adanya kemungkinan makanan yang diberikan
bayi sudah terkontaminasi oleh bakteri karena alat yang digunakan untuk
memberikan makanan atau minuman kepada bayi tidak steril (Hidayat, 2019).
Balita terutama bayi memiliki tingkat kepekaan (stage of susceptibility) yang lebih
tinggi daripada dewasa terhadapat infeksi pada saluran pencernaan (WHO, 2021).
Sistem kekebalan tubuh (imunitas) dan organ-organ pada bayi belum berkembang
sempurna, hingga usia 3 bulan, lambung bayi hanya dapat mencerna gula dalam
susu yang disebut laktosa (Arisman, 2020). Promosi tentang manfaat menyusui
mulai dilakukan oleh WHO pada tahun 1984, karena Air Susu Ibu (ASI) menjadi
hal yang paling penting untuk dapat mencegah terjadinya diare pada anak,
mencegah diare padaanak juga sangat efektif dan efisien bagi ibu, bahkan dapat
5
ASI eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun2012 adalah
ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa
Target program Pemberian ASI Eksklusif menurut WHO pada tahun 2023 tercatat
hanya 67,96%, turun dari 69,7% dari 2022, menandakan perlunya dukungan lebih
Badan Pusat Statistik, persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan
tahun sebelumnya, yaitu tahun 2021 capaian 66,99%, tahun 2022 capaian 69,2%,
tahun 2023 capaian 71,58% (Badan Pusat Statistik, 2023). Cakupan di Provinsi
Kalimantan Selata selama 3 tahun ini persentase capaian ASI eksklusif terdapat
peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu tahun 2021 (71,11%), tahun 2022
Adapun data untuk ibu menyusui didaerah Puskesmas Tanjung Selayar selama 3
bulan terakhir yaitu sebanyak 120 ibu yang menyusui anaknya secara eksklusif,
dengan jumlah per desa yaitu pada Desa Kampung baru sebanyak 22 ibu, Teluk
Tamiang sebanyak 14 ibu, Tg. Pelayar sebanyak 11 ibu, Tg. Tengah sebanyak 14
ibu, Bandaraya sebanyak 7 ibu, GS. Panjang sebanyak 8 Ibu, Tg. Kunyit sebanyak
8 ibu, Tg. Sungkai sebanyak 17 ibu, Tata Mekar sebanyak 13 ibu dan Desa
bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita di
6
Wilayah Kerja Puskesmas Juntinyuat. Hasil penelitian Maretha Antya Tamimi,
pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi di Wilayah Kerja
kurang dari 6 bulan pada bayi bisa mengganggu kesehatan bayi (Waryana, 2020).
Peningkatan resiko penyakit infeksi semacam diare sebab ASI tidak eksklusif
tidak sebersih serta tidak gampang di cerna semacam ASI. Diare dihubungkan
diare (Dewey dan Mayers, 2011). Hasil penelitian Arlina Analinta (2019),
pencegahan dan perlindungan terhadap diare pada anak. Selain itu juga dengan
dibandingkan dengan pemberian ASI non eksklusif pada anak. ASI mengandung
mengatur imun yang melindungi tubuh dari diare. Hasil penelitian Ni Wayan
Suryantini (2017), menyatakan Pemberian ASI eksklusif sampai bayi usia 6 bulan
akan memberikan banyak manfaat pada bayi salah satunya memberikan kekebalan
tubuh yang dapat melindungi bayi, karena ASI mengandung zat kekebalan tubuh
yaitu imunoglobulin yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit salah
satunya diare.
pemberian ASI Ekslusif terhadap kejadian diare pada balita di puskesmas Tanjung
Selayar.
7
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah “Apakah ada Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare
1. 3 Tujuan Penelitian
tahun 2024
tahun 2024
1. 4 Manfaat Penelitian
8
Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya bukti empiris mengenai
hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi dan
bayi.
2) Bagi Bidan
3) Bagi Ibu
pada bayinya.
9
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi untuk penelitian
1. 5 Keaslian Penelitian
10
Genn Andrean rotavirus, menggunakan menunjukkan bahwa
Pratama, Setyo Sri pemberian ASI model PICO. Studi tidak diberikan
Rahardjo, Bhisma eksklusif, dan meta-analitik vaksin rotavirus
Murti. tingkat dilakukan oleh risiko mengalami
(2023) pendidikan ibu mencari artikel diare 3,60 kali lipat
terhadap dari database dibandingkan dengan
kejadian diare dalam bentuk kelompok yang
pada balita, elektronik diberi vaksin
dengan meta menggunakan rotavirus (aOR=
analisis PubMed, Google 3,60; CI 95%= 2,31
berdasarkan Scholar, Science hingga 5,64;
penelitian direct, dan p<0,001), tidak
primer yang Springer Link. diberikan ASI
telah dilakukan Pencarian artikel eksklusif mempunyai
sebelumnya dilakukan pada risiko mengalami
tanggal 1-28 diare 3.28 kali
Februari 2023. dibandingkan dengan
Kata kuncinya yang diberi ASI
yang digunakan Eksklusif (aOR=
adalah “Vaksinasi” 3.28; CI 95%= 2.24
ATAU “ASI menjadi 4,80;
Eksklusif” ATAU p<0,001), dan anak
“Ibu Pendidikan” yang memiliki ibu
ATAU “Infeksi” dengan tingkat
ATAU pendidikan rendah
“Diare Masa memiliki angka
Kecil”. Kriteria kejadian 2,08 kali
inklusi penelitian lebih tinggi
ini adalah artikel beresiko mengalami
lengkap diare dibandingkan
menggunakan anak yang
penelitian cross- mempunyai ibu
sectional yang dengan tingkat
diterbitkan pada pendidikan rendah
tahun 2013-2022. lebih tinggi (aOR=
2.08; CI 95%= 1.71
hingga 2.54;
p<0.001).
11
Kesimpulannya,
pemberian ASI
eksklusif berkhasiat
mencegah diare pada
bayi usia 6–12 bulan.
12
dan demam di
Afghanistan
dan India.
Pemberian susu
botol juga
merupakan faktor
risiko infeksi
saluran pernapasan
akut di Afghanistan
dan India
lokasi, sampel, dan tahun penelitian dengan judul “Hubungan Pemberian Riwayat
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Diare adalah kejadian frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada
bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat
berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir
tinja yang lebih lembek atau cair. Diare pada bayi adalah buang air besar
dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja
zat gizi.
[Link] Patogenesis
14
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare, dalam Sudarti
(2020) adalah:
a. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi
epitel berpori, yang dapat dilewati air dan elektrolit dengan cepat
ekstraseluler. Diare terjadi jika bahan yang secara osmotic dan sulit
Larutan isotonik, air dan bahan yang larut didalamnya akan lewat
berupa larutan hipertonik, air dan elektronik akan pindah dari cairan
b. Gangguan sekresi
15
sedangkan sekresi klorida disel epitel berlangsung terus atau
elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan
Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya
diare. Tinja cair dan mungkin disertai lendir dan atau darah. Warna tinja
empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan
tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam
laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama
diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat
membesar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit
16
tampak kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi
Faktor Infeksi Angka kejadian infeksi pada bayi lebih sedikit bila
(Ibrahim 2018). Sudarti (2020) faktor infeksi penyebab diare dapat dibagi
campak yang disertai dengan diare merupakan faktor yang sangat penting
akut. Pada saat ini dengan menggunakan teknik yang baru, tenaga
75% kasus yang datang ke sarana kesehatan dan pada sekitar 50% kasus-
17
a. Infeksi bakteri : Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigellacampylobacter,
a. ASI Ekslusif
dan insidensi tertinggi terjadi pada bayi yang tidak mendapatkan ASI
b. Perilaku Ibu
dikarenakan bayi masih bergantung dengan orang lain, dalam hal ini
diare pada bayi karena PHBS yang masih kurang yaitu kebiasaan
18
mencuci tangan sebelum merawat atau mempersiapkan segala
menggunakan sabun sebanyak 50%, dalam hal ini cuci tangan saja
adalah perilaku cuci tangan ibu, dimana ibu yang tidak mencuci
tangan menggunakan sabun berisiko 6,60 kali lebih besar untuk anak
sesudah buang air besar dan membuang tinja anak, dan sesudah ibu
c. Pendidikan Rendah
orang lain maupun dari media masa. Makin banyak informasi yang
19
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Arsurya tahun 2019
kondisi yang tidak bersih dan tidak sehat (Gebru, 2014). Penderita
juga tidak mendapat sumber air yang bersih. Selain itu, mereka tidak
keluarga yang besar dengan daya beli yang rendah, kondisi rumah
20
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi menurut
Nugraheni (2019) :
fisiologis
waktupengelolaan
21
ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI tanpa tambahan cairan lain
seperti susu formula dan air putih dan tanpa tambahan makanan padat
kecuali obat-obatan dan ORS (Oral Rehydration Salt) jika sakit. Bayi
ASI memiliki sifat yang khas khususnya untuk bayi dikarenakan oleh
memiliki substansi yang bersifat spesifik. Dari ketiga sifat yang dimiliki
dari 200, antara lain zat putih telur, sel darah putih, mineral, enzim,
(Ruhana, 2020).
kebutuhan bayi, komposisi yang terkandung dalam ASI setiap saat dapat
berubah. Yang pertama disebut sebagai kolostrum yaitu ASI yang keluar
pada hari pertama sampai hari ke 4-7. Yang kedua disebut sebagai ASI
awal) ASI yang keluar berbeda dengan ASI yang keluar pada akhir
22
penyusuan (bindmilk:susu akhir). Adapun komposisi dari ASI yang
dengan produksi ASI oleh ibu yang bayinya lahir cukup bulan.
(Prawiroharjo, 2019)
ASI mengandung air sekitar 88,1% air, hal ini berperan dalam
usus halus bayi yang dapat mencegah tumbuhnya bakteri berbahaya dan
kejadian diare. Selain itu, bahan larut yang rendah juga terkandung
didalam ASI terdiri dari protein 0,9%, lemak 3,8%, laktosa 7%, dan
bayi yang memperoleh susu formula, maka bayi yang mendapatkan ASI
cenderung terhindari dari infeksi pada usus. Selain itu, didalam ASI juga
bayi yang baru lahir. Didalam ASI terkandung limfosit B dan limfosit T,
terdiri dari sel yang memiliki antigen membrane yang spesifik, termasuk
fenotip sel T memori tinggi LFA-1. Disisi lain, sel T memori berperan
23
untuk memberikan neonates kesempatan untuk mendapatkan pengalaman
mata. Hal ini disebabkan oleh taurin pada tahap perkembangan juga
ASI yang keluar pada saat kelahiran sampai hari ke 4 atau hari ke 7
(kolostrum) berbeda dengan ASI yang keluar dari hari ke 4 atau hari
sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan
24
makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh bayi
makanan seperti susu sapi. Dengan menunda pemberian susu sapi dan
makanan padat pada bayi yang lahir dari orang tua dengan riwayat
alergi sampai bayi berumur 6 bulan, yaitu umur saat barier mukosa
anak secara optimal. Hal ini karena selain sebagai nutrient yang ideal,
tidak ada atau sedikit sekali terdapat pada susu sapi, antara lain:
taurin, laktosa dan asam lemak ikatan panjang (DHA, AA, Omega-3,
Omega 6).
Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusu akan
25
ibunya yang telah ia kenal sejak dalam kandungan. Perasaan
alergi. Selain itu, ASI selalu siap tersedia dan dalam suhu yang
sesuai.
2019).
yang aman, murah dan cukup berhasil. Selama ibu memberi ASI
eksklusif dan belum haid, 98% tidak akan hamil pada 6 bulan
pertama setelah melahirkan, dan 96% tidak akan hamil sampai bayi
berusia 12 bulan.
c. Mengecilkan Rahim
26
Kadar oksitosin ibu menyusui yang meningkat akan sangat
pengecilan ini akan lebih cepat dibanding pada ibu yang tidak
menyusui.
dan kanker indung telur, mengurangi risiko keropos tulang dan risiko
Faktor Infeksi
Peningkatan
Pemberian ASI Pemberian ASI SIgA, Limfosit
Eksklusif T, Limfosit B,
Laktoferin
Faktor Gizi
(Status Gizi)
Peningkatan
Imunitas Bayi
Faktor Susunan Makan
27
Gambar 2.1 Kerangka Teori Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare
pada Bayi
Sumber : Matondang dkk (2019) dan Roesli (2020)
yang relevan dalam suatu bidang penelitian. Kerangka teori berfungsi sebagai
yang ingin diteliti. Konsep-konsep ini dapat berasal dari teori-teori yang telah ada
Kerangka konsep ialah suatu uraian tentang hubungan atau kaitan antara
variabel yang akan diamati atau diukur melalui riset yang akan dilakukan.
sebuah riset dimana alur tersebut dapat dibuat suatu hubungan antara variabel
28
2.4 Hipotesis
maka hipotesis ini dapat benar atau salah, dapat diterima atau tidak. Biasanya
hipotesis terdiri dari pernyataan terhadap adanya atau tidak adanya hubungan
antara dua variabel, pada penelitian ini peneliti mengambil variabel untuk
diteliti yaitu variabel Bebas (Riwayat Pemberian ASI Eksklusif) dan variabel
Diare
BAB III
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian survey
bersifat analitik dengan desain cross sectional, dimana penelitian ini akan
29
3.2 Subjek Penelitian
3.2.1 Populasi
semua ibu yang memiliki bayi yang datang berkunjung ke Puskesmas ataupun
3.2.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentuhingga di
Sampel dalam penelitian ini terbagi dalam 2 kelompok yang terdiri dari ibu yang
menyusui bayinya secara eksklusif dan kelompok ibu yang menyusui bayinya
tetapi tidak secara eksklusif yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria inklusi adalah ciri atau sifat yang harus dipenuhi oleh setiap anggota
populasi yang dapat diambil sebagai sampel, sedangkan kriteria eksklusi adalah
ciri atau sifat anggota populasi yang tidak dapat dijadikan sebagai anggota
sampel.
Adapun kriteria inklusi dan ekslusi sampel penelitian ini, adalah sebagai berikut :
1. Kriteria Inklusi
2. Kriteria Eksklusi :
30
a. Ibu yang memiliki bayi dengan riwayat penyakit campak, intoleransi
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling,
31
dan rewel)
2. Tidak
Diare(bayi
mengalami
BAB
Jenis data yang dikumpulkan selama penelitian adalah data primer. Data ini
3.4.1 Setiap ibu dan anak yang memenuhi kriteria inklusi bersedia untuk menjadi
3.4.2 Responden yang menjadi sampel akan mengisi identitas diri dan anak.
Selayar
a. Analisa Univariat
32
pada jenis data. Data kategorik dengan melakukan penggolongan dan
b. Analisa Bivariat
terikat. Adapun ketentuan yang berlaku pada uji chi square, sebagai
1) Bila tabel 2x2 dan tidak ada nilai Expected (harapan)/ E<5, maka
2) Bila tabel 2x2 dan ada nilai Expected (harapan)/E<5, maka uji yang
3) Bila tabelnya lebih dari 2x2, misalnya 2x3, 3x3 dan lain-lain, maka
33
4) Sedangkan ”Uji Likelihood Ratio” dan ”Linear-by-Linear
jarang digunakan.
identitas asli dari responden. Menjamin hal tersebut maka penelit akan
menyamarkan nama responden dan hanya inisial saja pada lembar data.
responden. Tujuan diberikan informed consent yaitu agar subjek atau responden
dapat memahami arti, maksud dan tujuan yang akan dilakukan dalam pelaksanaan
penelitian ini dan mengetahui dampaknya. Lembar informed consent ini harus
penelitian ini.
3.7.3 Confidentiallity
Kerahasiaan dalam etika penelitian yaitu menjami segala sesuatu hasil data
yang sudah dikumpulkan dalam penelitian ini, dari halnya informasi yang
34
diberikan dan masalah-masalah dari penelitian tersebut. Data tersebut harus
3.7.4 Justice
seimbang. Dalam hal ini peneliti harus menerapkan keadilan bagi setiap
responden.
35
36