0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

PBL Tingkatkan Hasil Belajar Statistika

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan peserta didik kelas XII Multimedia di SMK N 2 Merangin melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi statistika. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan, dengan ketuntasan belajar peserta didik meningkat dari 43,48% pada pra siklus menjadi 86,96% pada siklus II, serta keaktifan peserta didik juga meningkat dari 47,92% menjadi 82,5%. Penelitian ini mengindikasikan bahwa PBL efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan partisipasi aktif siswa.

Diunggah oleh

Mft
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

PBL Tingkatkan Hasil Belajar Statistika

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan peserta didik kelas XII Multimedia di SMK N 2 Merangin melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi statistika. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan, dengan ketuntasan belajar peserta didik meningkat dari 43,48% pada pra siklus menjadi 86,96% pada siklus II, serta keaktifan peserta didik juga meningkat dari 47,92% menjadi 82,5%. Penelitian ini mengindikasikan bahwa PBL efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan partisipasi aktif siswa.

Diunggah oleh

Mft
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Educatif : Journal of Education Research 2(3), 2020, 53-58

Contents lists available at Kreatif

Educatif : Journal of Education Research


Journal homepage: [Link]

Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk


Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Statistika
di Kelas XII Multimedia SMK N 2 Merangin

Hendriyeni
SMK n 2 Merangin

yenihendri32@[Link]

INFO ARTIKEL ABSTRAK

Kata Kunci : Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada
materi statistika di kelas XII Multimedia SMK N 2 Merangin tahun pelajaran
Problem Based Learning
2019/2020. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk meningkatkan keaktifan
Hasil Belajar peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek
dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XII MM2 SMK N 2 Merangin.
Statistika
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dimana setiap siklus terdiri dari 4
tahap yaitu perencanaan, tindakan , pengamatan dan refleksi. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah tes untuk memperoleh data hasil
belajar peserta didik dan observasi untuk memperoleh data keaktifan peserta didik
selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan
model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan Hasil belajar
dan keaktifan peserta didik. Hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan
yaitu dari 43,48% dengan nilai rata-rata 56 pada pra siklus menjadi 73,21 %
dengan nilai rata-rata 78 pada siklus I dan mengalami peningkatan lagi pada
siklus II menjadi 86,96% dengan nilai rata-rata 82. Keaktifan peserta didik dalam
belajar juga mengalami peningkatan yaitu dari 47,92% pada pra siklus menjadi
74,58% pada siklus I dan mengalami peningkatan lagi pada siklus II yaitu 82,5%.

Pendahuluan

Matematika merupakan mata pelajaran wajib yang dipelajari disetiap jenjang pendidikan,
mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah. Matematika mempunyai peranan
penting dalam dunia pendidikan. Hal ini terbukti matematika dijadikan standar kelulusan
peserta didik saat mengikuti Ujian Nasional. Tujuan belajar matematika adalah (1) melatih cara
berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan (2) mengembangkan aktivitas kreatif yang
melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen,
orisinil dan rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba (3)
mengembangkan kemampuan memecahkan masalah (4) mengembangkan kemampuan
Hendriyani Educatif : Journal of Education Research 2(3), 2020, 53-58

menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan


lisan, catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan (Depdiknas, 2005:22).
Sehubungan dengan yang dikemukakan di atas, pemerintah sudah berusaha agar tujuan
pembelajaran matematika dapat tercapai secara maksimal. Hal ini terbukti dengan
diadakannya pengembangan dan penyempurnaan kurikulum, penataran dan sertifikasi guru,
pengadaan buku paket dan menambah sarana dan prasarana pendidikan. Meskipun berbagai
usaha telah dilakukan pemerintah tapi belum memberikan hasil yang memuaskan. Berdasarkan
pengalaman dan pengamatan yang dilakukan ditempat peneliti mengajar yaitu di SMK N 2
Merangin, rata-rata nilai hasil ujian semester peserta didik kelas XII Multimedia 2 berada di
bawah standar ketuntasan yang telah ditetapkan. Dari 23 peserta didik hanya 8 peserta didik
yang nilainya berada di atas KKM (35%) dan yang berada di bawah KKM ada 15 peserta didik
(65%)
Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi peneliti dengan teman sejawat, rendahnya
hasil belajar peserta didik tersebut dikarenakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru
masih belum berjalan secara maksimal. Peserta didik tidak terlibat secara aktif dalam proses
belajar [Link] didik tidak berani mengemukakan pendapat, bertanya ataupun
menjawab pertanyaan. Guru mengajar dengan cara yang konvensional dengan menggunakan
metode ceramah, menjelaskan materi di depan kelas, dan melakukan tanya jawab dengan
peserta didik yang bisa atau aktif di dalam kelas. Hal ini membuat proses pembelajaran
didominasi oleh guru dan beberapa peserta didik saja. Kegiatan peserta didik di kelas
didominasi oleh kegiatan menyimak dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru. Metode
ceramah yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi membuat pembelajaran
menjadi membosankan sehingga menyebabkan motivasi peserta didik dalam belajar
matematika menjadi rendah. Peserta didik kurang diberi kesempatan untuk menyusun
pengetahuannya sendiri
Selain itu rendahnya hasil belajar peserta didik juga disebabkan oleh kemampuan peserta
didik yang masih rendah dalam memecahkan masalah. Sebagian peserta didik belajar dengan
menghafal rumus dan menghafal langkah-langkah dalam pengerjaan soal. Peserta didik
cenderung terpaku kepada contoh soal yang diberikan oleh guru, jika diberikan soal yang
berbeda sedikit saja dengan contoh maka peserta didik akan mengalami kesulitan dalam
mengerjakannya. Hal ini membuat peserta didik tidak mampu berpikir kritis dalam
memecahkan permasalahan. Selain itu guru juga kurang mengaitkan materi dengan
permasalahan kontekstual
Melihat permasalahan ini, perlu dilakukan perbaikan agar proses pembelajaran menjadi
lebih baik sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pelajaran
matematika. Guru harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga dapat
menumbuhkan minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Salah satu cara yang dapat
membuat peserta didik aktif dalam proses pembelajaran adalah dengan menerapkan model
pembelajaran yang bervariasi .Untuk mencapai hasil belajar secara optimal, seorang guru harus
mampu merancang dan memilih model pembelajaran yang tepat yang sesuai dengan
karakteristik peserta didik dalam menyampaikan materi pembelajaran. Selain itu model
pembelajaran yang dipilih oleh guru harus juga disesuaikan dengan materi yang akan
diajarkan.
Pada penelitian ini, penulis memilih model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
atau pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Problem
Based Leaning(PBL) adalah metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata
© 2020 Educatif : Journal of Education Research. This is an open access article under
the CC-BY-NC-SA license ([Link] 54
ISSN 2686-3669 (print), ISSN 2686-2077 (online)
Hendriyani Educatif : Journal of Education Research 2(3), 2020, 53-58

sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan
masalah dan memperoleh pengetahuan (Duch, 1995). Pada model pembelajaran problem based
learning (PBL) menerapkan pembelajaran yang kontekstual, masalah yang disajikan dapat
memotivasi peserta didik untuk belajar, pembelajaran integritas yaitu pembelajaran termotivasi
dengan masalah yang tidak terbatas, peserta didik terlibat secara aktif dalam pembelajaran,
kolaborasi kerja, peserta didik memiliki berbagai keterampilan, pengalaman, dan berbagai
konsep. Oleh karena itu peneliti tertarik melakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul
“Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Peserta Didik Pada Materi Statistika di Kelas XII Multimedia SMK Negeri 2 Merangin

Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu sebuah penelitian yang
dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri. Subjek dalam penelitian adalah peserta didik kelas XII
Multimedia 2 yang berjumlah 23 siswa yang terdiri dari 7 orang laki-laki dan 16 orang
perempuan. Penelitian dilaksanakan di SMK N 2 Merangin di Kabupaten Merangin provinsi
[Link] ini dilaksanakan selama 3 bulan mulai dari Juli sampai September 2019.
Penelitian ini menggunakan dua siklus dimana setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan.
Penelitian dilakukan melalui 4 tahap pada setiap siklusnya yakni: perencanaan (plan), tindakan
(action), pengamatan (observation), dan refleksi(reflection).
Pada tahap perencanaan, kegiatan yang dilakukan adalah membuat persiapan yang
terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),menyusun instrumen dan lembar
observasi, dan menyiapkan media.
Pada tahap tindakan, langkah yang dilakukan berdasarkan pada rencana yang sudah
dirumuskan sebelumnya yaitu guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan RPP yang sudah
disusun pada tahap perencanaan
Pada tahap pengamatan, pengamatan dilakukan oleh observer dimana guru yang
bertindak langsung. Observer akan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama
pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan
format observasi/penilaian yang telah disusun.
Pada tahap refleksi, tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan
yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan
evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi dalam PTK mencakup
analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan.
Peralatan yang perlu dipersiapkan yaitu instrumen dan lembar observasi yang telah diisi.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dan untuk
meningkatkan keaktifan peserta didik dengan menggunakan meodel pembelajaran Problem
Based Learning pada materi statistika. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan tes dan observasi. Menurut Muchtar Bukhori( dalam Arikunto, 2018:44),
tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasi-hasil
pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid. Jenis tes yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tes tertulis yang berbentuk Essay yang diberikan di akhir siklus guna
untuk mengetahui hasil belajar yang telah dicapai peserta didik. Soal pada tes disusun
berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang sesuai dengan kurikulum 2013.
Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan
perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu
besar (Sugiyono, 2015:203). Observasi adalah pengamatan langsung proses belajar mengajar
© 2020 Educatif : Journal of Education Research. This is an open access article under
the CC-BY-NC-SA license ([Link] 55
ISSN 2686-3669 (print), ISSN 2686-2077 (online)
Hendriyani Educatif : Journal of Education Research 2(3), 2020, 53-58

yang terjadi di kelas. Dalam penelitian ini observasi dilakukan selama proses pembelajaran
untuk mengamati keaktifan peserta didik. Dalam penelitian ini keaktifan peserta didik dapat
dilihat melalui kegiatan peserta didik dalam bertanya atau menjawab pertanyaan, berdiskusi di
forum kelas, dan sikap dalam menanggapi atau menyanggah pendapat teman. Semuanya akan
dicatat dengan menggunakan lembar observasi dan cheklist.
Untuk hasil belajar, dikatakan berhasil jika sesuai dengan criteria ketuntasan minimal
yaitu 75. Jadi hasil belajar peserta didik perorangan ≥ 75 dikatakan tuntas dalam belajarnya
sedangkan< 75 dikatakan belum tuntas dalam belajarnya

Hasil dan Pembahasan


Penelitian ini dilaksanakan melalui dua siklus dimana pada setiap akhir siklus diberikan
tes tertulis yang berbentuk essay untuk menentukan keberhasilan pembelajaran di kelas.
Sebelumnya dilakukan observasi pra siklus dimana berdasarkan observasi pada pra siklus
diperoleh ketuntasan belajar secara klasikal 43,48% dengan nilai rata-rata 56 dan keaktifan
peserta didik diperoleh 47,92%. Setiap siklus terdapat 2 kali pertemuan.
Siklus I
Pada siklus I dilakukan dengan 2 kali pertemuan dengan menggunakan model pembelajaran
Problem Based [Link] silkus I terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan peserta
didik pada setiap pertemuan yang dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Pada Siklus 1


Skor Tes Jumlah Peserta Didik Ketuntasan Klasikal Ketuntasan belajar
75-100 17 73,21% Tuntas
0-74 6 26,09% Belum Tuntas
Nilai rata-rata 78

Tabel 2. Keaktifan Peserta Didik Pada Siklus 1


Jumlah skor Presentase Keaktifan
179 74,58%

Berdasarkan hasil pengamatan, pada tabel diatas menunjukkan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan model Problem Based Learning pada siklus I sudah berjalan secara efektif dan
efesien. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar 23 peserta didik terdapat 17 peserta didik yang
nilainya mencapai KKM yaitu 75 dan 6 peserta didik yang nilainya berada di bawah KKM.
Presentase ketuntasan klasikal pada siklus 1 ini adalah 73,21%dengan nilai rata-rata 78.
Sedangkan Pada tabel dapat dilihat presentase keaktifan peserta didik mencapai 74,58%.
Namun Peningkatan hasil belajar dan keaktifan peserta didik pada siklus I belum mencapai
kriteria yang teleh ditetapkan yaitu dengan presentase klasikal ≥ 75%
Berdasarkan hasil data pada siklus I maka langkah yang harus dilakukan selanjutnya
adalah melaksanakan siklus II dengan melakukan perbaikan-perbaikan berdasarkan silkus I
yang bertujuan agar pada silkus II hasil belajar lebih meningkat dari silkus 1

Siklus II
Pada kegiatan siklus II, sama halnya seperti siklus I yaitu terdiri dari 2 kali pertemuan dengan
menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Pada siklus II ini terjadi

© 2020 Educatif : Journal of Education Research. This is an open access article under
the CC-BY-NC-SA license ([Link] 56
ISSN 2686-3669 (print), ISSN 2686-2077 (online)
Hendriyani Educatif : Journal of Education Research 2(3), 2020, 53-58

peningkatan hasil belajar dan keaktifan peserta didik yang lebih signifikan yang dapat dilihat
pada tabel berikut

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Pada Siklus 2


Skor Tes Jumlah Peserta Didik Ketuntasan Klasikal Ketuntasan belajar
75-100 20 86,96% Tuntas
0-74 3 13,04% Belum Tuntas
Nilai rata-rata 82

Tabel 4. Keaktifan Peserta Didik Pada Siklus 2


Jumlah skor Presentase Keaktifan
198 82,5%

Berdasarkan hasil pengamatan, pada tabel diatas menunjukkan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan model Problem Based Learning pada siklus II ini dikatakan berhasil karena
mengalami peningkatan secara keseluruhan dibanding dengan siklus I. Peningkatan hasil
belajar dan keaktifan peserta didik dapat dilihat dari hasil belajar dimana dari 23 peserta didik,
hanya 3 orang peserta didik yang nilainya berada di bawah KKM dan sebanyak 20 orang
peserta didik memperoleh nilai di atas KKM dengan presentase ketuntasan klasikal mencapai
86,96% dengan nilai rata-rata 82 dan presentase keaktifan peserta didik mencapai 82,5%. Hal ini
menunjukkan bahwa Peningkatan hasil belajar dan keaktifan peserta didik pada siklus II sudah
mencapai kriteria yang telah ditetapkan yaitu dengan presentase klasikal ≥ 75%
Berdasarkan perbandingan data pra siklus, siklus I, dan siklus II yang dijabarkan dalam
pembahasan maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tindakan yang dilakukan pada siklus
I ataupun siklus II telah memberikan perubahan di mana adanya peningkatan baik hasil belajar
peserta didik maupun keaktifan peserta didk dalam belajar. Hasil belajar peserta didik
mengalami peningkatan yaitu dari 43,48 % pada pra siklus dengan nilai rata-rata 56 menjadi
73,21 % pada siklus I dengan nilai rata-rata 78 dan mengalami peningkatan lagi pada siklus II
menjadi 86,96%dengan nilai rta-rata 82. Keaktifan peserta didikdalam belajar juga mengalami
peningkatan yaitu dari 47,92% pada pra siklus menjadi 74,58% pada siklus I dan mengalami
peningkatan lagi pada siklus II yaitu 82,5%.
Dengan demikian hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa penerapan model
pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada
materi Statistikadi kelas XII multimedia SMK N 2 Merangin telah terbukti

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, terdapat peningkatan hasil belajar peserta didik dan
keaktifan peserta didik kelas XII Multimedia SMK N 2 Merangin berdasarkan tindakan-tindakan yang
telah dilakukan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, sampai pada refleksi dengan
menerapkan model Problem Based Learning (PBL). Sebelum menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning, ketuntasan hasil belajar peserta didik hanya mencapai 43,48% pada pra
siklus dengan nilai rata-rata 56 dan mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 73,21%
dengan nilai rata-rata 78 dan mengalami peningkatan lagi pada siklus II menjadi 86,96%dengan
nilai rata-rata 82. Keaktifan peserta didik dalam belajar juga mengalami peningkatan yaitu dari
47,92% pada pra siklus menjadi 74,58% pada siklus I dan mengalami peningkatan lagi pada
siklus II yaitu 82,5%.

© 2020 Educatif : Journal of Education Research. This is an open access article under
the CC-BY-NC-SA license ([Link] 57
ISSN 2686-3669 (print), ISSN 2686-2077 (online)
Hendriyani Educatif : Journal of Education Research 2(3), 2020, 53-58

Berdasarkan hasil pembelajaran pada siklus I dan perbaikan-perbaikan pada siklus II


pada materi statistika maka peneliti dapat mengambil kesimpulan yaitu dengan menerapkan
model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan
peserta didik kelas XII Multimedia di SMK N 2 Merangin. Saran yang dapat peneliti berikan
berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah agar guru menggunakan model-model
pembelajaran yang inovatif dalam pembelajaran salah satunya adalah model pembelajaran
Problem Based Learning sehingga dapat membantu peserta didik untuk menerapkan ilmu yang
telah diperoleh dalam kehidupan nyata.

Daftar Rujukan
1. Depdiknas.2005. Materi Pelatihan dan Terintegrasi Matematika. Buku 2. Jakarta: Depdiknas
2. Duch. 1995. PembelajaranBerbasisMasalah. Jakarta: Sejarah Indonesia.
3. Arikunto, Suharsimi. 2018. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Jakarta: Bumi Aksara
4. Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta

© 2020 Educatif : Journal of Education Research. This is an open access article under
the CC-BY-NC-SA license ([Link] 58
ISSN 2686-3669 (print), ISSN 2686-2077 (online)

Anda mungkin juga menyukai