0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Kritik Sosial dalam Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa

Dokumen ini membahas tentang komunikasi massa dan kritik sosial dalam film, khususnya film 'Tuhan Izinkan Aku Berdosa' yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kritik sosial dalam film tersebut menggunakan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman baru tentang bagaimana film menyampaikan pesan sosial melalui sistem tanda dan simbol.

Diunggah oleh

Ary Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Kritik Sosial dalam Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa

Dokumen ini membahas tentang komunikasi massa dan kritik sosial dalam film, khususnya film 'Tuhan Izinkan Aku Berdosa' yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kritik sosial dalam film tersebut menggunakan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman baru tentang bagaimana film menyampaikan pesan sosial melalui sistem tanda dan simbol.

Diunggah oleh

Ary Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Menurut Kamus Komunikasi, komunikasi (communications) berasal dari


bahasa Latin “communicatio” yang berarti “pergaulan”, “persatuan”, “peran
serta”, “kerja sama”; bersumber dari istilah “communis” yang berarti “sama
makna”. Komunikasi merupakan suatu proses dalam menyampaikan pesan yang
berupa simbol-simbol bermakna yang mencerminkan perpaduan antara pikiran
dan perasaan—seperti ide, informasi, keyakinan, harapan, ajakan, dan lain-lain—
yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain, baik secara langsung melalui
interaksi tatap muka maupun secara tidak langsung lewat media, dengan tujuan
memengaruhi sikap, pandangan, atau perilaku penerima pesan (Wazis:1, 2022).

Sebagaimana halnya komunikasi yang memiliki beragam sudut pandang,


pengertian komunikasi massa pun beraneka ragam. Diperlukan berbagai
perspektif untuk memahami komunikasi massa secara lebih utuh, sehingga
realitas komunikasi massa dapat tergambarkan dengan lebih jelas. Secara harfiah,
komunikasi massa merujuk pada proses penyampaian informasi melalui berbagai
media massa. Istilah "komunikasi massa" merupakan bentuk singkatan dari
"komunikasi melalui media massa," sementara media massa itu sendiri
merupakan singkatan dari media yang digunakan dalam komunikasi massa (Dyah
dkk.:100, 2022). Dyah juga mengutip pendapat Joseph A. Devito dalam bukunya
yang berjudul “The Interpersonal Communication Book (12th ed.)”
mengemukakan bahwa komunikasi massa adalah bentuk komunikasi yang
ditujukan kepada audiens yang sangat besar. Proses komunikasi ini dilakukan
melalui berbagai media seperti radio, televisi, majalah, surat kabar, buku dan
film.

Film merupakan salah satu medium yang secara luas digunakan untuk
menyampaikan cerita, sebagaimana halnya novel. Namun demikian, meskipun
keduanya memiliki fungsi naratif, cara bertutur antara film dan novel memiliki
perbedaan yang signifikan. Perbedaan ini terutama terletak pada karakteristik
dasar dari masing-masing medium. Novel mengandalkan bahasa tulis untuk
menuturkan cerita, sementara film memanfaatkan kekuatan visual dan audio.
Oleh karena itu, teknik penceritaan dalam film sangat dipengaruhi oleh sifat khas
dari medium visual dan audionya (Ariansah:1, 2017).

Menurut Muhajir (dalam Ariansah, 2017), film merupakan media komunikasi


massa yang memiliki pengaruh besar karena membawa pesan-pesan penting
kepada khalayak. Oleh sebab itu, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan,
tetapi juga sebagai alat pendidikan, informasi, pendorong kreativitas, bahkan
sebagai sarana ekonomi yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Sebagai produk budaya, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi
juga dapat digunakan sebagai sarana kritik sosial terhadap berbagai
permasalahan, baik secara eksplisit maupun tersirat. Beberapa film menyoroti isu
ketimpangan sosial, ketidakadilan, kebebasan individu, hingga konflik moral
yang berkembang di tengah masyarakat. Representasi kritik sosial dalam film
dapat membentuk pemahaman dan kesadaran penonton terhadap isu-isu tertentu,
menjadikan film sebagai alat kritik yang efektif.

Film merupakan objek kajian yang sangat relevan dalam analisis semiotika
karena tersusun dari berbagai sistem tanda yang saling berinteraksi untuk
menciptakan makna yang diharapkan. Secara umum, penonton memahami film
sebagai suatu kesatuan makna, tetapi melalui analisis lebih dalam, dapat
ditemukan berbagai lapisan makna, termasuk denotasi, konotasi, dan mitos
(SelfiYani, 2021).

Salah satu film yang menyoroti kritik sosial dan menarik untuk dikaji adalah

Tuhan Izinkan Aku Berdosa, yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini

diadaptasi dari novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin Dahlan

dan dirilis pada tahun 2024 oleh MVP Pictures dan Dapur Film (Detik, 2024).

Mengangkat tema yang sensitif dan kontroversial, film ini mengeksplorasi


konflik moral, spiritual, kemanusiaan, agama, dan sosial yang dihadapi para
tokohnya. Dalam film ini, tema-tema moralitas dan agama dijelajahi melalui
narasi yang kompleks dan karakter-karakter yang mendalam. Salah satu hal yang
amat menarik dalam Tuhan, Izinkan Aku Berdosa ada di narasinya. Secara
eksplisit, film ini menyoroti kekecewaan Kiran terhadap agama yang selama ini
menjadi panutannya. Kehidupan Kiran dipenuhi dengan sikap zuhud yang hidup
sebagai muslimah yang taat beragama secara kaffah. Secara visual, film ini juga
berhasil lewat sudut pengambilan gambarnya yang amat menarik dilihat dan
penuh simbol. Namun, setelah ia memasuki lingkungan Dardariyah, Kiran justru
menelan kekecewaan besar terhadap apa yang ia masuki. Ia mempertanyakan
konsep ketuhanan dan mengapa setelah ia menjadi taat beragama (Kurnia, 2024).
Melalui alur cerita serta simbolisme yang digunakan, film ini tidak hanya
menawarkan refleksi bagi penonton, tetapi juga sebagai kritik terhadap realitas
sosial yang ada.

Untuk memahami bagaimana kritik sosial direpresentasikan dalam film ini,


pendekatan semiotika menjadi metode yang relevan. Teori semiotik pertama kali
dikembangkan oleh Ferdinand De Saussure (1857–1913). Dalam pendekatannya,
semiotika terbagi menjadi dua elemen utama, yaitu signifier (penanda) dan
signified (pertanda). Penanda merujuk pada bentuk fisik yang dapat diamati,
seperti tampilan suatu karya arsitektur. Sementara itu, pertanda mengacu pada
makna yang terkandung di balik karya tersebut, termasuk konsep, fungsi, dan
nilai-nilainya. Saussure menekankan pentingnya hubungan antara penanda dan
pertanda yang terbentuk melalui kesepakatan atau konvensi sosial, suatu proses
yang dikenal sebagai signifikasi. Semiotika signifikasi merupakan suatu sistem
yang mengkaji bagaimana elemen-elemen tanda saling berinteraksi berdasarkan
aturan atau norma tertentu. Dalam kerangka ini, makna sebuah tanda hanya dapat
dimengerti melalui pemahaman bersama dalam suatu masyarakat. Bagi Saussure,
tanda selalu terdiri dari dua aspek: bentuk bunyi atau gambar yang berfungsi
sebagai signifier, dan konsep atau gagasan yang diasosiasikan dengan bentuk
tersebut sebagai signified (Badar, 2023).

Melalui pendekatan ini, penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan


menganalisis tanda-tanda yang digunakan dalam film Tuhan Izinkan Aku
Berdosa dalam merepresentasikan kritik sosial. Berdasarkan penjelasan tersebut,
penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam melalui penelitian berjudul
"Representasi Kritik Sosial dalam Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa (Teori
Semiotika Ferdinand de Saussure)".

Penelitian ini dianggap penting karena dapat membantu memahami


bagaimana sebuah film mengonstruksi makna dan menyampaikan kritik sosial
melalui sistem tanda dan simbol. Dengan menggunakan pendekatan semiotika
Saussure, penelitian ini akan mengungkap bagaimana hubungan antara penanda
dan pertanda membentuk representasi sosial di dalam film, serta bagaimana
makna tersebut dipahami oleh penonton.

Lebih jauh, kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam


pengembangan analisis film dan studi media, khususnya dalam menyoroti fungsi
film sebagai sarana kritik sosial. Melalui penelitian ini, diharapkan muncul
pemahaman baru tentang bagaimana film mampu membangun kesadaran
masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial yang sedang berkembang.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, penelitian ini berusaha

menjawab pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana representasi kritik sosial dalam film Tuhan Izinkan Aku

Berdosa?

1.3. Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, penelitian ini

bertujuan untuk:

1. Menganalisis representasi kritik sosial dalam film Tuhan Izinkan Aku

Berdosa.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun

praktis, yaitu sebagai berikut:

1. Manfaat Praktis

a. Memberikan pemahaman bagi penonton dan masyarakat tentang

bagaimana film dapat merepresentasikan kritik sosial melalui tanda dan

simbol yang digunakan.

b. Memberikan perspektif bagi sineas atau pembuat film dalam mengemas

pesan sosial melalui elemen visual dan naratif.

c. Menganalisi representasi kritik sosial dalam film Tuhan Izinkan Aku

Berdosa.

d. Mengidentifikasi tanda dan simbol yang digunakan dalam film Tuhan

Izinkan Aku Berdosa untuk menyampaikan kritik sosial.

e. Menjelaskan makna yang dikonstruksi melalui tanda dan simbol dalam

film Tuhan Izinkan Aku Berdosa berdasarkan analisis semiotika

Ferdinand de Saussure.

2. Manfaat Akademis
a. Memperkaya referensi akademis mengenai penggunaan teori semiotika

Ferdinand de Saussure dalam analisis film.

b. Memberikan landasan teoretis bagi penelitian selanjutnya yang mengkaji

film sebagai bentuk komunikasi massa dan kritik sosial.

c. Menjadi acuan bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi yang tertarik

dengan studi representasi sosial dalam media audiovisual.

d. Memberikan perspektif bagi sineas atau pembuat film dalam mengemas

pesan sosial melalui elemen visual dan naratif.

e. Menganalisi representasi kritik sosial dalam film Tuhan Izinkan Aku

Berdosa.

f. Mengidentifikasi tanda dan simbol yang digunakan dalam film Tuhan

Izinkan Aku Berdosa untuk menyampaikan kritik sosial.

g. Menjelaskan makna yang dikonstruksi melalui tanda dan simbol dalam

film Tuhan Izinkan Aku Berdosa berdasarkan analisis semiotika

Ferdinand de Saussure.
BAB II

LANDASAN TEORI

1.5. Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan kajian ini, khususnya yang

membahas representasi kritik sosial dalam film menggunakan pendekatan

semiotika. Berikut adalah daftar penelitian tersebut:

Judul, Peneliti &


No Teori Metode Hasil Penelitian Relevansi
Tahun

1. “Analisis Semiotika Analisis Kualitatif Film ‘Parasite’ Penelitian ini


Kritik Sosial Dalam Semiotika Deskriptif membahas berbagai isu membahas
Film Parasite”, Muh. Roland sosial dan budaya di kritik sosial
Aidil Parastyo, 2022. Barthes Korea Selatan dan dalam film
mengandung banyak dengan
kritik sosial dengan menggunakan
jelas menggunakan teori
dialog, ekspresi wajah, semiotika
gerak tubuh dan latar yang berbeda.
tempat.
2. Representasi Budaya Analisis Kualitatif Budaya patriarki dalam Penelitian ini
Patriarki Film “Ngeri- Semiotika Deskriptif ranah privat yang membahas
Ngeri Sedap”, Annisa Ferdinand mengarahkan patriarki representasi
Nurmeida, 2023. De pada lingkungan budaya
Saussure keluarga berupa patriarki film
peminggiran terhadap menggunakan
perempuan teori
(marginalisasi), semiotika
penempatan pada posisi yang sama.
kurang penting
(Subordinasi),
Stereotype, kekerasan
metal, beban kerja.
3. Analisis Semiotika Analisis Kualitatif Beberapa scene yang Penelitian ini
Pesan Moral Dalam Semiotika Deskriptif mengandung pesan membahas
Film Quarantine Roland moral seperti kejujuran, film dengan
Tales, Habib Ali Barthes bertanggung jawab, analisa dan
Akbar, 2022. kemandirian moral, teori
keberadian moral, semiotika
kritis. yang berbeda.
1.6. Komunikasi Massa

Komunikasi merupakan unsur fundamental dalam kehidupan sosial manusia.


Setiap individu tidak dapat melepaskan diri dari proses komunikasi, baik secara
verbal maupun nonverbal. Dalam konteks penelitian ini, pemahaman mengenai
konsep komunikasi sangat penting sebagai dasar untuk menganalisis interaksi
antarindividu maupun dalam skala yang lebih luas.

Komunikasi merupakan proses terjadinya interaksi antara individu, baik


dengan sesama manusia maupun dengan lingkungannya. Dalam proses ini, dua
orang atau lebih saling memengaruhi pikiran, pendapat, keyakinan, serta sikap
masing-masing. Pertukaran informasi tidak hanya terjadi secara verbal, tetapi
juga melalui gerakan tubuh, simbol, ekspresi wajah, dan bentuk nonverbal
lainnya. Meskipun bahasa sering dianggap sebagai sarana komunikasi yang
paling efektif dalam beberapa dekade terakhir, sebenarnya masih banyak media
lain yang digunakan penulis dalam menyampaikan informasi secara efisien
(Bonaraja dkk., 2020). Terdapat banyak jenis komunikasi, tergantung pada media
yang digunakan, jumlah orang yang berkomunikasi atau cara di mana informasi
dipertukarkan. Salah satu yang akan dijelaskan dalam penelitian ini adalah
komunikasi massa.

Istilah komunikasi massa diambil dari bahasa Inggris dan merupakan


singkatan dari mass media communication, yang berarti komunikasi yang
berlangsung melalui media massa. Saat ini, banyak pakar telah mengemukakan
definisi mengenai komunikasi massa, meskipun masing-masing menekankan
aspek yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut biasanya dipengaruhi oleh latar
belakang keilmuan dan pengalaman masing-masing ahli. Namun demikian,
secara umum terdapat kesamaan pandangan, yaitu bahwa komunikasi massa
merupakan proses penyampaian pesan yang dilakukan melalui media massa.
Media tersebut merujuk pada sarana komunikasi yang dihasilkan oleh kemajuan
teknologi modern, seperti radio, televisi, surat kabar dan film (Ido, 2020).

Menurut Bittner dalam Sherly (2020), komunikasi massa merupakan proses


penyampaian pesan melalui media massa kepada sejumlah besar orang. Dari
definisi ini dapat dipahami bahwa kehadiran media massa menjadi syarat utama
dalam komunikasi massa. Artinya, meskipun pesan disampaikan kepada banyak
orang, seperti dalam sebuah rapat akbar yang dihadiri ribuan peserta, jika tidak
melibatkan media massa, maka tidak dapat dikategorikan sebagai komunikasi
massa. Media yang termasuk dalam kategori media massa antara lain radio dan
televisi yang termasuk media elektronik, serta surat kabar dan majalah yang
tergolong media cetak. Selain itu, film juga menjadi bagian dari media massa
yang disampaikan melalui bioskop sebagai salurannya.

Media menjadi sarana utama dalam menyampaikan dan menyebarkan


berbagai ideologi. Media memiliki kemampuan untuk menyampaikan ideologi
yang dirancang oleh kelompok tertentu kepada masyarakat luas, sehingga secara
tidak langsung ideologi tersebut mulai memengaruhi pola pikir khalayak dan
tertanam dalam benak mereka. Fenomena ini dikenal sebagai representasi dalam
media, yang merupakan perpaduan antara kajian komunikasi dan kajian budaya
—dua hal yang kini sulit untuk dipisahkan. Membahas representasi tidak dapat
dilepaskan dari konsep komunikasi, sebab representasi pada dasarnya adalah
bagian dari proses komunikasi, yakni pertukaran pesan melalui media yang
kemudian menghasilkan makna (Femi, 2020).

1.7. Representasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah representasi merujuk

pada tindakan atau proses dalam mewakili sesuatu, baik itu dalam bentuk

individu, keadaan, maupun hal yang berfungsi sebagai perwakilan (Departemen

Pendidikan Nasional, n.d.).

Dalam KBBI juga dijelaskan bahwa representasi dapat diartikan sebagai


suatu tindakan atau kondisi yang bersifat representatif. Selain itu, representasi
juga merujuk pada proses yang melibatkan penggunaan simbol, gambar, dan
elemen lain yang memiliki makna tertentu. Dalam penelitian semiotika,
representasi sering digunakan untuk menggambarkan bentuk perlawanan yang
terdapat dalam suatu karya. Konsep ini banyak diterapkan dalam analisis tokoh
dalam karya sastra, baik dalam novel maupun film. Dalam konteks ini, penelitian
lebih berfokus pada representasi dalam film (Nurhikmah, 2024).

Secara umum, representasi dapat diartikan sebagai proses menggambarkan,


mendeskripsikan, atau memproyeksikan suatu hal dalam pikiran. Dalam konteks
budaya, representasi tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga berperan
dalam membentuk makna sosial terhadap realitas tersebut. Representasi sangat
berkaitan erat dengan budaya, karena budaya menyediakan sistem makna yang
digunakan masyarakat untuk memahami dunia sekitarnya. Dalam hal ini, bahasa
memiliki peran penting sebagai medium utama untuk menyampaikan dan
membentuk makna. Menurut Stuart Hall, makna tidak melekat secara alami pada
suatu objek, melainkan dibentuk melalui proses representasi yang berlangsung
dalam suatu konteks budaya tertentu. Ia mengembangkan konsep “lingkaran
budaya” (circuit of culture) yang menjelaskan bahwa makna dari suatu teks atau
artefak budaya dibentuk dan dipahami melalui lima aspek utama, yaitu
representasi, identitas, produksi, konsumsi, dan regulasi. Kelima aspek ini saling
berinteraksi dalam proses konstruksi makna yang berlangsung di masyarakat
(Erlangga dkk., 2022).
Menurut Indah dkk., (2023), secara umum, teori representasi dapat dipahami
sebagai sebuah kerangka berpikir yang digunakan untuk menganalisis bagaimana
makna dan pemahaman tentang kebudayaan dibentuk dalam kehidupan sosial.
Proses pembentukan ini berlangsung melalui penyampaian simbol-simbol,
visualisasi, serta tanda-tanda tertentu yang berfungsi sebagai media komunikasi.
Representasi tidak hanya menyampaikan realitas, tetapi juga turut serta
membentuk persepsi, membangun identitas, dan menciptakan relasi sosial di
tengah masyarakat. Oleh karena itu, teori representasi memegang peranan
penting dalam kajian budaya kontemporer. Representasi berperan sebagai
penghubung antara makna, bahasa, dan budaya (Stuart Hall, 1997). Proses
representasi berlangsung melalui dua elemen utama, yakni konsep mental dan
sistem bahasa. Keduanya saling berkaitan, di mana konsep-konsep yang
terbentuk dalam pikiran manusia diwujudkan dan disampaikan melalui bahasa,
simbol, atau gambar sebagai bentuk representasi terhadap makna tertentu.

Konsep representasi memiliki makna yang luas namun tetap sederhana.


Dalam konteks media, representasi tidak hanya dipahami sebagai tampilan visual
yang terlihat secara langsung, tetapi juga mencerminkan sesuatu yang lebih
dalam dari sekadar aspek teknologis yang tampak. Representasi mengacu pada
cara media menggambarkan individu atau kelompok tertentu sehingga
membentuk persepsi sosial terhadap mereka. Sebagai contoh, profesi guru dapat
direpresentasikan melalui deskripsi yang menonjolkan karakteristik khasnya,
sementara institusi seperti sekolah dapat digambarkan melalui simbol atau citra
tertentu. Oleh karena itu, representasi tidak hanya menyentuh aspek visual atau
penampilan luar semata, tetapi juga menyangkut makna-makna yang melekat dan
dikonstruksi melalui berbagai bentuk penggambaran tersebut (Ichsan, 2021).

Berdasarkan pemahaman yang diperoleh, representasi dapat diartikan sebagai


cara suatu objek, peristiwa, atau kelompok digambarkan dan dimaknai melalui
media atau simbol tertentu. Representasi tidak hanya berkaitan dengan tampilan
visual semata, tetapi juga mengandung makna-makna yang tersembunyi dan
berpotensi memengaruhi cara pandang masyarakat. Proses ini melibatkan
konstruksi sosial dan budaya yang berperan dalam membentuk bagaimana
sesuatu dipersepsikan oleh publik.

Dalam konteks media, representasi memiliki fungsi penting sebagai alat


pembentuk makna, ideologi, dan perspektif sosial. Media tidak hanya berfungsi
sebagai penyampai informasi, tetapi juga bertindak sebagai agen yang aktif
dalam menciptakan dan menyebarkan wacana tertentu. Representasi menjadi
jembatan antara pesan yang dikonstruksi oleh pembuat media dengan pemaknaan
yang diterima oleh khalayak. Oleh karena itu, media memiliki peran besar dalam
membentuk opini publik dan memengaruhi realitas sosial yang berkembang di
masyarakat.

Dengan memahami peran strategis representasi dalam media, penting bagi


kita untuk melihat berbagai fenomena sosial yang diangkat melalui media dengan
pendekatan yang lebih kritis. Sebagai kerangka konseptual dalam menganalisis
dinamika sosial yang tercermin dalam media, maka hal ini menjadi landasan
untuk membahas teori-teori yang berkaitan dengan kritik sosial.

1.8. Kritik Sosial

Dalam terminologi Habermas, kritik merupakan metode atau cara untuk


mencapai kemampuan rasional dalam mengatasi krisis. Kritik dapat dimaknai
sebagai suatu pendekatan yang lahir dari situasi krisis dan hanya relevan ketika
krisis tersebut benar-benar terjadi. Dalam konteks ini, kritik berfungsi sebagai
upaya untuk mencari solusi atau jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi
masyarakat. Menurut Soetandyo Wignjosoebroto, kritik pada dasarnya
merupakan usaha rasional yang keabsahannya tidak hanya bergantung pada
kemampuan intelektual seseorang dalam menganalisis kondisi, tetapi juga
ditentukan oleh keberhasilannya dalam diimplementasikan secara nyata guna
mengatasi krisis yang ada (Markus, 2020).

Kritik sosial merupakan bentuk komunikasi di dalam masyarakat yang


berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial atau proses
bermasyarakat (Hantisa Oksinata, 2010: 33). Dalam konteks kehidupan sosial,
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kritik sosial merupakan respons terhadap
kondisi sosial yang dianggap tidak ideal atau menyimpang dari nilai-nilai
keadilan, kemanusiaan, dan moral yang berlaku dalam masyarakat. Kritik sosial
hadir sebagai bentuk kesadaran kolektif maupun individu terhadap berbagai
persoalan yang muncul di lingkungan sosial, seperti ketimpangan ekonomi,
ketidakadilan, diskriminasi, penyalahgunaan kekuasaan, serta persoalan moral
dan budaya.

Kritik sosial dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi yang berkembang


dalam masyarakat, berfungsi sebagai mekanisme kontrol terhadap jalannya
sistem sosial. Melalui kritik sosial, individu atau kelompok menyampaikan
tanggapan terhadap hal-hal yang dianggap menyimpang dari nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat. Kritik ini dapat disampaikan dalam berbagai bentuk,
seperti sindiran, sarkasme, atau humor, yang bertujuan untuk mengungkapkan
ketimpangan sosial dan mendorong kesadaran publik terhadap isu-isu yang ada.
Sebagai contoh, dalam penelitian yang dilakukan oleh Pratama (2023)

Menurut Oksianta, dalam Tiara (2023), Kritik sosial dapat dipandang sebagai
bentuk inovasi sosial yang tidak hanya berfungsi untuk mengevaluasi dan
menanggapi ide-ide atau kondisi yang telah ada, tetapi juga sebagai sarana untuk
mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran baru yang bersifat progresif. Dalam
konteks ini, kritik sosial memainkan peran penting sebagai mekanisme
komunikasi dalam masyarakat yang berfungsi untuk memantau serta
mengarahkan perkembangan sistem atau proses sosial agar tetap selaras dengan
nilai-nilai yang diharapkan.

Kritik sosial dapat disampaikan dalam berbagai bentuk, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Bentuk kritik langsung antara lain berupa aksi sosial,
unjuk rasa, atau demonstrasi. Sementara itu, bentuk kritik tidak langsung dapat
diwujudkan melalui media ekspresif seperti lagu, puisi, film, pertunjukan teater,
dan bentuk seni lainnya. Setiap bentuk kritik sosial memiliki peran dan dampak
yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat (Agusly, 2022).

Dengan demikian, kritik sosial tidak hanya menjadi bentuk ekspresi


ketidakpuasan terhadap kondisi sosial tertentu, tetapi juga berfungsi sebagai
sarana kontrol sosial yang mendorong terjadinya perubahan. Disampaikan
melalui berbagai bentuk—baik secara langsung maupun tidak langsung—kritik
sosial memainkan peran penting dalam menyuarakan suara masyarakat,
membentuk kesadaran kolektif, serta memicu refleksi terhadap dinamika sosial
yang terjadi.

Salah satu medium yang kerap digunakan untuk menyampaikan kritik sosial
secara tidak langsung adalah film. Sebagai bentuk seni yang bersifat visual dan
naratif, film memiliki kemampuan untuk merepresentasikan realitas sosial secara
simbolik maupun eksplisit. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya akan
difokuskan pada film sebagai media yang efektif dalam mengemas kritik sosial
melalui cerita, karakter, dan simbol-simbol yang ditampilkan.

1.9. Film

1.9.1. Pengertian Film

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan film dalam dua


pengertian. Pertama, film merujuk pada selaput tipis yang terbuat dari
seluloid, yang digunakan untuk menyimpan gambar negatif (untuk dipotret)
atau gambar positif (untuk diputar di bioskop atau televisi). Secara harfiah,
film (atau sinema) adalah rangkaian gambar hidup (bergerak), yang sering
juga disebut sebagai movie. Pengertian kedua, film diartikan sebagai cerita
atau lakon yang disajikan dalam bentuk gambar hidup.

Film merupakan salah satu bentuk media komunikasi massa yang


berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai macam pesan dalam
kehidupan modern. Di sisi lain, film juga berperan sebagai media ekspresi
artistik, yaitu sebagai wadah bagi para seniman untuk menyampaikan ide dan
gagasan melalui pendekatan estetika. Kedua fungsi ini berpadu secara unik
dalam teknologi perfilman, yang terus berkembang dan mengalami kemajuan
dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, film adalah produk dari kemajuan
teknologi modern (Sumarno:19, 2017).
Menurut Cangara dalam Utama (2023) secara sempit film dapat
diartikan sebagai sajian gambar yang ditampilkan melalui layar lebar. Namun
dalam pengertian yang lebih luas, film juga mencakup tayangan-tayangan
yang disiarkan melalui televisi. Dengan kekuatan visual yang didukung oleh
unsur audio yang khas, film menjadi media yang sangat efektif, baik sebagai
sarana hiburan maupun alat pendidikan.

Menurut Baran dalam (Prima, 2022), film adalah media komunikasi


yang menggabungkan unsur audio dan visual untuk menyampaikan pesan
kepada sekelompok orang di lokasi tertentu. Sebagai salah satu bentuk media
komunikasi massa, film dinilai sangat efektif dalam menjangkau audiensnya.
Kemampuannya menyampaikan cerita secara padat dan menarik dalam waktu
singkat membuat film memiliki daya pengaruh yang kuat. Saat menonton
film, penonton seolah diajak menjelajahi ruang dan waktu, menyaksikan
beragam kehidupan, serta merasakan dampaknya secara emosional dan
kognitif.

Film memiliki hubungan yang khas dan peran yang kompleks


terhadap berbagai isu sosial, politik, dan budaya. Ia berfungsi dalam beragam
cara, mulai dari sebagai media ekspresi dan kreativitas, sarana penyampaian
ide (film sebagai bentuk seni), alat untuk memasarkan tema-tema tertentu
(film sebagai komoditas bisnis), hingga menjadi media komunikasi yang bisa
dimanfaatkan untuk propaganda. Semua fungsi ini bisa saling beririsan,
terutama ketika film membahas tema-tema keagamaan dan dinamika
kehidupan para pemeluk agama (Imanjaya:3, 2019).

Film memiliki berbagai manfaat dalam proses pembelajaran, sehingga


keberadaannya sangat berperan dalam menyampaikan pengetahuan yang
bernilai positif kepada penontonnya. Trianton mengemukakan bahwa
setidaknya terdapat empat manfaat utama dari film, yaitu: (1) sebagai sarana
hiburan, (2) sebagai sumber informasi, (3) sebagai media pendidikan, dan (4)
sebagai cerminan nilai-nilai sosial dalam suatu bangsa. Keempat fungsi
tersebut menunjukkan bahwa menonton film tidak hanya bertujuan untuk
mencari hiburan semata, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran dan
pemahaman terhadap realitas sosial (Apriliany, 2021).

Menurut Sumarno dalam bukunya Apresiasi Film (2017), Alasan


utama seseorang menonton film adalah untuk menemukan nilai-nilai yang
dapat memperkaya kehidupan batinnya. Setelah menonton, penonton sering
memanfaatkan film sebagai sarana untuk membandingkan realitas yang ada
dalam film dengan kenyataan yang mereka hadapi sehari-hari. Oleh karena
itu, film memberikan pandangan baru dalam melihat dunia. Di sisi lain, ada
pula penonton yang menonton film semata-mata untuk melarikan diri dari
ketegangan dan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan nyata,
menjadikan film sebagai bentuk hiburan atau pelarian.

Sumarno juga menyatakan bahwa film dapat dijadikan objek kajian


dalam berbagai disiplin ilmu, tidak hanya dalam aspek estetika, tetapi juga
sebagai dokumen sosial yang merekam berbagai aspek kehidupan manusia.
Meskipun kenyataan yang ditampilkan dalam film seringkali disesuaikan
dengan imajinasi pembuatnya, film yang disusun dengan citarasa seni tinggi
biasanya dapat dipercaya dalam menggambarkan kondisi sosial pada
zamannya. Elemen-elemen sosial seperti lokasi, bangunan, pakaian tokoh,
gaya hidup, dan cara berpikir yang digambarkan dalam film mencerminkan
keadaan sosial pada waktu itu. Karena itu, film sangat relevan untuk
digunakan dalam studi berbagai disiplin ilmu seperti sosiologi, antropologi,
psikologi, kedokteran, jurnalisme, dan politik (Sumarno, 2017).

1.9.2. Unsur-unsur Film

Unsur-unsur film merupakan komponen-komponen dasar yang

membentuk suatu karya film. Setiap elemen bekerja sama untuk

menyampaikan pesan, cerita, atau tema tertentu kepada penonton. Berikut

adalah beberapa unsur penting dalam film:

1. Sinematografi

Sinematografi adalah elemen yang mencakup segala hal terkait

dengan pencahayaan, komposisi gambar, dan penggunaan kamera.

Ini termasuk:

a. Pemilihan sudut kamera

Sudut kamera yang digunakan untuk merekam adegan

dapat mempengaruhi bagaimana penonton melihat dan

merasakan situasi tersebut.

b. Gerakan kamera

Kamera bisa diam atau bergerak. Gerakan kamera

(misalnya, dolly, tracking shot, atau panning) memberikan

dinamika visual dan emosi tertentu dalam adegan.

c. Pencahayaan
Pengaturan cahaya dalam film dapat menciptakan

suasana tertentu, menonjolkan karakter atau objek, serta

menggambarkan waktu dan tempat.

d. Komposisi gambar

Penempatan objek dalam frame dapat menambah

makna visual dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

2. Penulisan Naskah (Skrip)

Skrip adalah elemen teks yang mengatur dialog, aksi, dan


urutan kejadian dalam film. Naskah berperan penting dalam
membangun plot, karakter, serta tema utama yang akan dijelajahi
dalam film. Skrip juga memberikan struktur dasar untuk film,
memandu para aktor dan sutradara dalam menciptakan sebuah
karya yang kohesif.

3. Aktor dan Akting

Akting adalah salah satu unsur yang paling krusial dalam film,
karena karakter-karakter yang dimainkan oleh aktor memberikan
nyawa pada cerita. Kualitas akting mempengaruhi bagaimana
penonton merasakan dan memahami perasaan, motivasi, dan
perkembangan karakter sepanjang film.

4. Sutradara

Sutradara adalah orang yang bertanggung jawab atas visi


artistik film, memimpin seluruh produksi film, dan bekerja dengan
semua elemen teknis dan kreatif. Sutradara mengarahkan akting,
sinematografi, pemilihan lokasi, dan cara elemen-elemen lainnya
dipadukan untuk menyampaikan pesan yang diinginkan.

5. Desain Produksi

Desain produksi mencakup semua elemen visual dan fisik


yang ada dalam film, termasuk set, kostum, dan properti. Ini
adalah elemen yang menentukan penampilan dunia film, dan
penting untuk menciptakan suasana atau latar yang sesuai dengan
cerita. Misalnya, desain set dapat menunjukkan tempat di mana
cerita berlangsung, sementara kostum membantu menggambarkan
karakter dan zaman.

6. Musik dan Suara


Musik dalam film berfungsi untuk mendukung suasana hati,
memperkuat emosi yang ingin disampaikan, dan memberikan
nuansa dramatis pada momen tertentu. Suara, baik itu dialog, efek
suara, atau musik latar, sangat penting dalam menciptakan
pengalaman imersif bagi penonton. Musik dapat memperkuat
tema, membangkitkan ketegangan, atau menambah kedalaman
emosional.

a. Efek suara

Suara yang dihasilkan untuk menciptakan atmosfer,

seperti suara alam, kendaraan, atau suara latar lainnya.

b. Dialog

Penggunaan kata-kata yang diucapkan oleh karakter

untuk menyampaikan pesan dan memajukan plot.

7. Editing (Penyuntingan)

Editing adalah proses menggabungkan potongan-potongan


gambar dan suara untuk membentuk alur cerita yang koheren.
Penyuntingan menentukan kecepatan film, transisi antar adegan,
dan bagaimana perasaan penonton dipandu melalui waktu dan
ruang. Teknik editing seperti jump cuts, fades, atau montase juga
dapat digunakan untuk menciptakan efek tertentu.

8. Tata Suara

Tata suara berhubungan dengan bagaimana suara dalam film


diatur dan disinkronkan. Ini meliputi segala sesuatu dari pemilihan
efek suara hingga penggunaan musik dan dialog. Tata suara yang
baik dapat meningkatkan dampak emosional sebuah adegan,
seperti menciptakan ketegangan atau mempertegas suasana hati.

9. Tema dan Pesan

Tema adalah gagasan utama atau pesan yang ingin


disampaikan oleh film. Ini dapat berkisar dari nilai-nilai moral,
masalah sosial, atau pandangan tentang kehidupan manusia. Tema
sering kali dijalin dengan plot, karakter, dan visual untuk
membentuk pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia yang
digambarkan dalam film.
10. Plot dan Struktur Naratif

Plot adalah urutan peristiwa dalam film yang menggerakkan


cerita maju. Struktur naratif merujuk pada bagaimana cerita
disusun—apakah film mengikuti struktur linear, dengan awal,
tengah, dan akhir yang jelas, atau menggunakan struktur non-
linear yang lebih kompleks. Struktur ini juga mencakup
penggunaan klimaks, konflik, dan resolusi dalam cerita.

11. Genre

Genre adalah kategori atau jenis film yang dibedakan


berdasarkan gaya, tema, dan elemen-elemen yang digunakan.
Genre film, seperti drama, komedi, horor, fiksi ilmiah, atau
thriller, memengaruhi bagaimana cerita disusun dan bagaimana
penonton merespons film tersebut.

12. Visual Efek (VFX) dan Efek Khusus

Efek visual dan efek khusus adalah teknik yang digunakan


untuk menciptakan gambar atau peristiwa yang tidak dapat
dihasilkan secara fisik atau di dunia nyata. Efek ini sering kali
digunakan untuk menciptakan dunia fantasi, keajaiban, atau situasi
yang tidak mungkin terjadi dalam kenyataan, seperti ledakan besar
atau penciptaan karakter CGI.

1.9.3. Film Sebagai Representasi Budaya dan Sosial

Film berfungsi sebagai media yang mentransmisikan budaya. Dengan


kemampuannya untuk membentuk dan mempengaruhi makna, film membuka
ruang bagi penonton untuk melakukan berbagai interpretasi. Selain itu, film
memiliki potensi untuk mengubah cara pandang individu terhadap suatu ide,
entitas, atau pemikiran tertentu. Realitas yang ditampilkan dalam media,
termasuk film, dikonstruksi dengan cara-cara tertentu. Proses ini, yang dalam
ranah pengetahuan dikenal dengan istilah representasi, berfungsi sebagai
sarana untuk menyampaikan makna dalam bentuk mediasi budaya.
Pemahaman terhadap representasi tersebut dipengaruhi oleh latar belakang
budaya individu yang menyerapnya, serta dipengaruhi oleh konteks dan
kondisi tertentu pada saat itu (Rachman, 2020).

Sebagai kelanjutan dari hal tersebut, Rachman (2020) menjelaskan


bahwa proses representasi bertujuan untuk menjelaskan makna dari entitas
yang direpresentasikan, termasuk yang ditampilkan melalui media audio
visual dalam bentuk film. Representasi ini juga melibatkan bahasa visual
yang disajikan dalam film, yang menjadi sarana untuk menggambarkan
berbagai fenomena. Bahkan dalam satu film, sering kali terdapat berbagai
entitas yang direpresentasikan.

Lebih lanjut, film memiliki interaksi yang erat dengan masyarakat,


terutama sebagai salah satu bentuk hiburan yang sangat digemari. Selain itu,
film juga memiliki fungsi untuk mempengaruhi opini publik. Oleh karena itu,
mempelajari film menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana
pengaruhnya terhadap publik. Penelitian ini berfokus pada cara-cara untuk
memahami representasi dalam film, dengan tujuan untuk menjelaskan
bagaimana pesan-pesan yang disampaikan melalui film sebagai media
komunikasi audio visual dapat dipahami. Unsur-unsur yang ada dalam film
memungkinkan penonton untuk memahami pesan yang ingin disampaikan
oleh pembuatnya. Di sisi lain, seringkali terdapat representasi berbagai entitas
dalam film tersebut. Dalam hal ini, film menjadi sangat terkait dengan ilmu
komunikasi. Ada bahasa yang disampaikan, baik secara verbal melalui dialog,
maupun secara nonverbal melalui aksi atau Gerakan (Rachman, 2020).

1.10. Semiotika

1.10.1. Pengertian Semiotika

Menurut Kurniawan dalam (Fatimah, 2020:23) semiotika berasal dari kata


Yunani semeion yang berarti “tanda” dan seme yang mengacu pada proses
penafsiran tanda. Istilah ini berkembang dari tradisi studi klasik dan skolastik,
yang mencakup seni retorika, poetika, serta logika. Secara historis, semeion
berasal dari istilah dalam dunia kedokteran Hipokratik dan Asklepiadik, yang
berfokus pada studi tentang gejala penyakit (simtomatologi) serta metode
diagnostik berbasis inferensi. Pada masa itu, tanda dipahami sebagai sesuatu
yang mengindikasikan keberadaan hal lain, seperti asap yang menunjukkan
adanya api.

Pada buku yang berjudul Semiotika Al-Qur’an, Ahmad (2022) menjelaskan


semiotika adalah bidang ilmu yang mempelajari tentang tanda, termasuk berbagai
aspek yang berkaitan dengan tanda, seperti sistem dan proses penggunaannya.
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh M. Gottdiener, yang menyatakan
bahwa semiotika adalah suatu pendekatan dalam memahami dunia sebagai
sebuah sistem relasi, di mana elemen utamanya adalah tanda.

Ahmad juga menjelaskan dua tokoh utama yang dianggap sebagai pelopor
semiotika modern adalah Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce.
Keduanya merupakan figur penting dalam meletakkan fondasi bagi ilmu
semiotika. Meskipun tinggal di tempat yang berbeda, kontribusi mereka
berkembang secara paralel, terutama dalam menjelaskan keterkaitan antara ilmu
pengetahuan dan tanda. Saussure (1857–1913) dan Peirce (1839–1914), yang
dikenal sebagai ahli logika dan pernah berkiprah di Universitas Chicago, secara
terpisah merumuskan dasar-dasar penting bagi kajian semiotika modern, yang
kerap disebut sebagai “kehidupan tanda dalam masyarakat”. Oleh karena itu,
keduanya sering disebut sebagai bapak semiotika (Ahmad, 2022).

1.10.2. Semiotika Ferdinand De Saussure

Menurut Zaimar pada buku Nur Sahid (2016), Ferdinand de Saussure,


seorang tokoh asal Swiss yang dikenal sebagai salah satu pelopor dalam bidang
semiotika. Ia memandang bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang paling
sempurna, sehingga layak dijadikan sebagai objek utama kajian. Dalam upayanya
merumuskan ilmu tentang tanda, Saussure membangun fondasi teori melalui
linguistik. Meskipun demikian, ia telah memperkirakan bahwa di masa
mendatang akan muncul sebuah disiplin ilmu baru yang disebut semiologi atau
semiotika. Saussure telah meramalkan bahwa suatu saat akan berkembang ilmu
baru yang disebut semiologi (semiotika).

Menurut Saussure (1916), tanda merupakan hasil dari pertemuan antara


bentuk yang terbayang dalam pikiran seseorang dan makna yang dipahami oleh
pengguna tanda. Ia menyebut sisi bentuk dari tanda sebagai signifiant (penanda),
sementara sisi maknanya disebut signifié (petanda). Saussure memandang tanda
sebagai suatu hal yang memiliki struktur, yakni proses hubungan antara penanda
dan petanda, serta hasil dari proses tersebut yang terbentuk dalam kognisi
manusia, (Fatimah, 2020).

Saussure merumuskan prinsip-prinsip dasar dalam teori linguistik umum.


Keunikan dari teorinya terletak pada pandangannya yang melihat bahasa sebagai
suatu sistem tanda. Saussure menyatakan bahwa teori mengenai tanda linguistik
seharusnya menjadi bagian dari suatu teori yang lebih luas. Untuk itu, ia
mengajukan istilah semiologi, yang maknanya dianggap setara dengan semiotika.
Ketika para penerus Saussure mulai merumuskan teori semiotika umum, mereka
menggunakan model linguistik sebagai dasar. Pilihan ini bukan semata-mata
karena pengaruh langsung Saussure, melainkan karena pada saat itu ilmu
linguistik telah mengalami perkembangan yang pesat. Para semiotikawan yang
mengikuti pendekatan Saussure meyakini bahwa tanda-tanda linguistik memiliki
keunggulan dibandingkan bentuk tanda dalam kajian semiotika lainnya. (Zoest
dalam Sahid, 2016).

Melalui buku Cours de Linguistique Générale, pembaca seakan diajak untuk


mempelajari linguistik secara langsung bersama Saussure dan menyusuri
berbagai konsep dasar dalam pemikirannya. Tak mengherankan jika karya ini
memberikan dampak besar terhadap perkembangan cara berpikir para linguis dari
generasi ke generasi. Pemikiran Saussure sendiri terbilang sangat luas, sehingga
tidak mudah untuk menjangkau keseluruhannya secara menyeluruh. Oleh karena
itu, pembahasan ini hanya akan menyoroti bagian-bagian yang dianggap paling
esensial, khususnya yang berkaitan dengan konsep dasar linguistik yang
berhubungan erat dengan semiotika. Dalam mendalami konsep dasar linguistik
Saussure, terdapat sejumlah dikotomi penting yang tidak boleh diabaikan, yaitu
perbedaan antara parole dan langue, signifiant dan signifié, pendekatan sinkronik
dan diakronik, serta hubungan antara sintagma dan paradigma, (Ahmad, 2022).
Seperti yang ditulis bukunya, Ahmad mengemukakan ranah pemikiran dan teori
semiotika dari Ferdinand de Saussure:

1. Parole dan Langue

Konsep parole dan langue merupakan inti pemikiran Saussure yang


memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu linguistik
setelahnya. Kedua istilah ini berasal dari bahasa Prancis, sehingga cukup
sulit untuk menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia.
Namun, maknanya dapat dipahami melalui penjelasan definisional.
Parole (yang dalam bahasa Inggris disebut speech) merujuk pada segala
bentuk ujaran individu yang muncul dari pikiran penuturnya sendiri.
Dengan kata lain, parole adalah ekspresi personal yang bersifat
individual, bukan fenomena sosial, karena berasal dari kesadaran dan
kehendak pribadi. Sebaliknya, langue (yang disepadankan dengan
language dalam bahasa Inggris) adalah sistem kode bersama yang
dimiliki dan dipahami oleh seluruh anggota masyarakat bahasa. Menurut
Saussure—sebagaimana dikutip oleh Martin Krampen—langue
merupakan fakta sosial, sebagaimana halnya bahasa nasional yang juga
bersifat sosial.

Saussure mengilustrasikan hubungan antara parole dan langue


melalui analogi permainan catur. Dalam permainan tersebut, yang paling
penting bukanlah siapa pemainnya atau bahan catur itu dibuat, melainkan
aturan main yang mengatur hubungan antarunsur serta fungsi masing-
masing bagian—seperti raja, ratu, dan pion. Setiap pemain harus
mengikuti aturan permainan, namun bebas menentukan kapan dan
bagaimana menjalankan setiap bidak. Kebebasan ini menggambarkan
parole, sementara aturan permainannya mewakili langue. Dengan kata
lain, langue adalah sistem yang menjadi acuan bersama, dan parole
adalah bentuk aktualisasi bebas dari sistem tersebut dalam praktik
berbahasa.

2. Signifiant dan Signifie’

Selain dikotomi parole dan langue, Saussure juga memperkenalkan


konsep penting lainnya dalam semiotika, yaitu perbedaan antara
signifiant dan signifié. Pembedaan ini menjadi inti dari pandangannya
mengenai tanda. Menurut Saussure, seperti dikutip oleh Gottdiener, tanda
merupakan gabungan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan: signifiant
(dalam bahasa Inggris signifier), yaitu gambaran bunyi dari ujaran yang
didengar oleh penerima pesan, dan signifié (dalam bahasa Inggris
signified), yaitu makna atau konsep yang muncul dalam pikiran penerima
sebagai respons terhadap signifier tersebut.

Dalam bahasa Indonesia, signifiant biasanya diartikan sebagai


"penanda" dan signifié sebagai "petanda" atau "yang ditandakan".
Signifiant merupakan bentuk bunyi atau tulisan yang memiliki arti—
dengan kata lain, aspek fisik atau material dari bahasa, seperti apa yang
diucapkan atau dituliskan. Sementara itu, signifié mengacu pada ide,
gambaran mental, atau konsep yang muncul dalam benak kita—yakni
aspek mental dari bahasa. Keduanya saling terkait erat seperti dua sisi
dari sekeping mata uang; satu tidak akan bermakna tanpa kehadiran yang
lain.
Oleh karena itu, dalam menganalisis suatu tanda, penting untuk bisa
membedakan dengan jelas antara unsur material (penanda) dan unsur
mental (petanda). Seperti yang dijelaskan oleh St. Sunardi, kedua
komponen ini adalah elemen penting dari suatu tanda—tanpa salah
satunya, tanda tidak akan ada, bahkan tidak bisa dibayangkan. Namun,
meskipun tampaknya mudah untuk diingat, konsep ini tidak selalu mudah
untuk dipahami karena sifatnya yang tidak dapat dibuktikan secara
empiris. Pemahamannya sangat bergantung pada sudut pandang atau cara
pandang seseorang.

Untuk memperjelas, ambil contoh kata "tempat parkir". Frasa ini


merupakan sebuah tanda karena memiliki signifier (kata atau bunyinya)
dan signified (konsep tentang lokasi untuk menyimpan kendaraan).
Kesatuan antara bentuk kata dan konsep itulah yang menjadikan "tempat
parkir" sebagai sebuah tanda. Namun, bagi seseorang yang tidak bisa
membaca atau tidak memahami kata tersebut, "tempat parkir" tidak
memiliki makna dan karenanya tidak berfungsi sebagai tanda. Hubungan
antara penanda dan petanda bersifat simbolis, dalam arti bahwa penanda
mewakili atau melambangkan petanda.

Hubungan simbolik ini membentuk apa yang disebut sebagai tanda


linguistik, yaitu satuan dasar dalam komunikasi menurut Saussure, dan
merupakan bagian dari langue. Baik penanda maupun petanda pada
akhirnya bersifat psikologis, karena keduanya berpadu dalam pikiran
manusia melalui hubungan asosiatif.

3. Sinkroni dan Diakroni


Ferdinand de Saussure mendefinisikan bahwa bahasa merupakan
sistem tanda yang merepresentasikan ide-ide. Dalam konteks ini, bahasa
dapat disejajarkan dengan sistem tanda lainnya seperti tulisan, bahasa
isyarat bagi tunarungu, ritual simbolik, norma kesopanan, maupun isyarat
dalam dunia militer. Pandangan ini menimbulkan pertanyaan: mengapa
Saussure memberikan definisi demikian terhadap bahasa? Jawabannya
dapat ditemukan melalui dua konsep kunci yang diperkenalkan oleh
Saussure, yakni sinkroni dan diakroni. Kedua istilah ini berasal dari
bahasa Yunani, di mana khromos berarti waktu, dan awalan syn- serta dia-
masing-masing berarti “bersamaan” dan “melalui”. Secara umum,
sinkroni merujuk pada kajian bahasa dalam kerangka waktu tertentu,
sementara diakroni berfokus pada penelusuran perkembangan bahasa dari
masa ke masa secara historis.

Dalam kajian linguistik, bahasa (langue) dapat dianalisis melalui dua


pendekatan tersebut. Namun demikian, Saussure menekankan bahwa
pendekatan sinkronis lebih esensial dalam memahami cara kerja bahasa
sebagai sistem. Pandangan ini bertolak belakang dengan kecenderungan
para linguis abad ke-19 yang lebih menitikberatkan pendekatan diakronis
—yakni studi historis-komparatif terhadap bahasa, termasuk etimologi
dan perubahan bunyi dari waktu ke waktu. Saussure tidak
memprioritaskan asal-usul atau sejarah penggunaan bahasa, melainkan
lebih tertarik untuk memahami bagaimana tanda-tanda dalam bahasa
saling berhubungan dan membentuk suatu sistem makna secara struktural.

Karena itulah, pendekatan sinkronis dianggap sebagai dasar utama


untuk memahami sistem tanda dalam bahasa. Pandangan ini melandasi
definisi Saussure bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang
mengekspresikan ide-ide, dan setara dengan bentuk-bentuk sistem tanda
lainnya seperti tulisan dan simbol sosial. Meskipun demikian, Saussure
tidak sepenuhnya menolak pendekatan diakronis. Ia justru berpendapat
bahwa kajian sinkronis harus dilakukan terlebih dahulu sebelum beralih
ke analisis diakronis. Bagi Saussure, akan menjadi tidak tepat jika
menelusuri perubahan atau evolusi suatu unsur bahasa tanpa terlebih
dahulu memahami sistem tempat unsur tersebut berfungsi. Maka,
pemahaman atas struktur bahasa pada satu waktu tertentu merupakan
syarat penting sebelum mengkaji perubahan-perubahan historis yang
terjadi di dalamnya.

4. Sintagmatik dan Paradigmatik

Selain dikotomi sinkroni dan diakroni, Ferdinand de Saussure juga


memperkenalkan konsep dikotomis lainnya yang penting dalam kajian
bahasa, yaitu hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik. Kedua
jenis relasi ini berkaitan erat dengan cara kerja sistem tanda dalam
struktur bahasa (langue). Bahasa memiliki karakter linier karena disusun
dan diungkapkan dalam satu dimensi waktu; berbeda dengan sistem tanda
visual yang lebih banyak bergantung pada ruang. Karena sifat linier ini,
tanda-tanda linguistik diorganisasikan dalam suatu urutan tertentu yang
menghasilkan makna. Urutan tersebut membentuk apa yang disebut
sebagai hubungan sintagmatik—yakni hubungan antara unsur-unsur tanda
yang hadir secara berurutan dalam satu rangkaian ujaran.

Sebagai ilustrasi, hubungan sintagmatik dapat dipahami melalui


contoh tayangan aksi oleh Unang dan Ulfa dalam sebuah acara televisi.
Tayangan tersebut dirancang untuk menguji daya prediksi penonton
terhadap kelanjutan suatu rangkaian peristiwa. Misalnya, saat penonton
melihat Ulfa membawa setrika dan menghentikan seseorang di jalan,
mereka bisa memprediksi bahwa Ulfa akan meminta bantuan orang
tersebut, entah untuk memperbaiki setrika atau menyetrika pakaian.
Prediksi ini muncul karena penonton memahami struktur narasi dan
mampu menghubungkan satu tanda dengan tanda lainnya dalam urutan
waktu. Dengan kata lain, keberhasilan menebak kelanjutan peristiwa
menunjukkan kemampuan memahami hubungan sintagmatik—yaitu
hubungan antara elemen yang hadir secara aktual dan berurutan.

Sementara itu, hubungan paradigmatik merujuk pada relasi antara


tanda-tanda yang berada dalam satu kategori atau kelas, namun tidak
hadir secara bersamaan dalam satu konteks. Hubungan ini bersifat virtual
atau in absentia, karena tanda-tanda yang berelasi tidak muncul
bersamaan, tetapi tetap saling terkait dalam jaringan makna. Contohnya,
kata "supermarket" yang muncul dalam sebuah iklan memiliki hubungan
paradigmatik dengan kata "pasar" dan "mall". Ketiga kata tersebut
merupakan bagian dari kelas makna “tempat belanja”, dan bisa saling
menggantikan dalam konteks tertentu. Hubungan paradigmatik bersifat
opsional dan bersandar pada pilihan tanda yang tersedia dalam sistem
bahasa, layaknya hubungan kekerabatan antar “saudara” dalam sebuah
keluarga tanda.

Anda mungkin juga menyukai