Nama : Shania Dwi Hidayati
NPM : 110110180063
Mata Kuliah : Hukum Hak Asasi Manusia (B)
Dosen : Miranda Risang Ayu, S.H, LL.M, Ph.D
Ajie Ramdan, S.H, M.H
International Bill Of Rights
1. Sejarah Pengesahan
Pada awalnya tanggungjawab Komisi Hak Asasi Manusia meliputi tiga elemen yaitu
suatu pernyataan hak dan kebebasan, suatu daftar hak dan kebebasan yang mengikat
secara hukum, dan yang terakhir suatu mekanisme untuk membuat hak-hak tersebut dapat
ditegakkan sehingga memberi manfaat lansung bagi seluruh umat manusia. Ini semua
akan menjadi Peraturan Perundang-Undangan Hak Asasi Manusia, suatu cetak biru
konstitusional untuk Tata Dunia Baru yang menentukan hak dan kebebasan yang
disepakati dan dapat ditegakkan secara universal. Negara–negara, yang pada saat itu
terkejut dengan praktik-praktik yang mengerikan selama Perang Dunia II diharapkan
akan menyepakati hukum internasional yang jangkauannya melampaui permukaan
tanggungjawab negara kepada masyarakat internasional untuk mengatur perlindungan
bagi individu. Pengetahuan dan pemahaman global tentang hak-hak dasar untuk semua
yang diproklamasikan dalam DUHAM masih belum tercapai sepenuhnya. Ini bukan
hanya kesalahan dari negara-negara kurang berkembang secara ekonomis. Sampai
dengan akhirnya Undang-Undang Hak Asasi Manusia disahkan pada tahun 1998 di
Inggris (yang kemudian berdampak pada ketentuanketentuan dalam Konvensi Hak Asasi
Manusia Eropa dalam hukum domestik sebagai satu-satunya instrumen hak asasi manusia
internasional yang mendapatkan status seperti itu), banyak orang di negara tersebut,
termasuk mereka yang berpendidikan tinggi, akan mengalami kesulitan bila diminta
untuk menyebutkan hak-hak dasar mereka.
2. Prinsip Prinsip Dasar
Hak dan kebebasan yang tercantum dalam DUHAM mencakup sekumpulan hak yang
lengkap baik itu hak sipil, politik, budaya, ekonomi, dan sosial tiap individu maupun
beberapa hak kolektif. Hubungan dengan kewajiban juga dinyatakan dalam Pasal 29 (1):
“Semua orang memiliki kewajiban kepada masyarakat di mana hanya di dalamnya,
perkembangan kepribadiannya secara bebas dan sepenuhnya dimungkinkan”
3. Kategori yang diatur
4. Pengawasan
Universal Declaration on Human Rights
1. Sejarah Pengesahan
[Link] mengurangi kekuasaan hukum negara atas warganya. Hal ini dimaksudkan untuk
mencegah kekejaman terhadap warga negaranya dan warga negara lain seperti terlihat
pada masa Perang Dunia II yang dilakukan Naziisme dan ideologi nasional lain.
[Link] perlindungan bagi individu menghadapi negara dimana ia menjadi
warganya. Hal ini dimaksudkan bahwa setiap pelanggaran hak asasi oleh suatu negara
kepada individu yang menjadi warganya dapat dimintakan pertanggungjawaban secara
internasional.
Majelis umum Pbb mengadopsi dekarasi universa ham ini pada 10 desember 1948,
keenuan keenuan yang erdapa daam dekarasi universa ham ini dianggap mempunyai niai
sebagai hukum kebiasaan inernasiona.
2. Prinsip prinsip dasar
1. Pengakuan erhadap martabat dasar dan hak hak yang sama dan sejajar sebagai dasar
dari kemerdekaan, keadian dan perdamaian dunia
2. Membangun hubungan yang baik anarbangsa
3. Perlindungan ham dengan rule of law
4. Persamaan antara aki-aki dan perempuan
5. Kerjasama antara negara dengan pbb unuk mencapai pengakuan universa erhadap
ham dan kebebasan dasar.
3. Kategori yang diaur
Dekarasi universa ham ini erdiri dari 30 pasa , yang mengaur mengenai hak hak asasi
yang dimiiki oeh seiap manusaia anpa kecuai. Jaminan hak sipil sebagai hak yang
menyangkut kepentingan pribadi yang tidak boleh ada campur tangan pihak lain,
misalnya: hak beragama, hak membentuk keluarga . Hak politik, sebagai hak yang terkait
dalam kehidupan bernegara, misalnya: hak turut serta dalam pemerintahan, hak atas
perlindungan hukum yang sama, hak atas kebebasan berkumpul dan berapat. Sedangkan
jaminan hak ekonomi, sosial dan kebudayaan , antara lain meliputi:hak atas pekerjaan,
hak mendapat pengajaran, hak kesehatan, hak jaminan sosial, hak turut serta dalam
berkebudayaan. Deklarasi ini menandai tonggak sejarah sebuah moral dalam sejarah
komunitas bangsa – bangsa. Seain iu, dienukan juga arangan-arangan demi menjamin
perindungan erhadap hak-hak asasi manusia.
4. Mekanisme pengawasan
Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip yang dicerminkan dalam DUHAM tetap menjadi
kriteria kunci diakuinya suatu negara atau rezim baru oleh negara lainnya. Di samping
itu, penghormatan terhadap hak asasi manusia secara nyata adalah prasyarat keanggotaan
berbagai organisasi internasional dan regional, termasuk PBB. Tidak satu negara pun
dapat menanggung kerugian yang dapat timbul dari pengabaian hak asasi manusia.
Sebaliknya mereka harus memastikan penghormatan terhadap hak dan kebebasan yang
diartikulasikan dalam Deklarasi sebagai suatu standar minimum.
International Covenant on Civil and Political Right
1. Sejarah Pengesahan
Kovenan ini dibenuk perama ka pada 1966 dan dibua berdasarkan universa decaraion of
human righs. Pada prakekya, dekarasi ersebu ernyaa beum mampu menyaukan paham-
paham yan erdapa di dunia, sehingg ercipa suau esepakaan inernsiona mengenai perunya
dibenuk sebuah kovenan dengan keberakuan mengika yang diharapkan ebih mampu
memberikan perindungan erhadap ham secara ebih erpadu.
Pada dasarnya, kesepakaan ersebu ercipa juga karena keadaan pada saa iu, dimana negara
negara kapiais memiiki paham yang berbeda dengan negara-negara komunis. Ameria
serika sebagai moor penggerak dari negara negara kapiais, ebh erfokus pada hak-hak sipi
dan poiik, sedangkan negara negara komunis ebih erfokus pada hak-hak ekonomi , sosia
dan budaya. Daam rangka mengaasi ha ersebu, maka dicipakanah dua kovenan yang
berbed yaiu ICCPR dan inernaional covenant on economic, social and cultural rights.
Kovenan ini beraku pda 23 maret 1976 dan diratifikasi oeh 155 negara pesera, Indonesia
eah meraifikasi kovenan meaui undang undang no.12 ahun 2005.
2. Prinsip prinsip dasar
Daam kovenan ini erdapa beberapa prinsip umum yang pada dasarnya eah dierima secara
luas didunia inernasiona. Pda pasa 1 dinyaakan bahwa seuruh manusia memiii hak unuk
menenukan nasibnya sendiri, sebagaimana prinsip ini ercanum daam unied naions charer.
Hak ersebu meipui kebebasan unuk menenukan saus poiik dan kebebasan memperoeh
perkembangan ekonomi, sosia dan budaya.
Prinsip umum lain ercanum daam pasa 26 yang menyebukan bahwa setiap orang memiiki
kedudukan yang sama daam hkm, anpa ada diskriminasi anara yang sau dengan yang
ainnya daam memperoeh perindungan hukum. Oeh karena iu suau hukum mearang sgaa
benuk diskriminasi yang didasarkan pada suau ras, warna kui, jenis keamin, bahasa,
agama, pendapa poiik, asa kebangsaan aau saus sosia kepemiikan au saus keahiran.
3. Kategori yang diatur
Kovenan internasional tentang hak sipil dan politik berisi 53 Pasal. Dari 52 Pasal tersebut
dapat dibagi kedalam 6 bagian yaitu:
• Bagian I – III (Pasal 1-27) pelarangan diskriminasi, kesetaraan gender, dan pembatasan-
pembatasan dan mengatur hak-hak seperti hak hidup (Ps.6), pelarangan penyiksaan dan
penghukuman yang tidak manusiawi (Ps. 7 & 10), pelarangan perbudakan (Ps. 8), hak
kebebasan dan keamanan termasuk pelarangan penahanan akibat tidak mampu membayar
hutang (Ps. 9 dan 11), hak bebas bergerak (Ps. 12 dan 13), hak untuk proses peradilan
yang fair termasuk pelarangan terhadap pemberlakukan UU secara surut (Ps. 14 dan 15),
pengakuan kedudukan hukum seseorang (Ps. 16 dan 17), hak kebebasan berfikir, memilih
agama dan kepercayaan (Ps; 18), bebas berpendapat dan berekspresi termasuk pelarangan
propaganda dan penghasutan (Ps. 19 dan 20), kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan
berdagang (Ps. 21 dan 22), Hak menikah, membentuk keluarga dan memiliki keturunan
(Ps. 23 dan 24). Hak berpolitik (ps. 25), kesetaraan (Ps. 26), dan hak sebagai kelompok
minoritas (Ps. 27).
• Bagian IV – V (Pasal 28-53) berisi tentang mekanisme monitoring, prinsipprinsip dalam
interprestasi.
Bahwa dari pengaturan hak sipil dan politik sebagaimana tersebut di atas, yang termasuk
dalam hal yang bersifat absolute adalah pelarangan penyiksaan, perbudakan dan
penerapan UU secara surut. Sedangkan hak-hak lainnya memungkinkan untuk dilakukan
reservasi, pembatasan atau pengurangan. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 4
Kovenan Sipol.
4. Metode Pengawasan
Komite sebagaimana diatur daam pasal 28 berfungsi meakuan pengawasan erhadap
peaksanaan keenuan yang erdaa daam kovenan ini. Daam pasal 41 dan 42, dinyaakan
bahwa komie berhak mengkomunikasikan kepada negra yang idak memenuhi kewajiban
daam kovenan, berdasarkan pengaduan dari negara pesera ain.
International Covenant on Economic, social and cultural rights
1. Sejarah pengesahan
Hak ekonomi, sosia dan budaya telah dikena oeh masyaraka inernsiona sejak muncunya
universa decaraion of human rights pada 1948. Muncunya hk ekonomi, sosia dan budaya
adah unuk menjamin perindungan bagi seiap orang unuk mendpakan hak kebebasan dan
keadian sosia yang berkeanjuan. Menuru unied naions deveopmen programme (UNDP),
seperlima popuasi dunia menderia keaparan seiap maam, seperempanya kurang
medapakan akses unuk memenuhi kebuuhan dasarnya seperi air bersih dan seperiganya
ingga daam kemiskinan. Oeh karen iu, perhaian sera komimen erhadap perunya hak
eonomi, sosia dan budaya menjadi sesuau yang ak ereakkan. Iniah yang meaarbeakangi
muncunya inernaiona covenan on economic, social and culture right sebgai insrumen
hukum inernasiona mengenai ham yang paing penin daam memberikan perindungan
erhadap hak ekonomi, sosia dan budaya. Kovenan ini dinyaakan erbuka unuk
penandaanganan, raifikasi dan aksesi daam resousi majeis umum pbb 16 desember 1966.
2. Prinsip prinsip dasar
Prinsip umum daam kovenan ini adaah hak unuk menenukan nasib diri sendiri (right of
self derminaion). Hal ini eruang daam pasa 1 kovenanyang menyebukan bahwa semua
orng mempunyai hak unuk menenukan nasib diri sendiri yang dengan hak ersebu mereka
bebas menenukan saus poiiknya dan bebas mengembangkan keadaan ekonomi, sosia dan
budayanya. Oeh karenanya, seiap negara pesera harus mendoron eraksananya hak
menenukan nasib diri sendiri dan menghargai hak ersebu.
3. Kategori yang diatur
Kovenan ini diratifikasi Indonesia melalui Undang-Undang RI No. 11. Tahun 2005
tentang pengesahan International Covenant on Sosial, economic and cultural Rights
(Kovenan internasional tentang hak sosial, ekonomi dan budaya) LN Tahun 2005 No.
119 TLN No. 4557. Kovenan internasional tentang hak sipil dan politik berisi 31 Pasal.
Adapun yang berkaitan dengan rumusan hak sipil dan politik terdapat dalam Pasal 6 –
Pasal 15, yaitu :
1. hak untuk bekerja (Pasal 6);
2. hak untuk menikmati kondisi kerja yang adil dan baik (Pasal 7);
3. hak untuk membentuk dan ikut dalam organisasi perburuhan (Pasal 8);
4. hak atas jaminan sosial, termasuk asuransi sosial khususnya para ibu, anak dan orang
muda (Pasal 9, 10);
5. hak untuk mendapat kehidupan yang layak (Pasal11);
6. hak untuk menikmati standar kesehatan fisik dan mental yang tinggi (Pasal 12);
7. hak atas pendidikan (Pasal 13 dan 14);
8. hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya (Pasal 15).
4. Metode pengawasan
Badan yang berugas mengawasi peaksanaan dari kovenan ini iaah commiee on economic,
social and cuur rights (komie). Komie ini dibenuk oeh economic and social council pada
1985. Fungsi uama komie ini iaah unuk memoniir peaksanaan kovenan ini meaui negara-
negara peseranya. Komie juga berupaya meningkakan diaog anar negara pesera dan
memanau sejauh mana keenuan keenuan daam kovenan ini dierapkan oeh negara pesera
daam memenuhi kewajibannya aas kovenan ini dengan mengusukan kebijakan, saran dan
rekomendasi agar hak ekonomi, sosia dan budaya dapa diaksanakan dengan efekif.
International Convention on the elimination of all forms of racial discrimination
1. Sejarah pengesahan
Prinsip prinsip mraba dan kesederajaan yang meeka pada semua manusia , negara-negara
berjanji mengambi angkah bersama sama maupun sendrI sendiri memajukan dan
mendorong penghoormaan dan pemauhan ham dan kebebasan dasar bagi semua anpa
membedakan ras, jenis keamin , bahasa atau agama. Seiapmanusia iu sederaja dihadapan
hukum dan berhak aas perindungan yang sama aas segaa macam diskriminasi dan segaa
benuk hasuan yang menimbukan diskriminasi, Preambul deklarasi PBB tersebut
menjelaskan tentang hubungan diskriminasi rasial dengan dekolonialisasi dan
meningkatnya keprihatinan terhadap praktik-praktik segregasi, apartheid dan pemisahan
atas dasar ras dan juga karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang didasarkan pada
konsep superioritas rasial. Deklarasi tersebut menyimpulkan bahwa “pembentukan
masyarakat dunia yang bebas dari segala bentuk segregasi dan diskriminasi rasial, faktor-
faktor yang menimbulkan kebencian dan perpecahan antar manusia, adalah salah satu
tujuan dasar PBB.326 Sentimen-sentimen yang serupa juga diekspresikan dalam
preambul Konvensi tersebut di atas yang juga mencatat bahwa tidak ada dasar dalam
teori ataupun praktik untuk diskriminasi rasial. Sejarah dunia yang menunjukan dany
pndangan dan indakan yang merendahkan bangsa, rasa au enis ain, sejumah conoh
indakan diskriminasi rasia dianaranya sejarah perdagangan budak, poiik segregasi sosia
berdasarkan ras, perendahan keompok-keompok masyaraka ada dan sebagainya. Pada 20
november 1963 negara negara pbb membua dekarasi pbb tentang penghapusan segaa
benuk diskriminasi rasial ( declaration on the elimination of all forms racial
discrimination) yang disahkan pada 21 desember 1965.
2. Prinsip prinsip dasar
Menggunakan prinsip yang mana idak memberakukan pembedaan, pengucian,
pembaasan aau diskriminasi yang dibua oeh negara pihak anara warga negara dan bukan
warga negara, kemudian erhadap indakan affirmative acion unuk suau keompok aau
individu erenu yang berujuan unuk dapa menikmai dan meaksanakan ham dan kebebasan
dasar yang sederaja dibenarkan dan bukan merupakan indakan diskriminaif, indakan
ersebu harus dihapuskan seeah ujuan ercapai.
3. Kategori yang diatur
Untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dasar yang dicantumkan dalam pasal 2 Konvensi
ini, Negara-negara Pihak melarang dan menghapuskan segala bentuk diskriminasi ras
serta menjamin hak setiap orang tanpa membedakan ras, warna kulit, asal bangsa dan
sukubangsa, untuk diperlakukan sama di depan hukum, terutama untuk menikmati hak di
bawah ini:
(a) Hak untuk diperlakukan dengan sama di depan pengadilan dan badan-badan peradilan
lain; (b) Hak untuk rasa aman dan hak atas perlindungan oleh Negara dari kekerasan dan
kerusakan tubuh, baik yang dilakukan aparat Pemerintah maupun suatu kelompok atau
lembaga;
(c) Hak politik, khususnya hak ikut serta dalam pemilihan umum untuk memilih dan
dipilih atas dasar hak pilih yang universal dan sama, ikut serta dalam pemerintahan
maupun pelaksanaan masalah umum pada tingkat manapun, dan untuk memperoleh
kesempatan yang sama atas pelayanan umum;
(d) Hak sipil lainnya, khususnya:
(i) Hak untuk bebas berpindah dan bertempat tinggal dalam wilayah Negara yang
bersangkutan;
(ii) Hak untuk meninggalkan suatu negara, termasuk negaranya sendiri, dan
kembali ke negaranya sendiri;
(iii) Hak untuk memiliki kewarganegaraan;
(iv) Hak untuk menikah dan memilih teman hidup;
(v) Hak untuk memiliki kekayaan baik atas nama sendiri ataupun bersama dengan
orang lain;
(vi) Hak waris;
(vii) Hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama;
(viii) Hak untuk berpendapat dan menyampaikan pendapat;
(ix) Hak berkumpul dan berserikat secara bebas dan damai;
(e) Hak ekonomi, sosial, dan budaya, khususnya:
(i) Hak untuk bekerja, memilih pekerjaan secara bebas, mendapatkan kondisi
kerja yang adil dan nyaman, memperoleh perlindungan dari pengangguran,
mendapat upah yang layak sesuai pekerjaannya, memperoleh gaji yang adil dan
menguntungkan;
(ii) Hak untuk membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja;
(iii) Hak atas perumahan;
(iv) Hak untuk mendapat pelayanan kesehatan, perawatan medis, jaminan sosial
dan pelayananpelayanan sosial;
(v) Hak atas pendidikan dan pelatihan;
(vi) Hak untuk berpartisipasi yang sama dalam kegiatan kebudayaan;
(vii) Hak untuk dapat memasuki suatu tempat atau pelayanan manapun yang
dimaksudkan untuk digunakan masyarakat umum, seperti transportasi, hotel,
restoran, warung kopi, teater, dan taman.
4. Metode pengawasan
Konvensi ini membenuk sebuah komite yang bertugas mengawasi pelaksanaan konvensi
ini yang bernama komite penghapusan diskriminasi rasial. beranggotakan 18 orang ahli
yang bermoral tinggi dan diakui ketidak-berpihakannya, yang dipilih oleh Negara-Negara
Pihak dari antara warganegara mereka, yang harus bertugas dalam kapasitas pribadi, di
mana pemilihan mempertimbangkan distribusi geografis yang adil, dan perwakilan
berbagai bentuk
peradaban maupun sistem hukum yang utama (pasal 8 ayat (1)). Apabila suatu Negara
Pihak menganggap bahwa Negara Pihak lain tidak melaksanakan ketentuanketentuan
dalam Kovenan ini, Negara tersebut dapat mengajukan masalah ini untuk diperhatikan
Komite. Komite kemudian menyampaikan pengaduan ini kepada Negara Pihak yang
bersangkutan. Dalam waktu tiga bulan, Negara penerima harus menyampaikan kepada
Komite, penjelasan tertulis atau pernyataan yang menjelaskan masalah tersebut dan
upaya penyelesaian, jika ada, yang telah diambil Negara tersebut. Apabila masalah
tersebut tidak diselesaikan hingga memuaskan kedua pihak baik melalui negosiasi
bilateral atau prosedur lain, dalam waktu enam bulan setelah diterimanya pengaduan
pertama oleh Negara penerima, masing-masing Negara mempunyai hak untuk
mengajukan lagi masalah tersebut ke depan Komite dengan memberitahukan Komite dan
Negara lain tersebut. Komite akan menangani masalah yang diajukan sesuai dengan ayat
2 pasal ini setelah Komite yakin bahwa dalam kasus tersebut semua upaya penyelesaian
dalam negeri yang tersedia telah dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip yang diakui
dalam hukum internasional. Ketentuan ini tidak berlaku apabila penerapan upaya
penyelesaian tersebut telah berlangsung terlalu lama tanpa alasan yang jelas.
International Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading
Treatment or Punishment
1. Sejarah pengesahan
Penyiksaan dipandang secara peling serius oleh komunitas internasional. Memang
terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pelarangan penyiksaan dalam kenyataan adalah
jus cogens. Pelarangan ini tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non derogable)
dan melalukan penyiksaan merupakan kejahatan internasional menurut Statuta (Roma)
Mahkamah Pidana Internasional. Meskipun CAT sudah berlaku sejak 1987 dan cukup
besarnya jumlah Negara yang menjadi pihak pada instrumen ini, praktik penyiksaan (atau
perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan
martabat masih banyak terjadi. Pengamatan menunjukkan bahwa praktik penyiksaan
terjadi, terutama, di tempat-tempat di mana orang dirampas kebebasannya (karena diduga
atau dinyatakan melakukan pelanggaran hukum), dengan kata-kata lain, di tempat-tempat
penahanan dan tempat-tempat penghukuman atau pemenjaraan. Dilatarbelakangi oleh
kondisi demikian, komunitas internasional berpendapat tentang perlunya peningkatan
efektivitas pemantauan pelaksanaan CAT dan pencegahan terjadinya atau terjadinya lagi
penyiksaan (atau perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau
merendahkan martabat) dengan menciptakan mekanisme yang memungkinkan
kunjungan ke tempat-tempat penahanan atau penghukuman.
2. Prinsip prinsip dasar
Pasal 1 Konvensi menetapkan lingkup perlakuan yang dicakup oleh Konvensi yaitu
“Untuk maksud Konvensi ini, istilah “penyiksaan” berarti tindak apapun yang dengan
tindakan itu rasa sakit atau penderitaan yang berat, fisik ataupun mental, secara sengaja
dilakukan terhadap seseorang untuk maksud seperti mendapatkan dari orang tersebut atau
orang ketiga, informasi atau pengakuan, menghukumnya atas tindak yang dilakukan atau
disangka dilakukan olehnya atau untuk mengintimidasi atau memaksanya atau orang
ketiga, atau karena alasan apapun yang didasarkan pada diskriminasi apa pun ketika,
apabila rasa sakit atau penderitaan demikian dilakukan oleh atau atas hasutan atau atas
persetujuan atau persetujuan diam-diam pejabat publik atau orang lain yang bertindak
dalam kapasitas resmi. Pembukaan Konvensi itu sendiri menyatakan bahwa Konvensi
tersebut menghormati Pasal 5 DUHAM dan Pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak
Sipil dan Politik. Larangan terhadap penyiksaan bersifat mutlak sehingga semua negara
wajib “mengambil tindakan legislatif, administratif, yudisial atau tindakan lainnya yang
efektif” untuk memastikan pencegahan penyiksaan. Tidak ada keadaan luar biasa yang
dapat digunakan untuk membenarkan penyiksaan.
3. Materi yang diatur
1. Tidak ada satu Negara Pihak pun yang boleh mengusir, mengembalikan (refouler) atau
mengekstradisikan seseorang ke Negara lain apabila terdapat alasan yang cukup kuat
untuk
menduga bahwa orang itu berada dalam bahaya karena dapat menjadi sasaran
penyiksaan.
2. Untuk menentukan apakah terdapat alasan-alasan semacam itu, pihak yang berwenang
harus mempertimbangkan semua hal yang berkaitan termasuk, apabila mungkin, adanya
pola tetap pelanggaran yang besar, mencolok, atau massal terhadap hak asasi manusia di
Negara tersebut.
4. Metode pengawasan
Dibentuk suatu Komite Menentang Penyiksaan (selanjutnya disebut sebagai Komite)
guna melaksanakan tugas-tugas yang akan ditentukan lebih lanjut. Komite ini terdiri dari
sepuluh ahli yang bermoral tinggi dan diakui kemampuannya di bidang hak asasi
manusia,yang akan bertugas dalam kapasitas pribadinya. Komite menerima informasi
yang dapat dipercaya tentang adanya indikasi yang berdasar tentang terjadinya praktik
penyiksaan secara sistematis di wilayah suatu Negara Pihak, maka Komite meminta agar
Negara Pihak yang bersangkutan bekerjasama dengan Komite guna menyelidiki
informasi tersebut dan, untuk maksud ini, Negara Pihak yang bersangkutan akan
menyampaikan tanggapannya. Dengan persetujuan Negara Pihak yang bersangkutan,
penyelidikan demikian meliputi komungklnan kunjungan ke wilayah Negara Pihak yang
bersangkutan
International Covention on the rights of the child
1. Sejarah pengesahan
Penegasan bahwa anak sebagai anggoa masyaraka yang memerukan perakuan dan
perindungan khusus, eah dinyaakan daam dekarasi universa hak asasi manusia dan
beberapa dekarasi ainnya. Akan eapi, dekarasi ersebu hanya merupakan pernyaaan mora
dan bukan merupakan insrumen hukum yang [Link] 1989, para pemimpin dunia,
meaui majeis umum perserikaan bangsa bangsa, memuuskan bahwa anak-anak
memerukan konvensi khusus karena anak (di bawah 18 tahun) memerukan perakuan dan
perindungan khusus yng idak diperukan oeh orang dewasa. Akhirnya, konvensi diadopsi
oleh majeis umum pbb pada 20 november 1989.
2. Prinsip prinsip dasar
Berdasarkan konvensi ini anak adalah semua orang yang berusia di bawah 18 tahun,
kecuali berdasarkan hukum yang berlaku pada anak tersebut batas usia ditentukan lebih
muda (pasal 1). Konvensi ini selain mengakui hak-hak dasar yang harus diberikan pada
anak juga mengatur bagaimana negara pihak dari konvensi menetapkan regulasi untuk
memberikan kepada anak hak-hak yang menjadi miliknya pengakuan hak-hak tersebut
harus dilakukan tanpa diskriminasi apapun dan negara pihak juga wajib untuk mengambil
langkah-langkah untuk memastikan anak-anak terlindungi dari segala bentuk diskriminasi
(pasal 2 ).Konvensi menekankan bahwa segala tindakan yang dilakukan yang
berhubungan dengan anak harus berdasarkan kepentingan terbaik dari anak tersebut (best
interest of The child). Kemudian Konvensi menekankan negara pihak untuk memastikan
Tersedianya perlindungan dan perawatan Demi kesejahteraan anak dan perlindungan dan
perawatan tersebut harus sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh badan yang
berwenang pasal 3 ayat 2 dan 3 titik Selain itu Konvensi ini juga memperhatikan kondisi
kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dan mengadakan
pengaturan mengenai pengkondisian tersebut agar anak dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik
3. Kategori yang diatur
Konvensi ini memiliki tiga bagian yang terdiri dari 54 pasal bagian pertama mengatur
mengenai hak-hak anak dan kewajiban negara pihak untuk menjamin hak-hak tersebut
bagian kedua mengatur mengenai mekanisme pengawasan khusus Konvensi melalui
komite hak anak atau committee on the Rights of the child. Bagian ketiga mengatur
mengenai penandatanganan keberlakuan dan pendepositan. Ada 4 (empat) prinsip
panduan yang mengatur bekerjanya konvensi PBB tersebut yaitu nondiskriminasi (Pasal
2); kepentingan terbaik anak (Pasal 3); hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan
pengembangan anak (Pasal 6); dan pandangan anak (Pasal 12). Geraldine Van Beuren
menyebut konvensi tersebut sebagai mengandung empat “P” yaitu Perlindungan anak
dari bahaya, Perlindungan dari diskriminasi, Pastisipasi dalam pembuatan keputusan,
serta Pengadaan hal-hal yang esensial bagi kelangsungan hidup dan perkembangan anak.
Hal ini memadatkan tujuan hak anak pada abad ke-21. Pasal 3 sangat penting artinya
dalam Konvensi itu karena Pasal tersebut mengakui bahwa para pejabat negara yang
bersangkutan harus memberi bobot pada hak anak.
4. Mekanisme Pengawasan
Mekanisme Khusus Guna menjamin diterapkannya Konvensi ini, tidak hanya Negara
Pihak wajib memasukan ketentuan-ketentuan tertentu dalam hukum nasionalnya, tetapi
juga terdapat Komite Hak-hak Anak (Committee on the Rights of the Child) yang
bertugas menerima laporan mengenai perkembangan penerapan hak-hak anak di masing-
masing negara pihak (Pasal 43 dan Pasal 44). Kerja sama internasional dengan badan-
badan lain melalui Komite juga dimungkinkan (Pasal 45).
International Convention on the elimination of all forms of discrimination against women
1. Sejarah pengesahan
Piagam PBB manyatakan secara jelas bahwa perempuan dan laki-laki harus menikmati
kesetaraan hak. Kenyataannya tidaklah demikian. Nondiskriminasi dalam penikmatan
hak dan kebebasan adalah hal yang mendasar bagi rezim hak asasi manusia modern.
Kebanyakan instrumen mengandung ketentuan nondiskriminasi. Semua menyebutkan
larangan diskriminasi yang didasarkan atas jender. Perempuan berhak atas semua hak dan
kebebasan, sehingga hal yang diperlukan bukanlah instrumen baru tentang hak
perempuan, melainkan instrumen yang bertujuan memastikan bahwa perempuan berhak
untuk menikmati hak tanpa diskriminasi. Dalam hal ini situasi perempuan dan anak
sangat berbeda. Majelis Umum PBB mula-mula menerima sebuah Deklarasi tentang
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Deklarasi ini secara
mantap berfokus pada pencapaian kesetaraan antara jenis kelamin sebagai pemajuan
Piagam PBB dan mencatat bahwa meskipun ada Piagam PBB, DUHAM, dan Kovenan-
Kovenan Internasional baru, tetap terdapat banyak diskriminasi terhadap perempuan.299
Kemajuan menuju konvensi berlanjut setelah Deklarasi tersebut dan Konvensi akhirnya
diterima pada 1979.
2. Prinsip prinsip dasar
Pasal 1 Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan
menetapkan lingkup Konvensi: “Untuk maksud Konvensi ini, istilah “diskriminasi
terhadap perempuan” berarti pembedaan, pengecualiaan, atau pelarangan yang dibuat
berdasarkan jenis kelamin yang mempunyai efek atau tujuan untuk merusak atau
menghilangkan pengakuan, penikmatan atau pelaksanaan oleh perempuan, terlepas dari
status perkawinan mereka, yang didasarkan pada kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak
asasi manusia dan kebebasan dasar dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil
ataupun bidang lainnya.” Perlu dicatat, tiga aspek penting definisi tersebut yaitu
diskriminasi bisa disengaja ataupun tidak disengaja, perempuan dapat secara langsung
atau tidak langsung dirugikan dan Konvensi berlaku untuk hak-hak dalam lingkungan
publik dan privat. Jadi efek tindakannya-lah yang merupakan elemen penting, bukan
sasaran yang ditentukan.
3. Kategori yang diatur
Pasal 4 Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan
menyatakan:
1. Pembuatan peraturan-peraturan khusus sementara oleh Negara-Negara Pihak yang
bertujuan mempercepat kesetaraan ‘de facto’ antara laki-laki dan perempuan tidak
dianggap diskriminasi sebagaimana didefinisikan dalam Konvensi ini, tetapi dalam cara
apapun tidak dapat dianggap sebagai konsekuensi dipertahankannya stándar-stándar yang
tidak sama atau terpisah; tindakan-tindakan ini harus dihentikan apabila tujuan kesetaraan
kesempatan dan perlakuan telah tercapai.
2. Pengambilan tindakan-tindakan khusus oleh Negara-Negara Pihak, yang ditujukan
untuk melindungi kehamilan, tidak dianggap diskriminatif.
Pasal 14 ayat (2) : Perhatian khusus terfokus pada perempuan yang berada di daerah
pedesaan yang sering memainkan peran yang signifikan dalam kelangsungan ekonomi
keluarga mereka, seringkali melalui pekerjaan tanpa pembayaran (non-remunerative
family) seperti mengurus keluarga, memasak, bertani, dan lain-lain.
Pasal 6 mengharuskan negara untuk mengambil segala tindakan yang tepat untuk
menindas segala bentuk perdagangan perempuan dan eksploitasi prostitusi perempuan.
Hal ini dapat berkaitan dengan kebutuhan memastikan pendidikan perempuan, kebutuhan
untuk mengubah perilaku budaya terhadap perempuan dalam satau negara.
4. Mekanisme Pengawasan
Setelah pembentukan konvensi ini, PBB membentuk komite untuk memantau dan
melaporkan penerapan konvensi tentang penghapusan segala diskriminasi terhadap
perempuan yang diberi nama komite penghapusan diskriminasi terhadap perempuan
(Comitte on the Elimination of Discrimination Against Women). Di banyak negara sudah
terdapat undang-undang perlindungan dan anti diskriminasi terhadap kaum perempuan.
Kemajuan ini dapat dikatakan berkat konvensi tentang penghapusan segala bentuk
diskriminasi terhadap perempuan yang dibuat oleh PBB. Meski begitu, dalam berbagai
masyarakat di dunia masih tetap ada keraguan atau kecurigaan terhadap persamaan hak
perempuan dan laki-laki atau kesetaraan gender.