0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan39 halaman

Analisis Kuat Tekan Beton di Taman Dayu

Makalah ini membahas tentang Taman Dayu Pandaan dan analisis pengaruh berbagai jenis pasir terhadap kuat tekan, lentur, dan tarik belah beton. Penelitian ini mencakup pengujian material, perencanaan campuran, serta hasil pengujian kuat tekan dari beberapa jenis pasir. Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan informasi yang jelas mengenai campuran beton dan pengaruh variabel yang ada terhadap kekuatan beton.

Diunggah oleh

Azizah Jannah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan39 halaman

Analisis Kuat Tekan Beton di Taman Dayu

Makalah ini membahas tentang Taman Dayu Pandaan dan analisis pengaruh berbagai jenis pasir terhadap kuat tekan, lentur, dan tarik belah beton. Penelitian ini mencakup pengujian material, perencanaan campuran, serta hasil pengujian kuat tekan dari beberapa jenis pasir. Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan informasi yang jelas mengenai campuran beton dan pengaruh variabel yang ada terhadap kekuatan beton.

Diunggah oleh

Azizah Jannah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH BAHAN BANGUNAN & KONTRUKSI KELAS B

TAMAN DAYU PANDAAN

Disusun Oleh :

PRAMES AULIA SUKMA HARJADI 2110611048

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2021
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat limpahan
rahmat taufiq dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan sebuah Makalah dengan
Judul : “taman dayu pandaan“ Makalah ini diajukan untuk memenuhi syarat dalam
menyelesaikan tugas perkuliahan pada Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
Universitas Muhammadiyah Jember. Dengan tersusunnya Makalah ini, kami berharap kepada
bapak Pengampu Mata Kuliah bahan bangunan & konstruksi berkenan meluangakan waktu
untuk membina dan membimbing perbuatan (makalah) yang ditugaskan kepada Mahasiswa.
Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Dr. Nanang Saiful Rizal [Link] selaku Dekan Fakultas Teknik, Universitas
Muhammadiyah Jember
2. Taufan Abadi, [Link] selaku Kaprodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Jember.
3. Senki Desta Galuh ST. MT selaku Dosen pengampu Mata Kuliah bahan bangunan &
konstruksi yang dengan telaten dan sunguh-sunguh dalam menyampaikan materi dan
bimbingannya.
4. Rekan-rekan seangkatan Tahun Akademik 2021 yang selalu saling memberikan
semangat dalam menyelesaikan tugas.

Kami menyadari sepenuhnya, bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya.


Untuk itu dengan kerendahan hati kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Demikian
untuk menjadikan periksa dan Pemakalah berharap atas kritik dan saran guna perbaikan
dalam penulisan makalah ini. Amin.....

Jember ,11 Januari 2022.

Penulis

i
DAFTAR ISI

JUDUL ..........................................................................................................................................

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. i

DAFTAR ISI................................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................


1.1 LATAR BELAKANG ...........................................................................................................
1.2 RUMUSAN MASALAH ........................................................................................................
1.3 TUJUAN MASALAH ............................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................. 1


2.1 Perbandingan Pengaruh Beberapa Jenis Pasir Terhadap Kuat Tekan, Kuat Lentur Dan
Kuat Tarik Belah Beton ......................................................................................................... 1
2.1.1 Hasil pengujian material .......................................................................................... 1
2.1.2 Hasil perencanaan campuran ................................................................................... 2
2.1.3 Hasil pengujian nilai slump ..................................................................................... 3
2.1.4 Hasil pengujian berat volume .................................................................................. 3
2.1.5 Hasil pengujian kuat tekan ...................................................................................... 5
2.1.6 Hasil pengujian ........................................................................................................ 7
2.1.7 Hasil pengujian kuat tarik belah .............................................................................. 8
2.2 Potensi Batu Bauksit Pulau Bintan Sebagai Pengganti Agregat Kasar Pada Beton ............... 9
2.3 Pengaruh Perbandingan Semen Pozolan Dan Semen Portland Terhadap Kekekalan
Bentuk Dan Kuat Tekan Semen .............................................................................................. 13
2.4 Studi Pengaruh Penggunaan Air Payau Dalam Mix Design Beton Untuk Pembuatan
Konstruksi Dermaga Akibat Rendaman Air Laut ................................................................... 14
2.5 Pengaruh Abu Terbang Sebagai Filler Untuk Kuat Tekan beton ........................................... 17
2.6 Ketahanan Elemen Struktur Baja Terhadap Kebakaran ......................................................... 20
2.7 Studi pembuatan keramik berpori berbasis clay dan kaolin alam dengan aditif abu sekam
padi .......................................................................................................................................... 25
2.8 Pengembangan Potensi Bambu Sebagai Bahan Bangunan Ramah Lingkungan .................... 31

BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 33


KESIMPULAN ............................................................................................................................. 33
SARAN ......................................................................................................................................... 33

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 34

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


The Taman Dayu meluncurkan cluster terbaik yang bernama BLOOMFIELD
MOUNTAIN RESORT. Cluster ini satu satunya tempat yang berlokasi diatas puncak
ketinggian kurang lebih 560 dpl, dengan dikelilingi oleh pegunungan Arjuno dan
Welirang. Berlokasi di lahan yang berkontur dan berbukit, membuat hunian menjadi
sejuk, hijau, jauh dari polusi udara, serta memiliki pemandangan alam yang sangat
luar biasa.
Taman Dayu akan menampilkan struktur bangunan bertingkat rendah yang
menawarkan pemandangan, suhu yang sejuk dan angin yang semilir. Bentuk
bangunan akan berubah mengikuti lahan agar selaras dengan bentuk-bentuk lahan
yang spesifik. Paduan umum merekomendasikan agar bentuk bangunan
mencerminkan kondisi kontur natural dari lahan, susunan bangunan bertingkat
mengikuti kondisi lereng-lereng atau terletak rata pada lahan datar.
Pemilik hunian harus membuat proporsi kolom yang memberikan kesan
kuat, kokoh, image, dan menghindari pipa-pipa yang diekspose. Sebuah pertimbangan
penting adalah bentuk bangunan harus memberikan keteduhan dari panas
matahari, memberikan lindungan dari hujan, dan harus mendapatkan tiupan angin
yang alami.
Keanekaragaman dari zona-zona iklim mikro dan bentuk-bentuk alam harus
dicerminkan dalam elemen-elemen kunci arsitektur meliputi tinggi, rasio lahan, garis
sempadan bangunan, massa bangunan atau building envelope, tata
letak , warna, material dan image umum.

1.2 Rumusan Masalah


1. Jelaskan perbandingan pengaruh beberapa jenis pasir terhadap kuat tekan, kuat
lentur dan kuat tarik belah beton?
2. Seberapa besar kuat tekan beton dengan yang dapat dihasilkan oleh beton dengan
batu bauksit sebagai agregat kasar?
3. Bagaimanakah pengaruh perbandingan semen pozolan dan semen portland
terhadap kekekalan bentuk dan kuat tekan semen?
4. Benarkah kuat tekan beton campuran air payau lebih rendah dari pada campuran
beton normal ?
5. Bagaimanakah pengaruh abu terbang sebagai filler untuk kuat tekan beton?
6. Bagaimanakah ketahanan elemen struktur baja terhadap kebakaran?
7. Bagaimanakah Studi pembuatan keramik berpori berbasis clay dan kaolin alam
dengan aditif abu sekam padi
8. Bagaimanakah mengembangkan dan mengolah potensi bambu dengan segala
kelebihan dan kekurangannya supaya dapat menjadi bahan bangunan yang lebih
berkualitas dan ramah lingkungan?

iii
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui perbandingan pengaruh beberapa jenis pasir terhadap kuat
tekan, kuat lentur dan kuat tarik belah beton
2. Untuk memepelajari Seberapa besar kuat tekan beton dengan yang dapat
dihasilkan oleh beton dengan batu bauksit sebagai agregat kasar
3. Untuk mempelajari pengaruh perbandingan semen pozolan dan semen portland
terhadap kekekalan bentuk dan kuat tekan semen
4. untuk dapat memberikan informasi yang jelas bagi pelaksanaan campuran beton
dan pengaruh setiap variable campuran air beton terhadap kuat tekan beton
tersebut
5. Untuk mempelajari pengaruh abu terbang sebagai filler untuk kuat tekan beton
6. Untuk memepelajari ketahanan elemen struktur baja terhadap kebakaran
7. Untuk mempelajari Studi pembuatan keramik berpori berbasis clay dan kaolin
alam dengan aditif abu sekam padi
8. Untuk Meningkatkan kualitas bambu dengan mengembangkan segala potensi
yang ada supaya dapat menjadi bahan bangunan yang kekinian dan ramah
lingkungan

iv
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perbandingan Pengaruh Beberapa Jenis Pasir Terhadap Kuat Tekan, Kuat
Lentur Dan Kuat Tarik Belah Beton
2.1.1 Hasil Pengujian Material
1. Hasil Pengujian Agregat Halus
Hasil pengujian material untuk agregat halus yaitu, pasir Bangka, pasir
sungai dan pasir Merapi dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengujian Agregat Halus

Hasil pengujian agregat halus pada tabel 1 menunjukan pemeriksaan


kadar lumpur yang terkandung pada pasir Bangka dan pasir sungai
melebihi syarat batas yaitu 5% dan untuk penyerapan air, pasir Bangka
dan pasir sungai memiliki nilai penyerapan air melebihi syarat batas yaitu
0,2% - 0,4%.

Gambar 1 Batas Gradasi Pasir Bangka

1
Dari gambar 1 dapat disimpulkan bahwa pasir Bangka memiliki
gradasi yang baik atau jenis pasir sedang (tidak terlalu lembut dan kasar)
namun pada nomor saringan 50 dan 100 nilai persen lolos keluar dari
batas bawah yang ditetapkan ASTM C33-90.

Gambar 2 Batas Gradasi Pasir Sungai

Dari gambar 2 dapat disimpulkan bahwa pasir sungai memiliki


gradasi yang baik atau jenis pasir sedang (tidak terlalu lembut dan kasar)
karena terletak diantara batas maksimum dan minimum yang ditetapkan
ASTM C33-90.

Gambar 3 Batas Gradasi Pasir Merapi

Dari gambar 3 dapat disimpulkan bahwa pasir Merapi memiliki


gradasi yang baik atau jenis pasir sedang (tidak terlalu lembut dan kasar)
karena terletak diantara batas maksimum dan minimum yang ditetapkan
ASTM C33-90.

2.1.2 Hasil Perencanaan Campuran


Berdasarkan hasil perhitungan perencanaan campuran beton yang
dihitung menggunakan metode SNI 03.2834.2000 (Tata Cara Pembuatan
Rencana Campuran Beton Normal) dan diperoleh besarnya proporsi bahan
campuran dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 Kebutuhan Campuran Beton
Untuk 1 m³

2
2.1.3 Hasil Pengujian Nilai Slump
Pengujian slump dilakukan sebelum adukan beton dimasukan kedalam
benda uji. Berikut adalah hasil slump test pada tabel 4.

Tabel 4 Slump Test

2.1.4 Hasil Pengujian Berat Volume


Penelitian benda uji terhadap kuat tekan, kuat lentur dan kuat tarik
belah yang dilakukan mendapatkan berat isi, dimana berat isi adalah berat
beton per satuan volume. Hasil pengujian dapat dilihat pada gambar dibawah
ini.

Gambar 4 Grafik Berat Volume Kuat Tekan

3
Hasil berat volume beton untuk pengujian kuat tekan menunjukan
berat volume beton yang memiliki nilai terbesar adalah pasir Bangka sebesar
2335,30864 kg/m³. Pasir Sungai memiliki berat volume beton sebesar
2266,17284 kg/m³ mempunyai perbedaan 3,05% dengan berat volume pasir
Bangka. Pasir Merapi memiliki berat volume beton sebesar 2319,60494 kg/m³
dan mempunyai perbedaan 0,68% dengan berat volume pasir Bangka.

Gambar 5 Grafik Berat Volume Kuat Lentur

Hasil berat volume beton untuk pengujian kuat lentur menunjukan


berat volume beton yang memiliki nilai terbesar adalah pasir Merapi sebesar
2354,4351 kg/m³. Pasir Bangka memiliki berat volume beton sebesar
2290,12346 kg/m³ mempunyai perbedaan 2,42% dengan berat volume pasir
Merapi. Pasir sungai memiliki berat volume beton sebesar 2256,79012 kg/m³
dan mempunyai perbedaan 3,93% dengan berat volume pasir Merapi.

Gambar 6 Grafik Berat Volume Kuat Tarik Belah

Hasil berat volume beton untuk pengujian kuat tarik belah menunjukan
berat volume beton yang memiliki nilai terbesar adalah pasir Merapi sebesar
2362,32704 kg/m³. Pasir Bangka memiliki berat volume beton sebesar
2322,95597 kg/m³ mempunyai perbedaan 1,69% dengan berat volume pasir
Merapi. Pasir sungai memiliki berat volume beton sebesar 2266,3522 kg/m³
dan mempunyai perbedaan 4,23% dengan berat volume pasir Merapi.

4
2.1.5 Hasil Pengujian Kuat tekan
1. Kuat Tekan
Hasil pengujian kuat tekan untuk beberapa jenis pasir dapat dilihat pada
tabel 5.

Tabel 5 Hasil Pengujian Kuat Tekan

Dari tabel diatas diperoleh grafik perbandingan kuat tekan untuk


masingmasing jenis pasir sebagai berikut.

Gambar 7
diagram perbandingan kuat tekan beton beberapa jenis pasir

Dari tabel 5 dan gambar 7 didapat beberapa hal yaitu:

1. Pada hari ke-7 pasir Merapi menghasilkan nilai mutu tertinggi sebesar
23,486 MPa, urutan kedua adalah pasir Bangka sebesar 19,981 MPa
memiliki perbedaan 17,54% dengan pasir Merapi dan yang ketiga
adalah pasir sungai sebesar 14,387 MPa memiliki perbedaan 63,54%
dengan pasir Merapi.
2. Pada hari ke-14 pasir Merapi menghasilkan nilai mutu tertinggi
sebesar 31,171 MPa, urutan kedua adalah pasir sungai sebesar 27,175
MPa memiliki perbedaan 26,02% dengan pasir Merapi dan yang

5
ketiga adalah pasir Bangka yang mengalami penurunan urutan sebesar
24,101 MPa memiliki perbedaan 26,02% dengan pasir Merapi.
3. Pencapaian beton 100% terjadi pada umur ke 28 dan pasir yang
memiliki nilai kuat tekan tertinggi adalah pasir Merapi sebesar 34,122
MPa, urutan kedua adalah pasir Bangka sebesar 30,987 MPa memiliki
perbedaan 10,12% dengan pasir Merapi dan kuat tekan paling kecil
adalah pasir sungai sebesar 29,388 MPa memiliki perbedaan 16,11%
dengan pasir Merapi.
2. Kuat Tekan Karakteristik
Perbandingan hasil nilai kuat tekan karakteristik dengan hasil nilai kuat
tekan pada saat pengujian bisa dilihat pada gambar 8.
Gambar 8 Diagram perbandingan kuat tekan beton sebelum dan
sesudah menggunakan deviasi standar

Berdasarkan gambar 8 didapat beberapa hal, yaitu:

1. Kuat tekan setelah deviasi standar yang memiliki nilai tertinggi adalah
pasir Merapi sebesar 39,209 MPa.
2. Kuat tekan setelah deviasi standar yang memiliki nilai terendah adalah
psair sungai sebesar 26,913 MPa.
3. Nilai kuat tekan pasir Bangka sebelum deviasi standar memiliki
perbedaan 6,72% dengan nilai kuat tekan sesudah deviasi standar.
4. Nilai kuat tekan pasir sungai sebelum deviasi standar memiliki
perbedaan 9,19% dengan nilai kuat tekan sesudah deviasi standar.
5. Nilai kuat tekan pasir Bangka sebelum deviasi standar memiliki
perbedaan 14,91% dengan nilai kuat tekan sesudah deviasi standar.
6. Diagram diatas menunjukan pasir sungai nilai kuat tekan sebelum
deviasi standar lebih tinggi daripada nilai kuat tekan setelah deviasi
standar, hal ini menunjukan nilai kuat tekan beton rencana sudah
melebihi nilai kuat tekan karakteristik pada umur 28 hari.
7. Pada pasir Merapi dan pasir Bangka nilai kuat tekan sebelum deviasi
standar lebih rendah dibanding nilai kuat tekan setelah deviasi standar.

6
2.1.6 Hasil Pengujian
Kuat Lentur Hasil pengujian kuat lentur untuk beberapa jenis pasir dapat
dilihat pada tabel 6 dan gambar 9.

Tabel 6 Kuat Lentur Beton

Gambar 9 Diagram kuat lentur beton

Tabel 6 dan gambar 9 didapat bahwa hasil kuat lentur kuat lentur
tertinggi adalah pasir Bangka sebesar 13,334 MPa, pada urutan kedua adalah
pasir Merapi sebesar 13 MPa mempunyai perbedaan 29,03% dengan nilai kuat
lentur pasir Bangka. Dan nilai kuat lentur terendah adalah pasir sungai sebesar
10,334 MPa mempunyai perbedaan 2,57% dengan nilai kuat lentur pasir
Bangka. Hubungan antara kuat lentur dan kuat tekan menurut standar ACI
318-83, dapat dirumuskan sebagai berikut: fr = 0,62 √𝑓′𝑐

Gambar 10 Diagram Perbandingan Kuat Lentur dengan Perhitungan

Dari hasil yang didapat bisa dibandingkan kuat lentur hasil penelitian
dari ketiga jenis pasir tersebut lebih tinggi dibanding kuat lentur yang didapat

7
dari nilai kuat tekan, sehingga berdasarkan hubungan dengan nilai kuat
tekannya, nilai kuat lentur dari hasil penelitian mencapai nilai kuat lentur
secara teori.

2.1.7 Hasil Pengujian Kuat Tarik Belah


Hasil pengujian kuat lentur untuk beberapa jenis pasir dapat dilihat pada
tabel 7 dan gambar 11.

Tabel 7 Kuat Tarik Belah Beton

Gambar 11 Diagram kuat tarik belah beton

Tabel 7 dan gambar 11 didapat bahwa Hasil kuat tarik belah tertinggi
adalah pasir Merapi sebesar 11,916 MPa, pada urutan kedua adalah pasir
Bangka sebesar nilai kuat tarik belah sebesar 10,815 MPa mempunyai
perbedaan 10,27% dengan nilai kuat tarik belah pasir Merapi. Nilai kuat tarik
belah terendah adalah pasir sungai sebesar 10,222 MPa dan mempunyai
perbedaan 16,67% dengan nilai kuat tarik belah pasir Merapi. Hubungan
antara kuat tarik belah dan kuat tekan menurut SNI T-15-1991-03, dapat
dirumuskan sebagai berikut: fr = 0,7 √𝑓′c

Gambar 12 Diagram Perbandingan Kuat Lentur dengan Perhitungan

8
Dari hasil yang didapat bisa dibandingkan kuat tarik belah hasil
penelitian dari ketiga jenis pasir tersebut lebih tinggi dibanding kuat tarik
belah yang didapat dari kuat tekan, sehingga berdasarkan hubungan dengan
nilai kuat tekannya, nilai kuat tarik belah dari hasil penelitian mencapai nilai
kuat tarik belah secara teori.

2.2 Potensi Batu Bauksit Pulau Bintan Sebagai Pengganti Agregat Kasar Pada
Beton
Hasil pemeriksaan gradasi agregat kasar bauksit didapatkan nilai modulus
halus butir (mhb) sebesar 7,345. Hasil ini memenuhi persyaratan karena berada dalam
nilai antara 5 sampai 8. Makin besar nilai mhb suatu agregat maka semakin besar
butiran agregatnya (Mulyono, 2003). Untuk mengurangi jumlah semen (sehingga
biaya pembuatan beton berkurang) dibutuhkan ukuran butir-butir maksimum agregat
yang sebesar-besarnya. Pengurangan jumlah semen ini juga berarti terjadi
pengurangan panas hidrasi. Akibatnya akan mengurangi kemungkinan beton untuk
retak akibat susut atau perbedaan panas yang besar (Tjokrodimuljo, 1992).
Pada umumnya agregat normal memiliki nilai berat jenis antara 2,5 sampai
2,7, sedangkan nilai berat jenis bauksit yang diperoleh sebesar 2,2829 kg/m3 . Berat
jenis digunakan untuk menentukan volume yang diisi oleh agregat. Berat jenis agregat
pada akhirnya akan menentukan berat jenis beton sehingga secara Apakah batu
bauksit memenuhi persyaratan minimal digunakan sebagai agregat kasar dalam
beton? Seberapa besar kuat tekan beton dengan yang dapat dihasilkan oleh beton
dengan batu bauksit sebagai agregat kasar? Seberapa besar nilai modulus elastis beton
dengan agregat kasar batu bauksit? langsung menentukan banyaknya campuran
agregat dalam campuran beton.

9
Pada Tabel 3 terlihat pula bahwa nilai serapan air dari bauksit cukup besar
(6,024%), bila dibandingkan dengan krikil alam dengan ratarata penyerapan air
berkisar 2%. Hubungan antara berat jenis dan daya serap adalah semakin tinggi nilai
berat jenis agregat maka semakin kecil daya serap air agregat tersebut (Mulyono,
2003). Setelah dilakukan pemeriksaan keausan terhadap agregat kasar (bauksit), maka
diperoleh hasil pengujian keausan sebesar 26,12 % < 50 % (bagian yang hancur
setelah putaran ke-500 tidak lebih dari 50% berat), sehingga memenuhi syarat PUBI
1982. Beratnya merupakan ukuran dari kekuatan agregat yang dinyatakan dalam
persen hancur, semakin banyak bagian yang hancur semakin rendah kekuatan agregat
tersebut (Mulyono, 2003).

A. Pengaruh bauksit Pada Beton Segar

Untuk mengetahui kelecakan adukan beton segar maka dilakukan


pengujian slump yang akan menunjukan tingkat kelecakan adukan yang
berpengaruh terhadap sifat mudah dikerjakan.

10
Dari Tabel 4 dan Gambar 1 terlihat bahwa nilai slump yang diperoleh
selama pengadukan telah sesuai dengan nilai slump yang dituju yaitu antara 7,5–
15 cm. Adukan beton dengan agregat bauksit akan menurunkan nilai workability
dari adukan beton yang terlihat dari nilai slump dibandingkan dengan adukan
beton agregat kerikil, karena daya resapan agregat bauksit lebih besar
dibandingkan agregat kerikil. Namun secara keseluruhan nilai slump beton
dengan agregat kasar bauksit tidak berselisih banyak disbanding beton normal,
sehingga sifat mudah dikerjakan dari adukan beton juga tidak berpengaruh
banyak. Dan secara umum nilai slump masuk dalam persyaratan PBI 1971 N.I.-2.

B. Berat Jenis Beton Bauksit


Berat jenis beton bauksit setelah diperiksa menunjukan hasil antara 2,20021
t/m3 . sampai 2,286487 t/m3 . Hasil tersebut menunjukkan bahwa beton yang
dihasilkan dengan menggunakan batu bauksit sebagai agregat kasar pada beton
mengakibatkan turunnya berat jenis beton dibawah berat jenis beton normal yang
berkisar 2,4 t/m3 . Namun beton dengan agregat kasar batu bauksit belum dapat
dikategorikan sebagai beton ringan karena berat jenisnya masih di atas 2 t/m3 .

C. Kuat Tekan Beton Bauksit


Hasil pengujian kuat tekan beton dengan agregat kasar batu bauksit tercantum
dalam Tabel 5.
Tabel 5. Nilai rata-rata hasil uji kuat tekan beton dengan umur pengujian 28 hari

Terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 2, semakin besar nilai faktor air semen
(fas) menurunkan nilai kuat tekan beton. Kondisi ini terjadi karena beton dengan
fas rendah mempunyai rongga yang lebih sedikit dibandingkan dengan beton
yang memiliki fas tinggi, sehingga kepadatan beton juga lebih tinggi pada beton
dengan fas rendah. Tingkat kepadatan beton inilah yang menyebabkan tingginya
kuat tekan beton.
Pada Tabel 5 terlihat pula bahwa hasil kuat tekan menunjukkan bahwa beton
dengan agregat kasar batu bauksit dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengganti

11
kerikil alam dalam pembuatan adukan beton karena kuat tekan yang dihasilkan
cukup tinggi hingga mencapai 30,24052 MPa untuk beton dengan faktor air
semen 0,4. Hasil tersebut di atas persyaratan minimal kuat tekan beton struktural
yaitu 17,5 MPa (SNI 03-2847-2002).

D. Modulus Elastisitas Beton Bauksi


Tolak ukur yang umum dari sifat elastis suatu bahan adalah modulus
elastisitas, yang merupakan perbandingan dari tekanan yang diberikan dengan
perubahan bentuk persatuan panjang, sebagai akibat dari tekanan yang diberikan
itu (Murdock dan Brook, 1986).
Berbeda dengan baja, modulus elastisitas beton berubah-ubah sesuai dengan
kekuatan betonnya. Modulus elastisitas juga tergantung pada umur beton, sifat-
sifat dari agregat dan semen, kecepatan pembebanan, jenis dan ukuran dari benda
uji (Wang dan Salmon, 1986). Modulus elastisitas merupakan sifat yang dimiliki
oleh beton yang berhubungan dengan mudah tidaknya beton mengalami deformasi
saat mendapat beban. Semakin besar nilai modulus elastisitas maka semakin kecil
regangan yang terjadi karena modulus elastisitas berbanding terbalik dengan nilai
regangan. Nilai modulus elastisitas ini akan ditentukan oleh kemiringan kurva
pada grafik tegangan regangan, kurva ini dipengaruhi oleh tegangan beton dan
regangan beton. Semakin tegak kurva dan memiliki garis linier yang panjang,
berarti beton tersebut memiliki kuat desak yang besar pula. Dengan semakin
bertambahnya beban maka makin berkurangnya kekakuan material sehingga
kurva tidak linier lagi. Biasanya modulus sekan mempunyai nilai 25-50% dari
kuat tekan f’c yang diambil sebagai modulus elastisitas (Wang & Salmon, 1986).

Modulus elastisitas beton berkaitan erat dengan faktor air semen, kepadatan,
dan kuat tekan beton. Nilai modulus elastisitas menurun seiring dengan
meningkatnya nilai FAS. Peningkatan nilai FAS menyebabkan peningkatan
jumlah pori pada beton dan berkurangnya kepadatan beton sehingga berefek pada
menurunnya kuat tekan dan modulus elastisitas. Modulus elastisitas berubungan
erat dengan kuat tekan beton, semakin rendah kuat tekan beton maka nilai
modulus elastisitas makin menurun.
Menurut pasal 10.5 SNI-03-2847 (2002) hubungan antara nilai modulus
elastisitas beton normal dengan kuat tekan beton adalah Ec = 4700√f’c. Nilai
modulus elastisitas beton dengan agregat kasar batu bauksit lebih rendah dari
beton normal yang berkisar 20000 MPa (Tabel 6). Nilai modulus elastisitas beton
dengan agregat kasar batu bauksit lebih rendah dari nilai modulus elastisitas

12
teoritis untuk beton normal, rumus modulus elastisitas teoritis beton normal tidak
berlaku untuk beton dengan agregat kasar batu bauksit.

2.3 Pengaruh Perbandingan Semen Pozolan Dan Semen Portland Terhadap Kekekalan
Bentuk Dan Kuat Tekan Semen
Waktu pengadukan campuran material semen sangat menentukan tingkat homogenitas
bahan seperti yang ditunjukkan pada tabel-II..

Tabel II. Pengaruh Waktu Pengadukan terhadap Homogenitas Campuran Semen ( Hasil
pengamataan)

Waktu pengadukan Pengamatan secara Visual tentang Keterangan


(menit) homogenitas
4 Campuran material terlihat tidak Sampling di beberapa tempat
merata belum merata
8 Campuran material terlihat sudah Sampling di beberapa tempat
cukup merata sudah cukup merata
12 Campuran material terlihat merata Sampling di beberapa tempat
hasilnya merata
16 Campuran terlihat sangat merata Sampling di beberapa tempat
hasilnya sangat merata
Hasil penelitian Pengaruh Perbandingan Tanah Tras, Kapur dan Semen Portland
terhadap Kuat Tekan Semen dapat ditunjukkan tabel-III

Tabel III. Pengaruh Perbandingan Tanah Tras, Kapur dan Semen Portland terhadap Kuat
Tekan Semen

*) kuat tekan sample tidak bisa diukur karena sample mudah patah Uji kekekalan bentuk
untuk item 4,5 dan 6 menunjukkan bentuk tetap,

Catatan : Standar uji semen Tras/Pozolan, menurut SNI 15- 0302-94 ( Sumber :
Petunjuk Praktis Penggunaan Portland Pozzolan Cement, PT. Semen Gresik, 2003), kuat
tekan waktu uji 3hari (> 125 kg/cm2), waktu uji 7 hari (> 200 kg/cm2) dan waktu uji 10

13
hari ( tidak tersedia standarisasi kuat tekan) Angka yang dicetak tebal, artinya kuat tekan
semen hasil percobaan telah memenuhi standar kekuatan semen

A. Pengaruh Waktu Pengadukan terhadap Homogenitas Campuran Material


Semen
Seperti ditunjukkan Tabel II, banwa waktu pengadukan selama 4,8,12 dan 16
menit menunjukaan hasil yang signifikan terhadap homogenitas campuran material
semen. Menurut pengamatan (visual) waktu pengadukan semakin lama akan semakin
menghasilkan campuran material yang lebih homogen, hal ini disebabkan karena
kontak antara campuran material semen dengan flight/pengaduk semakin sempurna
sehingga memungkinkan campuran teraduk secara sempurna. Hasil paling baik
dicapai pada waktu pengadukan 16 menit, ditunjukkan dengan campuran material
penyusun semen terlihat paling homogen.

B. Pengaruh Perbandingan Tanah Tras, Kapur dan Semen Portland terhadap


Kuat Tekan Semen
Untuk menghasilkan semen rakyat yang berkualitas, diperlukan campuran
material antara tanah tras, kapur dan semen Portland. Seperti ditunjukkan table III,
campuran material semen dengan perbandingan tanah tras dan kapur ( 4:1) sebanyak 1
bagian dengan semen portland berturut turut dari 1 sampai 3 bagian tidak dapat
memberikan hasil semen dengan kekuatan tekan yang memadahi, disini terlihat
kekuatan tekannya untuk uji sample 3 hari hanya 127 kg/cm2 sedangkan uji 7 hari
lebih kecil 200 kg/cm2 (SNI 15-0302-94), namun dengan pemberian semen Portland
sebanyak 4 bagian, kuat tekannya naik menjadi 205 kg/cm2 (uji 3 hari) dan 216
kg/cm2 (uji 7 hari) yang sekaligus memenuhi standar SNI. Hal ini disebabkan sifat
semen campuran tanah tras dengan kapur tidak mencukupi sifat semennya atau tidak
mencukupi kekuatan tekannya sebagai material bahan bangunan yang dipersyaratkan
oleh SNI, sedangkan dengan perbandingan semen Portland yang lebih besar lebih
dominan sifat semennya.

2.4 Studi Pengaruh Penggunaan Air Payau Dalam Mix Design Beton Untuk Pembuatan
Konstruksi Dermaga Akibat Rendaman Air Laut
A. Pengujian Berat Jenis SSD Agregat Kasar (Kerikil)
Berdasarkan pelaksanaan pemeriksaan agregat kasar/kerikilyang berasal dari
Serpong, Jawa Barat di Laboratorium Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta
diperoleh hasil pemeriksaan dari hasil analisis material agregat kasar tersebut
dapat ditentukan nilai Berat Jenis agregat kasar tersebut adalah 2,45
B. Pengujian Berat Jenis SSD Agregat Halus (Pasir)
Dari hasil pemeriksaan berat isi agregat halus/pasiryang berasal dari Bangka,
hasil analisis material agregat halus tersebut dapat ditentukan nilai Berat Jenis
agregat halus tersebut adalah 2,59.
C. Analisa Saringan Agregat Kasar (Kerikil)
Dari hasil pemeriksaan berat isi agregat kasar didapatkan nilai analisa saringan
agregat kasar yang ditunjukkan didapat angka 2,54cm

14
D. Analisa Saringan Agregat Halus (Pasir)
Dari hasil pemeriksaan berat isi agregat halusdidapatkan nilai analisa saringan
agregat halus yang masuk dalam gradasi zona 2.
E. Campuran Mix Design Beton Normal
Berdasarkan hasil pengujian agregat kasar dan halus diatas disusunlah daftar
isian perencanaan campuran beton, sebagai berikut:
Tabel 4.6 Data Campuran Mix Design Beton Normal

F. Analisis Data Umum


Hasil pengujian berupa data-data kasar yang selanjutnya dianalisis untuk
pemilihan data dan analisis statistik untuk mengetahui pengaruh penggunaan air
payau pada beton dengan rendaman air laut.
G. Analisis Statistik
Berdasarkan data-data hasil uji kubus beton yang telah dilakukan, dapat
diambil nilai rata-rata hasil uji standard kurva t, sebagai berikut;
Tabel 5.11 Rata-rata hasil uji yang diterima
No Campuran air Umur beton rendaman Kuat tekan
(kg/cm2)
1 Air PDAM 7 hari Air PDAM 265,81
2 Air PDAM 28 hari Air laut 246,67
3 Air payau 28 har Air laut 252,22
4 Air PDAM 56 hari Air laut 263,70
5 Air Payau 56 hari Air laut

15
Gambar 5.1 Grafik Perbandingan Kuat Tekan Beton Campuran Air PDAM dan
Air Payau

Gambar 5.2 Grafik Perbandingan Kuat Tekan Beton Campuran Air PDAM dan
Air Payau pada umur 28 hari
H. Analisis Grafik

Gambar 5.3 Grafik Perbandingan kuat tekan hasil analisis


I. Hasil Analisis Penelitian
Dari hasil analisis diatas dapat diambil rangkuman analisis sbb ;
1. Pada beton trial mix dengan campuran air PDAM dengan rendaman air PDAM
mempunyai kuat tekan pada umur 7 hari dengan nilai konversi 28 hari (65%)
didapat kuat tekan 265,81 kg/cm2 dan dapat memenuhi kuat tekan rencana
250 kg/cm2, atau lebih tinggi 6,32% dari kuat tekan rencana.
2. Pada umur 28 hari, beton campuran air PDAM dengan rendaman air laut
dengan kuat tekan 246,67 kg/cm2 tidak dapat memenuhi kuat tekan rencana
beton 250 kg/cm2, atau lebih rendah 1,33% dari kuat tekan rencana.
3. Pada umur 28 hari, beton campuran air payau dengan rendaman air laut
dengan kuat tekan 252,22 kg/cm2 dapat memenuhi kuat tekan rencana beton
250 kg/cm2, atau lebih tinggi 1,92% dari kuat tekan rencana.

16
4. Pada umur 56 hari, beton campuran air PDAM dengan rendaman air laut
mempunyai kuat tekan 263,70 kg/cm2 meningkat 6,9% dari kuat tekan umur
28 dan lebih tinggi 5,55% dari kuat tekan rencana.
5. Pada umur 56 hari, beton campuran air payau dengan rendaman air laut
mempunyai kuat tekan 216,30 kg/cm2 menurun 14,24% dari kuat tekan umur
28 dan lebih rendah 13,48% dari kuat tekan rencana.
6. Pada gambar 5.3 Grafik perbandingan kuat tekan hasil analisis, pada beton
campuran air PDAM dengan rendaman air laut mempunyai trend menguat
6,9% pada umur 56 hari, sedangkan pada beton campuran air payau dengan
rendaman air laut mempunyai trend penurunan 14,24% pada umur 56 hari.
7. Terhadap penelitian yang hampir sejenis sebelumnya dari Juli Herwanto,
Politeknik Negeri Bengkalis dengan Judul Pengaruh Mutu Beton K-250
Terendam Air Laut Dengan Penambahan Zat Aditif Sikacim Concrete Additif
Kadar 0,6% bahwa kuat tekan rata-rata beton campuran air tawar yang
direndam air laut juga mengalami penurunan 7,53% dari beton direndam air
biasa pada umur 28 hari.

2.5 Pengaruh Abu Terbang Sebagai Filler Untuk Kuat Tekan beton
Komposisi campuran beton untuk 1 m³ dapat dilihat pada Tabel 2.

Hasil pengukuran slump dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.

Hasil pengukuran slump rata –rata pada beton normal adalah 2,4 cm sedangkan
dengan 10% kadar abu terbang slump yang dihasilkan 2.575 cm, 20% abu terbang
slump didapat 2.625 cm dan untuk 30% slump didapat 2.65 cm. Slump ini digunakan
untuk mengetahui kekentalan dari adukan beton yang direncanakan. Hasil uji kuat
tekan beton normal dapat dilihat pada Tabel 4.

17
Tabel 4 Hasil Uji Kuat Tekan Beton Normal

Dari table 4 didapatkan rata-rata hasil kuat tekan beton normal pada umur 28 hari
adalah 43.82 MPa. Gambar 2 menunjukkan kenaikan kuat tekan beton normal pada
umur 28 hari

Hasil uji kuat tekan beton dengan abu terbang dapat dilihat pada tabel 5
Tabel 5 Kuat Tekan Beton Abu Terbang 10%

18
Dari table 5 didapatkan hasil kuat tekan beton ratarata pada campuran abu terbang
10% pada umur 28 hari adalah 44.44 MPa, sedangkan gambar 2 menunjukkan grafik
kuat tekan maksimum pada umur 28 hari untuk kadar abu terbang 10%.

Tabel 6 Kuat Tekan Beton Abu Terbang 20%

Dari table 6 didapatkan hasil kuat tekan beton ratarata pada campuran abu terbang
20% pada umur 28 hari adalah 36.08 MPa

19
Pada umur 28 hari kuat tekan beton setelah ditambah dengan abu terbang 20% adalah
36.08 MPa lebih rendah dibandingkan dengan kuat tekan beton normal yaitu 43.82
MPa

Dari table 7 didapatkan hasil kuat tekan beton ratarata pada campuran abu terbang
30% pada umur 28 hari adalah 29.15 MPa

Dari gambar 5 dapat dilihat bahwa kuat tekan beton maksimum pada umur 28
hari sebesar 44.44 MPa dengan campuran abu terbang 10% sebagai filler pengganti
semen.

20
2.6 Ketahanan Elemen Struktur Baja Terhadap Kebakaran
Semakin pesatnya jumlah pembangu-nan dan sempitnya lahan untuk
mendirikan bangunan, para pemilik gedung cenderung untuk untuk memperluas
bangunannya secara vertikal dengan menambah jumlah lantai.
Pertimbangan ketahanan struktur terhadap bahaya gempa sering dilakukan,
namun ketahanan struktur juga harus diperhitungkan terhadap kemungkinan
terjadinya kebakaran. Hal ini akan meyebabkan menurunnya kekuatan dari struktur
karena pengaruh bahaya panas dan api. Tingkat ketahanan struktur terhadap bahaya
panas dan api dapat dipastikan apabila metode perancangan dan pelaksaaan konstruksi
telah diterapkan dengan baik dan benar serta adanya kwalitas yang baik dari bahan
yang dipakai.

A. Konsep Dasar Struktur Baja Tahan Api


Proses mendasar dari perancangan struktur baja tahan api berawal dari asumsi
yang berkenaan dengan dampak yang akan mempengaruhi terhadap sistem dan
penafsiran dari struktur. Dalam peranca-ngan struktur baja tahan api, pengaruh
dari panas api sangat berdampak pada sistem struktur, artinya struktur baja dapat
dirancang untuk bertahan beberapa saat sebelum terjadi kegagalan struktur,
sehingga diharapkan para penghuni yang ada didalamnya dapat menyelamatkan
diri. Meskipun pada akhirnya struktur tersebut tidak dapat sepenuhnya
dipertahankan karena ketahanan struktur tersebut tergan-tung dari suhu panas
yang dipancarkan dan lamanya panas yang bekerja pada struktur tersebut.
Oleh karena itu, suhu lingkungan dimana struktur tersebut akan didirikan
harus diperhitungkan pertamakali apabila terjadi kebakaran. Setelah suhu
lingkungan ditentukan selanjutnya menghitung suhu dimana produk baja akan
dipanaskan oleh suhu lingkungan yang diasumsikan. Elemen struktur baja.

B. Sifat Baja Pada Suhu Tinggi


Pada suhu yang tinggi seperti halnya api, sifat baja pada suhu tinggi berbeda
dengan sifat baja pada suhu ruangan. Dalam kondisi khusus tegangan leleh baja
biasa mempunyai kemampuan untuk menahan beban menurun secara linier ketika
suhu naik sampai 400°C dan hampir tak ada tegangan leleh apabila hal ini
dibiarkan sampai mencapai suhu 800°C atau lebih.
Diagram tegangan-regangan dari suatu produk baja pada tes tegangan pada
suhu tinggi JIS G 311G SN490C ditun-jukkan pada (gambar.1)

21
Gbr 1. Kurva regangan tegangan

C. Elemen Struktur Baja Tahan Api


Uji pemanasan dilakukan secara periodik untuk menentukan ketahanan panas
api dari elemen struktur yang dimasukkan kedalam api. Pengujian keselamatan
bangunan terhadap panas api dilakukan pada percobaan tungku api untuk
menghasilkan suhu api yang sesuai dengan standar curve suhu api ISO 834
(gambar.2)
Dibawah ini ditunjukkan pengujian pemanasan pada kolom yang dilakukan
oleh Building Research Institute bekerja-sama dengan Japan Iron and Steel
Federation. Percobaan tungku api yang digunakan untuk pengujian kolom (foto.1).
Tungku api merupakan alat percobaan dengan kriteria sebagai berikut : kapasitas
beban maksimum 20 MN, luas ruang pengukuran dalam dengan lebar 2.50 m,
dalam 2.50 m dan tinggi 4.00 m, serta sistem pengendalian yang diprogram secara
otomatis untuk disesuaikan dengan standar pemanasan ISO 834.
Pengujian yang terdiri dari serat keramik (ceramic-fiber) tahan api dengan
tebal 30 mm yaitu suatu bahan tahan api selama 1 jam yang disebut fireguard,
yang membungkus kolom persegi baja berbentuk pipa yang telah dirakit dengan
cara mengelas bersamasama dengan pelat baja SN490 dengan tebal 40 mm JIS G
3136 SN490C (foto.2)

Foto 1. Pengujian kolom pada tungku api

22
Foto 2. Kolom baja terlindung

Pada saat terjadi kebakaran pada gedung dalam ruangan kosong, sangat jarang
api dapat terus menyala selama lebih dari 2 jam dan ada kemungkinan hanya
sedikit kasus keganasan api yang menjadi begitu luar biasa hingga melebihi suhu
api standar. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kolom yang mempunyai
ketentuan seperti contoh pengujian memiliki keta-hanan api yang cukup untuk
menahan api pada umunya.
Hal itu telah dibuktikan dengan berbagai pengujian yang terus dilakukan
termasuk pengujian yang menyediakan elemen-elemen struktur baja dengan perlin-
dungan api yang tepat yang memberikan keamanan untuk melawan terhadap
bahaya api. Banyak aspek seperti waktu dan biaya untuk menguji katahanan api
melalui percobaan, bahkan ketika targetnya adalah elemen struktur tunggal.
Bagaimanapun produk baja menawarkan sifat material yang stabil dan
memungkinkan kemudahan untuk memperkirakan kapan tegangan leleh akan
mengalami penurun pada saat suhu tinggi.
Oleh karena itu apabila memungkinkan untuk mengevalusi secara tepat suhu
baja selama ada bahaya api melalui analisa kuantitatif dan cara pedekatan yang
lain, sehingga ketahanan api dari material baja dapat dihitung.
Metode Finite Difference satu demensi adalah salah satu format sederhana dari
analisa numerik yang digunakan. Gambar-3 menunjukkan hasil penggunaan
metode analisa numerik yaitu merupakan hasil analisa nilai standar dari panas dan
sifat lain dari material baja dan material perlindungan api. Suhu baja yang ditun-
jukkan pada gambar 5 dapat menyesuaiakan dengan baik satu sama lain, sehingga
memungkinkan untuk menyatakan bahwa peningkatan suhu elemen struktur baja
dapat diperkirakan dengan teliti, bahkan saat menggunakan metode finite
defference satu demensi yang sederhana.

23
Gbr 3. Curve suhu-api baja dengan dengan analisa numeric

D. Struktur Bangunan Tahan Api


Bukanlah hal tidak mungkin membuat analisa eksperimen atas ketahanan api
dari struktur bangunan yang sesungguhnya, namun biaya digunakan untuk
mencapai hasil tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan eksperimen yang
dilakukan hanya pada elemen struktur. Analisa eksperimen ketahanan api dari
seluruh bangunan masih jarang dan terbatas pada kasus-kasus tertentu. Dengan
pertimbangan rangka struktur yang berukuran sangat besar, pendekatan yang
umum untuk menganalisis ketahanan api adalah dengan cara analisa numerik.

E. Metode Verifikasi
Metode Verifikasi ketahanan api diperkenalkan mengikuti Standar Bangunan
Jepang tahun 2000. Meode ini selanjutnya disebut dengan Metode Verifikasi.
Standar Bangunan menetapkan bahwa bagian struktur utama dari bangunan tahan
api harus memenuhi syarat-syarat sebagi berikut :
1. Struktur bangunan merupakan struktur tahan api.
2. Mempunyai kemampuan :
a. Tahan terhadap aksi yang dihasilkan oleh api yang diprediksi akan
terjadi dalam ruang tertutup sampai api dapat dipadamkan, dan
b. Tahan terhadap api yang dihasilkan oleh api normal yang mungkin
terjadi disekitar bangunan sampai api dapat dipadamkan (hanya
dinding bagian luar).
Metode Verifikasi sehubungan dengan permasalahan (2.a) diatas intensitas
dan durasi terjadinya api pada ruang tertutup dapat diperkirakan, sedangkan
sehubungan dengan permasalahan (2.b) diatas kebakaran ekternal ditetapkan dan
selanjutnya dilakukan verifikasi bahwa kolom, balok, dinding dan bagian-bagian
lain dapat bertahan terhadap intensitas dan durasi terjadinya api.
Setiap kinerja yang diperlukan untuk tiap bagian struktur ditunjukkan pada
tabel 1. Sarana untuk memverifikasi setiap kinerja tersebut ditetapkan dalam
Metode Verifikasi. Setiap Metode Verifikasi disu-sun sedemikian rupa sehingga
dapat membuktikan (memverifikasi) bahwa “waktu ketahanan api  waktu
durasi” pada tahap akhir-verifikasi

24
Tabel 1 Ketahanan api yang disyaratkan

Pada tabel 1, kemampuan menahan beban pada api tertutup diperlukan untuk
kolom, balok dan struktur sangatlah penting dari bangunan berstruktur baja.
Standar bangunan menetapkan bahwa bangunan apartemen, rumah, hotel dll yang
digunakan oleh sebagian besar orang dan bangunan diperkotaan harus berstruktur
tahan api.

F. Karakteristik Bahan Baja


a. Sifat Suhu Tinggi
Perbandingan dari batas regangan suhu tinggi pada baja biasa dan baja
tahan api. Ketika batas regangan dari baja biasa turun sampai 350°C atau kira-
kira 2/3 dari nilai yang ditetapkan pada suhu kamar sedangkan baja tahan api
mencapai lebih dari 2/3 nilai suhu kamar yang ditetapkan sampai 600°C
terlam-paui. Hal ini menunjukkan begitu tinggi-nya batas regangn pada suhu
tinggi.
Perbandingan karakteristik rangkak (creep) suhu tinggi 600°C antara
baja biasa dan baja tahan api. Pada baja biasa regangan rangkak 1% terjadi
apabila diberi beban 125 N/mm2 selama 10 menit, sementara dalam baja tahan
api regangan rangkak 1% terjadi apabila diberi beban 225 N/mm2 selama 100
menit.
b. Sifat Suhu Kamar
Dalam baja tahan api, unsurunsur logam ditambahkan untuk
meningkat-kan batas regangan pada suhu tinggi, sementara sejumlah
campuran logam untuk menghalangi sifat getas, seperti C dan Mn dikurangi.
Akibatnya baja tahan api memenawarkan sifat getas yang sama atau bahkan
melebihi sifat getas baja biasa

2.7 Studi pembuatan keramik berpori berbasis clay dan kaolin alam dengan aditif
abu sekam padi
A. Persyaratan Agregat Halus
Hubungan antara suhu sintering terhadap susut bakar ditunjukkan pada tabel 2
dan gambar 1.

25
Tabel 2. Hasil Perhitungan Susut Bakar
Suhu Susut bakar (%)
sintering Abu sekam Abu sekam Abu sekam Abu sekam
(oc) 0% 5% 10% 15%
21,62 ± 19,92 ± 19,11 ± 18,91 ±
900
0,003 0,006 0,006 0,003
22,98 ± 21,70 ± 21,60 ± 20,20 ±
1000
0,003 0,003 0,003 0,003
23,31 ± 22,56 ± 21,95 ± 20,88 ±
1100
0,004 0,003 0,002 0,003
Data hasil penelitian (tabel 2) menunjukkan bahwa dengan variasi abu
sekam padi 0%, 5% , 10%, dan 15% untuk suhu sintering 9000C diperoleh nilai
susut bakar masing-masing variasi 21,62%; 19,92%; 19,11% dan 18,91% . Pada
suhu sintering 10000C diperoleh nilai susut bakar masing-masing variasi 22,98%;
21,70%; 21,60% dan 20,20% . Pada suhu sintering 11000C diperoleh nilai susut
bakar masingmasing 23,31%; 22,70%; 21,95% dan 20,88%. Untuk sampel
dengan persentase komposisi abu sekam padi yang sama, semakin tinggi suhu
sintering maka nilai susut bakar akan semakin besar. Sedangkan untuk suhu
sintering yang sama, semakin banyak penambahan komposisi abu sekam padi
maka nilai susut bakar akan semakin kecil. Hal ini juga ditunjukkan gambar 1.

Gambar 1. Hubungan Komposisi Aditif Abu Sekam Padi vs Susut Bakar

B. Hasil Pengukuran Porositas


Kenaikan suhu sintering akan menurunkan porositas yang disertai dengan
kenaikan nilai densitas karena butiranbutirannya akan semakin rapat sehingga
akan mengurangi celah/pori. Hubungan antara porositas terhadap komposisi bahan
aditif ditunjukkan pada tabel 3 dan gambar 3.
Suhu Porositas (%)
Sintering Abu sekam Abu sekam Abu sekam Abu sekam
( oC) padi 0% padi 5% padi 10% padi 15%
45,8399 ± 48,9803 ± 50,2702 ± 56,9464 ±
900
0,049 0,053 0,055 0,076
37,8355 ± 39,5386 ± 43,7896 ± 44,3094 ±
1000
0,037 0,049 0,052 0,055
27,8026 ± 32,2084 ± 36,4930 ± 37,0471 ±
1100
0,024 0,036 0,047 0,040

26
Gambar 3. Hubungan Komposisi Aditif Abu Sekam Padi vs Porositas

Data hasil penelitian (tabel 3) menunjukkan bahwa pada suhu sintering 9000C
dengan variasi abu sekam padi 0%, 5%, 10% dan 15% diperoleh porositas
masing-masing variasi 45,83%; 48,98%; 50,27% dan 56,94%. Pada suhu
sintering 10000C diperoleh porositas masing-masing variasi 44,30%; 43,78%;
39,53% dan 37,83%. Pada suhu sintering 11000C diperoleh nilai porositas
masing-masing variasi 37,04%; 36,49%; 32,20% dan 27,80%. Sampel dengan
persentase komposisi abu sekam padi yang sama, semakin tinggi suhu sintering
maka porositas semakin kecil. Sedangkan untuk suhu sintering yang sama,
semakin banyak penambahan komposisi abu sekam padi maka nilai porositas
semakin besar

C. Hasil Pengukuran Densitas (Rapat Massa)


Hubungan antara suhu sintering terhadap densitas (rapat massa) ditunjukkan
pada tabel 4 dan gambar 4.
Tabel 4. Hasil Perhitungan Densitas
Suhu Densitas (gr/cm3 )
Sintering Abu sekam Abu sekam Abu sekam Abu sekam
( oC) padi 0% padi 5% padi 10% padi 15%
900 1,4848 + 1,4540 + 1,4181 + 1,3344 +
0,002 0,001 0,001 0,001
1000 1,5147 + 1,4744 + 1,4159 + 1,4157 +
0,002 0,002 0,002 0,002
1100 1,7162 + 1,8176 + 1,5770 + 1,1919 +
0,002 0,002 0,002 0,001

Gambar 4. Hubungan Komposisi Aditif Abu Sekam Padi vs Densitas Pada


Suhu Sintering 9000C, 10000C dan 11000C.

27
Data hasil penelitian (tabel 4) menunjukkan bahwa pada suhu sintering 9000C
dengan variasi abu sekam padi 0%, 5%, 10% dan 15% diperoleh rapat massa
masing-masing variasi 1,48%; 1,45%; 1,41% dan 1,33%. Pada suhu sintering
10000C diperoleh rapat massa masing-masing variasi 1,51%; 1,47%; 1,41% dan
1,41%. Pada suhu sintering 11000C diperoleh rapat massa masing-masing variasi
1,71%; 1,81%; 1,57% dan 1,19%. Sampel dengan komposisi abu sekam padi
yang sama, semakin tinggi suhu sintering maka nilai rapat massa semakin besar.
Sedangkan untuk suhu sintering yang sama, semakin banyak penambahan
komposisi abu sekam padi maka nilai rapat massa semakin kecil

D. Hasil Pengukuran Kekerasan


Hasil Pengukuran Kekerasan Hubungan antara suhu sintering terhadap
kekerasan ditunjukkan pada tabel 5 dan gambar 5.
Tabel 5. Hasil Perhitungan Kekerasan
Suhu Kekerasan (kgf/mm2 )
Sintering Abu sekam Abu sekam Abu sekam
( oC) padi 5% padi 10% padi 15%
900 8,512 ± 9,018 ± 0,131 9,697 ± 0,201
0,268
1000 10,27 ± 10,58 ± 0,390 11,15 ± 0,193
0,278
1100 11,53 ± 12,72 ± 0,756 14,96 ± 0,653
0,060

Gambar 5. Hubungan Komposisi Aditif Abu Sekam Padi vs


Kekerasan

Data hasil penelitian (tabel 5) menunjukkan bahwa pada suhu sintering 9000C
dengan variasi abu sekam padi 0%, 5%, 10% dan 15% diperoleh nilai kekerasan
masing-masing variasi 8,7844 kgf/mm2 ; 9,1170 kgf/mm2 ; 9,5390 kgf/mm2 dan
9,5587 kgf/mm2 . Pada suhu sintering 10000C diperoleh nilai kekerasan masing-
masing variasi 10,5663 kgf/mm2 ; 10,8762 kgf/mm2 ; 10,8762 kgf/mm2 dan
11,1175 kgf/mm2 . Pada suhu sintering 11000C diperoleh nilai kekerasan masing-
masing variasi 11,5073 kgf/mm2 ; 11,6482 kgf/mm2 ; 11,9793 kgf/mm2 dan
12,8776 kgf/mm2 .

Dari hasil pengukuran kekerasan dengan alat microhardness menunjukkan


kecenderungan perubahan yang semakin meningkat terhadap peningkatan suhu

28
sintering. Dengan meningkatnya suhu sintering rapat massa yang didapat semakin
tinggi

E. Hasil Pengujian XRD (X-Ray Diffraction)


Berikut ini pola difraksi sinar-X dari bahan keramik diuji dengan XRD :
Tabel 6. Hasil Analisa XRD Sampel Pada Suhu Sintering 11000C (47,5% Clay
; 47,5% Kaolin dan 5% Aditif Abu Sekam Padi )
d- Rel. Area Ba
Pos. FW HM Hei ght
no spacing Int. [cts*° ckg
[°2Th.] [°2Th.] [cts]
[Å] [%] 2 Th.] r.[cts]
1 8.4153 10.50737 36.63 0.3149 8.81 62 28.36
2 19.3887 4.57822 77.91 0.4723 28.1 46 60.31
3 21.5779 4.11843 90.47 0.4723 3 32.63 46 70.04
4 26.3067 3.38787 100 0.1968 15.03 44 77.41
5 36.8382 2.43994 34.47 0.9446 24.86 31 26.68
6 45.4652 1.99502 28.81 1.8893 41.57 21 22.31
7 60.0429 1.54088 19.01 1.8893 27.43 19 14.72
8 66.5811 1.40339 45.94 1.92 91.03 17 35.56

Gambar 6. Pola XRD 5% aditif abu sekam padi pada suhu sintering
11000C
Pos Pos Fasa yang
No h k L
[°2Th] [°2Th] Terbentuk
(Kal4SiAl5O10OH44
H2O) Pottassium
1 8.4153 10.50737 0 0 1
Aluminium Silicate
Hydroxide Hydrate
(Kal4SiAl5O10OH44
H2O) Pottassium
2 19.3887 4.57822 1 1 0
Aluminium Silicate
Hydroxide Hydrate
Al2Si2O5(OH)4
3 21.5779 4.11843 Aluminium Silicate 1 1 1
Hydroxide
Al2Si2O5(OH)4
4 26.3067 3.38787 Aluminium Silicate 1 1 1
Hydroxide
5 36.8382 2.43994 SiO2 Silicon Oxide 1 1 0
Al2Si2O5(OH)4
6 45.4652 1.99502 Aluminium Silicate 2 0 3
Hydroxide

29
Al2Si2O5(OH)4
7 60.0429 1.54088 Aluminium Silicate 3 1 3
Hydroxide
8 66.5811 1.40339 SiO2 Silicon Oxide 3 0 0
Dari analisa difraksi sinar-X keramik berpori dengan komposisi abu sekam
padi 5 % pada suhu sintering 11000C untuk sudut 2θ mulai dari 00 sampai 700
terbentuk 8 fasa pada sampel, dimana fasa yang dominan adalah Aluminium
Silicate Hydroxide (Al2Si2O5(OH)4) dengan struktur orthorhombik yang
memiliki parameter kisi a = 5,14 A0 , b = 8,93 A0 , c = 7,37 A0 , α = β = γ = 900 .
Setelah dilakukan pengurutan secara manual melalui metode intensitas relatif
tertinggi, dan dapat disesuaikan dengan kartu standar JCPDS (Joint Commite of
Powder Difraction Standard) dapat juga diketahui bahwa tipe sampel adalah tipe
Kaolinite

F. Pengujian Susut Bakar


Dari tabel 2 untuk pengukuran susut bakar keramik berpori dapat dilihat
bahwa apabila suhu sintering meningkat maka nilai susut bakarnya juga akan
meningkat, hal ini sesuai dengan fenomena proses sinter yaitu terjadi proses
densifikasi, pengurangan jumlah pori dan ukuran pori disertai terjadinya
penyusutan, karena butiranbutirannya akan semakin rapat sehingga akan
mengurangi celah/pori yang disebabkan juga adanya pertumbuhan butir pada
proses sintering sehingga membentuk batas butir yang sempurna. Semakin banyak
impuritis (zat pengotor) yang hilang pada suhu sintering yang makin tinggi maka
butiran semakin padat sehingga susut bakar semakin meningkat

G. Pengujian Porositas
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa apabila semakin besar suhu sintering yang
diberikan maka nilai porositas yang diperoleh akan semakin kecil oleh karena
adanya densifikasi (pemadatan) pada sampel yang berbanding lurus dengan suhu
sintering, tetapi untuk suhu sintering yang sama semakin besar aditif abu sekam
padi yang diberikan maka nilai porositas yang diperoleh juga akan semakin besar
karena aditif abu sekam padi dapat mengakibatkan pengurangan celah/pori pada
proses pembakaran. Hal ini disebabkan karena penambahan abu sekam padi
berfungsi untuk menyerap suhu sintering dan memecahkan ikatan-ikatan partikel-
partikel serta mengurangi susut bakar pada proses sintering sehingga dapat
meningkatkan celah/pori pada saat pembakaran.

H. Pengujian Densitas
Hubungan densitas (rapat massa) terhadap suhu sintering pada grafik dan tabel
dapat dilihat bahwa densitas meningkat dengan adanya peningkatan suhu
sintering. Hal ini disebabkan terjadinya densifikasi (pemadatan) di antara partikel-
partikelnya sehingga ikatan yang terbentuk semakin kuat dan porositasnya
semakin kecil akibat pemadatan atau pemampatan serta volume benda uji akan
semakin berkurang (terjadi penyusutan), dan juga senyawa impuritis (pengotor)

30
yang terkandung dalam clay, kaolin dan abu sekam padi mulai lepas sehingga
celah/pori akan semakin berkurang. Bertambahnya suhu sintering akan
meningkatkan densitas. Semakin besar kandungan aditif abu sekam padi, maka
densitasnya akan semakin kecil, tetapi apabila suhu sintering yang diberikan
makin tinggi maka densitas yang diperoleh juga makin besar.

I. Pengujian Kekerasan
Dari hasil pengukuran kekerasan dengan alat Vickers Hardness menunjukkan
kecenderungan perubahan yang semakin meningkat terhadap peningkatan suhu
sintering. Dengan meningkatnya suhu sintering rapat massa akan semakin tinggi,
hal ini disebabkan karena terjadinya pemadatan diantara partikel-partikel sehingga
ikatan yang terbentuk semakin kuat dan kekerasannya akan semakin meningkat.
Nilai kekerasan maksimum diperoleh pada suhu 11000C sebesar 12,87 kgf/mm2
pada aditif 15%. Sedangkan nilai minimum diperoleh pada suhu 9000C sebesar
8,78 kgf/mm2 dengan aditif 0%

J. Pengujian XRD
Hasil analisa struktur mikro menggunakan alat X-Ray diffraction (XRD)
untuk sampel dengan komposisi aditif sekam padi 5% pada suhu sintering 11000C
fasa-fasa yang terbentuk antara lain, (Kal4SiAl5O10OH44H2O) Pottassium
Aluminium Silicate Hydroxide Hydrate, Al2Si2O5(OH)4 Aluminium Silicate
Hydroxide, dan SiO2 Silicon Oxide

2.8 Pengembangan Potensi Bambu Sebagai Bahan Bangunan Ramah Lingkungan


Potensi bambu sebagai material bahan bangunan memang masih sangat
terbuka lebar untuk terus dikembangkan, namun bahan bangunan tentu bambu juga
tidak lepas dari berbagai kelebihan maupun kekurangannya. Sehingga kita dituntut
untuk terus berinovasi dalam mengembangkan pola-pola struktur dan pengolahan
bambu akhirnya menjadi alternatif bahan bangunan yang lebih baik, sehingga akan
lebih banyak dimanfaatkan dimasa mendatang. Disamping itu kita juga selalu dituntut
untuk mengatasi berbagai kelemahan bambu, sehingga dapat menjadi material
bangunan yang lebih berkualitas.

A. Kelebihan Bambu Sebagai Bahan Bangunan


1. Bambu melimpah dimana-mana sehingga murah dan mudah didapatkan
dibandingkan material lain.
2. Bambu sangat mudah dibudidayakan, dapat tumbuh pada daerah yang kurang
baik, pertumbuhannya cepat dan umurnya pendek sehingga tidak perlu
menunggu terlalu lama untuk memanen.
3. Tanaman bambu akan terus tumbuh melalui tunas-tunas baru setelah batang
yang tua-tua ditebang, dan akan segera pulih kembali dalam waktu 1 tahun.
Hal ini sangat berbeda dengan kayu yang membutuhkan waktu hingga 30
tahun untuk kembali menjadi hutan setelah ditebang.
4. Pengerjaannya mudah, praktis dan tidak memerlukan teknologi Tinggi.

31
5. Dapat digunakan dengan berbagai variasi kebutuhan, sehingga meski
bahannya satu jenis namun dapat menghasilkan varian bentuk yang sangat
beragam.

B. Kelemahan Bambu Sebagai Bahan Bangunan


Sebagai material yang mengandung banyak kelebihan bambu tetap memiliki
kelemahan kelemahan dan keterbatasan yang harus dicermati guna mendapatkan
solusi yang lebih baik. Berikut adalah beberapa kelemahan bambu:
1. Bambu memiliki rongga didalam batang dan beruas-ruas, sehingga mudah
pecah karena kembang susut oleh perubahan cuaca, temperatur maupun kadar
airnya. Sehingga guna mengantisipasi hal ini material bambu perlu diawetkan
sebelum digunakan, disamping hal tersebut kejadian bambu pecah ini akan
sering kita jumpai terutama pada simpul-simpul pembebanan pada rangkaian
struktur yang terbuat dari bambu, sehingga diperlukan modifiasi pada titik-
titik simpul pembebanan dengan dilapis material logam. Sehingga pembagian
beban lebih merata dan stabil.
2. Bambu yang sudah terpasang sebagai material bangunan seringkali kita
jumpai dimakan serangga bubuk/ngengat, sehingga diperlukan lapisan anti
serangga.
3. Material bambu kurang tahan terhadap perubahan cuaca terutama yang terkena
sinar matahari dan hujan secara langsung, sehingga perlu tindakan pengawetan
dan setelah itu di coating agar bisa menghambat penyerapan air.

C. Pengawetan Bambu
Terdapat banyak cara dalam mengawetkan bambu baik secara tradisional
maupun modern, dan dengan cara alami maupun secara kimia, namun di sini
hanya akan kita bahas cara pengawetan secara alami karena lebih ramah
lingkungan dan sudah terbukti bisa bertahan sampai dengan diatas 50 tahun,
bahkan di atas 100 tahun, bahkan dari pengalaman penulis pernah menjumpai
struktur bambu yang masih bertahan dengan baik sampai dengan usia diatas 250
tahun. Cara pengawetan bambu secara alami yang telah teruji dan terbukti dari
para leluhur kita adalah dengan cara perendaman pada air mengalir selama 8 bulan
sampai dengan 12 bulan. Namun jika kesulitan mendapatkan air mengalir dapat
juga dilakukan pada air yang berhenti. Ada beberapa kelemahan antara lain:
terjadi perubahan warna bambu menjadi sangat gelap, waktu perendaman cukup
lama tidak bisa disingkat, jika diangkat sebelum minimal 8 bulan hasilnya kurang
maksimal, terjadi bau yang tidak enak meskipun sudah dikeringkan setelah
perendaman masih butuh waktu lama untuk benar-benar menghilangkan baunya.

32
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahan yang saya pilih untuk bangunan tersebut antara lain yaitu pasir
pasang, batu bauksit pulau bintan, Semen Pozolan Dan Semen Portland, air
payau dan air laut, abu terbang, baja, keramik berpori berbasis clay dan kaolin
alam dengan aditif abu sekam padi, dan juga bambu.
Saya memilih bangunan yang terdapat pada makalah yang saya buat
karena cocok untuk daerah dataran tinggi. Selain itu terdapat pengujian bahan
yang ramah lingkungan selain itu juga dilihat juga dari segi tahan api juga
kesehatan.

3.2 Saran
Ada baiknya anda mengenal jenis bahan bangunan beserta kelebihan
dan kekurangannya secara keseluruhan sebelum memutuskan untuk memilih
atau menggunakannya dalam proses konstruksi.

33
DAFTR PUSTAKA

“PEDOMAN PERATURAN DAN TATA TERTIB BAGI PEMILIK DAN PENGHUNI DI


KAWASAN TAMAN DAYU – PANDAAN, Lampiran 1: Peraturan Kawasan Taman
Dayu”

Siti Aisyah Sari, Titik Penta Artiningsih, Heny Purwanti.” PERBANDINGAN PENGARUH
BEBERAPA JENIS PASIR TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT LENTUR DAN
KUAT TARIK BELAH BETON, Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik –
Universitas Pakuan”

Angelina Eva Lianasari.” POTENSI BATU BAUKSIT PULAU BINTAN SEBAGAI


PENGGANTI AGREGAT KASAR PADA BETON, Volume 12, No. 3, Oktober
2013: 155 – 160”

Hargono,[Link], Dan [Link].2009.” PENGARUH PERBANDINGAN SEMEN


POZOLAN DAN SEMEN PORTLAND TERHADAP KEKEKALAN BENTUK
DAN KUAT TEKAN SEMEN, Vol. 5, No. 2, Oktober 2009 : 21 – 25”

Slamet Budi Mulyono dan Nadia Prayitno.2015.” STUDI PENGARUH PENGGUNAAN


AIR PAYAU DALAM MIX DESIGN BETON UNTUK PEMBUATAN
KONSTRUKSI DERMAGA AKIBAT RENDAMAN AIR LAUT, Jurnal
Konstruksia | Volume 7 Nomer 1 | Desember 2015”

Lina Flaviana Tilik, Raja Marpaung, Darma Prabudi.2014.” PENGARUH ABU TERBANG
SEBAGAI FILLER UNTUK KUAT TEKAN BETON, Jurnal Pilar Jurusan Teknik
Sipil, Vol. 10, Nomor 1, Maret 2014”

Kusdiman Joko Priyanto” KETAHANAN ELEMEN STRUKTUR TERHADAP


KEBAKARAN”

Henok Siagian dan Martha Hutabalian.2012.” STUDI PEMBUATAN KERAMIK BERPORI


BERBASIS CLAY DAN KAOLIN ALAM DENGAN ADITIF ABU SEKAM PADI,
Jurnal Saintika Volume 12(1): 14 - 23, 2012”

Abito Bamban Yuuwono” PENGEMBANGAN POTENSI BAMBU SEBAGAI BAHAN


BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN”

34

Anda mungkin juga menyukai