Analisis Kuat Tekan Beton di Taman Dayu
Analisis Kuat Tekan Beton di Taman Dayu
Disusun Oleh :
FAKULTAS TEKNIK
2021
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat limpahan
rahmat taufiq dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan sebuah Makalah dengan
Judul : “taman dayu pandaan“ Makalah ini diajukan untuk memenuhi syarat dalam
menyelesaikan tugas perkuliahan pada Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
Universitas Muhammadiyah Jember. Dengan tersusunnya Makalah ini, kami berharap kepada
bapak Pengampu Mata Kuliah bahan bangunan & konstruksi berkenan meluangakan waktu
untuk membina dan membimbing perbuatan (makalah) yang ditugaskan kepada Mahasiswa.
Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dr. Nanang Saiful Rizal [Link] selaku Dekan Fakultas Teknik, Universitas
Muhammadiyah Jember
2. Taufan Abadi, [Link] selaku Kaprodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Jember.
3. Senki Desta Galuh ST. MT selaku Dosen pengampu Mata Kuliah bahan bangunan &
konstruksi yang dengan telaten dan sunguh-sunguh dalam menyampaikan materi dan
bimbingannya.
4. Rekan-rekan seangkatan Tahun Akademik 2021 yang selalu saling memberikan
semangat dalam menyelesaikan tugas.
Penulis
i
DAFTAR ISI
JUDUL ..........................................................................................................................................
DAFTAR ISI................................................................................................................................. ii
ii
BAB I
PENDAHULUAN
iii
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui perbandingan pengaruh beberapa jenis pasir terhadap kuat
tekan, kuat lentur dan kuat tarik belah beton
2. Untuk memepelajari Seberapa besar kuat tekan beton dengan yang dapat
dihasilkan oleh beton dengan batu bauksit sebagai agregat kasar
3. Untuk mempelajari pengaruh perbandingan semen pozolan dan semen portland
terhadap kekekalan bentuk dan kuat tekan semen
4. untuk dapat memberikan informasi yang jelas bagi pelaksanaan campuran beton
dan pengaruh setiap variable campuran air beton terhadap kuat tekan beton
tersebut
5. Untuk mempelajari pengaruh abu terbang sebagai filler untuk kuat tekan beton
6. Untuk memepelajari ketahanan elemen struktur baja terhadap kebakaran
7. Untuk mempelajari Studi pembuatan keramik berpori berbasis clay dan kaolin
alam dengan aditif abu sekam padi
8. Untuk Meningkatkan kualitas bambu dengan mengembangkan segala potensi
yang ada supaya dapat menjadi bahan bangunan yang kekinian dan ramah
lingkungan
iv
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perbandingan Pengaruh Beberapa Jenis Pasir Terhadap Kuat Tekan, Kuat
Lentur Dan Kuat Tarik Belah Beton
2.1.1 Hasil Pengujian Material
1. Hasil Pengujian Agregat Halus
Hasil pengujian material untuk agregat halus yaitu, pasir Bangka, pasir
sungai dan pasir Merapi dapat dilihat pada tabel 1.
1
Dari gambar 1 dapat disimpulkan bahwa pasir Bangka memiliki
gradasi yang baik atau jenis pasir sedang (tidak terlalu lembut dan kasar)
namun pada nomor saringan 50 dan 100 nilai persen lolos keluar dari
batas bawah yang ditetapkan ASTM C33-90.
2
2.1.3 Hasil Pengujian Nilai Slump
Pengujian slump dilakukan sebelum adukan beton dimasukan kedalam
benda uji. Berikut adalah hasil slump test pada tabel 4.
3
Hasil berat volume beton untuk pengujian kuat tekan menunjukan
berat volume beton yang memiliki nilai terbesar adalah pasir Bangka sebesar
2335,30864 kg/m³. Pasir Sungai memiliki berat volume beton sebesar
2266,17284 kg/m³ mempunyai perbedaan 3,05% dengan berat volume pasir
Bangka. Pasir Merapi memiliki berat volume beton sebesar 2319,60494 kg/m³
dan mempunyai perbedaan 0,68% dengan berat volume pasir Bangka.
Hasil berat volume beton untuk pengujian kuat tarik belah menunjukan
berat volume beton yang memiliki nilai terbesar adalah pasir Merapi sebesar
2362,32704 kg/m³. Pasir Bangka memiliki berat volume beton sebesar
2322,95597 kg/m³ mempunyai perbedaan 1,69% dengan berat volume pasir
Merapi. Pasir sungai memiliki berat volume beton sebesar 2266,3522 kg/m³
dan mempunyai perbedaan 4,23% dengan berat volume pasir Merapi.
4
2.1.5 Hasil Pengujian Kuat tekan
1. Kuat Tekan
Hasil pengujian kuat tekan untuk beberapa jenis pasir dapat dilihat pada
tabel 5.
Gambar 7
diagram perbandingan kuat tekan beton beberapa jenis pasir
1. Pada hari ke-7 pasir Merapi menghasilkan nilai mutu tertinggi sebesar
23,486 MPa, urutan kedua adalah pasir Bangka sebesar 19,981 MPa
memiliki perbedaan 17,54% dengan pasir Merapi dan yang ketiga
adalah pasir sungai sebesar 14,387 MPa memiliki perbedaan 63,54%
dengan pasir Merapi.
2. Pada hari ke-14 pasir Merapi menghasilkan nilai mutu tertinggi
sebesar 31,171 MPa, urutan kedua adalah pasir sungai sebesar 27,175
MPa memiliki perbedaan 26,02% dengan pasir Merapi dan yang
5
ketiga adalah pasir Bangka yang mengalami penurunan urutan sebesar
24,101 MPa memiliki perbedaan 26,02% dengan pasir Merapi.
3. Pencapaian beton 100% terjadi pada umur ke 28 dan pasir yang
memiliki nilai kuat tekan tertinggi adalah pasir Merapi sebesar 34,122
MPa, urutan kedua adalah pasir Bangka sebesar 30,987 MPa memiliki
perbedaan 10,12% dengan pasir Merapi dan kuat tekan paling kecil
adalah pasir sungai sebesar 29,388 MPa memiliki perbedaan 16,11%
dengan pasir Merapi.
2. Kuat Tekan Karakteristik
Perbandingan hasil nilai kuat tekan karakteristik dengan hasil nilai kuat
tekan pada saat pengujian bisa dilihat pada gambar 8.
Gambar 8 Diagram perbandingan kuat tekan beton sebelum dan
sesudah menggunakan deviasi standar
1. Kuat tekan setelah deviasi standar yang memiliki nilai tertinggi adalah
pasir Merapi sebesar 39,209 MPa.
2. Kuat tekan setelah deviasi standar yang memiliki nilai terendah adalah
psair sungai sebesar 26,913 MPa.
3. Nilai kuat tekan pasir Bangka sebelum deviasi standar memiliki
perbedaan 6,72% dengan nilai kuat tekan sesudah deviasi standar.
4. Nilai kuat tekan pasir sungai sebelum deviasi standar memiliki
perbedaan 9,19% dengan nilai kuat tekan sesudah deviasi standar.
5. Nilai kuat tekan pasir Bangka sebelum deviasi standar memiliki
perbedaan 14,91% dengan nilai kuat tekan sesudah deviasi standar.
6. Diagram diatas menunjukan pasir sungai nilai kuat tekan sebelum
deviasi standar lebih tinggi daripada nilai kuat tekan setelah deviasi
standar, hal ini menunjukan nilai kuat tekan beton rencana sudah
melebihi nilai kuat tekan karakteristik pada umur 28 hari.
7. Pada pasir Merapi dan pasir Bangka nilai kuat tekan sebelum deviasi
standar lebih rendah dibanding nilai kuat tekan setelah deviasi standar.
6
2.1.6 Hasil Pengujian
Kuat Lentur Hasil pengujian kuat lentur untuk beberapa jenis pasir dapat
dilihat pada tabel 6 dan gambar 9.
Tabel 6 dan gambar 9 didapat bahwa hasil kuat lentur kuat lentur
tertinggi adalah pasir Bangka sebesar 13,334 MPa, pada urutan kedua adalah
pasir Merapi sebesar 13 MPa mempunyai perbedaan 29,03% dengan nilai kuat
lentur pasir Bangka. Dan nilai kuat lentur terendah adalah pasir sungai sebesar
10,334 MPa mempunyai perbedaan 2,57% dengan nilai kuat lentur pasir
Bangka. Hubungan antara kuat lentur dan kuat tekan menurut standar ACI
318-83, dapat dirumuskan sebagai berikut: fr = 0,62 √𝑓′𝑐
Dari hasil yang didapat bisa dibandingkan kuat lentur hasil penelitian
dari ketiga jenis pasir tersebut lebih tinggi dibanding kuat lentur yang didapat
7
dari nilai kuat tekan, sehingga berdasarkan hubungan dengan nilai kuat
tekannya, nilai kuat lentur dari hasil penelitian mencapai nilai kuat lentur
secara teori.
Tabel 7 dan gambar 11 didapat bahwa Hasil kuat tarik belah tertinggi
adalah pasir Merapi sebesar 11,916 MPa, pada urutan kedua adalah pasir
Bangka sebesar nilai kuat tarik belah sebesar 10,815 MPa mempunyai
perbedaan 10,27% dengan nilai kuat tarik belah pasir Merapi. Nilai kuat tarik
belah terendah adalah pasir sungai sebesar 10,222 MPa dan mempunyai
perbedaan 16,67% dengan nilai kuat tarik belah pasir Merapi. Hubungan
antara kuat tarik belah dan kuat tekan menurut SNI T-15-1991-03, dapat
dirumuskan sebagai berikut: fr = 0,7 √𝑓′c
8
Dari hasil yang didapat bisa dibandingkan kuat tarik belah hasil
penelitian dari ketiga jenis pasir tersebut lebih tinggi dibanding kuat tarik
belah yang didapat dari kuat tekan, sehingga berdasarkan hubungan dengan
nilai kuat tekannya, nilai kuat tarik belah dari hasil penelitian mencapai nilai
kuat tarik belah secara teori.
2.2 Potensi Batu Bauksit Pulau Bintan Sebagai Pengganti Agregat Kasar Pada
Beton
Hasil pemeriksaan gradasi agregat kasar bauksit didapatkan nilai modulus
halus butir (mhb) sebesar 7,345. Hasil ini memenuhi persyaratan karena berada dalam
nilai antara 5 sampai 8. Makin besar nilai mhb suatu agregat maka semakin besar
butiran agregatnya (Mulyono, 2003). Untuk mengurangi jumlah semen (sehingga
biaya pembuatan beton berkurang) dibutuhkan ukuran butir-butir maksimum agregat
yang sebesar-besarnya. Pengurangan jumlah semen ini juga berarti terjadi
pengurangan panas hidrasi. Akibatnya akan mengurangi kemungkinan beton untuk
retak akibat susut atau perbedaan panas yang besar (Tjokrodimuljo, 1992).
Pada umumnya agregat normal memiliki nilai berat jenis antara 2,5 sampai
2,7, sedangkan nilai berat jenis bauksit yang diperoleh sebesar 2,2829 kg/m3 . Berat
jenis digunakan untuk menentukan volume yang diisi oleh agregat. Berat jenis agregat
pada akhirnya akan menentukan berat jenis beton sehingga secara Apakah batu
bauksit memenuhi persyaratan minimal digunakan sebagai agregat kasar dalam
beton? Seberapa besar kuat tekan beton dengan yang dapat dihasilkan oleh beton
dengan batu bauksit sebagai agregat kasar? Seberapa besar nilai modulus elastis beton
dengan agregat kasar batu bauksit? langsung menentukan banyaknya campuran
agregat dalam campuran beton.
9
Pada Tabel 3 terlihat pula bahwa nilai serapan air dari bauksit cukup besar
(6,024%), bila dibandingkan dengan krikil alam dengan ratarata penyerapan air
berkisar 2%. Hubungan antara berat jenis dan daya serap adalah semakin tinggi nilai
berat jenis agregat maka semakin kecil daya serap air agregat tersebut (Mulyono,
2003). Setelah dilakukan pemeriksaan keausan terhadap agregat kasar (bauksit), maka
diperoleh hasil pengujian keausan sebesar 26,12 % < 50 % (bagian yang hancur
setelah putaran ke-500 tidak lebih dari 50% berat), sehingga memenuhi syarat PUBI
1982. Beratnya merupakan ukuran dari kekuatan agregat yang dinyatakan dalam
persen hancur, semakin banyak bagian yang hancur semakin rendah kekuatan agregat
tersebut (Mulyono, 2003).
10
Dari Tabel 4 dan Gambar 1 terlihat bahwa nilai slump yang diperoleh
selama pengadukan telah sesuai dengan nilai slump yang dituju yaitu antara 7,5–
15 cm. Adukan beton dengan agregat bauksit akan menurunkan nilai workability
dari adukan beton yang terlihat dari nilai slump dibandingkan dengan adukan
beton agregat kerikil, karena daya resapan agregat bauksit lebih besar
dibandingkan agregat kerikil. Namun secara keseluruhan nilai slump beton
dengan agregat kasar bauksit tidak berselisih banyak disbanding beton normal,
sehingga sifat mudah dikerjakan dari adukan beton juga tidak berpengaruh
banyak. Dan secara umum nilai slump masuk dalam persyaratan PBI 1971 N.I.-2.
Terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 2, semakin besar nilai faktor air semen
(fas) menurunkan nilai kuat tekan beton. Kondisi ini terjadi karena beton dengan
fas rendah mempunyai rongga yang lebih sedikit dibandingkan dengan beton
yang memiliki fas tinggi, sehingga kepadatan beton juga lebih tinggi pada beton
dengan fas rendah. Tingkat kepadatan beton inilah yang menyebabkan tingginya
kuat tekan beton.
Pada Tabel 5 terlihat pula bahwa hasil kuat tekan menunjukkan bahwa beton
dengan agregat kasar batu bauksit dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengganti
11
kerikil alam dalam pembuatan adukan beton karena kuat tekan yang dihasilkan
cukup tinggi hingga mencapai 30,24052 MPa untuk beton dengan faktor air
semen 0,4. Hasil tersebut di atas persyaratan minimal kuat tekan beton struktural
yaitu 17,5 MPa (SNI 03-2847-2002).
Modulus elastisitas beton berkaitan erat dengan faktor air semen, kepadatan,
dan kuat tekan beton. Nilai modulus elastisitas menurun seiring dengan
meningkatnya nilai FAS. Peningkatan nilai FAS menyebabkan peningkatan
jumlah pori pada beton dan berkurangnya kepadatan beton sehingga berefek pada
menurunnya kuat tekan dan modulus elastisitas. Modulus elastisitas berubungan
erat dengan kuat tekan beton, semakin rendah kuat tekan beton maka nilai
modulus elastisitas makin menurun.
Menurut pasal 10.5 SNI-03-2847 (2002) hubungan antara nilai modulus
elastisitas beton normal dengan kuat tekan beton adalah Ec = 4700√f’c. Nilai
modulus elastisitas beton dengan agregat kasar batu bauksit lebih rendah dari
beton normal yang berkisar 20000 MPa (Tabel 6). Nilai modulus elastisitas beton
dengan agregat kasar batu bauksit lebih rendah dari nilai modulus elastisitas
12
teoritis untuk beton normal, rumus modulus elastisitas teoritis beton normal tidak
berlaku untuk beton dengan agregat kasar batu bauksit.
2.3 Pengaruh Perbandingan Semen Pozolan Dan Semen Portland Terhadap Kekekalan
Bentuk Dan Kuat Tekan Semen
Waktu pengadukan campuran material semen sangat menentukan tingkat homogenitas
bahan seperti yang ditunjukkan pada tabel-II..
Tabel II. Pengaruh Waktu Pengadukan terhadap Homogenitas Campuran Semen ( Hasil
pengamataan)
Tabel III. Pengaruh Perbandingan Tanah Tras, Kapur dan Semen Portland terhadap Kuat
Tekan Semen
*) kuat tekan sample tidak bisa diukur karena sample mudah patah Uji kekekalan bentuk
untuk item 4,5 dan 6 menunjukkan bentuk tetap,
Catatan : Standar uji semen Tras/Pozolan, menurut SNI 15- 0302-94 ( Sumber :
Petunjuk Praktis Penggunaan Portland Pozzolan Cement, PT. Semen Gresik, 2003), kuat
tekan waktu uji 3hari (> 125 kg/cm2), waktu uji 7 hari (> 200 kg/cm2) dan waktu uji 10
13
hari ( tidak tersedia standarisasi kuat tekan) Angka yang dicetak tebal, artinya kuat tekan
semen hasil percobaan telah memenuhi standar kekuatan semen
2.4 Studi Pengaruh Penggunaan Air Payau Dalam Mix Design Beton Untuk Pembuatan
Konstruksi Dermaga Akibat Rendaman Air Laut
A. Pengujian Berat Jenis SSD Agregat Kasar (Kerikil)
Berdasarkan pelaksanaan pemeriksaan agregat kasar/kerikilyang berasal dari
Serpong, Jawa Barat di Laboratorium Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta
diperoleh hasil pemeriksaan dari hasil analisis material agregat kasar tersebut
dapat ditentukan nilai Berat Jenis agregat kasar tersebut adalah 2,45
B. Pengujian Berat Jenis SSD Agregat Halus (Pasir)
Dari hasil pemeriksaan berat isi agregat halus/pasiryang berasal dari Bangka,
hasil analisis material agregat halus tersebut dapat ditentukan nilai Berat Jenis
agregat halus tersebut adalah 2,59.
C. Analisa Saringan Agregat Kasar (Kerikil)
Dari hasil pemeriksaan berat isi agregat kasar didapatkan nilai analisa saringan
agregat kasar yang ditunjukkan didapat angka 2,54cm
14
D. Analisa Saringan Agregat Halus (Pasir)
Dari hasil pemeriksaan berat isi agregat halusdidapatkan nilai analisa saringan
agregat halus yang masuk dalam gradasi zona 2.
E. Campuran Mix Design Beton Normal
Berdasarkan hasil pengujian agregat kasar dan halus diatas disusunlah daftar
isian perencanaan campuran beton, sebagai berikut:
Tabel 4.6 Data Campuran Mix Design Beton Normal
15
Gambar 5.1 Grafik Perbandingan Kuat Tekan Beton Campuran Air PDAM dan
Air Payau
Gambar 5.2 Grafik Perbandingan Kuat Tekan Beton Campuran Air PDAM dan
Air Payau pada umur 28 hari
H. Analisis Grafik
16
4. Pada umur 56 hari, beton campuran air PDAM dengan rendaman air laut
mempunyai kuat tekan 263,70 kg/cm2 meningkat 6,9% dari kuat tekan umur
28 dan lebih tinggi 5,55% dari kuat tekan rencana.
5. Pada umur 56 hari, beton campuran air payau dengan rendaman air laut
mempunyai kuat tekan 216,30 kg/cm2 menurun 14,24% dari kuat tekan umur
28 dan lebih rendah 13,48% dari kuat tekan rencana.
6. Pada gambar 5.3 Grafik perbandingan kuat tekan hasil analisis, pada beton
campuran air PDAM dengan rendaman air laut mempunyai trend menguat
6,9% pada umur 56 hari, sedangkan pada beton campuran air payau dengan
rendaman air laut mempunyai trend penurunan 14,24% pada umur 56 hari.
7. Terhadap penelitian yang hampir sejenis sebelumnya dari Juli Herwanto,
Politeknik Negeri Bengkalis dengan Judul Pengaruh Mutu Beton K-250
Terendam Air Laut Dengan Penambahan Zat Aditif Sikacim Concrete Additif
Kadar 0,6% bahwa kuat tekan rata-rata beton campuran air tawar yang
direndam air laut juga mengalami penurunan 7,53% dari beton direndam air
biasa pada umur 28 hari.
2.5 Pengaruh Abu Terbang Sebagai Filler Untuk Kuat Tekan beton
Komposisi campuran beton untuk 1 m³ dapat dilihat pada Tabel 2.
Hasil pengukuran slump rata –rata pada beton normal adalah 2,4 cm sedangkan
dengan 10% kadar abu terbang slump yang dihasilkan 2.575 cm, 20% abu terbang
slump didapat 2.625 cm dan untuk 30% slump didapat 2.65 cm. Slump ini digunakan
untuk mengetahui kekentalan dari adukan beton yang direncanakan. Hasil uji kuat
tekan beton normal dapat dilihat pada Tabel 4.
17
Tabel 4 Hasil Uji Kuat Tekan Beton Normal
Dari table 4 didapatkan rata-rata hasil kuat tekan beton normal pada umur 28 hari
adalah 43.82 MPa. Gambar 2 menunjukkan kenaikan kuat tekan beton normal pada
umur 28 hari
Hasil uji kuat tekan beton dengan abu terbang dapat dilihat pada tabel 5
Tabel 5 Kuat Tekan Beton Abu Terbang 10%
18
Dari table 5 didapatkan hasil kuat tekan beton ratarata pada campuran abu terbang
10% pada umur 28 hari adalah 44.44 MPa, sedangkan gambar 2 menunjukkan grafik
kuat tekan maksimum pada umur 28 hari untuk kadar abu terbang 10%.
Dari table 6 didapatkan hasil kuat tekan beton ratarata pada campuran abu terbang
20% pada umur 28 hari adalah 36.08 MPa
19
Pada umur 28 hari kuat tekan beton setelah ditambah dengan abu terbang 20% adalah
36.08 MPa lebih rendah dibandingkan dengan kuat tekan beton normal yaitu 43.82
MPa
Dari table 7 didapatkan hasil kuat tekan beton ratarata pada campuran abu terbang
30% pada umur 28 hari adalah 29.15 MPa
Dari gambar 5 dapat dilihat bahwa kuat tekan beton maksimum pada umur 28
hari sebesar 44.44 MPa dengan campuran abu terbang 10% sebagai filler pengganti
semen.
20
2.6 Ketahanan Elemen Struktur Baja Terhadap Kebakaran
Semakin pesatnya jumlah pembangu-nan dan sempitnya lahan untuk
mendirikan bangunan, para pemilik gedung cenderung untuk untuk memperluas
bangunannya secara vertikal dengan menambah jumlah lantai.
Pertimbangan ketahanan struktur terhadap bahaya gempa sering dilakukan,
namun ketahanan struktur juga harus diperhitungkan terhadap kemungkinan
terjadinya kebakaran. Hal ini akan meyebabkan menurunnya kekuatan dari struktur
karena pengaruh bahaya panas dan api. Tingkat ketahanan struktur terhadap bahaya
panas dan api dapat dipastikan apabila metode perancangan dan pelaksaaan konstruksi
telah diterapkan dengan baik dan benar serta adanya kwalitas yang baik dari bahan
yang dipakai.
21
Gbr 1. Kurva regangan tegangan
22
Foto 2. Kolom baja terlindung
Pada saat terjadi kebakaran pada gedung dalam ruangan kosong, sangat jarang
api dapat terus menyala selama lebih dari 2 jam dan ada kemungkinan hanya
sedikit kasus keganasan api yang menjadi begitu luar biasa hingga melebihi suhu
api standar. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kolom yang mempunyai
ketentuan seperti contoh pengujian memiliki keta-hanan api yang cukup untuk
menahan api pada umunya.
Hal itu telah dibuktikan dengan berbagai pengujian yang terus dilakukan
termasuk pengujian yang menyediakan elemen-elemen struktur baja dengan perlin-
dungan api yang tepat yang memberikan keamanan untuk melawan terhadap
bahaya api. Banyak aspek seperti waktu dan biaya untuk menguji katahanan api
melalui percobaan, bahkan ketika targetnya adalah elemen struktur tunggal.
Bagaimanapun produk baja menawarkan sifat material yang stabil dan
memungkinkan kemudahan untuk memperkirakan kapan tegangan leleh akan
mengalami penurun pada saat suhu tinggi.
Oleh karena itu apabila memungkinkan untuk mengevalusi secara tepat suhu
baja selama ada bahaya api melalui analisa kuantitatif dan cara pedekatan yang
lain, sehingga ketahanan api dari material baja dapat dihitung.
Metode Finite Difference satu demensi adalah salah satu format sederhana dari
analisa numerik yang digunakan. Gambar-3 menunjukkan hasil penggunaan
metode analisa numerik yaitu merupakan hasil analisa nilai standar dari panas dan
sifat lain dari material baja dan material perlindungan api. Suhu baja yang ditun-
jukkan pada gambar 5 dapat menyesuaiakan dengan baik satu sama lain, sehingga
memungkinkan untuk menyatakan bahwa peningkatan suhu elemen struktur baja
dapat diperkirakan dengan teliti, bahkan saat menggunakan metode finite
defference satu demensi yang sederhana.
23
Gbr 3. Curve suhu-api baja dengan dengan analisa numeric
E. Metode Verifikasi
Metode Verifikasi ketahanan api diperkenalkan mengikuti Standar Bangunan
Jepang tahun 2000. Meode ini selanjutnya disebut dengan Metode Verifikasi.
Standar Bangunan menetapkan bahwa bagian struktur utama dari bangunan tahan
api harus memenuhi syarat-syarat sebagi berikut :
1. Struktur bangunan merupakan struktur tahan api.
2. Mempunyai kemampuan :
a. Tahan terhadap aksi yang dihasilkan oleh api yang diprediksi akan
terjadi dalam ruang tertutup sampai api dapat dipadamkan, dan
b. Tahan terhadap api yang dihasilkan oleh api normal yang mungkin
terjadi disekitar bangunan sampai api dapat dipadamkan (hanya
dinding bagian luar).
Metode Verifikasi sehubungan dengan permasalahan (2.a) diatas intensitas
dan durasi terjadinya api pada ruang tertutup dapat diperkirakan, sedangkan
sehubungan dengan permasalahan (2.b) diatas kebakaran ekternal ditetapkan dan
selanjutnya dilakukan verifikasi bahwa kolom, balok, dinding dan bagian-bagian
lain dapat bertahan terhadap intensitas dan durasi terjadinya api.
Setiap kinerja yang diperlukan untuk tiap bagian struktur ditunjukkan pada
tabel 1. Sarana untuk memverifikasi setiap kinerja tersebut ditetapkan dalam
Metode Verifikasi. Setiap Metode Verifikasi disu-sun sedemikian rupa sehingga
dapat membuktikan (memverifikasi) bahwa “waktu ketahanan api waktu
durasi” pada tahap akhir-verifikasi
24
Tabel 1 Ketahanan api yang disyaratkan
Pada tabel 1, kemampuan menahan beban pada api tertutup diperlukan untuk
kolom, balok dan struktur sangatlah penting dari bangunan berstruktur baja.
Standar bangunan menetapkan bahwa bangunan apartemen, rumah, hotel dll yang
digunakan oleh sebagian besar orang dan bangunan diperkotaan harus berstruktur
tahan api.
2.7 Studi pembuatan keramik berpori berbasis clay dan kaolin alam dengan aditif
abu sekam padi
A. Persyaratan Agregat Halus
Hubungan antara suhu sintering terhadap susut bakar ditunjukkan pada tabel 2
dan gambar 1.
25
Tabel 2. Hasil Perhitungan Susut Bakar
Suhu Susut bakar (%)
sintering Abu sekam Abu sekam Abu sekam Abu sekam
(oc) 0% 5% 10% 15%
21,62 ± 19,92 ± 19,11 ± 18,91 ±
900
0,003 0,006 0,006 0,003
22,98 ± 21,70 ± 21,60 ± 20,20 ±
1000
0,003 0,003 0,003 0,003
23,31 ± 22,56 ± 21,95 ± 20,88 ±
1100
0,004 0,003 0,002 0,003
Data hasil penelitian (tabel 2) menunjukkan bahwa dengan variasi abu
sekam padi 0%, 5% , 10%, dan 15% untuk suhu sintering 9000C diperoleh nilai
susut bakar masing-masing variasi 21,62%; 19,92%; 19,11% dan 18,91% . Pada
suhu sintering 10000C diperoleh nilai susut bakar masing-masing variasi 22,98%;
21,70%; 21,60% dan 20,20% . Pada suhu sintering 11000C diperoleh nilai susut
bakar masingmasing 23,31%; 22,70%; 21,95% dan 20,88%. Untuk sampel
dengan persentase komposisi abu sekam padi yang sama, semakin tinggi suhu
sintering maka nilai susut bakar akan semakin besar. Sedangkan untuk suhu
sintering yang sama, semakin banyak penambahan komposisi abu sekam padi
maka nilai susut bakar akan semakin kecil. Hal ini juga ditunjukkan gambar 1.
26
Gambar 3. Hubungan Komposisi Aditif Abu Sekam Padi vs Porositas
Data hasil penelitian (tabel 3) menunjukkan bahwa pada suhu sintering 9000C
dengan variasi abu sekam padi 0%, 5%, 10% dan 15% diperoleh porositas
masing-masing variasi 45,83%; 48,98%; 50,27% dan 56,94%. Pada suhu
sintering 10000C diperoleh porositas masing-masing variasi 44,30%; 43,78%;
39,53% dan 37,83%. Pada suhu sintering 11000C diperoleh nilai porositas
masing-masing variasi 37,04%; 36,49%; 32,20% dan 27,80%. Sampel dengan
persentase komposisi abu sekam padi yang sama, semakin tinggi suhu sintering
maka porositas semakin kecil. Sedangkan untuk suhu sintering yang sama,
semakin banyak penambahan komposisi abu sekam padi maka nilai porositas
semakin besar
27
Data hasil penelitian (tabel 4) menunjukkan bahwa pada suhu sintering 9000C
dengan variasi abu sekam padi 0%, 5%, 10% dan 15% diperoleh rapat massa
masing-masing variasi 1,48%; 1,45%; 1,41% dan 1,33%. Pada suhu sintering
10000C diperoleh rapat massa masing-masing variasi 1,51%; 1,47%; 1,41% dan
1,41%. Pada suhu sintering 11000C diperoleh rapat massa masing-masing variasi
1,71%; 1,81%; 1,57% dan 1,19%. Sampel dengan komposisi abu sekam padi
yang sama, semakin tinggi suhu sintering maka nilai rapat massa semakin besar.
Sedangkan untuk suhu sintering yang sama, semakin banyak penambahan
komposisi abu sekam padi maka nilai rapat massa semakin kecil
Data hasil penelitian (tabel 5) menunjukkan bahwa pada suhu sintering 9000C
dengan variasi abu sekam padi 0%, 5%, 10% dan 15% diperoleh nilai kekerasan
masing-masing variasi 8,7844 kgf/mm2 ; 9,1170 kgf/mm2 ; 9,5390 kgf/mm2 dan
9,5587 kgf/mm2 . Pada suhu sintering 10000C diperoleh nilai kekerasan masing-
masing variasi 10,5663 kgf/mm2 ; 10,8762 kgf/mm2 ; 10,8762 kgf/mm2 dan
11,1175 kgf/mm2 . Pada suhu sintering 11000C diperoleh nilai kekerasan masing-
masing variasi 11,5073 kgf/mm2 ; 11,6482 kgf/mm2 ; 11,9793 kgf/mm2 dan
12,8776 kgf/mm2 .
28
sintering. Dengan meningkatnya suhu sintering rapat massa yang didapat semakin
tinggi
Gambar 6. Pola XRD 5% aditif abu sekam padi pada suhu sintering
11000C
Pos Pos Fasa yang
No h k L
[°2Th] [°2Th] Terbentuk
(Kal4SiAl5O10OH44
H2O) Pottassium
1 8.4153 10.50737 0 0 1
Aluminium Silicate
Hydroxide Hydrate
(Kal4SiAl5O10OH44
H2O) Pottassium
2 19.3887 4.57822 1 1 0
Aluminium Silicate
Hydroxide Hydrate
Al2Si2O5(OH)4
3 21.5779 4.11843 Aluminium Silicate 1 1 1
Hydroxide
Al2Si2O5(OH)4
4 26.3067 3.38787 Aluminium Silicate 1 1 1
Hydroxide
5 36.8382 2.43994 SiO2 Silicon Oxide 1 1 0
Al2Si2O5(OH)4
6 45.4652 1.99502 Aluminium Silicate 2 0 3
Hydroxide
29
Al2Si2O5(OH)4
7 60.0429 1.54088 Aluminium Silicate 3 1 3
Hydroxide
8 66.5811 1.40339 SiO2 Silicon Oxide 3 0 0
Dari analisa difraksi sinar-X keramik berpori dengan komposisi abu sekam
padi 5 % pada suhu sintering 11000C untuk sudut 2θ mulai dari 00 sampai 700
terbentuk 8 fasa pada sampel, dimana fasa yang dominan adalah Aluminium
Silicate Hydroxide (Al2Si2O5(OH)4) dengan struktur orthorhombik yang
memiliki parameter kisi a = 5,14 A0 , b = 8,93 A0 , c = 7,37 A0 , α = β = γ = 900 .
Setelah dilakukan pengurutan secara manual melalui metode intensitas relatif
tertinggi, dan dapat disesuaikan dengan kartu standar JCPDS (Joint Commite of
Powder Difraction Standard) dapat juga diketahui bahwa tipe sampel adalah tipe
Kaolinite
G. Pengujian Porositas
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa apabila semakin besar suhu sintering yang
diberikan maka nilai porositas yang diperoleh akan semakin kecil oleh karena
adanya densifikasi (pemadatan) pada sampel yang berbanding lurus dengan suhu
sintering, tetapi untuk suhu sintering yang sama semakin besar aditif abu sekam
padi yang diberikan maka nilai porositas yang diperoleh juga akan semakin besar
karena aditif abu sekam padi dapat mengakibatkan pengurangan celah/pori pada
proses pembakaran. Hal ini disebabkan karena penambahan abu sekam padi
berfungsi untuk menyerap suhu sintering dan memecahkan ikatan-ikatan partikel-
partikel serta mengurangi susut bakar pada proses sintering sehingga dapat
meningkatkan celah/pori pada saat pembakaran.
H. Pengujian Densitas
Hubungan densitas (rapat massa) terhadap suhu sintering pada grafik dan tabel
dapat dilihat bahwa densitas meningkat dengan adanya peningkatan suhu
sintering. Hal ini disebabkan terjadinya densifikasi (pemadatan) di antara partikel-
partikelnya sehingga ikatan yang terbentuk semakin kuat dan porositasnya
semakin kecil akibat pemadatan atau pemampatan serta volume benda uji akan
semakin berkurang (terjadi penyusutan), dan juga senyawa impuritis (pengotor)
30
yang terkandung dalam clay, kaolin dan abu sekam padi mulai lepas sehingga
celah/pori akan semakin berkurang. Bertambahnya suhu sintering akan
meningkatkan densitas. Semakin besar kandungan aditif abu sekam padi, maka
densitasnya akan semakin kecil, tetapi apabila suhu sintering yang diberikan
makin tinggi maka densitas yang diperoleh juga makin besar.
I. Pengujian Kekerasan
Dari hasil pengukuran kekerasan dengan alat Vickers Hardness menunjukkan
kecenderungan perubahan yang semakin meningkat terhadap peningkatan suhu
sintering. Dengan meningkatnya suhu sintering rapat massa akan semakin tinggi,
hal ini disebabkan karena terjadinya pemadatan diantara partikel-partikel sehingga
ikatan yang terbentuk semakin kuat dan kekerasannya akan semakin meningkat.
Nilai kekerasan maksimum diperoleh pada suhu 11000C sebesar 12,87 kgf/mm2
pada aditif 15%. Sedangkan nilai minimum diperoleh pada suhu 9000C sebesar
8,78 kgf/mm2 dengan aditif 0%
J. Pengujian XRD
Hasil analisa struktur mikro menggunakan alat X-Ray diffraction (XRD)
untuk sampel dengan komposisi aditif sekam padi 5% pada suhu sintering 11000C
fasa-fasa yang terbentuk antara lain, (Kal4SiAl5O10OH44H2O) Pottassium
Aluminium Silicate Hydroxide Hydrate, Al2Si2O5(OH)4 Aluminium Silicate
Hydroxide, dan SiO2 Silicon Oxide
31
5. Dapat digunakan dengan berbagai variasi kebutuhan, sehingga meski
bahannya satu jenis namun dapat menghasilkan varian bentuk yang sangat
beragam.
C. Pengawetan Bambu
Terdapat banyak cara dalam mengawetkan bambu baik secara tradisional
maupun modern, dan dengan cara alami maupun secara kimia, namun di sini
hanya akan kita bahas cara pengawetan secara alami karena lebih ramah
lingkungan dan sudah terbukti bisa bertahan sampai dengan diatas 50 tahun,
bahkan di atas 100 tahun, bahkan dari pengalaman penulis pernah menjumpai
struktur bambu yang masih bertahan dengan baik sampai dengan usia diatas 250
tahun. Cara pengawetan bambu secara alami yang telah teruji dan terbukti dari
para leluhur kita adalah dengan cara perendaman pada air mengalir selama 8 bulan
sampai dengan 12 bulan. Namun jika kesulitan mendapatkan air mengalir dapat
juga dilakukan pada air yang berhenti. Ada beberapa kelemahan antara lain:
terjadi perubahan warna bambu menjadi sangat gelap, waktu perendaman cukup
lama tidak bisa disingkat, jika diangkat sebelum minimal 8 bulan hasilnya kurang
maksimal, terjadi bau yang tidak enak meskipun sudah dikeringkan setelah
perendaman masih butuh waktu lama untuk benar-benar menghilangkan baunya.
32
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahan yang saya pilih untuk bangunan tersebut antara lain yaitu pasir
pasang, batu bauksit pulau bintan, Semen Pozolan Dan Semen Portland, air
payau dan air laut, abu terbang, baja, keramik berpori berbasis clay dan kaolin
alam dengan aditif abu sekam padi, dan juga bambu.
Saya memilih bangunan yang terdapat pada makalah yang saya buat
karena cocok untuk daerah dataran tinggi. Selain itu terdapat pengujian bahan
yang ramah lingkungan selain itu juga dilihat juga dari segi tahan api juga
kesehatan.
3.2 Saran
Ada baiknya anda mengenal jenis bahan bangunan beserta kelebihan
dan kekurangannya secara keseluruhan sebelum memutuskan untuk memilih
atau menggunakannya dalam proses konstruksi.
33
DAFTR PUSTAKA
Siti Aisyah Sari, Titik Penta Artiningsih, Heny Purwanti.” PERBANDINGAN PENGARUH
BEBERAPA JENIS PASIR TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT LENTUR DAN
KUAT TARIK BELAH BETON, Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik –
Universitas Pakuan”
Lina Flaviana Tilik, Raja Marpaung, Darma Prabudi.2014.” PENGARUH ABU TERBANG
SEBAGAI FILLER UNTUK KUAT TEKAN BETON, Jurnal Pilar Jurusan Teknik
Sipil, Vol. 10, Nomor 1, Maret 2014”
34