MAKALAH
EVIDANCE BASED PRACTICE TERAPI RIMA
OLEH : KELOMPOK 7
1. Nurita Mustika Sari (2401160893)
2. Oktavia Amelia Sari (2401160896)
3. Moh. Ragil Zuli Walady (2401160888)
4. Nurul Karima (2401160895)
5. Muhammad Sahri (2401160891)
6. Nurul Cintya Laila Ramadhani (2401160894)
7. Muhammad Sartono (2401160892)
8. Purwinda Respati Putri (2401160897)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES MALANG
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2024
1
KATA PENGANTAR
Asalamualikum wr,wb
Puji syukur diucapkan Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Edvidence
based practice terapi RIMA. Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas ibu pada mata kuliah Kesehatan Komplementer. Selain itu, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah wawasan tentang Edvidence based practice terapi RIMA dapat
bermanfaat bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu
1. Ns. Putu Sintya Arlinda Arsya, M. Kep
2. Ns. Eny Rahmawati, M. Kep 3.
Rekan-rekan mahasiswa/i Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendedes Malang Jurusan
Keperawatan Prodi S1 Keperawatan Kelas Procyon. yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah
ini.
Pasuruan , 01 Maret 2025
Penyusun
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................2
DAFTAR ISI ....................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................6
1.3 Tujuan...........................................................................................................6
1.4 Manfaat.........................................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Terapi RIMA …..........................................................................7
2.2 Pengertian Relaksasi …………………….....................................................8
2.3 Pengertian Movement ...................................................................................9
2.4 Pengertian Affirmasi ..................................................................................10
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Kasus ...........................................................................................................12
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan .................................................................................................13
4.2 Saran ...................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................15
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Relaksasi adalah suatu prosedur dan teknik yang bertujuan untuk mengurangi
ketegangan dan kecemasan, dengan cara melatih pasien agar mampu merelaksasi
otot-otot tubuh setiap saat, sesuai dengan keinginannya. Menurut pandangan ilmiah,
relaksasi merupakan suatu teknik untuk mengurangi stres dan ketegangan dengan
cara meregangkan seluruh tubuh agar mencapai kondisi mental yang sehat
(Varvogli, L., & Darviri 2011).
Relaksasi adalah suatu terapi yang dilakukan untuk penanganan aktivitas mental
dan menjauhkan tubuh dan pikiran dari rangsangan luar untuk mempersiapkan
tercapainya hubungan yang lebih mendalam dengan sang pencipta, sehingga
menjadikan tubuh menjadi rileks dan tenang.
Sejalan dengan kemajuan dalam bidang sosial ekonomi dan perubahan gaya
hidup, khususnya di Indonesia jumlah penyakit degeneratif semakin meningkat,
diantaranya adalah penyakit Diabetes Mellitus. Diabetes Melitus merupakan
penyakit kronik yang sampai sekarang belum dapat disembuhkan. Klien dengan
diabetes mellitus lebih dari 1 tahun hampir 95 % mengalami ketidakberdayaan
(Silitonga, 2022). Ketidakberdayaan muncul saat pasien merasakan komplikasi atau
pengobatan lebih dari tiga kali dalam 1 tahun (Silitonga, 2022). Banyaknya
perubahan dalam kebiasaan hidup pasien diabetes melitus tipe 2 seperti kontrol gula
darah, aktivitas fisik, konsumsi obat, dan diet yang harus dilakukan secara rutin.
Pengobatan yang terus menerus dan tidak adanya perubahan signifikan yang
dirasakan penderita menimbulkan rasa bosan dan tidak adanya harapan untuk
kesembuhan. Hal tersebut membuat pasien diabetes melitus menunjukkan reaksi
psikologis yang negatif antara lain: stres, cemas marah, dan merasa tidak berdaya.
4
Kadar gula darah yang tidak stabil pada penyakit DM tipe II menyebabkan
penyakit ini menjadi penyakit kronis untuk individu tertentu sehingga respon dari
penyakit kronis sering menimbulkan masalah psikososial. Dengan adanya
kemungkinan dampak yang semakin parah (kronis) dapat menimbulkan ketakutan
bagi individu yang menderitanya (diabetisi), kecemasan berkelanjutan dan akhirnya
menimbulkan depresi berupa kemurungan, keputusasaan, ketidakberdayaan. Tanda
dan gejala ketidakberdayaan terdiri dari berpikir tidak dapat mengontrol diri, tidak
semangat, tidak mampu bersosialisasi dengan orang lain (Nolen-Hoeksema S,
2013). Dampak ketidakberdayaan adalah keputusasaan yang menyebabkan klien
tidak mau melakukan pengobatan, tidak mau mengikuti diet, serta tidak bersemangat
sehingga membuat tubuh semakin lemah. Masalah fisik yang berkepanjangan dapat
menyebabkan masalah mental berupa respon terhadap tindakan pengobatan maupun
respon terhadap gejala penyakit, begitu juga selanjutnya bahwa masalah mental
akan mempengaruhi proses penyembuhan ataupun kondisi fisik klien (Nainggolan,
2022).
Intervensi keperawatan unruk mengurangi nilai kecemasan sudah banyak
dilakukan penelitian, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Nelson,
Adamek, and Kleiber (2017), tentang Relaxation Training and Postoperative Music
Therapy for Adolescents Undergoing Spinal Fusion Surgery pada 44 orang pasien
postoperasi sebagai kelompok intervensi yang mendapat perlakuan menonton video
relaksasi 20 menit mengalami penurunan nilai kecemasan.
Menurut Roy manusia sebagai sistem dimana memiliki bagian-bagian yang
saling berhubungan, sistem juga memiliki in put, out put, control serta proses
feedback. Manusia sebagai sistem Adaptif yang dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya dan dapat menerima stimulus dari lingkungannya baik stimulus
internal maupun eksternal. Adaptasi ini digunakan untuk meningkatkan integritas
atau kesehatan (Kennetth d. Phillips 2014). Adanya stimulus fokal dimana pada
5
pasien diabetes melitus mengalami stress fisik dan stres psikologik, kemudian
diperlukan stimulus residual yang terdiri dari pengetahuan, sikap, perilaku,
dukungan keluarga dan koping pasien untuk meningkatkan respon adaktif.
Menurut data dan fakta yang telah didapatkan mengenai diabetes melitus tipe 2
dengan ketidakberdayaan, peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
memerlukan suatu perangkat instruksi atau langkah-langkah kegiatan yang
berpedoman pada Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) (PPNI T. P.,
2018). Salah satu tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemberian
afirmasi positif. Intervensi yang kedua yaitu relaksasi autogenic. Kombinasi kedua
intervensi memacu saraf simpatik dan parasimpatik yang memproduksi hormon
beta-endorfin sebagai respon dari relaksasi yang menciptakan rasa tentram dan
menurunkan kecemasan ataupun stres pada pasien (Saputri, 2019).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Terapi RIMA ?
2. Apakah pengertian Relaksasi ?
3. Apakah pengertian Movement ?
4. Apakah pengertian Affirmation ?
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui tentang pengertian Terapi RIMA
2. Mahasiswa mampu mengetahui tentang pengertian Relaksasi
3. Mahasiswa mampu mengetahui tentang pengertian Movement
4. Mahasiswa mampu mengetahui tentang pengertian Affirmation
1.4 Manfaat
Agar mahasiswa mampu mengerti dan memahami tentang Terapi RIMA
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Terapi RIMA
Perpaduan teknik relaksasi, pergerakan (movement) dan affirmation
adalah latihan untuk merilekkan anggota tubuh, memelihara dan
mengembangkan fleksibilitas, kelenturan otot dan memberikan energi positif
tubuh yang dilakukan secara bersamaan.
Relaksasi mengandung makna suatu prosedur dan teknik yang
bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan dengan cara melatih
agar dapat dengan sengaja membuat otot-otot menjadi rileks setiap dibutuhkan
atau diinginkan, sedangkan autogenik dapat bermakna dihasilkan sendiri atau
dari dalam diri. Movement yang pada penelitian ini menggunakan teknik ROM
(Range of motion) bermakna tindakan murni keperawatan yang bertujuan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan untuk
menggerakkan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan
massa otot dan tonus otot (potter & Perry 2005) sedangkan affirmation
kombinasi teknik verbal dan visual keadaan disukai pikiran seseorang.
Afirmasi yang kuat dapat menjadi sangat kuat dan dapat digunakan oleh
seseorang untuk mencapai tujuan dan memenuhi keinginan (Chapman 2010).
Terapi RIMA (relaxation autogenic, movement and affirmation) merupakan
perpaduan dari relaksasi autogenik, ROM dan juga afirmasi yang diharapkan
terapi ini dapat menurunkan nilai kecemasan
1. Manfaaat :
a) Terapi RIMA dapat membantu menurunkan kecemasan dan kadar
kortisol dalam darah.
7
b) Terapi RIMA dapat membantu meningkatkan efikasi diri.
c) Terapi RIMA dapat membantu mencegah putus obat pada penderita
TB paru.
d) Terapi RIMA dapat membantu menurunkan nilai kecemasan dan
kadar kortisol darah pada pasien ESRD yang menjalani
hemodialisis.
e) Meningkatkan kesejahteraan psikologis pada penderita diabetes.
2.2 Pengertian Relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur dan teknik yang bertujuan untuk
mengurangi ketegangan dan kecemasan, dengan cara melatih pasien agar
mampu merelaksasi otot-otot tubuh setiap saat, sesuai dengan keinginannya.
Menurut pandangan ilmiah, relaksasi merupakan suatu teknik untuk
mengurangi stres dan ketegangan dengan cara meregangkan seluruh tubuh
agar mencapai kondisi mental yang sehat (Varvogli, L., & Darviri 2011).
Relaksasi adalah suatu terapi yang dilakukan untuk penanganan
aktivitas mental dan menjauhkan tubuh dan pikiran dari rangsangan luar
untuk mempersiapkan tercapainya hubungan yang lebih mendalam dengan
sang pencipta, sehingga menjadikan tubuh menjadi rileks dan tenang.
Relaksasi terbagi menjadi dua kelompok, yaitu relakasi yang
menekankan pada fisik, seperti yoga, relaksasi otot progresif, latihan
pernafasan, relaksasi autogenik. Sementara jenis relaksasi yang menekankan
pada mental/psikis adalah autogenic suggestion, imagery, relaxating self talk
dan meditasi (Varvogli, L., & Darviri 2011).
Tujuan relaksasi adalah membuat tubuh menjadi rileks dan
melancarkan sirkulasi darah, sehingga tubuh mendapatkan manfaat :
8
1. Meredakan stres dan depresi, Mengurangi kecemasan atau fobia
2. Memulihkan diri
3. Mencegah berbagai masalah kesehatan yang dipicu oleh stres
4. Meningkatkan mood
5. Memperlambat detak jantung
6. Mengurangi tekanan darah
2.1.3 Pengertian Movement
Perawat menggunakan setiap sendi yang sakit melalui rentang gerak penuh.
Latihan range of motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan
menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan
massa otot dan tonus otot (Potter & Perry 2005).
ROM Aktif, yaitu gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien)
dengan menggunakan energinya sendiri. Perawat memberikan motivasi, dan
membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri
sesuai dengan rentang gerak sendi normal (klien aktif). Kekuatan otot 75 %.
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif .
1. Tujuan ROM Aktif
a) Meningkatkan atau mempertahankan fleksibiltas dan kekuatan otot
b) Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan
c) Mencegah kekakuan pada sendi
2. Manfaat
a) Menentukan nilai kemampuan sendi tulang dan otot dalam
melakukan pergerakan
b) Mengkaji tulang, sendi,dan otot
c) Mencegah terjadinya kekakuan sendi
d) Memperlancar sirkulasi darah
e) Memperbaiki tonus otot
9
f) Meningkatkan mobilisasi sendi
g) Memperbaiki toleransi otot untuk latihan
3. Gerakan pada ROM aktif
Menggerakkan anggota tubuh dari kepala hingga ujung kaki.
a) Fleksi, yaitu berkurangnya sudut persendian.
b) Ekstensi, yaitu bertambahnya sudut persendian.
c) Hiperekstensi, yaitu ekstensi lebih lanjut.
d) Abduksi, yaitu gerakan menjauhi dari garis tengah tubuh.
e) Adduksi, yaitu gerakan mendekati garis tengah tubuh.
f) Rotasi, yaitu gerakan memutari pusat dari tulang.
g) Eversi, yaitu perputaran bagian telapak kaki ke bagian luar, bergerak
membentuk sudut persendian.
h) Inversi, yaitu putaran bagian telapak kaki ke bagian dalam bergerak
membentuk sudut persendian.
i) Pronasi, yaitu pergerakan telapak tangan dimana permukaan tangan
bergerak ke bawah.
j) Supinasi, yaitu pergerakan telapak tangan dimana permukaan tangan
bergerak ke atas.
k) Oposisi, yaitu gerakan menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan
pada tangan yang sama.
2.1.4 Pengertian Affirmasi
Pernyataan positif atau kalimat yang ditujukan untuk diri sendiri yang
bisa mempengaruhi pikiran bawah sadar untuk membantu Anda
mengembangkan persepsi yang lebih positif terhadap diri Anda sendiri
(Beiber, S.D. dan Himmelfarb 2013).
Taylor (1995) mengatakan bahwa kecemasan adalah suatu pengalaman
subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi
umum dan ketidakmampuan menghadapi masalah atau adanya rasa aman.
Kecemasan (Anxietas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak
didukung oleh situasi. Tidak ada objek yang dapat diidentifikasi sebagai
stimulus kecemasan (Videbeck, 2008 dalam Novita, 2012). Kecemasan
10
merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai
dengan gejala somatik yang menandakan suatu kegiatan yang berlebihan.
Kecemasan merupakan gejala yang umum tetapi non spesifik yang sering
merupakan suatu fungsi emosi (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1998). Kecemasan
sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan
emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kondisi dialami secara subjektif
dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Ansietas berbeda
dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu
yang berbahaya. Ansietas adalah respon emosional terhadap penilaian
tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup,
tetapi tingkat ansietas yang parah tidak sejalan dengan kehidupan (Stuart &
Sundeen, 1995).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Astuti dan Johan tahun
2017, menemukan bahwa progesif muscular relaksasi (PMR) dapat
menurunkan tingkat kecemasan, selain itu penelitian yang dilakukan oleh
Arlinda (2018) mengatakan afirmasi positif sebagai gabungan antara
penggunaan nafas dan pengulangan kalimat positif sederhana untuk
dapat memperkuat rasa percaya diri dalam mengatasi situasi dan
menghasilkan sesuatu yang positif dengan cara mengulangan kalimat
penegasan sehingga tercipta kecenderungan seseorang untuk mengucapkan
hal-hal positif yang dapat meningkatkan integritas diri sehingga tercipta
self eficacy yang baik.
11
BAB III
PEMBAHASAN STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.Z DENGAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
KETIDAKBERDAYAAN DI PUSKESMAS MALANG SELATAN
A. Identitas
1. Identitas pasien
Nama : Tn. Z
Umur : 54 tahuan
Jenis kelamin : Laki - Laki
Alamat: Malang
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Tanggal pengkajian : 03 Maret-06 Maret 2025
Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. M
Umur : 35 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki Hubungan dengan klien : Anak
B. PENGKAJIAN
1. Keluhan Utama
Pasien merasa tidak puas dengan pengobatan medis yang dilakukan dan mengeluh tidak
kunjung sembuh, Pasien pasrah, dan gelisah.
2. Riwayat Penyakit
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 80 x/menit, respirasi 20 x/menit, suhu 36,20C, tinggi
badan 165 cm, berat badan 58 kg, gula darah puasa 173 mg/dL, kolestrol 202 mg/dL.
Pada saat dilakukan pemeriksaan ABI didapatkan ABI sebelah kiri dengan nilai 1,14
(normal) dan ABI kanan 0,94 (normal).
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menderita DM sejak 6 tahun yang lalu, dan didapattkan ulkus diabetikum sejak 2 bulan
lalu. Pasien didapatkan memiliki komplikasi hipertensi
C. Diagnosa Keperawatan
Masalah keperawatan yang muncul berdasarkan hasil analisa data yaitu (PPNI T. P., 2018):
1. Ketidakberdayaan berhubungan dengan program perawatan/pengobatan yang kompleks
atau jangka panjang.
2. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan ketidaktepatan
pemantauan kadar gula darah.
12
3. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional.
D. Intervensi Keperawatan
Peneliti menggunakan Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Promosi Koping
(I.09312), Managemen Hiperglikemia (I.03115), Terapi Relaksasi (I.09326). Intervensi ini
menggunakan pendekatan komunikasi Bina Hubungan Saling Percaya (BHSP), mengajarkan
afirmasi positif, edukasi pengelolaan diabetes, pengukuran ABI, Senam kaki, Mengajarkan
relaksasi autogenic (PPNI T. P., 2018); (PPNI T. P., 2018).
Tabel 1. Implementasi Keperawatan Responden (Tn.Z) tanggal 03 Maret-06 Maret 2025
dengan Diagnosis Keperawatan Ketidakberdayaan di Puskesmas Malang Selatan
H Hari/ tanggal Jam Implementasi
ar
i
ke
1. Senin, 3 Maret 2025 10.00 KETIDAKBERDAYAAN
WIB 1. Membina hubungan saling percaya
2. Mengidentifikasi dampak situasi terhadap
peran danhubungan
3. Mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan
terhadap dukungan sosial
4. Mengidentifikasi ketidakberdayaan
5. Melakukan pemeriksaan fisik
6. Melakukan SP 1 ketidakberdayaan pada
pasien (pengenalan tanda gejala, faktor
pencetus, akibat ketiadakberdayaan)
7. Diskusikan untuk mengklarifikasi
kesalahpahaman dan mengevaluasi
perilaku sendiri
10.15 RISIKO KETIDAKSTABILAN KADAR GULA
WIB DARAH
1. Mengidentifikasi kemungkinan penyebab
hiperglikemia.
2. Memonitor kadar glukosa darah
3. Menganjurkan menghindari olahraga saat
kadar glukosa darah lebih dari 250 mg/Dl.
4. Menganjurkan monitor kadar glukosa darah
secara mandiri.
5. Menganjurkan kepatuhan terhadap diet dan
olahraga.
6. Mengajarkan pengelolaan diabetes
(penyuluhan diabetes tipe 2)
10.25 ANSIETAS
WIB 1. Mengidentifikasi teknik relaksasi yang
pernah efektif digunakan
2. Mengidentifikasi kesediaan, kemampuan,
dan penggunaan teknik sebelumnya
3. Memeriksa ketegangan otot, frekuensi nadi,
tekanan darah, dan suhu sebelum dan
sesudah latihan
4. Memonitor respons terhadap terapi relaksasi
13
2. Selasa, 4 Maret 202510.00 KETIDAKBERDAYAAN
WIB 1. Membina hubungan saling percaya
2. Mengidentifikasi dampak situasi terhadap
peran dan hubungan
3. Mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan
terhadap dukungan sosial
4. Mengidentifikasi ketidakberdayaan
5. Melakukan pemeriksaan fisik
6. Mengevaluasi SP-1
7. Melakukan SP 2 pasien dan SP-1 Keluarga
8. Diskusikan untuk mengklarifikasi
kesalahpahaman dan mengevaluasi perilaku
sendiri
10.20 RISIKO KETIDAKSTABILAN KADAR GULA
WIB DARAH
1. Memonitor kadar glukosa darah
2. Menganjurkan menghindari olahraga saat
kadar glukosa darah lebih dari 250 mg/Dl.
3. Menganjurkan monitor kadar glukosa darah
secara mandiri.
4. Menganjurkan kepatuhan terhadap diet dan
10.35 olahraga.
WIB 5. Melakukan pemeriksaan ABI ANSIETAS
1. Mengidentifikasi teknik relaksasi yang
pernah efektif digunakan
2. Mengidentifikasi kesediaan, kemampuan, dan
penggunaan teknik sebelumnya
3. Memeriksa ketegangan otot, frekuensi nadi,
tekanan darah, dan suhu sebelum dan sesudah
latihan
4. Memonitor respons terhadap terapi relaksasi
3. Rabu, 5 09.00 KETIDAKBERDAYAAN
Maret 2025 WIB 1. Mengidentifikasi ketidakberdayaan
2. Melakukan pemeriksaan fisik
3. Mengevaluasi SP-2
4. Melakukan SP-3 pasien dan SP-2 keluarga
(edukasi penyakit Diabetes Mellitus hingga
09.15 menimbulkan ketidakberdayaan)
WIB RISIKO KETIDAKSTABILAN KADAR GULA
DARAH
1. Memonitor kadar glukosa darah
2. Menganjurkan menghindari olahraga saat
kadar glukosa darah lebih dari 250 mg/Dl.
3. Menganjurkan monitor kadar glukosa darah
secara mandiri.
4. Menganjurkan kepatuhan terhadap diet dan
olahraga.
5. Mengajarkan senam kaki diabetes mellitus
6. Edukasi minum obat diabetes mellitus
4. Kamis, 6 09.00 KETIDAKBERDAYAAN
April 2023 WIB 1. Mengidentifikasi ketidakberdayaan
2. Melakukan pemeriksaan fisik
14
3. Mengevaluasi SP-3 pasien dan SP-2 keluarga
4. Melakukan SP-4 pasien (menjelaskan
manfaat mengungkapkan perasaan dengan
bercakap-cakap)
5. Melakukan senam kaki diabetes mellitus
6. Mendiskusikan perasaan pasien selama 4 hari
perawatan
09.15 WIBRISIKO KETIDAKSTABILAN KADAR GULA
DARAH
1. Memonitor kadar glukosa darah
2. Menganjurkan menghindari olahraga saat
kadar glukosa darah lebih dari 250 mg/Dl.
3. Menganjurkan monitor kadar glukosa darah
secara mandiri.
4. Menganjurkan kepatuhan terhadap diet dan
olahraga.
5. Mengajarkan senam kaki diabetes mellitus
6. Edukasi minum obat diabetes mellitus
E. Evaluasi Keperawatan
Hasil indikator pasien dengan masalah keperawatan ketidakberdayaan selama 4 hari
perawatan adalah:
Skor Kuisioner Ketidakberdayaan
10 8
8 7 7
6
6
4
2
0
Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4
Sumber: Hasil evaluasi penelitian ketidakberdayaan menggunakan indikator kuisioner
Hasil dari ketidakberdayaan menggunakan indikator kuisioner pada hari pertama
diperoleh ketidakberdayaan berat (skor 8) di hari berikutnya pasien mengalami
penurunan skor sampai pada hari ke empat dengan ketidakberdayaan rendah (skor 6).
15
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 KESIMPULAN
Penelitian yang dilakukan (Nelson, Adamek, and Kleiber 2017)
menyebutkan bahwa terapi autogenic dapat secara signifikan menurunkan nilai
kecemasan. Penelitian lain oleh (Lim and Kim 2014) juga menyebutkan bahwa
terapi autogenik dapat menurunkan nilai kecemasan, terapi autogenik mampu
menghambat kerja dari sistem saraf simpatis sehingga hormon yang berlebihan
akan menurun dan mencapai titik keseimbangan. Melalui proses ini reaksi
fisiologis orang yang sedang mengalami ketegangan akan mereda, seperti detak
jantung mulai melambat, nafas teratur, pikiran menjadi rileks dan aliran darah
kembali normal sehingga dapat menyebabkan menurunkan nilai kecemasan.
Relaksasi mengandung makna suatu prosedur dan teknik yang bertujuan
untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan dengan cara melatih agar dapat
dengan sengaja membuat otot-otot menjadi rileks setiap dibutuhkan atau
diinginkan, sedangkan autogenik dapat bermakna dihasilkan sendiri atau dari
dalam diri. Movement yang pada penelitian ini menggunakan teknik ROM
(Range of motion) bermakna tindakan murni keperawatan yang bertujuan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan untuk
menggerakkan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan
massa otot dan tonus otot (potter & Perry 2005) sedangkan affirmation
kombinasi teknik verbal dan visual keadaan disukai pikiran seseorang.
Afirmasi yang kuat dapat menjadi sangat kuat dan dapat digunakan oleh
seseorang untuk mencapai tujuan dan memenuhi keinginan (Chapman 2010).
16
Terapi RIMA (relaxation autogenic, movement and affirmation) merupakan
perpaduan dari relaksasi autogenik, ROM dan juga afirmasi yang diharapkan
terapi ini dapat menurunkan nilai kecemasan
4.2 SARAN
Penulis menyarankan kepada para pembaca untuk mengkaji
dan mempelajari makalah ini secara mendalam dan membaca sumber
lain agar menemukan materi yang di bahas lebih otentik dan lebih
mudah di pahami.
17
DAFTAR PUSTAKA
Arsa, P. S. A. (2018). Pengaruh Terapi Rima (Relaxation Autogenic, Movement and
Affirmation) Terhadap Penurunan Nilai Kecemasan Dan Kadar Kortisol Darah Pasien End
Stage Renal Disease (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).
Hartanto, A. E., & Elvareta, N. S. (2024). POSITIVE AFFIRMATIONS AND
AUTOGENIC RELAXATION IN OVERCOMING THE HELPLESSNESS OF TYPE II DM
PATIENTS. Tirtayasa Medical Journal, 3(2), 76-85.
Lestaluhu, M., Peristiowati, Y., & Elliana, A. D. (2024). COMBINATION OF PROGRESSIVE
MUSCLE RELAXATION (PMR) AND POSITIVE AFFIRMATION ON ANXIETY REDUCTION AND
HEART PATIENT PAIN. JURNAL MEDIKA USADA, 7(1), 1-8.
18