0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan21 halaman

Drama: Unsur dan Sejarahnya

Makalah ini membahas tentang pengertian, unsur-unsur, dan sejarah drama sebagai bentuk seni pertunjukan yang penting dalam sastra. Drama tidak hanya merupakan teks tertulis, tetapi juga melibatkan pementasan yang menyampaikan pesan moral dan sosial. Dengan memahami unsur-unsur dan perkembangan drama, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai dan melestarikan seni pertunjukan ini.

Diunggah oleh

kusriyugerry
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan21 halaman

Drama: Unsur dan Sejarahnya

Makalah ini membahas tentang pengertian, unsur-unsur, dan sejarah drama sebagai bentuk seni pertunjukan yang penting dalam sastra. Drama tidak hanya merupakan teks tertulis, tetapi juga melibatkan pementasan yang menyampaikan pesan moral dan sosial. Dengan memahami unsur-unsur dan perkembangan drama, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai dan melestarikan seni pertunjukan ini.

Diunggah oleh

kusriyugerry
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

DRAMA: PENGERTIAN, UNSUR, DAN SEJARAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Apresiasi Drama

Dosen Pengampu :

Elsa Mulya Karlina, M.S.

Disusun Oleh :

GERRY KUSRIYU (NIM: 104.2023.006)

AULIA RAHMAWATI (NIM: 104.2023.010)

PRODI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

FAKULTAS PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN


SAMBAS

TAHUN 2025
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah swt. Berkat rahmat dan


hidayah-Nya penulis bisa menyelesaikan makalah tepat waktu dengan judul
“Drama: Pengertian, Unsur, Dan Sejarah”. Makalah ini telah susun secara
maksimal walaupun tidak cukup sempurna, masih banyak kekurangan dalam
teknik penulisan maupun materi, mengingat kemampuan penulis yang kurang
sempurna.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih
sebanyak banyaknya kepada pihak yang membantu menyelesaikan makalah ini.
Oleh karena itu, saran, kritik, pendapat sangatlah penuis harapkan agar makalah
ini menjadi hasil yang baik.

Sambas, 15 Februari 2025

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

A. Latar Belakang..............................................................................................1

B. Rumusan Masalah........................................................................................2

C. Tujuan Penelitian..........................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3

A. Pengertian Drama.........................................................................................3

B. Unsur-Unsur Drama.....................................................................................5

C. Sejarah Drama............................................................................................12

BAB III PENUTUP...............................................................................................16

A. Kesimpulan.................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Drama merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang telah ada sejak
zaman kuno dan terus berkembang hingga saat ini. Sebagai bagian dari karya
sastra, drama memiliki keunikan tersendiri karena tidak hanya berbentuk teks
tertulis, tetapi juga ditampilkan dalam bentuk pementasan. Keberadaan drama
dalam dunia sastra dan seni memiliki peran penting dalam menyampaikan
pesan moral, sosial, dan budaya kepada masyarakat. Oleh karena itu,
memahami drama secara mendalam menjadi hal yang penting, terutama bagi
mereka yang tertarik pada dunia seni dan sastra. Seiring perkembangan
zaman, drama mengalami berbagai perubahan baik dari segi bentuk, teknik
pementasan, maupun tema yang diangkat. Jika pada awalnya drama hanya
dikenal melalui pertunjukan teater tradisional, kini drama telah berkembang
ke berbagai media, seperti film, televisi, dan pertunjukan digital. Kemajuan
teknologi juga telah memberikan pengaruh besar terhadap cara drama
diproduksi dan dikonsumsi oleh masyarakat modern. Hal ini menunjukkan
bahwa drama tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media
komunikasi yang efektif dalam menyampaikan berbagai pesan dan nilai
kehidupan.
Dalam sebuah drama, terdapat berbagai unsur yang membentuk keutuhan
cerita, seperti alur, tokoh, latar, dan dialog. Unsur-unsur tersebut bekerja
sama untuk menciptakan pengalaman yang mendalam bagi penonton atau
pembaca. Selain itu, aspek teknis seperti pencahayaan, kostum, dan tata
panggung juga memiliki peran penting dalam memperkuat makna dari sebuah
pementasan drama. Dengan memahami unsur-unsur drama, seseorang dapat
lebih mengapresiasi karya-karya yang dihasilkan dalam dunia teater dan seni
pertunjukan. Selain memahami unsur-unsurnya, penting juga untuk

1
menelusuri sejarah perkembangan drama. Drama telah mengalami perjalanan
panjang sejak zaman Yunani kuno, berkembang melalui berbagai
kebudayaan, hingga akhirnya mencapai bentuk yang kita kenal saat ini.
Dalam sejarahnya, drama tidak hanya berkembang di dunia Barat, tetapi juga
di dunia Timur, termasuk Indonesia. Perkembangan drama di Indonesia
sendiri banyak dipengaruhi oleh tradisi lokal serta interaksi dengan budaya
asing yang membawa unsur-unsur baru ke dalam pertunjukan drama.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa drama memiliki
peranan yang sangat penting dalam dunia seni dan sastra. Oleh karena itu,
kajian mengenai pengertian, unsur-unsur, dan sejarah drama menjadi hal yang
menarik untuk diteliti lebih lanjut. Dengan pemahaman yang baik tentang
drama, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai seni pertunjukan ini
dan turut serta dalam melestarikan serta mengembangkannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian drama?
2. Apa saja unsur-unsur dalam drama?
3. Bagaimana sejarah perkembangan drama?
C. Tujuan Penelitian
Makalah ini bertujuan untuk:
1. Menjelaskan pengertian drama.
2. Mengidentifikasi unsur-unsur drama.
3. Menguraikan sejarah perkembangan drama.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Drama
Drama adalah salah satu bentuk karya sastra yang menggambarkan
kehidupan dan watak manusia melalui dialog serta lakuan yang dipentaskan.
Kata "drama" berasal dari bahasa Yunani, yaitu draomai, yang berarti
"bertindak" atau "berbuat". Dalam perkembangannya, drama tidak hanya
terbatas pada teks tertulis, tetapi juga mencakup pementasan di panggung,
film, atau media lainnya. Menurut Moulton, drama adalah hidup yang
dilukiskan dengan gerak. 1 Berbagai ahli sastra memberikan definisi yang
berbeda mengenai drama. Balthazar Verhagen mendefinisikan drama sebagai
seni yang menggunakan gerak sebagai media utama dalam menyampaikan
cerita. Sementara itu, Ferdinand Brunetière menyebut drama sebagai sebuah
cerita yang dikembangkan melalui aksi atau perbuatan yang dilakukan oleh
tokoh-tokohnya, bukan hanya sekadar melalui narasi. Dari berbagai definisi
tersebut, dapat disimpulkan bahwa drama adalah bentuk seni yang tidak
hanya mengandalkan teks tertulis, tetapi juga membutuhkan pementasan
untuk mencapai makna yang lebih dalam.
Drama memiliki ciri khas yang membedakannya dari bentuk karya sastra
lainnya. Salah satu ciri utama drama adalah adanya dialog yang menjadi
sarana utama dalam menyampaikan cerita. Berbeda dengan novel atau
cerpen yang lebih banyak mengandalkan narasi, drama menampilkan
interaksi langsung antara tokoh-tokohnya melalui percakapan. Selain itu,
drama juga memiliki struktur yang jelas, terdiri dari awal (eksposisi), tengah
(konflik atau komplikasi), dan akhir (resolusi atau penyelesaian) 2. Drama
juga memiliki tujuan yang beragam, tergantung pada jenis dan pesan yang
ingin disampaikan oleh pengarangnya. Ada drama yang bertujuan untuk
menghibur, seperti komedi, yang mengutamakan kelucuan dan humor. Ada
1
Moulton, Richard G. The Ancient Classical Drama. Terjemahan oleh [Nama Penerjemah],
(Jakarta: Penerbit X, 2005), hlm. 45.
2
Supriyadi, Bambang. Dasar-Dasar Drama dan Teater, (Bandung: Pustaka Jaya, 2010), hlm. 78.

3
pula drama yang bertujuan untuk memberikan pesan moral atau kritik sosial,
seperti tragedi atau satire. Selain itu, beberapa drama juga berfungsi sebagai
media pendidikan yang menyampaikan nilai-nilai budaya dan sejarah kepada
penonton.
Dalam dunia sastra, drama terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan
bentuk dan isi ceritanya. Jenis-jenis drama yang umum dikenal meliputi
tragedi, komedi, melodrama, dan tragikomedi. Tragedi menampilkan kisah
yang serius dan sering kali berakhir dengan kesedihan atau penderitaan
tokoh utama. Sebaliknya, komedi menyajikan cerita yang ringan dan penuh
humor. Melodrama menonjolkan emosi yang dramatis, sedangkan
tragikomedi merupakan perpaduan antara unsur tragedi dan komedi dalam
satu cerita. Selain itu, drama juga dapat dikategorikan berdasarkan cara
penyajiannya, seperti drama panggung, drama radio, drama televisi, dan
drama film. Drama panggung adalah bentuk drama yang dipentaskan
langsung di depan penonton dengan menggunakan panggung sebagai
medianya. Drama radio, meskipun tanpa visual, mengandalkan kekuatan
dialog dan efek suara untuk membangun suasana. Sementara itu, drama
televisi dan film berkembang seiring kemajuan teknologi, memungkinkan
penggunaan efek visual yang lebih kompleks.
Dalam perkembangannya, drama telah mengalami banyak perubahan dan
adaptasi sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Jika pada masa lalu drama lebih banyak dimainkan di teater dengan
peralatan sederhana, kini drama dapat disajikan dalam berbagai bentuk
media, termasuk pertunjukan digital atau video streaming. Perubahan ini
menunjukkan bahwa drama tetap relevan dan dapat terus berkembang
mengikuti kemajuan teknologi dan selera penonton.
Secara keseluruhan, drama adalah bentuk seni yang tidak hanya
menghibur tetapi juga memiliki nilai edukatif dan reflektif. Dengan
memahami pengertian drama secara mendalam, seseorang dapat lebih
mengapresiasi karya sastra ini serta memahami bagaimana drama dapat
menjadi cerminan kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Oleh karena

4
itu, drama tetap menjadi bagian penting dalam dunia sastra dan seni
pertunjukan hingga saat ini.
B. Unsur-Unsur Drama
Drama sebagai salah satu bentuk karya sastra memiliki berbagai unsur
yang membangun cerita dan pementasannya. Unsur-unsur ini berperan
penting dalam memberikan struktur yang jelas, membentuk karakter yang
kuat, serta menghadirkan konflik yang menarik bagi penonton. Secara
umum, unsur-unsur drama dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu
unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik mencakup aspek-aspek
yang membentuk cerita dari dalam, seperti tema, tokoh, alur, dialog, latar,
dan amanat. Sementara itu, unsur ekstrinsik mencakup faktor-faktor di luar
cerita yang memengaruhi isi dan pengembangan drama, seperti latar
belakang sosial, budaya, serta pengalaman pribadi pengarang. Memahami
unsur-unsur drama sangat penting, tidak hanya bagi penulis naskah drama,
tetapi juga bagi aktor, sutradara, dan bahkan penonton agar dapat menikmati
dan mengapresiasi drama dengan lebih baik, Penjelasan lebih lanjut yaitu;

Unsur intrinsik merupakan elemen yang berasal dari dalam cerita itu sendiri
dan menjadi dasar utama dalam pembentukan sebuah drama. Tanpa unsur-
unsur ini, drama tidak akan memiliki bentuk yang jelas dan tidak dapat
memberikan pesan yang efektif kepada penonton. Berikut adalah beberapa
unsur intrinsik yang penting dalam sebuah drama.

1. Tema

Tema adalah gagasan utama yang menjadi dasar dari sebuah drama.
Setiap drama memiliki tema tertentu yang memberikan arah dalam
pengembangan alur dan karakter. Tema dapat berkaitan dengan berbagai
aspek kehidupan, seperti cinta, perjuangan, pengkhianatan, persahabatan,
atau konflik sosial. Misalnya, dalam drama "Romeo dan Juliet" karya
William Shakespeare, tema utama yang diangkat adalah cinta sejati yang
terhalang oleh konflik keluarga. Tema ini kemudian dikembangkan melalui

5
karakterisasi tokoh, konflik yang terjadi, serta alur yang mengarah pada
akhir tragis.

Dalam pementasan drama, tema harus dapat disampaikan dengan jelas


kepada penonton, baik melalui dialog, ekspresi tokoh, maupun latar cerita.
Tema yang kuat akan memberikan dampak emosional yang lebih mendalam
kepada penonton, membuat mereka terhubung dengan cerita yang disajikan.
Oleh karena itu, dalam penulisan naskah drama, pemilihan tema menjadi
langkah awal yang sangat krusial untuk menentukan arah dan pesan yang
ingin disampaikan.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh dalam drama adalah karakter yang memainkan peran dalam


jalannya cerita. Tokoh dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan
perannya dalam konflik utama drama. Tokoh utama atau protagonis adalah
karakter yang menjadi pusat cerita dan sering kali mengalami
perkembangan emosional atau perubahan karakter sepanjang drama.
Sebaliknya, tokoh antagonis adalah karakter yang menimbulkan konflik dan
sering kali menjadi penghalang bagi tujuan tokoh utama. Selain itu, ada juga
tokoh tritagonis, yaitu tokoh yang berperan sebagai penengah dalam konflik
antara protagonis dan antagonis. Penokohan dalam drama dapat dilakukan
melalui berbagai cara, seperti dialog yang diucapkan oleh tokoh, tindakan
yang mereka lakukan, serta interaksi mereka dengan tokoh lainnya.
Misalnya, seorang tokoh yang digambarkan sebagai pemimpin yang
bijaksana mungkin akan menggunakan bahasa yang sopan, memiliki sikap
tenang dalam menghadapi konflik, serta menunjukkan empati terhadap
orang lain. Sebaliknya, tokoh antagonis mungkin akan digambarkan melalui
kata-kata kasar, tindakan manipulatif, atau ekspresi wajah yang sering kali
menunjukkan kemarahan atau ketidaksabaran.

Penokohan yang baik akan membuat karakter dalam drama terasa hidup
dan lebih mudah dipahami oleh penonton. Jika karakterisasi dalam drama

6
terlalu dangkal atau tidak konsisten, maka penonton akan kesulitan untuk
terhubung dengan cerita dan mengalami pengalaman emosional yang kuat.
Oleh karena itu, dalam penulisan dan pementasan drama, pengembangan
karakter harus diperhatikan dengan baik agar tokoh-tokoh yang dihadirkan
memiliki kedalaman dan relevansi dengan tema cerita.

3. Alur (Plot)

Alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk jalan cerita dalam


sebuah drama. Alur yang baik harus memiliki keterkaitan yang logis antara
satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, sehingga cerita dapat berkembang
secara alami dan menarik. Dalam sebuah drama, alur biasanya terdiri dari
lima tahap utama, yaitu:

 Eksposisi: Tahap awal di mana tokoh, latar, dan konflik diperkenalkan


kepada penonton.

 Komplikasi: Perkembangan konflik mulai terlihat, dan hubungan


antartokoh semakin terjalin.

 Klimaks: Puncak ketegangan dalam cerita, di mana konflik mencapai


titik kritis.

 Antiklimaks: Ketegangan mulai mereda, dan tokoh mulai menemukan


cara untuk menyelesaikan masalah.

 Resolusi: Akhir cerita yang bisa berupa penyelesaian bahagia (happy


ending) maupun tragis (sad ending).

Menurut Supriyadi, drama memiliki struktur yang jelas yang terdiri dari
awal (eksposisi), tengah (konflik atau komplikasi), dan akhir (resolusi atau
penyelesaian)3. Struktur ini membantu drama untuk tetap fokus dan
memiliki alur yang mudah diikuti oleh penonton. Jika alur terlalu rumit atau

3
Supriyadi, Bambang. Dasar-Dasar Drama dan Teater, (Bandung: Pustaka Jaya, 2010), hlm. 78.

7
tidak memiliki arah yang jelas, maka drama akan sulit dipahami dan
kehilangan daya tariknya.

Selain unsur intrinsik yang membentuk struktur internal sebuah drama,


terdapat pula unsur ekstrinsik yang berasal dari luar cerita tetapi memiliki
dampak besar terhadap isi, pesan, dan penyajian drama. Unsur ekstrinsik ini
berperan dalam memberikan warna dan nuansa yang khas pada drama,
menjadikannya lebih relevan dengan kondisi sosial, budaya, dan
perkembangan zaman. Drama bukanlah sekadar cerita fiktif yang berdiri
sendiri, tetapi sering kali merupakan cerminan dari realitas kehidupan
masyarakat di mana drama tersebut diciptakan dan dipentaskan. Faktor-
faktor eksternal seperti kondisi sosial, budaya, latar belakang pengarang,
nilai-nilai yang terkandung dalam cerita, serta pengaruh zaman dan
teknologi sangat memengaruhi bagaimana drama ditulis, dikembangkan,
dan dipersepsikan oleh penonton.

Dalam perkembangannya, unsur ekstrinsik drama berperan sebagai faktor


yang membentuk identitas drama dalam berbagai periode sejarah. Drama
yang lahir pada zaman tertentu akan merefleksikan situasi dan kondisi
masyarakat pada masa itu. Oleh karena itu, drama juga dapat berfungsi
sebagai alat untuk menyampaikan kritik sosial, membangkitkan kesadaran
kolektif, serta menjadi medium pendidikan bagi masyarakat. Berikut adalah
beberapa unsur ekstrinsik yang memengaruhi perkembangan dan isi sebuah
drama.

1. Latar Belakang Sosial dan Budaya

Drama sering kali mencerminkan kondisi sosial dan budaya yang sedang
terjadi pada saat drama tersebut ditulis atau dipentaskan. Setiap zaman
memiliki tantangan dan dinamika sosial yang berbeda, sehingga drama
menjadi wadah untuk merefleksikan realitas tersebut dalam bentuk seni
pertunjukan. Misalnya, drama yang muncul pada masa penjajahan sering
kali mengangkat tema perjuangan, nasionalisme, dan penindasan, sebagai

8
bentuk ekspresi perlawanan terhadap kolonialisme. Drama seperti ini tidak
hanya menjadi hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan inspiratif
bagi masyarakat yang menontonnya.

Di sisi lain, drama yang berkembang di era modern lebih banyak


mengeksplorasi isu-isu kontemporer seperti ketidakadilan sosial,
problematika cinta, pergulatan identitas, hingga permasalahan kehidupan
urban yang penuh dengan kompleksitas. Misalnya, dalam masyarakat yang
mengalami urbanisasi pesat, banyak drama yang mengangkat tema
kehidupan di kota besar dengan segala tantangan seperti kesenjangan sosial,
masalah keluarga, serta pergeseran nilai-nilai tradisional. Dengan demikian,
drama bukan hanya sekadar hiburan semata, tetapi juga menjadi cermin bagi
perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Selain itu, budaya tempat drama tersebut berkembang juga sangat


berpengaruh terhadap isi dan gaya penceritaannya. Di Indonesia, misalnya,
drama tradisional seperti Ludruk, Ketoprak, dan Wayang Orang memiliki
kekhasan tersendiri yang dipengaruhi oleh budaya setempat. Sementara itu,
drama modern yang terinspirasi dari Barat lebih menekankan pada aspek
psikologis karakter dan perkembangan alur yang lebih kompleks. Dengan
adanya perbedaan latar sosial dan budaya ini, setiap drama memiliki ciri
khas yang membedakannya dari drama lain di tempat atau periode yang
berbeda.

2. Latar Belakang Pengarang

Pengalaman hidup, keyakinan, serta latar belakang pendidikan seorang


pengarang sering kali memengaruhi tema, gaya bahasa, serta pesan yang
ingin disampaikan dalam dramanya. Setiap pengarang memiliki sudut
pandang dan cara berpikir yang unik, yang tercermin dalam karya yang
dihasilkan. Misalnya, seorang pengarang yang lahir dan besar di lingkungan
pesantren cenderung lebih sering menulis drama yang mengandung nilai-
nilai keagamaan, baik dalam tema maupun dialog antartokoh.

9
Selain faktor lingkungan, pengalaman pribadi pengarang juga dapat menjadi
inspirasi utama dalam penulisan drama. Sebagai contoh, seorang pengarang
yang pernah mengalami ketidakadilan sosial mungkin akan menulis drama
yang bertemakan perjuangan melawan penindasan. Begitu pula dengan
pengarang yang memiliki pengalaman emosional mendalam, seperti
kehilangan orang yang dicintai, dapat menuangkan kesedihan tersebut ke
dalam drama yang bertema kehilangan dan duka. Dengan demikian, drama
tidak hanya menjadi bentuk ekspresi seni, tetapi juga menjadi wadah bagi
pengarang untuk berbagi pengalaman dan pemikirannya kepada penonton.

Selain itu, pengaruh dari bacaan, pendidikan, dan aliran sastra yang dianut
pengarang juga memainkan peran penting dalam pembentukan karyanya.
Seorang pengarang yang banyak membaca karya sastra klasik mungkin akan
menghasilkan drama dengan struktur dan gaya bahasa yang lebih formal dan
puitis. Sementara itu, pengarang yang mengikuti perkembangan sastra
modern cenderung menulis drama dengan pendekatan yang lebih realistik
dan aktual.

3. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Drama

Drama tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media
untuk menyampaikan berbagai nilai yang dapat membentuk pemahaman dan
sikap penonton terhadap kehidupan. Nilai-nilai yang terkandung dalam
drama dapat bersifat moral, sosial, agama, maupun politik. Nilai moral
dalam drama, misalnya, sering kali disampaikan melalui karakter protagonis
yang menunjukkan sifat-sifat positif seperti kejujuran, keberanian, dan
kesetiaan. Dengan menampilkan tokoh yang memiliki nilai moral yang baik,
drama dapat memberikan pelajaran yang inspiratif bagi penontonnya.

Nilai sosial dalam drama berkaitan dengan hubungan antarindividu


dalam masyarakat serta norma-norma yang berlaku di dalamnya. Drama
yang menampilkan konflik antara individu dengan masyarakat, misalnya,
sering kali mengandung kritik sosial terhadap ketidakadilan yang terjadi

10
dalam kehidupan nyata. Misalnya, drama yang mengangkat isu kemiskinan,
ketimpangan sosial, atau korupsi dapat menggugah kesadaran penonton
untuk lebih peduli terhadap masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya.

Nilai agama dalam drama sering kali muncul dalam bentuk pesan
spiritual yang mengajarkan tentang kebaikan, ketakwaan, atau pentingnya
hubungan manusia dengan Tuhan. Drama yang mengandung nilai-nilai
agama biasanya bertujuan untuk memberikan refleksi dan motivasi bagi
penonton agar menjalani kehidupan dengan lebih baik sesuai ajaran agama
yang dianutnya. Sementara itu, nilai politik dalam drama sering kali
berkaitan dengan perjuangan melawan ketidakadilan, penyalahgunaan
kekuasaan, atau dinamika pemerintahan. Drama yang mengandung nilai
politik dapat menjadi alat kritik terhadap kondisi politik suatu negara atau
sistem pemerintahan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

4. Pengaruh Zaman dan Teknologi

Seiring dengan perkembangan zaman, drama mengalami berbagai


perubahan dalam bentuk dan penyajiannya. Dahulu, drama hanya dapat
dinikmati dalam bentuk teater yang dipentaskan secara langsung di
panggung. Namun, dengan berkembangnya teknologi, drama kini dapat
disajikan dalam berbagai bentuk, seperti drama radio, televisi, film, hingga
drama digital yang bisa diakses melalui internet. Kemajuan teknologi tidak
hanya mengubah cara drama disajikan, tetapi juga memengaruhi isi dan
gaya penceritaannya. Misalnya, drama yang dibuat dalam era digital
cenderung memiliki alur yang lebih cepat dan dinamis untuk menyesuaikan
dengan kebiasaan menonton masyarakat modern yang lebih menyukai
tontonan singkat dan padat. Selain itu, efek visual dan audio yang semakin
canggih juga memungkinkan drama untuk menghadirkan pengalaman yang
lebih imersif bagi penonton.

Dengan perkembangan teknologi ini, drama menjadi lebih mudah diakses


oleh berbagai kalangan, baik melalui platform streaming, media sosial,

11
maupun aplikasi khusus. Hal ini membuat drama semakin relevan dengan
kehidupan masyarakat modern dan dapat terus berkembang sesuai dengan
perubahan zaman.

Unsur-unsur drama tidak hanya berfungsi dalam teks cerita, tetapi juga
dalam pementasan. Selain unsur intrinsik dan ekstrinsik, terdapat pula unsur
teknis yang mendukung keberhasilan pementasan drama, seperti:

 Sutradara: Orang yang bertanggung jawab dalam mengarahkan jalannya


pementasan.

 Pemain (Aktor/Aktris): Orang yang memerankan tokoh dalam drama.

 Tata Panggung: Pengaturan latar, dekorasi, dan pencahayaan untuk


menciptakan suasana tertentu.

 Kostum dan Properti: Busana dan peralatan yang digunakan untuk


mendukung karakterisasi tokoh.

 Tata Suara dan Musik: Efek suara yang digunakan untuk memperkuat
suasana drama.

Drama yang baik adalah drama yang mampu menggabungkan semua


unsur tersebut secara harmonis sehingga dapat menciptakan pementasan
yang menarik dan bermakna bagi penonton. Dengan memahami unsur-unsur
drama secara mendalam, seseorang dapat lebih mengapresiasi karya ini
sebagai bagian dari kekayaan sastra dan seni pertunjukan.

C. Sejarah Drama
Drama memiliki sejarah yang panjang dan kaya, dimulai dari zaman
Yunani Kuno, di mana ia berkembang menjadi salah satu bentuk seni
pertunjukan yang paling berpengaruh. Di Yunani, drama pertama kali
dipentaskan sebagai bagian dari upacara keagamaan untuk menghormati
dewa Dionysus, dewa kesenangan dan anggur. Pada awalnya, drama
dipertunjukkan dalam bentuk dithyramb, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh

12
paduan suara untuk menghormati Dionysus. Drama kemudian berkembang
menjadi pertunjukan yang lebih terstruktur, dengan penambahan tokoh-
tokoh dan dialog yang lebih kompleks. Teater Yunani dikenal dengan dua
jenis drama utama: tragedi dan komedi. Tragedi mengisahkan cerita yang
serius dengan konflik yang mendalam, sedangkan komedi sering kali
mengandung unsur humor dan satir yang mengkritik kebiasaan dan norma
sosial. Pada abad ke-5 SM, tragedi Yunani berkembang dengan tokoh-tokoh
besar seperti Aeschylus, Sophocles, dan Euripides. Aeschylus
memperkenalkan penggunaan dua aktor dalam pertunjukan, yang
sebelumnya hanya menggunakan satu aktor dan paduan suara. Sophocles
kemudian menambahkannya menjadi tiga aktor, memungkinkan drama
menjadi lebih kompleks dan dinamis. Euripides dikenal dengan drama-
drama yang lebih emosional dan berfokus pada karakter, sering kali
menampilkan tokoh-tokoh yang lebih kompleks dan terjebak dalam dilema
moral. Drama Yunani ini menjadi dasar perkembangan drama Barat, dengan
tema-tema seperti takdir, moralitas, dan kebijaksanaan yang masih relevan
hingga kini.

Setelah peradaban Yunani, drama juga berkembang di Romawi.


Meskipun terinspirasi oleh drama Yunani, drama Romawi cenderung lebih
berfokus pada hiburan dan komedi. Penulis Romawi terkenal seperti Plautus
dan Terence menghasilkan komedi yang ringan dan mudah dipahami,
sementara Seneca, seorang filsuf Stoik, menulis tragedi yang lebih keras dan
berfokus pada tema-tema moral dan etika. Drama Romawi ini, meskipun
lebih mengarah pada hiburan, tetap mempertahankan pengaruh besar
terhadap perkembangan drama Barat. Pada masa ini, teater Romawi lebih
mengutamakan hiburan visual dan aksi dramatis daripada pengembangan
karakter atau tema filosofis yang lebih dalam.

Pada Abad Pertengahan, drama di Eropa berfokus pada tema-tema


agama, dengan drama liturgi yang dipentaskan di gereja-gereja. Drama ini
sering menggambarkan kisah-kisah Alkitab dan ajaran moral yang mendidik

13
masyarakat. Seiring berjalannya waktu, drama religius ini mulai
berkembang menjadi drama moralitas dan drama rakyat, yang dipentaskan
di luar gereja dan sering mengandung unsur humor serta kritik sosial. Pada
periode ini, drama mulai berkembang sebagai sarana pendidikan dan
hiburan bagi masyarakat umum.² Para pelaku drama di Abad Pertengahan
sering menggunakan kostum dan setting yang mencerminkan alam semesta
yang penuh simbolisme, menekankan pada perjuangan antara kebaikan dan
kejahatan. Masuknya Renaisans pada abad ke-14 hingga ke-17 membawa
perubahan besar dalam dunia drama. Periode ini menandai kembalinya
minat terhadap budaya klasik Yunani dan Romawi, yang berdampak pada
penulisan dan pertunjukan drama. Para penulis seperti William Shakespeare,
Christopher Marlowe, dan Ben Jonson menciptakan karya-karya yang
memadukan unsur klasik dengan inovasi baru, baik dalam segi struktur
maupun pengembangan karakter. Shakespeare, khususnya, menulis drama
yang sangat mendalam, dengan menggabungkan tragedi, komedi, dan
sejarah dalam satu karya. Karya-karya seperti Hamlet, Macbeth, dan Romeo
and Juliet menjadi tonggak penting dalam sejarah drama dunia. Pada masa
ini, teater menjadi sangat populer di kalangan masyarakat, dan pertunjukan
di teater terbuka semakin banyak disaksikan oleh publik. Di Indonesia,
drama mulai berkembang seiring dengan pengaruh budaya asing, terutama
melalui penjajahan Belanda dan pengaruh kebudayaan Barat. Drama
tradisional Indonesia, seperti wayang kulit, sudah ada sejak zaman kerajaan,
tetapi pada abad ke-20, drama Indonesia mulai bertransformasi dengan
munculnya teater modern. Penulis seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan
W.S. Rendra memperkenalkan bentuk-bentuk teater baru yang lebih terbuka
dan reflektif, sering kali menyentuh isu-isu sosial dan politik. Teater
Rendra, dengan kelompok Teater Revolusi, dikenal dengan gaya dramanya
yang kuat dalam menyuarakan kritik terhadap masyarakat dan
pemerintahan. Drama Indonesia, meskipun terpengaruh oleh teater Barat,
tetap mempertahankan identitas lokal dalam bentuk dan isinya. Bentuk
drama tradisional seperti ketoprak di Jawa, lenong di Betawi, dan wayang di

14
Bali terus dipertahankan dan berkembang. Selain itu, drama modern
Indonesia juga diperkaya dengan tema-tema kontemporer yang
menggambarkan kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat
Indonesia. Misalnya, karya-karya besar seperti Lukisan Kehidupan oleh
Rendra dan Siti Nurbaya oleh Marah Rusli, menunjukkan bagaimana drama
Indonesia dapat menggabungkan unsur lokal dan global, serta
mencerminkan dinamika sosial di Indonesia pada masanya. Drama
Indonesia tidak hanya terbatas pada teater panggung, tetapi juga merambah
ke media lainnya, seperti radio, televisi, dan film. Pada dekade-dekade
berikutnya, dengan kemajuan teknologi dan perkembangan industri hiburan,
drama Indonesia semakin beragam, mencakup berbagai genre dan gaya, dari
teater eksperimental hingga drama televisi yang populer di kalangan
masyarakat. Dalam perkembangannya, drama Indonesia juga berperan
dalam mengkritik ketidakadilan sosial, politik, serta menggali identitas
budaya bangsa.

Secara keseluruhan, sejarah drama menunjukkan perjalanan panjang yang


melibatkan berbagai kebudayaan, mulai dari Yunani Kuno hingga Indonesia
modern. Meskipun banyak perubahan dan perkembangan terjadi, drama
tetap menjadi medium yang kuat dalam menyampaikan ide dan perasaan
manusia, baik melalui pertunjukan langsung maupun melalui media lain
seperti film dan televisi. Drama terus bertransformasi sesuai dengan
perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, namun tetap berpegang
pada tujuan utamanya: mengungkapkan kenyataan hidup melalui seni
pertunjukan.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Drama sebagai bentuk seni pertunjukan memiliki peranan yang sangat
penting dalam dunia sastra dan budaya. Sebagai karya sastra, drama
menggambarkan kehidupan manusia melalui dialog dan aksi, yang
dipentaskan untuk memberikan pesan moral, sosial, atau budaya kepada
penonton. Dalam perkembangan sejarahnya, drama telah mengalami
perubahan signifikan, dimulai dari pertunjukan di Yunani Kuno yang
mengarah pada pengembangan tragedi dan komedi, hingga drama modern
yang dapat ditemukan di berbagai media, seperti film dan televisi. Unsur-
unsur dalam drama, baik intrinsik maupun ekstrinsik, saling berperan dalam
membentuk karya yang utuh dan menarik. Unsur intrinsik seperti alur, tokoh,
latar, dan dialog, serta unsur ekstrinsik seperti nilai sosial, budaya, dan
historis, bekerja bersama untuk menciptakan pengalaman yang mendalam bagi
penonton atau pembaca. Selain itu, sejarah drama menunjukkan bagaimana
karya ini telah melintasi berbagai kebudayaan, dari Yunani Kuno hingga
Indonesia, yang menghasilkan ragam bentuk dan tema dalam dunia teater dan
drama.
Dengan demikian, drama tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi
juga sebagai media komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan-
pesan kehidupan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus memahami,
mengapresiasi, dan mengembangkan drama, baik dalam bentuk tradisional

16
maupun modern, agar seni pertunjukan ini dapat terus hidup dan berkembang
dalam masyarakat.

17
DAFTAR PUSTAKA

Supriyadi, Bambang. Teater dan Drama: Dari Yunani hingga Masa Kini. Jakarta:
Penerbit Sastra, 2020.
Hartati, Siti. Teater Indonesia: Dari Masa ke Masa. Yogyakarta: Penerbit Seni,
2018.
Soemardjan, Soelaeman. Drama dalam Perkembangan Seni Pertunjukan. Jakarta:
Pustaka Cendekia, 2015.
Alisjahbana, Sutan Takdir. Teater dan Sastra: Dari Tradisi ke Modern. Bandung:
Pustaka Rakyat, 2017.
Rendra, W.S. Lukisan Kehidupan dalam Teater Indonesia. Jakarta: Penerbit
Drama, 2003.

18

Anda mungkin juga menyukai