BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Perceraian dalam Hukum Islam dan Hukum Positif
1. Pengertian Percerian
a. Pengertian Perceraian dalam Hukum Islam
Talak secara bahasa berasal dari kata ithlaq artinya
melepaskan, atau meninggalkan. Sedangkan menurut istilah syara’,
talak yaitu melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami
istri.1
Al-Jaziry mendefinisikan Talak ialah menghilangkan ikatan
perkawinan atau mengurangi pelepasan ikatannya dengan
menggunakan kata-kata tertentu.2 Adapun menurut Abu Zakariya Al-
Anshari, talak ialah melepas tali akad nikah dengan kata talak dan
yang semacamnya.3
Jadi talak ialah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga
setelah hilangnya ikatan perkawinan itu istri tidak halal bagi
suaminya (talak ba‟in), sedangkan arti mengurangi pelepasan ikatan
perkawinan ialah berkurangnya hak talak bagi suami yang
mengakibatkan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami
dari tiga menjadi dua, dari dua menjadi satu, dan dari satu menjadi
menjadi hilang hak talaknya, yaitu terjadi dalam talak raj’i.4
1
Abdul Rahman Al-Ghazali, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana, 2008). 192.
2
Ibid. 192.
3
Abi Yahya Zakariya al-Anshori, Fath al-Wahhab, Juz II (Semarang: Toha Putra, t.t.). 72.
4
Al-Ghazali, Fiqh Munakahat...192.
19
20
Adapun Khulu‟ menurut bahasa, kata khulu‟ dibaca
dhammah huruf kha yang bertitik dan sukun lam dari kata khila‟
dengan dibaca fathah artinya naza‟ (mencabut), karena masing-
masing dari suami istri mencabut pakaian yang lain.
Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur‟an surat al-Baqarah
ayat 229:
ٱلَّطاَل ُق َمَّر َتاِن َفِإْمَس اٌك ِبَِْعُر وٍف َأْو َتْس ِريٌح ِبِإْحَس اٍن َواَل َِيَُّل َلُكْم َأن
َأ َأ ْأ
ْيُتُموُهَّن َش ْيئًا ِإاَّل ن َيََاَفآ اَّل ُيِقيَما ُحُدوَد ٱَّلَِّل َفِإْن. َت ُخُذوْا ِمَِّآ آَت
َتَدْت ِبِه ِتْلَك. ِخْفُتْم َأاَّل ُيِقيَما ُحُدوَد ٱَّلَِّل َفاَل ُجَناَح َعَلْيِهَما ِفيَما ٱْف
ُأ
ِئَك ُهُم. َعَّد ُحُدوَد ٱَّلَِّل َف ْوَٰل. َت.ْعَتُدوَها َوَمن َي. ُحُدوُد ٱَّلَِّل َفاَل َت
﴾٢٢٢﴿ ٱلَّظاِلُموَن
Artinya: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu
boleh rujuk lagi dengan cara yang ma‟ruf atau menceraikan
dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali
sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali
kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-
hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri)
tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada
dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri
untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, Maka
janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar
hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim”.5
Ayat yang mulia ini mengangkat nasib kaum wanita dari
apa yang berlaku pada masa permulaan Islam. Yaitu seorang
lelaki lebih berhak merujuk istrinya, sekalipun ia
menceraikannya sebanyak seratus kali talak, selagi si istri masih
dalam masa idahnya. Mengingat hal tersebut merugikan pihak
wanita, maka Allah membatasinya hanya sampai tiga kali talak,
5
Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Quran Departemen Agama Republik
Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Syamil Quran, 2009). 29.
21
dan memperbolehkan rujuk pada talak pertama dan kedua,
memisahkannya secara keseluruhan pada talak yang ketiga
kalinya. Imam Abu Daud di dalam kitab Sunnan-nya
mengatakan, yaitu dalam Bab "Nasakh Rujuk Sesudah Talak
Tiga Kali", telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu
Muhammad Al-Marwazi, telah menceritakan kepadaku Ali ibnul
Husain ibnu Waqid, dari ayahnya, dari Yazid ibnun Nahwi, dari
Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-
Nya: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri
(menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan
apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya. (Al-Baqarah: 228),
hingga akhir ayat. Demikian itu bila ada seorang lelaki menalak
istrinya, maka dialah yang lebih berhak merujukinya, sekalipun
dia telah menceraikannya sebanyak tiga kali. Maka ketentuan
tersebut di-mansukh oleh firman-Nya:Talak (yang dapat
dirujuki) dua kali. (Al-Baqarah: 229), hingga akhir ayat.6
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Nasai, dari
Zakaria ibnu Yahya, dari Ishaq ibnu Ibrahim, dari Ali ibnul
Husain dengan lafaz yang sama. Ibnu Abu Hatim mengatakan,
telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ishaq, telah
menceritakan kepada kami Abdah (yakni Ibnu Sulaiman), dari
Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, bahwa ada seorang lelaki
berkata kepada istrinya, "Aku tidak akan menceraikanmu selama-
6
Michael Elkan, “Tafsir Ibnu Katsir (Terjemah Al Qur‟an, Tafsir Al Qur‟an, Ilmu Al Qur‟an,
Software Al Qur‟an, Ebook Al Qur‟an, Tilawah Al Qur‟an, Murattal Al Qur‟an).”
22
lamanya, dan tidak akan pula memberimu tempat selama-
lamanya." Si istri bertanya, "Bagaimana caranya bisa demikian?"
Lelaki (si suami) menjawab, "Aku akan menceraikanmu; dan
apabila masa idahmu akan habis, maka aku merujukmu kembali."
Lalu si istri datang kepada Rasulullah Saw. dan menceritakan
kepadanya hal tersebut. Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. (Al-Baqarah 229).
Demikian pula apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di dalam
kitab tafsirnya melalui jalur Jarir ibnu Abdul Hamid dan Ibnu
Idris. ( Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri
Ad-Dimasyqi)7
Menurut para fuqaha, khulu’ kadang dimaksudkan makna
yang umum, yakni perceraian dengan di sertai sejumlah harta
sebagai iwadh yang diberikan oleh istri kepada suami untuk
menebus diri agar terlepas dari ikatan perkawinan, baik dengan
kata khulu’, mubara`ah maupun talak. Kadang dimaksudkan
makna yang khusus, yaitu talak atas dasar iwadh sebagai tebusan
dari istri dengan kata-kata khulu’ (pelepasan) atau yang semakna
seperti mubara`ah (pembebasan).8
7
Ibid.
8
Al-Ghazali, Fiqh Munakahat...220.
23
b. Pengertian Percerian dalam Hukum Positif
Perceraian berasal dari kata cerai, yang berarti pisah,
putus hubungan sebagai suami istri dan talak, sedangkan kata
talak sama dengan cerai, kata menalak berarti menceraikan.9
Sedangkan dalam ensiklopedi nasional Indonesia,
perceraian adalah peristiwa putusnya hubungan suami isteri yang
diatur menurut tata cara yang dilembagakan untuk mengatur hal
itu. Dengan pengertian ini berarti kata talak sama artinya dengan
cerai atau menceraikan.10
Menurut R. Subekti, Perceraian adalah penghapusan
perkawinan dengan putusan hakim atas tuntutan salah satu pihak
dalam perkawinan, kemudian Ali Afandi, mengatakan pula
bahwa perceraian adalah salah satu sebab bubarnya perkawinan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perceraian adalah
pembubaran suatu perkawinan ketika pihak-pihak masih hidup
dengan didasarkan pada alasan-alasan yang dapat dibenarkan
serta ditetapkan dengan suatu keputusan hakim. Maka dengan
adanya perceraian ini perkawinan mereka pun putus dan diantara
mereka tidak lagi ada hubungan suami istri, akibat Iogisnya
mereka dibebaskan dari segala kewajiban- kewajiban mereka
sebagai suami istri.
9
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, “Kamus Besar Bahasa Indonesia,” 3 (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005). 208.
10
Adibul Farah, “Kawin Paksa Sebagai Alasan Perceraian (Studi Atas Putusan Pengadilan Agama
Kendal No. 0044/Pdt. G/ 2006/ PA. Kdl)” (Skripsi, Semarang, IAIN Walisongo, 2008). 35.
24
2. Dasar Hukum Perceraian
a. Dasar Hukum Perceraian dalam Hukum Islam
Perceraian dalam Islam pada prinsipnya dilarang,
meskipun tidak ada ayat Al-Quran yang melarang perceraian
yang mengandung arti hukumnya mubah atau boleh, namun
perceraian termasuk perbuatan yang tidak di senangi Nabi.
Rasulullah menyatakan bahwa talak atau perceraian adalah
perbuatan halal yang paling di benci Allah.11
Sebagaimana firman Allah dalam surat ath-Thalaq ayat 1:
ٱْلِعَّدَة َها ٱلَّنُِِّب ِإَذا َطَّلْقُتُم ٱلِّنَس آَء َفَطِّلُقوُهَّن ِلِعَّدِت َوَأْحُصوْا.ٰيأُّي
َِِّن
ُُيوِت َواَل َيَُْر ْجَن ِإاَّل َأن َيْأِتَين.ُقوْا ٱَّلََّل َر َّبُكْم اَل ُتُِْر ُجوُهَّن ِمن ب. َوٱَّت
َِِّن
ْد. َعَّد ُحُدوَد ٱ َِّل َف. َت.ِّيَنٍة َوِتْلَك ُحُدوُد ٱَّلَِّل َوَمن َي. ِبَفاِحَش ٍة ُّمَب
َق َّل
ْفَسُه اَل. َظَلَم َن
﴾١﴿ْعَد ٰذِلَك َأْمرًا. َتْدِرى َلَعَّل ٱَّلََّل ُيَِْدُث َب
Artinya: “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-
isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu
mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah
waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.
Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan
janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka
mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum
Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah,
maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya
sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan
sesudah itu sesuatu hal yang baru.”12
Al-A'masy telah meriwayatkan dari Malik ibnul Haris,
dari Abdur Rahman ibnu Zaid, dari Abdullah sehubungan dengan
makna firman-Nya: maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada
11
Nizam, “Hukum Keluarga dalam Syariat Islam” (thesis, Universitas Diponegoro Semarang,
2015). 13.
12
Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Qur‟an Departemen Agama Republik
Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya. 36.
25
waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar). Makna
yang dimaksud ialah dalam keadaan suci tanpa disetubuhi. Telah
diriwayatkan pula hal yang semisal dari Ibnu Umar, Ata,
Mujahid, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Qatadah, Maimun ibnu Mahran,
dan Muqatil ibnu Hayyan. Ini merupakan riwayat yang
bersumber dari Ikrimah dan Ad-Dahhak. Ali ibnu Abu Talhah
telah meriwayatkan sehubungan dengan makna firman-Nya:
maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka
dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar).
Seseorang tidak boleh menceraikan istrinya yang dalam
keadaan haid; tidak boleh pula dalam keadaan suci, sedangkan
dia telah menyetubuhinya. Tetapi hendaknya dia membiarkannya
hingga berhaid lagi, lalu bersuci, kemudian ia baru boleh
menjatuhkan talaknya sekali. Bahwa yang dimaksud dengan idah
ialah saat suci dan saat haid.
Seseorang tidak di perbolehkan menceraikan istrinya
dalam keadaan hamil lagi positif kehamilannya.13 Dan ia tidak
boleh menceraikannya, sedangkan ia telah menyetubuhinya dan
tidak diketahui apakah istrinya dalam keadaan hamil atau tidak.
Berangkat dari pengertian ini, para ulama fiqih menyusun
hukum-hukum talak dan mereka membaginya menjadi talak
sunnah dan talak bid'ah.
13
Michael Elkan, “Tafsir Ibnu Katsir (Terjemah Al Qur‟an, Tafsir Al Qur‟an, Ilmu Al Qur‟an,
Software Al Qur‟an, Ebook Al Qur‟an, Tilawah Al Qur‟an, Murattal Al Qur‟an).”
26
Talak sunnah ialah bila seseorang menceraikan istrinya
dalam keadaan suci tanpa menyetubuhinya atau dalam keadaan
hamil yang telah jelas kehamilannya. Dan talak bid'ah ialah bila
seseorang menceraikan istrinya dalam keadaan berhaid atau
dalam keadaan suci, sedangkan dia telah menyetubuhinya di
masa sucinya itu, dan tidak diketahui apakah istrinya telah hamil
atau tidak.
Talak yang ketiga ialah talak yang bukan sunnah dan
bukan pula bid'ah, yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istri yang
masih belum balig, wanita yang tidak berhaid, dan wanita (istri)
yang belum disetubuhi. Penjelasan mengenai hal ini secara rinci
berikut semua cabang yang berkaitan dengannya di sebutkan di
dalam kitab-kitab fiqih; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
( Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al- Bashri Ad-
Dimasyqi)14
Adapun dasar hukum dari hadis yaitu bahwa istri Tsabit
bin Qais bin Syammas datang menghadap Rasulullah SAW.
mengadukan perihal dirinya sehubungan dengan suaminya,
sebagai berikut:
14
Ibid.
27
Artinya: “Istri Tsabit bin Qais bin Syammas datang kepada
Rasulullah SAW. sambil berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak
mencela akhlak dan agamanya, tetapi aku tidak ingin mengingkari
ajaran Islam. Maka jawab Rasulullah SAW. : Maukah kamu
mengembalikan kebunnya (Tsabit)? Jawabnya: Mau. Maka Rasulullah
SAW bersabda: Terimalah (Tsabit) kebun itu dan talaklah ia dengan
talak satu”.15
Hadits ini dikutip dari Kitab Irwa‟ul Ghalil no 2036 yang
merupakan syarah Shahih al-Bukhari (IX/395, no. 5276 ) Kitab
at-Thalaq bab Khulu.
Oleh karena itu, jika pasangan suami istri saling
berselisih, di mana si istri tidak mau memberikan hak suaminya
dan ia sangat membencinya, serta tidak sanggup hidup berumah
tangga dengannya, maka ia harus memberikan tebusan kepada
suaminya atas apa yang pernah diberikan suaminya. Dan tidak
ada dosa pula baginya untuk mengeluarkan tebusan itu kepada
suaminya, dan tidak ada dosa pula bagi suaminya atas tebusan
yang diterimanya.54 Akan tetapi jika tidak ada alasan apapun bagi
si istri untuk meminta cerai, lalu ia meminta tebusan dari
suaminya, maka mengenai hal ini Ibnu Jarir telah meriwayatkan
dari Tsauban bahwa Rasulullah bersabda:
15
Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim, bin Mughiroh bin Bardizbah, Sohih Bukhori,
Juz VI (Semarang: Toha Putra, t.t.). 170.
28
Artinya: “Rasulullah SAW. bersabda: Siapa saja
perempuan yang meminta cerai kepada suaminya tanpa ada sebab
yang mendesak, maka haram baginya bau surga. (H.R. Ahmad,
Abu Daud, Al-Turmudzi dan Ibnu Majah).”16
Hadits ini dikutip dari Kitab Irwa‟ul Ghalil no 2035 yang
merupakan syarah Kitab al-Sunah Sunan Abi Dawud (VI/308,
no. 2209) Kitab at-Thalaq bab Khulu.
b. Dasar Hukum Perceraian dalam Hukum Positif
Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Bab
XVI tentang Putusnya Perkawinan17
1) Pasal 115: Perceraian hanya dapat dilakukan di depan
Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut
berusaha mendamaikan kedua belah pihak.
2) Pasal 131 ayat (2): Setelah Pengadilan Agama tidak berhasil
menasehati kedua belah pihak dan ternyata cukup alasan untuk
menjatuhkan talak serta yang bersangkutan tidak mungkin lagi
hidup rukun dalam rumah tangga Pengailan Agama
menjatuhkan keputusannya tentang izin bagi suami untuk
mengikrarkan talak.
16
Abi Daud Sulaiman Al-Asyats, Sunan Abi Daud, Juz II (Beirut- Libanon: Dar al-Kitab al-
Ilmiyah, 1996). 134.
17
Abdurrahman Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia (Jakarta: CV Akademika
Presindo, 1995). 57.
29
3) Pasal 143 ayat (1): Dalam pemeriksaan gugatan perceraian
Hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Ayat (2):
Selama perkara belum diputuskan usaha mendamaikan
dapat dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan.
4) Pasal 144: apabila terjadi perdamaian, maka tidak dapat
diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan atau
alasan-alasan yang ada sebelum perdamaian dan telah
diketahui oleh penggugat pada waktu dicapainya
perdamaian.
UU No. 1 tahun 1974 Pasal 39 Bab VIII tentang putusnya
perkawinan serta akibatnya, yang berbunyi: Perceraian hanya
dapat dilakukan didepan sidang Pengadilan setelah Pengadilan
yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan
kedua belah pihak.18
UU No. 7 tahun 1989 pasal 65 tentang pemeriksaan
sengketa perkawinan, yang berbunyi: Perceraian hanya dapat
dilakukan didepan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang
bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua
belah pihak.
UU No. 7 tahun 1989 pasal 82 tentang gugat cerai, yang
berbunyi: Pada sidang pertama pemeriksaan gugatan perceraian,
Hakim berusaha mendamaikan kedua pihak.
PP No. 9 tahun 1975 pasal 31 tentang tata cara perceraian,
yang berbunyi: Hakim yang memeriksa gugatan perceraian
18
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Fokusmedia, 2016). 9.
30
berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Selama perkara belum
di putuskan usaha untuk mendamaikan dapat di lakukan pada
setiap sidang pemeriksaan.
3. Macam-Macam Perceraian
Macam-macam perceraian dalam Islam ada 3 yaitu:19
a. Thalaq
Secara harfiyah Thalaq itu berarti melepaskan dan
atau membebaskan. Apabila dihubungkan dengan putusnya
perkawinan dan menurut syariat, maka talak dapat
diartikan dengan melepaskan isteri atau membebaskannya
dari ikatan perkawinan atau menceraikannya. Menurut
hukum Islam talak adalah suatu perkataan yang diucapkan
oleh suami untuk memutuskan ikatan pernikahan terhadap
istrinya. Apabila seorang suami telah mentalak istrinya,
maka putuslah hubungan antara suami istri tersebut, baik
secara lahir maupun batin.
Cerai/talak dari segi bahasa diambil dari kata at-
Thalaq, yang berarti melepas dan meninggalkan,
sedangkan menurut istilah adalah menghilangkan ikatan
perkawinan atau mengurangi keterkaitannya dengan
mempergunakan ucapan tertentu.20 Dalam Al-Qur‟an tidak
terdapat ayat-ayat yang menyuruh atau melarang
19
Jamaludddin dan Nanda Amalia, Hukum Perkawinan (Sulawesi: Unimal Press, 2016). 89.
20
Dra. Hj. Nunung Rodliyah, M.A, Manusia dan Agama (Dalam Kerangka dasar Ajaran Islam)
(Bandar Lampung: Gunung Pesagi, 2011). 257.
31
perceraian, dalam Al-Qur‟an hanya terdapat banyak ayat
yang mengatur tentang Thalaq (isinya hanya sekedar
mengatur bila thalaq mesti terjadi).21
b. Fasakh
Fasakh merupakan salah satu bentuk pemutusan
hubungan perkawinan yang dapat digunakan oleh suami
maupun istri untuk melakukan perceraian. Fasakh dalam
arti bahasa adalah batal atau rusak, sedangkan menurut
istilah ilmu fiqh di artikan sebagai pembatalan/pemutusan
nikah dengan keputusan hakim/muhakkam. Fasakh
menurut Hasballah Thaib ialah perceraian dengan merusak
atau merombak hubungan nikah antara suami dengan istri,
perombakan ini di lakukan oleh petugas atau hakim dengan
syarat-syarat tertentu tanpa ucapan talak. Perceraian
dengan fasakh ini membawa konsekuensi bahwa hubungan
perkawinan tidak dapat dirujuk kembali dalam hal suami
hendak kembali dengan istrrinya, namun untuk dapat
melanjutkan harus dilakukan dengan akad nikah yang baru.
c. Khulu’
Khulu‟ dalam bahasa Arab berarti menghilangkan
atau menanggalkan. Dalam makna syariat, khulu‟ diartikan
perpisahan wanita dengan ganti dan dengan kata-kata
khusus. Khulu‟ hukumnya diperbolehkan jika diperlukan.
21
Wati Rahmi Ria, Hukum Islam dan Islamologi (Bandar Lampung: [Link] Sakti, 2011). 141.
32
Dasar hukum terkait dengan khulu‟ dapat dijumpai pada
QS. Al- Baqarah Ayat 229 yang artinya: “Jika kamu
khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat
menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa
antara keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri
untuk menebus dirinya”22. Khulu’ dapat diajukan oleh isteri
jika misalnya dia tidak dapat menunaikan dan memenuhi
hak-hak suaminya.
d. Taklik talak
Taklik talak merupakan salah satu cara pemutusan
hubungan perkawinan antara suami dan isteri. Putusnya
perkawinan karena taklik talak jika seorang isteri tidak
dapat sabar lagi dengan kelakuan suaminya yang telah
ingkar terhadap sighat ta‟lik yang telah di ikrarkan oleh
suami setelah upacara nikah dan telah di tandatanganinya.
Bila isteri tidak berkeberatan atas ingkar suami terhadap
taklik talak, maka talak itu tidak jatuh.
Menurut UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 39 Bab VIII
tentang putusnya perkawinan serta akibatnya, yang
berbunyi : Perkawinan dapat putus karena23 :
a. Kematian
b. Perceraian dan,
c. atas keputusan Pengadilan.
22
Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Qur‟an Departemen Agama Republik
Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya.
23
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan..9.
33
4. Akibat Hukum Perceraian
Pasal 38 Ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974
menerangkan bahwa perceraian adalah salah satu bentuk
dari sebab putusnya perkawinan. Perceraian tentunya juga
melahirkan konsekuensi tertentu yaitu harta, hak asuh anak
(hadhanah) dan status pernikahan.
Menurut Abdurrahman bahwa salah satu hal yang
perlu dipertimbangkan oleh suami isteri yang akan
melakukan perceraian adalah masalah anak yang telah
dilahirkan dalam perkawinan itu. Dalam hal ini perceraian
akan membawa akibat hukum terhadap anak, yaitu anak
harus memilih untuk ikut ayah atau ikut ibunya.24
Hal ini merupakan suatu pilihan yang sama-sama
memberatkan, karena seorang anak membutuhkan kedua
orang tuanya. Menurut K. Wantjik Saleh karena
konsekuensi perceraian adalah seperti itu, maka anak tetap
harus memilih untuk ikut salah satu orang tuanya. Dalam
sidang Pengadilan yang menangani perceraian, untuk anak
yang masih belum berumur 12 tahun (belum mumayyiz)
biasanya hakim memutuskan ikut dengan ibunya.25
a. Terhadap Hubungan Suami-Istri
Meskipun diantara suami-istri yang telah menjalin
perjanjian suci (miitshaaqan ghaliizhaan), namun tidak
24
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia...27.
25
K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1980). 43.
34
menutup kemungkinan bagi suami-istri tersebut mengalami
pertikaian yang menyebabkan perceraian dalam sebuah
rumah tangga. Hubungan suami-istri terputus jika terjadi
putusnya hubungan perkawinan.26
Seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya,
tidak boleh melaksanakan atau melangsungkan perkawinan
sebelum masa iddahnya habis atau berakhir, yakni selama 4
(empat) bulan 10 (sepuluh) hari atau 130 (seratus tiga
puluh) hari (Pasal 39 ayat (1) huruf a). Apabila perkawinan
putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih
berdatang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan
sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari dan bagi
yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh)
hari (Pasal 39 ayat (1) huruf b). serta apabila ketika pada
saat istrinya sedang hamil, maka jangka waktu bagi istri
untuk dapat kawin lagi adalah sampai dengan ia
melahirkan anaknya (Pasal 39 ayat (1) huruf c) Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.
Hal tersebut dilakukan untuk memastikan apakah
si-istri itu sedang hamil atau tidak. Seorang suami yang
telah bercerai dengan istrinya dan akan menikah lagi
dengan wanita lain ia boleh langsung menikah, karena laki-
laki tidak mempunyai masa iddah.
26
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 7
35
b. Terhadap Anak
Menurut Undang-undang Perkawinan27 meskipun
telah terjadi perceraian, bukan berarti kewajiban suami
isteri sebagai ayah dan ibu terhadap anak di bawah umur
berakhir. Suami yang menjatuhkan talak pada isterinya
wajib membayar nafkah untuk anak-anaknya, yaitu belanja
untuk memelihara dan keperluan pendidikan anak-anaknya
itu, sesuai dengan kedudukan suami. Kewajiban memberi
nafkah anak harus terus-menerus dilakukan sampai anak-
anak tersebut baliq dan berakal serta mempunyai
penghasilan sendiri. Baik bekas suami maupun bekas isteri
tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anakanaknya
berdasarkan kepentingan anak. Suami dan isteri bersama
bertanggung jawab atas segala biaya pemeliharaan dan
pendidikan anak-anaknya. Apabila suami tidak mampu,
maka pengadilan dapat menetapkan bahwa ibu yang
memikul biaya anak-anak.
Sebagaimana di jelaskan pada Pasal 45 UU No. 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa:
1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik
anak-anak mereka sebaik-baiknya;
2) Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam Ayat
(1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau
27
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 7.
36
dapat berdiri sendiri kewajiban mana berlaku terus
meskipun perkawinan antara kedua orang tua
putus.
Berdasarkan Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam di
jelaskan bahwa: Dalam hal terjadinya perceraian28 :
1) pemeliharaan anak yang belum mumayyiz
atau belum berumur 12 tahun adalah hak
ibunya;
2) pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz
diserahkan kepada anak untuk memilih di
antara ayah atau ibunya sebagai pemegang
hak pemeliharaannya;
3) biaya pemeliharaan ditanggung oleh
ayahnya.
Pasal 106 Kompilasi Hukum Islam
1) Orang tua berkewajiban merawat dan
mengembangkan harta anaknya yang belum
dewasa atau di bawah pengampuan, dan
tidak diperbolehkan memindahkan atau
menggadaikannya kecuali karena keperluan
yang mendesak jika kepentingan dan
kemaslahatan anak itu menghendaki atau
28
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia. 14.
37
suatu kenyataan yang tidak dapat
dihindarkan lagi.
2) Orang tua bertanggung jawab atas kerugian
yang ditimbulkan karena kesalahan dan
kelalaian dari kewajiban yang tersebut pada
Ayat (1).
Adapun Pasal 156 Kompilasi Hukum Islam29,
mengatur tentang pemeliharaan anak ketika ibu
kandungnya meninggal dunia dengan memberikan urutan
yang berhak memelihara anak, antara lain :
1) Anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan
hadhanah dari ibunya, kecuali bila ibunya telah
meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan:
2) wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu.
3) ayah.
4) wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah.
saudara perempuan dari anak yang bersangkutan.
5) wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis
samping dari ayah.
c. Terhadap Harta Bersama
Pasal 1 butir f Kompilasi Hukum Islam
menjelaskan bahwa yang di maksud dengan Harta
kekayaan dalam perkawinan atau syirkah adalah harta yang
29
Ibid. 21.
38
diperoleh baik sendirisendiri atau bersama suami-isteri
selama dalam ikatan perkawinan berlangsung dan
selanjutnya disebut harta bersama, tanpa mempersoalkan
terdaftar atas nama siapa pun.
Mengenai pengaturan tentang harta kekayaan dalam
perkawinan secara tegas diatur dalam Pasal 85 sampai
dengan Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam.30
Akibat lain dari perceraian adalah menyangkut
masalah harta benda perkawinan khususnya mengenai
harta bersama seperti yang ditentukan dalam Pasal 37
Undang-undang Perkawinan, bahwa bila perkawinan putus
karena perceraian, maka harta bersama diatur menurut
hukumnya masing-masing. Menurut penjelasan resmi pasal
tersebut, yang dimaksud dengan hukumnya masing-masing
adalah hukum agama, hukum adat dan hukum lain-lainnya.
Memperhatikan pada Pasal 37 dan penjelasan resmi atas
pasal tersebut undang-undang ini tidak memberikan
keseragaman hukum positif tentang bagaimana harta
bersama apabila terjadi perceraian.
Tentang yang dimaksud pasal ini dengan kata
“Diatur”, tiada lain dari pembagian harta bersama apabila
terjadi perceraian. Maka sesuai dengan cara pembagian,
Undang-undang menyerahkannya kepada “Hukum yang
30
Ibid. 12-13.
39
hidup” dalam lingkungan masyarakat dimana perkawinan
dan rumah tangga itu berada. Kalau kita kembali pada
Penjelasan Pasal 37 maka Undang-undang memberi jalan
pembagian31 :
1) Dilakukan berdasar hukum agama jika hukum
agama itu merupakan kesadaranhukum yang hidup
dalam mengatur tata cara perceraian;
2) Aturan pembagiannya akan di lakukan menurut
hukum adat, jika hukum tersebut merupakan
kesadaran hukum yang hidup dalam lingkungan
masyarakat yang bersangkutan;
3) Atau hukum-hukum lainnya.
Harta bawaan atau harta asal dari suami atau istri
tetap berada ditangan pihak masing-masing. Apabila bekas
suami atau bekas istri tidak melaksanakan hal tersebut
diatas, maka mereka dapat di gugat melalui pengadilan
negeri di tempat kediaman tergugat, agar hal tersebut dapat
dilaksanakan.
Mengenai penyelesaian harta bersama karena
perceraian, suami-istri yang bergama Islam menurut
Hukum Islam, sedangkan bagi suami-istri non-Islam
menurut Hukum Perdata.32
31
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 6.
32
Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1999). 2.
40
B. Konsep Mediasi dalam Hukum Islam dan Hukum Positif
1. Pengertian Mediasi
a. Pengertian Mediasi dalam Hukum Islam
Dalam sejarah peradaban Islam, perdamaian dikenal dengan
kata “S{ulh{“ yang berarti memutus/menyelesaikan persengketaan
atau perdamaian. Istilah s{ulh{ ditemukan dalam literatur fikih yang
berkaitan dengan persoalan transaksi, perkawinan, peperangan, dan
pemberontakan. Istilah s{ulh{ didefinisikan sebagai akad yang
ditentukan untuk menyelesaikan pertengkaran.33
Selain kata s{ulh{, mediasi dalam literatur Islam juga
menyamakannya dengan kata Tahkim. Tahkim dalam terminologi
literatur fiqh ialah adanya dua orang atau lebih yang meminta orang
lain agar diputuska perselisihan yang terjadi diantara mereka dengan
hukum syar‟i.34
b. Pengertian Mediasi dalam Hukum Positif
Mediasi berasal dari bahasa latin yaitu mediare yang berarti
berada di tengah. Makna kata tersebut menunjukkan pada peran yang
ditampilkan pihak ketiga sebagai mediator dalam menjalankan
tugasnya menengahi dan menyelesaikan sengketa antara para pihak.
“Berada di tengah para pihak” juga bermakna mediator harus berada
pada posisi tengah yang netral dan tidak memihak dalam
menyelesaikan sengketa. Mediator harus mampu menjaga
33
“Suplemen Ensiklopedi Islam 2” (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002). 181.
34
Samir Aliyah, Sistem Pemerintahan Peradilan dan Adat dalam Islam (Jakarta: Khalifa, 2004).
328.
41
kepentingan para pihak yang secara adil dan sama, sehingga
menumbuhkan kepercayaan (trust) dari kedua belah pihak yang
bersengketa.35
Dari segi terminologi mediasi merupakan suatu proses
dimana pihak-pihak yang bertikai, dengan bantuan dari seorang
praktisi resolusi pertikaian (mediator) mengidentifikasi isu-isu yang
dipersengketaan, mengembangkan opsi-opsi, mempertimbangkan
alternatif-alternatif dan upaya untuk mencapai sebuah kesepakatan.
Dalam hal ini mediator tidak mempunyai peran menetukan
dalam kaitannya dengan isi materi persengketaan atau hasil dari
resolusi persengketaan tersebut, tetapi mediator dapat memberi saran
atau menentukan sebuah proses mediasi untuk mengupayakan
sebuah resolusi atau penyelesaian36
Mediasi adalah proses negosiasi pemecahan konflik atau
sengketa di mana pihak luar atau pihak ketiga yang tidak memihak
(impartial) bekerjasama dengan pihak yang bersengketa atau konflik
untuk membantu memperoleh kesepakatan perjanjian yang
memuaskan.
Menurut Syahrizal Abbas penjelasan mediasi dari sisi
kebahasaan lebih menekankan pada keberadaan pihak ketiga yang
menjembatani para pihak bersengketa untuk menyelesaikan
35
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional
(Jakarta: Kencana, 2009). 2.
36
Muslich MZ, Mediasi: Pengantar Teori dan Praktek (Semarang: Walisongo Mediation Centre,
2007). 1.
42
perselisihannya. Penjelasan ini sangat penting guna untuk
membedakan dengan bentuk-bentuk alternatif penyelesaian sengketa
lainnya.37
2. Dasar Hukum Mediasi
a. Dasar Hukum Mediasi dalam Hukum Islam
Landasan hukum yang memperbolehkan melakukan
perdamaian antara lain terdapat dalam Al-Qur‟an surah an-
Nisa>’ayat 128 yang berbunyi:
َأ َأ
ْعِلَها ُنُشوزًا ْو ِإْعَر اضًا َفاَل ُجَناَْح. َوِإِن ٱْمَر ٌة َخاَفْت ِمن َب
ُأ َأ
ٌر َو ْحِضَر ِت.ُهَما ُصْلحًا َوٱلُّصْلُح َخْي. َن.ْي. َعَلْيِهَمآ ن ُيْصِلَحا َب
َأ
ْعَمُلوَن. ُقوْا َفِإَّن ٱَّللَََّكاَن ِبَِا َت. َّت. ُفُس ٱلُّش َّح َوِإن ُتُِْس ُنوْا َوَت. ْن. ٱْل
﴾١٢١﴿َخ ِبيًا
Artinya : “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau
sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya
mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu
lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya
kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan
memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka
sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan”.38
Keadaan pertama terjadi bilamana pihak istri merasa khawatir
terhadap suaminya, bila si suami merasa tidak senang kepadanya dan
bersikap tidak acuh kepada dirinya. Maka dalam keadaan seperti ini
pihak istri boleh menggugurkan dari kewajiban suaminya seluruh
hak atau sebagian haknya yang menjadi tanggungan suami, seperti
sandang, pangan, dan tempat tinggal serta lain-lainnya yang
37
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
3.
38
Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Quran Departemen Agama Republik
Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya.
43
termasuk hak istri atas suaminya. Pihak suami boleh menerima hal
tersebut dari pihak istrinya, tiada dosa bagi pihak istri memberikan
hal itu kepada suaminya, tidak (pula) penerimaan pihak suami dari
pihak istrinya akan hal itu. Untuk itulah disebutkan di dalam firman-
Nya: “maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian
yang sebenar-benarnya”. Kemudian dalam firman selanjutnya
disebutkan:”..dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)”. Yakni
daripada perceraian. Maksudnya, perdamaian di saat saling bertolak
belakang adalah lebih baik daripada perceraian.39 Karena itulah
ketika usia Saudah binti Zam‟ah sudah lanjut, Rasulullah Saw.
berniat akan menceraikannya, tetapi Saudah berdamai dengan
Rasulullah Saw. dengan syarat ia tetap menjadi istrinya dan dengan
suka rela ia memberikan hari gilirannya kepada Siti Aisyah. Maka
Nabi Saw. menerima persyaratan tersebut yang diajukan oleh
Saudah, dengan imbalan Saudah tetap berstatus sebagai istri Nabi
Saw. Riwayat mengenai hal tersebut di kemukakan oleh Abu Daud
At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Mu‟az,
dari Sammak ibnu Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang
menceritakan bahwa Saudah merasa khawatir bila dirinya diceraikan
oleh Rasulullah Saw. Maka ia berkata, “Wahai Rasulullah, janganlah
engkau ceraikan aku, aku berikan hari giliranku kepada Aisyah,”
maka Rasulullah Saw. menyetujui apa yang dimintanya. Dan
turunlah firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz
39
Michael Elkan, “Tafsir Ibnu Katsir (Terjemah Al Qur‟an, Tafsir Al Qur‟an, Ilmu Al Qur‟an,
Software Al Qur‟an, Ebook Al Qur‟an, Tilawah Al Qur‟an, Murattal Al Qur‟an).”
44
atau sikap tak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi
keduanya, hingga akhir ayat (Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin
Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi).
Pada ayat yang lalu telah diterangkan bagaimana tindakan
yang mesti dilakukan kalau terjai nusyuz di pihak istri. Andaikata
tindakan tersebut tidak memberikan manfaat, dan dikhawatirkan
akan terjadi perpecahan (syiqa>q) di antara kedua suami istri itu
yang sampai melanggar batas-batas yang ditetapkan Allah, hal itu
dapat diperbaiki dengan jalan mediasi. Suami boleh mengutus
seorang hakam dan istri boleh pula mengutus seorang hakam, yang
mewakili dan mengetahui dengan baik perihal suami istri itu. Jika
tidak ada dari kaum keluarga masing-masing, boleh di ambil dari
orang lain.
b. Dasar Hukum Mediasi dalam Hukum Positif
a. Pasal 130 HIR/Pasal 154 RGB,
1) Jika pada hari yang di tentukan itu, kedua belah
pihak belum datang maka Pengadilan Negeri dengan
pertolongan ketua mencoba akan memperdamaikan mereka.40
2) Jika perdamaian yang demikian dapat dicapai maka pada
waktu sidang dibuat surat sebuah surat (Acta Van Vergelijk)
tentang itu dimana kedua belah pihak di hukum akan
menepati perjanjian yang di buat dan surat itu berkekuatan
dan akan dijalankan sebagai putusan yang biasa.
3) Keputusan yang demikian tidak diizinkan banding.
40
R. Soesilo, RIB/HIR dengan Penjelasan (Bogor: Politeia, 1985). 88.
45
4) Jika pada waktu mencoba mendamaikan kedua belah pihak,
perlu dipakai seorang juru bahasa.
b. UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan BAB VIII Tentang
putusnya perkawinan serta akibatnya Pasal 39: “Perceraian hanya
dapat di lakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan
yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan
kedua belah pihak”.
c. PP No.9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU Perkawinan No. 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan, BAB V Tentang Tata Cara
Perceraian pasal 31 yang berbunyi:
1) Hakim yang memeriksa gugatan perceraian berusaha
mendamaikan kedua belah pihak.
2) Selama perkara belum di putuskan usaha untuk mendamaikan
dapat dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan.
d. PERMA No. 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di
Pengadilan BAB II, Bagian Kesatu Pasal 3 “Setiap Hakim,
Mediator, Para Pihak dan/atau kuasa hukum wajib mengikuti
prosedur penyelesaian sengketa melalui Mediasi”.41
e. Kompilasi Hukum Islam BAB XVI Tentang Putusnya
Perkawinan42
Bagian Kedua:
1) Pasal 131 ayat (2): Setelah Pengadilan Agama tidak berhasil
menasehati kedua belah pihak dan ternyata cukup alasan untuk
41
Mahkamah Agung Republik Indonesia, “Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2016
Tentang Prosedur Mediasi Di Pengadilan” (Jakarta, 2016). 5.
42
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia. 16-19.
46
menjatuhkan talak serta yang bersangkutan tidak mungkin lagi
hidup rukun dalam rumah tangga Pengadilan Agama
menjatuhkan keputusannya tentang izin bagi suami untuk
mengikrarkan talak.
2) Pasal 143 ayat (1): Dalam Pemeriksaan gugatan perceraian
hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Ayat (2):
selama perkara belum diputuskan usaha mendamaikan dapat
dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan.
3) Pasal 144: Apabila terjadi perdamaian, maka tidak dapat
diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan atau
alasan-alasan yang ada sebelum perdamaian dan telah di
ketahui oleh penggugat pada waktu dicapainya perdamaian.
3. Prinsip-Prinsip Mediasi
Dalam berbagai literatur ditemukan sejumlah prinsip mediasi.
Prinsip dasar (Basic Principles) adalah landasan filosofis dari
diselenggarakannya kegiatan mediasi. Prinsip-prinsip atau filosofi ini
merupakan kerangka kerja yang harus di ketahui oleh mediator,
sehingga dalam menjalankan mediasi tidak keluar dari arah filosofi
yang melatarbelakangi lahirnya institusi mediasi. David Spencer dan
Michael Bragon merujuk pada pandangan Ruth Carlton tentang lima
prinsip dasar mediasi. Lima prinsip ini di kenal dengan lima dasar
filsafat mediasi. 43
43
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum
Nasional...28-30.
47
Prinsip pertama mediasi adalah kerahasiaan atau
Confidentiality. Kerahasiaan yang di maksudkan disini bahwa segala
sesuatu yang terjadi dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh
mediator dan pihak-pihak yang bersengketa tidak boleh disiarkan
kepada publik atau pers oleh masing-masing para pihak dan mediator
pun juga harus menjaga kerahasiaan dari isi mediasi tersebut.
Prinsip kedua, volunteer (sukarela). Masing-masing pihak
yang bertikai datang ke mediasi atas keinginan dan kemauan mereka
sendiri secara sukarela dan tidak ada paksaan dan tekanan dari pihak-
pihak lain atau pihak luar. Prinsip sukarela ini dibangun atas dasar
bahwa orang akan mau bekerja sama untuk menemukan jalan keluar
dari persengketaan mereka.
Prinsip ketiga, pemberdayaan atau empowerment. Prinsip ini
didasarkan pada asumsi bahwa orang yang mau datang ke mediasi
sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menegosiasikan masalah
mereka sendiri dan dapat mencapai kesepakatan yang mereka
inginkan.
Prinsip keempat, netralitas (neutrality) 44. Di dalam mediasi,
peran seorang mediator hanya menfasilitasi prosesnya saja, dan
isinya tetap menjadi milik para pihak. Mediator hanyalah berwenang
mengontrol proses berjalan atau tidaknya mediasi.
44
Ibid. 30.
48
Prinsip kelima, solusi yang unik (a unique solution).
Bahwasanya solusi yang dihasilkan dari proses mediasi tidak harus
sesuai dengan standar legal, tetapi dapat dihasilkan dari proses
kreativitas. Oleh karena itu, hasil mediasi mungkin akan lebih
banyak mengikuti keinginan kedua belah pihak, yang terkait erat
dengan konsep pemberdayaan para pihak. Itulah prinsip-prinsip
mediasi yang harus dimiliki dan dilakukan oleh seorang mediator.
4. Prosedur dan Tahapan Mediasi
Adanya PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang prosedur mediasi
di pengadilan merupakan bentuk pembaharuan yang dilakukan oleh
Mahkamah Agung dalam PERMA No. 1 Tahun 2008 tentang
prosedur mediasi di pengadilan tersebut ditemukan beberapa
masalah, sehingga perlu dikeluarkan PERMA baru dalam rangka
mempercepat dan mempermudah penyelesaian sengketa serta
memberikan akses yang lebih luas kepada pencari keadilan.
Dalam pelaksanaan mediasi di pengadilan tingkat pertama,
para pihak harus beriktikad baik dalam proses mediasi, namun
mengingat tidak semua para pihak beriktikad baik dalam proses
mediasi, maka dalam pasal 22 ayat 1 dan ayat 2 PERMA ini
mempunyai akibat hukum bagi para pihak yang tidak beriktikad baik
dalam proses mediasi.45
45
Indonesia, “Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi Di
Pengadilan.” 18.
49
PERMA No. 1 Tahun 2016 ini memiliki tempat istimewa
karena proses mediasi menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari
proses berperkara di pengadilan, sehingga hakim dan para pihak
wajib mengikuti prosedur penyelesaian sengketa melalui mediasi,
apabila para pihak melanggar atau tidak menghadiri mediasi terlebih
dahulu, maka putusan yang dihasilkan batal demi hukum dan akan
dikenai sanksi berupa kewajiban membayar biaya mediasi, hal ini
disebutkan dalam pasal 22 ayat 1 dan ayat 2 PERMA No. 1 Tahun
2016 tentang prosedur mediasi di pengadilan.
Hakim atau kuasa hukum dari pihak-pihak yang berperkara
dituntut untuk aktif dalam mendorong para pihak untuk berperan
aktif dalam proses mediasi, dengan adanya kewajiban menjalankan
mediasi, maka hakim dapat menunda persidangan perkara agar dapat
terjalin komunikasi antara para pihak yang berperkara.
Adapun dalam proses mediasi di Pengadilan Agama menurut
PERMA No. 1 Tahun 2016 sebagai berikut46 :
a. Tahap Pra mediasi
Pada hari sidang pertama yang dihadiri kedua belah pihak
hakim mewajibkan para pihak untuk menempuh mediasi. Hakim
menunda proses persidangan perkara untuk memberikan kesempatan
proses mediasi lama 30 hari kerja. Hakim menjelaskan prosedur
mediasi kepada para pihak yang bersengketa. Para pihak memilih
mediator dari daftar nama yang telah tersedia pada hari sidang
46
Ibid. 19-25.
50
pertama atau paling lama 2 hari kerja berikutnya. Apabila dalam
jangka waktu tersebut para pihak tidak dapat memilih mediator yang
dikehendaki. Ketua majelis hakim segera menunjuk hakim bukan
pemeriksa pokok perkara untuk menjalankan fungsi mediator.
b. Tahap proses mediasi
Dalam waktu paling lama 5 hari kerja setelah para pihak
menunjuk mediator yang disepakati, masing-masing pihak dapat
menyerahkan resume perkara kepada hakim mediator yang ditunjuk.
Proses mediasi berlangsung paling lama 30 hari kerja sejak
penetapan perintah melakukan mediasi. Mediator berkewajiban
menyatakan mediasi telah gagal jika salah satu pihak atau para pihak
telah 2 kali berturut-turut tidak menghadiri pertemuan mediasi sesuai
jadwal yang disepakati tanpa alasan setelah dipanggil secara patut. 47
c. Mediasi mencapai kesepakatan
Jika mediasi menghasilkan kesepakatan perdamaian maka
wajib dirumuskan sacara tertulis dan ditandatangani oleh para pihak
dan mediator. Jika mediasi di wakili oleh kuasa hukum maka para
pihak wajib menyatakan secara tertulis persetujuan yang dicapai.
Para pihak wajib menghadap kembali kepada hakim pada sidang
yang telah ditentukan untuk memberitahukan kesepakatan
perdamaian kepada hakim untuk dikuatkan dalam bentuk akta
perdamaian.
47
Ibid. 21.
51
d. Mediasi tidak mencapai kesepakatan
Jika mediasi tidak mencapai kesepakatan, mediator wajib
menyatakan secara tertulis proses mediasi telah gagal. Pada tiap
tahapan pemeriksaan perkara hakim pemeriksa perkara tetap
berwenang untuk mengusahakan perdamaian hingga sebelum
pengucapan putusan. Jika mediasi gagal, pernyataan dan pengakuan
para pihak dalam proses mediasi tidak dapat digunakan sebagai alat
bukti dalam proses persidangan.
5. Kekuatan yang Melekat pada Putusan Perdamaian
a. Kekuatan yang Melekat pada Putusan Perdamaian dalam Hukum
Islam
Ulama fiqih berbeda pendapat mengenai kekuatan hukum
terhadap putusan tahkim. Menurut Ulama mazhab Hanafi, apabila
hakam telah memutuskan perkara pihak-pihak yang bertahkim dan
mereka menyetujuinya, maka pihak-pihak yang bertahkim dan
mereka menyetujuinya, maka pihak-pihakyang bertahkim terikat
dengan putusan tersebut. Apabila mengadukannya ke pengadilan dan
hakim sependapat dengan putusan hakam, maka hakim pengadilan
tidak boleh membatalkan putusan hakam tersebut. Akan tetapi, jika
hakim pengadilan tidak sependapat dengan putusan hakam, maka
hakim berhak membatalkannya.48
48
Ibid. 103.
52
Menurut pendapat ulama mazhab Maliki dan Hambali,
apabila keputusan yang dihasilkan oleh hakam melalui proses tahkim
tidak bertentanngan dengan al-qur‟an, hadis dan ijma‟ maka hakim
pengadilan tidak berhak membatalkan putusan hakam, sekalipun
hakim pengadilan tersebut tidak sependapat dengan putusan hakam.
b. Kekuatan yang Melekat pada Putusan Perdamaian dalam Hukum
Positif
Kekuatan hukum yang melekat pada akta perdamaian antara
lain sebagai berikut:
1) Disamakan kekuatannya dengan putusan yang berkekuatan hukum
tetap.49
Dalam pasal 1858 ayat (1) KUH Perdata dikemukakan bahwa
semua putusan perdamaian yang dibuat dalam sidang Majelis Hakim
mempunyai kekuatan hukum tetap seperti putusan Pengadilan
lainnya dalam tingkat penghabisan. Putusan perdamaian yang dibuat
tidak dapat dibantah dengan alasan kekhilafan mengenai hukum atau
dengan alasan salah satu pihak telah dirugikan dengan putusan
perdamaian.50 Putusan perdamaian dapat dibatalkan jika dalam
perjanjian perdamaian itu sudah terjadi kekhilafan mengenai
orangnya atau mengenai pokok perselisihan, atau juga karena adanya
penipuan atau paksaan dalam membuatnya.51
49
M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan dan Eksekusi Bidang Perdata (Jakarta:
Gramedia, 1995). 279.
50
Soesilo dan Pramuji R, Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Jakarta: Rhedbook Digicomp,
2008). 421.
51
Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama. 60.
53
2) Mempunyai kekuatan eksukutorial.
Penegasan ini terdapat dalam pasal 130 ayat (2) HIR dalam
kalimat terakhir pasal tersebut, putusan akta perdamaian:
a) Berkekuatan sebagai putusan hakim yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
b) Berkekuatan eksukutorial sebagaimana halnya putusan
pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Putusan perdamaian yang dibuat persidangan mejelis hakim
mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, mempunyai kekuatan
hukum eksekusi dan mempunyai nilai pembuktian.52
Dikatakan mempunyai kekuatan hukum mengikat adalah
karena putusan perdamaian itu mengikat para pihak yang
membuatnya, juga mengikat pihak luar atau orang-orang yang
mendapat hak dan manfaat darinya. Putusan perdamaian mempunyai
kekuatan eksekusi, karena putusan itu dapat langsung dieksekusi
apabila pihak-pihak yang membuat persetujuan perdamaian itu tidak
mau melaksanakan persetujuan yang telah disepakati secara suka
rela. Juga mempunyai nilai kekuatan pembuktian sebagaimana akta
autentik lainnya.53
52
R. Subekti, Aneka Perjanjian (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995). 177.
53
Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan, Buku II (Jakarta: Mahkamah Agung
RI, 1994). 123.
54
Pada putusan perdamaian terdapat 3 kekuatan pembuktian,
yaitu:
a) Kekuatan pembuktian formal, yaitu pembuktian antara
para pihak yang telah mereka terangkan adalah
sebagaimana yang telah tertulis pada akta perdamaian.
b) Kekuatan pembuktian materil, yakni disebutkan bahwa
dalam akta ini harus sudah terbukti benar apa yang
terjadi, itu semuanya terdapat dalam akta perdamaian
yang sudah dijadikan putusan perdamaian itu.
c) Kekuatan mengikat, membuktikan bahwa antara para
pihak ketiga mempunyai keterkaitan dengan putusan
perdamaian itu, karena putusan perdamaian itu dibuat di
muka pejabat yang berwenang.54
3) Tertutup upaya banding dan kasasi
Ketentuan ini mengandung pengertian bahwa putusan
perdamaian itu sejak ditetapkan oleh hakim menjadi putusan
perdamaian maka sudah melekat bahwa putusan perdamaian adalah
pasti dan tidak ada penafsiran lagi, sehingga langsung dijalankan
oleh pihak-pihak yang melaksanakan perdamaian itu.
54
Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama...102.
55
C. Profesionalitas Mediator
1. Pengertian Profesionalitas Mediator
a. Pengertian Profesionalitas Mediator dalam Hukum Islam
Mediator dalam Islam disebut dengan Hakam. Hakam ialah
seorang utusan atau delegasi dari pihak yang bersengketa (suami
istri), yang dilibatkan dalam penyelesaian sengketa antara keduanya.
Tetapi dalam kondisi tertentu Majelis Hakim dapat mengangkat
hakam yang bukan dari pihak keluarga para pihak, diantaranya yang
berasal dari Hakim Mediator yang sudah ditetapkan oleh Lembaga
Tahkim. 55
Kedua hakam yang telah ditunjuk bekerja untuk memperbaiki
keadaan suami istri, supaya yang keruh menjadi jernih, dan yang
retak tidak sampai pecah. Jika kedua hakam itu berpendapat bahwa
keduanya lebih baik bercerai oleh karena tidak ada kemungkinan lagi
melanjutkan hidup rukun damai di rumah tangga, maka kedua hakam
itu boleh menceraikan mereka sebagai suami istri, dengan tidak perlu
lagi menunggu keputusan hakim dalam negeri, karena kedudukan
kedua orang hakam itu sebagai kedudukan hakim yang berhak
memutuskan, karena telah diserahkan penyelesaiannya kepada
mereka.56
Menurut Imam Nawawi, seorang hakam (mediator) harus
laki- laki, cakap dan sholeh. Menurut Wahbah Zuhaili syarat hakam
55
Muhammad Saifullah, Mediasi dalam Tinjauan Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia
(Semaranag: Walisongo Press, 2009). 12.
56
Syekh H. Abdul Halim Hasan, Tafsir Al-Ahkam, 1 (Jakarta: Kencana, 2006). 266-267.
56
adalah laki- laki, adil, mengetahui cukup informasi kasus yang
ditangani. Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa syarat hakam antara lain
adalah berakal, baligh, adil, muslim.57
b. Pengertian Profesionalitas Mediator dalam Hukum Positif
Profesional adalah orang yang terampil, handal, dan sangat
bertanggungjawab dalam menjalankan profesinya. Profesionalitas
adalah suatu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu
profesi terhadap profesinya, serta derajat pengetahuan dan keahlian
yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya.58
Sedangkan profesionalitas hakim mediator adalah hakim
yang terampil dan handal dalam memeriksa dan menyelesaikan suatu
sengketa perkara yang dihadapinya, secara materil dan formil, ahli di
bidang psikologi, juga memenuhi syarat sebagai hakim mediator
yakni mempunyai sertifikat hakim mediator.59
Berdasarkan makna Dhahir surat An-Nisa>‟ ayat 35, bahwa
yang menjadi mediator adalah wakil dari pihak suami dan wakil dari
pihak istri. Dalam kasus Syiqa>q, para ulama berbeda pendapat
mengenai siapa yang berhak menjadi mediator. Secara garis besar,
mediator harus memenuhi syarat antara lain, mediator harus berasal
dari kalangan profesional, harus adil, dan cakap, dan mengedepankan
upaya awal win-win solution.
57
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
185-187.
58
A Pius Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiyah Populer (Surabaya: Arkalo, 1994).
627.
59
Ibid. 628.
57
Dalam ilmu mediasi yang dikembangkan oleh negara-negara
barat, mediator tidak berasal dari kalangan keluarga untuk menjaga
supaya tidak memihak kepada salah satu pihak.
2. Pengangkatan dan Syarat Mediator
a. Pengangkatan dan Syarat Mediator dalam Hukum Islam
Mediator atau Hakam dalam Lembaga Tahkim terdiri dari
satu orang atau lebih. Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang
mengangkat dan mengutus Hakam atau Mediator dalam sengketa
Syiqa>q. Madzhab Hanafi, Syafi‟i dan Hambali berpendapat bahwa
berdasarkan zhahir ayat 35 surat an-Nisa>’ bahwa Hakam atau
mediator diangkat oleh pihak keluarga suami atau istri, dan bukan
suami atau istri secara langsung. Pandangan ini berbeda dengan
pandangan Wahbah Zuhaili dan Sayyid Sabiq bahwa Hakam dapat
diangkat oleh suami Istri yang disetujui oleh mereka. As-sya‟bi dan
Ibn Abbas mengatakan bahwa pihak ketiga atau Hakam dalam kasus
Syiqa>q diangkat oleh Hakim atau Pemerintah.60
Menurut Ali bin Abu Bakar al-Marginani (w. 593 H/ 1197
M), seorang ulama terkemuka dalam Madzhab Hanafi
mengemukakan, seorang Hakam yang akan diminta menyelesaikan
perselisihan harus memenuhi syarat-syarat sebagai orang yang akan
diminta menjadi Hakim. Menurut Imam Nawawi, seorang Hakam
(mediator) harus laki-laki, cakap, sholeh. Menurut Wahbah Zuhaili
60
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
187.
58
syarat Hakam antara lain adalah berakal, baligh, adil dan muslim.
Oleh karena itu tidak dibenarkan mengangkat orang kafir dzimmi,
orang yang terhukum hudu>d karena qazaf, orang fasik, dan anak-
anak untuk menjadi Hakam, karena dilihat dari segi keabsahannya
mereka tidak termasuk ahliyyahal-qadha’ (orang yang berkopenten
mengadili).61
b. Pengangkatan dan Syarat Mediator dalam Hukum Positif
Pengangkatan hakim mediator sangat tergantung pada situasi
dimana mediasi dijalankan. Bila mediasi dijalankan oleh lembaga
formal seperti Pengadilan maupun lembaga penyedia jasa mediasi,
maka pengangkatan mediator mengikuti ketentuan peraturan
perundang-undangan sedangkan bila mediasi dijalankan oleh
mediator yang berasal dari anggota masyarakat, maka pengangkatan
mediator tidak mengikat dengan ketentuan aturan formal.
Prinsip utama untuk pengangkatan mediator adalah harus
memenuhi persyaratan kemampuan personal dan persyaratan yang
berhubungan dengan masalah sengketa para pihak. Jika persyaratan
ini telah dipenuhi baru mediator dapat menjalankan mediasi.62
Penyelesaian sengketa melalui mediasi dalam sistem
Peradilan, dibantu oleh mediator. Sehubungan dengan siapa yang
dapat bertindak sebagai mediator dijelaskan dalam PERMA No. 01
tahun 2016 BAB III Mediator, Bagian Kesatu Sertifikasi Mediator
61
Ibid. 188.
62
Ibid. 70-71.
59
dan Akreditasi Lembaga Pasal 1363 :
(1) Setiap mediator wajib memiliki Sertifikat Mediator yang diperoleh
setelah mengikuti dan dinyatakan lulus dalam pelatihan sertifikasi
Mediator yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung atau lembaga
yang telah memperoleh akreditasi dari Mahkamah Agung.
(2) Berdasarkan surat keputusan ketua Pengadilan, Hakim tidak
bersertifikat dapat menjalankan fungsi Mediator dalam hal tidak ada
atau terdapat keterbatasan jumlah Mediator bersertifikat.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara sertifikasi
Mediator dan pemberian akreditasi lembaga sertifikasi Mediator
ditetapkan dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung.
3. Keterampilan dan Bahasa Mediator
a. Keterampilan Mediator
Unsur yang paling penting bagi seorang mediator adalah
keterampilan (skill) untuk melakukan mediasi. Skill akan menentukan
berhasil tidaknya seorang mediator menyelesaikan sengketa para
pihak. Pengetahuan yang banyak belum tentu menjamin keberhasilan
mediator melaksanakan mediasi, tanpa dibarengi dengan sejumlah
keterampilan. Keterampilan dapat diperoleh melalui pendidikan dan
pelatihan (training) mediasi. Keterampilan harus diasah dan
dipraktikkan secara terus-menerus, sehingga memiliki ketajaman
dalam menganalisis, menyusun langkah kerja, dan menyiapkan solusi
63
Mahkamah Agung Republik Indonesia, “Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2016
Tentang Prosedur Mediasi Di Pengadilan” (Jakarta, 2016). 11-12.
60
dalam rangka penyelesaian sengketa para [Link] dalam
menjalankan mediasi harus memiliki sejumlah keterampilan, yaitu
keterampilan mendengarkan, keterampilan membangun rasa memiliki
bersama, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan meredam
ketegangan, dan keterampilan merumuskan kesepakatan.64
1) Keterampilan mendengarkan
Mendengarkan merupakan suatu keterampilan dalam
mediasi, dimana mediator mendengarkan secara saksama dan
penuh perhatian terhadap segala apa yang disampaikan para
pihak pada saat pemaparan kisah (presentasi). Tujuan
mendengarkan adalah untuk memperoleh informasi lengkap
terhadap apa yang mereka persengketaan.
Mendengarkan bermakna mediator memahami dan
mendalami, serta berusaha memosisikan perasaan dirinya
seperti para pihak yang sedang bertikai.65
Kemampuan mendengarkan ini, akan memunculkan
kepercayaan dari para pihak bahwa mediator benar-benar
memahami dan mendalami persoalan mereka. Mediator akan
diterima para pihak sebagai jurudamai, karena ia mampu
menunjukkan keseriusan dan kemampuannya memahami para
pihak. Diterimanya mediator oleh para pihak, akan
66
memudahkannya membangun kekuasaan sebagai mediator.
64
Ibid.91.
65
Allan J. Stitt, Mediation; A Practical Guide (New York: Canvendish Routledge, 2004). 72.
66
Said Faisal, Mediator’s Skills’’ dalam Mediasi dan Perdamaian (Jakarta: Mahkamah Agung RI,
2004). 80.
61
Kekuasaan ini bukan untuk mendominasi dan menekan para
pihak guna menerima tawara solusi, tetapi menciptakan ruang
yang aman dalam membangun komunikasi konstruktif.
Keterampilan atau keahlian mendengar dibagi kedalam tiga
bagian yaitu keahlian menghadiri (attending skills), keahlian
mengikuti (following skills) dan merefleksi (reflecting skills).
2) Keterampilan membangun rasa memiliki bersama
Keterampilan membangun rasa memiliki bersama
dimulai dengan sikap empati yang ditunjukkan mediator
terhadap persoalan para pihak. Mediator harus mengetahui,
mengidentifikasi dan memahami perasaan yang dialami para
pihak yang bersengketa. Mediator juga harus membantu
menumbuhkan rasa memiliki bersama dengan para pihak, guna
merumuskan berbagai solusi atas berbagai persoalan mereka.67
3) Keterampilan memecahkan masalah
Keterampilan yang sangat esensial di antara
keterampilan lainnya adalah keterampilan memecahkan
masalah, karena inti dari mediasi adalah menyelesaikan
persengketaan yang terjadi antara para pihak. Dalam
memecahkan masalah, mediator melakukan beberapa langkah
penting yaitu; mengajak para pihak untuk fokus pada hal-hal
positif, fokus pada persamaan kepentingan dan kebutuhkan,
fokus pada penyelesaian masalah untuk masa depan,
67
Edi As‟Adi, Hukum Acara Perdata dalam Prespektif Mediasi (ADR) di Indonesia (Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2012). 7.
62
memperlunak tuntutan, ancaman dan penawaran terakhir, dan
mengubah suatu permintaan atau posisi absolut menjadi suatu
bentuk penyelesaian.68
4) Keterampilan meredam ketegangan
Mediator dapat mengambil sejumlah tindakan yang
merupakan keterampilan dalam mengelola dan meredam
kemarahan dari dua belah pihak yang bersengketa. Mediator
harus memposisikan diri sebagai penengah dan tempat para
pihak menumpahkan kemarahannya. Mediator harus bisa
mencegah pengungkapan kemarahan tidak secara langsung
ditunjukkan kepadda masing-masing pihak, tetapi mereka
harus menyatakan kemarahannya dihadapan mediator.
Jadi pengungkapan kemarahan para pihak harus
ditanggapi positif dan tenang oleh seorang mediator, karena
melalui pengungkapan kemarahan akan dapat ditemukan
esensi atau penyebab utama terjadi sengketa diantara para
pihak.69
5) Keterampilan merumuskan kesepakatan
Ketika para pihak sudah mencapai kesepakatan dalam
mediasi, maka tugas mediator harus merumuskan kesepakatan
tersebut dalam bentuk tulisan. Bila para pihak telah memahami
rumusan kesepakatan dengan baik dan mereka akan
melaksanakannya, maka para pihak dapat membubuhkan
68
Victor M. Situmorang, Perdamaian dan Perwasitan dalam Hukum Acara Perdata (Jakarta:
Rineka Cipta, 1993). 16.
69
Ibid.17.
63
tandatangannya. Dengan penandatangan kesepakatan tersebut,
maka secara forma proses mediasi sudah selesai.
b. Bahasa Mediator
Bahasa yang digunakan mediator akan menentukan sukses
tidaknya proses mediasi. Mediator harus memiliki keterampilan
menggunakan bahasa yang baik dan sederhana dalam memediasi
kedua belah pihak. Mediator harus menggunakan bahasa sederhana,
lugas, mudah dipahami, dan tidak terlalu banyak menggunakan istilah
asing, sehingga menyulitkan para pihak dalam memahaminya.
Ketidaknyamanan bahasa, kesulitan memahami kata/kalimat, dan
penggunaan kata ambigu atau kalimat yang tidak lazim digunakan
para pihak, dapat menjadi faktor yang akan menghambat berjalannya
proses mediasi. Oleh karena itu, mediator mesti sangat hati-hati
menggunakan bahasa lisan atau tulisan dalam menjalankan proses
mediasi, mengingat pihak yang bersengketa sangat rentan terhadap
informasi dan bahasa yang digunakan oleh mediator. Kemampuan
mediator memilih kata, kalimat, danistilah- istilah yang lazim dipakai
para pihak yang bersengketa akan mempermudah mediator
membawa para pihak membuat kesepakatan- kesepakatan.70
Kemampuan menyusun kalimat-kalimat netral memerlukan
pemikiran serius dan latihan yang terus-menerus, sehingga mediator
peka dan cepat tanggap untuk melakukan penyesuaian kalimat
70
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
109-111.
64
tersebut. Oleh karena itu, training dan praktik simulasi akan sangat
membantu mediator dalam mempertajam kemampuannya
berkomunikasi dan menetralkan pernyataan-pernyataan destruktif dan
subjektif dari para pihak yang bersengketa.
4. Peran-Peran Mediator
Hakim mediator memiliki peran menentukan dalam suatu
proses mediasi. Gagal tidaknya mediasi juga sangat ditentukan oleh
peran yang ditampilkan mediator. Ia berperan aktif dalam
menjembatani sejumlah pertemuan antar para pihak. Desain
pertemuan, memimpin dan mengendalikan pertemuan, menjaga
keseimbangan proses mediasi dan menuntut para pihak mencapai
suatu kesepakatan merupakan peran utama yang harus dimainkan
oleh mediator.
Mediator sebagai pihak ketiga yang netral melayani
kepentingan para pihak yang bersengketa. Mediator harus
membangun interaksi dan komunikassi positif, sehingga ia mampu
menyelami kepentingan para pihak dan berusaha menawarkan
alternatif dalam pemenuhan kepentingan tersebut.71
Dalam memimpin pertemuan yang dihadiri kedua belah
pihak, mediator berperan mendampingi, mengarahkan dan membantu
para pihak untuk membuka komunikasi positif dua arah, karena
lewat komunikasi yang terbangun akan memudahkan proses mediasi
selanjutnya.
71
M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, VIII (Jakarta: Sinar Grafika, 2008). 247.
65
Dalam memandu proses komunikasi, mediator ikut
mengarahkan para pihak agar membicarakan secara bertahap upaya
yang mungkin ditempuh keduanya dalam rangka mengakhiri
sengketa. Ada beberapa peran mediator yang sering ditemukan ketika
proses mediasi berjalan. Peran tersebut antara lain:72
a. Menumbuhkan dan mempertahankan kepercayaan diri antara
para pihak.
b. Menerangkan proses dan mendidik para pihak dalam hal
komunikasi dan menguatkan suasana yang baik.
c. Membantu para pihak untuk menghadapi situasi atau
kenyataan.
d. Mengajar para pihak dalam proses dan keterampilan tawar-
menawar.
e. Membantu para pihak mengumpulkan informasi dan
menciptakan pilihan untuk memudahkan penyelesaian.
Peran hakim mediator akan terwujud apabila mediator
mempunyai sejumlah keahlian (skill). Keahlian ini diperoleh melalui
sejumlah pendidikan, pelatihan (training) dan sejumlah pengalaman
dalam menyelesaikan konflik atau sengketa.
Hakim mediator menampilkan peran yang terlemah bila
dalam proses mediasi, ia hanya melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan pertemuan
72
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
79.
66
b. Memimpin diskusi
c. Memelihara atau menjaga aturan agar prose perundingan
berlangsung secara baik
d. Mengendalikan emosi para pihak
e. Mendorong para pihak yang kurang mampu atau segan dalam
mengemukakan pandangannya.73
Sedangkan mediator yang menampilkan peran kuat, ketika
dalam proses mediasi ia mampu melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Mempersiapkan dan membuat notulen pertemuan.
b. Merumuskan titik temu atau kesepakatan dari para pihak.
c. Membantu para pihak agar menyadari bahwa sengketa
bukanlah sebuah pertarungan untuk dimenangkan, tetapi
sengketa harus diselesaikan.
d. Menyusun dan mengusulkan alternatif pemecah masalah.
e. Membujuk para pihak untuk menerima usulan tertentu dalam
rangka penyelesaian sengketa.74
Peran-peran tersebut di atas harus diketahui secara baik oleh
seseorang yang akan menjadi mediator dan hakim yang menjadi
mediator di Pengadilan Agama dalam penyelesaian sengketa. Hakim
mediator harus berupaya melakukan yang terbaik agar proses
mediasi berjalan maksimal sehingga para pihak merasa puas dengan
keputusan yang mereka buat atas bantuan hakim mediator.
73
H. Soeharto, Mediasi dan Perdamaian (Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2005). 18.
74
Ibid. 19.
67
5. Tipe-Tipe Mediator
Dalam menyelesaikan sengeketa atau konflik melalui mediasi
ada beberapa tipe mediator yang kita jumpai yaitu75:
a. Tipe Otoritatif. Tipe mediator seperti ini memilki kewenangan
yangbesar dalam mengontrol dan memimpin pertemuan
antarpihak. Mediator dengan tipe ini dapat menghentikan
pertemuan para pihak, jika ia merasa pertemuan tersebut tidak
efektif tanpa meminta pertimbangan para pihak. Mediator jenis
ini aktif menawarkan solusi kepada para pihak, di satu sisi para
pihak terlihat agak pasif dalam mengemukakan
persoalannyasehingga lebih bergantung pada mediator. Namun
tindakan mediator tipe ini sangat berpeluang untuk gagalnya
penyelesaian sengketa.
b. Tipe Mediator Autoritatif adalah tipe mediator yang bekerja di
instansi pemerintah. Mediator yang demikian sering kita
jumpai dalam kasus- kasus tanah, perburuhan dan pencemaran
lingkungan hidup, yang melibatkan masyarakat di satu sisi
dengan pengusaha di sisi lain. Tipe mediator ini selama
menjalankan perannya tidak menggunakan kewenangan atau
pengaruhnya. Hal ini didasarkan pandangan bahwa pemecahan
yang terbaik dalam sebuah kasus bukanlah ditentukan oleh
dirinya selaku pihak yang berpengaruh, melainkan harus
dihasilkan oleh upaya pihak-pihak yang bersengketa sendiri.
75
Rachmad Syafa‟at, Advokasi dan Pilihan Penyelesaian Sengketa (Malang: Agritek YPN, 2006).
37.
68
Tipe mediator Autoritatif ini terbagi dalam tiga macam
lagi yaitu76
1) Tipe Benovalent mempunyai ciri-ciri;
dapat memiliki atau tidak memiliki
hubungan dengan para pihak, mencari
penyelesaian yang baik bagi para
pihak, tidak berpihak dalam hal
subtantif, kemungkinan memiliki
sumber daya untuk membantu
pemantauan dan implemtasi
kesepakatan.
2) Tipe Managerial mempunyai ciri-ciri;
memiliki hubungan otoritatif dengan
para pihak sebelum dan sesudah
penyelesaian sengketa berakhir,
mencari penyelesaian yang diupayakan
bersama-sama dengan para pihak
dalam ruang lingkup kewenangannya,
berwenang untuk member nasihat dan
saran jika para pihak mencapai
kesepakatan
3) Tipe Vested Interst memiliki cirri;
memiliki kepentingan yang kuat
76
Suyud Margono, Alternative Dispute Resolution dan Arbitrase (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004).
61-62.
69
terhadap hasil akhir, mencari
penyelesaian yang dapat memenuhi
kepentingan mediator atau
kepentingan pihak yang disukai,
kemungkinan dapat menggunakan
tekanan agar para pihak mencapai
kesepkatan.
c. Tipe Mediator Independen. Mediator tipe ini tidak terikat
dengan lembaga social atau institusi apapun dalam
mey77elesaikan para pihak. Mediator jenis ini berasal dari
masyarakat yang dipilih oleh para pihak untuk meyelesaikan
sengketa mereka. Mediator jenis ini sengaja diminta oleh para
pihak, karena memilki kapasitas dan skill dalam penyelesaian
sengketa. Biasanya tipe mediator ini berasal dari tokoh
masyarakat, tokoh adat dan ulama yang cukup berpengalaman.
6. Kewenangan dan Tugas Mediator
Hakim mediator memiliki sejumlah kewenangan dan tugas
dalam menjalankan proses mediasi. Mediator dalam hukum Islam
memperoleh tugas dan kewenangan tersebut dari para pihak, dimana
mereka „mengizinkan dan setuju‟ adanya pihak ketiga
menyelesaikan sengketa mereka. Sedangkan Hakim mediator dalam
hukum positif di tunjuk oleh Pemerintah atau badan instalasi yang
terkait. Kewenangan dan tugas hakim mediator terfokus pada upaya
menjaga
77
Ibid. 62.
70
dan mempertahankan proses mediasi. Hakim mediator diberikan
kewenangan oleh para pihak melakukan tindakan dalam rangka
memastikan bahwa mediasi sudah berjalan sebagaimana mestinya.
Hakim mediator juga dibekali dengan sejumlah tugas yang harus
dilaksanakan mulai dari awal sampai akhir proses mediasi.78
a. Kewenangan hakim mediator terdiri atas:
1) Mengontrol proses dan menegaskan aturan dasar
Mediator berwenang mengontrol proses mediasi sejak
awal sampai akhir. Ia memfasilitasi pertemuan para pihak,
membantu para pihak melakuka negosiasi, membantu
membicarakan sejumlah kemungkinan untuk mewujudkan
kesepakatan dan membantu menawarkan sejumlah solusi
dalam penyelesaian sengketa. Pada dasarnya, mediator
hanyalah mendorong para pihak untuk lebih proaktif
memikirkan penyelesaian sengketa mereka. Mediator
mengawasi sejumlah kegiatan tersebut melalui penegakkan
aturan mediasi yang telah disepakati bersama. Ia memiliki
kewenangan mengajak para pihak melanggar kesepakatan
sebelumnya. Misalnya, pada tahap pertemuan pertama
disepakati bahwa para pihak tidak akan melakukan interupsi
(menyela), ketika salah satu pihak melakukan presentasi. Jika
dalam pelaksanaan ditemukan salah satu pihak melakukan
interupsi (menyela), maka mediator berwenang menegaskan
78
A. Rahmat Rosyadi dan Ngatino, Arbitrase dalam Perspektif Islam dan Hukum Positif (Jakarta:
Citra Aditya Bakti, 2002). 82.
71
aturan tersebut. Demikian pula jika para pihak sudah terlalu
jauh melakukan pembicaraan, sehingga melenceng dari
kesepakatan-kesepakatan awal, maka mediator berwenang
mengarahkan dan mengembalikan pembicaraan para pihak
pada ketentuan yang telah disepakati sebelumnya,. Mediator
harus cermat mengawasi langkah kegiatan para pihak, dan
berusaha maksimal menegakkan aturan mediasi yang telah
disepakati bersama. Kewenangan mediator mengontrol dan
menjaga tegaknya aturan, akan membuat mediasi lebih efektif
dan efesien dalam mencapai sasaran penyelesaian sengketa.79
2) Mempertahankan struktur dan momentum dalam
negosiasi.
Mediator berwenang menjaga dan mempertahankan
struktur dan momentum dalam negosiasi. Esensi mediasi
terletak pada negosiasi, dimana para pihak diberikan
kesempatan melakukan pembicaraan dan tawar-menawar
dalam menyelesaikan sengketa. Mediator menjaga dan
mempertahankan struktur negosiasi yang dibangun tersebut.
Mediator selalu mendampingi para pihak, agar dalam
pembicaran dan negosiasi mereka tidak keluar dari struktur.
3) Mengakhiri proses bilamana mediasi tidak
produktif lagi.
Dalam proses mediasi sering ditemukan para pihak
79
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
83.
72
sangat sulit berdiskusi secara terbuka. Mereka
mempertahankan prinsip secara ketat dan kaku, terutama pada
saat negosiasi. Ketika mediator melihat para pihak tidak
mungkin lagi diajak kompromi dalam negosiasi, maka
mediator berwenang menghentikan proses mediasi. Mediator
dapat menghentikan proses mediasi. Mediator dapat
menghentikan proses mediasi untuk sementara waktu atau
penghentian untuk selamanya (mediasi gagal). Ada dua
pertimbangan penghentian mediasi yang dilakukan oleh
mediator.80 Pertama, ia menghentikan proses mediasi untuk
sementara waktu, guna memberikan kesempatan kepada para
pihak memikirkan kembali tawar-menawar kepentingan dalam
penyelesaian sengketa. Kedua, mediator menghentikan proses
mediasi dengan pertimbangan hampir dapat dipastikan tidak
ada celah yang mungkin dimasuki untuk diajak negosiasi dari
kedua belah pihak. Para pihak sudah menegaskan prinsip dan
tuntunan masing- masing secara emosional, sehingga bila
proses mediasi dilanjutkan dapat diprediksi akan tetap tidak
efektif, menghabiskan waktu yang tidak bermanfaat dan pada
akhirnya akan menuai kegagalan.
b. Tugas seorang mediator adalah: 81
1) Melakukan diagnosis konflik.
Tugas pertama yang dilakukan mediator adalah
80
Ibid. 84.
81
Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam di Indonesia Tinjauan dari Aspek Metodologi Legalisasi
dan Yurisprudensi (Jakarta: Rajawali Press, 2007). 300-301.
73
mendiagnosis konflik atau sengketa. Mediator dapat
mendiagnosis sengketa sejak pramediasi yang bertujuan untuk
mengetahui bentuk-bentuk persengketaan, latar belakang
penyebabnya dan akibat dari persengketaan bagi para pihak.
Atas dasar diagnosis sengketa, mediator dapat menyusun
langkah negosiasi, mencari alternatif solusi, mempersiapkan
pilihan yang mungkin ditawarkan kepada kedua belah pihak
dalam penyelesaian sengketa.
2) Mengidentifikasikan masalah serta kepentingan-
kepentingan kritis para pihak.
Mediator mengarahkan para pihak untuk
menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka dalam
persengketaan tersebut. Dalam prakteknya para pihak tidak
menyampaikan secara sistematis dan runtut pokok sengketa
dan kepentingan masing-masing. Mediator bertugas
mengidentifikasikan dan menyusun secara sistematis pokok
persengketaan dan kepentingan para pihak. Identifikasi dan
sistematika ini sangat penting untuk menjadi pedoman para
pihak dalam proses mediasi. 82
3) Menyusun agenda.
Agenda mediasi memuat sejumlah hal-hal antara lain:
waktu mediassi, para pihak yang hadir, mediator, metode
negosiasi, persoalan pokok yang dipersengketakan.
82
Buku Komentar Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2008 (Jakarta: JICA dan IICT,
2008). 40.
74
4) Memperlancar dan mengendalikan komunikasi.
Mediator bertugas membantu para pihak untuk
memudahkan komunikasi mereka karena dalam praktik banyak
ditemukan para pihak malu dan segan dalam mengungkapkan
persoalan dan kepentingan mereka. Sebaliknya tidak sedikit
juga para pihak terlalu berani dalam menyampaikan pokok
sengketa dan tuntutannya, sehingga kadang-kadang
menyinggung pihak lain. Dan ini tentu saja akan menghambat
proses mediasi, disinilah mediator harus mampu
mengendalikan kemunikasi para pihak.
5) Menyusun dan merangkai.
Mediator harus menyusun dan merangkai kembali
tuntutan para pihak, menjadi kepentingan sesungguhnya dari
para pihak.
6) Mengubah pandangan.
Mediator bertugas mengubah pandangan egosentris
masing- masing pihak menjadi pandangan yang mewakili
semua pihak. Mediator secara arif meyakinkan para pihak
untuk saling memahami posisi pihak lain, sehingga pandangan
mereka dapat didekatkan dnegan meninggalkan egonya
masing-masing. 83
7) Memasukkan kepentingan kedua belah pihak.
Mediator harus bisa menimbang dan memasukkan
83
Buku Komentar Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2008 (Jakarta: JICA dan IICT,
2008). 40.
75
kepentingan kedua belah pihak secara merata dalam hal
pendefinisian masalah.
8) Menggunakan dan menyusun bahasa dengan bagus.
Mediator bertugas menyusun proposisi mengenai
masalah para pihak dalam bahasa dan kalimat yang tidak
menonjolkan unsur emosional.84
9) Menjaga pernyataan para pihak.
Mediator bertugas menjaga pernyataan para pihak agar
tetap berada dalam kepentingan yang sesungguhnya dan tidak
berubah menjadi suatu tuntutan yang kaku, sehingga
pembahasan dan negosiasi dapat dilakukan.
7. Ciri-Ciri Profesionalitas Mediator
Dari syarat-syarat hakim mediator yang disebutkan diatas tadi
ialah hakim mediator harus berasal dari kalangan profesional, maka
di sini akan diterangkan tentang ciri-ciri profesionalitas hakim
mediator antara lain yaitu menguasai hukum formil, hukum materil,
ahli di bidang psikologi, dan mempunyai sertifikat hakim mediator,
yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Menguasai hukum formil
Menguasai hukum formil adalah menguasai teori-teori
tentang hukum perdata, literatur atau buku-buku tentang mediasi,
serta undang- undang tentang hakim mediator yang berlaku.
Dengan menguasai hukum formil maka akan mempermudah
84
Ibid. 40.
76
hakim dalam menjalankan tugasnya sebagai mediator, dan
jugamempermudah hakim mediator ketika berijtihad, dengan
menggunakan teori-teori yang ada serta acuan hukum dalam
undang-undang yang berlaku.85
b. Menguasai hukum materil
Menguasai hukum secara materil berarti hakim terampil
dalam melaksanakan hukum acara sedemikian rupa, baik dalam
menghadapi orang yang sudah faham dan biasa beracara seperti
advokat, maupun mereka yang buta hukum seperti rakyat jelata.
Begitupun dalam mencari kebenaran materil, hakim profesional
yang terampil dan handal dalam mencari dan menggali fakta di
persidangan. Selanjutnya Pamuji mengartikan orang yang
profesional memiliki atau dianggap memiliki keahlian, akan
melakukan kegiatan-kegiatan diantaranya pelayanan publik
dengan mempergunakan keahliannya itu sehingga menghasilkan
pelayanan publik yang lebih baik mutunya, lebih cepat prosesnya,
mungkin lebih bervariasi yang kesemuanya mendatangkan
kepuasan pada masyarakat.
c. Mempunyai keahlian di bidang psikologi
Keahlian di bidang psikologi, hakim mediator harus bisa
mengetahui situasi dan kondisi para pihak yang berperkara, harus
bisa memahami situasi dan kondisi para pihak yang berperkara,
harus bisa memahami posisi diantara kedua belah pihak dan tidak
85
Ibn Manzur, Lisan al-Arab (Beirut: Dar al-Shadir, t.t.). 133.
77
menunjukkan pembelaan salah satu dari kedua belah pihak, agar
tidak timbul sifat iri dan muncul ketidakadilan. 86 Mediator wajib
memelihara dan mempertahankan ketidakberpihakannya, baik
dalam wujud kata, sikap, dan tingkah laku terhadap para pihak
yang terlibat sengketa. Mediator dilarang memengaruhi atau
mengarahkan para pihak untuk menghasilkan syarat-syarat atau
klausula-klausula penyelesaian sebuah sengketa yang dapat
memberikan keuntungan pribadi bagi mediator. Dalam
menjalankan fungsinya, mediator harus beriktikad baik, tidak
berpihak dan tidak mempunyai kepentingan pribadi serta tidak
mengorbankan kepentingan para pihak.
Mediasi juga harus didukung oleh kultur budaya
masyarakat untuk menyelesaikan sengketa, disinilah pentingnya
peran hakim mediator memahamkan masyarakat tentang hukum.
Oleh karena itu, hakim mediator harus tanggap dan berkompeten
dalam menyikapi dan memberikan solusi kepada para pihak
sehingga para pihak bisa menerima solusi yang diberikan.
8. Teknik Mediasi
Dalam kaitannya dengan teknik mediasi ada beberapa hal
yang perlu mendapat perhatian dari seorang hakim mediator agar
proses mediasi dapat berjalan lancar dan memperoleh hasil yang
maksimal. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah bahwa seorang
86
Ibid. 41.
78
hakim mediator perlu untuk bersikap SOLER 87 dalam melakukan
praktek mediasi. yang dimaksud dengan ungkapan SOLER di sini
adalah:
a. S (Squarely). Seorang mediator ketika sedang duduk dan
berbicara dengan pihak yang bertikai (disputans), janganlah
sambil berdiri, tetapi sebaiknya tetaplah dalam posisi duduk
agar bisa berhadapan langsung dengan pihak yang berkonflik
ketika mereka sedang berbicara.
b. O (Open stance). Agar selalu terlihat memperhatikan kepada
pihak yang bertikai (disputants) dan tidak menunjukkan sikap
acuh, sebaiknya hakim mediator jangan pernah menyilangkan
tangannya di dada, tetapi lebih baik tetap di bawah.
c. L (Lean forward). Ketika sedang bicara dengan pihak yang
bertikai (disputans), hakim mediator sebaiknya sedikit
membungkukkan badannya kearah pembicara agar terlihat
bahwa hakim mediator memberikan perhatian penuh.
d. E (Eye contact). Dalam melakukan tugasnya mediator harus
melakukan kontak mata dengan pihak yang bertikai
(disputants). Hal ini penting sebagai bagian dari bahsa tubuh,
sebagai tanda bahwa hakim mediator memperhatikan
pembicaraan mereka.
e. R (Relax). Hakim mediator harus senantiasa bersikap rileks
dan santai serta tidak perlu tegang sehingga akan
87
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
41.
79
memudahkan komunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai.88
Selain bersikap SOLER seorang hakim mediator perlu
memperhatikan beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan
ketika menjalankan proses mediasi. langkah-langkah tersebut biasa
digambarkan secara berurutan sebagai berikut: (a) perkenalan, (b)
penuturan cerita, (c) mengklarifikasi permasalahan dan kebutuhan,
(d) menyelesaikan masalah, (e) merancang kesepakatan.
D. Konsep Keberhasilan Mediasi
Mediasi merupakan tata cara berdasarkan iktikad baik dimana
para pihak yang bersengketa menyampaikan pokok persoalannya melalui
jalurnya sendiri dengan cara bagaimana sengketa akan diselesaikan
melalui jalur mediator, karena mereka sendiri tidak mampu
melakukannya.89
Oleh karena itu, keberhasilan mediasi bisa dipengaruhi oleh
beberapa hal, seperti kualitas mediator (training dan profesionalisme),
usaha-usaha kepercayaan dari kedua pihak yang sedang bertikai, serta
kepercayaan dari kedua pihak terhadap proses mediasi, kepercayaan
terhadap mediator, kepercayaan terhadap masing-masing pihak. Seorang
mediator yang baik dalam melakukan tugasnya akan merasa sangat
senang untuk membantu orang lain mengatasi masalah mereka sendiri, ia
akan bertindak netral seperti ayah yang penuh kasih, meningkatkan
88
Ibid. 41.
89
Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS), 2 (Jakarta: PT.
Fikahati Aneska bekerjasama dengan BANI, 2011). 35.
80
kualitas pengambilan keputusan, mempunyai metode yang harmonis,
mempunyai kemampuan dan sikap, memiliki integritas dalam
menjalankan proses mediasi serta dapat dipercaya dan berorientasi pada
pelayanan.90
Peran mediator pada proses mediasi sangat penting karena akan
menentukan keberhasilan atau kegagalan untuk memperoleh kesepakatan
para pihak yang berperkara. Seorang mediator dituntut harus menguasai
perannya sebagai mediator.
Implementasi mediasi di peradilan menunjukkan bahwa PERMA
mediasi sangat penting dalam upaya menyelesaikan sengketa (bukan
memutus perkara). Harapan PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur
Mediasi di Pengadilan setidaknya meliputi empat keinginan, yaitu91:
1. Mediasi proses penyelesaian sengketa diharapkan lebih cepat
dan murah sesuai dengan harapan para pihak yang bersengketa.
2. Mediasi lebih memberikan peluang kepada para pihak yang
bersengketa untuk turut serta dalam menemukan penyelesaian
yang memuaskan para pihak.
3. Mediasi diharapkan dapat mengurangi penumpukan perkara di
pengadilan.
4. Mediasi akan memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga
pengadilan dalam menyelesaikan sengketa secara non ajudikatif.
90
M. Mukhsin Jamil, Mengelola Konflik Membangun Damai (Semarang: Walisongo Mediation
Centre (WMC), 2007). 107.
91
Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS). 36.
81
Integrasi mediasi dalam perkara perceraian merupakan kajian
yang cukup menarik karena dominasi perkara di pengadilan agama,
memiliki peringkat tertinggi. Fenomena ini hampir terjadi di seluruh
pengadilan agama di Indonesia. Pengadilan Agama harus melaksanakan
mediasi sesuai dengan PERMA No. 1 Tahun 2016. Perkara perceraian
merupakan perkara perdata yang harus diselesaikan melalui mediasi
terlebih dahulu. Putusan pengadilan yang tidak melalui jalur mediasi
terlebih dahulu, maka putusannya dianggap batal demi hukum.
Mediasi dalam perkara perceraian ini, ada beberapa kemungkinan
yang akan terjadi, seperti;92
1. Salah satu dari pihak tidak menghadiri persidangan,sehingga
mediasi tidak bisa untuk dilaksanakan, oleh karenanya, hakim
dapat memutus perkara secara verstek.
2. Mediator berhasil mendamaikan Penggugat dan Tergugat
(mereka tidak jadi bercerai), maka pencabutan perkara dengan
produk hakim berupa Penetapan.
3. Mediator berhasil mendamaikan Penggugat dengan Tergugat
yang hasil perdamaiannya mereka akan bercerai secara baik-
baik. Ini berarti mediasi gagal dan persidangan pemeriksaan
perkara dilanjutkan pada pemeriksaan pokok perkara.
Kelima faktor keberhasilan mediasi dijadikan sebagai alat ukur
efektivitas atau tidaknya mediasi.93
92
Febri Handayani, “Implementasi Mediasi dalam Penyelesaian Perkara Perceraian di Pengadilan
Agama,” Jurnal t.t., 24. 241-245.
93
Farhan Asyhadi, “Efektivitas Mediasi Dalam Perkara Perceraian Di Pengadilan Agama
82
1. Tinjauan Yuridis PERMA No. 1 Tahun 2016.
PERMA No. 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di
Pengadilan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
efektivitas pelaksanaan mediasi di Pengadilan. Dengan
ditetapkannya PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur
Mediasi di Pengadilan, telah terjadi perubahan fundamental
dalam praktek peradilan di Indonesia.
Dengan Perma No.1 Tahun 2016 ini, mediasi wajib
ditempuh sebagai salah satu tahapan dalam proses berperkara
dilingkungan peradilan umum dan peradilan agama. Sanksi
hukumnya adalah pemeriksaan demi hukum atau Nietigbaar ,
artinya dianggap tidak pernah ada pemeriksaan dan putusan
perkara. PERMA No. 1 Tahun 2016 memiliki kekuatan hukum
yang mengikat dan ada daya paksa bagi masyarakat.
2. Kualifikasi Mediator
Keberhasilan mediasi juga bisa di lihat dari efektivitas
pelaksanaan mediasi yang bertumpu pada profesionalitas
hakim mediator dalam melaksanakan proses mediasi (keahlian
di bidang hukum formil dan materiil, dan juga keahlian di
bidang psikologis), hakim mediator harus bersertifikat, adanya
substansi hukum atau peraturan yang jelas dan terperinci untuk
mengupayakan damai dengan sungguh-sungguh.94
Karawang” (Jurnal, Universitas Buana Perjuangan Karawang, 2019). 37-46.
94
Ibid. 45.
83
3. Fasilitas dan Sarana
Ketersediaan sarana/fasilitas mediasi juga menjadi faktor
yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan mediasi.
Pengadilan Agama Karawang telah menyediakan ruang khusus
mediasi. Mediasi perkara dapat dilakukan di ruang mediasi
pengadilan maupun di tempat lain diluar pengadilan sesuai
kesepakatan para pihak. Apabila proses mediasi menggunakan
mediator hakim atau pegawai pengadilan, maka mediasi wajib
dilakukan di pengadilan dan tidak dikenakan biaya.
4. Kepatuhan Masyarakat
Mengenai kepatuhan masyarakat mengenai perilaku dan
sikap para pihak selama proses mediasi, yakni seringkali salah
satu atau kedua pihak merasa paling benar (egois), sebelum
para pihak memasuki pemeriksaan perkara sering kali mereka
sudah bersepakat untuk bercerai.95
5. Kebudayaan
Faktor budaya masyarakat juga menjadi faktor yang
mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan mediasi. Proses
mediasi secara kultural dan alami tersebut dibantu oleh tokoh
masyarakat dan tokoh agama. Adanya budaya tersebut maka
mediasi yang dipandu oleh mediator di pengadilan juga akan
sangat potensial mencapai kesepakatan damai.
95
Ibid. 46.