0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan65 halaman

Esensi Solusi Perceraian dalam Hukum

Dokumen ini membahas konsep perceraian dalam hukum Islam dan hukum positif, menjelaskan pengertian talak dan khulu' serta dasar hukum perceraian. Dalam hukum Islam, perceraian dilarang dan dianggap sebagai perbuatan yang tidak disukai, sementara dalam hukum positif, perceraian adalah pembubaran perkawinan yang diatur oleh keputusan hakim. Penjelasan ini mencakup berbagai definisi dan pandangan dari para ahli serta ayat-ayat Al-Qur'an yang relevan.

Diunggah oleh

malimaksum1234
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan65 halaman

Esensi Solusi Perceraian dalam Hukum

Dokumen ini membahas konsep perceraian dalam hukum Islam dan hukum positif, menjelaskan pengertian talak dan khulu' serta dasar hukum perceraian. Dalam hukum Islam, perceraian dilarang dan dianggap sebagai perbuatan yang tidak disukai, sementara dalam hukum positif, perceraian adalah pembubaran perkawinan yang diatur oleh keputusan hakim. Penjelasan ini mencakup berbagai definisi dan pandangan dari para ahli serta ayat-ayat Al-Qur'an yang relevan.

Diunggah oleh

malimaksum1234
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Perceraian dalam Hukum Islam dan Hukum Positif

1. Pengertian Percerian

a. Pengertian Perceraian dalam Hukum Islam

Talak secara bahasa berasal dari kata ithlaq artinya

melepaskan, atau meninggalkan. Sedangkan menurut istilah syara’,

talak yaitu melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami

istri.1

Al-Jaziry mendefinisikan Talak ialah menghilangkan ikatan

perkawinan atau mengurangi pelepasan ikatannya dengan

menggunakan kata-kata tertentu.2 Adapun menurut Abu Zakariya Al-

Anshari, talak ialah melepas tali akad nikah dengan kata talak dan

yang semacamnya.3

Jadi talak ialah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga

setelah hilangnya ikatan perkawinan itu istri tidak halal bagi

suaminya (talak ba‟in), sedangkan arti mengurangi pelepasan ikatan

perkawinan ialah berkurangnya hak talak bagi suami yang

mengakibatkan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami

dari tiga menjadi dua, dari dua menjadi satu, dan dari satu menjadi

menjadi hilang hak talaknya, yaitu terjadi dalam talak raj’i.4

1
Abdul Rahman Al-Ghazali, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana, 2008). 192.
2
Ibid. 192.
3
Abi Yahya Zakariya al-Anshori, Fath al-Wahhab, Juz II (Semarang: Toha Putra, t.t.). 72.
4
Al-Ghazali, Fiqh Munakahat...192.

19
20

Adapun Khulu‟ menurut bahasa, kata khulu‟ dibaca

dhammah huruf kha yang bertitik dan sukun lam dari kata khila‟

dengan dibaca fathah artinya naza‟ (mencabut), karena masing-

masing dari suami istri mencabut pakaian yang lain.

Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur‟an surat al-Baqarah

ayat 229:

‫ٱلَّطاَل ُق َمَّر َتاِن َفِإْمَس اٌك ِبَِْعُر وٍف َأْو َتْس ِريٌح ِبِإْحَس اٍن َواَل َِيَُّل َلُكْم َأن‬
‫َأ‬ ‫َأ‬ ‫ْأ‬
‫ْيُتُموُهَّن َش ْيئًا ِإاَّل ن َيََاَفآ اَّل ُيِقيَما ُحُدوَد ٱَّلَِّل َفِإْن‬. ‫َت ُخُذوْا ِمَِّآ آَت‬
‫َتَدْت ِبِه ِتْلَك‬. ‫ِخْفُتْم َأاَّل ُيِقيَما ُحُدوَد ٱَّلَِّل َفاَل ُجَناَح َعَلْيِهَما ِفيَما ٱْف‬
‫ُأ‬
‫ِئَك ُهُم‬. ‫َعَّد ُحُدوَد ٱَّلَِّل َف ْوَٰل‬. ‫َت‬.‫ْعَتُدوَها َوَمن َي‬. ‫ُحُدوُد ٱَّلَِّل َفاَل َت‬
﴾٢٢٢﴿ ‫ٱلَّظاِلُموَن‬

Artinya: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu


boleh rujuk lagi dengan cara yang ma‟ruf atau menceraikan
dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali
sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali
kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-
hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri)
tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada
dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri
untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, Maka
janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar
hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim”.5

Ayat yang mulia ini mengangkat nasib kaum wanita dari

apa yang berlaku pada masa permulaan Islam. Yaitu seorang

lelaki lebih berhak merujuk istrinya, sekalipun ia

menceraikannya sebanyak seratus kali talak, selagi si istri masih

dalam masa idahnya. Mengingat hal tersebut merugikan pihak

wanita, maka Allah membatasinya hanya sampai tiga kali talak,

5
Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Quran Departemen Agama Republik
Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Syamil Quran, 2009). 29.
21

dan memperbolehkan rujuk pada talak pertama dan kedua,

memisahkannya secara keseluruhan pada talak yang ketiga

kalinya. Imam Abu Daud di dalam kitab Sunnan-nya

mengatakan, yaitu dalam Bab "Nasakh Rujuk Sesudah Talak

Tiga Kali", telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu

Muhammad Al-Marwazi, telah menceritakan kepadaku Ali ibnul

Husain ibnu Waqid, dari ayahnya, dari Yazid ibnun Nahwi, dari

Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-

Nya: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri

(menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan

apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya. (Al-Baqarah: 228),

hingga akhir ayat. Demikian itu bila ada seorang lelaki menalak

istrinya, maka dialah yang lebih berhak merujukinya, sekalipun

dia telah menceraikannya sebanyak tiga kali. Maka ketentuan

tersebut di-mansukh oleh firman-Nya:Talak (yang dapat

dirujuki) dua kali. (Al-Baqarah: 229), hingga akhir ayat.6

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Nasai, dari

Zakaria ibnu Yahya, dari Ishaq ibnu Ibrahim, dari Ali ibnul

Husain dengan lafaz yang sama. Ibnu Abu Hatim mengatakan,

telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ishaq, telah

menceritakan kepada kami Abdah (yakni Ibnu Sulaiman), dari

Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, bahwa ada seorang lelaki

berkata kepada istrinya, "Aku tidak akan menceraikanmu selama-

6
Michael Elkan, “Tafsir Ibnu Katsir (Terjemah Al Qur‟an, Tafsir Al Qur‟an, Ilmu Al Qur‟an,
Software Al Qur‟an, Ebook Al Qur‟an, Tilawah Al Qur‟an, Murattal Al Qur‟an).”
22

lamanya, dan tidak akan pula memberimu tempat selama-

lamanya." Si istri bertanya, "Bagaimana caranya bisa demikian?"

Lelaki (si suami) menjawab, "Aku akan menceraikanmu; dan

apabila masa idahmu akan habis, maka aku merujukmu kembali."

Lalu si istri datang kepada Rasulullah Saw. dan menceritakan

kepadanya hal tersebut. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. (Al-Baqarah 229).

Demikian pula apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di dalam

kitab tafsirnya melalui jalur Jarir ibnu Abdul Hamid dan Ibnu

Idris. ( Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri

Ad-Dimasyqi)7

Menurut para fuqaha, khulu’ kadang dimaksudkan makna

yang umum, yakni perceraian dengan di sertai sejumlah harta

sebagai iwadh yang diberikan oleh istri kepada suami untuk

menebus diri agar terlepas dari ikatan perkawinan, baik dengan

kata khulu’, mubara`ah maupun talak. Kadang dimaksudkan

makna yang khusus, yaitu talak atas dasar iwadh sebagai tebusan

dari istri dengan kata-kata khulu’ (pelepasan) atau yang semakna

seperti mubara`ah (pembebasan).8

7
Ibid.
8
Al-Ghazali, Fiqh Munakahat...220.
23

b. Pengertian Percerian dalam Hukum Positif

Perceraian berasal dari kata cerai, yang berarti pisah,

putus hubungan sebagai suami istri dan talak, sedangkan kata

talak sama dengan cerai, kata menalak berarti menceraikan.9

Sedangkan dalam ensiklopedi nasional Indonesia,

perceraian adalah peristiwa putusnya hubungan suami isteri yang

diatur menurut tata cara yang dilembagakan untuk mengatur hal

itu. Dengan pengertian ini berarti kata talak sama artinya dengan

cerai atau menceraikan.10

Menurut R. Subekti, Perceraian adalah penghapusan

perkawinan dengan putusan hakim atas tuntutan salah satu pihak

dalam perkawinan, kemudian Ali Afandi, mengatakan pula

bahwa perceraian adalah salah satu sebab bubarnya perkawinan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa perceraian adalah

pembubaran suatu perkawinan ketika pihak-pihak masih hidup

dengan didasarkan pada alasan-alasan yang dapat dibenarkan

serta ditetapkan dengan suatu keputusan hakim. Maka dengan

adanya perceraian ini perkawinan mereka pun putus dan diantara

mereka tidak lagi ada hubungan suami istri, akibat Iogisnya

mereka dibebaskan dari segala kewajiban- kewajiban mereka

sebagai suami istri.

9
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, “Kamus Besar Bahasa Indonesia,” 3 (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005). 208.
10
Adibul Farah, “Kawin Paksa Sebagai Alasan Perceraian (Studi Atas Putusan Pengadilan Agama
Kendal No. 0044/Pdt. G/ 2006/ PA. Kdl)” (Skripsi, Semarang, IAIN Walisongo, 2008). 35.
24

2. Dasar Hukum Perceraian

a. Dasar Hukum Perceraian dalam Hukum Islam

Perceraian dalam Islam pada prinsipnya dilarang,

meskipun tidak ada ayat Al-Quran yang melarang perceraian

yang mengandung arti hukumnya mubah atau boleh, namun

perceraian termasuk perbuatan yang tidak di senangi Nabi.

Rasulullah menyatakan bahwa talak atau perceraian adalah

perbuatan halal yang paling di benci Allah.11

Sebagaimana firman Allah dalam surat ath-Thalaq ayat 1:

‫ٱْلِعَّدَة‬ ‫َها ٱلَّنُِِّب ِإَذا َطَّلْقُتُم ٱلِّنَس آَء َفَطِّلُقوُهَّن ِلِعَّدِت َوَأْحُصوْا‬.‫ٰيأُّي‬
‫َِِّن‬
‫ُُيوِت َواَل َيَُْر ْجَن ِإاَّل َأن َيْأِتَين‬.‫ُقوْا ٱَّلََّل َر َّبُكْم اَل ُتُِْر ُجوُهَّن ِمن ب‬. ‫َوٱَّت‬
‫َِِّن‬
‫ ْد‬. ‫َعَّد ُحُدوَد ٱ َِّل َف‬. ‫َت‬.‫ِّيَنٍة َوِتْلَك ُحُدوُد ٱَّلَِّل َوَمن َي‬. ‫ِبَفاِحَش ٍة ُّمَب‬
‫َق‬ ‫َّل‬
‫ْفَسُه اَل‬. ‫َظَلَم َن‬
﴾١﴿‫ْعَد ٰذِلَك َأْمرًا‬. ‫َتْدِرى َلَعَّل ٱَّلََّل ُيَِْدُث َب‬
Artinya: “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-
isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu
mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah
waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.
Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan
janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka
mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum
Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah,
maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya
sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan
sesudah itu sesuatu hal yang baru.”12

Al-A'masy telah meriwayatkan dari Malik ibnul Haris,

dari Abdur Rahman ibnu Zaid, dari Abdullah sehubungan dengan

makna firman-Nya: maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada

11
Nizam, “Hukum Keluarga dalam Syariat Islam” (thesis, Universitas Diponegoro Semarang,
2015). 13.
12
Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Qur‟an Departemen Agama Republik
Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya. 36.
25

waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar). Makna

yang dimaksud ialah dalam keadaan suci tanpa disetubuhi. Telah

diriwayatkan pula hal yang semisal dari Ibnu Umar, Ata,

Mujahid, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Qatadah, Maimun ibnu Mahran,

dan Muqatil ibnu Hayyan. Ini merupakan riwayat yang

bersumber dari Ikrimah dan Ad-Dahhak. Ali ibnu Abu Talhah

telah meriwayatkan sehubungan dengan makna firman-Nya:

maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka

dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar).

Seseorang tidak boleh menceraikan istrinya yang dalam

keadaan haid; tidak boleh pula dalam keadaan suci, sedangkan

dia telah menyetubuhinya. Tetapi hendaknya dia membiarkannya

hingga berhaid lagi, lalu bersuci, kemudian ia baru boleh

menjatuhkan talaknya sekali. Bahwa yang dimaksud dengan idah

ialah saat suci dan saat haid.

Seseorang tidak di perbolehkan menceraikan istrinya

dalam keadaan hamil lagi positif kehamilannya.13 Dan ia tidak

boleh menceraikannya, sedangkan ia telah menyetubuhinya dan

tidak diketahui apakah istrinya dalam keadaan hamil atau tidak.

Berangkat dari pengertian ini, para ulama fiqih menyusun

hukum-hukum talak dan mereka membaginya menjadi talak

sunnah dan talak bid'ah.

13
Michael Elkan, “Tafsir Ibnu Katsir (Terjemah Al Qur‟an, Tafsir Al Qur‟an, Ilmu Al Qur‟an,
Software Al Qur‟an, Ebook Al Qur‟an, Tilawah Al Qur‟an, Murattal Al Qur‟an).”
26

Talak sunnah ialah bila seseorang menceraikan istrinya

dalam keadaan suci tanpa menyetubuhinya atau dalam keadaan

hamil yang telah jelas kehamilannya. Dan talak bid'ah ialah bila

seseorang menceraikan istrinya dalam keadaan berhaid atau

dalam keadaan suci, sedangkan dia telah menyetubuhinya di

masa sucinya itu, dan tidak diketahui apakah istrinya telah hamil

atau tidak.

Talak yang ketiga ialah talak yang bukan sunnah dan

bukan pula bid'ah, yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istri yang

masih belum balig, wanita yang tidak berhaid, dan wanita (istri)

yang belum disetubuhi. Penjelasan mengenai hal ini secara rinci

berikut semua cabang yang berkaitan dengannya di sebutkan di

dalam kitab-kitab fiqih; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

( Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al- Bashri Ad-

Dimasyqi)14

Adapun dasar hukum dari hadis yaitu bahwa istri Tsabit

bin Qais bin Syammas datang menghadap Rasulullah SAW.

mengadukan perihal dirinya sehubungan dengan suaminya,

sebagai berikut:

14
Ibid.
27

Artinya: “Istri Tsabit bin Qais bin Syammas datang kepada


Rasulullah SAW. sambil berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak
mencela akhlak dan agamanya, tetapi aku tidak ingin mengingkari
ajaran Islam. Maka jawab Rasulullah SAW. : Maukah kamu
mengembalikan kebunnya (Tsabit)? Jawabnya: Mau. Maka Rasulullah
SAW bersabda: Terimalah (Tsabit) kebun itu dan talaklah ia dengan
talak satu”.15

Hadits ini dikutip dari Kitab Irwa‟ul Ghalil no 2036 yang

merupakan syarah Shahih al-Bukhari (IX/395, no. 5276 ) Kitab

at-Thalaq bab Khulu.

Oleh karena itu, jika pasangan suami istri saling

berselisih, di mana si istri tidak mau memberikan hak suaminya

dan ia sangat membencinya, serta tidak sanggup hidup berumah

tangga dengannya, maka ia harus memberikan tebusan kepada

suaminya atas apa yang pernah diberikan suaminya. Dan tidak

ada dosa pula baginya untuk mengeluarkan tebusan itu kepada

suaminya, dan tidak ada dosa pula bagi suaminya atas tebusan

yang diterimanya.54 Akan tetapi jika tidak ada alasan apapun bagi

si istri untuk meminta cerai, lalu ia meminta tebusan dari

suaminya, maka mengenai hal ini Ibnu Jarir telah meriwayatkan

dari Tsauban bahwa Rasulullah bersabda:

15
Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim, bin Mughiroh bin Bardizbah, Sohih Bukhori,
Juz VI (Semarang: Toha Putra, t.t.). 170.
28

Artinya: “Rasulullah SAW. bersabda: Siapa saja


perempuan yang meminta cerai kepada suaminya tanpa ada sebab
yang mendesak, maka haram baginya bau surga. (H.R. Ahmad,
Abu Daud, Al-Turmudzi dan Ibnu Majah).”16

Hadits ini dikutip dari Kitab Irwa‟ul Ghalil no 2035 yang

merupakan syarah Kitab al-Sunah Sunan Abi Dawud (VI/308,

no. 2209) Kitab at-Thalaq bab Khulu.

b. Dasar Hukum Perceraian dalam Hukum Positif

Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Bab

XVI tentang Putusnya Perkawinan17

1) Pasal 115: Perceraian hanya dapat dilakukan di depan

Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut

berusaha mendamaikan kedua belah pihak.

2) Pasal 131 ayat (2): Setelah Pengadilan Agama tidak berhasil

menasehati kedua belah pihak dan ternyata cukup alasan untuk

menjatuhkan talak serta yang bersangkutan tidak mungkin lagi

hidup rukun dalam rumah tangga Pengailan Agama

menjatuhkan keputusannya tentang izin bagi suami untuk

mengikrarkan talak.

16
Abi Daud Sulaiman Al-Asyats, Sunan Abi Daud, Juz II (Beirut- Libanon: Dar al-Kitab al-
Ilmiyah, 1996). 134.
17
Abdurrahman Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia (Jakarta: CV Akademika
Presindo, 1995). 57.
29

3) Pasal 143 ayat (1): Dalam pemeriksaan gugatan perceraian

Hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Ayat (2):

Selama perkara belum diputuskan usaha mendamaikan

dapat dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan.

4) Pasal 144: apabila terjadi perdamaian, maka tidak dapat

diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan atau

alasan-alasan yang ada sebelum perdamaian dan telah

diketahui oleh penggugat pada waktu dicapainya

perdamaian.

UU No. 1 tahun 1974 Pasal 39 Bab VIII tentang putusnya

perkawinan serta akibatnya, yang berbunyi: Perceraian hanya

dapat dilakukan didepan sidang Pengadilan setelah Pengadilan

yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan

kedua belah pihak.18

UU No. 7 tahun 1989 pasal 65 tentang pemeriksaan

sengketa perkawinan, yang berbunyi: Perceraian hanya dapat

dilakukan didepan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang

bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua

belah pihak.

UU No. 7 tahun 1989 pasal 82 tentang gugat cerai, yang

berbunyi: Pada sidang pertama pemeriksaan gugatan perceraian,

Hakim berusaha mendamaikan kedua pihak.

PP No. 9 tahun 1975 pasal 31 tentang tata cara perceraian,

yang berbunyi: Hakim yang memeriksa gugatan perceraian

18
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Fokusmedia, 2016). 9.
30

berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Selama perkara belum

di putuskan usaha untuk mendamaikan dapat di lakukan pada

setiap sidang pemeriksaan.

3. Macam-Macam Perceraian

Macam-macam perceraian dalam Islam ada 3 yaitu:19

a. Thalaq

Secara harfiyah Thalaq itu berarti melepaskan dan

atau membebaskan. Apabila dihubungkan dengan putusnya

perkawinan dan menurut syariat, maka talak dapat

diartikan dengan melepaskan isteri atau membebaskannya

dari ikatan perkawinan atau menceraikannya. Menurut

hukum Islam talak adalah suatu perkataan yang diucapkan

oleh suami untuk memutuskan ikatan pernikahan terhadap

istrinya. Apabila seorang suami telah mentalak istrinya,

maka putuslah hubungan antara suami istri tersebut, baik

secara lahir maupun batin.

Cerai/talak dari segi bahasa diambil dari kata at-

Thalaq, yang berarti melepas dan meninggalkan,

sedangkan menurut istilah adalah menghilangkan ikatan

perkawinan atau mengurangi keterkaitannya dengan

mempergunakan ucapan tertentu.20 Dalam Al-Qur‟an tidak

terdapat ayat-ayat yang menyuruh atau melarang

19
Jamaludddin dan Nanda Amalia, Hukum Perkawinan (Sulawesi: Unimal Press, 2016). 89.
20
Dra. Hj. Nunung Rodliyah, M.A, Manusia dan Agama (Dalam Kerangka dasar Ajaran Islam)
(Bandar Lampung: Gunung Pesagi, 2011). 257.
31

perceraian, dalam Al-Qur‟an hanya terdapat banyak ayat

yang mengatur tentang Thalaq (isinya hanya sekedar

mengatur bila thalaq mesti terjadi).21

b. Fasakh

Fasakh merupakan salah satu bentuk pemutusan

hubungan perkawinan yang dapat digunakan oleh suami

maupun istri untuk melakukan perceraian. Fasakh dalam

arti bahasa adalah batal atau rusak, sedangkan menurut

istilah ilmu fiqh di artikan sebagai pembatalan/pemutusan

nikah dengan keputusan hakim/muhakkam. Fasakh

menurut Hasballah Thaib ialah perceraian dengan merusak

atau merombak hubungan nikah antara suami dengan istri,

perombakan ini di lakukan oleh petugas atau hakim dengan

syarat-syarat tertentu tanpa ucapan talak. Perceraian

dengan fasakh ini membawa konsekuensi bahwa hubungan

perkawinan tidak dapat dirujuk kembali dalam hal suami

hendak kembali dengan istrrinya, namun untuk dapat

melanjutkan harus dilakukan dengan akad nikah yang baru.

c. Khulu’

Khulu‟ dalam bahasa Arab berarti menghilangkan

atau menanggalkan. Dalam makna syariat, khulu‟ diartikan

perpisahan wanita dengan ganti dan dengan kata-kata

khusus. Khulu‟ hukumnya diperbolehkan jika diperlukan.

21
Wati Rahmi Ria, Hukum Islam dan Islamologi (Bandar Lampung: [Link] Sakti, 2011). 141.
32

Dasar hukum terkait dengan khulu‟ dapat dijumpai pada

QS. Al- Baqarah Ayat 229 yang artinya: “Jika kamu

khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat

menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa

antara keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri

untuk menebus dirinya”22. Khulu’ dapat diajukan oleh isteri

jika misalnya dia tidak dapat menunaikan dan memenuhi

hak-hak suaminya.

d. Taklik talak

Taklik talak merupakan salah satu cara pemutusan

hubungan perkawinan antara suami dan isteri. Putusnya

perkawinan karena taklik talak jika seorang isteri tidak

dapat sabar lagi dengan kelakuan suaminya yang telah

ingkar terhadap sighat ta‟lik yang telah di ikrarkan oleh

suami setelah upacara nikah dan telah di tandatanganinya.

Bila isteri tidak berkeberatan atas ingkar suami terhadap

taklik talak, maka talak itu tidak jatuh.

Menurut UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 39 Bab VIII

tentang putusnya perkawinan serta akibatnya, yang

berbunyi : Perkawinan dapat putus karena23 :

a. Kematian

b. Perceraian dan,

c. atas keputusan Pengadilan.


22
Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Qur‟an Departemen Agama Republik
Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya.
23
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan..9.
33

4. Akibat Hukum Perceraian

Pasal 38 Ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974

menerangkan bahwa perceraian adalah salah satu bentuk

dari sebab putusnya perkawinan. Perceraian tentunya juga

melahirkan konsekuensi tertentu yaitu harta, hak asuh anak

(hadhanah) dan status pernikahan.

Menurut Abdurrahman bahwa salah satu hal yang

perlu dipertimbangkan oleh suami isteri yang akan

melakukan perceraian adalah masalah anak yang telah

dilahirkan dalam perkawinan itu. Dalam hal ini perceraian

akan membawa akibat hukum terhadap anak, yaitu anak

harus memilih untuk ikut ayah atau ikut ibunya.24

Hal ini merupakan suatu pilihan yang sama-sama

memberatkan, karena seorang anak membutuhkan kedua

orang tuanya. Menurut K. Wantjik Saleh karena

konsekuensi perceraian adalah seperti itu, maka anak tetap

harus memilih untuk ikut salah satu orang tuanya. Dalam

sidang Pengadilan yang menangani perceraian, untuk anak

yang masih belum berumur 12 tahun (belum mumayyiz)

biasanya hakim memutuskan ikut dengan ibunya.25

a. Terhadap Hubungan Suami-Istri

Meskipun diantara suami-istri yang telah menjalin

perjanjian suci (miitshaaqan ghaliizhaan), namun tidak

24
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia...27.
25
K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1980). 43.
34

menutup kemungkinan bagi suami-istri tersebut mengalami

pertikaian yang menyebabkan perceraian dalam sebuah

rumah tangga. Hubungan suami-istri terputus jika terjadi

putusnya hubungan perkawinan.26

Seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya,

tidak boleh melaksanakan atau melangsungkan perkawinan

sebelum masa iddahnya habis atau berakhir, yakni selama 4

(empat) bulan 10 (sepuluh) hari atau 130 (seratus tiga

puluh) hari (Pasal 39 ayat (1) huruf a). Apabila perkawinan

putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih

berdatang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan

sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari dan bagi

yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh)

hari (Pasal 39 ayat (1) huruf b). serta apabila ketika pada

saat istrinya sedang hamil, maka jangka waktu bagi istri

untuk dapat kawin lagi adalah sampai dengan ia

melahirkan anaknya (Pasal 39 ayat (1) huruf c) Peraturan

Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.

Hal tersebut dilakukan untuk memastikan apakah

si-istri itu sedang hamil atau tidak. Seorang suami yang

telah bercerai dengan istrinya dan akan menikah lagi

dengan wanita lain ia boleh langsung menikah, karena laki-

laki tidak mempunyai masa iddah.

26
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 7
35

b. Terhadap Anak

Menurut Undang-undang Perkawinan27 meskipun

telah terjadi perceraian, bukan berarti kewajiban suami

isteri sebagai ayah dan ibu terhadap anak di bawah umur

berakhir. Suami yang menjatuhkan talak pada isterinya

wajib membayar nafkah untuk anak-anaknya, yaitu belanja

untuk memelihara dan keperluan pendidikan anak-anaknya

itu, sesuai dengan kedudukan suami. Kewajiban memberi

nafkah anak harus terus-menerus dilakukan sampai anak-

anak tersebut baliq dan berakal serta mempunyai

penghasilan sendiri. Baik bekas suami maupun bekas isteri

tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anakanaknya

berdasarkan kepentingan anak. Suami dan isteri bersama

bertanggung jawab atas segala biaya pemeliharaan dan

pendidikan anak-anaknya. Apabila suami tidak mampu,

maka pengadilan dapat menetapkan bahwa ibu yang

memikul biaya anak-anak.

Sebagaimana di jelaskan pada Pasal 45 UU No. 1

Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa:

1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik

anak-anak mereka sebaik-baiknya;

2) Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam Ayat

(1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau

27
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 7.
36

dapat berdiri sendiri kewajiban mana berlaku terus

meskipun perkawinan antara kedua orang tua

putus.

Berdasarkan Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam di

jelaskan bahwa: Dalam hal terjadinya perceraian28 :

1) pemeliharaan anak yang belum mumayyiz

atau belum berumur 12 tahun adalah hak

ibunya;

2) pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz

diserahkan kepada anak untuk memilih di

antara ayah atau ibunya sebagai pemegang

hak pemeliharaannya;

3) biaya pemeliharaan ditanggung oleh

ayahnya.

Pasal 106 Kompilasi Hukum Islam

1) Orang tua berkewajiban merawat dan

mengembangkan harta anaknya yang belum

dewasa atau di bawah pengampuan, dan

tidak diperbolehkan memindahkan atau

menggadaikannya kecuali karena keperluan

yang mendesak jika kepentingan dan

kemaslahatan anak itu menghendaki atau

28
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia. 14.
37

suatu kenyataan yang tidak dapat

dihindarkan lagi.

2) Orang tua bertanggung jawab atas kerugian

yang ditimbulkan karena kesalahan dan

kelalaian dari kewajiban yang tersebut pada

Ayat (1).

Adapun Pasal 156 Kompilasi Hukum Islam29,

mengatur tentang pemeliharaan anak ketika ibu

kandungnya meninggal dunia dengan memberikan urutan

yang berhak memelihara anak, antara lain :

1) Anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan

hadhanah dari ibunya, kecuali bila ibunya telah

meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan:

2) wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu.

3) ayah.

4) wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah.

saudara perempuan dari anak yang bersangkutan.

5) wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis

samping dari ayah.

c. Terhadap Harta Bersama

Pasal 1 butir f Kompilasi Hukum Islam

menjelaskan bahwa yang di maksud dengan Harta

kekayaan dalam perkawinan atau syirkah adalah harta yang

29
Ibid. 21.
38

diperoleh baik sendirisendiri atau bersama suami-isteri

selama dalam ikatan perkawinan berlangsung dan

selanjutnya disebut harta bersama, tanpa mempersoalkan

terdaftar atas nama siapa pun.

Mengenai pengaturan tentang harta kekayaan dalam

perkawinan secara tegas diatur dalam Pasal 85 sampai

dengan Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam.30

Akibat lain dari perceraian adalah menyangkut

masalah harta benda perkawinan khususnya mengenai

harta bersama seperti yang ditentukan dalam Pasal 37

Undang-undang Perkawinan, bahwa bila perkawinan putus

karena perceraian, maka harta bersama diatur menurut

hukumnya masing-masing. Menurut penjelasan resmi pasal

tersebut, yang dimaksud dengan hukumnya masing-masing

adalah hukum agama, hukum adat dan hukum lain-lainnya.

Memperhatikan pada Pasal 37 dan penjelasan resmi atas

pasal tersebut undang-undang ini tidak memberikan

keseragaman hukum positif tentang bagaimana harta

bersama apabila terjadi perceraian.

Tentang yang dimaksud pasal ini dengan kata

“Diatur”, tiada lain dari pembagian harta bersama apabila

terjadi perceraian. Maka sesuai dengan cara pembagian,

Undang-undang menyerahkannya kepada “Hukum yang

30
Ibid. 12-13.
39

hidup” dalam lingkungan masyarakat dimana perkawinan

dan rumah tangga itu berada. Kalau kita kembali pada

Penjelasan Pasal 37 maka Undang-undang memberi jalan

pembagian31 :

1) Dilakukan berdasar hukum agama jika hukum

agama itu merupakan kesadaranhukum yang hidup

dalam mengatur tata cara perceraian;

2) Aturan pembagiannya akan di lakukan menurut

hukum adat, jika hukum tersebut merupakan

kesadaran hukum yang hidup dalam lingkungan

masyarakat yang bersangkutan;

3) Atau hukum-hukum lainnya.

Harta bawaan atau harta asal dari suami atau istri

tetap berada ditangan pihak masing-masing. Apabila bekas

suami atau bekas istri tidak melaksanakan hal tersebut

diatas, maka mereka dapat di gugat melalui pengadilan

negeri di tempat kediaman tergugat, agar hal tersebut dapat

dilaksanakan.

Mengenai penyelesaian harta bersama karena

perceraian, suami-istri yang bergama Islam menurut

Hukum Islam, sedangkan bagi suami-istri non-Islam

menurut Hukum Perdata.32

31
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 6.
32
Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1999). 2.
40

B. Konsep Mediasi dalam Hukum Islam dan Hukum Positif

1. Pengertian Mediasi

a. Pengertian Mediasi dalam Hukum Islam

Dalam sejarah peradaban Islam, perdamaian dikenal dengan

kata “S{ulh{“ yang berarti memutus/menyelesaikan persengketaan

atau perdamaian. Istilah s{ulh{ ditemukan dalam literatur fikih yang

berkaitan dengan persoalan transaksi, perkawinan, peperangan, dan

pemberontakan. Istilah s{ulh{ didefinisikan sebagai akad yang

ditentukan untuk menyelesaikan pertengkaran.33

Selain kata s{ulh{, mediasi dalam literatur Islam juga

menyamakannya dengan kata Tahkim. Tahkim dalam terminologi

literatur fiqh ialah adanya dua orang atau lebih yang meminta orang

lain agar diputuska perselisihan yang terjadi diantara mereka dengan

hukum syar‟i.34

b. Pengertian Mediasi dalam Hukum Positif

Mediasi berasal dari bahasa latin yaitu mediare yang berarti

berada di tengah. Makna kata tersebut menunjukkan pada peran yang

ditampilkan pihak ketiga sebagai mediator dalam menjalankan

tugasnya menengahi dan menyelesaikan sengketa antara para pihak.

“Berada di tengah para pihak” juga bermakna mediator harus berada

pada posisi tengah yang netral dan tidak memihak dalam

menyelesaikan sengketa. Mediator harus mampu menjaga

33
“Suplemen Ensiklopedi Islam 2” (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002). 181.
34
Samir Aliyah, Sistem Pemerintahan Peradilan dan Adat dalam Islam (Jakarta: Khalifa, 2004).
328.
41

kepentingan para pihak yang secara adil dan sama, sehingga

menumbuhkan kepercayaan (trust) dari kedua belah pihak yang

bersengketa.35

Dari segi terminologi mediasi merupakan suatu proses

dimana pihak-pihak yang bertikai, dengan bantuan dari seorang

praktisi resolusi pertikaian (mediator) mengidentifikasi isu-isu yang

dipersengketaan, mengembangkan opsi-opsi, mempertimbangkan

alternatif-alternatif dan upaya untuk mencapai sebuah kesepakatan.

Dalam hal ini mediator tidak mempunyai peran menetukan

dalam kaitannya dengan isi materi persengketaan atau hasil dari

resolusi persengketaan tersebut, tetapi mediator dapat memberi saran

atau menentukan sebuah proses mediasi untuk mengupayakan

sebuah resolusi atau penyelesaian36

Mediasi adalah proses negosiasi pemecahan konflik atau

sengketa di mana pihak luar atau pihak ketiga yang tidak memihak

(impartial) bekerjasama dengan pihak yang bersengketa atau konflik

untuk membantu memperoleh kesepakatan perjanjian yang

memuaskan.

Menurut Syahrizal Abbas penjelasan mediasi dari sisi

kebahasaan lebih menekankan pada keberadaan pihak ketiga yang

menjembatani para pihak bersengketa untuk menyelesaikan

35
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional
(Jakarta: Kencana, 2009). 2.
36
Muslich MZ, Mediasi: Pengantar Teori dan Praktek (Semarang: Walisongo Mediation Centre,
2007). 1.
42

perselisihannya. Penjelasan ini sangat penting guna untuk

membedakan dengan bentuk-bentuk alternatif penyelesaian sengketa

lainnya.37

2. Dasar Hukum Mediasi

a. Dasar Hukum Mediasi dalam Hukum Islam

Landasan hukum yang memperbolehkan melakukan

perdamaian antara lain terdapat dalam Al-Qur‟an surah an-

Nisa>’ayat 128 yang berbunyi:

‫َأ‬ ‫َأ‬
‫ْعِلَها ُنُشوزًا ْو ِإْعَر اضًا َفاَل ُجَناَْح‬. ‫َوِإِن ٱْمَر ٌة َخاَفْت ِمن َب‬
‫ُأ‬ ‫َأ‬
‫ٌر َو ْحِضَر ِت‬.‫ُهَما ُصْلحًا َوٱلُّصْلُح َخْي‬. ‫َن‬.‫ْي‬. ‫َعَلْيِهَمآ ن ُيْصِلَحا َب‬
‫َأ‬
‫ْعَمُلوَن‬. ‫ُقوْا َفِإَّن ٱَّللَََّكاَن ِبَِا َت‬. ‫َّت‬. ‫ُفُس ٱلُّش َّح َوِإن ُتُِْس ُنوْا َوَت‬. ‫ ْن‬. ‫ٱْل‬
﴾١٢١﴿‫َخ ِبيًا‬
Artinya : “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau
sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya
mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu
lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya
kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan
memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka
sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan”.38
Keadaan pertama terjadi bilamana pihak istri merasa khawatir

terhadap suaminya, bila si suami merasa tidak senang kepadanya dan

bersikap tidak acuh kepada dirinya. Maka dalam keadaan seperti ini

pihak istri boleh menggugurkan dari kewajiban suaminya seluruh

hak atau sebagian haknya yang menjadi tanggungan suami, seperti

sandang, pangan, dan tempat tinggal serta lain-lainnya yang

37
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
3.
38
Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Quran Departemen Agama Republik
Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya.
43

termasuk hak istri atas suaminya. Pihak suami boleh menerima hal

tersebut dari pihak istrinya, tiada dosa bagi pihak istri memberikan

hal itu kepada suaminya, tidak (pula) penerimaan pihak suami dari

pihak istrinya akan hal itu. Untuk itulah disebutkan di dalam firman-

Nya: “maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian

yang sebenar-benarnya”. Kemudian dalam firman selanjutnya

disebutkan:”..dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)”. Yakni

daripada perceraian. Maksudnya, perdamaian di saat saling bertolak

belakang adalah lebih baik daripada perceraian.39 Karena itulah

ketika usia Saudah binti Zam‟ah sudah lanjut, Rasulullah Saw.

berniat akan menceraikannya, tetapi Saudah berdamai dengan

Rasulullah Saw. dengan syarat ia tetap menjadi istrinya dan dengan

suka rela ia memberikan hari gilirannya kepada Siti Aisyah. Maka

Nabi Saw. menerima persyaratan tersebut yang diajukan oleh

Saudah, dengan imbalan Saudah tetap berstatus sebagai istri Nabi

Saw. Riwayat mengenai hal tersebut di kemukakan oleh Abu Daud

At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Mu‟az,

dari Sammak ibnu Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang

menceritakan bahwa Saudah merasa khawatir bila dirinya diceraikan

oleh Rasulullah Saw. Maka ia berkata, “Wahai Rasulullah, janganlah

engkau ceraikan aku, aku berikan hari giliranku kepada Aisyah,”

maka Rasulullah Saw. menyetujui apa yang dimintanya. Dan

turunlah firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz

39
Michael Elkan, “Tafsir Ibnu Katsir (Terjemah Al Qur‟an, Tafsir Al Qur‟an, Ilmu Al Qur‟an,
Software Al Qur‟an, Ebook Al Qur‟an, Tilawah Al Qur‟an, Murattal Al Qur‟an).”
44

atau sikap tak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi

keduanya, hingga akhir ayat (Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin

Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi).

Pada ayat yang lalu telah diterangkan bagaimana tindakan

yang mesti dilakukan kalau terjai nusyuz di pihak istri. Andaikata

tindakan tersebut tidak memberikan manfaat, dan dikhawatirkan

akan terjadi perpecahan (syiqa>q) di antara kedua suami istri itu

yang sampai melanggar batas-batas yang ditetapkan Allah, hal itu

dapat diperbaiki dengan jalan mediasi. Suami boleh mengutus

seorang hakam dan istri boleh pula mengutus seorang hakam, yang

mewakili dan mengetahui dengan baik perihal suami istri itu. Jika

tidak ada dari kaum keluarga masing-masing, boleh di ambil dari

orang lain.

b. Dasar Hukum Mediasi dalam Hukum Positif

a. Pasal 130 HIR/Pasal 154 RGB,

1) Jika pada hari yang di tentukan itu, kedua belah

pihak belum datang maka Pengadilan Negeri dengan

pertolongan ketua mencoba akan memperdamaikan mereka.40

2) Jika perdamaian yang demikian dapat dicapai maka pada

waktu sidang dibuat surat sebuah surat (Acta Van Vergelijk)

tentang itu dimana kedua belah pihak di hukum akan

menepati perjanjian yang di buat dan surat itu berkekuatan

dan akan dijalankan sebagai putusan yang biasa.

3) Keputusan yang demikian tidak diizinkan banding.

40
R. Soesilo, RIB/HIR dengan Penjelasan (Bogor: Politeia, 1985). 88.
45

4) Jika pada waktu mencoba mendamaikan kedua belah pihak,

perlu dipakai seorang juru bahasa.

b. UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan BAB VIII Tentang

putusnya perkawinan serta akibatnya Pasal 39: “Perceraian hanya

dapat di lakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan

yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan

kedua belah pihak”.

c. PP No.9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU Perkawinan No. 1

Tahun 1974 tentang Perkawinan, BAB V Tentang Tata Cara

Perceraian pasal 31 yang berbunyi:

1) Hakim yang memeriksa gugatan perceraian berusaha

mendamaikan kedua belah pihak.

2) Selama perkara belum di putuskan usaha untuk mendamaikan

dapat dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan.

d. PERMA No. 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di

Pengadilan BAB II, Bagian Kesatu Pasal 3 “Setiap Hakim,

Mediator, Para Pihak dan/atau kuasa hukum wajib mengikuti

prosedur penyelesaian sengketa melalui Mediasi”.41

e. Kompilasi Hukum Islam BAB XVI Tentang Putusnya

Perkawinan42

Bagian Kedua:

1) Pasal 131 ayat (2): Setelah Pengadilan Agama tidak berhasil

menasehati kedua belah pihak dan ternyata cukup alasan untuk


41
Mahkamah Agung Republik Indonesia, “Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2016
Tentang Prosedur Mediasi Di Pengadilan” (Jakarta, 2016). 5.
42
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia. 16-19.
46

menjatuhkan talak serta yang bersangkutan tidak mungkin lagi

hidup rukun dalam rumah tangga Pengadilan Agama

menjatuhkan keputusannya tentang izin bagi suami untuk

mengikrarkan talak.

2) Pasal 143 ayat (1): Dalam Pemeriksaan gugatan perceraian

hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Ayat (2):

selama perkara belum diputuskan usaha mendamaikan dapat

dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan.

3) Pasal 144: Apabila terjadi perdamaian, maka tidak dapat

diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan atau

alasan-alasan yang ada sebelum perdamaian dan telah di

ketahui oleh penggugat pada waktu dicapainya perdamaian.

3. Prinsip-Prinsip Mediasi
Dalam berbagai literatur ditemukan sejumlah prinsip mediasi.

Prinsip dasar (Basic Principles) adalah landasan filosofis dari

diselenggarakannya kegiatan mediasi. Prinsip-prinsip atau filosofi ini

merupakan kerangka kerja yang harus di ketahui oleh mediator,

sehingga dalam menjalankan mediasi tidak keluar dari arah filosofi

yang melatarbelakangi lahirnya institusi mediasi. David Spencer dan

Michael Bragon merujuk pada pandangan Ruth Carlton tentang lima

prinsip dasar mediasi. Lima prinsip ini di kenal dengan lima dasar

filsafat mediasi. 43

43
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum
Nasional...28-30.
47

Prinsip pertama mediasi adalah kerahasiaan atau

Confidentiality. Kerahasiaan yang di maksudkan disini bahwa segala

sesuatu yang terjadi dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh

mediator dan pihak-pihak yang bersengketa tidak boleh disiarkan

kepada publik atau pers oleh masing-masing para pihak dan mediator

pun juga harus menjaga kerahasiaan dari isi mediasi tersebut.

Prinsip kedua, volunteer (sukarela). Masing-masing pihak

yang bertikai datang ke mediasi atas keinginan dan kemauan mereka

sendiri secara sukarela dan tidak ada paksaan dan tekanan dari pihak-

pihak lain atau pihak luar. Prinsip sukarela ini dibangun atas dasar

bahwa orang akan mau bekerja sama untuk menemukan jalan keluar

dari persengketaan mereka.

Prinsip ketiga, pemberdayaan atau empowerment. Prinsip ini

didasarkan pada asumsi bahwa orang yang mau datang ke mediasi

sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menegosiasikan masalah

mereka sendiri dan dapat mencapai kesepakatan yang mereka

inginkan.

Prinsip keempat, netralitas (neutrality) 44. Di dalam mediasi,

peran seorang mediator hanya menfasilitasi prosesnya saja, dan

isinya tetap menjadi milik para pihak. Mediator hanyalah berwenang

mengontrol proses berjalan atau tidaknya mediasi.

44
Ibid. 30.
48

Prinsip kelima, solusi yang unik (a unique solution).

Bahwasanya solusi yang dihasilkan dari proses mediasi tidak harus

sesuai dengan standar legal, tetapi dapat dihasilkan dari proses

kreativitas. Oleh karena itu, hasil mediasi mungkin akan lebih

banyak mengikuti keinginan kedua belah pihak, yang terkait erat

dengan konsep pemberdayaan para pihak. Itulah prinsip-prinsip

mediasi yang harus dimiliki dan dilakukan oleh seorang mediator.

4. Prosedur dan Tahapan Mediasi


Adanya PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang prosedur mediasi

di pengadilan merupakan bentuk pembaharuan yang dilakukan oleh

Mahkamah Agung dalam PERMA No. 1 Tahun 2008 tentang

prosedur mediasi di pengadilan tersebut ditemukan beberapa

masalah, sehingga perlu dikeluarkan PERMA baru dalam rangka

mempercepat dan mempermudah penyelesaian sengketa serta

memberikan akses yang lebih luas kepada pencari keadilan.

Dalam pelaksanaan mediasi di pengadilan tingkat pertama,

para pihak harus beriktikad baik dalam proses mediasi, namun

mengingat tidak semua para pihak beriktikad baik dalam proses

mediasi, maka dalam pasal 22 ayat 1 dan ayat 2 PERMA ini

mempunyai akibat hukum bagi para pihak yang tidak beriktikad baik

dalam proses mediasi.45

45
Indonesia, “Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi Di
Pengadilan.” 18.
49

PERMA No. 1 Tahun 2016 ini memiliki tempat istimewa

karena proses mediasi menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari

proses berperkara di pengadilan, sehingga hakim dan para pihak

wajib mengikuti prosedur penyelesaian sengketa melalui mediasi,

apabila para pihak melanggar atau tidak menghadiri mediasi terlebih

dahulu, maka putusan yang dihasilkan batal demi hukum dan akan

dikenai sanksi berupa kewajiban membayar biaya mediasi, hal ini

disebutkan dalam pasal 22 ayat 1 dan ayat 2 PERMA No. 1 Tahun

2016 tentang prosedur mediasi di pengadilan.

Hakim atau kuasa hukum dari pihak-pihak yang berperkara

dituntut untuk aktif dalam mendorong para pihak untuk berperan

aktif dalam proses mediasi, dengan adanya kewajiban menjalankan

mediasi, maka hakim dapat menunda persidangan perkara agar dapat

terjalin komunikasi antara para pihak yang berperkara.

Adapun dalam proses mediasi di Pengadilan Agama menurut

PERMA No. 1 Tahun 2016 sebagai berikut46 :

a. Tahap Pra mediasi

Pada hari sidang pertama yang dihadiri kedua belah pihak

hakim mewajibkan para pihak untuk menempuh mediasi. Hakim

menunda proses persidangan perkara untuk memberikan kesempatan

proses mediasi lama 30 hari kerja. Hakim menjelaskan prosedur

mediasi kepada para pihak yang bersengketa. Para pihak memilih

mediator dari daftar nama yang telah tersedia pada hari sidang
46
Ibid. 19-25.
50

pertama atau paling lama 2 hari kerja berikutnya. Apabila dalam

jangka waktu tersebut para pihak tidak dapat memilih mediator yang

dikehendaki. Ketua majelis hakim segera menunjuk hakim bukan

pemeriksa pokok perkara untuk menjalankan fungsi mediator.

b. Tahap proses mediasi

Dalam waktu paling lama 5 hari kerja setelah para pihak

menunjuk mediator yang disepakati, masing-masing pihak dapat

menyerahkan resume perkara kepada hakim mediator yang ditunjuk.

Proses mediasi berlangsung paling lama 30 hari kerja sejak

penetapan perintah melakukan mediasi. Mediator berkewajiban

menyatakan mediasi telah gagal jika salah satu pihak atau para pihak

telah 2 kali berturut-turut tidak menghadiri pertemuan mediasi sesuai

jadwal yang disepakati tanpa alasan setelah dipanggil secara patut. 47

c. Mediasi mencapai kesepakatan

Jika mediasi menghasilkan kesepakatan perdamaian maka

wajib dirumuskan sacara tertulis dan ditandatangani oleh para pihak

dan mediator. Jika mediasi di wakili oleh kuasa hukum maka para

pihak wajib menyatakan secara tertulis persetujuan yang dicapai.

Para pihak wajib menghadap kembali kepada hakim pada sidang

yang telah ditentukan untuk memberitahukan kesepakatan

perdamaian kepada hakim untuk dikuatkan dalam bentuk akta

perdamaian.

47
Ibid. 21.
51

d. Mediasi tidak mencapai kesepakatan

Jika mediasi tidak mencapai kesepakatan, mediator wajib

menyatakan secara tertulis proses mediasi telah gagal. Pada tiap

tahapan pemeriksaan perkara hakim pemeriksa perkara tetap

berwenang untuk mengusahakan perdamaian hingga sebelum

pengucapan putusan. Jika mediasi gagal, pernyataan dan pengakuan

para pihak dalam proses mediasi tidak dapat digunakan sebagai alat

bukti dalam proses persidangan.

5. Kekuatan yang Melekat pada Putusan Perdamaian

a. Kekuatan yang Melekat pada Putusan Perdamaian dalam Hukum

Islam

Ulama fiqih berbeda pendapat mengenai kekuatan hukum

terhadap putusan tahkim. Menurut Ulama mazhab Hanafi, apabila

hakam telah memutuskan perkara pihak-pihak yang bertahkim dan

mereka menyetujuinya, maka pihak-pihak yang bertahkim dan

mereka menyetujuinya, maka pihak-pihakyang bertahkim terikat

dengan putusan tersebut. Apabila mengadukannya ke pengadilan dan

hakim sependapat dengan putusan hakam, maka hakim pengadilan

tidak boleh membatalkan putusan hakam tersebut. Akan tetapi, jika

hakim pengadilan tidak sependapat dengan putusan hakam, maka

hakim berhak membatalkannya.48

48
Ibid. 103.
52

Menurut pendapat ulama mazhab Maliki dan Hambali,

apabila keputusan yang dihasilkan oleh hakam melalui proses tahkim

tidak bertentanngan dengan al-qur‟an, hadis dan ijma‟ maka hakim

pengadilan tidak berhak membatalkan putusan hakam, sekalipun

hakim pengadilan tersebut tidak sependapat dengan putusan hakam.

b. Kekuatan yang Melekat pada Putusan Perdamaian dalam Hukum

Positif

Kekuatan hukum yang melekat pada akta perdamaian antara

lain sebagai berikut:

1) Disamakan kekuatannya dengan putusan yang berkekuatan hukum

tetap.49

Dalam pasal 1858 ayat (1) KUH Perdata dikemukakan bahwa

semua putusan perdamaian yang dibuat dalam sidang Majelis Hakim

mempunyai kekuatan hukum tetap seperti putusan Pengadilan

lainnya dalam tingkat penghabisan. Putusan perdamaian yang dibuat

tidak dapat dibantah dengan alasan kekhilafan mengenai hukum atau

dengan alasan salah satu pihak telah dirugikan dengan putusan

perdamaian.50 Putusan perdamaian dapat dibatalkan jika dalam

perjanjian perdamaian itu sudah terjadi kekhilafan mengenai

orangnya atau mengenai pokok perselisihan, atau juga karena adanya

penipuan atau paksaan dalam membuatnya.51

49
M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan dan Eksekusi Bidang Perdata (Jakarta:
Gramedia, 1995). 279.
50
Soesilo dan Pramuji R, Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Jakarta: Rhedbook Digicomp,
2008). 421.
51
Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama. 60.
53

2) Mempunyai kekuatan eksukutorial.

Penegasan ini terdapat dalam pasal 130 ayat (2) HIR dalam

kalimat terakhir pasal tersebut, putusan akta perdamaian:

a) Berkekuatan sebagai putusan hakim yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap.

b) Berkekuatan eksukutorial sebagaimana halnya putusan

pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Putusan perdamaian yang dibuat persidangan mejelis hakim

mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, mempunyai kekuatan

hukum eksekusi dan mempunyai nilai pembuktian.52

Dikatakan mempunyai kekuatan hukum mengikat adalah

karena putusan perdamaian itu mengikat para pihak yang

membuatnya, juga mengikat pihak luar atau orang-orang yang

mendapat hak dan manfaat darinya. Putusan perdamaian mempunyai

kekuatan eksekusi, karena putusan itu dapat langsung dieksekusi

apabila pihak-pihak yang membuat persetujuan perdamaian itu tidak

mau melaksanakan persetujuan yang telah disepakati secara suka

rela. Juga mempunyai nilai kekuatan pembuktian sebagaimana akta

autentik lainnya.53

52
R. Subekti, Aneka Perjanjian (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995). 177.
53
Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan, Buku II (Jakarta: Mahkamah Agung
RI, 1994). 123.
54

Pada putusan perdamaian terdapat 3 kekuatan pembuktian,

yaitu:

a) Kekuatan pembuktian formal, yaitu pembuktian antara

para pihak yang telah mereka terangkan adalah

sebagaimana yang telah tertulis pada akta perdamaian.

b) Kekuatan pembuktian materil, yakni disebutkan bahwa

dalam akta ini harus sudah terbukti benar apa yang

terjadi, itu semuanya terdapat dalam akta perdamaian

yang sudah dijadikan putusan perdamaian itu.

c) Kekuatan mengikat, membuktikan bahwa antara para

pihak ketiga mempunyai keterkaitan dengan putusan

perdamaian itu, karena putusan perdamaian itu dibuat di

muka pejabat yang berwenang.54

3) Tertutup upaya banding dan kasasi

Ketentuan ini mengandung pengertian bahwa putusan

perdamaian itu sejak ditetapkan oleh hakim menjadi putusan

perdamaian maka sudah melekat bahwa putusan perdamaian adalah

pasti dan tidak ada penafsiran lagi, sehingga langsung dijalankan

oleh pihak-pihak yang melaksanakan perdamaian itu.

54
Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama...102.
55

C. Profesionalitas Mediator

1. Pengertian Profesionalitas Mediator

a. Pengertian Profesionalitas Mediator dalam Hukum Islam

Mediator dalam Islam disebut dengan Hakam. Hakam ialah

seorang utusan atau delegasi dari pihak yang bersengketa (suami

istri), yang dilibatkan dalam penyelesaian sengketa antara keduanya.

Tetapi dalam kondisi tertentu Majelis Hakim dapat mengangkat

hakam yang bukan dari pihak keluarga para pihak, diantaranya yang

berasal dari Hakim Mediator yang sudah ditetapkan oleh Lembaga

Tahkim. 55

Kedua hakam yang telah ditunjuk bekerja untuk memperbaiki

keadaan suami istri, supaya yang keruh menjadi jernih, dan yang

retak tidak sampai pecah. Jika kedua hakam itu berpendapat bahwa

keduanya lebih baik bercerai oleh karena tidak ada kemungkinan lagi

melanjutkan hidup rukun damai di rumah tangga, maka kedua hakam

itu boleh menceraikan mereka sebagai suami istri, dengan tidak perlu

lagi menunggu keputusan hakim dalam negeri, karena kedudukan

kedua orang hakam itu sebagai kedudukan hakim yang berhak

memutuskan, karena telah diserahkan penyelesaiannya kepada

mereka.56

Menurut Imam Nawawi, seorang hakam (mediator) harus

laki- laki, cakap dan sholeh. Menurut Wahbah Zuhaili syarat hakam

55
Muhammad Saifullah, Mediasi dalam Tinjauan Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia
(Semaranag: Walisongo Press, 2009). 12.
56
Syekh H. Abdul Halim Hasan, Tafsir Al-Ahkam, 1 (Jakarta: Kencana, 2006). 266-267.
56

adalah laki- laki, adil, mengetahui cukup informasi kasus yang

ditangani. Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa syarat hakam antara lain

adalah berakal, baligh, adil, muslim.57

b. Pengertian Profesionalitas Mediator dalam Hukum Positif

Profesional adalah orang yang terampil, handal, dan sangat

bertanggungjawab dalam menjalankan profesinya. Profesionalitas

adalah suatu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu

profesi terhadap profesinya, serta derajat pengetahuan dan keahlian

yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya.58

Sedangkan profesionalitas hakim mediator adalah hakim

yang terampil dan handal dalam memeriksa dan menyelesaikan suatu

sengketa perkara yang dihadapinya, secara materil dan formil, ahli di

bidang psikologi, juga memenuhi syarat sebagai hakim mediator

yakni mempunyai sertifikat hakim mediator.59

Berdasarkan makna Dhahir surat An-Nisa>‟ ayat 35, bahwa

yang menjadi mediator adalah wakil dari pihak suami dan wakil dari

pihak istri. Dalam kasus Syiqa>q, para ulama berbeda pendapat

mengenai siapa yang berhak menjadi mediator. Secara garis besar,

mediator harus memenuhi syarat antara lain, mediator harus berasal

dari kalangan profesional, harus adil, dan cakap, dan mengedepankan

upaya awal win-win solution.

57
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
185-187.
58
A Pius Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiyah Populer (Surabaya: Arkalo, 1994).
627.
59
Ibid. 628.
57

Dalam ilmu mediasi yang dikembangkan oleh negara-negara

barat, mediator tidak berasal dari kalangan keluarga untuk menjaga

supaya tidak memihak kepada salah satu pihak.

2. Pengangkatan dan Syarat Mediator

a. Pengangkatan dan Syarat Mediator dalam Hukum Islam

Mediator atau Hakam dalam Lembaga Tahkim terdiri dari

satu orang atau lebih. Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang

mengangkat dan mengutus Hakam atau Mediator dalam sengketa

Syiqa>q. Madzhab Hanafi, Syafi‟i dan Hambali berpendapat bahwa

berdasarkan zhahir ayat 35 surat an-Nisa>’ bahwa Hakam atau

mediator diangkat oleh pihak keluarga suami atau istri, dan bukan

suami atau istri secara langsung. Pandangan ini berbeda dengan

pandangan Wahbah Zuhaili dan Sayyid Sabiq bahwa Hakam dapat

diangkat oleh suami Istri yang disetujui oleh mereka. As-sya‟bi dan

Ibn Abbas mengatakan bahwa pihak ketiga atau Hakam dalam kasus

Syiqa>q diangkat oleh Hakim atau Pemerintah.60

Menurut Ali bin Abu Bakar al-Marginani (w. 593 H/ 1197

M), seorang ulama terkemuka dalam Madzhab Hanafi

mengemukakan, seorang Hakam yang akan diminta menyelesaikan

perselisihan harus memenuhi syarat-syarat sebagai orang yang akan

diminta menjadi Hakim. Menurut Imam Nawawi, seorang Hakam

(mediator) harus laki-laki, cakap, sholeh. Menurut Wahbah Zuhaili

60
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
187.
58

syarat Hakam antara lain adalah berakal, baligh, adil dan muslim.

Oleh karena itu tidak dibenarkan mengangkat orang kafir dzimmi,

orang yang terhukum hudu>d karena qazaf, orang fasik, dan anak-

anak untuk menjadi Hakam, karena dilihat dari segi keabsahannya

mereka tidak termasuk ahliyyahal-qadha’ (orang yang berkopenten

mengadili).61

b. Pengangkatan dan Syarat Mediator dalam Hukum Positif

Pengangkatan hakim mediator sangat tergantung pada situasi

dimana mediasi dijalankan. Bila mediasi dijalankan oleh lembaga

formal seperti Pengadilan maupun lembaga penyedia jasa mediasi,

maka pengangkatan mediator mengikuti ketentuan peraturan

perundang-undangan sedangkan bila mediasi dijalankan oleh

mediator yang berasal dari anggota masyarakat, maka pengangkatan

mediator tidak mengikat dengan ketentuan aturan formal.

Prinsip utama untuk pengangkatan mediator adalah harus

memenuhi persyaratan kemampuan personal dan persyaratan yang

berhubungan dengan masalah sengketa para pihak. Jika persyaratan

ini telah dipenuhi baru mediator dapat menjalankan mediasi.62

Penyelesaian sengketa melalui mediasi dalam sistem

Peradilan, dibantu oleh mediator. Sehubungan dengan siapa yang

dapat bertindak sebagai mediator dijelaskan dalam PERMA No. 01

tahun 2016 BAB III Mediator, Bagian Kesatu Sertifikasi Mediator

61
Ibid. 188.
62
Ibid. 70-71.
59

dan Akreditasi Lembaga Pasal 1363 :

(1) Setiap mediator wajib memiliki Sertifikat Mediator yang diperoleh

setelah mengikuti dan dinyatakan lulus dalam pelatihan sertifikasi

Mediator yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung atau lembaga

yang telah memperoleh akreditasi dari Mahkamah Agung.

(2) Berdasarkan surat keputusan ketua Pengadilan, Hakim tidak

bersertifikat dapat menjalankan fungsi Mediator dalam hal tidak ada

atau terdapat keterbatasan jumlah Mediator bersertifikat.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara sertifikasi

Mediator dan pemberian akreditasi lembaga sertifikasi Mediator

ditetapkan dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung.

3. Keterampilan dan Bahasa Mediator

a. Keterampilan Mediator

Unsur yang paling penting bagi seorang mediator adalah

keterampilan (skill) untuk melakukan mediasi. Skill akan menentukan

berhasil tidaknya seorang mediator menyelesaikan sengketa para

pihak. Pengetahuan yang banyak belum tentu menjamin keberhasilan

mediator melaksanakan mediasi, tanpa dibarengi dengan sejumlah

keterampilan. Keterampilan dapat diperoleh melalui pendidikan dan

pelatihan (training) mediasi. Keterampilan harus diasah dan

dipraktikkan secara terus-menerus, sehingga memiliki ketajaman

dalam menganalisis, menyusun langkah kerja, dan menyiapkan solusi

63
Mahkamah Agung Republik Indonesia, “Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2016
Tentang Prosedur Mediasi Di Pengadilan” (Jakarta, 2016). 11-12.
60

dalam rangka penyelesaian sengketa para [Link] dalam

menjalankan mediasi harus memiliki sejumlah keterampilan, yaitu

keterampilan mendengarkan, keterampilan membangun rasa memiliki

bersama, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan meredam

ketegangan, dan keterampilan merumuskan kesepakatan.64

1) Keterampilan mendengarkan

Mendengarkan merupakan suatu keterampilan dalam

mediasi, dimana mediator mendengarkan secara saksama dan

penuh perhatian terhadap segala apa yang disampaikan para

pihak pada saat pemaparan kisah (presentasi). Tujuan

mendengarkan adalah untuk memperoleh informasi lengkap

terhadap apa yang mereka persengketaan.

Mendengarkan bermakna mediator memahami dan

mendalami, serta berusaha memosisikan perasaan dirinya

seperti para pihak yang sedang bertikai.65

Kemampuan mendengarkan ini, akan memunculkan

kepercayaan dari para pihak bahwa mediator benar-benar

memahami dan mendalami persoalan mereka. Mediator akan

diterima para pihak sebagai jurudamai, karena ia mampu

menunjukkan keseriusan dan kemampuannya memahami para

pihak. Diterimanya mediator oleh para pihak, akan


66
memudahkannya membangun kekuasaan sebagai mediator.

64
Ibid.91.
65
Allan J. Stitt, Mediation; A Practical Guide (New York: Canvendish Routledge, 2004). 72.
66
Said Faisal, Mediator’s Skills’’ dalam Mediasi dan Perdamaian (Jakarta: Mahkamah Agung RI,
2004). 80.
61

Kekuasaan ini bukan untuk mendominasi dan menekan para

pihak guna menerima tawara solusi, tetapi menciptakan ruang

yang aman dalam membangun komunikasi konstruktif.

Keterampilan atau keahlian mendengar dibagi kedalam tiga

bagian yaitu keahlian menghadiri (attending skills), keahlian

mengikuti (following skills) dan merefleksi (reflecting skills).

2) Keterampilan membangun rasa memiliki bersama

Keterampilan membangun rasa memiliki bersama

dimulai dengan sikap empati yang ditunjukkan mediator

terhadap persoalan para pihak. Mediator harus mengetahui,

mengidentifikasi dan memahami perasaan yang dialami para

pihak yang bersengketa. Mediator juga harus membantu

menumbuhkan rasa memiliki bersama dengan para pihak, guna

merumuskan berbagai solusi atas berbagai persoalan mereka.67

3) Keterampilan memecahkan masalah

Keterampilan yang sangat esensial di antara

keterampilan lainnya adalah keterampilan memecahkan

masalah, karena inti dari mediasi adalah menyelesaikan

persengketaan yang terjadi antara para pihak. Dalam

memecahkan masalah, mediator melakukan beberapa langkah

penting yaitu; mengajak para pihak untuk fokus pada hal-hal

positif, fokus pada persamaan kepentingan dan kebutuhkan,

fokus pada penyelesaian masalah untuk masa depan,

67
Edi As‟Adi, Hukum Acara Perdata dalam Prespektif Mediasi (ADR) di Indonesia (Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2012). 7.
62

memperlunak tuntutan, ancaman dan penawaran terakhir, dan

mengubah suatu permintaan atau posisi absolut menjadi suatu

bentuk penyelesaian.68

4) Keterampilan meredam ketegangan

Mediator dapat mengambil sejumlah tindakan yang

merupakan keterampilan dalam mengelola dan meredam

kemarahan dari dua belah pihak yang bersengketa. Mediator

harus memposisikan diri sebagai penengah dan tempat para

pihak menumpahkan kemarahannya. Mediator harus bisa

mencegah pengungkapan kemarahan tidak secara langsung

ditunjukkan kepadda masing-masing pihak, tetapi mereka

harus menyatakan kemarahannya dihadapan mediator.

Jadi pengungkapan kemarahan para pihak harus

ditanggapi positif dan tenang oleh seorang mediator, karena

melalui pengungkapan kemarahan akan dapat ditemukan

esensi atau penyebab utama terjadi sengketa diantara para

pihak.69

5) Keterampilan merumuskan kesepakatan

Ketika para pihak sudah mencapai kesepakatan dalam

mediasi, maka tugas mediator harus merumuskan kesepakatan

tersebut dalam bentuk tulisan. Bila para pihak telah memahami

rumusan kesepakatan dengan baik dan mereka akan

melaksanakannya, maka para pihak dapat membubuhkan


68
Victor M. Situmorang, Perdamaian dan Perwasitan dalam Hukum Acara Perdata (Jakarta:
Rineka Cipta, 1993). 16.
69
Ibid.17.
63

tandatangannya. Dengan penandatangan kesepakatan tersebut,

maka secara forma proses mediasi sudah selesai.

b. Bahasa Mediator

Bahasa yang digunakan mediator akan menentukan sukses

tidaknya proses mediasi. Mediator harus memiliki keterampilan

menggunakan bahasa yang baik dan sederhana dalam memediasi

kedua belah pihak. Mediator harus menggunakan bahasa sederhana,

lugas, mudah dipahami, dan tidak terlalu banyak menggunakan istilah

asing, sehingga menyulitkan para pihak dalam memahaminya.

Ketidaknyamanan bahasa, kesulitan memahami kata/kalimat, dan

penggunaan kata ambigu atau kalimat yang tidak lazim digunakan

para pihak, dapat menjadi faktor yang akan menghambat berjalannya

proses mediasi. Oleh karena itu, mediator mesti sangat hati-hati

menggunakan bahasa lisan atau tulisan dalam menjalankan proses

mediasi, mengingat pihak yang bersengketa sangat rentan terhadap

informasi dan bahasa yang digunakan oleh mediator. Kemampuan

mediator memilih kata, kalimat, danistilah- istilah yang lazim dipakai

para pihak yang bersengketa akan mempermudah mediator

membawa para pihak membuat kesepakatan- kesepakatan.70

Kemampuan menyusun kalimat-kalimat netral memerlukan

pemikiran serius dan latihan yang terus-menerus, sehingga mediator

peka dan cepat tanggap untuk melakukan penyesuaian kalimat

70
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
109-111.
64

tersebut. Oleh karena itu, training dan praktik simulasi akan sangat

membantu mediator dalam mempertajam kemampuannya

berkomunikasi dan menetralkan pernyataan-pernyataan destruktif dan

subjektif dari para pihak yang bersengketa.

4. Peran-Peran Mediator
Hakim mediator memiliki peran menentukan dalam suatu

proses mediasi. Gagal tidaknya mediasi juga sangat ditentukan oleh

peran yang ditampilkan mediator. Ia berperan aktif dalam

menjembatani sejumlah pertemuan antar para pihak. Desain

pertemuan, memimpin dan mengendalikan pertemuan, menjaga

keseimbangan proses mediasi dan menuntut para pihak mencapai

suatu kesepakatan merupakan peran utama yang harus dimainkan

oleh mediator.

Mediator sebagai pihak ketiga yang netral melayani

kepentingan para pihak yang bersengketa. Mediator harus

membangun interaksi dan komunikassi positif, sehingga ia mampu

menyelami kepentingan para pihak dan berusaha menawarkan

alternatif dalam pemenuhan kepentingan tersebut.71

Dalam memimpin pertemuan yang dihadiri kedua belah

pihak, mediator berperan mendampingi, mengarahkan dan membantu

para pihak untuk membuka komunikasi positif dua arah, karena

lewat komunikasi yang terbangun akan memudahkan proses mediasi

selanjutnya.

71
M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, VIII (Jakarta: Sinar Grafika, 2008). 247.
65

Dalam memandu proses komunikasi, mediator ikut

mengarahkan para pihak agar membicarakan secara bertahap upaya

yang mungkin ditempuh keduanya dalam rangka mengakhiri

sengketa. Ada beberapa peran mediator yang sering ditemukan ketika

proses mediasi berjalan. Peran tersebut antara lain:72

a. Menumbuhkan dan mempertahankan kepercayaan diri antara

para pihak.

b. Menerangkan proses dan mendidik para pihak dalam hal

komunikasi dan menguatkan suasana yang baik.

c. Membantu para pihak untuk menghadapi situasi atau

kenyataan.

d. Mengajar para pihak dalam proses dan keterampilan tawar-

menawar.

e. Membantu para pihak mengumpulkan informasi dan

menciptakan pilihan untuk memudahkan penyelesaian.

Peran hakim mediator akan terwujud apabila mediator

mempunyai sejumlah keahlian (skill). Keahlian ini diperoleh melalui

sejumlah pendidikan, pelatihan (training) dan sejumlah pengalaman

dalam menyelesaikan konflik atau sengketa.

Hakim mediator menampilkan peran yang terlemah bila

dalam proses mediasi, ia hanya melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan pertemuan

72
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
79.
66

b. Memimpin diskusi

c. Memelihara atau menjaga aturan agar prose perundingan

berlangsung secara baik

d. Mengendalikan emosi para pihak

e. Mendorong para pihak yang kurang mampu atau segan dalam

mengemukakan pandangannya.73

Sedangkan mediator yang menampilkan peran kuat, ketika

dalam proses mediasi ia mampu melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Mempersiapkan dan membuat notulen pertemuan.

b. Merumuskan titik temu atau kesepakatan dari para pihak.

c. Membantu para pihak agar menyadari bahwa sengketa

bukanlah sebuah pertarungan untuk dimenangkan, tetapi

sengketa harus diselesaikan.

d. Menyusun dan mengusulkan alternatif pemecah masalah.

e. Membujuk para pihak untuk menerima usulan tertentu dalam

rangka penyelesaian sengketa.74

Peran-peran tersebut di atas harus diketahui secara baik oleh

seseorang yang akan menjadi mediator dan hakim yang menjadi

mediator di Pengadilan Agama dalam penyelesaian sengketa. Hakim

mediator harus berupaya melakukan yang terbaik agar proses

mediasi berjalan maksimal sehingga para pihak merasa puas dengan

keputusan yang mereka buat atas bantuan hakim mediator.

73
H. Soeharto, Mediasi dan Perdamaian (Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2005). 18.
74
Ibid. 19.
67

5. Tipe-Tipe Mediator
Dalam menyelesaikan sengeketa atau konflik melalui mediasi

ada beberapa tipe mediator yang kita jumpai yaitu75:

a. Tipe Otoritatif. Tipe mediator seperti ini memilki kewenangan

yangbesar dalam mengontrol dan memimpin pertemuan

antarpihak. Mediator dengan tipe ini dapat menghentikan

pertemuan para pihak, jika ia merasa pertemuan tersebut tidak

efektif tanpa meminta pertimbangan para pihak. Mediator jenis

ini aktif menawarkan solusi kepada para pihak, di satu sisi para

pihak terlihat agak pasif dalam mengemukakan

persoalannyasehingga lebih bergantung pada mediator. Namun

tindakan mediator tipe ini sangat berpeluang untuk gagalnya

penyelesaian sengketa.

b. Tipe Mediator Autoritatif adalah tipe mediator yang bekerja di

instansi pemerintah. Mediator yang demikian sering kita

jumpai dalam kasus- kasus tanah, perburuhan dan pencemaran

lingkungan hidup, yang melibatkan masyarakat di satu sisi

dengan pengusaha di sisi lain. Tipe mediator ini selama

menjalankan perannya tidak menggunakan kewenangan atau

pengaruhnya. Hal ini didasarkan pandangan bahwa pemecahan

yang terbaik dalam sebuah kasus bukanlah ditentukan oleh

dirinya selaku pihak yang berpengaruh, melainkan harus

dihasilkan oleh upaya pihak-pihak yang bersengketa sendiri.

75
Rachmad Syafa‟at, Advokasi dan Pilihan Penyelesaian Sengketa (Malang: Agritek YPN, 2006).
37.
68

Tipe mediator Autoritatif ini terbagi dalam tiga macam

lagi yaitu76

1) Tipe Benovalent mempunyai ciri-ciri;

dapat memiliki atau tidak memiliki

hubungan dengan para pihak, mencari

penyelesaian yang baik bagi para

pihak, tidak berpihak dalam hal

subtantif, kemungkinan memiliki

sumber daya untuk membantu

pemantauan dan implemtasi

kesepakatan.

2) Tipe Managerial mempunyai ciri-ciri;

memiliki hubungan otoritatif dengan

para pihak sebelum dan sesudah

penyelesaian sengketa berakhir,

mencari penyelesaian yang diupayakan

bersama-sama dengan para pihak

dalam ruang lingkup kewenangannya,

berwenang untuk member nasihat dan

saran jika para pihak mencapai

kesepakatan

3) Tipe Vested Interst memiliki cirri;

memiliki kepentingan yang kuat


76
Suyud Margono, Alternative Dispute Resolution dan Arbitrase (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004).
61-62.
69

terhadap hasil akhir, mencari

penyelesaian yang dapat memenuhi

kepentingan mediator atau

kepentingan pihak yang disukai,

kemungkinan dapat menggunakan

tekanan agar para pihak mencapai

kesepkatan.

c. Tipe Mediator Independen. Mediator tipe ini tidak terikat

dengan lembaga social atau institusi apapun dalam

mey77elesaikan para pihak. Mediator jenis ini berasal dari

masyarakat yang dipilih oleh para pihak untuk meyelesaikan

sengketa mereka. Mediator jenis ini sengaja diminta oleh para

pihak, karena memilki kapasitas dan skill dalam penyelesaian

sengketa. Biasanya tipe mediator ini berasal dari tokoh

masyarakat, tokoh adat dan ulama yang cukup berpengalaman.

6. Kewenangan dan Tugas Mediator


Hakim mediator memiliki sejumlah kewenangan dan tugas

dalam menjalankan proses mediasi. Mediator dalam hukum Islam

memperoleh tugas dan kewenangan tersebut dari para pihak, dimana

mereka „mengizinkan dan setuju‟ adanya pihak ketiga

menyelesaikan sengketa mereka. Sedangkan Hakim mediator dalam

hukum positif di tunjuk oleh Pemerintah atau badan instalasi yang

terkait. Kewenangan dan tugas hakim mediator terfokus pada upaya

menjaga

77
Ibid. 62.
70

dan mempertahankan proses mediasi. Hakim mediator diberikan

kewenangan oleh para pihak melakukan tindakan dalam rangka

memastikan bahwa mediasi sudah berjalan sebagaimana mestinya.

Hakim mediator juga dibekali dengan sejumlah tugas yang harus

dilaksanakan mulai dari awal sampai akhir proses mediasi.78

a. Kewenangan hakim mediator terdiri atas:

1) Mengontrol proses dan menegaskan aturan dasar

Mediator berwenang mengontrol proses mediasi sejak

awal sampai akhir. Ia memfasilitasi pertemuan para pihak,

membantu para pihak melakuka negosiasi, membantu

membicarakan sejumlah kemungkinan untuk mewujudkan

kesepakatan dan membantu menawarkan sejumlah solusi

dalam penyelesaian sengketa. Pada dasarnya, mediator

hanyalah mendorong para pihak untuk lebih proaktif

memikirkan penyelesaian sengketa mereka. Mediator

mengawasi sejumlah kegiatan tersebut melalui penegakkan

aturan mediasi yang telah disepakati bersama. Ia memiliki

kewenangan mengajak para pihak melanggar kesepakatan

sebelumnya. Misalnya, pada tahap pertemuan pertama

disepakati bahwa para pihak tidak akan melakukan interupsi

(menyela), ketika salah satu pihak melakukan presentasi. Jika

dalam pelaksanaan ditemukan salah satu pihak melakukan

interupsi (menyela), maka mediator berwenang menegaskan

78
A. Rahmat Rosyadi dan Ngatino, Arbitrase dalam Perspektif Islam dan Hukum Positif (Jakarta:
Citra Aditya Bakti, 2002). 82.
71

aturan tersebut. Demikian pula jika para pihak sudah terlalu

jauh melakukan pembicaraan, sehingga melenceng dari

kesepakatan-kesepakatan awal, maka mediator berwenang

mengarahkan dan mengembalikan pembicaraan para pihak

pada ketentuan yang telah disepakati sebelumnya,. Mediator

harus cermat mengawasi langkah kegiatan para pihak, dan

berusaha maksimal menegakkan aturan mediasi yang telah

disepakati bersama. Kewenangan mediator mengontrol dan

menjaga tegaknya aturan, akan membuat mediasi lebih efektif

dan efesien dalam mencapai sasaran penyelesaian sengketa.79

2) Mempertahankan struktur dan momentum dalam

negosiasi.

Mediator berwenang menjaga dan mempertahankan

struktur dan momentum dalam negosiasi. Esensi mediasi

terletak pada negosiasi, dimana para pihak diberikan

kesempatan melakukan pembicaraan dan tawar-menawar

dalam menyelesaikan sengketa. Mediator menjaga dan

mempertahankan struktur negosiasi yang dibangun tersebut.

Mediator selalu mendampingi para pihak, agar dalam

pembicaran dan negosiasi mereka tidak keluar dari struktur.

3) Mengakhiri proses bilamana mediasi tidak

produktif lagi.

Dalam proses mediasi sering ditemukan para pihak

79
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
83.
72

sangat sulit berdiskusi secara terbuka. Mereka

mempertahankan prinsip secara ketat dan kaku, terutama pada

saat negosiasi. Ketika mediator melihat para pihak tidak

mungkin lagi diajak kompromi dalam negosiasi, maka

mediator berwenang menghentikan proses mediasi. Mediator

dapat menghentikan proses mediasi. Mediator dapat

menghentikan proses mediasi untuk sementara waktu atau

penghentian untuk selamanya (mediasi gagal). Ada dua

pertimbangan penghentian mediasi yang dilakukan oleh

mediator.80 Pertama, ia menghentikan proses mediasi untuk

sementara waktu, guna memberikan kesempatan kepada para

pihak memikirkan kembali tawar-menawar kepentingan dalam

penyelesaian sengketa. Kedua, mediator menghentikan proses

mediasi dengan pertimbangan hampir dapat dipastikan tidak

ada celah yang mungkin dimasuki untuk diajak negosiasi dari

kedua belah pihak. Para pihak sudah menegaskan prinsip dan

tuntunan masing- masing secara emosional, sehingga bila

proses mediasi dilanjutkan dapat diprediksi akan tetap tidak

efektif, menghabiskan waktu yang tidak bermanfaat dan pada

akhirnya akan menuai kegagalan.

b. Tugas seorang mediator adalah: 81

1) Melakukan diagnosis konflik.

Tugas pertama yang dilakukan mediator adalah


80
Ibid. 84.
81
Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam di Indonesia Tinjauan dari Aspek Metodologi Legalisasi
dan Yurisprudensi (Jakarta: Rajawali Press, 2007). 300-301.
73

mendiagnosis konflik atau sengketa. Mediator dapat

mendiagnosis sengketa sejak pramediasi yang bertujuan untuk

mengetahui bentuk-bentuk persengketaan, latar belakang

penyebabnya dan akibat dari persengketaan bagi para pihak.

Atas dasar diagnosis sengketa, mediator dapat menyusun

langkah negosiasi, mencari alternatif solusi, mempersiapkan

pilihan yang mungkin ditawarkan kepada kedua belah pihak

dalam penyelesaian sengketa.

2) Mengidentifikasikan masalah serta kepentingan-

kepentingan kritis para pihak.

Mediator mengarahkan para pihak untuk

menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka dalam

persengketaan tersebut. Dalam prakteknya para pihak tidak

menyampaikan secara sistematis dan runtut pokok sengketa

dan kepentingan masing-masing. Mediator bertugas

mengidentifikasikan dan menyusun secara sistematis pokok

persengketaan dan kepentingan para pihak. Identifikasi dan

sistematika ini sangat penting untuk menjadi pedoman para

pihak dalam proses mediasi. 82

3) Menyusun agenda.

Agenda mediasi memuat sejumlah hal-hal antara lain:

waktu mediassi, para pihak yang hadir, mediator, metode

negosiasi, persoalan pokok yang dipersengketakan.

82
Buku Komentar Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2008 (Jakarta: JICA dan IICT,
2008). 40.
74

4) Memperlancar dan mengendalikan komunikasi.

Mediator bertugas membantu para pihak untuk

memudahkan komunikasi mereka karena dalam praktik banyak

ditemukan para pihak malu dan segan dalam mengungkapkan

persoalan dan kepentingan mereka. Sebaliknya tidak sedikit

juga para pihak terlalu berani dalam menyampaikan pokok

sengketa dan tuntutannya, sehingga kadang-kadang

menyinggung pihak lain. Dan ini tentu saja akan menghambat

proses mediasi, disinilah mediator harus mampu

mengendalikan kemunikasi para pihak.

5) Menyusun dan merangkai.

Mediator harus menyusun dan merangkai kembali

tuntutan para pihak, menjadi kepentingan sesungguhnya dari

para pihak.

6) Mengubah pandangan.

Mediator bertugas mengubah pandangan egosentris

masing- masing pihak menjadi pandangan yang mewakili

semua pihak. Mediator secara arif meyakinkan para pihak

untuk saling memahami posisi pihak lain, sehingga pandangan

mereka dapat didekatkan dnegan meninggalkan egonya

masing-masing. 83

7) Memasukkan kepentingan kedua belah pihak.

Mediator harus bisa menimbang dan memasukkan

83
Buku Komentar Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2008 (Jakarta: JICA dan IICT,
2008). 40.
75

kepentingan kedua belah pihak secara merata dalam hal

pendefinisian masalah.

8) Menggunakan dan menyusun bahasa dengan bagus.

Mediator bertugas menyusun proposisi mengenai

masalah para pihak dalam bahasa dan kalimat yang tidak

menonjolkan unsur emosional.84

9) Menjaga pernyataan para pihak.

Mediator bertugas menjaga pernyataan para pihak agar

tetap berada dalam kepentingan yang sesungguhnya dan tidak

berubah menjadi suatu tuntutan yang kaku, sehingga

pembahasan dan negosiasi dapat dilakukan.

7. Ciri-Ciri Profesionalitas Mediator


Dari syarat-syarat hakim mediator yang disebutkan diatas tadi

ialah hakim mediator harus berasal dari kalangan profesional, maka

di sini akan diterangkan tentang ciri-ciri profesionalitas hakim

mediator antara lain yaitu menguasai hukum formil, hukum materil,

ahli di bidang psikologi, dan mempunyai sertifikat hakim mediator,

yang akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Menguasai hukum formil

Menguasai hukum formil adalah menguasai teori-teori

tentang hukum perdata, literatur atau buku-buku tentang mediasi,

serta undang- undang tentang hakim mediator yang berlaku.

Dengan menguasai hukum formil maka akan mempermudah

84
Ibid. 40.
76

hakim dalam menjalankan tugasnya sebagai mediator, dan

jugamempermudah hakim mediator ketika berijtihad, dengan

menggunakan teori-teori yang ada serta acuan hukum dalam

undang-undang yang berlaku.85

b. Menguasai hukum materil

Menguasai hukum secara materil berarti hakim terampil

dalam melaksanakan hukum acara sedemikian rupa, baik dalam

menghadapi orang yang sudah faham dan biasa beracara seperti

advokat, maupun mereka yang buta hukum seperti rakyat jelata.

Begitupun dalam mencari kebenaran materil, hakim profesional

yang terampil dan handal dalam mencari dan menggali fakta di

persidangan. Selanjutnya Pamuji mengartikan orang yang

profesional memiliki atau dianggap memiliki keahlian, akan

melakukan kegiatan-kegiatan diantaranya pelayanan publik

dengan mempergunakan keahliannya itu sehingga menghasilkan

pelayanan publik yang lebih baik mutunya, lebih cepat prosesnya,

mungkin lebih bervariasi yang kesemuanya mendatangkan

kepuasan pada masyarakat.

c. Mempunyai keahlian di bidang psikologi

Keahlian di bidang psikologi, hakim mediator harus bisa

mengetahui situasi dan kondisi para pihak yang berperkara, harus

bisa memahami situasi dan kondisi para pihak yang berperkara,

harus bisa memahami posisi diantara kedua belah pihak dan tidak

85
Ibn Manzur, Lisan al-Arab (Beirut: Dar al-Shadir, t.t.). 133.
77

menunjukkan pembelaan salah satu dari kedua belah pihak, agar

tidak timbul sifat iri dan muncul ketidakadilan. 86 Mediator wajib

memelihara dan mempertahankan ketidakberpihakannya, baik

dalam wujud kata, sikap, dan tingkah laku terhadap para pihak

yang terlibat sengketa. Mediator dilarang memengaruhi atau

mengarahkan para pihak untuk menghasilkan syarat-syarat atau

klausula-klausula penyelesaian sebuah sengketa yang dapat

memberikan keuntungan pribadi bagi mediator. Dalam

menjalankan fungsinya, mediator harus beriktikad baik, tidak

berpihak dan tidak mempunyai kepentingan pribadi serta tidak

mengorbankan kepentingan para pihak.

Mediasi juga harus didukung oleh kultur budaya

masyarakat untuk menyelesaikan sengketa, disinilah pentingnya

peran hakim mediator memahamkan masyarakat tentang hukum.

Oleh karena itu, hakim mediator harus tanggap dan berkompeten

dalam menyikapi dan memberikan solusi kepada para pihak

sehingga para pihak bisa menerima solusi yang diberikan.

8. Teknik Mediasi
Dalam kaitannya dengan teknik mediasi ada beberapa hal

yang perlu mendapat perhatian dari seorang hakim mediator agar

proses mediasi dapat berjalan lancar dan memperoleh hasil yang

maksimal. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah bahwa seorang

86
Ibid. 41.
78

hakim mediator perlu untuk bersikap SOLER 87 dalam melakukan

praktek mediasi. yang dimaksud dengan ungkapan SOLER di sini

adalah:

a. S (Squarely). Seorang mediator ketika sedang duduk dan

berbicara dengan pihak yang bertikai (disputans), janganlah

sambil berdiri, tetapi sebaiknya tetaplah dalam posisi duduk

agar bisa berhadapan langsung dengan pihak yang berkonflik

ketika mereka sedang berbicara.

b. O (Open stance). Agar selalu terlihat memperhatikan kepada

pihak yang bertikai (disputants) dan tidak menunjukkan sikap

acuh, sebaiknya hakim mediator jangan pernah menyilangkan

tangannya di dada, tetapi lebih baik tetap di bawah.

c. L (Lean forward). Ketika sedang bicara dengan pihak yang

bertikai (disputans), hakim mediator sebaiknya sedikit

membungkukkan badannya kearah pembicara agar terlihat

bahwa hakim mediator memberikan perhatian penuh.

d. E (Eye contact). Dalam melakukan tugasnya mediator harus

melakukan kontak mata dengan pihak yang bertikai

(disputants). Hal ini penting sebagai bagian dari bahsa tubuh,

sebagai tanda bahwa hakim mediator memperhatikan

pembicaraan mereka.

e. R (Relax). Hakim mediator harus senantiasa bersikap rileks

dan santai serta tidak perlu tegang sehingga akan

87
Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional.
41.
79

memudahkan komunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai.88

Selain bersikap SOLER seorang hakim mediator perlu

memperhatikan beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan

ketika menjalankan proses mediasi. langkah-langkah tersebut biasa

digambarkan secara berurutan sebagai berikut: (a) perkenalan, (b)

penuturan cerita, (c) mengklarifikasi permasalahan dan kebutuhan,

(d) menyelesaikan masalah, (e) merancang kesepakatan.

D. Konsep Keberhasilan Mediasi

Mediasi merupakan tata cara berdasarkan iktikad baik dimana

para pihak yang bersengketa menyampaikan pokok persoalannya melalui

jalurnya sendiri dengan cara bagaimana sengketa akan diselesaikan

melalui jalur mediator, karena mereka sendiri tidak mampu

melakukannya.89

Oleh karena itu, keberhasilan mediasi bisa dipengaruhi oleh

beberapa hal, seperti kualitas mediator (training dan profesionalisme),

usaha-usaha kepercayaan dari kedua pihak yang sedang bertikai, serta

kepercayaan dari kedua pihak terhadap proses mediasi, kepercayaan

terhadap mediator, kepercayaan terhadap masing-masing pihak. Seorang

mediator yang baik dalam melakukan tugasnya akan merasa sangat

senang untuk membantu orang lain mengatasi masalah mereka sendiri, ia

akan bertindak netral seperti ayah yang penuh kasih, meningkatkan

88
Ibid. 41.
89
Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS), 2 (Jakarta: PT.
Fikahati Aneska bekerjasama dengan BANI, 2011). 35.
80

kualitas pengambilan keputusan, mempunyai metode yang harmonis,

mempunyai kemampuan dan sikap, memiliki integritas dalam

menjalankan proses mediasi serta dapat dipercaya dan berorientasi pada

pelayanan.90

Peran mediator pada proses mediasi sangat penting karena akan

menentukan keberhasilan atau kegagalan untuk memperoleh kesepakatan

para pihak yang berperkara. Seorang mediator dituntut harus menguasai

perannya sebagai mediator.

Implementasi mediasi di peradilan menunjukkan bahwa PERMA

mediasi sangat penting dalam upaya menyelesaikan sengketa (bukan

memutus perkara). Harapan PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur

Mediasi di Pengadilan setidaknya meliputi empat keinginan, yaitu91:

1. Mediasi proses penyelesaian sengketa diharapkan lebih cepat

dan murah sesuai dengan harapan para pihak yang bersengketa.

2. Mediasi lebih memberikan peluang kepada para pihak yang

bersengketa untuk turut serta dalam menemukan penyelesaian

yang memuaskan para pihak.

3. Mediasi diharapkan dapat mengurangi penumpukan perkara di

pengadilan.

4. Mediasi akan memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga

pengadilan dalam menyelesaikan sengketa secara non ajudikatif.

90
M. Mukhsin Jamil, Mengelola Konflik Membangun Damai (Semarang: Walisongo Mediation
Centre (WMC), 2007). 107.
91
Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS). 36.
81

Integrasi mediasi dalam perkara perceraian merupakan kajian

yang cukup menarik karena dominasi perkara di pengadilan agama,

memiliki peringkat tertinggi. Fenomena ini hampir terjadi di seluruh

pengadilan agama di Indonesia. Pengadilan Agama harus melaksanakan

mediasi sesuai dengan PERMA No. 1 Tahun 2016. Perkara perceraian

merupakan perkara perdata yang harus diselesaikan melalui mediasi

terlebih dahulu. Putusan pengadilan yang tidak melalui jalur mediasi

terlebih dahulu, maka putusannya dianggap batal demi hukum.

Mediasi dalam perkara perceraian ini, ada beberapa kemungkinan

yang akan terjadi, seperti;92

1. Salah satu dari pihak tidak menghadiri persidangan,sehingga

mediasi tidak bisa untuk dilaksanakan, oleh karenanya, hakim

dapat memutus perkara secara verstek.

2. Mediator berhasil mendamaikan Penggugat dan Tergugat

(mereka tidak jadi bercerai), maka pencabutan perkara dengan

produk hakim berupa Penetapan.

3. Mediator berhasil mendamaikan Penggugat dengan Tergugat

yang hasil perdamaiannya mereka akan bercerai secara baik-

baik. Ini berarti mediasi gagal dan persidangan pemeriksaan

perkara dilanjutkan pada pemeriksaan pokok perkara.

Kelima faktor keberhasilan mediasi dijadikan sebagai alat ukur

efektivitas atau tidaknya mediasi.93

92
Febri Handayani, “Implementasi Mediasi dalam Penyelesaian Perkara Perceraian di Pengadilan
Agama,” Jurnal t.t., 24. 241-245.
93
Farhan Asyhadi, “Efektivitas Mediasi Dalam Perkara Perceraian Di Pengadilan Agama
82

1. Tinjauan Yuridis PERMA No. 1 Tahun 2016.

PERMA No. 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di

Pengadilan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

efektivitas pelaksanaan mediasi di Pengadilan. Dengan

ditetapkannya PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur

Mediasi di Pengadilan, telah terjadi perubahan fundamental

dalam praktek peradilan di Indonesia.

Dengan Perma No.1 Tahun 2016 ini, mediasi wajib

ditempuh sebagai salah satu tahapan dalam proses berperkara

dilingkungan peradilan umum dan peradilan agama. Sanksi

hukumnya adalah pemeriksaan demi hukum atau Nietigbaar ,

artinya dianggap tidak pernah ada pemeriksaan dan putusan

perkara. PERMA No. 1 Tahun 2016 memiliki kekuatan hukum

yang mengikat dan ada daya paksa bagi masyarakat.

2. Kualifikasi Mediator

Keberhasilan mediasi juga bisa di lihat dari efektivitas

pelaksanaan mediasi yang bertumpu pada profesionalitas

hakim mediator dalam melaksanakan proses mediasi (keahlian

di bidang hukum formil dan materiil, dan juga keahlian di

bidang psikologis), hakim mediator harus bersertifikat, adanya

substansi hukum atau peraturan yang jelas dan terperinci untuk

mengupayakan damai dengan sungguh-sungguh.94

Karawang” (Jurnal, Universitas Buana Perjuangan Karawang, 2019). 37-46.


94
Ibid. 45.
83

3. Fasilitas dan Sarana

Ketersediaan sarana/fasilitas mediasi juga menjadi faktor

yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan mediasi.

Pengadilan Agama Karawang telah menyediakan ruang khusus

mediasi. Mediasi perkara dapat dilakukan di ruang mediasi

pengadilan maupun di tempat lain diluar pengadilan sesuai

kesepakatan para pihak. Apabila proses mediasi menggunakan

mediator hakim atau pegawai pengadilan, maka mediasi wajib

dilakukan di pengadilan dan tidak dikenakan biaya.

4. Kepatuhan Masyarakat

Mengenai kepatuhan masyarakat mengenai perilaku dan

sikap para pihak selama proses mediasi, yakni seringkali salah

satu atau kedua pihak merasa paling benar (egois), sebelum

para pihak memasuki pemeriksaan perkara sering kali mereka

sudah bersepakat untuk bercerai.95

5. Kebudayaan

Faktor budaya masyarakat juga menjadi faktor yang

mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan mediasi. Proses

mediasi secara kultural dan alami tersebut dibantu oleh tokoh

masyarakat dan tokoh agama. Adanya budaya tersebut maka

mediasi yang dipandu oleh mediator di pengadilan juga akan

sangat potensial mencapai kesepakatan damai.

95
Ibid. 46.

Anda mungkin juga menyukai