Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter....
227
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter Melalui
Pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo
Bustanul Yuliani
Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
email: bustanulyulia@[Link]
Abstrak
Terpuruknya bangsa dan Negara Indonesia dewasa ini tidak hanya disebabkan oleh
krisis ekonomi melainkan juga oleh krisis akhlak. Berawal dari problem tersebut, adanya
internalisasi nilai religius dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran PAI di MAN
2 Ponorogo agar peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan
pengetahuannya, dan menginternalisasi nilai karakter dan akhlak mulia sehingga
terwujud dalam perilaku sehari-hari. Internalisasi nilai religius dalam pendidikan karakter
melalui pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo ini, meliputi bersyukur kepada Tuhan
dan mengagumi kebesaran Tuhan, guru mewujudkannya dengan memberikan contoh,
pesan, motivasi terkait dengan rasa bersyukur kepada Tuhan, dan juga mengaitkan materi
pelajaran dalam kehidupan sehari-hari, serta memberikan pesan dan motivasi kepada
peserta didik untuk meningkatkan ibadahnya, guru juga memberikan teladan yang baik
bagi peserta didik.
Kata Kunci: Nilai Religius, Pendidikan Karakter, Pembelajaran PAI
Abstract
The decline of Indonesian State today are not only due to the economic crisis but also
by a moral crisis. from these problems, the internalization of religious in character education
by Islamic education learning in MAN 2 Ponorogo to make the students able to improve and
use knowledge independently, and internalize the values and character of noble character
so that manifest in daily behavior. Internalization of religious in character education by
Islamic education learning in this Ponorogo MAN 2, include grateful to God and marvel at
the greatness of God, the teachers realize it by giving examples, message, motivation related
with gratitude to God, and also linked the lesson material in daily life, and gave messages
and motivation for learners to improve their worship, the teacher is also a good example for
students.
Keywords: Religious, Character Education, Islamic Education Learning
228 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
A. Pendahuluan
Persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan,
kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi
yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif, dan sebagainya
menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar, dan di
berbagai kesempatan. Itu semua disebabkan karena karakter bangsa yang
menurun.
Begitu juga yang telah terjadi di lembaga pendidikan yang ada di
Indonesia, salah satu lembaga pendidikan tersebut tepatnya di kota
Ponorogo yaitu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo. Dari hasil
wawancara pada hari sabtu tanggal 3 Desember 2011 pukul 10.30 di
MAN 2 Ponorogo dengan Drs. Mochammad Ngubaini selaku Wakama
Kurikulum, menyampaikan beberapa masalah yang ada di MAN 2 Ponorogo
diantaranya adalah sebagai berikut: ada siswa yang membolos pada saat
pelajaran, siswa nyontek hasil tugas temannya, siswa nyontek saat ujian,
kurangnya kesadaran siswa tentang pentingnya belajar, rame saat pelajaran
berlangsung, kurang rasa hormatnya siswa terhadap guru, beberapa siswa
tidak ikut sholat dhuhur berjama’ah, siswa terlambat masuk kelas dan lain
sebagainya.
Melihat beberapa masalah terkait dengan menurunnya karakter
bangsa, berbagai alternatif penyelesaian telah diajukan seperti peraturan,
undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum
yang lebih kuat. Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi,
paling tidak mengurangi, masalah tersebut yang dibicarakan itu adalah
pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif
karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik.
Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat
mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang
dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya
dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 229
terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya
tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.1
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang
yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang
diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir,
bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan
norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada
orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter
masyarakat dan karakter bangsa.2
Berbagai upaya pengembangan pendidikan karakter bangsa telah
dilakukan di berbagai rektorat dan di berbagai lembaga pemerintah, terutama
di berbagai unit Kementrian Pendidikan Nasional. Upaya pengembangan
itu berkenaan dengan berbagai jenjang dan jalur pendidikan walaupun
sifatnya belum menyeluruh. Keinginan masyarakat dan kepedulian
pemerintah mengenai pendidikan karakter bangsa, akhirnya berakumulasi
pada kebijakan pemerintah mengenai pendidikan budaya dan karakter
bangsa dan menjadi salah satu program unggulan pemerintah, paling tidak
untuk masa 5 (lima) tahun mendatang.3 Dalam pelaksanaan pendidikan
karakter bangsa Indonesia tidak berdiri sendiri tetapi berintegrasi dengan
pelajaran-pelajaran yang ada dengan memasukkan nilai-nilai karakter dan
budaya bangsa Indonesia.
Salah satu mata pelajarannya adalah PAI (Pendidikan Agama Islam).
Melalui pembelajaran PAI, nantinya akan menanamkan nilai religus dalam
kehidupannnya sehari-sehari dan terbentuknya siswa yang berkarakter.
Karena dengan Pendidikan Islam, dalam pertumbuhan spiritual dan
moral akan mampu menolong individu menguatkan iman, akidah, dan
pengenalan terhadap Allah Swt., melalui hukum, moral dan ajaran agama,
dengan demikian peserta didik dalam melaksanakan tuntunan iman
1
Kementerian Pendidikan Nasional, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa Pedoman Sekolah, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum,
2010), hlm. 1.
2
Ibid., hlm. 2.
3
Ibid.
230 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
kepada Allah Swt. dan pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agama
dan nilainya dalam kehidupan pada tingkah lakunya, dan hubungannya
dengan Allah Swt. dengan sesama manusia dan seluruh makhluk, akan
mempertegas pentingnya pendidikan akhlak dan spiritualitas dalam
menyongsong globalisasi.4
Maka dari itu, dalam tulisan ini akan membahas tentang pendidikan
karakter, nilai religius yang terdapat dalam pendidikan karakter, dan
pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) sebagai cara untuk mencapai
pendidikan karakter.
B. Pendidikan Karakter
Dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, situasi dan
kondisi karakter bangsa yang memprihatinkan, mendorong pemerintah
untuk mengambil inisiatif untuk memprioritaskan pembangunan karakter
bangsa. Pembangunan karakter bangsa dijadikan arus utama pembangunan
nasional. Hal itu mengandung arti bahwa setiap upaya pembangunan harus
selalu diarahkan untuk memberi dampak positif terhadap pengembangan
karakter. Mengenai hal tersebut secara konstitusional sesungguhnya sudah
tercermin dari misi pembangunan nasional yang memposisikan pendidikan
karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan
visi pembangunan nasional, sebagaimana tercantum dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007), yaitu “...terwujudnya
karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral
berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia
dan masyarakat Indonesia yang beragama, beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong,
berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek”.5
4
Djuwarijah, “Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Islam,”
El-Tarbawi/Jurnal Pendidikan Islam, (2008), hlm. 23.
5
Widayanto, “Implementasi Pendidikan Karakter Bangsa,” Inovasi, 17 (Januari-
Maret, 2011), hlm. 3.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 231
Maka dari itu, menurut Asmani perlu adanya internalisasi terhadap
nilai yang terkandung didalamnya. Teknik internalisasi sasarannya sampai
pada tahap kepemilikan nilai yang menyatu dalam kepribadian siswa, atau
pada taraf karakterisasi atau mewatak.6 Pentingnya internalisasi pendidikan
karakter di sekolah secara intensif dengan keteladanan, kearifan, dan
kebersaman, baik dalam progam intra kurikuler maupun ekstra kurikuler,
sebagai pondasi kokoh yang bermanfaat bagi masa depan anak didik.7
Muslich berpendapat bahwa istilah karakter dipakai secara khusus
dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad-18, dan untuk
pertama kalinya dicetuskan oleh padadog Jerman F.W. Foerster. Terminology
ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis-spiritualis dalam pendidikan
yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas
adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak
sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.8
Menurut Umi yang mengutip dari Pusat Bahasa Kementrian
Pendidikan Nasional (Kemdiknas), bahwa karakter mempunyai pengertian
“bawaan, hati, jiwa, kepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat dan
berwatak”. Kata “karakter” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to
mark” atau menandai dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan
nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang
yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang
berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah
moral disebut dengan berkarakter mulia.9
Dalam kamus bahasa Indonesia character (karakter) yang dikutp
oleh Daulay adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dengan yang lain; tabiat; watak. Sedangkan dalam
6
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008),
hlm. 178.
7
Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Penddikan Karakter di Sekolah,
(Yogyakarta: Diva Press, 2011), hlm. 9.
8
Masnur Muslich, Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Multidemensional,
(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011), hlm. 37.
9
Umi Kulsum, Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis PAIKEM, (Surabaya: Gena
Pratama Pustaka: 2011), hlm. 1.
232 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
kamus filsafat karakter didefinisikan, character (bahasa Yunani, character,
dari charassein, menajamkan, mengukir, tanda atau bukti yang dicetak
pada sesuatu untuk menunjukkan hal-hal seperti kepemilikan, asal-usul,
nama atau merek). Character mempunyai arti: 1) Sebuah bagi jumlah total
sifat seseorang, yang mencangkup perilaku, kebiasaan, kesukaan, hal-
hal yang tidak disukai, kemampuan, bakat, potensi, nilai dan pola pikir.
2) Struktur yang terkait secara relatif atau sisi sebuah kepribadian yang
menyebabkan sifat seperti itu. 3) Kerangka kerja sebuah kepribadian yang
secara relatif telah ditetapkan sesuai dengan sifat-sifat tertentu itu didalam
mewujudkan dirinya. Bila disimpulkan penjelasan diatas dapat dijelaskan
bahwa karakter itu terkait dengan sikap mental yang menjadi watak, tabiat
dan bawaan seseorang. 10
M. Furqon Hidayatullah mengutip pendapatnya Rutland yang
mengemukakan bahwa karakter berasal dari akar kata bahasa Latin yang
berarti “dipahat”. Secara harfiah, karkter artinya adalah kualitas mental
atau moral, kekuatan moral, nama, atau reputasinya. Dalam kamus
psikologi, dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik
tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang; biasanya mempunyai
kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.11 Lebih lanjut, karakter (engrave)
adalah upaya untuk mengukir sifat bangsa dengan core value atau perilaku
yang baik, cerdas, kreatif, kerja keras, jujur dan tanggung jawab. Jadi,
karakter bukanlah suatu kumpulan sifat dari suatu kelompok atau agreat.12
Menurut Muslich pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman
nilai-nilai karakter pada warga sekolah yang meliputi komponen
pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama, lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan
kamil.13
10
Haidar Putra Daulay, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Rineka
cipta, 2009), hlm. 132.
11
Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi, hlm. 27-28.
12
Zainul Miftah, Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Bimbingan dan Konseling,
(Surabaya: Gena Pratama Pustaka: 2011), hlm. 45.
13
Masnur Muslich, Pendidikan Karakter, hlm. 84.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 233
Lebih lanjut dijelaskan oleh Umi Kulsum bahwa pendidikan karakter
adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi
karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik
dengan keteladanan perilaku yang baik, berbicara atau menyampaikan
materi dengan jelas dan sopan, guru bertoleransi bila terdapat beda
pendapat, dan berbagai kaitan lainnya yang terjadi selama proses
pembelajaran. Jadi semua perilaku guru dalam proses pembelajaran
mencerminkan karakter yang nantinya akan ditiru oleh peserta didik.
Menurut T. Ramli yang dikutip oleh Umi Kulsum, pendidikan karakter
memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan
pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak supaya
menjadi manusia yang baik, baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan
bangsa serta dalam kehidupan bernegara. Oleh karena itu, hakikat dari
pendidikan karakter di Indonesia adalah pendidikan nilai-nilai luhur yang
bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri dalam rangka membina
kepribadian generasi muda.14
Melihat dari berbagai pendapat di atas, penulis lebih condong
terhadap pendapatnya Muslich, karena pendidikan karakter itu tidak
hanya dilakukan oleh guru terhadap murid saja, tetapi semua warga
sekolah dan juga keluarga yang lebih berpengaruh untuk memberikan
pendidikan karakter, maka dari itu pendidikan karakter adalah suatu sistem
penanaman nilai-nilai yang terdapat dalam karakter pada warga sekolah
dan juga keterlibatan keluarga yang dapat menumbuhkan kesadaran dan
melaksanakan nilai-nilai tersebut untuk menjadi insan kamil.
Pendidikan karakter di lingkungan sekolah sangat diharapkan oleh
banyak orang tua anak disebabkan pada fenomena sosial yang berkembang
yaitu meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, perkelahian
massal, pemerkosaan, pencurian dan berbagai kasus kemrosotan moral
lainnya yang dilakukan oleh anak yang masih sekolah. Bahkan di kota-
kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat
meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah
14
Umi Kulsum, Implementasi Pendidikan Karakter, hlm. 3.
234 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan
peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui
peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.15
Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa
dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan
individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain adalah mendasarkan diri
pada tanggapan aktif kontekstual individu atau implus natural sosial yang
diterimanya, yang pada gilirannya semakin mempertajam visi hidup yang
akan di raih lewat proses pembentukan diri secara terus menerus (on
going formation). Pendidikan karakter juga bertujuan meningkatkan mutu
penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada
pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara
utuh, terpadu dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan.
Melalui pendidikan karakter, diharapkan peserta didik mampu secara
mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengakaji
dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai karakter dan akhlak
mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.16 Untuk mencapai
tujuan pendidikan karakter tersebut, maka diperlukan kerjasama dengan
keluarga juga agar tercapainya pendidikan karakter sesuai yang diharpakan.
C. Pembelajaran PAI sebagai Cara untuk Mencapai Pendidikan Karakter
Dalam pembelajaran dikenal tiga istilah, yaitu pendekatan, metode
dan teknik pembelajaran. Pendekatan pembelajaran bersifat lebih umum,
dan berkaitan dengan seperangkat asumsi berkenaan dengan hakikat
pembelajaran. Metode pembelajaran merupakan rencana menyeluruh
tentang penyajian meteri ajar secara sitematis dan berdasarkan pendekatan
yang ditentukan.
Teknik pembelajaran adalah kegiatan spesifik yang diimplementasikan
dalam kelas atau laboratorium sesuai dengan pendekatan dan metode
yang dipilih. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa pendekatan
15
Ibid., hlm. 4.
16
Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi, hlm. 42-43.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 235
lebih bersifat aksiomatis, metode bersifat prosedural, dan teknik bersifat
operasional.17
Dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang
demokratis dan bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut,
maka salah satu bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di
Madrasah adalah pendidikan agama Islam, yang dimaksudkan untuk
membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.18
Banyak orang yang menyamakan istilah pendidikan Islam dan
pendidikan agama Islam. Pendidikan Islam adalah segala usaha untuk
memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumberdaya insani
yang ada padanya, menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan Kamil
sesuai dengan norma Islam.19 Menurut Drs. Ahmad Marimba: Pendidikan
Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum
agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut
ukuran-ukuran Islam.20
Sedangkan pendidikan keislaman atau pendidikan Agama Islam
yakni upaya pendidikan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya,
agar menjadi jiwa, motivasi bahkan dapat dikatakan way of life (pandangan
dan sikap hidup) seseorang.21 Pendidikan agama Islam dapat diartikan
17
Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi, hlm. 58.
18
Basuki, et al., Cara Mudah Mengembangkan Silabus, (Yogyakarta: Pustaka Felicha,
2010), hlm. 264.
19
Ajat Sudrajat, et al., Din al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum,
(Yogyakarta: UNY Press, 2008), hlm. 130.
20
Nur Uhbiyati, et al., Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), hlm.
9.
21
Ajat Sudrajat, et al., Din al-Islam, hlm. 130.
236 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
sebagai progam yang terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk
mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam
serta diikuti tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam
hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud
kesatuan dan persatuan bangsa.22
Di dalam kurikulum PAI tahun 2002 dinyatakan bahwa pendidikan
agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta
didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, ajaran
agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati panganut
agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama
hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Sedangkan menurut
Zakiyah Daradjat, pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk
membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami
ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada
akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan
hidup.23
Jadi pembelajaran pendidikan agama Islam adalah suatu proses belajar
mengajar dengan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran untuk
membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat mengenal,
memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam secara
menyeluruh, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati panganut
agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama
hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Dari pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu sebagai
berikut ini: a) Pendidikan Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan
bimbingan, pengajaran dan/atau latihan yang dilakukan secara terencana
dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai, b) Peserta didik yang hendak
disiapkan untuk mencapai tujuan; dalam arti ada yang dibimbing, diajari
dan/atau dilatih dalam peningkatan keyakinan, pemahaman, penghayatan
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam , hlm. 6.
22
Abdul Majid, et al., Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT
23
Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 130.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 237
dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam, c) Pendidik atau Guru
Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang melakukan kegiatan bimbingan,
pengajaran dan/atau latihan secara sadar terhadap peserta didiknya untuk
mencapai tujuan pendidikan agama Islam, d) Kegiatan (pembelajaran) PAI
diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan
dan pengamalan ajaran agama Islam dari peserta didik, yang disamping
untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus untuk
membentuk kesalehan sosial. Dalam arti, kualitas atau kesalehan pribadi itu
diharapkan mampu memancar keluar dalam hubungan keseharian dengan
manusia lainnya (bermasyarakat), baik yang seagama (sesama muslim)
ataupun yang tidak seagama (hubungan dengan nonmuslim), serta dalam
berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan
nasiaonal (ukhuwah wathaniyah) dan bahkan ukhuwah insaniyah (persatuan
dan kesatuan antarsesama manusia). 24
PAI seharusnya mendapat waktu yang porposional, tidak saja di
madrasah atau sekolah-sekolah bernuansa Islam, tetapi juga disekolah-
sekolah umum. Demikian halnya dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan, PAI harus dijadikan tolok ukur dalam membentuk watak
dan pribadi peserta didik, serta membangun moral bangsa (nation character
building).25
1. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Kurikulum pendidikan agama Islam untuk sekolah/madrasah berfungsi
sebagai berikut: a) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan
ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT. yang telah ditanamkan dalam
lingkungan keluarga. b) Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk
mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. c) Penyesuaian mental,
yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan
fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya
sesuai dengan ajaran agama Islam. d) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki
kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan
24
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, hlm. hlm. 76.
25
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, hlm. 8.
238 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam
kehidupan sehari-hari. e) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal
negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain dapat membahayakan
dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia
seutuhnya. f) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara
umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya. g) Penyaluran,
yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang
agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga
dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain. 26
Tujuan pendidikan mempunyai kedudukan yang amat penting. Ada
empat fungsi tujuan pendidikan yakni: a) tujuan berfungsi mengakhiri
usaha; b) tujuan berfungsi mengarahkan usaha; c) tujuan berfungsi sebagai
titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, yaitu tujuan-tujuan
baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama; dan d) tujuan
memberi nilai pada (sifat) pada usaha itu.27
Hubungan antara tujuan dengan nilai-nilai sangat erat, karena
tujuan pendidikan merupakan masalah nilai itu sendiri. Pendidikan
mengandung pilihan bagi arah perkembangan murid-murid, pengarahan
ini berkaitan erat dengan nilai-nilai. Pilihan suatu tujuan mengandung
unsur mengutamakan beberapa nilai atas lainnya. Nilai-nilai yang dipilih
sebagai pengarah dalam merumuskan tujuan pendidikan tersebut pada
akhirnya akan menentukan corak masyarakat yang akan dibina melalui
pendidikan itu.28
Tujuan utama pendidikan agama Islam adalah untuk memberikan
“corak Islam” pada sosok lulusan lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Tujuan tersebut dapat dicapai materi/pengalaman yang berisi ajaran agama
Islam, yang pada umumnya telah tersusun secara sitematis dalam ilmu-ilmu
keislaman.29 Sedangkan tujuan pendidikan agama di Indonesia adalah
26
Ibid., hlm. 134-135.
27
Basuki dan Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pedidikan Islam, (Ponorogo: STAIN PO
Press, 2007), hlm. hlm. 35.
28
Ibid., hlm. 36.
29
Erwin Yudi Prahara, Materi Pendidikan Agama Islam, hlm. 6.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 239
untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan
dengan memepertimbangkan tuntutan untuk menghormati agama lain
dalam hubungan kerukanan antarumat beragama dalam masyarakat untuk
mewujudkan persatuan nasional.30
Pada buku lain dijelaskan bahwa tujuan pendidikan agama Islam
lebih merupakan suatu upaya untuk membangkitkan intuisi agama dan
kesiapan rohani dalam mencapai pangalaman transendental. Dengan
demikian tujuan utamanya bukanlah sekedar mengalihkan pengetahuan
dan ketrampilan (sebagai isi pendidikan), melainkan lebih merupakan
suatu ikhtiar untuk menggugah fitroh insaniyah (to stir up certain innate
powers), sehingga peserta didik bisa menjadi penganut atau pemeluk agama
yang taat dan baik (muslim paripurna).31
Secara umum, pendidikan agama Islam bertujuan untuk
“meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan
peserta didik dengan tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia
muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. serta berakhlak
mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara”. Dari tujuan tersebut dapat ditarik dimensi yang hendak
ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan agama
Islam, yaitu a) dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama
Islam; b) dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan
peserta didik terhadap ajaran agama Islam; c) dimensi penghayatan
atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan
ajaran Islam; dan d) dimensi pengalamannya, dalam arti bagaimana ajaran
Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh
peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk
menggerakkan, mengamalkan dan menaati ajaran agama dan nilai-nilainya
dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertakwa
30
Ibid., hlm. 13.
31
Ajat Sudrajat, et al., Din al-Islam, hlm. 131.
240 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
kepada Allah Swt. serta mengaktualisasikan dan merealisasikannya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.32
Oleh karena itu berbicara pendidikan agama Islam, baik makna
maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan
tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman
nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di
dunia bagi anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan
(hasanah) di akhirat kelak.33 Jadi untuk mewujudkan tujuan Pendidikan
Agama Islam, maka perlu adanya menjalankan fungsi Pendidikan Agama
Islam, agar tercapai sesuai yang diharpakan.
2. Materi Pendidikan Agama Islam
Dalam suatu pembelajaran materi bukanlah merupakan tujuan, tetapi
sebagai alat untuk mencapai tujuan. Karena itu, penentu materi pengajaran
harus didasarkan pada tujuan baik dari segi cakupan, tingkat kesulitan,
maupun organisasinya. Hal ini karena materi tersebut harus mampu
mengantarkan peserta didik untuk bisa mewujudkan sosok individu
sebagaimana yang digambarkan dalam tujuan.34 Materi pendidikan agama
Islam dapat diberikan dalam satu mata pelajaran secara utuh atau dalam
beberapa mata pelajaran secara terpisah, baik oleh guru yang sama atau
beberapa guru yang berbeda.35
Ajaran agama Islam terdiri atas tiga bagian besar, yaitu: a) Aqidah
adalah kepercayaan terhadap Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, Rasul-Nya,
hari akhir, dan qadha dan qadar Allah. b) Syariah adalah segala bentuk
peribadatan baik ibadat khusus yaitu thaharah, shalat, zakat, puasa dan
haji, maupun ibadah umum (muamalah) seperti hukum publik dan hukum
perdata. c) Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia dan
menimbulkan perbuatan yang mudah tanpa memerlukan pertimbangan
pikiran. Aqidah merupakan pondasi dari seluruh ajaran Islam, syariah
32
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, hlm. 78.
33
Abdul Majid, et al., Pendidikan Agama Islam, hlm. 136.
34
Erwin Yudi Prahara, Materi Pendidikan Agama Islam, hlm. 14.
35
Ibid., hlm. 6.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 241
merupakan implementasi ajaran Islam yang berdasarkan aqidah, sedangkan
akhlak merupakan produk dari jiwa tauhid. 36
Mata pelajaran pendidikan agama Islam itu secara keseluruhannya
dalam lingkup al-Qur’an dan al-hadis, keimanan, akhlak, fiqih/ibadah, dan
sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama
Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan
hubungan manusia dengan Allah Swt., diri sendiri, sesama manusia,
makhluk lainnya maupun lingkungannya (Hablun minalla>h wa habl min
na>s).37
Sedangkan pendidikan agama Islam di Madrasah Aliyah terdiri atas
empat mata pelajaran, yaitu al-Qur’an-Hadits, Aqidah-akhlak, fiqih dan
tarikh (sejarah) kebudayaan Islam. Masing-masing mata pelajaran tersebut
pada dasarnya saling terkait, isi mengisi dan melengkapi. Al-Qur’an-Hadits
merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti ia merupakan sumber
aqidah-akhlak, syari’ah/fiqih (ibadah, muamalah), sehingga kajiannya
berada di setiap unsur tersebut. Aqidah (ushuluddin) atau keimanan
merupakan akar atau pokok agama. Syariah/fiqih (ibadah, muamalah) dan
akhlak bertitik tolak dari aqidah, yakni sebagai manifestasi dan konsekuensi
dari aqidah (keimanan dan keyakinan hidup). Syari’ah/fiqih merupakan
sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia dengan Allah,
sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Akhlaq merupakan aspek
sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem
norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah dalam arti
khas) dan hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu
menjadi sikap hidup dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan
sistem kehidupannya (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan,
kebudayaan/seni, iptek, olahraga/kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi
oleh aqidah yang kokoh. Sedangkan tarikh (sejarah) kebudayaan Islam
merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke
masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak
36
Aminuddin, et al., Membangun Karakter dan Kepribadian Melalui Pendidikan Agama
Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), hlm. 37-38.
37
Abdul Majid, et al., Pendidikan Agama Islam, hlm. 131.
242 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
serta dalam mengembangkan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh
aqidah.
Pendidikan agama Islam (PAI) di Madrasah Aliyah yang terdiri atas
empat mata pelajaran tersebut memiliki karakteristik sendiri-sendiri.
Al-Qur’an-Hadits, menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik
dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta
mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Aspek aqidah
menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan
keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-
nilai al-asma’ al-husna. Aspek Akhlak menekankan pada pembiasaan untuk
melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan
sehari-hari. Aspek Fiqih menekankan pada kemampuan cara melaksanakan
ibadah dan muamalah yang benar dan baik. Sedangkan aspek Tarikh &
kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan mengambil ibrah dari
peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi,
dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi,
ipteks dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban
Islam.38
D. Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran
PAI
Menurut Muhammad Alim, sikap religius dalam diri manusia dapat
tercermin dari cara berfikir dan bertindak. Sikap religius merupakan
bagian penting dari kepribadian seseorang yang dapat dijadikan sebagai
orientasi moral, internalisasi nilai-nilai keimanan, serta sebagai etos kerja
dalam meningkatkan ketrampilan sosial. Indikator nilai religius dalam
pendidikan karakter selanjutnya adalah mengagumi kebesaran Tuhan.
Salah satu indikator yang terdapat dalam nilai religius adalah
bersyukur kepada Tuhan. Menurut Muhammad sholihin, bersyukur
berarti bertahmid atas rahmat Allah Swt. lisan-lah yang melakukannya.
38
Basuki et. al., Cara Mudah, hlm. 264.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 243
Dengan bacaan alhamdulillah, adalah ungkapan terima kasih mendalam
kepada Allah atas segala nikmat dan anugerah yang diturunkan-Nya pada
manusia. Melatih lisan untuk senantiasa bersyukur, ini sama kualitasnya
melatih tubuh yang lain untuk memuji Allah Swt. Sebagaimana yang
dikatakan Al-Ghazali tubuh tidak berbuat, melainkan atas dorongan lisan
yang berkata. Sementara perkataan adalah ekspresi utuh dari hati. Jadi,
tatkala lisan bersyukur memuji Allah, artinya hati tengah larut dalam
syukur yang hebat.
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo merupakan lembaga
pendidikan yang bernuansa religius dan sudah menerapkan pendidikan
berkarakter di lembaga pendidikan tersebut. Selain itu, Madrasah Aliyah
Negeri (MAN) 2 Ponorogo juga selalu berusaha untuk meningkatkan
kualitas pendidikan dalam bidang keagamaan maupun bidang pengetahuan
umum.
Salah satu upaya untuk mewujudkan lembaga bernuansa religius perlu
adanya internalisasi nilai religius yaitu tentang bersyukur kepada Tuhan
melalui pembelajaran PAI. Agar terwujudnya hal tersebut, peserta didik
dianjurkan untuk senantiasa bersyukur dengan lisan, hati, perbuatan dan
hartanya; serta menyadari bahwa kefahaman, ilmu dan taufiq itu semuanya
datang dari Allah Swt. semata. Maka perlu upaya yang harus dilakukan
guru dalam mewujudkan internalisasi bersyukur kepada Tuhan, yaitu
dengan memberikan pesan, contoh perilaku yang baik kepada peserta
didik, dan mengaitkan materi pembelajaran dengan disisipkan dorongan
untuk selalu bersyukur kepada Allah. Dengan sikap selalu bersyukur akan
nikmat Allah yang telah berikan, agar nantinya peserta didik tergugah
hatinya untuk merubah perilakunya sendiri menjadi lebih baik. Karena
dengan bersyukur, sadar akan nikmat yang Allah berikan dan orang yang
bersyukur, senantiasa mengingat Allah Swt. dengan lantunan dzikir.
Hati mereka takut pada kedurhakaan. Sedangkan anggota tubuh mereka
bergerak melakukan perintah Allah dengan ikhlas, hanya mengharap
ridha-Nya.
244 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
Internalisasi nilai religius bersyukur kepada Tuhan melalui
pembelajaran PAI pada setiap mata pelajarannya berbeda, karena setiap
mata pelajaran pendidikan agama Islam memiliki karakteristik sendiri,
sehingga cara yang digunakan guru pun berbeda dan disesuaikan dengan
materi yang telah disampaikan.
Guru pendidikan agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2
Ponorogo mengajarkan peserta didik untuk bersyukur kepada Tuhan pada
setiap keadaan, dengan cara yang berbeda juga pada setiap materi pelajaran
yang disampaikan. Pendidikan agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri
(MAN) 2 Ponorogo terdiri atas empat mata pelajaran, yaitu al-Qur’an-
hadits, Aqidah-akhlak, Fiqih dan sejarah kebudayaan Islam (SKI).
Pada saat mengawali pelajaran guru juga membukanya dengan
mengucap basmalah dan mengakhirinya dengan mengucap h{amdalah.
Kerena itu merupakan wujud rasa syukur kepada Allah Swt. Untuk
mengungkapkan syukur, selain mengucap tahmid juga mengucapkan
basmalah, karena dengan mengucap basmalah berarti juga merupakan
bentuk pengungkapan rasa syukur kepada Allah. Karena di dalam kata
tersebut ada kata Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dimana Ar-Rahman itu Pemberi
Karunia yang mendahului kelahiran kita, sedang Ar-Rahim itu Pemberi
Nikmat-nikmat yang mengikuti amal perbuatan kita sebagai ganjarannya.
Jadi dengan mengucap basmalah, berarti kita selalu ingat akan karunia dan
nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. 39
Di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo sekarang ada
pembiasaan membaca al-Qur’an bersama sebelum pelajaran dimulai,
yang dilaksanakan setelah do’a bersama. Hal itu merupakan salah satu
pembiasaan untuk selalu bersyukur kepada Allah juga.
Upaya yang telah dilakukan guru PAI tersebut, harapannya dapat
mempengaruhi perilaku peserta didik menjadi lebih baik. Untuk merubah
perilaku yang baik tersebut dengan cara bertahap dan memberikan
pemahaman terhadap peserta didik, karena dengan pemahaman yang baik
peserta didik akan terdorong untuk mempunyai perilaku yang baik pula.
39
Wawancara Nur Afif Fauziyah, 1 Maret 2012.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 245
Perbuatan syukur terhadap nikmat Allah dengan sendirinya dapat
memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. Karena sesungguhnya syukur
merupakan jalan tol, tanpa hambatan menuju Allah Swt. Hanya butuh
niat yang ikhlas untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah Swt.
Menjadikan fasilitas yang dikaruniakan Tuhan, baik tangan, kaki, lidah,
mata, telinga, dan otak sebagai media untuk mendekatkan diri pada-Nya,
dengan sendirinya menjadi bentuk original untuk mewujudkan syukur.
Mewujudkan syukur kepada Allah adalah bentuk kesadaran bahwa
kefahaman, ilmu dan taufiq itu semuanya datanga dari Allah Swt., dan
nantinya ilmu yang didapat menjadi bermanfaat dan mendapat ridho-Nya.40
Indikator dalam nilai religius adalah mengagumi kebesaran Allah.
mengagumi kebesaran Tuhan merupakan wujud cinta terhadap Tuhannya.
Apabila seseorang bisa mencintai Tuhannya, kehidupannya akan penuh
dengan kebaikan. Orang yang mempunyai karakter demikian akan
berusaha berperilaku penuh cinta dan kebaikan.
Upaya yang dilakukan guru PAI di Madrasah Aliyah Negeri (MAN)
2 Ponorogo untuk menginternalisasi nilai religius kaitannya dengan
mengagumi kebesaran Tuhan memiliki cara sendiri-sendiri pada mata
pelajarannya masing-masing. Caranya adalah dengan mengaitkan materi
pelajaran yang telah disampaikan dengan memberikan dorongan untuk
mengagumi kebesaran Tuhan, memadukan ayat al-Qur’an yang satu dengan
ayat yang lainnya agar terpadu sehingga pengetahuannya bertambah luas
lalu memberikan kesimpulan terkait dengan mengagumi kebesaran Tuhan,
memberikan contoh-contoh kecil dalm kehidupan sehari-hari terkait
dengan mengagumi kebesaran Allah, dan memberikan pesan kepada
peserta didik untuk mengagumi kebesaran Tuhan.41
Salah satu bentuk mengagumi kebesaran Tuhan yaitu dengan
beribadah. Ibadah di dalam terminilogi Islam adalah kepatuhan kepada
Tuhan yang didorong oleh rasa kekaguman dan ketakutan. Jadi tahap awal
ibadah adalah kepatuhan kepada Allah yang didorong rasa kekaguman
40
Wawancara Supriyadi, 1 Maret 2012.
41
Wawancara Yayah Chairiyah, 2 Maret 2012.
246 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
dan ketakutan. Untuk menginternalisasi nilai religius pelajaran PAI
di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo perlu adanya kegiatan
keagamaan yang mendukung, untuk membiasakan peserta didik untuk
melaksanakan ibadah di sekolah maupun di rumah. Kegiatan keagamaan
yang dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo adalah
membaca al-Qur’an sebelum pelajaran dimulai, sholat sunnah Dhuha,
muhadhlarah, dan sholat Dhuhur berjama’ah.42
Dengan adanya shalat Dhuhur berjamaah yang dilakukan di MAN 2
Ponorogo, pelan-pelan namun pasti, moralitas peserta didik akan semakin
tertata. Sikap atau perilaku mereka terkendali, serta proses perubahan
mental dan karakter terjadi secara bertahap. Pendidikan memang bukan
hanya transfer pengetahuan, tapi juga perubahan perilaku sesuai dengan
nilai-nilai agung yang diyakini kebenarannya. Disinilah pentingnya
membangun kedekatan secara intens kepada Tuhan. Pendidikan agama
menjadi sangat penting untuk melakukan pendalaman mendalam dalam
bidang ini menuju tingkat kesadaran esensial yang mampu membentuk
karakter yang bertanggung jawab.
Dalam pendidikan karakter, keteladanan yang dibutuhkan oleh guru
berupa konsistensi dalam menjalankan perintah agama dan menjauhi
larangan- Nya. Kedekatan guru dengan Tuhan harus ditingkatkan sebagai
basis keteladanan yang hakiki. Agar memberikan contoh yang baik kapada
setiap peserta didik dalam memperbaiki perilaku peserta didik. Cara guru
PAI memberikan teladan yang baik di Madrasah Aliyah Negeri (MAN)
2 Ponorogo adalah memanggil peserta didik dengan sebutan yang baik,
memberikan contoh yang baik dengan berperilakuan yang baik juga
terhadap sesama guru dan peserta didik, perilaku tersebut baik dalam
tindakan maupun ucapan.
Dari usaha yang dilakukan oleh guru PAI di MAN 2 Ponorogo,
tentunya memberikan pengaruh terhadap perubahan perilaku peserta
didik menjadi lebih baik terkait dengan mengagumi kebesaran Tuhan.
Walaupun perubahan perilaku peserta didik tidak bisa dilihat secara
42
Wawancara Rima Rahmawaty, 2 Maret 2012.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 247
langsung dan sulit untuk dilihat, namun setiap guru memilki cara sendiri
untuk mengetahui perubahan sikap peserta didik. Caranya antara guru satu
dengan lainnya hampir sama, yaitu dengan cara melihat perubahan sikap
terkait bersyukur kepada Tuhan, yaitu dilihat dari kesungguhan peserta
didik dari tugas yang diberikan guru, apabila peserta didik yang memiliki
iman yang kuat pastinya segera mengerjakan tugas tersebut, melihat sikap
dan perilaku siswa, dan melihat dari jawaban peserta didik ketika diajak
berkomunikasi.
Jadi, internalisasi nilai religius mengagumi kebesaran Tuhan dalam
pendidikan karakter melalui pembelajaran PAI di Madrasah Aliyah
Negeri (MAN) 2 Ponorogo didukung adanya kegiatan keagamaan untuk
membiasakan peserta didik melaksanakan ibadahnya. Karena ibadah yang
dilakukan dengan baik akan memberikan suatu dampak, akibat (impact)
terhadap perilaku seseorang. Dampak itu dapat dirasakan manakala ada
kesadaran untuk memaknai ibadah dengan jiwa yang jernih.
Selain ada kegiatan keagamaan, guru juga memberikan teladan yang
baik bagi para peserta didiknya. Karena dengan memberikan contoh yang
baik bagi peserta didiknya, sehingga dapat mempengaruhi perubahan sikap
peserta didik menjadi lebih baik.
Setiap tindakan tentunya memberikan dampaknya. Dengan adanya
internalisasi nilai religius melalui pembelajaran PAI, tentunya akan
memberikan dampak tersendiri bagi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2
Ponorogo khususnya bagi para peserta didik. Segala upaya telah dilakukan
oleh guru PAI dengan harapan bisa berpengaruh terhadap perubahan
sikap semua peserta didik di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo,
namun masih ada beberapa peserta didik yang masih belum bisa merubah
sikapnya, karena mindset yang peserta didik yang berbeda-beda, sehingga
ada peserta didik yang cepat merespon dan ada yang belum bisa merespon,
mungkin dampak tersebut bisa terlihat kalau nanti sudah aplikasi dalam
kehidupannya masing-masing.
Menurut guru PAI di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo,
dampak tersebut adalah sebagai berikut: peserta didik semakin santun,
248 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
peserta didik bisa memanfaatkan sesuatu dengan baik dan dapat
menghargai waktu, peserta didik semakin hormat kepada gurunya, peserta
didik yang belum menyadari merasa ditekan dan merasa keberatan sehingga
menjadi sadar untuk merubah sikapnya sendiri, peserta didik mampu
mengembangkan dirinya dari pengalaman hidupnya, perhatian peserta
didik terhadap yang disampaikan guru mudah diterima, dan peserta didik
mampu memprediksi masa yang akan datang, maksudnya belajar sekarang
merupakan proses dan yang akan datang merupakan hasilnya, karena
perubahan itu memerlukan proses.43
Dari internalisasi nilai religius dalam pendidikan karakter melalui
pembelajaran PAI memberikan dampak yang banyak terhadap perubahan
sikap peserta didik, diantaranya adalah 1) Pembelajaran pendidikan
agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman,
penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam dari peserta didik,
yang disamping untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga
sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial. Apabila nilai religius sudah
tertanam pada diri peserta didik, maka peserta didik tersebut merasa
senang untuk mengikuti pembelajaran PAI dan tidak merasa keberatan,
meskipun terkadang belajar materi PAI menjenuhkan. Karena peserta
didik mengetahui akan manfaatnya pelajaran PAI di dunia maupun di
akhirat.44 2) Peserta didik yang memiliki nilai religius yang tinggi, tanpa
disuruh pun peserta didik akan bersyukur kepada Tuhan dengan ikhlas
dan dilakukan atas dorongan dirinya sendiri. Selain itu, peserta didik
juga membiasakan berdo’a sebelum dan sesudah pembelajaran dan juga
mempersiapkan diri sebelum pelajaran dimulai, agar nantinya pada saat
pembelajaran berlangsung bisa mengikuti pembelajaran dengan baik.45
3) Setiap guru menginginkan peserta didiknya berubah menjadi lebih
baik. Selain guru mentransfer ilmunya, guru juga mendidik peserta didik
merubah perilakunya yang tadinya kurang baik supaya menjadi lebih
baik. Upaya yang dilakukan guru adalah memberikan dorongan berupa
43
Wawancara Yayah Chairiyah, 2 Maret 2012.
44
Wawancara Silvy Siti Solikah, 5 Maret 2012.
45
Wawancara Kiki Khusnul Khatimah, 5 Maret 2012.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 249
nasehat yang baik kepada peserta didik agar merubah sikapnya menjadi
lebih baik. Pada saat guru memberikan nasehat, sikap peserta didik yaitu
memerhatikan dan memahami nasehat gurunya dan sebisa mungkin
untuk melaksanakan nasehat tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari
peserta didik di kehidupannya masing-masing.46 4) Mencium tangan
saat bersalaman merupakan simbol kerendahan hati dan penghormatan
seseorang kepada orang yang dihormati dan disegani. Guru merupakan
salah satu sumber ilmu sehingga sangat wajar dicium tangannya.
Bahkan mencium tangan ternyata cukup efektif untuk menghilangkan
kesombongan dan keangkuhan pada diri seseorang. Mencium tangan
dan menyapa gurunya dengan menundukkan kepala juga dilakukan oleh
beberapa peserta didik di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo
ketika bertemu dengan gurunya. Hal tersebut merupakan pembentukan
perilaku yang baik.47 5) Dampak selanjutnya yaitu terhadap ibadahnya
peserta didik. Karena beribadah kepada Tuhan mempunyai efek positif
bagi perkembangan mental dan kepribadian seseorang. Di Madrasah Aliyah
Negeri (MAN) 2 Ponorogo telah diterapkan sholat Dhuhur berjama’ah,
apabila ada peserta didik yang tidak ikut sholat Dhuhur berjama’ah akan
mendapat poin dari gurunya dan nantinya akan mendapat sanksi dari guru
BK. Dengan sholat Dhuhur berjama’ah, pelan-pelan namun pasti, moralitas
peserta didik akan semakin tertata. Sikap atau perilaku mereka terkendali,
serta proses perubahan mental dan karakter terjadi secara bertahap. Hal
tersebut, tentunya membawa dampak positif bagi peserta didik untuk
mendorong peserta didik melaksanakan ibadah sunnah yang lain di
sekolah.48 6) Dari upaya yang dilakukan guru untuk menginternalisasi nilai
religius memberikan dampak yang bisa dirasakan langsung oleh peserta
didik. Tentunya dampak tersebut memberikan dampak positif bagi peserta
didik untuk merubah perilakunya menjadi lebih baik. Diantaranya adalah
memunculkan motivasi peserta didik, peserta didik merasa lebih percaya
diri, peserta didik sadar akan kekurangannya dan intropeksi diri untuk
46
Wawancara Arizqu Irfan Ardiansyah, 5 Maret 2012.
47
Wawancara Aji Darul Mu’ahada, 29 Maret 2012.
48
Wawancara Muhammad Setio Budi, 29 Maret 2012.
250 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
memperbaiki dirinys, dan peserta didik dapat memprioritaskan nasehat
yang diberikan guru dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.49
Walaupun dampak tersebut belum berpengaruh kepada seluruh
peserta didik, namun sebagian besar dampak tersebut sudah bisa dirasakan
oleh peserta didik, guru berserta komite sekolah yang ada di MAN 2
Ponorogo. Dibuktikan dengan sudah banyak perubahan yang telah terjadi
di MAN 2 Ponorogodaripada sebelumnya untuk menjadi madrasah yang
lebih berkualitas dan memiliki peserta didik yang bermoral. Upaya dan
usaha yang telah dilakukan merupakan proses untuk masa yang akan
datang menjadi lebih baik lagi.
E. Simpulan
Internalisasi nilai religius bersyukur kepada Tuhan dalam pendidikan
karakter melalui pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo adalah dengan
memberikan contoh, pesan, motivasi terkait dengan rasa bersyukur kepada
Tuhan. Guru juga membiasakan untuk berdo’a sebelum dan sesudah
pelajaran dan mengawali pelajaran dengan mengucap basmalah dan
mengakhiri dengan mengucap h{amdalah.
Internalisasi nilai religius mengagumi kebesaran Tuhan dalam
pendidikan karakter melalui pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo
dengan mengaitkan materi pelajaran dengan dorongan untuk mengagumi
kebesaran Tuhan, selain itu juga memberikan contoh dalam kehidupan
sehari-hari, serta memberikan pesan dan motivasi kepada peserta didik
untuk meningkatkan ibadahnya, guru juga memberikan teladan yang
baik bagi peserta didik. Untuk mendukung itu, ada kegiatan keagamaan
di MAN 2 Ponorogo yaitu membaca al-Qur’an sebelum pelajaran, shalat
sunnah Dhuha, muhadhlarah dan shalat Dhuhur berjama’ah.
Dampak internalisasi nilai religius dalam pendidikan karakter melalui
pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo adalah ada perubahan sikap peserta
didik menjadi lebih baik, contohnya peserta didik senang mengikuti
49
Wawancara Budayrul Arifah, 10 April 2012.
Internalisasi Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter.... 251
pembelajaran PAI, peserta didik mengungkapkan syukur pada setiap
keadaan, peserta didik berdo’a tanpa disuruh, peserta didik memerhatikan
dan memahami nasehat yang diberikan guru, peserta didik menyapa dan
berjabat tangan ketika bertemu dengan gurunya.
Daftar Pustaka
Alim, Muhammad. Pendidikan Agama Islam. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006.
Aminuddin. et al. Membangun Karakter dan Kepribadian melalui pendidikan
Agama Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006.
Asmani, Jamal Ma’mur. Buku Panduan Internalisasi Penddikan Karakter di
Sekolah. Yogyakarta: Diva Press, 2011.
Asmani, Jamal Ma’mur. Membaca Rezeki Orang. Yogyakarta: Diva Press,
2009.
As’ad, Aliy. Terjemah Ta’limul Muta’alim Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu
Pengetahuan. Kudus: Menara Kudus, 2007.
Azzet, Akhmad Muhaimin. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia.
Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2011.
Basuki, et al. Cara Mudah Mengembangkan Silabus. Yogyakarta: Pustaka
Felicha, 2010.
Basuki, Miftahul Ulum. Pengantar Ilmu Pedidikan Islam. Ponorogo: STAIN
PO Press, 2007.
Daulay, Haidar Putra. Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta:
Rineka cipta, 2009.
Djuwarijah. “Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui
Pendidikan Islam.” El-Tarbawi/Jurnal Pendidikan Islam, 2008: 23.
Hasan, Muhammad Tholchah. Dinamika Kehidupan Religius. Jakarta:
Listafariska Putra, 2007.
Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. Prinsip Dasar Islam Menurut al-Qur’an dan as-
Sunnah yang Shahih. Bogor: Pustaka At-Taqwa, 2005.
252 Jurnal An Nûr, Vol. VI No. 2 Desember 2014
Kementerian Pendidikan Nasional. Pengembangan Pendidikan Budaya Dan
Karakter Bangsa Pedoman Sekolah. Jakarta: Badan Penelitian Dan
Pengembangan Pusat Kurikulum, 2010.
Khalif, Khalid A. Mu’thi. Nasihat untuk Orang-orang Lalai, terj. Abdul
Hayyie al-Kattani. Jakarta: Gema Insani, 2005.
Kulsum, Umi. Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis PAIKEM. Surabaya:
Gena Pratama Pustaka: 2011.
Majid, Abdul. et al. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2006.
Miftah, Zainul. Implementasi Pendidikan Karakter Melaui Bimbingan dan
Konseling. Surabaya: Gena Pratama Pustaka: 2011.
Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2008.
Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2009.
Muslich, Masnur. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Multidemensional.
Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011.
Prahara, Erwin Yudi. Materi Pendidikan Agama Islam. Ponorogo: STAIN PO
Press, 2009.
Salim, Abu Ahmad bin. Keajaiban Basmalah untuk Palapangan Rezeki, Karir,
Jodoh, dan Kesehatan. Yogyakarta: Almadina, 2011.
Sholihin, Muhammad. Indahnya Syukur. Yogyakarta: Cemerlang Publishing,
2010.
Sudrajat, Ajat. et al. Din al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi
Umum. Yogyakarta: UNY Press, 2008.
Uhbiyati, Nur, Abu Ahmadi. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka
Setia, 1998.
Widayanto. “Implementasi Pendidikan Karakter Bangsa.” Inovasi, 17.
Januari-Maret, 2011: 3.