0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan6 halaman

Politik Adu Domba dan Kebangkitan Nasional

Dokumen ini menjelaskan tentang politik adu domba yang diterapkan oleh VOC dan penderitaan rakyat Indonesia akibat kerja paksa dan tanam paksa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Kebangkitan Nasional Indonesia dimulai pada awal abad ke-20 dengan berdirinya organisasi Budi Utomo dan Sumpah Pemuda, yang menandai kesadaran nasional dan perjuangan melawan penjajahan. Meskipun mengalami represi, semangat nasionalisme tetap tumbuh hingga mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Diunggah oleh

Harni Harny
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan6 halaman

Politik Adu Domba dan Kebangkitan Nasional

Dokumen ini menjelaskan tentang politik adu domba yang diterapkan oleh VOC dan penderitaan rakyat Indonesia akibat kerja paksa dan tanam paksa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Kebangkitan Nasional Indonesia dimulai pada awal abad ke-20 dengan berdirinya organisasi Budi Utomo dan Sumpah Pemuda, yang menandai kesadaran nasional dan perjuangan melawan penjajahan. Meskipun mengalami represi, semangat nasionalisme tetap tumbuh hingga mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Diunggah oleh

Harni Harny
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

(1-4) Politik adu domba VOC melakukan politik adu domba (devide et impera) yaitu saling

mengadu domba antara kerajaan yang satu dengan kerajaan lain atau adu domba di dalam
satu kerajaan di berbagai daerah di nusantara. Politik adu domba ini berakibat pada makin
melemahnya kerajaan-kerajaan di Indonesia dan merusak seluruh sendi kehidupan
masyarakat di nusantara. Kerja rodi Penduduk di nusantara makin menderita ketika
Daendels berkuasa (1808-1811). Penerapan kerja paksa (rodi) untuk membangun jalan
sepanjang pulau Jawa (Anyer-Panarukan) membuat rakyat makin sengsara. Tanam paksa
Penderitaan berlanjut karena Belanda menerapkan Cultuurstelsel (tanam paksa). Aturan
Tanam Paksa diterapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Den Bosch pada
1828. Sistem Tanam Paksa mewajibkan rakyat menanam tanaman sesuai ketentuan
pemerintah Hindia Belanda di sawah atau ladangnya. Hasil tanam paksa diserahkan pada
pemerintah Hindia Belanda. Tanam Paksa mengakibatkan rakyat diperas tenaga dan
kekayaannya sehingga jatuh miskin. Padahal penjajah mendapatkan kekayaan berlimpah
dari nusantara untuk membangun negara Belanda menjadi kaya di Eropa. Baca juga:
Memaknai Hari Kebangkitan Nasional (Bag 2) Perlawanan ulama dan bangsawan nusantara
Penderitaan rakyat di nusantara menumbuhkan benih perlawanan di berbagai daerah.
Perjuangan melawan penjajah dipimpin ulama atau kaum bangsawan. Para ulama atau
kaum bangsawan di nusantara yang memimpin perjuangan melawan penjajah antara lain:
Sultan Hasanuddin di Sulawesi Selatan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten Tuanku Imam
Bonjol di Sumatera Barat Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah Namun perjuangan
tersebut belum berhasil karena perjuangan masih bersifat kedaerahan dan belum
terorganisasi secara modern. Politik Balas Budi Penderitaan rakyat di nusantara
menyadarkan beberapa orang Belanda yang tinggal atau pernah tinggal di nusantara,
antara lain: Baron Van Houvell Edward Douwes Dekker Mr. Van Deventer Baca juga: Hari
Kebangkitan Nasional Harus Jadi Momentum Konsolidasi Edward Douwes Dekker dengan
nama samaran Multatuli menulis buku Max Havelaar pada 1860. Menggambarkan
penderitaan rakyat Lebak, Banten akibat penjajahan Hindia Belanda. Mr. Van Deventer
mengusulkan agar pemerintah Belanda menerapkan politik balas budi "Etische Politic".
Politik balas budi terdiri tiga program yaitu: Edukasi Transmigrasi Irigasi Atas desakan
berbagai pihak, akhirnya pemerintah Belanda menerapkan politik balas budi. Namun, politik
balas budi bukan untuk kepentingan rakyat Indonesia melainkan untuk kepentingan
pemerintah Hindia Belanda. Contoh Politik Balas Budi untuk kepentingan pemerintah Hindia
Belanda: Irigasi untuk pengairan perkebunan milik Belanda. Pembangunan sekolah
(edukasi) untuk menyediakan tenaga terampil dan murah. Meski demikian, di sisi lain,
pembangunan sekolah di nusantara menimbulkan dampak positif bagi bangsa Indonesia
yaitu munculnya masyarakat terdidik. Masyarakat terdidik ini mulai memiliki pemahaman dan
kesadaran akan kondisi rakyat di nusantara yang sebenarnya. Rakyat di nusantara dalam
kondisi bodoh, terbelakang dengan kemiskinan di mana-mana. Mereka yang mengenyam
pendidikan dan sadar nasib rakyat di nusantara selanjutnya menjadi tokoh-tokoh
kebangkitan nasional.
(5-7) SEJARAH HARI KEBANGKITAN NASIONAL
Details

Written by Admin Disdik02

Category: Uncategorised

Published: 20 May 2021

SEJARAH HARI KEBANGKITAN NASIONAL


Kebangkitan Nasional Indonesia adalah periode pada paruh pertama abad ke-20
di Nusantara (kini Indonesia), ketika rakyat Indonesia mulai menumbuhkan rasa kesadaran
nasional sebagai "orang Indonesia". Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu
berdirinya Budi Utomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928).
Untuk mengejar keuntungan ekonomi dan menguasai administrasi wilayah, Belanda menerapkan
sistem pemerintahan kolonial pada orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki kesamaan
identitas politik. Pada awal abad ke-20, Belanda menetapkan batas-batas teritorial di Hindia
Belanda, yang menjadi cikal bakal Indonesia modern.
Pada paruh pertama abad ke-20, muncul sejumlah organisasi kepemimpinan yang baru. Melalui
kebijakan Politik Etis, Belanda membantu menciptakan sekelompok orang Indonesia yang
terpelajar. Perubahan yang mendalam pada orang-orang Indonesia ini sering disebut sebagai
"Kebangkitan Nasional Indonesia". Peristiwa ini dibarengi dengan peningkatan aktivitas politik
hingga mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei ditiap tahunnya, sebenarnya
merupakan hari lahirnya organisasi Boedi Utomo. Kebangkitan Nasional yang merupakan
kebangkitan bangsa Indonesia yang mulai memiliki rasa kesadaran nasional ditandai dengan
berdirinya Boedi Utomo tanggal 20 Mei 1908 dan lahirnya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober
1928.
Faktor Pendorong
Secara garis besar, faktor pendorong kebangkitan nasional terbagi menjadi dua, yaitu faktor
eksternal dan internal. Faktor internal yakni (1) penderitaan yang berkepanjangan akibat
penjajahan; (2) kenangan kejayaan masa lalu, seperti pada masa Kerajaan
Sriwijaya atau Majapahit; dan (3) munculnya kaum intelektual yang menjadi pemimpin gerakan.
Sedangkan faktor eksternalnya yakni (1) timbulnya paham-paham baru di Eropa dan Amerika
seperti nasionalisme, liberalisme, dan sosialisme; (2) munculnya gerakan kebangkitan nasional di
Asia seperti Turki Muda, Kongres Nasional India, dan Gandhisme; dan (3) kemenangan Jepang
atas Rusia pada perang Jepang-Rusia yang menyadarkan negara-negara di Asia untuk melawan
negara barat.
Pendidikan
Pada awal abad ke-20, orang Indonesia yang
mengenyam pendidikan tingkat menengah hampir
tidak ada dan sejak saat itu, Politik Etis
memungkinkan perluasan kesempatan pendidikan
menengah bagi penduduk asli Indonesia. Pada tahun
1925, fokus pemerintah kolonial bergeser ke
penyediaan pendidikan kejuruan dasar selama tiga
tahun.
Pada tahun 1940, lebih dari 2 juta siswa telah
bersekolah sehingga tingkat melek huruf meningkat
menjadi 6,3 persen yang tercatat dalam sensus
tahun 1930. Pendidikan menengah Belanda
membuka cakrawala dan peluang baru, dan sangat
diminati oleh orang-orang Indonesia. Siswa sekolah pertanian di Tegalgondo,
Jawa Tengah, sekitar tahun 1900–1940.
Pada tahun 1940, antara 65.000 hingga 80.000
siswa Indonesia bersekolah di sekolah dasar
Belanda atau sekolah dasar yang didukung Belanda,
atau setara dengan 1 persen dari kelompok usia
yang sesuai. Di sekitar waktu yang sama, ada 7.000
siswa Indonesia di sekolah menengah menengah
Belanda. Sebagian besar siswa sekolah menengah
bersekolah di MULO.
Meskipun jumlah siswa yang terdaftar relatif sedikit
dibandingkan dengan total kelompok usia sekolah,
pendidikan menengah Belanda memiliki kualitas
tinggi dan sejak tahun 1920-an mulai menghasilkan
elit Indonesia terdidik yang baru.
Nasionalisme Indonesia
Penerapan Politik Etis pada bidang pendidikan tidak
memberikan kesempatan pendidikan yang luas
kepada penduduk Hindia Belanda, tetapi hanya
memberikan pendidikan Belanda untuk anak-anak
elit pribumi. Sebagian besar pendidikan dimaksudkan
untuk menyediakan tenaga kerja klerikal untuk
birokrasi kolonial yang sedang tumbuh. Meskipun
demikian, pendidikan Barat membawa serta ide-ide
politik Barat tentang kebebasan dan demokrasi. Delega
Selama dekade 1920-an dan 30-an, kelompok elit si yang hadir pada Sumpah Pemuda, yang
hasil pendidikan ini mulai menyuarakan kebangkitan menyepakati kerangka kerja Indonesia,
anti-kolonialisme dan kesadaran nasional. terutama bahasa nasional yang sama.
Pada periode ini, partai politik Indonesia mulai
bermunculan. Berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei
1908 oleh Dr. Soetomo dinilai sebagai awal gerakan
untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Tanggal
berdirinya Budi Utomo diperingati sebagai Hari
Kebangkitan Nasional. Namun, penetapan waktu
tersebut masih mengundang diskusi yang
menimbulkan polemik. Dasar pemilihan Budi Utomo
sebagai pelopor kebangkitan nasional dipertanyakan
lantaran keanggotaan Budi Utomo masih sebatas
etnis dan teritorial Jawa. Kebangkitan nasional
dianggap lebih terwakili oleh Sarekat Islam, yang
mempunyai anggota di seluruh Hindia Belanda.
Pada tahun 1912, Ernest Douwes Anggot
Dekker bersama Cipto Mangunkusumo dan Suwardi a Partai Nasional Indonesia, salah satu
Suryaningrat mendirikan Indische Partij (Partai organisasi utama yang pro-kemerdekaan.
Hindia). Pada tahun itu juga, Sarekat Dagang
Islam yang didirikan Haji Samanhudi bertransformasi
dari koperasi pedagang batik menjadi organisasi
politik. Selain
[10]
itu, KH Ahmad
Dahlan mendirikan Muhammadiyah, organisasi yang
bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.
Pada November 1913, Suwardi
Suryaningrat membentuk Komite Boemi Poetera.
Komite tersebut melancarkan kritik terhadap
Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan
seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari
penjahan Prancis, tetapi dengan pesta perayaan
yang biayanya berasal dari negeri jajahannya. Ia pun
menulis "Als ik eens Nederlander was" ("Seandainya
aku seorang Belanda") yang dimuat dalam surat
kabar de Expresm milik Douwes Dekker. Karena
tulisan inilah Suwardi Suryaningrat dihukum buang
oleh pemerintah kolonial Belanda.
Sementara itu, Partai Komunis Indonesia (PKI), yang
dibentuk pada tahun 1920, adalah partai yang
memperjuangkan kemerdekaan yang sepenuhnya
diinspirasi oleh politik Eropa. Pada tahun 1926, PKI
mencoba melakukan revolusi melalui pemberontakan
yang membuat panik Belanda, yang kemudian
menangkap dan mengasingkan ribuan kaum
komunis sehingga secara efektif menetralkan PKI
selama sisa masa pendudukan Belanda.
Pada 4 Juli 1927, Sukarno dan Algemeene
Studieclub memprakarsai berdirinya Perserikatan
Nasional Indonesia sebagai partai politik baru. Pada
Mei 1928, nama partai ini diubah menjadi Partai
Nasional Indonesia. Menurut sejarawan M.C.
Ricklefs, ini merupakan partai politik penting pertama
yang beranggotakan etnis Indonesia, semata-mata
mencita-citakan kemerdekaan politik.
Pada tanggal 28 Oktober 1928, Kongres
Pemuda mendeklarasikan Sumpah Pemuda, yang
menetapkan tujuan nasionalis: "satu tumpah darah
— Indonesia, satu bangsa — Indonesia, dan satu
bahasa — Indonesia".
Represi terhadap nasionalisme Indonesia
Kebebasan politik di bawah Belanda cukup dibatasi.
Walaupun tujuan Belanda untuk "membudayakan"
dan "memodernisasi" masyarakat Hindia Belanda
terkadang memberi toleransi terhadap organisasi dan
publikasi media dari orang Indonesia asli, Belanda
juga sangat membatasi konten dari aktivitas-aktivitas
ini.
Seperti terhadap banyak pemimpin sebelumnya,
pemerintah Belanda menangkap Sukarno pada
tahun 1929 serta melarang PNI. Pemerintah kolonial
Belanda menekan banyak organisasi berbasis
nasionalisme dan memenjarakan sejumlah pemimpin
politik. Meskipun Belanda tidak dapat sepenuhnya
membungkam suara-suara lokal yang menuntut
perubahan, mereka berhasil mencegah agitasi
secara luas. Walaupun sentimen nasionalisme tetap
tinggi pada tahun 1930-an, gerakan-gerakan nyata
untuk memperjuangkan kemerdekaan tetap tertahan.
Pada akhirnya, Perang Dunia II membuat berbagai
perubahan dramatis pada kekuatan politik dunia
yang juga memengaruhi Hindia Belanda.
Berakhirnya pemerintahan kolonial
Seiring dengan Perang Dunia II, nasib politik Hindia
Belanda menjadi tidak jelas. Sebagai penguasa,
Belanda mendapati negara mereka diduduki
oleh Jerman Nazi pada Mei 1940. Dengan
didudukinya negara mereka oleh pihak asing,
Belanda berada dalam posisi yang lemah untuk
mempertahankan kekuasaan mereka di Hindia
Belanda. Namun, pemerintah kolonial bertekad untuk
melanjutkan kekuasaannya atas Nusantara.
Pada awal 1942, Kekaisaran Jepang menginvasi
Hindia Belanda. Belanda hanya memiliki sedikit
kemampuan untuk mempertahankan koloninya
dari tentara Kekaisaran Jepang dan pasukan
Belanda dikalahkan dalam waktu sebulan—yang
mengakhiri kekuasaan kolonial Belanda di
Nusantara. Masa pendudukan Jepang di
Nusantara selama tiga tahun berikutnya membawa
begitu banyak perubahan sehingga Revolusi
Nasional Indonesia dimungkinkan.
Setelah Jepang menyerah kepada Blok Sekutu pada
tahun 1945, Belanda berusaha untuk melanjutkan
kendali kolonial mereka atas Hindia Belanda. Untuk
tujuan ini, Belanda memperoleh dukungan militer dari
Inggris sehingga terjadi pertempuran berdarah di
Jawa untuk memulihkan kekuasaan Belanda.
Meskipun mengalami kerugian besar, kaum
nasionalis Indonesia tidak bisa dihalangi. Pada tahun
1945, gagasan tentang "Indonesia" tampaknya tidak
dapat ditolak.
Peringatan
Sejak 1959, tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari
Kebangkitan Nasional, disingkat Harkitnas, yaitu hari
nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh
pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden
Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959
untuk memperingati peristiwa Kebangkitan Nasional
Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai