0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan26 halaman

Tinjauan Al-Qardh dalam Muamalah Islam

Al-Qardh adalah praktik pinjam meminjam dalam Islam yang bertujuan untuk membantu sesama dan mempererat hubungan antar manusia. Dalam konteks perbankan syariah, al-Qardh dikenal sebagai produk pembiayaan yang tidak mengharapkan imbalan tambahan, dan sering digunakan untuk mendukung usaha kecil dan kebutuhan sosial. Dasar hukum al-Qardh diambil dari Al-Qur'an dan Hadist yang mengatur transaksi keuangan secara adil dan transparan.

Diunggah oleh

zidan almachzumi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan26 halaman

Tinjauan Al-Qardh dalam Muamalah Islam

Al-Qardh adalah praktik pinjam meminjam dalam Islam yang bertujuan untuk membantu sesama dan mempererat hubungan antar manusia. Dalam konteks perbankan syariah, al-Qardh dikenal sebagai produk pembiayaan yang tidak mengharapkan imbalan tambahan, dan sering digunakan untuk mendukung usaha kecil dan kebutuhan sosial. Dasar hukum al-Qardh diambil dari Al-Qur'an dan Hadist yang mengatur transaksi keuangan secara adil dan transparan.

Diunggah oleh

zidan almachzumi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG AL- QARDH DAN WAKALAH

A. Al-Qardh (Pinjam meminjam)

1. Latar Belakang al-Qardh

Al-qardh adalah salah satu perbuatan yang mengatur adanya

pertemanan antar manusia, memperluas hubungan dan menjamin

kekerabatan diantara mereka.1 Disisi lain al-qardh juga merupakan salah

satu pendekatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena al-

qardh berarti mengasihi sesama manusia, berbuat baik kepada mereka,

memberikan kemudahan dalam urusan mereka dan berusaha membantu

mereka keluar dari kesulitan yang mereka hadapi.

Apabila Islam mensunnahkan dan mencintai orang yang

memberikan al-qardh maka dalam waktu yang sama, maka ia

sesungguhnya dibolehkan untuk diberikan al-qardh dan tidak

mengganggapnya sebagai sesuatu yang makruh, karena dia mengambil

harta atau menerima harta untuk dimanfaatkan dalam upaya memnuhi

kebutuhan-kebutuhannya dan selanjutnya ia mengembalikan harta itu

seperti sedia kala.2 Disamping itu al-qardh juga bisa menjadi jalan untuk

mempererat dan memfasilitasi hubungan bisnis yang ada.3

1
Abd Abdullah A. Husain al-Tariqi, al-Iqtishad al Islamushusun wa Maba`un wa Akhdaf alih
bahasa [Link] Sofwani, (Yogyakarta : Magistra Insania Press, 2004), 269
2
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah, Alih Bahasa oleh Abu Syauqina, Cetakan 1, (Jakarta : PT Tinta
Abadi Gemilang,2011), 12
3
Latifa M algaovd dan Mervyn K. Lewis, Islamic Banking, Cetakan 2, Alih Bahasa oleh Burhan
Wirasubrata, (Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta,2004), 91

15
16

Dari beberapa faktor di atas baik yang menyangkut hubungan

manusia dengan Allah SWT ataupun hubungan manusia dengan

sesamanya, al-qardh merupakan salah satu akad mu`amalah yang

dibutuhkan manusia.

2. Pengertian al-Qardh

Secara umum, makna qardh mirip dengan jual beli (bay`) karena ia

merupakan bentuk pengalihan hak milik harta dengan harta. 4 Dalam kajian

fiqh muamalah istilah al- qardh dikenal sejak lama. Para ulama

mutaqaddimin sudah banyak yang menyinggung pembahasan tetang al-

qardh. Akan tetapi pada prakteknya saat ini al-qardh lebih dikenal

dimasyarakat umum sebagai salah satu produk pembiayaan dalam

perbankan syari`ah.

Sebagai produk untuk menyumbang usaha yang sangat kecil atau

membantu sector sosial. Guna pemenuhan skema khusus ini telah dikenal

suatu produk khusus dalam perbankan syari`ah yaitu al-qardh al-hasan.

al-Qardh yang diperlukan untuk membantu usaha sangat kecil dan

keperluan sosial, dapat bersumber dari dana zakat, infak dan sedekah.5

Menurut bahasa, al-qardh adalah memotong. Disebutkan dalam

kamus al mishbah “qaradthu al syai`a qardhan” yang berarti saya

memotongnya. Kata ini biasa digunakan pada jenis harta yang diberikan

kepada orang lain untuk dikembalikan.6 Wahbah az-Zuhaily memberikan


4
Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, Alih Bahasa oleh Abdul Hayyie, dkk, Jilid
5, Cetakan 1, (Jakarta : GemaInsani, 2011), 373
5
M. Syafi`i Anttonio, Bank Syari`ah dari Teori ke Praktek, Cetakan 16, (Jakarta : Gema Insani
Press, 2001), 133
6
Mustafa dib al-Bugha, Buku Pintar Transaksi Syari`ah, (Jakarta : Penerbit Hikmah PT. Mizan
Publika), 51
17

makna al-qardh adalah al-qath`u, yaitu harta yang diberikan kepada orang

lain yang meminjam (debitur) disebut qardh, karena merupakan potongan

dari harta orang yang memberikan pinjaman (kreditur). Ini termasuk

penggunaan isim masdar (gerund : noun verbal) untuk menggantikan isim

maf`ul terkadang digunakan sebagai salaf juga.7 Makna etimologi

merupakan makna al-qardh secara harfiah saja, untuk mengetahui

pemahaman yang jelas tentang al-qardh, diperlukan definisi-definisi

secara terminologi.

Adapun definisi secara terminologi (istilah) ini memiliki banyak

peendapat. Dari sekian definisi-definisi tersebut, karena keterbatasan ilmu

dan referensi yang penulis miliki, penulis akan mencantumkan beberapa

pendapat saja, diantaranya :

a. al-Qardh adalah memberikan suatu harta kepada orang lain untuk

dikembalikan tanpa ada tambahan.8

b. Para hanafiah mendefinisikan al-qardh adalah harta yang memiliki

kesepadanan yang anda berikan untuk anda tagih kembali. Atau

dengan kata lain, suatu transaksi yang dimaksudkan untuk memberikan

harta yang memiliki kesepadanan kepada orang lain unuk

dikembalikan yang sepadan dengan itu.9

7
Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu…, 374
8
Mustafa dib al-Bugha, Buku Pintar Transaksi Syari`ah…, 51
9
Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu…, 374
18

c. Pemberian harta kepada orang yang lain yang dapat ditagih atau

diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa

mengharapkan imbalan.10

3. Dasar Hukum al-Qardh

Transaksi al-qardh diperbolehkan oleh para ulama berdasarkan

beberapa dalil, antara lain sebagai berikut :

a. al-Qur an

‫َٰٓي َأ ُّي َها ٱ َّل ِذي َن َءا َم ُن ٓو ْا ِإ َذا َت َدا َين ُتم ِب َد ۡي ٍن ِإ َل ٰٓى َأ َج ٖل ُّم َس ّٗمى َفٱ ۡك ُت ُبو ُۚه َو ۡل َي ۡك ُتب َّب ۡي َن ُك ۡم َكا ِت ُۢب‬
‫ِبٱ ۡل َع ۡد ِۚل َو َلا َي ۡأ َب َكا ِت ٌب َأن َي ۡك ُت َب َك َما َع َّل َم ُه ٱل َّل ُۚه َف ۡل َي ۡك ُت ۡب َو ۡل ُي ۡم ِل ِل ٱ َّل ِذي َع َل ۡي ِه ٱ ۡل َح ُّق َو ۡل َي َّت ِق‬
‫ٱل َّل َه َر َّب ُهۥ َو َلا َي ۡب َخ ۡس ِم ۡن ُه َش ۡيٗٔ‍ۚا َف ِإن َكا َن ٱ َّل ِذي َع َل ۡي ِه ٱ ۡل َح ُّق َس ِفي ًها َأ ۡو َض ِعي ًفا َأ ۡو َلا َي ۡس َت ِطي ُع‬
‫َأن ُي ِم َّل ُه َو َف ۡل ُي ۡم ِل ۡل َو ِل ُّي ُهۥ ِبٱ ۡل َع ۡد ِۚل َوٱ ۡس َت ۡش ِه ُدوْا َش ِهي َد ۡي ِن ِمن ِّر َجا ِل ُك ۖۡم َف ِإن َّل ۡم َي ُكو َنا َر ُج َل ۡي ِن‬
‫ل َوٱ ۡم َر َأ َتا ِن ِم َّمن َت ۡر َض ۡو َن ِم َن ٱل ُّش َه َد ٓا ِء َأن َت ِض َّل ِإ ۡح َد ٰى ُه َما َف ُت َذ ِّك َر ِإ ۡح َد ٰى ُه َما ٱ ۡل ُأ ۡخ َر ٰۚى‬ٞ ‫َف َر ُج‬
‫َو َلا َي ۡأ َب ٱل ُّش َه َد ٓا ُء ِإ َذا َما ُد ُعو ْۚا َو َلا َت ۡسَٔ‍ ُم ٓو ْا َأن َت ۡك ُت ُبو ُه َص ِغي ًرا َأ ۡو َك ِبي ًرا ِإ َل ٰٓى َأ َج ِل ِهۦۚ َٰذ ِل ُك ۡم‬
‫َأ ۡق َس ُط ِعن َد ٱل َّل ِه َو َأ ۡق َو ُم ِلل َّش َٰه َد ِة َو َأ ۡد َن ٰٓى َأ َّلا َت ۡر َتا ُب ٓو ْا ِإ َّل ٓا َأن َت ُكو َن ِت َٰج َر ًة َحا ِض َر ٗة ُت ِدي ُرو َن َها‬
‫د‬ٞۚ ‫ب َو َلا َش ِهي‬ٞ ‫َب ۡي َن ُك ۡم َف َل ۡي َس َع َلۡي ُك ۡم ُج َنا ٌح َأ َّلا َت ۡك ُت ُبو َه ۗا َو َأ ۡش ِه ُد ٓو ْا ِإ َذا َت َبا َي ۡع ُت ۚۡم َو َلا ُي َض ٓا َّر َكا ِت‬
‫م‬ٞ ‫َو ِإن َت ۡف َع ُلوْا َف ِإ َّن ُهۥ ُف ُسو ُۢق ِب ُك ۗۡم َوٱ َّت ُقوْا ٱل َّل َۖه َو ُي َع ِّل ُم ُك ُم ٱل َّل ُۗه َوٱل َّل ُه ِب ُك ِّل َش ۡي ٍء َع ِلي‬
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu´amalah tidak secara
tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan
hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan
janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah
mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang
berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia
bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun
daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau
lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka
hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan
dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang
lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi
yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang
mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan)
apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik
kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu,
lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat
kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu´amalahmu itu),
kecuali jika mu´amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara
10
M. Syafi`i Anttonio, Bank Syari`ah dari Teori ke Praktek …, 129
19

kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan
persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi
saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka
sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah
kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.11

‫َٰٓي َأ ُّي َها ٱ َّل ِذي َن َءا َم ُن ٓو ْا َأ ۡو ُفوْا ِبٱ ۡل ُع ُقو ِۚد ُأ ِح َّل ۡت َل ُكم َب ِهي َم ُة ٱ ۡل َأ ۡن َٰع ِم ِإ َّلا َما ُي ۡت َل ٰى َع َلۡي ُك ۡم‬
‫َغ ۡي َر ُم ِح ِّلي ٱل َّص ۡي ِد َو َأن ُت ۡم ُح ُر ٌۗم ِإ َّن ٱل َّل َه َي ۡح ُك ُم َما ُي ِري ُد‬
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu
binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu)
dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.
Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-
Nya.12

b. al-Hadist

‫ا ْل ُم ْس ِل ُم َأ ُخو ا ْل ُم ْس ِل ِم َلا َي ْظ ِل ُم ُه َو َلا ُي ْس ِل ُم ُه َو َم ْن َكا َن ِفي َحا َج ِة َأ ِخي ِه َكا َن ال َّل ُه ِفي‬
‫َحا َج ِت ِه َو َم ْن َف َّر َج َع ْن ُم ْس ِل ٍم ُك ْر َب ًة َف َّر َج ال َّل ُه َع ْن ُه ُك ْر َب ًة ِم ْن ُك ُر َبا ِت َي ْو ِم ا ْل ِق َيا َم ِة َو َم ْن َس َت َر‬
13
.‫ُم ْس ِل ًما َس َت َر ُه ال َّل ُه َي ْو َم ا ْل ِق َيا َم ِة‬
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan
tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya
maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu
kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari
kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim
maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat.

14
.‫َم ْط ُل ا ْل َغ ِن ِّي ُظ ْل ٌم‬
Menunda pembayaran hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman.

‫َكا َن ِل َر ُج ٍل َع َلى ال َّن ِب ِّي َص َّلى ال َّل ُه َع َل ْي ِه َو َس َّل َم ِس ٌّن ِم ْن ا ْل ِإ ِب ِل َف َجا َء ُه َي َت َقا َضا ُه َف َقا َل َص َّلى‬
‫ال َّل ُه َع َل ْي ِه َو َس َّل َم َأ ْع ُطو ُه َف َط َل ُبوا ِس َّن ُه َف َل ْم َي ِج ُدوا َل ُه ِإ َّلا ِس ًّنا َف ْو َق َها َف َقا َل َأ ْع ُطو ُه َف َقا َل َأ ْو َف ْي َت ِني‬
15
.‫َو َفى ال َّل ُه ِب َك َقا َل ال َّن ِب ُّي َص َّلى ال َّل ُه َع َل ْي ِه َو َس َّل َم ِإ َّن ِخ َيا َر ُك ْم َأ ْح َس ُن ُك ْم َق َضا ًء‬
Ada seorang laki-laki pernah dijanjikan seekor anak unta oleh Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam lalu orang itu datang kepada Beliau untuk
menagihnya. Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Berikanlah.
Maka orang-orang mencari anak unta namun mereka tidak mendapatkannya
11
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur'an dan Terjemah, (Surabaya : Surya Cipta
Aksara, 1995), 70
12
Ibid, 156
13
Al- Bukhari, Shahih Bukhari, ``Bab Laayadzlumu al-Muslimu al-Muslima walaa Yuslimuhu``,
(Lebanon : Dar al-Kutub, 2008), Edisi 4, Jilid 2 :126, Hadits Shahih, Riwayat al-Bukhari , 126
14
Al- Bukhari, Shahih Bukhari, ``Bab Matlu al-Goniy Dzulmun``…, 109
15
Al- Bukhari, Shahih Bukhari, ``Bab Husnil Qadha``…, 107
20

kecuali anak unta yang lebih tua umurnya, maka Beliau bersabda: Berikanlah
kepadanya. Orang itu berkata: Anda telah memberikannya kepadaku semoga
Allah membalas anda. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah siapa yang paling baik
menunaikan janji.

‫ َما ِم ْن ُم ْس ِل ٍم ُي ْق ِر ُض ُم ْس ِل ًما َق ْر ًضا َم َّر َت ْي ِن ِال َّا َكا َن َك َص َد َق ِت َها َم َّر ٌة‬.16
Barang siapa yang memberikan pinjaman kepada seorang muslim dua kali,
maka tidak lain pahalanya kecuali seperti pemberian shadaqah satu kali.

c. Ijma`

Umat Islam telah sepakat tentang bolehnya al-qardh.17

Kesepakatan para ulama ini berdasarkan atas tabi`at manusia yang

tidak bisa hidup tanpa bantuan dan pertolongan orang lain (homo

sosialis). Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mampu hidup sendiri

dan memiliki segala barang kebutuhannya. Oleh karena itu pinjam

meminjam (al-qardh) sudah menjadi suatu bagian dalam kehidupan.

Dan Islam adalah agama yang memperhatikan kebutuhan umatnya.

Meskipun demikian, para ulama Hanabilah berpendapat bahwa

bersedekah lebih utama daripada al-qardh, dan tidak ada dosa bagi

orang yang dimintai pinjaman kemudian tidak meminjamkannya.18

Dari dalil-dalil di atas dapat diketahui bahwa al-qardh adalah

salah satu akad yang diperbolehkan dalam islam bahkan disunnatkan.

Akan tetapi hukum boleh (mubah) dan sunnat itu bisa menjadi wajib

dalam keadaan tertentu, yaitu ketika muqtaridh akan terancam salah

satu al-Ushul al-Khomsah (Hifdz al-Mal, Hifdz al-Aql, Hifdz al-

16
Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Kairo : Dar al-Hadits, 1999), Edisi 5, Jilid 2: 812, Hadits
Shahih, Riwayat Ibnu Majah.
17
Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu…, 374
18
Ibid, 375
21

Annasl, Hifdz al-Nafs, Hifdz al-`Irdh) apakah tidak mendapatkan al-

qardh dari muqridh, kemudian hukum al-qardh juga bias menjadi hram

apabila harta al-qardh akan digunakan untuk kemaksiatan kepada

Allah SWT, sementara kedua belah pihak (muqridh dan muqtaridh)

sama-sama mengetahuinya.19

4. Rukun al-Qardh

Al-qardh tidak sah dilakukan kecuali oleh orang yang mengelola

harta, karena al-qardh berkenaan dengan akad harta sehingga tidak sah

kecuali dilakukan oleh orang yang cakap dalam mengelola harta seperti

halnya jual beli.20 Dan diantara rukun dari al-qardh adalah sebagai berikut:

a. Al-muqridh (pemilik barang/ harta)

Al muqhridh adalah orang yang memberikan pinjaman. 21

Dalam hal ini ada beberapa ketentuan yang harus dimiliki oleh al-

muqridh, yaitu:

1) Al- muqridh harus orang yang boleh (secara hukum) menggunakan

dan mentasharrufkan harta.

2) Al-muqridh harus orang yang mempunyai kemampuan untuk

bermu`amalah.

3) Al-muqridh harus ahliyah al-tabarru` (orang yang berhak

menermakan atau menggunakan harta untuk hal-hal yang tidak

terbentuk pertukaran).

19
Muhammad al-Zuhri al-Ghamrawy, Al-Siraj al Wahab, (Dar al-Fikr: Libanon), 210
20
Ibid, 375
21
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…,131
22

4) Al-muqridh bukan al-mahjur (terlarang, terlindung, tercegah) yaitu

orang yang tercegah untuk mengelola hartanya, dikarenakan

adanya hal-hal tertentu yang mengharuskan adanya pencegahan.

Dalam hal ini adalah anak kecil yang belum berakal dan al-saft

(pemboros), yaitu orang yang tidak pandai membelanjakan

hartanya sesuai dengan pertimbangan akal sehat.22

b. Al-muqtaridh (yang mendapat barang atau yang meminjam)

Al-muqtaridh adalah orang yang menerima pinjaman.23 Al-

muqtaridh mempunyai beberapa ketentuan yang harus dipenuhi yaitu:

1) Al-muqtaridh harus orang yang boleh (secara hukum)

menggunakan dan metasharrufkan harta.

2) Al-muqtaridh bukan al-mahjur (terlarang, terlindung, tercegah)

yaitu orang yang tercegah untuk mengelola hartanya, dikarenakan

adanya hal-hal tertentu yang mengharuskan adanya pencegahan.

Dalam hal ini adalah anak kecil yang belum berakal dan al-saft

(pemboros), Yaitu orang yang tidak pandai membelanjakan

hartanya sesuai dengan akal sehat.

3) Al-muqridh harus mempunyai kemampuan untuk bermu`amalah.

4) Al-muqtaridh bukan orang yang berada dalam perwalian.24

c. Ijab dan Qabul

22
Ahmad Azhar Basyir, Asas-asas Hukum Islam…, 35
23
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 131
24
Abdurrahman al-Zaziry, kitab al-Fiqh `ala al-Mazahib al-arba`ah Qism al-Mu`amalah, alih
bahasa oleh Chatibul Umam dan Abu Hurairah, (Darul Ulum Press, 2001), 289
23

Ijab dan qabul adalah sighat yang diucapkan saat terjadinya

akad, ijab adalah pernyataan pihak kedua untuk menerima pernyataan

pihak pertama.25 Ijab dan qabul ini memiliki beberapa ketentuan yaitu:

1) Ijab dan qabul menggunakan bahasa yang maknanya menunjukan

adanya akad al-qardh antara al-muqridh dan al-muqtaridh.

2) Ijab dan qabul itu dilakukan dalam satu majelis, artinya kedua

belah pihak yang menyatakan ijab dan qabul hadir dan

membicarakan topik yang sama, mengenai qardh.26

d. Al-Qardh (barang yang dipinjamkan)

Para ulama berbeda pendapat mengenai barang ini. Ulama

Hanafiah berpendapat bahwa akad al-qardh dibenarkan pada harta

mitsil yaitu harta yang satuan barangnya tidak berbeda yang

mengakibatkan perbedaan nilainya, seperti barang-barang yang

ditakar, ditimbang, dijual satuan dengan ukuran yang tidak jauh

berbeda antara yang satu dengan yang lain. Akad qardh diperbolehkan

pada barang yang bisa ditakar dan diperdagangkan,serta boleh juga

pakaian dan binatang.27

Akad al-qardh tidak dibolehkan padaharta qimiyyat (harta yang

dihitung berdasarkan nilainya) seperti hewan, kayu bakar dan properti.

Begitu juga barang satuan yang jauh berbeda dengan satuannya. Hal

itu karena sulit mengembalikan dengan harta semisalnya.

25
Ahmad azhar Basyir, Asas-asas Hukum…, 65
26
Nasroen Haroen, Fiqh Mu`amalah, (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2000), hal 116
27
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 118
24

Ulama Syafi`iyah, Hanafiah dan Hanabilah berpendapat bahwa

diperbolehkan melakukan al-qardh atas semua benda yang dapat

dijadikan objek akad salam baik itu harta yang ditakar dan ditimbang

maupun harta qimiyyat

Sedangkan komoditi yang tidak diperbolehkan untuk dijadikan

objek transaksi salam maka tidak sah untukdijadikan objekdalam

transaksi al-qardh seprti permatadan sejenisnya. Karena akad al-qardh

menuntut untuk adanya pengembalian benda serupa, sedangkan benda

yang tidak tentu dan langka tidak mungkin atau susah untuk

dikembalikan dengan benda yang semisal dengannya. Tidak

dibenarkan melakukan al-qardh atas manfaat atau jasa. Hal ini berbeda

dengan pendapat Ibnu Taimiyah yang seperti membantu memanen

sehari maka ia akan dibantu memanen sehari juga.

Begitu juga tidak sah akad al-qardh pada bendayang tidak bisa

ditetapkan menjadi tanggungan, seperti tanah, gedung, toko dan kebun,

karena al-qardh menuntut adanya pengembalian benda semisal.

Standar keserupaan menurut ulama Malikiyah adalah kesamaan dalam

sifat dan ukuran, sedangkan menurut Syafi`iyah dan Hanabilah adalah

kesamaan dalam bentuk. Tidak diperbolehkan juga akad al-qardh pada

barang yang langka seperti permata dan berlian, karena susah dalam

pengembaliannya.28

5. Syarat al-Qardh

28
Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu…, 377
25

Al-qardh memiliki bebrapa syarat yang akan penulis jabarkan

dibawah ini . Ada empat syarat sahnya pinjam meminjam (qardh) yaitu:

a. Akad al Qardh dilakukan dengan shigat ijab qabul, atau bentuk yang

lain yang bisa menggantikannya seperti mu`athah (melakukan akad

tanpa ijab qabul) dalam pandangan jumhur, meskipun menurut

syafi`iyah akad mu`athah tidaklah cukup seperti akad-akad yang

lainnya. Akad al-qardh boleh dilakukan dengan lafazh al-qardh dan

salaf, sertasemua lafazh yang menunjukan lafazh al-qardh (misalnya

pencatatan).29

b. Adanya kapabilitas dalam melakukan akad. Artinya, baik pemberi

maupun penerima pinjaman adalah orang baligh, berakal, bisa berlaku

dewasa, berkehendak tanpa paksaan dan boleh untuk melakukan

tabarru` (berderma). Oleh karena itu tidak boleh dilakukan oleh anak

kecil, orang gila, orang bodoh, orang yang dibatasi tindakannya, orang

yang dipaksa, dan seorang wali yang tidak dalam keadaan sangat

terpaksa atau ada kebutuhan.

c. Menurut Hanafiyah, harta yang dipinjamkan harus harta mitsli,

sedangkan dalam pandangan jumhur ulama dibolehkan dengan dengan

harta apa saja yang bias dijadikan tanggungan, seperti uang, biji-bijian

dan harta qimy seperti hewan, barang tidak bergerak dan lainnya.

d. Harta yang dipinjamkan jelas ukurannya, baik dalam takaran,

timbangan, bilangan, maupun ukuran panjang, agar mudah ketika

dikembalikan dan dari jenis yang belum tercampur dengan jenis


29
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 117
26

lainnya seperti gandum yang tercampur dengan jelas karena sulit

menggantinya.30

6. Barang yang Harus Dikembalikan dan Batas Waktu dalam al-Qardh

Para ulama sepakat bahwa wajib hukumnya bagi peminjam untuk

mengembalikan harta semisal apabila apabila ia meminjam harta mitsli,

dan mengembalikan harta semisal dalam bentuknya (dalam pandangan

ulama selain hanafiah) bila pinjamannya adalah harta qimiy, seperti

pengembalian kambing yang ciri-cirinya mirip dengan kambing yang

dipinjam.31

Mengenai batas waktu, jumhur fuqaha tidak membolehkannya

dijadikan sebagai syarat dalam akad al-qardh. Oleh karena itu apabila

akad al-qardh ditangguhkan sampai batas waktu tertentu, maka akan tetap

dianggap jatuh tempo. Pasalnya, secara esensial, itu sama dengan jual beli

dirham dengan dirham, sehingga jika ada penangguhan waktu maka akan

terjebak ke dalam riba nasiah.

Dengan persepsi dasar bahwa al-qardh adalah salah satu bentuk

kegiatan sosial, maka pemberi pinjaman berhak meminta ganti hartanya

jika telah jatuh tempo.32 Sementara menurut Malik, penangguhan boleh

disyaratkan dan syarat ini bersifat mengikat. Apabila al-qardh

ditangguhkan sampai batas waktu tertentu maka penangguhan ini sah dan

kreditur tidak boleh menagih sebelumbatas waktunya tiba.33

30
Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu…, 379
31
Ibid, 379
32
Ibid, 375
33
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 117
27

Meskipun demikian para ulama Hanafiah berpendapat bahwa

penangguhan dalam akad al-qardh menjadi bersifat mengikat dalam empat

hal yaitu :

a. Wasiat, yaitu apabila seseorang berwasiat untuk meminjamkan

hartanya pada orang lain sampai waktu tertentu, satu tahun misalnya.

Maka dalam kondisi ini ahli waris tidak boleh menagih peminjam

sebelum jatuh tempo.

b. Adanya penyangsian, yaitu tatkala akad al-qardh disangsikan,

kemudian pemberi pinjaman menangguhkannya. Maka pada kondisi

seperti ini, batas waktu menjadi mengikat.

c. Keputusan pengadilan, yaitu apabila hakim memutuskan akad al-qardh

(denganbatas waktu) sebagai sesuatu yang mengikat dengan

didasarkan pada pendapat Malik dan Ibnu Abi Laila,maka pada

kategori ketiga ini batas waktu menjadi sesuatu yang mengikat.

d. Dalam akad hiwalah (pengalihan hutang), yaitu jika peminjam

mengalihkan tanggungan utangnya pada pemberi pinjaman kepada

pihak ketiga, lalu pemberi pinjaman menangguhkan utang itu. Atau ia

mengalihkan tanggungan utangnya pada peminjam lain yang utangnya

ditangguhkan.

Dalam pandangan ulama Hanafiah, sah-sah saja mengundurkan

akad al-qardh meski bukan sebuah keharusan, tetapi dapat menjadi

keharusan dalam kondisi yang empat tadi.


28

Imam Malik berpendapat bahwa akad al-qardh boleh

diundurkan dengan penangguhan. Dan atas alasan bahwa kedua belah

pihak punya kebebasan dalam akad al-qardh baik dalam

menghentikan, melangsungkan maupun meneruskan akad. Dari semua

akad di atas mungkin pendapat ini lah yang dapat diterima secara akal

dan sesuai dengan tuntutan zaman.34

B. Wakalah (Perwakilan)

1. Latar belakang Wakalah

Islam telah mensyari`atkan perwakilan dan membolehkannya

untuk memenuhi kebutuhan. Tidak semua orang mampu untuk menangani

sendiri urusan-urusannya sendiri sehingga dia perlu menunjuk orang lain

sebagai wakil agar menangani urusan-urusan tersebut atas namanya.35

Dalam perkembangan fiqih islam, status wakalah sempat

diperdebatkan. Apakah wakalah masuk ke dalam kategori niabah, yakni

sebatas mewakili, atau masuk ke dalam kategori wilayah atau wali. Hingga

kini, kedua pendapat ini terus berkembang.

Pendapat pertama menyatakan bahwa wakalah adalah niabah atau

mewakili. Menurut pendapat ini, si wakil tidak dapat menggantikan

seluruh fungsi muwakkil. Pendapat kedua menyatakan bahwa wakalah

adalah wilayah karena khilafah ( menggantikan) dibolehkan untuk yang

mengarah kepada yang lebih baik, sebagaimana dalam jual beli,

34
Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu…, 376
35
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 188
29

melakukan pembayaran secara tunai lebih baik, walaupun diperkenankan

secara kredit.36

2. Pengertian Wakalah

Kata wakalah atau wikalah menurut bahasa adalah pelimpahan

atau penyerahan (al-tafwidh). Misalnya inni tawakkaltu `ala allah (aku

serahkan urusanku kepada allah).37 Kata wakalah bisa juga berarti

perlindungan.38 M. syafi`i Antonio dalam bukunya mengartikan wakalah

berarti penyerahan, pendelegasian, atau pemberian mandat.39

Dalam pengertian wakalah secara istilah ada beberapa definisi dan

pendapat, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. wakalah adalah melimpahkan atau menyerahkan urusan kepada

seseorang yang mampu melaksanakannya untuk menggantikannya

dalam mengerjakan urusan tersebut selama ia masih hidup.40

b. Wakalah juga bisa diistilahkan adalah permintaan seseorang kepada

orang lain agar menjadi wakilnya dalam sesuatu yang bisa diwakili.41

c. Menurut M. syafi`i Antonio dalam bukunya mengistilahkan wakalah

adalah pelimpahan kekuasaan oleh seseorang kepada orang lain dalam

hal-hal yang diwakilkan.42

d. Menurut ulama madzhab syafi`iyah, wakalah adalah penyerahan

kewenangan terhadap sesuatu yang boleh dilakukan sendiri atau

36
M. Syafi`i Anttonio, Bank Syari`ah dari Teori ke Praktek…, 123
37
Mustafa dib al-Bugha, Buku Pintar Transaksi Syari`ah …, 315
38
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 187
39
M. Syafi`i Anttonio, Bank Syari`ah dari Teori ke Praktek…, 120
40
Mustafa dib al-Bugha, Buku Pintar Transaksi Syari`ah …, 315
41
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 187
42
M. Syafi`i Anttonio, Bank Syari`ah dari Teori ke Praktek…, 120
30

diwakilkan kepada orang lain, untuk dilakukan oleh orang tersebut

selama pemilik kewenangan asli masih hidup.43

e. Menurut ulama madzhab Malikiyah, wakalah adalah seseorang

menggantikan (menempati) tempat yang lain dalam hak (kewajiban),

dia yang mengelola pada posisi itu.44

f. Menurut ulama madzhab Hanafiyah, wakalah ialah seseorang

menempati diri orang lain dalam tasharuf (pengelolaan).45

g. Menurut ulama madzhab Hanabilah berpendapat bahwa wakalah ialah

permintaan ganti seseorang yang membolehkan tasharuf yang

seimbang pada pihak yang lain, yang didalamnya terdapat penggantian

dari hak-hak Allah SWT dan hak-hak manusia.46

3. Dasar Hukum Wakalah

a. al-Qur an

‫َر ُّب ُك ۡم َأ ۡع َل ُم ِب َما َل ِب ۡث ُت ۡم َفٱ ۡب َع ُث ٓو ْا َأ َح َد ُكم ِب َو ِر ِق ُك ۡم َٰه ِذ ِه ٓۦ ِإ َلى ٱ ۡل َم ِدي َن ِة َف ۡل َين ُظ ۡر َأ ُّي َه ٓا َأ ۡز َك ٰى‬
‫َط َعا ٗما َف ۡل َي ۡأ ِت ُكم ِب ِر ۡز ٖق ِّم ۡن ُه َو ۡل َي َت َل َّط ۡف َو َلا ُي ۡش ِع َر َّن ِب ُك ۡم َأ َح ًدا‬
…"Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).
Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan
membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang
lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan
hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan
halmu kepada seorangpun.47

‫م‬ٞ ‫َقا َل ٱ ۡج َع ۡل ِني َع َل ٰى َخ َز ٓا ِئ ِن ٱ ۡل َأ ۡر ِۖض ِإ ِّني َح ِفي ٌظ َع ِلي‬


Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);
sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi
berpengetahuan".48
43
Wahbah az-Zuhaili, Fiqh Islam wa Adillatuhu, 590
44
Abdurrahman al-Zaziry, kitab al-Fiqh `ala al-Mazahib al-arba`ah…,167
45
Ibid, 167
46
Sayyid Muhammad Satha al-Dimyati, I`anat al-Talibin, (Semarang : Toha Putra, 2001), 84
47
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur'an dan Terjemah, (Surabaya : Surya Cipta
Aksara, 1995), 445
48
Ibid, 357
31

‫ة َف ِإ ۡن َأ ِم َن َب ۡع ُض ُكم َب ۡع ٗضا َف ۡل ُي َؤ ِّد ٱ َّل ِذي‬ٞۖ ‫ن َّم ۡق ُبو َض‬ٞ ‫َو ِإن ُكن ُت ۡم َع َل ٰى َس َف ٖر َو َل ۡم َت ِج ُدوْا َكا ِت ٗبا َف ِر َٰه‬
‫م َق ۡل ُب ُه ۗۥ َوٱل َّل ُه ِب َما‬ٞ ‫ٱ ۡؤ ُت ِم َن َأ َٰم َن َت ُهۥ َو ۡل َي َّت ِق ٱل َّل َه َر َّب ُه ۗۥ َو َلا َت ۡك ُت ُموْا ٱل َّش َٰه َد َۚة َو َمن َي ۡك ُت ۡم َها َف ِإ َّن ُهۥٓ َءا ِث‬
‫م‬ٞ ‫َت ۡع َم ُلو َن َع ِلي‬
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu´amalah tidak secara tunai) sedang
kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian
kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah
Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.
Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah
orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.49

‫َٰٓي َأ ُّي َها ٱ َّل ِذي َن َءا َم ُنوْا َلا ُت ِح ُّلوْا َش َٰٓع ِئ َر ٱل َّل ِه َو َلا ٱل َّش ۡه َر ٱ ۡل َح َرا َم َو َلا ٱ ۡل َه ۡد َي َو َلا ٱ ۡل َق َٰٓل ِئ َد َو َل ٓا َء ٓا ِّمي َن‬
‫ٱ ۡل َب ۡي َت ٱ ۡل َح َرا َم َي ۡب َت ُغو َن َف ۡض ٗلا ِّمن َّر ِّب ِه ۡم َو ِر ۡض َٰو ٗن ۚا َو ِإ َذا َح َل ۡل ُت ۡم َفٱ ۡص َطا ُدو ْۚا َو َلا َي ۡج ِر َم َّن ُك ۡم َش َنَٔ‍ا ُن‬
‫َق ۡو ٍم َأن َص ُّدو ُك ۡم َع ِن ٱ ۡل َم ۡس ِج ِد ٱ ۡل َح َرا ِم َأن َت ۡع َت ُدو ْۘا َو َت َعا َو ُنوْا َع َلى ٱ ۡل ِب ِّر َوٱل َّت ۡق َو ٰۖى َو َلا َت َعا َو ُنوْا‬
‫َع َلى ٱ ۡل ِإ ۡث ِم َوٱ ۡل ُع ۡد َٰو ِۚن َوٱ َّت ُقوْا ٱل َّل َۖه ِإ َّن ٱل َّل َه َش ِدي ُد ٱ ۡل ِع َقا ِب‬
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi´ar-syi´ar
Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id,
dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila
kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan
janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya
(kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksa-Nya.50

b. al- Hadist

‫َح َّد َث َنا ُس َل ْي َما ُن ْب ُن َح ْر ٍب َح َّد َث َنا ُش ْع َب ُة َع ْن َس َل َم َة ْب ِن ُك َه ْي ٍل َس ِم ْع ُت َأ َبا َس َل َم َة ْب َن َع ْب ِد‬


‫ال َّر ْح َم ِن َع ْن َأ ِبي ُه َر ْي َر َة َر ِض َي ال َّل ُه َع ْن ُه َأ َّن َر ُج ًلا َأ َتى ال َّن ِب َّي َص َّلى ال َّل ُه َع َل ْي ِه َو َس َّل َم‬
‫َي َت َقا َضا ُه َف َأ ْغ َل َظ َف َه َّم ِب ِه َأ ْص َحا ُب ُه َف َقا َل َر ُسو ُل ال َّل ِه َص َّلى ال َّل ُه َع َل ْي ِه َو َس َّل َم َد ُعو ُه َف ِإ َّن‬
‫ِل َصا ِح ِب ا ْل َح ِّق َم َقا ًلا ُث َّم َقا َل َأ ْع ُطو ُه ِس ًّنا ِم ْث َل ِس ِّن ِه َقا ُلوا َيا َر ُسو َل ال َّل ِه ِإ َّلا َأ ْم َث َل ِم ْن ِس ِّن ِه‬
51
.‫َف َقا َل َأ ْع ُطو ُه َف ِإ َّن ِم ْن َخ ْي ِر ُك ْم َأ ْح َس َن ُك ْم َق َضا ًء‬
49
Ibid, 71
50
Ibid, 156
51
Al- Bukhari, Shahih Bukhari, ``Bab al-Wakalah fi al-Qadha al-Duyuun``…, 80
32

Ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
untuk menagih apa yang dijanjikan kepadanya. Maka para sahabat marah
kepadanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Biarkanlah dia
karena bagi orang yang benar ucapannya wajib dipenuhi. Kemudian Beliau
berkata: Berikanlah untuknya seekor anak unta. Mereka berkata: Wahai
Rasulullah, tidakada kecuali yang umurnya lebih tua. Maka Beliau bersabda:
Berikanlah kepadanya, karena sesungguhnya yang terbaik diantara kalian
adalah yang paling baik menunaikan janji.

‫َأ َم َر ِني َر ُسو ُل ال َّل ِه َص َّلى ال َّل ُه َع َل ْي ِه َو َس َّل َم َأ ْن َأ َت َص َّد َق ِب ِج َلا ِل ا ْل ُب ْد ِن ا َّل ِتي ُن ِح َر ْت‬
52
.‫َو ِب ُج ُلو ِد َها‬
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan aku agar
menyedekahkan apa yang ada diatas punggung unta (pelana) yang kami
sembelih begitu juga kulitnya.

‫ َب َع َث َر ُس ْو ُل ال ّله َص َلى ال ّل ُه َع َل ْي ِه َو َس ّلم ُع َم َر َع َلى ال َّص َد َق ِة‬.53


Rasulullah SAW mengutus Umar untuk mengambil zakat.

c. Ijma`

Kesepakatan kaum muslim yang membolehkan wakalah karena

memang diperlukan. Seseorang terkadang tidak dapat mengerjakan

semua hal sendiri.54 Para ulama pun telah bersepakat dengan

dibolehkannya wakalah. Mereka bahkan ada yang cenderung

mensunnahkannya dengan alas an bahwa hal tersebut termasuk jenis

ta`awun atau tolong menolong atas dasar kebaikan dan takwa. Tolong

menolong diserukan olleh al-qur an dan di sunnahkan oleh Rasulullah

SAW.55

4. Jenis Wakalah

Wakalah terbagi menjadi dua jenis yaitu:

52
Al- Bukhari, Shahih Bukhari, ``Bab al-Wakalah as-Syariik as-Syariik fi al-Qismah wa
Ghairiha``…, 78
53
Ibid
54
Mustafa dib al-Bugha, Buku Pintar Transaksi Syari`ah…, 315
55
M. Syafi`i Anttonio, Bank Syari`ah dari Teori ke Praktek…, 122
33

a. Wakalah muthlaqah, yaitu wakalah yang tidak terikat dengan syarat

tertentu (selain dari syarat yang ditetapkan Islam), tidak terbatas waktu

dan tidak terikat dengn keadaan tertentu. Pengertian mewakilkan

secara mutlak bukan berarti seorang wakil dapat bertindak semena-

mena, tetapi maknanya dia berbuat untuk melakukan sesuatu untuk hal

yang lebih berguna untuk yang mewakilkan. Menurut Imam Abu

Hanifah wakil boleh bertindak sesuai dengan kehendak wakil itu

sendiri.56

b. Wakalah muqayyadah, yaitu wakalah yang terikat dengan syarat

tertentu, atau terbatas waktu, atau terikat dengan syarat tertentu. 57 Jika

perwakilan bersifat terikat, wakil berkewajiban mengikuti apa saja

yang telah ditentukan oleh orang yang mewakilkan. Ia tidak boleh

menyalahinya, kecuali untuk yang lebih menguntungkan orang yang

mewakilkan. Bila wakil menyalahi aturan-aturan yang telah disepakati

ketika akad, penyimpangan tersebut dapat merugikan muwakkil maka

tindakan tersebut bathil menurut pandangan madzhab Syafi`i.58

5. Rukun Wakalah

Perwakilan adalah sebuah akad, sehingga tidak sah keculai apabila

rukunnya terpenuhi.59 Adapun rukun dari wakalah adalah sebagaimana

berikut:

a. Muwakkil (orang yang mewakilkan)

56
Hendi Suhendi, fiqh muamalah, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2011), 236
57
Ascarya, Akad dan Produk Bank Syari`ah, (Jakarta : PT. Raja Grafindo, 2008), 105
58
Hendi Suhendi, fiqh muamalah…, 236
59
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 188
34

Orang yang mewakilkan mempunyai hak untuk mengelola

sesuatu yang akan diwakilkan secara langsung, baik statusnya sebagai

pemilik maupun sebagai pemilik hak kuasa. Oleh karena itu tidak sah

wakalah yang dlakukan oleh anak kecil, orang gila, orang yang hilang

ingatan maupun yang tertidur.

b. Wakil (orang yang mewakili)

Orang yang mewakili adalah orang yang dapat mengelola yang

diwakilkan kepadanya secara langsung. Jika tidak bisa, mewakilkan

padanya tidak sah karena pengelolaan yang dilakukan sendiri lebih

kuat dibandingkan dengan yang dilakukan orang lain.

c. Muwakkal fih (obyek yang diwakilkan)

Harus diketahui kenapa hal yang akan diwakilkan boleh

diwakilkan. Syarat ini dalam al-raudhah diisyaratkan dengan

ungkapan “hendaknya hal yang diwakilkan diketahui alasannya dari

sebagian aspeknya” syarat ini diberlakukan untuk meminiimalisir

ketidakpastian (gharar).

d. Akad (ijab dan qabul)

Disyaratkan harus ada shigat dari muwakkil, sekalipun hanya

sindiran (kinayah) yang menunjukan persetujuan. Tidak dipersyaratkan

harus ada lafadz qabul dari wakil karena wakalah sifatnya

menghalalkan dan menghilangkan kesulitan.60 Dalam ijab qabul tidak

disyaratkan lafazh tertentu, tetapi sah dilakukan dengan setiap

perkataan dan perbuatan yang menunjukannya. Masing-masing dari


60
Ascarya, Akad dan Produk Bank Syari`ah…, 317
35

kedua orang yang berakad dapat menarik diri dari perwakilan dan

membatalkan akad kapan saja karena perwakilan termasuk akad yang

tidak mengikat.61

6. Syarat Wakalah

Perwakilan tidak sah kecuali apabila syarat-syaratnya terpenuhi.

Diantara syarat-syarat ini ada yang berkaitan dengan muwakkil, wakil dan

muwakkal fih.

a. Syarat muwakkil

Disyareatkan agar muwakkil adalah orang yang memiliki

kekuasaan untuk bertindak dalam apa yang diwakilkannya. Apabila ia

tidak memiliki otoritas untuk bertindak, seperti orang gila dan anak

kecil yang belum mumayiz, maka penunjukan wakil olehnya tidak sah.

Orang gila dan anak kecil yang belum mumayiz tidak boleh menunjuk

orang lain sebagai wakil karena keduanya tidak memiliki kapabilitas

sehingga tidak memiliki kekuasaan untuk bertindak sejak awal.

Adapun anak kecil yang telah mumayiz, penunjukan wakil

olehnya sah dalam tindakan-tindakan yang murni bermanfaat baginya,

seperti mewakilkan penerimaan hibah, sedekah dan wasat. Sementara

dalam tindakan-tindan yang murni merugikan dirinya seperti talak,

hibah, dan sedekah, penunjukan wakil olehnya tidak sah.62

b. Syarat wakil

61
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 189
62
Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah…, 190
36

Disyaratkan agar wakil adalah orang yang berakal. Apabila dia

adalah orang gila, orang idiot, atau anak kecil yang belum mumayiz

maka penunjukannya sebagai wakil tidak sah. Adapun anak kecil yang

telah mumayiz, penunjukannya sebagai wakil sah, menurut para ulama

madzhab hanafi, karena dia sama seperti orang dewasa dalam

memahami perkara-perkara dunia.63

c. Syarat muwakkal fih

Disyratkan agar muwakkal fih diketahui oleh wakil, atau

sekiranya ketidaktahuan tentangnya tidak melampaui batas, kecuali

apabila muwakil tidak membatasi perwakilan, misalnya dengan berkata

``belilah untukku apa yang kamu kehendaki’’. Disyaratkan juga agar

muwakkal fih bisa diwakilkan.

Ini berlaku pada semua akad yang boleh diadakan sendiri oleh

seseorang, seperti penjualan, pembelian, penyewaan, penetapan utang

dan harta benda, penyelesaian sengketa, penuntukan hak, perdamaian,

permintaan syuf`ah, hibah, sedekah, penggadaian peminjaman,

pernikahan, talak, dan pengelolaan harta, baik itu ada di tempat atau

bepergian, baik itu laki-laki atau perempuan.64

7. Batasan Wakalah

Ketika akad perwakilan telah terlaksana, wakil menjadi pengemban

amanat atas apa yang diwakilkan kepadanya. Dia tidak bertanggung jawab

63
Ibid, 191
64
Ibid
37

kecuali apabila bertindak lalim atau lalai. Dan klaimnya tentang kerusakan

barang diterima, sebagaimana para pengemban amanat lainnya.

Para faqih telah menetapkan batasan bagi apa yang boleh

diwakilkan. Mereka mengatakan, setiap akad yang boleh diadakan sendiri

oleh seseorang boleh diwakilkannya kepada orang lain. Sementara, apa

yang tidak boleh diwakilkan adalah setiap perbuatan yang pelaksanaannya

tidak boleh digantikan oleh orang lain, seperti shalat, sumpah, dan

thaharah. Seseorang tidak boleh menunjuk orang lain sebagai wakil dalam

perbuatan-perbuatan ini karena dimaksudkan sebagai ujian dan cobaan

yang tidak akan tercapai apabila dilakukan oleh orang lain.65

8. Wakalah dalam Penyelesaian Sengketa

Boleh mewakilkan penyelesaian sengketa dalam utang, harta

benda, dan hak-hak sesama manusia lainnya, baik muwakkil adalah

pendakwa atau terdakwa, baik dia laki-laki atau perempuan, baik musuh

ridla atau tidak. Penyelesaian sengketa adalah hak murni muwakkil

sehingga ia boleh mengurusnya sendiri dan boleh menunjuk orang lain

sebagai wakil dalam mengurusnya.

a. Wakalah untuk menagih utang

Hukum asal yang dinukil dari para imam mazhab Hanafi

menetapkan bahwa seorang wakil untuk menagih utang mempunyai

kewenangan menerima pelunasan utang tersebut. Karena kewenangan

menagih tidak bisa tercapai kecuali dengan diterimanya pelunasan

utang, sehingga perwakilan dalam hal ini mencakup perwakilan untuk


65
Ibid, 192
38

menerimanya. Disamping itu menagih dalam arti bahasa adalah

menerima.

Akan tetapi, kalangan ulama mutaakhiriin dari mazhab Hanafi

mengatakan bahwa seorang wakil dalam menagih utang, berdasarkan

kebiasaan (`urf) yang berlaku, tidak mempunyai hak untuk mengambil

pelunasan utang itu dari orang yang berutang. Karena perilaku orang-

orang di zaman ini sudah rusak. Sehingga para muwakkil tidak lagi

percaya jika para wakil mengambilkan pelunasan utang mereka,

mengingat adanya kekhawatiran terahadap pengkhianatan mereka

dalam hal ini. Inilah yang difatwakan berdasarkan kebiasaan orang-

orang, dan kebiasaan orang-orang (`urf) menggantikan hukum asal

yang ditetapkan mazhab.

Wakil dalam menagih utang tidak memiliki kewenangan untuk

mewakilkan lagi kepada orang lain. Karena, kondisi orang berbeda-

beda dalam penagihan utang, sehingga terkadang orang berutang

merasa tidak nyaman bila ditagih oleh orang-orang tertentu.66

b. Pengakuan wakil yang memberatkan muwakkilnya

Pengakuan wakil yang memberatkan muwakkilnya dalam hadd

dan qishas sama sekali tidak diterima, baik di majelis pengadilan atau

yang lainnya.

Para imam menyepakati bahwa pengakuannya dalam selain

hadd dan qishas diterima di selain majelis pengadilan. Tiga imam

selain Abu Hanifah berpendapat bahwa pengakuannya tidak sah karena


66
Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu…, 614
39

ini adalah pengakuan dalam sesuatu yang dia tidak memiliki otoritas.

Sementara Abu Hanifah berpendapat bahwa pengakuannya sah,

kecuali apabila muwakkil mensyaratkan atasnya agar tidak

memberikan pengakuan yang memberatkannya.

c. Hak wakil untuk menerima harta

Wakil dalam penyelesaian sengketa bukanlah wakil dalam

penerimaan harta, karena bisa jadi dia memiliki kapabilitas untuk

menuntut hak dan menyelesaikan sengketa saja, tetapi tidak dapat

dipercaya untuk menerima harta. Ini adalah pendapat tiga imam selain

Abu Hanifah. Sementara menurut Abu Hanifah dan para pengikutnya,

dia boleh menerima harta yang telah ditetapkan bagi muwakkilnya

karena ini adalah bagian dari penyelesaian sengketa. Penyelesaian

sengketa tidak berakhir kecuali dengan penerimaan harta ini sehingga

dia dianggap sebagai wakil di dalamnya.67

9. Berakhirnya Akad Wakalah

Akad wakalah akan berakhir dengan hal-hal diantaranya sebagai

berikut ini :

a. Kematian atau kegilaan dari salah satu orang yang berakad. Diantara

syarat dari wakalah adalah kehidupan dan keberadaan akal. Apabila

terjadi kematian atau kegilaan maka wakalah telah kehilangan sesuatu

yang menentukan kesahannya.

b. Diselesaikannya pekerjaan yang dituju dalam perwakilan. Apabila

pekerjaan yang dituju telah selesai maka perwakilan tidak lagi berarti.
67
Ibid, 193
40

c. Pemecatan wakil oleh muwakkil, meskipun wakil tidak mengetahuinya.

Sementara menurut para ulama madzhab Hanafi, wakil harus

mengetahui pemecatan. Sebelum dia mengetahui pemecatan,

tindakannya sama dengan tindakannya sebelum adanya pemecatan

dalam semua hukum.

d. Pengunduran diri wakil. Tidak disyaratkan agar muwakkil mengertahui

atau menghadiri pengunduran diri wakil. Sementara para ulama

madzhab Hanafi mensyaratkan hal itu agar muwakkil tidak dirugikan.

e. Keluarnya muwakkal fih dari kepemilikan muawakkil.

Anda mungkin juga menyukai