11
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kepuasan Berbelanja
1. Kepuasan
Menurut Kotler dan Keller kepuasan adalah perasaan yang timbul
baik senang ataupun kecewa karena membandingkan kinerja yang telah di
presepsikan terhadap suatu produk atau hasil yang di ekspetasikan. Jika
nyatanya kinerja tidak sesuai atau gagal maka di katakan tidak puas.14
Menurut Sumarwan, suatu konsep yang mempengaruhi puas dan
tidaknya konsumsi pasca pembelian prodak dan merupakan suatu perilaku
yang mempengaruhi konsumen dari tahap evaluasi. Kepuasan konsumen
sendiri menurut Menurut Kotler dan Armstrong adalah sejauh mana
anggapan kinerja produk memenuhi harapan konsumen. Bila kinerja
produk lebih rendah dibandingkan harapan konsumen maka konsumen
merasa tidak puas, bila kinerja produk sesuai dengan harapan konsumen
maka konsumen merasa puas.15
Adapun para ahli yang mendefinisikan Kepuasan dapat diartikan
sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu memadai.16
14
Wakanno, T. P. Pengaruh Kenyamanan Berbelanja, Kualitas Pelayanan Dan
Kelengkapan Produk Terhadap Kepuasan Konsumen Indomaret (Studi Pada Konsumen Indomaret
di Kota Ambon) (Doctoral dissertation, STIE MALANGKUCECWARA. 2022). H. 5
15
Ibid. H. 5
16
Ranto, D. W. P. Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan
berbelanja pada toko Modern di Yogyakarta. ( Jurnal Bisnis: Teori dan Implementasi, 2015), H. 6
11
12
Pelanggan umumnya mengharapkan produk berupa barang atau jasa yang
dikonsumsi dapat diterima dan dinikmatinya dengan pelayanan yang baik
atau memuaskan.17
Kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan bahwa harapannya
telah terpenuhi atau terlampaui. Kepuasan pelanggan bermakna
perbandingan antara apa yang diharapkan konsumen dengan apa yang
dirasakan konsumen ketika menggunakan produk tersebut. Bila konsumen
merasakan performa produk sama atau melebihi ekspektasinya, berarti
mereka puas.18
Menurut Lovelock & Wright “kepuasan adalah keadaan emosional,
reaksi pasca pembelian mereka dapat berupa kemarahan, ketidakpuasan,
19
kejengkelan, kegembiraan, dan kesenangan. Dari berbagai pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa kepuasan berbelanja juga sangat
dipengaruhi oleh kinerja penyediakan produk, semakin baik pelayanan
yang diberikan perusahaan tersebut maka semakin tinggi pula kepuasan
yang dirasakan konsumen, Semakin tinggi kepuasan yang dirasakan
konsumen maka semakin besar juga kemungkinan konsumen akan kembali
berbelanja di toko tersebut.
17
Ibid. H. 6
18
Mujib, dkk. "Analisis Komparatif Tingkat Kepuasan Konsumen Dalam Berbelanja."
(Jurnal Pendidikan Ekonomi 3.1 2018). H 46
19
Huda, dkk "Pengaruh Produk Dan Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pembelian
Konsumen Pada Situs Belanja Online Lazada (Studi kasus pada konsumen Mahasiswa Universitas
Islam Malang)." Jurnal Ilmiah Riset Manajemen 8.12 (2019). H. 108
13
Dalam berbelanja online faktor-faktor yang mempengaruhi
kepuasan berbelanja dikurangi, hal-hal seperti kebersihan tempat, lokasi
yang strategis, maupun susasana tempat tidak lagi mempengaruhi
kepuasan konsumen. Penyedia produk online lebih dituntut dalam kualitas
layanan, kualitas barang atau jasa yang mereka jual dan harga jual
produknya.20 Kepuasan juga tergantung pada kualitas produk dan jasa.
Kualitas memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepuasan pelanggan,
yaitu kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk
menjalani ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan
Semakin tinggi kualitas, semakin tinggi tingkat kepuasan
pelanggan yang dirasakankan. Sehingga mendukung harga yang
ditawarkan menjadi lebih tinggi dengan menekan biaya cost lebih
rendah.21
2. Mengukur Kepuasan Konsumen
Kepuasan dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan dimana
harapan konsumen terhadap suatu produk sesuai dengan kenyataan yang
diterima oleh konsumen. Jika produk tersebut jauh dibawah harapan,
konsumen akan kecewa. Sebaliknya, jika produk tersebut memenuhi
harapan, konsumen akan puas.
20
Yashinta Asteria Norhermaya, “Analisis Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap
Kepercayaan Terhadap Loyalitas Pelanggan Untuk Meningkatkan Minat Beli Ulang (Studi Kasus
Online Store [Link])," (Semarang: Universitas Diponegoro Semarang, 2016), H 34.
21
“Philip Kotler Dan Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: Edisi Revisi
13,) H 144
14
Fakta-fakta tentang kepuasan konsumen kepada suatu produk
biasanya dicirikan dengan layanan dan produk yang sama baik dengan
kualitasnya, yaitu ketika produk dan layanan digunakan sebagai dedikasi
produk berkualitas yang mengakibatkan konsumen mempunyai beberapa
keyakinan dan kepercayaan bahwa dalam situasi tertentu pelayanan
menunjukan kualitas.22
Kepuasan konsumen diukur dengan seberapa besar harapan
konsumen tentang produk dan pelayanan sesuai dengan kinerja produk dan
pelayanan yang aktual. Setelah mengkonsumsi produk, konsumen akan
merasakan kepuasan atau kekecewaan. Kepuasan akan mendorong
konsumen untuk membeli ulang produk. Sebaliknya, jika kecewa,
konsumen tidak akan membeli produk yang sama lagi dikemudian hari.
Kepuasan konsumen merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang
dipilih sekurang-kurangnya sama atau melebihi harapan konsumen.
Keputusan untuk membeli terjadi karena kebutuhan-kebutuhan
konsumen terpuaskan, mulai dari ruang pamer yang telah mengantisipasi
kebutuhan, penyusunan displaynya yang menarik, pelayanan penjualan
dan purna jual yang prima serta kualitas produk terpercaya. Setiap
karyawan sebenarnya terkait kepada produk dan mempunyai andil untuk
memberikan kepuasan kepada.
22
Nugroho, J Setiadi, Perilaku Konsumen : Perspektif Kontemporer Pada Motif, Tujuan
dan Keinginan Konsumen, (Jakarta: Kencana, 2010), H.103
15
3. Indikator Kepuasan Konsumen
a) Pembelian ulang
Pembelian ulang merupakan kegiatan pembelian yang dilakukan
konsumen setelah mereka melakukan pembelian yang pertama kali
dari produk maupun jasa yang dilakukan secara berulang pada jangka
waktu tertentu dan secara aktif menyukai dan mempunyai sikap posiif
terhadap suatu produk barang atau jasa, didasarkan pada pengalaman
yang telah dilakukan dimasa lampau.23 Minat belia ulang atau minat
pembelian ulang online telah lama dipelajari dan didefinisikan baik
dari sisi psikologi sosial maupun pemasaran. Secara umum, niat
pembelian ulang konsumen dapat digeneralisasikan sebagai bagian dari
keperilakuan dan
sebagai sikap.24
b) Kesediaan merekomendasikan
Kesediaan merekomendasikan Merupakan kesediaan pelanggan
untuk merekomendasikan jasa yang telah dirasakan nya kepada teman
atau keluarga.25
23
Hilda Aprilia Pratiwi, Skripsi: Pengaruh Pelayanan, Harga Dan Promosi Terhadap
Kepuasan Pelanggan Treveloka Di Yogyakarta, ( Universitas Negeri Yogyakarta, 2018), H. 44
24
Hamizar, A., & Ambon, E. I. I. Pergeseran Perilaku Konsumen Dalam Minat Beli
Ulang Berdasar Produk Website (Analisis Perubahan Model Bisnis Terhadap Pilihan
Konsumen). European Journal of Marketing, . (2010). H. 133
25
Ignatius Angga Prasetya Primadiawan, Skripsi: Pengaruh Kualitas Pelayanan Dan
Harga Terhadap Kepuasan Pelanggan Bus PO Eka, ( Universitas Sanata Dharma, 2010), H. 14
16
c) Kesesuaian harapan
Kesesuaian harapan Merupakan tingkat kesesuaian antara kinerja
jasa yang diharapkan oleh pelanggan dengan yang dirasakan oleh
pelanggan.26
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
a. Kualitas produk
Yaitu pelanggan akan merasa puas bila hasil merekamenunjukkan
bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
b. Kualitas pelayanan
Yaitu pelanggan akan merasa puas bila mereka mendapatkan
pelayanan yang baik atau sesuai denganyang di harapkan. 27
c. Emosi
Yaitu konsumen akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan
bahwa orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk
dengan merek tertentu yang cenderung mempunyai tingkat kepuasan
yang lebih tinggi
d. Harga
Yaitu produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan
harga yang relatif murah akan memberikannilai yang lebih tinggi
kepada konsumen.
26
Ibid, H. 15
27
Handi Irawan, Membedah Strategi Kepuasan Pelanggan, Pertama. (Jakarta: PT
Gramedia, 2008), H. 37.
17
e. Biaya
Yaitu konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau
tidak perlu membuang waktu untukmendapatkan suatu produk
tersebut.28
B. E-Commerce
1. Pengertian E-Commerce
Secara umum E-Commerce dapat didefinisikan sebagai segala
bentuk transaksi perdagangan barang atau jasa dengan menggunakan
media elektronik. Media elektronik yang dibicarakan disini hanya
difokuskan dalam hal penggunaan media internet.29 Electronic Commerce
(ecommerce) adalah proses pembelian, penjualan atau pertukaran produk,
jasa dan informasi melalui jaringan komputer. e-commerce merupakan
bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas, tidak hanya
sekedar perniagaan tetapi mencakup juga pengkolaborasian mitra. bisnis,
pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dan lain-lain. Electronic
Commerce di definisikan sebagai proses pembelian dan penjualan
produk,jasa, dan informasi yang dilakukan secara elektronik dengan
memanfaatkan jaringan computer.
E-commerce dapat didefinisikan dari beberapa perspektif berikut:
28
Rambat Lupiyoadi, Manajemen Pemasaran Jasa Teori dan Praktek (Depok: Salemba
Empat, 2001), H. 158.
29
Kotler dan Amstrong, Prinsip-prinsip Pemasaran Jilid 2, (Jakarta: Airlangga, 2001), H.
37
18
1. erspektif komunikasi: e-commerce merupakan pengiriman informasi,
produk/layanan, atau pembayaran melalui lini telepon, jaringan
komputer atau sarana elektronik lainnya.
2. Perspektif proses bisnis: e-commerce merupakan aplikasi teknologi
menuju otomisasi transaksi dan aliran kerja perusahaan.
3. Perspektif layanan: e-commerce merupakan salah satu alat yang
memenuhi keinginan perusahaan, konsumen dan manajemen.
4. memangkas service cost ketika meningkatkan mutu barang dan
kesepatakan pelayanan.
e-commerce berkaitan dengan kapasitas jual beli produk dan
informasi di internet dan jasa online lainnya. Sehingga e-commerce
mampu memfasilitasi semua kegiatan proses bisnis yang dimulai dari
pengembangan, pemasaran, penjualan, pengiriman, pelayanan, dan
pembayaran para pelanggan dengan dukungan dari jaringan mitra bisnis di
seluruh dunia.30
Menurut Turban dkk, e-commerce adalah mencakup proses
pembelian, menjual, tranfer, atau pertukaran produk, layanan tau informasi
melalui jaringan komputer, termasuk internet e-commerce dapat dilakukan
oleh siapa saja denagan mitra bisnisnya, tanpa di batasi oleh ruang dan
waktu. Dalam aktivitas e-commerce sesungguhnya mengandung makna
30
Dorris Yadewani, Reni Wijaya, Pengaruh E-commerce Terhadap Minat Berwirausaha
(Studi Kasus: AMIK Jayanusa Padang), (Jurnal RESTI Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi
Vol. 1, No. 12017), H. 65
19
adanya hubungan antara penjual dan pembeli, transaksi antara pelaku
bisnis dan proses internal yang mendukung transaksi dengan perusahaan.31
Menurut Rahmati E-Commerce singkatan dari Electronic
Commerce yang artinya sistem pemasaran secara atau dengan media
elektronik. E-Commerce ini mencakup distribusi, penjualan, pembelian,
marketing dan service dari sebuah produk yang dilakukan dalam sebuah
system elektronika seperti Internet atau bentuk jaringan komputer yang
lain.32
Definisi electronic commerce (E-Commerce) menurut Laudon dan
Laudon adalah suatu proses membeli dan menjual produk-produk secara
elektronik oleh konsumen dan dari perusahaan ke perusahaan dengan
computer sebagai perantara transaksi bisnis.33
Menurut McLeod. Perdagangan elektronik atau yang disebut juga
E-Commerce, adalah penggunaan jaringan komunikasi dan komputer
untuk melaksanakan proses bisnis. Pengertian dari E-Commerce adalah
menggunakan internet dan komputer dengan browser web untuk
mengenalkan, menawarkan, membeli dan menjual produk.34
31
Haryanti, S. Rancang Bangun Sistem Informasi E-Commerce Untuk Usaha Fashion
Studi Kasus Omah Mode Kudus. (Speed-Sentra Penelitian Engineering dan Edukasi, 2010). hlm.2
32
Ir mawati, D. Pemanfaatan e-commerce dalam dunia bisnis. (Jurnal Ilmiah Orasi
Bisnis ISSN, 2011). H, 161
33
Pradana, M. Klasifikasi bisnis e-commerce di Indonesia. Modus, 2015. H. 163.
34
Haryanti, S. Rancang Bangun Sistem Informasi E-Commerce Untuk Usaha Fashion
Studi Kasus Omah Mode Kudus. (Speed-Sentra Penelitian Engineering dan Edukasi, 2010). hlm.2
20
Menurut hatman, amir E-Commerce adalah suatu jenis dari
mekanisme bisnis secara elektronis yang memfokuskan diri pada transaksi
bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai medium
pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah institusi maupun antar
institusi dan konsumen langsung. 35
2. Karakteristik E-Commerce
Berbeda dengan transaksi perdagangan biasa, transaksi E-
Commerce memiliki beberapa karakteristik yang sangat khusus yaitu:
a. Transaksi Tanpa Batas
Sebelum era internet, batas-batas geografi menjadi penghalang
suatu perusahaan atau individu yang ingin go international . Sehingga
hanya perusahaan atau individu dengan modal besar yang dapat
memasarkan produknya ke luar negeri. Dewasa ini dengan internet
pengusaha kecil dan menengah dapat memasarkan produknya secara
internasional cukup dengan hanya membuat situs web dengan
memasang iklan di situs-situs internet tanpa batas waktu 24 jam, dan
tentu saja pelanggan dari seluruh dunia dapat mengakses situs tersebut
dan melakukan transaksi secara online.36
b. Transaksi Anonim
35
Romindo, dkk E-Commerce: Implementasi, Strategi dan Inovasinya. (Yayasan Kita
Menulis. 2019). H..2
36
Sakti, Nufransa Wira. “Perpajakan dalam E-commerce”, (Belajar dari Jepang. dalam
Berita Pajak No. 1443/ tahun XXXIII/15 Mei 2001), H. 35
21
Para penjual dan pembeli dalam transaksi melalui internet tidak
harus bertemu muka satu sama lainnya. Penjual tidak memerlukan nama
dari pembeli sepanjang mengenai pembayarannya telah diotorisasi oleh
penyedia sistem pembayaran yang ditentukan, yang biasanya dengan
kartu kredit.
c. Produk Digital dan Non digital
Produk-produk digital seperti software computer, musik, dan
produk lain yang bersifat digital dapat dipasarkan melalui internet
dengan cara download secara elektronik. Dalam perkembangannya
objek yang ditawarkan melalui internet juga meliputi barang-barang
kebutuhan hidup lainya.
d. Produk Barang Tidak Berwujud
Banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang e-commerce
dengan menawarkan barang tidak berwujud seperti data, software, dan
ide-ide yang dijual melaui internet. Dari karakteristik diatas kita tahu
bahwasanya e-commerce merupakan jual beli dalam dunia maya. Maka
dari itu kejujuran dalam bisnis ini merupakan sebuah nilai yang
terpenting.
3. Jenis-jenis E-Commerce
e-commerce dapat dibagi menjadi beberapa jenis yang memiliki
karakteristik berbeda-beda.
a. Business to Business (B2B)
22
Business to Businnes e-commerce memiliki karakteristik:
1. Trading parners yang sudah diketahui dan umumnya memiliki
hubungan (relationship) yang cukup lama. Informasi informasi
hanya dipertukarkan dengan partner tersebut. Dikarenakan sudah
mengenal lawan komunikasi, maka jenis informasi yang dikirimkan
dapat disusun sesuia dengan kebutuhan dan kepercayaan (trust).
2. Model umum yang digunakan adalah peer-to-peer, dimana
processing intellingece dapat didistribusikan di kedua pelaku
bisnis.37
B2B ( busines to busines ) perusahaan sebagai pelaku dari trasaksi,
dengan kata lain trasaksi terjadi antar perusahaan.
b. Business to Consumer (B2C)
Business to Consumer e-commerce memiliki karakteristik sebagai
berikut:
1. Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan ke umum.
2. Pelayanan (service) yang diberikan bersifat umum (generic)
dengan makanisme yang dapat digunakan oleh khalayak ramai.
3. Layanan diberikan berdasarkan permohonan (on demand).
Konsumer melakukan inisiatif dan produser harus siap
memberikan respon sesuai dengan permohonan.
37
Yurindra, “Transisi dan Siklus Pengembangan E-commerce di Perusahaan”, (Jurnal
Ilmiah Bisnis, 2011), H. 99
23
4. Pendekatan client/server sering digunakan dimana diambil
asumsi client (consumer) menggunakan sistem yang minimal
(berbasis web) dan processing (business procedure) diletakkan
di sisi server.
B2C ( Business to Consumer) lebih ke melibatkan langsung
perusahaan sebagai pedagang dan individu sebagai pembeli.
c. Consumen to Consumen (C2C)
Dalam C2C seseorang yang menjual produk atau jasa ke orang
lain. Dapat juga disebut sebagai pelanggan ke pelanggan yaitu orang
yang menjuala produk dan jasa ke satu sama lain.
1. Lelang C2C. Dalam lusinan negara, penjualan dan pembelian
C2C dalam situs lelang sangat banyak.
2. Iklan Kecik. Orang menjual ke orang lainnya setiap hari
melalui iklan kecik (classified ad) di Koran dan majalah. Iklan
kcik berbasis internet memiliki satu keuntunggan besar dari
pada berbagai jenis iklan kecik yang lebih tradisional.
3. Layana Personal. Banyak layana personal (pengacara, tukang
pembuat laporan pajak, panesehat investasi, layanan kencana)
tersedia di internet.
C2C (consumer to consumer) model ini terjadi antara
transaksi individu baik sebagai penjual maupun pembeli.
24
d. Consumen to Business (C2B)
Dalam C2B konsumen memeritahukan kebutuhan atas suatu
produk atau jasa tertentu, dan para pemasok bersaing untuk
menyediakan produk atau jasa tersebut ke konsumen.
C2B (Consumer to busines) pelaku indvidu yang melakukan
transaksi dengan perusahaan.38 Pelaku individu yang melakukan
transaksi dengan perusahaan.
Definisi perdagangan secara elektronik atau dikenal dengan
Electronic Commerce (E-Commerce) adalah segala bentuk transaksi
bisnis yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Namun,
seiring perkembangan waktu, definisi e-commerce menjadi meluas.
Saat ini, E-Commerce diartikan tidak hanya penjualan dan pembelian
melalui internet semata tetapi juga mencakup pelayanan pelanggan
online dan pertukaran dokumen bisnis.39
E-Commerce adalah Proses bisnis yang menghubungkan
perusahaan, konsumen, dan masyarakat melalui transaksi elektronik dan
pertukaran barang elektronik, layanan, dan informasi dengan
serangkaian teknologi dan aplikasi yang bersifat dinamis.40
38
Prasetio, dkk, Konsep Dasar E-Commerce. (Yayasan Kita Menulis. 2021). hlm.13
39
Budi, Chandra. "Menyasar Pajak Transaksi e-Commerce." (Jakarta: Direktorat Jenderal
Pajak Kementerian Keuangan 2018). H. 4
40
Febriantoro, Wicaksono. "Kajian dan strategi pendukung perkembangan e-commerce
bagi UMKM Di Indonesia." (Jurnal Manajerial 17.2 (2018), H.184.
25
E-Commerce menurut Baum, merupakan suatu set teknologi,
aplikasi dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen,
dan komunitas melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang,
pelayanan dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Sedangkan
menurut Karmawan E-Commerce adalah suatu jenis dari mekanisme
bisnis secara elektronik yang fokus pada transaksi bisnis berbasis
individu dengan menggunakan internet sebagai media pertukaran
barang atau jasa yang mana mengurangi kendala ruang dan waktu yang
selama ini menjadi tantangan dalam proses transaksi bisnis. 41
Savrul et al mendefinisikan e-commerce dalam dua lingkup,
sebagai definisi yang luas dan sempit. Menurut definisi yang luas,
e-commerce adalah pembelian atau penjualan barang antara bisnis,
rumah tangga, individu, pemerintah dan organisasi publik dan swasta
lainnya melalui jaringan komputer. Definisi sempit di sisi lain
hampir sama dengan definisi luas kecuali instrumen perdagangan
terbatas dengan internet.42
Menurut definisinya e-commerce adalah proses pembelian,
penjualan dan pertukaran produk, service dan informasi yang dilakukan
melalui jaringan komputer yaitu internet. E-commerce atau kependekan
dari electronic commerce (perdagangan secara elektronik), merupakan
41
Rafiah, Kurnia Khafidhatur. "Analisis pengaruh kepuasan pelanggan dan kepercayaan
pelanggan terhadap loyalitas pelanggan dalam berbelanja melalui E-commerce di Indonesia." (Al
Tijarah 5.1 2019): H.47
42
Hendarsyah, Decky. "E-commerce di era industri 4.0 dan society 5.0." (
IQTISHADUNA: Jurnal Ilmiah Ekonomi Kita 8.2 2019): H.171.
26
transaksi bisnis yang terjadi dalam jaringan elektronik, seperti internet.
Siapapun yang dapat mengakses komputer, memiliki sambungan ke
internet, dan memiliki cara untuk membayar barang-barang atau jasa
yang mereka beli, dapat berpartisipasi dalam e-commerce.
E-commerce memiliki beberapa komponen standar yang di miliki
dan tidak dimiliki transaksi bisnis yang dilakukan secara offline yaitu :
1. Produk: banyak jenis produk yang bisa dijual melalui internet
seperti komputer, buku, musik, pakaian, mainan, dan lain-lain.
2. Tempat menjual produk (a place to sell): tempat menjual
adalah internet yang berarti harus memiliki domain dan
hosting.
3. Cara menerima pesanan: email, telepon, sms dan lain-lain
Cara pembayaran: Cash, check, bankdraft, kartu kredit, internet
payment (misalnya paypal) Metode pengiriman: pengiriman bisa
dilakukan melalui paket, salesman, atau diunduh jika produk yang
dijual memungkinkan untuk itu (misalnya software).43
C. Kepuasan Konsumen (Ekonomi Syariah)
konsumsi dalam sistem ekonomi Islam menganut paham keseimbangan dalam
berbagai aspek. Konsumsi yang dijalankan oleh seorang muslim tidak boleh
mengorbankan kemaslahatan individu dan masyarakat. Kemudaian, tidak
diperbolehkan mendikotomi antara kenikmatan dunia dan ahirat, bahkan sikap
43
Hidayat, Sarif, Hari Suryantoro, and Jansen Wiratama. "Pengaruh Media Sosial
Facebook Terhadap Perkembangan E–Commerce Di Indonesia." Simetris: (Jurnal Teknik Mesin,
Elektro Dan Ilmu Komputer 8.2 2017): H.417
27
ekstrimpun harus dijauhkan dalam berkonsumsi. larangan atas sikap tabzir dan
israf bukan berarti mengajak seorang muslim untuk bersikap bakhil dan kikir,
akan tetapi mengajak kepada konsep keseimbangan, karena sebaik-baiknya
perkara adalah pertengahan. (QS. Al-Isra’: 29)
1. Kegiatan konsumsi dalam Islam
a. Tidak boleh berlebih lebihan
Jika manusia dilarang untuk berlebih-lebihan itu berarti manusia
sebaiknya melakukan konsumsi seperlunya saja. (QS. Al-A’raf: 31)
Berdasarkan ayat inilah maka sikap mengurangi kemubadziran, sifat
sok pamer, mengkonsumsi barang-barang yang tidak perlu, dalam
bahasa ekonomi perilaku konsumsi islami yang tidak berlebihan. Maka
pola konsumsi Islam lebih didorong oleh fakta kebutuhan (needs)
daripada keinginan (wants).
b. Mengkonsumsi yang halal dan thayyib
Konsumsi seorang muslim dibatasi pada barang-barang yang halal
dan thayyib (QS. AlBaqarah: 172). Tidak ada permintaan terhadap
barang haram. Barang yang sudah dinyatakan haram untuk dikonsumsi
otomatis tidak lagi memiliki nilai ekonomi, karena itu tidak boleh
diperjual belikan Barang yang halal tidak dapat dikonsumsi sebanyak
yang diinginkan, harus dibatasi sebatas cukupnya (keperluan), demi
menghindari kemewahan,berlebih-lebihan dan kemubadziran.
28
2. Etika konsumsi dalam islam
Konsumen muslim bertujuan untuk mencapai suatu maslahah.
Konsumsi dalam ekonomi Islam, ada beberapa etika yang mengaturnya
yaitu sebagai berikut:
a) Tauhid (Uniy atau Kesatuan) yaitu kegiatan konsumsi dilakukan
dalam rangka beribadah kepada Allah SWT, sehingga berada
dalam hukum-hukum Allah (syari’ah).
b) Adil (Equilibrium atau Keadilan) yaitu pemanfaatan atas karunia
Allah [Link] dilakukan secara adil sesuai dengan syari’ah,
sehingga [Link] keuntungan material juga
sekaligus mendapatkan kepuasan spiritual.
c) Kehendak Bebas (Free Will) yaitu alam semesta adalah milik Allah
SWT, manusia diberikan kekuasaan untuk mengambil keuntungan
dan manfaat sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuannya
atas barang-barang ciptaan Allah.
d) Amanah (Responsibility atau Pertanggungjawaban) adalah perilaku
dalam hal melakukan konsumsi, manusia dapat berkehendak bebas
tetapi akan bertanggung jawab dengan kebebasan tersebut, baik
terhadap keseimbangan alam, masyarakat, diri sendiri, maupun di
akhirat.
29
e) Halal adalah barang-barang yang dikonsumsi menunjukkan nilai-
nilai kebaikan, kesucian, keindahan serta akan menimbulkan
kemaslahatan untuk umat baik secara material maupun spiritual.
f) Sederhana dimana Islam sangat melarang perbuatan yang
melampui batas (israf), termasuk pemborosan dan berlebih-lebihan,
bermewah-mewahan yaitu membuang-buang harta dan
menghambur-hamburkannya tanpa faedah serta manfaat dan hanya
memperturutkan nafsu semata44
3. Prinsip dasar konsumsi dalam islam
a. Prinsip syariah, yaitu menyangkut dasar syariat yang harus terpenuhi
dalam melakukan konsumsi dimana terdiri dari: prinsip kaidah, prinsip
ilmu, dan prinsip amaliah.
b. Prinsip kuantitas, yaitu sesuai dengan batas-batas kuantitas yang telah
dijelaskan dalam syariat Islam, di antaranya: sederhana, sesuai antara
pemasukan dan pengeluaran, dan menabung dan investasi
c. Prinsip prioritas, dimana memperhatikan urutan kepentingan yang
harus diprioritaskan agar tidak terjadi kemudharatan.
d. Prinsip sosial, yaitu memperhatikan lingkungan sosial disekitarnya
sehingga tercipta keharmonisan hidup dalam masyarakat.
44
M. Nur Rianto Al-Arif dan Euis Amalia. Teori Mikroekonomi, Suatu Perbandingan
Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional, H. 87.
30
e. Kaidah lingkungan, yaitu dengan mengkonsumsi harus sesuai dengan
kondisi potensi daya dukung sumber daya alam dan keberlanjutannya
atau tidak merusaklingkungan.
f. Tidak meniru perbuatan konsumsi yang yang tidak mencerminkan
etika konsumsi seperti suka menjamu dengan tujuan bersenang-senang
atau memamerkan kemewahan dan menghambur-hamburkan harta.
D. Jual beli dalam islam
jual beli Jual beli atau perdagangan dalam bahasa Arab, yaitu al-Bay’
berarti menjual, mengganti, dan menukar (sesuatu dengan sesuatu yang lain). Kata
al-Bay’ dalam bahasa Arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya,
yakni kata asy-Syira’ (beli). Dengan demikian, maka kata al-Bay’ berarti “jual”,
tetapi sekaligus juga berarti “beli”. Persoalan jual beli dalam fikih Islam dibahas
secara luas oleh ulama fikih, sehingga dalam berbagai literatur ditemukan
pembahasan dengan topik kitab al- Buy’ (kitab jual beli).45
1. Dasar hukum jual beli
Secara etimologi jual beli adalah proses tukar menukar barang
dengan barang Termasuk di dalamnya menukar dengan jasa atau
menggunakan uang sebagai alat tukar. Terdapat beberapa ayat dalam Al-
Quran yang menjadi dasar hukum jual beli, yaitu :Al-baqarah, ayat 275:
45
Nisrina, D. N. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Online dan Relevansinya
Terhadap Undang-Undang Perlindungan Konsumen .Doctoral dissertation, Universitas Islam
Negeri Alauddin Makassar. (2015).. H.14
31
Terjemahan;
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan
lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian
itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),
sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang
yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus
berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya
(terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba),
maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal
di dalamnya.”46
Maksud ayat di atas adalah orang-orang yang mengambil riba atau
tambahan dengan uang atau bahan makanan baik itu mengambil
tambahan dari jumlahnya maupun mengenai waktunya, untuk jual beli
secara kredit, maka akan dibangkitkan dari kubur dengan keadaan yang
46
Kementerian agama RI, Al-qur’an dan terjemahan
32
buruk. Tetapi jika mereka menghentikan memakan riba maka Allah akan
menghalalkan jual belinya.47 Dalil selanjutnya yaitu [Link]-maidah ayat
29
Terjemahan;
“Haiorang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-
suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayangkepadamu.”48
2. Rukun dan syarat jual beli
Suatu jual beli dapat dikatakan sah apabila telah memenuhi rukun
dan syarat yang telah ditentukan oleh syara’. jumhur ulama yang
menyatakan bahwa rukun jual beliitu ada empat, yaitu:
a. Orang yang berakad (penjual dan pembeli);
b. Sighat (lafal ijab dan kabul);
c. Ada barang yang dibeli;
d. Ada nilai tukar pengganti barang.49
47
Salim, M.. Jual Beli Secara Online Menurut Pandangan Hukum Islam. Al Daulah:
Jurnal Hukum Pidana Dan Ketatanegaraan, 6(2), (2017) H..374
48
Kementerian agama RI, Al-qur’an dan terjemahan
49
Suruji, R. S., Nisrina, D. N., & Rifai, M. Perlindungan Konsumen Terhadap Jual Beli
Online (Suatu Kajian Uupk, Etika Bisnis Islam Dan Hukum Islam). Jurnal Adz-Dzahab: Jurnal
Ekonomi dan Bisnis Islam, 5(2), (2020). H..101
33
3. macam-macam jual beli
a. Jual beli salam (pesanan), yaitu jual beli melalui pesanan dengan cara
menyerahkan terlebih dahulu uang muka, kemudian barangnya diantar
belakangan;
b. Jual beli muqayadhah (barter), yaitu jual beli dengan cara menukar
barang dengan barang, seperti menukar baju dengan sepatu;
c. Jual beli muthlaq, yaitu jual beli barang dengan sesuatu yang telah
disepakati sebagai alat pertukaran, seperti uang;
d. Jual beli alat penukar dengan alat penukar, yaitu jual beli barang yang
biasa dipakai sebagai alat penukar dengan alat penukar lainnya, seperti
uang perak dan uang kertas.
4. Jual beli yang terlarang
Dalam Perdagangan, kesepakatan dan kerelaan (adanya unsur suka
sama suka) sangat ditekankan untuk dilaksanakan atau yang dikenal
dengan sebutan antaradhin minkum sebagaimana yang tercantum dalam
QS surah An-Nisa’(4): 29 :
Terjemahan;
“Haiorang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-
34
suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayangkepadamu”50
Hanya dengan kesepakatan dan kerelaan yang berpangkal dari suka
sama suka saja, tidak menjamin transaksi dapat dinyatakan sah dalam
Islam yang mengatur adanya transaksi yang dibolehkan dan tidak
dibolehkan, seperti yang dikemukakan oleh Hamzah Ya'qub bahwa
transaksi perdagangan dapat dikatakan tidak boleh (haram) jika masuk
kedalam tiga kategori yang diharamkan, yaitu:
a. Perdagangan yang terlarang meliputi jenis barang atau zat;
b. Perdagangan yang terlarang meliputi segala usaha atau obyek
dagangnya; Dan
c. Perdagangan yang terlarang meliputi cara-cara dagang atau jual
beli yang terlarang.
5. Etika jual beli
Etika dalam berbisnis seperti yang telah diteladani rasulullah
yaitu nabi muhammad saw di mana sewaktu muda ia berbisnis
dengan memperhatikan kejujuran, kepercayaan dan ketulusan serta
keramah tamahan kemudian mengikutinya dengan penerapan prinsip
bisnis dengan nilai ṣiddīq amānah tablīgh dan faṭānah serta nilai moral
dan keadilan.51
50
Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan
51
Jamaluddin, [Link] Dasar Muamalah & Etika Jual Beli (al-Ba'i) Perspektif Islam.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman, . (2017)., H..285.
35
E. Penelitian Terdahulu
Untuk mendukung penelitian ini penulis, penulis memaparkan penelitian
terdahulu yang relefan dengan permasalahan yang sedang diteliti.
Jurnal Yasinta Arum Rismawati yang berjudul “Pengaruh Kepuasan Dan
Kepercayaan Terhadap Loyalitas Dalam Pembelian Online, (Fakultas Ekonomi
Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta 2021) tujuan penelitian ini
yaitu, untuk menjelaskan pengaruh kepuasan pelanggan terhadap kepercayaan
pelanggan dan pengaruh kepuasan pelanggan dan kepercayaan pelanggan
terhadap loyalitas pelanggan dalam E-Commerce. Dan hasil penelitian ini dimana
peneliti membuktikan bahwa kepuasan pelanggan memiliki hubungan yang positif
dan signifikan dengan kepercayaan pelanggan, serta kepuasan pelanggan dan
kepercayaan pelanggan memiliki hubungan positif signifikan dengan loyalitas
pelanggan.52
Kesamaan Penelitian ini adalah penelitian korelasional dengan melihat
pengaruh dari sisi kepuasan, perbedaanya pada fokus penelitianya yaitu penelitian
ini melihat kepuasan pelanggan dari kepercayaan konsumen sedangkan penelitian
yang penulis lakukan melihat kepuasan konsumen berdasarkan perpektif ekonomi
syariah.
Kedua penelitian yang dilakukan oleh, Ni Wayan Widya Ekarani, dkk
dengan judul “Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Kualitas Layanan
52
Yasinta Arum Rismawati, “Pengaruh Kepuasan Dan Kepercayaan Terhadap Loyalitas
Dalam Pembelian Online” ( Skrip 2021) H. 32
36
Shopee” E-Jurnal Matematika Vol. 11(1), Januari 2022, ISSN: 2303-1751,
penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Populasi pada penelitian ini
adalah konsumen Shopee yang berdomisili di Provinsi Bali. Hasil dari
penelitianya menggunakan analisis faktor dengan menggunakan data kuesioner
kepuasan konsumen terhadap kualitas layanan Shopee diperoleh bahwa memang
benar terdapat tujuh dimensi yang memengaruhi kepuasan konsumen terhadap
kualitas layanan elektronik, yaitu efficiency, system availability, fulfillment,
privacy, responsiveness, compensation, dan contact.53
Kesamaan dengan penelitian ini yaitu keduanya membahan tentang
kepuasan konsumen dan juga menggunakan metode yang sama yaitu metode
kualitatif, perbedaanya pada fokus penelitianya, penelitian ini fokus pada
pengguna layanan shopee sedangakan penelitian saya pada Lazada yang ditinjau
perspektif ekonomi syariah.
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Rima Dwi Oktiana. 2019 Yang
berjudul: Analisis Kepuasan Pelanggan Setelah Melakukan Pembelian Secara
Online (Studi Kasus pada Konsumen Shopee di Pesma An Najah. Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan kuesioner. Populasi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah santri Pesantren Mahasiswa An Najah
Purwokerto. Sampel yang diambil sebanyak 71 responden dengan menggunakan
teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan
53
Ni Wayan Widya Ekarani, dkk, Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap
Kualitas Layanan Shopee, (Jurnal Matematika Vol. 11(1) 2022) H. 1751
37
terhadap kepuasan pelanggan, kualitas produk tidak berpengaruh terhadap
kepuasan pelanggan, dan faktor emosional tidak berpengaruh terhadap kepuasan
pelanggan.54
Kesamaan dengan penelitian ini yaitu sama-sama membahas tentang
kepuasan pelanggan terhadap penggunaan E-commmerce pebedaanya pada fokus
penelitianya, penelitian ini fokus pada pengguna layanan Shopee sedangkan saya
fokus pada pelanggan Lazada dalam perspektif ekonomi syariah.
Keempat penelitian yang dilakukan oleh Ismawati, 2019 dengan judul:
Pengaruh Kualitas Pelayanan Online Shopee Terhadap Kepuasan Konsumen
Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Unismuh Makassar, Program
Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah
Makassar Makassar. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Populasi
dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh
Makassar yang pernah menggunakan aplikasi Online Shopee. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa hipotesis yang di ajukan di terima karena menujukkan hasil
uji hipotesis positif dan signifikan. Ini berarti bahwa Kualitas pelayanan online
shopee berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen Pada
mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis unismuh makassar.55
54
Rima Dwi Oktiana, Analisis Kepuasan Pelanggan Setelah Melakukan Pembelian
Secara Online (Studi Kasus pada Konsumen Shopee di Pesma An Najah ( Purwokerto 2019) H. 32
55
Ismawati, Pengaruh Kualitas Pelayanan Online Shopee Terhadap Kepuasan
Konsumen Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Makassar. ( UNISMU,
SKRIPSI 2019) H.31
38
Kesamaan penelitian ini yaitu melakukan penelitian pada kepuasan
konsumen pada mahasiswa pengguna layanan e-commerce peredaanya penelitian
ini fokus pada pengguna layanan Shopee dan tempat penelitian dan perbedaan
dalam perspektif syariah.
Kelima penelitian yang dilakukan oleh: Vivi Serila 2019 dengan judul,
Pengaruh Kualitas Pelayanan Elektronik Toko Online Toko Pedia Terhadap
Loyalitas Pelanggan Melalui kepuasan pelanggan sebagai variabel Mediasi,
Program Studi Pendidikan ekonomi, Universitas Sanata Dharma. Teknik
pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis dilakukan dengan
metode regresi linier sederhana dan path analysis, populasi penelitian ini adalah
konsumen toko pedia teknik sampling yang di gunakan adalah sebanyak 122
responden. Hasil analisis data menunjukan bahwa (1) kualitas pelayanan
elektronik berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan toko pedia, (2) kualitas
pelayanan elektronik berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan toko pedia, (3)
kepuasan pelanggan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan toko pedia (4)
kepuasan pelanggan memediasi hubungan antara kualitas pelayanan elektronik
dengan loyalitas pelanggan toko pedia.56
Kesamaan penelitian ini yaitu pada kepuasan pelanggan dalam
penggunaan e-commerce toko online, perbedaanya pada fokus penelitian
penelitian ini pada pelanggan tokopedia sedangkan peneliti fokus pada kepuasan
konsumen menggunakan aplikasi lazada perspektif ekonomi syariah.
56
Vivi serila, Pengaruh Kualitas Pelayanan Elektronik Toko Online TokoPedia terhadap
Loyalitas pelanggan Melalui Kepuasan Pelanggan Sebagai Variabel Mediasi, (universitas Sanata
Dharma 2019). H.32