KARYA SENI KERAJINAN BATIK
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Edwita, [Link].
Disusun Oleh :
Salsabila Nuramalia Salim
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia
nikmat dan kesehatan, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang tentang kerajinan
yang berjudul “Karya Seni Kerajinan Batik”. Makalah ini saya susun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Pendidikan Seni Kerajinan dan Prakarya SD.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof Dr. Edwita, [Link]. selaku dosen pengampu
mata kuliah Pendidikan Seni Kerajinan dan Prakarya SD. Saya menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna baik dari segi penulisan maupun materi yang disampaikan karena
keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya . Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Saya berharap makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Jakarta, 20 November2023
Salsabila Nuramalia Salim
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sudah sejak dahulu batik dikenal dan berkembang pada lingkup masyarakat Indonesia.
Kata ‘Batik’ memiliki beberapa makna dan pengertian. Kata Batik berasal dari Bahasa Jawa
yaitu “amba” yang artinya tulis dan “nitik” yang berarti titik. Maksud dari gabungan kedua kata
tersebut adalah menulis dengan lilin. Didalam bukunya yang berjudul Batik Klasik, Hamzuri
mengartikan batik sebagai suatu cara untuk memberi hiasan pada kain dengan proses menutupi
bagian-bagian tertentu menggunakan perintang. Batik juga dapat disebut sebagai seni gambar di
atas kain. Namun, seni gambar ini bukanlah asal menggambar saja akan tetapi gambar yang
dibuat memiliki makna filosofis. Filosofi motif batik ini berkaitan erat dengan kebudayaan Jawa
yang sangat kental dengan symbol-simbol yang sudah mengakar kuat dalam falsafah kehidupan
masyarakat Jawa.
Di antara kekayaan budaya Indonesia, batik merupakan salah satu bentuk seni kuno yang
berkualitas tinggi. Pada mulanya budaya batik merupakan adat istiadat yang diwariskan secara
turun temurun, artinya motif batik biasanya dapat dikenali dari latar belakang daerah atau
keluarga. Beberapa motif batik dapat dikaitkan dengan status/pangkat seseorang, meskipun saat
ini beberapa motif batik tradisional hanya dapat digunakan oleh keluarga kerajaan, seperti
keluarga kerajaan Jogjakarta dan Surakarta. Ada banyak sekali jenis dan desain batik tradisional,
namun tema dan variasi utamanya disesuaikan dengan filosofi dan budaya masing-masing
daerah. Kekayaan budaya Indonesia yang menakjubkan mengawali terciptanya berbagai motif
dan jenis batik tradisional yang memiliki keunikan tersendiri.
Dahulu perempuan Jawa memanfaatkan ketrampilannya membatik sebagai mata
pencaharian, menjadikan pekerjaan membatik sebagai tugas eksklusif perempuan. Setelah
industrialisasi dan globalisasi, ketika diperkenalkan teknik otomasi, muncullah jenis batik baru
yang sering disebut batik cap atau batik cetak, sedangkan batik tradisional dibuat dengan cara
ditulis tangan menggunakan alat yang disebut miring dan lilin/lilin. disebut menulis. Saat ini
Batik sedang berada pada puncak popularitasnya. Pada tanggal 2 Oktober 2009, Organisasi
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO)
menetapkan Batik sebagai warisan budaya Indonesia, yaitu termasuk warisan budaya spiritual.
1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana Sejarah perkembangan membatik di Indonesia?
2. Apa saja alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan Batik?
3. Apa saja Langkah-langlah dalam pembuatan batik?
1.3 Tujuan masalah
1. Untuk mendeskripsikan Sejarah perkembangan mambatik di indonsia
2. Untuk menyebutkan alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan Batik
3. Untuk mendeskripsikan proses pembuatan Batik
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Batik
Batik merupakan karya budaya warisan nenek moyang dan bernilai seni tinggi, dengan
corak dan corak warna khas daerah yang menunjukkan jati diri bangsa Indonesia. Sebagai aset
budaya, batik merupakan produk ikonik Indonesia yang memiliki nilai sejarah, dengan citra unik
yang mewakili status pemakainya. Batik sebagai sebuah karya budaya mempunyai nilai ekonomi
yang tinggi karena menjadi sumber penghidupan para perajin, membuka peluang usaha,
meningkatkan mata uang negara dan mungkin menunjang pariwisata.
Menurut Djumena (1990: IX) seni batik adalah salah satu kesenian khas Indonesia yang
telah sejak berabad-abad lamanya hidup dan berkembang, sehingga merupakan salah satu bukti
peninggalan sejarah budaya bangsa Indonesia. Banyak hal yang dapat terungkap dari seni batik,
diantaranya adalah latar belakang kebudayaan, kepercayaan, adat istiadat, sifat, tata kehidupan,
lingkungan alam, cita rasa, tingkat ketrampilan dan lain-lain. Dalam bahasa Jawa, kata Batik
berasal dari kata “ambatik” yaitu “amba” yang berarti menulis dan akhiran “tik” yang berarti
membuat titik-titik kecil, tetes atau titik. Jadi batik artinya tulisan atau lukisan. Pada dasarnya
batik adalah salah satu jenis seni lukis. Bentuk-bentuk yang disajikan pada kain disebut
dekorasi. Ragam hias batik biasanya berkaitan erat dengan beberapa faktor seperti letak
geografis, adat istiadat, dan kondisi alam. Pulau Jawa merupakan pusat batik Indonesia. Daerah
seperti Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta, Garut, Indramayu, Banyumas dan Madura
merupakan sentra produksi batik terkenal di Indonesia. Seiring berkembangnya zaman, batik
pun mulai berkembang jenisnya, yang semula hanya terdiri dari batik tulis, kini sudah banyak
jenis batiknya, antara lain batik ikat, batik cap, batik cap, dan batik tulis.
2.2. Sejarah perkembangan membatik Indonesia
Sejak dahulu kala, batik sudah dikenal dan berkembang di masyarakat Indonesia. Semula
hanya digunakan di lingkungan kerajaan, batik mulai menyebar ke luar kerajaan sesuai dengan
kebutuhan dan perkembangan zaman, mulai dari kebutuhan pribadi hingga kebutuhan industri.
Dalam bentuknya yang paling sederhana, industri batik mulai berkembang pada abad ke-11,
ketika Pulau Jawa banyak mengimpor kain mori (kain utama batik) dari India. Sejarah
perkembangan batik memang dominan di Pulau Jawa karena tingginya kepadatan penduduk
pulau tersebut dari dulu hingga saat ini, namun kreatifitas batik tersebut tidak hanya ditujukan
pada budaya lokal atau jawa saja, melainkan juga menemui mancanegara. Kontak budaya Jawa
dengan budaya lain seperti perdagangan dengan Tiongkok, India, dan Timur Tengah memberi
warna tersendiri pada keberagaman motif. Batik mulai populer pada akhir abad ke-18 atau awal
abad ke-19. Kemunculan batik cap menandai era industrialisasi. Selain itu, seiring dengan
masuknya industrialisasi dan globalisasi teknik otomasi, muncullah jenis batik baru yaitu batik
cap. Batik cetak mempengaruhi arah industri batik karena prosesnya lebih cepat dan harganya
jauh lebih murah dibandingkan batik tulis. Dengan demikian, munculnya era industrialisasi turut
menandai naik turunnya batik, khususnya berkembangnya industri kain batik di Pulau Jawa.
Oleh karena itu, datangnya era industrialisasi berarti naik turunnya produksi batik, khususnya
boomingnya industri kain batik di Pulau Jawa. Tidak jarang kita memahami bahwa batik telah
menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Karena bahannya yang
nyaman, batik sering digunakan saat bekerja, acara keluarga, dan juga acara formal. Tak hanya
itu, batik juga tidak sulit ditemukan pada berbagai jenis pakaian, mulai dari proses produksi
massal pakaian jadi dalam bentuk lembaran kain, hingga produk fashion kelas atas hasil karya
desainer Tanah Air.
Tentunya Indonesia sebagai bangsa sangat bangga dengan batik sebagai sumber
daya/warisan budaya nasional. Selain itu, sejak tahun 2009, UNESCO (PBB) mengakui batik
secara internasional sebagai Warisan Budaya tak benda kemanusiaan. Namun batik Indonesia
bukan sekedar produk massal dengan corak yang tidak bermakna. Dengan masuknya batik ke
dalam daftar UNESCO, mendorong masyarakat Indonesia untuk selalu menjaga budaya batik,
sehingga masyarakat Indonesia wajib memaknai dan melestarikan warisan budaya Indonesia
serta memahami ciri-ciri tradisi batik. harus dilindungi. Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai
Hari Batik Nasional dan diharapkan ikon budaya ini selalu dilestarikan dan dimaknai khususnya
oleh masyarakat Indonesia selamanya.
2.3 Karakteristik motif batik Indonesia
Motif batik Indonesia mencerminkan kekayaan keragaman budaya dan sejarah berbagai
suku dan wilayah nusantara. Salah satu ciri khas motif batik adalah ragam geometris dan
simbolisnya yang seringkali mempunyai makna mendalam. Motif-motif tersebut tidak hanya
bersifat estetis, tetapi juga mencerminkan filosofi, keyakinan, dan nilai-nilai pembuat batik.
Misalnya saja motif Parang yang merupakan pola berulang yang rumit yang sering dianggap
sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan ketangguhan.
Selain motif geometris, batik Indonesia juga dikenal dengan motif-motif organik yang
terinspirasi dari alam, seperti bunga, daun, burung, dan binatang. Setiap motif organik memiliki
makna khusus dan sering kali terkait dengan kepercayaan tradisional atau mitologi lokal. Motif-
motif ini memberikan nuansa alami dan keharmonisan pada kain batik, menciptakan karya seni
yang indah dan bermakna. Sebagai contoh, motif Kawung, yang terinspirasi dari buah kelapa
yang rapi, melambangkan kesempurnaan dan kekekalan.
Karakteristik lain dari motif batik Indonesia adalah penggunaan warna yang cerah dan
kontras. Warna-warna yang digunakan dalam batik tidak hanya untuk keindahan visual, tetapi
juga untuk menyampaikan pesan atau makna tertentu. Misalnya, warna merah sering kali
melambangkan keberanian, sementara warna biru dapat menggambarkan ketenangan dan
kedamaian. Kombinasi motif dan warna ini menciptakan karya seni yang unik dan penuh warna,
mencerminkan keanekaragaman budaya dan keindahan alam Indonesia dalam setiap helai kain
batik.
2.4 Bahan dan alat membatik
Bahan yang digunakan dalam membuat batik tulis terdiri dari kain, malam dan pewarna
batik. Berikut penjelasan dari bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat batik:
Kain
Kain batik seperti halnya seperti kainkain yang lainya dibuat dengan dasar prinsip
yang sederhana dari bahan benang yang digabung secara memanjang dan melintang.
Pada awalnya kain batik hanya terbuat dari jenis serat alam, utamanya kapas
(tumbuhan) dan sutera (hewan) (Kurniadi, 1996: 12).
Lilin malam
Menurut Widodo (1983: 10) lilin batik adalah bahan yang dipakai untuk menutup
permukaan kain menurut motif batik, sehingga permukaan yang tertutup tidak terkena
warna yang diberikan pada kain
Pewarna batik
Pewarna batik alami biasanya berasal dari tumbuh-tumbuhan yang diproses secara
tradisional. Zat warna tersebut biasanya diambil atau terbuat dari akar, batang, kulit
kayu, daun dan bunga. Namun sekarang pewarna yang digunakan dalam pewarnaan
batik tidak hanya menggunakan pewarna alami saja, tetapi juga menggunakan pewarna
buatan atau sintetis. Pewarna sintetis tersebut antara lain adalah Naptol, Remazol dan
Indigosol.
Waterglass
Merupakan senyawa alkali kuat berbetuk cairan kental yang tidak berwarna. Khusus
untuk pembuatan batik dengan bahan pewarna reaktif seperti remasol, waterglass
digunakan untuk proses fiksasi yang bertujuan untuk mengunci sekaligus menguatka
zat warna yang dipakai dalam kegiatan pembuatan batik.
Perlengkapan yang digunakan dalam membuat batik tulis adalah peralatan yang sifatnya
tradisional dan khas, walaupun sekarang mengalami penyempurnaan baik bentuk dan kualitas
bahan namun manfaat atau fungsinya tetap sama. Adapun peralatan yang digunakan dalam
pembuatan batik tulis diantaranya adalah
Pensil
Pensil adalah suatu alat tulis dan Lukis. Dalam membatik, pensil digunakan untuk
menggambar sketsa dari batik yang akan dibuat.
Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan. Canting
untuk membatik adalah alat kecil yang terbuat dari tembaga dan bambu sebagai
penggangannya yang
Kuas
Kuas adalah alat yang digunakan untuk mewarnai bagian-bagian dari batik.
Toples cat
Toples cat digunakan sebagai wadah menyimpan pewarna. Ukuran besar kecil toples
cat serta jumlah toples cat disesuaikan dengan kebutuhan.
Wajan besar
Wajan besar berfungsi untuk menghilangkan lilin batik atau malam dengan cara kain
direbus dengan air dan diberi abu soda secukupknya. Wajan yang digunakan harus
memiliki ketebalan yang cukup dan besar sesuai dengan jumlah kain yang akan
dilorod.
2.5 Mengungkapkan gagasan dan mengvisualisasikan dalam bentuk karya
2.6 Membuat seni karya membatik
Dalam pembuatan batik tulis harus melalui beberapa tahapan, tahapan-tahapan tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Tahap menggambar sketsa batik
Dalam tahap ini motif batik yang akan dibuat digambar terlebih dahulu pada kain
menggunakan pensil agar mempermudah dalam proses mencanting.
2. Tahap mencanting
Pada tahap ini, motif yang sudah Digambar menggunakan pensil, Digambar kembali
menggunakan lilin malam agar saat tahap pewarnaan, warna tidak bocor.
3. Tahap mengoya
Tahap mengoya adalah tahap pemberian warna pada batik. Setelah pewarnaan, batik
dijemur terlebih dahulu untuk lanjut ke step berikutnya.
4. Tahap penggunaan waterglass
Tahap ini bertujuan agar warna pada batik tidak luntur saat ingin dilorot. Setelah tahap ini
batik dijemur kembali untuk lanjut ke tahap berikutnya.
5. Tahap melorod
Tahap melorod adalah tahap penghilangan lilin atau malam batik untuk mendapatkan
corak atau gambar pada kain agar terbuka.
6. Tahap finishing
Pada tahap ini kain dijemur hingga mengering. Jika sudah kering batik siap digunakan.
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Dalam kesimpulannya, batik Indonesia tidak sekadar merupakan seni kain yang indah,
tetapi juga merupakan ciri khas yang memperkaya warisan budaya bangsa ini. Motif-motif batik
mencerminkan keberagaman alam, filosofi, dan identitas budaya setiap daerah di Indonesia.
Dengan dipadukan nilai-nilai tradisional dan inovasi seni, batik tidak hanya bertahan sebagai
warisan leluhur, tetapi juga terus berkembang, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Selain sebagai simbol keindahan, batik juga menjadi agen perekonomian lokal dan nasional,
memberikan lapangan kerja dan mendukung keberlanjutan budaya. Dengan segala kekayaan
maknanya, batik Indonesia menjadi jendela yang membuka pandangan kita pada kearifan lokal,
kesuburan alam, dan kreativitas yang tak terbatas, menjadikannya sebagai salah satu warisan
budaya yang patut dilestarikan dan diapresiasi.