0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan46 halaman

Pendekatan Partisipatif dalam Pendataan Kumuh

Dokumen ini menjelaskan pendekatan dan metodologi untuk pendataan baseline kawasan kumuh di Kota Depok, dengan menekankan pada asas partisipatif, transparansi, akuntabilitas, keterpaduan, keberlanjutan, dan keadilan sosial. Berbagai pendekatan seperti eksploratif, partisipatif, normatif, wilayah, lingkungan, dan sosial budaya digunakan untuk memahami kondisi kawasan kumuh dan melibatkan masyarakat dalam proses pendataan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan data yang akurat dan relevan, serta memastikan solusi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan lokal dan kebijakan yang berlaku.

Diunggah oleh

mhade adi wijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan46 halaman

Pendekatan Partisipatif dalam Pendataan Kumuh

Dokumen ini menjelaskan pendekatan dan metodologi untuk pendataan baseline kawasan kumuh di Kota Depok, dengan menekankan pada asas partisipatif, transparansi, akuntabilitas, keterpaduan, keberlanjutan, dan keadilan sosial. Berbagai pendekatan seperti eksploratif, partisipatif, normatif, wilayah, lingkungan, dan sosial budaya digunakan untuk memahami kondisi kawasan kumuh dan melibatkan masyarakat dalam proses pendataan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan data yang akurat dan relevan, serta memastikan solusi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan lokal dan kebijakan yang berlaku.

Diunggah oleh

mhade adi wijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

BAGIAN 5
PENDEKATAN DAN
METODOLOGI
5.1. PENDEKATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap
proses pembelajaran. Atau dalam istilah lain, pendekatan merupakan persiapan
yang terarah dan sistematis agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang
kita dalam proses penetapan tujuan. Agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan
efisien.

Untuk Pendataan Baseline Kawasan Kumuh di Kota Depok, beberapa asas


yang relevan dan cocok digunakan meliputi:

1. Asas Partisipatif

o Melibatkan masyarakat setempat sebagai subjek, bukan objek,


dalam proses pendataan.

o Cocok karena masyarakat yang tinggal di kawasan kumuh memiliki


wawasan langsung tentang kondisi sosial, ekonomi, dan
infrastruktur di wilayah mereka.

2. Asas Transparansi

o Penting agar seluruh proses pendataan dilakukan secara terbuka,


terutama terkait data yang dikumpulkan dan bagaimana itu
digunakan untuk perencanaan.

o Menghindari kecurigaan atau resistensi masyarakat.

5-1 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

3. Asas Akuntabilitas

o Setiap hasil pendataan harus bisa dipertanggungjawabkan, baik ke


pemerintah daerah (Kota Depok) maupun ke publik.

o Ini penting untuk menjaga kepercayaan publik dan memastikan


hasil pendataan benar-benar merefleksikan kondisi riil.

4. Asas Keterpaduan

o Mengintegrasikan data sosial, ekonomi, dan fisik secara holistik.

o Mengaitkan pendataan dengan kebijakan lain seperti RTRW, RDTR,


dan program pencegahan kumuh (100-0-100).

5. Asas Keberlanjutan

o Hasil pendataan tidak hanya menjadi arsip, tetapi juga digunakan


untuk pemantauan dan evaluasi berkala.

o Mendorong perbaikan kawasan secara bertahap dan berkelanjutan.

6. Asas Keadilan Sosial

o Memastikan intervensi yang direncanakan berdasarkan hasil


pendataan berpihak pada kelompok rentan, termasuk mereka yang
memiliki keterbatasan ekonomi dan sosial.

Untuk mencapai keberhasilan dalam Pendataan Baseline Kawasan Kumuh


maka diperlukan beberapa pendekatan yang dapat menunjang dan
menginterpretasikannya, yakni :

5.1.1. Pendekatan Eksploratif

Pendekatan eksploratif digunakan untuk memahami secara mendalam kondisi


kawasan kumuh di Kota Depok. Pendekatan eksploratif ini memastikan bahwa
pendataan baseline bukan hanya sekadar pencatatan data, tetapi juga menjadi
langkah awal untuk intervensi yang tepat sasaran. Langkah-langkah eksploratif
meliputi:

 Inventarisasi dan Pengumpulan Data:

o Menggunakan metode transek untuk memetakan kondisi fisik


lapangan.

5-2 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

o Wawancara mendalam dengan warga untuk mendapatkan data


sosial dan ekonomi.

 Studi Dokumen: Mengkaji dokumen terkait, seperti SK Walikota Depok


Nomor 591/250/Kpts/Bapp/Huk/2015 dan kebijakan RTRW serta RDTR.

 Analisis Situasional: Mengidentifikasi potensi, permasalahan, dan


peluang di masing-masing kawasan kumuh.

Manfaat Pendekatan Eksploratif antara lain:

 Menghasilkan data yang lebih akurat dibandingkan hanya


mengandalkan dokumen resmi.
 Menggali masalah yang tersembunyi, misalnya konflik sosial atau
masalah lahan yang tidak tercatat.
 Menyesuaikan solusi berdasarkan karakteristik tiap kawasan, bukan
pendekatan seragam.
 Meningkatkan keterlibatan masyarakat, sehingga program perbaikan
kumuh lebih diterima dan berkelanjutan.

5.1.2. Pendekatan Partisipatif

Konsep Pendekatan Partisipatif adalah untuk melibatkan masyarakat dan


pemangku kepentingan dalam setiap tahapan pendataan, mulai dari identifikasi
masalah hingga validasi hasil. Tujuannya adalah untuk Meningkatkan rasa
memiliki masyarakat terhadap program perbaikan kawasan kumuh, Menggali
pengetahuan lokal tentang kondisi sosial, ekonomi, dan fisik kawasan, serta
Memastikan solusi yang ditawarkan sesuai kebutuhan warga dan bukan hasil
keputusan sepihak. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip bottom-up planning, di
mana masyarakat menjadi subjek pembangunan.

Pendekatan ini melibatkan masyarakat dan stakeholder agar solusi yang


dihasilkan sesuai kebutuhan lokal. Metode yang diterapkan:

 Focus Group Discussion (FGD): Dilaksanakan di tiap kelurahan untuk


menggali permasalahan dan usulan solusi dari warga.

 Sosialisasi dan Rembug Warga: Untuk meningkatkan kesadaran


masyarakat akan pentingnya pencegahan kawasan kumuh.

5-3 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

 Kuesioner dan Survei Sosial: Mengukur indikator sosial-ekonomi


masyarakat, seperti pendapatan, akses air bersih, dan sanitasi.

Output dari Pendekatan Partisipatif ini diharapkan menghasilkan:

 Peta Delineasi Kumuh Partisipatif yang memuat titik-titik masalah


berdasarkan masukan warga.
 Profil Sosial Ekonomi Kumuh yang memperlihatkan bagaimana warga
merespons kondisi lingkungan mereka.
 Rencana Tindak Lanjut Kolaboratif berupa daftar prioritas solusi jangka
pendek dan panjang.
 Dokumentasi Musyawarah Warga sebagai bentuk transparansi.

Manfaat Pendekatan Partisipatif ini adalah:

 Legitimasi hasil pendataan meningkat karena warga merasa terlibat.


 Solusi lebih relevan karena berasal dari realitas lapangan, bukan asumsi
pihak luar.
 Mengurangi potensi konflik karena warga dilibatkan dalam proses
pengambilan keputusan.
 Memperkuat rasa memiliki sehingga perbaikan kawasan lebih
berkelanjutan.

5.1.3. Pendekatan Normatif

Pendekatan Normatif berfokus pada aturan, standar, dan kebijakan yang telah
ditetapkan untuk memastikan bahwa proses dan hasil suatu kegiatan sesuai
dengan ketentuan hukum serta prinsip-prinsip yang berlaku. Pendekatan ini
penting agar pendataan tidak hanya fokus pada realitas lapangan (eksploratif)
atau masukan warga (partisipatif), tetapi juga taat hukum dan terintegrasi
dengan kebijakan resmi. Pendekatan normatif dilakukan untuk memastikan
bahwa rencana penanganan kawasan kumuh sejalan dengan aturan yang
berlaku.

 Regulasi Nasional: Mengacu pada UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang


Perumahan dan Kawasan Permukiman, serta Peraturan Menteri PUPR
Nomor 14/PRT/M/2018.

5-4 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

 Kebijakan Daerah: Menggunakan SK Walikota Depok serta Perda Kota


Depok terkait pengembangan kawasan permukiman.

 Koordinasi dengan Pemerintah Daerah: Menggandeng Dinas


Perumahan dan Permukiman, Bappeda, serta OPD terkait.

Manfaat Pendekatan Normatif ini adalah:

1. Kepastian Hukum

o Memastikan pendataan dan rencana tindak lanjut tidak melanggar


aturan atau bertentangan dengan kebijakan pemerintah.

o Misalnya, penetapan kawasan kumuh harus sesuai dengan SK


Walikota Depok No. 591/250/Kpts/Bapp/Huk/2015.

2. Konsistensi Perencanaan

o Menghubungkan pendataan baseline kumuh dengan dokumen


perencanaan lain seperti RDTR, RTRW, dan RPJMD.

o Contoh: Memastikan rencana peningkatan kualitas kawasan kumuh


selaras dengan pola ruang yang telah ditetapkan dalam RDTR Kota
Depok.

3. Akuntabilitas

o Memberikan dasar hukum bagi pengambilan keputusan sehingga


semua langkah memiliki legitimasi dan bisa
dipertanggungjawabkan.

o Ini penting jika ada audit atau evaluasi dari instansi terkait.

4. Koordinasi Lintas Sektor

o Membantu sinkronisasi program dan pendanaan antar dinas


(misalnya Dinas Perumahan, Bappeda, dan Dinas Sosial), karena
semua pihak mengacu pada regulasi yang sama.

5. Perlindungan Hak Masyarakat

o Menjaga agar intervensi di kawasan kumuh tidak merugikan warga,


terutama terkait penggusuran atau relokasi, karena semuanya
harus mengikuti mekanisme hukum yang berlaku.

5-5 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

5.1.4. Pendekatan Wilayah

Pendekatan wilayah memandang kawasan kumuh sebagai bagian dari suatu


sistem wilayah yang terdiri dari unsur fisik (alam dan buatan), sosial, dan
ekonomi. Wilayah tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki keterkaitan
antarbagian, baik internal (dalam kawasan) maupun eksternal (dengan kawasan
di sekitarnya).

Tahapan Pelaksanaan:

a. Delineasi Kawasan Kumuh

 Mengacu pada SK Walikota Depok No. 591/250/Kpts/Bapp/Huk/2015


untuk menentukan batas-batas kawasan kumuh.

 Menggunakan peta spasial dan teknologi GIS untuk memetakan hubungan


antarwilayah, termasuk:

o Aksesibilitas: Jarak kawasan kumuh ke pusat kota, jalan utama,


dan fasilitas umum.

o Fungsi Lahan: Apakah kawasan kumuh berada di dekat kawasan


industri, perdagangan, atau permukiman lainnya.

o Konektivitas: Keterkaitan kawasan kumuh dengan sistem


transportasi, air bersih, dan sanitasi.

b. Hirarki dan Fungsi Wilayah

 Kawasan inti: Kumuh berat dengan keterbatasan akses layanan dasar.

 Kawasan penyangga: Wilayah di sekitar kumuh yang berpotensi


terdampak atau mempengaruhi pertumbuhan kumuh.

 Kawasan potensial: Area yang rawan menjadi kumuh di masa depan.

c. Tipologi Wilayah Kumuh

Mengelompokkan kawasan berdasarkan karakteristik fisiknya:

 Kumuh Perkotaan Padat: Biasanya di tengah kota, lahan terbatas,


permukiman informal.

5-6 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

 Kumuh Pinggiran Kota: Di area transisi, biasanya berkaitan dengan alih


fungsi lahan.

 Kumuh Bantaran Sungai: Sering mengalami risiko banjir dan


pencemaran lingkungan.

 Kumuh Perbukitan: Memiliki risiko longsor dan keterbatasan


aksesibilitas.

5.1.5. Pendekatan Lingkungan

Pendekatan ini fokus pada interaksi antara manusia dan lingkungannya, baik
lingkungan alam maupun buatan. Tujuannya adalah memahami bagaimana
kondisi lingkungan memperburuk kekumuhan atau berpotensi menyebabkan
degradasi lebih lanjut.

Tahapan Pelaksanaan:

a. Identifikasi Aspek Fisik Lingkungan

Berdasarkan 7 aspek kumuh:

1. Bangunan Gedung: Material, kerapatan, dan kelayakan rumah.

2. Jalan Lingkungan: Kondisi jalan setapak, gang, dan jalan utama.

3. Drainase: Efektivitas saluran air dalam mengurangi genangan/banjir.

4. Air Minum: Ketersediaan dan kualitas sumber air bersih.

5. Air Limbah: Sistem pembuangan air limbah (septic tank, IPAL komunal).

6. Persampahan: Pola pengelolaan sampah rumah tangga dan fasilitas TPS.

7. Proteksi Kebakaran: Akses kendaraan pemadam, ketersediaan hidran,


dan jalur evakuasi.

b. Penilaian Kerentanan Lingkungan

 Banjir: Menggunakan peta rawan bencana dan data historis.

 Longsor: Mengkaji topografi kawasan, terutama untuk area perbukitan.

 Polusi: Mengidentifikasi pencemaran air, udara, dan tanah.

 Kepadatan Penduduk: Menghitung rasio luas lahan terhadap jumlah


penduduk untuk melihat potensi overpopulation.

5-7 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

c. Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan

 Daya dukung: Seberapa mampu kawasan mendukung aktivitas penduduk


tanpa merusak lingkungan (ketersediaan air bersih, ruang terbuka, dll.).

 Daya tampung: Kapasitas maksimal suatu kawasan untuk menampung


penduduk sebelum muncul masalah lingkungan.

d. Analisis Akar Masalah Lingkungan

 Faktor Alam: Banjir musiman, erosi tanah, dll.

 Faktor Buatan: Sistem drainase buruk, minimnya RTH, sanitasi tak


memadai.

 Faktor Sosial: Perilaku warga dalam membuang sampah, penggunaan


air, dll.

Kawasan kumuh tidak hanya soal rumah tak layak huni, tapi juga bagaimana
lingkungan fisik dan sosial saling memengaruhi. Maka, integrasi pendekatan ini
akan:

 Mengaitkan tipologi kawasan kumuh dengan tingkat kerentanan


lingkungannya.

 Menghubungkan data fisik dan sosial untuk melihat bagaimana


kemiskinan mempengaruhi cara warga memanfaatkan ruang.

 Memastikan solusi yang dirancang sesuai karakteristik wilayah dan


kondisi lingkungan (misalnya, kawasan bantaran sungai mungkin butuh
relokasi berbasis mitigasi bencana).

Manfaat Pendekatan Wilayah dan Lingkungan

1. Kebijakan Spesifik Lokasi

o Memastikan intervensi berbasis lokasi (spatial-based intervention)


sehingga penanganan kawasan kumuh lebih efektif.

2. Mitigasi Risiko Bencana

o Membantu mengidentifikasi kawasan kumuh yang rawan bencana,


sehingga solusi bisa mencakup mitigasi banjir, longsor, atau
kebakaran.

5-8 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

3. Integrasi dengan RTRW/RDTR

o Menghindari tumpang-tindih program dan memperkuat


kesinambungan antara pendataan baseline dan rencana tata ruang
daerah.

4. Pencegahan Kumuh Baru

o Mengantisipasi area non-kumuh yang berpotensi menjadi kumuh


dengan memahami dinamika sosial-ekonomi dan ekologis di wilayah
tersebut.

5.1.6. Pendekatan Sosial Budaya

Pendekatan sosial budaya bertujuan untuk memahami bagaimana nilai-nilai


sosial, norma, tradisi, dan perilaku masyarakat di kawasan kumuh
memengaruhi:

 Cara mereka memanfaatkan ruang (misalnya, penggunaan halaman


untuk berdagang, parkir liar, dll.)

 Akses terhadap layanan dasar (apakah ada praktik sosial tertentu yang
memengaruhi pembagian air bersih atau pengelolaan sampah?)

 Kohesi sosial (apakah ada solidaritas warga dalam menangani masalah


bersama, seperti gotong-royong membersihkan drainase?)

 Ketahanan sosial (bagaimana masyarakat beradaptasi dengan risiko


bencana atau keterbatasan fasilitas?)

Pendekatan ini akan menyentuh beberapa aspek penting:

a. Struktur Sosial dan Kelembagaan Lokal

 Struktur RT/RW: Seberapa aktif peran mereka dalam menyelesaikan


masalah kumuh?

 Tokoh Masyarakat: Apakah ada tokoh yang dihormati dan memengaruhi


keputusan warga?

 Lembaga Sosial: Misalnya, kelompok arisan, pengajian, atau komunitas


pemuda, apakah mereka terlibat dalam kegiatan kebersihan lingkungan?

b. Pola Interaksi Sosial

5-9 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

 Gotong royong: Apakah tradisi ini masih berjalan, terutama untuk


memperbaiki lingkungan?

 Konflik Sosial: Apakah ada gesekan antarwarga, misalnya terkait lahan,


akses air, atau TPS liar?

 Solidaritas Komunitas: Bagaimana mereka bersama-sama menghadapi


banjir, kebakaran, atau masalah lain?

c. Budaya Lokal dan Praktik Tradisional

 Kebiasaan Lingkungan: Apakah ada budaya tertentu terkait cara


membuang sampah, menggunakan air, atau membangun rumah?

 Penggunaan Ruang Publik: Misalnya, jalan gang yang berubah fungsi


jadi tempat usaha informal.

 Ritual atau Kegiatan Komunitas: Apakah ada kegiatan budaya yang


berdampak pada pemanfaatan ruang (misalnya, pasar kaget mingguan
atau acara adat)?

d. Aspek Ekonomi-Sosial

 Mata Pencaharian: Apakah mayoritas warga bekerja di sektor informal


(pedagang kaki lima, buruh harian) sehingga memengaruhi pemanfaatan
ruang?

 Kerentanan Ekonomi: Bagaimana tingkat kemiskinan berpengaruh


terhadap kemampuan warga memperbaiki rumah dan lingkungan mereka?

 Keterlibatan Perempuan: Peran perempuan dalam mengelola air bersih,


sampah, dan sanitasi rumah tangga.

Manfaat pendekatan sosial budaya dalam Pendataan Baseline Kawasan Kumuh di


Kota Depok antara lain:

1. Menyusun Rencana Berbasis Kearifan Lokal

o Solusi untuk kawasan kumuh bisa lebih diterima masyarakat jika


selaras dengan kebiasaan mereka.

o Contoh: Jika warga terbiasa gotong royong, solusi bisa berupa


program kebersihan lingkungan yang mereka pimpin sendiri.

2. Menghindari Konflik Sosial

5-10 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

o Memahami dinamika sosial membantu menghindari gesekan,


terutama jika ada rencana relokasi atau perubahan fungsi lahan.

o Contoh: Jika ada lahan kosong yang digunakan untuk pasar informal,
solusinya bisa diformalkan jadi ruang usaha kecil.

3. Meningkatkan Partisipasi Warga

o Jika masyarakat merasa didengar, mereka cenderung lebih


mendukung program perbaikan kawasan.

4. Menguatkan Ketahanan Sosial

o Menggali bagaimana warga beradaptasi terhadap keterbatasan


(misalnya, memanfaatkan gotong royong untuk membersihkan
drainase), sehingga program yang dirancang memperkuat strategi
lokal ini.

5. Integrasi dengan RTRW/RDTR

o Mengaitkan data sosial dengan perencanaan ruang, misalnya,


mengakomodasi ruang usaha informal atau area interaksi sosial
dalam rencana tata ruang.

Pendekatan sosial budaya tidak hanya melengkapi data fisik kawasan kumuh,
tetapi juga memberikan konteks manusiawi tentang bagaimana ruang digunakan
dan dikelola oleh warga.

5.2. METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN

5.2.1. Alur Pelaksanaan Pekerjaan

Alur pekerjaan mengacu pada kerangka dasar pemikiran mengenai substansi dan
proses pekerjaan yang perlu dilakukan, sesuai dengan konsepsi kebutuhan awal.
Sesuai dengan penjelasan dalam KAK serta pendekatan pekerjaan yang
dilakukan, pekerjaan ini perlu dikembangkan sesuai prinsip analisa kebijakan dan
perencanaan sebagaimana dijelaskan di atas.

Alur pekerjaan dikembangkan berdasarkan:

a) Pemahaman mengenai substansi pekerjaan dan fokus upaya yang harus


dilakukan pada jenis kegiatan tertentu

5-11 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

b) Pemahaman mengenai kebutuhan dasar pelaksanaan pekerjaan guna


mencapai target yang diharapkan

c) Pemikiran inovatif pelaksanaan pekerjaan

d) Pemahaman logis mengenai struktur dan alur pelaksanaan pekerjaan yang


terintegrasi dalam satu rangkaian pelaksanaan pekerjaan (sistem
pelaksanaan pekerjaan).

Urutan tahapan pekerjaan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Persiapan Awal

🔹 Mempelajari Dokumen KAK

 Memahami ruang lingkup pekerjaan, tujuan, sasaran, dan metodologi yang


akan digunakan.

 Mengidentifikasi standar teknis dan regulasi yang harus dipatuhi.

 Menentukan personel dan tim kerja sesuai dengan kebutuhan proyek.

🔹 Koordinasi dan Administrasi

 Mengurus kontrak kerja dengan pihak terkait (Dinas Perumahan dan


Permukiman Kota Depok).

 Menyusun rencana kerja dan jadwal pelaksanaan proyek selama 150 hari
kerja.

 Melakukan koordinasi awal dengan pemangku kepentingan (pemerintah,


RT/RW, masyarakat, dll.).

2. Pengumpulan dan Analisis Data

🔹 Delineasi Kawasan Kumuh

 Menggunakan peta dari SK Walikota Depok Nomor


591/250/Kpts/Bapp/Huk/2015.

 Melakukan pemetaan ulang dengan teknologi GIS untuk verifikasi lokasi


kumuh.

🔹 Pendataan Baseline 100-0-100

 Metode Transek: Observasi langsung di lapangan untuk mengidentifikasi


kondisi eksisting.

5-12 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

 Focus Group Discussion (FGD): Diskusi dengan warga untuk menggali


masalah dan solusi lokal.

 Wawancara: Pengumpulan data sosial ekonomi dari masyarakat.

🔹 Penyusunan Profil Kawasan Kumuh

 Mengidentifikasi kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur kawasan.

 Menyusun peta spasial kawasan kumuh berdasarkan indikator 7 aspek


kumuh:

1. Kualitas Bangunan

2. Jalan Lingkungan

3. Drainase

4. Air Minum

5. Air Limbah

6. Persampahan

7. Proteksi Kebakaran

3. Penyusunan Rencana Penanganan

🔹 Penyusunan Rencana Pencegahan & Peningkatan Permukiman Kumuh

 Menyusun strategi intervensi berdasarkan hasil analisis baseline.

 Mengembangkan perencanaan teknis (fisik dan nonfisik) untuk perbaikan


lingkungan.

 Menyusun skema pembiayaan dan kolaborasi multipihak.

🔹 Perencanaan Kolaborasi

 Melakukan koordinasi dengan pemerintah, swasta, dan masyarakat.

 Mengidentifikasi potensi program yang dapat mendukung penanganan


kawasan kumuh.

4. Penyusunan dan Penyampaian Laporan

🔹 Laporan Pendahuluan (Awal Proyek)

 Berisi metodologi, jadwal kerja, dan pemahaman terhadap proyek.

5-13 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

 Menyajikan kondisi eksisting awal kawasan kumuh.

🔹 Laporan Antara (Progress Proyek)

 Berisi hasil kajian teori dan kebijakan.

 Penyajian data dan analisis kawasan kumuh.

 Konsep strategi dan rencana aksi awal.

🔹 Laporan Akhir (Hasil Akhir)

 Berisi seluruh hasil pendataan baseline, delineasi, profil kawasan, dan


rencana penanganan.

 Menyertakan peta tematik dalam ukuran A3.

 Dokumentasi dalam bentuk softcopy (Word, Excel, JPG, MP4) dan SSD
eksternal 1 TB.

5.2.2. Metodologi Tahapan Pengumpulan Data dan Informasi

Pengumpulan data dan informasi merupakan salah satu tahap paling penting
dalam memulai suatu pekerjaan. Proses yang dilakukan pada tahap
pengumpulan data dan informasi sangat bergantung pada hasil yang diperoleh
pada tahap persiapan. Data dan informasi yang dikumpulkan disesuaikan dengan
kebutuhan dan tujuan akhir dari pekerjaan.

Tahapan pengumpulan data dan informasi terdiri dari metode pengumpulan data
primer dan data sekunder, menyusun Kategori Data dan Informasi, dan
kebutuhan data dan informasi.

1. Metode Pengumpulan Data

A. Metode Transek (Observasi Lapangan)

Metode transek adalah teknik pengamatan lingkungan dan sumber daya


masyarakat dengan cara menarik garis lurus yang memotong bentang
alam. Garis ini disebut garis transek. Metode ini memliki tujuan untuk
memetakan kondisi fisik kawasan kumuh secara langsung dan mengidentifikasi
tingkat kekumuhan berdasarkan 7 aspek kumuh.

5-14 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Untuk melakukan metode transek perlu dilakukan langkah-langkah sebagai


berikut:

1. Menentukan Jalur Transek

o Menetapkan rute transek berdasarkan peta delineasi kawasan


kumuh dari SK Walikota.

o Memastikan jalur transek mencakup perwakilan dari berbagai


kondisi lingkungan (permukiman padat, dekat sungai, dll.).

2. Observasi dan Pencatatan

o Melakukan survei visual dengan mencatat kondisi bangunan, jalan,


drainase, air minum, air limbah, persampahan, dan kebakaran.

o Menggunakan form standar yang mencakup indikator kekumuhan.

3. Dokumentasi Lapangan

o Mengambil foto dan video sebagai bukti kondisi eksisting.

o Menggunakan drone atau citra satelit untuk mendapatkan


gambaran lebih luas jika diperlukan.

Output yang diharapkan dalam pelaksaan metode ini adalah Peta Transek
Kawasan Kumuh serta Dokumentasi foto & video kondisi lingkungan

B. Focus Group Discussion (FGD)

Focus Group Discussion (FGD) adalah diskusi yang dilakukan secara sistematis
dan terarah dari suatu grup untuk membahas suatu masalah tertentu dalam
suasana informal serta dilaksanakan dengan panduan seorang moderator.
Terdapat tiga komponen utama dalam kegiatan FGD, yakni diskusi (bukan
kegiatan wawancara atau obrolan), kelompok (bukan individual), serta terfokus
(bukan dilakukan secara bebas).

Tujuan dari dilaksanakan FGD adalah untuk menggali informasi sosial, ekonomi,
dan perspektif warga terkait kondisi permukiman mereka, serta untuk
mendapatkan pemahaman mengenai penyebab kekumuhan dan potensi solusi
dari masyarakat.

Langkah-langkah dalam pelaksanaan FGD ini adalah:

5-15 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

1. Menentukan Peserta

o Mengundang perwakilan RT/RW, tokoh masyarakat, kelompok


perempuan, pemuda, dan warga terdampak.

o Melibatkan pihak pemerintah daerah atau OPD terkait sebagai


fasilitator.

2. Pelaksanaan Diskusi

o Menggunakan peta kawasan sebagai bahan diskusi.

o Menanyakan kondisi infrastruktur, sanitasi, sosial-ekonomi, dan


tantangan utama yang dihadapi.

o Menganalisis pola migrasi dan kepemilikan tanah.

3. Dokumentasi dan Rekapitulasi

o Merekam hasil diskusi dengan catatan dan audio/video.

o Menganalisis poin-poin utama yang disampaikan oleh warga.

Output yang diharapkan dalam pelaksanaan FGD ini adalah adanya ringkasan
atau notulen hasil FGD per kelurahan dan peta persepsi masyarakat terhadap
kondisi lingkungan.\

C. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam (in-depth interview) adalah proses tanya jawab tatap


muka antara pewawancara dan responden untuk mendapatkan informasi
mendalam dan lengkap, baik dengan atau tanpa pedoman wawancara, guna
memahami sikap, pengetahuan, dan pandangan responden secara mendalam.

Tujuan dilaksanakannya wawancara mendalam ini adalah untuk mendapatkan


data sosial-ekonomi secara lebih detail dari warga dan pemangku kepentingan,
dan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat terkait program
peningkatan kualitas permukiman.

Untuk melaksanakan wawancara mendalam ini langkah-langkah yang harus


dilakukan antara lain:

1. Menentukan Responden

5-16 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

o Warga yang tinggal di kawasan kumuh (pemilik rumah, penyewa,


pengusaha kecil, dll.).

o Aparatur pemerintah setempat (Lurah, Camat, Dinas terkait).

o Pemangku kepentingan lainnya seperti LSM dan pengembang


properti.

2. Pelaksanaan Wawancara

o Menggunakan daftar pertanyaan terstruktur mencakup kondisi


rumah, akses air bersih, pekerjaan, pendapatan, dan partisipasi
dalam program pemerintah.

o Mewawancarai pemerintah lokal tentang rencana pembangunan dan


intervensi sebelumnya.

3. Pengolahan Data

o Menganalisis tren dan pola berdasarkan hasil wawancara.

o Mengkategorikan data berdasarkan tema utama seperti akses


infrastruktur, penghidupan ekonomi, dan partisipasi warga.

Output utama yang diharapkan dalam pelaksanaan wawancara mendalam ini


adalah laporan hasil wawancara individu dan kelompok serta matriks isu utama
dan rekomendasi solusi

5.2.3. Metode Analisa Tipologi Kawasan Kumuh

Analisis tipologi kawasan kumuh bertujuan untuk mengelompokkan kawasan


berdasarkan karakteristik fisik, sosial, dan lingkungan agar strategi
penanganannya lebih tepat. Analisis tipologi sangat penting agar intervensi lebih
efektif.

Pendekatan berbasis lokasi, kondisi fisik, dan sosial-ekonomi dapat menghasilkan


solusi yang lebih tepat, dan strategi penanganan harus mempertimbangkan
keberlanjutan dan partisipasi masyarakat.

Dalam menentukan tipologi kawasan kumuh, pelaksanaan pekerjaan ini mengacu


pada Peraturan Menteri PUPR Nomor 14/PRT/M/2018 Tahun 2018 tentang
Pencegahan dan Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan Kumuh dan
Permukiman Kumuh.

5-17 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Regulasi ini menetapkan 7 indikator kekumuhan, yaitu kondisi bangunan, jalan


lingkungan, drainase, air minum, air limbah, persampahan, dan proteksi
kebakaran. Pencegahan dilakukan melalui perencanaan tata ruang yang ketat,
penyediaan infrastruktur dasar, serta pengawasan terhadap pertumbuhan
permukiman ilegal. Sementara itu, peningkatan kualitas kawasan kumuh dapat
dilakukan dengan tiga pendekatan: perbaikan infrastruktur dasar (site
improvement), pemugaran kawasan (slum upgrading), dan relokasi permukiman
(resettlement) bagi wilayah yang tidak dapat diperbaiki.

Pemerintah daerah memiliki peran utama dalam menyusun rencana pencegahan


dan peningkatan kualitas permukiman kumuh, melakukan pendataan, serta
mengalokasikan anggaran melalui APBD, APBN, CSR, atau hibah internasional.
Partisipasi masyarakat juga ditekankan dalam menjaga lingkungan dan
berkontribusi pada perbaikan permukiman. Monitoring dan evaluasi dilakukan
secara berkala untuk memastikan efektivitas intervensi. Dengan adanya regulasi
ini, diharapkan kawasan permukiman kumuh dapat berkurang dan masyarakat
mendapatkan hunian yang lebih layak dan sehat.

Dalam pasal 18, disebutkan bahwa kriteria perumahan kumuh dan permukiman
kumuh digunakan untuk untuk menentukan kondisi kekumuhan pada Perumahan
Kumuh dan Permukiman Kumuh. Untuk lebih jelas mengenai kriteria Perumahan
Kumuh dan Permukiman Kumuh dapat berikut ini.

Tabel 5. 1 Kriteria Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh


Berdasarkan Permen PU No. 14/PRT/M/2018

NO PARAMETER SUB KRITERIA


1 Kondisi Bangunan Ketidakteraturan Bangunan
Gedung Tingkat Kepadatan Bangunan
Ketidakteraturan Dengan Persyaratan Teknis Bangunan
2 Kondisi Jalan Cakupan Pelayanan Jalan Lingkungan
Lingkungan Kualitas Permukaan Jalan Lingkungan
3 Kondisi Ketidaktersediaan Akses Aman Air Minum
Penyediaan Air Tidak Terpenuhinya Kebutuhan Air Minum
Minum
4 kondisi Drainase Ketidakmampuan Mengalirkan Limpasan Air
Lingkungan Ketidaktersediaan Drainase
Ketidakterhubungan Dengan Sistem Drainase
Tidak Terpeliharanya Drainase

5-18 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

NO PARAMETER SUB KRITERIA


Kualitas Kontruksi Drainase
5 Kondisi Sistem Pengelolaan Air Limbah Tidak Sesuai Standar Teknis
Pengelolaan Air Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Tidak Sesuai
Limbah Standar Teknis
6 Kondisi Prasarana dan Sarana Persampahan Tidak Sesuai Standar
Pengelolaan Teknis
Persampahan Sistem Pengelolaan Persampahan Tidak Sesuai Standar
Teknis
Tidak Terpeliharanya Sarana dan Prasarana
7 Kondisi Proteksi Ketidaktersediaan Prasarana Proteksi Kebakaran
Kebakaran Ketidaktersediaan Sarana Proteksi Kebakaran
Sumber : Permen PU No. 14/PRT/M/2018 tentang Pencegahan dan Peningkatan
Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh

1. Kondisi Bangunan Gedung


a. Ketidakteraturan Bangunan, meliputi:
1) tidak memenuhi ketentuan tata bangunan dalam Rencana Detil Tata
Ruang (RDTR) dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL),
paling sedikit pengaturan bentuk, besaran, perletakan, dan tampilan
bangunan pada suatu zona; dan/atau
2) tidak memenuhi ketentuan tata bangunan dan tata kualitas
lingkungan dalam RTBL, paling sedikit pengaturan blok lingkungan,
kapling, bangunan, ketinggian dan elevasi lantai, konsep identitas
lingkungan, konsep orientasi lingkungan, dan wajah jalan.
b. Tingkat Kepadatan Bangunan, meliputi:
1) Koefisien Dasar Bangunan (KDB) yang melebihi ketentuan RDTR,
dan/atau RTBL; dan/atau
2) Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang melebihi ketentuan dalam
RDTR, dan/atau RTBL.
c. Ketidakteraturan dengan persyaratan teknis bangunan, merupakan
kondisi bangunan gedung pada Perumahan dan Permukiman yang tidak
sesuai dengan persyaratan teknis. Meliputi:
1) Persyaratan tata bangunan, yaitu:
 Peruntukan lokasi dan intensitas bangunan gedung;
 Arsitektur bangunan gedung;
 Pengendalian dampak lingkungan;
 Rencana tata bangunan dan lingkungan (rtbl); dan

5-19 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

 Pembangunan bangunan gedung di atas dan/atau di bawah


tanah, air dan/atau prasarana/sarana umum.
2) Persyaratan keandalan bangunan gedung.
 Persyaratan keselamatan bangunan gedung;
 Persyaratan kesehatan bangunan gedung;
 Persyaratan kenyamanan bangunan gedung; dan
 Persyaratan kemudahan bangunan gedung.
2. Kondisi Jaringan Jalan
a. Jaringan jalan lingkungan tidak melayani seluruh lingkungan Perumahan
atau Permukiman, merupakan kondisi dimana jaringan jalan tidak
terhubung antar dan/atau dalam suatu lingkungan Perumahan atau
Permukiman;
b. Kualitas permukaan jalan lingkungan buruk, merupakan kondisi sebagian
atau seluruh jalan lingkungan terjadi kerusakan permukaan jalan yang
meliputi retak dan perubahan bentuk.
3. Kondisi Penyediaan Air Minum
a. Akses aman air minum tidak tersedia, merupakan kondisi dimana
masyarakat tidak dapat mengakses air minum yang memenuhi syarat
kualitas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Kebutuhan air minum minimal setiap individu tidak terpenuhi, merupakan
kondisi dimana kebutuhan air minum masyarakat dalam lingkungan
Perumahan atau Permukiman tidak mencapai minimal sebanyak 60
(enam puluh) liter/orang/hari.
4. Kondisi Drainase Lingkungan
a. Drainase lingkungan tidak tersedia, merupakan kondisi dimana saluran
tersier dan/atau saluran lokal tidak tersedia, dan/atau tidak terhubung
dengan saluran pada hierarki di atasnya sehingga menyebabkan air tidak
dapat mengalir dan menimbulkan genangan.
b. Drainase lingkungan tidak mampu mengalirkan limpasan air hujan
sehingga menimbulkan genangan, merupakan kondisi dimana jaringan
drainase lingkungan tidak mampu mengalirkan limpasan air sehingga
menimbulkan genangan dengan tinggi lebih dari 30 cm (tiga puluh
sentimeter) selama lebih dari 2 (dua) jam dan terjadi lebih dari 2 (dua)
kali setahun.

5-20 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

c. Kualitas konstruksi drainase lingkungan buruk, merupakan kondisi


dimana kualitas konstruksi drainase buruk karena berupa galian tanah
tanpa material pelapis atau penutup atau telah terjadi kerusakan.
5. Kondisi Pengelolaan Air Limbah
a. Sistem pengelolaan air limbah tidak memenuhi persyaratan teknis,
merupakan kondisi dimana pengelolaan air limbah pada lingkungan
Perumahan atau Permukiman tidak memiliki sistem yang memadai, yaitu
terdiri atas kakus/kloset yang terhubung dengan tangki septik baik secara
individual/domestik, komunal maupun terpusat.
b. Prasarana dan Sarana pengelolaan air limbah tidak memenuhi
persyaratan teknis, merupakan kondisi Prasarana dan Sarana
pengelolaan air limbah pada Perumahan atau Permukiman dimana:
1) Kakus/kloset tidak terhubung dengan tangki septik; dan
2) Tidak tersedianya sistem pengolahan limbah setempat atau terpusat.
6. Kondisi Pengelolaan Persampahan
a. Prasarana dan Sarana persampahan tidak memenuhi persyaratan teknis,
merupakan kondisi dimana Prasarana dan Sarana persampahan pada
lingkungan Perumahan atau Permukiman tidak memadai sebagai berikut:
1) Tempat sampah dengan pemilahan sampah pada skala domestik atau
rumah tangga;
2) Tempat pengumpulan sampah (tps) atau tps 3r (reduce, reuse,
recycle) pada skala lingkungan; dan
3) Sarana pengangkut sampah pada skala lingkungan
4) Tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) pada skala lingkungan.
b. Sistem pengelolaan persampahan tidak memenuhi persyaratan teknis,
merupakan kondisi dimana pengelolaan persampahan pada lingkungan
Perumahan atau Permukiman tidak memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
1) Pewadahan dan pemilahan domestik;
2) Pengumpulan sampah lingkungan;
3) Pengangkutan sampah lingkungan; dan
4) Pengolahan sampah lingkungan.
7. Kondisi Proteksi Kebakaran

5-21 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

a. Prasarana proteksi kebakaran tidak tersedia, merupakan kondisi tidak


tersedianya:
1) Pasokan air yang diperoleh dari sumber alam maupun buatan;
2) Jalan lingkungan yang memudahkan masuk keluarnya kendaraan
pemadam kebakaran;
3) Sarana komunikasi untuk pemberitahuan terjadinya kebakaran;
dan/atau
4) Data tentang sistem proteksi kebakaran lingkungan yang mudah
diakses.
b. Sarana proteksi kebakaran tidak tersedia, meliputi :
1) Alat Pemadam Api Ringan (APAR);
2) Kendaraan pemadam kebakaran; dan/atau
3) Mobil tangga sesuai dengan kebutuhan.
5.2.4. Metode Analisis Skoring dan Pembobotan

1. Analisis Skoring

Analisis skoring dan pembobotan adalah teknik analisis data kuantitatif yang
memberikan nilai (skor) pada parameter-parameter sub-variabel, lalu
memberikan bobot (bobot) berdasarkan tingkat pentingannya untuk menentukan
nilai akhir atau prioritas.

Lebih detailnya:

 Skoring (Pemberian Nilai):

 Merupakan proses pemberian nilai atau skor pada setiap parameter


atau karakteristik yang relevan dengan kriteria yang telah
ditentukan.

 Nilai ini bisa berupa angka, skala, atau kategori yang mencerminkan
tingkat kemampuan, kualitas, atau pengaruh dari parameter
tersebut.

 Contoh: Penilaian terhadap kualitas sarana-prasarana wisata (skor


1-5), atau penilaian terhadap tingkat kerentanan lahan terhadap
banjir (skor 1-10).

 Pembobotan (Penentuan Bobot):

5-22 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

 Merupakan proses pemberian bobot atau bobot pada setiap


parameter, yang mencerminkan tingkat pentingannya atau
pengaruhnya terhadap kriteria yang dinilai.

 Bobot ini biasanya diwakili oleh angka atau persentase, dan


semakin besar bobotnya, semakin penting parameter tersebut.

 Contoh: Bobot untuk kualitas sarana-prasarana wisata 40%, bobot


untuk aksesibilitas 30%, dan bobot untuk keunikan daya tarik wisata
30%.

Tujuan dari analisis ini adalah:

 Mengukur tingkat kekumuhan secara kuantitatif.

 Mengelompokkan kawasan menjadi kumuh ringan, sedang, atau berat.

 Memudahkan pengambilan keputusan berbasis data untuk perencanaan


program penanganan kumuh.

Dasar hukum dari analisis ini mengacu pada Permen PUPR No. 14 Tahun 2018
tentang Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Perumahan dan Permukiman
Kumuh, yang menggunakan 7 indikator kekumuhan sebagai variabel utama,
yaitu:

 Bangunan Gedung
 Jalan Lingkungan
 Drainase
 Air Minum
 Air Limbah
 Persampahan
 Proteksi Kebakaran
2. Skema Penilaian (Skoring)

Skor diberikan pada setiap indikator berdasarkan kondisi aktual, biasanya


dengan skala 1–5 sebagai berikut:

Sko
Kriteria Kondisi
r

1 Baik (tidak ada masalah)

5-23 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Cukup baik (masalah


2
ringan)

Sedang (masalah
3
moderat)

4 Buruk (masalah serius)

Sangat buruk (kondisi


5
kritis)

Keunggulan Metode ini adalah:

 Objektif dan Kuantitatif — hasilnya terukur, memudahkan pengambilan


keputusan berbasis data.

 Fleksibel — bobot indikator bisa disesuaikan sesuai karakteristik kumuh


Kota Depok.

 Terintegrasi — bisa dikolaborasikan dengan analisis spasial untuk


menghasilkan peta kekumuhan yang kuat.

 Dasar Kebijakan — membantu pemerintah menentukan kawasan prioritas


untuk program peningkatan kualitas permukiman kumuh.

Pendekatan Skoring dan Pembobotan ini wajib digunakan dalam pendataan


baseline kawasan kumuh karena:

 Memberikan ukuran kuantitatif yang objektif.

 Membantu mengklasifikasi kawasan kumuh menjadi ringan, sedang, dan


berat.

 Mempermudah penentuan prioritas penanganan oleh pemerintah.

5.2.5. Metode Analisis GIS (Geographic Information System)

Dalam Pendataan Baseline Kawasan Kumuh di 63 Kelurahan Kota Depok, GIS


(Geographic Information System) memiliki peran penting dalam pemetaan,
analisis spasial, serta visualisasi data kekumuhan. GIS memungkinkan identifikasi

5-24 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

kawasan kumuh secara lebih akurat berdasarkan 7 indikator kekumuhan dan


membantu dalam perencanaan intervensi yang lebih tepat sasaran.

Tujuan penggunaan Analisis GIS dalam pekerjaan Pendataan Baseline Kawasan


Kumuh adalah:

 Menganalisis pola sebaran kawasan kumuh berdasarkan data spasial.


 Menentukan tingkat kekumuhan dengan metode pemodelan spasial.
 Mengidentifikasi hubungan antara kawasan kumuh dan faktor lingkungan
(akses jalan, sungai, fasilitas umum).
 Membantu dalam delineasi kawasan kumuh sesuai dengan regulasi dan SK
Walikota.
 Menyusun rekomendasi intervensi berbasis lokasi dengan
mempertimbangkan kondisi eksisting dan potensi pengembangan.

Dalam proses pelaksanaannya, terdapat beberapa data spasial yang harus


dipenuhi untuk dapat melaksanakan analisis ini. Kebutuhan data spasial untuk
pekerjaan ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5. 2 Kebutuhan Data Spasial Penyusunan Pendataan Baseline


Kawasan Kumuh

Jenis Data Sumber Fungsi dalam GIS


Citra Google Earth, Mengidentifikasi kepadatan
Satelit/Aerial Drone, Landsat, bangunan dan perubahan
atau Peta RBI lahan
Peta Bappeda atau BIG Menentukan batas
Administrasi kelurahan dan zona
perencanaan
Peta Jalan dan Dinas PU atau Mengetahui aksesibilitas
Infrastruktur OpenStreetMap dan kondisi jalan
lingkungan
Data Sosial- BPS, Kelurahan, Analisis keterkaitan sosial-
Ekonomi Survei Lapangan ekonomi dengan
kekumuhan
Peta Drainase Dinas PU atau hasil Mengidentifikasi kawasan
dan Air Bersih survei rawan banjir dan sanitasi
buruk
Data Tata Dinas Tata Ruang Menilai kesesuaian
Ruang (RTRW permukiman dengan
& RDTR) peruntukan lahan
Hasil Survei Surveyor Data primer terkait kondisi

5-25 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Jenis Data Sumber Fungsi dalam GIS


Lapangan bangunan, air limbah, dan
proteksi kebakaran
Sumber: Hasil Analisis Tim Konsultan

Analisis GIS yang dapat diterapkan meliputi:

A. Delineasi Kawasan Kumuh

 Menggunakan Citra Satelit/Drone untuk mendeteksi pola permukiman


padat, bangunan tidak beraturan, dan keterbatasan ruang
terbuka.

 Mengoverlay data citra dengan peta administrasi untuk menentukan


batas kawasan kumuh.

 Verifikasi lapangan dengan metode transek dan survey GPS untuk


memastikan ketepatan delineasi.

B. Analisis Kepadatan Bangunan (Building Density Analysis)

 Menggunakan metode Kernel Density untuk mengukur tingkat


kepadatan bangunan di setiap kelurahan.

 Menganalisis rasio luas bangunan terhadap luas lahan untuk


menentukan kategori kekumuhan.

C. Analisis Aksesibilitas & Infrastruktur (Network Analysis)

 Menghitung jarak rata-rata permukiman ke jalan utama, fasilitas


kesehatan, sekolah, dan sumber air bersih.

 Menentukan wilayah dengan akses terbatas terhadap infrastruktur


dasar.

D. Overlay Multi-Kriteria (Multi Criteria Evaluation - MCE)

 Mengkombinasikan 7 indikator kekumuhan dalam peta tematik,


misalnya:

1. Peta kepadatan bangunan

2. Peta kualitas jalan lingkungan

3. Peta drainase dan daerah genangan

5-26 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

4. Peta akses air bersih dan sanitasi

5. Peta lokasi TPS dan pengelolaan sampah

6. Peta titik rawan kebakaran

 Hasilnya adalah peta zonasi kekumuhan berdasarkan kategori ringan,


sedang, dan berat.

5.3. INOVASI PELAKSANAAN PEKERJAAN

Dalam melaksanakan pekerjaan Pendataan Baseline Kawasan Kumuh di Kota


Depok , terdapat beberapa aspek yang menjadi inovasi dalam pelaksanaan
pekerjaan yang penyedia jasa tawarkan, meliputi:

1. Pengumpulan Data

Dalam melakukan pengumpulan data secara primer, penyedia tidak lagi


menggunakan cara konvesional atau pencatatan secara manual terkait data
yang akan dikumpulkan, terutama data yang berhubungan dengan
identifikasi fungsi bangunan yang akan di survei pada wilayah perencanaan.
Dalam melakukan pengumpulan data, penyedia menggunakan aplikasi
Avenza Map. Aplikasi ini akan mempermudah surveior dalam pelaksanaan
survei yang lebih efisien. Selain itu, data yang dihasilkan oleh aplikasi Avenza
Map tersebut sudah dapat terkoneksi dengan aplikasi pembuatan peta yang
digunakan oleh penyedia jasa, yaitu Arc Gis 10.8. Sehingga lebih
mempermudah dalam pengolahan data lapangan secara digital. Berikut
disampaikan beberapa interface dari aplikasi Avenza Map yang akan
digunakan.

5-27 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Gambar 5. 1 Interface Aplikasi Avenza Maps

2. Penyusunan Laporan

Untuk lebih mempermudah dalam pengorganisasian dokumen laporan yang


akan disusun, penyedia jasa akan menggunakan fasilitas penyimpanan
dokumen online seperti One Drive atau Google Drive. Fasilitas ini memiliki
keunggulan data yang terintegrasi dan dapat dibuka lebih dari 1 device
dalam waktu yang bersamaan. Sehingga dengan menggunakan fasilitas ini,
dokumen yang akan dikerjakan dapat dibuka secara online. Sehingga
dokumen yang disusun tidak akan berantakan/tidak teratur. Selain itu,
fasilitas penyimpanan yang disediakan oleh aplikasi berbayar ini mencapai
100 Mega Byte. Sehinngga tim nantinya dapat melakukan upload dokumen
dengan kapasitas yang cukup besar untuk mempermudah pelaksanaan
pekerjaan. Berikut disampaikan beberapa interface dari aplikasi One Drive
yang akan digunakan.

5-28 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Gambar 5. 2 Interface Aplikasi One Drive

3. Penyusunan Database Spasial

Dalam penyusunan database spasial atau pemetaan akan digunakan Aplikasi


Pemetaan yang profesional dan memiliki keakuratan yang tinggi. program
aplikasi pemetaan yang digunakan yaitu Arc GIS 10.8. dalam pengelolaan
database spasial, untuk lebih mempermudah dan memberikan keakuratan
data yang tinggi dan teratur, mapaka akan digunakan fitur geodatabase.
Berikut disampaikan beberapa interface dari aplikasi Arc GIS 10.8 yang akan
digunakan.

5-29 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

5.4. Gambaran Umum Kota Depok

[Link] Kota Depok

Kota Depok bermula dari sebuah Kecamatan yang berada di lingkungan


Kawedanan (Pembantu Bupati) wilayah Parung Kabupaten Bogor. Pada tahun
1976 perumahan mulai dibangun baik oleh Perum Perumnas maupun
pengembang yang kemudian diikuti dengan dibangunnya kampus Universitas
Indonesia (UI), serta meningkatnya perdagangan dan jasa yang semakin pesat
sehingga diperlukan kecepatan pelayanan.

Perkembangan Depok yang begitu cepat menjadi perhatian bagi Pemerintah


Orde Baru. Menteri Dalam Negeri kala itu, Amir Machmud, mulai mengkaji
peningkatan status Kecamatan Depok menjadi Kota Administratif. Peningkatan
status Kota Depok dilakukan agar pembangunan lebih tertata dan terarah
sebagai kota masa depan, ketimbang dikelola sepenuhnya oleh Kota Bogor yang
hanya sebagai kecamatan yang dipimpin oleh Camat.

Pembentukan Kota Administratif Depok dilakukan oleh Menteri Dalam


Negeri Amir Machmud sekaligus melantik Wali Kota Administratif yang pertama,
yaitu Mochammad Rukasah Suradimadja oleh Gubernur Jawa Barat, Aang
Kunaefi.

5-30 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Di awal tahun 1999, Kota Administratif Depok dimekarkan dan seluruh desa
berganti status menjadi Kelurahan. Hasil pemekaran wilayah tersebut terdiri dari
3 (tiga) Kecamatan dan 17 (tujuh belas) Desa, yaitu :

 Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Depok,
Desa Depok Jaya, Desa Pancoran Mas, Desa Mampang, Desa Rangkapan
Jaya, dan Desa Rangkapan Jaya Baru.

 Kecamatan Beji, terdiri dari 5 (lima) Desa, yaitu : Desa Beji, Desa Kemiri
Muka, Desa Pondok Cina, Desa Tanah Baru, dan Desa Kukusan.

 Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Mekarjaya,


Desa Sukmajaya, Desa Sukamaju, Desa Cisalak, Desa Kalibaru, dan Desa
Kalimulya.

Selama kurun waktu 17 tahun Kota Administratif Depok berkembang pesat baik
di bidang Pemerintahan, Pembangunan, dan Kemasyarakatan. Khususnya di
bidang Pemerintahan Kota Depok berkembang menjadi 3 (tiga) wilayah
Kecamatan yang terdiri dari 23 (dua puluh tiga) Kelurahan, yang terbagi atas :

 Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu :


Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Mampang, Kelurahan
Pancoran Mas, Kelurahan Rangkapan Jaya, dan Kelurahan Rangkapan Jaya
Baru.

 Kecamatan Beji terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Beji,


Kelurahan Beji Timur, Kelurahan Pondok Cina, Kelurahan Kemiri Muka,
Kelurahan Kukusan, dan Kelurahan Tanah Baru.

 Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 11 (sebelas) Kelurahan, yaitu :


Kelurahan Sukmajaya, Kelurahan Sukamaju, Kelurahan Mekar Jaya,
Kelurahan Abadi Jaya, Kelurahan Bakti Jaya, Kelurahan Cisalak, Kelurahan
Kalibaru, Kelurahan Kalimulya, Kelurahan Cilodong, Kelurahan Jati Mulya,
dan Kelurahan Tirta Jaya.

Terbentuknya Kota Depok

Pesatnya perkembangan dan tuntutan aspirasi masyarakat semakin mendesak


agar Kota Administratif Depok dinaikkan statusnya menjadi Kotamadya dengan
harapan pelayanannya menjadi lebih maksimal. Di sisi lain, Pemerintah

5-31 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Kabupaten Bogor bersama – sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat


memperhatikan perkembangan tersebut, dan mengusulkannya kepada
Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Berdasarkan Undang – undang nomor 15 tahun 1999, Wilayah Kota Depok


meliputi wilayah Administratif Kota Depok terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan,
ditambah sebagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor, yang meliputi :

 Kecamatan Cimanggis, yang terdiri dari 1 (satu) Kelurahan dan 12 (dua


belas) Desa , yaitu : Kelurahan Cilangkap, Desa Pasir Gunung Selatan,
Desa Tugu, Desa Mekarsari, Desa Cisalak Pasar, Desa Curug, Desa
Harjamukti, Desa Sukatani, Desa Sukamaju Baru, Desa Cijajar, Desa
Cimpaeun, Desa Leuwinanggung.

 Kecamatan Sawangan, yang terdiri dari 14 (empat belas) Desa, yaitu :


Desa Sawangan, Desa Sawangan Baru, Desa Cinangka, Desa Kedaung,
Desa Serua, Desa Pondok Petir, Desa Curug, Desa Bojong Sari, Desa
Bojong Sari Baru, Desa Duren Seribu, Desa Duren Mekar, Desa Pengasinan
Desa Bedahan, Desa Pasir Putih

 Kecamatan Limo yang terdiri dari 8 (delapan) Desa, yaitu : Desa Limo,
Desa Meruyung, Desa Cinere, Desa Gandul, Desa Pangkalan Jati, Desa
Pangkalan Jati Baru, Desa Krukut, Desa Grogol.

 Dan ditambah lagi 5 (lima) Desa dari Kecamatan Bojong Gede, yaitu : Desa
Cipayung, Desa Cipayung Jaya, Desa Ratu Jaya, Desa Pondok Terong, Desa
Pondok Jaya.

Kota Depok selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung


dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta juga merupakan wilayah
penyangga Ibu Kota Negara yang diarahkan untuk kota pemukiman , kota
pendidikan, pusat pelayanan perdagangan dan jasa, kota pariwisata dan sebagai
kota resapan air.

[Link] Geografis Dan Batas Administrasi

Kota Depok adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Kota Depok merupakan bagian dari kawasan
metropolitan Jabodetabekpunjur dan berada di bagian selatan Jakarta. Secara

5-32 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6° 19’ 00”–6° 28’ 00” Lintang
Selatan dan 106° 43’ 00”–106° 55’ 30” Bujur Timur. Dengan luas wilayah sekitar
200,29 km². Kota depok memiliki 11 kecamatan dan 11 Kelurahan.

Adapun batas-batas administrasi Wilayah Perencanaan Kota Depok memiliki


batas administrasi sebagai berikut:

 Sebelah Utara : DKI Jakarta Dan Provinsi Banten


 Sebelah Timur : Kabupaten Bogor Dan Kota Bekasi
 Sebelah : Kabupaten Bogor
Selatan
 Sebelah Barat : Kabupaten Bogor Dan Provinsi
Banten
Lebih jelas mengenai letak geografis dan batas administrasi di wilayah
perencanaan dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut.

Tabel 5. 3 Luas Administrasi Kota Depok


NO Kecamatan Luas (Km)
1 Sawangan 26,07
2 Bojongsari 19,41
3 Pancoran Mas 18,05
4 Cipayung 11,37
5 Sukmajaya 17,37
6 Cilodong 15,38
7 Cimanggis 21,78
8 Tapos 33,43
9 Beji 14,63
10 Limo 11,89
11 Cinere 10,53
Kota Depok 199,91
Sumber: Kota Depok Dalam Angka, 2024

5-33 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Cinere Sawangan
Limo 5%
6% 13%
Beji
7% Bojongsari
10%

Tapos
17%

Pancoran Mas
9%

Cipayung
6%
Cimanggis Sukmajaya
11% Cilodong 9%
8%

Sawangan Bojongsari Pancoran Mas Cipayung Sukmajaya Cilodong


Cimanggis Tapos Beji Limo Cinere

Gambar 5.1 Persentase Luasan Wilayah Perencanaan

5-34 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Gambar 5.2 Peta Orientasi Wilayah Kota Depok

5-35 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Gambar 5.3 Peta Wilayah Administrasi Kota Depok

5-36 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

[Link]

Aspek kualitas dan pertumbuhan sumber daya manusia (SDM) mencakup


berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan individu dan masyarakat
dalam suatu wilayah.

Berdasarkan data Kota Depok Dalam Angka (BPS, 2019-2023), jumlah penduduk
wilayah perencanaan jika dilihat dari tahun 2018 hingga 2022 mengalami
penurunan dan kenaikan. Jumlah wilayah perencanaan yang mencakup 11
(sebelas) kecamatan pada tahun 2023 sebanyak 2.145.400 jiwa, dengan jumlah
penduduk Kecamatan tertinggi terdapat pada Kecamatan Tapos dengan jumlah
penduduk 276.010 jiwa. Selanjutnya jumlah penduduk terbesar kedua terdapat
pada Kecamatan Sukmajaya dengan jumlah penduduk 256.060 jiwa. Kecamatan
dengan jumlah penduduk terendah yaitu Kecamatan Cinere dengan jumlah
penduduk 101.600 jiwa. Selengkapnya mengenai jumlah penduduk pada wilayah
perencanaan dalam lima tahun terakhir dapat dilihat dalam Tabel dan Gambar
berikut.

Tabel 5. 4 Jumlah Penduduk Kota Depok Tahun 2018 – 2023


Kecamatan 2018 2019 2020 2021 2022 2023

Sawangan 165.631 150.935 178.900 184.900 191.700 197.170

Bojongsari 133.682 117.353 135.700 139.340 143.600 146.810

Pancoran
282.167 232.418 245.000 247.850 251.600 253.360
Mas

Cipayung 171.457 150.156 171.600 176.000 181.140 184.930

Sukmajaya 311.379 248.015 252.500 253.810 255.960 256.060

Cilodong 167.565 150.309 168.200 172.550 177.640 181.410

Cimanggis 324.343 243.134 252.000 252.250 253.330 252.370

Tapos 289.809 242.562 263.400 267.630 272.890 276.010

Beji 222.372 155.546 171.700 171.780 172.410 171.660

Limo 117.890 90.976 115.700 118.870 121.700 124.020

Cinere 144.038 85.330 101.700 101.350 101.390 101.600

2.330.3 1.857.7 2.056.4 2.086.3 2.123.3 2.145.4


Kota Depok
33 34 00 30 60 00

Sumber: Kota Depok Dalam Angka 2019 - 2024

5-37 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

350,000

300,000

250,000

200,000

150,000

100,000

50,000

0
n ar
i as ng a ng is s ji o re
ga s yu ay do gg po Be ne
an ng
M a aj li o an Ta Lim Ci
jo an Ci
p km
Sa
w
B o cor Su
C
Ci
m
n
Pa

2018 2019 2020 2021 2022 2023

Gambar 5.4 Grafik Jumlah Penduduk Kota Depok Tahun 2018 – 2023

[Link] Fisik Dasar

A. Topografi
Topografi adalah bentuk permukaan bumi yang pada umumnya
menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identitas jenis
lahan. Relief adalah bantuk permukaan suatu lahan yang dikelompokkan
atau ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitude) dari
permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform).
Sedang topografi secara kualitatif adalah bentang lahan (landform) dan
secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan kelas lereng (% atau derajat),
arah lereng, panjang lereng dan bentuk lereng. Topografi dapat
diejawantahkan ke dalam ketinggian lahan dan kemiringan lahan
/kelerengan. Kondisi topografi (ketinggian) Wilayah Prencanaan berkisar
antara 0 - 100 meter diatas permukaan laut (dpl). Lebih jelasnya mengenai
kondisi topografi wilayah perencanaan dapat dilihat pada Tabel dan
Gambar berikut.

Tabel 5. 5 Kondisi Topografi Kota Depok Berdasarkan Kecamatan

5-38 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Topografi (mdpl)
No Kecamatan Total
25-50 50-75 75-100 >100

20,46 843,15 599,27 - 1.462,88


1 Kecamatan Beji

- 522,08 1.232,30 186,18 1.940,56


2 Kecamatan Bojongsari

- 3,34 716,75 817,80 1.537,89


3 Kecamatan Cilodong

58,27 1.714,88 404,58 - 2.177,73


4 Kecamatan Cimanggis

294,48 758,74 - - 1.053,22


5 Kecamatan Cinere

- 1,14 527,18 608,16 1.136,48


6 Kecamatan Cipayung

36,65 870,11 282,62 - 1.189,37


7 Kecamatan Limo
Kecamatan Pancoran
- 207,39 1.597,30 - 1.804,70
8 Mas

8,80 449,53 1.703,41 446,41 2.608,16


9 Kecamatan Sawangan
10 Kecamatan Sukmajaya 1,33 371,57 1.339,80 23,97 1.736,66
11 Kecamatan Tapos - 203,23 2.211,16 928,60 3.342,98
Kota Depok 419,98 5.945,15 10.614,38 3.011,12 19.990,62

Sumber: Hasil Pengolahan DEMNAS, Tahun 2025

Berdasarkan hasil telaah tersebut, dapat diketahui bahwa kondisi topografi


di wilayah perencanaan didominasi ketinggian antara 75-100 MDpl,
dengan luas 10.614,38 ha atau 53,10% dari luas wilayah Kota Depok yang
tersebar pada seluruh wilayah perencanaan. Sedangkan kelas ketinggian
yang tidak dominan yaitu pada rentan 25-50 MDpl dengan luas 419,98 ha
atau 2,10% dari luas wilayah Kota Depok.

B. Kemiringan Lereng
Berdasarkan kondisi kelerenganya, diketahui bahwa pada wilayah
perencanaan didominasi kelerengan 2-15%, yaitu seluas 18.966,07 ha

5-39 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

atau 94,87% dari luas wilayah Kota Depok yang tersebar di seluruh
wilayah perencanaan. Sedangkan kelerengan yang paling sedikit
persebaran/keberadannya berupa kelerengan 0-2%, yaitu seluas 15,46 ha
atau 0,08% dari luas wilayah Kota Depok. Lebih jelasnya mengenai kondisi
kelerengan wilayah perencanaan dapat dilihat pada Tabel dan Gambar
sebagai berikut.

Tabel 5. 6 Kondisi Kelerengan Kota Depok Berdasarkan Kecamatan

Kelerengan (%)
No Kecamatan Total
0-2% 2-15% 15-25% 25-40% >40%

1 Kecamatan Beji 1,75 1.327,71 88,49 28,41 16,52 1.462,88

2 Kecamatan Bojongsari 0,92 1.907,96 30,08 0,09 1,52 1.940,56

3 Kecamatan Cilodong - 1.470,01 58,72 6,83 2,32 1.537,89

4 Kecamatan Cimanggis 7,3 2.038,47 87,9 32,75 11,31 2.177,73

5 Kecamatan Cinere - 967,63 81,72 3,87 - 1.053,22

6 Kecamatan Cipayung - 1.101,21 26,9 4,93 3,44 1.136,48

7 Kecamatan Limo - 1.112,54 70,52 6,31 - 1.189,37


Kecamatan Pancoran
8 1,13 1.719,18 64,68 15,12 4,6 1.804,70
Mas
9 Kecamatan Sawangan 1,42 2.502,81 91,54 10,2 2,18 2.608,16

10 Kecamatan Sukmajaya 1,51 1.656,50 54,99 17,73 5,93 1.736,66

11 Kecamatan Tapos 1,43 3.162,07 153,04 24,45 1,99 3.342,98


19.990,6
Kota Depok 15,46 18.966,07 808,59 150,68 49,82
2
Sumber: Hasil Pengolahan DEMNAS, Tahun 2025

C. Morfologi
Berdasarkan data morfologi di Kota Depok, diketahui didomnasi oleh
morfologi bergelombang seluas 19.547,35 Ha atau 97,78% dari luas
wilayah Kota Depok yang tersebar di seluruh kecamatan. Sedangkan untuk
morfologi datar yaitu seluas 284,22 Ha atau 1,42% dari luas wilayah Kota

5-40 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Depok dan hanya berada di Kecamatan Bojongsari. Lebih jelasnya


mengenai kondisi morfologi wilayah perencanaan dapat dilihat pada Tabel
dan Gambar sebagai berikut.

Tabel 5. 7 Kondisi Morfologi Kota Depok Berdasarkan Kecamatan

Morfologi
No Kecamatan Total
Bergelombang Datar Tubuh Air

1 Kecamatan Beji 1.446,71 - 16,16 1.462,88

2 Kecamatan Bojongsari 1.653,97 284,22 2,37 1.940,56

3 Kecamatan Cilodong 1.525,73 - 12,16 1.537,89

4 Kecamatan Cimanggis 2.149,91 - 27,81 2.177,73

5 Kecamatan Cinere 1.048,96 - 4,26 1.053,22

6 Kecamatan Cipayung 1.117,80 - 18,68 1.136,48

7 Kecamatan Limo 1.188,88 - 0,49 1.189,37

8 Kecamatan Pancoran Mas 1.781,32 - 23,37 1.804,70

9 Kecamatan Sawangan 2.593,74 - 14,42 2.608,16

10 Kecamatan Sukmajaya 1.724,50 - 12,16 1.736,66

11 Kecamatan Tapos 3.315,82 - 27,17 3.342,98

Kota Depok 19.547,35 284,22 159,06 19.990,62


Sumber: Hasil Pengolahan DEMNAS, Tahun 2025

5-41 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Gambar 5.5 Peta Topografi Kota Depok

5-42 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Gambar 5.6 Peta Kemiringan Lereng Kota Depok

5-43 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

Gambar 5.7 Peta Morfologi Kota Depok

5-44 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

5.5. Tinjauan RTRW Kota Depok Terkait Penanganan Kawasan Kumuh

Kebijakan RTRW Kota Depok dalam penanganan permukiman kumuh berfokus


pada peningkatan kualitas hunian, penataan lingkungan, serta penyediaan
hunian vertikal. Beberapa kebijakan utama meliputi:

1. Peningkatan Kualitas Bangunan

Pemerintah Kota Depok berupaya meningkatkan kualitas bangunan di


kawasan permukiman kumuh agar memenuhi standar hunian yang layak
dan sehat.

2. Revitalisasi Kawasan Permukiman Kumuh

Kawasan permukiman kumuh di perkotaan akan direvitalisasi menjadi


hunian vertikal seperti rumah susun, terutama di lokasi-lokasi strategis
agar lebih tertata dan efisien dalam penggunaan lahan.

3. Pengembangan Hunian Vertikal

Hunian vertikal akan dikembangkan di Pusat Pelayanan Kota (PPK) serta


kawasan Transit Oriented Development (TOD), dengan tujuan mengurangi
kepadatan dan meningkatkan keterjangkauan perumahan bagi
masyarakat berpenghasilan rendah.

4. Penataan Lingkungan Kawasan Kumuh

RTRW Kota Depok mengarahkan peningkatan kualitas lingkungan di


permukiman kumuh yang berada di sekitar tepian sungai, situ/danau,
tanah terlantar, serta sepanjang tepi rel kereta api. Program ini bertujuan
untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kualitas hidup warga.

5. Penyediaan Infrastruktur Pendukung

Pengembangan perumahan baru di kawasan kumuh akan dilengkapi


dengan penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum yang sesuai
dengan standar pemerintah daerah. Langkah ini diharapkan dapat
meningkatkan kenyamanan dan keamanan warga yang tinggal di kawasan
tersebut

5-45 | U s u l a n T e k n i s
PENDATAAN BASELINE KAWASAN KUMUH

5.6. Tinjauan SK Walikota Depok Nomor 591/250/Kpts /Bapp/Huk/2015


Tanggal 9 Juli 2015 Tentang Penetapan Perumahan dan
Permukiman Kumuh Perkotaan

Keputusan Wali Kota Depok Nomor 591/250/Kpts/Bapp/Huk/2015 tanggal 9 Juli


2015 menetapkan kawasan perumahan dan permukiman kumuh perkotaan di
Kota Depok. Penetapan ini merupakan langkah awal dalam upaya penanganan
dan perbaikan kualitas permukiman kumuh di wilayah tersebut.

Tujuan Penetapan:

1. Identifikasi Kawasan Kumuh: Menentukan secara resmi lokasi-lokasi


yang termasuk dalam kategori permukiman kumuh, sehingga
memudahkan perencanaan dan pelaksanaan program perbaikan.

2. Perencanaan Program: Menyusun rencana strategis untuk


meningkatkan kualitas permukiman, termasuk perbaikan infrastruktur,
penyediaan fasilitas umum, dan peningkatan kualitas hidup warga.

3. Pengalokasian Anggaran: Memungkinkan pemerintah untuk


mengalokasikan sumber daya dan anggaran secara tepat sasaran guna
menangani permasalahan di kawasan kumuh.

5-46 | U s u l a n T e k n i s

Anda mungkin juga menyukai