Limbah Pemanenan Kayu di PT. Dwimajaya
Limbah Pemanenan Kayu di PT. Dwimajaya
Original Research
Abstract
This study aims to determine the volume of wood waste (in units of m3 and %) in IUPHHK-HA PT. Dwimajaya Utama.
The research was carried out in cutting plots K-18 (RKT 2015) and felling plots J-21 (RKT 2016). As many as 8 units of
sample plots measuring of 100 m x 100 m were purposively selected and then the waste resulted from 56 trees that
had been felled were observed. The results showed that the woods potential on the cutting plot K-18 were 229.32 m3
while on plot J-21 were 200.03 m3, total volume of waste from the two cutting plots were 429.35 m3. Second, the reali-
zation of logs production on the felling plot K-18 were 165.29 m3 (72.07%) and on plot J-21 were 145.73 m3 (72.86%)
and the total from the two cutting plots were 311.02 m3 (72.44%). Thirdly, the mount of felling waste on felling plot K-
18 were 64.05 m3 (27.93%) and on plot J-21 were 54.28 m3 (27.14%); resulting the total waste from both felling plots
were 118.33 m3 ( 27.56%). Percentage of waste to production on felling plot K-18 were 38.75%, and on plot J-21 were
37.25%, and the mean from the two cutting plots were 38.00%. Forest potential structure for the two logging plots,
namely timber potential around 429.35 m3, realized logs production of 311.02 m3 (72.44%) and resulted waste around
118.33 m3 (27.56%). The relatively low percentage of felling waste indicates that the application of RIL (Reduce Impact
Logging) in logging activities is relatively successful.
Keywords
Forest, timber harvesting, wood harvesting waste
dari atas alat angkut ke TPK atau di Industri. Tiga prinsip Pemanfaatan kayu di Indonesia sampai saat ini belum
pada kegiatan muat bongkar kayu adalah cepat, ekonomis efektif dan efisien karena jumlah kayu yang dimanfaatkan
dan peralatan selalu siap. Kelima, pengangkutan kayu, pada umumnya masih rendah dibandingkan dengan
yaitu kegiatan memindahkan kayu (logs) dari TPn ke tujuan volume kayu yang ditebang. Bagian pohon seperti
akhir yaitu TPK atau logyard atau logpond atau pabrik. tunggak, cabang, ranting, dan batang cacat umumnya
Kegiatan pengangkutan kayu disebut dengan istilah major ditinggalkan didalam hutan dan menjadi limbah
transportation. Makin besar ukuran kayu maka waktu (Tinambunan, 2001; Suwarna dan Matangaran, 2013;
penanganannya dan waktu angkutan per satuan volume Soenarno et al., 2020). Tujuan penelitian adalah untuk
akan semakin kecil, selanjutnya kayu akan turun kualitasnya mengetahui volume limbah kayu (dalam m3 dan persen)
jika dibiarkan terlalu lama di dalam hutan. pada petak tebangan di IUPHHK-HA PT. Dwimajaya Utama,
Pada kegiatan pemanenan kayu, pohon yang sudah yang bermanfaat sebagai salah satu informasi untuk
ditebang hanya sebagian saja dimanfaatkan, bagian yang mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan RIL (Reduce
tidak dimanfaatkan disebut dengan limbah. Limbah kayu Impact Logging) pada kegiatan penebangan.
tersebut berbentuk tunggak, batang bebas cabang, cabang
dan potongan pendek, tempat terjadinya limbah adalah
petak tebangan, TPn, TPK, dan limbah akibat pembuatan
jalan sarad. Peningkatan limbah pemanenan sering terjadi 2. METODOLOGI
akibat kesalahan teknis di lapangan dan juga akibat
kebijakan perencanaan pemanenan yang kurang tepat, 2.1. Objek, Tempat dan Waktu
keberadaan limbah ini sering kali diabaikan karena Objek penelitian adalah pohon yang ditebang dan
pemanfaatannya dianggap menyulitkan dan mahal, limbah kayu hasil penebangan pada petak tebangan K-18
padahal pemanfaatan limbah pemanenan dapat (RKT 2015) dan petak tebangan J-21 (RKT 2016) PT.
memaksimalkan pemanfaatan potensi hutan, dan dapat Dwimajaya Utama Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan
mengurangi luasan penebangan untuk menghasilkan Tengah, selama 1 (satu) bulan. Lokasi RKT 2016 PT.
volume produksi dalam jumlah yang sama. Dwimajaya Utama disajikan pada Gambar 1.
3. Volume tunggak berbanir, dihitung dengan rumus bongkar dan pengangkutan. Perusahaan PT. Dwimajaya
(Soenarno et al., 2016): Utama melakukan pemanenan secara mekanis, dengan
Vt = Vb + Vttb. teknik pemanenan RIL (Reduce Impact Logging),
meggunakan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam
Vb 1/6 x 10 x a x p x l)
Indonesia (TPTI), pada areal hutan dengan katagori Hutan
dp 2 du 2 Produksi Terbatas.
Vttb 1/4 x π x x L Penebangan pohon dilaksanakan oleh regu tebang
10.000 yang melakukan penebangan dari satu pohon ke pohon
Keterangan berikutnya, satu regu tebang terdiri dari 2 (dua) orang yaitu
Vt = volume tunggak (m3) chainsawman dan pembantu (helper). Kegiatan
Vb = volume banir/seksi pertama (m3) penebangan diawali dengan mencari pohon, menentukan
Vttb = volume tunggak tanpa banir/seksi kedua (m3) arah rebah, membersihkan tumbuhan bawah (semak-
Dp = diameter pangkal (cm) semak) di sekitar pohon, menentukan dan membuat jalan
Du = diameter ujung (cm) penyelamatan, membuat takik rebah dan takik balas,
a = tebal sisi alas banir terakhir memotong ujung dan pangkal pohon rebah.
p = panjang banir (cm) Jenis Pohon yang ditebang: Keruing (Dipterocarpus
l = tinggi banir (cm) boorneensis [Link]), Benuas (Shorea leavis Ridl), Balau (Shorea
L = Tinggi tunggak (m) guiso), Bangkirai (Shorea teysmani), kelompok Meranti dan
jenis komersil lainnya. Kelompok Meranti meliputi: Meranti
4. Volume limbah per hektar, dihitung dengan rumus: Kerakas (Shorea lamellate), Meranti Merah (lenan, letang)
(Shorea parvivolia Dyer), Meranti Kuning (Shorea sp) dan
Volume total limbah (m3 )
Volume limbah (m3 /ha) Meranti Putih (Shorea sp).
Luas plot contoh (ha) Pohon yang ditebang berdiameter minimal 40 cm,
5. Volume limbah per pohon, dihitung dengan rumus: sehat, bernilai komersial, dan pada saat Inventarisasi
Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) diberi label warna
Volume total limbah (m )
3
Volume limbah (%) / pohon merah. Jumlah dan volume pohon hasil penebangan
Jumlah pohon yang ditebang (pohon)
disajikan pada Tabel 1.
6. Persen limbah Nilai rataan jumlah pohon yang ditebang (sesuai LHP)
a. Persen limbah berdasarkan potensi pohon, dihitung per ha adalah 8 pohon (dibulatkan) dengan volume 40,82
dengan rumus: m3 (Tabel 1). Jumlah pohon dan volume pohon yang
Volume total limbah (m3 ) ditebang per ha pada petak tebangan J-21 lebih besar dari
Volume limbah (%) petak tebangan K-18 dan nilai rataan untuk kedua petak
Volume pohon menurut LHC (m3 )
tebangan. Jadi tingkat kerapatan pohon per ha pada petak
b. Persen limbah per petak, dihitung dengan rumus: tebangan J-21 lebih tinggi dari petak tebangan K-18 dan
nilai rataan untuk kedua petak tebangan.
Volume total limbah di petak (m ) 3
*) Jumlah plot pada Petak tebangan: K-18 = 5 bh (5 ha) dan J-21 = 3 bh (3 ha)
Sumber: Laporan Hasil Produksi (LHP) perusahaan
Journal of Environment and Management, 1(3), 253-258 257
3.2. Limbah Kayu Hasil Kegiatan Penebangan Persentase volume limbah (Tabel 3) terhadap potensi
Sumber limbah penebangan adalah limbah cabang hutan (LHC) pada petak tebangan K-18 (27,93%) lebih
pertama ke bawah (berupa limbah tunggak dan limbah besar dari petak tebangan J-21 (27,14%) dan nilai rataan
batang bebas cabang) dan limbah di atas cabang pertama, untuk kedua petak tebangan (27,56%). Persentase limbah
limbah umumnya dalam kondisi baik. Jumlah limbah kayu hasil penelitian ini (27,56%) lebih kecil dibandingkan
hasil kegiatan penebangan disajikan pada Tabel 2. dengan persentase limbah pada di IUPHHK PT. Sumalindo
Jumlah limbah (Tabel 2) pada petak tebangan K-18 = Lestari Jaya sebesar 36% (Sasmita, 2003) dan persentase
64,05 m3 (12,81 m3/ha), petak tebangan J-21= 54,28 m3 limbah pemanenan kayu pada hutan tropika basah dari
(18,09 m3/ha) dan nilai total untuk kedua petak tebangan = suatu HPH di Kalimantan Timur yang mencapai 39,9%
118,33 m3 (15,45 m3/ha). Volume limbah per ha pada petak (Widianto, 1981 dalam Muhdi, 2006), sebaliknya lebih
tebangan J-21 lebih besar dari petak tebangan K-18 dan besar dibandingkan dengan persentase limbah pada PT.
nilai rataan untuk kedua petak tebangan, hal ini terjadi Salaki Summa Sejahtera sebesar 23,60% (Partiani, 2010).
karena penebangan pada petak J-21 lebih banyak Ketidak sempurnaan dalam pemotongan dan pembagian
meninggalkan limbah pada saat trimming pangkal dan batang, cacat pada pohon, dan minimnya pengawasan
ujung pohon (setelah pohon rebah) akibat cacat pada logs oleh manajemen pada kegiatan penebangan yang
(berupa cacat alami maupun cacat mekanis). dilakukan oleh regu tebang di petak tebangan
menyebabkan meningkatnya volume limbah yang terjadi.
3.3. Persentase Limbah terhadap Potensi Kayu (LHC)
Potensi hutan menurut Laporan Hasil Cruising/LHC
(Tabel 3) pada Petak tebangan K-18 = 229,32 m3 (45,86 3.4. Persentase Limbah terhadap Realisasi Penebangan
m3/ha), petak tebangan J-21= 200,03 m3 (66,68 m3/ha) dan (LHP)
nilai total untuk kedua petak tebangan = 429,35 m3 (53,67 Persentase limbah terhadap realisasi produksi logs
m3/ha). Besarnya potensi volume kayu per pohon (menurut berdasarkan Laporan Hasil Produksi/LHP (Tabel 4) pada
LHC) pada petak tebangan K-18 (8,49 m3/pohon) lebih petak tebangan K-18 (38,75%) lebih besar daari petak
besar dari petak tebangan J-21 (6,90 m3/pohon) dan nilai tebangan J-21 (37,25%) dan nilai rataan untuk kedua petak
rataan untuk kedua petak tebangan (7,67 m3/pohon). tebangan (38,00%). Struktur pemanfaatan potensi hutan
Potensi volume kayu per ha pada petak tebangan J-21 berupa kayu pada 56 pohon yang diamati (Tabel 3 dan 4)
lebih besar dari petak tebangan K-18 dan nilai rataan untuk adalah potensi hutan menurut LHC = 429,35 m3, besarnya
kedua petak tebangan. pemanfaatan kayu berupa logs (menurut LHP) = 311,02 m3
*) Jumlah plot: pada petak tebangan K-18 = 5 bh (5 ha) dan J-21 = 3 bh (3 ha)
Sumber: Data hasil pengamatan
Sumber: Pengolahan data hasil pengamatan dan laporaan hasil cruising (LHC)
258 I. N. Surasana et al., Limbah Penebangan Kayu di Perusahaan PT. Dwimajaya Utama
(72,44% dari LHC) dan realisasi limbah kegiatan Pengukuran dan Penetapan Isi Kayu Bulat Rimba
penebangan = 118,33 m3 (27,56% dari LHC). Indonesia. Direktorat Jendral Pengusahaan Hutan,
Persentase limbah penebangan yang relatif lebih Jakarta.
rendah pada PT. Dwimajaya Utama menunjukkan bahwa Elias. 1988. Pembukaan Wilayah Hutan. Fakultas Kehutanan
tingkat pemanfaatan potensi hutan berupa kayu relatif IPB, Bogor.
besar dan penerapan RIL (Reduce Impact Logging) pada Matangaran, J.R., Partiani, T. and Purnamasari, D.R., 2013.
kegiatan penebangan relatif berhasil. Faktor eksploitasi dan kuantifikasi limbah kayu dalam
rangka peningkatan efisiensi pemanenan hutan
alam. Jurnal Bumi Lestari, 13(2), 384-393.
Muhdi. 2006. Limbah Pemanenan. Karya Tulis Departemen
4. KESIMPULAN Kehutanan. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Partiani, T. 2010. Limbah Pemanenan Kayu dan Faktor
Jumlah pohon yang ditebang pada petak tebangan K-18 Eksploitasi di Hutan Alam PT. Salaki Summa Sejahtera,
(RKT 2015) sebanyak 27 batang dengan volume LHC = Pulau Siberut Sumatera Barat. Skripsi Sarjana Fakultas
229,32 m3 (45,87 m3/ha), Volume LHP = 165,29 m3 (33,06 Kehutanan IPB, Bogor.
m3/ha) dan volume limbah = 64,05 (12,81 m3/ha). Sasmita, R. L., 2003. Limbah Pemanenan Hutan Alam di
Sedangkan pada petak tebangan J-21 (RKT 2016) jumlah Indonesia. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan IPB,
pohon yang ditebang sebanyak 29 batang dengan volume Bogor.
LHC = 200,03 m3 (66,67 m3/ha), Volume LHP = 145,73 m3 Soenarno, S., Edom, W., Basari, Z., Dulsalam, D., Suhartana,
(48,58 m3/ha) dan volume limbah = 54,28 m3 (18,09 m3/ha). S. and Yuniawati, Y., 2016. Faktor Eksploitasi Hutan Di
Potensi hutan total untuk kedua petak tebangan atau Sub Regional Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Hasil
kedua RKT: potensi kayu = 429,35 m3, realisasi produksi Hutan, 34(4), 335-348.
logs = 311,04 m3 (72,44%) dan limbah = 118,33 m3 Soenarno, S., Dulsalam, D. and Yuniawati, Y., 2020. Uji Coba
(27,56%). Nilai rataan potensi hutan untuk kedua petak Penebangan Kayu Berbasis Zero Waste Dan Ramah
tebangan: potensi hutan (LHC) = 53,67 m3/ha, hasil Lingkungan Pada Hutan Alam Di Provinsi Kalimantan
produksi logs (LHP) = 38,88 m3/ha dan limbah hasil Tengah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 38(2), 101-114.
penelitian = 14,79 m3/ha. Berdasarkan potensi kayu (LHC), Suwarna, U. and Matangaran, J.R., 2013. Ciri Limbah
maka tingkat efisiensi penebangan (LHP) = 72,44% dan Pemanenan Kayu di Hutan Rawa Gambut
besarnya limbah = 27,56%. Persentase limbah penebangan Tropika. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 18(1), 61-65.
yang relatif lebih rendah menunjukkan bahwa tingkat Tinambunan, D. 2001. Pemborosan Kayu dalam
penerapan RIL (Reduce Impact Logging) pada kegiatan Pemanenan Hutan Alam di Luar Pulau Jawa dan Upaya
penebangan relatif berhasil. Mengatasinya. Diakses dari: http//[Link]/
(29 Maret 2016).
Wulan, D.R., Itta, D. and Rezekiah, A.A., 2020. Analisis
Waktu Efektif Penebangan Jenis Akasia (Acacia
mangium) di Areal IUPHHK-HT PT INHUTANI II Pulau
DAFTAR PUSTAKA Laut Kalimantan Selatan. Jurnal Sylva Scienteae, 3(1),
Ditjen Pengusahaan Hutan. 1993. Petunjuk Cara 104-111.