0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan6 halaman

Limbah Pemanenan Kayu di PT. Dwimajaya

Penelitian ini menganalisis volume limbah kayu di PT. Dwimajaya Utama, dengan total volume limbah dari dua petak tebangan mencapai 118.33 m3 (27.56%). Hasil menunjukkan bahwa realisasi produksi kayu mencapai 311.02 m3 (72.44%) dari total potensi kayu 429.35 m3, menunjukkan keberhasilan penerapan teknik Reduce Impact Logging (RIL). Persentase limbah terhadap produksi rata-rata adalah 38.00%, yang menunjukkan efisiensi dalam proses pemanenan kayu.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan6 halaman

Limbah Pemanenan Kayu di PT. Dwimajaya

Penelitian ini menganalisis volume limbah kayu di PT. Dwimajaya Utama, dengan total volume limbah dari dua petak tebangan mencapai 118.33 m3 (27.56%). Hasil menunjukkan bahwa realisasi produksi kayu mencapai 311.02 m3 (72.44%) dari total potensi kayu 429.35 m3, menunjukkan keberhasilan penerapan teknik Reduce Impact Logging (RIL). Persentase limbah terhadap produksi rata-rata adalah 38.00%, yang menunjukkan efisiensi dalam proses pemanenan kayu.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Journal of Environment and Management OPEN ACCESS

E-ISSN 2722-6727 P-ISSN 2721-0812

Original Research

Limbah Penebangan Kayu di Perusahaan PT. Dwimajaya Utama

I Nyoman Surasana1,*, Kristiani D Limbong1, Yosep1


1
Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Kampus UPR Tunjung Nyaho, Jl. Yos Sudarso Palangka Raya,
Indonesia, 73111
* Korespondensi: I Nyoman Surasana (Email: nyomansurasana@[Link])

Diterima: 17 Juni 2020 Direvisi: 23 September 2020 Disetujui: 24 September 2020

Abstract
This study aims to determine the volume of wood waste (in units of m3 and %) in IUPHHK-HA PT. Dwimajaya Utama.
The research was carried out in cutting plots K-18 (RKT 2015) and felling plots J-21 (RKT 2016). As many as 8 units of
sample plots measuring of 100 m x 100 m were purposively selected and then the waste resulted from 56 trees that
had been felled were observed. The results showed that the woods potential on the cutting plot K-18 were 229.32 m3
while on plot J-21 were 200.03 m3, total volume of waste from the two cutting plots were 429.35 m3. Second, the reali-
zation of logs production on the felling plot K-18 were 165.29 m3 (72.07%) and on plot J-21 were 145.73 m3 (72.86%)
and the total from the two cutting plots were 311.02 m3 (72.44%). Thirdly, the mount of felling waste on felling plot K-
18 were 64.05 m3 (27.93%) and on plot J-21 were 54.28 m3 (27.14%); resulting the total waste from both felling plots
were 118.33 m3 ( 27.56%). Percentage of waste to production on felling plot K-18 were 38.75%, and on plot J-21 were
37.25%, and the mean from the two cutting plots were 38.00%. Forest potential structure for the two logging plots,
namely timber potential around 429.35 m3, realized logs production of 311.02 m3 (72.44%) and resulted waste around
118.33 m3 (27.56%). The relatively low percentage of felling waste indicates that the application of RIL (Reduce Impact
Logging) in logging activities is relatively successful.
Keywords
Forest, timber harvesting, wood harvesting waste

1. PENDAHULUAN penebangan adalah meminimalkan kecelakaan,


meminimalkan kerugian dan kerusakan pohon,
Sebagai sumberdaya alam hayati, hutan memiliki manfaat
memaksimalkan nilai produk kayu bulat dari tiap pohon
sangat besar bagi kehidupan, sumberdaya hutan yang
dan tidak menyulitkan kegiatan selanjutnya. Kedua,
banyak dimanfaatkan manusia adalah kayu. Kayu diolah
pembagian batang, yaitu kegiatan yang dilakukan setelah
supaya mempunyai nilai ekonomi, kegiatan mengeluarkan
pohon rebah, berupa membagi batang menjadi ukuran-
kayu dari hutan disebut dengan pemanenan kayu. Conway
ukuran tertentu, dengan tujuan untuk mendapatkan kayu
(dikutip oleh Wulan et al., 2020) menyatakan bahwa
sesuai ukuran dan standar yang dibutuhkan atau dipesan
pemanenan kayu adalah rangkaian kegiatan pemindahan
oleh pembeli. Ketidak sempurnaan pada pengukuran dan
kayu dari hutan ke tempat pengolahan melalui tahapan
pembagian batang mengakibatkan kayu tidak laku di jual
kegiatan penebangan (timber cutting), penyaradan
atau nilai ekonomisnya menjadi turun, bahkan dapat
(skidding or yarding), pengangkutan (transportation) dan
menjadi limbah.
pengujian (grading). Sementera itu Matangaran et al.
(2013) menyebutkan bahwa pemanenan hutan atau Ketiga, penyaradan, merupakan kegiatan memindahkan
pemungutan hasil hutan adalah pemungutan hasil hutan kayu dengan cepat dan murah dari tempat penebangan
berupa kayu melalui semua tindakan yang berhubungan (petak tebang) ke tempat pengumpulan kayu sementara
dengan penebangan, pembagian batang, penyaradan, (TPn). Penyaradan merupakan tahap awal dari kegiatan
pengangkutan, penimbunan. pengangkutan kayu sehingga disebut sebagai minor
Dengan pengertian pemanenan hutan (kayu) diatas, transportation. Keempat, muat bongkar kayu. Muat kayu
maka kegiatan pemanenan kayu meliputi lima kegiatan merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tanah ke atas
(Elias, 1988). Pertama, penebangan, yaitu proses mengubah kendaraan angkut yang dilakukan di TPn atau Tempat
pohon berdiri menjadi kayu bulat yang dapat diangkut Penimbunan Kayu (TPK), sedangkan bongkar
keluar hutan untuk dimanfaatkan. Empat prinsip dasar (pembongkaran) kayu adalah kegiatan menurunkan kayu
254 I. N. Surasana et al., Limbah Penebangan Kayu di Perusahaan PT. Dwimajaya Utama

dari atas alat angkut ke TPK atau di Industri. Tiga prinsip Pemanfaatan kayu di Indonesia sampai saat ini belum
pada kegiatan muat bongkar kayu adalah cepat, ekonomis efektif dan efisien karena jumlah kayu yang dimanfaatkan
dan peralatan selalu siap. Kelima, pengangkutan kayu, pada umumnya masih rendah dibandingkan dengan
yaitu kegiatan memindahkan kayu (logs) dari TPn ke tujuan volume kayu yang ditebang. Bagian pohon seperti
akhir yaitu TPK atau logyard atau logpond atau pabrik. tunggak, cabang, ranting, dan batang cacat umumnya
Kegiatan pengangkutan kayu disebut dengan istilah major ditinggalkan didalam hutan dan menjadi limbah
transportation. Makin besar ukuran kayu maka waktu (Tinambunan, 2001; Suwarna dan Matangaran, 2013;
penanganannya dan waktu angkutan per satuan volume Soenarno et al., 2020). Tujuan penelitian adalah untuk
akan semakin kecil, selanjutnya kayu akan turun kualitasnya mengetahui volume limbah kayu (dalam m3 dan persen)
jika dibiarkan terlalu lama di dalam hutan. pada petak tebangan di IUPHHK-HA PT. Dwimajaya Utama,
Pada kegiatan pemanenan kayu, pohon yang sudah yang bermanfaat sebagai salah satu informasi untuk
ditebang hanya sebagian saja dimanfaatkan, bagian yang mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan RIL (Reduce
tidak dimanfaatkan disebut dengan limbah. Limbah kayu Impact Logging) pada kegiatan penebangan.
tersebut berbentuk tunggak, batang bebas cabang, cabang
dan potongan pendek, tempat terjadinya limbah adalah
petak tebangan, TPn, TPK, dan limbah akibat pembuatan
jalan sarad. Peningkatan limbah pemanenan sering terjadi 2. METODOLOGI
akibat kesalahan teknis di lapangan dan juga akibat
kebijakan perencanaan pemanenan yang kurang tepat, 2.1. Objek, Tempat dan Waktu
keberadaan limbah ini sering kali diabaikan karena Objek penelitian adalah pohon yang ditebang dan
pemanfaatannya dianggap menyulitkan dan mahal, limbah kayu hasil penebangan pada petak tebangan K-18
padahal pemanfaatan limbah pemanenan dapat (RKT 2015) dan petak tebangan J-21 (RKT 2016) PT.
memaksimalkan pemanfaatan potensi hutan, dan dapat Dwimajaya Utama Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan
mengurangi luasan penebangan untuk menghasilkan Tengah, selama 1 (satu) bulan. Lokasi RKT 2016 PT.
volume produksi dalam jumlah yang sama. Dwimajaya Utama disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Lokasi penelitian di RKT 2016 PT. Dwimajaya Utama


Journal of Environment and Management, 1(3), 253-258 255

2.2. Jenis Data dan Plot Contoh Keterangan


Jenis data penelitian besifat primer dan sekunder. Data a dan b = potongan sisa
primer adalah limbah kegiatan penebangan yang diperoleh A = batang bebas cabang/batang utama
dengan cara pengukuran langsung di lapangan pada petak B = Batang Atas
tebangan K18 dan J21. Data sekunder adalah berupa D1 = diameter pangkal
informasi pendukung penelitian seperti keadaan umum D2 = diameter ujung
perusahaan dan Laporan Hasil Cruising (LHC) diperoleh P = panjang limbah
dari data yang ada pada perusahaan.
Pengukuran limbah kegiatan penebangan dilakukan 3. Limbah batang atas yaitu bagian batang dari cabang
pada setiap plot contoh dengan ukuran 100 m x 100 m pertama sampai tajuk yang merupakan perpanjangan
(luasnya 1 ha/unit plot contoh). Plot contoh dibuat dari batang utama. Dimensi limbah batang atas
sebanyak 8 unit, penempatan plot contoh dilakukan secara meliputi: diameter pangkal, diameter ujung dan
purposive sampling, yaitu disesuaikan dengan kondisi di panjang batang (Gambar 4).
lapangan.

2.3. Pengukuran Sortimen Limbah Penebangan


Sortimen limbah penebangan dibagi menjadi dua
bagian, yaitu bagian di bawah cabang pertama dan bagian
dari cabang pertama ke atas. Bagian di bawah cabang
pertama meliputi tunggak dan batang bebas cabang,
sedangkan bagian dari cabang pertama ke atas terdiri dari
batang atas dan dahan. Secara rinci sortimen penebangan Gambar 4. Pengukuran limbah batang atas
yang diukur meliputi: Keterangan
1. Limbah tunggak yaitu bagian bawah pohon yang D1 = diameter pangkal
berada di bawah takik rebah dan takik balas, dimensi D2 = diameter ujung
yang diukur meliputi diameter dan tinggi tunggak P = panjang limbah
(Gambar 2).
2.4. Analisis Data
Analisis data meliputi perhitungan: volume pohon
berdiri, volume limbah dan logs, volume tunggak berbanir,
volume limbah per hektar, volume limbah per pohon dan
persen limbah (meliputi persen limbah berdasarkan
potensi pohon dan persen limbah berdasarkan total
Gambar 2. Pengukuran Tunggak limbah).
Keterangan 1. Volume pohon berdiri, dihitung dengan rumus:
D = diameter T = tinggi tunggak 2
 D 
 1/ 4 x π x
2. Limbah batang bebas cabang yaitu batang utama dari
V  xTxF
atas tunggak atau banir sampai cabang pertama
 100 
(Gambar 3). Limbah batang bebas cabang dapat berupa dimana
potongan pendek ataupun kayu gelondongan. V = volume pohon berdiri (m3)
Potongan pendek adalah bagian batang utama yang D = diameter pohon (cm)
mengandung cacat (rusak) dan perlu dipotong; T = tinggi pohon (m)
potongan pendek juga meliputi batang dengan cacat π = konstanta (3,14)
tampak, pecah, busuk dan kerusakan fisik lainnya. Kayu F = angka bentuk (0,7)
gelondongan terjadi jika batang jatuh ke jurang atau
pecah terlalu banyak sehingga ditinggalkan. Dimensi 2. Volume limbah dan logs, dihitung dengan rumus
limbah batang bebas cabang yang diukur meliputi: empiris Brereton (Dirjen Pengusahaan Hutan, 1993):
diameter pangkal, diameter ujung dan panjang batang. 2
1/2 x (Dp  Du) 
Vi  1/4 x π x   xP
 100 
dimana:
Vi = volume limbah/logs (m3)
Dp = diameter pangkal limbah/logs (cm)
Du = diameter ujung limbah/logs (cm)
Gambar 3. Pengukuran limbah batang bebas cabang P = panjang limbah/logs (m)
dan batang bagian atas π = konstanta (3,14)
256 I. N. Surasana et al., Limbah Penebangan Kayu di Perusahaan PT. Dwimajaya Utama

3. Volume tunggak berbanir, dihitung dengan rumus bongkar dan pengangkutan. Perusahaan PT. Dwimajaya
(Soenarno et al., 2016): Utama melakukan pemanenan secara mekanis, dengan
Vt = Vb + Vttb. teknik pemanenan RIL (Reduce Impact Logging),
meggunakan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam
Vb   1/6 x 10 x a x p x l)
Indonesia (TPTI), pada areal hutan dengan katagori Hutan
 dp 2  du 2  Produksi Terbatas.
Vttb  1/4 x π x   x L Penebangan pohon dilaksanakan oleh regu tebang
 10.000  yang melakukan penebangan dari satu pohon ke pohon
Keterangan berikutnya, satu regu tebang terdiri dari 2 (dua) orang yaitu
Vt = volume tunggak (m3) chainsawman dan pembantu (helper). Kegiatan
Vb = volume banir/seksi pertama (m3) penebangan diawali dengan mencari pohon, menentukan
Vttb = volume tunggak tanpa banir/seksi kedua (m3) arah rebah, membersihkan tumbuhan bawah (semak-
Dp = diameter pangkal (cm) semak) di sekitar pohon, menentukan dan membuat jalan
Du = diameter ujung (cm) penyelamatan, membuat takik rebah dan takik balas,
a = tebal sisi alas banir terakhir memotong ujung dan pangkal pohon rebah.
p = panjang banir (cm) Jenis Pohon yang ditebang: Keruing (Dipterocarpus
l = tinggi banir (cm) boorneensis [Link]), Benuas (Shorea leavis Ridl), Balau (Shorea
L = Tinggi tunggak (m) guiso), Bangkirai (Shorea teysmani), kelompok Meranti dan
jenis komersil lainnya. Kelompok Meranti meliputi: Meranti
4. Volume limbah per hektar, dihitung dengan rumus: Kerakas (Shorea lamellate), Meranti Merah (lenan, letang)
(Shorea parvivolia Dyer), Meranti Kuning (Shorea sp) dan
Volume total limbah (m3 )
Volume limbah (m3 /ha)  Meranti Putih (Shorea sp).
Luas plot contoh (ha) Pohon yang ditebang berdiameter minimal 40 cm,
5. Volume limbah per pohon, dihitung dengan rumus: sehat, bernilai komersial, dan pada saat Inventarisasi
Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) diberi label warna
Volume total limbah (m )
3

Volume limbah (%) / pohon  merah. Jumlah dan volume pohon hasil penebangan
Jumlah pohon yang ditebang (pohon)
disajikan pada Tabel 1.
6. Persen limbah Nilai rataan jumlah pohon yang ditebang (sesuai LHP)
a. Persen limbah berdasarkan potensi pohon, dihitung per ha adalah 8 pohon (dibulatkan) dengan volume 40,82
dengan rumus: m3 (Tabel 1). Jumlah pohon dan volume pohon yang
Volume total limbah (m3 ) ditebang per ha pada petak tebangan J-21 lebih besar dari
Volume limbah (%)  petak tebangan K-18 dan nilai rataan untuk kedua petak
Volume pohon menurut LHC (m3 )
tebangan. Jadi tingkat kerapatan pohon per ha pada petak
b. Persen limbah per petak, dihitung dengan rumus: tebangan J-21 lebih tinggi dari petak tebangan K-18 dan
nilai rataan untuk kedua petak tebangan.
Volume total limbah di petak (m ) 3

Volume limbah (%) / petak 


Volume limbah tot al (m ) 3 Tingkat efisiensi penebangan menurut LHP (Tabel 1)
pada petak tebangan K-18 = 165,29 m3 (33,06 m3/ha),
petak tebangan J-21 = 145,73 m3 (48,58 m3/ha) dan nilai
total untk kedua petak tebangan = 311,02 m3 (40,82 m3/
ha). Realisasi produksi logs per ha pada petak tebangan J-
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 21 lebih besar dari petak tebangan K-18 dan nilai rataan
untuk kedua petak tebangan, sedangkan ukuran dimensi
3.1. Realisasi Pemanenan pohon yang ditebang pada petak K-18 lebih besar dari
Pemanenan mencakup empat kegiatan utama yaitu petak tebangan J-2 dan nilai rataan untuk kdua petak
penebangan, pembagian batang, penyaradan, muat tebangan.

Tabel 1. Jumlah dan volume pohon hasil kegiatan penebangan

Luas plot Jumlah penebangan Rataan


Petak*)
(ha) (batang) (m ) 3
(pohon/ha)
3
(m /pohon) (m3/ha)
K-18 5 27 165,29 5,40 6,12 33,06
J-21 3 29 145,73 9,67 5,03 48,58
Total 8 56 311,02 15,07 11,15 81,64
Rataan - - - 7,54 5,58 40,82

*) Jumlah plot pada Petak tebangan: K-18 = 5 bh (5 ha) dan J-21 = 3 bh (3 ha)
Sumber: Laporan Hasil Produksi (LHP) perusahaan
Journal of Environment and Management, 1(3), 253-258 257

3.2. Limbah Kayu Hasil Kegiatan Penebangan Persentase volume limbah (Tabel 3) terhadap potensi
Sumber limbah penebangan adalah limbah cabang hutan (LHC) pada petak tebangan K-18 (27,93%) lebih
pertama ke bawah (berupa limbah tunggak dan limbah besar dari petak tebangan J-21 (27,14%) dan nilai rataan
batang bebas cabang) dan limbah di atas cabang pertama, untuk kedua petak tebangan (27,56%). Persentase limbah
limbah umumnya dalam kondisi baik. Jumlah limbah kayu hasil penelitian ini (27,56%) lebih kecil dibandingkan
hasil kegiatan penebangan disajikan pada Tabel 2. dengan persentase limbah pada di IUPHHK PT. Sumalindo
Jumlah limbah (Tabel 2) pada petak tebangan K-18 = Lestari Jaya sebesar 36% (Sasmita, 2003) dan persentase
64,05 m3 (12,81 m3/ha), petak tebangan J-21= 54,28 m3 limbah pemanenan kayu pada hutan tropika basah dari
(18,09 m3/ha) dan nilai total untuk kedua petak tebangan = suatu HPH di Kalimantan Timur yang mencapai 39,9%
118,33 m3 (15,45 m3/ha). Volume limbah per ha pada petak (Widianto, 1981 dalam Muhdi, 2006), sebaliknya lebih
tebangan J-21 lebih besar dari petak tebangan K-18 dan besar dibandingkan dengan persentase limbah pada PT.
nilai rataan untuk kedua petak tebangan, hal ini terjadi Salaki Summa Sejahtera sebesar 23,60% (Partiani, 2010).
karena penebangan pada petak J-21 lebih banyak Ketidak sempurnaan dalam pemotongan dan pembagian
meninggalkan limbah pada saat trimming pangkal dan batang, cacat pada pohon, dan minimnya pengawasan
ujung pohon (setelah pohon rebah) akibat cacat pada logs oleh manajemen pada kegiatan penebangan yang
(berupa cacat alami maupun cacat mekanis). dilakukan oleh regu tebang di petak tebangan
menyebabkan meningkatnya volume limbah yang terjadi.
3.3. Persentase Limbah terhadap Potensi Kayu (LHC)
Potensi hutan menurut Laporan Hasil Cruising/LHC
(Tabel 3) pada Petak tebangan K-18 = 229,32 m3 (45,86 3.4. Persentase Limbah terhadap Realisasi Penebangan
m3/ha), petak tebangan J-21= 200,03 m3 (66,68 m3/ha) dan (LHP)
nilai total untuk kedua petak tebangan = 429,35 m3 (53,67 Persentase limbah terhadap realisasi produksi logs
m3/ha). Besarnya potensi volume kayu per pohon (menurut berdasarkan Laporan Hasil Produksi/LHP (Tabel 4) pada
LHC) pada petak tebangan K-18 (8,49 m3/pohon) lebih petak tebangan K-18 (38,75%) lebih besar daari petak
besar dari petak tebangan J-21 (6,90 m3/pohon) dan nilai tebangan J-21 (37,25%) dan nilai rataan untuk kedua petak
rataan untuk kedua petak tebangan (7,67 m3/pohon). tebangan (38,00%). Struktur pemanfaatan potensi hutan
Potensi volume kayu per ha pada petak tebangan J-21 berupa kayu pada 56 pohon yang diamati (Tabel 3 dan 4)
lebih besar dari petak tebangan K-18 dan nilai rataan untuk adalah potensi hutan menurut LHC = 429,35 m3, besarnya
kedua petak tebangan. pemanfaatan kayu berupa logs (menurut LHP) = 311,02 m3

Tabel 2. Jumlah limbah kayu hasil kegiatan penebangan

Luas Jumlah Jenis limbah


Total Limbah
Petak*) plot pohon Tunggak tanpa Tunggak berbanir Batang
(ha) (batang) banir (m3) (m3) (m³) (m3) (m³/ha)
K-18 5 27 16,04 18,78 29,23 64,05 12,81
J-21 3 29 18,12 17,83 18,33 54,28 18,09
Total 8 56 34,16 36,61 47,56 118,33 30,90
Rataan - - - - - - 15,45

*) Jumlah plot: pada petak tebangan K-18 = 5 bh (5 ha) dan J-21 = 3 bh (3 ha)
Sumber: Data hasil pengamatan

Tabel 3. Persentase limbah kegiatan penebangan terhadap potensi kayu

Luas plot Jumlah pohon LHC Limbah


Petak *)
(ha) (batang) (m ) 3 3
(m /ha) 3
(m /pohon) (m ) 3
(%)

(1) (2) (3) (4) (5)=(4)/(2) (6)=(4)/(3) (7) (9) = ((7)/(4))*100

K-18 5 27 229,32 45,86 8,49 64,05 27,93


J-21 3 29 200,03 66,68 6,90 54,28 27,14
Total 8 56 429,35 53,67 7,67 118,33 55,07
Rataan - - - - - - 27,56

Sumber: Pengolahan data hasil pengamatan dan laporaan hasil cruising (LHC)
258 I. N. Surasana et al., Limbah Penebangan Kayu di Perusahaan PT. Dwimajaya Utama

Tabel 4. Persentase limbah terhadap realisasi penebangan

Luas plot Jumlah pohon LHP Limbah


Petak
(ha) (batang) (m3) (m3) (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)=((5)/(4))*100
K-18 5 27 165,29 64,05 38,75
J-21 3 29 145,73 54,28 37,25
Total 8 56 311,00 118,33 76,00
Rataan - - - - 38,00
Sumber: Pengolahan data hasil pengamatan dan laporaan hasil produksi (LHP)

(72,44% dari LHC) dan realisasi limbah kegiatan Pengukuran dan Penetapan Isi Kayu Bulat Rimba
penebangan = 118,33 m3 (27,56% dari LHC). Indonesia. Direktorat Jendral Pengusahaan Hutan,
Persentase limbah penebangan yang relatif lebih Jakarta.
rendah pada PT. Dwimajaya Utama menunjukkan bahwa Elias. 1988. Pembukaan Wilayah Hutan. Fakultas Kehutanan
tingkat pemanfaatan potensi hutan berupa kayu relatif IPB, Bogor.
besar dan penerapan RIL (Reduce Impact Logging) pada Matangaran, J.R., Partiani, T. and Purnamasari, D.R., 2013.
kegiatan penebangan relatif berhasil. Faktor eksploitasi dan kuantifikasi limbah kayu dalam
rangka peningkatan efisiensi pemanenan hutan
alam. Jurnal Bumi Lestari, 13(2), 384-393.
Muhdi. 2006. Limbah Pemanenan. Karya Tulis Departemen
4. KESIMPULAN Kehutanan. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Partiani, T. 2010. Limbah Pemanenan Kayu dan Faktor
Jumlah pohon yang ditebang pada petak tebangan K-18 Eksploitasi di Hutan Alam PT. Salaki Summa Sejahtera,
(RKT 2015) sebanyak 27 batang dengan volume LHC = Pulau Siberut Sumatera Barat. Skripsi Sarjana Fakultas
229,32 m3 (45,87 m3/ha), Volume LHP = 165,29 m3 (33,06 Kehutanan IPB, Bogor.
m3/ha) dan volume limbah = 64,05 (12,81 m3/ha). Sasmita, R. L., 2003. Limbah Pemanenan Hutan Alam di
Sedangkan pada petak tebangan J-21 (RKT 2016) jumlah Indonesia. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan IPB,
pohon yang ditebang sebanyak 29 batang dengan volume Bogor.
LHC = 200,03 m3 (66,67 m3/ha), Volume LHP = 145,73 m3 Soenarno, S., Edom, W., Basari, Z., Dulsalam, D., Suhartana,
(48,58 m3/ha) dan volume limbah = 54,28 m3 (18,09 m3/ha). S. and Yuniawati, Y., 2016. Faktor Eksploitasi Hutan Di
Potensi hutan total untuk kedua petak tebangan atau Sub Regional Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Hasil
kedua RKT: potensi kayu = 429,35 m3, realisasi produksi Hutan, 34(4), 335-348.
logs = 311,04 m3 (72,44%) dan limbah = 118,33 m3 Soenarno, S., Dulsalam, D. and Yuniawati, Y., 2020. Uji Coba
(27,56%). Nilai rataan potensi hutan untuk kedua petak Penebangan Kayu Berbasis Zero Waste Dan Ramah
tebangan: potensi hutan (LHC) = 53,67 m3/ha, hasil Lingkungan Pada Hutan Alam Di Provinsi Kalimantan
produksi logs (LHP) = 38,88 m3/ha dan limbah hasil Tengah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 38(2), 101-114.
penelitian = 14,79 m3/ha. Berdasarkan potensi kayu (LHC), Suwarna, U. and Matangaran, J.R., 2013. Ciri Limbah
maka tingkat efisiensi penebangan (LHP) = 72,44% dan Pemanenan Kayu di Hutan Rawa Gambut
besarnya limbah = 27,56%. Persentase limbah penebangan Tropika. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 18(1), 61-65.
yang relatif lebih rendah menunjukkan bahwa tingkat Tinambunan, D. 2001. Pemborosan Kayu dalam
penerapan RIL (Reduce Impact Logging) pada kegiatan Pemanenan Hutan Alam di Luar Pulau Jawa dan Upaya
penebangan relatif berhasil. Mengatasinya. Diakses dari: http//[Link]/
(29 Maret 2016).
Wulan, D.R., Itta, D. and Rezekiah, A.A., 2020. Analisis
Waktu Efektif Penebangan Jenis Akasia (Acacia
mangium) di Areal IUPHHK-HT PT INHUTANI II Pulau
DAFTAR PUSTAKA Laut Kalimantan Selatan. Jurnal Sylva Scienteae, 3(1),
Ditjen Pengusahaan Hutan. 1993. Petunjuk Cara 104-111.

Anda mungkin juga menyukai