BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Ruang
Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang didalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat
manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara
kelangsungan hidupnya (Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan
ruang). Ruang terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih
luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang jalur
di dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa
bangunan.
Penataan ruang kota merupakan bagian dari proses perancangan kota yang
berkonsentrasi pada masalah kualitas fisik lingkungan. Perencana maupun
perancang tidak dapat begitu saja menata semua elemen dan komponen yang ada.
Pada perencanaan kota baru atau pemukiman baru, hal tersebut dimungkinkan,
tetapi sulit pada lingkungan yang telah terbentuk. Pada konteks penataan ruang
kota, disarankan oleh Shirvani (1995) untuk lebih memilih intervensi-intervensi
kecil pada lingkungan fisik dan kultural dibanding melakukan transformasi
radikal. Hal ini sebagai bagian dari upaya mendapatkan lingkungan baru yang
mudah dan cepat di adaptasi oleh masyarakat.
2.2 Pengertian Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka adalah ruang yang bisa diakses oleh masyarakat baik secara
langsung dalam kurun waktu terbatas maupun secara tidak langsung dalam kurun
waktu tidak tertentu. Ruang terbuka itu sendiri bisa berbentuk jalan, trotoar, ruang
terbuka hijau seperti taman kota, hutan dan sebagainya.
Ruang terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih
luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur
di mana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa
bangunan (peraturan menteri dalam negeri nomor 1 tahun 2007). Dilihat dari
6
7
sifatnya ruang terbuka bisa dibedakan menjadi ruang terbuka privat (memiliki
batas waktu tertentu untuk mengaksesnya dan kepemilikannya bersifat pribadi,
contoh halaman rumah tinggal), ruang terbuka semi privat (ruang publik yang
kepemilikannya pribadi namun bisa diakses langsung oleh masyarakat, contoh
Senayan, Ancol) dan ruang terbuka umum (kepemilikannya oleh pemerintah dan
bisa diakses langsung oleh masyarakat tanpa batas waktu tertentu, contoh alun-
alun, trotoar). Ruang terbuka pun bisa diartikan sebagai ruang interaksi (Kebun
Binatang, Taman rekreasi).
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 ruang terbuka
hijau kawasan perkotaan adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan
perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat
ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika. Ruang terbuka hijau adalah area
memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang
sengaja ditanam (undang-undang republik Indonesia nomor 26 tahun 2007).
Ditinjau dari pengertian di atas, ruang terbuka tidak selalu harus memiliki bentuk
fisik (baca: lahan dan lokasi) definitif. Dalam bahasa arsitektur, ruang terbuka
yang telah berwujud fisik ini sering juga disebut sebagai ruang publik, sebutan
yang sekali lagi menekankan aspek [Link] definitif, Ruang
Terbuka Hijau (Green Open spaces) adalah kawasan atau areal permukaan tanah
yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat
tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan
prasarana, dan atau budidaya pertanian. Selain untuk meningkatkan kualitas
atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, RTH di tengah-tengah ekosistem
perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lansekap kota. Sejumlah
areal di perkotaan, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, ruang publik, telah
tersingkir akibat pembangunan gedung-gedung yang cenderung berpola
“kontainer” yakni bangunan yang secara sekaligus dapat menampung berbagai
aktivitas sosial ekonomi, seperti Mall, Perkantoran, Hotel, dan lain-lain.
Struktur alami sebagai tulang punggung RTH harus dilihat sebagai aset,
potensi, dan investasi kota jangka panjang yang memiliki nilai ekologi, sosial,
8
ekonomi, edukatif, evakuasi dan estetis. Bencana ekologis yang banyak terjadi,
seperti banjir, longsor, krisis air tanah, peningkatan suhu diwilayah perkotaan,
pemanasan bumi, serta perubahan iklim, pada umumnya diakibatkan oleh dampak
pembangunan kota yang kurang mempertimbangkan aspek ekologis. Konsep RTH
privat dan publik dapat dilihat pada Gambar 2.1
Sumber : ([Link]
Gambar 2.1 RTH Privat dan RTH Publik
Perencanaan RTH merupakan upaya luhur untuk menjaga kesinambungan
antar generasi, sehingga diharapkan akan dapat diperoleh arah, bentuk, fungsi, dan
peran RTH pada masing-masing kawasan, secara menyeluruh, baik dalam
kedudukannya sebagai ruang terbuka hijau alami: berupa habitat liar alami,
kawasan lindung, dan taman nasional, maupun RTH nonalami atau binaan,
sebagai hasil olah karya perencana tata ruang untuk mengalokasikan RTH
nonalami.
Permendagri No. 1 Tahun 2007, ruang terbuka dinyatakan sebagai ruang-
ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk area/kawasan
maupun dalam bentuk area memanjang/jalur, dimana dalam penggunaannya lebih
9
bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
adalah bagian dari ruang terbuka yang pemanfaatannya sebagai tempat tumbuh
tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam
(budidaya tanaman), seperti lahan pertanian, pertamanan, perkebunan dan
sebagainya (UU RI No. 26 Tahun 2007). RTH merupakan lahan atau areal
permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi
perlindungan habitat tertentu, daratan kota/lingkungan, pengaman jaringan
prasarana, dan budidaya pertanian (Perda No. 6 Tahun 1999).
Tujuan pengadaan dan penataan RTH di wilayah perkotaan menurut
Permendagri No. 1 Tahun 2007, yaitu : (1) menjaga keserasian dan keseimbangan
ekosistem lingkungan, (2) mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam
dan lingkungan buatan bagi kepentingan masyarakat, (3) meningkatkan kualitas
lingkungan yang sehat, indah, bersih, dan nyaman. Proporsi RTH pada wilayah
kota paling sedikit 30 % dari luas wilayah kota (UU RI No. 26 Tahun 2007).
Proporsi 30 % merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan
ekosistem kota, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih
yang diperlukan masyarakat, serta dapat meningkatkan nilai estetika kota. Fungsi
RTH di wilayah perkotaan, antara lain : (1) pengaman keberadaan kawasan
lindung perkotaan, (2) pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air, dan
udara, (3) tempat perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati, (4)
pengendali tata air, dan (5) sarana estetika kota (Permendagri No. 1 Tahun 2007).
Selain mempunyai fungsi, RTH juga mempunyai manfaat yang dijabarkan dalam
Permendagri No. 1 Tahun 2007, antara lain : (1) sarana untuk mencerminkan
identitas daerah, (2) sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan, (3) sebagai
sarana rekreasi dan aktivitas sosial, (4) meningkatkan nilai ekonomi lahan, (5)
memperbaiki iklim mikro, dan (6) meningkatkan cadangan oksigen. Menurut
Nurisyah (1997), manfaat RTH dapat diberikan melalui fungsionalisasi dan
penataan dari massa tanaman yaitu meningkatkan kualitas visual dan estetika
alami, perbaikan iklim mikro, memantau dan menjaga kualitas udara, penyaring
dan peredam kebisingan, konservasi tanah dan air, habitat kehidupan liar,
perlindungan plasma nutfah, bernilai ekonomi dan sosial. Menurut Permendagri
10
No. 1 Tahun 2007, lokasi RTH terbagi menjadi enam kawasan peruntukan ruang
kota, yaitu : (1) kawasan pusat perdagangan meliputi taman lingkungan sekitar
pusat perdagangan, (2) kawasan perdagangan meliputi taman lingkungan kantor,
dan jalur hijau jalan, (3) kawasan pendidikan (sekolah/kampus) meliputi jalan
lingkungan kampus, pusat lingkungan dan taman, (4) kawasan industri dan
fasilitasnya meliputi jalur hijau jalan, taman lingkungan pabrik, (5) kawasan
permukiman meliputi halaman rumah, taman lingkungan, fasilitas perumahan,
bantaran sungai, daerah rawan erosi, jalur hijau jalan raya dan jalan lingkungan.
(6) kawasan pertanian dan perkebunan meliputi ladang, kebun, sawah, hutan,
cagar alam, daerah rawan erosi, bantaran sungai dan konservasi pesisir pantai.
Jenis RTH kawasan perkotaan (Permendagri No. 1 Tahun 2007) yaitu : (1)
pertamanan meliputi taman kota, taman wisata, taman rekreasi, taman lingkungan
perumahan dan permukiman, taman lingkungan perkantoran, taman hutan raya,
(2) hutan kota, hutan lindung, dan cagar alam sebagai tempat rekreasi dan
konservasi, (3) kebun raya dan kebun binatang, (4) lapangan olah raga seperti
golf, sepak bola dan sebagainya, (5) pemakaman umum, (6) lahan pertanian, (7)
jalur hijau meliputi koridor utilitas, bluewaymeliputi bantaran sungai dan
kanal/danau (water front) meliputi pantai, (8) daerah penyangga (buffer zone), dan
(9) taman atap (roof garden).
2.3 Konsep Ruang Terbuka Hijau
Perencanaan RTH merupakan upaya luhur untuk menjaga kesinambungan
antar generasi, sehingga diharapkan akan dapat diperoleh arah, bentuk, fungsi, dan
peran RTH pada masing-masing kawasan, secara menyeluruh, baik dalam
kedudukannya sebagai ruang terbuka hijau alami: berupa habitat liar alami,
kawasan lindung, dan taman nasional, maupun RTH nonalami atau binaan,
sebagai hasil olah karya perencana tata ruang untuk mengalokasikan RTH
nonalami.
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah
diamanatkan bahwa proposal luas RTH minimal 30 persen dari luas kota, terdiri
dari atas RTH privat 10 persen, dimiliki masyarakat dan swasta dan RTH publik
11
20 persen, dikelola pemerintah daerah. Luas RTH minimal 30 persen itu bertujuan
menyeimbangkan ekosistem kota, baik sistem hidrologi, klimatologi untuk
menjamin udara bersih, maupun sistem ekologis lainnya, termasuk menjaga
keanekaragaman hayati dan meningkatkan estetika kota. Jadi undang-undang
tersebut telah mengakomodasi pembangunan kota yang tetap mempertimbangkan
fungsi kelestarian lingkungan (ekologis) atau pembangunan kota yang
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (urban sustainable development,
sustainabel cities). Hampir disemua kota besar di Indonesia, Ruang terbuka hijau
saat ini baru mencapai 10% dari luas kota. Padahal ruang terbuka hijau diperlukan
untuk kesehatan, arena bermain, olah raga dan komunikasi publik. Pembinaan
ruang terbuka hijau harus mengikuti struktur nasional atau daerah dengan standar-
standar yang ada.
RTH disusun dengan dasar perencanaan sebagai upaya untuk
mengantisipasi pertumbuhan dan perkembangan kegiatan pembangunan kota,
sebagai upaya menjaga keseimbangan, keserasian, dan keselarasan antara ruang
terbangun dengan RTH. Upaya ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 28
Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Pemerintah Nomor 36
Tahun 2005 tentang Pelaksanaan Undang-undang tentang Bangunan Gedung,
khususnya Pasal 25, Ayat (1), dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. Penataan
RTH pada suatu kota, bertujuan untuk:
1. Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan.
2. Mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan/
binaan di wilayah perkotaan.
3. Meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih, dan
nyaman.
Rencana tata ruang, maka kedudukan RTH merupakan ruang terbuka
publik yang direncanakan pada suatu kawasan, yang tersusun atas RTH dan ruang
terbuka nonhijau. Ruang terbuka hijau, memiliki fungsi dan peran khusus pada
masing-masing kawasan yang ada pada setiap perencanaan tata ruang
kabupaten/kota, yang direncanakan dalam bentuk penataan tumbuhan, tanaman,
12
dan vegetasi, agar dapat berperan dalam mendukung fungsi ekologis, sosial
budaya, dan arsitektural, sehingga dapat memberi manfaat optimal bagi ekonomi
dan kesejahteraan bagi masyarakat, sebagai berikut.
1. Fungsi ekologis; RTH diharapkan dapat memberi kontribusi dalam
peningkatan kualitas air tanah, mencegah terjadinya banjir, mengurangi
polusi udara, dan pendukung dalam pengaturan iklim mikro.
2. Fungsi sosial budaya; RTH diharapkan dapat berperan terciptanya ruang
untuk interaksi sosial, sarana rekreasi, dan sebagai penanda (tetenger/
landmark) kawasan.
3. Fungsi arsitektural/estetika; RTH diharapkan dapat meningkatkan nilai
keindahan dan kenyamanan kawasan, melalui keberadaan taman, dan jalur
hijau.
4. Fungsi ekonomi; RTH diharapkan dapat berperan sebagai pengembangan
sarana wisata hijau perkotaan, sehingga menarik minat masyarakat/
wisatawan untuk berkunjung ke suatu kawasan, sehingga secara tidak
langsung dapat meningkatkan kegiatan ekonomi
Idealnya sebuah kota memiliki RTH minimal 30% dari total luas kota,
mengacu pada KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992), dan dipertegas pada
KTT Johannesburg, Afrika Selatan (2002). Bagi wilayah dengan ciri kekotaan
kuat, senantiasa akan dihadapkan pada kondisi semakin menurunnya kualitas dan
kuantitas RTH yang dapat dialokasikan, karena desakan pertumbuhan sarana dan
prasarana kota, sebagai konsekuensi dari dinamika meningkatnya kebutuhan
warga kota akan wadah kegiatan. Manfaat yang diharapkan dari perencanaan RTH
di kawasan perkotaan, adalah :
1. Sarana untuk mencerminkan identitas (citra) daerah
2. Sarana penelitian, pendidikan, dan penyuluhan
3. Sarana rekreasi aktif dan rekreasi pasif, serta interaksi sosial
4. Meningkatkan nilai ekonomis lahan perkotaan
5. Menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah
6. Sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula
7. Sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat
13
8. Memperbaiki iklim mikro, dan
9. Meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.
Upaya perencanaan RTH dilakukan melalui pengaturan dan upaya untuk
memberi arah pada berbagai kegiatan pembangunan, agar perubahan yang terjadi
dapat berkembang pada kondisi yang lebih baik dari yang ada pada saat ini,
sehingga pada akhirnya dapat memberi ciri yang spesifik dari sifat kehidupan
kawasan yang mantap dan dinamis, namun tetap dapat menjaga keseimbangan
antara ruang terbangun dengan ruang terbuka (hijau). Dengan demikian
diharapkan dapat diperoleh gambaran tentang potensi yang selanjutnya akan
menjadi RTH yang spesifik pada masing-masing kawasan, sehingga dapat
menumbuhkan minat para pelaku pembangunan untuk berpartisipasi dalam
pengembangan RTH kawasan yang bersangkutan.
RTH di rencanakan untuk memperoleh masukan atas berbagai
permasalahan yang secara spesifik terjadi pada setiap kawasan kota yang nantinya
akan dialokasikan RTH, baik yang berupa karakteristik dan potensi kawasan,
pengaturan penggunaan lahan dan pengalokasian ruang kawasan, penyempurnaan
bentuk dan skala RTH, sisi kemanfaatan bagi warga kota, dan berbagai
perencanaan vegetasi, dan instrumen pendukung sebagai bagian dari RTH, agar
RTH dapat berperan lebih hidup untuk memberi manfaat optimal bagi kawasan
maupun kota secara keseluruhan.
Dengan demikian, perencanaan RTH tidak selalu dalam bentuk „mutlak‟
hanya unsur vegetatif (pohon-pohon) saja, namun dapat diselipkan di dalamnya
berupa sarana kegiatan untuk aktivitas pendukung yang lain, sehingga dapat
diperoleh manfaat sebesar-besarnya untuk berbagai kemungkinan, tidak hanya
dari sisi ekologis, namun juga dari sisi ekonomis, sosial budaya, dan arsitektural.
Yang perlu menjadi penekanan, adalah dominasi unsur vegetatif, merupakan
bagian utama yang perlu diperhatikan, yang membedakan dengan perencanaan
ruang terbuka yang lain.
14
Tabel 2.1
Standar Dan Kebutuhan Akan RTH
Jumlah
Penduduk Jumlah Standar/
Unit Jenis Ruang
yang Luas/Unit Kapita Lokasi
Lingkungan Terbuka Hijau
mendukung (m2) (m2/jiwa)
(Jiwa)
L-I Tempat 250 250 1,0 Di tengah kelompok
bermain anak- pemukiman
anak
L-II Taman + 3.000 1.500 0,5 Di pusat kegiatan RW
Lapangan
olahraga
L-III Taman + 30.000 10.000 0,33 Di kelompokkan
Lapangan dengan sekolah
olahraga (kelurahan)
L-IV Taman + 200.000 40.000 0,2 Di kelompokkan
Stadion kecil dengan sekolah
(kecamatan)
L-V Taman + 1.000.000 150.000 1,5 Di pusat
Kompleks wilayah/tersendiri
stadion
Pemakaaman 0,58 Di luar pusat wilayah
Hutan Kota 6,0 Di gabung dalam
Penyempurnaan
kesatuan kelompok
Jalur Hijau 15,0 Tersebar
Sumber : Dirjen Penataan Ruang Departemen PU, 2008
Perencanaan RTH pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan
kualitas lingkungan, baik berupa lingkungan hidup maupun lingkungan
binaannya. Tidak perlu dipersoalkan apakah RTH direncanakan pada suatu square
(ruang terbuka) yang benar-benar masih kosong, ataupun penataan kembali RTH
yang sudah ada dengan lebih mengoptimalkan peran dan fungsinya, agar dapat
lebih memberi manfaat bagi warga kota. Dalam konteks ini, yang harus menjadi
pegangan adalah adanya peningkatan peran dan fungsi RTH, tidak hanya secara
fisik dalam bentuk penambahan vegetasi dan instrumen pendukung yang lain,
namun lebih dari itu harus dapat memberi stimuli pada kesadaran warga kota akan
pentingnya RTH yang secara langsung dapat memberi tingkat kenyamanan lebih
sebagai penyeimbang lingkungan terbangun.
15
2.4 Peranan Ruang Terbuka Hijau Bagi Suatu Kota
Kota merupakan suatu pusat permukiman penduduk yang besar dan luas
yang tidak hanya merupakan kumpulan gedung-gedung dan sarana fisik lainnya.
Komponen kota adalah antara lingkungan fisik kota dan warga kota yang selalu
berinteraksi selama proses perkembangan kota. Peranan ruang terbuka hijau bagi
suatu kota dapat dilihat pada hal-hal sebagai berikut :
1. Terhadap kualitas lingkungan kota, Penataan ruang terbuka hijau secara tepat
akan mampu berperan meningkatkan kualitas atmosfer kota, penyegaran
udara, menurunkan suhu kota, menyapu debu permukaan kota, menurunkan
kadar polusi udara, dan meredam kebisingan. Penelitian Embleton dalam
Hakim dan Utomo (2007), menyatakan bahwa 1 (satu) hektar ruang terbuka
hijau dapat meredam suara pada 7 dB per 30 meter jarak dari sumber suara
pada frekuensi kurang dari 1.000 CPS atau penelitian Carpenter (1975) dapat,
meredam kebisingan 25-80%. Pada umumnya ruang terbuka hijau didominasi
oleh tanaman dan tumbuhan dimana unsur ini banyak berpengaruh terhadap
kualitas udara kota. Tanaman dapat menciptakan iklim mikro yaitu adanya
penurunan udara sekitar, kelembaban yang cukup dan kadar O2 yang
bertambah. Menurut hasil penelitian Gerakls dalam Hakim dan Utomo
(2007), satu hektar ruang terbuka hijau dapat menghasilkan 0,6 ton oksigen
untuk konsumsi 1.500 orang per hari. Beberapa penelitian juga
mengungkapkan bahwa tanaman dengan kriteria tertentu dapat
meredam/mengurangi kebisingan.
2. Terhadap kelestarian lingkungan.
a. Menunjang tata guna dan pelestarian air. Kondisi tata air pada cekungan
artesis pada beberapa kota dapat diketahui dengan merembesnya air laut
jauh ke daratan, semakin keringnya sumber-sumber air bawah tanah,
menurunnya kualitas air. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan
pengembangan sistem ruang terbuka hijau yang terencana seperti
program kolam retensi, mengaliminir banjir, perbaikan daerah aliran
sungai, dan perluasan area daerah peresapan air hujan.
16
b. Menunjang tata guna dan pelestarian tanah. Suatu penetapan peruntukan
yang kurang bijaksana dapat menyebabkan ekosistem terganggu. Pola
ruang terbuka hijau dalam sistem tata ruang kota dapat dipergunakan
sebagai alat pengendali tata guna tanah secara luas dan dinamis dan
untuk memperbaiki kondisi tanah itu secara alamiah. Sehingga perlu
adanya program-program perbaikan tanah kritis, pencegahan erosi,
peningkatan kualitas lingkungan (permukiman, industri, jalur
transportasi, dan sebagainya).
c. Menunjang pelestarian plasma nutfah. Dengan adanya pengembangan
ruang terbuka hijau maka diharapkan dapat diterapkan program
penghijauan pada ruang-ruang terbuka hijau kota. Hal ini memungkinkan
adanya penerapan berbagai jenis tanaman yang dapat memberikan
keanekaragaman hayati. Dengan demikian ruang terbuka hijau dapat
berfungsi sebagai tempat pelestarian keanekaragaman jenis flora maupun
fauna dalam upaya pelestarian plasma nutfah.
d. Menyegarkan udara atau sebagai paru-paru kota. Fungsi menyegarkan
udara dengan mengambil CO2 dalam proses fotosintesis dan
menghasilkan O2 yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk
pernapasan. Kriedemann (1977), mengemukaan bahwa fotosintesis
adalah suatu proses mendasar yang sangat penting untuk tanaman
hortikultura karena 90-95% dari berat basah tanaman merupakan hasil
langsung dari aktivitas fotosintesis.
Sedangkan latar belakang yang mendasari arti penting keberadaan suatu
ruang terbuka hijau pada suatu perkotaan adalah sebagai berikut :
1. Kota mempunyai luas yang tertentu dan terbatas, Permintaan akan
pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk
pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi,
industri dan transportasi, selain sering mengubah konfigurasi alami
lahan/bentang alam perkotaan juga menyita lahan-lahan tersebut dan berbagai
bentukan ruang terbuka lainnya. Kedua hal ini umumnya merugikan
keberadaan RTH yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak
17
ekonomis. Di lain pihak, kemajuan alat dan pertambahan jalur transportasi
dan sistem utilitas, sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan warga kota,
juga telah menambah jumlah bahan pencemaran dan telah menimbulkan
berbagai ketidak nyamanan di lingkungan perkotaan. Untuk mengatasi
kondisi lingkungan kota seperti ini sangat diperlukan RTH sebagai suatu
teknik bioengineering dan bentukan biofilter yang relatif lebih murah, aman,
sehat, dan menyamankan.
2. Tata ruang kota penting dalam usaha untuk efisiensi sumber daya kota dan
juga efektifitas penggunaannya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya
lainnya. Ruang-ruang kota yang ditata terkait dan saling berkesinambungan
ini mempunyai berbagai pendekatan dalam perencanaan dan
pembangunannya. Tata guna lahan, sistem transportasi, dan sistem jaringan
utilitas merupakan tiga faktor utama dalam menata ruang kota. Dalam
perkembangan selanjutnya, konsep ruang kota selain dikaitkan dengan
permasalahan utama perkotaan yang akan dicari solusinya juga dikaitkan
dengan pencapaian tujuan akhir dari suatu penataan ruang yaitu untuk
kesejahteraan, kenyamanan, serta kesehatan warga dan kotanya.
3. RTH perkotaan mempunyai manfaat kehidupan yang tinggi Berbagai fungsi
yang terkait dengan keberadaannya (fungsi ekologis, sosial, ekonomi, dan
arsitektural) dan nilai estetika yang dimilikinya (obyek dan lingkungan) tidak
hanya dapat dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan untuk
kelangsungan kehidupan perkotaan tetapi juga dapat menjadi nilai
kebanggaan dan identitas kota. Untuk mendapatkan RTH yang fungsional dan
estetik dalam suatu sistem perkotaan maka luas minimal, pola dan struktur,
serta bentuk dan distribusinya harus menjadi pertimbangan dalam
membangun dan mengembangkannya. Karakter ekologis, kondisi dan
keinginan warga kota, serta arah dan tujuan pembangunan dan perkembangan
kota merupakan determinan utama dalam menentukan besaran RTH
fungsional ini.
4. Keberadaan RTH penting dalam mengendalikan dan memelihara integritas
dan kualitas lingkungan. Pengendalian pembangunan wilayah perkotaan
18
harus dilakukan secara proporsional dan berada dalam keseimbangan antara
pembangunan dan fungsi-fungsi lingkungan.
2.5 Peraturan Penataan Ruang
Pedomaan undang-undang dan peraturan yang digunakan sebagai
pedoman dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Sekretariat
Negara, Jakarta.
2. Undang-Undang No. 38 tahun 2004 Tentang Jalan,
3. Undang-undang nomor 26 tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
4. Permen PU No 63 Tahun 1993 Tentang Sempadan Sungai.
5. Permen PU No 11 Tahun 2006 Kriteria Dan Penetapan Daerah Sungai
6. Kementerian Pekerjaan Umum. 2008. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Nomor: 05/PRT/M/2008-Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang
Terbuka Hijau di Perkotaan.
7. Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, 2007. Peraturan Menteri
Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Penataan
Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. Depdagri. Jakarta.
2.6 Kebijakan Penataan Ruang
Perencanaan wilayah adalah perencanaan penggunaan ruang wilayah dan
perencanaan aktivitas pada ruang wilayah tersebut. Perencanaan wilayah
mencakup kegiatan penataan ruang, sedangkan perencanaan aktivitas tercakup
dalam kegiatan perencanaan pembangunan wilayah. Perencanaan wilayah
memandang suatu wilayah sebagai satu kesatuan ruang yang terpadu dan
menggambarkan bagaimana keadaan suatu wilayah di masa datang secara
komprehensif. Perencanaan wilayah menjadi penting karena beberapa
argumentasi yaitu; potensi setiap wilayah terbatas dan berbeda, dampak kemajuan
teknologi tidak seimbang dengan kemampuan rehabilitasi dan antisipasi
dampaknya, perlunya upaya mengatasi masalah lahan yang terbatas untuk setiap
aktivitas manusia, sifat wilayah yang lintas dan multi sektor serta lintas daerah
19
memerlukan penanganan yang secara komprehensif (Tarigan, 2004).
Pemanfaatan ruang merupakan bagian dari perencanaan penataan ruang,
yang diatur berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa tata
ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik yang
direncanakan maupun yang tidak. Berdasarkan pengertian tersebut, penataan
ruang pada hakekatnya adalah proses perencanaan ruang, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang. Selain itu, penataan ruang dapat diartikan
sebagai upaya mewujudkan tata ruang yang terencana, dengan memperhatikan
keadaan lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial, interaksi
antar lingkungan, tahapan pengelolaan dan pembangunan serta pembinaan
kemampuan kelembagaan dan sumber daya manusia yang ada berdasarkan
kesatuan wilayah nasional dan ditujukan bagi sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat. Berdasarkan undang-undang di atas, produk penataan ruang
dibedakan menjadi penataan raung wilayah Nasional (RTRW Nasional), wilayah
Provinsi (RTRW Provinsi), dan wilayah Kabupaten/Kota (RTRW
Kabupaten/Kota). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang tentang Ketentuan Umum Pasal 1 disebutkan bahwa yang
dimaksud dengan ruang, tata ruang dan penataan ruang adalah sebagai berikut:
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, laut dan udara termasuk
ruang di dalam bumi sebagai kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk
lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
2. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
3. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Penataan Ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama,
wilayah administratif, kegiatan dan nilai strategis kawasan Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007) sebagai berikut :
1. Penataan ruang berdasarkan sistem terdiri atas sistem wilayah dan sistem
internal perkotaan.
2. Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas kawasan
20
lindung dan kawasan budi daya.
3. Penataan ruang berdasarkan wilayah administratif terdiri atas penataan
ruang wilayah nasional, penataan ruang wilayah provinsi, dan penataan
ruang wilayah kabupaten/kota.
4. Penataan ruang berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas penataan ruang
kawasan perkotaan dan penataan ruang kawasan perdesaan.
5. Penataan ruang berdasarkan nilai strategis kawasan terdiri atas penataan
kawasan strategis nasional, penataan kawasan strategis provinsi, dan
penataan kawasan strategis kabupaten/kota.
Secara garis besar dalam penataan ruang yang utama adalah penetapan kawasan
yaitu meliputi penataan kawasan fungsi lindung dan kawasan budidaya pada
wilayah administrasi tertentu (provinsi dan kabupaten/kota), kemudian baru
menetapkan fungsi atas aspek kegiatan yang terjadi atau yang diinginkan. Di
dalam penataan ruang terdapat rencana tata guna lahan yang mengatur daerah-
daerah yang dapat digunakan bagi berbagai jenis budi daya misalnya permukiman,
lahan pertanian, industri, perdagangan dan jasa, dan lain-lain (Hermit, 2008).