0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan11 halaman

Memahami Konsep Pembelajaran Mikro

Dokumen ini membahas hakikat pembelajaran mikro, yang merupakan pendekatan pelatihan keterampilan mengajar bagi calon guru. Pembelajaran mikro bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengajar melalui latihan yang terfokus dan terstruktur, serta memberikan umpan balik untuk pengembangan profesional. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan karakteristik, tujuan, fungsi, manfaat, komponen, dan langkah-langkah dalam microteaching.

Diunggah oleh

sriyunisitorus1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan11 halaman

Memahami Konsep Pembelajaran Mikro

Dokumen ini membahas hakikat pembelajaran mikro, yang merupakan pendekatan pelatihan keterampilan mengajar bagi calon guru. Pembelajaran mikro bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengajar melalui latihan yang terfokus dan terstruktur, serta memberikan umpan balik untuk pengembangan profesional. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan karakteristik, tujuan, fungsi, manfaat, komponen, dan langkah-langkah dalam microteaching.

Diunggah oleh

sriyunisitorus1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HAKIKAT PEMBELAJARAN MIKRO

Setelah selesai mempelajari materi ini, pembaca diharapkan dapat memiliki


kemampuan-kemampuan sebagai berikut:
1. Dapat memahami latar belakang pembelajaran mikro sebagai salah
satu pendekatan atau model pembelajaran untuk mempersiapkan dan
meningkatkan kemampuan mengajar.
2. Dapat memahami dan menganalisis pengertian pembelajaran mikro
sebagai dasar untuk menunjang kelancaran proses latihan melalui
pendekatan pembelajaran mikro.
3. Dapat memahami tujuan dan manfaat pembelajaran mikro sebagai
salah satu pendekatan atau model pembelajaran untuk
mempersiapkan dan meningkatkan kemampuan guru yang
professional.
4. Mampu mendeskripsikan tentang pengertian komponen pembelajaran
5. 2. Mampu memaparkan apa saja yang termasuk komponen
keterampilan dasar mengajar yang ada
6. di Microteaching
7. 3. Mampu mendeskripsikan jenis-jenis komponen-komponen
pembelajaran
8. 4. Mampu memaparkan hubungan antar komponen pembelajaran
HAKIKAT PEMBELAJARAN MIKRO

1. Latar Belakang
Pelatihan keterampilan mengajar ini diketahui mulai berkembang di
tahun 1960-an di Inggris, tepatnya di Stanford University. Teknik
penyederhanaan ini mulai dikembangkan oleh Stanford University
ketika paham behaviorisme (aliran perilaku) mulai mempengaruhi
proses belajar. Penerapannya kemudian mulai dilakukan, salah
satunya oleh Dwight Allen dan teman-temannya di tahun 1961.
Metode pelatihan tersebut kemudian dikenal dengan istilah
Pendekatan Stanford dan diterapkan pertama kali di University of
California. Perlahan, program Pendekatan Stanford kemudian
dilaksanakan secara lebih luas.
Memasuki tahun 1963, Stanford University kemudian
memperkenalkannya dengan sebutan Program Pendidikan
Eksperimental yang mendapat dukungan dari Ford Foundation.
Program pendidikan ini kemudian mencoba menyederhanakan
kegiatan mengajar yang kemudian menyebar sampai ke berbagai
perguruan tinggi.
Mulai dari perguruan tinggi di Amerika dan berlanjut ke Eropa. Tahun
1971, metode pelatihan micro teaching kemudian dikenal lebih luas
dan masuk ke kawasan Asia di negara Malaysia, Singapura, dan juga
Indonesia.
Perguruan tinggi yang mengelola fakultas atau sekolah tinggi
keguruan dan ilmu kependidikan berkewajiban untuk mempersiapkan
mahasiswa calon guru yang professional dan untuk dapat memahami
kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan bidang keahlian
dan keprofesian guru dalam berkarya . Salah satu upaya untuk
mewujudkannya adalah microteaching.
Micro teaching adalah suatu latihan keterampilan mengajar bagi para
calon guru yang terdiri dari beberapa peserta dan waktu yang
terbatas, yang bertujuan untuk melatih beberapa kompetensi
mengajar di bawah asuhan seorang dosen dan atau guru pamong.
Pembelajaran micro teaching bertujuan untuk membina calon guru
agar memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang proses
pembelajaran. Di samping itu, tujuan lain yang ingin diperoleh dari
pembelajaran micro teaching adalah menumbuhkan rasa percaya diri
calon guru sehingga ia bisa mengajar dan mengelola yang
sesungguhnya.
Microteaching diarahkan dalam rangka pembentukan kompetensi guru
sebagai agen pembelajaran seperti yang termuat dalam UU Nomor 14
Tahun 2005.
2. Pengertian Microteaching
Istilah micro teaching berasal dari dua kata, pertama kata “micro”
yang memiliki arti kecil, terbatas, sempit, kata “teaching” yang
memiliki arti mengajar. Jadi dilihat dari bentuk katanya, istilah ini
memiliki definisi sebagai kegiatan mengajar yang segala aspek di
dalamnya kemudian diperkecil atau
disederhanakan. Penyederhanaan kegiatan mengajar ini akan
memudahkan calon tenaga pendidik atau pengajar untuk memahami
dasar dalam mengajar. Sekaligus mempelajari dan mempraktekan
teknik dalam menyampaikan materi yang baik dan benar di kelas.
Jika langsung mengajar banyak peserta didik dan materi yang hanya
bisa dibahas 1 jam penuh calon pendidik bisa jadi bingung dan
pusing harus memulai darimana, dan bisa jadi belum memiliki
kesiapan untuk menjelaskan materi yang cukup banyak dan
kompleks. Sebagai langkah awal diberikan pelatihan yang sederhana;
mengajar dengan peserta yang terbatas, waktu yang dibatasi, dan
materi yang sengaja dibuat sedikit.
Pengertian microteaching menurut para ahli :
1. Menurut Cooper dan Allen (1971) dalam (Khasanah, 2020)
Pengajaran Mikro adalah suatu situasi pengajaran yang
dilaksanakan dalam waktu dan jumlah siswa yang terbatas, yaitu
selama 5 – 20 menit dengan jumlah siswa sebanyak 3 – 10 orang.
2. Mc. Laughlin dan Moulton (1975) (dalam Sukini, 2015).
mendefinisikan “Micro Teaching is a Performance training method
designed to isolated the component part of teaching process, so
that the trainee can master each component one by one in a
simplified teaching situation”. Pembelajaran mikro merupakan
suatu metode untuk melatih penampilan guru dalam pendekatan
beberapa komponen proses pembelajaran sehingga komponen
tersebut dapat dilaksanakan satu per satu pada kondisi yang
sederhana
3. Menurut Waskito (1975) dalam (Mansyur, 2017) Pembelajaran mikro
adalah suatu metode belajar mengajar atas dasar performance
yang tekniknya dengan cara mengsolasikan komponen – komponen
proses belajar mengajar sehingga calon guru dapat menguasai
setiap komponen satu per satu dalam situasi yang disedrhanakan
atau dikecilkan.
4. Menurut Siregar (2019), Pembelajaran mikro adalah suatu kegiatan
latihan belajar mengajar dalam situasi laboratoris. Artinya,
pembelajaran mikro sebenarnya juga merupakan real teaching
tetapi dalam bentuk mini (skala kecil) yang dimaksudkan sebagai
salah satu pendekatan yang digunakan untuk melatih, membekali
serta memperbaiki keterampilan mengajar (teaching skill) bagi
guru/calon guru

3. Karakteristik Microteaching
Karakteristik yang khas dalam microteaching adalah :
1. Merupakan pembelajaran dalam skala kecil.
2. Komponen – Komponen dalam Pengajaran yang di-MIKRO-kan atau
di-sederhana-kan. Dalam pengajaran sesungguhnya (Real Teaching)
lingkup pembelajaran biasa tidak dibatasi, tetapi dalam
microteaching terbatas pada satu kompetensi dasar atau satu hasil
belajar dan satu materi pokok bahasan tertentu.
3. Alokasi waktunya juga terbatas antara 10 – 15 menit, dengan
jumlah siswa juga dikecilkan hingga berkisar 7 – 10 siswa
4. Keterampilan dasar yang dilatihkan juga terbatas (terisolasi).
Dengan demikian, ciri khas microteaching adalah :pengajaran yang
disederhanakan dalam hal: jumlah siswa, alokasi waktu,
keterampilan, kompetensi dasar, dan materi pembelajaran. Setiap
calon guru membuat persiapan mengajar yang kemudian
dilaksanakan dalam proses pembelajaran bersama siswa/teman
sejawat (Peer Teaching) dengan seting kondisi dan konteks
kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya.
4. Tujuan Microteaching
Secara umum, pembelajaran mikro bertujuan untuk memberi bekal
keterampilan mengajar bagi para calon pendidik.
Menurut Helmiati (2013 :19), "Pembelajaran mikro bertujuan
membekali calon tenaga pendidik beberapa keterampilan dasar
mengajar."
Barnawi dan Arifin (2016:25-26) mengemukakan tentang tujuan
micro teaching sebagai berikut: Tujuan utama micro teaching ialah
untuk membekali dan/atau meningkatkan performance calon guru
atau guru dalam mengadakan kegiatan belajar mengajar melalui
pelatihan keterampilan mengajar. Micro teaching digunakan untuk
mempertemukan antara teori dan praktik pengajaran pada
mahasiswa calon guru. Selain itu, micro teaching digunakan untuk
menyiapkan calon guru sebelum praktik mengajar di sekolah.
Halimah (2017:80) menjelaskan tujuan micro teaching sebagai
berikut: Micro teaching bertujuan untuk memberikan seluas luasnya
bagi calon guru untuk mengeksplorasi semua kelebihannya,
memberi kesempatan untuk mengukur kemampuannya. Dengan
demikian, maka para calon guru dapat mengevaluasi diri dan
merefleksi diri sehingga mengetahui sejauh mana kemampuan dan
penampilannya dalam mengajar.
Dwight Allen dalam Asril (2017:46) menjelaskan tujuan micro
teaching bagi calon guru adalah: 1) Memberi pengalaman mengajar
yang nyata dan latihan sejumlah keterampilan dasar mengajar. 2)
Calon guru dapat mengembangkan keterampilan mengajarnya
sebelum mereka terjun kelapangan. 3) Memberikan kemungkinan
bagi calon guru untuk mendapatkan bermacam-macam
keterampilan dasar mengajar. Sedangkan bagi guru memberikan
penyegaran dalam program pendidikan, dan mendapatkan
pengalaman mengajar yang bersifat individual untuk
mengembangkan profesi, serta mengembangkan sikap terbuka bagi
guru terhadap pembaruan.
Dari beberapa paparan di atas mengenai tujuan micro teaching,
dapat disimpulkan bahwa tujuan dari micro teaching adalah untuk
melatih keterampilan dasar mengajar calon guru dan untuk
memberikan kesempatan bagi calon guru untuk mengeksplorasi
kelebihan yang ia miliki
5. Fungsi Micro Teaching
Menurut Barnawi dan Arifin (2016:24), micro teaching bagi calon guru
berfungsi memberikan pengalaman baru dalam belajar mengajar,
sedangkan bagi guru micro teaching berfungsi memberi penyegaran
keterampilan dan sebagaui sarana umpan balik atas kinerja
mengajarnya. Menurut Suwarna dalam Barnawi dan Arifin (2016:24),
micro teaching berfungsi memberikan kesempatan kepada mahasiswa
calon guru untuk menentukan dirinya sebagai calon guru, sebagai
sarana untuk memperoleh umpan balik atas kinerja mengajar
seseorang. Melalui micro teaching, baik calon guru maupun guru dapat
memperoleh informasi tentang kekurangan dan kelebihan dalam
mengajar. Apa saja kelebihan yang perlu dipertahankan dan apa saja
kekurangan yang dapat diperbaiki. Selain itu, melalui micro teaching
guru depat mencoba metode atau model pembelajaran baru sebelum
digunakan pada kelas yang sebenarnya.
Berdasarkan uraian penjelasan dari beberapa ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa fungsi micro teaching adalah sebagai sarana bagi
calon guru untuk memaksimalkan keterampilan mengajar dan sebagai
sarana untuk introspeksi cara mengajar dimana letak kekurangan dan
kelebihannya.
6. Manfaat Micro Teaching
Menurut Asril (2017:53) manfaat pembelajaran micro teaching sebagai
berikut: 1) Mengembangkan dan membina keterampilan tertentu calon
guru dalam mengajar. 2) Keterampilan mengajar terkontrol dan dapat
dilatihkan. 3) Perbaikan atau penyempurnaan secara cepat dapat
segera dicermati. 4) Latihan penguasaan keterampilan mengajar lebih
baik. 5) Saat latihan berlangsung calon guru dapat memusatkan
perhatian secara objektif. 6) Menuntut dikembangkan pola observasi
yang sistematis dan objektif. 7) Mempertinggi efisiensi dan efektifitas
penggunaan sekolah dalam waktu praktik mengajar yang relative
singkat.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat yang akan
didapatkan pada saat calon guru mengikuti praktik micro teaching
sebagai berikut :
1. Calon guru dapat memperbaiki kekurangannya pada saat
mengajar di micro teaching ketika terjun ke dunia mengajar
sesungguhnya.
2. Calon guru dapat mengetahui kelebihannya dan dapat
mengembangkan kelebihan tersebut.
3. Dengan mengikuti micro teaching keterampilan mengajar calon
guru akan meningkat.
7. Komponen Microteaching
Komponen dalam pengajaran mikro meliputi antusiasme guru,
menciptakan kesiapan melalui pernyataan awal atau kalimat topik,
penjelasan yang efektif, pengulangan yang direncanakan, dan
pernyataan penutup atau pesan-pesan utama dengan ringkasan
penjelasan.
Menurut Allen and Ryan (1969) dalam bukunya Micro Teaching mengemukakan ada 14
komponen keterampilan mengajar antara lain :
1. Stimulus Variation(variasi stimulus)
2. Set Induction (siasat memulai pembelajaran)
3. Closure (menutup pembelajaran)
4. Silence And Non Verbal Cues (isyarat)
5. Reinforcement of student Partisipation (penguatan dalam pembelajaran)
6. Fluency in Asking Questions (keaktifan bertanya)
7. Probing Questions (pertanyaan melacak)
8. Higher Order Questions (bertanya tingkat tinggi)
9. Divergent Questions (pertanyaan belum pasti)
10. Recognizing Attending Behavior(mengenaltingkah laku yang tampak)
11. Illustrating and Use os Example (pengilustrasian dan penggunaan contoh)
12. Lecturing (berceramah)
13. Planned repetition (pengulangan yang direncanakan)
14. Copleteness of Comunication (kelengkapan berkomunikasi)
Menurut bahan Penataran Wawasan Kependidikan Guru SMTP/SMTA tahun 1994 yang
diterbitkan oleh Depdikbud RI, ada sembilan komponen ketrampilan mengajar yang dapat
diobservasi dalam microteaching antara lain: 1. bertanya dasar, 2. bertanya lanjutan, 3.
memberi penguatan, 4. mengadakan variasi mengajar, 5. menjelaskan pelajaran (penyajian
bahan), 6. membuka dan menutup pelajaran, 7. mengelola kelas, 8. membimbing diskusi
kelompok kecil, 9. mengajar kelompok kecil dan perorangan.
Berdasarkan beberapa refensi yang adasecara umum microteaching mencakup ketrampilan
sebagai berikut:
1. ketrampilan membuka pelajaran,
2. ketrampilan verbal dan non verbal,
3. ketrampilan menggunakan media pembelajaran,
4. ketrampilan memilih metode,
5. ketrampilan menerangkan,
6. ketrampilan bertanya,
7. ketrampilan mengadakan assessment (penjajagan)
8. ketrampilan mengadakan motivasi,
9. ketrampilan menutup pelajaran.

8. Langkah-langkah Microteaching
Pada dasarnya microteaching ditempuh melalui lima langkah berikut:
1. pengenalan/pemahaman tentang konsep microteaching,
2. penyajian model dan diskusi,
3. perencanaan/persiapan pembelajaran,
4. pelaksanaan/praktik pembelajaran,
5. diskusi/umpan balik,
6. praktik pembelajaran ulang bagi yang belum berhasil
Pada waktu praktik mengajar perlu diadakan pengamatan (observasi) oleh pengamat (observer)
baik dari guru, teman atau pengamat lain. Pengamatan dapat juga dilakukan seusai praktik
mengajar melalui rekaman, rekaman video, tape recorder, dan semacamnya. Dari hasil
pengamatan selanjutnya diadakan diskusi terhadap ketrampilan yang telah dipraktikkannya.
Kemudian dari hasil kesimpulan diskusi dan pengamatan ini diadakan praktik mengajar ulang
oleh praktikan yang sama dengan komponen ketrampilan mengajar yang sama, begitu
seterusnya. Pengulangan ini tentu tergantung pada tersedianya waktu.
Dari langkah pengamatan, diskusi dan pengulangan akan diperoleh manfaat, khususnya bagi
praktikan, antara lain :
1. Praktikan dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan praktik pembelajaran yang telah
dilaksanakan;
2. Praktikan dapat lebih meningkatkan dan mengembangkan ketrampilannya pada saat
pembelajaran yang sebenarnya; 3.
3. Praktikan dapat memahami ketrampilan mengajar yang bersifat isolatif.
Asril (2017:49) menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan pembelajaran micro teaching terdiri
dari:
1. Mahasiswa atau calon guru harus menyusun satuan pembelajaran (SP) atau rencana
pembelajaran (RP) atau skenario, atau modul ajar dengab lama penyajian antara 10
sampai 15 menit, ditulis rapi dan diserahkan kepada dosen pembimbing sebelum tampil
untuk mencocokan apa yang ditulis sesuai dengan apa yang dipraktikan.
2. Bagi mahasiswa yang tidak tampil bertugas sebagai supervisor, observer tertulis,
observer lisan, sekaligus sebagai peserta didik di kelas.
Tahapan micro teaching menurut Halimah (2017:90) sebagai berikut:
1. Tahap pertama (tahapan kognitif)
Tahap pertama, mahasiswa calon guru atau praktikan dibimbing untuk memahami dan
mendalami serta memiliki gambaran secara umum konsep dan makna keterampilan dasar
mengajar dalam proses belajar mengajar, menggunakan secara tepat, menyinergikan
keterampilan satu dan lainnya serta ketepatan kapan dan dalam kondisi yang bagaimana
keterampilan satu dan lainnya digunakan pada tahap ini idealnya para calon guru selain
diperkenalkan pada konsep konsep secara teoritis juga harus melihat contoh-contoh
penerapan teori tersebut secara praktis melalui tayangan video aplikasi teori tersebut.
Dengan demikian, para mahasiswa calon guru atau praktikan dapat menyinergikan
pengetahuan mereka untuk digunakan pada realita pengajaran yang dipadukan dengan
keterampilan dasar mengajar.
2. Tahap kedua (tahapan pelaksanaan)
Tahap kedua ini, para mahasiswa calon guru atau praktikan secara nyata mempraktikan
keterampilan dasar mengajar secara berulang, dengan harapan jika praktikan sudah
berulang kali melakukan praktik akan mengetahui kekurangannya pada keterampilan yang
mereka pelajari untuk dikuasai dan terampil untuk menggunakannya dalam proses belajar
mengajar. Pada tahapan ini praktikan sudah dapat mempersiapkan perangkat pembelajaran
mulai dari RPP, media yang akan digunakan dan segala sesuatu yang dipersyaratkan bagi
guru yang profesional dimasa mendatang.
3. Tahap ketiga (tahapan balikan)
Tahap ketiga ini merupakan kilas balik praktikan dengan mempelajari hasil dari observasi
teman sejawat yang akan memberikan informasi setelah melihat secara langsung
pelaksanaan kegiatan praktik mengajar. Para rekan sejawat dan dosen pembimbing atau
dosen luar biasa akan memberikan penilaian berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan
praktikan yang selanjutnya akan didiskusikan dan sebagai bahan untuk memperbaiki kinerja
sebagai calon guru yang profesional.
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada tiga tahapan dalam praktik micro teaching
1. Tahap pertama ialah tahap kognitif, dalam tahap ini calon guru dibimbing oleh dosen
pembimbing (RPP) yang baik.
2. Tahap kedua ialah tahap pelaksanaan dimana calon guru harus mempraktikan hal-hal
yang telah tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP/Modul) yang telah
dibuatnya dengan alokasi waktu yang telah diberikan biasanya sekitar 20-30 menit.
3. Terakhir adalah tahap balikan yaitu tahap dimana calon guru atau praktikan menerima
evaluasi dari dosen pembimbing dan teman sejawat sebagai bahan perbaikan nanti
pada saat calon guru turun ke [Link] pembuatan rencana pelaksanaan
pembelajaran.

Anda mungkin juga menyukai