PFA (Psychological First Aid) merupakan suatu bantuan psikologis awal
yang diberikan kepada korban bencana agar dapat membuat mereka
merasa lebih nyaman, aman, tenang, dan penuh harapan (Ratri Et al.,
2024). PFA (Psychological First Aid) dapat membantu Menstabilisasi
sebuah kecemasan dan emosi lainnya, PFA juga mempromosikan perilaku
pengelolaan Diri yang sehat, memberikan rasa aman, Menenangkan, dan
menumbuhkan harapan (Edmawati Et al.,2023)
PFA fokus terhadap beberapa aspek seperti, 1) emberikan dukungan dan
perawatan praktis tanpa paksaan; (2. Mengidentifikasi serta memenuhi
kebutuhan dasar korban; 3) Mendengarkan korban dengan penuh
kesediaan tanpa memaksa mereka berbicara. Menciptakan situasi yang
membuat korban merasa aman dan nyaman; 4) Membantu korban
mendapatkan akses informasi terkait layanan dan dukungan sosial; 5)
Melindungi korban dari berbagai ancaman yang dapat membahayakan
mereka (Asih, Utami & Kurniawan, 2021).
Bencana dan kecelakaan merupakan peristiwa yang dapat menyebabkan
dampak fisik maupun psikologis pada individu yang mengalaminya.
Dampak psikologis ini sering kali tak terlihat, namun berpotensi
memengaruhi kesejahteraan jangka panjang korban. Salah satu
pendekatan yang dapat digunakan untuk mengurangi dampak psikologis
tersebut adalah Psychological First Aid (PFA).
Relevansi pendekatan ini semakin terlihat selama pandemi COVID-19, di
mana krisis kesehatan global tersebut tidak hanya berdampak pada fisik
tetapi juga secara signifikan meningkatkan tekanan emosional
masyarakat. Dalam situasi tersebut, PFA berperan penting dalam
membantu individu yang terdampak untuk menstabilkan kondisi
psikologis mereka, mengurangi kecemasan, serta membangun kembali
harapan untuk menghadapi masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa
integrasi pendekatan psikologis dalam penanganan bencana atau krisis
sangatlah penting untuk mendukung pemulihan menyeluruh.
Penerapan PFA juga sangat relevan dalam situasi kecelakaan tragis,
seperti yang terjadi di Jalan Tol Cipularang Km 92 pada 11 November
2024. Insiden tersebut melibatkan 17 kendaraan, menewaskan satu
orang, dan melukai 30 lainnya. Dalam kondisi ini, para korban tidak hanya
menghadapi trauma fisik, tetapi juga beban emosional yang berat akibat
kejadian tersebut. Implementasi PFA di lokasi kecelakaan dapat
membantu korban dalam mengatasi rasa terkejut, cemas, dan trauma
melalui pendekatan yang menenangkan, memberikan rasa aman, serta
mendukung pemulihan emosional mereka.
Oleh karena itu, penting untuk mengintegrasikan PFA sebagai bagian dari
respons awal terhadap kecelakaan atau bencana. Dengan memberikan
perhatian pada kebutuhan psikologis korban, PFA dapat berkontribusi
pada pemulihan yang lebih menyeluruh, sehingga korban dapat
melanjutkan kehidupan mereka dengan lebih baik.