0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan41 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Diabetes Mellitus

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien diabetes mellitus (DM), termasuk pengertian, klasifikasi, etiologi, dan komplikasi penyakit. Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin. Penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi akut dan kronik yang dapat membahayakan kesehatan pasien.

Diunggah oleh

YUSRIZA YUSRIZA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan41 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Diabetes Mellitus

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien diabetes mellitus (DM), termasuk pengertian, klasifikasi, etiologi, dan komplikasi penyakit. Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin. Penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi akut dan kronik yang dapat membahayakan kesehatan pasien.

Diunggah oleh

YUSRIZA YUSRIZA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENYAKIT DIABETES MELLITUS (DM)

Oleh:
Elma Dona (23212143)
Mona Safira (23212122)
Cut Tasya Ramadini (23212146)
Izatul Hasanah (23212105)
Gerry Ilham (23212128)
M. Rafish Fayyadh (23212108)

Dosen Pengampu: Mahruri Saputra,[Link].,Ns.,[Link]

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS SAINS TEKNOLOGI DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS BINA BANGSA GETSEMPENA
BANDA ACEH
2025

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Allah SWT yang atas kelimpahan nikmat dan
rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Terima kasih untuk semua pihak
yang telah membantu baik secara moril maupun materil hingga terselesaikannya
makalah ini. Makalah yang berjudul tentang “Asuhan Keperawatan pada Pasien
Diabetes Mellitus”
Proses penyelesaian makalah ini tak luput dari kesalahan dan kekurangan bahkan
ketidaksempurnaan karena sejatinya kesempurnaan hanyalah milik Allah semata,untuk
itu kami selaku penulis makalah ini memohon maaf sebesar-besarnya apabila terdapat
hal yang kurang berkenan. Kritik dan saran yang bersifat membangun dengan senang
hati akan kami terima untuk menjadi batu loncatan agar lebih baik. Terima kasih atas
perhatiannya semoga bermanfaat dan selamat membaca.

Banda Aceh, 24 Februari 2025

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................1
C. Tujuan Penelitian .........................................................................................1
D. Manfaat .......................................................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORI


A. Pengertian.....................................................................................................3
B. Klasifikasi.....................................................................................................3
C. Etiologi (Penyebab)......................................................................................4
D. Patofisiologi..................................................................................................6
E. Manifestasi Klinis.........................................................................................8
F. Pencegahan.................................................................................................10
G. Pemeriksaan dignostik ...............................................................................11
H. Penatalaksanaan .........................................................................................12

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN


A. Luaran........................................................................................................16
B. Pengkajian dan Diagnosis Keperawatan....................................................17
C. Intervensi....................................................................................................20
D. Implementasi .............................................................................................26
E. Evaluasi .....................................................................................................27
F. Aspek Legal Etik pada Masing-Masing Kasus..........................................27

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................32

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diabetes melitus atau penyakit kencing manis merupakan penyakit menahun yang
dapat diderita seumur hidup (Sihotang, 2017). Diabetes melitus (DM) disebabkan
oleh gangguan metabolisme yang terjadi pada organ pankreas yang ditandai dengan
peningkatan gula darah atau sering disebut dengan kondisi hiperglikemia yang
disebabkan karena menurunnya jumlah insulin dari pankreas. Penyakit DM dapat
menimbulkan berbagai komplikasi baik makrovaskuler maupun mikrovaskuler.
Penyakit DM dapat mengakibatkan gangguan kardiovaskular yang dimana
merupakan penyakit yang terbilang cukup serius jika tidak secepatnya diberikan
penanganan sehingga mampu meningkatkan penyakit hipertensi dan infark jantung
(Lestari, [Link], 2021).
Indonesia merupakan negara yang menduduki rangking keempat dari jumlah
penyandang diabetes terbanyak setelah Amerika Serikat, China dan India. Selain itu,
penderita DM di Indonesia diperkirakan akan meningkat pesat hingga 2-3 kali lipat
pada tahun 2030 dibandingkan tahun 2000. Ditambah penjelasan data WHO (World
Health Organization) bahwa, dunia kini didiami oleh 171 juta penderita DM (2000)
dan akan meningkat 2 kali lipat, 366 juta pada tahun 2030. Pusat Data dan Informasi
Kementrian Kesehatan RI juga menyebutkan bahwa estimasi terakhir IDF
(International Diabetes Federation) pada tahun 2035 terdapat 592 juta orang yang
hidup dengan diabetes di dunia (Lestari, [Link], 2021).
Dalam proses perjalanan penyakit diabetes mellitus dapat timbul komplikasi baik
akut maupun kronik komplikasi akut dapat diatasi dengan pengobatan yang tepat
antara lain ketoasidosis. Hiperosmolar non ketotik koma dan toksik asidosis.
Sedangkan komplikasi kronik timbul setelah beberapa tahun seperti mikroangiopati,
neuropati, nefropati dan retinopati dan makro angiopati kardiovaskuler dan
peripheral vaskuler (Muji. R, 2018).
Perawatan secara umum untuk penderita diabetes mellitus diit, olah raga, atau
latihan fisik dan obat hiperglikemia (anti diabetic) dan untuk olah raga atau latihan

3
fisik yang dianjurkan pada penderita diabetes mellitus itu meliputi latihan ringan
yang dapat dilakukan ditempat tidur untuk. penderita di rumah sakit latihan ini tidak
memerlukan persiapan khusus cukup gerak ringan diatas tempat tidur kurang lebih 5
sampai 10 menit misalnya menggerakkan kedua tangan, ujung jari, kaki dan kepala.
Selain itu bisa dilakukan senam, senam ini harus disertai dengan kemampuan yang
harus disesuaikan dengan kemampuan kondisi penyakit penyerta (Muji. R, 2018).

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah apa saja konsep dasar diabetes
mellitus beserta diagnosa yang kemungkinan akan muncul.

C. Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi pengertian diabetes mellitus
2. Mengkaji konsep Asuhan keperawatan diabetes mellitus
3. Menjelaskan manifestasi klinis diabetes mellitus
4. Membuat patofisiologi diabetes mellitus
5. Mengkaji konsep asuhan keperawatan diabetes mellitus

D. Manfaat
Makalah ini sebagai bentuk pengembangan ilmu pada mata kuliah Keperawatan
Dewasa Sistem Endokrin,Imunologi, Pencernaan, Perkemihan Dan Reproduksi Pria.

4
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Diabetes mellitus adalah penyakit yang disebabkan tubuh tidak dapat melepaskan
atau menggunakan insulin secara adekuat sehingga kadar glukosa (gula sederhana) di
dalam darah tinggi. Diabetes mellitus (DM) juga merupakan suatu penyakit yang
termasuk ke dalam kelompok penyakit metabolik, di mana karakteristik utamanya
yaitu tingginya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia). (Suryati, et al., 2019).
Diabetes mellitus (DM) ataupun yang biasa disebut dengan diabetes merupakan
suatu gangguan kesehatan yang berupa kumpulan gejala yang disebabkan oleh
meningkatnya kadar gula (glukosa) dalam darah akibat dari kekurangan ataupun
resistensi insulin (Bustan, 2015. Manajemen Pengendalian Penyakit Tidak Menular.
Jakarta : Rineka Cipta). Diabetes mellitus ataupun yang sering disebut dengan
penyakit kencing manis merupakan suatu penyakit yang dapat terjadi ketika tubuh
tidak mampu untuk memproduksi cukup insulin atau tidak mampu menggunakan
insulin (resistensi insulin). (Suryati, et al., 2019).
Diabetes mellitus (DM) adalah salah satu penyakit metabolik yang ditandai
dengan adanya hiperglikemia. Keadaan tersebut disebabkan karena adanya kelainan
sekresi insulin, penurunan kerja insulin, atau karena keduanya. Diabetes mellitus
merupakan penyakit kronis yang kompleks, sehingga dampak yang ditimbulkan
adalah kerusakan jangka panjang seperti gangguan berbagai organ terutama mata,
ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah. (Suryati, et al., 2019).

B. Klasifikasi
Tipe I: DM tipe 1 merupakan DM dengan pankreas sebagai pabrik insulin tidak dapat
atau kurang mampu memproduksi insulin (Tandra, 2013). Selain itu terjadi
perusakan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin, hal ini dapat terjadi
karena faktor keturuanan (genetik) maupun reaksi alergi akibatnya, insulin
dalam tubuh kurang atau tidak sama ada sama sekali dan gula akan
menumpuk dalam peredaran darah karena tidak dapat diangkut ke dalam sel

5
(Tandra, 2013). Sebagai konsekuensi dari keadaan tersebut, insulin harus
disuplai dari luar tubuh (Tapan, 2005:68). Oleh karena itu, DM tipe 1 biasa
disebut juga dengan Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Penyakit
ini biasanya muncul pada usia anak-anak atau remaja, baik berjenis kelamin
laki-laki maupun perempuan (Tandra, 2013). Sampai saat ini DM Tipe 1 tidak
dapat dicegah dan hanya dapat diobati dengan injeksi insulin. Apabila tidak
dilakukan pengawasan yang ketat terhadap gula darah dan injeksi insulin
maka akan terjadi ketosis dan diabetic ketoachidosis sehingga dapat
menyebabkan koma bahkan kematian pada penderita DM tipe 1 (Krisnatuti
[Link], 2014:9). Dari semua penderita DM, 5-10% adalah DM Tipe 1. Tanda
dan gejala DM tipe 1 yaitu hiperglikemi, merasa lapar dan haus terus
menerus, banyak kencing, penurunan berat badan, lelah, lemas, mata kabur,
dan nyeri hebat didaerah lambung. (Rara. W, [Link], 2019).
Tipe II: DM tipe 2 atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
merupakan jenis DM yang paling sering terjadi terjadi di masyarakat
dibandingkan dengan DM tipe 1 sekitar yakni sekitar 80%-90% (Garnita,
2012:14). Pada DM tipe 2, sel-sel β pankreas tidak rusak, meskipun hanya
sedikit yang normal dan dapat digunakan untuk mensekresi insulin
(Wijayakusuma, 2008). Akan tetapi, kualitas insulinnya buruk dan tidak dapat
berfungsi dengan baik sehingga glukosa dalam darah meningkat.
Kemungkinan lainnya adalah sel-sel jaringan tubuh dan otot penderita tidak
peka/berkurangnya sensitivitas terhadap insulin atau sudah resisten terhadap
insulin (resistensi insulin/insulin resistance) (adanya efek respon jaringan
terhadap insulin). Akibatnya, insulin tidak dapat bekerja dengan baik dan
glukosa akhirnya tertimbun dalam peredaran darah. Selain itu, DM tipe 2 ini
dapat disebabkan oleh faktor genetik maupun faktor gaya hidup/lingkungan.
DM Tipe 2 umumnya timbul setelah berumur 40 tahun. Akan tetapi,
berdasarkan laporan RISKESDAS tahun 2007 dan tahun 2013 di Indonesia
DM tipe 2 juga sudah menyerang usia 15 keatas. (Rara. W, [Link], 2019).
DM Gestanol: DM yang terjadi pada masa kehamilan (Tandra, 2013). DM
Gestasional disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi
insulin dalam jumlah yang mamadahi selama masa kehamilan. Keadaan

6
tersebut diakibatkan karena adanya pembentukan beberapa hormon pada
wanita hamil yang menyebabkan resistensi insulin. DM Gestasional
mempunyai kecenderungan untuk berkembang menjadi DM tipe 2 dan terjadi
sekitar 2-5% dari kehamilan. DM gestasional dapat membahayakan kesehatan
ibu dan janin. Permasalahan yang ditimbulkan oleh DM gestasional adalah
macrosomia (bayi lahir dengan berat badan lebih dari berat badan normal),
kecacatan janin, dan penyakit jantung bawaan Gejala utama dari DM
gestasional adalah poliuri (banyak kencing), polidipsi (banyak minum), dan
poliphagi (banyak makan). (Rara. W, [Link], 2019).
DM tipe lain: DM yang lain adalah DM yang tidak termasuk dalam kategori DM
diatas yaitu DM sekunder (secondary diabetes) atau akibat penyakit lain yang
mengganggu produksi insulin atau mempengaruhi kerja insulin serta kelaian
pada fungsi sel [Link] seperti radang pankreas (pankreatitis),
gangguan kelenjar adrenal (hipofisis), penggunaan hormon kortikosteroid,
pemakaian obat antihipertensi atau antikolesterol, malnutrisi, dan infeksi
Seseorang yang menderita DM diakibatkan oleh kekurangan (defisiensi)
insulin, hal ini dapat bersifat absolut maupun relatif serta beberapa
diantaranya menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa plasma.
Kekurangan insulin yang dimana pankreas tidak memproduksi
insulin/memproduksi namun dalam jumlah yang tidak cukup (bersifat
absolut) terjadi pada DM tipe 1 (IDDM). Sedangkan yang dimaksud dengan
kekurangan. nsulin bersifat relatif jika pankreas tetap menghasilkan insulin
dalam jumlah yang normal atau meningkat akan tetapi organ target memiliki
sensitivitas yang lemah dan berkurang terhadap insulin. Keadaan tersebut
lebih dikenal dengan “resistensi insulin” akibatnya kadar glukosa dalam darah
meningkat. Hal ini mengakibakan terjadiya gejala-gejala khas DM tipe 2
seperti poliuri, polidipsi, polipagi, lemas Dan lain-lain. (Rara. W, [Link], 2019).

C. Etiologi
Etiologi dari penyakit diabetes yaitu gabungan antara faktor genetik dan faktor
lingkungan. Etiologi lain dari diabetes yaitu sekresi atau kerja insulin, abnormalitas
metabolik yang menganggu sekresi insulin, abnormalitas mitokondria, dan

7
sekelompok kondisi lain yang menganggu toleransi glukosa. Diabetes mellitus dapat
muncul akibat penyakit eksokrin pankreas ketika terjadi kerusakan pada mayoritas
islet dari pankreas. Hormon yang bekerja sebagai antagonis insulin juga dapat
menyebabkan diabetes (Lestari, [Link], 2021).
Resistensi insulin pada otot adalah kelainan yang paling awal terdeteksi dari
diabetes tipe 1. Adapun penyebab dari resistensi insulin yaitu:
Etiologi diabetes mellitus, yaitu, obesitas/kelebihan berat badan, glukortikoid
berlebih (sindrom cushing atau terapi steroid), hormon pertumbuhan berlebih
(akromegali), kehamilan, diabetes gestasional, penyakit ovarium polikistik,
lipodistrofi (didapat atau genetik, terkait dengan akumulasi lipid di hati),
autoantibodi pada reseptor insulin, mutasi reseptor insulin, mutasi reseptor aktivator
proliferator peroksisom (PPAR γ), mutasi yang menyebabkan obesitas genetik
(misalnya: mutasi reseptor melanokortin), dan hemochromatosis (penyakit keturunan
yang menyebabkan akumulasi besi jaringan) (Ozougwu et al., 2013).
Pada diabetes tipe I, sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun,
sehingga insulin tidak dapat diproduksi. Hiperglikemia puasa terjadi karena produksi
glukosa yang tidak dapat diukur oleh hati. Meskipun glukosa dalam makanan tetap
berada di dalam darah dan menyebabkan hiperglikemia postprandial (setelah makan),
glukosa tidak dapat disimpan di hati. Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup
tinggi, ginjal tidak akan dapat menyerap kembali semua glukosa yang telah disaring.
Oleh karena itu ginjal tidak dapat menyerap semua glukosa yang disaring. Akibatnya,
muncul dalam urine (kencing manis). Saat glukosa berlebih diekskresikan dalam
urine, limbah ini akan disertai dengan ekskreta dan elektrolit yang berlebihan.
Kondisi ini disebut diuresis osmotik. Kehilangan cairan yang berlebihan dapat
menyebabkan peningkatan buang air kecil (poliuria) dan haus (polidipsia) (Lestari,
[Link], 2021).
Kekurangan insulin juga dapat mengganggu metabolisme protein dan lemak, yang
menyebabkan penurunan berat badan. Jika terjadi kekurangan insulin, kelebihan
protein dalam darah yang bersirkulasi tidak akan disimpan di jaringan. Dengan tidak
adanya insulin, semua aspek metabolisme lemak akan meningkat pesat. Biasanya hal
ini terjadi di antara waktu makan, saat sekresi insulin minimal, namun saat sekresi

8
insulin mendekati, metabolisme lemak pada DM akan meningkat secara signifikan
(Lestari, [Link], 2021).
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah pembentukan glukosa dalam
darah, diperlukan peningkatan jumlah insulin yang disekresikan oleh sel beta
pankreas. Pada penderita gangguan toleransi glukosa, kondisi ini terjadi akibat
sekresi insulin yang berlebihan, dan kadar glukosa akan tetap pada level normal atau
sedikit meningkat. Namun, jika sel beta tidak dapat memenuhi permintaan insulin
yang meningkat, maka kadar glukosa akan meningkat dan diabetes tipe II akan
berkembang (Lestari, [Link], 2021).
1) Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI) tipe 1
Diabetes yang tergantung pada insulin diandai dengan penghancuran sel-sel
beta pancreas yang disebabkan oleh: (Muji. R, 2018).
a) Faktor genetic:
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi
suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes
tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki
tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan
kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses
imun lainnya.
b) Faktor imunologi:
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini
merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal
tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya
seolah-olah sebagai jaringan asing (Muji. R, 2018).
c) Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai
contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat
memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas.
(Muji. R, 2018).
2) Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Disebabkan oleh kegagalan telative beta dan resisten insulin. Secara pasti
penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, faktor genetik diperkirakan

9
memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Melitus
tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang
kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam
kerja insulin (Muji. R, 2018).
Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja
insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan
sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport
glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan
dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh
berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel
(Muji. R, 2018).
Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin
dengan system transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan
dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada
akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan
euglikemia (Muji. R, 2018).
Diabetes Melitus tipe II disebut juga Diabetes Melitus tidak tergantung
insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) yang
merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan,
terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat timbul pada masa
kanak-kanak (Muji. R, 2018).
Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II,
diantaranya adalah: (Muji. R, 2018).
a) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
b) Obesitas
c) Riwayat keluarga
d) Kelompok etnik
Hasil pemeriksaan glukosa dalam 2 jam pasca pembedahan dibagi menjadi 3
yaitu :
a) < 140 mg/dL → normal
b) 140- 200 mg/dL → diabetes
c) > 200 mg/dL → diabetes.

10
D. Patofisiologi (Pathway)
Diabetes tipe I. Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untuk
menghasilkan insulin karena selsel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses
autoimun. Hiperglikemi puasa terjadi akibat produkasi glukosa yang tidak terukur
oleh hati. Di samping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan
dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia
posprandial (sesudah makan) (Nurul. T, 2018).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat
menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa tersebut
muncul dalam urin (glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan di ekskresikan ke
dalam urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan
cairan berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria)
dan rasa haus (polidipsia) (Nurul. T, 2018).
Defisiensi insulin juga akan menggangu metabolisme protein dan lemak yang
menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera
makan (polifagia), akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup
kelelahan dan kelemahan. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan
glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis
(pembentukan glukosa baru dari dari asam-asam amino dan substansi lain), namun
pada penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih
lanjut akan turut menimbulkan hiperglikemia (Nurul. T, 2018).
Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan
produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan
keton merupakan asam yang menggangu keseimbangan asam basa tubuh apabila
jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis yang diakibatkannya dapat menyebabkan tanda-
tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah (Nurul. T, 2018).
hiperventilasi, nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan
perubahan kesadaran, koma bahkan kematian. Pemberian insulin bersama cairan dan
elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik
tersebut dan mengatasi gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latihan

11
disertai pemantauan kadar gula darah yang sering merupakan komponen terapi yang
penting (Nurul. T, 2018).
Diabetes tipe II. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang
berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai
akibat terikatnya insulin dengan resptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam
metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai
dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif
untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan (Nurul. T, 2018).
Untuk mengatasi resistensi insulin dan untuk mencegah terbentuknya glukosa
dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada
penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang
berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau
sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi
peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi
diabetes tipe II (Nurul. T, 2018).
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM tipe II,
namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah
pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu
ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II (Nurul. T, 2018).
Meskipun demikian, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan
masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler
nonketoik (HHNK). Diabetes tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes
yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas (Nurul. T, 2018).
Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahun-tahun) dan
progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya
dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan,
iritabilitas, poliuria, polidipsi, luka pada kulit yang lama sembuh-sembuh, infeksi
vagina atau pandangan yang kabur (jika kadra glukosanya sangat tinggi) (Nurul. T,
2018).

12
Pathway

13
E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada penderita DM, yaitu: (Muji. R, 2018).
a) Gejala awal pada penderita DM adalah :
1) Poliuria (peningkatan volume urine) (Muji. R, 2018).
2) Polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat volume urine yang sangat besar dan
keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehisrasi intrasel
mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel akan berdifusi keluar sel
mengikuti penurunan gradien konsentrasi ke plasma yang hipertonik (sangat

14
pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran ADH (antidiuretic
hormone) dan menimbulkan rasa haus. (Muji. R, 2018).
3) Polifagia (peningkatan rasa lapar). Sejumlah kalori hilang kedalam air kemih,
penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasi hal ini
penderita seringkali merasa lapar yang luar biasa. (Muji. R, 2018).
4) Rasa lelah dan kelemahan otot akibat gangguan aliran darah pada pasien
diabetes lama, katabolisme protein diotot dan ketidakmampuan sebagian besar
sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi. (Muji. R, 2018).
b) Gejala lain yang muncul
1) Peningkatan angka infeksi akibat penurunan protein sebagai bahan
pembentukan antibody, peningkatan konsentrasi glukosa disekresi mukus,
gangguan fungsi imun dan penurunan aliran darah pada penderita diabetes
kronik. (Muji. R, 2018).
2) Kelainan kulit gatal-gatal, bisul. Gatal biasanya terjadi di daerah ginjal, lipatan
kulit seperti di ketiak dan dibawah payudara, biasanya akibat tumbuhnya
jamur. (Muji. R, 2018).
3) Kelainan ginekologis, keputihan dengan penyebab tersering yaitu jamur
terutama candida. (Muji. R, 2018).
4) Kesemutan rasa baal akibat neuropati. Regenerasi sel mengalami gangguan
akibat kekurangan bahan dasar utama yang berasal dari unsur protein.
Akibatnya banyak sel saraf rusak terutama bagian perifer. (Muji. R, 2018).
5) Kelemahan tubuh. (Muji. R, 2018).
6) Penurunan energi metabolik/penurunan BB yang dilakukan oleh sel melalui
proses glikolisis tidak dapat berlangsung secara optimal. (Muji. R, 2018).
7) Luka yang lama sembuh, proses penyembuhan luka membutuhkan bahan
dasar utama dari protein dan unsur makanan yang lain. Bahan protein banyak
diformulasikan untuk kebutuhan energi sel sehingga bahan yang diperlukan
untuk penggantian jaringan yang rusak mengalami gangguan. (Muji. R, 2018).
8) Laki-laki dapat terjadi impotensi, ejakulasi dan dorongan seksualitas menurun
karena kerusakan hormon testosteron. (Muji. R, 2018).
9) Mata kabur karena katarak atau gangguan refraksi akibat perubahan pada
lensa oleh hiperglikemia. (Muji. R, 2018).

15
F. Pencegahan
1. Rutin Berolahraga
Cara mencegah diabetes melalui rutin berolahraga dapat meningkatkan
produksi insulin dan sensitivitas sel-sel tubuh terhadap insulin. Dengan begitu,
kadar gula dalam darah akan terkontrol dengan baik, sehingga bisa terhindar dari
penyakit diabetes. ([Link]
Selain itu, olahraga juga membantu pembakaran kalori untuk menghasilkan
energi serta menyimpan kelebihan glukosa menjadi cadangan energi dalam bentuk
protein otot sebagai cadangan agar tidak menumpuk dalam darah. Lakukan
olahraga setidaknya 150 menit setiap minggu, terbagi menjadi 5 sesi atau hari, 30
menit per sesi. (Siloam Hospitals, 2024).
2. Menjaga Berat Badan tetap Ideal
Obesitas merupakan salah satu penyebab utama dari diabetes. Hal ini karena
obesitas mengganggu kerja metabolisme sehingga sel tubuh tidak mampu
merespon insulin secara optimal. Maka dari itu, menjaga berat badan tetap ideal
menjadi salah satu cara mencegah diabetes secara alami (Siloam Hospitals, 2024).
Salah satu cara untuk Menjaga berat badan tetap ideal sehingga terhindar dari
obesitas, bisa dilakukan dengan memperhatikan asupan karbohidrat dan gula yang
masuk dalam tubuh. (Siloam Hospitals, 2024).
3. Menerapkan Pola Makan Sehat
Cara mencegah diabetes sejak dini juga harus disertai dengan penerapan pola
makan yang sehat. Cobalah untuk mengurangi makanan cepat saji, bergula tinggi
dan berlemak. Mulailah memilih makanan dengan kandungan nutrisi tinggi,
seperti protein, serat dan vitamin (Siloam Hospitals, 2024).
Selain itu, perhatikan juga porsi makanan untuk mengurangi asupan kalori
pada tubuh. Di mana kalori ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan, dan
apabila berlebihan maka risiko diabetes semakin tinggi. Selain memperhatikan
porsi makan, jangan pula mengabaikan jadwal makan. Pola makan yang sehat
didukung dengan makan secara teratur dengan porsi secukupnya (Siloam
Hospitals, 2024).
4. Melakukan Pengecekan Gula Darah Secara Berkala

16
Pemeriksaan gula darah secara berkala diperlukan untuk melihat nilai kadar
gula darah dalam tubuh. Dengan melakukan pengecekan rutin, Anda dapat
memonitor kondisi kadar gula dan mendeteksi penyakit diabetes lebih dini
(Siloam Hospitals, 2024).
5. Mengelola Stres
Ketika stres, tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang dapat meningkatkan
kadar gula dalam darah. Karena itu, salah satu cara mencegah diabetes salah
satunya dengan mengelola stres secara baik (Siloam Hospitals, 2024).
6. Rajin Minum Air Putih
Cara mencegah diabetes di usia muda juga bisa dimulai dengan menghindari
minuman manis. Hal ini mengacu pada risiko diabetes tipe 2 dan diabetes
autoimun yang bisa menyerang orang dewasa akibat mengonsumsi minuman
manis berlebihan (Siloam Hospitals, 2024).
Untuk mengatasinya, mulailah membiasakan minum air putih. Jika
dibandingkan minuman berkadar gula, air putih dapat meningkatkan hidrasi tubuh
secara lebih baik serta menurunkan kadar gula dalam tubuh. Sehingga bermanfaat
untuk fungsi ginjal dan juga sel-sel tubuh (Siloam Hospitals, 2024).
7. Mempertahankan Kadar Vitamin D secara Optimal
Mengoptimalkan kadar vitamin D dalam tubuh bisa menjadi cara mencegah
diabetes karena vitamin ini dapat meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap
insulin. Dengan begitu, risiko resistensi insulin akan menurun. Beberapa sumber
makanan yang memiliki kandungan vitamin D tinggi diantaranya yaitu ikan
salmon, yogurt dan buah-buahan seperti alpukat (Siloam Hospitals, 2024).
8. Menghentikan Kebiasaan Merokok
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penyakit diabetes tipe 2 banyak dialami
oleh perokok. Jika seseorang aktif merokok,Ia memiliki risiko diabetes lebih
tinggi sebesar 44% daripada yang bukan perokok. Risiko tersebut dapat
meningkat sebesar 61% apabila konsumsi rokok mencapai lebih dari 20 batang
per hari (Siloam Hospitals, 2024).

17
G. Pemeriksaan Diagnostik
Penentuan diagnosa D.M adalah dengan pemeriksaan gula darah, menurut Sujono &
Sukarmin (2008) antara lain: (Muji. R, 2018).
a) Gula darah puasa (GDO) 70-110 mg/dl. Kriteria diagnostik untuk DM > 140
mg/dl paling sedikit dalam 2 kali pemeriksaan. Atau > 140 mg/dl disertai gejala
klasik hiperglikemia atau IGT 115-140 mg/dl. (Muji. R, 2018).
b) Gula darah 2 jam post prandial
c) Gula darah sewaktu < 140 mg/dl digunakan untuk skrining bukan diagnostik.
d) Tes toleransi glukosa oral (TTGO). GD < 115 mg/dl ½ jam, 1 jam, 1 ½ jam < 200
mg/dl, 2 jam < 140 mg/dl. (Muji. R, 2018).
e) Tes toleransi glukosa intravena (TTGI) dilakukan jika TTGO merupakan
kontraindikasi atau terdapat kelainan gastrointestinal yang mempengaruhi
absorbsi glukosa. (Muji. R, 2018).
f) Tes toleransi kortison glukosa, digunakan jika TTGO tidak bermakna. Kortison
menyebabkan peningkatan kadar glukosa abnormal dan menurunkan penggunaan
gula darah perifer pada orang yang berpredisposisi menjadi DM kadar glukosa
darah 140 mg/dl pada akhir 2 jam dianggap sebagai hasil positif. (Muji. R, 2018).
g) Glycosetat hemoglobin, memantau glukosa darah selama lebih dari 3 bulan.
(Muji. R, 2018).
h) C-Pepticle 1-2 mg/dl (puasa) 5-6 kali meningkat setelah pemberian glukosa.
(Muji. R, 2018).
i) Insulin serum puasa: 2-20 mu/ml post glukosa sampai 120 mu/ml, dapat
digunakan dalam diagnosa banding hipoglikemia atau dalam penelitian diabetes
(Muji. R, 2018).

H. Penatalaksanaan
Penataaksanaan medis yaitu tujuan utama terapi DM adalah mencoba
menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi
terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe
DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal tanpa terjadi hipoglikemia dan
gangguan serius pada pola aktivitas pasien. Ada lima komponen dalam
penatalaksanaan DM, yaitu: (Muji. R, 2018).

18
1. Diet
Syarat diet DM hendaknya dapat :
a) Memperbaiki kesehatan umum penderita
b) Mengarahkan pada berat badan normal
c) Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik
d) Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita
e) Menarik dan mudah diberikan
Prinsip diet DM, adalah :
a) Jumlah sesuai kebutuhan
b) Jadwal diet ketat
c) Jenis : boleh dimakan / tidak.
Dalam melaksanakan diit diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J
yaitu:
a) Jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan dikurangi atau ditambah
b) Jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya
c) Jenis makanan yang manis harus dihindari.
Penentuan jumlah kalori Diit Diabetes Mellitus harus disesuaikan oleh status gizi
penderita, penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung Percentage of Relative
Body Weight (BBR = berat badan normal) dengan rumus : (Muji. R, 2018).

1) Kurus (underweight) BBR < 90 % 2)


2) Normal (ideal) BBR 90% - 110% 3)
3) Gemuk (overweight) BBR > 110% 4)
4) Obesitas apabila BBR > 120%
 Obesitas ringan BBR 120 % - 130%
 Obesitas sedang BBR 130% - 140%
 Obesitas berat BBR 140% - 200%
 Morbid BBR >200 %

Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM


yang bekerja biasa adalah : (Muji. R, 2018).

19
1) Kurus (underweight) BB X 40-60 kalori sehari
2) Normal (ideal) BB X 30 kalori sehari
3) Gemuk (overweight) BB X 20 kalori sehari
4) Obesitas apabila BB X 10-15 kalori sehari.
2. Latihan/ Olah raga
Latihan jasmani teratur 3-4 kali tiap minggu selama + ½ jam. Adanya kontraksi
otot akan merangsang peningkatan aliran darah dan penarikan glukosa ke dalam
sel. Penderita diabetes dengan kadar glukosa darah >250mg/dl dan menunjukkan
adanya keton dalam urine tidak boleh melakukan latihan sebelum pemeriksaan
keton urin menunjukkan hasil negatif dan kadar glukosa darah mendekati normal.
Latihan dengan kadar glukosa tinggi akan meningkatkan sekresi glukagon, growth
hormon dan katekolamin. (Muji. R, 2018).
Peningkatan hormon ini membuat hati melepas lebih banyak glukosa sehingga
terjadi kenaikan kadar glukosa [Link] pasien yang menggunakan insulin
setelah latihan dianjurkan makan camilan untuk mencegah hipoglikemia dan
mengurangi dosis insulinnya yang akan memuncak pada saat latihan. (Muji. R,
2018).
3. Penyuluhan
Penyuluhan merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada
penderita DM, melalui bermacam-macam cara atau media misalnya: leaflet,
poster, TV, kaset video, diskusi kelompok, dan sebagainya. (Muji. R, 2018).
4. Obat-Obatan
a. Tablet OAD (Oral Antidiabetes)/ Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
1) Mekanisme kerja sulfanilurea
Obat ini bekerja dengan cara menstimulasi pelepasan insulin yang
tersimpan, menurunkan ambang sekresi insulin dam meningkatkan sekresi
insulin sebagai akibat rangsangan glukosa. Obat golongan ini biasanya
diberikan pada penderita dengan berat badan normal dan masih bisa
dipakai pada pasien yang berat badannya sedikit lebih. (Muji. R, 2018).
2) Mekanisme kerja Biguanida
Biguanida tidak mempunyai efek pankreatik, tetapi mempunyai efek
lain yang dapat meningkatkan efektivitas insulin, yaitu : (Muji. R, 2018).

20
a) Biguanida pada tingkat prereseptor → ekstra pankreatik
b) Menghambat absorpsi karbohidrat
c) Menghambat glukoneogenesis di hati
d) Meningkatkan afinitas pada reseptor insulin
3) Biguanida pada tingkat reseptor : Meningkatkan jumlah reseptor insulin
4) Biguanida pada tingkat pascareseptor: mempunyai efek intraselluler.
(Muji. R, 2018).
b. Insulin
1) Indikasi penggunaan insulin
a) DM tipe I
b) DM tipe II yang pada saat tertentu tidak dapat dirawat dengan OAD
c) DM kehamilan
d) DM dan gangguan faal hati yang berat
e) DM dan gangguan infeksi akut (selulitis, gangren)
f) DM dan TBC paru akut
g) DM dan koma lain pada DM
h) DM operasi
i) DM patah tulang
j) DM dan underweight
k) DM dan penyakit Graves.
2) Beberapa cara pemberian insulin
a) Suntikan insulin subkutan
b) Insulin regular mencapai puncak kerjanya pada 1 – 4 jam, sesudah
suntikan subcutan, kecepatan absorpsi di tempat suntikan tergantung
pada beberapa faktor antara lain (Muji. R, 2018).

21
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Luaran
1. Luaran Klinik Berdasarkan Pola Peresepan
Luaran klinik tidak dapat dianalisis, namun digambarkan secara deskriptif,
karena terdapat beberapa faktor yang tidak dapat dikendalikan, perbedaan kondisi
serta perbandingan jumlah pasien yang menerima obat tidak sama. Pasien yang
memperoleh monoterapi oral, monoterapi insulin serta kombinasi oral dengan
insulin menunjukkan jumlah luaran klinik yang tidak terkontrol lebih besar
dibandingkan luaran klinik yang terkontrol (Pande. M, 2019).
Berbeda dengan kombinasi oral, jumlah luaran klinik yang terkontrol lebih
banyak (55,1%) dibandingkan dengan yang tidak terkontrol (44,9%). Terdapat
penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penggunan kombinasi oral
golongan biguanid dan sulfonilurea dapat mengontrol HbA1c, GDP, GDS dan
G2PP pasien dengan lebih baik dibandingkan monoterapi oral (Pande. M, 2019).
Antidiabetik oral dan insulin memiliki mekanisme kerja yang berbeda dalam
mengontrol glukosa darah. Patofisiologi DM tipe 2 yang multifaktorial
membutuhkan terapi kombinasi antidiabetik sehingga dapat memberikan manfaat
yang lebih baik dalam mengontrol glukosa darah dan memperbaiki fungsi sel
beta pancreas. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengontrolan glukosa
darah antara lain gaya hidup, usia, durasi DM, komplikasi, stres serta
merokok(Pande. M, 2019).
2. Luaran Klinik Berdasarkan Komplikasi
Persentase pasien dengan luaran klinik terkontrol paling tinggi terdapat pada
kelompok tanpa komplikasi dan paling rendah pada kelompok komplikasi
makrovaskuler dan mikrovaskuler. Hal tersebut juga berbanding lurus dengan
persentase luaran klinik yang tidak terkontrol pada kelompok tanpa komplikasi
menunjukkan jumlah paling rendah dibandingkan kelompok komplikasi
makrovaskuler dan mikrovaskuler. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian
besar pasien DM tipe 2 dengan komplikasi baik makrovaskuler dan
mikrovaskuler memiliki nilai HbA1c diatas 7% (Pande. M, [Link], 2019).

22
Terjadinya komplikasi dapat memperparah resistensi insulin sehingga akan
mempengaruhi pengontrolan glukosa darah. Pada komplikasi makrovaskuler
terjadi gangguan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan trigliserid,
LDL dan pelepasan asam lemak bebas sehingga mengganggu reseptor dan proses
pembentukan sinyal insulin (Pande. M, [Link], 2019).
Pada komplikasi mikrovaskuler yaitu nefropati diabetik terjadinya perubahan
multifaktorial pada homeostasis glukosa yang disebabkan karena penurunan
fungsi ginjal, peningkatan akumulasi ureum dalam darah, stres oksidatif dan
asidosis metabolik yang dapat mempengaruhi pengontrolan glukosa darah
(Pande. M, [Link], 2019).
Penelitian Younis et al. (2017), menyebutkan terjadinya komplikasi dapat
menyebabkan pasien DM mengalami stress dan khawatir terhadap penyakit yang
dialami sehingga berdampak pada peningkatan glukosa darah. Penelitian ini
memiliki keterbatasan yaitu luaran klinik yang diukur hanya satu parameter saja
yaitu GDS, hal ini disebabkan karena minimnya pemeriksaan HbA1c, GDP dan
G2PP (Pande. M, [Link], 2019).

B. Pengkajian dan Diagnosa Keperawatan


1. Pengkajian
a) Identitas Pasien
1) Identitas pasien
(nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, agama, suku,
alamat, status, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medis).
2) Identitas penanggung jawab
(nama, umur, pekerjaan, alamat, hubungandengan pasien) (Nurul. T, 2018).
b) Riwayat kesehatan pasien
1) Keluhan Utama
Cemas, lelah, anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen, nafas pasien
mungkin berbau aseton, pernapasan kussmaul, gangguan pola tidur, poliuri,
polidipsi, penglihatan yang kabur, kelemahan, dan sakit kepala (Nurul. T,
2018).

23
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Berisi tentang kapan terjadinya penyakit, penyebab terjadinya penyakit
serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya. (Nurul.
T, 2018).
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya riwayat penyakit diabetes mellitus atau penyakitpenyakit lain yang
ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pancreas, adanya
riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis
yang pernah didapat maupun obatobatan yang biasa digunakan oleh
penderita. (Nurul. T, 2018).
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat atau adanya faktor resiko, riwayat keluarga tentang penyakit,
obesitas, riwayat pankreatitis kronik, riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg,
riwayat glukosuria selama stres (kehamilan, pembedahan, trauma, infeksi,
penyakit) atau terapi obat (glukokortikosteroid, diuretik tiasid, kontrasepsi
oral). (Nurul. T, 2018).
c) Aktivitas Hidup Sehari-hari (ADL)
1) Pola nutrisi dan cairan
Pola aspek ini dikaji mengenai kebiasaan makan klien, peningkatan nafsu
makan, mual, muntah, penurunan atau peningkatan berat badan, banyak
minum dan perasaan haus. (Nurul. T, 2018).
2) Pola eliminasi
Dikaji mengenai frekuensi, konsistensi, warna dan kelainan eliminasi,
kesulitan-kesulitan eliminasi dan keluhan-keluhan yang dirasakan klien pada
saat BAK dan BAB. Perubahan pola berkemih (polyuria), nokturia, kesulitan
berkemih, diare. (Nurul. T, 2018).
3) Pola istirahat tidur
Biasanya klien sering BAK pada malam hari yang mengakibatkan
terganggunya pola istirahat tidur dan sering merasa cemas sehingga
berdampak pada gangguan tidur (insomnia). (Nurul. T, 2018).

24
4) Pola personal Hygiene
Dikaji mengenai kebiasaan mandi, gosok gigi, mencuci rambut, dan di kaji
apakah memerlukan bantuan orang lain atau dapat secara mandiri. (Nurul. T,
2018).
5) Pola aktivitas
Pada pasien DM, menunjukkan gejala seing merasa lemah, nyeri atau
kelemahan pada otot, tidak mampu beraktivitas atau bekerja. Tandayang
ditunjukkan adalah penurunan rentang gerak sendi (Nurul. T, 2018).

d) Pemeriksaan Fisik
1) Status Kesehatan Umum
Meliputi keadaan umum penderita, kesadaran, tinggi badan, berat badan,
dan tanda-tanda vital (Nurul. T, 2018).
2) Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, kepala tegak lurus, tulang kepala
umumnya bulat dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital
dibagian posterior (Nurul. T, 2018).
b) Sistem penglihatan
Bentuk mata simetris, refleks pupil terhadap cahaya, terdapat gangguan
penglihatan apabila sudah mengalami retinopati diabetic (Nurul. T, 2018).
c) Sistem pernafasan
Pada pasien diabetes biasanya terdapat gejala nafas bau keton, dan
terjadi perubahan pola nafas (Nurul. T, 2018).
d) Sistem kardiovaskuler
Pada pasien diabetes mellitus pada sistem kardiovaskuler terdapat
hipotensi atau hipertensi, takikardi, palpitasi, (Tarwoto dkk, 2017) e)
Sistem pencernaan Terdapat polipagia, polydipsia, mual, muntah, diare,
konstipasi, dehidrasi, perubahan berat badan, peningkatan lingkar
abdomen (Nurul. T, 2018).
e) Sistem perkemihan

25
Terdapat perubahan pola berkemih (polyuria). Nokturia, kesulitan
berkemih, diare (Nurul. T, 2018).
f) Sistem endokrin
Tidak ada kelainan pada kelenjar tiriod dan kelenjar paratiroid. Adanya
peningkatan kadar glukosa dalam darah akibat terganggunya produksi
insulin (Nurul. T, 2018).
g) Sistem saraf
Menurunya kesadaran, kehilangan memori, neuropati pada ekstremitas,
penurunan sensasi, prestasi pada jari-jari tangan dan kaki (Nurul. T,
2018).
h) Sistem integument
Pada pasien diabetes mellitus kulit kering dan kasar, gatalgatal pada
kulit dan sekitar alat kelamin, luka gangrene (Nurul. T, 2018).
i) Sistem musculoskeletal
Kelemahan otot, nyeri tulang, kelainan bentuk tulang, adanya
kesemutan, paratasia, dan kram ekremitas, osteomilitis (Nurul. T, 2018).

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons
klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik
yang berlangsung actua lmaupun potensial. Diagnosa keperawatan bertujuan
untuk mengidentifikasi respons klien individu, keluarga, dan komunitas terhadap
situasi yang berkaitan dengan Kesehatan. (Nurul. T, 2018).
Diagnosa keperawatan yang mungkin mucul pada penderita Diabetes Mellitus
menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017) yaitu: (Nurul. T, 2018).
a) Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan Resistensi
Insulin (D. 0027). (Nurul. T, 2018).
b) Perfusi Perifer Tidak Efektif berhubungan dengan Hiperglikemia (D. 0009)
c) Defisit Nutrisi berhubungan dengan Peningkatan Kebutuhan Metabolisme
(D. 0019). (Nurul. T, 2018).
d) Resiko Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif
(D.0034). (Nurul. T, 2018).

26
e) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan (D. 0056). (Nurul. T,
2018).

C. Intervensi (SIKI)

Intervensi Rasional
SIKI (I. 03115) Manajemen Observasi
Hiperglikemia a. Sebagai acuan untuk menentukan
Observasi nilai kadar guladarah
a. Identifikasi kemungkinan b. Agar kadar glukosa darah dapat
penyebab hiperglikemia terkontrol
b. Monitor kadar glukosa darah c. Menghindari terjadinya
c. Monitor tanda dan gejala hiperglikemia
hiperglikemia (mis. Polyuria, d. Menjaga intake dan output stabil
polydipsia, polifagia, kelemahan, e. Agar tidak terjadi komplikasi
malaise, pandangan kabur, sakit ketaodosis Metabolik
kepala). Terapeutik
d. Monitor intake dan output cairan f. Mempertahankan hidrasi/volume
e. Monitor keton urin, kadaranalisa sirkulasi
gas darah, elektrolit,tekanan darah g. Untuk mencegah hipokalemia
ortostatik danfrekuensi nadi. h. Untuk mencegah terjadinya
Terapeutik komplikasi akibat dari hiperglikemi
f. Berikan asupan cairan oral Edukasi
g. Konsultasi dengan medis i. Untuk mencegah
jika tanda dan gejala kerusakan pada sistem organ
hiperglikemia tetap ada dan tubuh yang lain
memburuk j. Agar klien mampu
h. Fasilitasi ambulasi jika ada mengendalikan kadar glukosa
hiotensi ortostatik darah
Edukasi k. Membantu agar pasien patuh
i. Anjurkan menghindari olahraga pada diet dan olahraga
saat kadar glukosa darah lebih l. Menginformasikan cara
dari 250 mg/dL pengelolaan diabetes Kolaborasi

27
j. Anjurkan monitor kadar glukosa m. Pemberian insulin
darah secara mandiri berfungsiuntuk mempertahankan
k. Anjurkan kepatuhan terhadap jumlah glukosa dalam darah
diet dan olahraga tetap normal
l. Anjurkan pengelolaan diabetes n. Untuk memudahkan
Kolaborasi memberikan tambahan cairan ke
m. Kolaborasi pemberian insulin, pasien
jika perlu o. Pemberian cairan parental akan
n. Kolaborasi pemberian cairan IV, membantu dan mengembalikan
jika perlu jumlah normal cairan serta
o. Kolaborasi pemberian kalium, keseimbangan elektrolit
jika perlu
SIKI (I. 02079) Perawatan Sirkulasi Observasi
Observasi: a. Mengetahui kondisi sirkulasi
a. Periksa sirkulasi perifer (mis. perifer pada pasien
Nadi perifer, edema, pengisian b. Mengetahui penyebab gangguan
kapiler, warna,suhu, ankle- sirkulasi
brachial index) c. Mengetahui dan mengontrol
b. Identifikasi faktor resiko panas, kemerahan atau bengkak
gangguan sirkulasi (mis. pada ekstremitas
Diabetes, perokok, orang tua, Terapeutik
hipertensi, dan kadar kolestrol d. Menghindar terjadinya infiltrasi
tinggi) e. Mencegah terjadinya nyeri pada
c. Monitor panas, kemerahan, pasien
nyeri, atau bengkak pada f. Mengontrol tekanan darah agar
ekstremitas dalam kondisi normal
Terapeutik g. Mencegah terjadinya luka pada
d. Hindari pemasangan infus atau kaki
pengambilan darah di area Edukasi
keterbatasan perfusi h. Untuk memperlancar sirkulasi
e. Hindari pengukuran tekanan perfusi perifer
darah pada ekstremitas dengan i. Mengontrol tekanan darah agar

28
keterbatasan perfusi dalam keadaan
f. Hindari penekanan dan j. Mencegah terjadinya luka
pemasangan tourniquiet pada k. Untuk memperbaiki sirkulasi
area yang cedera. Lakukan l. Mengetahui dan memberikan
perawatan kaki dan kuku petunjuk dalam memberikan
Edukasi penanganan yang lebih lanjut
g. Anjurkan berolahraga secara m. Agar tekanan darah dapat
rutin terkontrol secara efektif.
h. Anjurkan menggunakan obat
penurun tekanan darah,
antikoagulan, dan penurun
kolestrol, jika perlu.
i. Anjurkan meminum obat
pengontrol tekanan darah secara
teratur
j. Anjurkan melakukan perawatan
kulit yang tepat (mis.
melembabkan kulit kering pada
kaki)
k. Anjurkan program diet untuk
memperbaiki sirkulasi
([Link] lemak jenuh,
minyak ikan, omega 3)
l. Informasikan tanda dan gejala
darurat yang harus dilaporkan
([Link] sakit yang tidak hilang
saat
SIKI (I. 03119) Manajemen Nutrisi Observasi
Observasi a. Untuk mengetahui kebutuhan
a. Identifikasi atatus nutrisi nutrisi klien
b. Identifikasi makanan yang b. Mencukupi kalori sesuai
disukai kebutuhan pasien dan dapat

29
c. Identifikasi kebutuhan kalori membantu proses penyembuhan
dan jenis nutrient pada pasien
d. Monitior asupan makanan c. Untuk mengetahui asupan
e. Monitor berat badan makanan apa saja yang
Terapeutik dibutuhkan klien
f. Lakukan oral hygiene sebelum d. Mengetahui frekuensi makan
makan pasien
g. Fasilitasi menetukan pedoman e. Untuk mengetahui berat badan
diet (mis. Piramida makanan) klien
h. Berikan makanan tinggi serat Terapeutik
untuk mencegah konstipasi f. Untuk memberikan rasa nyaman
i. Berikan makanan tinggi protein pada mulut klien dan
dan kalori. meningkatkan nafsu makan
Edukasi g. Karena status gizi seseorang
j. Anjurkan posisi duduk menunjukkan seberapa besar
saatmakan kebutuhan fisiologis individu
k. Ajarkan diet yang diprogramkan h. Karena serat dalam makanan
akan membentuk feses sehingga
mudah dikeluarkan. Memenuhi
kebutuhan protein yang hilang
dan membantu meringkan kerja
hepar dalam memproduksi
protein.
Edukasi
i. Memudahkan proses menelan
dan menurunkan terjadinya
resiko aspirasi
j. Untuk menjaga asupan makanan
yang dibutuhkan
SIKI (I. 03116) Manajemen Observasi
Hipovolemia a. Mengetahui kadar naik turunnya
Observasi frekuensi tanda dan gejala pada

30
a. Periksa tanda dan gejala hypovolemia
hypovolemia (mis. frekuensi b. Untuk memantau intake dan
nadi meningkat, nadi teraba output cairan
lemah, tekanan darahmenuurn, Terapeutik
tekanan nadi menyempit, turgor c. Mengetahui kebutuhan dan
kulitmenurun, membrane kehilangan cairan
mukosa kering, volume urin d. Posisi pasien berbaring di tempat
menurun, hematocrit meningkat, tidur dengan bagian kepala lebih
haus, lemah, rendah daripada bagian kaki,
b. Monitor intake dan output untuk melancarkan peredaran
cairan darah.
Terapeutik e. Pemenuhan kebutuhan dasar
c. Hitung kebutuhan cairan menurun kanresiko kekurangan
d. Berikan posisi modified cairan
Trendelenburg Edukasi
e. Berikan asupan cairan oral f. Untuk pemenuhan kebutuhan
Edukasi dasar cairan dan
f. Anjurkan memperbanyak mempertahankan cairan
asupan cairan oral g. Mencegah kesalahan posisi
g. Anjurkan menghindari pasien dalam menjalani
perubahan posisi mendadak perencanaan keperawatan
Kolaborasi
h. Kolaborasi pemberian cairan IV
isotonis (mis. NaCl, RL) Kolaborasi
i. Kolaborasi pemberian cairan IV h. Cairan intravena diperlukan
hipotonis (mis. Glukosa 25%, untuk mengatasi kehilangan
NaCl 0,4%) cairan tubuh secara hebat
j. Kolaborasi pemberian cairan i. Membantu mempercepat dalam
koloid ([Link], pemenuhan kebutuhan cairan
Plasmanate) j. Membantu mempercepat dalam
pemenuhan kebutuhan cairan
k. Membantu mempercepat dalam

31
pemenuhan kebutuhan cairan
SIKI (I. 05178) Manajemen Energi Observasi
Observasi a. Untuk mengetahui gangguan
a. Identifikasi gangguanfungsi fungsi tubuh yang dialami pasien
tubuh yang mengakibatkan akibat kelelahan
kelelahn b. Untuk mengetahui tingkat
b. Monitor kelelahan fisik kelelahan fisik dan emosional
danemosional pasien
c. Monitor pola jam tidur c. Untuk mengetahui pola tidur
d. Monitor lokasi dan pasien apakah teratur atau tidak
ketidaknyamanan selama d. Untuk mengetahui lokasi dan
melakukan aktivitas tingkat ketidanyamananpasien
Terapeutik selama melakukan aktivitas
e. Sediakan lingkungan yang Terapeutik
nyaman dan rendah stimulus e. Untuk memberikan rasa nyaman
(mis. cahaya, suara, kunjungan) bagi pasien
f. Lakukan latihan rentang gerak f. Untuk meningkatkan dan
pasif atau aktif melatih massa otot dan gerak
g. Berikan aktivitas distraksi ektremitas pasien Untuk
mengalihkan rasa
ketidaknyamanan yang dialami
pasien
g. Untuk melatih gerak mobilisasi
pasien selama dirawat
Edukasi
h. Memberikan kenyamanan pasien
saat beristirahat
i. Menunjang proseskesembuhan
pasien secara bertahap
j. Agar pasien dapat mengatasi
kelelahannya secara mandiri.
Kolaborasi Untuk

32
memaksimalkan proses
penyembuhan

D. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu pasien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke
status kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.
Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor-
faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi
keperawatan, dan kegiatan komunikasi. (Nurul. T, 2018).
Diagnosa pertama ketidakstabilan kadar glukosa, penulis melakukan pemeriksaan
kadar gula darah puasa dengan menggunakan glucometer dengan hasil GDS:233
mg/dl. Kedua melakukan pengkajian tanda dan gejala yang dirasakan dengan cara
berdiskusi secara langsung. Ketiga penyeluhan tentang diabetes mellitus dengan
menggunakan media leaflet mampu menyebutkan penegertian dm, tanda dan gejala,
faktor resiko dan komplikasi dm. (Nurul. T, 2018).
Keempat dianjurkan agar klien untuk meminum obat secara teratur dengan cara
mengedukasikan bagaimana cara meminum obat yang benar dan tepat dengan rutin
mengkonsumsi obat metmorfin. semua tindakan keperawatan yang telah
direncanakan sebelumnya tanpa hambatan. Diagnosa kedua Perfusi perifer tidak
efektif, pertama penulis mendiskusikan dan mengajarkan klien cara perawatan kulit
pada kaki dan kuku yang baik dengan cara memberikan pelembab dan memotong
kuku dengan hasil mampu melakukan bagaimana cara perawatan pada kaki dan kuku
dengan baik. (Nurul. T, 2018).
Kedua memberikan penyuluhan tentang senam kaki diabetes mellitus untuk
membantu melancarkan peredaran darah pada bagian kaki klien dengan cara
mempraktikannya secara langsung disofa dengan hasil mampu mempraktikannya
dengan baik. Merealisasikan semua tindakan keperawatan yang telah direncanakan
sebelumnya tanpa hambatan. Diagnosa ketiga intoleransi aktivitas, tindakan pertama
yaitu yang mengobservasi adanya pembatasan beraktivitas dengan cara melihat
aktivitas yang dapat dilakukan pasien, kedua memonitor lamanya tidur dan lamanya
beristirahat dengan cara berdiskusi dengan pasien. (Nurul. T, 2018).

33
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dari rangkaian proses keperawatan dari
tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau perlu pendekatan lain.
Evaluasi keperawatan mengukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan
keperawatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasien. (Nurul. T, 2018).
Untuk memudahkan perawat dalam mengevaluasi perkembangan pasien, maka
digunakan format evaluasi menggunakan SOAP/ SOAPIE/ SOAPIER. (Nurul. T,
2018).
S : Subjek adalah informasi yang berupa ungkapan yang di dapat dari pasiensetelah
tindakan dilakukan. (Nurul. T, 2018).
O: Objek adalah informasi yang didapat beupa hasil pengamatan, penilaian,
pengukuran, yang dilakukan oleh perawat setelah dilakukan tindakan. (Nurul. T,
2018).
A: Analisa adalah membandingkan antara informasi subjektif dan objektif dengan
tujuan dan dan kriteria hasil, kemudian diambil kesimpulan bahwa masalah
teratasi, masalah belum teratasi, masalah teratasi sebagian, munculmasalah baru.
P : Planning adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan. (Nurul. T,
2018).
I : Implementasi adalah pelaksanaan sesuai dengan rencana yang disusunsesuai
dengan keadaan dan dalam rangka mengatasi masalah pasien. (Nurul. T, 2018).
E: Evaluasi adalah respon atau penilaian dari tindakan yang telah dilakukan (Nurul.
T, 2018).
R: Reassesment adalah mencerminkan perubahan rencana asuhan dengan cepat,
memperhatikan hasil evaluasi, serta implementasi yang telah dilakukan. Hasil
evaluasi digunakan untuk menentukan ada tidaknya perbaikan atauperubahan
intervensi dan Tindakan. (Nurul. T, 2018).

F. Aspek Legal Etik Pada Masing-Masing Aspek


1. Studi Kasus

34
Seorang ayah tampak marah dan tidak terima pada saat anaknya dikatakan
mengidap Diabetes Melitus (DM) atau dikenal dengan kencing manis. Dengan
lantang dia berkata “seumur-umur saya dan istri saya tidak pernah kencing manis.
Demikian juga keluarga besar saya tidak ada keturunan penyakit kencing manis !
.([Link]
Mana mungkin anak sekecil itu kena kencing manis, yang bener aja dok …. !
Itu adalah reaksi yang normal bagi orang tua yang anaknya mengidap DM.
Marah, kecewa, menyangkal bahkan berpindah-pindah dokter untuk memastikan
bahwa apakah anaknya benar-benar mempunyai penyakit diabetes. .
([Link]

2. Kasus
a) Dari kasus diatas bahas secara konseptual dari Prinsip-prinsip etika
keperawatan : otonomi, beneficience, justice, non maleficience, moral right,
nilai dan norma masyarakat .([Link]
b) Bagaimana issue etik dalam praktik kep b.d transplantasi organ pancreas .
([Link]

3. Pengertian Etika Keperawatan


Etika (Yunani kuno: “ethikos“, berarti “timbul dari kebiasaan”) adalah cabang
utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai
standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep
sepertibenar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
([Link]
Prinsip-prinsip etik
a. Otonomi
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berpikir logis dan memutuskan. Orang dewasa dianggap kompeten dan
memiliki kekuatan membuat keputusan sendiri, memilih dan memiliki
berbagai keputusan atau pilihan yang dihargai. Prinsip otonomi ini adalah
bentuk respek terhadap seseorang, juga dipandang sebagai persetujuan tidak

35
memaksa dan bertindak secara rasional.
([Link]
Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang
menuntut pembedaan diri. Praktek profesioanal merefleksikan otonomi saat
perawat menghargai hak hak pasien dalam membuat keputusan tentang
perawatan dirinya. ([Link]
Dalam kasus ini ayah pasien merasa kecewa, marah, dan menyangkal
bahkan berpindah-pindah dokter untuk memastikan bahwa pernyataan dokter
mengenai anaknya yang menderita DM tidak benar. .
([Link]
Pada kasus tersebut ayah pasien berhak untuk menyangkal dan marah
bahkan berpindah-pindah dokter untuk memastikan lagi apa anaknya benar-
benar terkena DM. Tetapi sebagai seorang perawat kita juga mempunyai hak
untuk memberikan motifasi dan penjelasan bagaimana orang tua pasien untuk
menyikapi permasalahan tersebut. ([Link]
b. Berbuat baik (Beneficience)
Benefisiensi berarti hanya mengerjakan sesuatu yang baik. Kebaikan juga
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan
kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain.
Kadang-kadang dalam situasi pelayanan kesehatan kebaikan menjadi konflik
dengan otonomi. ([Link]
Pada kasus tersebut perawat seharusnya memberikan pengarahan kepada
orang tua pasien agar lebih tenang sehingga bisa menemukan jalan terbaik
untuk masalah yang sedang dihadapi. Sehingga orang tua pasien tidak perlu
berpindah-pindah dokter untuk memastikan penyakit anaknya.
c. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terapi yang sama dan adil terhadap
orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan.
Nilai ini direfleksikan dalam praktek profesional ketika perawat bekerja
untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang
benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan. .
([Link]

36
Orang tua pasien menyangkal untuk meminta keadilan atas pernyataan
dokter mengenai penyakit DM yang diderita anaknya. Karena orang tua
pasien yakin bahwa riwayat penyakit keluarga tidak ada yang menderita
penyakit DM.
Degan adanya kasus yang terjadi di atas perawat seharusnya bisa
menyikapi dan mengerti atas masalah yang sedang di hadapi orang tua pasien
misalnya perawat membantu memberikan dukungan dan memberikan rasa
nyaman dan tenang pada psikologis orang tua pasien .
([Link]
d. Tidak Merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti segala tindakan yang dilakukan pada klien tidak
menimbulkan bahaya / cedera secara fisik dan psikologik. Adanya penolakan
dan kurangnya pengetahuan orang tua pasien terhadap penyakit yang di derita
anaknya bisa mengakibatkan psikologi orang tua psien terganggu.
Atas adanya kasus di atas wajar apabila orang tua menolak pernaytaan
dokter apa lagi orang tau pasien tidak begitu mengetahui tentang penyakit
DM. tetapi kita sebagai seorang perawat bisa memberikan asuhan
keperawatan untuk menenangkan orang tua pasien agar pesikologi orang tua
pasien bisa terkendali sehingga pengobatan untuk anaknya tidak terganggu
dan sekaligus memberikan hed edukasi untuk menambah pengetahuan
penyakit DM pada orang tua pasien.
d. Moral rights
Teori moral mencakup bentuk pengetahuan yang kompleks dan luas yang
melebihi cakupan pendahuluan ini pada etik perawatan kesehatan. Namun,
terdapat teori moral dasar yang memainkan peran penting dalam proses
pertimbangan. .([Link]
Teori pertama, seringkali dikenal sebagai deontologi, lebih berfokus pada
tindakan atau kewajiban yang harus dilakukan daripada hasil atau
konsekwensi dari tindakan itu sendiri. Pemikiran seperti ini mengarahkan
seseorang untuk mempertimbangkan kebenaran dan kesalahan bawaan dari
suatu tindakan dan kewajiban tersebut. Kemudian jika tindakan tersebut
salah, tidak akan dilakukan dan jika tindakan tersebut benar atau baik,

37
seseorang akan memiliki kewajiban moral untuk melakukannya.
([Link]
Teori kedua, teori teleologis. Teori teologis umumnya mempertimbangkan
konsekwensi suatu tindakan. Teori moral semacam ini “memulai” sesuatu
yang baik dengan melihat pada situasi untuk menentukan apa yang harus
dilakukan, berdasarkan konsekwensi apa yang dialami orang yang terlibat
jika tindakan tersebut dilakukan. Seseorang yang menggunakan pertimbangan
teologis mungkin akan berpendapat bahwa situasi tertentu akan membuat
kematian seseorang dapat diterima jika hasilnya akan lebih menguntungkan,
seperti dalam kasus dimana seseorang yang kompeten meminta bantuan
karena kematiannya telah dekat dan menyebabkan rasa sakit yang tidak
tertahankan. .([Link]
Adanya kurangnya pengetahuan, pemikiran dan pendapat yang berbeda,
dalam kasus ini mengakibatkan konflik atau permasalahan baru yang akan
timbul. Seperti tindakan orang tua pasien untuk berpindah-pndah dokter
sehingga dapat mengganggu proses pengobatan pasien. Walupun orang tua
pasien berhak untuk berpidah-pindah dokter untuk memastikan apakan
anaknya benar-benar terkena penyakit DM namun tindakan tersebut juga bisa
menimbulkan orang tua pasien menjadi putus asa apabila hasilnya
[Link] akan mengakibatkan pesikologi terganggu. .
([Link]
Seorang perawat berhak menyarankan kepada orang tua pasien untuk
mendengarkan penjelasan lebih lanjut agar orang tua pasien tidak berpindah-
pindah dokter sehingga orang tua pasien tidak lebih kecewa apabila hasilnya
sama. .([Link]
e. Nilai dan Norma Masyarakat
Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat nilai dan norma masyarakat
sangat penting dan perlu ada pada diri [Link] masyarakat
yang sadar tentang nilai dan norma masyarakat berusaha keras dalam
mengukuhkan nilai-nilai masyarakat.
([Link]

38
Setiap individu tidak boleh hidup bersendirian, oleh itu seseorang itu perlu
bergaul bagi memenuhi keperluan dalam kehidupan. Oleh itu seseorang itu
perlu bersedia agar dapat bertindak dan berfungsi dalam masyarakat. Bagi
seseorang itu dapat berfungsi dan bertindak dalam masyarakat seseorang itu
perlu memahami nilai- nilai masyarakat dan kelakuan norma masyarakat
yang telah disahkan masyarakat itu sendiri
([Link]
Keyakinan seseorang tentang sesuatu yang berharga, kebenaran atau
keinginan mengenai ide-ide, objek, atau perilaku khusus. Individu tidak lahir
dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai ini diperoleh dan
berkembang melalui informasi, lingkungan keluarga, serta budaya sepanjang
perjalanan hidupnya. Mereka belajar dari keseharian dan menentukan
tentang nilai-nilai mana yang benar dan mana yang salah. .
([Link]

39
DAFTAR PUSTAKA

Lestari. [Link], (2021), Diabetes Melitus: Review Etiologi, Patofisiologi, Gejala,


Penyebab, Cara Pemeriksaan, Cara Pengobatan dan Cara Pencegahan, Prosiding
Biologi Achieving the Sustainable Development Goals with Biodiversity in
Confronting Climate Change Gowa, ISBN: 987-602-72245-6-8.

Pande. M, [Link], Analisis Luaran Klinik Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan
Peresepan Antidiabetik dan Komplikasi, Majalah Farmaseutik, Vol. 16 No. 2, 2019.

Nurul. T, Asuhan Keperawatan Pada Tn.M Dengan Diabetes Melitus Pada Katz Indeks
A Di Kampung Babakan Caah Rt/Rw 03/05 Kelurahan Galih Pakuwon Kecamatan
Bl. Limbangan Kabupaten Garut, Karya Tulis Ilmiah, Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Karsa Husada Garut, 2023.

Ozougwu, J.C, et. al, (2013), The pathogenesis and pathophysiology of type 1 and type
2 diabetes mellitus. Journal of Physiology and Pathophysiology,Vol. 4, No. 4.

Muji. R, Asuhan Keperawatan Ny. N Dengan Diabetes Melitus Di Ruang Kirana Rumah
Sakit Tk. Iii Dr. Soetarto Yogyakarta, Karya Tulis Ilmiah, Politeknik Kesehatan
Kementrian Kesehatan Yogyakarta 2018.

Rara. W, [Link], Mellitus Dalam era 4.0, Malang: Wineka Media, 2019.

Suryati, [Link], Buku Keperawatan Latihan Efektif untuk Pasien Diabetes Mellitus
Berbasis Hasil Penelitian, Yogyakarta : Deepublish., 2021.

Siloam Hospitals, 8 Cara Mencegah Diabetes Melitus yang Bisa Diterapkan Sejak Dini,
2024. [Link]
diabetes (diakses 24 Februari 2025)

[Link] (diakses 24 Februari 2025)

40

Anda mungkin juga menyukai