0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan89 halaman

Formulasi Masker Gel Peel Off Daun Sawit

Skripsi ini membahas formulasi sediaan masker gel peel off dari ekstrak etanol daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) untuk mengatasi kulit kering akibat paparan radikal bebas. Penelitian ini mengevaluasi variasi basis PVA dan HPMC dalam formulasi, yang menunjukkan hasil yang memenuhi syarat sebagai masker gel peel off yang baik. Hasil uji efektif kelembapan menunjukkan peningkatan kelembapan kulit yang signifikan dengan penggunaan sediaan secara rutin.

Diunggah oleh

farah salsabilah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan89 halaman

Formulasi Masker Gel Peel Off Daun Sawit

Skripsi ini membahas formulasi sediaan masker gel peel off dari ekstrak etanol daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) untuk mengatasi kulit kering akibat paparan radikal bebas. Penelitian ini mengevaluasi variasi basis PVA dan HPMC dalam formulasi, yang menunjukkan hasil yang memenuhi syarat sebagai masker gel peel off yang baik. Hasil uji efektif kelembapan menunjukkan peningkatan kelembapan kulit yang signifikan dengan penggunaan sediaan secara rutin.

Diunggah oleh

farah salsabilah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF DARI

EKSTRAK ETANOL DAUN KELAPA SAWIT


(Elaeis guineensis Jacq.)

SKRIPSI

Oleh :
RIFDAH RAMADHANI SHUBBIYA
NPM F1G020019

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
2024
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF DARI
EKSTRAK ETANOL DAUN KELAPA SAWIT
(Elaeis guineensis Jacq.)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar


Sarjana Farmasi Pada Program Studi S1 Farmasi

Oleh :
RIFDAH RAMADHANI SHUBBIYA
NPM F1G020019

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
2024

ii
iii
iv
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang mana telah
memberikan kesehatan dan rahmatnya sehingga penulis bisa menyelesaikan
penelitian dan penulisan skripsi ini dengan judul " Formulasi Sediaan Masker Gel
Peel Off Dari Ekstrak Etanol Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)”
dengan baik.
Pada penulisan skripsi ini, penulis menyadari telah banyak melibatkan
berbagai pihak yang memberikan bimbingan, bantuan, saran, kerja sama, dan
dukungan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikannya. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada:
1. Ibu Dr. Retno Agustina Ekaputri, S.E., [Link] selaku Rektor Universitas
Bengkulu.
2. Bapak Prof. Sal Prima Yudha S, [Link]., [Link] selaku Dekan FMIPA
Universitas Bengkulu yang telah memberikan motivasi kepada penulis
sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.
3. Ibu apt. Delia Komala Sari, S,Farm., [Link] selaku Koordinator Program
Studi S1 Farmasi Universitas Bengkulu
4. Ibu apt. Dwi Dominica, [Link]., [Link] selaku dosen pembimbing utama
yang telah meluangkan banyak waktunya untuk memberikan dukungan,
masukan, serta ilmu sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini
dengan baik.
5. Ibu Dr. Dwita Oktiarni [Link]., [Link] selaku pembimbing pendamping dan
pembimbing akademik yang telah membimbing dan memberikan
masukan, saran serta dukungan kepada penulis selama proses penulisan
skripsi sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
6. Ibu apt. Septi Wulandari, [Link]., [Link]. selaku penguji I yang telah
memberikan dukungan, saran, masukan dan nasehat demi perbaikan
skripsi ini.
7. Ibu apt. Camelia Dwi Putri Masrijal, [Link]. selaku penguji II yang telah
memberikan dukungan, saran, masukan dan nasehat demi perbaikan
skripsi ini.

vi
vii
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF DARI
EKSTRAK ETANOL DAUN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Oleh:

RIFDAH RAMADHANI
SHUBBIYA F1G020019

ABSTRAK

Indonesia negara beriklim tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang musim
yang dapat mengakibatkan kulit menjadi kering. Penyebab kulit kering adalah
terpapar oleh radikal bebas seperti polusi udara dan paparan sinar matahari secara
langsung. Antioksidan berfungsi sebagai penangkal radikal bebas dalam tubuh
sehingga dapat melawan kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh radikal bebas.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi basis PVA dan HPMC
yang akan diformulasikan dalam sediaan masker gel peel off ekstrak daun kelapa
sawit. Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan
metode maserasi dengan pelarut etanol. Pada penelitian ini dapat diformulasi 1,5%
ekstrak daun kelapa sawit dengan variasi PVA dan HPMC yaitu 9:1, 8:2 dan 7:1.
Masker gel peel off dievaluasi yaitu organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar,
viskositas, waktu mengering, uji iritasi dan uji efektif kelembapan. Hasil evaluasi
terlihat bahwa semua formula memenuhi syarat evaluasi sebagai masker gel peel
off yang baik yaitu homogen, pH 4,8-6,0, daya sebar 5,0-6,5 cm, viskositas 15600-
48000 cp, waktu mengering 17-24 menit, dan tidak terjadi iritasi. Adapun hasil uji
efektif kelembapan penggunaan sediaan secara rutin dapat melembapkan kulit
yaitu peningkatan kelembapan pada F0 (13,4%) lebih kecil dibandingkan dengan
F1(19,8%), F2(22%), dan F3(21,8%).

Kata kunci : Daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq,), HPMC,


Kelembapan, Masker gel peel off, PVA

viii
PEEL OFF GEL MASK FORMULATION FROM ETHANOL EXTRACT
OF PALM LEAF (Elaeis guineensis Jacq.)

By:

RIFDAH RAMADHANI
SHUBBIYA F1G020019

ABSTRACT

Indonesia is a tropical country with sun exposure throughout the season which can
cause dry skin. The cause of dry skin is exposure to free radicals such as air
pollution and direct exposure to sunlight. Antioxidants function as free radical
scavengers in the body so that they can fight oxidative damage caused by free
radicals. The purpose of this study was to determine the effect of variations in
PVA and HPMC bases that would be formulated in the preparation of a peel-off
gel mask with oil palm leaf extract. The extraction method used in this study was
the maceration method with ethanol solvent. In this study, 1.5% oil palm leaf
extract could be formulated with variations of PVA and HPMC, namely 9: 1, 8: 2
and 7: 1. The peel-off gel mask was evaluated, namely organoleptic, homogeneity,
pH, spreadability, viscosity, drying time, irritation test and moisture effectiveness
test. The evaluation results show that all formulas meet the evaluation
requirements as a good peel-off gel mask, namely homogeneous, pH 4.8-6.0,
spreadability 5.0-6.5 cm, viscosity 15600-48000 cp, drying time 17-24 minutes,
and no irritation. The results of the effective moisture test for routine use of the
preparation can moisturize the skin, namely the increase in moisture in F0 (13.4%)
is smaller than F1 (19.8%), F2 (22%), and F3 (21.8%).

Keywords: HPMC, Moisture, Palm oil leaves (Elaeis guineensis Jacq,), Peel
off gel mask, PVA

ix
DAFTAR ISI

MOTTO DAN PERSEMBAHAN...........................Error! Bookmark not defined.


PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN.................Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR...........................................................................................vi
ABSTRAK...........................................................................................................viii
ABSTRACT...........................................................................................................ix
DAFTAR ISI...........................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR............................................................................................xii
DAFTAR TABEL...............................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................xiv
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................3
1.3 Batasan Masalah......................................................................................3
1.4 Tujuan Penelitian.....................................................................................3
1.5 Manfaat Penelitian...................................................................................3
1.5.1 Bagi akademik...............................................................................................3
1.5.2 Bagi Peneliti..................................................................................................3
1.5.3 Bagi Peneliti Lanjutan...................................................................................4
1.5.4 Bagi Masyarakat............................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................5
2.1 Deskripsi Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)...............5
2.1.1 Klasifikasi...........................................................................................5
2.1.2 Morfologi Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).............................5
2.1.3 Manfaat Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)................................6
2.1.4 Kandungan Kimia Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)................6
2.2 Kulit..........................................................................................................7
2.3 Ekstraksi...................................................................................................9
2.4 Gel...........................................................................................................10
2.5 Masker....................................................................................................11
2.5.1 Jenis-Jenis Masker......................................................................................11
2.5.2 Fungsi Masker............................................................................................12
2.5.3 Masker Gel Peel Off...................................................................................12
2.5.4 Monografi Bahan Masker Gel Peel Off......................................................13
2.6 Evaluasi Sediaan Masker Peel Off.......................................................18
2.7 Uji Kelembapan....................................................................................19
BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................21
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian..............................................................21
3.2 Alat dan Bahan......................................................................................21
3.2.1 Alat.............................................................................................................21
3.2.2 Bahan..........................................................................................................21
3.3 Prosedur Kerja.......................................................................................21
3.3.1 Verifikasi Sampel.............................................................................21
3.3.2 Pembuatan Simplisia Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).........21
3.3.3 Pembuatan Ekstrak Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)............22
3.3.4 Rendemen Ekstrak Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).............22
3.3.5 Uji Flavonoid Ekstrak Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)........22
3.3.6 Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off....................................................22

3.3.7 Proses Pembuatan Masker Gel Peel off......................................................23


x
3.3.8 Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel off.......................................................23
3.4.10 Jadwal Penelitian.......................................................................................26
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................27
4.1 Verifikasi Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).............27
4.2 Simplisia Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).....................27
4.3 Ekstrak dan Nilai Rendemen Daun Kelapa Sawit..............................28
4.4 Uji Flavonoid Ekstrak Daun Kelapa Sawit.........................................29
4.5 Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off.............................................30
4.6 Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel Off................................................31
4.6.1 Uji Organoleptis...............................................................................31
4.6.2 Uji Homogenitas...............................................................................32
4.6.3 Uji pH...............................................................................................33
4.6.4 Uji Daya Sebar.................................................................................34
4.6.5 Uji Waktu Mengering.......................................................................35
4.6.6 Uji Viskositas...................................................................................37
4.6.7 Uji Iritasi...........................................................................................39
4.6.8 Uji Kelembapan................................................................................40
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................43
5.1 Kesimpulan..............................................................................................43
6.2 Saran.......................................................................................................43
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................44

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)......................................5


Gambar 2. Struktur Apigenin Pada Ekstrak Daun Kelapa Sawit..........................7
Gambar 3. Anatomi Kulit......................................................................................7
Gambar 4. Struktur Kimia Polivinil Alkohol.......................................................14
Gambar 5. Struktur Kimia Hydroxypropyl Methylcellulose...............................15
Gambar 6. Struktur Kimia Triethanolamine........................................................15
Gambar 7. Struktur Kimia Propilen Glikol..........................................................16
Gambar 8. Struktur Kimia Methyl Paraben.........................................................16
Gambar 9. Struktur Kimia Propil Paraben...........................................................17
Gambar 10. Struktur Kimia Aquadest.................................................................17
Gambar 11. Ekstrak daun kelapa sawit................................................................28
Gambar 12. Hasil Uji Flavonoid..........................................................................29
Gambar 13. Mekanisme Reaksi Flavonoid dengan Serbuk Mg dan HCl Pekat . 30
Gambar 14. Sediaan Masker Gel Peel Off...........................................................30
Gambar 15. Hasil Pengukuran pH Masker Gel Peel Off.....................................34
Gambar 16. Hasil Pengukuran Daya Sebar Masker Gel Peel Off.......................35
Gambar 17. Hasil Pengukuran Waktu Mengering Masker Gel Peel Off.............36
Gambar 18. Pengukuran Viskositas Masker Gel Peel Off...................................37

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kriteria jenis kulit berdasarkan kandungan air........................................20


Tabel 2. Formulasi Sediaan Masker Gel Peel off Ekstrak Daun Kelapa Sawit....23
Tabel 3. Hasil Uji Organoleptis.............................................................................31
Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas............................................................................33
Tabel 5. Hasil Uji Iritasi Masker Gel Peel Off terhadap 12 panelis......................39
Tabel 6. Hasil Uji Kelembapan Masker Gel Peel Off terhadap 12 panelis...........41

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Verifikasi Tanaman.........................................................................52


Lampiran 2. Ethical Clearance...........................................................................53
Lampiran 3. Hasil Uji Similarity/ Plagiarism.....................................................54
Lampiran 4. Perhitungan bahan Pembuatan Masker Gel Peel Off......................55
Lampiran 5. Lembar Pernyataan Kesediaan Panelis uji iritasi............................57
Lampiran 6. Lembar Pernyataan Kesediaan Panelis Uji Kelembapan................58
Lampiran 7. Alat-Alat Yang Digunakan..............................................................59
Lampiran 8. Bahan-Bahan Yang Digunakan.......................................................61
Lampiran 9. Dokumentasi Pembuatan Ekstrak Daun Kelapa Sawit...................62
Lampiran 10. Dokumentasi Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off................63
Lampiran 11. Dokumentasi Uji Organoleptis......................................................64
Lampiran 12. Dokumentasi Uji Homogenitas.....................................................64
Lampiran 13. Dokumentasi Uji pH.....................................................................64
Lampiran 14. Dokumentasi Uji Daya Sebar........................................................65
Lampiran 15. Dokumentasi Uji Waktu Mengering.............................................65
Lampiran 16. Dokumentasi Uji Viskositas.........................................................66
Lampiran 17. Dokumentasi Uji Iritasi.................................................................66
Lampiran 18. Dokumentasi Uji Kelembapan......................................................67
Lampiran 19. Daftar Riwayat Hidup...................................................................68

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kulit kering merupakan masalah kulit yang umum terjadi di masyarakat,
terutama pada masyarakat yang tinggal di daerah beriklim tropis seperti Indonesia
(Suharsanti and Ariyani, 2018). Indonesia memiliki iklim tropis dan paparan sinar
matahari sepanjang musim dapat menyebabkan kulit kering (Wilsya and Agustin,
2023). Kulit kering menggambarkan hilangnya atau berkurangnya kandungan air
di stratum korneum. Kulit kering atau xerosis dapat menyebabkan gatal, pecah-
pecah, kemerahan dan terkadang infeksi (Wulaningsih, Sopyan and Sriwidodo,
2023). Salah satu penyebab kulit kering adalah paparan radikal bebas dari polusi
udara dan sinar matahari langsung (Anwar et al., 2021).
Radikal bebas adalah molekul yang relatif tidak stabil yang memiliki satu atau
lebih elektron tidak berpasangan di orbital terluar atomnya. Radikal bebas menjadi
stabil ketika bergabung dengan elektron dari molekul lain (Herawan et al., 2022).
Radikal bebas dapat menyebabkan penuaan dini dan kerusakan kulit. Antioksidan
merupakan senyawa yang dapat menetralkan radikal bebas reaktif menjadi bentuk
non-reaktif yang relatif stabil, sehingga dapat melindungi sel dari efek berbahaya
radikal bebas (Afandi et al., 2021). Walaupun tubuh manusia mempunyai sistem
pertahanan tersendiri terhadap radikal bebas, namun semakin banyaknya radikal
bebas membuat sistem pertahanan tubuh tidak memadai. Oleh karena itu, tubuh
membutuhkan antioksidan untuk melindungi diri dari serangan radikal bebas
(Eryani,, 2022).
Sumber antioksidan alami berasal dari tumbuhan. Daun kelapa sawit (Elaeis
guineensis Jacq.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung antioksidan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh yin et al., (2013), senyawa bioaktif yang
terdapat pada ekstrak daun kelapa sawit antara lain fenolik, flavonoid, tanin,
kumarin, alkaloid, saponin, terpenoid, steroid, dan karbohidrat Analisis fitokimia
ekstrak metanol menunjukkan bahwa fitokimia yang paling banyak terdapat pada
daun kelapa sawit adalah fenolik dan flavonoid yang berkontribusi terhadap
aktivitas antioksidan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Zumaro et al.
(2021),

1
ekstrak daun kelapa sawit memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50
sebesar 133,58 ug/mL. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Kartiko dan
Fanani (2021) menemukan bahwa daun kelapa sawit memiliki kandungan
antioksidan yang tinggi yaitu 90,6754%, dengan nilai IC50 sebesar 114,59 ug/mL.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Idawati et al., (2023) menunjukkan
bahwa setiap formula krim ekstrak etanol daun kelapa sawit mengandung
antioksidan. Formula krim terbaik dengan daya antioksidan kuat yaitu FIII
memiliki konsentrasi ekstrak etanol daun kelapa sawit 1,5% dan nilai IC50
sebesar 97,317 ug/mL.
Efek antioksidan perawatan wajah topikal lebih baik dibandingkan produk oral
karena interaksi bahan aktif dengan kulit wajah lebih lama (Lestari et al., 2023).
Masker adalah salah satu jenis kosmetik perawatan paling populer saat ini. Masker
merupakan produk perawatan berbentuk gel, bubuk, atau pasta yang dioleskan
pada kulit wajah untuk membersihkan, mengencangkan, atau memulihkan kulit
dengan memberikan nutrisi pada kulit (Setiani dan Susanti, 2020).
Bahan masker yang paling banyak digunakan adalah senyawa masker yang
terbuat dari bahan alami atau termasuk senyawa masker yang biasa disebut masker
alami, dibandingkan dengan senyawa masker sintetis. Masker alami relatif lebih
aman dibandingkan masker kimia sintetis dan terbukti tidak menyebabkan iritasi
kulit. Masker alami memiliki banyak keunggulan yang sulit dibandingkan dengan
produk sintetis yaitu, relatif aman bagi kulit, menggunakan bahan lokal, harga
terjangkau, dan terbukti khasiatnya (Rohmalia dan Shinta, 2021).
Masker gel peel-off merupakan masker praktis yang dapat langsung dilepas
setelah dikeringkan tanpa dibilas. Manfaat masker gel antara lain mampu
mengangkat kotoran dan sel kulit mati sehingga membuat kulit terasa bersih dan
segar. Masker gel juga dapat mengembalikan kesegaran dan kelembutan kulit
Anda. Bahkan jika digunakan sehari-hari, masker gel juga dapat mengurangi
kerutan pada wajah (Kusantati et al., 2008). Ningrum (2018) menyatakan bahwa
masker peel-off dapat digunakan untuk mengendurkan otot-otot wajah serta
membersihkan, melembabkan, dan melembutkan kulit.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik melakukan formulasi
masker gel peel off dari ekstrak daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
dengan konsentrasi PVA dan HPMC yang berbeda (9:3, 8:4, dan 7:5).
2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dari penelitian
ini adalah:
a. Apakah ekstrak daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dapat
diformulasikan menjadi sediaan masker gel peel off?.
b. Apakah variasi konsentrasi PVA dan HPMC (9:3, 8:4, dan 7:5) dapat
mempengaruhi evaluasi fisik sediaan dan kelembapan dari sediaan masker gel
peel off dari ekstrak etanol daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)?.

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah dari penelitian ini adalah evaluasi fisik dan uji kelembapan
sediaan masker gel peel off dari ekstrak etanol daun kelapa sawit (Elaeis
guineensis Jacq.) dengan variasi konsentrasi PVA dan HPMC (9:3, 8:4, dan 7:5).

1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui ekstrak daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dapat
diformulasikan menjadi sediaan masker gel peel off.
b. Untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi PVA dan HPMC (9:3, 8:4,
dan 7:5) terhadap evaluasi fisik sediaan dan kelembapan dari sediaan masker
gel peel off dari ekstrak etanol daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Bagi akademik
Penelitian ini diharapkan dapat menambah kekayaan ilmu pengetahuan dan
dapat dijadikan referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan bidang farmasi
dalam pembuatan kosmetik berupa masker gel peel off menggunakan bahan alami
yaitu ekstrak etanol daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).

1.5.2 Bagi Peneliti


a. Melalui penelitian, penulis dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis,
kreatif dan inovatif serta dapat memanfaatkan ilmunya untuk menyelesaikan
masalah dengan menggunakan kemampuannya dalam mencari pemecahan
masalah melalui pendekatan ilmiah.

3
b. Melalui penelitian ini penulis dapat memenuhi syarat mendapatkan gelar
sarjana dalam program studi S1 Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Bengkulu.
1.5.3 Bagi Peneliti Lanjutan
Dapat menjadi bahan rujukan baru dalam dunia penelitian yang berkaitan
dengan bidang farmasi dalam pembuatan kosmetik masker gel peel off dari
ekstrak etanol daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
1.5.4 Bagi Masyarakat
Penelitan ini memberikan informasi tentang pemanfaatan ekstrak daun kelapa
sawit (Elaeis guineensis Jacq.) sebagai pelembab menjadi bentuk sediaan farmasi
yang praktis dan bernilai ekonomis.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)


2.1.1 Klasifikasi
Klasifikasi kelapa sawit : (Sulardi, 2022)
Kingdom : Plantae
Divisi : Embryophita Siphonagama
Kelas : Angiospermae
Ordo : Monocotyledonae
Famili : Aracaceae
Subfamili : Cocoideae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq.
2.1.2 Morfologi Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Daun kelapa sawit mirip dengan kelapa karena membentuk susunan daun
majemuk, bersirip genap, dan bertulang sejajar. Banyak daun dalam satu pelepah
berkisar antara 250 hingga 400 helai. Panjang pelepah mencapai lebih dari 7,5
hingga 9 meter. Daun kelapa sawit yang sehat dan masih segar bewarna hijau tua
(Abdul, 2023). Adapun gambar pohon dan daun kelapa sawit terdapat pada
Gambar 1.

Gambar 1. Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)


Sumber : Dokumentasi Pribadi

5
2.1.3 Manfaat Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Ekstrak daun kelapa sawit memiliki banyak manfaat kesehatan karena
menunjukkan berbagai aktivitas farmakologis, termasuk antioksidan, antibakteri,
antihipertensi, antidiabetes, imunomodulator, diuretik, perlindungan UV,
penyembuhan luka, dan perlindungan lambung gastroprotektif (Sulistiarini, et al.,
2022). Daun kelapa sawit juga dapat digunakan sebagai antioksidan, dan aktivitas
antibakteri serta potensi aplikasi ekstrak daun kelapa sawit (Elaeis guineensis
Jacq.) sebagai pencerah kulit dan tabir surya dievaluasi dalam aplikasi topikal.
Ekstrak daun kelapa sawit menunjukkan aktivitas antioksidan dengan nilai IC50
sebesar 247 ± 0,58 μg/mL. Selanjutnya ekstrak daun kelapa sawit hanya efektif
terhadap bakteri Gram positif, dan konsentrasi menghambat minimumnya adalah
12,5 mg/mL. Ekstrak kelapa sawit juga mampu menghambat enzim tirosinase
jamur dengan nilai IC50 sebesar 254,88 μg/mL. Ekstrak daun kelapa sawit
menunjukkan potensi penyerapan UV yang sangat baik pada rentang panjang
gelombang UV-B dan UV-A dan dapat digunakan sebagai tabir surya alami dan
pencerah kulit untuk aplikasi topikal (Yusof et al., 2016).
2.1.4 Kandungan Kimia Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Penelitian yang dilakukan oleh (Yin et al., 2013), melaporkan bahwa senyawa
bioaktif yang terdapat pada daun kelapa sawit antara lain alkaloid, fenol, saponin,
dan flavonoid. Analisis fitokimia ekstrak metanol menunjukkan bahwa flavonoid
merupakan kandungan fitokimia tertinggi pada daun kelapa sawit. Flavonoid
dalam ekstrak daun kelapa sawit antara lain flavanol (epigallocationchin, catechin,
epicatechin, epigallocationchin gallate, dan epicatechin gallate) dan flavon
(luteolin, apigenin, vitexin, isovitexin, orientin, dan isorentin) ( Tow et al. , 2021 ).
Apigenin mengurangi aktivitas MMP-1, melindungi kulit dari kerusakan
matriks kolagen akibat sinar UVA dan UVB, sehingga mengurangi elastisitas dan
kekeringan kulit. Apigenin juga merangsang sintesis kolagen dalam fibroblas dan
meningkatkan ketebalan kulit. Uji klinis aplikasi topikal menunjukkan bahwa efek
apigenin dapat meningkatkan elastisitas, kekencangan, dan garis halus kulit, serta
menjaga hidrasi kulit (Szostek et al., 2021). Adapun gambar struktur apigenin
dapat dilihat pada Gambar 2.

6
Gambar 2. Struktur Apigenin Pada Ekstrak Daun Kelapa
Sawit Sumber : (Zain et al., 2021)
2.2 Kulit
2.2.1 Struktur Kulit
Kulit terdiri dari epidermis, dermis, dan hipodermis (Isnaini et al., 2022).
Adapun gambar anatomi kulit terdapat pada Gambar 3.

Gambar 3. Anatomi Kulit


Sumber : Isnaini et al., 2022

a. Lapisan Kulit yang Pertama (Epidermis)


Epidermis terdiri dari lima lapisan sel epitel, yang paling umum adalah
keratinosit. Keratinosit berfungi sebagai pembentukan keratin, protein
struktural kulit, rambut, dan kuku serta untuk kekebalan. Jenis sel terbesar
kedua di epidermis adalah melanosit, yang ditemukan di lapisan basal.
Melanosit menghasilkan pigmen melanin yang dapat menentukan warna kulit
dan ras seseorang.
Sel Langerhans merupakan jenis sel ketiga terbanyak di epidermis. Sel
Langerhans terlibat dalam banyak aktivitas penting, termasuk memproduksi

7
interleukin-1, menyebabkan penolakan cangkok kulit, dan dermatitis kontak
alergi. Selain itu, sel Granstein tampaknya bertindak sebagai “rem” pada
respon imun yang diaktifkan oleh kulit (Isnaini et al., 2022).
b. Lapisan Kulit Kedua (Dermis)
Di bawah epidermis terdapat dermis, lapisan jaringan ikat yang biasanya
40 kali lebih tebal dan mengandung banyak serat elastis dan kolagen, banyak
pembuluh darah, dan beberapa ujung saraf. Pembuluh darah berperan penting
dalam mengatur suhu tubuh. Selain pembuluh darah, dermis juga mengandung
banyak saraf yang dapat merasakan tekanan, suhu, nyeri, dan informasi.
Dermis mengandung sel mast dan fibroblas. Sel mast mengandung reseptor
untuk imunoglobulin E, prostaglandin E, dan histamin. Fibroblas mensintesis
komponen pendukung struktural kulit (yaitu kolagen dan serat elastis) (Isnaini
et al., 2022).
c. Hipodermis Lapisan di bawah dermis,
Hipodermis terdiri dari jaringan lemak, kolagen, dan pembuluh darah
yang lebih besar. Jaringan adiposa mempengaruhi termoregulasi dan
memiliki efek bantalan terhadap tekanan eksternal dan cedera (Isnaini et al.,
2022).
2.2.2 Fungsi Kulit
Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut: (Nurlaili, 2016)
1. Pelindung atau proteksi
2. Penerima rangsang
3. Pengatur suhu atau thermoregulasi
4. Penyimpanan.
5. Penyerapan
6. Penunjang penampilan
7. Kulit sebagai alat yang menyatakan emosi
2.2.3 Jenis-Jenis Kulit
Pada umumnya jenis kulit manusia dapat dikelompokkan menjadi: (Nurlaili,
2016)
1. Kulit Normal
2. Kulit Berminyak
3. Kulit Kering
8
4. Kulit Kombinasi

2.3 Ekstraksi
Ekstraksi adalah teknik pemisahan kimia yang memisahkan atau
mengekstraksi satu atau lebih komponen atau senyawa dari suatu sampel dengan
menggunakan pelarut yang sesuai. Prinsip proses ekstraksi diawali dengan
proses pembukaan jaringan atau dinding sel dengan perlakuan panas, yang
selanjutnya dilanjutkan dengan proses ekstraksi senyawa target menggunakan
pelarut organik yang sesuai sesuai dengan prinsip afinitas atau polaritas senyawa
dan polaritasnya. dari senyawa dan pelarut. Beberapa metode ekstraksi antara
lain (Nugroho, 2017).
a. Maserasi
Metode ekstraksi yang paling sederhana dan tertua. Namun metode ini
masih banyak digunakan karena banyak kelebihannya, seperti harga yang
murah, peralatan yang sederhana, dan tidak memerlukan perlakuan panas,
sehingga metode ini cocok untuk mengekstraksi senyawa yang tidak tahan
terhadap panas.
b. Perkolasi
Perkolasi dilakukan dengan cara mengalirkan pelarut yang sesuai melalui
matriks bahan atau sampel yang disusun pada suatu penyaring, sehingga
senyawa metabolit pada bahan yang diekstraksi akan larut, sehingga senyawa
metabolit ikut terbawa bersama pelarut dan mengalir. Keluarkan dari wadah
untuk dikumpulkan.
c. Reflux
Refluks berarti daur ulang pelarut secara terus menerus melalui kondensasi
berulang kali di kondensor. Dalam metode ini, bahan yang akan diekstraksi
direndam dalam pelarut dalam wadah/botol berbentuk lingkaran dan kemudian
ditempatkan di atas pemanas (dapat digunakan water bath, heating mantle, atau
hot plate).
d. Ekstraksi dengan Soxhlet
Prinsip ekstraksi dengan metode soxhlet adalah mengekstraksi bahan yang
telah dihaluskan dengan cara membungkusnya dengan kertas saring, kemudian
dimasukkan ke dalam alat soxhlet, dimana pelarut sebelumnya telah ditampung
dalam labu soxhlet pada bagian bawah. Untuk memanaskan labu Soxhlet,
9
letakkan heating mantle atau hot plate tepat di bawah labu Soxhlet.

10
e. Ekstraksi dengan Ultrasonikasi
Metode ini merupakan pengembangan dari metode maserasi. Selama
perendaman, zat dimasukkan ke dalam wadah kaca dan proses ekstraksi
dipercepat dengan pengadukan. Pada metode ini, proses pengadukan digantikan
dengan gelombang ultrasonik, yaitu pemberian gelombang suara dengan
frekuensi tinggi (20.000 Hz).
Pemilihan metode tergantung pada beberapa alasan, seperti sifat bahan,
stabilitas metabolit sekunder, rendemen dan kualitas yang diinginkan, serta alasan
biaya dan waktu (efisiensi).
2.3.1 Teknik Ekstraksi dan Pelarut yang Tepat
Selama ekstraksi, teknik ekstraksi dan jenis pelarut yang tepat harus dipilih
sesuai dengan sifat fisikokimia sampel dan metabolit sekunder. Selain faktor
efisiensi, pertimbangan juga harus diberikan untuk mencapai hasil yang tinggi
dengan tetap menjaga kualitas, mengurangi waktu ekstraksi, menggunakan lebih
sedikit pelarut, menurunkan biaya, dan mengurangi risiko. Semua ini harus
menjadi dasar pertimbangan pemilihan teknologi ekstraksi. Jenis pelarut juga
berperan penting dalam mendukung keberhasilan ekstraksi. Ada berbagai jenis
pelarut organik yang dapat digunakan untuk ekstraksi bahan alami, seperti
heksana, butanol, kloroform, etil asetat, aseton, metanol, etanol, dan air suling
(Nugroho, 2017).

2.4 Gel
Gel merupakan formula yang mengandung lebih banyak air dan memberikan
penghantaran obat yang lebih baik dibandingkan salep. Keunggulannya adalah
mudah menyebar merata saat diaplikasikan pada kulit, memberikan sensasi sejuk,
daya serapnya baik, tidak meninggalkan bekas, dan mudah digunakan. Formulasi
gel memerlukan bahan dasar untuk memperoleh formula yang mempunyai
stabilitas dan kompatibilitas tinggi, toksisitas rendah, dan memungkinkan
peningkatan waktu kontak dengan kulit (Indrawati, 2011).
Gelling agent merupakan campuran beberapa molekul polimer, mempunyai
berat molekul tinggi dan memberikan sifat kental pada gel. Agen pembentuk gel
(bahan gel) adalah bahan tambahan yang digunakan untuk mengentalkan dan
menstabilkan berbagai jenis sediaan farmasi dan kosmetik. Basis gel dapat

11
mempengaruhi sifat fisik gel. Peningkatan jumlah gelling agent dalam suatu
formula gel akan meningkatkan kekuatan jaringan struktur gel, sehingga
meningkatkan viskositas, sehingga sulit untuk mengaplikasikan gel pada kulit
jika penggunaan gelling agent yang digunakan terlalu banyak. Formulasi gel
biasanya terdiri dari bahan aktif, basis gel, humektan, surfaktan, pengawet,
pewarna dan parfum (Indrawati, 2011). Evaluasi sifat fisik formula gel yaitu
organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar dan viskositas (Agustiani et al.,
2022).

2.5 Masker
Salah satu jenis perawatan kecantikan yang paling populer saat ini adalah
masker. Masker merupakan produk perawatan berbentuk gel, bubuk, dan pasta
yang dioleskan pada kulit wajah dan memberikan nutrisi pada kulit wajah,
memberikan efek pembersihan, elastisitas, dan pemulihan. Masker melembabkan
kulit, merangsang sel kulit mati, menghilangkan kotoran dan sel kulit mati yang
menempel di kulit, mengatasi jerawat dan noda, serta mencegah dan mengurangi
kerutan (Setiani dan Susanti, 2020).
2.5.1 Jenis-Jenis Masker
Ada empat jenis masker wajah (Kusantati et al., 2008)
a. Masker Bubuk
Masker bubuk merupakan bentuk masker yang paling awal dan populer.
Banyak produsen kosmetika baik tradisional maupun modern yang
memproduksi jenis masker bubuk. Biasanya masker bubuk terbuat dari bahan-
bahan yang dihaluskan dan diambil kadar airnya. Pilihlah masker bubuk yang
sesuai dengan jenis kulit.
b. Masker Krim
Penggunaan masker krim sangat praktis dan mudah. Saat ini masker krim
dikemas dalam bentuk tube yang disesuaikan dengan berbagai jenis kulit.
Oleskan krim masker pada wajah dan leher, tunggu hingga kering (15 menit),
lalu bersihkan dengan handuk hangat dan lembab.
c. Masker Gel
Masker gel merupakan salah satu masker yang praktis karena dapat
langsung dilepas setelah dikeringkan tanpa perlu dibilas. Masker gel biasa
dikenal dengan sebutan masker peel-off. Manfaatnya adalah kemampuannya
12
dalam mengangkat

13
kotoran dan sel kulit mati sehingga menjadikan kulit bersih dan segar. Masker
gel mengembalikan kesegaran, kelembutan kulit, serta mengurangi munculnya
kerutan halus pada kulit wajah.
d. Masker Kertas atau Kain
Masker lembaran atau kain biasanya mengandung bahan alami yang
membantu mengangkat sel kulit mati, menyamarkan flek atau noda hitam,
mengecilkan pori-pori, dan menghaluskan kerutan di wajah.
2.5.2 Fungsi Masker
Fungsi masker wajah yaitu, (Ermavianti dan Susilowati, 2020)
1. Memperbaiki dan merangsang sirkulasi darah pada kulit wajah untuk
memperlancar peredaran darah.
2. Mengangkat sel kulit mati, merangsang dan melembutkan kulit.
3. Membersihkan dan memperkecil pori-pori wajah
4. Meningkatkan elastisitas kulit wajah.
5. Memberikan nutrisi kepada kulit.
6. Mencegah kerutan halus pada wajah.
7. Menghilangkan minyak berlebih pada kulit, termasuk bintik-bintik
hitam dan putih, sehingga kulit menjadi lebih licin dan bersih.
8. Menyegarkan kulit wajah, menghilangkan kelelahan, menghaluskan
tekstur, dan merelaksasi kulit tegang.
2.5.3 Masker Gel Peel Off
Masker gel peel-off merupakan kosmetik perawatan kulit yang dioleskan
pada kulit dalam bentuk gel dan dikeringkan dalam jangka waktu tertentu.
Sediaan ini membentuk lapisan film transparan dan transparan yang dapat
dikupas. Formulasi gel dipilih karena tidak mengandung minyak namun
memiliki kandungan air yang tinggi sehingga dapat menghidrasi stratum
korneum (Luthfiyana et al., 2019).
Keunggulan masker gel peel off dibandingkan bahan lainnya adalah
mudah dibersihkan dan tidak perlu dibilas dengan air. Masker ini dapat
diangkat langsung dari membran elastis kulit wajah (Lestari et al., 2023).
Masker gel peel off yang terbuat dari bahan alami dapat memperbaiki dan
merawat kulit wajah dari permasalahan seperti kerutan, jerawat, penuaan, dan
lain-lain serta

14
digunakan untuk mengecilkan pori-pori (Ismayanti, 2022). Penggunaan
masker meningkatkan suhu kulit wajah, melancarkan peredaran darah, dan
meningkatkan suplai nutrisi pada lapisan epidermis kulit sehingga membuat
kulit wajah tampak lebih segar (Luthfiyana et al., 2019).
Mekanisme kerja masker adalah ketika kulit wajah tertutup masker secara
menyeluruh, penguapan keringat terhambat, suhu kulit meningkat, sirkulasi
darah membaik, dan nutrisi tersalurkan ke lapisan permukaan kulit. Kulit
terasa lebih kencang dan kulit wajah tampak lebih segar. Ketika suhu
meningkat dan sirkulasi darah menjadi lebih lancar, fungsi kelenjar kulit
meningkat, dan limbah serta sisa metabolisme dibuang ke permukaan kulit
dan diserap ke dalam lapisan masker yang dikeringkan. Masker kemudian
dikeluarkan dari permukaan kulit, zat-zat tersebut juga dihilangkan dan kulit
dibersihkan secara menyeluruh (Indrawati, 2011).
Kualitas fisik masker gel peel off dipengaruhi oleh bahan yang
ditambahkan ke dalam formula. Dua bahan utama yang digunakan dalam
pembuatan masker gel peel off adalah bahan pembentuk film dan pelembab.
Dalam formulasi gel, zat pembentuk film merupakan unsur penting yang
dapat memenuhi karakteristik gel yang dihasilkan. Humektan memainkan
peran penting dalam produksi formulasi gel. Humektan menjaga kestabilan
formulasi dengan cara menyerap kelembapan lingkungan dan mengurangi
penguapan kelembapan dari formulasi (Bianti, 2016).
2.5.4 Monografi Bahan Masker Gel Peel Off
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat masker gel peel off sebagai
berikut :
a. PVA
PVA atau polivinil alkohol adalah bubuk butiran berwarna putih hingga
krem yang tidak berbau. PVA bertindak sebagai penstabil dan pengental.
Kelarutannya adalah larut dalam air, sedikit larut dalam etanol (95%), tidak
larut dalam pelarut organik. Polivinil alkohol stabil bila disimpan dalam
wadah tertutup di tempat sejuk dan kering. Ketidakcocokan Polivinil alkohol
mengalami reaksi yang khas pada senyawa dengan gugus hidroksil sekunder,
seperti esterifikasi. Ia terurai dalam asam kuat dan melunak atau larut dalam

15
asam atau basa lemah. Pada konsentrasi tinggi, ia tidak dapat bercampur
dengan garam anorganik, terutama sulfat dan fosfat.
Polivinil alkohol umumnya dianggap sebagai bahan tidak beracun. PVA tidak
menyebabkan iritasi pada kulit atau mata pada konsentrasi hingga 10% dan
digunakan dalam kosmetik pada konsentrasi hingga 7%. (Rowe et al., 2009).
PVA bersifat adhesive sehingga digunakan untuk memberikan efek pelepasan
karena dapat membentuk lapisan film yang mudah terkelupas setelah
dikeringkan (Pratiwi dan Wahdaningsih, 2018).

Gambar 4. Struktur Kimia Polivinil Alkohol


Sumber: Rowe et al., 2009
b. HPMC
Hipromelosa atau hidroksipropil metilselulosa (HPMC) adalah bubuk
berwarna krem sampai putih, tidak berbau, tidak berasa yang larut dalam 95%
etanol dan eter, larut dalam air dingin, tetapi hampir tidak larut dalam
kloroform. HPMC berperan sebagai pengental, pembentuk gel dan penstabil
(Farmakope Indonesia 3). HPMC merupakan bahan pembentuk hidrogel yang
mengembang di dalam air.
Penggunaan HPMC pada masker gel peel-off karena HPMC dapat
meningkatkan jumlah serat polimer karena semakin banyak cairan yang
tertahan dan formula gel mengikat air (Silvia dan Dewi, 2022). HPMC
berperan sebagai pengental dan pengental. Konsentrasi yang biasa digunakan
untuk pengental berkisar antara 0,25 hingga 5,0%. HPMC sebaiknya disimpan
dalam wadah tertutup di tempat sejuk dan kering. Ketidakcocokan HPMC
tidak kompatibel dengan beberapa zat pengoksidasi (Rowe et al., 2009).

16
Gambar 5. Struktur Kimia Hydroxypropyl Methylcellulose
Sumber: Rowe et al., 2009
c. TEA
TEA (trietanolamina) adalah cairan kental tidak berwarna hingga kuning
pucat dengan bau seperti amonia lemah dan bersifat higroskopis. Dapat
dilarutkan dalam air, etanol (95% P), dan kloroform (Farmakope Indonesia 3).
TEA bertindak sebagai zat alkali dan zat pengemulsi. Konsentrasi yang biasa
digunakan untuk emulsifikasi adalah 2-4%. Trietanolamin dapat berubah
warna menjadi coklat jika terkena udara atau cahaya.
Ketidakcocokan Trietanolamin adalah amina tersier yang mengandung gugus
hidroksil. Reaksi khas amina tersier dan alkohol dapat terjadi. Trietanolamin
bereaksi dengan asam mineral membentuk garam kristal dan ester.
Trietanolamin membentuk garam yang larut dalam air dengan sifat sabun
dengan asam lemak lebih tinggi. Trietanolamin juga bereaksi dengan tembaga
membentuk garam kompleks. Dengan adanya garam logam berat, perubahan
warna dan pengendapan dapat terjadi. Trietanolamin dapat direaksikan dengan
reagen seperti tionil klorida untuk menggantikan gugus hidroksil dengan
halogen. Produk-produk ini, seperti mustard nitrogen lainnya, sangat beracun.
Trietanolamin sebaiknya disimpan di tempat sejuk dan kering dalam wadah
tertutup terlindung dari cahaya (Rowe et al., 2009).

Gambar 6. Struktur Kimia Triethanolamine


Sumber: Rowe et al., 2009

17
d. Propilen Glikol
Propilen glikol adalah cairan kental, tidak berwarna, transparan dengan
sedikit terasa manis. Ia dapat dilarutkan dalam etanol (95%) dan kloroform P,
dan dalam air, namun tidak dapat bercampur dengan minyak lemak. Propilen
glikol berperan sebagai pelarut (Farmakope Indonesia 3). Propilen glikol
sebagai humektan untuk menyerap kelembapan dari lingkungan sekitar dan
menjaga stabilitas produk dengan mengurangi penguapan kelembapan dari
produk (Wahyuni et al., 2022). Propilen glikol sebagai humektan dan
penstabil. Propilen glikol bersifat higroskopis dan harus disimpan dalam
wadah tertutup, jauh dari cahaya, di tempat sejuk dan kering. Propilen glikol
tidak kompatibel dengan reagen pengoksidasi seperti kalium permanganat
(Rowe et al., 2009).

Gambar 7. Struktur Kimia Propilen Glikol


Sumber: Rowe et al., 2009
e. Metil Paraben
Metil paraben adalah serbuk kecil tidak berwarna atau bubuk putih yang
tidak berbau atau memiliki bau khas yang lemah serta rasa terbakar. Metil
paraben sulit larut dalam air, benzena, dan karbon tetraklorida. Mudah larut
dalam etanol dan eter (Farmakope Indonesia 5). Metil paraben banyak
digunakan sebagai pengawet antimikroba dan dapat digunakan sendiri,
dikombinasikan dengan senyawa paraben lain, atau dikombinasikan dengan
agen antimikroba lainnya. Konsentrasi yang digunakan pada sediaan luar
adalah 0,02-0,3%. Metil paraben sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup di
tempat sejuk dan kering (Rowe et al., 2009).

Gambar 8. Struktur Kimia Methyl Paraben


Sumber: Rowe et al., 2009
18
f. Propil Paraben
Propil paraben tersedia dalam bentuk bubuk, tanpa warna. Propil paraben
sangat sulit larut dalam air. Sulit larut dalam air mendidih. Mudah larut dalam
etanol dan eter (Farmakope Indonesia 5). Propil paraben banyak digunakan
sebagai pengawet antibakteri. Aktivitasnya bisa ditingkatkan dengan
menggunakan campuran paraben. Konsentrasi yang digunakan dalam
formulasi topikal berkisar antara 0,01 hingga 0,6%. Propil paraben sebaiknya
disimpan dalam wadah tertutup di tempat sejuk dan kering (Rowe et al.,

2009).

Gambar 9. Struktur Kimia Propil Paraben


Sumber: Rowe et al., 2009
g. Oleum rosae
Oleum rosae atau minyak mawar merupakan minyak atsiri yang diperoleh
dengan penyulingan uap bunga segar Rosa galica L., Rosa Dramacena Miller,
Rosa alba L. dan varietas mawar lainnya. Minyak mawar adalah cairan tidak
berwarna atau kuning dengan aroma seperti mawar dan rasa yang unik.
Simpan dalam wadah tertutup (Farmakope Indonesia 3).
h. Aquadest
Aquadest atau air sulingan adalah air yang diperoleh dari hasil
penyulingan murni tanpa adanya pengotor. Aquadest merupakan cairan
bening, tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa (Farmakope Indonesia
3).

Gambar 10. Struktur Kimia Aquadest


Sumber: PubChem

19
2.6 Evaluasi Sediaan Masker Peel Off
a. Uji Organoleptik
Pengujian dilakukan oleh peneliti dengan mengamati perubahan warna,
bau dan tekstur masker gel peel off selama masa penyimpanan (Adhayanti dan
Darsini, 2022).
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas masker gel peel off dilakukan untuk memastikan bahan-
bahan dalam formulasi masker tercampur rata (Kartika et al., 2021). Uji
homogenitas gel diamati secara visual. Sediaan ditempelkan pada permukaan
kaca preparat dan diamati adanya butiran kasar. Apabila tidak ditemukan
partikel kasar maka sediaan dikatakan homogen (Adhayanti dan Darsini,
2022).
c. Uji pH
Masker gel peel off diuji menggunakan pH meter. Uji pH dilakukan dengan
menimbang sediaan dan mengencerkannya dengan air suling. PH larutan
diukur menggunakan pH meter yang telah terkalibrasi (Adhayanti dan Darsini,
2022). Jika pH terlalu asam dapat menyebabkan iritasi kulit, sedangkan jika
pH terlalu basa dapat membuat kulit kering (Indriaty et al., 2023).
d. Uji Daya Sebar
Uji daya sebar digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu produk
masker gel dalam menyebar ketika diaplikasikan pada kulit. Semakin besar
permukaan kontak produk, semakin baik zat tersebut terserap ke dalam kulit.
Pengujian dilakukan dengan mengukur diameter sebar masker gel peel-off.
Uji daya sebar dilakukan dengan meletakkan masker gel peel-off sebanyak 1
gram di tengah-tengah antara kaca dan memberikan beban seberat 150 gram
pada kaca atas selama 1 menit hingga diameter penyebaran gel menjadi
konsisten. Jarak penyebaran yang baik adalah sekitar 5-7 cm (Adhayanti dan
Darsini, 2022).
e. Uji Mengering
Uji waktu mengering dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan
mengering ketika dioleskan pada kulit. Uji pengeringan ini diharapkan dapat
menghasilkan komposisi film yang sesuai untuk diaplikasikan dan juga
berkaitan dengan kemudahan penggunaan (Sari et al., 2024). Oleskan
20
formulasi masker gel peel-off pada kulit punggung tangan dan tunggu hingga
mengering hingga membentuk lapisan film yang dapat dilepas. Waktu
pengeringan dapat diukur dengan menggunakan stopwatch (Oktavia et al.,
2021).
f. Viskositas
Uji viskositas dilakukan untuk mengetahui tingkat kekentalan setiap
formula. Penentuan nilai viskositas optimal sediaan masker gel peel off
dilakukan untuk mendapatkan produk yang nyaman digunakan (Lestari et al.,
2023). Pengujian ini menggunakan viskometer Brookfield. Viskositas
kemudian diukur dengan mengatur spindel yang sesuai untuk berputar pada
kecepatan tertentu (Indriaty et al., 2023). Sediaan kemudian ditambahkan
dan spindel direndam dalam wadah sampai tercapai tanda batas dan dicatat
nilai yang dinyatakan sebagai viskositas (Trisnaputri et al., 2023).
g. Uji Iritasi
Uji iritasi bertujuan untuk mengetahui apakah masker dapat
menyebabkan iritasi pada kulit (Adhayanti dan Darsini, 2022). Uji ini
dilakukan pada wanita sehat berusia 20 hingga 30 tahun, tidak memiliki
riwayat penyakit terkait alergi, dan peserta bersedia menjadi sukarelawan.
Parameter yang diamati adalah rasa gatal, kemerahan, atau bengkak (Ghazali
et al., 2018).
h. Uji Stabilitas
Pengujian kestabilan masker gel peel off bertujuan untuk mengukur
perubahan yang terjadi pada formulasi ketika dihadapkan pada berbagai
perubahan suhu selama penyimpanan dalam jangka waktu tertentu. Produk
obat yang stabil adalah produk yang mempunyai sifat dan karakteristik yang
sama seperti saat diproduksi dan tetap dalam batas yang dapat diterima
selama penyimpanan dan penggunaan (Lestari et al., 2023).

2.7 Uji Kelembapan


Uji kelembapan bertujuan untuk mengetahui kemampuan melembabkan kulit
sediaan masker gel peel off dengan mengukur nilai kadar air stratum korneum
panelis menggunakan skin analyzer (Permatasari et al., 2020). Observasi
dilakukan pada panelis , dan sebelum mengaplikasikan masker gel peel off, kadar
air kulit panelis diukur menggunakan skin analyzer dan dicatat kadar
21
airnya. Lalu,

22
bandingkan kadar airnya 15 menit setelah menggunakan masker gel peel off.
Semakin tinggi kadar airnya, semakin efektif sebagai pelembab wajah. Jika kadar
airnya tidak ditingkatkan maka tidak efektif sebagai pelembab wajah (Lestari et
al., 2022). Adapun kriteria jenis kulit berdasarkan kandungan air terdapat pada
Tabel 1. (AF, 2019)
Tabel 1. Kriteria jenis kulit berdasarkan kandungan air
Kandungan Air Jenis Kulit
≤33% Sangat kering
34-37% Kering
38-42% Normal
43-46% Lembap
≥47% Sangat lembap

23
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Farmasi dan
Farmakologi dan Biologi FMIPA Universitas Bengkulu, pada bulan Februari
sampai April 2024.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitik, gelas
beker, blender, botol kaca, rotary evaporator, hot plate, batang pengaduk,
lumpang dan alu, pipet tetes, termometer, pH meter, gelas objek, anak timbangan,
viskometer brookfield, oven, kulkas dan skin analyzer.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kelapa sawit yang
diperoleh dari Kecamatan Kampung Melayu, Kelurahan Kandang Mas, Kota
Bengkulu, kertas saring, etanol, PVA, HPMC, Propilen glikol, TEA, Propil
paraben, Metil paraben, dan Aquadest.

3.3 Prosedur Kerja


3.3.1 Verifikasi Sampel
Verifikasi tanaman dilakukan di laboratorium Biologi, Gedung Basic Science,
Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Bengkulu
3.3.2 Pembuatan Simplisia Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Proses pertama dilakukan pengumpulan simplisia dengan diambil daun kelapa
sawit sebanyak 500 gr. Lalu dilakukan sortasi basah dan dicuci hingga bersih.
Kemudian dilakukan tahapan perajangan menggunakan gunting dan pengeringan
menggunakan sinar matahari 5×24 jam. Setelah itu, daun yang sudah kering
disortasi kembali dan dihaluskan menjadi serbuk dengan menggunakan alat
berupa blender. Terakhir, dilakukan penyimpanan sebelum dilakukan proses
selanjutnya yaitu proses ekstraksi.

21
3.3.3 Pembuatan Ekstrak Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Serbuk sebanyak 138 gram dimaserasi menggunakan etanol 70% sebanyak
1380 ml dengan perbandingan 1:10 selama 1 x 24 jam dengan pengadukan setiap
6 jam dalam botol kaca yang berwarna cokelat. Maserat yang diperoleh disaring
dengan kertas saring dan ampasnya diremaserasi selama 1 x 24 jam sebanyak 8
kali. Selanjutnya maserat yang diperoleh dari hasil maserasi dipekatkan
menggunakan rotary evaporator dengan suhu 50°C hingga diperoleh ekstrak
kental dari serbuk daun kelapa sawit (Febriani et al., 2020).
3.3.4 Rendemen Ekstrak Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Ekstrak kental yang diperoleh ditimbang dan dihitung persentase rendemen
dengan rumus : (Sosalia et al., 2021)
berat ekstrak
kental
x 100%
berat serbuk
Rendemen =
simplisia

3.3.5 Uji Flavonoid Ekstrak Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Uji flavonoid dilakukan dengan memasukkan serbuk magnesium dan asam
klorida ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan amil alkohol dan kocok
hingga homogen. Sampel positif mengandung flavonoid jika membentuk warna
merah, kuning atau oranye (Liska et al., 2021).
3.3.6 Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off
[Link] Formulasi Standar Masker Gel Peel Off
Menurut Rieger, (2000) menyatakan bahwa formulasi standar masker gel peel
off yaitu,

R/ Polivinil alkohol 5-10%


Humektan 2-10%
Surfaktan 2-5%
Alkohol 10-30%
pH buffer pH 4-7
Pengawet q.s
Parfum q.s
Pewarna q.s
Air suling ad 100

22
[Link] Rancangan Modifikasi Formula Sediaan Masker Gel Peel off
Ekstrak kental yang diperoleh dari pengelolaan sampel akan dibuat sediaan
masker gel peel off dengan variasi PVA dan HPMC (9:3, 8:4, dan 7:5). Adapun
formulasi sediaan masker gel peel off ekstrak daun kelapa sawit terdapat pada
Tabel 2.
Tabel 2. Formulasi Sediaan Masker Gel Peel off Ekstrak Daun Kelapa Sawit
(Elaeis guineensis Jacq.)
Bahan F0(%) F1(%) F2(%) F3(%) Fungsi
Ekstrak daun 0 1,5 1,5 1,5 Zat aktif
kelapa sawit
PVA 9 9 8 7 Film Forming
agent
HPMC 3 3 4 5 Gelling agent
Propilen glikol 10 10 10 10 Humektan
TEA 2 2 2 2 Alkalizing
agent
Metil paraben 0,02 0,02 0,02 0,02 Pengawet
Propil paraben 0,18 0,18 0,18 0,18 Pengawet
Oleum rosae 0,5 0,5 0,5 0,5 Pewangi
Aquadest Ad 100 Ad 100 Ad 100 Ad 100 Pelarut
3.3.7 Proses Pembuatan Masker Gel Peel off
Langkah pertama PVA dikembangkan dalam wadah dengan aquadest hangat
(80ᵒC) (masa 1). Langkah kedua HPMC dikembangkan dalam aquadest hangat
(80ᵒC) hingga mengembang (masa 2). Langkah ketiga metil paraben dan propil
paraben dilarutkan ke dalam propilen glikol (masa 3). Lalu, Masa 1 dan 3 secara
berturut-turut dimasukkan ke dalam masa 2. Kemudian, dimasukkan TEA dan
oleum rosae aduk hingga homogen. Terakhir, ekstrak daun kelapa sawit
ditambahkan dan digerus hingga homogen dan dimasukkan ke dalam wadah yang
diberi label sesuai dengan formula (Lestari et al., 2023).
3.3.8 Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel off
a. Uji Organoleptik
Pengujian organoleptik dilakukan dengan memeriksa warna, aroma dan
tekstur setiap formula. Pengujian ini dilakukan dengan mengamati perubahan
warna, bau, dan tekstur masker gel peel off selama penyimpanan (Lestari et al.,
2023).

23
b. Uji Homogenitas
Pengujian dilakukan dengan diambil 1g sediaan masker gel peel off ke dalam
kaca objek dan periksa bagian yang tidak tercampur. Sediaan masker gel peel off
harus memiliki komposisi yang seragam dan bebas dari butiran kasar atau
gumpalan yang terlihat (Arman et al., 2021).
c. Uji pH
pH meter terlebih dahulu dikalibrasi menggunakan buffer standar netral dan
buffer pH asam hingga perangkat menampilkan nilai pH. Elektroda kemudian
dicuci dengan air suling dan dikeringkan dengan tisu. Sampel dibuat pada
konsentrasi 1%. Artinya, timbang 1 g sediaan dan larutkan dalam 100 ml air
suling. Elektroda kemudian direndam dalam larutan hingga menampilkan nilai
pH yang konstan. Persyaratan pH normal kulit wajah adalah 4,5–6,5(Trisnaputri
et al., 2023).
d. Uji Daya Sebar
Uji daya sebar dilakukan dengan diletakkan 1 gram masker gel peel off di
tengah-tengah antara dua kaca dan diberi pemberat 150 gram pada kaca bagian
atas. Pengukuran dilakukan setelah 1 menit dan catat hasilnya yang diukur dengan
milimeter blok dengan menghitung berapa kotak daya sebar masker gel peel-off.
Syarat uji daya sebarnya adalah 5-7 cm (Adhayanti dan Darsini, 2022).
e. Uji Waktu Mengering
Pengujian dilakukan dengan diambil 1 gram masker gel peel off dari masing-
masing formula dan dioleskan secara merata pada punggung tangan peneliti.
Catat waktu pengeringan sediaan, yaitu waktu mulai pengaplikasian hingga
terbentuk lapisan kering. Masker gel peel off yang baik memiliki waktu
pengeringan 15 hingga 30 menit (Lestari et al., 2023).
f. Viskositas
Formula masker gel peel off diukur viskositas menggunakan viskometer
Brookfield dengan spindel 7 dan RPM 50 (Zubaydah dan Fandinata, 2020).
Sediaan kemudian ditempatkan dalam gelas beker 200 ml dan spindel dicelupkan
ke dalam wadah sampai tercapai tanda batas dan nilai yang dinyatakan sebagai
viskositas dicatat. Sesuai persyaratan SNI 16-4399-1996, viskositas gel yang baik
berada pada kisaran 2000-50000 cp (Adhayanti dan Darsini, 2022).

24
g. Uji Iritasi
Uji iritasi dilakukan terhadap 12 panelis yang semuanya merupakan wanita
sehat berusia 20–30 tahun, tidak memiliki riwayat penyakit terkait alergi dan
bersedia menjadi sukarelawan (Ghazali et al., 2018). Uji ini menggunakan
metode uji tempel tertutup. Masker dioleskan pada kulit bagian dalam lengan,
kemudian dibalut dengan plester selama 24 jam, kemudian diangkat dan diamati
gejalanya. Hasil uji iritasi dilihat dengan adanya tanda-tanda iritasi seperti
kemerahan, gatal, atau bengkak (Cahnia et al., 2022).
h. Uji Stabilitas
Uji stabilitas dilakukan dengan menyimpan formula pada suhu 4°C selama 24
jam dan kemudian memindahkannya ke dalam oven pada suhu 40°C selama 24
jam (siklus 1). Perlakuan ini dilakukan selama 12 hari (6 siklus) dan diamati
perubahan fisik formula masker gel peel off yaitu uji organoleptis, pH,
homogenitas, daya sebar, waktu pengeringan dan viskositas (Trisnaputri et al.,
2023).
3.3.9 Uji Kelembapan
Penelitian ini memerlukan 12 orang subjek uji yang dibagi menjadi 4
kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang yaitu 3 orang untuk
uji formula 0, 3 orang untuk formula 1, 3 orang untuk formula 2 dan 3 orang
untuk formula 3. Pengujian dilakukan seminggu sekali selama 4 minggu, subjek
uji menguji kelembaban kulit bagian dalam lengan dengan skin analyzer sebelum
dan sesudah diaplikasikan masker gel peel off (Kartika et al., 2021).
3.3.10 Analisis Data
Data analisis evaluasi sediaan masker meliputi uji organoleptis, homogenitas,
pH, daya sebar, waktu mengering, viskositas dan iritasi serta uji kelembapan
dilakukan secara deskriptif berupa penyajian dalam tabel dan grafik.

25
3.4.10 Jadwal Penelitian
No. Jenis Waktu Pelaksanaan
Kegiatan Nov Des Jan Feb Maret April Mei Juni Juli
1. Bimbingan
Proposal
2. Seminar
Proposal
3. Penelitian
4. Bimbingan
Hasil
Penelitian
5. Seminar
Hasil
6. Sidang

26
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Verifikasi Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)


Daun kelapa sawit diperoleh dari Kecamatan Kampung Melayu, Kelurahan
Kandang Mas, Kota Bengkulu. Verifikasi tanaman dilakukan di laboratorium
Biologi, Gedung Basic Science, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas
Bengkulu. Hasil verifikasi yang diperoleh terbukti bahwa sampel yaitu, daun
kelapa sawit berasal dari tanaman kelapa sawit dengan genus Elaeis dan spesies
Elaeis guineensis Jacq. Lembar verifikasi tanaman dapat dilihat dalam Lampiran
1.

4.2 Simplisia Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)


Proses pertama adalah pengambilan sampel dengan mengambil 500 gr daun
kelapa sawit. Daun kelapa sawit disortir basah untuk memisahkan kotoran dan zat
asing lainnya, kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran menempel (Arviani
et al., 2023).
Kemudian dipotong dengan gunting dan dijemur di bawah sinar matahari
selama 5 x 24 jam. Proses pengirisan memperkecil ukuran partikel simplisia
sehingga menambah luas permukaannya dan membuat seluruh permukaan
simplisia terkena panas selama proses pengeringan. Semakin halus sampel,
semakin cepat air menguap sehingga waktu pengeringan semakin cepat.
Pengeringan dilakukan untuk menurunkan kadar air sehingga dapat bertahan lebih
lama saat disimpan (Arviani et al., 2023).
Daun kering selanjutnya disortasi kering dan digiling menjadi bubuk dengan
menggunakan blender sehingga diperoleh bubuk simplisia sebanyak 138 gr.
Sampel yang berbentuk bubuk mempercepat penetrasi pelarut ke sampel dan
mempercepat lamanya waktu ekstraksi karena ukuran partikel yang kecil (Utami
et al., 2020). Akhirnya disimpan sebelum proses selanjutnya, ekstraksi.

27
4.3 Ekstrak dan Nilai Rendemen Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis
Jacq.) Proses ekstraksi daun kelapa sawit menggunakan
maserasi. Maserasi merupakan suatu metode
perendaman dengan menggunakan pelarut pada suhu ruangan. Maserasi
dilakukan karena senyawa tanaman sensitif terhadap panas, sehingga
menggunakan metode termal bukanlah ide yang baik (Utami et al., 2020). Metode
maserasi dapat ditingkatkan dengan pengadukan dan perendaman kembali atau
remaserasi (Arviani et al., 2023). Pada proses perendaman dilakukan pengadukan
dengan tujuan untuk mempercepat kontak antara bahan dengan pelarut (Utami et
al., 2020). Pada penelitian ini pengadukan dilakukan setiap 6 jam. Perendaman
ulang atau remaserasi adalah metode ekstraksi yang berulang kali melakukan
proses seperti penambahan pelarut setelah filtrasi perendaman pertama Jika warna
maserat sudah seperti pelarut, hentikan ekstraksi. Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa metabolit sekunder simplisia terekstraksi sepenuhnya
(Arviani et al., 2023). Oleh karena itu, delapan remaserasi dilakukan dalam
penelitian ini.
Terakhir, dilakukan pemekatan dengan tujuan mengurangi pelarut yang
digunakan selama proses ekstraksi. Pemekatan ekstrak dapat dilakukan dengan
menggunakan alat penguap putar atau rotary evaporator (Arviani et al., 2023).
Pemekatan ekstrak dilakukan dengan cepat pada suhu tinggi, namun hal ini dapat
mengakibatkan kerusakan pada beberapa komponen (Utami et al., 2020). Oleh
karena itu, suhu pengoperasiannya adalah 50℃. Ekstrak daun kelapa sawit dapat
dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Ekstrak daun kelapa sawit


Pada penelitian sebelumnya menggunakan metode yang sama yaitu maserasi
didapatkan berat ekstrak 178 gram persentase rendemen yaitu 21,4 % (Febriani et
al., 2020). Adapun pada peneltian ini ekstrak yang diperoleh sebanyak 33 gram.
28
Persentase rendemen ekstrak daun kelapa sawit yang didapat sebesar 23,91%. Hasil
persentase rendemen yang diperoleh lebih dari 10% menunjukkan proses maserasi
efektif karena rendemen ekstrak lebih dari 10% jumlah maserasi serbuk simplisia.
(Permatasari et al., 2018). Adapun perhitungan rendemen ekstrak daun kelapa sawit
yaitu,
jumlah berat ekstrak
kental
x 100%
jumlah berat serbuk
Nilai Rendemen =
simplisia

33 gr
= 138 gr x 100%
= 23,91%
4.4 Uji Flavonoid Ekstrak Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Penelitian yang dilakukan oleh Yin et al., (2013) menyatakan bahwa ekstrak
daun kelapa sawit yang diperoleh memiliki senyawa flavonoid. Adapun
berdasarkan hasil uji flavonoid pada ekstrak daun kelapa sawit mengandung
flavonoid karena menghasilkan warna jingga hingga merah. Adapun hasil uji
flavonoid dapat dilihat pada Gambar 12.

HCl

Mg

Hijau kehitaman Jingga hingga merah


Gambar 12. Hasil Uji Flavonoid
Uji flavonoid menggunakan asam klorida pekat, bubuk magnesium, dan amil
alkohol. Tujuan penambahan magnesium adalah untuk mereduksi inti
benzopyrone dari struktur flavonoid sehingga dapat terjadi perubahan warna, dan
penambahan pereaksi asam klorida menyebabkan reaksi reduksi-oksidasi antara
magnesium yang merupakan zat pereduksi dengan flavonoid (Najmudin et al.,
2023).

29
Gambar 13. Mekanisme Reaksi Flavonoid dengan Serbuk Mg dan HCl Pekat
(Nurjannah et al., 2022)
4.5 Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off
Ekstrak kental yang telah diperoleh akan dibuat sediaan masker gel peel off.
Sediaan masker gel peel off dibuat sebanyak 4 formula dengan variasi konsentrasi
PVA dan HPMC (9:3, 8:4, dan 7:5). Sediaan masker gel peel off dapat dilihat pada
Gambar 14.

Gambar 14. Sediaan masker gel peel off


Masker gel peel off ini mengandung PVA, HPMC, propilen glikol, TEA, metil
paraben, propil paraben, rosae oleum, dan air suling. PVA dapat membentuk
lapisan film setelah dikeringkan sehingga memberikan efek pengelupasan karena
memiliki sifat adhesive. HPMC adalah peningkat viskositas yang memberikan
efek tekstur dan pengental. Propilen glikol ditambahkan sebagai humektan untuk
menjaga kestabilan produk dengan cara menyerap kelembapan dari lingkungan
dan mengurangi penguapan kelembapan dari produk. Untuk menjaga kelembapan
kulit, diperlukan metil paraben dan propil paraben untuk mencegah pertumbuhan
mikroba akibat banyaknya kandungan air pada formulasi gel tersebut. TEA
digunakan sebagai alkalizing agent, oleum rosae digunakan sebagai parfum, dan
air

30
suling digunakan untuk menambah dan melarutkan volume sediaan (Samsul et al.,
2022).

4.6 Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel Off


4.6.1 Uji Organoleptis
Pemeriksaan organoleptis yang dilakukan untuk mengetahui tampilan dari
sediaan. Uji organoleptis dilakukan dengan pengamatan secara visual terhadap
bentuk, warna, dan aroma dari sediaan (Limbong et al., 2021). Adapun hasil
pengujian organoleptis sediaan masker gel peel off dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Uji Organoleptis
Sampel Sebelum Cycling Test Setelah Cycling Test
F0 Bentuk : semi solid Bentuk : semi solid
Warna : putih transparan Warna : putih transparan
Aroma : oleum rosae Aroma : oleum rosae
F1 Bentuk : semi solid Bentuk : semi solid
Warna : cokelat tua transparan Warna : cokelat tua transparan
Aroma : khas ekstrak daun kelapa Aroma : khas ekstrak daun kelapa
sawit sawit
F2 Bentuk : semi solid Bentuk : semi solid
Warna : cokelat tua transparan Warna : cokelat tua transparan
Aroma : khas ekstrak daun kelapa Aroma : khas ekstrak daun kelapa
sawit sawit
F3 Bentuk : semi solid Bentuk : semi solid
Warna : cokelat tua transparan Warna : cokelat tua transparan
Aroma : khas ekstrak daun kelapa Aroma : khas ekstrak daun kelapa
sawit sawit
Keterangan :
F0 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F1 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F2 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 8:2
F3 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 7:5
Berdasarkan hasil pengamatan uji organoleptik pada Tabel 3 menunjukkan
keempat formula menunjukkan tidak adanya perubahan baik sebelum dan
setelah cycling test. Semua formula memiliki bentuk semi solid. Akan tetapi,
keempat formula terdapat perbedaan bentuk pada kekentalan, warna, dan aroma.
Pada Formula 0 berbentuk agak kental, bewarna putih transparan, dan berbau
oleum rosae sedangkan Pada Formula 1, 2, dan 3 sama-sama memiliki warna
cokelat tua transparan dan aroma ekstrak daun kelapa sawit yang khas tetapi
berbeda pada bentuk atau tekstur. Penambahan ekstrak mempengaruhi

31
perubahan warna dan

32
aroma pada sediaan (Syakri et al., 2021). Adapun warna cokelat tua transparan
dan wangi khas ekstrak pada masker gel peel off ekstrak daun kelapa sawit ini
merupakan hasil penambahan 1,5% ekstrak daun kelapa sawit.
Masker gel peel-off yang dimodifikasi dari PVA dan HPMC dapat mengubah
tekstur tanpa mempengaruhi warna dan aroma produk (Fitriyani dan Nurul, 2023).
Keempat formula tersebut menawarkan tekstur berbeda di setiap formulanya.
Penambahan konsentrasi HPMC yang semakin besar maka tekstur yang dihasilkan
semakin kental. Peningkatan tekstur ini disebabkan oleh HPMC yang dapat
meningkatkan jumlah serat polimer, dan konsentrasi HPMC yang lebih tinggi
meningkatkan kapasitas retensi cairan sehingga meningkatkan konsentrasi gel
(Sari et al., 2024). Selain itu, terjadinya interaksi PVA dengan air, PVA akan
menyerap air dan membentuk massa padat sehingga menghasilkan cairan
terperangkap yang dapat menjaga viskositas masker gel peel-off (Apriani et al.,
2022). Oleh karena itu masing-masing formula memiliki bentuk yang berbeda
yaitu F3 lebih kental dibandingkan dengan F2 dan F1 karena memiliki variasi pada
PVA dan HPMC yaitu (9:3, 8:4, dan 7:5).
4.6.2 Uji Homogenitas
Hasil pengujian homogenitas masker gel peel off dengan cara dioleskan
sediaan pada kaca preparat menunjukkan bahwa sebelum dan setelah cycling test
semua formula homogen ditandai dengan tidak adanya butiran kasar pada sediaan,
sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan yang telah dibuat tercampur merata
dan stabil dalam hal homogenitasnya. Namun, adanya bulatan kecil. Hal ini
mungkin disebabkan karena bentuk formulasinya yang berupa masker gel juga
dapat mengakibatkan terperangkapnya gelembung udara pada saat pembuatan
(Khasanah et al., 2019). Pada proses pembuatannya terdapat gelembung udara
akibat pengadukan yang terlalu cepat (Evania and Rakainsa, 2023). Menurut
Santoso et al., (2020), menyatakan bahwa gelembung-gelembung ini mungkin
terjadi karena udara dapat terperangkap di sekitar sediaan selama pengadukan
selama sediaan. Kemudian seiring bertambahnya lama penyimpanan, udara di
dalam gelembung menekan dinding gelembung dengan kuat sehingga
menyebabkan gelembung pecah dan menyusut.

33
Pengujian homogenitas dimaksudkan untuk memastikan seluruh bahan dalam
suatu formulasi tercampur secara homogen. Homogenitas ditunjukkan dengan
tidak adanya partikel kasar dan terpisah pada produk (Sari et al., 2023). Penelitian
yang dilakukan oleh Fitriani dan Nurul (2023), sejalan dengan penelitian kami,
menunjukkan bahwa masker gel peel-off yang dimodifikasi dengan PVA dan
HPMC tidak mempengaruhi keseragaman produk. Adapun hasil pengujian
homogenitas sediaan masker gel peel off dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas
Sampel Sebelum Cycling Test Setelah Cycling Test
F0 Homogen Homogen
F1 Homogen Homogen
F2 Homogen Homogen
F3 Homogen Homogen
Keterangan :
F0 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F1 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F2 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 8:4
F3 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 7:5

4.6.3 Uji pH
Uji pH bertujuan untuk memeriksa nilai pH masker gel peel-off sekaligus
memastikan kesesuaian pH masker gel peel-off dengan pH kulit. Nilai pH sediaan
yang dihasilkan terpenuhi tergantung pada persyaratan fisik sediaan, yaitu pH
kulit wajah (4,5-6,5). Jika pH formulasi terlalu basa dapat menyebabkan kulit
kering, sedangkan jika pH terlalu asam dapat menyebabkan iritasi kulit (Sari et
al., 2023). Oleh karena itu, untuk mendapatkan kosmetik yang aman dan mudah
digunakan, pengukuran pH penting dilakukan untuk mendapatkan hasil pH yang
sesuai. Adapun hasil pengujian pH sediaan masker gel peel off dapat dilihat pada
Gambar 15.

34
Sebelum cycling test Sesudah Cycling Test
6
5.8 5.8 5.7
6

Hasil Uji Ph
5.5 5.1
4.9 4.9 4.8
5
4.5
4
F0 F1 F2 F3
Formula

Gambar 15. Hasil Pengukuran pH Masker Gel Peel Off


Keterangan :
F0 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F1 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F2 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 8:4
F3 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 7:5
Berdasarkan data nilai pH yang dapat dilihat pada Tabel 5 diperoleh, nilai pH
sediaan masker gel peel off yang diukur menggunakan pH meter sebelum dan
setelah cycling test masih memenuhi syarat nilai pH baik yaitu memiliki rentang
pH 4,8-6,0 sehingga sediaan aman untuk digunakan. Hasil uji pH setelah
dilakukan cycling test, menunjukkan semua formula mengalami penurunan pH
karena masuknya CO2 ke dalam wadah pada saat penyimpanan. Adanya CO2 yang
bereaksi dengan air menyebabkan pH menjadi asam (Nastiti et al., 2021).

4.6.4 Uji Daya Sebar


Uji daya sebar harus dilakukan pada formulasi masker gel peel-off. Hal ini
untuk memeriksa kemampuan formulasi gel untuk menyebar dengan mudah pada
kulit. Daya sebar mempengaruhi laju difusi suatu zat aktif melalui membran. Jika
daya sebar sediaan tinggi, area distribusi pada kulit luas, dan bahan aktif dapat
tersebar merata dan efektif mencapai efek pengobatan sesuai yang diharapkan
(Khasanah et al., 2019).
Pengujian daya sebar pada sediaan masker gel dilakukan dengan cara
memberikan beban pada sediaan dan diukur besar daerah penyebarannya. Daya
sebar masker gel yang baik yaitu antara 5- 7 cm (Khasanah et al., 2019). Adapun
hasil pengujian daya sebar sediaan masker gel peel off dapat dilihat pada Gambar
16.

35
Sebelum cycling test Sesudah Cycling Test

Hasil Uji Daya Sebar (cm)


7 6.5 6.4
6.5
5.9
6 6.3 6.1 5.4
5.5
5.5
5 5
F0 F1 F2 F3
Formula

Gambar 16. Hasil Pengukuran Daya Sebar Masker Gel Peel Off
Keterangan :
F0 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F1 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F2 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 8:4
F3 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 7:5
Hasil pengamatan pengujian daya sebar pada Tabel 6 menunjukkan bahwa
daya sebar yang paling besar ke kecil secara berurutan yaitu F0, F1, F2, dan F3.
Formula
3 sebelum cycling test paling kecil daya sebar yaitu 5,0 cm dikarenakan
konsistensinya paling kental, semakin kental sediaannya maka semakin kecil daya
sebarnya (Sari et al., 2024). Adapun hasil uji daya sebar setelah dilakukan cycling
test, menunjukkan semua formula mengalami peningkatan diameter daya sebar
dikarenakan terjadinya penurunan nilai viskositas.
Berdasarkan hasil uji daya sebar dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi
konsentrasi HPMC dalam formulasi maka daya sebar formulasi tersebut akan
semakin rendah. Penurunan daya sebar meningkatkan ukuran unit molekul yang
menyerap pelarut, sehingga mempertahankan cairan dan membentuk gumpalan
padat, yang meningkatkan resistensi cairan. Oleh karena itu, semakin tinggi
konsentrasi HPMC terlarut, semakin tinggi konsentrasi cairan yang tertahan
sehingga daya sebar semakin kecil (Sari et al, 2023). Oleh sebab itu, daya sebar
F3 paling kecil karena konsentrasi HPMC paling besar yaitu 5% sedangkan yang
lain hanya 3% dan 4%.
4.6.5 Uji Waktu Mengering
Uji waktu kering untuk melihat berapa lama masker akan mengering setelah
dioleskan ke kulit. Pengujian waktu kering ini diharapkan dapat memperoleh
komposisi pembentuk lapisan film yang sesuai untuk aplikasi dan juga berkaitan
36
dengan kemudahan penggunaan. Masker gel peel off yang baik memiliki waktu
pengeringan 15 hingga 30 menit. Waktu pengeringan sangat penting karena
masker gel peel off merupakan formulasi cepat kering yang memungkinkan
pengelupasan dengan cepat (Sari et al., 2024). Adapun hasil pengujian waktu
mengering sediaan masker gel peel off dapat dilihat pada Gambar 17.

Sebelum cycling test Sesudah Cycling Test


Hasil Uji Waktu Mengering

30
23.15 24.06
25 21.45
(Menit)

19.76
20
20.53 21.5
17.81 18.4
15
F0 F1 F2 F3
Formula

Gambar 17. Hasil Pengukuran Waktu Mengering Masker Gel Peel Off
Keterangan :
F0 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F1 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F2 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 8:4
F3 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 7:5
Uji waktu mengering dilakukan dengan sediaan dioleskan pada punggung
tangan dan ditunggu hingga kering sampai membentuk lapisan film yang dapat
dikelupas. Waktu mengering dapat diukur dengan stopwatch (Oktavia et al.,
2021). Hasil pengujian waktu mengering sebelum dan setelah cycling test pada
Tabel 7 menunjukkan bahwa waktu mengering masker gel peel off keempat
formula memenuhi syarat secara teoritis yaitu berkisar antara 17- 24 menit.
Hasil uji waktu pengeringan setelah dilakukan cycling test, menunjukkan
bahwa waktu pengeringan semakin meningkat untuk semua formulasi, hal ini
disebabkan karena semakin lama formulasi disimpan maka semakin lama pula
formulasi tersebut terpengaruh oleh lingkungan seperti udara, kemasan yang
kurang rapat sehingga udara masih dapat masuk dan menyebabkan sediaan
menyerap udara sehingga menambah volume air pada sediaan (Tanjung dan
Rokaeti, 2022).
Formula ke 3 lebih lama mengering yaitu 21 menit 30 detik dibandingkan
dengan formula lainnya dikarenakan konsentrasi PVAnya lebih sedikit
dibandingkan formula lain yaitu hanya 7% sedangkan yang lain 8% dan 9%.
37
Konsentrasi PVA mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kecepatan
pengeringan sediaan. Semakin tinggi konsentrasi PVA maka semakin cepat
masker mengering. PVA bekerja melalui proses pengembangan yang menciptakan
gaya tarik menarik antar molekul air dengan cara mengikat molekul air yang ada
untuk memperlambat penguapan dan mempercepat pembentukan lapisan film
(Syakri et al., 2021).
Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan daya sebar. Semakin tinggi daya
sebarnya, semakin cepat waktu pengeringannya. Semakin tinggi daya sebarnya
maka semakin mudah pengaplikasiannya dan semakin cepat penyebarannya
merata (Sari et al., 2023). Oleh sebab itu, F3 memiliki waktu mengering lebih
lama dibandingkan dengan formula 0, 1, dan 2 karena memiliki daya sebar yang
lebih kecil dibanding dengan formula lain.
4.6.6 Uji Viskositas
Uji viskositas dilakukan untuk mengetahui tingkat kekentalan formulasi.
Penentuan nilai viskositas optimal formulasi masker gel peel off dilakukan untuk
mendapatkan formulasi yang nyaman pada saat pengaplikasian (Lestari et al.,
2023). Menurut persyaratan SNI 16-4399-1996, viskositas gel ang baik berada
pada kisaran 2000-50000 cp. Adapun hasil pengujian viskositas sediaan masker gel
peel off dapat dilihat pada Gambar 18.

Sebelum cycling test Sesudah Cycling Test


Hasil Uji Viskositas (cp)

48000
50000
45000
40000 34400
35000
30000
25000 32266
16000 17200 27733
20000
15000 15600 17066
F0 F1 F2 F3
Formula

Gambar 18. Pengukuran Viskositas Masker Gel Peel Off


Keterangan :
F0 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F1 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F2 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 8:4
F3 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 7:5

38
Pengukuran Viskositas pada sediaan masker gel menggunakan Viskometer
Brookfield dengan menggunakan spindel no 7 dengan RPM 50 (Zubaydah dan
Fandinata, 2020). Keempat formula baik sebelum dan setelah cycling test
memiliki viskositas yang baik karna masih dalam rentang viskositas sediaan gel
yang baik pada rentang 15600-48000 cp. Hasil pengujian viskositas mengalami
penurunan setelah pengujian siklus karena faktor penyimpanan dan suhu. Pada
siklus terakhir, sediaan disimpan pada suhu tinggi. Dengan meningkatnya suhu,
jarak antar partikel bertambah dan gaya antar partikel berkurang. Dengan
bertambahnya jarak maka viskositasnya menurun (Rakmadhani et al., 2023).
Menurut Setiani dan Aprilia (2020), semakin tinggi suhu penyimpanan suatu
sediaan maka viskositasnya akan semakin rendah. Hal ini disebabkan semakin
lama waktu penyimpanan maka formulasi tersebut semakin terpengaruh oleh
lingkungan.
Viskositas suatu formulasi mempengaruhi sifat fisik formulasi lainnya, seperti
daya sebar. Daya sebar suatu formulasi berbanding terbalik dengan viskositasnya.
Semakin rendah viskositas maka daya sebar semakin besar (Sari et al., 2024). Dari
penelitian yang telah dilakukan Sari et al., (2024) sesuai dengan penelitian ini
dapat dilihat pada Tabel 6 dan 8, dimana hasil daya sebar F0 6,3 cm dan viskositas
16000 cp, daya sebar F1 6,1 cm dan viskositas 17200 cp, daya sebar F2 5,5 cm
dan viskositas 34400 cp, serta daya sebar F3 5,0 cm dan viskositas 48000 cp.
Semakin tinggi daya sebarnya maka semakin rendah nilai viskositas yang dimiliki
oleh masker gel peel off.
Viskositas formulasi masker gel peel-off dapat ditingkatkan dengan
meningkatkan konsentrasi PVA dan HPMC (Syakri et al., 2021). HPMC
merupakan bahan pembentuk hidrogel yang dapat mengembang di dalam air.
Alasan penggunaan HPMC pada masker gel peel-off adalah karena HPMC
meningkatkan jumlah serat polimer, meningkatkan jumlah cairan yang
terperangkap, dan bahan pembentuk gel dapat mengikat air. Mekanisme
pembentukan gel oleh HPMC terjadi karena interaksi polimer dengan pelarut,
sehingga mempersempit jarak antar partikel dan membentuk ikatan silang
antarmolekul, sehingga mengurangi mobilitas pelarut dan menyebabkan
terbentuknya massa gel dan zat aktif terperangkap dalam matriks gel dan
dilepaskan pada saat pengaplikasian (Sari et al., 2024). Oleh karena itu, formula
39
3 lebih kental dibandingkan dengan formula

40
lain karena memiliki konsentrasi variasi HPMC yang lebih besar yaitu 5%
sedangkan formula lain hanya sebesar 3% dan 4%. PVA juga menghambat
penyebaran. Semakin tinggi konsentrasi PVA yang digunakan maka semakin
tinggi pula viskositasnya karena adanya ikatan hidrogen yang terjadi antara gugus
OH PVA dan semakin banyaknya air yang digunakan dalam sediaan (Apriani et
al., 2022).
4.6.7 Uji Iritasi
Untuk mengetahui apakah masker gel peel-off dapat menyebabkan iritasi kulit,
dilakukan uji iritasi terhadap formulasi masker gel peel-off (Permatasari et al.,
2020). Tujuan dari pengujian iritasi juga untuk mencegah efek samping pada kulit.
Iritasi adalah gejala peradangan yang terjadi pada kulit setelah pemberian bahan
kimia atau zat lain dalam waktu lama atau berulang. Iritasi kulit akibat suatu zat
bisa terjadi pada siapa saja dan tidak berhubungan dengan sistem imun tubuh.
Banyak faktor yang berperan, seperti kondisi permukaan kulit, lamanya kontak zat
dengan kulit, dan konsentrasi zat (Megawati et al., 2024). Adapun hasil uji iritasi
sediaan masker gel peel off dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil Uji Iritasi Masker Gel Peel Off terhadap 12 panelis
Uji Sampel Panelis
iritasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Eritema F0 - - - - - - - - - - - -
F1 - - - - - - - - - - - -
F2 - - - - - - - - - - - -
F3 - - - - - - - - - - - -
Edema F0 - - - - - - - - - - - -
F1 - - - - - - - - - - - -
F2 - - - - - - - - - - - -
F3 - - - - - - - - - - - -
Gatal F0 - - - - - - - - - - - -
F1 - - - - - - - - - - - -
F2 - - - - - - - - - - - -
F3 - - - - - - - - - - - -
Keterangan :
+ : terjadi iritasi (eritema, edema, atau gatal)
- : tidak terjadi iritasi (eritema, edema, atau gatal)
Uji iritasi ini melibatkan 12 panelis. Hasil dari 12 panelis dapat dilihat pada
tabel 9 tidak menunjukkan adanya tanda-tanda iritasi. Hal ini dikarenakan pH
produk masih berada dalam kisaran pH alami kulit sehingga aman digunakan pada

41
kulit. Selain itu, bahan yang digunakan dalam pembuatan masker gel peel off juga
aman bagi kulit (Cahnia et al., 2022). Dapat disimpulkan bahwa sediaan masker
gel peel off ekstrak daun kelapa sawit aman digunakan pada kulit.
Kriteria yang harus dipenuhi sebagai panelis uji iritasi adalah wanita berbadan
sehat, usia antara 20-30 tahun, tidak ada riwayat penyakit yang berhubungan
dengan alergi, dan bersedia menjadi panelis. Kemudian, lengan atas bagian dalam
diberi sediaan masker gel peel off ditutup plester selama 24 jam. Setelah itu
dilepas plesternya dan ditunggu 30 menit dahulu baru dinilai dengan memeriksa
adanya kemerahan, gatal, bengkak yaitu tanda iritasi (Cahnia et al., 2022).
Penempelan masker dilakukan pada lengan atas, karena tipisnya lapisan tanduk
pada lengan sehingga penyerapan bahan cukup besar, bahan yang menempel tidak
banyak mengalami gerakan, lepas atau kendor, sehingga kontaknya dengan kulit
cukup terjamin. Penempelan dilakukan secara tertutup (Patch test) dengan plaster,
yang bertujuan untuk menjamin dan membantu absorbsi dari masker serta
menghindari dari pengaruh lingkungan (Laras et al., 2019).
4.6.8 Uji Kelembapan
Pengujian kelembapan bertujuan untuk mengetahui kemampuan formulasi
masker gel peel-off dalam melembabkan kulit dengan mengukur nilai kadar air
stratum korneum subjek uji menggunakan skin analyzer (Permatasari et al., 2020).
Observasi dilakukan terhadap 12 orang wanita sehat, berusia 20 hingga 30 tahun,
tidak memiliki riwayat penyakit alergi dan bersedia menjadi panelis.
Dua belas panelis diminta untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, dibagi
menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga orang. Pengujian
masker dilakukan seminggu sekali selama 4 minggu (Kartika et al., 2021). Alat
skin analyzer digunakan untuk memeriksa kadar air kulit bagian dalam lengan
partisipan sebelum dan sesudah mengaplikasikan masker gel peel-off (Rizkiah et
al., 2021). Jika kadar air meningkat maka efektif sebagai pelembab kulit. Jika
kadar airnya tidak meningkat maka sediaan tidak mempunyai efek melembapkan
kulit. Hasil presentase kelembaban yang diperoleh, diolah berdasarkan skala
sebagai berikut :
≤33% sangat kering, kering (34-37%), normal (38-42), lembap (43-46%) dan
sangat lembab (≥47%) (AF, 2019). Adapun hasil uji kelembapan sediaan masker
gel peel off dapat dilihat pada Tabel 6.
42
Tabel 6. Hasil Uji Kelembapan Masker Gel Peel Off terhadap 12 panelis
Formula Panelis Uji Kelembapan
Awal Minggu Minggu Minggu Minggu % Peningkatan
ke-1 ke-2 ke-3 ke-4 Kelembapan
F0 1 49,7 53,2 56,6 56,8 56,8
2 48,7 50,8 51,4 52,3 54,4
3 49,7 53,3 53,8 56,1 56,7
Rata-rata 49,4 52,4 53,9 55,1 56,0 13,4
Standar deviasi 0,47 1,15 2,14 1,97 1,10
F1 1 48,4 54,3 55,6 56,5 56,7
2 45,1 51,5 53,1 55,9 56,4
3 47,3 52,3 54,2 54,2 55,5
Rata-rata 46,9 52,7 54,3 55,5 56,2 19,8
Standar deviasi 1,37 1,15 1,01 1,36 0,5
F2 1 45,9 52,2 55,6 55,8 56,5
2 49,3 55,1 57,5 57,8 57,8
3 46,7 51,9 57,3 57,3 58,5
Rata-rata 47,2 53,1 56,8 57,0 57,6 22
Standar deviasi 1,70 1,40 0,84 0,85 0,82
F3 1 48,6 53,2 55,4 56,2 59,5
2 46,7 52,9 54,1 57,4 58,5
3 47,6 55,2 56,2 57,2 56,4
Rata-rata 47,7 53,8 55,2 56,9 58,1 21,8
Standar deviasi 0,58 1,01 0,86 0,51 1,29
Keterangan :
F0 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F1 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 9:3
F2 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 8:2
F3 : Formula masker gel peel off dengan perbandingan PVA dan HPMC 7:5
Hasil uji kelembapan dapat dilihat pada Tabel 10 menunjukkan bahwa
setelah penggunaan masker gel peel off, semua kelompok panelis menunjukkan
peningkatan kelembapan menjadi sangat lembap yaitu ≥47%. Faktor pelembab
kulit yang menyebabkan terjadinya variasi nilai persentase kelembapan setiap
individu yaitu setiap individu memiliki faktor alami yang berbeda dan mencegah
kulit kering meliputi lapisan berminyak di kulit (lipid film) (Permatasari et al.,
2020). Hasil juga menunjukkan bahwa peningkatan kelembapan tiap panelis
berbeda-beda tiap minggunya, hal ini terjadi karena jenis kulit setiap orang
berbeda. Selain itu usia dan gaya hidup juga berpengaruh pada kelembapan
seseorang (Cahnia et al., 2022).
Kemampuan menghidrasi masker gel peel off bergantung pada bahan dasar
dan bahan aktif yang digunakan. Bahan dasar yang digunakan mengandung

43
propilen glikol yang berfungsi sebagai pelembab. Propilen glikol menjaga
tingkat kelembapan kandungan stratum korneum. Propilen glikol dapat
membantu senyawa tersebut menembus kulit dan meningkatkan penyerapan
kelembapan pada kulit (Sunnah et al., 2023). Selain bahan aktif yang digunakan,
ekstrak daun kelapa sawit juga dapat memberikan kelembapan.
Pada Tabel 10 dapat dilihat bahwa peningkatan kelembapan pada F0 lebih
kecil dibandingkan dengan F1, F2, dan F3. Rata-rata peningkatan
kelembapan pada F0 sebesar 13,4%. Pada F1 sebesar 19,8%. Pada F2 sebesar
22%dan pada F3 sebesar 21,8%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi kandungan atau konsentrasi zat uji maka peningkatan kadar
airnya pun semakin besar. Flavonoid yang terdapat pada ekstrak daun kelapa
sawit membantu melawan radikal bebas dan melindungi kulit dari kerusakan.
Senyawa ini juga dapat merangsang pembentukan kolagen, yaitu protein yang
menjaga elastisitas dan kelembapan kulit, sehingga kulit tampak lebih sehat dan
cantik (Riska et al., 2024).
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sediaan yang mengandung
flavonoid yaitu apigenin dapat meningkatkan elastisitas dan kepadatan kulit serta
mengurangi kerutan pada kulit (Sunnah et al., 2022). Apigenin mengurangi
aktivitas MMP-1, melindungi kulit dari kerusakan matriks kolagen akibat sinar
UVA dan UVB, sehingga mengurangi elastisitas dan kekeringan kulit. Manfaat
senyawa apigenin untuk aplikasi topikal dapat meningkatkan kekencangan,
kekencangan, garis halus, dan menjaga hidrasi(Szostek et al., 2021). Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan masker gel peel off daun
kelapa sawit secara rutin dapat memberikan kelembapan pada kulit.

44
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan, yaitu
1. Ekstrak daun kelapa sawit dapat diformulasikan menjadi masker gel peel
off. Masker gel peel off yang memenuhi syarat evaluasi sebagai masker gel
peel off yang baik yaitu homogen, pH 4,8-6,0, daya sebar 5,0-6,5 cm,
viskositas 15600-48000 cp, waktu mengering 17-24 menit, dan tidak terjadi
iritasi.
2. Masker gel peel off dengan variasi konsentrasi PVA dan HPMC
berpengaruh terhadap evaluasi fisik masker gel peel off yaitu konsistensi,
daya sebar, waktu mengering, dan viskometer. Uji efektivitas kelembapan
masker gel peel off dengan menggunakan ekstrak daun kelapa sawit
(Elaeis guineensis Jacq.) dapat disimpulkan jika dilakukan pemakaian
secara rutin dapat melembapkan dan hasil analisis statistik untuk
menentukan perbedaan rata- rata di antara formula menunjukkan bahwa
tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara masker gel peel off
ekstrak daun kelapa sawit variasi PVA dan HPMC terhadap hasil uji
kelembapan.

6.2 Saran
1. Formulasi masker gel peel off ekstrak daun kelapa sawit perlu penambahan
zat antioksidan.
2. Perlu dilakukan pengujian hedonik atau kesukaan pada sediaan masker gel
peel off sehingga dapat diketahui tingkat kesukaan sedian masker gel peel
off yang dibuat.

45
DAFTAR PUSTAKA

Abdul, I. (2023) Merancang Kelapa Sawit Sebagai Komodiri Unggulan Nasional.


Adhayanti, E., Arpiwi, N. L. And Darsini, N. N. (2022) ‘Formulasi Sediaan
Masker Gel Peel-Off Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Dan
Minyak Atsiri Serai Wangi (Cymbopogon Nardus L. Rendle)’,
Metamorfosa: Journal Of Biological Sciences, 9(1), P. 101. Doi:
10.24843/Metamorfosa.2022.V09.I01.P10.
Afandi, M. R. Z., Iswandi, I. And Safitri, C. I. N. H. (2021) ‘Formulasi Dan
Stabilitas Mutu Fisik Ekstrak Temu Ireng (Curcuma Aeruginosa Roxb.)
Sebagai Body Butter’, Prosiding Snpbs (Seminar Nasional Pendidikan
Biologi Dan Saintek), 6, Pp. 359–365.
Agustiani, F. R. T., Sjahid, L. R. And Nursal, F. K. (2022) ‘Kajian Literatur :
Peranan Berbagai Jenis Polimer Sebagai Gelling Agent Terhadap Sifat
Fisik Sediaan Gel’, Majalah Farmasetika, 7(4), P. 270. Doi:
10.24198/Mfarmasetika.V7i4.39016.
Apriani, E.F., Miksusanti. Dan Fransiska, N. (2022) ‘Formulasi Dan Optimasi
Masker Gel Peel-Off Dengan Bahan Polyvinyl’, Farmasi Indonesia, 32(2),
Pp. 261–268.
Anwar, S. K. Et Al. (2021) ‘Formulasi Dan Stabilitas Mutu Fisik Ekstrak Temu
Kunci (Boesenbergia Pandurate Roxb.) Sebagai Body Butter’, Prosiding
Snpbs (Seminar Nasional Pendidikan Biologi Dan Saintek), Pp. 380–386.
Arman, I., Edy, [Link], K.R.L (2021) ‘Formulasi Dan Uji Stabilitas Fisik
Sediaan Masker Gel Peel-Off Ekstrak Etanol Daun Miana (Coleus
Scutelleroides (L.) Benth.) Dengan Berbagai Basis’, Jurnal Farmasi
Medica/Pharmacy Medical Journal (Pmj), 4(1), P. 36. Doi:
10.35799/Pmj.4.1.2021.34523.
Arviani Et Al. (2023) Farmakognosi : Menelusuri Rahasia Obat Dari Alam.
Bianti, M. (2016) ‘Kulit Kering Pada Usia Lanjut’, Continuing Medical
Education-
245, 43(10), Pp. 737–740.
Cahnia, M.S., Muhaimin, Yuliawati, Lestari, U. F. S. K. (2022) ‘Formulasi, Uji
Efektivitas Dan Uji Hedonik Masker Gel Peel Off Kombinasi Ekstrak
Rimpang Kunyit (Curcuma Longa L.) Dan Madu (Mel Depuratum)
Sebagai Peningkat Elastisitas Kulit’, Jurnal Ilmiah Kefarmasian, 7, Pp.
23–36.
Depkes Ri. 1979. Farmakope Indonesia Iii. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia,
Depkes Ri. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta : Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.

46
Domaszewska-Szostek, A., Puzianowska-Kuźnicka, M. And Kuryłowicz, A.
(2021) ‘Flavonoids In Skin Senescence Prevention And Treatment’,
International

47
Journal Of Molecular Sciences, 22(13), Pp. 1–18. Doi:
10.3390/Ijms22136814.
Eryani, M. C. (2022) ‘Pengaruh Variasi Konsentrasi Cmc-Na Sebagai Viscosity
Agent Terhadap Sifat Fisik Sheet Mask Gel Ekstrak Daun Bidara
(Ziziphus Spina-Christi L.)’, Medfarm: Jurnal Farmasi Dan Kesehatan,
11(1), Pp. 9–
15. Doi: 10.48191/Medfarm.V11i1.90.
Evania, A. And Rakainsa, S. K. (2023) ‘Antibacterial Activity Peel-Off Mask
Ethanol Extract Of Pomegranate Peel ( Punica Granatum L .) Against
Staphylococcus Epidermidis And Staphylococcus Aureus’, Pp. 1–15.
Ermavianti, W.S.D., Susilowati, A. (2020). Perawatan Wajah Badan (Body
Massage), Dan Waxing. Yogyakarta : Andi.
Febriani, A. Et Al. (2020) ‘The Utilization Of Oil Palm Leaves (Elaeis Guineensis
Jacq.) Waste As An Antibacterial Solid Bar Soap’, Iop Conference Series:
Earth And Environmental Science, 572(1). Doi: 10.1088/1755-
1315/572/1/012038.
Fitriyani, N. Y.B (2023) ‘Sifat Fisik Gel Masker Peel Off Sari Cucumis Sativus
Dengan Basis Polivinil Alkohol Dan Variasi Konsentrasi Hidroksipropil
Metilselulosa’, Jurnal Medika Farmaka, 1(24), Pp. 146–151. Doi:
10.33482/Jmedfarm.V1i3.21.
Ghazali, A. Et Al. (2018) ‘Formulasi Sediaan Masker Peel-Off Ekstrak Daun
Pakis (Diplazium Esculentum (Retz.)Sw.) Sebagai Anti-Aging’, Jurnal
Farmanesia, 5(2), Pp. 68–80. Doi: 10.51544/Jf.V5i2.2730.
Herawan, D. Q. Et Al. (2022) ‘Evektivitas Ketersediaan Pelembab Bahan Alam
Dalam Mengatasi Kulit Kering’, Jurnal Health Sains, 3(7), Pp. 852–857.
AvailableAt:Https://[Link]/[Link]/Jhs/Article/View/
529/696.
Idawati, Patimah, R., Risa Ahdyani, Y. P. I. L. (2023) ‘Potensi Antioksidan
Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Klapa Sawit (Elaeis Guineensis Jack.)
Dengan Metode Dpph (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl)’, Potensi
Antioksidan Sediaan … Journal Of Pharmacopolium, 6(1), Pp. 73–80.
Indrawati,T. (2011) Formulasi Sediaan Kosmetik Setengah Padat, Penerbit Istn.
Indriaty, S. Et Al. (2023) ‘Formulasi Dan Uji Stabilitas Masker Gel Peel-Off
Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh Dengan Variasi Konsentrasi Pva’,
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian, 8(2), Pp. 797–810. Doi:
10.37874/Ms.V8i2.764.
Ismayanti, A. N. (2022) ‘Review Artikel Formulasi Dan Uji Stabilitas Fisik
Sediaan Masker Gel Peel-Off Sebagai Antioksidan Dari Berbagai Ekstrak
Tumbuhan’, Journal Of Pharmacopolium, 5(2), Pp. 126–134. Doi:
10.36465/Jop.V5i2.890.
Isnaini Khasanah, Rina Widiastuti, Ismiyati, I. (2019) ‘Formulasi Dan Uji Stabilitas
Fisik Masker Gel Peel-Off Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea Americana

48
Mill) Dengan Matriks Pva Dan Hpmc Dengan Variasi Konsentrasi Gliserin’,
Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Setya Medika, 4, 14–28.
Kartika, S. D. Et Al. (2021) ‘Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off Ekstrak
Temu Putih (Curcuma Zedoaria) Sebagai Anti Jerawat’, Seminar Nasional
Pendidikan Biologi Dan Saintek (Snpbs) Ke-Vi, Pp. 351–358.
Kartiko, H., M. Z. F. (2021) ‘Pengaruh Perbedaan Waktu Dan Suhu Pengeringan
Terhadap Aktivitas Antioksidan Teh Herbal Daun Kelapa Sawit Dengan
Metode Oven-Dried’, Pangan Halal, 3.
Khasanah, I., Widiastuti, R., Ismiyati, I. (2019) ‘Formulasi Dan Uji Stabilitas
Fisik Masker Gel Peel-Off Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea
Americana Mill) Dengan Matriks Pva Dan Hpmc Dengan Variasi
Konsentrasi Gliserin’, Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Setya Medika, 4, Pp.
14–28. Doi: 10.56727/Bsm.V4i.68.
Kusantati, H., Prihatin, P. T. And Wiana, W. (2008) Tata Kecantikan Kulit Jilid Ii,
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah, Departemen Pendidikan
Nasional. Available At: [Link].
Laras, A.A.I.S., Swastini, D.A., Wardana, M., Wijayanti, N. P. A. D. (No Date)
‘Uji Iritasi Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.)’,
Pp. 74–77.
Lestari, U. Et Al. (2023) ‘Physical Properties Of Peel-Off Gel Mask Ethanol
Extract Of Surian Leaves (Toona Sinensis) As An Antioxidant’,
Indonesian Journal Of Pharmaceutical Science And Technology, 1(1), Pp.
90–99.
Limbong, Y.A.J., Uce Lestari, M. (2021) ‘Formulasi Masker Gel Peel Off Arang
Aktif Dari Cangkang Kelapa Sawit(Eleis Quinemis Jacq) Sebagai
Pembersih Wajah Dengan Basis Polivinil Alkohol (Pva)’, Talenta
Conference Series: Science And Technology (St), 1(2), Pp. 28–41. Doi:
10.32734/St.V2i2.505.
Liska, Novianti, S. And Amanah, H. (2021) ‘Skrining Metabolit Sekunder Ekstrak
Etanol Daun Bitangur (Calophyllum Inophyllum L)’, Proceedings Of
National Colloqium Research And Community Service, 5(1), Pp. 93–95.
Available At: Https://[Link]/[Link]/Snppm/Issue/View/210.
Luthfiyana, N., Nurhikma, N. And Hidayat, T. (2019) ‘Characteristics Of Peel Off
Gel Mask From Seaweed (Eucheuma Cottonii) Porridge’, Jurnal
Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 22(1), P. 119. Doi:
10.17844/Jphpi.V22i1.25888.
Megawati, F. Et Al. (2024) ‘Survey Penerimaan Konsumen Dan Uji Iritasi
Terhadap Sediaan Gel Masker Peel-Off Batang Pisang (Musa Paradisiaca
L.) Dan Bunga Widuri (Calotropis Gigantea L.)’, Jurnal Ilmiah
Medicamento, 10(1), Pp. 1–9. Doi: 10.36733/Medicamento.V10i1.5372.
Najmudin, G. A., Lukmayani, Y. And Yuliawati, K. M. (2023) ‘Penetapan Kadar
Flavonoid Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper Ornatum [Link].)’,
49
Bandung Conference Series: Pharmacy, Pp. 250–257. Doi:
10.29313/Bcsp.V3i2.8614.
Nastiti, M., Nawangsari, D. And Febrina, D. (2021) ‘Formulasi, Sifat Fisik Dan
Uji Aktivitas Antioksidan Masker Gel Peel Off Tepung Beras Hitam
(Oriza Sativa L. Var Indica)’, Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, 4(2), Pp.
58–67. Doi: 10.52216/Jfsi.Vol4no2p58-67.
Ningrum, W. A. (2018) ‘Pembuatan Dan Evaluasi Fisik Sediaan Masker Gel Peel-
Off Ekstrak Etanol Daun Teh (Camellia Sinensis L.)’, Jurnal Farmasi
Sains Dan Praktis, 4(2), Pp. 57–61. Doi: 10.31603/Pharmacy.V4i2.2323.
Nugroho, A. (2017) Buku Ajar: Teknologi Bahan Alam, Lambung Mangkurat
University Press.
Nurjannah, I., Mustariani, B. A. A. And Suryani, N. (2022) ‘Spin Jurnal Kimia &
Pendidikan Kimia Skrining Fitokimia Dan Uji Antibakteri Ekstrak
Kombinasi Daun Jeruk Purut (Citrus Hystrix) Dan Kelor (Moringa
Oleifera L.) Sebagai Zat Aktif Pada Sabun Antibakteri’, Spin Jurnal Kimia
& Pendidikan Kimia, 4(1), Pp. 23–36. Doi: 10.20414/Spin.V4i1.4801.
Nurlaili (2016) ‘Modul Paket Keahlian Tata Kecantikan Kulit Sekolah Menengah
Kejuruan’, Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jederal
Guru Dan Tenaga Kependidikan, Pp. 1–133. Available At:
Http://[Link]/12596/1/Kck-A. Sanitasi Hygiene Dan
Kosmetika [Link].
Oktavia, T. Et Al. (2021) ‘Formulasi Dan Uji Mutu Fisik Ekstrak Rimpang Temu
Ireng ( Curcuma Aeruginosa Roxb .) Sebagai Masker Gel Peel Off
Pencerah Wajah.’, Seminar Nasional Pendidikan Biologi Dan Saintek
(Snpbs), Vi, Pp. 337–344.
Permatasari, S.N., A. R. E. Dan R. L. V. (2020) ‘Uji Aktivitas Pelembab Sediaan
Masker Gel Peel-Off Daging Buah Labu Kuning (Cucurbita Maxima
Duch) Shiyam’, Indonesian Journal Of Pharmacy And Natural Product,
Pp. 1–9. Available At: Http://[Link]-
[Link]/[Link]/Jkm/Article/View/2203.
Pratiwi, L. And Wahdaningsih, S. (2018) ‘Gel Peel Off Ekstrak Metanol Buah
Pepaya ( Carica Papaya L .)’, Pharmacy Medical Journal, 1(2), Pp. 50–62.
Rieger, M, M. (2000). Harry’s Cosmeticology. Edisi VIII. New York: Chemical
Publishing [Link].
Riska, M., Nadia, S. And Zebua, N. F. (2024) ‘Formulasi Dan Penentuan Kadar
Flavonoid Total Gel Ekstrak Etanol Daun Seledri (Apium Graveolens L.)
Sebagai Pelembab’, Jurnal Forte, 4(1), Pp. 20–29.
Rizkiah, S., Okzelia, A. S. E. (2021) ‘Formulasi Dan Evaluasi Gel Dari Ekstrak
Kulit Putih Semangka (Citrullus Lanatus [Thunb.] Matsum. & Nakai)
Sebagai Pelembap Kulit’, Jurnal Sabdariffarma, 9(2), Pp. 33–44. Doi:
10.53675/Jsfar.V3i2.394.

50
Rohmalia, R. A. Shinta (2021) ‘Analisis Penggunaan Perawatan Kecantikan
Masker Alami Sebagai Perawatan Kulit Wajah Pada Masa Pandemic
Covid- 19’, Diversity: Jurnal Ilmiah Pascasarjana, 1(2), Pp. 76–86. Doi:
10.32832/Djip-Uika.V1i2.5032.
Rowe, R.C., Sheskey, P.,Quinn, M.E., 2009. Handbook Of Pharmaceutical
Exipients, 6 Th Edition. London: Pharmaceutical Press,
Samsul, E., Jumain, J. And Sinala, S. (2022) ‘Formulasi Masker Gel Peel Off
Ekstrak Kulit Buah Langsat (Lansium Domesticum L) Dengan Variasi Pva
(Polivinil Alkohol)’, Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 8(2), Pp.
151–
164. Doi: 10.35311/Jmpi.V8i2.203.
Santoso, I. Et Al. (2020) ‘Formulasi Masker Gel Pell-Of Perasan Lidah Buaya
( Aloe Vera L .) Dengan Gelling Agent Polivinil Formulatioan Of Peel-Off
Gel Maask Fruit Of ( Aloe Vera L ). With Gelling Alcohol Polyclinyl
Agent’, Jurnal Riiset Kemarfasian Indonesia, 2(1), Pp. 17–25.
Sari, E.K. Et Al. (2023) ‘Uji Stabilitas Formulasi Masker Gel Peel Off Ekstrak
Etanol Daun Pepaya (Carica Papaya L.) Stability Test Of Gel Peel Off
Mask Formulation Of Papaya Leaf Ethanolic Extract (Carica Papaya L.)’,
J. Sains Dasar, 12(1), Pp. 27–37.
Sari, Y. D. P., Purwanto, D. S. And Nafisah, U. (2024) ‘Formulation Of Peel-Off
Gel Mask Of Cocoa Skin Extract (Theobroma Cacao L) With Varied
Concentration Gelling Agent’, Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian,
9(1), Pp. 223–234. Doi: 10.37874/Ms.V9i1.1006.
Setiani, R., Susanti, A. (2020), ‘Masker Kolang Kaling Khas Jatirego’. Semarang :
Lppm Unnes.
Silvia,B. M., And Dewi, M.L. (2022) ‘Studi Literatur Pengaruh Jenis Dan
Konsentrasi Basis Terhadap Karakteristik Masker Gel Peel Off’, Jurnal
Riset Farmasi, Pp. 30–38. Doi: 10.29313/Jrf.V2i1.702.
Sosalia, R. D., Subaidah, W. A. And Muliasari, H. (2021) ‘Formulasi Dan Uji
Aktivitas Antioksidan Sediaan Masker Peel Off Ekstrak Etanol Daun
Jambu Biji ( Psidium Guajava L.)’, Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu
Kefarmasian, 2(2), P. 146. Doi: 10.31764/Lf.V2i2.5498.
Suharsanti, R. And Ariyani, L. W. (2018) ‘Efek Pelembab Kulit Sediaan Shooting
Gel Kombinasi Daun Lidah Buaya Dan Buah Anggur’, Jurnal Farmasi &
Sains Indonesia, 1(1), Pp. 25–30. Available At:
Http://[Link]/.
Sulardi (2022) Buku Ajar Budidaya Kelapa Sawit.
Sulistiarini, R., Helmi, H. And Narsa, A. C. (2022) ‘Elaeis Guineensis Jacq.
Leaves Are A Potential Biomass For Herbal Medicine Resources: A Mini
Review’, Journal Of Applied Pharmaceutical Science, 12(10), Pp. 147–
155. Doi: 10.7324/Japs.2022.121016.
Sunnah, I. Et Al. (2022) ‘Ekstrak Labu Kuning (Cucurbita Maxima D) Asal Desa

51
Getasan Kabupaten Semarang Sebagai Krim Pelembab Kulit Dan Hair
Tonic’, Media Informasi Penelitian Kabupaten Semarang (Sinov), 4, Pp.
22–29.
Swaidatul Masluhiya Af, H. R. F. (2019) ‘Efektivitas Natural Face Mask Dalam
Meningkatkan Kelembaban Kulit Wajah’, 8487(3), Pp. 138–148.
Syakri, S. Et Al. (2021) ‘Characterization And Anti-Aging Tests Of Peel-Off Gel
Masks Made From Ethanolic Extract Of Yarrow (Achillea Millefolium)’,
Open Access Macedonian Journal Of Medical Sciences, 9(A), Pp. 1591–
1596. Doi: 10.3889/Oamjms.2021.7574.
Tanjung, Y.P., A. M. R. (2022) ‘Formulasi Dan Evaluasi Fisik Masker Gel Peel
Off Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus)’, Jurnal
Penelitian Farmasi Indonesia, 11(2), Pp. 5–10. Doi:
10.51887/Jpfi.V11i2.1741.
Tow, W. K., Goh, A.P.T., Sundralingam, U.,Palanisamy, U.D., Sivasothy, Y.
(2021) ‘Flavonoid Composition And Pharmacological Properties Of
Elaeis Guineensis Jacq. Leaf Extracts: A Systematic Review’,
Pharmaceuticals, 14(10), 1–20.
Trisnaputri, D. R. et Al. (2023) ‘Formulasi Dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan
Masker Gel Peel - Off Ekstrak Etanol Daun Kelengkeng ( Dimocarpus
Longan L .)’, 9(2), Pp. 432–449.
Utami, W., Mardawati, E., S. H. P. (2020) ‘Jurnal Industri’, Jurnal Internasional,
02(2009), Pp. 95–102.
Wilsya, M. And Agustin, Y. (2023) ‘Optimasi Formula Gel Ekstrak Mentimun
(Cucumis Sativus) Sebagai Pelembab Kulit Dengan Variasi Tragakan Dan
Metil Ester Sulfonat (Mes)’, Jurnal Medika Malahayati, 7(1), Pp. 553–
561. Doi: 10.33024/Jmm.V7i1.9545.
Wulaningsih, T. I., Sopyan, I. And Sriwidodo (2023) ‘Klaim Moisturizer
Terhadap Xerosis Cutis’, Health Information: Jurnal Penelitian, 15(2), Pp.
1–12.
Yin, N. S., Abdullah, S. And Phin, C. K. (2013) ‘Phytochemical Constituents
From Leaves Of Elaeis Guineensis And Their Antioxidant And
Antimicrobial Activities’, International Journal Of Pharmacy And
Pharmaceutical Sciences, 5(Suppl.4), Pp. 137–140.
Yusof, N. Z. Et Al. (2016) ‘Potential Uses Of Oil Palm (Elaeis Guineensis) Leaf
Extract In Topical Application’, Journal Of Oil Palm Research, 28(4), Pp.
520–530. Doi: 10.21894/Jopr.2016.2804.13.
Zain, M. S. C. Et Al. (2021) ‘Uhplc-Uv/Pda Method Validation For Simultaneous
Quantification Of Luteolin And Apigenin Derivatives From Elaeis
Guineensis Leaf Extracts: An Application For Antioxidant Herbal
Preparation’, Molecules, 26(4). Doi: 10.3390/Molecules26041084.
Zubaydah, W.O.S., S. S. F. (2020) ‘Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-Off Dari
Ekstrak Buah Tomat (Solanum Lycopersicum L.) Beserta Uji Aktivitas

52
Antioksidan’, Journal Syifa Sciences And Clinical Research, 2(2), Pp. 73–
82. Doi: 10.37311/Jsscr.V2i2.6980.
Zumaro, M. Et Al. (2021) ‘Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kelapa
Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.)’, Proceeding Of Mulawarman
Pharmaceuticals Conferences, 14, Pp. 125–128. Doi:
10.25026/Mpc.V14i1.566.

53
L
A
M
P
I
R
A
N
54
LAMPIRAN
Lampiran 1. Verifikasi Tanaman

55
Lampiran 2. Ethical Clearance

56
Lampiran 3. Hasil Uji Similarity/ Plagiarism

57
Lampiran 4. Perhitungan bahan Pembuatan Masker Gel Peel Off

 Perhitungan Formula 0
0
100
Ekstrak daun kelapa sawit : 0% = ×100g = 0g
9
100 ×100g
PVA : 9% =
= 9g
3
100
HPMC : 3% = ×100g = 3g

:10% = 10 ×100g
100
Propilen glikol = 10g
2
100
TEA :2% = ×100g = 2g

:0,02% =0,02×100g
100
Metil paraben = 0,02g

:0,18% =0,18×100g
100
Propil paraben = 0,18g

: 0,05%=0,05×100g
100
Oleum rosae =0,05

Aquades : 100ml
: 100ml –(0+9+3+10+2+0,02+0,18+0,05)
: 100ml-24,25ml
: 75,75ml
 Perhitungan Formula 1
: 1,5% = 1,5 ×100g
100
Ekstrak daun kelapa sawit =1,5g
9
100 ×100g
PVA : 9% =
= 9g
3
100
HPMC : 3% = ×100g = 3g

:10% = 10 ×100g
100
Propilen glikol = 10g
2
100
TEA :2% = ×100g = 2g

:0,02% =0,02×100g
100
Metil paraben = 0,02g

:0,18% =0,18×100g
100
Propil paraben = 0,18g

: 0,05%=0,05×100g
100
Oleum rosae =0,05

Aquades : 100ml
: 100ml –(1,5+9+3+10+2+0,02+0,18+0,05)
: 100ml-25,75ml
: 74,25ml

58
 Perhitungan Formula 2
: 1,5% = 1,5 ×100g
100
Ekstrak daun kelapa sawit =1,5g
8
100
PVA : 8% = ×100g = 8g
4
100
HPMC : 4% = ×100g = 4g

:10% = 10 ×100g
100
Propilen glikol = 10g
2
100
TEA :2% = ×100g = 2g

:0,02% =0,02×100g
100
Metil paraben = 0,02g

:0,18% =0,18×100g
100
Propil paraben = 0,18g

: 0,05%=0,05×100g
100
Oleum rosae =0,05

Aquades : 100ml
: 100ml –(1,5+8+4+10+2+0,02+0,18+0,05)
: 100ml-25,75ml
: 74,25ml
 Perhitungan Formula 3
: 1,5% = 1,5 ×100g
100
Ekstrak daun kelapa sawit = 1,5g
7
100
PVA : 7% = ×100g = 7g
5
100
HPMC : 5% = ×100g =5g

:10% = 10 ×100g
100
Propilen glikol = 10g
2
100
TEA :2% = ×100g = 2g

:0,02% =0,02×100g
100
Metil paraben = 0,02g

:0,18% =0,18×100g
100
Propil paraben = 0,18g

: 0,05%=0,05×100g
100
Oleum rosae =0,05

Aquades : 100ml
: 100ml –(1,5+7+5+10+2+0,02+0,18+0,05)
: 100ml-25,75ml
: 74,25ml

59
Lampiran 5. Lembar Pernyataan Kesediaan Panelis uji iritasi

LEMBAR PERNYATAAN KESEDIAAN SEBAGAI PANELIS UJI IRITASI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Alamat :

Setelah mendapat penjelasan dari peneliti mengenai prosedur dan manfaat


dari penelitian ini maka saya menyatakan BERSEDIA menjadi panelis untuk uji
iritasi dalam penelitian Rifdah Ramadhani Shubbiya dengan judul penelitian
“Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off Dari Ekstrak Etanol Daun Kelapa Sawit
(Elaeis guineensis Jacq.)”. Serta telah memenuhi kriteria sebagai panelis pada uji
iritasi sebagai berikut:
1. Wanita
2. Usia antara tahun 20-30 tahun
3. Sehat jasmani dan rohani
4. Tidak mempunyai riwayat penyakit alergi
5. Bersedia menjadi panelis pada uji iritasi

Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama pengujian, panelis


tidak akan menuntut pada peneliti. Demikian surat ini dibuat, atas perhatiannya
saya ucapkan. terima kasih.

Bengkulu, 2024

( )

60
Lampiran 6. Lembar Pernyataan Kesediaan Panelis Uji Kelembapan
LEMBAR PERNYATAAN KESEDIAAN SEBAGAI PANELIS UJI
KELEMBAPAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Alamat :

Setelah mendapat penjelasan dari peneliti mengenai prosedur dan manfaat


dari penelitian ini maka saya menyatakan BERSEDIA menjadi panelis untuk uji
kelembapan dalam penelitian Rifdah Ramadhani Shubbiya dengan judul
penelitian “Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off Dari Ekstrak Etanol Daun
Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)”. Serta telah memenuhi kriteria sebagai
panelis pada uji kelembapan sebagai berikut:
1. Wanita
2. Usia antara tahun 20-30 tahun
3. Sehat jasmani dan rohani
4. Tidak mempunyai riwayat penyakit alergi
5. Bersedia menjadi panelis pada uji kelembapan

Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama pengujian, panelis


tidak akan menuntut pada peneliti. Demikian surat ini dibuat, atas perhatiannya
saya ucapkan. terima kasih.

Bengkulu, 2024

61
Lampiran 7. Alat-Alat Yang Digunakan

Blender Botol Cokelat Hot Plate

Lumpang dan Alu Timbangan Analitik Skin Analyzer

Anak Timbangan Pipet Tetes Batang Pengaduk

Kaca objek Termometer Gelas Beker

62
Viskometer Brookfield Oven pH Meter

63
Lampiran 8. Bahan-Bahan Yang Digunakan

Aquadest PVA HPMC

Tea Oleum Rosae Nipasol

Nipagin Propilen Glikol Daun Kelapa Sawit

64
Lampiran 9. Dokumentasi Pembuatan Ekstrak Daun Kelapa Sawit

Daun Kelapa Sawit Sortasi Basah Dan Perajangan


Pencucian

Maserasi Penghalusan Pengeringan Dan Sortasi


Simplisia Kering

Maserat Ekstrak Kental

65
Lampiran 10. Dokumentasi Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off

Penyiapan alat dan Penimbangan bahan PVA dimasukkan


bahan Aquadest panas dan
digerus (masa 1)

Ditambahkan masa 1 Metil paraben dan propil HPMC dimasukkan


dan 3 ke dalam masa paraben dilarutkan Aquadest panas dan
2digerus hingga dalam propilen glikol digerus (masa 2)
homogen. Ditambahkan (masa 3)
oleum rosae, TEA dan
ekstrak

Dimasukkan ke dalam
wadah

66
Lampiran 11. Dokumentasi Uji Organoleptis

Lampiran 12. Dokumentasi Uji Homogenitas

Lampiran 13. Dokumentasi Uji pH

Formula 0 Formula 1

Formula 2 Formula 3

67
Lampiran 14. Dokumentasi Uji Daya Sebar

Formula 0 Formula 1

Formula 2
Formula 3

Lampiran 15. Dokumentasi Uji Waktu Mengering

Formula 0 Formula 1

Formula 2 Formula 3

68
Lampiran 16. Dokumentasi Uji Viskositas

Formula 0 Formula 1

Formula 2
Formula 3

Lampiran 17. Dokumentasi Uji Iritasi

69
Lampiran 18. Dokumentasi Uji Kelembapan

70
Lampiran 19. Daftar Riwayat Hidup

Daftar Riwayat Hidup


Curriculum Vitae

I. Data Pribadi
1. Nama : Rifdah Ramadhani Shubbiya
2. Tempat dan Tanggal Lahir : Manna, 10 Dessember 2000
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Islam
5. Status Pernikahan : Belum Menikah
6. Warga Negara : Indonesia
7. Alamat KTP : Jln. Setia Negara Raya Kota Bengkulu
8. Nomor Telepon / HP 089629049757
9. e-mail : rrs121000@[Link]
10. Kode Pos 38215
II. Pendidikan Formal
Periode Sekolah / Jurusan Jenjang IPK / UAN/
(Tahun) Institusi / Pendidikan RAPOR
Universitas
200-2013 SDIT IQRA’ - SD 28,25
2 Kota
Bengkulu
2013-2016 SMPN 4 Kota - SMP 86,12
Bengkulu
2016-2019 SMAN 5 IPA SMA 82
Kota
Bengkulu
2020-2024 Universitas Kimia/Farmasi Kuliah 3,79
Bengkulu
III. Pendidikan Non formal /Training-Seminar
Tahun Lembaga/Instansi Keterampilan
2021 HIMAFAS1 Kerohanian

71
72

Anda mungkin juga menyukai