0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan33 halaman

Penyuluhan PSN Turunkan DBD Cirebon

Dokumen ini membahas upaya penurunan prevalensi Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui penyuluhan di Desa Karangkendal, Cirebon. Penyuluhan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang DBD, termasuk penyebab, gejala, dan pencegahan, dengan harapan dapat menurunkan angka kejadian penyakit ini. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan masyarakat berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian DBD di wilayah tersebut.

Diunggah oleh

ukmppdoneshoot3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan33 halaman

Penyuluhan PSN Turunkan DBD Cirebon

Dokumen ini membahas upaya penurunan prevalensi Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui penyuluhan di Desa Karangkendal, Cirebon. Penyuluhan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang DBD, termasuk penyebab, gejala, dan pencegahan, dengan harapan dapat menurunkan angka kejadian penyakit ini. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan masyarakat berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian DBD di wilayah tersebut.

Diunggah oleh

ukmppdoneshoot3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA MENURUNKAN PREVALENSI DEMAM BERDARAH

DENGUE DENGAN PENYULUHAN GERAKAN PSN DI DESA


KARANGKENDAL KECAMATAN KAPETAKAN KABUPATEN
CIREBON

OLEH :
dr. Ratu Bionika Widyasari

PEMBIMBING :
dr. Nuning Nuraini Agustina

[Link]
minipro-dr-lucky/67812350

INTERNSIP ANGKATAN IV RSUD ARJAWINANGUN


PUSKESMAS KEDATON
PERIODE
NOVEMBER 2024 – NOVEMBER 2025
PRAKATA

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan rahmat
dah hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan mini project ini dengan baik. Penulis
melaksanakan mini project untuk memenuhi tugas program Dokter Internship serta
menambah wawasan dan keterampilan di bidang kesehatan masyarakat.
Dengan rasa hormat, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. dr. H. Faisal, MARS, selaku pembimbing dan Kepala UPTD Puskesmas DTP Pulomerak
2. Ernawati, [Link] selaku pengelola program DBD di UPTD Puskesmas DTP Pulomerak.
3. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan mini project ini
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa mini project ini tidak sempurna. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan saran dan masukan demi perbaikan selanjutnya. Penulis berharap
agar mini project ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang
kesehatan.

Cilegon, September 2018

dr. Juan Alexander Manurung.

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit infeksi
yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegypti. Penyakit ini ditandai dengan gejala khas berupa demam , nyeri otot dan atau
nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trobositopenia dan diatesis
hemoragik yaitu terjadinya perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi
(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh.

Demam berdarah tersebar di wilayah Asia tenggara, Pasifik barat dan Karibia.
Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air.
Secara nasional penyakit DBD di Indonesia setiap tahun terjadi pada buan September s/d
Februari dengan puncak pada bulan Desember atau Januari yang bertepatan dengan
waktu musim hujan. Angka kejadian DBD masih terjadi pada wilayah cakupan
Puskesmas Pulomerak, dimana pada tahun 2017 terdapat 16 kasus sedangkan pada tahun
2018 angka kejadian DBD menurun menjadi 7 kasus.

Upaya-upaya penanggulangan DBD wajib digalakkan berupa penyuluhan


pemberantasan sarang nyamuk, pelatihan KADER Jumantik, abatisasi dan fogging fokus
(pengasapan) terhadap lingkungan dimana penderita tinggal. Masyarakat sangat berperan
penting dalam upaya penanggulangan tersebut. Pada mini project kali ini, akan dilihat
dan dinilai respon masyarakat terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku dalam
penanggulangan Demam Berdarah Dengue pada Kecamatan Pulomerak.

1.2. Pernyataan Masalah


Berdasarkan catatan pemegang program pemberantasan penyakit menular (P2M)
Puskesmas Pulomerak, masih terdapat angka kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas
Pulomerak pada tahun 2018 ini. Pada sepanjang tahun 2017 terdapat 16 kasus DBD di
seluruh wilayah kerja Puskesmas Pulomerak. Sedangkan pada tahun 2018 (dari bulan
Januari sampai Agustus) angka kejadian DBD mengalami penurunan menjadi 7 kasus
DBD. Dari 4 kelurahan yang ada di cakupan tugas Puskesmas Pulomerak, Desa
Kaliasem merupakan desa dengan kasus DBD terbanyak pada tahun 2013, yaitu
sebanyak 16 orang. Hal itulah yang mendasari pemilihan sasaran penyuluhan, yaitu

ii
masyarakat Pulomerak. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Ibu Erna selaku
pemegang program DBD di Puskesmas Pulomerak, bahwa kemungkinan masih
terdapatnya angka kejadian DBD ini dikarenakan oleh kurangnya pengetahuan
masyarakat mengenai penyakit DBD, baik mengenai penyebab DBD, gejala DBD,
pencegahan DBD dan penanganan awal pada penderita DBD. Sehingga dipandang perlu
diadakannya kegiatan ini karena dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai
DBD meliputi pengertian, penyebab, faktor-faktor risiko, gejala dan tanda, cara
penularan, dan pencegahan.

1.3. Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Pulomerak.

1.3.2 Tujuan Khusus


Penyuluhan ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan dan informasi
yang benar kepada masyarakat Kecamatan Pulomerak mengenai DBD yang meliputi:
a. Pengertian, faktor risiko, dan cara penularan DBD
b. Gejala dan tanda DBD
c. Pencegahan dan penanganan awal DBD

1.4. Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari kegiatan penyuluhan ini adalah meningkatkan
pengetahuan peserta mengenai penyakit DBD, sehingga dapat menekan angka kesakitan
dan meningkatkan taraf hidup setiap individual.

iii
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Demam Berdarah Dengue

Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue (Flaviviridae: Flavivirus Group); virus ini terdiri dari 4 serotip: Den-1, Den-2,
Den-3, dan Den-4. Keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan Den-3 merupakan
serotype terbanyak. Terdapat reaksi silang antara serotype dengue dengan Flavivirus
lainnya seperti Yellow fever, Japanese enchephalitis dan West Nile virus. Penyakit ini
ditularkan oleh salah satu nyamuk rumah Aedes aegypti, sebagai vektor utama dan
nyamuk kebun Aedes albopictus sebagai kovektor. Nyamuk Aedes aegypti umumnya
lebih dominan populasinya diperkotaan dan sebaliknya Aedes albopictus di pedesaan.
Dalam laboratorium virus dengue dapat bereplikasi pada hewan mamalia seperti
tikus, kelinci, anjing, kelelawar dan primata. Survei epidemiologi pada hewan ternak
didapatkan antibodi terhadap virus dengue pada hewan kuda, sapi dan babi. Penelitian
pada artrhopoda menunjukkan virus dengue dapat bereplikasi pada nyamuk genus Sedes
(Stegomyia) dan Toxorhynchites.
Manifestasi klinis penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah demam
mendadak, berlangsung 2-7 hari, wajah kemerahan, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang
disertai lekopenia, ruam, nyeri kepala, punggung dan ulu hati, limfadenopati,
trombositopenia, dan diatesis hemoragik. Tingkat kematian untuk pasien yang berlanjut
dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) berkisar 2-10%.

1
2.2 Epidemiologi
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD atau Dengue Haemorrhagic Fever
atau DHF) telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat global
beberapa tahun ini. Setiap tahun diperkirakan terjadi lebih dari 100 juta kasus DBD
di seluruh dunia dan hanya 250.000 kasus yang dilaporkan secara resmi.
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia tenggara, Pasifik Barat dan
Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah
tanah. Di Indonesia, DBD pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1968 dan
menyebar ke berbagai daerah. Sampai tahun 1980, seluruh propinsi di Indonesia,
kecuali Timor Timur, telah terjangkit penyakit ini. Dari tahun ke tahun, jumlah
kasus demam berdarah cenderung meningkat baik dari segi jumlah maupun wilayah
yang terjangkit . Hal ini dikarenakan vektor penyakit demam berdarah tersebar luas
di seluruh tanah air, meningkatnya kepadatan serta mobilitas penduduk. Secara
nasional penyakit DBD di Indonesia setiap tahun terjadi mulai bulan September
sampai Februari dengan puncak pada bulan Desember atau Januari yang bertepatan
dengan waktu musim hujan.
Faktor iklim, perubahan ekologi dan faktor sosial demografi memegang
peranan penting dalam peningkatan kejadian dan perluasan daerah endemis penyakit
DBD. Tingginya status entomologis vektor DBD sperti house index (HI), container
index, breteau index, dan resting index yang didukung oleh curah hujan yang tinggi
juga dapat mendorong terjadinya KLB. Status entomologis yang lain berupa ovitrap
index (OI) dan pupal index (PI) juga berperan dalam mengevaluasi pasca
pengendalian vector DBD. Aspek epidemiologi lain yang berperan dalam kejadian
DBD yaitu mekanisme penularan virus dengue.

2.3 Etiologi

1) Agent
Virus dengue merupakan bagian dari family Flafiridae dan termasuk dalam group
B Arthropod born viruses (arboviruses). Keempat tipe virus dengue (DEN 1,
DEN 2, DEN 3 dan DEN 4) dapat dibedakan dengan metode serologi. Keempat
tipe virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antaralain

2
Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah
virus dengue tipe satu dan tiga. Infeksi pada manusia oleh salah satu serotype
menghasilkan imunitas sepanjang hidup terhadap infeksi ulang oleh serotype yang
sama, tetapi hanya menjadi perlindugan sementara dan parsial terhadap serotipe
yang lain.

2) Vector
Tabel 1. Taksonomi Nyamuk

Ae. aegypti Ae. albopictus

Kerajaan Animalia Animalia

Filum Arthropoda Arthropoda

Kelas Insecta Insecta

Ordo Diptera Diptera

Famili Culicidae Culicidae

Genus Aedes Aedes

Subgenus Stegomyia Stegomyia

Spesies A. aegypti A. albopictus(Skuse, 1895)

Nama lain Yellow Fever Mosquito; Egyptian Asian Tiger Mosquito; Forest day
Tiger Mosquito Mosquito

Aedes aegypti adalah spesies nyamuk tropis dan subtropis yang ditemukan
di bumi, biasanya antara garis lintang 35°LU dan 35°LS, kira-kira berhubungan
dengan musim dingin isotherm 10°C. Meski Aedes aegypti telah ditemukan sejauh
45°LU, invasi ini telah terjadi selama musim hangat dan nyamuk tidak hidup pada
musim dingin. Distribusi Aedes aegypti juga dibatasi oleh ketinggian. Ini biasanya
tidak ditemukan diatas ketingggian 1.000 m tetapi telah dilaporkan pada

3
ketinggian 2.121 m di India, pada 2.200 m di Kolombia, dimana suhu rerata tahunan
adalah 17°C, dan pada ketinggian 2.400 m di Eritrea.
Aedes aegypti adalah salah satu vector nyamuk yang paling efisien untuk
arbovirus, karena nyamuk ini sangat antropofilik dan hidup dekat dengan manusia dan
sering hidup di dalam rumah. Wabah dengue juga disertai dengan Aedes albopictus,
Aedes polynesiensis dan banyak spesies kompleks Aedess cutellaris. Setiap spesies ini
mempunyai distribusi geografisnya masing-masing, namun mereka adalah vektor
epidemik yang kurang efesien dibanding Aedes aegypti. Faktor penyulit pemusnahan
vektor adalah bahwa telur-telur Aedes aegypti dapat bertahan dalam waktu lama
terhadap desikasi (pengawetan dengan pengeringan), kadang selama lebih dari satu
tahun.
Nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah, tetapi proses metabolismenya
menurun atau bahkan terhenti bila suhu turun sampai dibawah suhu kritis. Rata-rata
suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25°C-27°C, pertumbuhannya
mukakan terhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10°C. kelembaban optimum dalam
kehidupannya adalah 70%-80%. Kelembaban dapat memperpanjang umur nyamuk.
Umumnya nyamuk akan meletakkan telurnya pada temperatur udara sekitar 20°C-
30°C.

a. Musim dan Curah hujan


Peningkatan curah hujan mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti, demikian pula pada musim penhujan. Ini karena semakin banyak jumlah
tempat penampungan air yang dapat digunakan sebagai tempat perindukan.
Perubahan musim akan berpengaruh pada frekuensi gigitannya atau panjang umur
nyamuk dan berpengaruh pula pada kebiasaan hidup manusia untuk lebih lama
tinggal di dalam rumah pada waktu musim hujan.
b. Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan mempengaruhi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti terutama tempat-tempat penampungan air sebagai media breeding place
nyamuk. Seperti bak mandi/WC, gentong, tempayan, vas bunga, tempat minum
burung, kaleng bekas, dan bekas dan lain-lain. Tempat penampungan air berisi air

4
jernih dan ada di dalam rumah serta tidak terkena sinar matahari langsung adalah
tempat yang disukai nyamuk.

c. Kepadatan dan mobilitas penduduk


Kepadatan dan mobilitas penduduk ikut menunjang penularan DBD, semakin padat
penduduk maka semakin mudah penularan DBD. Jarak antara rumah
mempengaruhi penyebaran nyamuk dari suatu rumah ke rumah lain, semakin dekat
jarak antara makin mudah nyamuk menyebar ke rumah sebelah. Mobilitas
memudahkan penularan dari satu tempat ketempat lain dan biasanya penyakit
menular dimulai dari suatu pusat sumber penularan kemudian mengikuti lalu lintas
penduduk. Makin ramai lalu lintas itu, makin besar kemungkinan penyebaran.

3) Daur hidup Nyamuk Aedes Aegypti

Gambar 1. Nyamuk Aedes aegypti dalam siklus hidupnya mengalami


metamorfosa lengkap (helometabola), sebagaimana serangga lain dalam ordo
dipteral. Stadium yang dialami meliputi stadium telur, larva, pupa dan dewasa.

5
a. Telur
Telur nyamuk Aedes berbentuk lonjong, berwarna hitam dan terdapat gambaran
seperti anyaman (sarang lebah) telur diletakkan oleh nyamuk betina secara
terpisah-pisah di tengah atau di tepi permukaan air jernih yang tenang. Nyamuk
betina ini akan di genangan air jernih baik di rumah maupun di luar rumah.
Tempat-tempat ini dikenal sebagai tempat perindukan. Tempat perindukan
biasanya terlindung dari pancaran sinar matahari secara langsung dan
mengandung air jernih. Telur ini akan berumur 1-2 hari yang kemudian menetas,
apabila kondisi memungkinkanya itu terdapat genangan air, namun pada keadaan
kering telur dapat bertahan lama bahkan dapat bertahan sampai bertahun-tahun.

b. Larva (jentik-jentik)
Larva nyamuk berbentuk seperti cacing, aktif bergerak dengan gerakan-gerakan
naik kepermukaan dan turun ke dasar secara berulang-ulang. Larva ini makan
mikroba di dasar genangan dan disebut sebagai permakan di dasar (ground
feeder).
c. Pupa/kepompong
Pupa Aedes aegypti mempunyai ciri morfologi yang khas yaitu seperti koma,
bersifat aktif dan sensitive terhadap gerakan dan cahaya. Biasanya pupa
terbentuk pada sore hari dan umurnya hanya dua hari untuk segera menjadi
nyamuk dewasa.
d. Nyamuk dewasa
Setelah keluar dari kepompong, nyamuk beristirahat di kulit kepompong untuk
sementara waktu, setelah sayapnya kuat ia mulai terbang untuk mencari
mangsa/makanan. Nyamuk betina menghisap darah yang diperlukan untuk
mematangkan telur agar dapat menetas dan apabila dibuahi oleh nyamuk jantan.
Proses pencarian darah biasanya pada siang hari, aktifitas menggigit dimulai
pada pagi hari yakni antara jam 09.00-10.00 dan pada sore hari jam 16.00-17.00
WIB. Nyamuk Aedes aegypti mempunyai kebiasaan menghisap darah berulang-
ulang dan setelah menghisapi hinggap dan istirahat di dalam rumah berdekatan

6
dengan tempat perkembangbiakannya. Kemampuan terbang nyamuk dewasa
adalah 40 atau maksimal 100 m.
4) Host
Manusia adalah pejamu (host) pertama yang dikenai virus, meskipun studi telah
menunjukkan bahwa monyet pada beberapa bagian dunia dapat terinfeksi dan
mungkin bertindak sebagai sumber virus untuk nyamuk penggigit. Virus
bersirkulasi dalam darah manusia terinfeksi pada kurang lebih saat dimana mereka
mengalami demam, dan nyamuk –nyamuk tak terinfeksi mendapatkan virus bila
mereka menggigit individu saat dia dalam keaadaan viremia. Virus kemudian
berkembang di dalam tubuhnya selama periode 8-10 hari sebelum ini dapat
ditularkan kemanusia lain selama menggigit atau menghisap darah berikutnya.
Lama waktu yang diperlukan untuk inkubasi ekstrinsik ini tergantung pada
kondisi lingkungan khususnya suhu sekitar.

2.4 Patogenesis Demam Berdarah Dengue


Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue sampai saat ini masih
diperdebatkan. Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa
mekanisme imunopatologis berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue dan
sindrom renjatan dengue. Respon imun yang diketahui berperan dalam patogenesis
DBD yang pertama adalah respon humoral berupa pembentukan antibodi yang
berperan dalam proses netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan
sitotoksisitas yang dimediasi antibodi. Antibodi terhadap virus dengue berperan
dalam mempercepat replikasi virus pada monosit atau makrofag. Hipotesis ini disebut
antibody dependent enhancement (ADE). Respon yang kedua adalah limfosit T baik
T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) berperan dalam respon imun seluler terhadap
virus dengue. Differensiasi T helper yaitu TH1 akan memproduksi interferon gamma,
IL2 dan limfokin, sedangkan TH2 memproduksi IL-4, IL-5, IL-6, IL-10. Respon yang
ketiga adalah monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan
opsonisasi antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi
virus dan sekresi sitokin oleh makrofag. Respon yang terakhir adalah aktivasi
komplemen oleh kompleks imun yang menyebabkan terbentuknya C3a dan C5a.

7
Halstead pada tahun 1973 mengajukan hypotesis secondary heterologous
infection yang menyatakan bahwa DHF terjadi apabila seseorang terinfeksi ulang
virus dengue dengan tipe yang berbeda. Re-infeksi menyebabkan reaksi anamnestik
antibodi sehingga mengakibatkan konsentrasi kompleks imun yang tinggi.
Kurane dan Ennis tahun 1994 merangkum pendapat Halstead dan peneliti lain
menyatakan bahwa infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi magrofag yang
mefagositosis kompleks virus-antibodi nonnetralisasi sehingga virus bereplikasi di
makrofag. Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T
helper dan T sitotoksik sehingga memproduksi limfokin dan interferon gamma.
Interferon gamma akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi berbagai mediator
inflamasi seperti TNF-α, IL-1, PAF ( platelet aktivating factor ), IL-6 dan histamin
yang mengakibatkan terjadinya disfungsi sel endotel dan terjadi kebocoran plasma.
Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme supresi
sumsum tulang serta destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit. Gambaran
sumsum tulang pada fase awal infeksi (<5 hari) menunjukkan keadaan hiposeluler
dan supresi megakriosit. Setelah keadaan puncak tercapai akan terjadi peningkatan
proses hematopoiesis termasuk megakariopoiesis. Kadar trombopoietin dalam darah
pada saat terjadi trombositopenia justru menunjukkan kenaikan, hal ini menunjukkan
terjadinya stimulasi trombopoesis sebagai mekanisme kompensasi terhadap keadaan
trombositopenia. Destruksi trombosit terjadi melalui pengikatan fragmen C3g,
terdapatnya antibodi VD, konsumsi trombosit selama proses koagulopati dan
sekuestrasi di perifer. Gangguan fungsi trombosit terjadi melalui mekanisme
gangguan pelepasan ADP, peningkatan kadar b-tromboglobulin dan PF4 yang
merupakan pertanda degranulasi trombosit.
Koagulopati terjadi sebagai akibat interaksi virus dengan endotel yang
menyebabkan disfungsi endotel. Berbagai penelitian menunjukkan terjadinya
koagulopati konsumtif pada demam berdarah dengue stadium III dan IV. Aktivasi
koagulsi pada demam berdarah fengue terjadi melalui aktivasi jalur ekstrinsik (tissue
factor pathway). Jalur intrinsik juga berperan melalui aktivasi faktor XIa namun tidak
melaui aktivasi kontak (kalikkrein CI-inhibitor komplex).

8
2.4 Manifestasi Klinis dan Perjalanan Penyakit
Untuk menegakkan diagnosis Demam Berdarah Dengue, kriteria berikut harus
dipenuhi:
1. Demam atau riwayat demam akut selama 2 sampai 7 hari, kadang-kadang bifasik
2. Pendarahan, ditunjukkan oleh paling tidak 1 dari tanda-tanda berikut:
 Tes torniket positif
 Petekia, ekimosis atau purpura
 Perdarahan dari mukosa, saluran pencernaan, tempat injeksi atau tempat-tempat
lain.
 Hematemesis atau melena
3. Trombositopenia (100.000 sel/mm3 atau kurang)
4. Bukti kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas vaskular, ditunjukkan
minimal dengan 1 dari tanda-tanda berikut:
 Peningkatan nilai hematokrit sama dengan atau lebih dari 20% di atas nilai rata-
rata pada umur, jenis kelamin dan populasi yang sama
 Penurunan nilai hematokrit setelah volume replacement treatment sama dengan
atau lebihdari 20% dari nilai ambang.
 Tanda-tanda kebocoran plasma, seperti efusi pleura, ascites dan
hipoproteinemia.

2.5 Pencegahan
Cara-cara pencegahan Demam Berdarah yaitu memberikan penyuluhan,
menginformasikan kepada masyarakat untuk membersihkan tempat perindukan
nyamuk dan melindungi dari gigitan nyamuk dengan memasang kawat kasa, serta
perlindungan dengan pakaian dan menggunakan obat gosok anti nyamuk. Kemudian
melakukan survei di masyarakat untuk mengetahui tingkat kepadatan vektor nyamuk,
untuk mengetahui tempat perindukan dan habitat larva, biasanya untuk Aedes aegypti
adalah tempat penampungan air buatan atau alami yang dekat dengan pemukiman
manusia (misalnya ban bekas, vas bunga, tandon penyimpan air) dan membuat
rencana pemberantasan sarang nyamuk serta pelaksanaannya.

9
Menurut Kristina dkk (2004) pencegahan penyakit DBD sangat tergantung
pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk
tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu
metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut, antara lain dengan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat
perkembangbiakan nyamuk efek samping kegiatan manusia dan perbaikan desain
rumah. Sebagai contoh menguras bak mandi atau penampungan air sekurang-
kurangnya sekali seminggu, mengganti atau menguras vas bunga dan tempat minum
burung seminggu sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan air, megubur
kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.
Kemudian yang kedua adalah pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan
ikan pemakan jentik (ikan cupang), bakteri (Bt.H-14). Cara yang ketiga adalah
kimiawi. Cara pengendaliaan ini adalah dengan pengasapan atau fogging (dengan
menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan
penularan sampai batas waktu tertentu. Memberikan bubuk abate (temephos) pada
tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan
mengkombinasikan cara-cara di atas, disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup,
menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara
ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur,
memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang
obat nyamuk, memeriksa jentik berkala,dan lain-lain sesuai dengan kondisi setempat.

Penanggulangan Nyamuk
Pencegahan DBD sangat bergantung pada pengendalian vektornya, yaitu
nyamuk Aedes aegypti. Cara pemberantasan yang dilakukan adalah terhadap nyamuk
dewasa atau jentiknya.
1. Pemberantasan Nyamuk Dewasa
Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara penyemprotan
(pengasapan atau pengabutan atau fogging) dengan insektisida. Kebiasaan
nyamuk senang hinggap pada benda-benda bergantungan, maka penyemprotan
tidak dilakukan di dinding rumah. Insektisida yang dapat digunakan antara lain

10
golongan: organophospate, pyretroid sintetic, carbamat. Penyemprotan dilakukan
2 siklus dengan interval 1 minggu untuk membatasi penularan virus dengue. Pada
penyemprotan siklus pertama, semua nyamuk yang mengandung virus dengue
(nyamuk infektif) dan nyamuk-nyamuk lainnya akan mati, tetapi akan segera
muncul nyamuk-nyamuk baru yang di antaranya akan mengisap darah penderita
viremia yang masih ada yang dapat menimbulkan penularan lagi. Penyemprotan
kedua dilakukan 1 minggu sesudah penyemprotan yang pertama agar nyamuk
baru yang infektif tersebut akan terbasmi sebelum sempat menularkan pada orang
lain. Tindakan penyemprotan harus diikuti dengan pemberantasan terhadap
jentiknya agar populasi nyamuk penular dapat tetap ditekan serendah-rendahnya.
2. Pemberantasan Jentik
Pemberantasan jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah Pemberantasan
Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) dilakukan dengan cara:
1. Fisik
Cara ini dikenal dengan kegiatan 3M, yaitu : Menguras dan menyikat bak
mandi, bak WC, dan lain-lain ; Menutup tempat penampungan air rumah
tangga (tempayan, drum, dan lain-lain); Mengubur, menyingkirkan atau
memusnahkan barang-barang bekas (kaleng, ban, dan lain-lain). Pengurasan
tempat penampungan air dilakukan sekurang-kurangnya seminggu sekali agar
nyamuk tidak dapat berkembang biak di tempat itu.
2. Kimia
Cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida
pembasmi jentik (larvasida) ini dikenal dengan istilah larvasidasi. Larvasida
yang biasa digunakan adalah [Link] yang digunakan 1 ppm atau 10
gram untuk tiap 100 liter [Link] dengan temephos mempunyai efek
residu 3 bulan.
3. Biologi
Cara ini misalnya dengan memelihara ikan pemangsa jentik (ikan kepala
timah, ikan gupi, ikan cupang, dan lain-lain). WHO merekomendasikan
proteksi diri terhadap gigitan nyamuk, antara lain dengan menggunakan
pakaian yang dapat melindungi dari gigitan nyamuk, menggunakan repellent,
menggunakan kelambu, menyemprot ruangan dengan obat nyamuk, dan

11
mengatur suhu udara. Suroso (1992) menyebutkan kegiatan pemberantasan
DBD yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:
a) Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD dilaksanakan oleh masyarakat di rumah dan
tempat umum dengan melakukan PSN secara terus menerus yang
meliputi : menguras tempat penampungan air sekurang-kurangnya
seminggu sekali, atau menutupnya rapat-rapat; mengubur barang bekas
yang dapat menampung air; menaburkan racun pembasmi jentik
(abatisasi); memelihara ikan; dan cara-cara lain untuk membasmi jentik.
b) Pembinaan peran serta masyarakat dalam PSN
 Melakukan kunjungan secara berkala ke rumah-rumah dan tempat-
tempat umum untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik.
 Penyuluhan PSN dan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) dilaksanakan
di rumah-rumah dan di tempat umum oleh kader atau tenaga pemeriksa
jentik secara swadaya.
 Pemantauan hasil penyuluhan PSN dilakukan oleh Kelompok Kerja
Pemberantasan DBD (Pokja DBD) yaitu Lembaga Ketahanan
Masyarakat Desa (LKMD) di desa/kelurahan.
 Pembinaan usaha PSN di desa/kelurahan dilakukan secara berjenjang
oleh Kelompok Kerja Operasional Pemberantasan Penyakit DBD
(Pokjanal DBD) yaitu Tim Pembina LKMD tingkat Kecamatan,
Kabupaten, Propinsi, dan Nasional.
c) Kewaspadaan dini terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) Setiap tersangka
atau penderita DBD dilakukan penyelidikan epidemiologi dan
penanggulangan seperlunya (penyemprotan insektisida dan/atau PSN)
untuk membatasi penularan penyakit lebih lanjut dan mencegah KLB.
d) Pemberantasan intensif di kecamatan/desa rawan penyakit DBD.
 Penyuluhan PSN dan PJB di rumah-rumah di semua desa/kelurahan
sekurang-kurangnya setiap 3 bulan disertai dengan abatisasi pada
tempat penampungan air yang ditemukan jentik (Abatisasi Selektif).

12
 Penyemprotan insektisida sebelum musim penularan di desa/kelurahan
rawan untuk mencegah terjadinya KLB dan membatasi
penularan/penyebaran penyakit.
e) Penyuluhan kepada masyarakat
 Dilaksanakan oleh petugas/pejabat kesehatan dan sektor lain serta
warga masyarakat yang mempunyai pengetahuan tentang penyakit
DBD pada berbagai kesempatan.
 Dilaksanakan melalui berbagai jalur informasi dan komunikasi kepada
masyarakat.
 Dilaksanakan secara intensif sebelum musim penularan penyakit DBD
terutama di daerah rawan.

Penanggulangan DBD di daerah perkotaan lebih cepat dan baik dibandingkan


dengan daerah pedesaan. Hal itu antara lain karena penelitian mengenai pendugaan
fluktuasi populasi nyamuk penular DBD untuk antisipasi serangan penyakit sudah
biasa dilakukan oleh petugas dari Direktorat Jenderal P2PL Depkes di kota.
Sedangkan di daerah pedesaan walaupun terletak di tepi kota, penanggulangan DBD
lebih sulit daripada di perkotaan. Hal tersebut oleh karena tidak adanya program
“abatisasi” atau penyemprotan di daerah pedesaan.

13
BAB III
METODE

3.1 Sasaran

Sasaran penyuluhan ini adalah masyarakat dari Kecamatan Pulomerak.

3.2 Strategi

3.2.1 Mempersiapkan ketenagaan


a. Persiapan materi penyuluhan.
b. Penguasaan materi penyuluhan.
c. Penguasaan cara-cara penyampaian materi.
d. Penguasaan dalam pemilihan dan penggunaan media peraga.
3.2.2 Pelaksanaan penyuluhan
a. Perkenalan tim penyuluhan.
b. Pre test kepada para masyarakat sebelum penyuluhan untuk
mengetahui pengetahuan mereka mengenai materi penyuluhan.
c. Penyuluhan materi oleh tim penyuluh.
d. Diskusi dan tanya jawab dengan para peserta tentang materi yang
telah disampaikan.
e. Post test sebagai bentuk evaluasi mengenai pemahaman peserta
tentang materi yang telah disampaikan.

3.3 Metode

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode cross-sectional dengan


rancangan penelitian deskriptif observasional untuk mengetahui tingkat
pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat mengenai Demam Berdarah
Dengue. Penyuluhan dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan tanya
jawab.

14
3.4 Media Penyuluhan

Adapun media yang digunakan antara lain:


a. LCD.
b. Layar presentasi.
c. Slide materi penyuluhan (power point).

3.5 Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Tempat : Puskesmas Kecamatan Pulomerak.


Waktu : Sabtu, 15 September 2018, pukul 07.30 WIB - selesai.

3.6 Rencana Evaluasi

3.6.1 Indikator penilaian:


a. Tingkat pengetahuan peserta mengenai DBD, melalui peningkatan nilai
post-test dibandingkan dengan nilai pre-test.
b. Tingkat sikap peserta mengenai DBD, berupa sikap positif, netral atau
negatif terhadap pencegahan DBD
c. Kehadiran minimal 70% dari jumlah peserta yang ditentukan.
3.6.2 Waktu penilaian: penilaian dilakukan sebelum, selama dan setelah
pelaksanaan penyuluhan.
3.6.3 Cara penilaian:
a. Tingkat pengetahuan dan sikap terhadap DBD dinilai dengan
pembagian klasifikasi tiga tingkat menggunakan “Bloom’s cut off
point.”
b. Perilaku terhadap DBD dinilai secara deskriptif dan ditampilkan
dalam bentuk table dan gambar distribusi frekuensi

15
BAB IV
HASIL

4.1 Profil Peserta


Peserta penyuluhan ini adalah masyarakat di Kecamatan Pulomerak
berjumlah 54 orang.

4.2 Proses Pelaksanaan


Koordinasi dilakukan dengan dr. H. Faisal, selaku pembimbing dan
pendamping dokter internship mengenai rencana kegiatan mini project dan
Ibu Ernawati selaku pengelola program DBD Puskesmas Pulomerak.
Koordinasi yang dilakukan berupa topik penyuluhan, sasaran penyuluhan
dan waktu penyuluhan akan dilaksanakan. Setelah koordinasi, ditetapkan
bahwa materi yang akan diangkat berupa Demam Berdarah Dengue (DBD),
bertempat di Puskesmas Pulomerak, waktu sekitar bulan September 2018.
Pengangkatan tema DBD didasarkan atas masih terdapatnya angka kejadian
DBD di wilayah kerja Puskesmas Pulomerak tahun 2018 ini. Secara
keseluruhan, pada tahun 2018 terjadi penurunan kasus DBD dari tahun
sebelumnya. Pada sepanjang tahun 2017 terdapat 16 kasus DBD di seluruh
wilayah kerja puskesmas Pulomerak. Sedangkan pada tahun 2018 (dari
bulan Januari sampai Agustus) jumlah ini menurun menjadi 7 kasus DBD.
Dari 4 kelurahan yang ada di cakupan tugas Puskesmas Pulomerak,
Kelurahan Taman Sari merupakan kelurahan dengan kasus paling banyak
sejumlah 5 orang, disusul Kelurahan Mekarsari sebanyak 2 orang.

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Ibu Ernawati selaku


pengelola program DBD, bahwa kemungkinan masih terdapatnya angka
kejadian DBD ini berhubungan dengan pengetahuan masyarakat mengenai
penyakit DBD, baik mengenai penyebab DBD, gejala DBD, pencegahan
DBD, dan penanganan awal pada penderita DBD.

Berdasarkan hasil koordinasi yang telah dilakukan, maka disepakati


waktu pelaksanaan penyuluhan yaitu pada hari Sabtu, 15 September 2018
pukul 07.30 WIB-selesai. Sebagai persiapan yang akan disampaikan dalam

16
penyuluhan kemudian dibuat materi dalam bentuk power point sebagai
media penyuluhan.

Pada hari pelaksanaan penyuluhan, kami datang sekitar pukul 07.30


WIB. Peserta juga diminta mengisi daftar hadir yang telah disediakan dan
didapatkan jumlah kehadiran sebesar 54 orang. Namun peserta yang
bersedia mengikuti pre-test maupun post-test sebesar 49 orang. Penyuluhan
diawali dengan memberikan pre-test selama 10 menit untuk mengetahui
tingkat pengetahuan dari peserta mengenai DBD. Setelah peserta
mengumpulkan jawaban pre-test kemudian kegiatan dilanjutkan dengan
pemberian materi melalui penyuluhan yang berlangsung selama sekitar 15
menit. Kemudian saya mempersilahkan peserta untuk mengajukan
pertanyaan dengan mengangkat tangan terlebih dahulu. Beberapa
pertanyaan yang diajukan antara laini:

1. Apakah perbedaan antara nyamuk Aedes aegepty jantan dan betina?


2. Apakah boleh mengompres pasien DBD dengan air dingin? Kompres
apakah yang digunakan pada demam karena penyakit lain?

Saya pun memberi jawaban mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut


dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk memberikan komentar
mengenai materi yang ditampilkan. Di akhir sesi, diberikan post-test untuk
mengetahui hasil penyuluhan sebagai bahan evaluasi.

17
BAB V
DISKUSI

5.1 Penilaian Proses


Pihak Puskesmas Pulomerak memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan
penyuluhan yang saya laksanakan. Pihak puskesmas bersedia membantu
memfasilitasi sarana yang saya butuhkan dalam penyuluhan berupa tempat
penyuluhan, sound system dan membantu mengumpulkan masyarakat
sehingga target jumlah peserta yang mengikuti penyuluhan sebanyak 77% dari
70 orang dapat terpenuhi. Waktu pelaksanaan sesuai dengan yang
direncanakan.

5.2 Penilaian Hasil


Kegiatan evaluasi pelaksanaan program penyuluhan tentang DBD ini
dilakukan dengan cara mengamati beberapa aspek yaitu: aspek peserta, proses
berlangsungnya diskusi itu sendiri serta pre-test dan post-test. Dari aspek
peserta, evaluasi dilakukan berdasarkan kualitas serta kuantitas pertanyaan
yang diajukan di sepanjang acara serta besarnya minat dan antusiasme peserta
pada saat acara tanya jawab. Sehingga dengan demikian maka dapat dinilai
apakah terjadi peningkatan pengetahuan para peserta tentang DBD.
Berdasarkan pengamatan saya selama berlangsungnya acara penyuluhan,
peserta terlihat sangat antusias mendengarkan materi, tidak ada peserta yang
tidak memperhatikan saat penyuluh menyampaikan materi. Dari segi proses
diskusi yang telah berlangsung dapat dilaporkan bahwa diskusi telah
berlangsung dua arah, dapat dilihat bahwa adanya komunikasi timbal balik
antara pembicara dengan peserta. Untuk kualitas proses diskusi tersebut dapat
dilaporkan tidak adanya kevakuman saat diskusi berlangsung.

a. Pengetahuan terhadap DBD


Responden menjawab total 10 pertanyaan Multiple Choice tentang DBD.
Setiap respon yang benar diberi satu skor dengan total 10 skor. Skor rata-
rata pengetahuan sebelum penyuluhan responden adalah 8,81 (SD=±0.808).
Dua dari responden mampu menjawab 10 pertanyaan dengan benar.
Sedangkan skor rata-rata pengetahuan setelah penyuluhan responden

18
adalah 9,27 (SD=±1.151). Rentang skor pengetahuan sebelum dan setelah
penyuluhan 0-10 ditunjukkan pada tabel 2 dan 3.

Tabel 2. Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Sebelum


Penyuluhan Demam Berdarah Dengue

Tingkat (n=49) Jumlah Persentase

Tinggi (8-10 scores) 43 88,46%


Sedang (6-7 scores) 6 11,39%
Rendah (0-5 scores) 0 0,00%

Minimum=7 Maksimum=10 Rata-rata=8,81


SD=±0.808

Dari hasil analisa didapat 88,46% pengetahuan responden terhadap DBD


adalah tinggi, 11,39% adalah sedang dan 0,0% adalah rendah.

Diagram 1. Tingkat pengetahuan terhadap DBD sebelum penyuluhan

Tingkat Pengetahuan Terhadap DBD


Sebelum Penyuluhan
Sedang
12%

Tinggi
88%

19
Tabel 3. Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Setelah
Penyuluhan Demam Berdarah Dengue

Tingkat (n=49) Jumlah Persentase

Tinggi (8-10 scores) 45 92,31%


Sedang (6-7 scores) 4 7,69%
Rendah (0-5 scores) 0 0,00%

Minimum=6 Maksimum=10 Rata-rata=9,27


SD=±1.151

Dari hasil analisa didapat 92,31% pengetahuan responden terhadap DBD


adalah tinggi, 7,69% adalah sedang dan 0,0% adalah rendah.

Diagram 2. Tingkat pengetahuan terhadap DBD setelah penyuluhan

Tingkat Pengetahuan Terhadap DBD


Setelah Penyuluhan
Sedang
8%

Tinggi
92%

b. Sikap terhadap DBD


Responden menjawab total 5 pertanyaan close ended tentang DBD. Setiap
respon positif diberikan satu skor dengan total 10 skor. Skor rata-rata
adalah 9,15 (SD=±0.578). Enam belas dari responden memiliki sikap

20
positif untuk semua pertanyaan. Rentang skor pengetahuan 0-5
ditunjukkan pada tabel 4.

Tabel 4. Distribusi Tingkat Sikap Responden Terhadap Demam


Berdarah Dengue

Tingkat (n=49) Jumlah Persentase

Tinggi (4-5 scores) 47 96,15%


Sedang (2-3 scores) 2 3,85%
Rendah (0-1 scores) 0 0,00%

Minimum=3 Maksimum=5 Rata-rata= 9,15


SD=±0.578

Diagram 3. Tingkat sikap terhadap DBD

Tingkat Sikap Terhadap DBD


Sedang
4%

Tinggi
96%

c. Perilaku terhadap DBD


Responden menjawab total 5 pertanyaan close ended tentang DBD. Setiap
respon positif diberikan satu skor dengan total 10 skor. Skor rata-rata
pengetahuan responden adalah 9,15 (SD=±0.703). Enam belas dari

21
responden memiliki sikap positif untuk semua pertanyaan. Rentang skor
pengetahuan 0-5 ditunjukkan pada tabel 5.

Tabel 5. Distribusi Tingkat Perilaku Responden Terhadap Demam


Berdarah Dengue

Tingkat (n=49) Jumlah Persentase

Tinggi (4-5 scores) 47 96,15%


Sedang (2-3 scores) 2 3,85%
Rendah (0-1 scores) 0 0,00%

Minimum=2 Maksimum=5 Rata-rata= 9,15


SD=±0.578

Diagram 4. Tingkat perilaku terhadap DBD

Tingkat Perilaku Terhadap DBD


Sedang
4%

Tinggi
96%

5.3 Hambatan

Salah satu hambatan yaitu beberapa peserta yang kurang berminat mengikuti
pre-test dan post-test. Namun, peserta yang hadir sudah melebihi dari tolak
ukur keberhasilan yaitu >70%. Kendala lain yang ditemukan adalah kesulitan
untuk mendapatkan layar presentasi sebagai media presentasi. Akan tetapi hal

22
ini bisa ditanggulangi dengan menggunakan dinding tembok sebagai
pengganti layar presentasi.

5.4 Fishbone

Man: Material:
• Tingkat Pengetahuan • Tingkat Ekonomi yang
yang rendah rendah
• Rasa kepedulian yang • Obat2an yang terbatas
kurang • Alat-alat pemeriksaan
• Kurangnya tenaga penunjang yang
kesehatan terbatas
• Kurangnya

Angka
kejadian
DBD
Metode: Environment:
• Penyuluhan yang • Lingkungan yang
masih kurang kurang bersih
• Respon faskes • Tempat tinggal yang
primer jauh dari faskes

23
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Pelaksanaan mini project berupa penyuluhan yang direncanakan telah


dapat direalisasikan dengan baik.
2. Terjadi peningkatan pengetahuan para peserta yang hadir dalam
penyuluhan, yaitu peningkatan nilai post-test jika dibandingkan dengan
nilai pre-test.

6.2 Saran

1. Para peserta penyuluhan hendaknya menerapkan pengetahuan yang


mereka dapatkan dalam kehidupannya sehari-hari dan dapat membagi
informasi yang didapat kepada masyarakat luas mengenai DBD.
2. Puskesmas hendaknya lebih pro-aktif dalam memberikan penyuluhan
DBD ke kelurahan-kelurahan cakupannya demi menekan angka
kejadian DBD dari tahun ke tahun.

24
DAFTAR PUSTAKA

Azwar A., 1983, Pengantar Pendidikan Kesehatan, PT. Sastra Hudaya, Jakarta.

Azwar A., 1983, Pengantar Pendidikan Kesehatan, PT. Sastra Hudaya, Jakarta.

Azwar S., 1995, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi ke 2,


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Anderson, E.T. & McFarlane, J. 2006. Buku Ajar Keperawatan komunitas:Teori


dan praktik.

Alih Bahasa, Sutarna, A., Samba, S., Herdina, N. Ed.3. Jakarta:EGC.

Cahyo K., 2006. Analisis Perilaku Keluarga Dalam Upaya Pencegahan DBD Di
Kelurahan

Meteseh Kota Semerang Tahun 2005, KEMAS, 2 (1): 1-14

Depkes, 2000, Penerapan Promosi Kesehatan dalam Pemberdayaan Keluarga.


Jakarta : Ditjen

Kes-Masy. Depkes, 2004, Kebijaksanaan Program P2-DBD Dan Situasi Terkini


DBD Indonesia

Depkes, 2005, Program Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah


Dengue di Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan [Link], 2009.
Demam Berdarah. Ditjen PP&PL

URL: http//[Link]. 14/5/2009 6.08pm

Dignan M.B, Carr P.A (1992), Progam Planning for Health Education and
Promotion, Lea &Febiger, United State of America.

Dinkes Propinsi Papua., 1994, Pedoman Penyuluhan Kesehatan Bagi Petugas.

Ewles dan Simnet., 1994, Promosi Kesehatan Petunjuk Praktis. Edisi Ke dua
terjemahan Ova Emilia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Friedman. 1998. Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik. Ed. 3. Alih Bahasa:

Debora dan Yoakim. Jakarta : EGC.

Gubler D., 1998. Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever, Clinical Microbiology
Reviews, 11 (3): 480-496

25
LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner penelitian

KUESIONER TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU


DEMAM BERDARAH DENGUE
Keterangan
1. Cara pengisian adalah dengan melingkari pada jawaban yang dipilih.
2. Isilah semua pertanyaan dengan lengkap dan tidak ada yang terlewat.

I. IDENTITAS RESPONDEN

1. Nama responden:______________________________________________
2. Umur responden: _______ tahun
3. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan/diduduki:_____________________
4. Pekerjaan responden: _____________________
5. Adakah responden pernah mengikuti penyuluhan penanggulangan demam
berdarah? Ya/Tidak

II. PERTANYAAN BERKAITAN DENGAN PENGETAHUAN

1. Penyebab penyakit demam berdarah adalah…


a. Virus / bibit penyakit yang sangat kecil
b. Makanan / minuman yang tidak dimasak dengan baik / bersih
c. Terkena kutukan / guna-guna
2. Tanda-tanda orang yang menderita penyakit demam berdarah adalah…
a. Demam mendadak
b. Nyeri sendi / tulang / otot
c. Semua benar
3. Cara penyebaran penyakit demam berdarah adalah…
a. Melalui gigitan nyamuk yang sebelumnya menggigit penderita demam
berdarah
b. Melalui debu / angin
c. Melalui batuk / dahak
4. Nyamuk penular demam berdarah senang beristirahat di.....
a. Dekat cahaya lampu
b. Pakaian yang tergantung
c. Di ruangan ber-AC
5. Nyamuk penular demam berdarah biasa menggigit orang pada…
a. Siang hari
b. Sore hari
c. Malam hari
6. Pola demam pada penyakit demam berdarah dengue adalah…
a. Seperti pelana kuda
b. Demam tinggi yang menetap selama satu minggu
c. Panas hanya tinggi di malam hari

26
7. Pertolongan pertama pada penderita demam berdarah adalah.....
a. Banyak minum
b. Kompres air es
c. Kompres alkohol
8. Yang termasuk gerakan 3M adalah…
a. Menguras bak mandi
b. Makan makanan yang bergizi
c. Memasak air yang akan diminum
9. Pengasapan (fogging) dilakukan saat…
a. Ada yang terkena demam berdarah dengue di lingkungan rumah
b. Berkala 1 bulan sekali
c. Berkala 1 minggu sekali
10. Kegunaan dari bubuk abate adalah…
a. Menghilangkan warna pada air
b. Membunuh jentik-jentik nyamuk
c. Menghilangkan bau pada air

III. PERTANYAAN BERKAITAN DENGAN SIKAP

No Item Ya Tidak
.
1 Menurut anda, apakah upaya pencegahan penyakit demam
berdarah (3M) merupakan kebutuhan masyarakat yang harus
segera dilakukan?
2 Apakah anda setuju diadakan pencegahan secara rutin di
lingkungan tempat tinggal ibu?
3 Menurut anda, apakah penanggulangan penyakit demam
berdarah hanya merupakan tanggung jawab pemerintah?
4 Menurut anda, apakah foging (pengasapan) efektif mencegah
demam berdarah?
5 Saya merasa memiliki peranan penting dalam usaha
penanggulangan demam berdarah

IV. PERTANYAAN BERKAITAN DENGAN PERILAKU

No. Item Ya Tidak


1 Apakah keluarga anda menguras dan membersihkan bak
mandi / tempat penampungan air yang berada di rumah
1x/minggu ?
2 Apakah anda menggunakan abate pada tempat penampungan
air di rumah?
3 Apakah keluarga anda menggunakan perlindungan terhadap
gigitan nyamuk pada saat beristirahat di pagi dan sore hari
(contoh: memakai lotion anti nyamuk / obat nyamuk/
memakai kelambu) ?
4 Apakah keluarga anda pernah melakukan pengawasan
terhadap jentik nyamuk di rumah?
5 Pernahkah keluarga anda mengikuti kegiatan pencegahan

27
demam berdarah yang dilakukan di lingkungan tempat
tinggal?
Lampiran 2. Foto Dokumentasi

28

Anda mungkin juga menyukai