LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN ASMA BRONKIAL
DISUSUN OLEH :
MARIANA SUSIANI
NIM. 1490124176
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
INSTITUT KESEHATAN IMMANUEL BANDUNG
TAHUN 2023/2024
2
KONSEP DASAR
A. Pengertian
Asma adalah penyakit obstruksi jalan nafas yang ditandai oleh penyempitan
jalan nafas yang mengakibatkan klien mengalami dispnea, batuk, dan mengi. Asma
dapat menyerang semua golongan setengah dari asma menyerang lebih banyak
pada saat anak anak dan sepertiga terjadi pada usia sebelum empat puluh tahun
Asma bronchial adalah suatu keadaan kondisi paru-paru kronis yang
ditandai dengan kesulitan bernafas, dan menimbukan gejala sesak nafas, dada
terasa berat dan batuk, terutama pada malam menjelang dini hari. Dimana saluran
pernafasan mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan
tertentu, yang menyebabkan penyempitan atau peradangan yang bersifat sementara
(Masriadi, 2016).
Asma bronchial adalah penyakit inflamasi kronik pada jalan nafas dan
dikarakteristikkan dengan hiperresponsivitas, produksi mukus, dan edema mukosa.
Inflamasi ini berkembang menjadi episode gejala asma bronchial yang berkurang
yang meliputi batuk, nyeri dada, mengi dan dispnea. Penderita asma bronchial
mungkin mengalami periode gejala secara bergantian dan berlangsung dalam
hitungan menit, jam, sampai hari (Brunner & Suddarth, 2017).
B. Etiologi
Menurut Sri Yuliawati (2018), faktor resiko penyebab asma bronchial di
bagi menjadi tiga kelompok yaitu:
1. Faktor genetik
a. Atopi/alergi
Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya.
b. Hipereaktivitas bronkus
Saluran nafas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan.
c. jenis kelamin
Anak laki-laki sangat beresiko terkena asma bronchial sebelum usia 14
tahun, prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali dibanding anak
perempuan.
d. Ras/etnik
1
e. Obesitas
Obesitas atau peningkatan/body mass index (BMI), merupakan faktor
resiko asma.
2. Faktor lingkungan
a. Alergen dalam rumah (tungau debu rumah, spora jamur, kecoa, serpihan
kulit binatang seperti anjing, kucing, dan lain sebagainya).
b. Alergen luar rumah (serbuk sari, dan spora jamur).
c. Faktor lain
1) Alergen dari makanan.
2) Alergen obat-obatan tertentu
3) Exercise-induced asthma
C. Tanda dan Gejala
Gejala-gejala yang lazim muncul pada asma bronchial adalah batuk dispnea
dan mengi. Selain gejala di atas ada beberapa gejala yang menyertai di antaranya
sebagai berikut (Puspita, 2014) :
1. Takipnea dan Orthopnea
2. Gelisah
3. Nyeri abdomen karena terlibat otot abdomen dalam pernafasan 4)
4. Kelelahan
5. Tidak toleran terhadap aktivitas seperti makan berjalan bahkan berbicara
6. Serangan biasanya bermula dengan batuk dan rasa sesak dalam dada disertai
pernafasan lambat
7. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang di banding inspirasi
8. Gerakan-gerakan retensi karbondioksida, seperti berkeringat,takikardi dan
pelebaran tekanan nadi
9. Serangan dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat
hilang secara spontan
D. Patofisiologi
Tiga unsur yang ikut serta pada obstruksi jalan udara penderita asma
bronchial adalah spasme otot polos edema dan inflamasi memakan jalan nafas dan
edukasi muncul intra minimal, sel-sel radang dan deris selular. Obstruksi
menyebabkan pertambahan resistensi jalan udara yang meredahkan volume
2
ekspirasi paksa dan kecepatan aliran penutupan prematur jalan udara,
hiperinflamasi patu. Bertambahnya kerja pernafasan, perubahan sifat elastik dan
frekuensi pernafasan dapat menyebabkan gangguan kebutuhan istirahat dan tidur.
walaupun, jalan nafas bersifat difusi, obstruksi menyebabkan perbedaan suatu
bagian dengan bagian lain ini berakibat perfusi bagian paru tidak cukup mendapat
ventilasi yang menyebakan kelainan gas-gas terutama CO2 akibat hiperventilasi.
Pada respon alergi disaluran nafas antibodi COE berikatan dengan alergi
degrenakulasi sel mati, akibat degrenakulasi tersebut histomin di lepaskan.
Histomin menyebabkan kontruksi otot polos bronkiolus. Apabila respon histamin
juga merangsang pembentukuan mulkus dan peningkatan permiabilitas kapiler
maka juga akan terjadi kongesti dan pembangunan ruang intensium paru.
Individu yang mengalami asma mungkin memerlukan respon yang sensitif
berlebihan terhadap sesuatu alergi atau sel-sel mestinya terlalu mudah mengalami
degravitasi dimanapun letak hipersensitivitas respon peradangan tersebut. Hasil
akhirnya adalah bronkospasme, pembentukan mukus edema dan obstruksi aliran
udara (Masriadi, 2016).
E. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita asma bronchial diantaranya
(Masriadi, 2016) :
1. Pneumonia
Adalah peradangan pada jaringan yang ada pada salah satu atau kedua paru-
paru yang biasanya disebabkan oleh infeksi.
2. Atelektasis
Adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan
saluran udara (bronkus maupun bronkiolus).
3. Gagal nafas
Terjadi bila pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru- paru
tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen dan terjadi pembentukan
karbondioksida dalam sel-sel tubuh.
4. Bronkitis
3
Adalah kondisi dimana lapisan bagian dalam dari saluran pernafasan di paru-
paru yang kecil (bronkiolus) mengalami bengkak. Selain bengkak juga terjadi
peningkatan lendir (dahak). Akibatnya penderita merasa perlu batuk berulang-
ulang dalam upaya mengeluarkan lendir yang berlebihan.
5. Fraktur iga
Adalah patah tulang yang terjadi akibat penderita terlalu sering bernafas secara
berlebihan pada obstruksi jalan nafas maupun gangguan ventilasi oksigen.
F. Pemeriksaan Penunjang
Ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan pada penderita asma bronchial
diantaranya (Wahid dan Suprapto, 2013) :
1. Spirometer Dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup
(nebulizer/inhaler), positif jika peningkatan VEP / KVP > 20%.
2. Sputum
Eosinofil meningkat.
3. RO dada
Yaitu patologis paru/komplikasi asma.
4. AGD
Terjadi pada asma berat, pada fase awal terjadi hipoksemia dan hipokapnia
(PCO2 turun) kemudian pada fase lanjut normokapnia dan hiperkapnia (PCO2
naik).
5. Uji alergi kulit, IgE.
4
WOC (WEB OF CAUSATION)
Faktor pencetus asma adalah : alergen, iritasi
ara, kecemasan dan lingkungan kerja
Iritasi mukosa saluran
pernapasan
Reaksi inflamasi
Hipertropi dan hyperplasia
Mukosa bronkus
Metaplasia sel glopet Produksi sputum
meningkat
Pola nafas tidak efektif Penyempitan saluran batuk
pernapasan
Bersihan jalan nafas
obstruksi
tidak efektif
Penurunan ventilasi Penyebaran udara
ke alveoli
Suplai Oksigen
Vasokontriksi pembuluh
menurun
darah dan paru
kelemahan
Suplai oksigen berkurang
Intoleransi
aktivitas Sesak nafas
Kebutuhan tidur tidak efektif
Gangguan
pola tidur
Gambar 2.1 Web Of Causation
5
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a) Keluhan utama
Pada umumnya klien mengatakan sesak nafas.
b) Riwayat kesehatan sebelumnya
Apa klien pernah mengalami penyakit asma sebelumnya atau mempunyai
riwayat alergi
c) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah keluarga klien yang memiliki penyakit asma sebelumnya
d) Aktivitas istirahat
Gejala : Ketidakmampuan melakukan aktivitas, ketidakmampuan untuk tidur,
keletihan, kelemahan, malaise.
Tanda : Keletihan, gelisah, insomnia, kehilangan-kelemahan masa
ototMakanan/cairan
e) Sirkulasi
Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah
Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi paru, distensi vena
leher, warna kulit-membran mukosa : normal-abu-abu- sianosis, pucat dapat
menunjukkan anemia.
f) Pernafasan
Gejala : Nafas pendek, dispnea usus saat beraktivitas, rasa dada tertekan,
ketidakmampuan untuk bernafas, batuk menetap dengan produksi sputum
setiap hari selama 3 bulan berturut-turut, episode batuk hilang timbul, iritan
pernafasan dalam jangka panjang, misalnya : merokok, debu, asap, bulu-bulu,
serbuk gergaji.
Tanda : Pernafasan biasa cepat dan lambat, penggunaan otot bantu pernafasan,
kesulitan berbicara, pucat, sianosis pada bibir dan dasar kuku.
6
B. Diagnosa Keperawatan
1. ( D.0001) bersihan jalan nafas Tidak efektif berhubungan dengan gangguan
suplai oksigen (bronkospasme), penumpukan sekret, sekret kental.
2. (D. 0005) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi
paru selama serangan akut.
3. (D.0055) Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak dan batuk
7
C. Rencana Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI
1 ( D.0001) bersihan jalan Bersihan Jalan Nafas (L.01001) Latihan Batuk Efektif (I.01006)
nafas Tidak efektif
berhubungan dengan a. Mampu batuk efektif meningkat
b. Produksi sputum menurun 1. Observasi
gangguan suplai oksigen
c. Suara nafas tambahan wheezing menurun Identifikasi kemampuan batuk
(bronkospasme),
d. Dispnea menurun Monitor adanya retensi sputum
penumpukan sekret, sekret
e. Gelisah menurun Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas
kental
f. Frekuensi nafas membaik Monitor input dan output cairan ( mis. jumlah dan
g. Pola nafas membaik karakteristik)
2. Terapeutik
Atur posisi semi-Fowler atau Fowler
Pasang perlak dan bengkok di pangkuan pasien
Buang sekret pada tempat sputum
3. Edukasi
Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
Anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4
detik, ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan
dari mulut dengan bibir mencucu (dibulatkan)
selama 8 detik
Anjurkan mengulangi tarik napas dalam hingga 3
kali
Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik
napas dalam yang ke-3
8
4. Kolaborasi
Kolaborasi pemberian mukolitik atau
ekspektoran, jika perlu
2 (D. 0005) Pola nafas tidak Pola nafas (L.01004) PEMANTAUAN RESPIRASI (I.01014)
a. Ekspirasi membaik 1. Observasi
efektif berhubungan
b. Dispnea menurun Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya
dengan penurunan c. Penggunaan otot bantu nafas menurun napas
d. Ortopnea menurun Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea,
ekspansi paru selama
e. Frekuensi nafas membaik hiperventilasi, Kussmaul, Cheyne-Stokes,
serangan akut. f. Kedalaman nafas membaik Biot, ataksik0
Monitor kemampuan batuk efektif
Monitor adanya produksi sputum
Monitor adanya sumbatan jalan napas
Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
Auskultasi bunyi napas
Monitor saturasi oksigen
Monitor nilai AGD
Monitor hasil x-ray toraks
2. Terapeutik
Atur interval waktu pemantauan respirasi sesuai
kondisi pasien
Dokumentasikan hasil pemantauan
3. Edukasi
Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
9
3 (D.0055) Gangguan pola Pola Tidur (L.05045) Dukungan Tidur (I.05174)
tidur berhubungan dengan 1. Observasi
a. Keluhan sulit tidur menurun
sesak dan batuk Identifikasi pola aktivitas dan tidur
b. Keluhan sering terjaga menurun Identifikasi faktor pengganggu tidur
Identifikasi makan minum yang mengganggu
c. Keluhan tidak puas tidur menurun tidur
d. Keluhan pola tidur berubah menurun Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
e. Keluhan istirahat tidak cukup menurun 2. Terapeutik
Modifikasi lingkungan (pencahayaan, kebisingan
dan suhu)
Batasi waktu tidur siang, jika perlu
Fasilitas menghilangkan stress sebelum tidur
Lakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan (pijat dan pengaturan posisi)
Tetapkan jadwal tidur rutin
Sesuaikan jadwal pemberian obat atau tindakan
untuk menunjang siklus tidur terjaga
3. Edukasi
Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
Anjurkan menghidari makan/minum yang
mengganggu waktu tidur
Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi
terhadap gangguan pola tidur
Ajarkan relaksasi otot autogenic atau cara
nonfarmakologi lainnya
10
D. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai tindakan
keperawatan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan klien
secara optimal dan mengukur dari hasil proses keperawatan (Lisa dan Heni, 2017).
Tujuan dari evaluasi antara lain: untuk menentukan kesehatan dan perkembangan
klien, untuk menilai efektifitas, efisiens, dan produktifitas dari tindakan perawatan
yang telah diberikan, untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan,
mendapatkan umpan balik dan sebagai tanggung jawab dan tanggunggugat dalam
pelaksanaan pelayanan keperawatan. Untuk mempermudah evaluasi/ memantau
perkembangan pasien digunakan komponen SOAP adalah sebagai berikut
S: Data subjektif Perawat menuliskan keluhan pasien
O: Data objektif Data hasil observasi perawat
A: Analisa Merupakan suatu masalah atau diagnosa keperawatan yang masih
terjadi
P: Planning Perencanaan keperawatan yang dilanjutkan, dihentikan, dimodifikasi,
atau ditambahkan dari rencana tindakan keperawatan sebelumnya tindakan yang
telah menunjukan hasil yang memuaskan dan tidak memerlukan tindakan pada
umumnya dihentikan.
11
DAFTAR PUSTAKA
Andri. (2014). Pengaruh Latihan Pursed Lip Breathing (PBL) terhadap Penurunan Gejala
Asma pada Pasien Asma Persisten Ringan dan Sedang di Wilayah Kerja Puskesmas
Pauh Padang. [Link].
Puspita, RN. (2014). Hubungan Kecemasan Terhadap Tingkat Kontrol Asma Di Balai Besar
Kesehatan Paru Masyarakat (Bbkpm) Surakarta. Skripsi. Surakarta : FK Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Diakses dari chrome-
extension://oemmndcbldboiebfnladdacbdfmadadm/[Link]
4/NASKAH_PUBLIKASI.pdf Pada Januari 2020
Masriadi. (2016). Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Serangan Asma Pada Penderita
Asma Di Kelurahan Mahakeret Barat Dan Mahakeret Timur Kota Manado. e-journal
Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2. Manado: Program Studi Ilmu
KeperawatanFakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Diakses dari
[Link] Pada Januari 2020
Sri Yuliawati. (2018). Gambaran Tingkat Kecemasan Dan Derajat Serangan Asma Pada
Penderita Dewasa Asma Bronkial. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol. 6, No.
[Link]: Bagian Epidemiologi dan Penyakit Tropik Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro. Di akses dari [Link] Pada
Januari 2020
Sulistiyawati, A., & Cahyati, Y. (2019). Perbedaan Frekuensi Nafas Sebelum Dan Sesudah
Latihan Pursed Lip Breathingpada Pasien Dengan Serangan Asma. Jurnal Penelitian
Perawat Profesional, 1(November), 89–94. Retrieved from
[Link]
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Indikator Diagnostik(1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia :Definisi dan
Tindakan Keperawatan(Ist ed). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan(1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia
Wahid dan Suprapto. (2013). Keperawatan Medikal Bedah Asuhan Keperawatan Pada
Gangguan Sistem Respirasi. Jakarta: CV. Trans Info Media
12