COOPERATIVE LEARNING MODEL
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas pada matakuliah Model
Pembelajaran PAI
Oleh:
SELVIA SARI
NIM.
2319004
Dosen Pengampu
Putri Adona, [Link].
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
STAI DARUL QUR’AN PAYAKUMBUH
TA. 2023/ 2024
COOPERATIVE LEARNING MODEL
Nama Penulis
STAI Darul Qur’an Payakumbuh, Indonesia
selvia04via@[Link]
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah fondasi penting dalam membangun sumber
daya manusia yang berkualitas. Dalam era globalisasi yang
semakin kompleks, sistem pendidikan dituntut untuk tidak hanya
berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun
kompetensi sosial, keterampilan berpikir kritis, dan kemampuan
kolaborasi. Salah satu pendekatan yang relevan dan efektif untuk
memenuhi tuntutan ini adalah “Cooperative Learning Model”
atau pembelajaran kooperatif(Juita et al., 2024).
Model ini menekankan pembelajaran berbasis kelompok di
mana siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran,
dengan tetap mempertahankan tanggung jawab individual masing-
masing anggota kelompok.
Selama ini, pendekatan pembelajaran tradisional yang bersifat
teacher-centered cenderung kurang efektif dalam melibatkan siswa
secara aktif dalam proses belajar. Hal ini berdampak pada
rendahnya keterampilan sosial siswa, kemampuan kerja sama, dan
partisipasi aktif mereka dalam kelas.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran
individualis atau kompetitif sering kali mengabaikan potensi saling
mendukung antar siswa untuk mencapai hasil belajar yang lebih
baik. Dalam konteks ini, pembelajaran kooperatif menawarkan
solusi inovatif yang mengintegrasikan tujuan akademik dengan
pengembangan keterampilan sosial melalui kerja sama
kelompok(Azizah, 2019).
Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI),
penerapan model pembelajaran kooperatif memiliki relevansi yang
sangat kuat. Pendidikan Agama Islam tidak hanya bertujuan untuk
menyampaikan pengetahuan tentang ajaran agama, tetapi juga
untuk membentuk karakter siswa yang islami, seperti kerja sama,
toleransi, dan empati.
Melalui pembelajaran kooperatif, siswa dapat belajar nilai-nilai
Islam secara langsung melalui interaksi dan kolaborasi dengan
teman-teman sekelompoknya. Misalnya, dalam pembelajaran
tentang akhlak mulia, siswa dapat berdiskusi dan berbagi
pengalaman mengenai pentingnya menghormati orang lain, yang
kemudian diterapkan dalam dinamika kerja kelompok. Dengan
demikian, pembelajaran PAI dapat menjadi lebih bermakna, karena
siswa tidak hanya memahami konsep-konsep agama secara
teoritis, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam
kehidupan sehari-hari.
Secara ilmiah, pembelajaran kooperatif telah terbukti
meningkatkan hasil belajar siswa, baik dari aspek kognitif, afektif,
maupun sosial. Kajian terhadap model ini penting dilakukan karena
pembelajaran kooperatif didasarkan pada teori konstruktivisme
yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam membangun
pengetahuan. Kajian ini dapat memperkuat teori tersebut dengan
bukti-bukti empiris terkini(Pratiwi, n.d.). Selain itu, dalam era digital
dan konektivitas tinggi, kemampuan bekerja sama menjadi salah
satu kompetensi utama yang dibutuhkan di berbagai sektor
kehidupan. Kajian ini dapat memberikan wawasan tentang
bagaimana model pembelajaran kooperatif dapat diadaptasi untuk
mendukung pembelajaran abad ke-21. Kajian ini juga diharapkan
dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mengembangkan
strategi pembelajaran yang tidak hanya relevan untuk konteks
lokal, tetapi juga memiliki nilai universal yang dapat
diimplementasikan di berbagai sistem pendidikan di masa
depan(Haryanti, 2019).
Makalah ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam
konsep, dan implementasi model pembelajaran kooperatif. Selain
itu, makalah ini juga mengevaluasi efektivitas model ini dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran, baik dari segi akademik
maupun non-akademik, termasuk dalam konteks pembelajaran
Pendidikan Agama Islam. Dengan demikian, makalah ini diharapkan
dapat memberikan panduan praktis bagi pendidik sekaligus
menjadi referensi akademik bagi peneliti di bidang pendidikan.
Dengan membahas pembelajaran kooperatif secara ilmiah,
diharapkan makalah ini dapat menjadi acuan untuk
mengembangkan inovasi dalam praktik pendidikan yang relevan
dengan kebutuhan zaman, sekaligus memberikan landasan bagi
penelitian lebih lanjut untuk mendukung kemajuan ilmu
pendidikan.
PEMBAHASAN
Cooperative Learning Model adalah pendekatan pembelajaran
yang menekankan kerja sama di antara siswa dalam kelompok
kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Dalam model
ini, siswa tidak hanya bertanggung jawab atas pembelajaran
mereka sendiri, tetapi juga membantu anggota kelompok lain
untuk belajar. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang
kolaboratif, di mana siswa saling berbagi pengetahuan,
pengalaman, dan pemahaman. Konsep ini didasarkan pada teori
konstruktivisme sosial, yang menyatakan bahwa pengetahuan
dibangun melalui interaksi sosial dan kerja sama dengan orang
lain. Selain itu, pembelajaran kooperatif juga dirancang untuk
mengembangkan keterampilan interpersonal, seperti komunikasi,
toleransi, dan penyelesaian konflik.
Konsep Cooperative Learning Model
Sederhananya, model pembelajaran cooperative learning
adalah belajar kelompok. Yang mana mengutamakan kerja sama
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dan secara sadar dan
sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh (saling tenggang
rasa) untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman
yang dapat menimbulkan permusuhan(MAULUDDINA, 2019).
Secara etimologi, kooperatif berasal dari kata “cooperate”
yang artinya bekerja bersama. Sedangkan secara terminologi,
kooperatif merujuk pada kegiatan mengerjakan sesuatu secara
bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya
sebagai suatu kelompok atau satu tim. Jadi dapat dipahami bahwa
kata kooperatif sebenarnya bukan istilah khusus bidang
pendidikan, melainkan istilah yang umum dipakai pada banyak hal.
Istilah kooperatif mulai masuk ke ranah pendidikan dan
digunakan sebagai salah satu model pembelajaran, berangkat dari
keinginan para guru untuk mendorong para siswa melakukan
kerjasama dalam berbagai kegiatan. Guru merasa pembelajaran
yang terlalu didominasinya ternayata justru menghambat
perkembangan siswa. Sebagai alternatif, siswa diajak untuk berbagi
informasi dengan siswa lainnya dan saling belajar mengajar satu
dengan lainnya(JASMINE, 2014).
Beberapa pendapat yang menjelaskan pengertian
pembelajaran kooperatif diantaranya adalah Johnson, ia
mengartikan cooperative learning adalah mengelompokkan siswa
ke dalam kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan
kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu
sama lain dalam kelompok tersebut(Sulistio, 2011).
Kemudian pada jurnal Model Kooperatif Learning oleh Ida
Meutiawati, yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan
bekerja dibuat dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6
orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih
bergairah dalam belajar. Jumlah anggota kelompok sebanyak 4-6
orang yang dimaksudkan hanya sebatas gambaran, dan dapat
disesuaikan dengan jumlah dan heterogenitas siswa dalam satu
kelas(Meutiawati, 2011).
Sedangkan menurut Asep Gozwan pada jurnal Metode
Cooperative Learning dalam Pembelajaran PaI, mendefinisikan
cooperative learning sebagai suatu model pembelajaran yang
menekankan aktivitas kolaboratif peserta didik dalam belajar yang
berbentuk kelompok kecil untuk mencapai tujuan yang sama
dengan menggunakan berbagai macam aktivitas belajar guna
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami materi
pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif. Setiap
anggota kelompok bukan hanya belajar materi apa yang diajarkan
tetapi juga membantu anggota yang lain untuk belajar. Model
pembelajaran ini menganut prinsip saling ketergantungan positif
(positive interdependence), tanggung jawab perseorangan
(individual accountability), tatap muka (face to face interaction),
keterampilan sosial (social skill) dan proses kelompok (group
processing) (Tambak, 2017).
Dari pengertian di atas, meski terkesan berbeda, tapi
setidaknya ada kesamaan dari beberapa definisi yang dikemukakan
para ahli, yakni esensi pembelajaran kooperatif terletak pada
pembentukan kelompok kelompok kecil. Kelompok ini diatur
sedemikian rupa agar siswa bisa saling bekerja sama, berinteraksi,
dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Melalui pengelolaan
kelas yang demikian, siswa didorong untuk berinteraksi
mengeluarkan kemampuan yang mereka miliki dalam
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Dalam pembelajaran
kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman
dalam kelompok belum menguasai materi pelajaran.
Dari pemaparan tersebut, penulis dapat menyimpulkan
bahwasanya, model pembelajaran cooperative adalah model
pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil
siswa untuk bekerjasama guna mencapai tujuan belajar.
Pembagian kelompok dalam model ini dibuat seheterogen
mungkin. Dengan pembagian kelompok yang heterogen,
diharapkan siswa yang mudah memahami pelajaran mampu
menjelaskan kepada anggota kelompoknya yang sulit memahami
pelajaran. Namun, apabila penjelasan yang diterima dirasa kurang
memuaskan, siswa dapat langsung bertanya kepada guru.
Seperti yang disebutkan pada jurnal Metode Cooperative
Learning dalam Pembelajaran PAI, jurnal Model Pembelajaran
Kooperatif Learning oleh Arfiani Yulia, juga menyatakan tentang
prinsip pembelajaran kooperatif, yakni nya:
1. Prinsip Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Agar terciptanya kelompok kerja yang efektif, masing masing
anggota kelompok perlu melakukan pembagian tugas. Tugas
tersebut tentu disesuaikan dengan kemampuan setiap
anggota kelompok. Inilah hakikat ketergantungan positif,
artinya setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas
keberhasilan dalam menyelesaikan tugas kelompok dan
semua ini memerlukan kerjasama yang baik dari masing-
masing anggota kelompok.
2. Tanggung Jawab Perseorangan (Individual Accountability)
Prinsip ini merupakan konsekuensi dari prinsip yang pertama.
Oleh karena keberhasilan kelompok tergantung pada setiap
anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki
tanggung jawab sesuai dengan tugasnya. Setiap anggota
harus memberikan yang terbaik untuk keberhasilan
kelompoknya. Untuk itu guru perlu memberikan penilaian
terhadap individu dan juga kelompok.
3. Interaksi Tatap Muka (Face to Face Promotion Interaction)
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan
yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap
muka saling memberikan informasi dan saling
membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan
pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok
untuk bekerjasama, menghargai setiap perbedaan,
memanfaatkan kelebihan masing masing anggota, dan
mengisi kekurangan masing-masing anggota kelompok.
4. Partisipasi dan Komunikasi (Participation and Communication)
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk mampu
berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini
sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di
masyarakat kelak. Untuk dapat melakukan partisipasi dan
komunikasi, siswa perlu dibekali dengan kemampuan-
kemampuan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi
memang memerlukan waktu. Oleh sebab itu, guru perlu terus
melatih dan melatih, sampai pada akhirnya setiap siswa
memiliki kemampuan untuk komunikator yang baik(Yulia et
al., 2020).
Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Karakter atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Pembelajaran secara tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan
secara berkelompok. Tim merupakan tempat untuk mencapai
tujuan, setiap anggota tim harus saling membantu untuk
mencapai tujuan tim.
2. Didasarkan pada manajemen
Kooperatif Manajemen mempunyai tiga fungsi yaitu:
a. Fungsi manajemen sebagai perencana, pelaksanaan
menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif
dilaksanakan sesuai dengan perencanaan , dan
langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan.
Misalnya tujuan apa yang ingin dicapai, bagaimana
cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk
mencapai tujuan dan lain sebagainya.
b. Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukkan
bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan
perencanaan yang matang agar proses pembelajaran
berjalan efektif.
c. Fungsi manajemen sebagai kontrol, menunjukkan
bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan
kriteria keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun
non tes.
3. Kemauan untuk bekerja sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh
keberhasilan secara kelompok, oleh karena itu prinsip
kebersamaan perlu ditekankan dalam pembelajaran
kooperatif, tanpa kerja sama yang baik pembelajaran
kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.
4. Keterampilan bekerja sama.
Kemampuan bekerja sama itu dipraktekkan melalui aktivitas
dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan
demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup
berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam
rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan(Sukmawati, 2019).
Sintak Cooperative Learning Model
Dalam Cooperative Learning Model, guru berperan penting
sebagai pembimbing untuk memberikan kesempatan kepada siswa
agar lebih aktif terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Sintaks
Cooperative Learning Model adalah tahapan-tahapan sistematis
yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran berbasis
kerja sama. Sintaks ini memberikan panduan langkah-langkah
praktis yang harus diikuti guru dan siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran secara efektif.
Fase Kegiatan
Menyampaikan tujuan dan Guru menyampaikan semua tujuan
memotivasi pelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi
siswa
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada
siswa dengan jalan demonstrasi
atau lewat bahan bacaan.
Mengorganisasikan siswa Guru menjelaskan kepada siswa
kedalam kelompok kooperatif bagaimana caranya membentuk
kelompok belajar dan membantu
setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.
Membimbing kelompok Guru membimbing kelompok –
bekerja dan belajar kelompok belajar pada saat mereka.
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari
atau masing masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya
Memberikan penghargaan Guru mencari cara cara untuk
menghargai baik upaya maupun
hasil belajar individu dan
kelompok(Shamdani, 2020).
Desain Cooperative Learning Model
Model pembelajaran Cooperative Learning sangat fleksibel
untuk digunakan dalam berbagai mata pelajaran, termasuk
Pendidikan Agama Islam (PAI). Seperti, Al-quran Hadis, Fiqh, Akidah
Akhlak dll. Penerapan model ini dapat disesuaikan dengan topik
dan kebutuhan kelas, sehingga membuat pembelajaran agama
lebih menarik dan bermakna(Ali, 2021).
1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik
Guru memberikan atau menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang akan dicapai selama proses pembelajaran
dan memotivasi siswa. Tujuannya adalah untuk memberikan
pemahaman kepada siswa tentang tujuan yang akan dicapai
dan memberikan kata-kata nasehat agar dapat
menumbuhkan rasa semangat siswa
Contoh: "Anak-anak, hari ini kita belajar tentang kejujuran.
Kejujuran itu penting banget, lho. Allah memerintahkan kita
untuk selalu berkata benar dan jujur. Kalian akan bekerja
dalam kelompok supaya bisa saling berbagi ilmu dan ide."
2. Menyajikan informasi
Langkah kedua yaitu menyajikan atau menyampaikan
informasi, disini guru menyampaikan topik pembelajaran
kepada siswanya lewat bahan bacaan.
Contoh: Tema nya kejujuran, guru pun menjelaskan secara
sederhana tentang kejujuran
● Dalil Al-Qur'an: QS. Al-Ahzab: 70-71 yang artinya,
“Berkatalah yang benar, agar Allah memperbaiki
amalmu.”
● Hadis Nabi: “Kejujuran membawa kebaikan, dan
kebaikan membawa ke surga.”
● Kisah Nabi Muhammad SAW yang diberi gelar Al-Amin
karena beliau selalu jujur.
Guru juga memberikan gambaran tugas yang akan
dikerjakan kelompok nanti.
3. Mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok belajar
Setelah guru menyampaikan tujuan dan motivasi serta
memberikan informasi atau materi pembelajaran langkah
yang berikutnya membagi peserta didik dalam kelompok
belajar. Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwa model
cooperative learning memfokuskan proses pembelajaran
dengan membagi peserta didik ke dalam kelompok-kelompok
belajar, yang bisa berisi 4-6 orang. Jadi guru dapat
menentukan kelompok belajar peserta didik atau
membiarkan peserta didik menentukan sendiri kelompoknya
tetapi masih dalam pengawasan dan bimbingan guru.
Contoh:
Kelompok 1: Membaca dan memahami arti dalil Al-Qur'an
dan Hadis tentang kejujuran, kemudian membuat kesimpulan
singkat.
Kelompok 2: Membuat cerita singkat tentang kisah
kejujuran Nabi Muhammad SAW.
Kelompok 3: Membuat daftar contoh kejujuran di rumah dan
di sekolah.
Kelompok 4: Membahas akibat buruk dari kebohongan
(contoh nyata yang pernah mereka lihat atau alami).
Guru memastikan setiap kelompok memahami
tugasnya sebelum memulai diskusi.
4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Langkah yang keempat adalah memberikan bimbingan
kepada kelompok belajar yang telah ditentukan. Guru
memberi waktu diskusi kepada peserta didik namun tidak
seutuhnya lepas tangan, tetap memberikan bimbingan
mengenai materi yang telah dibagikan, sehingga peserta
didik tetap mendapatkan peran guru ketika mereka
melaksanakan proses pembelajaran.
Contoh:
Kelompok 1:
● Membaca teks dalil yang diberikan guru, mendiskusikan
artinya, lalu membuat kesimpulan tentang pesan dari
ayat dan Hadis tersebut.
Kelompok 2:
● Menyusun cerita pendek tentang kejujuran Nabi
Muhammad SAW, seperti bagaimana beliau dipercaya
oleh orang Quraisy untuk menyimpan barang titipan.
● Siswa menuliskan cerita itu dalam 2-3 paragraf.
Kelompok 3:
Berdiskusi tentang contoh kejujuran, seperti:
● Mengembalikan barang teman yang hilang.
● Tidak menyontek saat ujian.
● Mengakui kesalahan jika melakukan sesuatu yang
salah.
Kelompok 4:
● Menceritakan akibat buruk dari kebohongan, seperti
kehilangan kepercayaan, persahabatan yang rusak,
atau berdampak negatif pada diri sendiri.
5. Evaluasi
Melakukan evaluasi terhadap pemahaman peserta didik
tentang beragam materi pembelajaran atau mengadakan sesi
di mana kelompok-kelompok siswa mempresentasikan hasil
kerja mereka.
6. Memberikan apresiasi
Menghargai usaha dan pencapaian merupakan tindakan
penting, dimana guru berupaya menemukan berbagai cara
untuk memberikan apresiasi, baik terhadap usaha maupun
hasil yang dicapai oleh individu maupun kelompok(Putri et
al., 2024).
Tujuan utama dalam penerapan model belajar mengajar
cooperative learning adalah agar peserta didik dapat belajar secara
berkelompok bersama dengan teman-temannya dengan cara saling
menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang
lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan
pendapat mereka secara berkelompok(Yani Lot JadinaMaha, 2016).
Selanjutnya, pada jurnal Model Pembelajaran Kooperatif, Slavin
(2008) mempertegas kembali bahwa tujuan yang paling penting
dari model pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan
pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman kepada
peserta didik, di mana hal tersebut mereka butuhkan agar dapat
menjadi anggota masyarakat yang bahagia serta memberikan
kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat(Simamora, n.d.).
Pada dasarnya model cooperative learning dikembangkan
untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting
yaitu:
1. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif dikembangkan untuk mencakup
beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau
tugas-tugas hasil belajar akademis. Pembelajaran kooperatif
dapat memberi keuntungan kepada peserta didik yang
bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik, baik
kelompok bawah maupun kelompok atas. Peserta didik
kelompok atas akan menjadi tutor bagi peserta didik
kelompok bawah. Dalam proses tutorial ini, peserta didik
kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya
karena memberi pelayanan sebagai tutor kepada teman
sebaya yang membutuhkan pemikiran lebih mendalam
tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi
tertentu. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul
dalam membantu peserta didik memahami konsep-konsep
yang sulit. Para penembang model ini telah menunjukkan
bahwa model kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian
peserta didik pada belajar akademik dan perubahan normal
yang berhubungan dengan hasil belajar.
2. Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu
Tujuan lainnya ialah penerimaan secara luas dari orang-orang
yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial,
kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran
kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar
belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling
bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur
penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai
terhadap perbedaan individu satu sama lain.
3. Perkembangan keterampilan sosial.
Tujuan penting ketiga dalam pembelajaran kooperatif yaitu
mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan
kolaborasi. Bekerja sama dengan teman satu kelompok
dalam menyelesaikan tugas dan masalah terkait
pembelajaran. Agar peserta didik dapat melatih keterampilan
sosialnya. Keterampilan ini sangat penting untuk dimiliki di
dalam masyarakat. Dilihat dari era modern ini masih banyak
anak muda masih kurang dalam pengembangan
keterampilan sosial(Hasanah & Himami, 2021).
Kemudian peran guru dalam model ini sangat berpengaruh
untuk menciptakan lingkungan belajar kolaboratif yang efektif.
Peran guru dalam pelaksanaan cooperative learning adalah sebagai
fasilitator, mediator, dan evaluator.
1. Sebagai fasilitator guru harus memiliki sikap-sikap mampu
menciptakan suasana kelas yang nyaman dan
menyenangkan, membantu dan mendorong siswa untuk
mengungkapkan dan menjelaskan keinginan dan
pembicaraan nya baik secara individual maupun kelompok,
membantu kegiatan-kegiatan dan menyediakan sumber atau
peralatan serta membantu kelancaran belajar mereka,
membina siswa agar setiap orang merupakan sumber yang
bermanfaat bagi yang lainnya, dan menjelaskan tujuan
kegiatan pada kelompok dan mengatur penyebaran dalam
bertukar pendapat.
2. Sebagai mediator guru berperan sebagai penghubung dalam
menjembatani mengaitkan materi pembelajaran yang sedang
dibahas melalui cooperative learning dengan permasalahan
yang nyata di temukan di lapangan. Guru menjadi penengah
ketika ada konflik atau kendala dalam kelompok. Dalam
situasi di mana terjadi ketidaksepahaman atau
ketidakseimbangan kontribusi antar anggota kelompok, guru
membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan cara
yang adil dan mendukung.
3. Sebagai evaluator, Guru mengevaluasi hasil kerja kelompok
dan individu berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Evaluasi mencakup proses pembelajaran, interaksi dalam
kelompok, dan produk akhir. Guru juga memberikan umpan
balik yang konstruktif, baik kepada kelompok maupun
individu, untuk membantu mereka memperbaiki kinerja di
masa depan(Isjoni, 2014).
Berhasilnya atau tidaknya pembelajaran sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu:
1. Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yaitu
kondisi/keadaan jasmani dan rohani siswa.
2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yaitu kondisi
lingkungan di sekitar siswa.
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yaitu jenis
upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang
digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran
materi-materi pelajaran.
Pendekatan student-centered dalam cooperative
learning sangat cocok digunakan bersama-sama untuk
menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih dinamis dan
responsif terhadap kebutuhan siswa. Siswa menjadi pusat
pembelajaran yang aktif, mengembangkan keterampilan sosial,
dan kemandirian, sementara guru memfasilitasi proses tersebut
dengan cara yang mendorong kerja sama dan kolaborasi(Lukman,
2019).
Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
A. Kelebihan Pembelajaran Kooperatif
1. Dapat mengurangi rasa kantuk dibanding belajar
sendiri. Jika belajar sendiri sering kali rasa bosan timbul
dan rasa kantuk pun datang. Apalagi jika mempelajari
pelajaran yang kurang menarik perhatian atau
pelajaran yang sulit. Dengan belajar bersama, orang
punya teman yang memaksa aktif dalam belajar.
Demikian pula ada kesempatan bersenda gurau
sesedikit mungkin untuk mengalihkan kebosanan.
2. Dapat merangsang motivasi belajar
Melalui kerja kelompok, akan dapat menumbuhkan
perasaan ada saingan. Jika sudah menghabiskan waktu
dan tenaga yang sama dan ternyata ada teman yang
mendapat nilai lebih baik, akan timbul minat
mengejarnya. Jika sudah berada di atas, tentu ingin
mempertahankan agar tidak akan dikalahkan teman-
temannya.
3. Ada tempat bertanya
Kerja secara kelompok, maka ada tempat untuk
bertanya dan ada orang lain yang dapat mengoreksi
kesalahan anggota kelompok. Belajar sendiri sering
terbentur pada masalah sulit terutama jika mempelajari
sejarah. Dalam belajar berkelompok, seringkali dapat
memecahkan soal yang sebelumnya tidak bisa
diselesaikan sendiri. Ide teman dapat dicoba dalam
menyelesaikan soal latihan. Jika ada lima orang dalam
kelompok itu, tentu ada lima kepala yang mempunyai
tingkat pengetahuan dan kreativitas yang berbeda.
Pada saat membahas suatu masalah bersama akan ada
ide yang saling melengkapi.
4. Melalui kerja kelompok akan dapat membantu
timbulnya asosiasi dengan peristiwa lain yang mudah
diingat. Misalnya, jika ketidaksepakatan terjadi di
antara kelompok, maka perdebatan sengit tak
terhindarkan. Setelah perdebatan ini, biasanya akan
mudah mengingat apa yang dibicarakan dibandingkan
masalah lain yang lewat begitu saja. Karena dari
peristiwa ini, ada telinga yang mendengar, mulut yang
berbicara, emosi yang turut campur dan tangan yang
[Link] sama-sama mengingat di
[Link] membaca sendirian, hanya rekaman dari
mata yang sampai ke otak, tentu ini dapat kurang
kuat(Sudarta, 2022).
B. Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
1. Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara
matang, disamping itu memerlukan lebih banyak
tenaga, pemikiran dan waktu;
2. Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka
dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang
cukup memadai;
3. Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada
kecenderungan topik permasalahan yang sedang
dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan
4. Saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh
seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain
menjadi pasif(Shamdani, 2020).
KESIMPULAN
Model pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan yang
efektif dalam pendidikan yang menekankan kerja sama antar siswa
dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan
utama dari model ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar
akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan
perkembangan keterampilan sosial siswa. Pembelajaran kooperatif
tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada
pengembangan kompetensi sosial dan keterampilan kolaborasi
yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Peran guru dalam model ini sangat krusial sebagai fasilitator,
mediator, dan evaluator, yang membantu menciptakan lingkungan
belajar yang kolaboratif dan mendukung interaksi antar siswa.
Meskipun terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya,
seperti kebutuhan akan persiapan yang matang dan dukungan
fasilitas, kelebihan dari pembelajaran kooperatif, seperti
peningkatan motivasi belajar dan kesempatan untuk saling
membantu, menjadikannya pilihan yang menarik dalam konteks
pendidikan modern.
Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran
kooperatif diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan,
baik dari segi akademik maupun non-akademik, serta membentuk
karakter siswa yang lebih baik, terutama dalam konteks Pendidikan
Agama Islam. Dengan demikian, model ini dapat menjadi solusi
inovatif untuk memenuhi tuntutan pendidikan di era globalisasi
yang semakin kompleks.
DAFTAR BACAAN
Ali, I. (2021). Pembelajaran Kooperatif Dalam Pengajaran
Pendidikan Agama Islam. Jurnal Mubtadiin, 7(1), 247–264.
[Link]
Azizah, F. N. (2019). Model Pembelajaran Kooperatif. Sustainability
(Switzerland), 11(1), 1–14.
[Link]
[Link]?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://
[Link]/10.1016/[Link].2008.06.005%0Ahttps://
[Link]/publication/
305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MEL
ESTARI
Haryanti, E. (2019). Cooperative Learning Tipe Think-Pair-Share
(Tps) Sebagai Model Pembelajaran Sastra (Mengenal Teks
Puisi). Jurnal TAMBORA, 3(1), 27–31.
[Link]
Hasanah, Z., & Himami, A. S. (2021). Model Pembelajaran
Kooperatif Dalam Menumbuhkan Keaktifan Belajar Siswa.
Irsyaduna: Jurnal Studi Kemahasiswaaan, 1(1), 1–13.
[Link]
Isjoni. (2014). Pembelajaran Kooperatif. Penambahan Natrium
Benzoat Dan Kalium Sorbat (Antiinversi) Dan Kecepatan
Pengadukan Sebagai Upaya Penghambatan Reaksi Inversi Pada
Nira Tebu, 11–31.
JASMINE, K. (2014). Cooperative Learning Model. Penambahan
Natrium Benzoat Dan Kalium Sorbat (Antiinversi) Dan
Kecepatan Pengadukan Sebagai Upaya Penghambatan Reaksi
Inversi Pada Nira Tebu, 17–44.
Juita, D. P., Priya, P., Azwardi, M., & Amra, A. (2024). Pentingnya
Pengembangan Sumber Daya Manusia pada Lembaga
Pendidikan. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5(3), 3068–
3077. [Link]
Lukman. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dalam
Peningkatan Motivasi, Partisipasi Belajar Siswa serta Kreativitas
di SMA Negeri 1 Wanasaba Tahun Pelajaran 2017/2018. Journal
Ilmiah Rinjani, 7(1), 167–183.
MAULUDDINA, L. (2019). Penerapan model cooperative learning
dalam meningkatkan hasil belajar. Dk, 53(9), 1689–1699.
Meutiawati, I. (2011). Model Pembelajaran Kooperatif. Visipena
Journal, 2(1), 21–27. [Link]
Pratiwi, V. D. (n.d.). ( PEMBELAJARAN KOOPERATIF ).
11160163000029.
Putri, K. M. F., Ranti, L. R., & Ringkat, G. H. F. (2024). Artikel model
pembelajaran Cooperative Learning. Dewantara: Jurnal
Pendidikan Sosial Humaniora, 3(3), 01–06.
Shamdani. (2020). Konsep Model Pembelajaran Cooperative
Learning Terhadap Motivasi Belajar Siswa. Jurnal FKIP Unlam,
1710111210028. [Link]
Simamora, A. B. (n.d.). Model-Pembelajaran-Kooperatif-Ebook
aprido dkk.
Sudarta. (2022). Model- model pembelajaran kooperatif. 16(1), 1–
23.
Sukmawati, H. (2019). Metode Pembelajaran Kooperatif
(COOPERATIVE LEARNING). Jurnal Pendidikan Dan Studi Islam,
5(2), 164–170.
Sulistio, A. (2011). Model Pembelajaran Kooperatif. Visipena Journal,
2(1), 21–27. [Link]
Tambak, S. (2017). Metode Cooperative Learning dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Al-Hikmah: Jurnal
Agama Dan Ilmu Pengetahuan, 14(1), 1–17.
[Link]
Yani Lot JadinaMaha. (2016). MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD). Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, 53(9), 1689–1699.
[Link]
Yulia, A., Juwandani, E., & Mauliddya, D. (2020). Model
Pembelajaran Kooperatif Learning. In Seminar Nasional Ilmu
Pendidikan Dan Multi Disiplin, 3, 223–227.