LAPORAN PENDAHULUAN
ASMA
Disusun Oleh:
DIMAS AZHARUL FUAD
4338114201230137
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS HORIZON INDONESIA
2025
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Konsep Penyakit
1. Definisi
Asma adalah suatu keadaan kondisi paru paru kronis yang ditandai dengan kesulitan
bernafas, dan menimbulkan gejala sesak nafas, dada terasa berat, dan batuk terutama
pada malam menjelang dini hari. Dimana saluran pernafasan mengalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan penyempitan
atau peradangan yang bersifat sementara (Masriadi, 2016).
Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada jalan nafas dan dikarakteristikkan
dengan hiperresponsivitas, produksi mukus, dan edema mukosa. Inflamasi ini
berkembang menjadi episode gejala asma yang berkurang yang meliputi batuk, sesak
dada, mengi, dan dispnea. Penderita asma mungkin mengalami periode gejala secara
bergantian dan berlangsung dalam hitungan menit, jam, sampai hari (Brunner &
Suddarth, 2017).
2. Etiologi
Menurut Global Initiative for Asthma tahun 2016, faktor resiko penyebab asma
bronchial di bagi menjadi tiga kelompok yaitu:
a. Faktor genetik
1) Atopi/alergi
Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya.
2) Hipercaktivitas bronkus
Saluran nafas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan.
3) Jenis kelamin
Anak laki-laki sangat beresiko terkena asma bronchial sebelum usia 14 tahun,
prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali dibanding anak
perempuan
4) Ras/etnik
5) Obesitas
6) Obesitas atau peningkatan/body mass index (BMI), merupakan faktor resiko
asma.
b. Faktor lingkungan
1) Alergen dalam rumah (tungau debu rumah, spora jamur, kecoa, serpihan kulit
binatang seperti anjing, kucing, dan lain sebagainya).
2) Alergen luar rumah (serbuk sari, dan spora jamur).
3) Faktor lain
a) Alergen dari makanan.
b) Alergen obat-obatan tertentu
c) Exercise-induced asthma
3. Klasifikasi
Secara etiologis menurut (Riyadi, 2014), asma bronkhial dibagi dalam 3 tipe:
a. Asma bronkhial tipe non atopi (intrinsik). Pada golongan ini, keluhan tidak ada
hubungan nya dengan paparan (exposure) terhadap alergen dan sifat sifatnya
adalah serangan timbul setelah dewasa, pada keluarga tidak ada yang menderita
asma, penyakit infeksi sering menimbulkan serangan, ada hubungannya dengan
pekerjaan atau beban fisik, rangsangan psikis mempunyai peran untuk
menimbulkan serangan reaksi asma, perubahan cuaca atau lingkungan yang non
spesifik merupakan keadaan peka bagi penderita.
b. Asma bronkhial tipe atopi (Ekstrinsik)
Pada golongan ini, keluhan ada hubungannya dengan paparan terhadap alergen
lingkungan yang spesifik. Kepekaan ini biasanya dapat ditimbulkan dengan uji
kulit atau provokasi bronkhial. Pada tipe ini mempunyai sifat-sifat timbul sejak
anak anak, pada famili ada yang menderita asma, adanyan asma pada waktu bayi,
sering menderita rinitis (alergi serbuk bunga).
c. Asma bronkhial campuran (Mixed)
Pada golongan ini, keluhan diperberat baik olch faktor-faktor intrinsik maupun
ekstrinsik.
Klasifikasi derajat asma bronkhial
Klasifikasi tahapan penyakit asma berdasarkan keparahan penyakit pada pasien
tertera pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.1 Penilaian derajat serangan asma
Parameter Ringan Sedang Berat Ancaman
Aktivitas Kalimat Berbicara Istirahat Henti nafas
Bicara Kalimat Penggal
Kalimat
Posisi Bisa Lebih suka Duduk
berbaring duduk bertopang
lengan
Kesadaran Mungkin Biasanya Biasanya Kebingungan
teragitasi teragitrasi teragitasi
Mengi Sedang, Nyaring, Sangat Terdengar tidak
sering hanya sepanjang nyaring,
pada akhir ekspirasi terdengar
ekspirasi tanpa
stetoscop
Sesak nafas minimal sedang berat
Otot bantu Biasanya Biasanya ya Ya Gerakan
napas tidak paradoks
thorakabdom
Retraksi Dangkal, Sedang Dalam Dangkal hilang
retraksi ditambah ditambah
interkostal retraksi cuping hidung
supertermal
Laju napas meningkat meningkat meningkat menurun
Pulsus Tidak ada Ada 10-20 Ada mmHg Tidak ada
Paradok sus 10 mmHg mmHg >20 Tanda kelelahan
Otot nafas
PEFR atau % nilai % nilai
FEVI dugaan Dugaan
Pra >60% <40%
Broncodilator >80%
Pasca <60%
broncodilator Respons <2
jam
SaO2 (%) >95% 91-95% <90%
PaO2 Normal >60 mmHg <60 mmHg
(biasanya
tidak perlu
diperiksa)
PaCO2 <45 mmHg <45 mmHg <45 mmHg
SaO2 (%) >95% 91-95% <90%
PATHWAY
4. Tanda dan Gejala
Gejala-gejala yang lazim muncul pada asma bronchial adalah batuk dispnea dan
mengi. Selain gejala di atas ada beberapa gejala yang menyertai di antaranya sebagai
berikut (Mubarak 2016:198):
a. Takipnea dan Orthopnea
b. Gelisah
c. Nyeri abdomen karena terlibat otot abdomen dalam pernafasan
d. Kelelahan
e. Tidak toleran terhadap aktivitas seperti makan berjalan bahkan berbicara
f. Serangan biasanya bermula dengan batuk dan rasa sesak dalam dada disertai
pernafasan lambat
g. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang di banding inspirasi
h. Gerakan-gerakan retensi karbondioksida, seperti berkeringat, takikardi dan
pelebaran tekanan nadi
i. Serangan dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang
secara spontan
5. Patofisiologi
Tiga unsur yang ikut serta pada obstruksi jalan udara penderita asma bronchial adalah
spasme otot polos edema dan inflamasi memakan jalan nafas dan edukasi muncul
intra minimal, sel-sel radang dan deris selular. Obstruksi menyebabkan pertambahan
resistensi jalan udara yang meredahkan volume ekspirasi paksa dan kecepatan aliran
penutupan prematur jalan udara, hiperinflamasi patu. Bertambahnya kerja pernafasan,
perubahan sifat elastik dan frekuensi pernafasan dapat menyebabkan gangguan
kebutuhan istirahat dan tidur. walaupun, jalan nafas bersifat difusi, obstruksi
menyebabkan perbedaan suatu bagian dengan bagian lain ini berakibat perfusi bagian
paru tidak cukup mendapat ventilasi yang menyebakan kelainan gas-gas terutama
CO2 akibat hiperventilasi.
Pada respon alergi disaluran nafas antibodi COE berikatan dengan alergi
degrenakulasi sel mati, akibat degrenakulasi tersebut histomin di lepaskan. Histomin
menyebabkan kontruksi otot polos bronkiolus. Apabila respon histamin juga
merangsang pembentukuan mulkus dan peningkatan permiabilitas kapiler maka juga
akan terjadi kongesti dan pembangunan ruang intensium paru.
Individu yang mengalami asma mungkin memerlukan respon yang sensitif berlebihan
terhadap sesuatu alergi atau sel-sel mestinya terlalu mudah. mengalami degravitasi
dimanapun letak hipersensitivitas respon peradangan tersebut. Hasil akhirnya adalah
bronkospasme, pembentukan mukus edema dan obstruksi aliran udara (Amin, 2015).
6. Pemeriksaan Penunjang
Ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan pada penderita asma bronchial
diantaranya (Amin Huda Nurarif & Hardhi Kusuma, 2015);
a. Spirometer
Dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup (nebulizer/inhaler). positif
jika peningkatan VEP/KVP > 20%.
b. Sputum
Eosinofil meningkat.
c. Rontgen Thorax
Yaitu patologis paru/komplikasi asma.
d. AGD
Terjadi pada asma berat, pada fase awal terjadi hipoksemia dan hipokapnia.
(PCO2 turun) kemudian pada fase lanjut normokapnia dan hiperkapnia (PCO2
naik).
e. Uji alergi kulit, IgE.
7. Penatalaksanaan
Menurut (Bruner & Suddarth, 2017) yaitu:
a. Penatalaksanaan Medis
1) Agonis adrenergik beta 2 kerja pendek.
2) Antikolinergik.
3) Kortikosteroid inhaler dosis terukur (MDI)
4) Inhibitor pemodifikasi leukotrien/antileukotrien.
5) Metilxatin.
b. Penatalaksanaan non farmakologis menurut
1) Berhenti merokok,
2) Aktifitas fisik secara teratur.
3) Mencegah paparan alergen ditempat kerja, di dalam maupun di luar ruangan.
4) Mencegah penggunaan obat yang dapat memperberat asma.
5) Tekinik pernapasan yang benar (Breathing Exercise, yoga dan senam asma).
6) Diet sehat dan menurunkan berat badan,
7) Mengatasi zres emosional.
8) Imunoterapi alergen
B. Pengkajian
1. Pengkajian primer
Pengkajian Primer pada asma bronkial adalah:
a. Airway. Yang kita dapatkan pada pengkajian airway ini diantaranya yaitu: batuk
kering/tidak produktif, wheezing yang nyaring, penggunaan otot-otot aksesoris
pernapasan (retraksi otot interkosta),
b. Breathing. Perpanjangan ekspirasi dan perpendekan periode inspirasi. dypsnea,
takypnca, taktil fremitus menurun pada palpasi, suara tambahan ronkhi,
hiperresonan pada perkusi.
c. Circulation. Yang kita dapatkan pada pengkajian sirkulasi ini adalah adanya
hipotensi, diaforesis, sianosis, gelisah, fatique, perubahan tingkat kesadaran,
pulsus paradoxus 10 mm.
2. Pengkajian sekunder
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut:
a. Riwayat kesehatan yang lalu:
1) Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya.
2) Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat faktor lingkungan.
3) Kaji riwayat pekerjaan pasien.
b. Aktivitas
1) Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas.
2) Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan
aktivitas sehari-hari.
3) Tidur dalam posisi duduk tinggi.
c. Pernapasan
1) Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan.
2) Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur.
3) Menggunakan obat bantu pernapasan, misalnya: meninggikan bahu,
melebarkan hidung.
4) Adanya bunyi napas mengi.
5) Adanya batuk berulang.
d. Sirkulasi
1) Adanya peningkatan tekanan darah.
2) Adanya peningkatan frekuensi jantung.
3) Warna kulit atau membran mukosa normal abu-abu/sianosis.
4) Kemerahan atau berkeringat.
e. Integritas ego
1) Ansietas
2) Ketakutan
3) Peka rangsangan
4) Gelisah
f. Asupan nutrisi
1) Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.
2) Penurunan berat badan karena anoreksia.
g. Hubungan sosal.
1) Keterbatasan mobilitas fisik.
2) Susah bicara atau bicara terbata-bata.
3) Adanya ketergantungan pada orang lain.
h. Seksualitas
1) Penurunan libido.
C. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien asma yaitu:
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas.
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan napas.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
D. Intervensi Keperawatan
No Dx Kep Luaran & Kriteria Hasil Intervensi
1. Pola nafas tidak Setelah dilakukan tindakan Manajement jalan nafas
efektif berhubungan keperawatan selama …x24 Observasi
dengan hambatan jam diharapkan pola napas - Monitor pola napas
upaya napas. pasien membaik dengan - Monitor bunyi napas
kriteria hasil: tambahan
- Tidak terjadi - Monitor sputum
dispnea Terapeutik
- Frekuensi - Pertahankan kepatenan
pernapasan normal jalan napas
- Tidak terdapat suara - Posisikan semi fowler
tambahan atan fowler
- Ventilasi semenit - Berikan minun hangat
meningkan - Lakukan fisioterapi dada,
Kapasitas vital jika diperlukan
meningkat - Berikan oksigen nebulizer
- Kedalaman nafas Edukasi
membaik - Anjurkan asupan cairan
- Pemanjangan fase 200ml/hari, jika tidak
ekspiasi menurun kontraindikati
- Ajarkan teknik batak
efektif
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik.
Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan Manajement Asma
tidak efektif keperawatan selama …x24 Observasi
berhubungan dengan jam diharapkan bersihan - Monitor frekuensi dan
spasme jalan napas. jalan napas pasien membaik keadaan nafas
dengan kriteria hasil: - Monitor tanda dan gejala
- Batuk efektif hipoksia
meningkat - Monitor bunyi napas
- Produksi sputum tambahan
menurun Terapeutik
- Mengi menurun - Berikan posisi semi
- Wheezing menurun fowler 30-45
- Gelisah menurun Edukasi
- Frekuensi napas - Anjurkan meminimalkan
membaik ansietas yang dapat
- Pola napas membaik meningkatkan kebutuhan
oksigen
- Anjutkan bernafas lambat
dan dalam
- Anjurkan
mengidentifikan dan
menghindari pemicu
Gangguan Setelah dilakukan tindakan Pemantauan Respirasi
pertukaran gas keperawatan selama …x24 Observasi
berhubungan dengan jam diharapkan pertukaran - Moniter frekuensi, irama,
ketidakseimbangan gas pasien membaik dengan kedalaman dan upaya
ventilasi-perfusi. kriteria hasil: nafas
- Tingkat kesadaran - Monitor pola nafas
pasien meningkat - Monitor kemampuan
- Bunyi nafas batuk efektif
tambahan menurun - Monitor adanya produksi
- Gelisah menurun sputum
- Nafas - Monitor adanya sumbatan
cuping hidung jalan nafas
menurun - Palpasi kesimetrisan
ekspansi puru
- Auskulkasi bunyi nafas
- Monitor saturasi oksigen
Terapeutik
- Atur interval pemantauan
respiran sesuai kondisi
pasien
- Dokumentasikan hasil
pantauan
Edukasi
- Jelaskan tujuan prosedur
pemantauan Informasikan
hasil pemantauan
DAFTAR PUSTAKA
Brunner et al. 2017. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta Buku Kedokteran
EGC.
Global Initiatif for Asthma(GINA). 2017. Global strategy for asthma management and
Prevention.
Nurarif A.H. dan Kusuma. H. 2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Modis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.
Padila. 2015. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha medika.
Riyadi, Sujono. 2011. Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi
dan Indikator Diagnostik(1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNL
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi
dan Tindakan Keperawatan(Ist ed). Jakarta Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNL 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.