MAKALAH
Model Problem Base Learning
Diajukan Dalam Rangka Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Model Model Pembelajaran
Dosen Pengampu : Ibu Hj Nunung Nuryati, M. Pd
Disusun Oleh :
Ayu Zharfa Aliyatul Haya
NIM 22232051002
PRODI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
(PG PAUD)
UNIVERSITAS ISLAM AL-ILHYA KUNINGAN
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah
memberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Model Pembelajaran Based Learning (PBL/Problem Based
Learning)” dengan baik tanpa ada halangan yang berarti.
Makalah ini telah penulis selesaikan dengan maksimal berkat bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis sampaikan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang
telah berkontribusi secara maksimal dalam penyelesaian makalah ini.
Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak
kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat maupun
isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati, penulis selaku penyusun menerima segala
kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Demikian yang bisa penulis sampaikan, semoga makalah ini dapat menambah
khazanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata.
Kuningan, November 2024
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..........................................................................................................i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................
1.1 Latar Belakang .................................................................................................1
1.2 Tujuan ..............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kajian Pustaka ..................................................................................................3
2.1.1 Pengertian Pembelajaran ......................................................................3
2.1.2 Pengertian Problem Based Learning.....................................................4
2.1.3 Tujuan Problem Based Learning ........................................................12
2.1.4 Karakteristik Model Problem Based Learning ...................................12
2.1.5 Langkah-Langkah Model Problrm Based Learning ...........................20
2.1.6 Kelebihan Model Pembelajaran Berbasis PBL ..................................24
2.1.7 Kelemahan Model Pembelajaran Berbasis PBL ................................26
2.1.8 Keterkaitan PBL dan Hasil Belajar ....................................................27
2.1.9 Peran Patisipan Dalam Problem Based Learning ...............................28
2.1.10 Evaluasi dalam Problem Based Learning............................................29
2.1.11 Komponen-komponen dalam Problem Based Learning.....................30
2.2 Kajian Kritis....................................................................................................33
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................32
3.2 Saran................................................................................................................33
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................34
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada proses pembelajaran di kelas hingga saat ini masih juga ditemukan pengajar
yang memposisikan peserta didik sebagai objek belajar, bukan sebagai individu yang
harus dikembangkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat mematikan potensi peserta
didik. Dan dalam keadaan tersebut peserta didik hanya mendengarkan pidato guru di
depan kelas, sehingga mudah sekali peserta didik merasa bosan dengan materi yang
diberikan. Akibatnya, peserta didik tidak paham dengan apa yang baru saja disampaikan
oleh guru.
Pada model pembelajaran berbasis masalah berbeda dengan model pembelajaran
yang lainnya, Dalam model pembelajaran ini, peranan guru adalah menyodorkan berbagai
masalah, memberikan pertanyaan, dan memfasilitasi investigasi dan dialog. Guru
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menetapkan topik masalah yang akan
dibahas, walaupun sebenarnya guru telah menetapkan topik masalah apa yang harus
dibahas. Hal yang paling utama adalah guru menyediakan perancah atau kerangka
pendukung yang dapat meningkatkan kemampuan penyelidikan dan intelegensi peserta
didik dalam berpikir. Proses pembelajaran diarahkan agar peserta didik mampu
menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis. Model pembelajaran ini dapat terjadi
jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan jujur, karena kelas itu
sendiri merupakan tempat pertukaran ide-ide peserta didik dalam menanggapi berbagai
masalah.
Jika dilihat dari sudut pandang psikologi belajar, model pembelajaran ini
berdasarkan pada psikologi kognitif yang berakar dari asumsi bahwa belajar adalah proses
perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Melalui model pembelajaran ini
peserta didik dapat berkembang secara utuh, artinya bukan hanya perkembangan kognitif,
tetapi peserta didik juga akan berkembang dalam bidang affektif dan psikomotorik secara
otomatis melalui masalah yang dihadapi.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian dari pembelajaran.
2. Untuk mengetahui pengertian dari model berbasis PBL (Problem-Based Learning).
3. Untuk mengetahui tujuan dari model PBL.
4. Untuk mengetahui karakteristik dari model pembelajaran berbasis PBL.
5. Untuk mengetahui langkah-langkah dari model pembelajaran berbasis PBL.
6. Untuk mengetahui kelebihan dari model pembelajaran berbasis PBL.
7. Untuk mengetahui kekurangan dari model pembelajaran bebasis PBL.
8. Untuk mengetahui keterkaiatan hasil belajar dengan model pembelajaran berbasis
PBL.
9. Untuk mengetahui peran partisipan di dalam PBL
10. Untuk mengetahui cara mengevaluasi dalam PBL
11. Untuk mengetahui komponen-komponen dalam PBL
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KAJIAN PUSTAKA
2.1.1 Pengertian Pembelajaran
Sebagai unsur terpenting dari pendidikan, pembelajaran merupakan upaya untuk
menciptakan suatu kondisi bagi terciptanya suatu kegiatan belajar yang memungkinkan
peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang memadai. Dalam proses mengajar
dan pembelajran, metode mempunyai andil yang cukup besar dalam mencapai tujuan.
Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki peserta didik, akan ditentukan oleh tingkat
kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan. Karena metode
menjadi sarana dan salah satu cara untuk mencapai tujuan. Adapun tujuan pembelajaran
adalah kemampuam ( kompetensi ). Atau ketrampilan peserta didik yang diharapkan
dapat dimiliki oleh peserta didik setelah mereka melakukan proses pembelajaran tertentu.
Pembelajaran yang hanya berorientasi pada penguasaan materi memang terbukti berhasil
dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak
memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dalam praktik pendidikan
modern, menjejali pikiran para mahasiswa dengan berbagai konsep dan teori saja tanpa
disertai pengalaman di lapangan terbukti kurang efektif ( Saleh, 2013: 191- 192 ).
Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara guru dan siswa beserta
unsur yang ada di dalamnya. Guru merupakan faktor yang paling dominan yang
menentukan kua-litas pembelajaran. Kualitas pembelajaran yang baik, tentu akan
menghasilkan hasil belajar yang baik pula. Menurut Rusman (2012: 148 ). dalam sistem
pembelajaran guru dituntut untuk mampu memilih metode pembelajaran yang tepat,
mampu memilih dan mengguna-kan fasilitas pembelajaran, mampu memilih dan
menggunakan alat evaluasi, mampu me-ngelola pembel-ajaran di kelas maupun di la-
boratorium, menguasai materi, dan memahami karakter siswa. Salah satu tuntutan guru
ter-sebut adalah mampu memilih metode pem-belajaran yang tepat untuk mengajar.
Apabila metode pembelajaran yang digunakan guru itu tepat maka pencapaian tujuan
pembelajaran akan lebih mudah tercapai, sehingga nilai ke-tuntasan belajar siswa akan
meningkat, minat dan motivasi belajar siswa juga akan mening-kat dan akan tercipta
suasana pembelajaran yang menyenangkan ( Surjono dan Wulandari, 2013: 179 ).
Menurut Khosim ( 2017 : 5 ), metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara
yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa
metode pembelajaran yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran. Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi,
metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri
khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran :
1. Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik.
2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
3. Langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat
dilaksanakan secara optimal.
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.
2.1.2 Pengertian Model PBL ( Problem Based Learning )
Menurut Efendi (2008 : 124- 125), problem based learning adalah lingkungan belajar
yang didalamnya menggunakan masalah untuk belajar, yaitu sebelum pembelajar
mempelajari suatu hal, meraka diharuskan mengidentifikasikan suatu masalah, baik yang
dihadapi secara nyata maupun telaah kasus. Masalah diajukan sedemikian rupa sehingga para
pelajar menemukan kebutuhan belajar yang diperlukan agar mereka dapat memecahkan
masalah tersebut. PBL dapat juga di definisikan sebagai sebuah metode pembelajaran yang
didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk
mendapatkan atau mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru. Dengan demikian, masalah yang
ada digunakan sebagai sarana agar anak didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong
keilmuan.
Menurut Nata ( 2009 : 243), problem base learning yang selanjutnya disebut PBL,
adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan cara
menghadapkan para peserta didik tersebut dengan berbagi masalah yang dihadapi dalam
kehidupannya. Dengan model pembelajaran ini, peserta didik dari awal sudah dihadapkan
berbagai masalah kehidupan yang mungkin akan ditemuinya kelak pada saat mereka sudah
lulus dari bangku sekolah.
Alder dan Milne (1997) dalam buku Efendi (2008 : 124-125), mendefinisikan PBL
dengan metode yang berfokus kepada identifikasi permasalahan serat penyusunan kerangk
analisis dan pemecahan. Metode ini dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok
kecil, banyak kerja sama dan interaksi, mendiskusikan hal-hal yang tidak atau kurang
dipahami, serta berbagi peran untuk melaksanakan tugas dan saling melaporkan.
PBL is a methodology that can ignite that kind of sparke in today’s students. When
students are given inadequately constructed problems to solve, they learn to think the way
real world professionals such as architerls, archaeologists, engineers, scientists, and
historyans think. Such thinking reguires that missing (for example, which learning issues are
missing). PBL teaches students that they must first discern exactly what the problem is
instead of immediately what they already know about it by constructing hypotheses based
upon prior knowledge. They can than identify the learning issues involved, decide what new
information is needed. And determine how they must thest this new information to refine
their original theirues (Ronis, 2008 : 34).
Menurut Peterson (2004) dalam buku Efendi (2008 : 124-125), metode ini
memberikan mahasiswa permasalahan yang tidak terstruktur dengan baik dan pemecahan
masalah tidak satu saja karena berfokus pada pembelaran sendiri (self-learning) serat sangat
jauh dari penjelasan yang langsung ke inti/jawaban/isi dan atau penjelasan yang langsung
diberikan oleh pengajaran.
Sikap dan ketrampilan umum yang perlu dikembangkan dalam PBL diantaranya :.
1. Kerja sama tim.
2. Ketua kelompok.
3. Mendengarkan.
4. Menghargai pendapat teman.
5. Berpikir kritis.
6. Belajar mandiri dan penggunaan berbagai macam sumber.
7. Kemampuan berpresentasi.
Menurut Nata ( 2009 : 243-244), model pembelajaran problem base learning adalah dengan
cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan
untuk analisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Permasalahan itu dapat diajukan atau diberikan guru kepada siswa, dari siswa bersama guru,
atau dari siswa sendiri, yang kemudian dijadikan pembahasan dan dicari pemecahannya
sebagai kegiata-kegiatan belajar siswa. Dengan demikian, PBL adalah sebuah metode
pembelajaran yang memfokuskan pada pelacakan akar masalah dan memecahkan masalah
tersebut.
Menurut Huriah ( 2018 : 9- 10), pembelajaran berbasis masalah masalah merupakan
suatu metode untuk membangun dan melatih seseorang belajar dengan menggunakan
masalah sebagai stimulus di dalam berpikir dan kegiatan ini focus pada aktivitas mahasiswa.
Model problem based learning merupakan pembelajaran dimana masalah digunakan untuk
menstimulus kemampuan berpikir mahasiswa. PBL adalah lingkungan belajar yang di
dalamnya menggunakan masalah untuk belajar, yaitu sebelum pembelajar mempelajari suatu
hal, mereka diharuskan mengidentifikasi suatu masalah, baik yang dihadapi secara nyata
maupun telaah kasus.
Menurut Nursalam (2008) di dalam Huriah ( 2018 : 10), memberikan definisi terkait
PBL, yaitu lingkungan belajar yang di dalamnya menggunakan masalah untuk belajar, yaitu
sebelum pembelajar mempelajari suatu hal,mereka diharuskan mengidentifikasi suatu
masalah, baik yang dihadapi secara nyata maupun telaah kasus. PBL memiliki ciri yaitu
pembelajaran dimulai dengan pemberian masalah yang memiliki konteks dengan dunia nyata.
Pembelajar secara berkelompok aktif mendiskusikan dan merumuskan masalah dan
mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang harus mereka capai dari masalah tersebut.
Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam
kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat
pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan
memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses
pembelajarannay menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau
menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (Harmadi, 2017 :
117).
Ivor K. Davis, seperti dikutip Rusman, mengemukakan bahwa, “Salah satu
kecenderungan yang sering dilupakan ialah melupakan bahwa hakikat pembelajaran
adalah belajarnya mahasiswa dan bukan mengajarnya dosen.” Dosen dituntut dapat
memilih model pembelajaran yang dapat memacu semangat setiap mahasiswa untuk
secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya. Salah satu model pembelajaran
yang memungkinkan dikembangkannya keterampilan berpikir mahasiswa (penalaran,
komunikasi dan koneksi) dalam memecahkan masalah adalah Pembelajaran Berbasis
Masalah (PBM). Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based Learning
(PBL) adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan
masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. PBL adalah salah
satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan cara menghadapkan
para peserta didik tersebut dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
Dengan pembelajaran model ini, peserta didik dari sejak awal sudah dihadapkan kepada
berbagai masalah kehidupan yang mungkin akan ditemuinya kelak pada saat mereka
sudah lulus dari bangku sekolah. Problem Based Learning (PBL) dapat dimaknai sebagai
metode pendidikan yang mendorong mahasiswa untuk mengenal cara belajar dan
bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia
nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan mahasiswa
sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan mahasiswa untuk berpikir
secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara
tepat sumber-sumber pembelajaran ( saleh, 2013 : 203 – 204 ).
Istilah PBL atau PBM, disinyalir telah dikenal pada masa John Dewey.
Pembelajaran ini didasarkan pada kajian Dewey yang menekankan pentingnya
pembelajaran melalui pengalaman. Menurut Dewey belajar berdasarkan masalah adalah
interaksi antara stimulus dan respon yang merupakan hubungan antara dua arah, belajar
dan lingkungan. Lingkungan menyajikan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi
menafsirkan masalah itu, menyelidiki, menganalisis, dan mencari pemecahannya dengan
baik ( Saleh, 2013 : 204 ).
Model pembelajaran PBL merupakan cara penyajian bahan pelajaran dengan
menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisi dan didintesis dalam
usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh mahasiswa. Permasalahan itu dapat
diajukan atau diberikan dosen kepada mahasiswa, dari mahasiswa bersama dosen, atau
dari mahasiswa sendiri, yang kemudian dijadikan pembahasan dan dicari pemecahannya
sebagai kegiatan- kegiatan belajar mahasiswa ( Saleh, 2013 : 204 ).
Barrows dalam Saleh ( 2013 : 204 ). mendefinisikan PBM sebagai sebuah strategi
pembelajaran yang hasil maupun proses belajar-mengajarnya diarahkan kepada
pengetahuan dan penyelesaian suatu masalah. PBM merupakan strategi belajar yang
membelajarkan mahasiswa untuk memecahkan masalah dan merefleksikannya dengan
pengalaman mereka.
Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah. Menurut Glazer
(2001) menyatakan bahwa PBL menekankan belajar sebagai proses yang melibatkan pem-
ecahan masalah dan berpikir kritis dalam konteks yang sebenarnya. Glazer selanjutnya
mengemukakan bahwa PBL memberikan ke- sempatan kepada siswa untuk mempelajari hal
lebih luas yang berfokus pada mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang aktif
dan bertanggung jawab. Melalui PBL siswa memperoleh pengalaman dalam menangani
masalah-masalah yang realistis, dan menekan- an pada penggunaan komunikasi, kerjasama,
dan sumber-sumber yang ada untuk meru- muskan ide dan mengembangkan keterampi- lan
penalaran. Hasil penelitian Abdullah dan Ridwan (2008) menyatakan model PBL dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Penelitian
Hasrul Bakri (2009), menyatakan bahwa PBL mampu meningkatkan minat belajar praktek
menggulung trafo. Hasil penelitian Oon-Seng Tan (2008) menyatakan PBL dapat mengantar
kan siswa untuk menyelesaikan permasalahan hidup melalui proses menemukan, belajar dan
berpikir secara independen . Melihat karakter- istik dari PBL, model pembelajaran tersebut
sesuai jika diterapkan pada pembelajaran ma- teri perbaikan dan setting ulang PC ( Suyanto
dan Nafiah, 2014: 127- 128).
Problem Based Learning adalah seoerangkat model mengajar yang menggunakan
masalah sebagai focus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, materi dan
pengaturan diri ( Hmelo- Silver, 2004: Serafino dan Cicchelli, 2005 Egen dan Kaucak, 2012 :
307 ) dalam Suyanto dan Nafiah. PBL merupakan suatu pendekatan yang menggunakan
masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentng cara
berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan
dankonsep yang esensial dari materi pelajaran. PBL merupakan pembelajaran berdasarkan
Teori Kognitif yang didalamnya termasuk teori belajar konstruktivisme. Menurut teori
konstruktivisme keterampilan berpikir dan memecahkan masalah dapat dikembangkan jika
peserta didik melakukan sendiri, menemukan, dan memindahkan kekomplekan pengetahuan
yang ada ( Suyanto dan Nafiah, 2014 : 129-130 ).
Model PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Dalam
PBL atau pembelajaran berbasis masalah ini siswa memegang peran yang dominan dalam
pembentukkan pengetahuan mereka dalam pelaksanaan pembelajaran dibandingkan dengan
guru ( Abdurrozak,dkk. 2016 : 873 ).
Menurut Barrow ( dalam Huda, 2013, hlm 271 ) ( dalam Abdurrozak, dkk, 2016:
873). Mendefiniskan Problem Based Learning atau PBL sebagai “ pembelajaran yang
diperoleh melalui proses menuju pemahaman atau resolusi suatu masalah”. Sementara itu
menurut Sujana (2014, hlm. 134 dalam Abdurrozak, dkk, 2016 : 873 ).“PBL adalah suatu
pembelajaran yang menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan berfungsi
bagi siswa, sehingga masalah tersebut dapat dijadikan batu loncatan untuk melakukan
investigasi dan penelitian”. Maka dari itu PBL merupakan sebuah pembelajaran yang
menuntut siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri melalui permasalahan.
Menurut Arends (2008:41 dalam Surjono dan Wulandari, 2013 :180). PBL merupakan
pembelajaran yang memiliki esensi berupa menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang
autentik dan bermakna kepada siswa. Sebagai tambahan, dalam PBL peran guru adalah
menyodorkan berbagai ma-salah autentik sehingga jelas bahwa dituntut keaktifan siswa untuk
dapat menyelesaikan masalah tersebut. Setelah masalah diperoleh maka selanjutnya
melakukan perumusan masalah, dari masalah masalah tersebut kemudian dipecahkan secara
bersama sama dengan didiskusikan. Saat pemecahan masalah tersebut akan terjadi pertukaran
informasi antara siswa yang satu dengan yang lainnya sehingga permasalahan yang telah
dirumuskan dapat terpecahkan. Sumber informasi tidak hanya dari guru akan tetapi dapat dari
berbagai sumber. Guru disini berperan sebagai fasili-tator untuk mengarahkan permasalahan
sehingga saat diskusi tetap fokus pada tujuan pencapaian kompetensi.
2.1.3 Tujuan Problem Based Learning
Tujuan PBL menurut penelitian yang dikembangkan oleh Hmelo-silver (2004) dalam
Huriah ( 2018 : 12- 13), yaitu :
1. Mengkontruksi luas dan fleksibilitas pengetahuan dasar.
2. Dalam PBL, mahasiswa termotivasi untuk memperluaskan pengetahuan dasar yang
dimiliki dengan memecahkan masalah. Mahasiswa yang mengikuti kegiatan PBL dapat
mencapai pengetahuan seluas-luasnya terkait topik pembelajaran yang terdapat dalam
kasus.
3. Mengembangkan efektivitas ketrampilan pemecahan masalah.
4. Proses diskusi PBL, menjadi mahasiswa belajar bagaimana memecahkan masalah
dengan cara berdiskusi dengan anggota lain. Mahasiswa dapat belajar secara efektif
ketrampilan pemecahan masalah.
5. Mengembangkan pengarahkan diri dan ketrampilan belajar sepanjang hayat.
6. Pada proses diskusi PBL terjadi interaksi antar anggota. Proses ini menjadikan
mahasiswa belajar berkomonikasi yang efektif dan toleransi sesama anggota.
7. Mahasiswa menjadi kaloborator yang efektif.
8. Pada saat diskusi PBL, mahasiswa akan belajar bagaiamana menyakinkan anggota lain
agar dapat menerima ide-ide yang disampaikan.
9. Menjadikan motivasi intriksi dalam belajar.
10. Masalah yang menarik dapat meningkatkan motivasi mahasiswa dalam belajar,
dibandingkan dengan metode kuliah kelas dimana mereka hanya duduk mendengarkan
(pembelajaran pasif).
2.1.4 Karakteristik Model Problem Based Learning ( PBL )
Menurut Saleh (2013:205). Didalam strategi PBM ( pembelajaran berbasis masalah )
terdapat tiga ciri utama:
Pertama, strategi PBM (Pembelajaran berbasis masalah) merupakan rangkaian aktivitas
pembelajaran, artinya dalam pembelajaran ini tidak mengharapkan mahasiswa hanya sekedar
mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi
PBM mahasiswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya
menyimpulkannya.
Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi PBM
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah
tidak mungkin ada proses pembelajaran.
Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir
secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif
dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya
berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses
penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Ciri lainnya dalam model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning),
dosen lebih banyak berperan sebagai fasilitator, pembimbing dan motivator. Dosen
mengajukan masalah otentik/mengorientasikan mahasiswa kepada permasalahan nyata (real
world), memfasilitasi/ membimbing dalam proses penyelidikan, menfasilitasi dialog antara
mahasiswa, menyediakan bahan ajar mahasiswa serta memberikan dukungan dalam upaya
meningkatkan temuan dan perkembangan intektual mahasiswa.
Keberhasilan model PBM sangat tergantung pada ketersediaan sumber belajar bagi
mahasiswa, alat-alat untuk menguji jawaban atau dugaan, menuntut adanya perlengkapan
praktikum, memerlukan waktu yang cukup apalagi data harus diperoleh dari lapangan, serta
kemampuan dosen dalam mengangkat dan merumuskan masalah.
Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow, Min Liu (publikasi tahun 2005)
( dalam Saleh, 2013 : 206 ). menjelaskan karakteristik dari PBL, yaitu :
1. Learning is student-centered
Proses pembelajaran dalam PBL lebih menitikberatkan kepada mahasiswa sebagai
orang belajar. Oleh karena itu, PBL didukung juga oleh teori konstruktivisme dimana
mahasiswa didorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri.
2. Authentic problems from the organizing focus for learning
Masalah yang disajikan kepada mahasiswa adalah masalah yang otentik sehingga
mahasiswa mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat
menerapkannya dalam kehidupan profesionalnya nanti.
3. New information is acquired through self-directed learning
Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja mahasiswa belum mengetahui dan
memahami semua pengetahuan prasyaratnya, sehingga mahasiswa berusaha untuk
mencari sendiri melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya.
4. Learning occurs in small groups
Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha membangun
pengetahuan secara kolaborativ, maka PBL dilaksakan dalam kelompok kecil.
Kelompok yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan penetapan tujuan
yang jelas.
5. Teachers act as facilitators.
Pada pelaksanaan PBL, dosen hanya berperan sebagai fasilitator. Namun, dosen harus
selalu memantau perkembangan aktivitas mahasiswa dan mendorong mahasiswa agar
mencapai target yang hendak dicapai.
Selain itu, Menurut Saleh ( 2013: 206 – 207 ). karakteristik Pembelajaran Berbasis
Masalah dapat dirinci sebagai berikut:
a. Permasalahan menjadi starting point dalam belajar.
b. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak
terstruktur.
c. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective).
d. Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa, sikap dan
kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang
baru dlam belajar.
e. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama.
f. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaanya da evaluasi sumber
informasi merupakan proses yang esensial dalam PBL.
g. Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif.
h. Pengembangan ketrampilan inquiry (menemukan) dan pemecahan masalah sama
pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah
permasalahan.
i. Keterbuakaan proses dalam PBL meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses
belajar.
j. PBL melibatkan evaluasi dan review pengalaman mahasiswa dan proses belajar.
Menurut Huriah ( 2018 : 13-14), sejumlah karakteristik mengenai problem based
learning, yaitu :
1. Setiap mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap sasaran capaian pembelajaran
mereka sendiri.
2. Triger masalah yang dipakai di dalam problem based learning memberikan gambaran
situasi nyata dan memberikan kebebasan pada mahasiswa dalam mencari
pemecahannya.
3. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda memantang pengetahuan yang dimiliki
mahasiswa.
4. Apa yang terjadi selama belajar mandiri, mahasiswa menerapkan kembali dengan cara
menganalisi ulang penyelesaiannya.
5. Analisis akhir dari kegiatan pemecahan masalah dan diskusi tentang konsep dan
prinsip yang dipelajari merupakan hal yang terpenting.
6. Penilaian individu dan penilaian peer dilakukan setiap akhir kegiatan.
7. Model pembelajaran yang mencakup keseluruhan, berbagai disiplin ilmu dan subjek
belajar.
8. Hakikat pembelajaran ini adalah kalobarasi, komunikasi dan kooperatif.
9. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi
sumber informasi merupakan proses PBL.
10. Pengembangan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan isi
pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan.
11. Kegiatan PBL membawa kearah nilau pada situasi nyata.
12. Ujian mahasiswa harus mengukur kemajuan mahasiswa terhadap tujuan belajarnya.
13. Kurikulum PBL harus berdasarkan pedagogic dan bukan bagian dari kurikulum
didaktik.
2.1.5 Langkah – Langkah Model Problem Based Learning
Terdapat beberapa langkah, protokol dan prosedur PBM. Barret (2005 dalam Saleh,
2013: 210 - 211) menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan PBL sebagai berikut:
a) Mahasiswa diberi permasalahan oleh dosen (atau permasalahan diungkap dari
pengalaman mahasiswa ).
b) Mahasiswa melakukan diskusi dalam kelompok kecil melakukan hal-hal berikut:
1. Mengklarifikasi kasus permasalahan yang diberikan
2. Mendefinisikan masalah
3. Melakukan tukar pikiran berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.
4. Menetapkan hal-hal yang diperlukan untuk enyelesaikan masalah.
c) Mahasiswa melakukan kajian secara independen berkaitan dengan masalah yang
harus diselesaikan. Mereka dapat melakukannya dengan cara mencari sumber di
perpustakaan, database, internet, sumber personal atau melakukan observasi
d) Mahasiswa kembali kepada kelompok PBL untuk melakukan tukar informasi,
pembelajaran teman sejawat, dan bekerjasama dalam menyelesaikan masalah.
e) Mahasiswa menyajikan solusi yang mereka temukan
f) Mahasiswa dibantu oleh dosen melakukan evaluasi berkaitan dengan seluruh
kegiatan pembelajaran. Hal ini meliputi sejauhmana pengetahuan yang sudah
diperoleh oleh mahasiswa serta bagaimana peran masing-masing mahasiswa dalam
kelompok.
Sedangkan Menurut Arends (2008:55 dalam Suyanto dan Nafiah, 2014: 130). langkah-
langkah dalam melaksanakan PBL ada 5 fase yaitu:
1) Mengorientasi siswa pada masalah.
2) Mengorganisasi siswa untuk meneliti
3) Membantu investigasi mandiri dan berkelompok
4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Permasalahan yang digunakan dalam PBL adalah permasalahan yang dihadapi di dunia
nyata. Meskipun kemampuan individual dituntut bagi setiap siswa, tetapi dalam proses
belajar dalam PBL siswa belajar dalam kelompok untuk memahami persoalan yang dihadapi.
Kemudian siswa belajar secara individu untuk memperoleh informasi tambahan yang
berhubungan dengan pemecahan masalah. Peran guru dalam PBL yaitu sebagai fasilitator
dalam proses pembelajaran.
Tabel 1. Langkah-langkah PBL menurut Abdurrozak, dkk (2016 : 874).
[Link] Perilaku Guru
1 Fase 1:
a. Membahas tujuan pembelajaran.
Memberikan orientasi b. Mendeskripsikan berbagai kebutuhan penting.
mengenai permasalahan c. Memotivasi siswa agar dapat terlibat dalam
kepada siswa kegiatan mengatasi masalah.
2 Fase 2:
Mengorganisasikan siswa agar d. Membantu siswa mendefinisikan dan
dapat melakukan penelitian mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang terkait
dengan permasalahan yang dihadapi
3 Fase 3:
Membantu siswa melakukan e. Mendorong siswa untuk mendapatkan informasi
investigasi secara mandiri dan yang tepat, melaksanakan eksperimen, serta
Kelompok mencari penjelasan dan solusi.
4 Fase 4:
Mengembangkan dan f. Membantu siswa dalam merencanakan dan
mempresentasikan artefak dan menyiapkan artefak-artefak yagn tepat seperti
exhibit laporan, rekaman video, serta model-model.
g. Membantu siswa untuk menyampaikannya kepada
. orang lain.
5 Fase 5:
Menganalisis dan mengevaluasi h. Membantu siswa untuk melakukan refleksi
proses-proses dalam mengatasi terhadap investigasinya serta proses-proses yang
masalah mereka gunakan.
Menurut Efendi (2008 : 125- 126), problem based learning merupakan metode belajar
yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru. Dalam metode ini, peserta didik diberikan suatu
permasalahan. Selanjutnya secara berkelompok (disarankan kelompok kecil : 8-10 orang)
mencari solusi atas permasalahan tersebut. Untuk mendapatkan solusi, mereka diharapkan
secara katif mencari informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber. Informasi dapat
diperoleh dari bahan bacaan (literature), narasumber, dan sebagainya.
Untuk dapat memperoleh hasil yang diharapkan, maka terdapat langkah-langkah yang
dilakukan dalam metode PBL.
1. Identifikasi masalah
Mahasiswa membaca masalah yang diberikan dan mendiskusikannya. Mereka dapat
terstimulus untuk “mendiagnosis” masalah tersebut dengan segera. Mereka harus
didorong untuk berpikirkan lebih dalam pertanyaan “apa”, “mengapa”,
“bagaimana”,”kapan”, dan sebagainya.
2. Ekplorasi pengetahuan yang telah dimiliki
Klarifikasi istilah yang digunakan dalam masalah beserta maknanya. Mahasiswa datang
dengan pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya, termasuk dari pengalam hidup.
Kita tahu bahwa seseorang dapat memahami materi atau pengetahuan baru jika telah
pernah tahu tentang topik tersebut.
3. Menetapkan hipotesis
Pada tahap ini diharapkan mahasiswa dapat membangun hipotesis dari permasalahan
yang diberikan.
4. Identifikasi isu-isu yang dipelajari
Isu pembelajaran dapat didefinisikan sebagai pertanyaan yang tak dapat dijawab
dengan pengetahuan yang masih dimiliki mahasiswa. Pada tahap ini mahasiswa harus
menyadari apa yang menjadi isu pembelajaran, baik bagi kelompok maupun tiap
individu.
5. Belajar mandiri
Pada tahap ini harus jelas isu pembelajaran yang menjadi tujuan bagi tiap mahasiswa.
Pada area tertentu, perlu ditentukan bagian yang merupakan bagian dari belajar mandiri
mahasiswa. Hal ini bermanfaat sebelum masuk pertemuan (tutorial) berikutnya.
6. Re-evaluasi dan penerapan pengetahuan bary terhadap masalah
Mahasiswa berkumpul kembali setelah membahas isu pembelajaran pada tahap
sebelumnya. Pada tahap inilah ilmu atau pengetahuan yang beru diterapkan pada
permasalahan yang diberikan diawal.
7. Pengkajian dan refleksi
Hal ini termasuk melakukan review terhadap pembelajaran yang telah diraih, sekaligus
kesempatan bagi kelompok untuk memberikan umpan balik mengenai proses yang
telah berlangsung.
2.1.6 Kelebihan Model Pembelajaran Berbasis Problem Base Learning (PBL)
Menurut Huriah ( 2018 : 22-23), problem based learning merupakan bagian dari strategi
pembelajaran student center. Terdapat beberapa kelebihan dalam metode PBL, yaitu :
Kelebihan Problem Based learning
a. PBL berpusat pada mahasiswa : memotivasi pembelajaran aktif, meningkatkan
pemahaman, dan stimulus seseorang untuk terus belajar selama hidupnya.
b. Kompentensi umum : PBL memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan sikap dan
ketrampilan umum yang dikehendaki di masa mendatang.
c. Intgrasi : PBL memfasilitasi integrasi kurikulum inti.
d. Motivasi : PBL menyenangkan bagi tutor dan mahasiswa dalam proses melibatkan
mahasiswa dalam proses pembelajaran.
e. Pembelajaran mendalam : PBL meningkatkan kemampuan pemahaman mendalam bagi
mahasiswa.
f. Pendekatan konstruktif : mahasiswa aktif berdasarkan pengetahuan dan membangun
kerangka konseptual dari pengetahuan tersebut.
Menurut Saleh (2013 : 209–210). Sebagai suatu strategi pembelajaran, metode PBL
memiliki beberapa keunggulan di antaranya:
a. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teori teknik yang cukup bagus untuk
memahami suatu pelajaran.
b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan mahasiswa serta memberikan
kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi mahasiswa.
c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran mahasiswa.
d. Pemecahan masalah dapat membantu mahasiswa bagaimana mentransfer pengetahuan
mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e. Pemecahan masalah dapat membantu mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan
barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping
itu pemecahan masalah itu juga dapat mendorong mahasiswa untuk melakukan evaluasi
baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
f. Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada mahasiswa bahwa setiap mata
pelajaran (matematika, IPA, sejarah dan sebagainya), pada dasarnya merupakan cara
berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh mahasiswa, bukan hanya sekedar
belajar dari dosen atau dari buku-buku saja.
g. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai mahasiswa.
h. Pemecahan maslah dapat mengembangka kemampuan mereka untuk menyesuaikan
dengan pengetahuan baru.
i. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata
j. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat mahasiswa untuk secara terus-
menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
Menurut Wasonowati, dkk (2014: 68). Model PBL dipilih karena mempunyai beberapa
kelebihan, antara lain adalah:
a) Pemecahan masalah yang diberikan dapat menantang dan membangkitkan kemampuan
berpikir kritis siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan suatu pengetahuan
baru.
b) Pembelajaran dengan model PBL dianggap lebih menyenangkan dan lebih disukai
siswa.
c) Model PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, dan
d) Model PBL dapat memberikan kesempatan siswa untuk menerapkan pengetahuan yang
mereka miliki ke dalam dunia nyata.
2.1.7 Kelemahan Model Berbasis Problem Based Learning (PBL)
Menurut Huriah ( 2018 : 22-23), problem based learning merupakan bagian dari strategi
pembelajaran student center. Terdapat beberapa kekurangan dalam metode PBL, yaitu:
Kekurangan Problem based learning :
a. Tutor tidak dapat mengajar : tutor merasa nyaman dengan metode tradisional sehingga
kemungkinan PBL akan terasa membosankan dan sulit.
b. Sumber daya manusia : lebih banyak staf yang terlibat dalam proses tutorial.
c. Model peran : kemungkinan mahasiswa mengalami kekurangan akses pada dosen yang
berkualitas di mana dalam kurikulum tradisional memberikan kuliah dalam kelompok
besar.
d. Sumber-sumber lain : sebagaian besar mahasiswa memerlukan akses pada
perpustakaan yang sama dan internet secara bersamaan pula.
e. Informasi berlebihan : mahasiswa kemungkinan tidak yakin dengan seberapa banyak
belajar mandiri yang diperlukan dan informasi apa yang relavan dan berguna.
Menurut Saleh ( 2013: 209-210 ) Beberapa kelemahan strategi pembelajaran berbasis
masalah antara lain:
a. Manakala mahasiswa tidak memilikiminat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa
masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan measa enggan untuk
mencoba.
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup
waktu untuk persiapan tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memcahkan
masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang ingin mereka
pelajari.
c. PBL tidak dapat diterapkan untuk setaiap materi pelaran ada bagian dosen berperan
aktif dalam menyajikan materi. PBL lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntu
kemampuan tertentu yang kaitannya dengan pemecahan masalah.
d. Dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman mahasiswa yang tinggi akan
terjadi kesulitan dalam pembangian tugas.
e. Kurang cocok untuk diterapka di Sekolah Dasae Karena masalah kemampuan bekerja
dalam kelompok PBL sangat cocok untuk mahasiswa perguruan tinggi atau paling tidak
untuk sekolah menengah.
f. PBL biasanya membutuhkan waktuyang tidak sedikit sehingga dikhawatirkan tidak
dapat menjangkau seluruh konten yang diharapkan walaupun PBL berfokus pada
masalah bukan konten materi.
g. Membutuhkan kemampuan dosen yang mampu mendorong kerja mahasiswa dalam
kelompok secara efektif, artinya dosen harus memiliki kemampuan memotivasi
mahasiswa dengan baik.
h. Adakalanya sumber yang dibutuhkan tidak tersedia dengan lengkap.
2.1.8 Keterkaitan PBL dan Hasil Belajar
Menurut Orhan & Ruhan (2007 dalam Suyanto dan Nafiah, 2014 : 130-131).
Menyatakan bahwa model PBL memberikan dampak positif pada prestasi akademik
siswa dan sikap siswa terhadap sains. Dalam pelaksanaan PBL di sekolah kesehatan,
PBL memberi dampak positif terhadap kompetensi dokter dalam di- mensi sosial dan
kognitif (Gerald Choon-Huat Koh, Hoon Eng Khoo, Mee Lian Wong & David
Koh,2008). Dalam penelitian yang di- laksanakan oleh Hasrul Bakri (2009), menun-
jukkan bahwa penerapan PBL di SMK dalam pembelajaran praktek dapat
meningkatkan minat dan kemampuan praktek siswa dalam praktek menggulung trafo.
Penelitian Ade Gafar Abdullah dan Taufik Ridwan (2008), menyatakan bahwa dalam
penerapan PBL ter- dapat peningkatan hasil belajar siswa.
2.1.9 Peran Partisipan Dalam Problem Based Learning
Menurut Suradijono (2009) di dalam Efendi (2008 : 127- 128), selama
berlangsungnya proses belajar dalam PBL, mahasiswa akan mendapatkan bimbingan
dari narasumber atau fasilitator, bergantung pada tahapan kegiatan yang dijalankan.
Tiap tiap elemen dalam PBL memiliki peran spesifik sebagai berikut :
1. Narasumber
Peran narasumber dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut.
a. Menyusun kasus pemicu (trigger problems)
b. Sebagai sumber pembelajaran untuk informasi yang tidak ditemukan dalam
sumber pembelajarab berupa bahan cetak atau elektronik.
c. Melakukan evaluasi hasil pembelajaran.
2. Tutor/ fasilitator
Secara umum peran fasilitator adalah memantau dan memastikan kelancaran kerja
kelompok serta melakukan evaluasi terhadap efektivitas proses belajar kelompok.
Secara lebih rinci peran fasilitator adalah sebagi berikut :
a) Pada pertemuan pertama, mengatur kelompok dan menciptakan suasana yang
nyaman.
b) Memastikan bahwa sebelum proses pembelajaran dimulai setiap kelompok
telah memiliki seorang anggota yang bertugas membaca materi dengan suara
dikeraskan. Sementara itu teman-teman yang lain mendengarkan da nada
seorang anggota yang mencatat informasi yang penting sepanjang jalannya
diskusi.
c) Memberikan materi atau informasi pada saat yang tepat, sesuai dengan
perkembangan kelompok.
d) Memastikan bahwa setiap sesi diskusi kelompok diakhiri dengan self-
evaluation.
e) Menjaga agar kelompok terus memusatkan perhatian pada pencapaian tujuan.
f) Memantau jalannya diskusi dan membuat catatan tentang berbagi masalah
yang muncul dalam proses belajar, serta menjaga agar proses belajar terus
berlangsung, agar tidak ada fase dalam proses pembelajaran yang terlewati
atau terabaikan dan agar setiap fase dilakukan dalam urutan yang tepat.
g) Menjaga motivasi mahasiswa dengan mempertahankan unsur tantangan dalam
penyelesaian tugas.
h) Memberikan pengarahan agar dapat membantu mahasiswa keluar dari
kesulitannya.
i) Membimbingan proses belajar mahasiswa dengan mengajukan pertanyaan
yang tepat pada saat yang tepat. Pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya
merupakan pertanyaan tentang berbagai konsep, ide, penjelasan, dan sudut
pandang.
j) Mengevaluasi kegiatan belajar mahasiswa, termasuk pertisipasinya dalam
proses kelompok. Pengajar perlu memastikan bahwa setiap mahasiswa terlibat
dalam proses kelompok serta berbagi pemikiran dan pandangan.
k) Mengevaluasi penerapan PBL yang telah dilakukan.
2.1.10 Evaluasi Dalam Problem Based Learning
Menurut Efendi (2008 : 127- 128), tidak selamanya proses belajar dengan metode
PBL berjalan dengan lancar. Ada beberapa hambatan yang dapat muncul. Hal yang
paling sering terjadi adalah kurang terbiasanya peserta didik dan pengajajar dengan
metode ini. Peserta didik dan pengajar masih terbawa kebiasaan materi konvensional,
di mana pemberian materi hanya terjadi satu arah saja. Faktor penghambat lain adalah
kurangnya waktu. Proses PBL terkadang membutuhkan waktu yang lebih banyak.
Peserta didik terkadang memerlukan waktu untuk menghadapi persoalan yang
diberikan. Sementara itu, waktu pelaksanaan PBL harus disesuaikan dengan beban
kurikulum. Untuk mengetahui apakah metode PBL berhasil atau tidak, maka
dilakukan proses evaluasi/penilaian. Dalam pembelajaran yang berorientasi pada
proses, terdapat dua komponen pokok yang perlu diperhatikan dalam proses evaluasi.
1. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa
2. Proses belajar yang dilakukan oleh mahasiswa
2.1.11 Komponen – Komponen Model PBL
1. Sintaks Model PBL.
Syntac pembelajaran merupakan langkah- langkah operasional pembelajaran yang
sifatnya baku. Langkah langkah ini dipilihb sesuai dengan modek yang di
kembangkan. Syntax diperlukan dalam pengembangan sebuah model pembelajaran
supaya langkah-langkah yang dirancang tersebut dapat dijadikan pedoman bagi guru
yang akan menerapkannya (Andayani, 2015 :136).
Menurut Japar ( 2015:16 ).Sintaks model PBMSK yang dikembangkan terdiri atas
tujuh fase, yaitu:
1. fase-1 menyampaikan tujuan dan orientasi siswa pada masalah,
2. fase-2 mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar,
3. fase-3 membimbing penyelidikan individual maupun kelompok,
4. fase- 4 mengembangkan dan menyajikan hasil karya,
5. fase-5 menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah,
6. fase-6 evaluasi, dan
7. fase-7 memberi penghargaan,
2. Sistem Sosial Model PBL.
Social system atau sistem sosial ialah proses belajar mengenali, menganalisis dan
mempertibangkan eksistensi dan perilaku siswa dan guru sebagai sebuah istitusi sosial
dalam berbagai ranah dan pebelajaran. Peran guru dn siswa disini lebih dilihat sebagai
makhluk sosial dan bagian dari kelompok kepentingan, bukan sebagai idividu
(Andayani, 2015 :136).
Menurut Suradi (2005: 39-40) dalam Japar (2015: 16). Komunikasi antara guru
dengan siswa dapat dibagi dalam lima pola, yaitu:
1. pola ”Guru (G) – Siswa (S)”,
2. pola ” Guru (G) – Siswa (S) – Guru (G),
3. pola ”Guru (G) – Siswa (S) – Siswa (S)”,
4. pola ”Guru (G) – Siswa (S), Siswa (S) – Guru (G), Siswa (S) – Siswa (S), dan
5. pola melingkar,
3. Sistem Reaksi Model PBL
Principles of reaction atau prinsip reaksi adalah suatu prinsip yang
menggambarkan bagaimana reaksi siswa terhadap aktivitas pembelajaran yang
diterapkan guru. Dalam penerapan sebuah model pembelajaran, reaksis siswa menjadi
aktivitas yang terencana, tidak terjadi secara serta merta. Karena itu guru di tuntut
agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara
tuntas perilaku-perilaku, sikap-sikap yang akan diperoleh pada saat dan setelah
pembelajaran berlangsung. Demikian pula sebaliknya, guru harus bereaksi terhadapa
aksi siswa dalam semua peristiwa serta tidak mengrahkan aspek yang sempit
melainkan ke suau kesatuan yang utuh dan bermakna (Andayani,2015 : 137).
Prinsip reaksi model PBMSK. Menurut Joyce, Weil, & Shower (2009) dalam
japar (2015:16). bahwa prinsip reaksi merupakan pedoman bagi guru dalam
menghargai dan merespons stimulus berupa prilaku-prilaku siswa dalam proses
pembelajaran.
4. Sistem pendukung model PBL.
Support System atau sistem pendukung adalah komponen-komponen yang
menjadi pendukung dalan penerapan sebuah model pembelajaran. Sistem pendukung
ini merupakan sebuah sistem yang menyediakan kemampuan untuk penyelesaian
masalah dan menjamin terjadinya interaksi guru siswa untuk menyelesaikan
permasalahan pembelajaran. Bentuk sistem pendukung dapat berupa sekumpulan
prosedur berbasis model untuk membantu guru dalam mengambil keputusan dalam
pembelajaran (Andayani,2015 : 137-138).
Menurut Joyce & Weil (2009) dalam Japar (2015:16). bahwa yang dimaksud
sistem pendukung adalah segala sarana, bahan, dan alat yang diperlukan untuk
melaksanakan model tersebut (Japar,2015:16).
Dampak instruksional dan dampak pengiring.
Menurut Joyce & Weil (2009) dalam Japar (2015:16). Bahwa dampak instruksional
adalah tujuan utama yang bersifat segera/mendesak untuk dicapai (instructional effect) yaitu
hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan para siswa pada tujuan yang
diharapkan sedangkan dampak pengikut/pengiring yaitu hasil belajar lainnya yang dihasilkan
oleh suatu proses pembelajaran, sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami
langsung oleh para siswa tanpa pengarahan langsung dari guru.
Menurut Huriah (2018 : 19-20), di dalam aktivitas diskusi tutorial problem based
learning terdapat tutor dan mahasiswa, juga dibutuhkan beberapa sarana dan prasarana untuk
mendukung kegiatan pembelajaran. Beberapa fasilitas yang diperlukan, diantaranya:
1. Ruang diskusi tutor yang berfungsi sebagai tempat transit dan apersepsi antara
penanggung jawab mata kuliah/blok dan tutor. Ruang tutor dilengkapi meja, kursi dan
perlengakapan lainnya yang menunjang kegiatan persiapan tutorial bagi tutor.
2. Buku penilaian kegiatan tutorial yang berfungsi mengevaluasi kesiapan dan keaktifan
dalam pelaksanaan diskusi. Selesai proses diskusi, tutor harus selesai menilai setiap
mahasiswa di buku penilaian tutorial sehingga admin dapat langsung menginput nilai.
3. Sesorang petugas yang bertugas untuk mempersiapkan kebutuhan terkait pelaksanaan
tutorial dan bertugas menginput nilai kegiatan tutorial.
4. Ruang kecil yang cukup nyaman untuk 8 sampai 10 orang, lengkap dengan meja, kursi,
papan tulis, dan penerangan yang cukup. Kondisi ruangan
5. Seperangkat komputer untuk petugas admin yang akan melakukan input nilai kegiatan
tutorial.
6. Perpustakaan mini yang harus dilengkapi dengan referensi baru, sesuai dengan materi
yang dibahas dalam diskusi kelompok. Referensi dapat berupa buku, jurnal, CD-ROM,
kaset video, akses internet. Setelah selesai diskusi kelompok mahasiswa diberi
kesempatan untuk penelusuran pustaka guna mencari informasi terkait dengan modul.
7. Ruang diskusi diluar gedung akan sangat membantu, misalnya taman yang rindang,
sejuk, tidak bising dan dilengkapi dengan tempat duduk melingkar, akan sangat
mendukung tugas mahasiswa dalam upaya self directed learning.
8. Fasilitas wifi atau internet di dalam ruang diskusi yang memungkinkan mahasiswa
maupun dosen untuk mengakses jurnal.
9. E-learning system untuk mengupload kuis atau mini kuis pada pertemuan kedua. E-
Learning juga digunakan untuk mengupload laporan tutorial mahasiswa. Hal ini sangat
penting dalam meningkatkan keaktifan mahasiswa terkait keterlibatab dalam e-learning.
2.2 KAJIAN KRITIS
Siswa dapat dikatakan belajar apabila terjadi proses perubahan tingkah laku.
Pembelajaran dikatakan berhasil apabila tujuan dari pembelajaran tersebut tercapai
dengan baik. Untuk mengetahui tercapainya tujuan dari sebuah proses pembelajaran
maka perlu dilakukan evaluasi atau penilaian pada akhir proses pembelajaran. Dalam
mencapai tujuan tersebut maka diperlukan sebuah model pembelajaran yang tepat dan
efektif.
Model PBL (Problem-Based Learning) adalah model pembelajaran yang melatih
dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada
masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir
tingkat tinggi. Dalam model pembelajaran ini, peranan guru adalah menyodorkan
berbagai masalah, memberikan pertanyaan, dan memfasilitasi investigasi dan dialog.
Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menetapkan topik masalah
yang akan dibahas, walaupun sebenarnya guru telah menetapkan topik masalah apa yang
harus dibahas. Hal yang paling utama adalah guru menyediakan perancah atau kerangka
pendukung yang dapat meningkatkan kemampuan penyelidikan dan intelegensi peserta
didik dalam berpikir. Kondisi yang tetap harus dipelihara dalam model pembelajaran
PBL (Problem-Based Learning) ini adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi,
demokrasi, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal.
Tidak selamanya proses belajar dengan metode PBL berjalan dengan lancer. Ada
beberapa hambatan yang dapat muncul. Hal yang paling sering terjadi adalah kurang
terbiasanya peserta didik dan pengajajar dengan metode ini. Peserta didik dan pengajar
masih terbawa kebiasaan materi konvensional, di mana pemberian materi hanya terjadi
satu arah saja. Faktor penghambat lain adalah kurangnya waktu. Proses PBL terkadang
membutuhkan waktu yang lebih banyak. Peserta didik terkadang memerlukan waktu
untuk menghadapi persoalan yang diberikan. Sementara itu, waktu pelaksanaan PBL
harus disesuaikan dengan beban kurikulum. Untuk mengetahui apakah metode PBL
berhasil atau tidak, maka dilakukan proses evaluasi/penilaian.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembelajaran merupakan upaya untuk menciptakan suatu kondisi bagi terciptanya
suatu kegiatan belajar yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman
belajar yang memadai. Untuk mengetahui tercapainya tujuan dari sebuah proses
pembelajaran maka perlu dilakukan evaluasi atau penilaian pada akhir proses
pembelajaran. Dalam mencapai tujuan tersebut maka diperlukan sebuah model
pembelajaran yang tepat dan efektif.
Model PBL (Problem-Based Learning) adalah model pembelajaran yang melatih
dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada
masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir
tingkat tinggi. Dalam model pembelajaran ini, peranan guru adalah menyodorkan
berbagai masalah, memberikan pertanyaan, dan memfasilitasi investigasi dan dialog.
Model pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang menekankan
padaproses penyelesaian masalah.
Ciri- ciri dari model pembelajaran berbasis PBL ini anatar lain: aktivitas
pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi PBM menempatkan
masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. strategi PBM (Pembelajaran
berbasis masalah) merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam
pembelajaran ini tidak mengharapkan mahasiswa hanya sekedar mendengarkan,
mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi PBM
mahasiswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya
menyimpulkannya. pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan
berpikir secara ilmiah.
Pembelajaran berbasis masala melibatkan peserta didik dalam proses
pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada peserta didik, yang
mengembangkan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk menghadapi
tantangan dalam kehidupan dan karir, dalam lingkungan yang bertambah kompleks
sekarang ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrozak, dkk. 2016. Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan
Berpikir Kreatif Siswa. Jurnal pena ilmiah. Vol. 1, No. 1.
Andayani. 2015. Problema dan Aksioma : Dalam Metodologi Pembelajaran Bahasa
Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.
Dwi,[Link],[Link].2014. Sejarah Indonesia. Jakarta : Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Efendi, F. N. 2008. Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Harmadi.2017. pengembangan model dan metode pembelajaran dalam dinamika belajar
siswa. Yogyakarta : Deepublish.
Huriah, T. 2018. Metode Student Center Learning. Jakarta : Prenada Media Group.
Japar. 2015. Model Pembelajaran Berbasis Masalah Setting Kooperatif Untuk Meningkatkan
Daya Matematis Dan Keterampilan Sosial. Journal of EST. ISSN : 2460-1497. Vol.1.
No.1.
Khosim, N. 2017. Model model pembelajaran. Bandung : Sang Surya.
Nafiah, Yunin Nurun dan Suyanto, Wardan. 2014. Penerapan model problem-based learning
untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Jurnal
pendidikan vokasi. Vol 4, nomor 1.
Nata,A. 2009. Perspektif islam tentang starategi pembelajaran. Jakarta : Kencana.
Saleh, Marhamah. 2013. Strategi pembelajaran Fiqh dengan Problem- Based Learning. Jurnal
ilmiah didaktika. Vol XIV. No,1.
Surjono, Herman dwi dan Wulandari, Bekti.. 2013. Pengaruh Problem-Based Learning
Terhadap Hasil Belajar Ditinjau Dari Motivasi Belajar Plc Di Smk. Jurnal penidikan
vokasi. Vol 3, Nomor 2.
Wasonowati, R.R.T, Dkk. 2014. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Pada
Pembelajaran Hukum - Hukum Dasar Kimia Ditinjau Dari Aktivitas Dan Hasil Belajar
Siswa Kelas X Ipa Sma Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2013/2014. Jurnal
Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 3 No. 3.