BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Usaha Penggemukan
Penggemukan adalah suatu kegiatan usaha untuk meningkatkan
biotik berupa hewan dengan cara meningkatkan produksi yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Untuk meningkatkan
produktivitas penggemukan tersebut, pemilik hendaknya menerapkan
sapta usaha ternak yang meliputi bibit, pakan, perkandangan,
reproduksi, pengendalian penyakit, pengolahan pascapanen, dan
pemasaran. Hendaknya bibit yang dipilih adalah bibit unggul yang
dapat menghasilkan keturunan yang unggul pula. Bibit yang
unggul dapat diketahui melalui proses seleksi genetik. Bahan
pakan hendaknya memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan.
Nutrisi yang dibutuhkan diantaranya karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, mineral, dan air. Perkandangan berhubungan dengan
pengendalian penyakit. Kandang yang sehat akan
mempengaruhi kesehatan. Oleh karena itu, kandang sebaiknya selalu
dalam keadaan sehat agar terhindar dari penyakit yang disebabkan
baik oleh bakteri dan virus.
5
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam dunia
penggemukan faktor reproduksi juga sangatlah penting. Selain itu
pengolahan pasca panen dan pemasaran juga menentukan
keberhasilan dalam usaha penggemukan (Tim Penyuluh, 2002).
Menurut Manshur (2009) bahwa tata laksana pemeliharaan dalam
suatu penggemukan memegang peranan penting karena keberhasilan
suatu usaha penggemukan sangat dipengaruhi oleh baik tidaknya tata
laksana pemeliharaan.
B. Usaha penggemukan sapi
Sejak didomestikasi, sapi memegang peran penting dalam
kehidupan masyarakat. Sapi digunakan sebagai sumber protein
hewani, penghasil susu hingga alat penarik gerobak maupun bajak.
Bahkan kotoran sapi merupakan pupuk yang dapat menyuburkan
lahan pertanian. Tidak heran jika sapi disebut sebagai harta pertama
yang dikenal manusia. Karena peran pentingnya itu pula, sapi
dianggap suci di India. Bagi masyarakat Mesir, sapi dianggap sebagai
salah satu dewa dan dijadikan patung berhala. Kini pusat industri sapi
terdapat di negara India, Australia, Selandia Baru, Brasil, Kanada, dan
Jerman.
6
C. Pakan
Sistem dry lot fattening yaitu penggemukan sapi dengan
memperbanyak pemberian pakan konsentrat. Jumlah pemberian
pakan hijauan hanya sedikit sehingga efisiensi penggunaan pakan
lebih tinggi. Perbandingan hijauan dan konsentrat berkisar 40 : 60
sampai 20: 80. Perbandingan ini didasarkan pada bobot bahan kering
(BK).
Penggemukan dengan sistem ini dilakukan di dalam kandang.
Pakan hijauan dan konsentrat diberikan kepada sapi di dalam
kandang. Jadi, pakan harus disediakan sesuai porsi dan waktu yang
tepat. Kontrol pemberian pakan mudah dilakukan, sehingga lebih
efisien. Sayangnya, sapi menjadi bergantung penuh kepada peternak
dari segi pakan dan perawatan sehari-hari.
D. Perkandangan
Sebagaimana manusia, ternak sapi pun perlu mendapatkan
tempat tinggal yang nyaman. Ini berkaitan dengan kesehatan dan
optimalisasi produksinya. Terdapat berbagai tipe kandang yang dapat
dipilih sesuai jenis sapi, tujuan pemeliharaan, anggaran, dan kondisi
lingkungan. Adapun syarat umum kandang sapi antara lain:
1. Ternak dapat bergerak dengan nyaman di dalamnya.
2. Menunjang produktivitasnya.
3. Sirkulasi udara lancar dan kandang mudah dibersihkan.
7
4. Melindungi sapi dari terik matahari, hujan, maupun kondisi
lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan.
5. Mempermudah pekerja mengelola ternaknya. Misalnya saat
memberi pakan atau kegiatan sanitasi kandang.
6. Ada saluran pembuangan kotoran yang layak.
E. Sejarah perkembangan sapi di dunia
Sudah lama sapi terlibat dalam keseharian manusia, yakni sejak
zaman neolitikum. Seiring berkembangnya peradaban manusia, peran
sapi semakin nyata. Mulai dari pembajak lahan pertanian hingga
simbol keagungan. Awalnya domestikasi sapi terpusat di daerah "
fertile crescent" ( mencakup Irak, Kuwait, Yordania, Suriah, Libanon,
Palestina, sebagian Iran, dan Turki). Wilayah tersebut juga dikenal
sebagai daerah awal perkembangan peradaban manusia. Sebagian
besar jenis sapi yang di budidayakan saat ini merupakan keturunan
dari sapi asal " fertile crescent" tersebut.
Nenek moyang sapi bos primigenius, dikenal pula dengan nama
aurochs atau urus. Sosok urus sering dijumpai dalam lukisan
prasejarah di Eropa, misalnya di Lascaux, Perancis. Sosoknya mirip
dengan banteng masa kini. Urus jantan bertubuh besar dengan tinggi
mencapai 1,8 m. Sementara urus betina berukuran lebih kecil dengan
tinggi sekitar 1,5 m. Urus di berbagai penjuru dunia punah dalam
kurun waktu berbeda. Urus liar terakhir punah pada abad ke-17 di
8
Polandia. Spesies api berpunuk, Bos indicus. Contohnya adalah sapi
Brahman, Ongole, dan Konkrey.
Sejak domestikasi, sapi memegang peran penting dalam
kehidupan masyarakat. Sapi digunakan sebagai sumber protein
hewani, penghasil susu, hingga alat penarik gerobak maupun bajak.
Bahkan kotoran sapi merupakan pupuk yang dapat menyuburkan
lahan pertanian. Tidak heran jika sapi disebut sebagai harta pertama
yang dikenal manusia. Karena peran pentingnya itu pula, sapi
dianggap suci di India. Bagi masyarakat Mesir, sapi dianggap sebagai
salah satu dewa dan dijadikan patung berhala. Kini pusat industri sapi
terdapat di negara India, Australia, Selandia baru, Brasil, Kanada, dan
Jerman.
F. Penyebaran
Hasil domestikasi urus dari daerah "fertile crescent" menyebar ke
seluruh Eropa serta sebagian Asia sebagai sapi tanpa punuk yang kini
digolongkan dalam spesies tersendiri, Bos Taurus. Berbeda dengan di
eropa, penduduk India dan Afrika mendomestikasikan urus local.
G. Penyebaran sapi asli Indonesia
Di Indonesia, terdapat beberapa jenis sapi lokal yang telah
beradaptasi baik dengan lingkungan setempat dan telah turun-
temurun dibudidayakan oleh para peternak. Jenis sapi lokal tersebut
9
terdiri dari sapi Bali, peranakan Ongole (PO), Sumba Ongole (SO),
madura Dan Aceh. Sapi-sapi potong lokal tersebut tersebar di hampir
semua wilayah Indonesia. Ada juga sapi peranakan Friesian Holstein
FH yang banyak dijumpai di peternakan sapi perah seluruh Indonesia,
terutama pulau Jawa dan Sumatra. Adapun jenis-jenis sapi asli
Indonesia yaitu:
1. Sapi pesisir
2. Sapi Aceh
3. Sapi peranakan FH.
4. Sapi Madura
5. Sapi Bali
6. Sapi Sumbawa
H. Jenis-Jenis sapi
Dalam suatu usaha Budi daya, penting untuk memilih jenis sapi
yang cocok dengan mikroklimat lokasi farm. Peternak juga harus
cermat memilih antara sapi lokal atau sapi impor. Berikut dipaparkan
beberapa jenis sapi yang lazim ditemukan di Indonesia:
1. Sapi Bali asal Indonesia berfungsi penghasil daging dan penarik
beban.
2. Peranakan Ongole (PO): asal persilangan sapi ongole India
dengan sapi lokal Indonesia.
10
3. Simmental: Swiss berfungsi penghasil susu, daging, sekaligus
sebagai penarik beban.
4. Brahma: asal India berfungsi sebagai penghasil daging.
5. Limousin: asal Perancis berfungsi sebagai penghasil daging.
6. Aberdeen Angus: asal Skotlandia berfungsi sebagai penghasil
daging.
I. Populasi sapi
Di Indonesia, sentra produksi sapi potong tersebar hampir di
seluruh wilayah Nusantara. Usaha sapi potong di Indonesia sangat
bervariasi skalanya, mulai dari skala rumah tangga dengan jumlah
sapi kurang dari lima ekor, hingga skala perusahaan dengan ribuan
ekor sapi. Populasi sapi pun terus meningkat seiring diluncurkannya
program swasembada sapi 2014. Program itu disambut dengan
kemunculan program-program penunjang tercapainya swasembada
daging sapi. Contoh program tersebut adalah sarjana membangun
desa (SMD), yang mengajak para sarjana untuk menjadi peternak
sekaligus manajer kelompok peternak di daerahnya. Program SMD di
fokuskan pada komoditas sapi potong, sapi perah, serta unggas. Tiap
tahun program itu dibuka untuk ratusan lulusan D3, S1, maupun S2.
Tahun 2011 misalnya, dibuka lowongan SMD untuk sekitar 700 orang
sarjana. Program lain yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah atau
provinsi, misalnya program bumi sejuta sapi di Nusa tenggara barat.
11
Seiring berjalannya program-program itu, populasi sapi di tanah
air terus meningkat. Pada tahun 2003, populasi sapi di tanah air
diperkirakan masih diangka 10 juta ekor. Namun, tahun 2011
jumlahnya sudah melonjak hingga mencapai 15 juta ekor.
Berdasarkan data pusat statistik dari hasil program pendataan sapi
potong, sapi perah, dan kerbau (PSPK) 2011 yang dilaksanakan
serentak pada 1-30 Juni 2011 di seluruh Indonesia, populasi sapi
potong tanah air mencapai 14,8 juta ekor; sapi perah 597,1 ribu ekor;
kerbau 1,3 juta ekor.
J. Inovasi Baru Dalam Pengembangan Usaha penggemukan sapi
daging
Di masa pandemi sektor industri dan lainnya sedang mengalami
kelesuan kita memang harus pandai mencari peluang, misalnya
melakukan bisnis penggemukan sapi. Bisnis ini termasuk mudah
dilakukan siapa saja tidak harus memiliki keahlian khusus. Sudah
banyak orang membuktikan keberhasilannya dalam hal penggemukan
sapi tersebut dengan pendapatan yang bernilai puluhan juta.
Berikut cara atau strategi dalam pengembangan usaha
penggemukan sapi daging :
1. Hitung dan tentukan modal awal
Modal merupakan hal yang sangat penting bagi bisnis
berbentuk apapun termasuk ternak sapi. Modal bukan hanya
12
terbatas tentang uang saja tetapi juga hal teknis lainnya. Dengan ini
bisa mengumpulkan informasi terkait modal ini dengan
memperbanyak jaringan atau ikut komunitas peternak sapi. Dari
situlah bisa menambah modal berupa pengetahuan dan keahlian
dalam bidang ternak sapi.
2. Pilih jenis sapi
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah jenis sapi apa yang
akan di gemukkan. Jenis sapi yang umum digemukkan dan
dijadikan bisnis. Jenis sapi tersebut antara lain yaitu, sapi Ongole,
sapi limousin, sapi Brahman, sapi Madura, sapi Bali.
3. Persiapkan kandang
Hewan yang akan dipelihara dan digemukkan tersebut tentunya
membutuhkan kandang. Sesuaikan ukuran kandang dengan jumlah
sapi yang akan dipelihara. Perhitungkan juga faktor kenyamanan
dari sapi-sapi tersebut nantinya. Idealnya kandang sapi berada
sekurangnya di radius 10 meter.
4. Pilih bibit sapi yang unggul dan bagus
Pilih bibit sapi yang unggul agar nantinya bisa berkembang
dengan bagus dan optimal. Pastikan sapi tersebut telah memiliki
tanda di telinga dan betisnya sebagai bukti bahwa sudah terdaftar.
Artinya sapi tersebut berasal dari silsilah yang bagus.
5. Berikan pakan yang bermutu
13
Bibit sapi yang bagus dan unggul tidak akan ada artinya kalau
tanpa dibarengi dengan pemberian pakan yang bermutu. Tujuan
pemberian pakan pada sapi ternak adalah untuk mendorong agar
pertumbuhan dan perkembangannya berjalan pesat. Dengan begitu
akan bisa dihasilkan sapi gemuk dan berkualitas yang akan
memiliki harga jual tinggi.
6. Perawatan sapi
Pemberian pakan yang bagus harus didukung dengan
perawatan menyeluruh kepada sapi. Perawatan tersebut bertujuan
untuk mencegah datangnya penyakit yang bisa menurunkan
kualitas sapi itu sendiri. Contoh dari perawatan pada sapi yaitu
pemberian vaksin dan obat cacing secara berkala. Itulah beberapa
tips memulai bisnis ternak sapi agar hasilnya bagus dan
memuaskan. Pada dasarnya, bisnis penggemukan hewan sapi ini
bisa membawa keuntungan yang besar bagi para pelakunya.
Hanya saja, diperlukan usaha keras dan konsistensi agar bisnis ini
bisa berjalan dengan optimal.
14