0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan10 halaman

Etika Dakwah dan Peran Da'i dalam Islam

Makalah ini membahas peran da'i dan mad'u dalam konteks dakwah serta etika yang harus dijunjung dalam berdakwah. Melalui penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an, penulis menyoroti pentingnya pendidikan Islam, pemahaman terhadap ajaran Allah, dan perlunya menjaga akhlak dalam berdakwah. Kesimpulan dari makalah ini menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan, serta mengutamakan pendidikan dan pemahaman yang benar.

Diunggah oleh

emhaarifin06
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan10 halaman

Etika Dakwah dan Peran Da'i dalam Islam

Makalah ini membahas peran da'i dan mad'u dalam konteks dakwah serta etika yang harus dijunjung dalam berdakwah. Melalui penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an, penulis menyoroti pentingnya pendidikan Islam, pemahaman terhadap ajaran Allah, dan perlunya menjaga akhlak dalam berdakwah. Kesimpulan dari makalah ini menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan, serta mengutamakan pendidikan dan pemahaman yang benar.

Diunggah oleh

emhaarifin06
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DA’I MAD’U DAN ETIKA BERDAKWAH

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Tafsir

Dosen Pengampu : Ahmad Zaini,Lc,M.S.

Disusun oleh :

1. Muhammad Nurul Arifin (1640310011)


2. Lulu’atul Fuad (1640310021)
3. Haris Fuad (1640310027)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS

JURUSAN DAKWAH & KOMUNIKASI

PRODI MANAJEMEN DAKWAH

TAHUN 2016

1
PEMBAHASAN

Da’i dan Mad’u

1. QS Al Baqarah ; 151
Redaksi ayat
‫َأ‬
‫َكَم ا ْر َس ْلَنا ِف يُكْم َر ُس وال ِمْنُكْم َيْتُلو َعَلْيُكْم‬
‫آَياِتَنا َو ُيَز ِّكيُكْم َو ُيَعِّلُم ُكُم اْلِكَتاَب َو اْلِح ْكَم َة‬
‫َو ُيَعِّلُم ُكْم َم ا َلْم َتُكوُنوا َتْعَلُم وَن‬
Artinya: Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu)
Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat
Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan
Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu
ketahui.

Asbabun Nuzul
Diriwayatkan oleh ‘Abed ibn Humaid dari Al Hasan, bahwasannya yahudi dan
nasrani telah melihat bagaimana sifat Nabi Muhammad tersebut dalam kitab-kitab
mereka. Mereka mengakui dan menyaksikan kebenarannya. Manakala Nabi diangkat
dari golongan orang lain, merekapun mendengkinya lalu mengingkari dan
mengkufuri, padahal dahulu telah mereka akui.
Kata ‘Ikrimah : Mereka itu adalah Abu Amir, Ar-Rahib, Al Harits ibn Su’aib beserta
12 orang kawannya. Mereka semua keluar dari islam lalu menghubungi golongan
Quraiys. Kemudian mereka menulis surat kepada keluarga mereka, katanya : apakah
mereka diberi hak bertobat ? Maka turunlah ayat ini.1

1
Hasbi Ash Shiddieqy, Tafisr Al-Quranul Madjied “An-Nur” (Jakarta:N.V. Bulan Bintang, 1965), hal.248

2
Turunnya ayat ini mengenai tentang penetapan arah kiblat ke masjidil haram. Banyak
orang musyrikin yang menentang dalam hal “fawalliwajhaka” atau pemindahan kiblat
di masjidil haram.2

Isi Kandungan
Dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan Allah mengingatkan kepada hamba-hamba-
Nya yang mukmin akan nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka, yaitu di
utus-Nya seorang Rasul yakni Nabi Muhammad untuk membacakan kepada mereka
ayat-ayat yang jelas: menyucikan serta membersihkan mereka dari akhlak-akhlak
yang rendah, jiwa-jiwa yang kotor, dan perbuatan-perbuatan Jahiliah, mengeluarkan
mereka dari kegelapan kepada cahaya mengajarkan kepada mereka Al-Qur’an dan
sunnah, serta mengajarkan kepada mereka banyak hal yang sebelumnya tidak mereka
ketahui. Di zaman Jahiliah mereka hidup dalam kebodohan yang menyesatkan.
Akhirnya berkat barakah risalah Nabi Saw. Dan misi yang diembannya,mereka
menjadi orang-orang yang dikasihi oleh Allah, berwatak segala ulama, dan menjadi
orang-orang yang berilmu paling mendalam, memiliki hati yang suci, paling sedikit
bebanya, dan paling jujur ungkapanya.

Kesimpulan
Berdasarkan QS. Al-Baqarah 151 di atas ada 5 fungsi pendidikan yang dibawa
Nabi Muhammad, yang dijelskan dalam tafisr al-manar karangan Muhammad Abduh:
a. Dengan membaca ayat-ayat allah wawasan seorang muslim semaikn luas dan
mendalam, sehingga sampai pada kesadaran diri terhadap wujud zat Yang
Maha Pencipta (yaitu Allah).
b. Sebagai seorang muslim kita harus menjauhkan diri dari syirik
(menyekutukan allah) dan memelihara akhlaq al-karimah. Dengan sikap dan
perilaku demikian fitrah kemanusiaan manusia akan terpelihara.

2
Ahmad Musafa Al-Maraghi, Al Maraghi (Semarang:Toha Putra, 1987)hlm,26.

3
c. Al-Qur’an yang secara eksplisit berisi tuntunan hidup. Bagaimana manusia
berhubungan dengan tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam
sekitarnya.
d. Kebijaksanaan hidup manusia harus berdasarkan nilai-nilai yang datang dari
allah dan rasul-Nya. Walaupun manusia sudah memiliki kesadaran akan
perlunya nilai-nilai hidup, namun tanpa pedoman yang mutlak dari allah,
nilai-nilai tersebut akan nisbi. Oleh karena itu, menurut islam nilai-nilai
kemanusiaan harus didasarkan pada nilai-nilai ilahi (Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah)
e. Mengajarkan ilmu pengetahuan, banyak ilmu pengetahuan yang belum
terungkap, itulah sebabnya Nabi Muhammad mengajarkan pada ummat-Nya
ilmu pengetahuan yang belum diketahui oleh umat sebelumnya. Karena
tugas utamanya adalah membangun akhlak al-karimah.3

2. Qs At Tahrim ; 6
Redaksi ayat

‫َأ‬ ‫َأ‬ ‫َأ‬


‫َيا ُّيَه ا اَّل ِذيَن آَم ُن وا ُق وا نُف َس ُكْم َو ْهِليُكْم‬
‫َناًر ا َو ُق وُدَه ا الَّناُس َو اْلِح َج اَر ُة َعَلْيَه ا َم اَل ِئَك ٌة‬
‫َأ‬
‫ِغ اَل ٌظ ِش َداٌد اَّل َيْع ُص وَن الَّل َه َم ا َم َر ُه ْم‬
‫َو َيْف َعُلوَن َم ا ُيْؤ َم ُر وَن‬
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-
malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah ) Allah terhadap

3
Muhammad Abduh “Tafsir Al Manar”

4
apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan”.

Asbabun Nuzul
Ibnu katsir setelah menulis ayat At Tahrim beliau juga menukil pendapat yang
mengatakan bahwa sebab turunya surat tersebut adalah Nabi mengharamkan atas
dirinya Maria Al Qibtiah (lih. Ibnu Katsir juz:8 hal:158) Tapi kemudian beliau
menguatkan pendapat yang mengtakan bahwa sebab turunya ayat tersebut adalah
Nabi mengharamkan atas dirinya Madu. Kemudian Syekh Utsaimin mengatakan
pendapat yang mengatakan sebab turunya ayat ini adalah Nabi Saw mengharamkan
atas dirinya Madu. (lih. Asy-Syarh Al-Mumti’ ala Zad Al-Mustaqni’ oleh Syekh
Utsaimin juz:13 hal:217).

Isi kandungan
Dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa Sufyan As-sauri telah meriwayatkan dari Mansur,
dari seseorang lelaki, dari Ali ibnu Abu Talib r.a. sehubungan dengan makna firman-
Nya: peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Makna yang dimaksud ialah
didiklah mereka dan ajarilah mereka.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan
makna firman-Nya: peliharalah drimu dan keluargamu dari api neraka. Yakni
amalkanlah ketaatan kepada Allah dan hindarilah perbuatan-perbutan durhaka kepada
Allah, serta perintahkanlah kepada keluargamu untuk berzikir, niscaya Allah akan
menyelamatkan kamu dari api neraka.
Mujahid mengatakan sehububungan dengan makna firman-Nya: peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api neraka. Yaitu bertakwalah kamu kepada Allah dan
perintahkanlah kepada keluargamu untuk bertakwa kepada Allah.
Qotadah mengatakan bahwa engkau perintahkan mereka untuk taat kepada Allah
dan engkau cegah mereka dari perbuatan durhaka terhadapNya. Dan hendaklah

5
engkau tegakkan terhadap mereka perintah Allah dan engkau anjurkan mereka untuk
mengerjakannya serta engkau bantu mereka untuk mengamalkannya. Dan apabila
engkau melihat di kalangan mereka dapat sutau perbuatan maksiat terhadap Allah,
maka engkau harus cegah mereka dirinya dan engkau larang mereka melakukanya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak dan Muqatil, bahwa sudah
merupakan suatu kewajiban bagi seseorang muslim mengajarkan kepada kelurganya-
baik dari kalangan kerabatnya ataupun budak-budaknya hal yang difardukan oleh
Allah dan mengajarkan kepada mereka hal-hal yang di larang oleh Allah yang harus
mereka jauhi.

Kesimpulan
1. Perintah taqwa kepada Allah SWT dan berdakwah.
2. Anjuran menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka.
3. Pentingnya pendidikan islam sejak dini.
4. Keimanan kepada malikat.

Etika dalam berdakwah

1. Qs Ibrahim : 4
Redaksi ayat
‫َأ‬
‫َو َم ا ْر َس ْلَنا ِم ْن َر ُس وٍل ِإاَّل ِبِلَس اِن َق ْو ِم ِه ِلُيَبِّيَن‬
‫َلُهْم ۖ َف ُيِض ُّل الَّل ُه َمْن َيَش اُء َو َيْه ِدي َمْن َيَش اُء‬
‫َو ُه َو اْلَع ِز يُز اْلَحِكيم‬
Artinya: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa
kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.

6
Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk
kepada siapa yang Dia [Link] Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi
Maha Bijaksana.

Isi kandungan

Dalam tafsir Ibnu Katsir mejelaskan salah satu dari kelembutan Allah kepada
makhluk-Nya, yaitu Dia mengutus kepada mereka rasul-rasul dari kalangan
mereka sendiri yang berbahasa sama dengan mereka, agar mereka dapat
memahami para rasul dan memahami risalah yang dibawa oleh para rasul itu.
Sebagaiamana dalam ayat lainya disebutkan bahwa Tuhan tidak menyesatkan
manusia,kecuali orang-orang yang zalim dan berlebihan sebagai tanda dari
kezaliman dan dosa yang jauh dari cahaya ilahi. Seandainya Allah SWT hendak
menyesatkan seseorang, Allah tidak mengutus para Nabi untuk memberikan
petunjuk bagi umat manusia. Padahal, Allah Swt telah menurunkan kitab suci dan
para Nabinya untuk menyelamatkan manusia. Namun, sebagai manusia tidak
memberikan hatinya di jalan kebenaran.

Kesimpulan
Dari ayat tersebut terdapat dua pelajaran yang dapat di petik:
1. Bahasa para nabi bukan bahasa khusus yang hanya dipahami oleh kaum
cendekia saja,namun mereka berbicara dengan bahasa kaumnya
berdasarkan tingkat pemahaman mereka sebagai argumentasi untuk
semua.
2. Allah bersikap bijaksana kepada semua manusia, baik yang berperilaku
baik maupun yang buruk. Semua mendapatkan balasan sesuai dengan
perbuatanya masing-masing.

7
2. Qs Hud: 29
Redaksi ayat

‫َو َيا َق ْو ِم اَل َأْس َأُلُكْم َعَلْيِه َم ااًل ۖ ِإْن َأْج ِر َي ِإاَّل َعَلى‬
‫الَّلِه ۚ َو َم ا َأَن ا ِبَط اِر ِد اَّل ِذيَن آَم ُن وا ۚ ِإَّنُهْم ُم اَل ُق و‬
‫َأ‬
‫َر ِّبِه ْم َو َٰلِكِّني َر اُكْم َق ْو ًم ا َتْج َه ُلوَن‬

Artinya: Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada
kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-
kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka
akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum
yang tidak mengetahui".

Isi Kandungan
Pada penjelasan lalu telah di singgung bahwa Nabi Nuh as menyeru dan
mengajak kaumnya agar menyembah Allah swt selama ratusan tahun,namun hanya
sedikit sekali di antara mereka yang beriman. Para pemukan dan pembesar Nabi Nuh
menghina dan mengejek para pengikut beliau yang kebanyakan terdiri dari orang-
orang miskin.

Nuh a.s. berkata kepada kaumnya,”Aku tidak meminta suatu upah pun dari
kalian sebagai imbalan dari nasihatku kepada kalian ini, sebagai upah yang aku ambil
dari kalian. Sesungguhnya aku hanyalah menginginkan pahala dari Allah [Link]

8
pernah diminta oleh orang-orang kafir agar mengusir golongan orang-orang yang
lemah dari sisinya. Orang-orang kafir itu pun meminta kepada Nabi Saw. Agar
membuat suatu majelis terpisah buat mereka duduk bersamaanya secara khusus. Tapi

Nabi Saw berkata ‫( َم ا َأَنا ِبَطاِر ِد اَّلِذيَن آَم ُنوا‬dan aku sekali-kali
tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman.)

Kesimpulan
 Para Nabi tidak pernah menginginkan harta benda dan kedudukan, hal
ini merupakan salah satu tanda atau dalil bagi kebenaran risalah
mereka.

9
Daftar Pustaka

Saputra Wahidin, Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

Tafsir Ibnu Katsir

10

Anda mungkin juga menyukai